Posted in Bandung, Indonesia, West Java

Long weekend in Bandung

Sosial media memang salah satu media publikasi yang paling ampuh dalam mempromosikan suatu tempat wisata. Sebagai korban kekinian, saya pun memasukkan maribaya lodge dalam salah satu daftar wajib kunjung akibat seringnya melihat foto-foto kece wara wiri di timeline facebook dan instagram saya. Saat melihat deretan tanggal merah , saya pun memutuskan berlibur akhir pekan bersama keluarga di bandung dengan agenda mengunjungi maribaya lodge, taman bunga begonia dan dago dream park yang kesemuanya letaknya berdekatan.

Karena long weekend, otomatis harga hotel pun mendadak mahal, alih-alih hari sabtu (menginap malam minggu) saya pun memilih berangkat minggu (menginap malam senin) karena ketersediaan hotel lebih banyak dan harganya juga lebih murah.

THE MARIBAYA LODGE

Minggu pagi usai menunaikan shalat subuh, jam 5 pagi kami semua sudah duduk manis di mobil dan siap berangkat menuju Bandung. Perjalanan relatif lancar walau volume kendaraan cukup ramai bahkan mulai dari bekasi. Kami melewati maribaya resort dan tidak jauh dari itu harus gantian karena ada jalan yang longsor. Jalan menuju maribaya lodge cukup terjal dengan badan jalan yang sempit dan kondisi aspal yang rusak dan berlubang, sekitar 1 km sebelum maribaya lodge kemacetan mulai terjadi. Awalnya saya nggak menyangka kalau kemacetan ini disebabkan maribaya lodge, toh kami sampai bahkan sebelum waktu buka nya jam 09.00, tapi ternyata … kantong-kantong parkir yang letaknya masih sekitar 700-500 m dari lokasi sudah penuh, terlihat kerumunan orang berjalan kaki yang memadati bahu jalan. Dari kantong parkir ini disediakan free shuttle service berupa angkot lokal untuk mengangkut pengunjung dari kantong-kantong parkir ke maribaya lodge.

Kami pun tetap bertahan merangkak naik hingga dihentikan oleh petugas persis di depan gang masuk menuju maribaya lodge, beruntung tiba-tiba ada satu mobil yang keluar persis di kantong parkir di depan gang  tersebut.

Dari kantong parkir tersebut kami masih harus berjalan lagi sekitar 200 m-an sampai pintu masuk, awalnya oleh beberapa tukang ojek yang mangkal dibilang kalau lokasinya jauh, jadi anak-anak kami carterkan ojek sementara saya dan suami tetep jalan kaki. Di tengah jalan kami numpang mobil kijang bak milik warga lokal yang tersendat-sendat karena sudah macet dengan free shuttle (angkot). Bahkan parkir yang numpang di halaman warga saja sudah penuh semua apalagi area parkir resmi yang berada pas di depan pintu masuknya.

Gila-gilaan banget kan ? padahal seharusnya ini kan baru buka. Di kios karcis dan gate , antrian sudah sangat mengular. Tiketnya seharga 25 K dan dapat ditukarkan dengan free drink. Tiketnya berbentuk karcis tipis yang akan di-scan oleh petugas di gate-nya.

Sampai sini saya sudah mulai ilfeel apalagi menurut saya ternyata pemandangan yang ditawarkan maribaya lodge tergolong biasa. Kalau pernah menyambangi tebing keraton pasti setuju kalau pemandangan di sini masih kalah indah. Pemandangan yang ditawarkan sama yaitu berupa hutan-hutan pinus yang hijau menghampar, cuma bedanya kalau tebing keraton letaknya di puncak, maribaya lodge ini letaknya di lembah. Yang bikin hits dan membuat orang berlomba-lomba ke sini adalah karena dibangunnya tiga atraksi yang sangat instagrammable , yaitu platform (seperti di kalibiru – yogya), sepeda di atas tali dan ayunan. Selain itu ada juga beberapa cafe yang dari instagram kelihatan ciamik banget untuk dipake nongkrong-nongkrong.

18057815_10155318438384623_7755866359325632200_n
Atraksi platform
18118504_10155318481494623_1146912129195622737_n
Atraksi sepeda di atas tali

Semua yang kesini saat liburan kemarin pasti setuju kalau saya tidak melebih-lebihkan bahwa tempat ini udah kayak pasar tanah abang menjelang lebaran. Sampe jalan saja nggak bisa dan mandeg seperti macet jalan raya. Antrian di ketiga atraksi pun sudah nggak masuk akal, jam 09.00 sudah mencapai nomor ke- 100 an, lah saya nggak seniat itu nungguin giliran foto.

