Posted in Gyeonggi-do, Incheon, Seoul, South Korea

Japan – Korea Trip (Day 5 & 6)

DAY 5 

Hasil kalap di Don Quijote dua hari yang lalu ternyata sudah cukup membuat isi tas cadangan yang kami bawa penuh sesak dan tidak ada space lagi sama sekali. Padahal tentunya masih ada yang akan kami beli lagi di korea (walaupun sedikit), ya sudahlah ntar lihat aja gimana. Packing sudah kami lakukan kemarin sore sepulang dari USJ. Setelah melepas seprai dan bed cover serta meletakkannya di keranjang laundry, kami pun terseok-seok menuruni tangga untuk makan pagi di dapur hostel.

Peach Airways yang akan membawa kami ke seoul direncanakan terbang pukul 12.50 siang, jadi baru pukul 09.00 kami akan keluar dari hostel. Kami memasak mie instan (iya indomie) yang sudah kami bawa dari Jakarta, suasana dapur masih terbilang lengang, hanya ada dua bule yang sepertinya juga akan meninggalkan hostel hari ini. Karena masih ada sisa recehan yen, maka kami mampir sebentar di 711 sekedar untuk menghabiskan uang tersebut (toh juga nggak bakal bisa dituker di money changer) dan juga membeli bento box untuk makan siang di bandara, lumayan lah bisa dapet pocky atau permen utuk nambah oleh-oleh.

IMG20170315072219
Dapur J Hoppers

Setelah itu kami pun check out dan berjalan menuju stasiun Fukushima. Situs hyperdia.com memang benar-benar akurat, train timetable yang saya browsing sebulan sebelumnya sangatlah tepat dan tidak bergeser semenit pun. Kami menaiki JR Kansai Airport Rapid Service,  untuk menuju ke Kansai Airport kita harus menggunakan gerbong 1-4, sebab gerbong no 5-8 nanti di pertengahan jalan akan berpisah dan menuju ke Wakayama. Saya mendapatkan info ini dari beberapa situs yang saya baca, tapi pun pengumuman lewat pengeras suara baik di peron ataupun di dalam kereta juga akan terus menginfokan hal ini. Biaya yang harus dibayarkan adalah sebesar 1190 jpy. Ada alternatif yang lebih murah yaitu dengan mengkombinasikan JR Loop Line dan Nankai Airport Express, tapi alternatif tersebut mengharuskan kita turun dan berganti kereta dulu di stasiun Shin Imamiya, tentu cukup merepotkan untuk keluarga yang membawa anak kecil seperti kami. Kereta yang kami naiki masih lengang pagi itu, sehingga kami bisa menggunakan dua tempat duduk sendiri. Perjalanan menuju Kansai Airport membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Sesampainya di Kansai Airport kami segera menuju halte free shuttle bus yang akan membawa kami ke terminal 2 di mana Peach Aviation akan berangkat. Tidak perlu khawatir tersesat karena papan penunjuknya sangatlah jelas. Saat kami sampai, waktu baru menunjukkan pukul 11 kurang, sementara menurut informasi yang ditempel di papan pengumuman (iya bener ditempel, bukan pake papan elektronik), counter check in baru akan dibuka pukul 11.30. Terminal 2 jauh lebih kecil dibanding terminal 1, kira-kira cuma seperti Bandara Halim di Jakarta, tidak tersedia banyak tempat duduk jadi kami hanya bisa nongkrong di samping troli sembari menunggu. Terminal 2 ini mayoritas memang hanya digunakan oleh Peach Aviation, jadi dekorasi dan warna interiornya didominasi oleh warna peach yaitu magenta (ungu). Saya masih heran kenapa walau menyandang nama peach (peach kan jingga) tapi warna kebangsaan si peach ini malah magenta, lihat aja situsnya, seragam pramugarinya bahkan body pesawatnya.

Yang ribet adalah tidak tersedia fasilitas web check in di situsnya, check in harus dilakukan di mesin check in kios yang hanya tersedia di bandara, dalam kasus ini ya di terminal 2 kansai airport. Setelah check in di mesin kios, penumpang yang membawa bagasi baru mendatangi counter check in, sementara yang tidak membawa bagasi dapat langsung melanjutkan perjalanan.

IMG20170315103357
Mesin Check in Kios milik Peach Aviation

Yang harus dilakukan di mesin check in kios sih sebenarnya simple saja, kita harus men-scan barcode atau kode martix yang ada di bukti print booking , selanjutnya men-scan paspor kita. Nah, saat scan paspor ini kok error melulu, sampai akhirnya kami dihampiri oleh petugas yang menyuruh kami langsung saja ke counter check in, sebelumnya dia bertanya apa kami Indonesia, owalah saya baru ngeh kan paspor Indonesia nggak semuanya pake chip (e-passport), apa yang mau di-scan, haha.

