Posted in Japan, Kyoto, Osaka

Japan – Korea Trip (Day 3 & 4)

DAY 3

Begitu bangun, yang ada dalam pikiran saya adalah “apakah nasi yang saya masak semalaman matang?”, ternyata harus kecewa dengan kenyataan bahwa rice cooker yang kami bawa tidak bisa digunakan. Masa’ sudah dicolokin semalaman, berasnya masih letis (sudah jadi nasi tapi masih keras)?. Ya sudahlah, akhirnya saya bereskan sekalian packing.

Pagi itu suhu udara masih sangat dingin, saya mengamati kota kyoto yang mulai berangsur-angsur ramai lewat jendela kamar yang berteralis. Kami sarapan dengan pop mie yang sudah dibawa sambil menonton kartun jepang di televisi. Rencananya kami baru akan keluar dari hotel sekitar pukul 08.30 untuk menuju Fushimi Inari Shrine.

IMG20170313061841
Pemandangan kota kyoto dari balik teralis jendela

FUSHIMI INARI SHRINE

Setelah siap, kami turun ke resepsionis hotel sekalian check out dan menitipkan barang bawaan. Kami menuju ke Kyoto Station kembali untuk menaiki JR Train yang akan membawa kami ke Fushimi Inari Taisha Shrine. JR Train merupakan moda transportasi yang termurah dan tercepat kalau kita ingin ke Fushimi Inari, JR Train yang digunakan adalah JR Nara Line for Joyo yang berangkat dari Platform 1. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit hingga sampai di stasiun Inari yang letaknya persis di depan pintu gerbang Fushimi Inari.

Fushimi Inari adalah shrine, bangunan kuil untuk para pemeluk agama Shinto, yang didedikasikan untuk Inari sang Dewa Rubah. Kuil ini terkenal karena ribuan torii (gerbang kuil) gate -nya yang berwarna oranye kemerahan. Untuk memasuki kuil ini tidak dikenakan biaya alias gratis.

Kami pun disambut oleh sebuah torii gate yang menjulang tinggi di atas kepala kami, hingga tiba di pintu masuk yang mengingatkan saya akan deva gate nya kiyomizudera yang saya lihat kemarin. Di kanan kiri gerbang berdirilah patung Inari yang dipercaya sebagai dewa pelindung kuil ini, Inari yang kiri menggigit bola, sementara yang kanan menggigit sebilah belati. Masuk lebih ke dalam lagi, kita akan bertemu dengan beberapa bangunan kuil yang berwarna oranye kemerahan, di salah satu kuil yang terbesar sedang berlangsung upacara keagamaan. Sementara beberapa miko (pendeta wanita) berbaju putih ,seperti yang sering saya lihat di komik-komik, berdiri menunggui kios-kios yang menjual jimat dan ramalan. Kuil-kuil ini rata-rata dilengkapi dengan lonceng-lonceng berukuran besar yang dihubungkan dengan seutas tali panjang, bila kita ingin membunyikan lonceng, gerakkan tali-tali tersebut. Ini merupakan kepercayaan masyarakat Jepang, di mana saat berdoa apabila ingin menarik perhatian para dewa, kita harus membuat suara keras seperti membunyikan lonceng atau bertepuk tangan. Saya dan baby G pun dengan malu-malu ikut-ikutan membunyikan lonceng yang ternyata suaranya cukup keras dan bergema ke mana-mana.

17265219_10155181201219623_8235260470742936666_n
Torii gate di depan fushimi inari shrine

17155856_10155181201234623_1447416181255581009_n
The Gate
17264714_10155181201459623_6412993512176697026_n
Patung Dewa Inari
IMG20170313093107
Miko penjaga
17308797_10155181201889623_1148916774054100045_n
Kuil dengan lonceng

Kami pun meneruskan perjalanan ke belakang kuil dan menemukan ratusan torii gate yang terkenal itu. Kami pun berjalan di bawah naungan torii yang saking panjangnya membentuk lorong, setelah saya amat-amati masing-masing torii ada nama penyumbangnya, entah perusahaan atau perorangan, sepertinya sumbangan torii ini sekaligus untuk persembahan doa. Torii ini sangatlah panjang dan akhirnya akan bersambung dengan puncak bukit. Karena lelah dan membawa anak kecil, kami pun memutuskan menyudahi petualangan kami di torii lapis kedua dan berbalik arah turun.

