Posted in Singapore

Singapore ParenTour (Day 2)

Saya terlonjak saat melihat jam di hp, sudah pukul 07.40 dan masih dalam waktu Indonesia, yang berarti sudah pukul 08.40 waktu Singapore, saya pun panik (baru pertama kali bangun sesiang itu) dan buru-buru membangunkan suami dan kedua anak saya. Saya pun segera turun ke lantai dua (ke kamar orang tua saya), ternyata mereka (termasuk adik saya) sudah bangun dari pagi tadi, sudah rapi dan sudah sarapan, bahkan orang tua sempet jalan-jalan di seputaran hotel. Sebenarnya sesuai jadwal yang saya buat, jam 09.00 seharusnya kami sudah berangkat menuju Garden by the bay.  Untuk menghemat waktu saya minta tolong mama untuk memandikan kedua anak saya, sementara saya dan suami siap-siap, mandi dan sarapan kami lakukan secepat mungkin. Akhirnya 30 menit kemudian kami semua sudah siap keluar hotel untuk menuju stasiun MRT Clarke Quay. Syukurlah setelah istirahat semalaman, mood orang tua saya membaik karena rasa lelah sudah hilang.

Jalanan masih terbilang lengang siang itu, kami naik MRT dari stasiun Clarke Quay, transfer di Stasiun Chinatown dan turun di stasiun Bayfront. Untuk menuju garden by the bay, keluarlah dari exit B, kalau lupa exit-nya pun, papan penunjuk di seputaran stasiun sangat jelas menunjukkan arah Garden by the bay. Koridor menuju exit arah garden by the bay dipenuhi dengan gambar-gambar aneka macam bunga berwarna-warni.

7
Bergaya di hongkong street
13
Koridor menuju exit bayfront

GARDEN BY THE BAY

Sesuai namanya. Garden by the bay merupakan kumpulan aneka taman yang letaknya memang di pinggir Marina Bay. Walau banyak sekali area taman yang disajikan, namun atraksi utama dari Garden by the bay ini adalah dua conservatories-nya, yaitu Flower Dome dan Cloud Rainforest. Hal lain yang menarik dan menjadi icon dari taman ini adalah sky tree, pohon buatan yang terinspirasi dari pohon unik yang ada di China (saya lupa namanya, tapi ada di marka keterangan), skytree ini kalau malam sangatlah cantik karena didekorasi dengan aneka lampu sehingga membuatnya tampak seperti pohon khayalan dalam film “Avatar” James Cameron.

Di skytree ini ada suatu atraksi yang sangat menarik bagi saya yaitu OCBC Skywalk, suatu jembatan sangat tinggi yang menghubungkan antara satu skytree dengan skytree lainnya, yang takut ketinggian sebaiknya skip saja ya. Sayangnya karena saya bawa anak, saya nggak mungkin menyebrangi OCBC Skywalk ini, sehingga saya harus berpuas diri dengan hanya mengunjungi dua conservatories utama.

Karena saya membawa anak, banyak yang juga merekomendasikan Far East Organization Children Garden yang ada playground-nya. Jadinya hanya tiga tempat yang saya kunjungi yaitu Flower Dome, Cloud Rainforest dan Far East Organization Children Garden.

Memasuki garden by the bay ini tidak dikenakan biaya alias gratis-tis, namun untuk memasuki conservatories dikenakan biaya sebesar 28 SGD untuk dua conservatories dan 5 SGD untuk masuk ke OCBC skywalk. Tiket garden by the bay sudah saya beli sejak di Jakarta via website klook.com, harganya jauh lebih murah, untuk dewasa cuma kena sekitar 200.000 IDR sedangkan untuk anak 140.000 IDR, lumayan selisihnya kan? Bisa untuk beli oleh-oleh. Booking tiket via klook.com sangatlah mudah, cukup bawa print tanda booking dan langsung di scan barcode-nya di pintu masuk, tidak perlu menukar tiket dengan yang aslinya lagi.

