Posted in Indonesia, Pangandaran, West Java

Cagar Alam Pananjung & Pangandaran

Menyandang predikat sebagai pantai terpopuler di Jawa Barat menjadikan kawasan Pangandaran tidak pernah sepi pengunjung, apalagi di musim lebaran, kemacetan panjang sudah dipastikan terjadi. Sebagai wisatawan yang ngakunya anti mainstream (jiaaah PD bener yak) saya sangat amat menghindari pantai yang satu ini, karena macetnya di musim lebaran pasti sudah masuk  kategori amit-amit. Tapi …. karena lebaran ini ada satu dan lain hal yang menjadikan jadwal liburan sangat sempit, maka kami akhirnya memutuskan berkunjung ke tempat ini karena jaraknya terbilang dekat dari kampung suami.

Perjalanan kami dari daerah Cilacap cukup lancar, hanya ada sedikit kemacetan di perempatan lampu merah. Kami sudah sangat senang dan PD banget karena hingga sampai di pintu masuk Pangandaran tidak kami temui kemacetan yang berarti, sudah membayangkan mau leha-leha sambil santai nonton TV di kamar hotel. Ternyata tidak lama setelah memasuki areal Pangandaran, jalanan sudah direkayasa menjadi satu jalur akibat macet luar biasa. Kendaraan diharuskan melalui pantai timur baru memutar ke pantai barat. Mobil benar-benar stuck berhenti dan makin diperparah dengan mobil yang main serobot tidak mau tertib, rasanya mangkel banget, apalagi tiba-tiba kebelet, ditambah drama anak yang popoknya agak tembus, hadeuuh.

Satu jam kemudian barulah kami sampai di Sun In Pangandaran Hotel yang sudah kami booking sebelumnya (padahal mah jaraknya cuma 2 km dari pintu masuk), saya buru-buru ke lobby hotel untuk check in dan saking kebeletnya, sementara si mbak resepsionis menyelesaikan proses check in, saya langsung ngacir ke toilet. Sang resepsionis memberikan saya beberapa kupon antara lain kupon breakfast, welcome drink, diskon 10& F&B di Ocean Cafe dan diskon 10% belanja di toko milik Hotel ini.

Sun In Pangandaran (SIP) Hotel

Sun In Pangandaran merupakan hotel yang terletak di pantai timur Pangandaran. Hotelnya cukup besar, terdiri atas 5 lantai dan bagian tengahnya berbentuk core, sehingga pemandangan kolam renang yang terletak di lantai dasar dapat kita lihat dari atas.

IMG20170629144955
Pantai timur pangandaran

Lift nya tergolong sangat kecil untuk ukuran hotel yang memiliki banyak kamar , selain itu tidak dibedakan antara lift pengunjung dan lift barang, jadi kita harus rela berdesak-desakan dengan troli barang saat naik lift. Posisi lift ada di bagian barat sementara kamar kami terletak di bagian timur sehingga mengharuskan kami berjalan mengitari separuh bangunan dulu.

Kamar yang kami booking bertipe deluxe sea view dan terletak di lantai 3. Sengaja memilih kamar ini dengan harapan bisa duduk santai-santai di balkon sambil menikmati pemandangan sunrise esok harinya. Ternyata kamarnya sempit banget, hanya sekitar 22 m2 dikurangi dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Yang mengejutkan saat kami membuka pintu menuju balkon, udara panas bercampur bau anyir khas ikan langsung merebak, ya iyalah balkon ini menghadap ke pantai timur pangandaran yang memang merupakan pusat kegiatan nelayan, jadi seharusnya tidak mengherankan kalau bau-bauan ikan semerbak. Apalagi balkon tersebut juga sempit sekali dan hanya dilengkapi dengan dua kursi plastik murah yang bahkan sudah bladus rupanya, haha buyar sudah angan-angan pingin nyantai di balkon.

20170629_142740
Pemandangan pantai timur dari balkon hotel

Setelah menunaikan shalat dzuhur, kami segera turun untuk mencari warung makan yang kami lihat berjejeran di pantai timur. Warung makan di sini kebanyakan adalah warung makan sederhana, sajiannya berupa mie instan rebus/goreng, nasi goreng atau soto ayam, karena sudah kelaparan dan malas mencari, seadanya juga cukup lah.Kelar makan kami kembali ke hotel untuk istirahat sejenak.

Cagar Alam Pananjung

Setelah cukup istirahat dan menunaikan shalat ashar, sekitar jam 04.00 sore kami berjalan menuju cagar alam pananjung. Sengaja memilih sore hari agar cuaca lebih teduh dan bersahabat. Berjalan kaki dari hotel sekitar 300 m, melewati deretan kios-kios penjual cinderamata dan ikan asin, juga bangunan hotel horizon yang menjulang tinggi, persis di sebelah loket tiket cagar alam. Kebanyakan pengunjung justru terlihat sudah akan pulang, hanya beberapa saja seperti kami yang baru datang jam segini. Setelah membayar tiket masuk, kami menyempatkan memoto peta kawasan dulu agar tidak tersasar, sebab kawasan cagar alam ini terbilang luas, jam maksimal kunjungan adalah pukul 18.30, selepas itu dilarang karena area nya gelap. Cagar alam ini merupakan konservasi sejumlah binatang seperti rusa, monyet dan banteng, juga terdapat sejumlah gua-gua, pantai dan air terjun.

Tidak jauh dari loket, kami bertemu dengan lapangan luas di mana terdapat sejumlah rusa yang dibiarkan bebas, sayangnya kebersihan di kawasan ini kurang terjaga, banyak sampah bertebaran, walhasil beberapa rusa terlihat sedang menggerigiti sampah kertas atau plastik yang dibuang sembarangan.

Setelah melihat rusa, kami bermaksud berkunjung dulu ke gua panggung dan gua parat yang dari penangkaran rusa arahnya berbelok ke arah kiri.

IMG20170629162831
Jalan menuju gua panggung

Gua Panggung merupakan gua pendek yang di dalamnya terdapat batu besar berbentuk seperti panggung, juga terdapat makam yang diyakini keramat di salah satu ceruknya.

Sementara Gua Parat awalnya tidak kami masuki karena sangat gelap dan harus menyewa senter, jadi kami malah memutar ke belakang gua hingga sampai di suatu kawasan pantai sempit yang berpasir putih. Pulangnya baru kami melintasi gua tersebut, gua-nya sangat gelap dan walau sudah memakai senter kami harus tetap extra hati-hati karena permukaan di dalamnya tidak rata dan di beberapa bagian sangat sempit.

Selepas mengunjungi kedua gua tadi, kami melanjutkan perjalanan ke bagian barat cagar alam, menuju ke pantai pasir putih yang sangat populer di pangandaran. Kembali kami melewati penangkaran rusa, dan daripada bingung, kami memutuskan menyewa jasa seorang pemandu wisata (yang banyak bertugas di dalam cagar alam) unutk memandu kami hingga ke pantai pasir putih. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan situs batu kalde, yang merupakan sekumpulan reruntuhan situs tua, dengan satu batu besar berbentuk sapi, ada juga batu berbentu seperti lesung dan ada juga yang seperti makam.

Sesuai saran pemandu wisata, kami diberi jalur jalan pintas melewati sungai kecil yang di sekitarnya dipenuhi rusa liar, serta melewati bukit kecil yang jalur menanjaknya cukup bikin kiddos kecapekan, di bukit ini banyak kera-kera liar, sehingga kami diwanti-wanti untuk memegang barang bawaan dengan ketat agar tidak direbut monyet. Untunglah kelelahan kami terbayar, karena setelah menuruni bukit inilah kami sampai di pantai pasir putih.

Pantai pasir putih di senja hari ini masih padat dipenuhi pengunjung, memang tidak seindah perkiraan saya, tapi cukuplah untuk membuat kiddos senang. Permukaannya landai dan pasirnya halus, sementara ombaknya tidak terlalu besar. Di kejauhan terlihat bangkai kapal yang belum lama ditenggelamkan oleh Menteri Susi. Yang agak sedikit mengganggu adalah kapal-kapal pengangkut penumpang yang hilir mudik dan memenuhi bibir pantai, sehingga mengganggu keleluasaan bermain. pantai ini memang dapat diakses melalui perahu dari pantai barat pangandaran.

Karena waktu terbatas hingga matahari terbenam, saya segera menggantikan baju kedua kiddos dengan baju renang. Sayangnya juga, di sini tidak tersedia bilik untuk berganti baju, sehingga suami saya sampai mencari pojok aman untuk melipir dan ganti baju.

Menjelang pukul 17.30 saya segera memanggil suami dan kedua kiddos yang masih asik bermain air, agak kasihan juga karena mereka masih senang, tapi saya takut kemaleman sebab jarak dari pantai pasir putih ke penginapan masih cukup jauh. Benar saja, selepas melewati bukit, setelah melewati batu kalde, azan maghrib mulai berkumandang, agak creepy-creepy juga sih, karena malam mulai turun sementara penerangan agak minim, udah gitu sepi pula, pantas saja tempat ini dilarang dimasuki selepas jam 18.30.

Mega Laut Restaurant

Malamnya kami makan di mega laut restaurant yang letaknya persis di depan hotel kami. Mega laut ini termasuk restoran yang populer di kawasan pangandaran jadinya ramai sekali. Pilihan menunya sangat banyak, mulai dari seafood, chinese food, bakso, siomay, mie ayam sampai es doger. Agak lama juga menunggu pesanan saking ramainya, harganya memang agak mahal namun sebanding dengan porsi yang besar.

IMG-20170330-WA00291
Mega Laut (sumber:rumahiklan.com)

Pantai Barat Pangandaran

Paginya, kami sarapan di ocean cafe yang berada di lantai paling atas Sun In Pangandaran hotel, cafe-nya didominasi dengan warna putih dan menghadap ke pantai timur. Pilihan breakfast yang disajikan enak dan beragam. Setelah sarapan, kiddos minta berenang dulu di kolam hotel, mumpung masih pagi jadi masih sepi.

Setelah itu, kami melangkahkan kaki menuju pantai barat pengandaran yang hanya sekitar 100 m saja dari hotel. Bagian barat inilah pantai yang populer sebagai tempat wisata, sehingga tidak mengherankan walau masih pagi namun sudah padat sekali dengan wisatawan. Areanya landai dengan pasir hitam dan ombak yang aman sehingga cocok untuk bermain air.

Advertisements
Posted in Tasikmalaya, West Java

Kulineran di Tasikmalaya

Tasikmalaya memiliki sejumlah spot kuliner yang patut dicoba. Karena kota Tasikmalaya ini terkenal sebagai kota santri, maka jangan heran kalau saat ramadhan semua pemilik restoran mulai dari gerobak, warung, kios hingga chain fast food di mall baru akan buka menjelang maghrib, adapun take away dibolehkan mulai pukul 15.00. Berikut review saya dari pengalaman kulineran di tasikmalaya.

#1 Danau Lemona

Awalnya saya mengenal nama “Lemona” sebagai bakery lokal kondang yang banyak cabangnya di seantero kota Tasikmalaya. Lemona bakery ini penampilannya mirip-mirip breadtalk , sajiannya berupa aneka roti kekinian dengan rasa yang enak namun harganya terjangkau, masih di bawah Breadtalk.

Selain bakery, Lemona melebarkan sayap usahanya dengan membuka sebuah restoran dengan nama “Danau Lemona” yang terletak di daerah Salopa, jaraknya cukup jauh dari pusat kota Tasikmalaya, kira-kira bisa 1,5 jam-an. Nah, Danau Lemona ini justru dekat dari rumah mertua saya, sekitar 7-8 km saja, karena dekatlah maka saya malah nggak pernah kepikiran mampir. Toh kalau soal makanan saya nggak pernah khawatir sebab mama mertua saya pasti sudah sigap menyajikan aneka rupa masakan sunda khas rumahan yang ciamik.

