Posted in Central Java, Cilacap, Indonesia

Cilacap ora ngapak ora kepenak

Kenapa Cilacap?

Well, sebelumnya saya memang jarang melirik kota di pesisir pantai selatan yang satu ini, selain karena letaknya yang memang jauh dari kampung si mbah, tempat wisata yang ada di kota ini memang seperti kalah gaung dibanding dengan kota-kota lainnya di provinsi Jawa Tengah.

Dibanding tempat wisatanya, Cilacap memang lebih populer karena adanya pulau nusakambangan yang dikenal sebagai alcatraz-nya Indonesia, pulau ini merupakan penjara untuk napi kelas kakap, tidak jarang juga dijadikan tempat eksekusi para terpidana hukuman mati. Walaupun kondang sebagai pulau penjara, tapi semenjak tahun 1996 pulau nusa kambangan, tepatnya bagian timur, juga dibuka sebagai tempat wisata. Wisata di pulau ini makin populer sejak beredarnya gambar-gambar syantik berupa pantai pasir putih berlatar langit biru cerah di instagram. Karena libur lebaran kali ini yang agak mepet, saya memutuskan untuk main ke Cilacap yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung suami di Tasikmalaya.

Perjalanan Tasikmalaya – Cilacap di H+2 lebaran terbilang sangat lancar, benar-benar tepat sesuai perkiraan google maps, yaitu sekitar 4 jam 30 menit. Kondisi jalan raya yang tahun lalu masih berlubang-lubang dan penuh debu, tahun ini sudah mulus dan nyaman untuk dilalui. Sengaja kami berangkat jam 03.00 subuh untuk menghindari kepadatan lalu lintas.

PANTAI TELUK PENYU 

Untuk mencapai pulau nusa kambangan, kita harus menaiki perahu dari dermaga di pantai teluk penyu. Pantai teluk penyu merupakan pantai terpopuler di seantero kawasan Cilacap. Pantainya sendiri tidak terlalu istimewa, tipikal pantai dengan pasir hitam dan agak kotor karena banyaknya sampah bertebaran.

Dahulu di pantai ini banyak koloni penyu, namun dengan semakin maraknya kilang minyak lepas pantai, koloni penyu menghilang hingga tidak ditemukan lagi. Kawasan lepas pantai Cilacap memang kawasan yang kaya minyak, di pantai ini juga dapat kita temukan bangunan besar pengolahan minyak milik Pertamina. Pemandangan lepas pantainya juga berupa kapal-kapal tanker besar berseliweran. Di bibir pantai banyak dibangun jetty-jetty dari kayu yang ramai dengan wisatawan yang sekedar duduk atau bermain air.

IMG20170628121603
Pantai Teluk Penyu

Kami memarkir mobil di salah satu areal parkir yang tidak jauh dari lokasi benteng pendem. Di areal parkir ini banyak warung-warung penjaja makanan khas Cilacap seperti lotek, tahu masak ataupun  tempe mendoan. Kami pun mencicipi masakan khas tersebut sebagai sarapan sambil duduk lesehan dengan pemandangan pantai teluk penyu yang sedikit muram karena cuaca mendung.

Lotek merupakan makanan sejenis gado-gado, kalau di jawa tengah namanya memang lotek. Kalau tahu masak agak mirip ketoprak, terbuat dari tahu putih, lontong dan kecambah yang disiram sambal kacang. Sementara tempe mendoan-nya sama saja hanya ukurannya sebesar batu bata.

IMG20170628083014
Lotek dan mendoan khas Cilacap

Di areal parkir akan banyak mas-mas yang menawarkan jasa perahu untuk menyebrang ke nusakambangan. Tadinya kami bermaksud mengunjungi benteng pendem dulu baru ke nusa kambangan, tapi karena khawatir melihat mendung yang semakin bergelayut, akhirnya kami mengiyakan salah satu tawaran mas perahu dengan tarif 25K/orang PP. Kami tidak menawar terlebih dahulu sebab berdasarkan blog-blog yang saya baca tarifnya rata-rata 200-300K/perahu, jadi tarif 25K/orang tentu sudah jauh lebih murah sehingga tidak perlu ditawar.

