Posted in Indonesia, South Sulawesi

Makassar Trip (Day 1)

Tulus ikhlas membantu orang lain itu insya allah suatu saat akan mendapat ganjarannya, kata-kata itu benar-benar cocok untuk alasan trip kami kali ini. Alkisah, dahulu kala di kampung daerah priangan, ada seorang pemuda dari keluarga yang sangat miskin, syukurlah ada sanak saudara yang bersedia menampung dan memberi makanan walau seadanya, karena sanak saudara tersebut juga bukanlah keluarga yang mapan. Saat lulus sekolah, sang pemuda memutuskan untuk merantau ke tanah sulawesi untuk mencari peruntungan rezeki, dia bersumpah tidak akan kembali kalau belum jadi orang sukses. Beberapa tahun pun berlalu, dengan kerja keras dan ketekunannya, sang pemuda kini memiliki usaha yang mapan dalam bidang kuliner dengan banyak pekerja, alhamdulillah. Dalam perantauannya, sang pemuda pun masih sering bersilaturahmi lewat telepon dengan sanak saudaranya tersebut, sang pemuda pun membuka tangan lebar-lebar apabila sanak saudaranya ingin berkunjung ke tempat perantauannya tersebut.

Nah, apa hubungannya dengan trip kami ke makassar? balik ke kisah nyata, dari cerita di atas, sang pemuda yang merupakan salah satu keponakan mertua saya, mengundang sanak saudaranya yang adalah mertua saya (termasuk suami saya dan tentunya juga saya dan anak-anak kecipratan rezeki) untuk pergi ke makassar, tiket pesawat dibayarin dan kami akan menginap di rumahnya. Hati saya pun melonjak-lonjak kegirangan, bagaimana tidak, dari dulu saya memang ingin sekali berkunjung ke bumi celebes yang terkenal dengan angin mamiri dan perahu phinisinya. Belum lagi dengan berbagai keindahan alamnya yang diwarnai oleh kisah heroik para pahlawan pra kemerdekaan.

Sayangnya, malam sebelum keberangkatan, kami ditelpon oleh “sang pemuda” kalau salah satu anak buahnya di manado mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah, jadi dia terpaksa harus terbang ke manado saat ini juga. Dia tetap mempersilahkan kami untuk menginap di rumahnya namun kami yang nggak enak, secara kami belum kenal dengan istrinya yang memang asli makassar. Setelah berjanji untuk mampir kapanpun urusannya sudah selesai, saya membooking hotel via agoda dua kamar untuk dua malam.

DAY 1

Penerbangan dengan Lion Air yang akan membawa kami ke Makassar berangkat pukul 05.00 subuh, memang sengaja dipilih penerbangan paling pagi untuk menghindari drama delay sang singa. Durasi penerbangan jakarta-makassar adalah 2 jam, karena masuk dalam zona wita, waktu di makassar lebih cepat satu jam dibanding jakarta.

Di bandara sudah menunggu salah satu anak buahnya “sang pemuda” yang ditugasi untuk menyupiri kami selama berkeliling makassar, enak banget kan ya???. Sebelum bertemu si akang sopir, kami makan pagi dulu di gerai A&W yang ada di bandara. Bandara Sultan Hasanuddin sangat megah dan besar, dengan facade bangunan yang dibentuk menyerupai layar-layar phinisi.

1
Bandara Sultan Hasanuddin

Tak lama kami pun bertemu si akang sopir, di dalam mobil kami pun mengemukakan niat kami untuk menyetir sendiri saja, toh ada gps, lebih santai dan lebih enak, si akang sopir pun mengiyakan setuju. Setelah menurunkan si akang di area dekat Kampus Unhas, kami pun segera menuju destinasi pertama yaitu museum Balla Lompoa. Berpacu dengan waktu karena lokasinya cukup jauh dari bandara dan ini adalah hari jum’at, untunglah di makassar ini tidak terlalu macet dan padat seperti di pulau Jawa. Namun, suasana lalu lintasnya lumayan ngeri, sepeda motor cuek saja berjalan pelan di sisi kanan jalan, bahkan ada yang berhenti (beneran berhenti di median jalan, bukannya di pedestrian), yang nyetir mobil pun nggak kalah serabat-serobot, dibutuhkan ekstra kehati-hatian.

BALLA LOMPOA

Coba cek dalam ingatan pengetahuan sejarah, masih ingatkah dengan Sultan Hasanuddin yang dikenal sebagai ayam jago dari timur ? Sultan Hasanuddin merupakan Raja dari Kerajaan Gowa, nah museum Balla Lompoa ini dahulunya merupakan istana para raja gowa yang sekarang dialih fungsikan menjadi museum dengan koleksinya berbagai benda bersejarah kerajaan Gowa.

