Posted in Bukittinggi, Indonesia, Payakumbuh, Solok, Tanah Datar, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 5 – 7)

Day 5 

Setelah beristirahat semalaman di hotel yang terbilang mewah untuk ukuran saya (yang selama ini hobinya nginep di budget hotel) badan rasanya agak enakan, apalagi sesuai kesepakatan hari ini kita akan line-up pukul 08.30, sedikit siang dan santai karena dua hari sebelumnya sudah diforsir perjalanan jauh.

Sekilas mengenai hotel grand rocky di bukit tinggi, hotel ini termasuk mewah dengan ukuran kamar yang luas (33 m2) dan dilengkapi karpet tebal nan empuk. Tempat tidurnya king size, okupansi sebenarnya hanya untuk maksimal 2 dewasa per kamar, tadinya kami mau menambah extra bed, namun setelah menghubungi resepsionis dan diberitahu bahwa biayanya 450 ribu/extra bed/malam, tentunya kami yang super irit ini ogah. Suami saya pun menurunkan matras angin yang dipasang di dalam mobil untuk digelar di atas karpet, untung karpetnya memang empuk. Kebanyakan hotel di Indonesia (bahkan untuk ukuran yang agak mewah sekalipun) tidak terlalu ketat soal okupansi, misalnya walau sudah ditulis bahwa kamar hanya boleh ditempati  maksimal 2 dewasa, tapi kenyataanya mah mau masuk lebih dari itu juga bisa-bisa aja, paling cuma ketat di breakfast . Untungnya salah satu anggota touring, tante wilda yang asli bukit tinggi, adalah teman dari si pemilik hotel, sehingga untuk peak season seperti ini kami hanya membayar 850 ribu/kamar/malam, aslinya sih katanya lebih dari sejuta-an. Hotel memiliki swimming pool yang cukup luas dengan view ke arah ngarai sianok dan juga mini playground untuk anak-anak. Hotel ini juga sangat strategis karena letaknya hanya 500 m dari pusat kota dan jam gadang.

303355_14031913550018763354
Grand Rocky Bukit tinggi (sumber : agoda.com)
8515299_2_z
Kamar deluxe tempat kami menginap (sumber : idhotels.com)

Pemandangan kota bukittinggi dari kamar kami sangatlah indah, dengan dua gunung , merapi dan singgalang, yang mengapit kota tersebut. Karena berada di ketinggian, suhu udara di bukittinggi cukup dingin, mirip seperti di Puncak.

Pukul 07.30 kami sudah bersiap turun untuk sarapan di restoran hotel, karena keluarga kami terdiri dari 3 dewasa dan 2 balita, sementara kupon makan yang diberikan hanya untuk 2 dewasa, maka kami menambah extra breakfast dengan biaya 90 ribu/orang, anak di bawah 5 tahun belum membayar. Restorannya lumayan besar dengan makanan yang lengkap, kebanyakan bercita rasa minang, agak pedas dan berasnya ” makpyur/pera’ “.

grand-rocky-hotel-bukittinggi
Restoran di Grand Rocky (sumber : tripadvisor.com)

Itinerary hari ini sangat padat, kelok 9 – lembah harau – padang mangateh – istana pagaruyung – danau singkarak. Pukul 08.30 kami bertolak menuju ke arah payakumbuh tempat di mana kelok 9 dan lembah harau berada, menurut google maps butuh waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Karena kemarin ada tambahan 2 anggota lagi , maka hari ini total ada 9 mobil yang bergabung dalam konvoi. Di kota payakumbuh, om DK dan keluarganya sudah menunggu, om DK yang istrinya asli payakumbuh memang tidak ikut menginap di bukittinggi, melainkan di rumah mertuanya.

Hampir pukul 11.00 kami baru tiba di kelok 9 (karena tadi sempat berhenti untuk isi bahan bakar), kelok 9 ini sebenarnya merupakan jalan utama penghubung payakumbuh ke pekanbaru. Namun karena konstruksinya yang menarik, maka tempat ini sekarang malah menjadi icon baru dan tempat wisata.

Saat baru akan mendaki kelokan sebenarnya ada suatu rest area di mana ada mini playground dan warung tenda, tapi om DK menyarankan agar kami naik hingga di puncak saja agar mendapat view yang lebih bagus.

