Posted in Japan, Kyoto, Osaka

Japan – Korea Trip (Intro & Day 1-2)

INTRO

Bermula dari info yang banyak saya temukan di internet mengenai kebijakan apabila mempunyai visa jepang yang masih berlaku, kita bisa memasuki beberapa negara seperti korea selatan atau taiwan tanpa visa lagi. Cihuy banget kan ya?? lumayan lah untuk menghemat biaya visa yang rata-rata dibanderol 500-600 ribuan. Mulailah angan saya mengembara untuk pergi kedua negara sekaligus, apalagi makin dikomporin dengan cerita-cerita blog yang sukses pergi kedua negara tersebut.

Walaupun selama ini saya fans fanatik budget airlines, pingin lah ya sekali-kali pakai full board airlines. Terutama sekali alasan saya karena kali ini kami akan mengajak baby G yang berusia 4 tahun, soal kenyamanan mesti diperhatikan terutama soal waktu transit. Tau kan ya kalau pakai budget airlines waktu terbuang cuma buat transit tok? Jadilah saat GATF (Garuda Indonesia Travel Fair) mid 2016 yang lalu berlangsung, saya iseng-iseng nanya ke sepupu saya yang kerja di bagian travelnya Garuda Indonesia, kebetulan harga yang ditawarkan masih masuk budget, alhamdulillah lagi ada rezeki. Dengan bantuan sepupu saya, di-booking-kanlah tiket pergi jakarta – kansai dan tiket pulang seoul – jakarta seharga 4,5 juta/orang.

Total durasi travelling kali ini adalah 8 hari (11 s/d 18 maret 2017), dengan waktu optimal untuk kunjungan hanya 6 hari. Sebenarnya sayang sih ya, dengan durasi masing-masing negara cuma 3 hari, tentunya sangat sedikit yang bisa diekplorasi, tapi saya mikirnya sekalian lah, mumpung visanya bisa gratis salah satu. Sengaja saya pilih kansai bukan haneda/narita, karena sebagai penyuka sejarah, kyoto yang kuno jauh lebih menarik di mata saya dibanding tokyo yang modern. Soal negara satu lagi yaitu Korea Selatan, sebenarnya saya bukanlah k poppers atau fans drakor akut, walau harus saya akui saya termasuk penonton setia drakor generasi awal seperti winter sonata, endless love atau dae janggeum, karena itulah korea selatan mempunyai beberapa destinasi menarik untuk saya.

WINTER ITEMS

Kunjungan saya ke-dua negara tersebut adalah saat akhir winter, walau dikatakan akhir winter, suhu udara di sana berdasarkan accuweather masih berkisar antara 9 – 13 C (itu juga kalau siang, kalau malam masih turun lagi). Mahluk tropis seperti saya mana tahan, belajar dari pengalaman katrok saya waktu berkunjung ke Beijing setahun silam (di mana saya tersiksa kedinginan akibat kurang persiapan) kali ini perlengkapan winter-nya harus lebih “bener”. Heattech dan kaos kaki kami beli di Uniqlo, yang merupakan brand ternama asal jepang dengan harga yang lumayan terjangkau. Di sini kami juga membeli jaket winter dengan warna pink untuk baby G, sementara saya dan suami masih kurang sreg dengan jaket di sini karena menurut kami kurang tebal.

Berdasarkan hasil googling, semua rekomendasi mengarah ke Toko Djohan di Pasar Pagi Mangga Dua yang katanya menyediakan barang berkualitas dengan harga miring. Kami sengaja datang pagi-pagi saat baru buka, ternyata tokonya sudah dipenuhi kerumunan pembeli. Tak disangka walau tokonya kecil, tapi koleksinya lengkap, mulai dari jaket bulu angsa dan polyester segala model, sweater, long john, sarung tangan, syal, topi, tutup kuping, kaos kaki bahkan sampai boot juga ada. Kami pun memborong semua keperluan di sini, jaket bulu angsa dengan kualitas bahan yang bagus hanya dibanderol 950 ribu saja, bahkan jauh lebih bagus dibanding jaket yang kemarin kami lihat di Uniqlo.

