Posted in Incheon, Seoul, South Korea

Japan – Korea Trip (Day 7 & 8)

DAY 7

Hari ini sudah sengaja saya atur agar jadwalnya lebih santai dibanding kemarin. Jadwalnya hari ini kami hanya akan mengunjungi Gyeongbokgung Palace (dan mengunjungi salah satu dari dua museum yang ada di dalamnya), menunaikan ibadah shalat Jumat dan mencari makanan halal di Itaewon, dilanjutkan dengan berburu oleh-oleh (lagi) di Dongdaemun.

Jam 08.00 kami turun ke ruang makan dan dapur hostel, “Morning Ayomi!!!” sapa Bryan ke baby G. Kami pun sarapan dengan toast bread dan kopi yang sudah disediakan di hostel sambil sesekali bercakap-cakap dengan Bryan.

GYEONGBOKGUNG PALACE

Kami menaiki subway line 2 dan turun di Daehwa, kemudian berganti ke subway line 5 dan turun di Gyeongbokgung station. Gyeongbokgung Palace merupakan istana dinasti Joseon yang terbesar, letaknya persis di depan Gwanghamun Gate tempat patung King Sejong berada.

Di antara lima istana dinasti Joseon yang ada di Seoul, walau Gyeongbokgung yang paling populer, tapi Changdeokgung palace-lah yang dinobatkan menjadi Unesco World Heritage jadi tentu harusnya lebih istimewa. Sayang karena keterbatasan waktu saya hanya bisa mengunjungi Gyeongbokgung dan Deoksugung saja yang emang paling populer.

Counter tiket terletak di samping gerbang Gwanghamun yang juga sekaligus adalah pintu masuknya, tiket seharga 3,000 krw. Di depan gerbang Gwanghamun berdirilah dua patung “Haechi Madang” hewan mistikal yang dipercaya sebagai pelindung Korea.

94
Gwanghamun Gate dari luar
99
Gwanghamun gate dari dalam
92
Haechi Madang

Dari gerbang Gwanghamun, kita akan langsung berhadapan dengan Heungnyemun Gate yang dipisahkan oleh lapangan berpasir kuning yang sangat luas. Dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa “Sumungun / Gate keeper military training” akan dimulai di lapangan samping Hyopsengmun gate (sisi timur), kami pun bergegas menuju tempat tersebut untuk menonton acaranya. Barisan pengawal kerajaan (dalam kostum prajurit kuno seperti yang sering dilihat dalam drama sejarah) sudah berbaris rapi. Ada yang berperan sebagai inspektur upacara, ada barisan pembawa tombak, barisan pembawa panji-panji dan diakhiri dengan barisan pembawa alat musik. Latihan tersebut hanya berlangsung selama 15 menit, sementara acara sebenarnya yaitu Sumunjang/ Royal Guard Changing Ceremony akan dilaksanakan pada pukul 10.00 di lapangan luas antara Gwanghamun dan Heungnyemun.

97
Heungnyemun Gate
100
Sumungun/Gate Keeper Military Training

Saya salut sekali dengan Pemerintah Korea yang berhasil “menjual” kebudayaan korea asli selain budaya k-pop, padahal Korea Selatan sekarang sudah menjadi Republik dan sistem kerajaan sudah tidak ada lagi. Tapi, demi melestarikan kebudayaan dan juga sebagai salah satu atraksi untuk menarik wisatawan, maka dibuatlah acara-acara seperti ini. Saya perhatikan rata-rata yang berperan sebagai prajurit masih muda-muda, sekitar 20-30 tahunan, selain baju tradisional mereka juga mengenakan jenggot dan kumis palsu untuk mendapatkan image para prajurit di era kerajaan.

Sebelum acara dimulai, pengumuman lewat pengeras suara digaungkan dan area lapangan disterilisasi oleh para petugas jaga. Tepat pukul 10.00, datanglah arak-arakan barisan para prajurit yang berpakaian merah dan biru, yang dipimpin oleh seorang inspektur upacara dan diikuti oleh barisan pembawa panji dan bendera, barisan pembawa tombak dan diakhiri oleh barisan pembawa alat musik yang memainkan genderang, terompet dan alat musik lainnya. Mereka membawakan irama musik tradisional ala korea yang sepertinya merupakan mars prajurit atau mars baris berbaris. Upacara berlanjut dengan laporan inspektur upacara kepada pemimpinnya dan setelah itu upacara selesai. Upacara berlangsung selama sekitar 20 menit, pembawa acara akan menerjemahkan dalam bahasa inggris, jepang dan china.

