Posted in Central Kalimantan, Indonesia, Pangkalan Bun

Pangkalan Bun & Tanjung Puting

Berawal dari sepucuk surat undangan pernikahan yang dikirim oleh salah seorang sahabat lama saya di kantor, andin, yang mengabarkan tentang acara walimah yang akan dilangsungkan di Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah. Walaupun kami masih terhitung kerabat dari pihak ibu nya (yang asli jawa tengah), namun ayahnya merupakan putra dayak asli, jadi memang sahabat saya itu lahir dan besar di pangkalan bun, kalimantan.

Ingatan saya mengenai pangkalan bun adalah kota terdekat untuk akses menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal dengan konservasi orang utan. Gayung bersambut, suami saya setuju cuti setengah hari untuk menghadiri acara walimah sekaligus mengunjungi Taman Nasional tersebut. Kali ini kami hanya mengajak baby g karena adiknya masih terlalu kecil.

Hanya ada dua penerbangan direct ke Pangkalan Bun, yaitu Trigana dan Kalstar. Menyesuaikan dengan jadwal, kami memilih Trigana yang berangkat hari sabtu pukul 09.25 dan pulang hari senin pukul 07.35. Sedihnya hanya sedikit jadwal penerbangan yang tersedia, jadi kami malah tidak bisa menghadiri acara walimah yang justru diadakan hari senin.

DAY 1

Pesawat trigana yang kami tumpangi delay hingga 4 jam akibat kerusakan teknis di baling-balingnya, yah namanya juga pesawatnya sudah pada tua. Banyak penumpang yang berkeluh kesah juga marah-marah apalagi yang punya urusan bisnis.  Jam 13.00 barulah trigana air mengudara, durasi penerbangan jakarta-pangkalan bun hanyalah 1 jam 10 menit. Selain warga lokal, banyak juga wisatawan asing yang sepertinya memiliki tujuan utama ke Tanjung Puting.

Bandara Iskandar merupakan bandara kecil yang sepi sekali, selain pesawat kami hanya ada satu pesawat lain yang parkir, berasa bandara pribadi. Atap bangunan bandara ini dibentuk menyerupai rumah betang, rumah adat khas kalimantan.

Karena sudah siang menjelang sore, terpaksa salah satu itinerary kami untuk berkunjung ke pantai kubu dibatalkan, kami langsung menuju ke istana kuning kutawaringin dengan taksi. Taksi bandara harus dipesan melalui loket yang terletak di sebelah kanan dari pintu keluar, tarifnya sudah ditetapkan berdasarkan wilayah yang dituju. Dari bandara ke kutawaringin tarifnya adalah 75 K, cukup mahal karena jaraknya sebenarnya hanya 7-8 km, tapi tidak ada alternatif transportasi lainnya.

Lalu lintas di kota pangkalan bun sangatlah sepi, mirip seperti susana di pracimantoro – wonogiri, hanya sedikit kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kami melewati tugu pancasila selama perjalanan dan tidak lama sudah sampai di Istana Kuning. Kami meminta supir taksi menunggu dulu selama setengah jam dan selanjutnya mengantar kami ke jl ahmad yani, sang supir taksi setuju dengan total 150 K yang harus kami bayarkan.

ISTANA KUNING

Istana Kuning merupakan istana yang dahulu dipakai oleh kesultanan melayu islam kutaringin yang didirikan pada tahun 1811-1814. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil pemugaran dan pembangunan ulang setelah sempat dilanda peristiwa kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan.

Walaupun disebut istana kuning, nyatanya bangunan istana ini yang dibangun dari kayu ulin ini berwarna kecokelatan. Disebut istana kuning karena kuning merupakan warna resmi dari kerajaan kutaringin. Bangunannya berbentuk rumah panggung betang dan terdiri dari empat bagian besar .

Saat kami ke sana suasana terbilang sangat lengang, hanya ada satu pengunjung selain kami. Di pintu gerbang terukir lambang kerajaan kutaringin, sementara meriam-meriam kuno yang dicat kuning berjajar rapi di halamannya. Posisi istana kuning yang tinggi memungkinkan kita melihat bundaran kuning yang terletak persis di bawahnya, bundaran kuning merupakan area yang populer untuk muda-mudi di pangkalan bun.