Untuk mengatasi kulit kering akibat cuaca dingin, kami membeli “creme 21” yang sudah terbukti aman dan ringan untuk kulit wajah dan badan. Saya dulu berkenalan dengan creme 21 saat menunaikan ibadah umroh dan terbukti creme ini mampu mengatasi “kulit kering dan berkerak” akibat cuaca dingin.

TIKET PESAWAT JAPAN – KOREA

Kami menggunakan maskapai Peach Aviation, budget airlines dari ANA Airways, untuk bepergian dari Jepang ke Korea. Peach Aviation menyediakan dua macam kelas penerbangan yaitu Happy Peach dan Happy Peach Plus dengan harga yang berbeda.

Sesuai dengan namanya, Happy Peach Plus menawarkan kelebihan fasilitas dibanding Happy Peach, tentunya dengan biaya yang lebih besar. Dengan Happy Peach Plus kita bisa mendapatkan fasilitas bagasi “1 piece” dengan maksimal berat 20 kg, free pilih tempat duduk, dan yang paling menolong “free charge” kalau mau pindah jadwal penerbangan. Untuk menyiasati pengeluaran, suami dan baby G menggunakan Happy Peach Plus, sementara saya hanya menggunakan Happy Peach biasa. Tanpa dinyana, saya salah memasukkan jadwal saat booking, yang harusnya pukul 12.50 malah saya booking yang jam 07.50. Untungnya yang salah adalah “Happy Peach Plus” yang bisa dicancel dan di-rebook tanpa ada tambahan biaya lagi.

Faktanya sih untuk Happy Peach Plus saya kena sekitar 1,1 juta/orang sementara untuk Happy Peach sekitar 800 ribuan/orang, nggak bisa dibilang murah banget sih ya, walau di beberapa blog yang saya baca mereka bisa dapet harga fantastis 400-500 ribu sekali jalan, yah mungkin saya nya yang kurang tau trik mendapatkan harga murah untuk maskapai ini.

AND THE PROBLEMS ARE COMING

Tanpa disangka, sekitar bulan september-oktober berdarlah pengumuman resmi bahwa Republik Korea Selatan sudah tidak memberlakukan aturan free visa seperti yang disebutkan di atas. Saya sampai ngubek-ngubek semua pengumuman untuk mencari apakah kabar tersebut benar, dan memang official, sudah resmi dari kedutaan. Jiaaah, tau gitu ngapain juga saya pake ke Korea segala, mending ke Jepang aja, mana persyaratan visa korea malah lebih banyak dibanding jepang pula.

Mencoba menghibur diri, toh nanti saya cukup mengurus visa korea saja, kan saya mau ganti e-passport yang memungkinkan saya mendapat visa waiver dari Jepang. Tenyata saat mengurus perpanjangan paspor (yang sudah habis masa berlakunya), sang petugas mengingatkan kalau gate antara paspor biasa dan e-passport akan berbeda, lah kan nggak mungkin saya membiarkan baby g lewat gate sendiri. Pasrahlah saya akhirnya cuma punya paspport biasa dan harus mengurus dua visa sekaligus nanti.

Saya sengaja mengurus visa jepang dulu dengan pertimbangan kalau visa jepang sudah “granted” kemungkinan visa korea nya lebih mudah. Saya adalah penganut “say no to calo”, semua persyaratan dan pendaftaran saya urus sendiri, cukup mudah kok karena website kedutaan yang bersangkutan sangatlah jelas. Yang penting semua persyaratan dilengkapi, alhamdulillah visa jepang diikuti dengan visa korea sukses diberikan. Sempet nggak enak makan dan tidur juga sih, gimana coba kalau salah satu atau bahkan dua-duanya ditolak, alhamdulillah nggak kejadian. Saya tidak membahas mengenai segala persyaratan, pengalaman dan suka duka mengurus visa ya, karena di internet dan blog-blog lain, info ini sudah banyak bertebaran.

DAY 1

Penerbangan kami menuju Kansai Int’ Airport dijadwalkan berangkat pukul 23.15 dari terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Setelah mewek dan peluk cium Baby B (adiknya baby G, yang kali ini nggak diajak dulu karena masih terlalu kecil), kami pun berangkat menuju bandara, kondisi jalanan malam minggu kali itu relatif lancar, hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam dari kediaman kami di bilangan Jakarta Timur.