Ada dua bangunan besar di sini, rumah panggung dengan ukuran yang lebih kecil di sebelah kanan-lah yang difungsikan sebagai museum. Walau lebih kecil, namun rumah panggung dari kayu ulin berwarna hitam kecoklatan ini sangatlah gagah.

20
Museum Balla Lompoa

Memasuki museum kita diharuskan untuk melepas alas kaki, sangatlah beralasan karena lantainya pun terbuat dari parket kayu ulin yang harus senantiasa dijaga kebersihannya. Begitu masuk kita akan berhadapan dengan bilik luas yang berisi singgasana yang didominasi warna merah dan kuning, di kanan kirinya berdiri meja panjang dengan deretan tudung di atasnya. Di ruangan yang sama kita akan menemukan baju yang dipakai oleh raja dan permaisuri, Sementara di sudut kanan terdapat dua lukisan dari Sultan Hasanuddin, legkap dengan sebilah badik panjang yang dulu digunakannya untuk bertempur.

Memasuki museum lebih ke dalam kita akan menemukan koleksi berupa silsilah raja-raja Gowa hingga bergabung dalam pemerintahan Republik, senjata-senjata, baju-baju, keramik dan porselen, hingga suatu ruangan penuh koleksi emas yang dahulunya digunakan sebagai perhiasan ataupun mahkota.

Begitu kami keluar dari ruangan ini, sudah duduk rapi beberapa pemuda berpakaian adat minahasa berwarna merah yang masing-masing memegang alat musik. Di bagian depan, di dekat suatu tempat yang menurut saya agak mirip altar, duduklah seorang tua yang merupakan pemuka adat. Di antara pemuka adat dan para pemuda itu duduklah suatu keluarga yang kesemuanya sudah mengenakan kain. Tidak lama sang pemuka adat memulai upacara diiringi tabuhan alat-alat musik yang menggelegar. Baby g dan baby b pun langsung mengajak keluar karena takut dengan bunyi genderang.

8
Pemuda-pemuda pemain musik
12
Upacara adat

BENTENG SOMBA OPU

Sekitar 20-30 menit perjalanan dari Balla Lompoa, sampailah kami di Benteng Somba Opu. Benteng ini masih merupakan bagian sejarah dari kerajaan gowa, di mana merupakan benteng yang terkuat dan pertahanan terakhir dari Sultan Hasanuddin sebelum menyerah kalah akibat serangan VOC dan pengkhianatan Aru Palaka. Sebagian besar dari strukturnya sudah dibumi hanguskan oleh VOC dan hanya menyisakan sedikit tembok kokoh dengan tinggi 3 meter dan suatu tembok berbentuk setengah lingkaran di tengahnya. Temboknya tersusun dari batu bata pada yang sangat tebal dan sudah termakan usia.

Di dalam kompleks ini juga ada semacam taman mini yang memamerkan koleksi rumah adat dari berbagai suku di sulawesi selatan, sayang kondisinya tidak terawat, kebanyakan sudah bobrok dan halamannya dipenuhi alang-alang sehingga membuat saya malas mendekat.

Karena waktu shalat jumat sudah tiba, maka suami dan mertua saya pergi ke masjid yang masih terletak di area ini, sementara saya dan baby g mengintip-ngintip museum karaeng pattingaloang yang sayangnya tutup saat ibadah jumat. Museum ini menempati rumah panggung tua dengan cat putih-hijau lumut. Di depannya berdiri meriam kuno.

COTO MAKASSAR

Untuk sajian makan siang kali ini kami memilih mencoba coto, suatu kuliner khas makassa, berupa semangkuk kecil sup daging sapi/jeroan dengan kuah kacang, disajikan dengan ketupat. Ada dua nama restoran coto yang sangat populer, yang pertama coto nusantar dekat pelabuhan, yang kedua adalah coto gagak yang berlokasi di jl gagak, restoran kedua yang kami pilih karena searah dengan perjalanan pulang ke hotel.

Warungnya lumayan besar dan sederhana saja seperti warung bakso, tapi pengunjungnya ramai sekali. Untuk pilihan isi, bisa dipilih mau daging, ati, babat, campur dll. Saya yang nggak suka jeroan tentu memilih daging, rasa coto ternyata enak sekali, kuah kacang yang saya kira bakal “bold” ternyata “mild” (bingung cari padanan bahasa indonesianya) dan cocok berpadu dengan ketupat. Sambal pedas yang saya tambahkan makin menambah kelezatan dari coto.

119
Coto makassar

HOTEL SINGGASANA

Setelah mengisi perut dan lelah berjalan-jalan, kami mengarahkan mobil menuju Singgasana hotel untuk beristirahat. Singgasana hotel terletak di pusat kota, tidak jauh dari pusat keramaian di pantai losari dan dekat dengan area kuliner.