Selain Sumungun (yang dilaksanakan tiap pukul 09.30 & 13.30) dan Sumunjang (yang dilaksanakan tiap pukul 10.00 & 14.00), ada juga upacara lain yaitu Gwanghwamun Gate Guard-on-Duty Performance (yang dilaksanakan tiap pukul 11.00 & 13.00), tapi kami tidak menonton upacara yang terakhir tersebut.

Karena melihat banyaknya turis yang mengenakan hanbok, baby g pun merengek minta pake baju seperti itu. Saya pun bertanya pada beberapa petugas jaga apakah ada tempat rental hanbok di istana ini, tapi kebanyakan dari mereka (yang sepertinya tidak begitu paham bahasa inggris) cuma menggeleng atau menjawab tak jelas. Tidak putus asa, saya bahkan berjalan lapangan parkir bus dan juga mengelilingi lapangan luas, tapi ternyata nihil, sayapun berkesimpulan sepertinya turis-turis tersebut sudah menyewa di tempat lainnya, soalnya kebanyakan seperti grup tur.

Kami melanjutkan perjalanan melintasi  Heungnyemun Gate, di sini baru karcis yang kami beli diperiksa. Dari situ kita akan berhadapan dengan Geunjeongjeon Hall dan Sajeongjeon hall di mana masing-masing memiliki ruangan seperti singgasana untuk kaisar. Kesan saya bangunan dan kebudayaan di Korea ini seperti percampuran antara China dan Jepang, bisa dilihat dari bentuk bangunannya. Sayangnya tahun lalu saya baru saja berkunjung ke Forbidden City di Beijing yang luar biasa baik dari segi keindahan maupun ukurannya, jadinya saat saya ke Gyeongbokgung ini saya merasa biasa aja.

Dari kedua hall tersebut, kami berbelok ke kiri dan bertemu dengan Gyeonghoeru Pavillion, suatu bangunan berbentuk persegi yang berdiri di atas kolam. Bangunan ini dahulu merupakan bangunan “terapung” yang paling besar di dinasti Joseon, dibangun sebagai tempat untuk acara banquet kerajaan atau pesta-pesta. Zaman dahulu, para putri dan permaisuri bisa mengelilingi kolam tersebut dengan menggunakan perahu.

133
Gyeonghoeru Pavillion

Selanjutnya kami menuju ke Gangnyeongjong pavilion yang seluruh areanya dikelilingi oleh tembok dua lapis, lapis terluar adalah tembok batu setinggi 2.50 m, sementara tembok lapisan dalam terbuat dari partisi kayu solid yang masing-masing dilengkapi dengan jendela. Gangnyeongjong pavilion ini terdiri dari banyak bangunan kecil-kecil yang dahulu memang digunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Kami masuk lebih dalam dan menemukan Gyotaejeon hall yang juga berisi singgasana raja tapi dengan ukuran lebih kecil. Perjalanan kami sudahi hingga Jagyeongjon Hall karena waktu sudah semakin terbatas, sayangnya kami tidak sempat menyambangi Pagoda tinggi yang terletak di halaman belakang.

Kami kembali lagi ke arah Gwanghamun gate di depan, sebelum meninggalkan kompleks, kami mampir dulu di National Palace Museum yang terletak di sebelah kiri Gwanghamun Gate. National Palace Museum adalah bangunan 4 lantai yang berisi koleksi sejarah dari kekaisaran Korea. Bangunan ini sepertinya masih baru, terasa dari bau pelitur kayu yang masih tajam dan terasa pedas di mata, bangunannya sendiri sangatlah modern dan koleksinya tertata rapi.