Masalah masih berlanjut di counter, di paspor memang nama suami saya hanya terdiri dari 2 suku kata, tapi untuk keperluan umroh yang lalu, di lembar endorsement nama suami tercantum 3 suku kata. Karena itulah, saya terbiasa mencantumkan namanya dalam 3 suku kata saat booking tiket, dan selama ini nggak ada masalah. Si mbak petugas mempermasalahkan kenapa namanya 3 suku kata, sementara di lembar identitas hanya 2. Kami sudah menerangkan alasannya sambil menunjuk lembar endorsement tersebut, tapi si mbak masih kekeuh dan kebingungan, dia malah nunjukkin paspor saya dan baby g yang memang sudah 3 suku kata dari awal. Kami jelaskan lagi, tapi dia masih kelihatan bingung sambil membolak-balik paspor suami saya dan akhirnya memanggil supervisornya. Untungnya suami saya punya ide, dia bilang visa yang di-approve itu kan 3 suku kata, akhirnya baru mereka berhasil diyakinkan setelah mengecek stiker visa tersebut, fuuh.

Setelah proses check in yang sangat menghabiskan waktu dan bikin hati kebat-kebit, kami melewati deretan duty free dan duduk di ruang boarding sambil makan bento box yang sudah dibeli di 711 kemarin. Karena jaraknya dekat, sepertinya banyak warga jepang yang berlibur di seoul atau sebaliknya. Tepat pukul 12.30 wartu boarding diumumkan dan kami bergegas menaiki pesawat, Sayonara Japan !!!!.

IMG20170315120132
Ruang boarding

PEACH AVIATION

Pesawat Peach itu rata-rata berukuran kecil, namanya juga budget airlines, dan body nya dicat warna magenta. Seperti budget airlines lainnya, jangan mengharapkan kenyamanan berlebih, yang penting aman dan murah. Setelah kemarin naik garuda yang lapang, sekarang rasanya sempit sekali.

Penerbangan ke Seoul hanya memakan waktu 1 jam 50 menit dan kami lalui dalam kondisi udara yang cerah dan tenang tanpa turbulensi. Tidak ada perbedaan waktu antara Osaka-Japan dan Seoul.

SEOUL

Pukul 14.55 pesawat kami mendarat di Seoul, setelah melewati imigrasi yang panjang antriannya, kami pun bergegas menuju pengambilan bagasi. Ternyata bandara incheon ini luar biasa besarnya, untuk menuju lokasi pengambilan bagasi saja kami harus menaiki free shuttle train dulu dan jalan naik turun lumayan jauh, bisa ditebak saat kami tiba, bagasi-bagasi tersebut sudah berjajar manis dan siap diambil.

Setelah mengambil bagasi, kami menaiki lift dan turun di lantai di mana terdapat stasiun kereta yang akan membawa kami ke pusat kota Seoul. Kami sudah meminjam T money (semacam smart card yang bisa digunakan untuk moda transportasi ataupun berbelanja di minimarket) jadi hanya tinggal men-top up saja di vanding machine yang berada persis di depan pintu masuk stasiun. Kami men-top up t-money tersebut sebesar 25,000 KRW, sesuai perhitungan yang telah saya buat untuk naik kendaraan selama 3 hari ini.

3
Maskot Arex di stasiun

Karena hostel kami terletak di area Hongik, maka kami menggunakan Arex bertype all stop train, yang mana berhenti di banyak stasiun (salah satunya Hongik) dan juga lebih murah, tarifnya 4050 KRW. Ada juga AREX bertype direct yang langsung berhenti si Seoul Station dengan gerbong yang lebih nyaman namun tentu harganya jauh lebih mahal.

4
Di dalam AREX

Jauh juga jarak menuju ke Hongik, butuh waktu sekitar 46 menit, masalahnya tempat duduk di gerbong Arex ini persis seperti kereta biasa, dua bangku panjang dari sisi ke sisi yang saling berhadapan, jadi tidak terlalu nyaman.  Yang lucu adalah di setiap pemberhentian, pengumuman informasi  akan didahului oleh alunan lagu rakyat korea tradisional. Nah, kalau di Jepang kemarin saya menilai cewek-ceweknya kawai (imut) dengan wajah yang segar dan minim make up, cewek-cewek di korea ini kesannya lebih ke kirei (cantik) dengan trend “no make up make up” dan pemakaian BB cream yang membuat tampilan flawless dengan kulit muka yang seakan-akan glossy dan transparan. Tapi sayangnya juga make up-nya terlalu tebal, terutama di detail area mata dan bibir yang dipoles sedemikian merah, padahal mereka kan putih. Udah gitu, mereka juga nggak segan bedakan dan lipstikkan di atas kereta lho.