Akhirnya saya mencoba ke restoran ini karena reuni SMA suami saya tahun ini dilangsungkan di sini. Perjalanan menuju ke Danau Lemona melewati jalan berkelok-kelok dengan tebing di satu sisi dan lembah curam di sisi lainnya, sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan bumi parahyangan yang terkenal dengan alamnya yang indah.

Tidak lama kemudian kami melihat plang besar bertuliskan “Danau Lemona”. Area parkir yang disediakan cukup luas,  dari sini kita dapat melihat danau lemona yang membentang dengan jembatan bambu dan bangunan restoran bergaya sunda di seberangnya. Untuk mencapai bangunan restoran, kita dapat menaiki getek atau melewati jembatan bambu. Kami memilih melintasi jembatan yang harus dilalui dengan hati-hati karena goyangannya sangat terasa, apalagi pegangannya hanya berupa dua utas tali, jadi kami harus extra konsentrasi memegangi kiddos agar tidak sampai tercebur.

IMG20170627114027
Jembatan “goyang”
20170627_120459
Restoran Danau Lemona

Area makan di sini sangat luas, bisa pilih duduk di saung kecil, saung besar, kursi kayu atau bahkan di dalam saung apung. Karena ini acara reuni, maka sudah dibooking saung besar yang bisa diisi hingga 20 orang. Sistem makannya duduk secara lesehan. Saya memilih duduk dengan anak-anak di saung sebelah, terpisah dari saung di mana suami reuni-an , karena takut anak-anak rewel. Tempatnya memang menyenangkan dan nyaman, cocok untuk acara reuni atau kumpul-kumpul. Banyak spot-spot foto yang bagus, misalnya saja pemandangan danau, jembatan atau bangunan saung yang bergaya sunda.

20170627_113237
Area saung besar

Cuma untuk pilihan menunya, tergolong sangat sedikit untuk ukuran restoran sebesar ini. Hanya tersedia gurame, ikan mas dan ayam, pilihannya pun hanya digoreng atau dibakar. Pun pilihan sayuran pelengkap hanya lalapan, sayur asem, karedok, tumis kangkung, tempe, tahu, udah itu aja. Sampe saya bolak-balik menu karena bingung kok pilihannya sedikit amat. Akhirnya saya memesan gurame dan lalapan saja dengan tambahan tempe goreng. Sebelum pesanan datang, kami diberi compliment berupa sepiring kue bolu sederhana yang lumayan enak. Rasa masakannya sendiri tergolong enak, ikannya masih fresh karena sepertinya merupakan produk langsung dari danau lemona ini.  Harganya juga tidak mahal untuk restoran besar seperti ini.

20170627_121527
Pesanan di lemona

Saat akan kembali ke parkir kami mencoba naik getek yang harus antri dulu, geteknya bergerak dengan ditarik dengan semacam katrol oleh petugas yang sampai keringatan karena kayaknya lumayan berat apalagi kalo isinya lagi penuh.

20170627_135146
Di dalam getek, yang pake baju orange itu petugasnya yang lagi narik katrol

#02 Mie Baso Laksana

Tasikmalaya terkenal dengan kuliner mie baso, jadi alih-alih bakso, justru mie lah  tokoh utamanya, bakso yang jadi pelengkap. Yang paling terkenal adalah mie bakso laksana yang berlokasi di jl pemuda no. 5. tidak jauh dari masjid agung tasikmalaya.

Beberapa kali saya ke sini, siang dan malam selalu dipadati pengunjung. Restorannya terdiri atas dua lantai dengan banyak pelayan yang berseliweran sehingga tidak sulit memesan walau kondisi super ramai.

Mie yang ada di sini adalah produk homemade, tanpa bahan pengawet, dengan rasa khas dan tekstur tebal, berbeda dengan mie-mie lainnya yang pernah saya coba. Pilihan pendampingnya juga banyak, mulai dari bakso, pangsit, hingga babat. Mie-nya juga bisa diolah yamin asin atau manis.

Semangkuk mie baso porsinya sangat mengenyangkan, dihidangkan dengan cacahan daging ayam tanpa tulang (seperti mie bangka), daun bawang dan sawi hijau. Kuahnya bening dengan rasa  yang  sangat khas , tidak seperti mie bangka atau mie ayam gerobak. Harganya mulai 30 K/porsi, agak mahal memang, tapi sebanding dengan kualitas dan porsinya yang besar.

1907349_10153034037829623_8987382592486326654_n
Mie baso laksana

#03 Nasi TO Mr Rahmat

Kalau menurut mertua, dulu Nasi TO (tutug oncom) itu merupakan makanan rakyat kurang mampu, karena tidak sanggup membeli lauk, daripada makan nasi pakai garam terus, akhirnya tercetus ide untuk mencampur oncom yang sudah disangrai (sampai berwarna kehitaman) dengan nasi dan bumbu-bumbu seperti cabai dan kencur. Lama kelamaan nasi TO ini menjadi makanan khas penduduk tasikmalaya dan bahkan menjadi ikon kuliner. Walaupun sekarang nasi TO yang dijual sudah dihidangkan dengan berbagai macam pilihan lauk .

Salah satu penjual nasi TO yang terkenal di Tasikmalaya adalah Mr Rahmat, berlokasi di jl BKR, tidak jauh dari lapangan Dadaha dan GOR Susi Susanti. Bangunan restorannya berbentuk saung bambu dan bergaya lesehan.

2
Warung TO Mr Rachmat (sumber : rizkiabdillah.wordpress.com)

Pilihan lauk pendamping nasi TO-nya cukup bervariasi, mulai dari ayam, ikan peda, ikan jambal roti, telor, gorengan ataupun oseng-oseng . Beras yang digunakan untuk nasi TO bertekstur pera’ (kering), jadi kalau makan dengan tangan agak makpyur  (berantakan), rempah kencur nya sangat terasa, dengan sedikit rasa khas dari oncom.  Harus saya akui nasi TO kurang cocok di lidah jawa saya (yang sukanya manis dan pulen), tapi tetap Nasi TO ini salah satu kuliner yang wajib dicoba.

Nasi tutug oncom Mr. Rahmat Tasikmalaya
Nasi TO (sumber : mamayu.riftom.com)

#04 Nasi Ibu Oom

Tempat ini merupakan gerobak sederhana saja yang terletak di pinggir jalan, tapi selalu ramai pengunjung. Ibu Oom menyajikan beragam lauk pauk khas sunda, saking banyaknya pilihan sampai bikin saya bingung, soalnya semua kelihatan menggugah selera . Walaupun sederhana, tapi rasanya sangat enak dan harganya pun murah, tidak heran selalu ramai. Warung ini buka mulai sore (pukul 16.00) hingga malam hari .

download
Nasi Ibu Oom (sumber : wisatakuliner.com)

#05 Saung Ranggon

Saya berkesempatan mencoba restoran ini di salah satu acara reuni-nya suami. Kalo dari depan restoran ini kelihatan biasa saja, tapi setelah melewati pintu masuk, baru terlihat kalo tempatnya sangat luas, di dalamnya berjejer saung-saung bambu lesehan, mulai dari yang kecil sampai yang besar, terdapat juga beberapa kolam ikan. Yang paling menyenangkan, restoran ini dikelilingi areal persawahan yang pemandangannya menyejukkan mata.

Restoran ini menyajikan berbagai jenis masakan ala sunda, walau yang paling terkenal adalah masakan gurame-nya.

940821_10153913650049623_2463359746739127953_n
Saung ranggon

#06 Cilok Goang Teh Yati

Makanan dari aci (sagu) ini memang banyak variasinya terutama di daerah asalnya yaitu tasikmalaya, mulai dari cilok (aci dicolok – kudapan dari tepung aci yang dibetuk bulat lalu direbus dan disiram sambal kacang atau lada bubuk dan kecap), cireng (aci digoreng), cilor/cilung (aci campur telor yang digoreng), citruk (aci yang diiris tipis seperti keripik) sampai yang belum saya temui di jakarta yaitu cilok goang.

Cilok goang ini sebenarnya adalah cilok yang dihidangkan dengan kuah rebusan tulang ayam (yang kadang masih ada sisa sedikit daging ayamnya), mirip-mirip bakso, cuma baksonya diganti cilok, dan kaldunya dari ayam, bukan sapi. Dihidangkan dengan tambahan tahu putih, irisan daun bawang dan lada bubuk aida (produk khas tasikmalaya), rasanya seger. Penjual cilok goang bisa ditemui di seantero tasikmalaya, kebanyakan berupa gerobak sederhana, atau kalau di tempat yang saya coba ini (teh yati red) sudah dilengkapi tempat duduk.

0025
Cilok goang teh yati

#07 Liwet Asep Stroberi

Restoran ini sangat terkenal karena memiliki banyak cabang di seantero Garut dan Tasikmalaya bahkan di Bandung, mudah ditemukan karena di di depan semua restorannya terdapat display strawberry berukuran besar.

Saya sudah 3 kali makan di sini, di cabang yang berbeda, kali ini saya akan mengulas asep stroberi yang berlokasi di jl raya tasikmalaya – garut . Cabang ini termasuk yang luas, dengan deretan saung yang mengelilingi danau, disediakan perahu juga kalau kita ingin mengarungi danau, walau harus membayar 10K lagi.

Yang direkomendasikan di sini adalah nasi liwetnya, yang umumnya disediakan dalam bentuk paket, bisa paket ayam (negeri atau kampung), ikan atau gepuk. Satu paket berisi nasi, pilihan lauk, irisan ikan asin peda, lalapan, cihu/cipe (gorengan tahu tempe), lalapan dan sambal, sangat mengenyangkan. Perlu dicoba juga jus stroberi khas dari restoran ini yang rasanya masam-masam segar.

#08 Mujair bakar di Situ Gede

Situ Gede merupakan salah satu obyek wisata populer di Tasikmalaya, letaknya yang di pusat kota menyebabkan tempat ini selalu ramai. Berupa sebuah danau luas yang cukup dalam, sehingga bisa diarungi dengan perahu, bisa juga memancing di sini.

922733ee24e6ca0e802c7ca3656c1fa4
Situ Gede (sumber : merahputih.com)

Di pinggir danau banyak warung-warung lesehan yang menyajikan ikan hasil tangkapan dari situ gede, utamanya mujair. Di suatu waktu kami sekeluarga makan malam di salah satu warung yang ada, setelah berwisata di situ gede. Mujair bakar yang disajikan berukuran besar, maih segar dan rasanya enak, disajikan dengan sambal dadak yang pedas. Yang harus diingat, akan banyak pengamen yang mampir berkeliling, jadi harus siap sedia uang receh.

mouthwatering-menu
Mujair situ gede (sumber : tripadvisor.com)

#09 Food Court di Asia Plaza

Asia Plaza adalah salah satu mall terbesar di pusat kota tasikmalaya, selain mayasari plaza. Letaknya yang berada di luar pusat kemacetan kota, menjadikan saya lebih suka mengunjungi mall ini kalau sedang berkunjung ke tasikmalaya. Toserba Asia menempati los terbesar di sini, barang yang dijual mirip di matahari. Selain itu ada hypermart, gramedia, amazone (semacam timezone), chain store seperti zoya atau elzatta, sejumlah resto fast food dan food court.

Food courtnya menempati area yang cukup luas dengan beragam pilihan makanan, mulai dari masakan sunda, chinese food, bakso, siomay, pempek dll. Jadi kalau bingung mau makan apa, biasanya saya lebih suka ke food court ini agar banyak pilihan.