13100846_10154233888359623_2774604087936315924_n
Bundaran Kuning
13151549_10154233887739623_5111297173104306129_n
Lambang kerajaan kutaringin
13087335_10154233888559623_5653860049131717880_n
Meriam-meriam kuno di halaman istana kuning

Kami menaiki tangga dan berjumpa dengan lorong panjang, di kirinya berdiri suatu serambi luas yang ternyata difungsikan juga untuk acara-acara umum seperti halal bihalal atau pernikahan (saat kami ke sana serambi tersebut sudah dihias untuk acara MTQ kutawaringin). Bagian kanan lorong difungsikan sebagai museum, sementara  ruangan di bagian ujungnya tidak boleh dimasuki umum.

13087445_10154233888454623_5867603502512433475_n
Lorong panjang di dalam istana kuning

Kami memasuki area museum yang mana sudah ada pemandunya, koleksinya berupa peninggalan kerajaan kutaringin. Ada kereta kencana yang digunakan untuk acara kebudayaan, foto-foto dan silsilah para sultan, guci-guci dan peralatan antik, senjata hingga singgasana sultan yang didominasi warna kuning dan hijau. Museumnya sendiri tidaklah terlalu besar, sehingga waktu setengah jam rasanya cukup untuk melihat-lihat koleksi yang ada sambil sesekali bertanya ke pemandu.

Dari istana kuning, kami diantar menuju kediaman andin di jl ahmad yani yang hanya 5 menit saja perjalanannya. Rumahnya Andin berdiri tepat di pinggir jalan utama dengan halaman depan yang luas dan halaman belakang yang bahkan lebih luas lagi, persis seperti tanah si mbah di kampung. Saya jadi ingat tanah orang-orang zaman dahulu di pulau jawa (seperti kepunyaan si mbah) yang luas seperti ini.

Saya betah berlama-lama di rumahnya andin sebab sangat asri dan nyaman, di halaman belakangnya berdiri kolam-kolam ikan yang langsung berbatasan dengan kebun luas. Betah ngobrol berlama-lama dalam suasana seperti ini apalagi kami sudah lama tidak bertemu hingga tanpa terasa senja menjelang. Kami diantar ke hotel oleh sahabat kami tersebut, semoga sakinah mawwadah warrahmah ya!

ARSELA HOTEL PANGKALAN BUN

Kami sudah mem-booking hotel via traveloka, arsela hotel ini berlokasi di jl iskandar hanya 5 menit dari bandara. Bangunan hotelnya juga sangat cantik, masih dengan gaya rumah betang khas kalimantan dan terbuat dari kayu. Tarifnya sendiri tidaklah terlalu mahal, namun kamar yang kami tempati cukup nyaman dan bersih.

13087822_10154233884439623_2690801249579151224_n
Arsela Hotel

RM DUNIA LAUT

Berdasarkan hasil rekomendasi, kami memutuskan makan malam di RM Dunia Laut. Sebagai kota pinggir pantai, pangkalan bun memang terkenal sebagai penghasil ikan dan aneka seafood lainnya, RM Dunia Laut ini dikatakan memiliki cita rasa yang enak dengan bahan dasar seafood yang segar.

Karena tidak ada kendaraan umum sama sekali (nggak ada angkot apalagi ojek), kami meminjam sepeda motor dari salah satu staf hotel dengan tarif seikhlasnya.

Dunia Laut sendiri tempatnya tidak terlalu luas, indoor dengan AC, dan lucunya kursi dan mejanya diberi sarung seperti di acara pernikahan. Kami memesan kepiting saus padang, cumi goreng tepung dan kangkung. Sempet ketar-ketir juga karena di menu tidak tertera harganya, tapi ternyata harga yang dibayar hanya 150 K, tergolong murah untuk satu porsi kepiting jumbo dan cumi 1/2 kg. Keduanya dimasak dari bahan seafood yang masih segar sekali, daging kepitingnya manis dan empuk, begitupun cuminya.

Sepulang makan, kami masih berputar-putar dulu untuk mencari toko oleh-oleh khas pangkalan bun. Btw, saya hanya sekali ketemu pom bensin dekat tugu pancasila yang luar biasa ngantrinya hingga ke jalanan, menurut andin memang hanya ada satu pom bensin di area pangkalan bun ini. Tukang bensin eceran saja nggak ada sama sekali, yang ada malah tukang tambal ban.