PULAU NUSAKAMBANGAN

Setelah mengenakan life jacket yang disediakan di perahu, kami menyebrangi pantai teluk penyu. Hentakan ombak cukup kencang terasa saat kapal baru meninggalkan bibir pantai, namun seiring semakin ke tengah laut, guncangan semakin kecil. Jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh, sekitar 10 menit kemudian kami sudah merapat di dermaga nusa kambangan. Oh iya, jangan lupa mencatat nomor hp mas perahu untuk minta dijemput balik setelah kunjungan selesai, jangan khawatir sinyal di daerah ini 4G kok. Saat turun si mas perahu minta dibayar full 100 ribu, tanpa prasangka atau praduga saya kasih saja, toh saya pikir saya sudah catat no hp-nya.

IMG20170628090249
Menuju Nusakambangan

Terus terang saya agak kecewa begitu mendarat di pulau nusa kambangan, di dermaga hanya terdapat satu bangunan dari kayu kasar yang kontruksinya asal-asalan yang merupakan kantor pengelola atau pengawas. Sementara di sisi lainnya berjejer warung-warung sederhana yang dikelola warga. Jalan aksesnya berupa jalanan setapak berbatu kasar, kesannya masih sangat sederhana dan belum dikelola secara serius oleh Pemerintah. Padahal potensi wisatanya sangat besar karena alamnya sangat indah, selain itu segala sesuatu yang ada embel-embel pulaunya kan terkesan eksotik ya.

IMG20170628091214
Dermaga Nusakambangan

Daya tarik utama dari pulau nusakambangan adalah pantai pasir putih nya yang saya lihat dari instagram sepertinya banyak jumlahnya dan terletak di beberapa lokasi berlainan, ada pantai kali jati, kali kencana, permisan dll. Tapi waktu saya tanya mbak dan mas warung, mereka cuma bilang namanya pantai pasir putih tok yang letaknya sekitar 30 menit berjalan santai dari dermaga. Kami pun mengikuti arus kerumunan mayoritas wisatawan yang sepertinya menuju ke tujuan yang sama.

Medannya tidak terlalu berat, walau di beberapa tempat ada yang menanjak namun masih mudah dilalui, kedua anak saya saja kuat kok. Di kanan kiri jalan, vegetasi pepohonan tumbuh rapat sehingga cahaya matahari agak terhalang. Suhu udaranya lembab dan panas khas pulau sehingga membuat kami cepat berpeluh.

Tidak jauh kami bertemu dengan jembatan sangat sederhana yang terbuat dari kayu gelondong dan pegangannya hanya dari ikatan kayu seadanya. Ngeri juga saat melintasi jembatan tersebut, harus pelan-pelan dan bergantian. Syukurlah sedang musim kemarau sehingga jalan dan jembatan tersebut tidak licin.

Kemudian kami bertemu dengan benteng kecil peninggalan kolonial Belanda, bangunan benteng ini katanya zaman dulu terhubung dengan benteng pendem di pantai teluk penyu. Bangunan benteng berwarna abu-abu ini hanya terdiri dari dua ruangan dan di sekelilingnya sudah dipenuhi pohon merambat dan semak belukar. Tidak jauh dari benteng ini kami juga menemukan salah satu bagian benteng lainnya berupa semacam pos jaga yang bagian atasnya sudah ditumbuhi pohon pisang, lucu juga karena mengingatkan pada ta phrom di cambodia yang atasnya ditumbuhi beringin, kalo di sini ditumbuhi pisang.

IMG20170628094835
Benteng peninggalan Belanda di Nusakambangan
IMG20170628095528
Benteng yang dirambati pohon pisang

5 menit kemudian sampailah kami di pantai pasir putih yang digadang-gadang, jalan setapak menuju pantai ini sangat menurun curam dan harus berhati-hati karena banyak belitan akar. Ternyata…arealnya sendiri tidaklah terlalu luas seperti yang saya perkirakan, dan sayangnya lagi-lagi banyak sampah bertebaran.