20150221_133258[1]
Food court AP (sumber:tasikeksis.com)
Posted in Garut, Indonesia, Tasikmalaya, West Java

Galunggung & Kampung Sampireun

Awalnya long weekend di penghujung bulan maret mau kami manfaatkan untuk “doing nothing” alias leyeh-leyeh santai mager di rumah, tapi tetiba ada woro-woro kalau anaknya salah satu sepupu suami di tasikmalaya mau disunat. Akhirnya pulanglah kami sekeluarga, toh jarak jakarta – tasikmalaya tidak terlalu jauh, jadi waktu 3 hari cukuplah untuk mengunjungi sanak famili di kampung. Kebetulan suami juga pingin “meet up” sama temen-temen lamanya, dan dari dulu saya pingin mengunjungi kawah gunung galunggung yang kalo di musim lebaran udah kayak lautan manusia saking ramenya.

Mt Galunggung

Setelah acara sunatan dan pengajian di hari jumat rampung, esoknya kami pamit pulang. Perjalanan dari rumah mertua ke galunggung ditempuh dalam waktu 1,5 jam, cukup jauh memang, itu juga kondisi jalan lancar jaya. Setelah berbelok dari jalan utama mengikuti plang penunjuk , jalanan menyempit menjadi dua jalur, melewati pemukiman dan area persawahan, agak tricky dan bisa nyasar kalo nggak pake panduan google maps. Akhirnya kami sampai di pos tiket bertuliskan gunung galunggung, bayar 6K/orang + 5 K untuk mobil. Dari sini jalan bercabang dua,  yang kiri menuju pendakian 500 anak tangga sementara yang kanan menuju 600 anak tangga. Walau yang kiri lebih sedikit, namun medannya lebih curam. Setelah berdiskusi singkat, kami memilih yang 500 anak tangga saja. Jalanan mulai mendaki curam, kanan kirinya dijajari pohon pinus dan sesekali kami bertemu monyet liar yang sedang bergelantungan atau main di pinggir jalan. Suhu udara mulai dingin dan terasa sejuk. Tidak lama sampailah kami di area parkir yang di salah satu sisinya dipadati  kios-kios, toilet umum dan musholla.

Untuk mendaki anak tangga dipungut lagi biaya 5K/orang (lah tadi saya bayar di pos buat apa dong), tangganya terlihat menjulang sampai tidak kelihatan puncaknya, bikin glegek karena mikirin dua kiddos ini bakalan kuat atau nggak. Sebelum mendaki, kami foto-foto dulu di dinding dengan mural “galunggung” dan 3 emblem besar bertajuk viking/persib.

Awal-awal pendakian kiddos masih semangat, tapi setelah 1/3 perjalanan mereka pun mulai keok. Tiap beberapa meter, disediakan area berbentuk persegi untuk beristirahat, sehingga pengunjung yang duduk-duduk tidak akan memenuhi areal tangga (entah kalau lebaran). Yang jadi catatan, di sepanjang jalur pendakian tidak ada shelter beratap untuk berteduh, jadi kalau kepanasan ya hayuk, kalau tiba-tiba hujan ya hanya bisa pasrah. Untungnya saat kami mendaki kemarin, cuaca sangat bersahabat, agak mendung jadi adem. Beberapa kali kami berhenti dan bodohnya pula kami nggak bawa air minum sama sekali, jadi kami harus terus menerus menyemangati kiddos agar mau terus mendaki dengan iming-iming di atas nanti ada kios jualan, baby B bahkan ngambek dan 2-3 kali minta digendong. Akhirnya 1/2 jam kemudian tibalah kami di puncak pendakian, udaranya lebih dingin lagi, dengan areal berpasir (pasir hitam hasil erupsi gunung berapi) dan pemandangan kawah gunung galunggung yang menghijau.

Gunung galunggung terhitung masih aktif dan sewaktu-waktu bisa kembali meletus. Kalau mau turun hingga ke kawah sudah tersedia anak tangga juga, tapi kami memilih untuk menikmati pemandangan kawah tersebut dari ketinggian saja, sambil menikmati secangkir teh hangat dan mengisi kembali energi yang terkuras. Jangan heran kalau harga makanan di kios di atas lebih mahal, hitung-hitung ongkos penjualnya untuk naik turun tangga setiap hari. Kawasan gunung galunggung ini juga dijadikan tempat latihan angkatan bersenjata, di puncak nya berdiri tugu tradisi brigif 13 galuh dengan lambang macan. Kabut yang turun cukup pekat sehingga di beberapa waktu kami bahkan tidak bisa melihat pemandangan di sekitar dengan jelas.

Setelah turun kembali, kami menyempatkan melihat galunggung tunnel, suatu terowongan air yang di kala gunung galunggung meletus, akan berfungsi sebagai sodetan yang menjadi jalur mengalirnya lahar.

Imah Mang Asep 

Sepulang dari galunggung, kami mengarahkan mobil ke pusat kota tasikmalaya, jadi agak bolak-balik sih, karena setelah ini rencananya kami mau menuju Garut, tapi berhubung suami sudah janjian ketemuan dengan teman-temannya dari kemarin, jadi hayuklah.

Imah Mang Asep merupakan restoran yang tergolong masih baru, terletak di pusat kota tasikmalaya, tepatnya di Jl HZ Mustofa yang seringnya macet. Pemiliknya Mang Asep adalah yang juga pemilik Asep Strawberry yang banyak cabangnya di mana-mana.

Menyandang tagline “Tempat Endah, Harga Mirah” (tempat indah, harga murah), memang restoran ini didesain dengan konsep sunda yang sangat kental dan bagus. Hampir semua ornamennya terbuat dari kayu dan bambu. Di pintu masuk terdapat suatu lorong yang dinaungi pergola bambu dan ornamen caping yang disusun bertumpuk serta lesung lengkap dengan alu-nya di kanan kiri. Para pelayannya pun mengenakan baju adat sunda dan dari speaker terdengar degung sunda mengalun.

Interior di dalamnya lebih semarak lagi, area makan dihiasi dengan payung-payung kertas khas tasikmalaya yang beraneka warna. Pilihannya bisa duduk di kursi atau lesehan, dua-duanya sama-sama nyaman. Di salah satu sisinya terdapat air mancur buatan, disediakan juga fasilitas mini playground untuk anak.

Sayangnya menurut saya, dekorasi tidak diimbangi dengan rasa masakan. Masakan disajikan secara prasmanan, tapi varian menunya sedikit, kebanyakan yang disediakan adalah pelengkap seperti tumisan atau tempe tahu, untuk lauknya sendiri waktu saya datang hanya ada ikan mujair, kikil dan ayam . Itupun kita tidak bisa request minta dihangatkan seperti di RM Ampera, rasanya pun biasa saja. Harganya memang murah, kemarin kami makan berempat hanya habis 51 K, mujair dibanderol 7,7 K, ayam 6,6 K, tumisan-tumisan sekitar 3-5 K. Tapi kalau mau jujur porsi lauk memang lebih kecil, misalnya saja ayam kalau di restoran sejenis kan ayam dipotong 4 atau paling banter 6, kalau di sini mah potong 8 (ini ibu-ibu yang sering ke pasar yang tau :)), mujairnya juga kecil banget, macem yang sekilo isi 7/8. Kalau nasi karena ambil sendiri, mau sedikit banyak harganya sama. Teh tawar gratis dan boleh ambil sepuasnya. Overall. lumayan lah untuk tempat kumpul-kumpul atau ngisi instagram karena tempatnya bagus.

Kampung Sampireun Resort and Spa

Awalnya nggak ada rencana mau nginep di sini, pokoknya long weekend mau dihabiskan di rumah mertua indah aja, tapi … entah kenapa sejak pernah dirawat di RS, baby B sekarang polahnya lagi biking geleng-geleng, selalu rewel dan gak betahan, di jalan rewel dan cepet bosen, di rumah orang maunya minta pulang mulu, hadeuh. Karena baby B ngamuk terus, akhirnya pas kamis malem dadakan banget kami langsung browsing aplikasi pemesanan hotel online, pilihannya ada dua, mau ke garut atau ke bandung, kalau ke garut lebih deket tapi rata-rata harga penginapannya (yang kebanyakan adalah resort harganya mahal), sementara bandung lebih banyak pilihan tapi jauh. Akhirnya setelah berjibaku antara traveloka dan agoda, kami memutuskan menginap di kampung sampireun yang terletak di garut, yah mau emaknya juga sih, karena dari dulu penasaran pingin ke sana.

Udah tau kampung sampireun dari lama, sejak zaman browsing-browsing waktu nyari destinasi honeymoon dulu. Kalau dari materi promosinya kayaknya bagus banget, konsepnya sundanese romatic lah, tapi belum kesampaian karena rate-nya yang lumayan mahal. Kemarin ini karena dadakan, pilihannya yang masih terjangkau antara dariza (udah pernah), kampung sampireun, mulih ka desa dan bukit alamanda, karena hampir sama harganya, akhirnya milih sampireun, itu juga cari kamar yang tarifnya paling murah, yaitu deluxe garden villa.

Jalan Samarang – Kamojang yang menuju ke resort merupakan jalan yang sempit dan berliku-liku. Resortnya sendiri tidak terletak di pinggir jalan, melainkan sekitar 100 m masuk dan melewati perkampungan penduduk.

Setelah menyelesaikan proses check in dan diberikan secarik kertas berisi rincian free voucher, kami diantar menuju kamar oleh concierge. Tepat di belakang lobby adalah highlight resort ini yaitu danau yang dikelilingi oleh cottage-cottage bernuansa sunda dengan sampan-sampan yang bisa digunakan untuk mengarungi danau. Resort kami letaknya agak di belakang, dekat dengan restoran Seruling Bambu, kolam renang dan playground. Restoran Seruling bambu juga dibuka untuk umum sehingga walau tidak menginap pun masih bisa makan dan sekalian foto-foto di area resort.

0051
Pemandangan danau di kampung sampireun

Deluxe Garden Villa merupakan bangunan modern bertipe duplex dengan 4 kamar. Di bagian belakang terdapat serambi dengan kolam ikan dan pemandangan kebun. Kamarnya sendiri ber-furniture modern dengan fasilitas standart, tidak dilengkapi AC karena daerah samarang ini suhunya sudah sangat dingin. Setelah beres mandi dan shalat, sambil leyeh-leyeh saya meneliti kembali voucher yang diberikan, jadi kami mendapat free afternoon tea (di restoran jam 15.30 – 18.00), free bajigur (diantar ke kamar pukul 21.00), free surabi (diantar ke kamar pukul 07.00 pagi) dan free breakfast. Di kamar disediakan permainan congklak dan makanan ikan, jadi sambil mengisi waktu, pak suami malah ngajarin baby G bermain congklak, sementara baby B anteng kasih makan ikan.

Karena perut mulai lapar, kami menuju ke restoran untuk afternoon tea, selain tea/coffee, disediakan pula snacks berupa singkong rebus, gorengan ubi dan nanas (yang bikin merem melek saking kecutnya).

Setelah itu kami menuju area danau untuk main perahu, ikan-ikan yang berada di danau sangat sehat dan lincah serta langsung jadi favorit anak-anak. Setelah melongok sana-sini kok kayaknya perahu-perahu tersebut disediakan private untuk penyewa cottage tepi danau, karena masing-masing ditambatkan di dermaga dan ada nomornya. Kami pun bertanya pada petugas dan memang begitulah, katanya ada disediakan 2-3 perahu yang boleh digunakan, perahu tersebut tidak ada nomornya.

Untung suami yang bermata jeli melihat ada perahu tertambat di dermaga di sisi seberang, jadilah kami mengitari separuh sisi danau untuk mendapatkan perahu, untungnya lagi suami saya tukang dayung yang cukup mahir, jadi kami nggak perlu minta didayungkan petugas. Cukup menyenangkan mengarungi danau di senja hari dengan perahu, walau terus terang saya tidak terlalu terkesan dengan pemandangan kampung sampireun yang walaupun memang indah, tapi tidak seindah sangkaan saya sebelumnya, apa mungkin karena saya sudah mencoba beberapa resort lain yang hampir setipe ya? bisa jadi.

