Posted in Uncategorized

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 5)

Pagi-pagi sekitar pukul 04.15 kami sudah terbangun oleh alarm hp, walau mata rasanya masih dilem, tapi kami memaksa tubuh bergerak ke kamar mandi sekedar untuk cuci muka & gosok gigi, tanpa mandi. Setelah mengisi ransel dengan perlengkapan ringan seperti air mineral, biskuit & tissue, kami segera bergegas turun ke lobby hotel. Resepsionis menegur kami ” sunrise at angkor?” sambil tersenyum, sepertinya wisatawan yang hunting sunrise di angkor memang sudah jamak. Sekitar 5 menit kemudian Tina muncul di lobby dengan mengendarai tuk-tuk, kalau kemarin Tina rapi berkemeja dan berdasi, sekarang dia hanya menggunakan kaos & jins belel sepeti halnya driver tuk-tuk.

Kami berkendara sekitar 45 menit, mulanya melewati kawasan Old Market yang turistik, lalu melewati gedung-gedung pemerintahan dengan lapangannya yang luas, berakhir dengan menembus area dengan jalan 2 jalur yang diapit pepohonan rapat di kanan-kirinya,  tidak ada bangunan sama sekali dan sedikit kendaraan bermotor yang melintas , hanya ada tuk-tuk atau sepeda (yang kebanyakan disewa oleh turis bule untuk mengelilingi Angkor). Rasanya saya seperti mengalami time slip, seperti dibawa ke masa lalu di mana hanya ada hutan sejauh mata memandang.

Sekilas mengenai ANGKOR WAT

Sebenarnya Angkor Wat merupakan salah satu situs paling terkenal dari Angkor Archeological Site Complex yang merupakan kawasan luas yang terdiri atas candi-candi. Kawasan ini dulu merupakan ibu kota dari kerajaan khmer kuno yang beragama hindu. Hebatnya walau Cambodia merupakan salah satu negara berkembang, mereka sudah memikirkan pariwisatanya dengan baik, kompleks Angkor ini steril dari segala macam bangunan, masih dikelilingi hutan lebat, jalanan setapak masih dari tanah, kendaraan bermotor yang melintas dibatasi, suasana sunyi sepi, jadi seperti masih asli. Kalau kamu pernah ke Jogja, bayangkan saja area prambanan sampai ke candi ijo (yang penuh dengan candi – candi) tapi suasana masih dibiarkan asli.

ANGKOR WAT

Perhentian paling pertama dari Angkor Archeological Site Complex adalah Angkor Wat. Kami langsung membeli tiket di loket yang terletak persis di depan Angkor Wat, tiketnya berlaku untuk keseluruhan Angkor Archeological Site Complex.

Di loket tiket kita akan diminta untuk menunjukkan paspor dan difoto sehingga di tiket tercantum foto kita (yang kucel dan masih mata panda). Setelah itu kami berpisah dengan Tina yang menunggu di parkir tuk-tuk dekat loket. Saya langsung takjub dengan Angkor Wat yang ternyata sangat besar, saya pikir cuma sebesar prambanan, tapi ternyata luas sekali. Angkor wat berbentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh parit.

4
Tiket masuk ke Angkor Wat

Suasana di angkor wat ternyata sudah ramai sekali oleh wisatawan asing yang juga berencana berburu sunrise. Spot menunggu sunrise adalah di depan candi pendamping kecil yang terletak persis di seberang danau yang memungkinkan kita melihat siluet angkor wat secara utuh. Bangunan angkor wat ini awalnya didedikasikan untuk dewa Siva karena kerajaan khmer kuno bergama hindu, bangunannya merefleksikan mahameru dan sedikit banyak mirip seperti prambanan.

Perlahan matahari mulai timbul dan memberi efek pencahayaan yang sangat cantik terhadap angkor wat, pantaslah banyak orang yang berebut spot terbaik untuk mengabadikan sunrise ini. Setelah mengambil beberapa gambar, kami melangkahkan kaki menuju bangunan angkor wat yang sangat luas. Kalau candi di Indonesia umumnya hanya memiliki satu ruang tunggal yang tidak begitu besar (misalnya prambanan), angkor wat ini seperti istana yang sangat besar.