Jalannya memang melingkar-lingkar menjadi 9 kelokan dan sangat elok apabila dipandang dari puncaknya. Di puncaknya sendiri berjajar warung tenda yang menjajakan makanan ringan , warung tenda ini berdiri di bahu jalan jadi tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan yang lewat. Sementara untuk parkir bisa menggunakan bahu jalan yang ada di seberangnya. Kelok 9 membelah tebing-tebing tinggi yang di baliknya membingkai lembah harau.

15698318_10154942790164623_4391074809417233209_n
Kelok 9
15823176_10154962873319623_3879276083256369525_n
Kelok 9 dari puncak
15871776_10154962873629623_7376539002527458492_n
Deretan kios dan parkir di puncak

Setelah puas melihat kelok 9, kami pun menuju lembah harau yang hanya berjarak setengah jam perjalanan. Luar biasa menurut saya, tebing-tebing cadas tinggi berwarna merah kehijauan yang mengapit persawahan hijau nan subur, sungguh suatu pahatan Allah yang tidak terkira keindahannya. Baru pertama kali saya melihat yang seperti ini sebab di pulau jawa tidaklah ada.

15873319_10154962875204623_7303829812266194885_n
Lembah Harau

Di persimpangan terakhir kami berbelok ke arah kanan dan menuju suatu “view area” di mana dari kejauhan tebing-tebing tersebut seolah mengelilingi kami. Terdapat sebuah rumah gadang elok yang berdiri kokoh dan sungai kecil dengan sampan yang disewakan. Rasanya betah berlama-lama di sini, sayangnya kami harus segera bergegas menuju ke air terjun lembah harau yang berada di sekitar situ. Namun sungguh sayang disayang, berbeda dengan kondisi pulau jawa yang hujan tiada henti, pulau sumatera malah masih kering kerontang, yang mengakibatkan debit air terjun kecil bahkan kering, jadi kami tidak bisa melihat keindahan air terjun lembah harau.

15873104_10154962875159623_4533328365022976578_n
Sungai dan sampan di lembah harau

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 siang yang artinya kami harus segera mencari makan siang. Tante Wilda pun merekomendasikan restoran “Pongek or Situjuah” yang terkenal dengan ikan bakarnya. Seperti kebanyakan rumah makan padang, walau yang digadang-gadang ikan bakarnya, namun makanan tetap disajikan dengan ala “hidang”, jadi tanpa memesan menu, aneka rupa lauk pauk mulai dari rendang, ayam hingga daun singkong  ya sudah dihidangkan di meja, cuma bedanya di sini ikannya yang istimewa, mujair ukuran besar yang dibakar namun agak pedas. Yang agak mengesalkan susah minta apa-apa ke pelayannya, minta sendok aja sampe lama gak dikasih, sampe ngomong ke etah berapa orang yang berbeda dan tetap gak dikasih, ternyata menurut adik ipar om DK yang asli payakumbuh, pelayan di sini memang seperti itu. Masakannya memang enak dan total harga yang dibayarkan sekitar 120 ribu-an, lagi-lagi saya dan suami saling ngedumel soal rumah makan padang di perjalanan kemarin yang harganya amit-amit, padahal gak enak.

15726294_10154942835974623_6431406531694835740_n
Makan di RM Pongek or Situjuah

Kami keluar dari restoran sudah hampir jam 4 sore, setelah berdiskusi singkat, semua anggota touring sepakat untuk membatalkan kunjungan ke destinasi selanjutnya sebab sudah terlalu sore. Sebagai gantinya kami langsung memutuskan ke “Rumah Pohon Abdul” yang direkomendasikan oleh Tante Wilda untuk memulai acara inisiasi dan perkenalan anggota. “Rumah Pohon Abdul” ini terletak di Jl. Banarung, masih di area ngarai sianok.