Puas bermain perahu, kami kembali ke kamar untuk shalat maghrib. Menjelang makan malam kami kembali ke restoran, di sana sudah disediakan sajian buffet untuk dinner, tapi sayangnya karena kami nggak mendapat fasilitas free dinner, jadi kami harus pesen menu ala carte, tapi lumayan dapet diskon 15%. Restoran ini kebanyakan menyediakan menu masakan sunda walau ada sedikit pilihan western seperti steak. Kami memesan mie goreng, soto ayam dan sup patin, rasanya so-so lah. Kampung sampireun ini terletak jauh dari mana-mana, tidak ada restoran dekat sini, jadi kalau mau makan ya mau nggak mau ke restoran di resort.Pukul 21.00 lewat, seorang petugas mengantarkan dua mangkuk bajigur ke kamar, bajigur nya lumayan enak dengan rasa pedas yang menyengat.

Esoknya setelah terlelap semalaman, saya terbangun dalam kondisi kaki pegal-pegal, imbas kemarin mendaki gunung galunggung. Pagi-pagi, kiddos sudah nagih janji untuk main ke playground dan lanjut berenang, padahal airnya dingin banget. Daerah samarang – kamojang memang tidak dilalui mata air panas, jadinya tidak ada kolam renang air panas seperti resort-resort di cipanas atau darajat.

Setelah beres mandi, kami duduk-duduk sambil menunggu surabi datang, tapi hingga jam 07.30 tidak kunjung tiba juga, akhirnya karena sudah kelaparan, kami langsung menuju restoran untuk breakfast. Varian breakfast-nya cukup banyak dan lengkap denga rasa yang enak. Perut kenyang, hati pun senang, setelah beres kami check out karena tidak mau terkena macet di jalan.

 

 

 

Posted in Garut, Indonesia, West Java

Kampung Sumber Alam

Garut yang beken dengan julukan Swiss van Java memang memiliki panorama alam yang sangat indah, ditambah lagi dengan suhu udara yang sejuk dan mata air panas alami, menjadikan Garut tempat yang sangat nyaman untuk santai dan beristirahat.

Berbagai tipe akomodasi ditawarkan di Garut, termasuk beberapa resort hotel yang menawarkan suasana pedesaan khas sunda. Sisa libur lebaran kemarin kami manfaatkan dengan menginap semalam di Kampung Sumber Alam yang berlokasi tidak jauh dari obyek wisata Cipanas.

Hari senin tersebut, di mana kebanyakan orang-orang sudah masuk kantor di ibukota, membuat perjalanan kami dari Tasikmalaya sangat lancar, suasana jalan sangat lengang. Setelah mampir sebentar di Asep Liwet Stroberi cabang Tarogong untuk makan siang, kami segera menuju ke kawasan Kampung Sumber Alam. Kondisi jalan raya di sini masih sama saja seperti saat terakhir saya berkunjung ke Cipanas, rusak dan bolong-bolong dengan kondisi aspal yang sudah aus, padahal Cipanas ini termasuk obyek wisata yang sangat ramai.

Pukul 12.00 siang kami sudah sampai di resort, saya segera menuju meja resepsionis untuk check in. Karena sudah lewat musim libur maka kamar yang kami booking sudah siap dan langsung bisa ditempati tanpa harus menunggu pukul 14.00 seperti yang tertera dalam peraturan. Resepsionis memberikan kunci kamar berikut setumpuk kupon yang terdiri atas kupon breakfast, kupon dinner, kupon memancing free 1 kg, kupon mengolah & memasak hasil pancingan, kupon snack jajanan pasar dan kupon kolam renang.

Kampung sumber alam berkonsep suasana pedesaan khas sunda, akomodasi yang disediakan berupa bungalow yang berbentuk rumah adat sunda. Bungalow ini dibangun dengan pondasi di dasar kolam, atapnya berupa ijuk dan dindingnya berupa anyaman bambu. Bungalow-bungalow ini dikelilingi dengan kolam-kolam luas dan pepohonan yang asri.

Kami menyusuri jalanan setapak hingga mencapai bungalow yang sudah kami booking. Bungalow kami bernama “Bungalow si ceeh” yang berupa satu bangunan dengan dua suite terpisah . Yang mengejutkan ternyata bungalow ini terdiri dari dua lantai, lantai satu merupakan ruang tidur , sementara lantai dua-nya berupa loteng kecil tanpa furniture yang bisa diakses melalui tangga.

Setelah melewatkan waktu dengan tidur siang, sorenya kami menuju ke kolam renang yang letaknya di samping lobby resepsionis. Terdapat tiga kolam besar, satu untuk anak yang dilengkapi dengan seluncuran, satu untuk dewasa dan satu lagi adalah jacuzzi pool yang letaknya paling atas. Semuanya merupakan kolam air panas. Kiddos pun langsung menuju kolam pertama untuk main seluncuran dan basah-basahan.  Sambil menunggu, saya yang hari itu males basah, malah ngemil siomay yang bisa dibeli di kios dekat kolam renang. Setelah kiddos puas berenang, kami kembali ke kamar untuk mandi dan beristirahat.

Selepas itu tadinya kami bermaksud menukarkan kupon free snack (maklum abis berenang jadi lapar), namun ternyata stan untuk snack hanya beroperasi hingga jam 3 sore saja. Akhirnya kami hanya berjalan-jalan saja menyusuri jalan setapak hingga bertemu kolam pemancingan di mana suami akhirnya berhenti untuk ikut bapak-bapak lainnya memancing (alat memancing berikut umpannya bisa diambil di kolam pemancingan), sementara saya dan kiddos jalan terus hingga bertemu area playground yang cukup banyak mainannya.

20170704_074659
Kolam pancing

Sebenarnya hampir semua kolam di kampung sumber alam diperbolehkan untuk kegiatan memancing kecuali sedikit yang diberi keterangan “dilarang memancing”. Sesudahnya suami saya pindah memancing di teras bungalow, sementara saya dan kiddos memilih foto-foto di area jalan setapak dari kayu yang dikelilingi kolam dan bungalow yang kebetulan sangat indah untuk difoto.

 

Jam makan malam dimulai pukul 19.00, karena sudah lapar kami langsung menyerbu restoran, kebetulan lokasinya tidak jauh. Restorannya sendiri luas dengan pilihan beragam menu buffet. Makan malam diiringi dengan lantunan live music.

Keesokan paginya, setelah sarapan di restoran semalam, kiddos minta berenang lagi. Berenang di pagi hari lebih menyenangkan lagi, karena matahari berangsur-angsur naik sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Sehabis berenang, kami menukarkan kupon free snack yang sayangnya cuma dapet satu jatah saja, pilihannya ada bakso cuanki (atau bakwan malang), sosis bakar dan sate ayam. Karena cuma dapet jatah satu, tentunya kami minta tambah lagi dengan membayar yang sayangnya harga per porsinya agak pricey, satu porsi cuanki dibanderol 25K.

IMG20170704103522
Gerobak snack di lapangan outbond

Setelah puas makan, saya dan anak-anak kembali ke cottage untuk bersantai sambil nonton TV, sementara suami meneruskan memancing sampai kuota 1 kg-nya terpenuhi. Pulang-pulang suami membawa sekotak sterefoam isi ikan mas yang sudah disiapkan dan digoreng oleh pihak hotel:). Siang itu selepas dzuhur, kami baru check out, sungguh pengalaman yang menyenangkan.

20170703_174206
Memancing di kamar cottage

 

 

Posted in Bali, Indonesia

Bali Timur (Bagian 2)

DAY 3 – KARANGASEM

Karangasem melahirkan banyak memori, karena dulu waktu kecil saya pernah tinggal sebentar di sini, saat papa saya yang waktu itu masih bekerja sebagai pelaksana, mengerjakan proyek amankila resort di kecamatan manggis. Dulu kata mereka, di sini masih sepi banget, mandi saja mesti ke kali, yang mana banyak kutu babi-nya dan bikin gatel luar biasa.

Tirta Gangga

Setelah sarapan dan check out dari Bali Shangrilla, kami meneruskan perjalanan ke arah utara untuk melihat salah satu taman air peninggalan kerajaan karangasem yaitu tirta gangga, yang terletak di kaki gunung agung, sehingga saat erupsi oktober lalu ditutup karena masuk dalam zona bahaya.

Perjalanan ke sini melewati jalur berkelok-kelok karena mendaki bukit, kita juga akan melewati amlapura, ibukota kabupaten karangasem, yang ternyata cukup ramai dengan gedung-gedung pemerintahan dan jalan 4 jalur yang lebar.

Tirta gangga merupakan taman air keluarga kerajaan karangasem yang dibangun pada tahun 1946 oleh raja karangasem, sempat hancur akibat letusan gunung agung di tahun 1963 sebelum akhirnya direvitalisasi kembali dan dibuka untuk umum. HTM-nya 10 K untuk dewasa dan 5 K untuk anak.

20180216_093707
Taman air tirtagangga

Begitu melewati gapura, kita akan disuguhi pemandangan kolam luas dengan mata air yang sangat jernih. Air di sini berasal dari mata air rejasa dan dianggap suci serta digunakan dalam upacara keagamaan. Ada tiga kolam di tirta gangga, kolam paling eye catching adalah yang sebelah kanan, di mana terdapat sebuah pancuran air berbentuk candi menjulang tinggi, beberapa patung dan sejumlah pijakan untuk mengarungi kolam. Kolam tersebut dihuni oleh ikan koi yang besar-besar, di luar kompleks terdapat beberapa penjaja makanan ikan, kiddos langsung menemukan aktivitas favoritnya yaitu memberi makan ikan.

20180216_094535
Kolam kanan

Kolam sebelah kiri adalah yang terbesar, di mana terdapat dua jembatan di sisi-sisinya dengan ukiran naga.

Sementara kolam satunya yang berada di belakang pancuran, merupakan kolam yang boleh direnangi, beberapa wisatawan terlihat sedang berenang di air yang dingin dan sejuk segar. Di bagian belakang, terdapat sebuah bangunan bale besar yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat.

Di area parkir terdapat beberapa penjaja durian dan manggis dan buah-buahan lokal lainnya, yang langsung diserbu suami saya, maklum harga durian di bali tergolong murah, hanya 10 – 35 K saja.

Taman Ujung Karangasem

Perjalanan dari tirta gangga ke taman ujung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, taman ujung juga merupakan peninggalan kerajaan karang asem, hanya saja lokasinya terletak di pinggir laut, tepatnya di pantai ujung.

Kalau tadi di tirta gangga udaranya sejuk, di taman ujung panas sekali, mungkin karena dekat dengan laut. Kompleks taman ujung lebih luas dibanding tirtagangga, dahulu tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan dan juga untuk menerima tamu kenegaraan.

Dari area parkir, setelah membeli tiket dengan HTM 15 K untuk dewasa dan 5 K untuk anak, kita akan melewati sebuah jembatan berpergola lilitan bunga dengan kolam lotus di bawahnya, sayangnya lotus tersebut bercampur dengan eceng gondok. Setelah itu kita akan disuguhi pemandangan tiga kolam besar, satu di utara dan dua di selatan.

Kolam di sebelah utara dilintasi oleh jembatan panjang yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah paviliun bercat putih dengan gaya arsitektur campuran barat dan bali. Paviliun ini disebut juga dengan istana gantung karena terlihat seolah-olah menggantung. Jembatan yang melintasi kolam berukiran rumit dengan arsitektur khas bali. Di dalam paviliun tersebut tergantung sejumlah foto-foto keluarga kerajaan karangasem. Sementara di kolam selatan terdapat sebuah paviliun tanpa dinding dan kolam lotus.