IMG20170313094800
Deretan Torii Gate
IMG20170313095610
Deretan Torii Gate
17309170_10155181202009623_6336841421561975005_n
Peta Fushimi Inari Shrine

Saat sampai di kuil bawah, kami melihat beberapa miko yang sudah bersiap-siap untuk suatu acara keagamaan di paviliun. Saking bersemangatnya, suami saya langsung refleks mengangkat layar hp untuk memotret acara tersebut dan langsung digetok dengan tongkat panjang oleh kakek-kakek penjaga, ternyata dilarang memotret atau memvideokan para miko. Para penjaga mempersilakan dua orang pria berjas rapi naik ke paviliun, sepertinya para pria ini adalah orang-orang yamg meminta pemberkatan. Seorang miko pun menari diiringi dengan lantunan nyanyian dan petikan alat musik dan tabuhan gendang dari miko lainnya. Miko yang menari tersebut memegang suatu tongkat panjang dengan lonceng-lonceng dan selendang, dan di akhir tarian mengarahkan lonceng tersebut kepada kedua pria tadi.

IMG20170313102431
Miko menari
IMG20170313095324
The Holy Water

Selesai tarian, kami pun melangkahkan kaki kembali ke stasiun Inari untuk kembali ke Kyoto station. Sambil menunggu kereta datang, kami mencoba membeli kopi kaleng dan soft drink dari vending machine, wah rasanya seneng banget bisa mencoba vending machine asli jepang yang selama ini cuma kami lihat dari komik atau dorama.

IMG20170313104148
Vending Machine

Sesampainya di kyoto station, saya dan baby g meutuskan untuk menunggu di depan stasiun saja, sementara suami sayalah yang kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang. Waktu luang tersebut kami isi dengan berfoto-foto dalam stasiun kyoto yang futuristik dan modern, berkebalikan dengan image kyoto yang kuno. Sayonara kyoto, mudah-mudahan suatu saat kami bisa kembali lagi ke sini.

J HOPPERS OSAKA

Dari stasiun kyoto, kami menaiki JR Special Rapid Service for Himeji dari platform 5, turun di Osaka Station dan dilanjutkan dengan menaiki JR Loop line (Inner Loop) arah Tennoji dari platform 1 dan turun di stasiun Fukushima, yang hanya satu stasiun dari Osaka. Kami bermaksud menitipkan barang bawaan dulu di J Hoppers Osaka, hostel yang telah kami booking, sebelum lanjut mengeksplorasi Osaka.

J Hoppers Osaka merupakan salah satu chain hostel yang banyak direkomendasikan oleh para Backpackers. Lokasinya sangat strategis, hanya 5 menit berjalan dari stasiun Fukushima dan sangat mudah ditemukan. Stasiun Fukushima sendiri merupakan stasiun kecil yang hanya berjarak satu stasiun saja dari stasiun osaka, jalurnya mencakup JR Loop line, dekat dengan Universal Studio Japan dan ada akses JR langsung ke Kansai Airport. Selain itu untuk ukuran Jepang harganya cukup terjangkau, sayangnya anak usia berapa pun harus sudah dihitung okupansi tempat tidurnya, sehingga kami mem-booking kamar private untuk tiga orang.

IMG20170313123109
Kamar di J Hoppers
IMG20170314080157
Area Fukushima

Kami menginjakkan kaki tepat pukul 12.00 siang di J Hoppers dan langsung disambut dengan senyum ramah oleh resepsionisnya yang mampu berbahasa inggris dengan baik walau dengan logat jepang yang kental. Beruntung kamar kami sudah siap sehingga kami bisa early check-in. Kamar kami terletak di lantai tiga dengan ukuran yang lumayan besar, isinya satu tempat tidur single dan satu bunk bed, serta satu meja dan kursi. Toilet dan kamar mandi letaknya di luar dan dipakai bersama-sama (sharing bathroom). Hostel di Jepang memang luar biasa rapi dan bersih, bahkan di toiletnya tidak ada ceceran air barang setetes pun. Seprai, sarung bantal dan bed cover harus dipasang sendiri (ada kertas panduannya di meja samping tempat tidur) dan saat sebelum check out harus dilepas sendiri juga dan diletakkan di keranjang laundry yang sudah disediakan di lorong.

Karena lumayan capek, kami memutuskan beristirahat dulu sejenak dan jam 3 sore baru akan berangkat keluar lagi. Suami saya membeli bento box dari 711 di samping hostel untuk makan siang, rasanya cukup enak dan porsinya besar. Saya yang masih penasaran dengan hal ihwal rice cooker, mencoba menanak nasi lagi dengan harapan siapa tau di osaka sini bisa.