BUNK GUESTHOUSE HOSTEL

Kami turun di stasiun Hongik dan keluar melalui exit 7, tanpa disangka kontur nya cukup naik turun dan bikin kami terseok-seok memanggul barang bawaan. Setelah sempat bingung dan celingak-celinguk (karena realnya ternyata beda dengan hasil google image), akhirnya saya menemukan Wausan-ro 29 ra-gil, jalan di mana Bunk Guesthouse hostel yang sudah kami booking berada. Faktor lokasi juga sangat menentukan pemilihan hostel ini karena jaraknya hanya 10 menit saja dari stasiun.

Saya membunyikan bel yang ada di pintu ruang resepsionis Bunk Guesthouse Hostel karena pintunya terkunci. Bryan sang owner yang sedang tenggelam di sofa sambil menonton TV bergegas membukakan pintu untuk kami. Anyway, saya tahu namanya Bryan dari berbagai review yang saya baca di internet, Bryan adalah seorang pria korea sekitar usia akhir 30-an dengan wajah khas korea yang cukup menarik. Bahasa inggrisnya fasih dengan hanya sedikit saja logat korea. Saya pun mengeluarkan print tanda booking dari agoda, namun Bryan menerima kertas tadi sambil menatap saya dengan sedikit merenung. Dia pun berkata bahwa hostel ini tidak menerima anak kecil. What??? nggak mungkin, saya pun berargumen bahwa saya sudah membaca dengan detail segala T&C yang ada di agoda termasuk ketentuan soal anak. Tapi bryan tetap menolak dan berkata tidak, peraturannya tidak boleh. Mangkel, bingung, sedih, campur aduk jadi satu, coba pikirkan apa yang harus saya lakukan, membooking hotel lagi tentu sangat menyulitkan apalagi dengan adanya anak dan barang bawaan, booking lagi pun berarti duit saya hilang.

Kami pun memohon-mohon lagi ke Bryan agar boleh diizinkan. Bryan mengecek kembali daftar booking di komputernya dan mengatakan kalau dia paling hanya bisa mengizinkan kami berdiam satu malam di kamar lainnya karena sudah penuh. Saya pun memohon mohon kembali sambil mengajukan penawaran kalau anak saya nggak akan ribut dan saya bersedia membayar extra charge. Dia memberikan saya selembar kertas berisi beberapa peraturan yang harus saya baca (isinya sih general, nggak ada soal bawa anak) dan setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia mengizinkan kami masuk tapi dengan extra charge 15,000 KRW/malam. Yah sudahlah daripada kami pusing.

6
Bunk Guesthouse Hostel

Kami diantar ke kamar kami yang terletak di lantai dua, kamarnya kecil dan hanya berisi satu bunk bed namun dengan fasilitas kamar mandi di dalam, dan kondisinya sangat rapi dan bersih. Sistem kunci menggunakan kunci elektronik berupa pin yang harus diinput. Sepertinya hostel ini dulunya merupakan rumah pribadi yang kemudian dirombak menjadi hostel.

Setelah merebahkan diri di kasur, dengan koneksi wifi saya membuka situs agoda untuk mengecek kembali T&C yang tertera. Dengan penuh kemenangan saya pun menunjukkan kepada suami saya keterangan bahwa anak usia 0-5 tahun tidak dikenakan biaya apabila menggunakan ranjang yang tersedia. Kami pun berkesimpulan bahwa Bryan sepertinya keberatan lebih ke soal okupansinya, karena sebenarnya dia juga menyediakan family room untuk 3 orang. Yah apa boleh buat kan, daripada nggak bisa masuk hostel, sepertinya berdebat pun percuma.

DEOKSUGUNG PALACE

Walau sangat lelah fisik dan juga batin (oke memang lebay) akibat perjalanan dan drama hari ini, tapi kami teringat bahwa waktu yang kami miliki untuk mengeksplorasi Seoul ini tidaklah banyak. Dengan menyeret kaki, kami pun bergegas keluar hostel untuk menuju ke Deoksugung Palace dan Gwanghamun gate, walau rasanya malas sekali apalagi dengan udara yang makin dingin menggigit di senja itu.

Kami kembali memasuki stasiun Hongik dan harus tersiksa dengan kenyataan bahwa Line 2 jaraknya jauh sekali dari exit 7 tempat kami masuk tadi. Hongik memang merupakan stasiun dengan pertemuan beberapa line (jalur), tapi yang nggak kami sangka, ternyata jarak antara line yang satu dengan yang lain sangatlah berjauhan. Line 2 itu kira-kira ada sekitar 300 m dari exit 7.

