Posted in Jambi, Lampung, Muara Bungo, Palembang, Solok, South Sumatera, Tanah Datar

Mudik Besamoh (Day 8 – 11)

DAY 8

Hari ini kami rencana untuk line up pukul 07.30, sebab masih ada dua destinasi lagi yang akan dikunjungi yang kebetulan searah dengan arus balik kami dari bukittinggi ke muara bungo. Kami berencana mengunjungi danau singkarak di tanah datar dan danau atas bawah di Solok.

Saat sarapan di restoran hotel, om zul sekeluarga izin pamit karena sudah akan berangkat dinas ke Pekanbaru. Perjalanan agak terlambat dari jadwal dikarenakan tante wilda terjebak macet di area jam gadang sehingga baru 08.40-an kami bisa berangkat.

Hanya perlu waktu sejam lebih untuk mencapai danau Singkarak yang super luas bagaikan lautan, danau singkarak merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba, saking luasnya bahkan kita tidak bisa melihat ujung-ujungnya. Danau ini terkenal sebagai danau berombak dan dasarnya terus mengalami penurunan akibat letaknya yang persis di lempeng sumatera. Kadang kala ada berita tenggelamnya kapal wisatawan sehingga membuat kami urung mengarungi danau dan lebih memilih duduk-duduk sambil memandangi panorama di depan mata.

15781355_10154952370499623_3273112825717112362_n
Danau Singkarak

Produk terkenal dari danau singkarak adalah ikan bilis, ikan kecil-kecil dengan ukuran lebih besar dari teri, namun tidak asin. Di sini harganya murah, hanya 135 ribu/kg. Tante-tante pun semua sibuk memborong ikan bilis yang ada di warung sekitar.

24735158-dry-ikan-bilis-stock-photo
Ikan bilis (sumber:123RF.com)

Setelah itu kami meluncur ke daerah solok dan kembali melewati RM Kayu Aro yang enak dendeng batokoknya itu, kami memutuskan berhenti di sini untuk makan siang sekaligus shalat jumat karena persis di seberang RM Kayu Aro adalah masjid besar.

Beres makan siang dan shalat jumat, kami menuju danau atas bawah yang ternyata aksesnya cukup sulit dan belum dikelola dengan baik oleh dinas pariwisata. Kami sampai harus berbalik dua kali dan bertanya – tanya pada warga sekitar di mana view point yang memungkinkan kami melihat dua danau tersebut secara jelas. Akhirnya kami berhenti di view point yang sepertinya masih dikelola oleh penduduk lokal karena masih minimnya fasilitas maupun kebersihan. Dari tempat tersebut memang kami bisa menikmati keelokan danau bawah karena lebih dekat, tapi panorama danau atas walaupun terlihat tapi agak jauh. Danau tersebut merupakan danau kembar yang letaknya berdekatan, kalau dari hasil googling seharusnya ada view point yang lebih bagus, usut punya usut tempat tersebut masih harus menanjak sekitar 7 km lagi dari posisi kami ini, ya sudahlah.

15741156_10154952353009623_7465813281040859704_n
Danau bawah
15781283_10154952354634623_197584074257874515_n
Danau atas

Untuk menuju muara bungo ada jalan pintas yang ditunjukkan oleh google maps dengan durasi yang lebih singkat. Ternyata jalannya sempit, berliku liku naik turun dan hanya cukup untuk papasan dua mobil, diperparah dengan kemacetan di suatu titik yang ternyata adalah pasar lokal, maju mundur saja sulit. Beruntung setelah koordinasi dengan sopir lainnya, kami bisa maju dan selepas itu rasa lelah kami terbayar dengan kecantikan danau bawah yang berwarna biru cerah di sebelah jalan. Sekitar dua jam kemudian sampailah kami di jalan besar lintas sumatera. Di sini kami berpisah dengan tante wilda yang akan kembali ke bukittinggi, sementara 7 mobil lainnya akan kembali ke muara bungo.

Setelah sempat berhenti sebentar setelah perbatasan sumbar-jambi untuk makan malam di suatu kedai pecel lele, akhirnya pukul 22.30 kami kembali tiba di hotel permata kota muara bungo untuk beristirahat.

DAY 9

Hari ini kami akan memulai arus balik menuju kota Palembang, karena rusak dan padatnya jalur lintas timur, Om Yes yang asli Palembang menyarankan untuk mengambil lintas tengah yang lebih sepi. Memang sekitar satu dasawarsa lalu, jalur tengah ini rawan dan terkenal dengan si bajing loncat, tapi katanya sekarang sudah aman dan ramai.

