Posted in Singapore

Singapore Parentour (INTRO & Day 1)

INTRO

THE FLIGHT

Family trip atau parentour ini gak direncanakan, awalnya hanya mau pergi bertiga saja dengan baby g dalam rangka merayakan ulang tahunnya. Makanya waktu maskapai merah kesayangan buka promo saat bulan februari 2016, saya ikut dalam antrian demi mendapat harga promo sebesar 500 K PP/orang dengan tujuan Singapore dan keberangkatan november 2016. Kenapa pilih Singapore? ya tentu saja karena Singapore merupakan negara yang “ramah” untuk wisata dengan anak (apalagi balita), sistem transportasinya efektif dan efisien, jaraknya dekat dan lumayan banyak pilihan tempat wisatanya.

Karena awalnya hanya mau “short getaway” ber-3 (sengaja sebentar karena kasihan baby b kalau lama-lama), makanya saya pilih berangkat sabtu pukul 17.40 dan pulang senin pukul 17.35 juga.

Nah, mendekati bulan-bulan september, saya dan suami kok jadi kasihan sama baby b (adiknya baby g), masa iya mau seneng-seneng ngerayain ultah kakaknya sementara dedeknya nyenuk ditinggal di rumah. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami sepakat mengajak baby b sekaligus orang tua saya juga, hitung-hitung nyenenengin orang tua. Begitu tau orang tuanya mau jalan-jalan, kedua adik saya pun jadi kepengin ikut (termasuk adik ipar saya), akhirnya ikutlah semuanya dalam formasi lengkap-kap, orang tua, anak, mantu, cucu, haha.

Soal penerbangan, mau nggak mau kedua orang tua saya plus baby b dan adik bungsu saya (bagus) harus dalam penerbangan yang sama dengan saya (pakai si merah kesayangan), karena tidak mungkin pisah. Karena bukan promo, saya harus puas dengan harga 1,1 juta PP/orang. Sementara adik saya yang satu lagi beserta istrinya memilih maskapai lain dengan harga yang lebih murah dan jam keberangkatan yang tidak jauh berbeda (lion & jet star).

ITINERARY 

Ini yang lumayan bikin pusing sampai saya harus riset dan baca lebih banyak lagi. Dengan jam keberangkatan seperti disebutkan di atas, otomatis saya cuma punya waktu efektif 1,5 hari saja untuk eksplore Singapore. Hiks, tau mau berangkat rame-rame gini dulu belinya yang berangkat pagi. Selain itu, saya harus memperhitungkan kondisi fisik orang tua saya juga sehingga gak mungkin bikin iten dengan jadwal morning to evening seperti yang biasa saya lakoni selama ini. Saya juga harus mencari tempat wisata yang cocok untuk anak dan orang tua, yang buat mereka senang semua.

Segala opsi dibaca, semua tempat wisata diriset detil sampai segala jarak tempuhnya dan durasi kunjungan. Tempat wisata bolak-balik dimasukkan atau dicoret termasuk Singapore zoo yang sebenarnya merupakan tujuan utama malah terpaksa dicoret karena lokasinya yang jauh dan durasi kunjungannya yang lebih dari tiga jam. Tak lupa juga saya harus mengecek restoran/tempat makan di seputar area yang akan dikunjungi karena faktor lidah orang tua saya (yang maunya masakan indonesia atau judulnya nasi). Akhirnya didapat iten sebagai berikut :

Day 1 

13.00 – 15.00 : go to Soetta Airport

15.00 – 17.40 : loading bagasi, imigrasi, boarding dll

17.40 – 21.00 : flight to SG

21.00 – 22.00 : imigrasi, bagasi,dinner dll

22.00 – 23.00 : MRT from Changi – Clarke Quay

23.00 –             : Check in Hostel + istirahat

Day 2

07.00 – 08.30 : siap-siap, mandi, sarapan

08.30 – 09.00 : MRT Clarke Quay – Bayfront

09.00 – 13.00 : Garden by the bay (Flower Dome, Rainforest & Children Garden) & lunch di garden cafe

13. 00 – 17.00 : Back to hostel & istirahat

17.00 – 18.30  : Jalan kaki ke Merlion Park via Boat Quay, Merlion Park

18.30 – 19.00  : MRT Raffless Place – Orchard

19.00 – 21.00  : Orchard Road & Dinner di Lucky Plaza

21.00                 : Back to hostel & istirahat

Day 3

07.00 – 08.30 : siap-siap, mandi, sarapan

08.30 – 09.00 : MRT Clarke Quay – Harbour front, naik sentosa express dari Vivo City