Kami turun di stasiun City Hall yang sama-sama berada di line 2, lalu berjalan sekitar 100 dari exit 2 hingga menemukan gerbang Daehanmun yang merupakan pintu masuk dari Deoksugung palace. Karena sudah kelaparan, sebelum masuk kami melangkahkan kaki dulu ke deretan restoran yang berada di sebelah gerbang Daehanmun. Kami memutuskan masuk ke salah satu restoran yang menyajikan masakan korea yang dari displaynya sepertinya bisa kami makan. Ahjuma (bibi-bibi) yang menjaga restoran , seperti yang sudah ditebak, tidak bisa berbahasa inggris. Kami kesulitan bertanya soal kandungan isi makanan yang ada, untunglah…ada seorang oppa-oppa lumayan kece (ini pasti jadi favorit temen-temen yang fans drakor) yang membantu kami karena dia lumayan bisa berbahasa inggris. Saat saya bilang “thanks” dia malah jawabnya “sama-sama” lalu dia pun menerangkan bahwa sudah setahun dia bekerja di malaysia, owalah.

Menu yang kami pesan sebenarnya standar saja, saya pesan nasi dengan ayam cacah, sementara suami pesen nasi dengan telur mata sapi & cacahan daging. Sayang disayang porsi nasinya seiprit banget, udah gitu hampir setengahnya disiram gochujang, suatu saus khas korea yang rasanya asam pedas. Lucunya saat membayar, suami saya keder memberikan mata uang yen alih-alih won, si ahjuma pun bingung dan bertanya apa ada uang lain. Saat suami memanggil yang ada dalam pikiran saya malah jangan-jangan uangnya udah nggak laku, eh pas dicek ternyata itu yen. Kami semua pun tertawa-tawa setelah suami saya menyerahkan pecahan uang won. Padahal 10,000 yen nilanya sepuluh kali lipat 10,000 won lho, untung ahjuma nya jujur.

Sebelum masuk ke Deoksugung, kami berfoto sebentar di Deoksugung Stonewall Walkway, jalan samping istana yang berbatasan dengan tembok batu deoksugung , jalanan ini juga dilapisi paving batu dan dinaungi oleh pohon-pohon rindang yang saat musim gugur sangatlah indah. Saat akan berfoto, lewatlah serombongan tentara-tentara muda kurus yang pasti bakal disambut dengan euforia bagi fans-nya Descendants of the sun (yang membuat saya menyerah berhenti nonton di episode ke-3 karena sudah terlalu terbiasa nonton bones atau criminal minds).

14
Deoksugung Stone Walkway

Kami membeli tiket masuk seharga 1,000 krw, cukup murah kan. Deoksugung ini buka mulai pukul 09.00 – 21.00, itulah mengapa kami ke sini dikarenakan ini adalah obyek wisata yang masih buka sampai malam begini. Berkunjung ke kompleks istana yang sudah ratusan tahun umurnya di malam hari tentu menimbulkan sensasi tersendiri, bisa dibilang agak spooky, apalagi pengunjungnya sedikit, petugas keamanan yang berjaga pun tidaklah banyak.

12
Daehanmun Gate

Deoksugung adalah salah satu dari 5 istana utama dinasti Joseon, Istana ini pernah menjadi kediaman beberapa pemimpin Dinasti Joseon sampai periode penjajahan Jepang. Kompleks istana ini merupakan yang terkecil di antara kelima lainnya.

Bangunan utamanya di mana terdapat singgasana Kaisar dinamakan Junghwajeon Hall, berupa paviliun bergaya korea dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Di belakangnya berderet berbagai bangunan yang difungsikan sebagai tempat acara-acara ataupun tempat tinggal. Yang menarik adalah adanya bangunan megah bergaya eropa yang dinamakan Seokjejoen, bangunan ini didirikan atas prakarsa Emperor Gojong.

24
Seokjejoen Hall

Kami menelusuri kompleks istana hingga sampai kembali di Daehanmun Gate yang juga merupakan pintu keluar. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar sejam di istana ini tanpa sempat mengeksplorasi lebih mendalam dikarenakan suhu udara yang makin turun.

27
Deoksugung Complex
29
Deoksugung Complex

GWANGHAMUN GATE & CHEONGGYECHEON STREAM

Keluar dari Deoksung, kami meneruskan perjalanan melalui hiruk pikuk dan modern-nya kota Seoul. Daerah ini memang merupakan pusat kota seoul, jalanannya lebar dan besar, sementara gedung-gedung tinggi berjajar di sekelilingnya. Tadinya saya bermaksud berkunjung sebentar sekedar untuk melihat Cheonggyecheon stream, suatu aliran sungai di tengah kota yang sangat terkenal karena sudah dirombak modern sehingga nyaman dipakai sebagai tempat warga sekitar duduk-duduk, dan merupakan bagian dari budaya k-pop karena seringnya digunakan sebagai latar dalam drakor atau video penyanyi korea. Tapi karena ternyata sungainya itu terletak di seberang jalan, yang mana jalannya sangat lebar (silakan bayangkan jalan sudirman) dengan lalu lintas yang ramai, suami saya pun menyuruh membatalkan saja kunjungan tersebut, toh yang dilihat cuma sungai.

