Posted in Indonesia, Jakarta, Kep. Seribu, Pulau Pari

Family Gathering at Pari Island

Kantor suami saya rutin mengadakan acara family gathering, kali ini tujuannya adalah pulau pari, salah satu pulau populer yang letaknya di gugus kepulauan seribu, masih dalam wilayah jakarta.Karena merupakan acara family gathering, maka sudah tentu kantor suami menggunakan operator tour yang berkoordinasi dengan para panitia, panitia dibentuk dari karyawan-karyawan kantor yang masih muda dan yang terpenting … single (dalam artian belum berkeluarga, bukan ga punya pacar lho ya).

Banyak operator tour yang menawarkan jasa wisata ke pulau pari dengan biaya yang terjangkau, biasanya untuk wisata 2D1N harganya sekitar 350 K/orang, sudah lengkap termasuk ongkos ferry kaliadem-pulau pari pp, homestay, makan dan sewa sepeda, makin banyak jumlah orang yang ikut makin murah harganya. Pergi sendiri tanpa operator juga sih bisa, namun menurut saya yang mungkin sulit adalah menemukan homestay, apalagi di musim libur biasanya sudah pada di-booking, solusinya ya bawa tenda terus camping di lokasi yang diizinkan.

Sebelumnya saya sudah pernah ikutan open trip ke pulau tidung, yang juga merupakan salah satu pulau di kepulauan seribu, jadi sudah punya bayangan kira-kira nanti seperti apa, termasuk perlengkapan apa saja yang mesti dibawa, maklum kali ini ngajak kedua anak juga ibu mertua dan si mbak.

Adik saya dan istrinya juga ikut ketiban rezeki, malam sebelum berangkat sekitar jam 21.00-an, pihak panitia melalui grup WA mengabarkan bahwa ada 2 orang yang mendadak batal ikut karena kondisi kesehatan, toh juga paket sudah dibayar, daripada gak kepake, panitia menawarkan kepada rombongan siapa tau ada keluarga yang mau ikut. Suami pun menyambar tawaran tersebut dan mengajak adik saya, alhamdulillah, makasih ya panitia dan pak direktur kantor.

DAY 1

Pagi-pagi jam 05.00 kami sudah berangkat menuju dermaga kaliadem di muara angke dengan menggunakan taxi, bisa juga membawa kendaraan sendiri kemudian parkir inap di lokasi dermaga, namun saya agak khawatir faktor keamanannya sehingga memilih menggunakan taxi saja. Sekarang semua penyebrangan menuju ke pulau seribu berangkat dari dermaga kaliadem, tidak melalui samping pom bensin di dalam pasar ikan muara angke. Tapi tetap saja karena jalurnya sama, kemacetan di pagi hari tidak terhindarkan, terutama di jembatan depan pasar muara angke. Jalur yang menyempit, lalu lalang aneka kendaraan baik yang beroda empat,roda dua, gerobak bahkan becak, hiruk pikuk aktivitas pasar bahkan banjir merupakan penyebab kemacetan. Baunya ?? jangan ditanya ya, campuran amis ikan, air hitam kotor dan sampah, siapkan masker kalau nggak tahan.

PR buat pemerintah daerah jakarta, sebaiknya dibuatkan jalan khusus menuju dermaga yang terpisah dari pasar ikan, mengingat kepulauan seribu merupakan alternatif wisata potensial yang dekat dari jakarta, sehingga diperlukan akses yang lebih nyaman, semoga di kemudian hari bisa ada perbaikan, amin.

Jam 06.30-an kami sampai dan langsung berkumpul dengan rombongan kantor yang sudah datang, kami dipandu oleh petugas tour dan panitia menuju kapal penyebrangan. Kapal kami bernama “Diamond”, berupa kapal kayu sederhana non AC dua tingkat yang sudah digerakkan tenaga mesin, dek bawah dilengkapi dengan kursi bersandaran namun agak pengap, sementara dek atas berupa duduk di lantai alias lesehan. Kami tentunya memilih duduk di dek atas yang banyak anginnya. Masih cukup lama kami menunggu hingga kapal berangkat, sambil menunggu, panitia membagikan paket kfc untuk makan pagi dan snack.Dari tiket yang dibagikan, tertera ongkos naik ferry adalah 40K/orang.