Sebagai kota bahari, oleh-oleh khas pangkalan bun adalah kerupuk dan kemplang berbahan dasar ikan. Pemilik tokonya pun merupakan orang rantau asal jawa tengah, memang di pangkalan bun banyak orang-orang dari jawa tengah, bahkan pemilik hotel tempat kami tinggal termasuk stafnya juga dari jawa tengah.

DAY 2

TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Sebelum berangkat ke Pangkalan Bun saya sudah terlebih dahulu googling mengenai jasa trip organizer untuk mengunjungi Tanjung Puting. Kawasan Konservasi Tanjung Puting terletak di sepanjang sungai sekonyer yang mengharuskan kita menggunakan moda transportasi berupa klotok (perahu) ataupun speed boat untuk mencapainya.

Memang sebaiknya kita menggunakan jasa trip organizer karena medannya sulit, harus ada pemandu yang paham dengan situasi medannya, selain itu sewa klotok ataupun speed boat tidak bisa secara go-show karena sering full booked. Berdasarkan hasil rekomendasi, kami pun memutuskan ikut trip yang ditawarkan orangutandays.com yang dipimpin oleh Mas Yomie Kamale.

Kami sangat tertarik untuk menggunakan klotok, dengan program live in board pengalaman yang didapat pasti akan jauh lebih seru, makan dan nginap di atas perahu yang berlayar sepanjang sungai sekonyer, wuih kayak di film anaconda aja. Sayangnya, karena klotok ini jalannya pelan, maka durasi perjalanan yang ditawarkan optimalnya adalah 2D1N atau 3D2N. Bisa aja sih seharian tapi eksplorasinya jadi kurang maksimal karena hanya satu area konservasi saja yang dikunjungi.

Kami terpaksa menjatuhkan pilihan ke alternatif kedua yaitu speed boat, yang jalannya lebih cepat dan dalam sehari bisa mengunjungi dua area konservasi. Harga yang ditawarkan mas Yomie sebesar 1,9 juta untuk paket bertiga (saya, suami dan baby G) sudah termasuk sewa speed boat, tiket masuk, jasa pemandu, makan siang, snack + soft drink dan jasa antar jemput dari hotel.

Setelah menyantap sarapan yang disediakan oleh hotel, jam 07.30 kami dijemput langsung oleh mas Yomie sendiri di lobby hotel. Mas Yomie orangnya sangat ramah, banyak memberi info mengenai segala seluk beluk daerah Tanjung Puting dan Pangkalan Bun, btw ternyata mas yomie ini aslinya orang bandung tapi punya istri asli dari pangkalan bun dan akhirnya menetap di sini sekaligus membuka jasa trip organizer, two thumbs up mas.

Perjalanan dari hotel ke dermaga kumai hampir satu jam, jalanannya sangat sepi dan mulus, tidak banyak kami berpapasan dengan kendaraan lainnya. Barulah saat mulai memasuki pelabuhan, tampak hiruk pikuk dari para nelayan dan pekerja. Kami memasuki suatu kawasan dengan satu dua bangunan kantor konservasi setelah sebelumnya melewati gapura yang bertuliskan “Balai Taman Nasional Tanjung Puting”, tempat ini juga merupakan dermaga kumai di mana sudah banyak klotok atau speed boat yang parkir. Setelah berfoto dengan patung orang utan seukuran aslinya, kami diperkenalkan kepada bapak cihuy (maaf ya pak, saya lupa namanya, cuma orangnya asyik banget) yang kali ini akan bertindak sebagai sopir speed boat sekaligus pemandu kami.