Begitu keluar dari stasiun MRT, kita akan disambut deretan loket tiket termasuk loket shuttle service. Untuk menaiki shuttle service biayanya hanya 3 SGD/orang untuk penggunaan unlimited one day. Kalau pergi sendiri pastinya saya sih lebih memilih jalan kaki santai sambil mengeksplorasi keseluruhan taman, toh jarak dari pintu masuk ke conservatories cuma 1 km-an, tapi berhubung bawa anak dan orang tua, jadinya saya harus menggunakan shuttle service.

14
Shuttle service

FLOWER DOME

Shuttle service berhenti di depan conservatories, persis di tempat itu, marina bay sands terlihat utuh dan bisa dijadikan spot foto. Pertama-tama kami memasuki Flower Dome yang ada di sebelah kiri. Flower Dome ini merupakan rumah kaca super besar yang berisi vegetasi aneka rupa dari berbagai belahan dunia, suhu di dalam rumah kaca distel cukup rendah, mirip-mirip di puncak lah. Bangunan dibuat menyerupai lembah, sehingga saat masuk kita berada di lantai dua dan bisa melihat keseluruhan flower dome ini dari atas , selanjutnya topografinya dibuat menurun.

Saat kami ke sana (akhir bulan November) flower dome sudah didekorasi meriah dengan suasana natal. Pohon-pohon natal dengan ukuran besar beraneka rupa, rangkaian mistletoe, bola kaca berisi ballerina menari hingga serdadu-serdadu nutcracker.

18
Suasana natal di flower dome
32
The Nutcrackers
40
Dekorasi meriah natal

Vegetasi di dalam cukup menarik walau seperti yang dikatakan ibu saya, di Indonesia juga banyak yang sama. Beberapa yang menarik perhatian saya adalah semak dari Afrika yang warnanya grey atau tumbuhan berbunga dengan daun abu-abu dan berbunga putih, seperti kena efek photoshop. Selain itu menurut saya biasa aja.

21
Asli abu-abu berbunga kuning
26
No edit or photoshop, emang warnanya asli begini

Kalau capek, banyak disediakan kursi kayu di sepanjang jalur. Di dalam flower dome tidak diperbolehkan makan, seperti saya yang namanya juga bawa anak, saat duduk istirahat di salah satu bangku kayu, anak saya meminta susu kotak dan biskuat bolu, selanjutnya … dari pengeras suara diumumkan bahwa dilarang makan dan minum di dalam, hahaha.

Hydrangea berwarna biru dan kastuba merah merupakan vegetasi paling dominan saat kami ke sana. Mungkin karena hiasan natalnya sangat semarak, malah focus of interest lebih ke hiasan natalnya (apalagi ada bangunan berupa pohon natal yang sangat tinggi dan dihiasi aneka chandelier dan lampu) dibanding vegetasi tumbuhannya. Saya saja tidak banyak ingat tanaman apa saja yang ada di sana, karena lebih sibuk fotoin anak perempuan saya (baby G) yang excited karena katanya itu hiasan Elsa (frozen red). Menurut saya malah lebih bagus taman bunga nusantara di Puncak.

31
Hydrangea dan kastuba

CLOUD RAINFOREST

Keluar dari Flower dome, kita akan langsung berhadapan dengan pintu masuk Rainforest, conservatory lainnya. Print booking dari klook.com kembali kami sodorkan untuk discan oleh petugasnya. Begitu masuk kami disambut oleh air terjun buatan setinggi sekitar 7 lantai, suhu udara di rainforest lebih dingin lagi dibanding di Flower Dome, papa saya sampai menyesal gak bawa jaket. Air terjun ini tetesannya agak muncrat ke sekeliling, jadi kalau deket-deket ya  kena percikan air. Orang tua saya termasuk saya sih merasa gak terkesan, lha wong di Indonesia yang lebih bagus juga banyak, alami pula bukan buatan, haha. Tapi kami tetap mengapresiasi kehebatan struktur dari air terjun buatan ini, sebagai orang-orang di dunia konstruksi, malahan kami sibuk komentarin cladding dan baja komposit yang digunakan.