Kami berangkat tepat pukul 06.00 dari hotel, sarapan berupa nasi uduk sudah dipesan sehari sebelumnya dan diantarkan pukul 05.00 subuh. Sengaja pagi-pagi sekali sebab nanti malam adalah tahun baru dan dikhawatirkan jalanan di sekitar Palembang pastinya akan macet parah.

Kami mengambil jalur dengan melintasi Sarolangun dan Lubuk Linggau, jalanan memang lebih mulus dan sepi sehingga kami bisa memacu kecepatan hingga 60 km/jam. Di Lubuk Linggau kami makan siang di RM Pagi Sore yang ternyata bagus sekali, di pinggir sungai, mirip cimory river view di Puncak-Bogor. Memasuki Jambi dan Sumsel berasnya sudah agak tanak sehingga anak-anak mau makan kembali.

15873230_10154956369549623_2037087347460783744_n
RM Pagi Sore di Lubuk Linggau yang mirip Cimory Riverview

Lepas Lubuk Linggau, jalanan di Sumsel kembali berlubang-lubang. Rekan-rekan kami yang kebanyakan adalah orang-orang oil & gas banyak bercerita dan diskusi lewat HT bahwa Sumsel ini merupakan provinsi yang kaya karena minyak bumi dan gas alamnya, namun kontras warga yang kami jumpai di sepanjang jalan sepertinya masih kurang diperhatikan kesejahteraannya. Banyak ilegal tapping yang bahkan dilindungi oleh aparat, di sepanjang jalan banyak angkutan drum-drum yang menurut mereka adalah hasil ilegal tapping. Saya perhatikan jalan-jalan di sumsel selain di palembang kebanyakan rusak parah, sungguh ironis disandingkan dengan program prestisius LRT di tengah kota

Memasuki wilayah sekayu hingga tiba kembali di lintas sumatera jalanan rusak parah dan diperparah dengan deretan truk-truk tronton yang tiada habisnya, belum lagi ulah sembarangan pengemudi motor yang ikut euforia tahun baru. Syukurlah pukul 20.00 malam kami sudah tiba kembali di kota Palembang. Jalanan sangatlah ramai karena semua orang ingin merayakan tahun baru, untungnya Om Yes yang asli Palembang banyak tahu mengenai jalan-jalan pintas.

Sebelum masuk ke hotel, kami mampir dulu ke Pempek Saga Sudi Mampir yang menyajikan pempek unik yang tidak ada di manapun yaitu Lenggang Panggang. Saya mencoba pempek ini pada 2014 silam dan langsung ketagihan, sayangnya tidak bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh. Pempek ini adonannya dicampur dengan telur dan langsung dituang di atas cetakan daun kemudian dipanggang. Kenyang dengan seporsi pempek ukuran besar, kami kembali check in di Fave Hotel Palembang dan langsung tidur.

15822611_10154950476844623_6468902063353406957_n
Pempek Lenggang RM Sudi Mampir

DAY 10

Itinerary di Palembang direncanakan santai, selain karena memang tidak terlalu banyak destinasi wisata, kami harus memastikan kondisi badan agar tetap fit. Karena baru akan kumpul pukul 10.00, paginya anak-anak sudah minta berenang di hotel.

Rencananya kami akan mengunjungi Bait Al Akbar di Gandus (yang terkenal dengan Al Quran Raksasa-nya), tempat wajib jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Oh ya untuk oleh-oleh pempek kami sudah memesan pempek Vico yang diurus sehari sebelumnya oleh adik Om yes, sebab katanya kalau tahun baru warung pempek kebanyakan libur.

Kami parkir di samping Benteng Kuto Besak dan bisa dibayangkan panasnya area Jembatan Ampera sekitar jam 11 siang ? palembang ini memang panas, lebih dari jakarta. Setelah berfoto-foto singkat di depan icon palembang tersebut, kami pun segera lari ke mobil dan bergerak menuju RM Sri Melayu untuk makan siang.

15823445_10154956361394623_6456998222185164474_n
benteng kuto besak
15873552_10154956362779623_8985746754745982785_n
jembatan ampera di kala siang

RM Sri Melayu menyajikan aneka masakan khas palembang seperti pindang patin, brangkas tempoyak dan aneka rupa-rupa lainnya. Karena sudah agak bosan, kami malah memesan ikan gurame bakar dan tumis kangkung tapi tidak lupa menyertakan pindang patin. Menurut saya pindangnya jauh lebih enak yang di RM pegagan adenia, harganya juga lebih murah.