13151727_10154231129629623_9093318580147898916_n
Welcome to Balai Taman Nasional Tanjung Puting
13087871_10154233837364623_587613398578694857_n
Dermaga Kumai

Tidak lama setelah mengarungi perairan lautan yang berair asin, kami bertemu dengan marka berupa patung orang utan dengan tulisan “Tanjung Puting”, marka ini menandai dimulainya sungai sekonyer. Paruh awal sungai masih merupakan perairan payau (air laut campur air tawar) di mana sungainya masih berwarna hitam kecokelatan dengan vegetasi pohon yang tinggi-tinggi di kanan kirinya. Pak Cihuy mengingatkan agar kami tidak iseng mencelupkan tangan atau kaki apalagi berenang karena di sungai ini masih banyak buaya, bahkan belum lama ini polisi hutan yang bertugas di pinggir sungai tewas dimakan buaya. Glek, saya pun jadi agak jiper ya, walau pak cihuy juga menjelaskan bahwa buaya takut sama suara mesin klotok atau speed boat, jadi kalau sedang ramai paling buayanya berdiam di dasar sungai.

13133175_10154233838409623_4046411403410696915_n
Mulai memasuki sugai sekonyer
13151899_10154233838389623_2545195882577708271_n
HIlir sungai sekonyer yang berair payau

Tanjung Puting merupakan taman nasional di Indonesia yang termasuk World Network of Biosphere Reserves, taman nasional ini adalah pusat konservasi orang utan, selain memetakan populasi yang ada, konservasi ini juga mendidik orang utan agar kembali liar di alam.

Sekitar 40 menit menyusuri sungai sekonyer, sampailah kami di konservasi pertama yaitu pondok tanggui. Kami diturunkan di dermaga panjang yang terbuat dari kayu lalu trekking selama 15-20 menit hingga tiba di tempat feeding, jalanan trekking cukup ringan dengan medan mendatar , berupa jalan setapak berbatu-batu yang dipagari pepohonan dan ilalang.

Pukul 10.00 merupakan waktu feeding, di tempat tersebut sudah dibangun suatu platform yang di sekelilingnya sudah dibatasi dengan tali. Tidak lama kemudian datanglah sang ranger (penjaga alam) yang bertugas untuk membagikan makanan, sang ranger pun membunyikan isyarat hingga orang utan berdatangan dari berbagai penjuru, jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan menyeruak berjalan dari belakang atau tiba-tiba melompat dari pohon ke pohon, seru banget nggak kayak di kebun binatang. Orang utan berbadan besar berbulu kecoklatan saling berebut makanan di platform tersebut hingga Mandar, sang alpha datang. Di dunia hewan pun ada sistem sosial di mana kelompok hewan akan dipimpin oleh Alpha, yang merupakan pejantan terkuat, Alpha ini ditakuti dan dihormati oleh kawananannya, begitu Alpha datang yang lainnya pun akan menyingkir. Pengunjung yang ada pun dihimbau dengan plakat besar-besar bertuliskan “keep silent, respect the orang utan”, dilarang mgobrol, berisik, riuh apalagi membuat keributan, jadi saat menyaksikan acara pemberian makan paling sesekali hanya terdengar suara klik-klik dari kamera dslr ataupun ponsel.

Karena sudah waktunya makan siang, setelah dari pondok tanggui, kami berhenti dulu di resort Pondok Amung. Resort Pondok Amung terdiri atas sekumpulan bangunan yang dilengkapi dengan dermaga yang hanya sesekali digunakan kalau ada keperluan penelitian saja, selain itu kosong dengan hanya satu orang penjaga. Makan siang disajikan dalam box dan menunya luar biasa, selain ayam goreng, ada ikan sungai goreng, sate udang goreng, tahu tempe dan lalapan, sampe nggak habis kemakan semuanya saking banyaknya. Setelah kenyang saya iseng-iseng menelusuri pondok amung karena pingin nyari toilet, tapi baru setengah jalan saya balik lagi dan minta ditemani suami saya karena takut kalau-kalau malah ketemu sama buaya nangkring atau binatang lainnya.

13119051_10154233852589623_5684839800638108936_n
Dermaga di Resort Pondok Amung

Kami kembali menelusuri sungai sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam karena kandungan humusnya makin banyak, vegetasi di daerah ini kebanyakan berdaun jarum. Sekitar sejam kemudian hujan mulai turun rintik-rintik, untunglah kami sudah mendekati camp leaky. Tidak lama kemudian hujan turus dengan derasnya, kami pun menumpang ke klotok milik mas yomie yang sedang bersandar di dermaga camp leaky (kebetulan penumpangnya sudah masuk ke camp, jadi klotok kosong). Ada beberapa klotok lain yang juga sedang bersandar menunggu hujan reda, kami mengenali beberapa wisatawan asing (bule) yang juga terbang bersama dengan trigana kemarin.