Taman ujung ini dibangun di atas lahan yang berkontur, di sisi sebelah barat terdapat sejumlah anak tangga yang menghubungkan dengan dua gazebo kecil dengan letak kontur yang tinggi. Saya dan suami sempat mendaki anak tangga hingga tiba di gazebo sebelah selatan yang tanpa atap, dari sini bisa didapatkan pemandangan taman ujung secara keseluruhan, pantai ujung dan juga bukit bisbis. Sangatlah indah, tidak heran taman ujung ini juga populer sebagai tempat pre-wedding, kami sempat bertemu sejumlah pasangan yang sedang melangsungkan sesi photo.

Pantai Ujung dan Shalat Jum’at

Kami mampir sebentar di pantai ujung untuk makan siang di salah satu warung makan yang menyajikan ikan bakar. Ternyata daerah ini juga merupakan komunitas muslim asli karangasem sejak zaman kerajaan dulu, bukan pendatang dari pulau jawa atau lombok, baru tau saya. Pemilik warung makan pun mengenakan hijab sehingga saya tidak perlu ragu mengenai kehalalannya. Kami memesan ikan kembung goreng, baronang goreng dan mahi-mahi bakar, yang walau semuanya minim bumbu, tapi dagingnya sangat manis dan fresh karena baru saja ditangkap dari laut lepas. Yang juara juga sambal khas ala bali yang pedesnya bikin melek. Semuanya hanya dibanderol 114 K saja, murah dan enak.

Setelah itu kami beranjak ke masjid karena sudah waktunya shalat jumat, di depan taman ujung ada dua masjid yaitu masjid al quddus dan baitur rahman, yang mana pelaksanaan shalat jumat-nya digilir bergantian. Jumat itu, ibadah shalat dilangsungkan di masjid al quddus yang juga merupakan sebuah madrasah.

Charly’s chocolate factory, jasri beach dan virgin beach

Setelah shalat jum’at. mendung makin menggelayut tebal. Segera kami mengarahkan mobil ke detinasi selanjutnya yaitu charly’s chocolate factory yang berada di pantai jasri. Perjalanan hanya sekitar 15 menit, belokan menuju tempat ini masih berupa jalan tanah setapak yang dipagari pepohonan dan semak belukar, sampai papa saya meragukan masa iya tempatnya di sini, karena berasa di kebon banget, bahkan di jalan beberapa kerbau terlihat sedang merumput. Melewati beberapa villa seperti matanai dan villa salema (dulu sempat mempertimbangkan nginep di sini juga, tapi kalo malem kayaknya lumayan serem dan gelap juga ya), akhirnya sampailah di gerbang dengan plang “Charly’s chocolate factory”. Bangunan ini milik seorang warganegara asing (amerika kalau nggak salah) bernama Charly. Berhubung baby g sedang lelap, sementara baby b malah mulai ndeprok di pinggir pantai jasri bersama akung-nya, akhirnya hanya saya dan suami yang masuk.

Begitu melewati gerbang, kami disambut pemandangan bangunan unik nan lucu bergaya rumah hobbit. Baru melangkah sedikit, kami langsung disambut teriakan seorang mbak-mbak yang berujar masuk mesti bayar, lah mana kutahu, loketnya aja nggak ada. Kami pun masuk ke dalam sebuah bangunan kecil di kiri pintu gerbang, di mana terdapat sejumlah mbak-mbak yang sedang membuat kerajinan sabun wangi, tiket 10 K tersebut sudah termasuk souvenir sepotong kecil sabun.

20180216_132937
Mbak-mbak pengrajin sabun

Segera kami menuju bangunan hobbit tersebut, total ada 4 bangunan, satu dengan panggung, satu terkunci, satu untuk cafe yang menjual minuman olahan coklat, dan satunya lagi nggak jelas untuk apa, sempet saya intip sebentar, dan walaupun ada beberapa display dan loket yang menjual coklat, tapi suasana di dalamnya gelap, tidak beroperasi dan tidak ada petugas. Cafe-nya pun tidak terlalu menarik, hanya menyajikan hot or cold chocolate saja. Sayang sekali, padahal bangunannya sudah dibikin niat banget, tapi pengelolaannya malah kurang maksimal.

Di pinggir pantai dibangun sebuah anjungan berbentuk kapal yang bisa dinaiki, terdapat pula sejumlah ayunan yang bisa dikayuh tinggi-tinggi sehingga menciptakan sensasi loncat ke laut. Tiba-tiba hujan rintik-rintik beralih ke hujan deras, membuat kami segera mengakhiri kunjungan dan lari tunggang langgang ke mobil. Sedianya setelah ini kami masih akan mengunjungi virgin beach, suatu pantai cantik berpasir putih, yang terletak cuma 10 menit dari sini, tapi berhubung hujan tidak menunjukkan tanda akan berhenti, pun anak-anak malah tertidur, terpaksa kunjungan dibatalkan dan kami langsung menuju ke hotel untuk istirahat.

The Nirwana Resort – Candidasa

Masih terletak di bilangan candidasa, suami saya yang pernah menginap di sini lah yang merekomendasikan pemilihan resort ini, karena katanya nyaman dan menyenangkan.  Jalan masuknya lagi-lagi masih berupa jalan tanah, kesannya terpencil 🙂

Memasuki area nirwana, terdapat sebuah paviliun luas yang merupakan lobby hotel. Setelah check in, kami dipandu oleh seorang porter menuju kamar kami, melewati sebuah kolam kecil berjembatan kayu.

IMG20180216173314

Kamar yang kami booking bertype deluxe garden view (maunya sih yang sea view tapi harganya mahal hehe). Cottage-nya bergaya etnik, walau bangunannya sudah modern dengan dinding bata, namun atapnya dan pilarnya berangka kayu, atapnya pun dilapisi ijuk. Furniture-nya juga bergaya etnik, tempat tidur yang berkanopi dan berkelambu, serta kamar mandi yang semi outdoor. Tiap cottage memiliki teras yang dilengkapi dengan kursi santai nyaman.

 

Restoran dan kolam renang terletak di pinggir pantai, walau di sini tidak ada areal berpasir seperti di bali shangrilla kemarin.

Yang paling juara memang suasana kolam-nya, kolam-nya cukup luas, dan walau tidak ada area khusus anak, namun cukup aman karena anak-anak bisa bermain di area trap-nya. Di sekeliling kolam disediakan sejumlah kursi malas dan juga sofa-sofa santai yang nyaman, kolam juga sangat teduh dengan naungan pohon-pohon, sangat menyenangkan duduk-duduk di sini.

Sarapan disajikan secara a la carte, dan rasanya pun enak.

 

Warung Padang Kecag – Candidasa

Menyandang sebagai no 1 of candidasa versi trip advisor membuat saya mengalokasikan waktu untuk makan malam di sini. Letaknya di jl mendira, yang bukan merupakan jalan utama candidasa, sehingga terkesan tersembunyi.

Bangunan padang kecag merupakan rumah panggung bergaya joglo, restorannya sendiri tidak terlalu luas, namun sudah ramai dengan wisatawan asing. Ada dua area makan, di dalam resto-nya atau bisa di bale-bale yang tersebar di taman.

Kami memesan gurame asam manis (95 K), gado-gado (50 K), pizza (75 K) dan capcay kuah (60 K), yah memang di candidasa ini sulit mencari restoran harga murah.  Rasanya ternyata memang enak, tidak salah dinobatkan sebagai primadona di trip advisor, pizza margaritha yang kami pesan, kejunya melted banget, sementara yang lainnya pun tidak kalah enak, walau porsinya tidak terlalu besar.

DAY 4 – CANDIDASA-SANUR

Hari terakhir liburan selalu membuat malas, ada perasaan masih tak rela karena liburan sudah usai. Sesudah sarapan dan puas berenang, kami check out dari the nirwana yang super nyaman.

Tenganan Ancient Village – Candidasa

Tenganan merupakan desa adat bali aga yang masih terjaga tradisi dan adat istiadatnya. Hanya ada tiga desa bali aga yang masih tersisa yaitu tenganan, trunyan dan sembiran. Lokasi nya hanya sekitar 15 menit perjalanan dari the nirwana.

Areal parkir yang disediakan ternyata besar dan dilengkapi dengan fasilitas toilet yang bersih dan terawat. Di area depan terdapat tugu dengan patung dua orang pemuda yang sedang melakukan ritual perang pandan yang merupakan adat desa tenganan. Di sebelah kanannya terdapat sebuah galeri yang memajang lukisan dan foto-foto desa adat tersebut. Tidak ada tiket masuk, kita cukup mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya.

Desa adat tenganan dibangun dengan pola garis bujur lurus, dua ruas jalan selebar 1,5 m yang sudah dilapisi oleh bebatuan, dua ruas jalan tersebut mengapit bangunan-bangunan yang merupakan fasilitas umum misalnya bangunan bale pasar, tempat menenun, bale memasak dll. Sementara tempat tinggal pribadi terletak di kanan kiri jalan, dengan dinding gapura berornamen bali. Desa tenganan ini terletak di lahan berkontur, tapi sudah sangat rapi karena sudah dilengkapi dengan anak tangga atau ramp dari bebatuan.

Para penduduk desa tenganan memiliki mata pencaharian sebagai petani, dan beberapa di antaranya adalah pengrajin. Produk yang terkenal dari desa ini adalah kain pegringsingan, suatu kain tenun khas adat bali aga. Hampir setiap rumah juga menjual kain pegringsingan ini dan bahkan kita pun bisa melihat proses pembuatannya.

20180217_102421
Salah satu dinding gapura rumah penduduk

Saat kami datang, para penduduk terlihat sedang sibuk mempersiapkan hidangan, di suatu bale besar terlihat mereka sedang memasak, yang uniknya justru dilakukan oleh kaum pria-nya. Kelihatannya akan ada suatu acara, sebagian sedang memarut kelapa, sebagian sedang menyembelih babi, sebagian lainnya sedang mengolah makanan. Semua penduduk masih berpakaian adat, yang laki-laki mengenakan sarung, sementara yang perempuan mengenakan lilitan kain.

20180217_102646

Buat yang agak parno sama anjing, mungkin bakal sedikit takut ya, karena di sini anjing berkeliaran bebas, mana besar-besar lagi. Terlihat pula deretan kandang ayam berisi ayam jantan sabung yang uniknya diwarnai dengan pewarna cerah. Kami juga sempat melihat para ibu yang sedang menenun kain.

Btw, di sini juga ada yang jual durian dengan harga super murah, karena terkait hukum adat, pohon durian tidak boleh dipanjat apalagi diperam. Durian boleh dipungut siapa saja apabila sudah jatuh, hasilnya durian tersebut matang sempurna dan sangat manis. Itupun dibanderol 10 – 15 K saja sebuahnya.

20180217_104332

Bakso Lapangan Tembok – Renon

Sepulang dari tenganan, kiddos langsung terlelap kelelahan, untunglah perjalanan dari daerah candidasa ke renon cukup lama, hampir 2 jam. Kami berhenti di bakso lapangan tembak, yang berlokasi persis di depan monumen bajra sandhi, untuk makan siang. Kebetulan bakso lapangan tembak di sini memiliki fasilitas musholla kecil, sehingga kami bisa shalat dzuhur dulu. Rasanya bahagia melihat menu makanan dengan harga standar setelah kemarin lumayan bangkrut di candidasa, haha. Soal rasa yah standarnya lapangan tembak, harganya pun sama.

Monumen Bajra Sandhi – Renon

Monumen bajra sandhi merupakan monumen sejarah perjuangan rakyat bali, bisa dibilang monas-nya Bali. Monumen ini dibetuk menyerupai lonceng yang dipakai dalam upacara keagaamaan umat hindu, bangunan ini merupakan perpaduan antara candi dan pura dengan ornamen rumit khas bali.