15327469_10154879348124623_6042373370258113295_n
Dermaga Kaliadem-Angke
15355837_10154879348464623_3457789070763968044_n
Di dek atas kapal

Tepat pukul 08.00 kapal baru berangkat (padahal menurut jadwal harusnya jam 07.00), perairan jakarta yang hitam pekat berangsur-angsur menjadi biru, diselingi dengan pemandangan keramba dan perahu nelayan yang melintas. Sekitar setengah jam kemudian kami melewati trio pulau kelor-cipir-onrust (yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya), angin sepoi-sepoi membuat mata mengantuk, durasi perjalanan selama dua jam banyak dihabiskan untuk tidur atau bengong (ya habis kalo ngobrol juga gak kedengeran,karena anginnya cukup kencang).

Pukul 10.00 kami merapat di dermaga pulau pari, matahari sudah mulai naik sehingga udara cukup panas khas pulau. Dari dermaga kami dipandu oleh petugas tour menuju homestay induk dulu untuk kemudian dibagi homestay masing-masing, nah begitu melihat puluhan sepeda ontel berjajar, saya sebagai emak-emak yang kebanyakan gaya, langsung memilih sepeda ontel berukuran kecil dengan boncengan dan nggowes sambil membonceng putri kecil saya (baby G). Bisa ditebak, begitu saya kembali ke rumah tersebut, rombongan sudah bubar padahal saya gak tau dimana letak homestay saya, haha. Untung ketemu rombongan panitia yang menunjukkan letaknya. Saya langsung mendapati baby B yang malah udah main ayunan di pinggir pantai depan homestay bersama si mbak.

15380355_10154879350459623_2628140623240867097_n
Dermaga Pulau Pari
15319259_10154879361514623_3577421453002473307_n
Baby B and baby G yang asik main ayunan depan homestay

Untuk akomodasi, pulau pari memang tidak memiliki hotel, hanya homestay yang umumnya merupakan rumah penduduk yang sudah dirombak (biasanya ditambah AC dan sekat dihilangkan) dan disewakan. Karena merupakan rumah penduduk, homestay tidak harus berderetan atau bersebelahan, apalagi karena kali ini merupakan family gathering, pihak panitia harus memastikan kondisi homestay nyaman, terutama untuk jajaran direksi, makanya lokasi homestay rombongan agak acak, walau tidak terlalu jauh sih (masih bisa jalan kaki). Beruntung kami mendapatkan homestay tepat di pinggir pantai dengan lokasi yang tidak jauh dari dermaga dan warung bakso (dan aneka jajanan) di samping kami, homestay kami juga dijadikan “meeting point” bagi rombongan.

Homestay-nya cukup nyaman dengan dua kamar tidur yang masing-masing dilengkapi dengan matras empuk ukuran double, selain itu ruangan tengahnya (di mana terdapat TV) juga diberi dua matras. Homestay juga dilengkapi dengan dua kamar mandi bersih, dispenser dan AC yang dingin.

Baru aja duduk leyeh-leyeh, dua bayi yang gak mau diem langsung rewel minta naik sepeda dan main di pantai. Saya pun mengajak suami saya, yang masing-masing nggowes dengan membonceng satu anak. Kami mengayuh melewati jalanan ber-paving block dengan deretan rumah penduduk di kanan kirinya, hingga melewati “pantai kresek” (kami nggak masuk sih, tarifnya 2K/orang) dan terus ke ujung hingga jalanan bercabang : kiri ke “star beach”, lurus ke LIPI. Kami memilih belok ke kiri menuju star beach, pantainya lumayan dengan pasir putih, namun tidak terlalu luas, untuk masuk dikenakan biaya 2,5K/orang (saya yang cuma bawa duit 5000 perak, minta ke mbak-mbak penjaga biar baby-baby ga bayar, untung dikasih, hehe). Ada patung berbentuk karang warna hitam dengan tulisan “star beach” dan patung bintang laut yang bagus buat difoto. Disediakan pula sejumlah ayunan dan saung-saung, kedua babies pun langsung antusias naik ayunan dan minta berenang, padahal panasnya lagi “nyentrong bener”. Setelah membujuk mereka dengan hanya boleh celup kaki saja di laut, kami kembali ke homestay untuk makan siang.