31
Area pusat kota Seoul

Kami berjalan terus hingga menemukan patung Admiral Yi Shun Shin yang berdiri tegak, patung ini menandai dimulainya area Gwanghamun Gate. Saat saya berkunjung, area ini penuh dengan kemah-kemah temporary, poster dan bahkan patung kertas berukuran besar, ternyata area ini dijadikan markas oleh para pendemo yang menentang kebijakan presiden yang beberapa hari lalu diberitakan di tv indonesia. Area ini pun dijaga ketat oleh beberapa polisi, kami pun bertanya dulu apakah kami diizinkan masuk dan dibolehkan. Kami pun mempercepat langkah karena cukup khawatir kalau tiba-tiba akan pecah kerusuhan atau semacamnya. Kami sampai di depan patung besar dari Emperor Sejong, seorang kaisar yang paling berpengaruh dan banyak peninggalannya dari dinasti Joseon. Dari sini kami berjalan memutar kembali untuk mencapai stasiun Gwanghamun untuk naik subway (ln 5), turun untuk berganti line di Chungjeongno (ln5) dan naik lagi hingga Hongik station.

33
Admiral Yi Shun Shin Statue
35
King Sejong statue

Sampai di hotel baru pukul 8.30 malam tapi rasanya badan sudah remuk redam, Anyeong Haseyo Seoul !!!!

DAY 6

Jam 6 pagi, dengan sedikit tidak rela saya harus meninggalkan selimut dan kasur yang nyaman. Jadwal hari ini sangat padat, Nami Island, Namsangol Hanok Village, NSeoul Tower & Myeongdong, jadi kami harus berangkat sepagi mungkin.

Resepsionis merangkap ruang makan baru dibuka pukul 08.00 pagi, jadi kami harus makan pagi di kursi outdoor sambil menahan dinginnya udara yang masih menggigit. Kami membeli nasi matang dalam kemasan yang dijual di 711, sementara lauknya adalah perbekalan yang kami bawa dari Jakarta. Jam 08.00 Bryan baru muncul dan tersenyum ramah saat menyapa kami.

IMG20170316075647
Bunk Guesthouse Hostel

Setelah beres makan, kami pun berangkat menuju destinasi pertama yaitu Nami Island. Nami Island ini merupakan suatu pulau buatan yang terletak di gyeonggi-do, cukup jauh dari Seoul, pulau ini menjadi sangat terkenal dan menjadi andalan pariwisata korea sejak dijadikan sebagai latar drama “Winter Sonata” yang dibintangi oleh Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo. Oke, walaupun sekarang saya bukan penggemar drakor lagi, tapi saya termasuk penonton setia drakor generasi awal, Winter Sonata ini salah satunya merupakan film yang menjadi pionir meledaknya drakor di seantero dunia. Jadi, sudah pasti kalau Nami Islam masuk dalam daftar wajib kunjung saya.

Untuk menuju Nami Island, ada beberapa moda transportasi, bisa naik bus atau kereta. Paling gampang memang naik bus sih, cuma sayangnya bus baru akan berangkat dari Seoul pukul 10.00 dan kembali lagi pukul 16.00, sangat menghabiskan waktu, apalagi waktu saya sangat sedikit. Alternatif lainnya yaitu naik kereta, banyak yang merekomendasikan naik ITX, tapi sebagai traveller pelit cermat , saya menemukan suatu cara lain yang jauh lebih murah (walau sedikit ribet) yaitu naik subway lokal seperti biasa. Ongkosnya cuma 2350 krw, toh waktu tempuhnya hampir sama, sekitar 1 jam 40 menit.

Sudahkah saya ceritakan kalau stasiun subway di seoul terbilang “jahanam”???? Jadi begini, satu stasiun kebanyakan terdiri atas beberapa line, nah masalahnya jarak antara line yang satu dengan yang lain jauh banget, rata-rata 300-500 m, itu belum termasuk kita harus naik turun dengan kondisi anak tangga yang sangat curam, sebab belum tentu line yang satu dengan yang lainnya sama-sama satu lantai. Memang karena saya membawa stroller untuk anak, saya memilih berjalan sedikit memutar agar bisa naik lift. Masalahnya manner orang korea ternyata sedikit mengecewakan, lift bisa penuh dengan anak muda yang tergolong sehat dan tidak membawa apa-apa, sekalinya penuh sama manula, eh si kakek nenek ini udah kayak orang kesurupan takut ketinggalan lift, sampe adu sikut dan dorong-dorongan pun mereka nggak peduli.