47
Air terjun buatan di rainforest

Sesuai namanya, rainforest ini dibangun menyerupai suasana hutan hujan tropis, vegetasinya dominan hijau dan tidak semenarik di flower dome. Selain air terjun buatan, hal yang paling menarik adalah kita bisa menyusuri jalan melingkar menurun dari puncak air terjun tersebut, lagi-lagi yang takut ketinggian sebaiknya skip saja. Jalannya terbuat dari baja yang di sisi-sisinya hanya berupa kisi-kisi tembus pandang, tapi jangan khawatir kekuatannya.

Orang tua saya memilih duduk menunggu di bawah, sementara kami semua naik lift hingga lantai puncak. Kami menyusuri jalan perlahan-lahan dengan santai, sebenarnya pemandangannya biasa saja, malah lebih menarik pemandangan skytree atau SG flyer yang terlihat dari kaca jendela. Di lantai tiga atau empat dipamerkan koleksi stalagtit-stalagmit yang pastinya bagi orang Indonesia bakal dibilang “oh, begini aja? Kita punya lebih bagus”. Di lantai dasar ada ruang audio visual lengkap dengan semacam mini bioskop beserta ruang pameran berisi maket dan gambar-gambar, temanya tentang lingkungan hidup.

525960

Sampai di lantai dasar kami langsung menuju pintu keluar, sementara suami saya kembali masuk lagi untuk menjemput orang tua saya, boleh keluar masuk asalkan sudah dicap stempel di tangan.

FAR EAST ORGANIZATION CHILDREN GARDEN

Kami beristirahat sejenak di kursi-kursi yang banyak disediakan di sepanjang pedestrian yang berbatasan langsung dengan marina bay. Karena merupakan hari minggu, banyak warga lokal yang jogging atau bersepeda di sini. Burung-burung banyak beterbangan dan terkadang hinggap di dekat kami, hingga membuat anak laki-laki saya (baby B) mengejar-ngejar kegirangan.

63
Di pinggir marina bay

Dari situ kami berjalan sekitar 5 menit hingga sampai di Children garden. Children garden menyediakan playground, arena outbond anak dan yang paling menarik air mancur yang memancar dari tanah yang jadi favorit anak-anak untuk main basah-basahan. Sebenarnya paling cocok ke sini saat sore hari, untungnya saat kami ke sana cuaca sedang mendung sejuk, sehingga datang tengah hari tidak jadi masalah.

646769

Anak-anak langsung kegirangan dan gak sabar saat diganti baju renangnya, mereka langsung lari meluncur, bagusnya tidak perlu takut anak terpeleset, karena lantainya merupakan semacam playmate, jadi sangat aman.

Karena sudah waktunya makan siang, saya mengajak adik saya ke Children Café di dekat situ. Tadinya saya mau mempertimbangkan untuk makan siang di Satay by the bay yang banyak pilihan, tapi mesti sedikit berjalan lagi dengan arah menjauhi Conservatory, selain itu walau ada beberapa yang bilang kalau Shuttle Service melewati Satay by the Bay, tapi saya agak ragu karena belum mendapatkan rute yang detil.

Alternatif lainnya adalah makan di Supertree groove dekat OCBC SKyway, tapi lagi-lagi harus jalan kaki dulu ke situ, dikhawatirkan sudah pada capek.

Akhirnya saya coba ke Children Café karena menurut googling cafe tersebut juga menjual bento box. Kebanyakan memang yang dijual adalah makanan ringan seperti hot dog, sausage dan snacks, tapi ada juga beberapa bento box yang tinggal dihangatkan seperti di 711. Pilihannya lumayan, ada beef curry, fried rice atau chicken blackpepper, harganya rata-rata 5-6 SGD dengan porsi yang cukup mengenyangkan.