7
Sunrise at Angkor

Sekarang candi ini sudah berubah menjadi candi buddha seiring dengan perubahan agama kerajaan dari hindu menjadi buddha. Di pelataran candi pagi itu sekumpulan rahib sedang menggelar ritual doa pagi.

12
Para Rahib melakukan ritual doa

Kita bisa memasuki ruangan-ruangannya yang berupa koridor panjang dengan banyak relief-relief hindu menghias dindingnya, selain itu ruang ibadahnya juga sangat luas. Nah hati-hati di ruang ibadah ini karena ada beberapa praktek scam yang menunggu, biasanya ada bapak-bapak yang tiba-tiba memberi kita dupa untuk dibakar di depan patung, abis itu kita dimintai ongkos (walau seikhlasnya sih), mending tolak saja dengan halus tawaran tersebut.

17
Koridor di dalam angkor wat

Puncak candi di cambodia disebut dengan prang, prang-prang di sini sangat curam dan ada larangan didaki karena struktur bangunannya yang rapuh.

25
Salah satu prang di angkor wat

Setelah dirasa cukup mengelilingi angkor wat, kami mampir di salah satu kedai kecil yang banyak berjajar di depan angkor wat. Makanannya sih biasa, macem nasi goreng atau mie goreng, tapi harganya harga turis.

36
Angkor Wat saat matahari sudah naik
40
Jalan di kompleks Angkor Wat yang mulus dan lebar

ANGKOR THOM

Kami keluar dari angkor wat dan menemukan Tina di kerumunan tuk-tuk. Tina mengantar kami menuju perhentian selanjutnya yaitu kompleks Angkor Thom, yang merupakan ibu kota kerajaan khmer kuno dan terdiri atas beberapa bangunan candi-candi. Angkor Thom juga berbentuk persegi panjang dan dikelililingi oleh parit dan pagar kokoh di sekelilingnya, di keempat penjuru dilengkapi dengan pintu gerbang.

Saya kagum dengan planologi tempat ini di mana tata kotanya sudah dirancang dengan sangat baik. Jalanannya benar-benar lurus dan sudah digarap dengan baik sejak zaman dahulu. Di kanan kiri jalan terdapat patung-patung batu berjajar menyambut sebelum pintu masuk kompleks.

43
Deretan patung batu menuju Angkor Thom
44
Gerbang utama Angkor Thom

BAYON

Kami diturunkan Tina di candi ini dan selanjutnya dia akan menunggu kami di parkiran tuk-tuk di depan Prasat Suor Prat sambil menunjukkan arah, sebenarnya kami nggak tau di manakah itu tapi yo wes lah, toh kami belum bayar ongkos tuk-tuk, jadi kalau sampai nggak ketemu ya tinggal cari tuk-tuk lain.

Candi Bayon ini merupakan candi yang menarik, karena prang-prangnya diukir dengan wajah tersenyum yang diduga merupakan wajah dari King Jayavarman VII. Struktur candi ini banyak yang rapuh dan lapuk, sehingga banyak diberi papan keterangan untuk berhati-hati agar tidak kena reruntuhan candi.

47
Bayon sang candi seribu wajah
52
Close up “wajah” sang candi

BAPHUON

Dari bayon kami berjalan kaki menyusuri areal hutan (beneran mirip hutan dengan pohon-pohon tinggi yang masih asli) untuk menuju ke Baphuon. Bagian depan Baphuon berupa jembatan panjang yang dibuat lebih tinggi dibanding sekitar. Baphuon sendiri bangunannya berundak-undak. Suasana sangat sepi karena tidak banyak wisatawan sendiri, saya yang agak mengantuk memilih duduk di salah satu sudut sementara suami saya melanjutkan pendakian hingga ke prang puncak. Suasana yang temaram dengan bangunan dan hutan yang masih asli membuat saya seakan mengalami “time slip” dan membayangkan orang-orang yang hidup di sini zaman lampau.

62
Baphuon
63
Jembatan menuju Baphuon

PHIMEANAKAS

Selepas baphuon, kami melewati phimeanakas yang bangunannya tidak sebesar candi-candi sebelumnya, kami hanya berfoto sebentar tanpa memasuki candi tersebut.