15380462_10154879362834623_1249549891787164539_n
Sepeda ontel
15337458_10154879362499623_6456144340534037930_n
Star beach
15442280_10154879362889623_9156239811947939285_n
Star beach

Tidak lama, datanglah menu super spektakuler berupa kepiting segar dengan ukuran besar satu nampan penuh dan es kelapa dalam batok kelapa yang enak banget. Puas menyeruput segarnya es kelapa, kami menunggu makan siang kami yang ternyata…lama bener..akhirnya karena kelaparan kami makan kepiting tersebut sampai ludes. Kepitingnya hanya direbus dan diberi garam tanpa bumbu apapun, hanya dilengkapi dengan sambal botol. Agak lama kami menunggu, karena seharusnya makan siang dihidangkan pukul 12.00, mau jajan bakso di sebelah takut makanannya banyak, akhirnya kami terus menunggu hingga baru jam 13.oo makanan datang (untungnya masih ada sisa KFC tadi pagi untuk nyuapin anak-anak). Agak antiklimaks sih sehabis kepiting mewah tadi, makan siangnya berupa sayur asam, ayam goreng, tempe goreng dan sambal yang langsung kami sikat karena sudah kelaparan. Pihak operator tur beralasan bahwa karena letak homestaynya jauh-jauhan sehingga pengiriman jadi memakan waktu, yayayaya.

15391240_10154881862084623_9169292277289958715_n
the super crab

Setelah makan, semua anggota rombongan berkumpul di depan homestay kami untuk kegiatan snorkeling. Sementara yang tidak ikutan snorkeling, akan melakukan tur wisata mangrove dengan perahu. Dari keluarga kami hanya saya, suami dan adik yang snorkeling, sisanya ikutan tur mangrove. Karena makan siang ngaret, berimbas ke kegiatan yang juga ngaret, jam 14.00 lewat kami baru menaiki perahu kayu untuk snorkeling.

Harusnya ada tiga spot snorkeling : APL, Pulau Tikus dan Bintang Rama, tapi karena kami telat hanya ada satu spot yang berhasil disambangi, itu juga saya gak tau namanya. Karena saya sudah pernah ke tidung, saya pun tahu jangan berharap banyak dari snorkeling di wilayah kepulauan seribu. Karena letaknya yang tidak jauh dari perairan jakarta menyebabkan viskositasnya keruh dan biota laut termasuk ikan-ikan dan terumbu karang banyak yang mati, jangan heran kalau snorkeling di sini yang ditemui adalah pemandangan terumbu karang yang sudah mati dan ikan-ikannya susah dicari, adapun paling ikan kecil.

15442269_10154879349554623_7160445759997012271_n15420959_10154879348534623_3539291888008617653_n

Ombaknya cukup kuat saat kami snorkeling, sehingga 1-2 x saya sempet nelan air laut (padahal biasanya nggak) apalagi google saya agak kurang pas, akhirnya saya malah berenang-renang dibanding snorkeling, toh juga pemandangannya pas saya intip juga kurang bagus.

Selesai snorkeling saya langsung kembali ke homestay untuk mandi, ternyata rombongan mangrove juga belum lama tiba, adik ipar saya bercerita bahwa tur mangrove dimulai dari pantai pasir perawan yang bagus banget, apalagi ada pulau-pulau kecil di sekitarnya yang saat surut bisa dilalui karena hanya semata kaki, bahkan anak-anak saya bolak balik nyebrang sambil main air.

Setelah leyeh-leyeh sebentar, saya beserta suami dan dua babies menuju ke patai barat LIPI untuk berburu sunset. Pantai barat LIPI terletak di dalam area LIPI yang juga difungsikan selain sebagai balai penelitian juga menyediakan penginapan. Spot pantainya sih tidak terlalu bagus, banyak pohon besar-besar dan terjal juga sempit areanya sehingga untuk melihat sunset agak berdesakan, namun dari tempat ini matahari tampak jelas bulat utuh keemasan saat terbenam, cantik sekali.