Belum selesai di situ, kalau kebanyakan peta jalur (line) subway di negara lain itu rapi antara ujung awal dan akhirnya (sebut saja di beijing, jepang, singapore, malaysia) sehingga saat mencatat rute kita tinggal menghapal ujungnya saja. Nah di seoul ini, line subway bisa bercabang, melingkar atau nggak teratur, jadilah setiap sampai di peron saya akan buru-buru nyari peta jalur agar nggak salah. Pun, di keterangan peron arah juga tidak dituliskan seragam, bisa ditulis ujungnya, bisa ditulis stasiun sesudahnya atau bahkan suatu stasiun yang terkenal saja, bikin ribet.

Rute menuju Nami Island dari Hongik Station dengan subway sebagai berikut :

  1. Naik subway Gyeonggi Jungang line dari Hongik Station, turun di Sangbong station
  2. Di Sangbong, ganti dengan subway Gyeongchun line, turun di Gapyeong
  3. Naik taxi sekitar  menit hingga sampai di dermaga Nami
IMG20170316084215
Di dalam subway

Nah, berhubung setelah jalan di dalam Hongik station, saya nggak ketemu juga letak Gyeonggi Jungang line itu (dan yeah…petugas pun sedikit banget dan jarang nongol, jadi mau nanya siapakah saya?). Kami pun mengamati peta yang ditempel di stasiun dan memutuskan sedikit memodifikasi jalur menjadi :

  1. Naik subway line 2 dari Hongik Station, turun di Wangsimni
  2. Di Wangsimni, ganti dengan subway Gyeonggi Jungang line, turun di Mangu
  3. Di Mangu, ganti dengan subway Gyeongchun line, turun di Gapyeong
  4. Naik taxi sekitar  menit hingga sampai di dermaga Nami

Cukup ribet karena mesti ganti kereta beberapa kali, dan ternyata di Mangu hampir 30 menit kami menunggu kereta yang akan membawa kami ke Gapyeong. Di stasiun Gapyeong, kami keluar melalui exit 1 dan langsung menaiki salah satu taxi yang sudah mangkal. Btw, saat mengantri toilet di Gapyeong, kami bertemu dengan dua cowok asal Indonesia dan sempet ngobrol-ngobrol, mereka nanya ke kami apakah akan naik bus atau taxi. Saya pun bilang kalau naik bus sayang kalau nggak seharian di area ini,  sebab tiket bus dapat digunakan sepuasnya seharian penuh, sementara kami cuma mau ke Nami saja. Selain Nami, di area ini juga ada Petite France dan Morning Calm Arboretum yang cukup terkenal (tentu saja gara-gara drakor). Selain itu biaya taxi menuju Nami Island juga terbilang murah, apalagi saya sempat baca kalau waktu tunggu bus lumayan lama.

70
Gapyeong Station

Nami Island memang sangat dekat dari Gapyeong station, cuma 10 menit saja dan ongkos taxinya hanya 4,000 KRW. Sesampai di Nami kami disambut oleh pemandangan danau luas dengan dermaga dan beberapa patung batu salju buatan sebagai dekorasinya.

3
Di dermaga Gapyeong

Tiket masuk ke Nami Island dibanderol seharga 8,000 KRW untuk dewasa dan 4,000 KRW untuk anak (mulai usia 2 tahun). Yang lucu, Nami Island ini disebut sebagai Naminara Republic dan dibuatlah semacam bangunan “imigrasi”. Tiket yang dibeli sudah termasuk dengan ongkos naik ferry pp. Ferry-nya sendiri sangat lucu, dengan bentuk moncong yang lebar dan dihias dengan aneka bendera dari berbagai bangsa. Tidak lama kami menaiki ferry, hanya 5 menit kami sudah sampai.

4
Imigrasi Nami
6
Ferry ke Nami

Baby G langsung antusias sekali demi melihat sisa-sisa bongkahan es yang sudah dibentuk menjadi seperti gunung di pintu masuk Nami. Saya segera menarik baby g untuk berfoto dengan beberapa patung salju dari batu lengkap dengan tulisan “nami island” di latar belakang.

13
Gerbang Nami Island

Suasana di Nami Island terbilang cukup ramai, namun tetap terasa sejuk karena banyak pepohonan, err lebih tepat masih dingin karena suhu udara masih 10 derajat. Kami menyusuri jalan hingga bertemu dengan beberapa patung batu yang sepertinya dari kisah rakyat-rakyat korea. Kami pun bertemu dengan makam Jenderal Nami, yang dari namanya lah asal nama pulau ini. Jenderal nami adalah jenderal yang dulu pernah difitnah sebagai pengkhianat, namun akhirnya nama baiknya dipulihkan kembali.