73
Phimeanakas
74
Jalan setapak antara satu candi dengan candi lainnya, masih hutan kan?

TERRACE OF THE ELEPHANTS & TERRACE OF THE LEPER KING

Terrace of Elephants, sesuai namanya dihiasi dengan banyak ornamen patung gajah, bangunannya tidak begitu besar namun dilengkapi oleh koridor-koridor panjang yang posisinya di bawah tanah. Terrace of Leper King memiliki bentuk bangunan yang serupa, bangunan ini didedikasikan kepada salah seorang raja yang mengidap penyakit lepra.

79
Terrace of Elephants
80
Terrace of Leper King

Dari depan terrace of elephants, kami akhirnya bertemu kembali dengan Tina yang mangkal di tempat parkir tuk-tuk.

88
ketemu lagi dengan Tina, sang driver tuk-tuk

PRASAT SUOR PRAT, PRASAT TOP EAST,PREAH PITU,THOMAMNON, CHAU SAY TEVODA & TAKEO

Dalam perjalanan kami melewati sejumlah candi-candi seperti yang disebutkan di atas, namun kami tidak begitu tertarik untuk turun dan masuk ke dalamnya.

82
Prasat Top East
87
Takeo

TA PHROM

Inilah candi yang merupakan pusat perhatian selain angkor wat, karena banyak pohon-pohon raksasa yang “mengakar” di candi ini. Pemandangan pohon yang saling membelit dengan bangunan candi menciptakan keunikan tersendiri sehingga tempat ini dijadikan lokasi syuting Tomb raider, bahkan populer disebut candi Angelina Jolie, haha.

Candi terkesan lebih lapuk dan banyak lumutnya, apalagi dengan adanya pohon-pohon besar sehingga berasa lembab karena kurangnya cahaya.

Kelar dari Ta Phrom sekitar pukul 15.00, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan ke kompleks Angkor dikarenakan sudah lelah akibat bangun sebelum subuh pagi tadi. Kami kembali diantar naik tuk-tuk oleh Tina ke hotel, Tina pun menawarkan apa mau mengunjungi water puppet show atau show-show lainnya nanti malam. Karena tidak berminat kami menolak tawaran tersebut. Makan siang seperti biasa kami pesan lewat layanan kamar di hotel, setelah itu kami terlelap sampai sore tiba.

100
Ta Phrom
99
Ta Phrom
92
Di dalam Ta Phrom yang lembab dan berlumut

SIEM REAP ART CENTER NIGHT MARKET

Selepas maghrib dengan energi yang sudah terkumpul, kami berjalan kaki sekitar 200 m ke arah pinggir sungai untuk mengunjungi Siem Reap Center Night Market. Jembatan-jembatan yang melintasi sungai untuk menuju Market ini dihiasi dengan lampu-lampu dekoratif yang sangat cantik saat malam tiba.

107
Siem Reap Art Center Night Market

109

Tempat ini menjual aneka souvenir Cambodia dengan harga murah untuk oleh-oleh, yang dijual kebanyakan kaos bergambar angkor, magnet, gantungan kunci, boneka dan barang-barang khas souvenir lainnya. Kami hanya membeli beberapa potong kaos dan magnet untuk oleh-oleh, karena kendala bahasa, siapkan saja kalkulator untuk tawar menawar. Penjual umumnya menerima USD atau Cambodian Real, walaupun kembaliannya pasti dalam bentuk real. Daerah ini juga sebenarnya dekat dengan komunitas muslim Cambodia, bahkan ada masjidnya, makanya di sini saya berjumpa dengan beberapa penjual yang mengenakan hijab.

Dari Siem Reap Center Night Market, kami berjalan menyusuri pinggir sungai untuk mencari travel yang menjual jasa minivan Siem Reap – Bangkok. Kali ini kami memilih naik minivan karena waktu tempuhnya yang lebih cepat dibanding bus, kami deal dengan salah satu travel untuk jasa minivan besok pagi pukul 06.00, pihak travel akan menjemput kami di hotel pada pukul 05.30.

PUB STREET

Selanjutnya kami menyusuri area pub street yang sebenarnya menghampar dari depan hotel kami, pub street ini mirip khaosan road di bangkok, berisi banyak kedai-kedai minum dan bar walau tidak terlalu vulgar. Banyak juga aneka rupa street food yang dijual yang tentunya tidak berani kami coba karena khawatir kehalalannya. Puas melihat-lihat kami kembali ke hotel untuk istirahat.

111
Pub Street
112
Pub Street
Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s