Setelah mengambil beberapa foto dengan latar belakang hutan pinus, kami pun memutar arah untuk keluar. Sempet nego dengan petugas keamanan yang awalnya tidak mengizinkan kami lewat karena pintu masuk tidak boleh digunakan untuk keluar (pintu keluar terletak di sisi lainnya yang mengharuskan kami turun dulu ke lembah baru mendaki lagi ), tapi setelah “dikeroyok” oleh 3 keluarga lain selain kami yang juga membawa anak kecil, akhirnya sang petugas pun memberi izin walau mengingatkan bahwa kami nggak dapet “free drink” (free drink ditukarkan di kios bawah). Soalnya kepadatan sudah nggak masuk akal, kasihan anak-anak kecil.

Keluar dari sana kami nongkrong sebentar di salah satu warung bakso untuk mengisi perut. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan aki-aki pedagang , ternyata tempat ini bahkan udah rame dengan antrian sejak habis shubuh . What??? walau korban kekinian tapi saya terus terang nggak seniat itu rela ngantri dari shubuh cuma demi motivasi mulia “untuk update di instagram”.

Tempat baru seperti ini memang ada plus minusnya bagi dampak sosial. Plusnya ya tentu saja warga sekitar jadi kecipratan rezeki, mulai dari yang membuka warung makan, buka toilet umum, jualan souvenir sampai menyewakan lahan parkir. Tapi ya minusnya imbas kemacetan yang tiada tara  apalagi kondisi infrastruktur sangat tidak memadai. Terbukti saat kami pulang, kemacetan sudah mengular hingga ekornya di maribaya resort yang jaraknya sekitar 4 km jauhnya, dan cukup mengganggu kami yang berada di jalur sebaliknya karena motor yang menyelip-nyelip.

TAMAN BUNGA BEGONIA

Imbas dari kemacetan di jalur sebaliknya, jarak ke taman begonia yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1/2 jam menjadi molor 1 jam. Karena long weekend wajarlah kalau taman begonia ini pun ramai, walau nggak sampai jadi lautan manusia seperti di the lodge. Tiket masuknya seharga 10 IDR dan berbentuk gelang yang harus dikenakan di pergelangan tangan.

Kalau tadi mata kami dimanjakan dengan hijaunya hamparan pinus, di sini warna merah dari begonia yang mendominasi. Walau masih ada vegetasi bunga lainnya, tapi sesuai namanya begonia lah yang paling banyak. Selain begonia, juga ada mawar, selvia, daffodil dan aneka warna bunga lainnya yang bikin saya reflek pingin nyanyi “lihat kebunku penuh dengan bunga”.

17991164_10155318447734623_3778704622312612687_n18118449_10155318439519623_6957914145217192713_n

Taman begonia ini sebenarnya kecil, tidak terlalu luas. Untuk makin mempercantik taman, dipasanglah beberapa patung, kursi-kursi lucu berbentuk kereta cinderella, sepeda dan mobil, hingga gerbang sakura (palsu). Di area belakang juga terdapat taman kelici dan kebun sayur yang bisa dipetik sendiri dan dibeli. Sayurannya terutama selada air segar-segar dan kayaknya renyah.

18118880_10155318485354623_5842237395576851874_n

18118544_10155318450059623_607394924239604561_n
Taman kelinci

Karena sudah jam makan siang, kami memutuskan makan siang di restoran yang ada di taman begonia ini. Harganya wajar, seporsi rata-rata 30 K, cuma kalau menurut saya kurang enak rasanya, selain itu pelayannya juga kurang tanggap dan sering salah mengantar pesanan, bahkan pesanan ayam bakar saya butuh waktu 30 menit. Restoran mendadak ramai karena hujan turun, memang sudah sedari kami datang tadi sudah mendung, untunglah kami sudah duduk manis. Di taman begonia ini juga disediakan musholla kecil.

Begitu hujan mulai reda kami pun segera berlari menuju mobil di area parkiran. Saat melewati pintu keluar kami melewati kios penjualan bunga yang bikin saya kepingin beli beberapa pot begonia dan langsung ditolak suami karena katanya kalau di jakarta bakal langsung mati.