OSAKA CASTLE

Untuk menuju Osaka Castle, kami cukup menaiki JR Loop Line (Outer Loop) dari Fukushima station dan turun di Osakanojoken station. Dari station ternyata kami masih harus berjalan cukup jauh hingga sampai di bangunan utama Osaka Castle, di sepanjang jalan banyak pohon-pohon dengan kuncup sakura yang nanti saat musim semi pasti akan semarak mekar, saya bisa membayangkan keindahan jalan ini nantinya. Jalanan menuju Osaka Castle seluruhnya terbuat dari bebatuan yang sudah dibentuk dengan indah. Tidak berapa lama kami sudah bisa melihat Osaka Castle yang tinggi menjulang dengan parit di sekelilingnya.

17264302_10155181217969623_189091658779011221_n
Osaka Castle
17264469_10155181218119623_6630946267340859239_n
Taman di sekitar Osaka Castle

Osaka Castle dibangun oleh Toyotomi Hideyoshi sang taiko yang dikenal karena kehebatannya dalam menyatukan seluruh Jepang yang pada masa itu masih tercerai berai dan beperang antar daerah. Toyotomi Hideyoshi mengawali karirnya sebagai pembawa sendal Jenderal Oda Nobunaga (yang juga dikenal karena reputasinya yang berani dan brutal), namun walau tidak memiliki darah bangsawan setetes pun, dengan kecerdasannya yang terefleksikan dalam berbagai strateginya, Hideyoshi perlahan menaiki karir hingga ke puncak di mana dia menjadi seorang Taiko, setara dengan Shogun yang memerintah seluruh Jepang. Kastil ini dibangun di puncak bukit dan sudah diperkuat dengan pondasi bebatuan yang kokoh dan dikelilingi oleh parit dalam, sepertinya kastil ini memang sudah dipersiapakan untuk berperang.

Osaka Castle ini sekarang difungsikan sebagai museum yang isinya mengenai perjalanan kisah hidup Toyotomi Hideyoshi mulai muda hingga ajalnya. Tiket bisa dibeli di vending machine dengan harga 600 jpy (anak-anak di bawah 6 tahun belum dikenakan biaya). Salut sekali dengan Jepang, begitu tahu kami membawa stroller, kami diberikan jalur khusus untuk lewat dan pada saat antrian lift pun didahulukan.

Lift langsung membawa kami ke puncak kastil di mana kita bisa melihat pemandangan di sekitar Osaka Castle dari ketinggian. Ujung-ujung atap dari kastil ini dihias dengan sebuah patung berwujud ikan berkepala singa yang disepuh emas, mahluk mistikal ini dipercaya melindungi kastil dari berbagi bahaya terutama bahaya kebakaran. Ruang-ruang di bawahnya berisi berbagai kehidupan Hideyoshi, ada diorama bergerak yang dilengkapi video hologram, ada diorama perang-perang dan formasi, lukisan-lukisan para jenderal pendukung hideyoshi, senjata, kitab-kitab, baju zirah, bahkan saya menemukan suatu senjata api yang dalam keterangannya dibeli dari Pemerintah Belanda yang berlokasi di Pulau Kalimantan. Museum ini sangat menarik sekali dan membuat saya betah berlama-lama mempelajari keterangan demi keterangan yang tertulis di depan rak kaca, waktu 2 jam yang kami habiskan rasanya belum cukup, tapi mengingat masih ada tempat lain yang harus kami kunjungi maka kami harus menyudahi kunjungan ini.

17309529_10155181213069623_6426509518987852812_n
Osaka Castle dari puncak
17155868_10155181216834623_2219574458077714894_n
Di dalam osaka castle

Dari kastil kami berbelok sedikit ke Plum Garden, suatu taman yang penuh bunga ume-persik/plum, bunga plum ini warnanya putih agak pink, sekilas mirip-mirip sakura walau beda bentuk kelopaknya. Yang menyenangkan adalah bunga plum ini wanginya luar biasa, harum sekali dan membuat kami betah berlama-lama mengitari taman tersebut.