13096004_10154233852374623_6721363022241773617_n
Sungai Sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam

Klotok merupakan perahu dua tingkat, tingkat pertama digunakan untuk ruang awak kapal, dapur dan kamar mandi. Tingkat dua barulah digunakan oleh penumpang, umumnya kosong dengan hanya satu dua kasur dan meja bangku yang bisa digeser atau dilipat. Klotok biasanya berisi 3 awak, 1 sebagai nahkoda, 1 sebagai sesi wara wiri dan 1 lagi (biasanya perempuan) adalah tukang masak. Kebanyakan wisatawan asing atau dari luar daerah pasti akan menggunakan klotok secara private, satu klotok paling berisi 2-3 orang atau satu keluarga kecil saja (4-5 orang) dan mereka pun melakukan live on board. Berbeda dengan wisatawan lokal (pangkalan bun) yang sempat kami temui, satu klotok dihuni rame-rame hingga penuh dan hanya melakukan kunjungan satu hari saja (hanya camp leakey).

Saat hujan mulai berangsur-angsur reda, datanglah seekor orang utan betina dengan ukuran tubuh medium ke dermaga, namanya siswi. Pak Cihuy menerangkan, bahwa Siswi ini merupakan orang utan gagal, artinya gagal kembali jadi liar sesuai dengan program konservasi, siswi ini masih sering main ke dermaga dan minta makan dari orang-orang. Ada kisah tragis yang nggak kalah sedihnya dari drama india di balik gagalnya siswi, Siswi ini dilahirkan dari rahim Siswoyo, seorang betina primadona di camp leakey, begitu dewasa siswi pun menikah dengan Tom sang alpha tapi sayangnya anak kembar yang dilahirkannya meninggal sehingga siswi terkena faktor psikologis berat yang menyebabkan dia gagal menjadi liar lagi. Mungkin kalau manusia dia terkena beban batin yang amat mendalam, secara suaminya merupakan ketua kelompok yang pasti digandrungi banyak cewek pasti dia sering cemburu, jadi begitu bayinya meninggal dia jadi agak gila.

13102691_10154233853249623_6004568844284549347_n
Meet Siswi

Begitu hujan reda, kami memasuki area camp leaky melewati suatu dermaga panjang dan jalan setapak yang masih becek akibat hujan. Sekitar 15 menit kemudian, sampailah kami di bangunan panjang berwarna hijau yang difungsikan sebagai museum. Setelah mengisi buku tamu, kami berkeliling menyusuri museum. Adalah seorang Birute Galdikas, seorang profesor wanita asal jerman yang merupakan peneliti primatologi, aktivis pelestarian alam dan penulis buku-buku mengenai ancaman kepunahan orang utan, yang telah mendedikasikan banyak usaha dan kerja kerasnya di camp leaky ini. Profesor Galdikas lah yang telah mengembangkan konservasi dan memetakan populasi orang utan di camp ini, sejarah dan silsilah para orang utan dipampang di dinding disertai foto-fotonya. Saya kagum saja bagaimana bisa membedakan antara satu orang utan dengan yang lainnya padahal menurut saya kelihatan sama semua. Untuk memudahkan pemetaan, anak-anak dinamakan sesuai dengan huruf pertama orang tuanya (misal siswi anak siswoyo), nah mungkin karena yang memberi nama orang asing jadi dia nggak begitu paham ya soal nama-nama yang sesuai dengan gendernya, haha. Selain silsilah, di sini juga kita bisa mendapat informasi soal orang utan, mulai dari info biologi nya hingga sosialnya, ada juga tulang belulang dan gigi geligi dari orang utan.

13151471_10154233853159623_5032412689334549925_n
Dermaga Camp Leakey

Hujan kembali turun dengan sangat deras sehingga serambi museum penuh sesak dengan orang-orang yang berteduh, beberapa bahkan ada yang sudah basah kuyup karena terlambat lari waktu hujan tadi.