15401164_10154879363009623_710441798752259790_n
Pantai Barat LIPI
15380611_10154879363074623_8633901551953630429_n
Sunset on LIP west beach

Selepas sunset kami kembali ke penginapan untuk shalat dan selanjutnya menuju ke pantai pasir perawan untuk makan malam. Warung-warung makan yang cukup besar banyak terdapat di pantai perawan, itulah mengapa makan malam yang sekaligus acara gathering dilaksanakan di sini. Saat kami ke sini, ada juga beberapa rombongan kantor yang sepertinya juga melakukan acara gathering seperti kami.

Lagi-lagi pihak operator tour lalai mempersiapkan acara, saat rombongan kami datang tidak ada personil dari operator yang menunggu sehingga panitia harus mengontak lewat HT warung mana yang sudah dibooking untuk rombongan kami, pun kami harus menunggu lagi sekitar 10-15 menit hingga makanan rapi terhidang di meja prasmanan. Menu yang disajikan sayur sop, ayam bumbu, ikan kembung balado, tahu goreng dan udang rebus. Selepas makan, pihak panitia dan rombongan kembali dikecewakan karena masalah sound system, operator tour tidak mengkoordinasi dengan baik sehingga sound system yang akan kami gunakan belum siap, yang sudah siap mangkal di warung malah bukan pesanan kami, dipakai pun tidak boleh. Padahal acara gathering merupakan acara puncak, di mana karyawan dan anggota keluarga akan saling berkenalan dan silaturahmi. Hingga menjelang pukul 20.00 sound system masih belum beres, sehingga pihak panitia mencari akal dengan terpaksa menggunakan peralatan seadanya yaitu TOA untuk gathering, untunglah sang direktur kantor suami orangnya sabar dan “entengan” , tidak gampang komplain dan marah-marah. Karena terbatasnya waktu (sudah kemalaman) acara gathering hanya berupa sambutan dari direktur dan perkenalan dengan anggota baru di kantor saja ditutup dengan door prize. Saat acara sudah mau selesai (saat pembagian door prize) barulah sound system datang, tentu pihak panitia sudah “ogah” dan menolak karena acara toh sudah selesai.

Selepas pukul 21.00 ada acara BBQ yang hanya dihadiri sekitar 1/3 anggota rombongan (yang sisanya sudah kembali ke homestay karena ngantuk termasuk anak-anak saya) sehingga porsi BBQ jadi melimpah ruah. Ada jagung, sosis, bakso, ikan dan cumi yang dibakar kecap. Satu hal yang saya perhatikan, masakan di sini hanya selalu dibumbui garam, asumsi saya entah orang di sini yang seleranya seperti itu atau karena harga bumbu dapur dan rempah di pulau mahal, saya cenderung kepada asumsi kedua sih. Setelah mata mengantuk dan perut kenyang, saya dan suami kembali ke homestay.

DAY 2

Untunglah anak-anak saya memang sudah biasa bangun saat shubuh, jadi tanpa dipaksa pun saat shubuh mereka sudah bangun. Angin bertiup kencang pagi itu, dengan mengayuh sepeda kami menuju bukit matahari yang letaknya persis di samping dermaga untuk mencari sunrise. Walaupun dinamakan bukit sebenarnya gak ada bukitnya, hanya posisinya agak sedikit menanjak saja. Sayangnya pagi itu sedang berawan sehingga sunrise pun tidaklah nampak.

15391209_10154879365159623_6242391155071495393_n
Bukit matahari

Kami kembali ke homestay untuk mengambil perlengkapan berenang, karena semalam sudah dikomplain habis-habisan oleh panitia, pihak operator tour sudah berkeliling ke sana kemari untuk memberi info bahwa makan pagi sudah siap dihidangkan di restoran semalam.

Karena saya mengunjungi pantai pasir perawan semalam di mana keadaan sudah gelap, maka saya tidak bisa melihat indahnya pemandangan yang diceritakan adik ipar saya. Saat pagi ini datang saya baru takjub melihat hamparan pasir putih yang bersih dengan pulau-pulau kecil di seberangnya. Kami disambut oleh patung ikan pari dengan keterangan pulau pari di belakangnya.