IMG20170628095657
Jalan menuju pasir putih yang curam

Kedua kiddos yang sudah capek berjalan langsung nagih main air walaupun saat itu matahari bersinar lumayan terik. Ombaknya cukup besar sehingga suami saya harus terus memegang tangan kedua kiddos. Sementara saya memilih menunggu di pinggir pantai sambil memandangi kapal-kapal tanker yang lalu lalang di kejauhan. Tersedia fasilitas kamar mandi sederhana berupa bilik bambu yang masih dikelola penduduk lokal.

20170628_101412
Pantai pasir putih pulau nusakambangan

Setelah puas bermain air, kami berjalan kembali ke dermaga. Sekitar 15 menit sebelum dermaga saya sms mas perahu untuk minta jemput, dan dijawab “saya sudah sampai: dan kami disuruh cepat bergegas. Tapi namanya juga bawa kiddos, gerak kami tidak bisa cepat, sehingga saat kami tiba di dermaga, perahu tersebut sudah kembali ke teluk penyu lagi.

Problemnya adalah perahu-perahu ini masih dikelola secara sendiri-sendiri, belum ada induk koperasi atau badan pemerintah yang menaungi. Jadi mereka akan berlomba-lomba bersaing mendapatkan penumpang. Imbasnya penumpang jadi terlunta-lunta menunggu, seperti kami ini yang hingga menunggu 1 jam tidak kunjung dijemput juga, sebab perahu tersebut pastinya akan menjemput kami sekaligus mengangkut penumpang dari teluk penyu, ya kalau langsung dapet penumpang, kalau nggak dapet juga?. Kita hanya boleh naik perahu yang sama untuk pulang pergi karena biaya langsung dibayarkan ke tukang perahu. Karena kiddos sudah rewel akhirnya suami saya nego dengan salah satu perahu untuk diperbolehkan mengangkut kami, tentunya dengan membayar lagi 50 K untuk berempat. Setelah sampai di teluk penyu, mas perahu pertama baru sms lagi mengabarkan kalau dia sudah sampai dan langsung saya jawab kalau kami sudah menumpang perahu lain, eh dia malah nanya bayarannya mana, langsung saya jawab kan tadi sudah saya bayar full sambil menjelaskan deskripsi kami yang terdiri dari keluarga dengan dua anak kecil.

Alangkah lebih baiknya kalau ada badan pengelola yang menaungi perahu-perahu ini, selain agar lebih tertib dan nyaman, pemerataan pendapatan antar tukang perahu akan lebih terjamin. Misalnya saja seperti di green canyon pangandaran, di mana kita membeli tiket di loket karcis, naik perahu dengan nomor sesuai arahan petugas dan kembali dengan perahu manapun yang penting tetap memegang karcis. Dermaga pun lebih baik kalau dijadikan terpusat saja, tidak seperti sekarang di mana hampir seluruh bibir pantai dipenuhi parkir perahu yang mengakibatkan pengunjung tidak leluasa bermain di pantai akibat terhalang perahu yang hilir mudik.

Perahu yang terakhir kami tumpangi mendarat di bagian pantai teluk penyu yang lumayan jauh dari posisi kami parkir tadi pagi. Hari sudah menjelang tengah hari saat kami tiba, kondisi sudah sangat ramai dan makin semrawut. Bagaimana tidak, areal parkir tidak hanya dipenuhi mobil dan motor yang parkir, tapi ada kereta kelinci yang melintas, kuda tunggangan, sepeda bahkan para pengamen. Jalan utama pantai pun sudah macet tidak karuan akibat makin banyaknya volume kendaraan yang masuk. Maka dengan berat hati, setelah makan siang di salah satu restoran sea food yang terletak di teluk penyu, kami membatalkan kunjungan ke benteng pendem dan langsung bergegas menuju hotel untuk beristirahat.

IKAN BAKAR YAYAT – PANTAI TELUK PENYU

Restoran ini banyak direkomendasikan oleh warga dan wisatawan, ada beberapa cabang ikan yayat di pantai teluk penyu. Kemarin kami makan siang di ikan bakar yayat yang menempati bangunan dua lantai dengan cat berwarna pink.