17265127_10155181212889623_2098455157825738479_n
Plum Garden

NAMBA

Tujuan kami selanjutnya adalah ke distrik Namba yang terkenal sebagai tempat belanja. Dari Osaka Castle kami harus menaiki Subway Nagahori Tsurumiryokuchi line arah ke taisho, subway ini letaknya di Osaka Business Park yang letaknya sekitar 250 m dari Osaka Castle. Dari Osaka Castle berjalanlah lurus hingga menemukan bundaran dengan air mancur, lalu sebrangilah jembatan dan jalan terus. Di tengah jalan kami sempat bertanya kepada penduduk lokal karena bingung arah, ternyata letaknya persis di samping McD yang ada di kawasan Osaka Business Park.

17264397_10155181217829623_6011495673500958237_n
Di dalam subway station

Kami turun di staisun Shinsaibashi exit 7, sempet bingung juga mana Shinsaibashi suji-nya, untung saya rajin googling image, sehingga mudah mengenali kawasan tersebut. Shinsaibashi suji itu adalah suatu kawasan pertokoan dan belanja di mana berderet toko-toko brand ternama ataupun toko-toko kecil yang menjual aneka barang dengan harga yang terjangkau. Shinsaibashi suji ini mudah dikenali karena lorongnya dinaungi dengan atap plastik lengkung hingga ke ujung. Kami hanya melihat-lihat saja dikarenakan baby g masih tertidur di stroller-nya, kebanyakan yang dijual adalah barang-barang fashion, kosmetik, tas dan sepatu.

17265279_10155181217999623_1880078124827368571_n
Shinsaibashi suji

Sampai di ujung shinsaibashi di mana kita sudah bisa melihat jembatan Ebisubashi, kami bertemu dengan toko kue Pablo, yang di Jakarta luar biasa nge-hits sampai ngantri pake banget. Pablo di sini tidak terlalu berjubel, lantai satu digunakan untuk take away, sementara lantai dua sebagai dine-in. Kami pun sangat bersemangat saat disodorkan menu…sampai seorang pelayan mendatangi kami dan bertanya “do you eat pork?” errr…kenapa ini? sang pelayan pun menjelaskan bahwa kue-kue di Pablo ini mayoritas mengandung esens babi, wakkss, jangan-jangan yang di jakarta nggak halal juga. Setelah meneliti menu disimpulkan bahwa yang bisa kami makan hanya toast (roti bakar) dan kue coklat. Tau gitu tadi mending makan di Yoshinoya atau restoran lainnya deh.

Dari Pablo kami menuju ke Don Quijote, suatu chain toko yang sudah terkenal dengan penjualan aneka souvenir, penganan dan oleh-olehnya yang murah dan lengkap. Don Quijote Namba ini mudah dikenali karena ada roller coaster “nyangsang” di atap gedungnya. Saya pun langsung kalap memilih pocky dan kitkat yang tersedia dalam bermacam rasa, jangan lupakan juga kue-kue manis seperti mochi, eclair, soes dan lainnya yang dibungkus dalam kotak cantik yang cocok sekali sebagai oleh-oleh. Di toko ini juga dijual aneka souvenir dan barang-barang kecil yang lucu-lucu. Total saya belanja sampai 12.650 jpy padahal anggaran sebenarnya cuma 10.000 jpy, haha.

17342710_10155181218634623_4926704974370097374_n
Don Quijote Namba

Puas belanja di don quijote, kami bergerak ke jembatan ebisubashi sekedar buat berfoto dengan Running Glico Man dan Kani Doraku, yang merupakan landmark terkenal dari kawasan Namba. Kami sempat berhenti sebentar di kedai takoyaki karena penasaran kalau di tempat aslinya seperti apa. Seporsi takoyaki isi 8 pcs dibanderol 650 jpy, ukuran bulatannya besar-besar dan gurita di dalamnya juga besar, cuma adonan takoyakinya lebih lembek dibanding yang dijual di jakarta.

17342700_10155181219069623_9103042676190848542_n
Takoyaki

Dari Namba kami menaiki subway Midosuji line dan turun di Umeda station yang bersambung dengan Osaka Station. Setelah itu kami menaiki JR Loop line untuk kembali ke Fukushima. Setiba di Fukushima, kami mampir dulu di 711 untuk membeli makan malam dan baru masuk ke hotel. Saat saya mengecek rice cookernya ternyata tetap nggak bisa dipake juga, ya sudahlah. Akhirnya beberapa makanan beku dan beras yang dibawa saya letakkan di dalam box “free food” di dapur hostel, box free food ini menunjukkan bahwa siapapun boleh mengambil makanan ini.