19
Patung-patung batu di Nami Island
24
Makam Jenderal Nami

Baby g kembali kegirangan karena menemukan gundukan sisa-sisa salju (yang memang sepertinya sudah sengaja dikumpulkan oleh Pihak Nami), maklum dia lagi keranjingan frozen, suami saya pun ikut-ikutan girang, maklum ya mahluk tropis baru kali ini liat salju. Mereka berdua pun asik pegang-pegang salju sambil foto-foto. Dari salju tadi, kami bertemu dengan jalan setapak yang dinaungi deretan pohon-pohon pinus , aargh kali ini saya-lah yang kegirangan karena teringat akan salah satu episode dari Winter Sonata yang berlokasi di sini.  Kami terus menyusuri jalan hingga bertemu dengan spot bertuliskan “Winter Sonata First Kiss”.

22
Gundukan salju
28
Gundukan salju
31
Gundukan salju
42
Winter Sonata First Kiss
34
Deretan pohon pinus

Keseluruhan dari nami island ini sangat indah dan menyenangkan, apalagi banyak tersedia tempat duduk lengkap dengan meja ataupun gazebo kecil yang bisa dimanfaatkan untuk piknik. Taman-taman yang ada cukup menarik karena sudah terkonsep rapi, ada area burung unta, bahkan ada burung merak yang bebas berkeliaran. Di suatu kedai kami mampir sebentar untuk jajan bakpao dan sate seafood, harganya murah, total hanya 3000 KRW.

Mengikuti peta yang dibagikan di kios tiket tadi, sampailah kami di patung perunggu Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo yang sedang berpelukan, yihaaaa. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil foto di spot ini. Lurus terus dari patung ini terdapat jalan dengan deretan pohon maple, saya jadi pingin nyanyi lagunya “my memory” yang jadi salah satu soundtrack winter sonata.

68
Poster Winter Sonata
56
Patung tokoh Jun Sang & Yu jin dari Winter Sonata

Kami makan siang dengan nasi bekal dari 711 dan gudeg kaleng yang saya bawa dari Jakarta di suatu gazebo yang nyaman. Gazebo ini letaknya di samping patung “saru” (bahasa jawa artinya malu,nggak sopan) yang berwujud seorang ibu gemuk raksasa yang sedang menyusui kedua anaknya dan ketiganya dalam wujud telanjang. Sayangnya saya lupa nama patung ini, tapi dari keterangan yang ada, ternyata patung ini merefleksikan sang ibu sebagai “dewi bumi” yang terus memberi makan kedua aliran sungai terbesar di china yaitu yang tze dan yellow river.

58
Gazebo untuk piknik
53
Patung “saru”

Rasanya nyaman sekali melewatkan waktu duduk-duduk di Nami Island ini (apalagi di musim semi kali ya, soalnya di akhir musim dingin gini walau nyaman tapi lama-lama kulit tangan dan kaki mengkeret kedinginan), tapi kami harus segera kembali ke Seoul sebab masih ada beberapa tempat yang akan kami datangi lagi. Sebelum ke dermaga, kami shalat di musholla yang sudah disediakan, musholla-nya bersih dan luas, mungkin karena banyak turis malaysia dan indonesia datang, sehingga tidak hanya musholla, restoran di sini pun banyak yang memasang label halal.

NAMSANGOL HANOK VILLAGE & NSEOUL TOWER

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00 siang saat kami menumpang ferry kembali ke dermaga. Agak sedikit meleset dari jadwal yang sudah dibuat, sebab ternyata perjalanan dari seoul ke nami yang diperkirakan hanya 1 jam 50 menit molor jadi 2 jam 30 menit, akibatnya berdampak kepada keseluruhan jadwal.

Taxi kembali ke Gapyeong station kali ini hanya bertarif 3,500 KRW. Dari situ kami bermaksud menuju ke Namsangol Hanok Village denga rute sebagai berikut

  1. Naik subway Gyeongchun line dari Gapyeong, turun di Mangu
  2. Di Mangu, ganti dengan subway Gyeonggi Jungang line, turun di Wangsimni
  3. Di Wangsimni, ganti dengan subway line 5, turun di Dongdaemun
  4. Di Dongdaemun, ganti dengan subway line 4, turun di Chungmuro

Haha, lebih ribet lagi dibanding saat berangkat kan? karena itulah butuh waktu sekitar 2 jam, dan baru jam 4 sore kami sampai di Chungmuro. Setelah menimbang-nimbang dan kasihan pada babgy g, saya terpaksa membatalkan kunjungan ke Namsangol Hanok Village (hiks..apa boleh buat..anak lebih penting) dan langsung menuju ke exit di depan Daehan Cinema untuk naik bus yang akan menuju NSeoul Tower.

37
Di depan daehan cinema

Ada dua bus yang menuju ke NSeoul Tower yaitu bus no 02 dan 05, tapi bus no 02 lebih direkomendasikan karena trayeknya tidak berputar-putar, tarifnya sama-sama 1,100 KRW.