DAGO DREAM PARK

Dari taman bunga begonia, kami langsung menuju ke Dago Dream Park yang jaraknya hanya sekitar 15 menit saja. Dago dream park ini sengaja kami masukkan dalam daftar kunjung karena ada atraksi permainan untuk anak-anak. Tiket masuknya seharga 20 K dan dapat ditukarkan dengan stiker mobil, magnet kulkas, bag tag atau gantungan kunci. Memasuki areal parkiran, suasana ala bali sudah menyambut kami, terlihat dari kain poleng (kain kotak-kotak hitam putih) yang dililitkan di pohon dan restoran yang menyandang nama barong lengkap dengan ornamen patungnya.

Arealnya sangat luas dan berbukit-bukit sementara permainannya tersebar di berbagai tempat. Areal parkirnya sendiri menurut saya sangat indah dan asri dengan deretan pohon pinus yang menaungi tinggi di atas kami. Sempat bingung juga apa yang harus dilakukan karena di areal parkir tidak ada petunjuk ataupun peta yang memberikan informasi. Kami akhirnya naik wara-wiri (semacam bus untuk mengangkut penumpang berkeliling areal dago dream park) dengan tiket seharga 10 IDR. Wara-wiri ini bentuknya lucu banget seperti bus-bus di lagu anak-anak “the wheel on the bus” dan dicat dengan warna-warna cerah yang menarik.

18119081_10155318458109623_6998538446824826013_n
Area parkir dago dream park
17990738_10155318458289623_1154949457680324987_n
Wara-wiri bus

Dari areal parkir yang letaknya di atas, bus wara-wiri menuruni lereng ke arah lembah,jalanannya cukup curam karena itulah sengaja tidak diaspal melainkan hanya diberi batu-batu kecil agar tidak licin. Saat menuruni lereng kami menjumpai “hook a fish” suatu kolam pemancingan dan “lost in paradise” suatu lereng dengan tangga naik dan turun yang saya kurang paham permainannya seperti apa. Ada juga perahu mini dan kuda tunggang untuk anak. Sementara untuk menguji adrenalin ada flying fox dan “pirate ship” semacam kora-kora di Dufan.

Dengan udaranya yang dingin sejuk dan suasana ala bali, saya jadi merasa seperti di bedugul. Karena mendung sudah semakin menggelayut, maka kami memutuskan untuk segera mencoba atraksi yang dipilih anak-anak yaitu “row a boat” perahu dayung yang harus dikayuh sendiri, oleh karena itu anak di bawah usia 12 tahun harus didampingi orang dewasa. Tiketnya seharga 30 IDR/orang dan sebelum naik perahu kita diharuskan mengenakan life jacket. Perahu boleh digunakan sepuasnya maksimal 30 menit. Suasana kolam cukup tenang dan kami mendayung hingga dua putaran. Tiket atraksi bisa ditukarkan dengan hadiah, 2 tiket atraksi ini bisa ditukarkan dengan AICE segar rasa nanas yang langsung disambut anak-anak dengan riang gembira. Saya pun mencoba berkeliling sebentar untuk melihat-lihat restoran Dayang Sumbi dengan bangunannya yang berupa rumah joglo adat sunda. Saya pun menemukan patung penari bali dan ganesha di pelataran.

18118604_10155318485899623_4942881880922653995_n
Atraksi “Row a Boat”

Yang menarik juga di sini adalah adanya dua patung raksasa di areal persawahan dengan wujud “Sangkuriang” dan “Nyi Dayang Sumbi” yang merupakan tokoh legenda terkenal Tangkuban Parahu dari tanah priangan. Sempet juga pingin mencoba naik ATV tapi terpaksa dibatalkan karena sudah semakin mendung.

18057834_10155318493654623_8060494341384487172_n
Patung Sangkuriang & Dayang Sumbi

Dari halte di depan patung-patung tersebut kami kembali menaiki wara-wiri hingga ke areal parkir. Saat kembali inilah saya melihat “Folk Village” yang berwujud seperti rumah-rumah di kampung naga tasikmalaya, sayang saya kurang cepat mengambil fotonya. Begitu tiba di areal parkir saya baru sadar bahwa beberapa atraksi seperti Pine Forest (indoor playground), uncle’s barn (peternakan), Choo-choo Train dan Cycling berasa persis di seberang jalan areal parkir.

Overall, dari tiga tempat yang kami kunjungi hari ini, Dago dream park adalah yang terbagus untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami. Arealnya luas, sejuk dan atraksinya pun menyenangkan.