DAY 4

Yay…hari ini jadwalnya seharian di Universal Studio Japan (USJ). Well, kalau cuma pergi berdua sama suami tentu kami akan skip theme park, tapi berhubung membawa baby g, kami merasa perlu ada selingan di mana dia bisa bermain biar nggak mabok kuil dan museum. Awalnya saya sempet galau saat akan memasukkan USJ dalam daftar itinerary, pertama harganya mahal banget, meski booking lewat klook.com (yang harga diskon) tetap aja harganya mencapai 900 ribu/orang, sementara anak 500 ribu/orang. Kedua saya bukan penggemar theme park, apalagi saya sudah pernah mengunjungi USS (Universal Studio Singapore) yang mana setelah saya googling, atraksinya 50% serupa, dan lebih cocok untuk orang dewasa. Tapi…tapi…ada satu keunggulan yang dipunya USJ yaitu area The Wizarding World of harry Potter yang merupakan tempat wajib bagi fans Harry potter seperti kami. Semua orang yang saya tanyai bilang bahwa mereka pun ke USJ cuma demi harry Potter semata. Sempat galau terakhir, apakah akan tetap ke USJ atau ke Everland Korea saja (yang mana harga tiketnya separo USJ), setelah konsultasi lagi dengan teman yang pernah berkunjung kedua theme park tersebut, akhirnya saya pun mengklik “book” USJ di klook.com. Print tanda booking harus dibawa untuk di-scan di gate nantinya, pastikan kertas tersebut jangan sampai lecek, kotor atau kena air agar mudah di-scan.

Kami sudah turun ke dapur untuk sarapan pukul 07.00 kurang, eh di dapur malah saya terlibat diskusi dengan seorang kakek malaysia hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 lewat. Saya pun bergegas mohon diri dan berlari singkat ke 711 untuk membeli roti dan onigiri yang rencananya akan kami selundupkan dalam saku jaket dikarenakan dilarang membawa makanan ke dalam USJ.

Dari stasiun Fukushima kami menaiki JR Loop Line (outer line), turun di Nishikujo, berganti naik JR Yumesaki Line dan turun di Universal. Di stasiun Universal, orang-orang sudah berjubel, padahal ini kan bukan hari libur (selasa). Antrian di kios ticket dan pintu masuk sudah berjubel sekali, di luar perkiraan saya, jauh melebihi antrian di USS, benar-benar penuh padahal baru jam 09.00 di mana USJ baru saja buka. Untunglah kami sudah booking tiket sebelumnya sehingga kami langsung menuju ke gate yang mana juga sudah penuh orang.

IMG20170314082919
Universal City Walk
58
Antrian di pintu masuk

Begitu masuk, kami langsung belari-lari menuju area The Wizarding World of harry Potter . Kenapa? sebab kalau diperkirakan The Wizarding World of harry Potter sudah penuh dan padat, maka akan diberlakukan sistem tiket antrean di mana kita harus mengambil tiket dulu yang menyatakan jam berapa kita baru bisa masuk. Nah kalau masih pagi begini belum terlalu ramai jadi belum ada sistem tiket antrean.

Memasuki area Harry Potter kita akan disambut jalan setapak berbatu yang dikelilingi oleh hutan pinus, persis seperti suasana Hutan di sekeliling Hogwarts. Tidak jauh kita akan bertemu dengan “Mobil Terbang” yang diceritakan dalam jilid kedua, di mana Ron menyetir mobil ini ke Hogwarts dikarenakan Ron & harry tidak bisa menembus palang peron 9 3/4, mobil ini lalu menabrak dedalu perkasa.

Setelah itu kita akan bertemu gerbang bertuliskan “Hogsmeade” suatu desa wisata sihir dalam kisah Harry Potter. Penggemar Harry Potter pasti akan kegirangan demi menemukan berbagai deretan toko seperti Ollivander, Honey & Dukes, Zonko, Owl Post Office dan lainnya yang menjual aneka barang-barang dalam kisah Harry Potter. Deratan toko-toko ini sengaja dibuat menyerupai suasana musim dingin di mana atap-atapnya didekorasi dengan salju buatan.

Di sebelah gerbang hogsmeade, berdiri kokoh Hogwarts Express, sang kereta sihir. Kemudian kami langsung mengantri di kios Butterbeer, karena penasaran minuman kesukaan para tokoh harry potter ini rasanya seperti apa. Kami memesan hot butterbeer dalam kemasan mug sekaligus souvenir seharga 1250 jpy. Rasanya?yaiks…ternyata terlalu manis, butterbeer ini non alkohol ya, bau butter sangat tajam menguar dan kelewat manis.