Kami menyantap bento box tersebut sambil mengawasi anak-anak bermain air. Puas bermain (setelah anak-anak rapi berganti baju dan makan), kami kembali berjalan ke depan Conservatories untuk naik shuttle service yang akan membawa kami kembali ke stasiun MRT.

Kami melewati rute yang sama dengan saat berangkat untuk kembali ke hotel. Ada sedikit insiden kecil saat akan keluar dari gate MRT, seperti biasa untuk menghindarkan EZ link tercecer, saya atau suami saya (secara bergantian) yang bertugas menge-tap semua kartu baik keluar ataupun masuk. Nah saat akan keluar ini posisi papa saya terlalu dekat dengan adik saya, sehingga sekali tap dua orang lewat, masalahnya ez link-nya jadi tidak bisa ditap dan nantinya pasti tidak bisa digunakan karena data keluarnya tidak terekam. Kami memutuskan untuk mengurus kartu ini nanti saja saat kembali ke stasiun lagi. Sekitar pukul 14.00 kami sudah sampai di hotel untuk beristirahat sebelum melanjutkan kembali petualangan kami nanti sore.

MERLION PARK

Setelah tidur siang dan mengistirahatkan kaki yang lumayan pegel, kami berencana mengunjungi tempat wajib kunjung, apalagi kalo bukan si patung singa muntah alias Merlion. Merlion yang merupakan icon Singapore dan spot foto tenar yang sering wara-wiri di foto travelling adalah Merlion yang terletak di merlion park-marina bay, depan Fullerton hotel.

Sambil duduk – duduk di area lobby depan resepsionis, mata saya menjelajah aneka brosur atau flyer yang ditempel di dinding, isinya mengenai informasi bahwa hostel ini juga menjual berbagai tiket tempat wisata termasuk juga jasa shuttle service ke airport. Saya pun berdiskusi singkat dengan suami saya, dan akhirnya sepakat booking shuttle service ke bandara untuk besok pukul 14.45. Biaya shuttle sebesar 9 SGD/orang (kedua balita masih belum bayar).

Dari hostel, kami berjalan kaki santai dengan rute melewati boat quay dan cavenagh bridge. Tidak lupa membeli cemilan ala Singapore, yaitu es krim potong yang sekarang ternyata harganya 1.2 SGD (kalo dulu cuma 1 SGD). Es krim ini umumnya dijajakan oleh kakek nenek sepuh makanya disebut juga uncle ice cream, orang tua saya sampai protes kenapa kok orang udah tua banget masih disuruh jualan atau kerja di Singapore. Lain padang lain belalang, walau masih Negara tetangga, pola pikir orang Indonesia dengan Singapore berbeda, tidak terkecuali dengan golongan lansia, yang memang lebih memilih kerja untuk mengisi hari, cari kesibukan, walau tunjangan baik dari Pemerintah ataupun anak tetap ada.

73
Boat Quay & Cavenagh Bridge
75
Asik makan es krim potong, cums dsys ysng nist foto sama patung

Hanya sekitar 15-20 menit kami berjalan kaki (itu juga berhenti-berhenti buat foto dan jajan), sampailah kami di Merlion Park. Sebagai calon backpacker, anak-anak saya kuat berjalan kaki sekitar 1.3 km tanpa mengeluh kecapekan, haha.

77
Merlion Park

Merlion park bukanlah tempat yang terlalu istimewa menurut saya, hanya anjungan dengan patung merlion, yang bikin outstanding justru bangunan-bangunan di sekelilingnya yang unik seperti esplanade atau marina bay sands. Kami duduk-duduk sambil istirahat di sana, sementara anak-anak saya malah main lari-larian. Seperti biasa Merlion Park selalu penuh dan banyak orang Indonesia di sini seliweran.