Kamarnya luas dan nyaman dengan doble bed king size dan lantainya dilapisi karpet empuk nan tebal.

111
Hotel Singgasana

ANJUNGAN PANTAI LOSARI

Sorenya kami menuju pantai losari untuk menikmati sajian sunset yang katanya 11-12 dengan indahnya sunset di kaimana sembari menyicipi sajian pisang epe. Eh ternyata, kami baru sadar kalau di warung coto tadi siang, sendalnya baby g ketinggalan. Saya pun mikir nyantai ajalah toko banyak, eh tapi sepanjang perjalanan saat saya singgah di 2-3 toko tidak ada yang jual sendal untuk anak kecil, padahal tokonya besar, yang dijual paling sendal anak. Kami pun meneruskan perjalanan hingga tiba di pantai losari, setelah memarkir mobil, saya dan suami pun berjalan hingga ke ujung anjungan dengan harapan ada yang jual sendal seperti pantai-pantai di jawa atau bali, eh ternyata teteup nihil. Akhirnya suami saya memutuskan pesen gojek dan diantar berkeliling untuk nyari sendal.

Sementara saya kembali ke mobil dan baby g malah tertidur, saya yang mulai bosan nunggu suami saya, akhirnya mengajak baby b duluan ke anjungan pantai losari buat nyari angin. Baby g masih bobok pules ditungguin kedua mertua saya.

Pantai losari merupakan pantai yang sudah dipercantik dengan anjungan yang enak buat duduk-duduk, jadi bukan pantai untuk main pasir dan air. Suasana senja itu sangatlah ramai dan indah, perlahan-lahan bola keemasan itu tenggelam. Saya dan baby b menikmati suasana itu sambil makan pisang epe di kios pinggir jalan seberang pantai.

Pisang epe merupakan kudapan khas makassar yang berbahan dasar pisang kepok yang masih mengkal (keras), dipipihkan dan dipanggang, lalu disajikan dengan saus lelehan gula merah. Kalau sekarang variasi toppingnya sudah macam-macam, ada yang coklat, keju, bahkan durian. Saya sih tentu lebih tertarik makan yang asli dengan gula merah.

Hampir  satu jam suami saya baru kembali dari ekspedisi mencari sendal, katanya susah banget sampai jauh baru dapet, ini juga cuma satu-satunya ukurang yang tersedia, ya sudahlah.

Setelah mengeksekusi pisang epe sampai tandas, kami menyebrang ke anjungan dan menunaikan shalat di masjid amirul mukminin, masjid apung yang dibuat seperti konsep mesjid terapung di Jeddah. Dari sini, kami kembali menelusuri anjungan pantai losari, selain huruf-huruf besar “pantai losari” “makassar” dan “bugis”, disini juga terdapat replika phinisi. Di anjungan ini ramai dengan para pedagang mainan, badut karakter sampai para pembawa atraksi pawang hewan.

36
Masjid Amirul Mukminin

KAWASAN KULINER MAKASSAR

Berbicara mengenai makassar memang tidak dapat dilepaskan dari kelezatan makanannya, jadi jangan heran kalau saya banyak curhat soal makanan. Dari pantai losari kami berjalan terus hingga menemukan suatu jalan dengan plang “kawasan kuliner makassar”, jalan ini memang dipenuhi deretan penjaja segala macam kuliner khas makassar, ada nasi kuning yang menggoda dengan lauk pauknya, mie titi yang segar dengan siraman kuah panas, restoran ikan bakar, es pisang ijo, coto, konro dll.

48
Kawasan kuliner makassar

Kali ini kami memilih makan malam di RM Lae-lae yang sudah banyak direkomedasikan karena kesegaran ikannya. Selain ikan bakar, RM Lae-lae juga menyediakan aneka sajian seafood, begitu masuk kita diharuskan memilih dulu sajian yang masih berbentuk “hidup”.

Sekitar setengah jam kami menunggu hingga sajian dihidangkan, ikan bakarnya dimasak tanpa campuran bumbu dan hanya sedikit saja garam. Orang makassar menyukai ikan dalam kondisi yang segar dan sedikit bumbu tadi tentu akan makin menonjolkan rasa asli ikan yang masih segar tersebut. Setelah perut kenyang dan hati senang, kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan menyiapkan stamina untuk kembali beraktivitas besok.

121
Sajian di RM Lae-lae

Btw, sebelum ke hotel kami sempat putar-putar dulu untuk mengisi bensin, ternyata walau di kota pom bensin yang ada tidak terlalu banyak, kalau ada pun lumayan ngantri, maka bersyukurlah para penduduk pulau jawa yang biasa hidup dalam kemewahan bahan bakar.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s