72
The Butterbeer

Di samping kios Butterbeer, berdiri bangunan “Hog’s Head” salah satu tempat minum yang muncul dalam kisah Harry Potter. Hog’s Head ini merupakan restoran yang menyajikan aneka makanan wetern. Kami pun mengikuti arus antrian untuk suatu atraksi di Ollivander, seorang pembuat tongkat. Di dalam toko, sang Ollivander akan mengadakan show sekaligus demo sihir, di mana dia akan menunjuk salah satu pengunjung untuk memilih tongkatnya, seolah-olah Ollivander bisa sihir padahal semuanya sudah digerakkan dengan mesin otomatis. Pria yang memerankan Ollivander adalah bule namun fasih berbahasa Jepang. Setelah show usai, kami berkeliling toko Ollivander di mana dijual aneka replika tongkat sihir para tokoh-tokoh Harry Potter.

71
Hog’s head

Keluar dari Ollivander, kami segera menuju suatu tempat di mana kami bisa berfoto dengan latar Hogwarts Castle dan danau di sekelilingya. Ada dua wahana di area ini, Flying Hipoggrif & suatu indoor rollercoaster yang letaknya di dalam Hogwarts Castle. Kedua wahana ini tentu tidak cocok untuk baby g, sebenarnya bisa juga masuk ke Hogwarts castle hanya untuk melihat-lihat (tanpa naik roller coaster) tapi kami urung karena melihat panjangnya antrian.

77
Hogwarts castle

Setelah itu kami keluar masuk toko-toko yang ada untuk melihat-lihat, rasanya seru saja melihat barang yang dijual. Ada coklat kodok, bertie botts kacang segala rasa, jus labu, jubah-jubah, aneka peralatan sihir dan lainnya.

Puas mengeksplorasi area Harry Potter kami pun melanjutkan ke area lainnya, saat kami keluar tenyata antrian masuk sudah dibuat berjalur dan berliku-liku seperti antrian di BCA, tidak bebas seperti saat kami masuk tadi.

Dari hasil googling dan mempelajari situs USJ, saya mendapat kesimpulan kalau wahana di USJ ini kebanyakan untuk orang dewasa. Hanya satu area di mana kita bisa dengan leluasa membawa anak kecil yaitu di Universal Wonderland yang isinya wahana-wahana untuk anak.

Universal Wonderland didekorasi dengan tokoh-tokoh Snoopy, Hello Kitty dan Sesame Street, suasana ceria khas anak-anak sudah menyambut kami sejak dari pintu masuk. Di sini baby g senang sekali bisa bermain aneka mainan seperti komidi putar, cangkir putar, perosotan, balon terbang, hingga berfoto dengan para karakter yang wara-wiri di seputar area. Ada juga bangunan bertajuk “Elmo Imagination’s Playland” yang merupakan wahana bermain indoor di mana anak-anak bisa main perahu, mandi bola , menggambar bahkan menari bersama para karakter.

Selepas itu, kami bermaksud mencari makan siang, tapi rata-rata restoran penuhnya bukan main. Kami pun mengelilingi taman menelusuri area Amityville, Jurrasic Park, San Fransisco, New York dan Hollywood yang rata-rata berisi wahana untuk orang dewasa (didominasi oleh roller coaster). Saya sempat menawarkan ke suami apakah dia mau main sementara saya dan baby g akan menunggu, tapi suami menolak karena melihat antriannya yang sangat panjang, selain itu menurut dia sih permainannya mirip-mirip di USS juga. Banyak juga food truck yang menjajakan makanan, tapi… kebanyakan mengandung babi sehingga kami pun urung.

Akhirnya…setelah merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dan juga merasa bosan (suasananya mirip dengan USS), kami memutuskan untuk menyudahi saja kunjungan kami ke USJ ini, hahaha, jam 1 siang lho udah keluar. Kami pun memilih mengantri di McD untuk makan siang dan makan di depan bola Universal yang terletak di pelataran USJ.

Kami pun kembali ke hotel dan memutuskan untuk istirahat saja, sorenya kami makan malam di Yoshinoya yang terletak persis di samping stasiun Fukushima. Yoshinoya di sini rasanya enak, mirip di Indonesia, tidak seperti Yoshinoya yang saya makan di beijing tahu lalu, seporsi large bowl dibanderol 570 jpy, ocha panas dingin disediakan gratis dan bebas refill.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

2 thoughts on “Japan – Korea Trip (Day 3 & 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s