Setelah itu kami menuju Stasiun Raffless Place (yang terdekat dari Merlion Park) untuk menuju ke Orchard Road. Benarlah, EZ Link yang tadi siang bermasalah tidak bisa digunakan,suami saya pun menuju ke ticket office untuk mengurus kartu tersebut dan ternyata dikenakan denda 1 SGD.

ORCHARD ROAD

Kami turun di stasiun Orchard yang terletak di bawah tanah Tang’s Plaza, salah satu mall mewah dari deretan mall-mall yang berjajar sepanjang Orchard Road.

Kali ini saya memilih tidak menyusuri Orchard Road dari ujung ke ujung karena membawa orang tua. Keluarga kami bukanlah penggila belanja apalagi penggemar barang-barang branded, tujuan kami ke sini hanya untuk mencari oleh-oleh murah dan masakan indonesia di Lucky Plaza, jadi destinasi wajib kami adalah Lucky Plaza. Dari stasiun MRT kami keluar melalui exit A, Lucky Plaza terletak persis di samping Tang plaza. Suasana orchard juga sudah sangat meriah dengan dekorasi natal, apalagi kami datang saat malam, jadi lampu-lampu dekorasi makin gemerlap cantiknya.

Banyak restoran Indonesia yang berlokasi di Lucky Plaza, misalnya saja Ayam Bakar Ojolali, bebek Goreng Pak Ndut atau Ayam Kremes. Kali ini saya memilih Ayam Bakar Ojolali yang terletak di lantai 3, mudah mencarinya, begitu keluar lift aroma bakaran ayam sudah menyergap hidung, berjalan sedikit hingga ke pojok dan ketemu deh Ojolali-nya.

Selain menu utama ayam bakar, restoran ini juga menyediakan ayam goreng, lele, gurame, soto, sayur asem dll. Pelayannya kebanyakan orang Indonesia walau tidak terlalu ramah seperti halnya pelayan di Indonesia sih. Porsinya besar, nasinya banyak dan pulen, ayam nya juga besar dengan cita rasa khas Indonesia. Orang tua saya mencoba gurame gorengnya yang cukup untuk sharing 2-3 orang saking gedenya, crunchy dan dagingnya tebal. Yang harus diacungi jempol adalah  sambalnya yang pedas banget. Harga perporsi ayam bakar/goreng (lengkap dengan nasi dan lalap) sebesar 8 SGD, sementara gurame (tanpa nasi) sebesar 19 SGD. Total biayanya sekitar 61 SGD (untuk 5 orang dewasa dan 2 orang balita), jangan dikonversi ke rupiah ya, karena kalau di Indonesia duit segitu mah udah bisa dipake makan di restoran semi fine dining, haha.

89
Ayam bakar ojolali

Tadi sembari menunggu pesanan datang, mama saya menuliskan daftar oleh-oleh yang harus saya beli (glek, panjang bener pula).  Tugas belanja jatuh ke tangan saya dan adik saya, sementara yang lainnya memilih duduk-duduk depan Lucky Plaza. Souvenir di Lucky Plaza kurang lebih sama saja dengan di Bugis atau China Town, aneka rupa barang khas souvenir seperti kaos, coklat atau tas harganya mulai 10 SGD/3 buah.

Dengan gundukan barang kami kembali pulang ke hostel. Tadinya saya rencana mau anterin adik saya nongkrong sebentar di Clarke Quay setelah itu mau jalan kaki liat-liat China town (yang cuma 700 m dari hostel). Tapi apa daya, pulang dari Orchard kok rasanya capek banget (factor u kali yaaa), jadi saya terpaksa cancel, akhirnya si adik (yang udah berani jalan sendirian di Singapore) ya jalan kaki sendirian main-main ke China town walau katanya kebanyakan udah pada tutup.

Advertisements

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s