70
Di dalam bus

Tiket masuk ke NSeoul tower telah saya booking lewat klook.com juga, harganya cuma 8,000 KRW sementara kalau beli langsung harganya 10,000 KRW. Perjalanan menuju NSeoul Tower cukup menanjak dengan medan yang terjal, wajarlah karena NSeoul Tower terletak di puncak bukit Namsan. Kawasan ini juga sepertinya dijadikan area trekking ataupun olahraga bagi warga lokal.

Bus berhenti di halte yang terletak di bibir bukit, pemandangannya sangat indah, kita bisa melihat pemandangan Seoul dari ketinggian. Dari situ kita harus berjalan menanjak lagi sekitar 500 m hingga sampai di pintu masuk NSeoul Tower. Well, saya harus cerita kalau motivasi saya mengunjungi tempat ini adalah karena ingin melihat deretan gembok cintanya yang famous itu, eh ternyata gembok cinta itu letaknya cuma di lantai 4 yang mana terbuka untuk umum, tidak harus bayar. Sementara tiket yang saya beli itu fungsinya untuk naik ke puncak tower, lah udah terlanjur beli tiket masa iya nggak dipake? kami pun menaiki lift extra cepat hingga tiba di puncak tower. Pemandangannya?? ya seperti rata-rata tower lah, nggak terlalu istimewa, kaca di tower ini juga sepertinya kurang dibersihkan sehingga pemandangan lewat kaca tidak kinclong. Diameter ruangannya juga kecil aja, satu putaran cuma butuh waktu 5 menit. Yang bagus sih di sini walau difoto tapi kita nggak dipaksa harus nebus dengan harga yang selangit.

68
Halte di NSeoul Tower
54
Pemandangan dari halte
41
Jalanan yang menanjak
42
NSeoul Tower
45
Pemandangan dari Puncak Tower
47
Teropong berbayar yang disediakan

Dari puncak tower, kami kembali ke lantai 4 untuk menelusuri gembok cinta, satun gembok dijual seharga 5,000 KRW (saya nggak ikutan beli sih). Kami berjalan-jalan sambil sesekali mengambil foto. Setelah itu kami turun ke lantai dasar untuk melihat gallery penyewaan hanbok, sayangnya lumayan mahal, jadi akhirnya kami malah foto-foto dengan manequin berhanbok yang dipajang di luar, haha.

MYEONGDONG

Dari halte di depan NSeoul Tower, kami menaiki bus no 05 yang membawa kami ke area Myeongdong. Di bus saya bercakap-cakap dengan keluarga turis asal Malaysia, di Seoul ini memang banyak turis malaysia.

Myeongdong merupakan shopping area yang terkenal dengan jajaran toko kosmetik dan food streetnya. Tau kan kosmetik korea juga lagi booming banget di seantero dunia? That’s why saya memutuskan ke sini cuma sekedar beli kosmetik korea yang katanya sering didiskon kalau di myeongdong ini.

74
Ketemu Polly, tokoh kartun favoritnya, di depan stasiun Myeongdong

Ternyata benar, deretan toko kosmetik korea dengan berbagai brand terkenal ada di sini, sebut saja Tony Molly, Innisfree, The face shop, dll. Yang menarik tiap toko mencantumkan diskon atau penawaran untuk item khusus. Sementara pedestriannya diisi oleh kedai food street yang menggugah selera, ada juga yang menjual aneka fashion ataupun sepatu dengan harga murah meriah.

Berhubung ada baby g, saya cuma bisa masuk ke dua toko saja, walau dia seneng sih dalam toko kosmetik ngeliat-liat (maklum anak cewek, seneng liat orang dandan). Pertama saya masuk ke Tony Molly dan memborong beberapa bungkus masker korea untuk oleh-oleh, beneran murah, satu pack isi 10 cuma 10,000 KRW. Selanjutnya saya masuk ke Nature Republic dan langsung kalap membeli aneka lipstick dan krim wajah yang harganya murah banget (ya iyalah dibanding kalo udah dibawa ke Indonesia).

Karena hari sudah semakin malam, kami mampir di salah satu restoran masakan korea, setelah sebelumnya meneliti menu dan bertanya kepada pemilik. Saya memesan vegetarian bibimbap seharga 8,000 KRW, sementara suami saya memesan Galbi Tang seharga 12,000 KRW. Sejak saat itulah Galbi Tang resmi dinobatkan sebagai masakan korea favorit suami saya.

Setelah makan, kami sempat mampir sebentar di kedai food street untuk membeli beberapa kudapan manis khas korea, rata-rata makanan di sini harganya 3,000 KRW. Akhirnya setelah menenteng beberapa kantung plastik belanjaan, kami pun menuju stasiun subway untuk kembali ke hostel.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

2 thoughts on “Japan – Korea Trip (Day 5 & 6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s