Posted in Bukittinggi, Jambi, Lampung, Muara Bungo, Padang, Palembang, Solok, South Sumatera, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 1 – 4)

Sekitar awal oktober 2016 lalu, suami saya yang lagi getol-getolnya aktif dalam komunitas barunya (suatu klub mobil keluaran amerika) menginformasikan bahwa akhir tahun ada rencana touring ke pulau sumatera dengan tujuan utamanya bukittinggi dan palembang. Saya yang dari dulu memang kepingin banget mengunjungi sumatera barat tentunya langsung mengiyakan, kapan lagi berani ambil jalur darat lintas sumatera kalau nggak ada temennya. Perjalanan panjang yang mengusung tagline “mudik besamoh” ini  berdurasi total 10 hari mulai dari 24 desember – 02 januari, dengan rute merak – bakauheni (lampung) – palembang (sumsel) – muara bungo (jambi) – padang & bukittinggi (sumbar) PP. Sempet agak tidak percaya diri (apakah saya sanggup ya?) setelah membaca itinerary padat terutama durasi perjalanan daratnya yang memakan waktu 10 -11 jam, maklum saya membawa dua balita, untungnya mama mertua saya bersedia ikut sehingga saya lebih tenang. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari dengan cermat, terutama urusan baju, perbekalan dan obat-obatan.

Day 1

Tikum (titik kumpul) dijadwalkan pukul 20.00 WIB di KM 42 Tol Merak. Kami berangkat lepas maghrib dari kediaman kami di kawasan cibubur, mungkin karena sudah mau libur (malam natal red), kondisi jalan tol terbilang lancar untuk ukuran jam pulang kantor yang biasanya macet nggak karuan. Hanya butuh waktu dua jam, pukul 20.00 lewat kami sudah sampai di tikum. Di tikum sudah ada beberapa anggota touring yang datang, kami pun berkenalan dengan anggota yang lainnya, total ada 7 mobil yang bergabung dalam touring kali ini. Touring dipimpin oleh seorang RC (Road Captain) yang tugasnya membuka jalan dan memimpin konvoi, diikuti oleh mobil lainnya yang diberi kode C (Charlie) dan ditutup oleh Sweeper yang bertugas mengawal. Mobil kami mendapat kode C2, setiap mobil harus dilengkapi dengan HT untuk keperluan komunikasi, bahkan beberapa anggota yang lebih senior sudah melengkapi mobilnya dengan “RIG” yang jangkauannya lebih luas dibanding HT.

Suami saya adalah yang termuda, baik dari segi umur maupun dari segi masuk klub (haha) tapi saya baru ngeh saat di jalan kalau kali ini dia sudah didapuk jadi ketuplak (ketua pelaksana), pantesan dari kemarin sibuk bener. RC dijabat oleh Om Gos, C1 oleh Om Yes, C2 oleh kami (suami saya disebut om Rob), C3 oleh Om Aan, C4 oleh Om Oke, C5 oleh Om DK dan Sweeper oleh Om Iam, jangan heran ya dengan sebutan om, di sini semuanya memang dipanggil om sementara para istrinya disebut tante. Selain keluarga kami, ternyata keluarga Om DK dan Om Iam juga membawa balita yang kira-kira seumuran.

Rest Area KM 42 menyediakan loket yang menjual tiket penyebrangan merak – bakauheni, harganya Rp. 320.000,- untuk kendaraan roda empat, sementara penumpangnya tidak dihitung. Menurut Om Yes lebih baik kami membeli tiket di sini saja sebab nanti di Merak ada jalur khusus untuk yang sudah membeli tiket di KM 42, jadi kami tidak harus antri dengan mobil yang lainnya, toh harganya juga sama.

Kami baru berangkat dari tikum pukul 22.00 dan langsung menuju pelabuhan merak untuk menyebrang ke bakauhaeni. Karena sudah musim libur, antrian naik ke kapal cukup ramai, hingga rombongan kami terpaksa pisah kapal, Om Aan naik pertama, 5 lainnya naik kapal kedua (termasuk kami), sementara Om Oke malah ketinggalan dan harus naik kapal berikut. Interval kapal satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20 menit. Jam 24.00 kami naik ke kapal. Sesuai saran petugas kapal, kami yang membawa dua balita ini pergi ke ruang AC lesehan, tarif masuknya Rp. 14.000,-/orang (balita belum bayar). Ruangan penuh sesak dengan penumpang sehingga AC-nya boro-boro terasa, kedua balita saya pun gelisah apalagi goncangan ombak lumayan kencang sampai Baby B (yang kecil) nangis dan akhirnya saya terpaksa keluar ke dek. Angin sangat kencang di luar tapi goncangan tidak begitu terasa seperti di dalam, mungkin karena kita bisa melihat pemandangan di luar, baby B pun memilih di luar dan saya tutupi selimut hingga jatuh tertidur. Setelah 3 jam kapal pun merapat di Bakauheni dan kami pun kembali ke mobil.