Saat kami tiba di pusat kota bukit tinggi, lalu lintas sudah padat dan bahkan macet di beberapa titik terutama di sekitar area jam gadang dan monumen bung hatta. Imbas dari kemacetan tersebut adalah kami (C2) dan dua mobil lainnya (C3 dan C6) terpisah dari rombongan, kami salah saat berbelok, saya pun membuka gogle maps dan malah bingung karena di google maps ada dua tempat berbeda yang menunjukkan rumah pohon ini. Dua kali kami hanya berputar mengitari jam gadang lagi dan lagi, parahnya sinyal hp agak sulit sehingga susah untuk menghubungi tante wilda atau anggota lainnya. Ditambah pula hp saya dan suami habis baterai sementara charger di dalam mobil malah raib entah kemana gegara dimainkan baby B. Akhirnya kami mencoba mengambil arah melalui taman panorama hingga bertemu sungai yang lebar, dari sana om Aan mencoba menghubungi anggota lainnya dan alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Ternyata cafe ini letaknya mirip-mirip cafe daerah dago yang agak nyempil-nyempil.

15780872_10154942799939623_7846716965386655759_n
Rumah Pohon Abdul di lembah ngarai sianok

Sepertinya “Rumah Pohon Abdul” ini merupakan tempat yang lagi happening, terletak di lembah yang dikelilingi tebing ngarai sianok, pemandangannya sangat indah, suasana rasanya syahdu sekali apalagi dari surau di kejauhan terdengar lantunan merdu Ar -Rahman, suatu surat dalam Al-Quran yang isinya mengenai berbagai nikmat yang Allah telah karuniakan, hati rasanya basah sekali.

15726975_10154942799954623_4191748355330808297_n
Rumah Pohon Abdul

Masakan yang disajikan beraneka ragam, ada western, chinese dan lokal, harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran cafe dengan kelas seperti itu. Chicken steak yang saya pesan hanya 28 ribu sementara cap cay semangkok besar hanya 22 ribu, banana split hanya 25 ribu, cukup terjangkau.

Setelah maghrib dilangsungkan acara perkenalan yang dibuka dengan sambutan oleh suami saya yang menjabat sebagai ketuplak (ketua pelaksana), dilanjutkan dengan sambutan Om Aan sebagai penasihat dan Om Goz sebagai RC. Acara semakin seru dengan perkenalan para anggota lainnya. Suami saya pun tersenyum makin lebar karena mendapat “wings” artinya sih katanya kalau dapet wings keanggotaanya lebih prestisius atau apalah, pokoknya naik kelas.

15747772_10154942800164623_5003837891701598986_n
Inisiasi dan perkenalan
15698125_10154942800019623_2613044189131381603_n
Yang dapet wings happy bener

Akhirnya setelah isya kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Sempet bingung nyari laundry karena setelah puter-puter kok ya ga ketemu, akhirnya kami minta tolong titip ke satpam hotel untuk dicarikan laundry kiloan. Ada insiden setelah itu, entah karena kecapekan atau salah makan, si sulung baby G malamnya muntah-muntah sampai dua kali, sampai saya panik, baby G sampai menolak minum susu karena mual dan sepanjang malam tidurnya gelisah, kesian banget.

DAY 6

Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, hari ini kami memutuskan berangkat lebih pagi, pukul 07.30 dari hotel agar destinasi yang sudah dijadwalkan bisa dikunjungi semuanya. Baby G yang masih punya masalah perut malam sebelumnya pun kembali muntah setelah makan nasi 2 suap dan menolak semua makanan yang disodorkan, padahal biasanya makannya banyak, akhirnya pelan-pelan saya suapi roti sambil menemani dia bermain di area playground agar perhatiannya teralihkan. Kontras dengan sang kakak, baby B si penggemar pedas malah lahap banget makannya, padahal biasanya dia susah makan.

Destinasi pertama kami adalah puncak lawang, suatu bukit di mana kita bisa melihat panorama danau maninjau dari ketinggian. Tadinya kita mau turun sampai ke danau maninjau, tapi karena lebih jauh dan harus melewati kelok 44 yang lumayan curam, akhirnya kami memutuskan untuk berpuas diri dengan puncak lawang saja.

Untuk menuju puncak lawang jalannya pun berbelok-belok melintasi bukit dengan banyak kelokan tajam, di kanan kiri banyak penjual jeruk segar, makin ke atas udara makin dingin dengan pemandangan yang spektakuler hingga kami sampai di puncak lawang. Sebelum mendaki view point, kedua baby minta dibelikan air tebu yang banyak dijual di kios-kios dekat situ, air tebunya benar-benar segar dan manis karena dari tebu asli, apalagi ditambah potongan es batu dan perasan jeruk limau.