Bilik pertama yang kami datangi berisi periode berbagai dinasti yang memerintah Korea, mulai dari yang awal hingga masa kejatuhannya. Bilik kedua menitik beratkan pada dinasti Joseon terutama para kaisarnya, terdapat sejumlah koleksi lukisan/foto, jubah-jubah kebesaran kaisar dan peninggalannya. Di bilik lainnya terdapat juga foto-foto para keluarga kerajaan. Kami berkeliling museum sampai sekitar pukul 11.30 dan segera bergegas kembali menuju stasiun agar tidak ketinggalan waktu shalat jumat.

ITAEWON & SEOUL CENTRAL MOSQUE

Dari Gyeongbokgung, kami menaiki subway line 3 dan turun di Yaksu, kemudian berganti line 6 dan turun di Itaewon. Baik di Yaksu maupun Itaewon sudah banyak terlihat orang-orang india, arab, dan malaysia-indonesia.

Dari exit 3, cukup berjalan lurus hingga menemukan toko kebab turki, barulah berbelok ke arah kanan, kalau tersesat atau bingung arah bisa bertanya kepada orang-orang sekitar yang kira-kira kelihatannya sama-sama muslim. Nah kalau hari jumat seperti waktu kami berkunjung, cukup ikuti saja kerumunan pria yang kelihatannya arab/india karena rata-rata pasti akan ke arah masjid untuk jumat’an. Jalan menuju Seoul Central Mosque menanjak terus dan cukup melelahkan, tidak jauh setelah belokan kita akan menemukan deretan toko-toko muslim, restoran halal bahkan biro umroh.

146
Jalanan menanjak

Itaewon merupakan area expatriat atau warga asing di Seoul, maka dengan bantuan Kerajaan Arab Saudi, dibangunlah Seoul Central Mosque sekaligus beberapa madrasah dan tempat belajar untuk warga asing yang muslim.

Karena waktu dzuhur adalah pukul 12.45, sementara saat sampai di sekitar Itaewon baru pukul 12.00, maka kami beristirahat sekaligus makan siang di Murree Hallal Food, suatu restoran muslim yang menyediakan masakan korea dan masakan india . Pemiliknya adalah seorang India pakistan yang cekatan, kami memesan Galbi Tang dan Samnyang. Di restoran ini kami banyak bertemu dengan orang Indonesia. Galbi Tang-nya lumayan enak (walau kata suami saya masih enakan di Myeongdong semalam) sementara Samnyang-nya tidak begitu pedas karena berkuah banyak.

Pukul 12.30 kami segera pergi ke masjid, posisi masjid-nya sangat menanjak curam dari pintu gerbang, dari pengeras suara terdengar khotbah jum’at dalam bahasa korea campur inggris. Saat kami menapakkan kaki, lapangan di luar masjid sudah penuh sesak dengan jamaah, kami pun melipir ke belakang di mana para ibu-ibu menunggu, sementara suami saya mencari tempat di antara para jamaah lainnya. Tidak lama kemudian kemudian iqamat berkumandang, rasanya sangat bahagia mendengar iqamat di negeri asing seperti ini. Setelah shalat selesai kami melanjutkan kembali perjalanan.

Karena masih lapar (akibat porsi nasi sedikit yang sudah dihabisin baby g tadi), suami saya mengajak makan kebab di salah satu kedai turki yang ada. Seperti di banyak kedai turki, di depan kedai juga menjual es krim turki yang dibuat dengan sedikit atraksi. Banyak gadis-gadis korea yang mengerumuni penjual tersebut sambil cekikikan.

150

DONGDAEMUN

Hasil penghematan di Jepang kemarin (well, 10,000 jpy memang murni penghematan biaya makan, tapi 10,000 lainnya adalah biaya transportasi baby g, in case buat jaga-jaga aja sih, walau dari semua situs yang saya baca bahwa di jepang anak di bawah 6 tahun belum bayar), saya masih mengantongi 20,000 jpy. Jatah belanja dan oleh-oleh di Korea cuma 100,000 krw, sementara separonya sudah dihabiskan beli kosmetik di Myeongdong semalam. Suami saya menyarankan agar kami tukarkan saja mata uang yen tadi menjadi won, awalnya saya nggak mau (karena saya terbiasa tertib dengan anggaran yang sudah dibuat) tapi suami saya bilang toh kalau nggak dipake juga nggak papa, buat jaga-jaga aja. Ya sudahlah, akhirnya saat sampai di Dongdaemun, kami menuju ke Hana Bank dulu untuk menukar uang. Saran dari Bryan juga sih, katanya kalau menukar uang lebih baik di bank daripada Money Changer karena ratenya lebih bagus.