Sambil menunggu kapal Om Oke kami lineup di dekat menara siger, sayangnya pencahayaan menaranya kurang sehingga saya nggak bisa mengambil foto icon lampung tersebut. Setelah Om Oke datang kami menuju ke suatu rest area luas dengan pom bensin, rumah makan simpang raya dan hotel krakatau di dalamnya, kami beristirahat singkat di dalam mobil sebelum melanjutkan perjalanan.

e17933cb4f4ee5aaf537b15d7bedfff5
menara siger (sumber : pinterest.com)

DAY 2

Tepat pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil rute lintas timur, menurut google map diperkirakan waktu tempu sekitar 10 – 11 jam. Kami agak kesulitan mencari restoran untuk makan pagi karena rata-rata belum buka, akhirnya kami berhenti di salah satu restoran padang yang masakannya sangat standar dengan rasa yang tidak usah dibahas, yang penting udah makan. Total harga yang dibayar hanya Rp. 40.000,- untuk 3 porsi nasi dan 2 ayam goreng, standar lah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga melewati Taman Nasional Way Kambas yang terkenal dengan Gajah Lampung-nya dan juga melewati entah berapa ribuan hektar perkebunan tebu milik Gulaku yang sangat indah bagaikan bukit teletubbies. Lintas timur Sumatera ini tak ubahnya Pantura, penuh dengan truk-truk segede gaban, dan diperparah dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang parah di beberapa tempat.

Asiknya touring adalah kita ga usah sering-sering buka google maps atau waze, arahnya sudah dibuka oleh sang RC. Selain itu juga ada koordinasi apabila kita mau menyalip kendaraan di depan kita. Nah, berhubung suami saya newcomer, jadi peralatan ht yang dibawa standar (banget), yang baru setengah hari udah habis baterainya juga tidak dilengkapi mikrofon, sehingga agak menyulitkan. Untungnya om-om yang lain berbaik hati, ada yang minjemin charger selama di mobil juga mikrofon.

Kami saja baru bisa late lunch (jam 15.00-an) di RM Pagi Sore, rumah makan ini banyak cabangnya, bahkan di jakarta juga ada. Walau menyajikan masakan padang tapi rasanya sudah agak “campur” dengan jawa melayu, soalnya restoran padang ini asalnya dari sumsel. Untuk 3 dewasa 2 balita harga yang dibayarkan sekitar 200 – 250 ribuan. Wajarlah karena konsep rumah makannya seperti sederhana atau simpang raya.

Kami baru tiba di Fave Hotel Palembang sekitar pukul 21.30 -an. Urusan booking hotel dan check in hotel di Palembang menjadi tugas suami saya, karena Fave Hotel Palembang merupakan proyek suami saya 2014 silam, lumayan dikasih diskon sama General managernya.

Kamar yang kami tempati bertipe superior (baru kali ini, biasanya saya pakai yang standar) dengan tambahan extra bed, sudah termasuk breakfast. Karena sudah didiskon jadi kami hanya membayar 585 ribu saja. Kamarnya luas dan ada ruangan kecil untuk gudang juga.

Karena sudah tepar dan juga kurang tidur, kami semua langsung terlelap tidak lama setelah masuk ke kamar.

y928828011
Fave Hotel Palembang (sumber :pegipegi.com)

DAY 3

Hari ketiga ini kami harus berangkat pagi-pagi sekali (pukul 06.30 dari hotel) karena perjalanan palembang – muara bungo bahkan lebih jauh lagi, menurut google maps sekitar 11 jam 45 menit. Suami saya sudah berkoordinasi ke pihak hotel agar sarapan bisa disiapkan lebih awal, pukul 05.30 buffet (nasi dan lauk pauk) dan aneka roti sudah tersaji walau menu lain yang tambahan seperti mie ayam atau lontong sayur belum lengkap. Setelah sarapan di hotel kami berangkat ke Muara Bungo. Kondisi jalan di Sumatera Selatan luar kota Palembang bahkan lebih parah lagi dibandingkan saat kami berangkat kemarin. Jalanan penuh lubang dalam, apalagi dengan deretan truk-truk tronton yang tidak putus-putus, sekali ada lubang antrian bisa panjang.