Karena memang sudah jam tidurnya, Baby G sudah asik terlelap di atas kursi ruang tunggu selama menunggu waktu boarding. Beruntung kami menemukan kursi yang sudah hilang sandaran tangannya (cuma ada satu lho) sehingga baby G bisa asik selonjor.

Pesawat kami boarding sesuai jadwal, penerbangan menuju kansai int’ airport memakan waktu selama 6 jam 45 menit. Karena memang sudah malam, tidak lama sesudah pesawat take off, seisi pesawat sudah tidur semua.

DAY 2

Saya itu orang yang bercita-cita jadi traveller yang mengarungi dunia, tapi nyatanya saya itu benci naik pesawat. Saya nggak pernah bisa nyaman di pesawat, jadilah selama durasi 6 jam itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam kalau tidak bisa dikatakan begadang sampai waktu “breakfast” sekitar jam 04.00 pagi (atau waktu sana sudah jam 06.00) mulai diedarkan pramugari.

Karena ini penerbangan dengan rute jepang, menu yang ditawarkan ada dua jenis, menu indonesia dan menu jepang. Saya tentu nyoba dua-duanya dong ya (satu untuk saya dan satu untuk baby G), walau mana bisa nafsu makan sih di pesawat. Hiruk pikuk keramaian waktu “breakfast” membuat baby G terbangun, waktu saya tawari makan, baby G menolak, ya wajar sih, secara kalau menurut waktu indonesia ini masih jam 04.00 pagi, serasa makan sahur. Saya dan suami tetap memaksakan makan yang penting perut terisi agar tidak mengganggu kondisi badan. Porsi baby g saya bungkus dan masukkan tas untuk dimakan nanti.

Setelah makan pagi selesai, pramugari mengedarkan “arrival card” yang wajib diisi dan diserahkan di imigrasi nanti. Usahakan untuk selalu mengisi kartu ini saat masih di pesawat agar terhindar dari kerepotan nantinya.

Tepat pukul 08.35 (waktu jepang yang mana lebih cepat dua jam dibandingkan jakarta), pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Kansai Int’ Airport yang berada di pulau buatan di kawasan Osaka.

Nah hebatnya negara maju, selain punya situs Hyperdia yang memberikan data transportasi per-kereta api-an secara akurat, Jepang juga punya situs westjr.co.jp yang menerangkan secara detil tentang sistem transportasi di area kansai, terutama sekali sangat membantu dalam hal apa yang harus dilakukan di airport, petunjuk ke stasiun kereta, cara membeli tiket kereta, cara baca platform, cara mengenali kereta dan segudang informasi lainnya yang sangat bermanfaat. Intinya kalau sudah dibaca baik-baik, nggak bakal bikin kita clingak-clinguk macem turis kesasar.

Setelah beres dengan urusan imigrasi dan bagasi, kami bergerak menuju stasiun kereta yang letaknya di lantai dua . Petunjuk arahnya sangat jelas, stasiun kereta terletak di luar bandara dan dapat dicapai dengan menyebrangi jembatan penghubung. Destinasi pertama kami adalah ke kyoto, jadi kali ini kami akan langsung menuju kyoto dari bandara,

Ada dua perusahaan yang menyediakan jasa transportasi kereta api ke osaka, kyoto dan sekitarnya, yaitu jr west yang dimiliki pemerintah dan Nankai yang dimiliki oleh swasta. JR West sendiri memiliki berbagai macam kereta yaitu limited express, regular express, shinkansen, special rapid services, rapid services dan local services. Terus apa bedanya ? yang ada embel-embel express-nya tentu lebih mahal karena hanya berhenti di stasiun tertentu selain itu ada extra charge lagi untuk reserved seat. Sementara special rapid services, rapid services dan local services lebih murah karena banyak berhentinya. Shinkansen tidak melayani rute Kansai Airport ke osaka ataupun kyoto.