Lantai satu berupa bangku-bangku biasa sementara lantai dua berupa lesehan, kami tentunya memilih duduk di lantai dua agar lebih santai. Kami memesan bawal bakar, cumi goreng tepung dan tumis kangkung. Produk seafoodnya sendiri memang sangat fresh tapi rasa masakannya sih tidak terlalu outstanding menurut saya.

HOTEL DAFAM CILACAP

Karena kemacetan parah di kawasan pantai, jarak yang sekiranya  hanya 1,4 km saja ditempuh dalam waktu lebih dari 30 menit. Kiddos yang sudah kelelahan bermain di pantai, sukses terlelap di mobil.

Dafam Cilacap ini menempati bangunan panjang berlantai dua bercat biru, karena hanya dua lantai dan plang hotelnya pun tidak terlalu besar, hampir saja kami terlewat. Bangunan hotel ini sepertinya merupakan gedung tua yang sudah direvitalisasi karena itulah arealnya sangat luas.

Setelah check in di resepsionis, kami diantar menuju kamar kami yang terletak di lantai 1, tidak jauh dari area kolam renang. Karena merupakan bangunan yang luas, menurut saya kok tata letak nya agak membingungkan ya, tidak jarang awal-awal saya tersesat saat akan menuju ke lobby atau ke tempat parkir karena membingungkan.

Kamar yang kami booking bertipe deluxe no window, eh ada window-nya sih cuma berupa kaca mati yang menghadap ke kebun dalam dan dilapisi dengan gorden tebal. Ranjangnya berupa king bed yang cukup (dicukup-cukupin) menampung dua dewasa dan dua balita, okupansinya memang untuk 2 orang dewasa, walau ditulis keterangan bahwa children max 7 tahun masih diperbolehkan menginap gratis tanpa extra bed. Tapi akhirnya menjelang waktu tidur, kami mengeluarkan kasur serbaguna yang disimpan di dalam mobil agar lebih nyaman, karena memang satu ranjang untuk berempat lama-lama terasa sempit juga. Fasilitas lainnya berupa TV flat dengan pilihan channel tv kabel yang tidak terlalu lengkap, electric kettle, refrigerator dan compliment berupa 2 botol air mineral.

20170628_152211
Kamar Deluxe Dafam Hotel Cilacap

Kamar dalam keadaan bersih dan rapi waktu kami masuk, walau lantai di dekat rak tv agak sedikit basah, mungkin masih belum terlalu kering setelah dibersihkan.

Karena tadi pagi kami berangkat dari Tasikmalaya pukul 03.00 subuh, suami saya langsung terlelap tidur, sementara kiddos yang tadi sudah sempat tidur di mobil malah segar dan cerah ceria dan mengajak saya ke kolam renang. Kolam renangnya lumayan besar dengan satu pool khusus dewasa dan satu pool khusus anak.

20170629_075516
Pool di Dafam Hotel Cilacap

MASJID AGUNG CILACAP & ALUN-ALUN CILACAP

Sekitar pukul 05.00 sore kami sudah bersiap untuk menjelajahi kota Cilacap kembali, karena saya masih penasaran dengan benteng pendem yang letaknya cuma sekitar 10 menit dari hotel, saya mengajak suami saya untuk mengarahkan mobil kembali ke arah pantai teluk penyu untuk berkunjung sebentar saja ke benteng pendem.

Selepas pukul 05.00 sore pintu gerbang pantai teluk penyu sudah tidak dijaga petugas sehingga kami tidak perlu membayar tiket masuk lagi, namun ternyata kemacetan di dalam areal pantai sudah sangat parah dan polisi memberlakukan arah sejalur dan verbodem untuk arah tertentu, maka kami terpaksa sekali lagi membatalkan kunjungan.

Kami langsung menuju ke alun-alun kota Cilacap yang bersebelahan dengan masjid agung. Kota Cilacap sendiri tidaklah terlalu besar, mirip seperti purworejo (tempat si mbah), pusat perbelanjaan terbesar yang ada hanyalah mall yogya, selain itu kebanyakan adalah ruko-ruko. Namun karena merupakan daerah kilang minyak, di kota ini banyak berdiri chain hotel-hotel ternama, misalnya saja Fave, Dafam, Whiz, Hom dan sejumlah hotel kecil lainnya. Kotanya sendiri tidak terlalu ramai padahal sedang libur lebaran, kendaraan yang lalu lalang pun tidak terlalu banyak.