15390644_10154879363774623_724544671030780117_n
Pantai pasir perawan

Setelah sarapan, saya bermaksud menyebrang ke pulau kecil di seberang. Pagi itu air pasang sehingga ketinggian air mencapai sekitar dada, saya malah makin seneng dong, berasa kayak kolam renang. Saung-saung dan tempat duduk yang terletak sekitar pulau memunculkan pemandangan cantik tersendiri sehingga saat pasang begini seolah terendam air, sementara hutan mangrove di latar belakang menambah cantik pemandangan. Disewakan juga kano atau perahu untuk mengarungi sekitar pantai dengan tarif sekitar 50K/perahu. Cuaca hari itu cukup mendung, setelah mengikuti beberapa perlombaan anak-anak yang diadakan oleh para panitia, saya mengajak baby G menyebrang ke pulau sekitar dengan berjalan kaki. Tentunya saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto dengan berbagai macam latar (teteup yah), setelah itu baby G anteng main pasir di tengah pulau, sementara emaknya ini asyik berenang di lepas pantai sampai akhirnya sang suami memanggil untuk udahan.

15350607_10154879350424623_1887110022719996742_n
Pantai pasir perawan dan pulau-pulau kecil diseberangnya
15442325_10154879349934623_7679987350978834778_n
Children race

Kami kembali ke homestay untuk mandi dan packing. Ada sedikit “insiden” di mana pemilik homestay meminta kami untuk check out pukul 09.00 karena jam 10.00 sudah ada rombongan lain yang akan masuk (maklum, kemarin itu liburan 3 hari). Lha kami tentu gak mau tau, secara menurut iten yang tertera jam 10.00 kami baru check out dan kumpul, sekali lagi terlihat pihak operator tour yang kurang cakap dalam berkoordinasi.

Beres packing, saya mengajak suami untuk jajan cilung dan otak-otak di dermaga, cilungnya agak beda dengan yang di jakarta di mana di sini memakai bihun sebagai campuran, sementara otak-otaknya walau enak tapi harganya 2.5K/buah dengan ukuran geli-geli doang. Di dermaga banyak yang menjual oleh-oleh khas pulau pari seperti keripik atau dodol rumput laut. Hujan turun saat kami menunggu rombongan lain di meeting point, syukurlah tak lama kemudian cuaca cerah, mengantarkan kapal yang baru berlabuh dari jakarta.

Jam 10.00 rombongan kami menuju dermaga dan sekali lagi dibuat bingung kapal apa yang akan dinaiki, secara tidak ada satupun pihak operator tour yang menunggu di dermaga. Sesaat kemudian barulah pihak panitia mendapatkan kepastian (lewat HT) bahwa kami kembali menaiki kapal diamond yang bagian dek atasnya sudah penuh sesak, sehingga kami terpaksa duduk di dek bawah. Dek bawah saat siang hari panasnya minta ampun, angin pun seperti bersekongkol tidak mau bertiup, panas dan pengap, untung anak-anak saya malah tidur walau gelisah. Dua jam kemudian akhirnya sampailah kami di dermaga kaliadem, syukurlah ada go-car yang menjawab panggilan kami, sehingga kemudian kami dapat duduk nyaman dalam mobil ber-AC.

Lesson to Learnt :

Memilih pihak operator tour memang harus sangat jeli, bahkan kalau diperlukan kita harus sangat bawel memperhatikan setiap detil saat persiapan. Dibandingkan dengan operator open trip yang pernah memandu saya ke tidung, operator ke pari ini terlihat kurang koordinasi. Berbagai permasalahan terjadi seperti homestay yang denahnya tidak sesuai rencana, jadwal makan dan kegiatan yang ngaret, menu yang tidak sesuai pesanan, personil tour yang tidak siaga hingga ke masalah sound system. Waktu ke tidung operatornya sangatlah rapi dan jadwalnya nggak pernah ngaret, padahal programnya open trip di mana peserta tidak mengenal satu sama lain. Jadi kasihan melihat panitia dari kantor yang harus pontang-panting untuk menjaga keseluruhan acara tetap berjalan baik, tetep two thumbs up dan big thanks untuk jajaran panitia dan direksi kantor yang sudah menyajikan acara gathering kepada karyawan dan keluarga yang “butuh piknik”. Semoga ke depannya bisa terus berlanjut acara silaturahmi kita.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s