Dongdaemun merupakan area pusat perbelanjaan dengan deretan aneka shopping mall yang beberapa bahkan buka 24 jam. Saya bukan penyuka belanja sih, jadi saya cuma mau pergi ke toko Arirang yang berada di lantai 6 Doota Shopping Mall buat beli oleh-oleh aja.

152
Doota Shopping Mall

Toko Arirang ini banyak direkomendasikan oleh teman-teman karena penjaga tokonya bisa berbahasa Indonesia, harga yang ditawarkan juga lumayan murah untuk ukuran di dalam mall (jangan bandingkan dengan harga barang serupa di Namdaemun Market sih), sudah ada price tag jadi nggak perlu repot-repot bayar.

Seorang pelayan wanita dan pria dengan wajah yang sangat korea (beneran korea banget dan kinclong) menyapa kami dalam bahasa indonesia yang fasih, eh ternyata mereka berdua orang bandung, owalah. Jadilah suami saya mengeluarkan jurus sunda-nya dan mereka pun saling berkomunikasi pake bahasa sunda. Toko Arirang menjual anek barang dan souvenir, misalnya saja t-shirt, gantungan kunci, boneka, magnet kulkas, sumpit bahkan hanbok. Di sini juga dijual makanan seperti teh ginseng, mochi, kacang almond dll. Tak lama, banyak juga warga malaysia dan indonesia dari grup tur yang datang. Pemilik Arirang memang cerdas sih, sepertinya memang mereka sengaja mengincar pangsa pasar malaysia-indonesia, sampai pelayannya dipilih yang asli indonesia tapi mukanya korea. Si owner sendiri bisa sedikit sedikit berbahasa melayu. Si akang oppa (akang-akang pelayan yang orang bandung tadi) pun menginfokan kalau belanja di sini akan dikemas dalam tas kain ukuran besar yang diberikan gratis, runtuhlah pertahanan saya (soalnya semalem kan bingung mau naroh oleh-oleh di mana lagi) dan langsung memborong banyak barang. Tas isi oleh-oleh dari Arirang ini beratnya sampai 10 kg lho pas kami timbang di bandara, haha.

Tadinya sehabis belanja, kami mau mampir foto-foto sebentar di Dongdaemun Design Plaza yang terkenal akan bentuk bangunannya yang unik, berhubung tenyata hasil belanja beratnya minta ampun, akhirnya kami langsung berbalik arah dan pulang ke hostel.

153
Di belakang kami adalah Dongdaemun Design Plaza

HONGIK AREA

Oh iya, saya lupa sedikit mengulas mengenai area Hongik, tempat saya menginap. Hongik merupakan area anak muda di Seoul, banyak cafe-cafe dan rumah makan serta butik-butik kecil yang sesuai gaya anak muda. Tahu drama “Coffee Prince”?? lokasinya hanya 100 m saja dari hostel kami berada. Di sini banyak berseliweran anak-anak muda gaul korea dengan dandanan keren.

158
Hongik area

Setelah menaruh barang bawaan di kamar dan beristirahat, kami keluar menuju 711 untuk membeli makan malam. Di 711 kami juga membeli banyak samnyang untuk oleh-oleh, lumayan sedikit lebih murah dibanding di Korea.

DAY 8

Garuda Indonesia yang membawa kami ke Jakarta akan berangkat pukul 10.35 , karena itulah pagi-pagi sekali jam 06.30, kami sudah keluar dari hostel menembus dinginnya udara yang belum disinari matahari sembari memanggul barang bawaan. Semalam kami sudah berpamitan dengan Bryan sembari mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya.

Kami menaiki AREX hingga Incheon Airport, berakhirlah sudah perjalanan korea-japan kami ini, semoga suatu hari lagi diberi kemudahan, umur dan rezeki untuk kembali mengunjungi kedua negeri ini. Anyeong haseyo Seoul.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s