15781211_10154942790544623_5540974448956376605_n
Nenek penjual es tebu
15823351_10154962877484623_1652862887034657483_n
Lawang Park

Saat mencapai view point mulut hanya bisa berucap ” subhanallah ” sungguh indah ciptaan Allah, danau maninjau yang dilatari pegunungan, menghampar biru indah, sesekali awan berarak melintas, suatu pemandangan negeri di atas awan. Lagi-lagi hati rasanya basah, apalagi saat saya memandang ke bawah di mana saya memperkirakan kediaman buya hamka di tepi danau maninjau, buya hamka sang pahlawan dan ulama yang hebat asal ranah minang.

15823530_10154962877284623_4668206563892994291_n
Danau Maninjau
15780982_10154942790784623_6422376661293352905_n
Puncak Lawang

Hari ini kebetulan bertepatan dengan ulang tahun istri Om Zul, sehingga sang om mengadakan acara tiup lilin dengan kue untuk sang istri dan mentraktir kami semua di cafe kecil yang terletak di puncak lawang tersebut.

Setelah itu kami kembali masuk ke mobil untuk menuju air terjun lembah anai yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari puncak lawang. Sebelumnya kami semua berfoto dulu dengan latar belakang tulisan “puncak lawang” yang terpahat di bukit.

15781089_10154942790804623_3506729558984793690_n
Puncak Lawang

Mendekati lembah anai kami bermaksud mencicipi kuliner terkenal sate padang di Mak Syukur yang katanya paling enak, sayangnya tepat jam 12.00 siang saat kami ke sana di parkiran sudah ada plang yang tertulis “maaf sate sudah habis”, setelah bertanya ke pelayan kami diinfo bahwa sate baru ready lagi jam 3 sore, lah masa iya late lunch lagi ? akhirnya kami menutuskan makan saja di sate saiyo di sebelahnya. Rasanya cukup enak, dan menurut om DK sih yang agak beda cuma di bumbu kuahnya saja (kalau di mak Syukur lebih berasa), dagingnya sih 11-12 lah. Sate saiyo hanya menyajikan menu sate padang saja, tidak ada yang lainnya, harganya 25 ribu/porsi. Untuk makan siang, suami membelikan nasi padang di warung seberang, tapi tetap aja anak-anak terutama Baby G susah makan karena nasinya “pera'”.

15727114_10154938427659623_5271864712828755896_n
Sate padang RM Saiyo

Menuju lembah anai kemacetan mulai terjadi, penyebabnya ya tentu air terjun lembah anai. Air terjun ini letaknya pas banget di sisi jalan raya, jadi mobil-mobil penuh mengular parkir dan bikin macet. Air terjunnya pun ramai sekali dengan pengunjung sehingga membuat kami memutuskan untuk melihat saja tanpa turun. Sebagai daerah yang kebanyakan dipenuhi lembah, wisata air terjun di sumatera barat ini menyenangkan, karena tidak perlu naik turun ratusan tangga seperti di tempat lainnya (misal saja di pulau jawa). Di kiri jalan banyak kolam renang umum yang mata airnya berasal dari air terjun. Monyet-monyet pun masih bebas berkeliaran ditepi jalan tanpa takut pada mobil yang melintas.

15726248_10154942775579623_7856708587769855122_n
Air terjun lembah anai

Dari air terjun lembah anai kami menuju ke malibo anai yang katanya wisata kolam renang besar, tapi begitu sampai kami malah diarahkan petugas ke arah satunya yaitu puncak anai yang katanya dari situ kita bisa melihat kota padang. Tapi boro-boro terlihat, puncak anai menurut saya nggak ada apa-apa, cuma ada kolam dengan air mancur buatan. Tidak butuh waktu lama akhirnya kami semua memutuskan kembali ke mobil dan wisata oleh-oleh saja di Sanjay Nitta yang direkomendasikan Tante Wilda.