Cara termudah dan tercepat untuk menuju Osaka & Kyoto adalah dengan menggunakan Limited Haruka Express yang tiketnya dapat dibeli dengan menggunakan kombinasi ICOCA & HARUKA. ICOCA & HARUKA adalah set yang terdiri atas dua kartu, yang terdiri atas ICOCA (seharga 2000 yen, 1500 yen untuk harga kartu sendiri dan 500 yen untuk deposit) dan tiket diskon Haruka mulai dari 1100 yen untuk sekali jalan. ICOCA card sendiri merupakan kartu yang dapat dipakai di JR, subway, bus atau belanja di beberapa minimarket dan vending machine. Sayangnya tidak ada potongan harga kalau menggunakan ICOCA seperti halnya EZ Link di Singapore, sehingga kami berfikir tidak ada gunanya juga beli ICOCA.

Berhubung kami adalah traveller pelit  cermat dan irit, sesuai dengan panduan hyperdia, tentunya kami memilih moda transportasi termurah, pilihannya antara nankai atau airport special rapid service, cuma kalau menggunakan nankai, kami harus berganti kereta dulu di tennoji, tentu menambah kerepotan kami yang sudah membawa dua tas besar plus baby stroller.

Kami memilih “aiport rapid service for kyobashi” dengan biaya hanya 1880 yen/orang, oh iya di jepang anak berumur di bawah 6 tahun masih “free of tranportation charges”. Tiket kami beli dari vending machine yang caranya sudah kami pelajari dari situs westjr.co.jp. Tidak ada antrian mengular di vending machine seperti yang kami khawatirkan.

17308985_10155181212804623_1401853508967102171_n
Gate tempat masuk ke stasiun kereta
17309211_10155181212824623_4849771525224242097_n
Deretan Vending Machine

Kereta di jepang benar-benar tepat hingga ke menitnya sesuai dengan yang ada di website hyperdia. Karena merupakan perhentian awal, kereta yang kami naiki awalnya sepi, kursinya cukup nyaman dan karena cukup jauh kami bahkan sempat tertidur. Bodohnya saya lupa saat tadi berganti baju dengan lapisan longjohn di toilet, saya lupa memasukkan kembali makanan yang sudah dibawa dari pesawat berikut beberapa keping roti yang sengaja kami bawa. Walhasil saat di dalam kereta baby G bilang lapar, makanan tidak ada, untungnya baby G bisa bersabar dengan hanya memakan cemilan oreo dan sosis (maafkan mama ya nak).

17309425_10155181213169623_8336196999844259536_n
Di dalam “kansai airport rapid service”

Perjalanan dari Kansai Int Airport menuju Stasiun Osaka membutuhkan waktu sekitar 1 jam 14 menit. Di stasiun osaka kami turun di platform 2 dan berganti kereta dengan “JR Special Rapid Service for Omishiotsu (JR Kyoto Line)” yang berangkat dari platform 8. Untuk berganti platform kita diharuskan naik turun dengan tertib, bisa menggunakan fasilitas tangga, eskalator ataupun lift. Jangan harap warga jepang ada yang nekad dan ga tertib menyebrangi rel seperti di Indonesia ya.

Kereta yang kami naiki sangat penuh sehingga kami harus bersabar berdiri sambil memanggul bawaan (yang makin lama makin berat rasanya). Untungnya perjalanan dari stasiun osaka ke stasiun kyoto hanya memakan waktu 25 menit.

Begitu sampai stasiun kyoto, kami segera keluar melalui Central Entrance yang tepat berhadapan dengan Kyoto Bus terminal dan Kyoto Tower. Kami bermaksud menuju ke hotel yang telah kami booking dulu untuk menitipkan barang bawaan sebelum mengeksplorasi kota kyoto.

Saya sampai terharu begitu melihat pemandangan kyoto tower dan sekitarnya yang selama ini cuma saya saksikan lewat google image, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di sini.

17264761_10155181205329623_715168749972260702_n
Kyoto Tower

Hotel yang kami booking bernama APA Villa Hotel Kyoto Ekimae, lokasinya cukup strategis, hanya 400 m dari kyoto station, menuju ke hotel tersebut juga sangat mudah karena markanya jelas. Begitu keluar stasiun, cukup jalan terus melewati kyoto tower sampai menemukan mcd, di seberang mcd itu ada family mart, berbeloklah ke gang di samping family mart dan langsung deh ketemu hotelnya. APA Villa Hotel merupakan jaringan budget hotel dari APA group yang banyak tersebar di seluruh jepang, harganya pun cukup murah (untuk ukuran akomodasi jepang lho ya, yang harganya selangit minta ampun) sekitar 850 ribu/malam.