Kami sedikit kesulitan menemukan parkir di masjid agung dan terpaksa mengitari alun-alun dahulu melewati kadipaten. Masjidnya mengingatkan saya akan masjid demak dengan bentuk atap limas yang bertingkat-tingkat, lebih mendominasi dibandingkan atap kubah di sejumlah sisi dan minaretnya. Karena sudah waktu maghrib, tidak ayal halaman masjid sudah penuh sesak dengan mobil dan motor yang parkir. Pintu masuk lelaki terletak di bagian depan, sementara untuk wanita terletak di sisi samping.

115791990
Masjid Agung dan Alun-alun Cilacap (sumber : panoramio.com)

Setelah shalat kami beranjak ke alun-alun cilacap yang persis di sebelah masjid ini. Di depan alun-alun ini berdiri tegak tugu dengan patung dua orang nelayan yang merupakan icon kota cilacap. Untuk memperindah, dipasanglah signage dengan tulisan “Cilacap Bercahaya” di seberangnya. Alun-alun nya sendiri berbentuk persegi dengan lapangan luas berumput yang malam itu dipenuhi dengan para penjaja makanan, pedagang hingga tukang odong-odong dan permainan anak aneka rupa khas pasar malam rakyat. Di sisi dekat masjid juga banyak mobil sepeda (namanya apa ya tepatnya, pokoknya kendaraan mirip mobil tapi harus dikayuh seperti sepeda, kendaraan ini dilengkapi lampu sehingga kalau malam kelihatan lebih cantik) yang bisa disewa dengan tarif 20-25 K sepuasnya.

IMG20170628183459
Tugu nelayan di alun-alun cilacap

Karena tujuan awalnya main ke alun-alun sekaligus untuk mencari makan malam, maka sementara anak-anak bermain odong-odong, saya berkeliling alun-alun untuk mencari makanan yang pas. Tapi sayangnya kebanyakan hanya menjual makanan ringan dan camilan saja, banter-banter hanya ada tukang mie ayam atau bakso, tidak ada tenda pecel lele atau chinese food.

Maka setelah memaksa anak-anak yang kalau diturutin bakal betah main sampai malam, kami kembali berkeliling kota Cilacap. Ternyata sulit mencari tenda-tenda makanan di sini, mungkin karena kami yang tidak tau di mana pusat kulinernya ya, tapi sepanjang alun-alun hingga tiba di hotel lagi tidak ada, kebanyakan hanya tukang nasi gorang. Opsi terakhir kembali ke KFC yang terletak di depan Yogya yang ramai dan antrinya minta ampun, mungkin karena satu-satunya gerai di Cilacap ini.

BENTENG PENDEM

Esoknya setelah sarapan dan anak-anak puas berenang di hotel, kami kembali ke area pantai teluk penyu untuk mengunjungi benteng pendem.

Benteng pendem merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1800-an sebagai benteng pertahanan. Benteng ini terakhir difungsikan saat peperangan melawan Jepang dan setelah itu terabaikan hingga sebagian bangunannya tertutup oleh tanah dan pasir pantai hingga kemudian sekitar tahun 70-80 an digali kembali, karena itulah disebut benteng pendem.

Benteng pendem terdiri atas sejumlah bangunan yang sudah lengkap fungsinya untuk satu kompleks benteng pertahanan.

Pintu masuknya berupa pagar bata merah setinggi 4 m dengan dua pintu utama, di dalamnya berdiri loket tiket. Sayangnya suasana dalam benteng (seperti jamaknya obyek wisata di tanah air) agak semrawut karena banyaknya pedagang di sana-sini. Para wisatawan pun banyak yang kurang tertib mengikuti jalur, padahal sudah ada papan penunjuk besar-besar yang menunjukkan alur kunjungan.