15822997_10154945009134623_1602178533349541760_n
Puncak Anai di kawasan Malibo Anai

Btw, saya sempet bingung kenapa setiap toko oleh-oleh penganan selalu diawali dengan kata “sanjay”, ternyata usut punya usut “sanjay” itu merupakan produk kerupuk/keripik berbahan dasar ubi kayu (singkong) yang merupakan icon kuliner ranah minang, keripik balado yang tersohor itu termasuk dalam golongan sanjay.

Sanjay balado ukuran sedang di Nitta dihargai 18 ribu/bungkus, sementara yang besar 45 ribu/bungkus. Selain memborong sanjay balado, saya pun membeli rendang kemasan, rendang telur dan beberapa penganan ala minang lainnya untuk oleh-oleh. Rendangnya hanya seberat 200 g seharga 55 ribu/boks, dan rasanya luar biasa enak (setelah saya cicip di jakarta). Pulang dari sanjay nitta, kami mampir sebentar di KFC untuk membelikan anak-anak makan dan ternyata walau franchise KFC, nasi yang digunakan di sini juga berjenis “pera'”, sepertinya memang selera minang asli berasnya seperti ini ya.

foto-kerupuk-sanjai-nitta-bukittinggi-sumbar
Tumpukan keripik di Sanjay Nitta (sumber : topvisit.net)

Selepas maghrib anak-anak sudah terlelap karena kecapekan, suami saya dan om-om lainnya malah kumpul di kolam renang sambil ngobrol-ngibril. Berhubung perut sudah kelaparan saya pun menyusul (sementara mama mertua memilih tidur menemani cucunya), eh ternyata mereka baru mau mulai pesta durian. Karena dilarang oleh sekuriti untuk membawa durian ke dalam hotel, akhirnya mereka makan di depan pos satpam. Tante Wilda sudah berbaik hati membawakan durian lengkap dengan ketannya, sementara saya? memilih mengungsi duduk dekat mobil kayak anak ilang.

15823064_10154945014514623_7879093305260059264_n
Ketan duren

Puas makan durian, saya dan suami beserta Om Iam berjalan kaki ke deretan tenda kuliner di depan jembatan limpapeh. Om Iam sih merekomendasikan martabak kubang yang penjualnya sepertinya masih keturunan arab, harganya 22 ribu/porsi dengan telor bebek, rasanya tawar (kurang garam) tapi enak terutama setelah dicocol kuahnya. Setelah itu saya mencoba pula es tebak, sejenis es campur dengan cendol, agar-agar dan roti tawar, cuma 8 ribu/gelas besar.

15541484_10154942800449623_307595940207697563_n
Es Tebak
15726299_10154942800434623_2966975611406765921_n
Martabak Kubang

Kami pun berjalan kaki sejenak ke jam gadang yang hanya butuh 10 menit berjalan kaki. Setelah berfoto-foto sebentar, kami berjalan pulang dan mampir di salah satu minimarket. Btw, di ranah minang tidak aka dijumpai chain store seperti Indomart atau Alfa Mart, karena memang dilarang oleh Pemerintah setempat untuk melindungi para pedagang, hebat yah.

15780662_10154942800799623_7306104240393148456_n
Jam Gadang

DAY 7

Hari ini kami dijadwalkan berkunjung ke istana baso pagaruyung yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari bukittinggi.

Nah ceritanya si bungsu (baby B) sekarang punya trik baru, kalau bosan di mobil dia bakal mengeluh sakit perut, bilangnya mau pup (padahal masih pakai popok), sampai setelah tidak enak hati karena terpaksa dua kali minta berhenti kepada seluruh anggota rombongan (giliran turun baby B bilang ga jadi terus nggak mau masuk mobil lagi), akhirnya saya dan suami nyuekin teriakan Baby B tersebut.

Istana Pagaruyung mirip seperti anjungan Sumatera Barat di TMII, tapi tentunya lebih besar dan lebih megah, terdiri atas 3 tingkat yang semuanya bisa dimasuki. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil renovasi setelah sebelumnya pernah terbakar habis. Untuk masuk ke istana dikenakan biaya 8 ribu/orang.

Istana pagaruyung memiliki pelataran luas yang bertingkat-tingkat, di pelataran tersebut banyak badut-badut lucu yang beberapa di antaranya berkostum minang, yang memang tujuannya untuk menarik hati anak-anak. Jangan lupa siapkan tips seikhlasnya kalau mau foto bersama ya.