Saat masih gerimis, pak cihuy mengajak kami kembali melanjutkan perjalanan agar tidak ketinggalan acara pemberian makanan, saya jadi sangat menyesal kenapa saya nggak bawa payung atau minimal jaket untuk baby g. Jalan setapak berangsur-angsur hilang dan mulai digantikan oleh rapatnya pepohonan, kami menebras hutan yang masih asli, jalanan sudah berupa tanah yang sangat becek dan saat itulah hujan kembali turun. Suami saya sampai menggendong baby g dan menutupi sebisanya dengan tas agar tidak terlalu kehujanan. Tidak seperti di pondok tanggui tadi di mana orang utan baru dapat kami temui di platform tempat makan, begitu memasuki area hutan di camp leaky, orang utan sudah bergantungan di pohon yang ada di jalan, tiba-tiba melompat, berayun atau memasang pose. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan nongol persis di sebelah kamu.

Total waktu trekking dari dermaga hingga ke tempat feeding sekitar 45-50 menit, cukup jauh memang dengan medan yang lebih sulit dan lebih alami. Begitu ranger membunyikan isyarat, orang utan berdatangan dari segala penjuru, ada yang berjalan, ada pula yang berayun, ranger-ranger akan mengingatkan kita untuk memberi jalan pada orang utan yang akan lewat. Selain orang utan, ada juga celeng (babi hutan) yang melenggang santai di arena feeding, baru kali itu saya melihat celeng, ternyata badannya besar dengan taring-taring yang mencuat tajam. Akhirnya si celeng diusir oleh ranger yang datang sambil memanggul keranjang isi makanan untuk orang utan. Tibalah Tom, sang alpha, yang ukurannya lebih besar dibanding Mandar, si alpha di Pondok Tanggui tadi. Tom sangatlah gagah dengan bulu coklat pekat yang halus dan ukuran tubuh yang tinggi besar, Tom makan membelakangi para pengunjung jadi kami tidak bisa mengambil gambarnya. Saat alpha makan, hanya 1-2 orang utan lainnya, yang saya pikir sang betina permaisuri, yang berani makan di sisinya, itu pun di pinggiran dan makanannya sisa-sisa Alpha, sementara yang lain langsung menyebar ke pohon-pohon sekitaran platform.

Usai acara feeding, kami kembali trekking hingga ke dermaga dan kembali menaiki speed boat. Di perjalanan pulang hujan kembali turun tapi jangan khawatir karena speed boat juga dilengkapi dengan tudung seperti kemah yang bisa dipasang membungkus keseluruhan speed boat. Yang terkadang bikin tegang, beberapa kali mesin speed boat berhenti karena ada tanaman atau apa yang nyangkut, di saat itulah pak cihuy harus bekerja menarik tali-tali yang tersambung agar mesin hidup kembali. Tentu tegang karena speed boat berhenti di tengah-tengah sungai yang sangat sepi, bisa sekitar 5-15 menit,  saya jadi membayangkan gimana kalau ada buaya yang tiba-tiba nyaplok kayak di film, syukurlah tidak.

Jam 4 sore kami sudah tiba kembali di dermaga kumai dan sudah ditunggu oleh mas yomie yang akan mengantar kami kembali ke hotel. Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada pak cihuy, kami pun menaiki mobil. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyenangkan, suatu hari nanti saat anak-anak sudah agak besar saya ingin kembali lagi untuk merasakan program live on board dengan klotok.

Karena sudah lelah, malamnya kami memesan layanan room service. Tanpa disangka entah di mana suami saya mendapatkan gigitan serangga tomcat di tengkuknya, sehingga ada luka yang panas membakar dan baru sembuh setelah diolesi salep khusus dari dokter sepulang dari sini.

DAY 3

Jam 06.00 pagi kami sudah bersiap di lobby hotel dan dijemput kembali oleh supir taksi yang sama dengan supir yang mengantar kami di hari pertama (nomor kontaknya memang sudah sengaja kami simpan). Ternyata penumpang pesawat di sini santai-santai banget, bukannya penumpang yang repot, malahan petugas check in yang sibuk nyariin penumpangnya, bahkan saat pesawat sudah 15 menit boarding ada saja penumpang yang datang lenggang kangkung, kalau di Soetta mah udah nggak boleh masuk.