20180217_132033

Kami memarkir mobil di parkiran bakso lapangan tembak, dan langsung menyebrang jalan untuk meuju bajra sandhi. Setelah tiga hari kemarin terus menerus diguyur hujan, hari ini cuaca cerah dengan sedikit berawan.

Monumen bajra sandhi sendiri terdiri dari tiga tingkat yang masing-masing perimeternya dilengkapi dengan pintu gerbang. Basement-nya sekarang difungsikan juga sebagai museum 3D (htm-nya beda lagi ya). Tiket masuk monumen bajra sandhi adalah 25 K untuk dewasa dan 2 K untuk anak.

Melewati gerbang pertama adalah suatu areal luas, sedangkan tingkat kedua dilengkapi dengan kolam-kolam dan paviliun di masing-masing sisinya. Tingkat ketiga baru merupakan bangunan museumnya, terdapat suatu ruangan diorama yang menceritakan sejarah bali mulai zaman prasejarah hingga masa kemerdekaan indonesia. Diorama tersebut disusun melingkar mengikuti bentuk gedung.

Di tengah-tengah museum terdapat kolam luas berisi ikan koi dan di tengahnya terdapat tangga melingkar hingga ke puncak bajra sandhi di mana kita bisa melihat pemandangan renon dan pantai sanur dari ketinggian.

Serangan Turtle Conservation and Education Center

Selanjutnya tujuan kami adalah ke pulau serangan, yang merupakan pulau hasil pemekaran reklamasi di zaman Pak harto dulu. Pulau Serangan dulunya dihuni oleh para pelaut asal makassar sehingga tidak mengherankan kalau pulau ini juga merupakan komunitas muslim.

Ada beberapa spot menarik di pulau serangan, salah satu di antaranya adalah turtle conservation and education center yang merupakan pusat konservasi dan pengembak biakan penyu.

20180217_150618

Tidak ada tiket masuk di sini, hanya donasi 5K/orang untuk dana konservasi. Kami dipandu oleh seorang guide untuk melihat sebuah kolam yang berisi penyu-penyu yang sedang dirawat, penyu di kolam ini adalah yang berhasil diselamatkan dari perdagangan liar. Kasihan sekali, karena ada yang termpurungnya pecah, ada yang kakinya hilang, ada pula yang ekornya tidak ada. Kalau sudah sehat dan siap, maka penyu-penyu ini akan dilepas kembali ke alam.

20180217_145008
Kolam perawatan

Kami juga diperlihatkan area penetasan telur penyu, dan kolam-kolam berisi pengembak biakkan aneka rupa penyu mulai dari yang kecil hingga yang besar.

Terdapat juga area berisi kura-kura, di mana kita bisa memberi makan kura-kura dengan kangkung yang sudah disediakan.

20180217_150034

Serangan Beach

Merupakan area pantai baru yang menajdi favorit para traveller terutama wisatawan asing, karena katanya asik buat surfing dan aktivitas air lainnya. Karena masih ada waktu, kami mampir sebentar untuk lihat seperti apa gerangan.

Pintu masuknya adalah sebelum jembatan yang menghubungkan pulau bali dengan serangan, di situ ada jalan selebar 3 m yang dilapisi lime stone dan diberi portal dengan penjaga. Hanya perlu bayar biaya parkir sebesar 5 K.

20180217_162540
Jalan menuju pantai serangan

Letaknya lumayan jauh dari portal tadi, apalagi karena jalannya masih lime stone jadi kami harus berjalan pelan. Suasana masih sepi, banyak kebon-kebon dan sapi merumput. Sesekali kami bertemu dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Akhirnya sampai juga kami di bibir pantai, sudah ada beberapa warung sederhana berdiri, dan memang benar kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan asing. Pantai serangan ini berpasir putih dan halus dengan ombak yang tidak terlalu besar. Banyak wisatawan yang ber-surfing ria atau main kano air di sini.

Masjid Nurul Huda & Krisna – Tuban

Walau mayoritas penduduknya adalah pemeluk hindu, namun di Bali terdapat sejumlah masjid dan musholla. Salah satunya adalah masjid nurul huda yang terletak sebelum pintu masuk ngurah rai airport, tepatnya di depan taman satria gatotkaca dan bersebelahan dengan Gereja Ecclesia.

Setelah itu kami beranjak ke Krisna, toko oleh-oleh serba ada favorit kami, yang terletak di Tuban, 5 menit saja dari bandara. Selain variannya banyak, harganya pun murah.

 

 

Posted in Bali, Indonesia

Bali Timur (Bagian 1)

Kenapa Bali Timur??

Bali timur memang kurang populer bagi wisatawan lokal, namun jangan salah, pesonanya tidak kalah. Sebagai bekas daerah kerajaan klungkung dan karangasem, Bali timur memiliki sejumlah pura, istana dan lokasi bersejarah. Selain itu pantai-pantainya pun menawarkan panorama yang tidak kalah indah, sejumlah titik diving dan snorkeling tersedia, belum lagi desa adat bali aga yang masih terjamin keasliannya.

DAY 1 (UBUD)

Kenapa ke bali lagi?? sebenarnya karena gunung agung yang meletus oktober-november lalu. Tadinya memang itinerary sudah disusun untuk mengunjungi bali timur, namun akibat gunung agung, akhirnya dialihkan ke ubud-sanur. Sayangnya hotel-hotel yang sudah terlanjur di-booking semuanya non refundable, hanya boleh dipindahkan jadwalnya saja sampai batas akhir maret 2018. Makanya daripada hangus, saya memutuskan kembali pas bulan februari, kebetulan ada long weekend.

Siang itu mendung tebal menggelayuti Halim Perdana Kusuma, penerbangan kami yang seharusnya dijadwalkan pukul 13.40 delay 1 jam. Menjelang keberangkatan, hujan deras mengguyur kawasan bandara, mengakibatkan petugas harus mengantarkan penumpang satu persatu dengan payung ke tangga pesawat, maklum belum ada fasilitas garbarata di sini. Di sela antrian, tiba-tiba perut pake drama minta ke toilet, buru-buru saya lari ke toilet untuk menuntaskan hajat dan tiba paling terakhir di pesawat. Pesawat take off dengan mulus dan penerbangan berjalan lancar walau diselingi dengan cuaca buruk di beberapa titik.

Kami mendarat sekitar pukul 17.40 WITA, agak terlambat karena pesawat sempat berputar-putar dahulu dikarenakan ada sedikit masalah di runway Ngurah Rai. Begitu mendarat kami langsung mencari musholla untuk menunaikan shalat ashar, alhamdulillah persis di gerbang kedatangan ada musholla yang cukup besar, terpisah pula antara pria dan wanita. Saya segera menelpon suami yang ternyata masih terjebak kemacetan di sunset road, ada hikmahnya juga sempat delay karena ternyata tadi suami juga belum tuntas pekerjaannya, sehingga kami tidak menunggu terlalu lama. Pukul 18.10 akhirnya suami tiba dan kami meninggalkan bandara ngurah rai menuju ubud.

IMG20180214175908
Di belakang patung ini lah area musholla berada

Perjalanan menuju Ubud sekitar 2 jam, dengan kondisi jalanan yang sepi dan lengang. Sebelum check in ke hotel, kami mampir sebentar ke salah satu restoran di bilangan ubud untuk makan malam. Tadinya rencana mau makan di janggar ulam yang katanya salah satu restoran bernuansa sawah yang enak dan murah, tapi ternyata satu resto penuh sudah di-booking untuk acara valentine (hadeuuuh baru nyadar juga kalo palenten-pelentinan). Akhirnya kami makan lagi di bale udang mang engking yang sudah ketauan enak rasanya dan sudah beberapa kali kami datangi.

Bale Udang Mang Engking – UBUD

Bale udang Mang Engking ini sudah pernah saya bahas di blog sebelumnya. Letaknya di jl raya goa gajah, mudah dicari karena plangnya besar. Baru kali ini ke sini di malam hari (biasanya siang), pencahayaan di restoran cukup terang dan karena sedang suasana valentine, bale-bale nya dihias meriah dengan tirai, lampu gantung, taplak meja dan payung hias yang berornamen hati, untung warnanya bukan pink, melainkan merah dan oranye. Banyak pasangan yang sedang candle light dinner di sini, di meja pun tersedia selebaran valentine package yang dibanderol 600 K (atau 500 K ya?).

Kami memesan hidangan gurame nyat-nyat (pilihan orang tua, nyat-nyat merupakan sajian bumbu khas bali, dengan dominasi rasa kencur yang kuat), gurame bakar madu (kalau di mang engking rasanya manis dengan sedikit pedas), jamur goreng tepung dan tumis kangkung. Sayangnya kali ini agak mengecewakan, selain waktu masak yang terbilang lebih lama dibanding biasa (padahal biasanya nggak sampai 30 menit), saat disajikan kondisi masakan sudah dingin semua, bahkan jamurnya sudah nggak crispy lagi. Mungkin masakan sudah siap dari tadi tapi malah baru diantarkan.

 

Sapu Lidi resort spa and gallery – UBUD

Sebelumnya saya sudah pernah menginap di sapu lidi yang ada di lembang – bandung, makanya begitu tahu di bali juga ada cabangnya, saya langsung tertarik mencoba. Letaknya di jl pengosekan, sekitar 2 km dari bale udang mang engking, hampir saja terlewat jalan masuknya karena papan penunjuknya tidak terlalu besar.

Tempat parkirnya lumayan luas dan agak temaram karena pencahayaannya minim. Setelah check in di lobby, kami diantar oleh seorang porter menuju kamar. Kamar yang kami booking berbeda tipe-nya, satu superior double room, sedangkan yang satunya suite deluxe. Seperti sapu lidi lembang, sapu lidi di ubud juga dibangun dengan suasana yang sama, sepi, tenang dan menampilkan kesan remote area. Suasana ala pedesaan yang temaram dan jauh dari kebisingan sengaja diciptakan, sehingga walaupun lahannya mencapai 1.3 Ha, jumlah cottage yang dibangun tidaklah banyak dan letaknya agak berjauhan satu sama lain. Luas lahan didominasi oleh area persawahan dan danau (empang) alami. Bangunannya bergaya etnik dengan material vintage bergaya pedesaan, sengaja menimbulkan kesan “menginap di rumah kampung”, material dan furniturenya gaya lawas dan finishing-nya pun tidak rapi, misalnya plesteran yang bergelombang atau kayu kusen yang berkesan lapuk karena usia. Memang sih kalau sudah malam, gelap dan kesannya agak spooky, apalagi di tiap kamar ada lukisan yang beberapa agak bikin merinding. Tapi kalau buat bule-bule pasti jadi pengalaman yang seru.

Dari lobby kami melewati jembatan yang diberi kanopi melengkung dari bambu. Selepas itu kami melewati jalan setapak yang sepi dan gelap karena minim pencahayaan hingga tiba di kamar bertipe superior. Di kanan kiri-nya tidak ada cottage lain, ada pun hanya bangunan mess karyawan yang jaraknya sekitar 50 m. Kamar type superior ini luas dan isinya terbilang lengang, hanya didominasi oleh ranjang besar berkelambu putih yang di ujung bawahnya dilengkapi sofa bed, lumayan lah untuk keluarga dengan dua anak kecil seperti kami. Karena lantainya dari tegel jadi agak dingin, tapi untungnya di beberapa bagian dilapisi karpet empuk. Kedua sisi facade merupakan dinding kaca yang dilengkapi tirai, tutup tirainya rapat-rapat karena di luar lumayan gelap dan serem. Kamar mandinya sangat besar karena di dalamnya terdapat private pool indoor. Walaupun bergaya rumah kampung, kamar tetap dilengkapi AC, TV flat, cooler box dan teko elektrik. Di depan cottage terdapat teras kecil yang dilengkapi kursi untuk duduk-duduk santai.