MARBELLA SUITE HOTEL BANDUNG

Karena sudah seharian bermain, sekitar pukul 3 sore lewat kami sudah meninggalkan dago dream park untuk beristirahat di hotel. Tanpa dinyana, jalanan ke arah ir.juanda (dago bawah) yang saat kami datang tadi lengang ternyata macet parah. Sesuai saran juru parkir, kami mengambil jalan alternatif yang sedikit memutar, naik lagi hingga hampir ke lembang dan melewati kastuba resort (yang pernah kami sambangi beberapa tahun silam).

Marbella suites terletak di dalam kompleks resort dago pakar, suatu perumahan elit untuk warga bandung. Dari kejauhan sudah kelihatan karena bangunannya tinggi dan ada petunjuk arah yang jelas. Area hotel ini juga cukup luas dan dilengkapi dengan fasilitas swimming pool. children playground dan fitness center.

Setelah proses check in singkat yang diselingi dengan icip-icip welcome drink berupa segelas jus mangga, kami pun diantar oleh porter menuju kamar kami di lantai 11. Kamar yang booking merupakan type executive, seperti apartemen dengan dua kamar. Kamar yang lebih besar dilengkapi dengan TV dan kamar mandi dalam (dengan fasilitas bath tub), sementara kamar yang lebih kecil kamar mandinya terletak di luar. Kamar executive ini memiliki meja makan untuk 4 orang, mini kitchen set, ruang duduk dan balkon (yang sayangnya dikunci). Dari jendela balkon kita bisa melihat pemandangan dago bawah yang ternyata sudah padat penduduk.

18058167_10155318460744623_3396141994418708737_n18118683_10155318460594623_8421665016523653068_n

WARUNG INUL

Selepas mandi dan istirahat, gantian perut yang berteriak, maka segeralah kami menuju warung inul dengan berjalan kaki karena letak warung ini persis banget di sebelah marbella. Jangan terkecoh dengan penampilan warungnya yang sederhana seperti warung makan pinggir jalan biasa. Berdasarkan hasil googling, warung ini banyak direkomendasikan oleh warga bandung dikarenakan rasanya yang sangat enak.

Ternyata, benarlah hasil rekomendasi tersebut, walau saat kami datang di sore menjelang malam begini , menu yang ditawarkan sudah tidak sekomplit saat pagi, tapi beneran enak banget. Gepuk, pepes ikan mas, nila goreng, pepes jamur hingga sambal yang disediakan benar-benar menggoyang lidah. Kalau kata suami dan mertua saya yang orang sunda mah masakannya bener-bener bercita rasa sunda asli. Sayang saat kami datang nasi cikur yang merupakan “signature dish” nya sudah habis.

CONGO CAFE

Setelah anak-anak terlelap dan saya sudah cukup istirahat, saya pun mengajak suami untuk nongkrong-nongkrong sambil ngopi cantik di Congo Cafe yang terletak tidak jauh dari hotel.

Kawasan Dago memang gudangnya cafe-nya yang keren-keren, Congo ini salah satunya., makanya saya suka banget banget nginep daerah Dago, jadi kalau anak-anak udah tidur, emak bapaknya ini bisa jalan-jalan berdua.

Congo menempati bangunan megah berlantai tiga di lereng bukit, terpampang besar tulisan “Congo” di pintu masuknya. Pencahayaan di Congo dibuat temaram bahkan cenderung agak gelap.Selain cafe, Congo juga merupakan gallery kerajinan kayu, tidak mengherankan kalau interiornya cukup unik dengan aneka ukiran kayu dan furniture-nya yang membuat kami takjub karena seluruhnya terbuat dari kayu jati.

Malam itu congo full customer, sehingga satu-satunya tempat duduk yang tersisa letaknya jauh dari Gallery. Padahal area menuju Gallerinya itu yang lucu karena ada hiasan ornamen-ornamen lampu yang semarak.

18058187_10155318494479623_645520855986663030_n

18157279_10155318494709623_7507868699408459946_n

Congo menawarkan menu-menu western dan juga indonesia dengan harga yang tidak terlalu mahal, side dish mulai 40 K, sementara main dish mulai 59K. Menu yang paling terkenal dari Congo dan banyak yang direkomendasikan adalah Ebony steak, cuma karena tadi baru saja makan maka kali ini kami hanya memesan sepiring carbonara , tahu pletok (karena penasaran apa ini), chococino dan mint lemonade. Ternyata tahu pletok itu tahu yang digoreng dengan adonan aci tebal dan disajikan dengan cocolan saus pedas manis. Carbonara-nya sangat creamy dan irisan dagingnya banyak, chococino nya sedikit pahit sementara mint lemonade-nya sangat segar.