15895218_10154962902044623_6091384852793405101_n
Istana Baso Pagaruyung

15740913_10154942775554623_482670860502227537_n

Yang paling menarik adalah adanya fasilitas penyewaan baju adat dengan tarif 35 K untuk dewasa dan 30 K untuk anak. Bajunya banyak sekali dengan aneka ukuran, warna dan motif. Saya tentu tertarik dengan warna merah, warna khas minang yang menyala, tapi baby G si pink lovers tentu langsung pilih pink dong, jadinya kita semua ikut. Mama mertua yang tadinya ragu mau pakai atau tidak akhirnya ikutan juga tapi memilih warna hitam.

15726647_10154942769464623_551326467214267759_n
Dengan baju adat

Untuk masuk ke istana kita harus melepas alas kaki dan dititipkan kepada penjaga. Lantai satu merupakan balairung luas yang luar biasa cantik dengan ornamen hiasan emas dan kain-kain cerah berwarna mencolok. Berbeda dengan budaya tanah kelahiran saya (jawa tengah) yang menyukai warna gelap dan kalem, ranah minang memang menyukai warna-warna cerah. Lantai satu tersebut merupakan tempat singgasana raja dan tempat raja menerima tamu. Ada koleksi bantal-bantal duduk, teko – gelas, senjata dan lain-lain.

15781709_10154942769854623_7646852797485137047_n
Lantai satu istana pagaruyung
15740817_10154942770954623_4128264542235224409_n
Lantai satu istana pagaruyung

Kami naik ke lantai dua melalui suatu tangga kayu yang sempit dan curam, agak sedikit sulit karena kami masih memakai baju adat yang disewa tadi. Lantai dua ini lebih kecil ukurannya dibanding lantai satu, dinamakan bangsal paranginan, dahulu kala merupakan tempat tinggal para putri yang masih belum menikah. Lantai tiga merupakan yang terkecil dari semuanya dan dinamakan mahligai, tempat menaruh benda pusaka atau peti harta karun kerajaan.

15697533_10154942770044623_7062779984992289139_n
Di ruang mahligai

Sebenarnya di belakang bangunan utama istana masih ada beberapa bangunan lainnya yang lebih kecil, namun kami sudah puas dengan istana utama dan juga sudah gerah pula dengan baju adat yang kami pakai, sampai bajunya basah.

Kami makan siang di pondok flora yang di plang-nya tertulis “spesial ikan bakar” tapi lagi-lagi makanan tersaji secara “hidang” seperti biasanya, haha. Setelah makan siang kami menuju ke salah satu panti asuhan di daerah bukittinggi untuk acara bakti sosial.

15781414_10154942801314623_7530357890347203826_n
Salah satu program touring : baksos

Selepas itu acara dijadwalkan bebas, saya yang masih penasaran dengan ngarai sianok dengan lobang jepang-nya (walau sudah dibilangin tante wilda kalau ngarai sianok kan sudah dilihat waktu ke rumah pohon abdul kemarin) tetap kekeuh mengajak suami ke sana. Ternyata om Goz, Om Yes dan Om Iam juga ikut bergabung.

Kami parkir di taman panorama di mana kami dapat melihat panorama ngarai sianok dari ketinggian, tarif masuknya 15 ribu/orang. Walaupun indah, tapi menurut saya lembah harau lebih mengagumkan karena lebih sepi dan alami.

15781520_10154942800834623_4297443881464096412_n
Taman Panorama
15822663_10154962905299623_6861407257154916459_n
Ngarai Sianok

Selepas itu kami menuju lobang jepang, gua hasil kerja paksa zaman penjajahan jepang yang digunakan sebagai bunker saat perang, kabarnya juga dulu sempat digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan, okeeeeehhh. Sebelum masuk suami saya memotret peta lobang jepang tersebut agar tidak tersesat dan bisa keluar dari pintu samping yang terletak di sisi lain tebing. Untuk masuk ke lobang jepang dari pintu utama, kita harus menuruni ratusan anak tangga yang cukup curam, nah kalau nggak tahu jalan keluar lewat pintu samping, terpaksa kita harus mendaki kembali ratusan anak tangga kejam ini, ogah bener. Suasana di dalam gelap walau sudah ada beberapa pencahayaan, tapi suasana spooky masih agak terasa. Kami tidak mau berlama-lama di situ dan segera keluar, untuk kembali ke mobil suami saya menumpang ojek. Sebenarnya kami berminat sekali untuk mengunjungi “janjang koto gadang” miniatur great wall ala china yang terletak di ngarai sianok juga, tapi demi melihat medannya yang mesti agak jauh berjalan, kami membatalkan kunjungan tersebut dan langsung kembali ke hotel saja.