 

Dari sini kami berjalan lagi sekitar 100 m lebih ke dalam untuk mengantar orang tua ke kamar satunya yang bertipe suite deluxe. Suite deluxe ini masih mending karena di kanan kirinya dekat cottage lainnya. Selain itu, ternyata fasilitas suite deluxe ini dibagi antara dua cottage bertipe sama. Setelah melewati bangunan kecil yang merupakan sharing living room (di mana terdapat bale-bale dan kursi meja) kita akan mendapati private pool outdoor (yang dilengkapi kursi santai) yang juga sharing dengan cottage sebelah. Sayangnya, cottage sebelah sudah ditempati oleh bule jadi kita nggak bisa minta upgrade.  Kamar ini luasnya kurang lebih sama dengan type superior , hanya kamar mandi nya semi outdoor dan dilengkapi bath tub, cuma kalo kata mama saya pas malam lumayan serem. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, kami pun bergegas tidur.

 

Keesokan harinya setelah tertidur lelap, pagi-pagi barulah kami berjalan-jalan mengelilingi kompleks resort sekalian olahraga. Kalau pagi begini barulah semua terlihat indah, pemandangan padi yang menguning disertai hawa sejuk segar yang tanpa polusi dan jauh dari kebisingan. Sesekali kami bertemu dengan para petugas hotel yang sedang menaruh sesajian. Selain private pool, tersedia juga public swimming pool yang letaknya agak tinggi, sehingga kita bisa mendapatkan pemandangan sawah yang menguning sambil berenang. Saat disuruh milih antara tiga pool, kiddos maunya pool yang di dalam kamar saja, alhamdulillah jadinya nggak repot tenteng-tenteng barang ke sana kemari. Pool di dalam kamar sebenarnya adalah pool dewasa, tapi karena ada sedikit anak tangga, kiddos bisa main dengan santai tanpa dipegangi. Puas berenang, kami menuju restoran untuk sarapan, karena kedua orang tua saya sedang shaum, kupon makannya kami pakai semua.

 

Letak restoran melewati public swimming pool, tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Makanan dihidangkan a la carte dengan pilihan asia, western atau continental. Selain menu ala carte, ada juga meja buffet berisi aneka pilihan roti, croissant, muffin, pancake, buah-buahan dan minuman. Sambil menunggu sajian datang, kami memperhatikan bebek-bebek yang sedang beraktivitas di sawah, terkadang ada beberapa kadal yang muncul dari pojokan. Saya perhatikan mayoritas pengunjung adalah orang asing, yah memang type resort begini pasti lebih digemari orang asing.

 

Setelah makan, kiddos minta ke kamar akung uti-nya, sementara saya dan suami memilih mengeksplor resort lebih jauh. Tidak jauh dari jembatan bambu yang kami lalui semalam, kami bertemu dengan sebuah bale-bale luas yang dilengkapi dengan tempat duduk nyaman dan setumpuk novel (yang sayangnya bahasa asing selain inggris, jadi foto saya sambil baca hanya pencitraan, karena novel yang saya pegang bahasa jerman). Di samping bale tersebut adalah danau luas yang sayangnya tidak dilengkapi perahu, karena kalau yang di lembang ada perahu yang bisa didayung mengarungi danau. Dari situ kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak yang melewati sejumlah cottage yang lucunya di setiap pintu masuknya dipasangi gawangan/kusen lengkap dengan daun pintu yang berdiri sendiri.

 

DAY 2 (KLUNGKUNG – CANDIDASA)

Puas menikmati suasana pedesaan di sapu lidi, kami check out dan meneruskan perjalanan ke arah timur menuju klungkung. Tujuan kami hari ini adalah mengunjungi kertha gosha dan pura goa lawah sebelum melanjutkan ke candidasa. Perjalanan menuju kertha gosha tidak terlalu lama, hanya sekitar 45 menit, medannya menanjak dan berkelok-kelok namun kondisi jalan mulus dan lebar.

Kertha Gosha – Klungkung

Walau sudah tidak ada memori sedikitpun, dulu waktu kecil saya pernah tinggal tidak jauh dari pasar klungkung, yang letaknya dekat dengan kertha gosha. Papa dan mama pun banyak bercerita dulu di sini masih sepi, belum ramai seperti ini, bangunan saja dulu masih jarang dan jalannya juga belum beraspal rapi.

Kami parkir di sudut timur kompleks kertha gosha dan berjalan sedikit melewati patung catur muka di bundaran klungkung menuju pintu utama. Di sana sudah menyambut seorang Bli yang merupakan pemandu wisata, beliau menunjukkan letak loket tiket yang rupanya malah ada di seberang jalan, tepatnya di samping monumen puputan klungkung. Monumen puputan klungkung didirikan untuk mengenang sejarah puputan, pertempuran habis-habisan, antara rakyat klungkung melawan penjajah belanda. Harga tiket masuk kertha gosha adalah 12 K untuk dewasa, dan 5 K untuk anak.

IMG20180215120630
Monumen puputan klungkung

Kompleks kertha gosha sendiri merupakan peninggalan kerajaan klungkung yang masih tersisa setelah hampir semuanya dibumi hancurkan oleh Belanda pasca kekalahan kerajaan klungkung. Ada tiga bangunan peninggalan yaitu bale kertha gosha, bale kambang dan gapura medal agung plus satu bangunan museum yang dulunya merupakan sekolah zaman belanda.

Begitu memasuki kompleks kertha gosha, kita akan langsung bertemu dengan bale kertha gosha yang terletak di penjuru timur. Bale kertha gosha merupakan bangunan yang letaknya lebih tinggi dari sekitar, untuk mencapainya kita harus menaiki sejumlah anak tangga. Bale kertha gosha zaman kerajaan klungkung dahulu difungsikan untuk tempat diskusi para pembesar kerajaan dalam masalah kesejahteraan rakyat, digunakan juga untuk menyambut tamu kenegaraan. Langit-langit kertha gosha dihiasi lukisan wayang bergaya kamasan dengan lakon Bima (Mahabrata) yang mencari kedua orang tuanya ke dasar neraka untuk kemudian mengantarkannya ke nirwana. Dalam lukisan tersebut digambarkan pemandangan neraka dan terus hingga ke puncaknya dekat bubungan atap adalah nirwana. Selanjutnya di zaman Belanda, bangunan ini justru difungsikan untuk pengadilan, di mana terdapat replika satu meja yang dikelilingi 6 kursi, 3 berukir naga untuk regent (raja boneka), panitera dan pegawai belanda, sementara 3 yang berukir lembu untuk para pendeta.

 

Dari kertha gosha kami menuju bale kambang, yang justru lebih populer dan muncul foto-fotonya kalau kita meng-google kertha gosha, bale kambang ini adalah suatu bangunan tinggi yang dikelilingi taman air yang disebut taman gili. Untuk menuju bale kambang kita harus melewati jembatan dari bata merah yang dihiasi ukir-ukiran ala Bali. Langit-langit bale kambang juga dihiasi gambar wayang kamasan. Saat kami sampai di sini, hujan turun amat derasnya, sehingga cukup lama kami duduk-duduk sambil menunggu hujan berhenti. Untunglah bale kambang sangat bersih kondisi lantainya dan tritisan atapnya tidak menyebabkan tempias, sehingga cukup nyaman. Pukul 12.00 WITA tepat terdengar suara brahmana dari pengeras suara di monumen puputan yang melantunkan puji-pujian yang menandakan dimulainya ibadah siang hari.

 

Setelah hujan reda, kami berjalan untuk melihat gapura medal agung yang dulunya merupakan pintu gerbang kerajaan klungkung. Gapura medal agung merupakan gapura besar berornamen bali yang tersusun dari bata kemerahan. Di sebelah barat terdapat museum semarajaya yang menyimpan koleksi benda-benda peninggalan kerajaan klungkung, sayangnya kami tidak mampir ke dalam karena kiddos sudah ribut minta makan dan rewel bukan kepalang.

IMG20180215114853
Museum Semarajaya
20180215_122239
Gapura Medal Agung

Kunjungan kertha gosha menambah wawasan akan sejarah perjuangan nusantara, dan kemarin hampir semua wisatawan yang berkunjung justru adalah wisatawan asing (kecuali kami), entah kenapa wisata sejarah seperti ini kurang diminati padahal nilai historisnya besar sekali.

Masjid Agung Al Fatah & Lalapan Cak Komek – Klungkung

Persis di belakang kompleks kertha gosha, berdirilah suatu masjid yang cukup besar bernama masjid agung al fatah. Daerah ini memang merupakan kampung jawa sehingga tidak mengherankan kalau terdapat komunitas muslim, masjid dan beberapa rumah makan ala jawa.

Masjid al fatah terletak di jl teratai, bukan jalan utama, dan tidak memiliki tempat parkir, sehingga kalau mau shalat harus parkir mepet di pinggir jalan. Setelah menunaikan shalat dzuhur, kami mampir ke lalapan cak komek, suatu warung makan lesehan sederhana, yang menyajikan menu pecel lele dan rupa-rupa ala jawa. Rasanya enak, standar pecel lele, dengan harga yang wajar, ayam goreng 15 K, lele 9 K, nasi 3 K.

Pura Goa Lawah – Kusamba

Dari kertha gosha, kami mengarahkan mobil ke arah timur, menuju destinasi selanjutnya yaitu pura goa lawah yang terletak di pantai kusamba. Memasuki jl ida bagus mantra, topografi kembali datar, dengan pemandangan pinggir laut dan kondisi jalan 4 jalur dengan naungan pohon-pohon besar. Hujan kembali mengguyur dengan lebatnya, hanya butuh waktu sekitar 15 menit hingga tiba di goa lawah.

Siang itu, pura goa lawah tidak terlalu ramai, hanya ada 3 mobil lagi selain kami, yang semuanya lagi-lagi adalah wisatawan asing. Karena baby b malah tertidur, dan kebetulan orang tua saya juga sudah pernah berkunjung ke sini, jadinya hanya saya, suami dan baby g yang turun. Karena hujan sedang deras-derasnya, kami membawa payung yang sayangnya karena cuma payung kecil, tentu tidak cukup untuk bertiga, beruntung di loket tiket kami dipinjamkan satu payung lagi oleh penjaga. Tiket masuknya 6 K + 4 K untuk penyewaan sarung.

Pura goa lawah merupakan salah satu pura suci di Bali, sehingga pengunjung diharuskan memakai kain walau bajunya sudah tertutup seperti saya. Selain itu, pengunjung wanita yang sedang datang bulan pun juga tidak diperbolehkan memasuki kawasan pura.

Ada tiga gerbang masuk sebelum mencapai lokasi utama pura. Kesemuanya terbuat dari batu hitam. Pintu gerbang ketiga adalah yang termegah, terdiri atas tiga pintu masuk yang semuanya berukir keemasan.

 

 

Pura goa lawah terkenal dengan sebutan bat cave, karena pura tersebut terletak di sebuah ceruk goa yang mana dihuni oleh ribuan kelelawar. Di mulut goa, sudah terlihat kelelawar yang bergantungan dan sedang tidur siang. Hanya para umat hindu yang ibadah yang diperbolehkan memasuki goa, lainnya tidak. Tidak lama kami melewatkan waktu disini, dikarenakan hujan deras tidak berhenti mengguyur.

 

 

Bali Shangrilla Beach Club – Candidasa

Hotel yang kami booking selanjutnya berada di kawasan candidasa, candidasa terkenal dengan pantainya, yang berbeda dengan daerah bali selatan yang sangat ramai, justru merupakan pantai yang sepi dan tenang, pantai ini justru terkenal di kalangan wisatawan asing karena merupakan titik diving dan snorkeling yang bagus. Pantainya merupakan pantai pasir hitam dengan aliran ombak yang tenang sehingga cocok untuk wisata keluarga.