17342886_10155181198069623_1691204508374325338_n
Apa Vila Hotel

Saat sampai di sana, jam masih menunjukkan pukul 12.00 sehingga kami masih belum bisa check-in, setelah menitipkan barang bawaan kami kembali menuju kyoto bus terminal yang berada persis di depan station untuk menaiki bus.

Sebelum itu  kami bermaksud makan siang dahulu di McD (apalagi demi melihat kondisi baby g yang kayaknya mulai kepayahan), tapi ternyata McD di jepang hanya menjual burger, tidak ada ayam. Mau beli di family mart bingung makannya di mana. Akhirnya kami masuk ke salah satu restoran jepang persis di samping family mart ini setelah melihat display dan daftar menu yang ada di depan pintu masuk.

IMG20170312131334
Tampak depan restoran

Pelayan cantik berkimono kuning menyambut kami dengan senyuman manis dan keramahan ala jepang walau tidak bisa berbahasa inggris. Untungnya menu juga ditulis dalam bahasa inggris, kebanyakan menunya berisi sushi dan sashimi, tapi karena membawa baby g, kami hanya memilih karaage dengan nasi putih dua porsi. Sebelum makanan datang, pelayan membawakan handuk panas yang digunakan untuk mengelap wajah, rasanya seger banget. Ocha di sini diberikan gratis dan bisa di-refill. Porsi karaage yang datang ternyata besar sehingga rasanya cukup kalo satu porsi dibagi dua, tapi kadung pesan dua porsi yang sayang kalau gak dihabiskan. Karaage nya sangat enak, full chicken dengan rasa yang pas dan tepung yang garing. Seporsi karaage dibanderol 780 yen, sedangkan nasi putih 280 yen. Tidak ada tax lagi. Saya cukup merekomendasikan restoran ini walau lupa namanya (lha wong tulisannya dalam bahasa jepang dan saya cuma bertanya sekilas ke pelayan). Restoran ini sepertinya populer juga di warga lokal terbukti dari ramainya tempat ini saat kemarin kami datang.

IMG20170312124500
Karaage

Setelah kenyang, kami meneruskan perjalanan ke kyoto bus terminal, sebelumnya kami mampir dulu di kyoto bus ticket center untuk membeli tiket “kyoto city bus & kyoto bus one day pass” seharga 500 yen. Kyoto Bus Ticket Center ini letaknya masih di dalam terminal, ada plangnya kok. Petugas yang ada di dalam cukup paham maksud kita walau sepertinya tidak terlalu fasih berbahasa inggris, tunjuk saja jenis tiket yang kita inginkan.

IMG20170312132106
Kyoto Bus Ticket Center

Untuk mengeksplorasi kyoto, bus merupakan pilihan yang paling tepat karena rutenya menjangkau hampir seluruh destinasi wisata yang ada. Tarif bus umumnya flat sebesar 230 yen. Untuk menghemat, tiket kyoto bus one day pass merupakan opsi yang hemat dan praktis karena bisa digunakan selama seharian penuh. Detil mengenai bus kyoto (seperti cara naik, cara pakai kartu dsb) dapat dilihat di www2.city.kyoto.lg.jp, sementara untuk rutenya dapat dilihat di arukumachikyoto.jp.

IMG20170312132338
Kyoto Bus Terminal
IMG20170312133327
Di dalam kyoto bus

Hari ini kami hanya punya dua destinasi wisata yaitu kiyomizudera temple yang merupakan UNESCO world heritage dan Gion District yang terkenal akan Geisha-nya. Antrian di masing-masing perhentian lumayan mengular, walau sangat tertib, mungkin karena ini hari minggu sehingga banyak wisatawan lokal yang berkunjung.

Untuk menuju Kiyomizudera Temple bisa menaiki bus nomor 100, 206 atau 86. Kami langsung naik bus 206 yang kebetulan sudah ada. Di kyoto, naik bus lewat pintu belakang sementara keluarnya lewat pintu depan. Pertama kalinya menggunakan kyoto bus one day pass, saat akan turun, masukkan kartu ke dalam “card slot” di mesin yang ada di samping supir bus, nanti di kartu itu akan tercetak tanggal hari ini. Untuk penggunaan setelahnya cukup tunjukkan kartu tersebut ke sopir bus. Pengumuman di display layar atau pengeras suara di dalam bus juga ada dalam bahasa inggris, jadi tidak perlu khawatir tersesat.