Lagi-lagi kami late lunch di suatu rumah makan padang yang harganya amit-amit, masa cuma makan 3 porsi pake ikan lele dan ayam harganya sampe 180 ribu-an, mentang-mentang plat kami B (Jakarta) ini sih, mana rasanya juga random pula. Jalan masih rusak hingga perbatasan Sumsel dan Jambi, tapi alhamdulillah truk-truk kebanyakan menuju Jambi, sementara kami mengambil jalan pintas ke arah Muara Bulian. Jalanan relatif sepi dan walau di beberapa tempat berlubang tapi begitu masuk Muara Bulian sudah mulus. Kami melintasi jalan yang berbatasan langsung dengan sungai batanghari yang seakan tidak ada putus-putusnya. Belajar dari pengalaman kemarin, tadi siang kami sudah bungkus makanan untuk anak-anak, kalau yang dewasa mah gampanglah makan telat juga. Saya sih sudah pasrah kalau malam ini kayaknya saya lebih memilih nggak makan malam (mending tidur saking udah capeknya), eh ternyata pas lagi berhenti di salah satu SPBU ada gerobak sate padang, walau dagingnya pakai ayam tapi rasanya enak banget, harganya juga cuma 10 ribu sudah termasuk lontong . Karena dex atau dexlite termasuk langka, maka terpaksa kami mengisi bahan bakar dengan bio solar.

Hampir pukul 11 malam barulah kami sampai di Hotel Permata di kota Muara Bungo. Tenyata memang perjalanan jauh lebih panjang dari hari sebelumnya.

DAY 4

Karena sudah diforsir perjalanan jauh 2 hari sebelumnya, hari ini kami berangkat agak siang, jarak muara bungo – padang hanya sekitar 6 jam. Hotel Permata yang kami tempati ini hanyalah hotel biasa dengan AC dan TV saja, tidak ada fasilitas lainnya bahkan sarapan pun juga tidak disediakan.

15726842_10154942814504623_7771004507819863459_n
Hotel Permata – Muara Bungo

Pukul 08.00 kami keluar dari hotel dan mampir sebentar di warung makan kecil dekat hotel untuk sarapan pagi, masakannya khas padang, nasi uduk dan lontong sayur yang rasanya pedes-pedes enak, harganya juga cuma 8 ribu/porsi. Setelah kenyang kami berangkat. Muara Bungo ternyata kota yang cukup besar dengan jalan-jalan yang lebar dan tertata rapi, bahkan ada lapangan udaranya juga .

15697301_10154930388044623_7960340279277830175_n
Lontong sayur ala padang

Kami melewati rute Sawah Lunto dan Solok untuk menuju ke Padang. Memasuki wilayah Sumatera barat jalan mulai berliku-liku naik turun dengan kelokan tajam, untungnya sangat mulus. Di kanan-kiri bangunan-bangunan bergaya gadang berjajar, mulai dari rumah hingga gedung perkantoran.

Di Sawah Lunto, para anggota rombongan yang pada hobi banget sama si buah berduri memutuskan berhenti dulu untuk icip-icip durian. Harganya murah banget pula, cuma sekitar 10 – 20 ribu, suami saya memilih durian ukuran agak besar yang cuma 17 ribu (kalau di jakarta mungkin 60 ribuan) dan hampir semuanya dimakan sendiri (secara saya mah ogah banget sama durian, anak-anak juga, sementara mama mertua takut kolesterol jadi cuma berani cicip 1 -2 butir saja).

15672755_10154942814564623_1339845111287360004_n
Duren..duren cuma 10 ribu aja

Setelah itu karena sudah kelaparan kami berhenti di deretan rumah makan yang kebanyakan menjual sop daging dan soto padang (walaupun om Oke yang asli Solok menyarankan makan di Solok saja karena ada rekomendasi kuliner enak). Soto padang itu isinya bihun dan potongan dendeng kering yang dipotong kecil-kecil disajikan lengkap dengan kerupuk merah padang, porsinya kecil seperti soto kudus, mungkin karena masakan restorannya yang kurang enak, saya menganggap soto padang biasa saja. Di restoran suami saya dengan om-om yang lainnya kembali berdiskusi soal destinasi di padang, menurut iten rencana harusnya mampir di pantai muaro padang, tapi beberapa anggota rombongan termasuk suami berpendapat lebih baik ke Pantai Air Manis saja yang terkenal dengan Legenda Malin Kundang, toh hanya setengah jam dari kota Padang, akhirnya semua setuju.