Hotelnya sendiri terletak di jl puri bagus, sedikit melipir dari jalan utama candidasa-bugbug, tidak jauh dari icon terkenal candidasa yaitu kolam bunga lotus di pinggir pantai (yang sayangnya saat ke sana kemarin masih pada kuncup semua).

Bali shangrilla beach club merupakan hotel kecil yang menyenangkan, hanya terdapat sejumlah cottage dan bangunan kecil bertingkat tiga, memiliki kolam renang kecil dengan pemandangan pantai dan juga sebuah area berpasir pinggir pantai yang bisa dipakai untuk bermain ombak. Bali shangrilla beach club juga menawarkan aktivitas diving atau snorkeling, bahkan cooking class di hari-hari tertentu.

Kamar yang kami booking berbeda type, satu superior sedangkan satunya lagi one bedroom suite. Secara kelas, one bedroom suite lebih tinggi dibanding superior, tapi karena bookingnya pisah, kebetulan dapet promo sehingga malah yang one bedroom suite-nya jau lebih murah. Tapi namanya masih rezeki anak soleh, ketika check in kami dapat free upgrade, sehingga keduanya jadi one bedroom suite.

One bedroom suite menempati cottage sendiri, dengan ruang tidur, living room, pantry dan teras. Fasilitas yang disediakan di pantry-nya terbilang lengkap, mulai dari ketel electric, microwave, perkakas pecah belah, peralatan makan hingga sabun cuci piring. Living roomnya dilengkapi dengan sofa panjang yang nyaman, ada dua TV yang disediakan, satu di living room sedangkan lainnya di ruang tidur. Begitu datang, waiter memberikan welcome drink berupa jus jeruk segar.

 

Kolam renangnya memang tidak terlalu besar, tapi memiliki dua area, satu untuk dewasa dan satu lagi untuk anak, jadi kami bisa leluasa membiarkan kiddos main sendiri di kolam renang. Disediakan pula sejumlah kursi santai untuk duduk-duduk sambil menikmati panorama pantai candidasa , ada juga bale khusus untuk layanan massage di pinggir pantai.

 

Makanan untuk breakfast disajikan secara a la carte, standar resort di bali, dengan pilihan asia/continental/western. Restorannya sendiri terletak di belakang kolam renang.

20180216_063717

Candidasa Beach

Karena di depan hotel ada area berpasir, jadi kami langsung main ombak di depan hotel saja, toh masih sama-sama pesisir pantai candidasa. Dari kejauhan terlihat gili tepekong yang bak ikan paus raksasa, merupakan spot diving dan snorkeling yang terkenal di candidasa, biota bawah laut dan viskositasnya pun masih bagus. Bikin mupeng tingkat dewa, karena kalau bawa kiddos tentu sulit mau snorkeling-an, apalagi entah kenapa kalau berkunjung ke sini waktunya selalu tidak tepat (versi saya).

Dari kejauhan juga terlihat pulau nusa penida (yang masih jadi bucket list). Dari pesisir ini, banyak nelayan yang menawarkan jasa penyebrangan untuk sightseeing atau snorkeling-diving.

Candidasa relatif aman karena ombaknya kecil, sebab sudah pecah di tengah laut akibat adanya beberapa pulau. Pasirnya juga halus walaupun berwarna kehitaman.

 

Joglo Restaurant & Bar – Candidasa

Memang bener kata suami saya yang pernah ke sini, sulit cari makan di candidasa. Orang tua saya kurang suka masakan western dan mereka juga bukan tipe yang seleranya high class, cukup sederhana yang penting enak dan halal. Sebagai traveller zaman now, tentunya saya mengandalkan review trip advisor dan zomato, restoram sih ada tapi hampir semuanya berkonsep bar & resto, mungkin karena kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan asing. Sepanjang di candidasa, saya  memang hanya sedikit bertemu wisatawan lokal, kebanyakan justru bule-bule atau wisman. Yang reviewnya bagus, misalnya vincent’s, hungry crocodile, the loaf atau crazy kangaroo, memang menawarkan masakan lokal dan asia tapi lebih banyak western-nya. Saya sampai muter-muter eksplor dulu dari ujung ke ujung tapi nihil, nggak ada warung sederhana macem pecel lele, warung seafood atau bakso, apalagi warung muslim, ada juga cuma JFC (semacam KFC KW).

Tersebutlah nama warung boni, yang cukup kondang di kalangan traveller, letaknya juga cuma 1 km dari hotel kami. Menurut review, warung boni ini enak dan harganya murah, tapi tempatnya kecil. Benarlah, saat kami tiba, semua meja (yang hanya terdiri dari 3-4 meja) memang sudah penuh semua. Bli Boni sendiri memang sangat ramah, beliau menjelaskan bahwa kebanyakan memang sudah reserved sehari sebelumnya dan bahkan berkali-kali minta maaf ke kami karena restorannya penuh.

Kami mengarahkan kembali mobil ke jl raya candidasa dan bertemu dengan warung wayan, yang dari plangnya menyajikan aneka masakan lalapan, tapi sayangnya saat kami datang hanya tersisa ayam saja, tidak ada lainnya. Kembali mengandalkan zomato, saya teringat ada review mengenai Joglo Restaurant & Bar di dekat Ashyana Resort, setelah meneliti sejenak menu di zomato, kami langsung menuju ke sana.

Sesuai namanya, bangunan restoran ini bergaya joglo dengan konsep semi open, restoran tersebut dihiasi dengan pernak-pernik khas jawa seperti lampu gantung, lukisan wayang, dinding gebyok dan lain-lain. Pencahayaannya dibuat temaram dan suasananya tenang, tidak ada live music, hanya alunan rindik dari pengeras suara.

 

Joglo menyajikan menu indonesia, asia dan western. Kami memesan cap cay seafood (60 K), gado-gado (55 K), pepes mahi-mahi (75 K), soto ayam (50 K) dan chicken gordon blue (73 K), agak pricey dan lumayan bikin bangkrut :), namanya juga kebanyakan yang datang wisatawan asing. Rasanya lumayan enak, walau platingnya dibuat ala masakan western, misal gado-gado yang ditata ala salad dengan bumbu kacang terpisah (dan sedikit pula bumbunya).

Yang lucu, kami sempet kenalan dengan suatu keluarga dari jerman dengan anak lelakinya (his name is maurice?or moritz ya kalo jerman) yang menempel baby b dan baby g mulu, mungkin karena kesepian dan butuh teman main ya. Namanya juga bocah , lucu aja walau satu ngomong pake bahasa inggris sementara yang dua pake bahasa indonesia :).

Posted in Bali, Indonesia

Review Hotel di Bali : Biyukukung Suite & The Kirana Ungasan

Karena tujuan jalan-jalan ke Bali kali ini adalah untuk nyenengin orang tua, maka sebelum berangkat saya sudah rempong cari penginapan yang kira-kira cocok dengan selera orang tua saya. Namanya juga orang tua, biasanya suka penginapan model resort dengan pemandangan alam yang indah, maka setelah bandingin sana sini, saya memilih biyukukung suite and spa yang berlokasi di Ubud dan The Kirana Ungasan yang berlokasi di Ungasan.

BIYUKUKUNG SUITE AND SPA

Rada galau menentukan penginapan di Ubud, alasannya hampir semua bagus, harganya juga variatif. Akhirnya saya memilih Biyukukung Suite, alasannya selain karena bagus, deket pula dengan sejumlah tempat wisata dan sebelahan dengan bebek bengil.

Well, sebelumnya mengingatkan saja bahwa banyak penginapan di ubud mulai dari yang kelas melati sampai yang resort berbintang tidak memiliki akses parkir yang memadai. Mungkin karena dari awal, pola tata letaknya sudah sedemikian rupa, apalagi mayoritas wisatawan yang menginap di ubud adalah wisatawan asing yang mana mereka menyewa motor, jadi lahan parkir yang disediakan kecil, imbasnya banyak kendaraan terutama mobil yang diparkir di badan jalan.

IMG-20171101-WA0059
Jalan menuju resort

Untuk memasuki Biyukukung, kita harus melewati jalan setapak pendek yang hanya cukup dilewati satu mobil. Area parkirnya pun hanya cukup untuk dua mobil saja, jadi kalau tidak dapat parkir ya harus siap-siap parkir di lahannya bebek bengil. Lobby resepsionisnya sendiri hanya kecil dan terbilang sederhana, tidak mengesankan reputasinya sebagai resort berbintang. Tapi begitu melewati jalan setapak di belakang resepsionis, kami langsung disuguhi pemandangan lembah dengan hamparan sawah nan luas yang dijejeri bangunan cottage di kanan kirinya, cantik banget. Areanya sangat luas, kolam renangnya saja ada tiga, satu di samping restoran, satu di area cottage modern dan satu lagi di area cottage bambu. Lumayan olahraga-lah untuk mencapai letak kamar kami yang agak di ujung, tapi hawa sejuk dan pemandangan sawah ala ubud yang cantik menghampar membuat kami lupa. Cuma harus sedikit berhati-hati saja karena konturnya menurun, takut kepleset undakan. Oh iya, jalan setapaknya juga stroller friendly lho, selain undakan, disediakan juga ramp untuk stroller atau koper.

Tiap cottage terdiri atas dua lantai, dan walaupun bersebelahan, cottage orang tua terletak di lantai satu, sementara cottage kami di lantai dua. Di sebelah cottage tersedia juga bale-bale nyaman untuk tempat nongkrong. Tersedia pula sejumlah hammock untuk bersantai sambil tidur-tiduran.

IMG_2265

Kamarnya cukup luas dengan fasilitas standart resort. Dari balkon kita bisa melihat pemandangan yang tersaji sambil menikmati welcome drink yang sudah disajikan.

Restoran untuk breakfast terletak di belakang resepsionis, dan terdiri dari dua tingkat. Breakfast disajikan secara a la carte lewat pilihan menu indonesia/western/continental.

THE KIRANA UNGASAN

Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat foto-foto resort ini di web agoda, pondok etnik bergaya sasak yang membingkai pemandangan teluk dreamland dari ketinggian, pokoknya cantik banget. Langsung saja saya mem-booking dua kamar ber-type sea view, biar pemandangannya dapet.

Jalan masuknya agak tricky, karena berupa gang sempit yang hanya muat satu mobil dan papan penunjuknya kecil, jadi sempet kelewat . Persisnya adalah satu gang persis sebelum max one hotel. Lobby resepsionis nya berupa pondokan batu bergaya bali, dan selepas itu kita akan melewati jalan setapak melingkar hingga mencapai pondokan yang sudah di-booking. Nggak salah saya memilih tempat ini, pemandangannya indah banget, Tujuh pondokan bergaya sasak yang terbuat dari kayu dan bambu, mengapit sebuah kolam renang dengan pemandangan teluk dreamland di kejauhan. Ada juga beberapa pondokan lain yang menghadap ke arah taman, namun tentunya pemandangannya tidak seindah yang menghadap laut.

Pondokan sendiri terdiri atas dua tingkat, tingkat pertama berupa bale-bale yang bisa digunakan untuk duduk dan nongkrong santai sambil ngopi-ngopi. Sementara tingkat kedua merupakan ruang tidur yang dilengkapi dengan balkon dan kamar mandi. Tangganya lumayan curam, tapi tetap aman karena dilengkapi railing dan terbuat dari kayu yang tidak licin. Kiddos langsung happy banget dan bolak-balik naik turun tangga dan pindah dari pondokan kami ke pondokan akung-uti nya.

Kolam renangnya memang tidak terlalu besar, tapi sesuai lah dengan okupansi kamar. Sementara breakfast juga disajikan secara ala carte, restorannya tidak terlalu besar dan menghadap ke arah timur, jadi pas pagi-pagi matahari-nya lumayan langsung menyorot :).