Kami turun di halte Gozozaka, yang terdekat dari Kiyomizudera, perjalanan dari stasiun kyoto hanya membutuhkan waktu 20-25 menit. Kami langsung mengikuti arus kerumunan orang-orang yang kami tebak mempunyai tujuan yang sama, di sepanjang jalan banyak toko rental kimono, pantaslah banyak gadis-gadis muda jepang yang berseliweran menggunakan kimono aneka warna yang cantik-cantik.

Kiyomizudera temple merupakan kuil yang sudah berusia lebih dari 1200 tahun, kuil ini didedikasikan untuk buddha dan dewa kanon.

Di luar dugaan perjalanan menuju kiyomizudera temple cukup menanjak dan melelahkan, bahkan di beberapa lokasi, tanjakan sangat curam dan menguras stamina (lebay lebay deh, maklum kurang tidur semalam). Akhirnya setelah sekitar 25 menit berjalan sampailah kami di pintu gerbang kiyomizudera yang lagi-lagi mengharuskan kami menaiki sejumlah anak tangga dulu.

IMG20170312140042
Tangga terakhir menuju kiyomizudera

Kami disambut oleh “deva gate” yang sangat cantik dengan warnanya yang merah mencolok disertai dengan satu dua pohon sakura yang sudah mekar di awal musim. Saya pun langsung berteriak kegirangan demi melihat si “merah jambu” yang sudah menjadi impian sejak masih kecil, langsung saya menarik baby g (yang sebenarnya masih bete) untuk foto-foto.

IMG20170312140530
Deva gate

Perjalanan kami lanjutkan hingga bell tower tempat di mana diletakkan lonceng besar untuk upacara keagamaan. Kami sempat beristirahat sejenak di dekat rumah-rumah biksu yang ada di sekitar situ, lumayan sepi dan enak untuk duduk-duduk. Di belakang bell tower terdapat zuigudo-hall, tempat di mana beberapa warga melakukan ritual sembahyang.

17265249_10155181192094623_5413136453595081810_n
bell tower
17265244_10155181197389623_3013254185417898110_n
Zuigudo hall

Dari bell tower kami bertemu dengan west gate yang tidak kalah mencengangkan dibanding deva gate tadi, ditambah lagi dengan three storied pagodanya yang luar biasa. Sampai di sini semua masih gratis-tis, belum dipungut bayaran.

IMG20170312145043
Three storied pagodas at west gate

Berjalanlah lebih ke dalam lagi, maka baru kita akan menenukan “Main hall/hondo” bangunan utama dari keseluruhan kompleks ini. Bangunan inilah yang disebut sebagai Unesco World Heritage, biaya masuk ke tempat ini sebesar 400 yen. Main hall/hondo ini terletak di suatu lembah, bangunannya terbuat dari kayu yang sudah berusia seribu tahun, makanya di sana-sini ditopang oleh perancah, mungkin karena sudah ada beberapa bagian yang rapuh. Di dalam main hall terdapat beberapa kios dengan “miko/pendeta wanita” yang berjaga, mereka menjual kertas ramalan, dupa dan lain-lain yang biasa ada di dalam komik jepang. Bangunan utama main hall merupakan tempat ibadah di mana terdapat banyak patung buddha kanon, di dalam sini dilarang untuk berfoto. Banyak warga yang menunaikan ibadah di sini untuk menyembah sang buddha.

17264175_10155181197594623_6252130121149812894_n
Tiket Kiyomizudera
17309475_10155181197569623_5704827017470472465_n
Pintu masuk ke main hall/hondo
IMG20170312144119
Main Hall/Hondo
17264779_10155181197659623_8475500045635406686_n
Warga yang beribadah di dalam main hall/hondo

Puas melihat-lihat, kami istirahat sebentar di belakang main hall sambil memperhatikan warga lokal yang mengikat ramalan kertas di gantungan. Tadinya saya berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Gautama Buddha Hall, Amitabha Hall dan Otowa waterfall, tapi baby g kelihatannya sudah capek sehingga saya mengurungkan niat dan berpuas hanya memandangi dari kejauhan saja.