15871522_10154956362994623_4901350378442334017_n
Aneka sajian RM Sri Melayu

Setelah makan siang, rekan-rekan lainnya menyarankan untuk membatalkan saja kunjungan ke Bait Al Akbar sebab sudah pukul 14.00 dan masih mau ke toko oleh-oleh lagi (okee saat ini saya mulai agak bete). Akhirnya kami mampir ke toko pempek Candy untuk membeli lempok durian (sejenis dodol yang sudah dicampur durian dengan aroma yang sangat tajam, harganya 25 ribu/dodol) dan aneka rupa kerupuk palembang, yang banyak ikannya seharga 25 ribu/bungkus kecil, sementara yang lebih sedikit ikannya hanya 12.5 ribu/bungkus kecil. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

15826606_10154956363069623_6270195707489188308_n
Pempek Candy

Karena masih merasa belum puas, saya mengajak suami dan keluarga untuk jalan-jalan lagi. Selepas pukul 17.00 (setelah rapi mandi dan istirahat) kami menuju monpera yang berhadapan langsung dengan masjid agung palembang. Hanya sebentar kami melewatkan waktu di sini, setelahnya kami langsung menuju ke museum Sultan Mahmud Badaruddin II (yang tentunya saat itu sudah tutup) untuk parkir dan berjalan ke mall kecil di depannya cuma untuk melihat pemandangan jembatan ampera yang jauh lebih indah dengan kerlap-kerlip lampunya di waktu malam.

15873284_10154956366084623_3854276917106671680_n
Monpera
15823688_10154956366349623_1825632140954452811_n
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
15871636_10154956368384623_8268194937002975979_n
Jembatan Ampera di kala malam

Puas mengabadikan jembatan ampera lewat layar ponsel, kami kembali ke hotel setelah sebelumnya mampir di warung Tekko untuk makan malam, sengaja makan di sini karena sudah mulai bosan dengan masakan padang.

DAY 11

Ini adalah hari terakhir dari rangkaian touring mudik besamoh kami, setelah sarapan tepat pukul 06.00 kami sudah line up. Kali ini kami mencoba jalur lainnya lewat lintas tengah yaitu melalui prabumulih – martapura – kotabumi – metro – bakauheni. Jalurnya memang lebih jauh, sekitar 526 km, lebih jauh 70 km dibanding lintas timur, tapi katanya juga lebih sepi dan lancar.

Kami sempat berhenti di RM Neng Cella, rumah makan masakan sunda yang sempat dikunjungi oleh RI-1 saat kunjungan beliau ke Martapura kemarin, namun urung karena lamanya waktu masak. Akhirnya lagi-lagi masakan padang.

Kami melewati kotabumi dan metro, metro merupakan kota di mana banyak sanak saudara dari pihak ibu yang ikut program transmigrasi menetap, bahkan mbah buyut saya pun tinggal di sini. Tapi sejak beliau meninggal saya sudah tidak pernah menginjak lampung lagi, terakhir saat saya masih SD, jadi saya tidak begitu ingat lokasi rumah saudara-saudara saya.

Baru pukul 23.00 malam kami sampai di Bakauheni (sebelumnya sudah makan di lagi-lagi RM Padang – Begadang V di dekat kota Bandar Lampung), antrian naik kapal tidaklah seramai saat berangkat bahkan kami bisa langsung naik. Durasi penyebrangan selama 3 jama itu kami lalui di dalam mobil dengan tetap menghidupkan mesin mobil dan AC. Akhirnya kami sampai di Merak dan setelah melaksanakan prosesi bubar dan pamitan di tibar (titik bubar) yang berlokasi di pom bensin setelah fly over merak, kami masih melanjutkan perjalanan hingga kediaman kami di cibubur. Dengan mengucap alhamdulillah karena sudah diberikan lindungan dan berkah keselamatan, sekitar pukul 05.00 subuh kami sampai di rumah dengan selamat. Berakhirlah rangkaian touring 11 (12 hari sih sebenarnya, lha wong kami nyampe sudah jam 05.00 subuh), saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan om dan tante beserta keluarga yang sudah banyak membantu. Saya juga sangat bangga dengan suami saya yang terbukti kuat sebagai supir antar kota antar propinsi antar pulau, haha.

Rangkuman saya enaknya touring itu selain silaturahmi, kita tidak perlu repot-repot buka google maps karena sudah ada RC (Road Captain) yang membuka jalan, selain itu kita juga saling info dan menyemangati selama di perjalanan sehingga terhindar dari rasa bosan dan lelah.

Sedikit tidak enaknya yah namanya juga touring, pergi rombongan, jadi untuk berhenti di satu titik tentunya butuh waktu lebih lama, misal saja untuk wisata toilet di SPBU kalau sendirian paling butuh 10-15 menit, kalau rombongan ya minimal 30 menit, tapi yah dinikmati saja, alhamdulillah.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

2 thoughts on “Mudik Besamoh (Day 8 – 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s