20170629_093053
Pintu masuk benteng pendem

Berkeliling area kompleks ini membuat saya berdecak kagum akan kehebatan ilmu teknik sipil nya orang belanda terutama sistem drainase-nya, padahal bangunan ini sudah berusia ratusan tahun.

Berjalanlah melalui alur yang sudah ditentukan, kita akan melewati jalan setapak yang sejuk dengan naungan pepohonan, ada juga patung-patung dinosaurus yang menurut saya sih kurang nyambung dengan tema benteng dan lebih baik tidak usah ada, akan lebih baik kalau ada maket-maket, foto atau poster mengenai sejarah benteng. Tidak jauh kita akan menemukan parit besar yang sepertinya di zaman dahulu mengelilingi keseluruhan area benteng, parit ini sekarang difungsikan menjadi area rekreasi sepeda air.

20170629_093649
Parit di kompleks Benteng Pendem

Setelah melewati parit, kami bertemu dengan bangunan panjang berwarna abu-abu dengan plesteran halus yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunan tersebut merupakan barak prajurit, ruangannya didesain berlangit-langit rendah dengan pintu yang juga membuat orang dewasa membungkuk saat melewatinya. Tinggi pintu sebenarnya sekitar 2m, namun tepat di pintu dibangun tanggulan yang cukup tinggi. Sayangnya ruangan barak ini kurang dirawat, sangat lembab berlumut dan tidak dilengkapi penerangan sama sekali sehingga sangat gelap.

20170629_093856
R Barak

Bangunan satu dengan lainnya letaknya terpisah walu tidak terlalu jauh. Pepohonan dan semak belukar yang ada tidak rapi dan kurang terawat, sehingga menambah kesan angker, padahal kalau dirapikan sedikit pasti lebih enak dipandang.

Dari ruang barak, kami menuju ke arah gudang senjata dan benteng. Benteng-benteng ini dahulu ada yang difungsikan sebagai pengintai ataupun untuk serangan. Lagi-lagi karena kurang dirawat, seluruh permukaannya berlumut dan mengharuskan kita berhati-hati saat menapaki anak tangganya.

Setelah itu kita akan bertemu dengan ruang penjara yang bangunannya paling besar di keseluruhan kompleks,  di mana salah satu bagian bangunannya pernah dijadikan lokasi reality show uka-uka. Bagian bangunan tersebut digenangi air dan berbau amis tajam, bangunan tersebut juga dilengkapi dengan saluran-saluran air yang apabila air pasang akan membuang debit air yang berlebih, saluran ini berlabel tahun 1873.

Sel-nya sendiri terletak di bagian depan bangunan penjara dan sangat tidak manusiawi, lebih tepat disebut kerangkeng karena hanya berbentuk kotak seukuran kerangkeng mesin air, membuat para tahanan tidak bisa duduk nyaman apalagi tidur atau berdiri. Bergidik saya membayangkan entah berapa banyak nyawa melayang di sini. Saya tidak merekomendasikan masuk ke dalam ruangan penjara karena sangat gelap dan becek, apalagi buat yang punya 6th sense ya.

Dinding-dinding penahan tanah berdiri berdampingan berselang-seling dengan ruang penjara. Dinding penahan tanah ini tersusun dari bata dan beton bertulang dan berbentuk miring. Setelah itu kami berjalan lurus menuju pintu keluar dan melewatkan satu bangunan yaitu ruang klinik yang letaknya di tengah-tengah kompleks.

20170629_095435
Dinding penahan tanah

Secara keseluruhan benteng ini sangat butuh perawatan dan perhatian Pemerintah, sayang sekali karena nilai historisnya sangatlah tinggi. Akan jauh lebih baik kalau direvitalisasi dan setiap wisatawan disertai pemandu wisata sehingga kita bisa mengerti sejarah dan arsitektur bangunan tersebut, bukan hanya datang cekakak cekikik terus selfie.

Sebelum meninggalkan kota Cilacap, kami mampir sebentar di jembatan yang melintasi sungai kaliyasa, sungai ini merupakan sungai yang bermuara di laut dengan pemandangan kapal-kapal nelayan yang berwarna-warni.

IMG20170629102911
Sungai Kaliyasa

 

 

 

 

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s