17992135_10155318492959623_4842079091378654604_n

CHINGU & CHAGIYA CAFE

Setelah terlelap semalaman, begitu pagi yang ditagih anak-anak adalah berenang. Puas sarapan enak dan lengkap di restoran hotel, kami pun menunggui anak-anak berenang. Ternyata kolam renangnya besar, di kanan dan kiri bangunan masing-masing ada kolam renang, dan sebagai penghubungnya ada kolam yang cukup panjang . Jadi nyesel saya nggak bawa baju renang deh, habis kebanyakan kolam di hotel ngak enak buat berenang beneran. Di sekeliling kolam ada kolam pasir yang jadi tempat anak-anak mainan istana pasir.

18157656_10155318461474623_6061995196906451023_n
Marbella Suites

Beres berenang dan sudah rapi mandi, sekitar jam 10.30-an kami check out dari hotel dan menuju ke jakarta. Sebelum kembali ke jakarta, kami singgah di Chingu Cafe yang terletak tidak jauh dari Jalan Layang Pasupati.

Sesuai namanya “chingu” yang diambil dari bahasa korea yang berarti “friend”, cafe ini mengusung tema korean fan cafe. Berlokasi di suatu rumah tua peninggalan zaman kolonial yang sudah dirombak dengan kreatif, tidak mengherankan kalau restoran ini tidaklah terlalu luas. Saat kami datang jam 11.00 pun restoran sudah ramai dan bisa ditebak kebanyakan pengunjungnya adalah ABG atau anak muda kuliahan yang pastinya penggemar k pop. Cafe ini sebenarnya merupakan gabungan dari Chingu dan Chagiya, Chingu menawarkan makanan korea standar, sementara Chagiya menawarkan bbq.

18119370_10155318462189623_3807065032693884391_n

Dari pintu masuk, kami disambut pramuniaga berkemeja hitam dengan kerah pink. Suasana interior ala korea dengan pilihan warna cerah, poster-poster bintang film dan penyanyi korea, lukisan kartun bintang-bintang korea sampai lantunan lagu korea sangat kental mewarnai cafe ini. Saat kami datang, Chagiya sudah penuh jadi kami mendapat tempat di Chingu cafe.

Karena pangsa pasarnya anak muda maka makanan yang ditawarkan relatif murah-murah, rata-rata mulai 29 K, kami pun memesan makanan korea yang lagi populer, chicken wing salut mozzarella, bef bulgogi, spicy chicken dan semangkok dumpling ala korea (kalo nggak salah namanya sundukbu atau apa).

Sambil menunggu makanan datang, saya pun menuju ke halaman belakang yang merupakan area semi outdoor dan dinamakan dongdaemun area. Di sini juga disewakan hanbok baik untuk anak dan dewasa, yang merupakan tujuan utama saya datang ke sini karena waktu di seoul kemarin baby g nggak sempat nyobain make hanbok. Tarif sewa hanbok sebesar 25 K dan boleh digunakan hanya selama 15 menit. Tadinya baby b pun sudah disewain baju, tapi ternyata dia ngambek dan menolak. Saya pun membawa baby g foto-foto di dongdaemun area. Dongdaemun area ini dipenuhi beberapa kedai yang menjajakan aneka kudapan khas korea dengan tulisan hangul dan harganya pun ditulis dalam krw. Untuk membeli makanan di Dongdaemun area ini, kita diharuskan menggunakan kartu yang bisa di-refund kembali.

18118591_10155318466544623_9155569276604589523_n
Sewa Hanbok 25 K

Puas berfoto, kami pun kembali dan sudah disambut oleh makanan yang kami pesan. Sejujurnya … menurut saya sih kurang enak, mungkin karena harganya yang murah ya. Chicken mozzarella-nya terlalu manis dan nggak nge-blend sementara beef bulgoginya kurang bumbu. Yah tapi kalau cuma sekedar untuk menuntaskan niat korea-koreaan dengan harga terjangkau ya cukuplah.

18119254_10155318469954623_6717851798742575457_n
Chicken mozzarella

Saat kami keluar, antrian waiting list sudah mengular bahkan parkir saja sampai memenuhi badan jalan, rupanya cafe ini juga lagi nge-hits.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s