15740983_10154942800914623_9079392963498509513_n
Pintu masuk utama
15781444_10154942801209623_4768856380596662524_n
Di dalam Lobang Jepang

Karena masih sore, anak-anak minta berenang di hotel, saya kabulkan dengan janji harus mau makan. Di hotel kami bertemu dengan om DK yang mau belanja oleh-oleh ke Pasar Ateh, menurut dia sanjay merk Singgalang yang dijual di sana rasanya mirip Christine Hakim, jadilah kami nitip 5 bungkus. Dengan baik hatinya, Tante Wilda kembali menghadiahi kami roti durian, roti bantal dengan isi selai durian asli yang enak sekali, sayang masa expired-nya cepat jadi nggak bisa buat oleh-oleh.

15781790_10154942832729623_2530782934472620727_n
Roti isi selai durian

Selepas maghrib kami kembali berjalan ke jam gadang karena anak-anak nagih janji naik bendi yang kebanyakan mangkal di depan jam gadang. Sebelum itu kami kembali melalui rute depan jembatan limpapeh karena malam sebelumnya saya melihat warung tenda masakan khas jawa. Pemiliknya memang keturunan jawa walau logat dan cara bicaranya sudah minang sekali, mungkin sudah generasi kedua ya, sambalnya pedas manis khas jawa, tapi tumis kangkungnya sih pedas dan berwarna merah, mirip masakan minang.

Di depan jam gadang, suami dan kedua anak naik bendi dengan tarif 75 K, sementara saya dan mama mertua memilih duduk-duduk di taman jam gadang. Lebih dari setengah jam durasi naik bendi, ternyata menurut suami saya jalannya cukup jauh, bahkan sampai melewati taman panorama lagi. Taman jam gadang malam itu sangatlah ramai, jam gadang ini merupakan semacam alun-alun dan pusat keramaian , tante wilda juga mewanti-wanti untuk sedikit berhati-hati karena kadang ada tangan jahil berkeliaran. Di depan jam gadang berdiri sebuah mal kecil bernama mal bukittinggi.

15781008_10154945001379623_3490978434070639311_n
Naik bendi
15781618_10154945001179623_5267356287169345806_n
Jam Gadang

Kami berjalan kembali ke hotel dan setelah mengantar anak-anak ke kamar, saya dan suami larut dalam kesibukan mengepak barang dalam koper dan langsung memasukkannya ke dalam mobil agar besok pagi tinggal turun tanpa bawa-bawa barang lagi. Walaupun saya agak sedih karena saya bahkan tidak bisa mengunjungi rumah Bung Hatta yang terletak persis di dekat jam gadang, mencicipi nasi kapau uni Lies di Pasar Ateh ataupun mengunjungi rumah Tan Malaka dan Buya Hamka, namun keseluruhan tour bukittinggi ini menyenangkan bagi saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sekilas mengenai kuliner asli minang, ternyata nasi padang dan lauk pauknya yang asli agak berbeda dengan yang biasa kita santap sehari-hari. Yang asli lebih banyak bumbu, rasanya dominan pedas dan asin serta lebih kering, jarang yang berkuah seperti nasi padang di pulau jawa. Selain itu beras yang digunakan di sini sangat makpyur atau pera’ , bahkan lebih pera’ dibanding beras yang biasa ada di warteg atau pecel lele tenda di pulau jawa. Menurut orang asli sana, memang favorit mereka adalah beras solok yang jenisnya seperti itu, yah lain padang lain belalang. Untuk mengatasi panas dalam setiap sebelum tidur saya rajin mengkonsumsi minuman penurun panas dalam, bisa kacau kalau sampai jatuh sakit.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s