soto-padang
Soto padang

Setelah itu kami berhenti sebentar di tugu patung ayam kota Arosuka sambil menunggu Om DK yang isi bensin. Ternyata di sekitar situ sedang ada rombongan pengantin lengkap dengan pemain musiknya yang memainkan musik ala sumatera barat, seru banget bisa melihat iring-iringan yang seperti ini. Tidak jauh dari patung ayam ada restoran “Kayu Aro” yang sangat direkomendasikan oleh Om Oke dan sangat terkenal dengan kuliner khas Solok “dendeng batokok”.  Kami hanya mampir untuk pinjem toilet di restoran tersebut, tanpa disangka Om Oke dengan baik hatinya memberi masing-masing dari anggota rombongan bungkusan dendeng batokok.

12507367_742186895917243_2511814798417314209_n_zpswpwfyy7v
Tugu Ayam Arosuka (sumber:cityskycraper.com)
15697773_10154942775739623_7306767659802463878_n
Pengantin Padang
15726714_10154942775664623_1660315424633728751_n
Rombongan Pemain Musik
15781374_10154952356144623_9189243507033719040_n
Dendeng Batokok ala Solok

Tidak lama kami tiba di kota Padang yang tidak ubahnya seperti Jakarta, macet dan padat. Selepas itu kami harus melewati sebuah bukit dulu, di beberapa titik kelokan sangat tajam dan berbahaya, bahkan harus gantian dengan jalur lainnya terutama untuk truk-truk tronton. Setelah itu dengan dipandu Om Oke kami melewati jalan pintas yang ternyata sempit banget seperti gang-gang. Jalanan menuju Pantai Air Manis pun kembali melewati bukit kecil lagi dengan jalan yang hanya mepet kalau berpapasan.

Untuk menuju batu si malin kundang, masuklah lewat gerbang kedua yang terletak sekitar 400 m dari gerbang pertama. Tarif masuknya 5 ribu/orang. Di pantai air manis sudah menunggu Om Zul yang asli padang dan akan bergabung dengan kami hingga ke Bukittinggi.

Saya agak kecewa melihat penampakan pantai air manis yang kotor dengan timbunan sampah, pasirnya berwarna hitam dan sudah tergerus, jadi nggak ada perkara main pasir bagi anak-anak. Batu si malin kundang terletak sekitar 25 m-an dari pantai dengan ornamen seperti sisa-sisa kapal dan tambang seperti dalam kisah legenda, di legenda diceritakan malin yang baru mengadakan pesta di kapal layar dikutuk oleh ibunya karena durhaka. Saya sampai bertanya pada Om Oke apa sudah seperti ini sejak dahulu, tapi menurut Om Oke ornamen kapalnya mah buatan, batu si malin kundang pun sudah sedikit ditambahkan sehingga berbentuk mirip orang bersimpuh, aslinya gak sejelas itu.

15740928_10154942809209623_3635549183762292647_n
Batu si malin kundang
15726916_10154942809569623_5391858665117436130_n
Pantai Air Manis

Setelah hari gelap, kami kembali meneruskan perjalanan ke Bukit tinggi, menembus lagi kemacetan kota padang. Kami pun melewati pantai muaro padang yang ramai dengan tenda-tenda kuliner dan juga toko oleh-oleh Christine Hakim yang terkenal dan digadang-gadang sebagai merk keripik sanjay terenak di sumatera barat. Tadinya saya pikir pemiliknya Christine Hakim yang artis itu, ternyata hanya namanya saja yang sama, Christine Hakim yang ini keturunan Tionghoa Padang.

Rute menuju Bukittinggi dari Padang melewati Air terjun lembah Anai yang posisinya persis di pinggir jalan, sampai saya kaget demi melihat suara grojogan air terjun yang sangat deras persis di luar kaca jendela mobil saya. Di bukit tinggi kami menginap di Grand Rocky Hotel yang sudah diatur oleh Tante Wilda, anggota rombongan asli Bukit tinggi yang sudah menunggu di hotel. Sudah larut malam kami tiba, hampir pukul 23.00, maka bisa ditebak begitu masuk kamar bawaannya pingin tidur, tapi sang suami yang kelaparan memutuskan beli makanan dulu ke luar, untunglah masih ada warung pecel lele yang buka.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s