Setelahnya kami turun kembali untuk menuju ke Gozozaka station, dalam perjalanan pulang kami melewati “higashiyama district” yang penuh dengan deretan kios souvenir, oleh-oleh dan makanan. Karena sudah berencana beli oleh-oleh di Namba, jadi saya sengaja menghindari melihat-lihat toko souvenir, tapi nggak bisa mencegah diri mampir di toko penganan. Lha gimana nggak tertarik? wong tiap toko menyediakan sample gratis yang boleh dicoba. Sempet icip-icip aneka kue sampai kenyang, kami tertarik membeli kudapan dari semacam adonan tepung dengan aneka filling, harganya mulai 250 yen, sayangnya masa expirednya cepat jadi nggak bisa dibawa pulang. Di sini baby g juga sempat membeli ice cream seharga 300 yen dengan ukuran besar.

IMG20170312145718
Higashiyama District
IMG20170312150118
Aneka penganan
IMG20170312145951
Soft ice cream 300 yen

Setelah menjelajahi kiyomizudera yang di luar dugaan sangat melelahkan, saya akhirnya terpaksa membatalkan kunjungan saya ke gion, sempat galau juga sih, karena gion ini kan merupakan tempat yang sangat ingin saya kunjungi sejak membaca “Memoirs of geisha” karya Arthur Golden. Tapi toh, saya cuma akan mengunjungi hanami koji yang belum tentu ketemu geisha juga, apalagi melihat kondisi baby g yang sepertinya sangat kecapekan.

Kali ini kami menaiki bus nomor 100 untuk kembali ke kyoto station. Tidak berapa lama kami sampai dan langsung menuju ke hotel untuk berisitirahat.

Kamar di APA Villa ini sangatlaaaah sempit, bahkan lebih sempit dibanding budget hotel di Indonesia. Tapi fasilitas toiletriesnya sangat lengkap, bahkan setara dengan hotel bintang lima di Indonesia, merknya Shiseido pula. Yang aneh, TV nya sangat besar, bahkan sama besar dengan ukuran tempat tidur, haha. Selain itu cukup nyamanlah, lantai dilapisi karpet, ada electric kettle (yang sangat penting buat traveller dengan toddler seperti kami), walau sempit banget.

17265099_10155181197799623_4511707719022418731_n
Kamar di APA Villa

Kami memang sengaja bawa mini rice cooker untuk memasak dengan pertimbangan khawatir sulit mencari makanan halal. Tidak lupa pula membawa beras yang sudah ditakar sesuai porsi ke dalam plastik, makanan kering dan mie. Tapi sayangnya, mini rice cooker yang kalau di Indonesia ini cukup butuh 30 menit sampai matang, di sana bahkan sampai pagi lagi nasinya belum juga matang. Sepertinya memang sudah di-set oleh pihak hotel untuk membatasi daya, jadi hanya daya kecil seperti hp yang bisa. Haduh, bikin bete juga karena sudah bawa-bawa rice cooker dan segala perangkatnya, untung cuma 1,2 kg-an.

Karena masak nasi gagal, setelah maghrib kami berjalan ke family mart untuk membeli bento box. Bento box dijual mulai harga 380 yen, onigiri 100 yen, macem-macem minuman juga mulai 100 yen. Untunglah di jepang ini, walau tidak terlalu fasih, namun mereka masih faham bahasa inggris dasar semacam “pork” “lard” “chicken”, jadi kami bisa leluasa bertanya soal kandungan makanan yang kami beli.

Keluar dari family mart, kami menyempatkan diri berfoto di depan kyoto tower yang mulai memancarkan kerlip lampunya saat malam tiba. Oh iya, air keran di jepang bisa diminum lho, jadi lumayan hemat nggak usah beli air.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

One thought on “Japan – Korea Trip (Intro & Day 1-2)

  1. Dulu pas ke Osaka kami nginep di Hearthon Shinsaibashi, seberang hotel APA. Budget juga sih (750rb Rupiah) tapi fitur nya lengkap, ada radio yg channels berisi musik jazz Jepang yg enak didengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s