09.00 – 10.30  : Siloso Beach

10.30 – 11.00   : Universal Broadwalk

11.00  –  13.00 : SEA Aquarium

13.00  – 14.00  : Lunch di Food Republic Vivo City

14.00 – 14.30   : Back to hostel, ambil tas

14.30 – 15.30    : MRT to Changi

15.30  – 17.30   : loading bagasi, imigrasi, boarding dll

PENGINAPAN

Lagi-lagi karena awalnya cuma mau pergi bertiga, seperti kebiasaan saya selama ini, 2-3 bulan berikutnya setelah pegang tiket pesawat, saya pasti akan booking hotel. Kali ini pilihan kami jatuh pada City Backpackers Hostel yang terletak di area Clarke Quay, selain lokasinya yang strategis karena hanya sekitar 200 m dari MRT terdekat, sudah lama saya pingin nyobain nongkrong-nongkrong sambil makan di Hooters (emak-emak rak nggenah) sekalian nyobain es krim ala jepang di Azabu Sabo yang terletak di Clarke Quay. Hostel ini juga cuma sekitar 15 menit jalan kaki ke Merlion Park, sampingnya ada 711, harganya murah (cuma 600 rb/malam untuk type kamar double), menyediakan sarapan standar dan menerima tamu anak balita, selain itu review-nya cukup bagus di trip Advisor. Jadilah sekitar bulan april saya sudah booking hostel dengan harga promo via agoda tapi dengan ketentuan no refund bila dibatalkan.

Nah, begitu rencana berubah saya pun mau nggak mau harus tetep pilih hostel ini karena gak mungkin pilih hostel berbeda. Sebenarnya kalau bawa orang tua terutama karena kami muslim, saya pasti akan pilih penginapan di area Bugis yang dekat masjid besar dan banyak hawker atau kedai makanan halal. Tapi karena sudah terlanjur (hostel no refund kalau dibatalkan karena promo), akhirnya saya pilih family room dengan kapasitas 6 orang seharga 1,2 juta/malam.

Jangan kaget dengan harga akomodasi di Singapore yang mahalnya selangit, padahal kalau di Indonesia kamar 600 rb sudah dapat hotel full fasilitas ya. Kalau mau mencari hotel murah sebenarnya banyak di area Geylang, cuma ya gitu deh, area ini merupakan red light district, jadi gak mungkin kalau bawa balita atau anak karena selain suasananya yang “aduhai”, kebanyakan hotel di sini tidak menerima tamu di bawah usia 12-14 tahun.

TRANSPORTATION

Sesuai dengan prinsip budget travel, tentunya saya memilih menggunakan MRT ke mana-mana, makanya sebelum hari H saya sudah bergerilya mencari pinjaman EZ Link ke saudara dan teman yang berbaik hati mau meminjamkan. Menggunakan EZ Link tentunya lebih praktis dan menghemat waktu dibanding beli ketengan, selain itu harganya tentu lebih murah.

Baby G yang sebenarnya sudah berusia 4 tahun dengan tinggi lebih dari 90 cm seharusnya punya kartu sendiri yang namanya “Child Concession Card”. Kartu ini digunakan oleh anak-anak dengan umur kurang dari 7 tahun namun tingginya sudah lebih dari 90 cm, dengan kartu ini anak-anak gratis naik moda transportasi baik MRT ataupun bus, minta kartunya pun gratis. Sebagai non Singaporean, syaratnya cukup menunjukkan paspor di Ticket Office Transitlink, fyi tidak semua booth ticket di stasiun MRT merupakan Ticket Office ya. Sebagai pusat kedatangan wisatawan di Singapore, Changi merupakan salah satu Ticket Office yang menyediakan kartu tersebut, cuma jam 21.00 sudah tutup.

Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang tinggal di Singapore, kalau tingginya masih 90 cm lebih dikit mah cuek aja, gak bakal diperiksa juga, toh anak segitu juga belum bisa tap kartu sendiri. Saya pun berprinsip ya udah lah lihat nanti aja, kalau disuruh pakai ya tinggal minta.

DAY 1

Sekitar sebulan sebelum keberangkatan, tiba-tiba adik saya yang merupakan pengantin baru mendapatkan “kabar baik”, tidak mau mengambil risiko mereka tentunya memilih membatalkan rencana jalan-jalan ini. Untungnya karena bukan tiket promo, tiket pesawat mereka bisa direfund 90%. Jadilah rombongan kami berkurang dua orang.

Yang paling repot dari jalan-jalan dengan dua balita adalah packing, apalagi kali ini membawa orang tua yang doyan ngemil, makanya saya harus menyiapkan snack aneka rupa dalam jumlah yang memadai. Walau sudah menerapkan prinsip travel light seefektif mungkin, tetap saja carrier 65 lt milik kami terisi penuh (setengahnya berisi snack & botol-botol air kosong ukuran 1 Lt), belum lagi satu tas daypack, 1 tas kamera & 1 stroller (tadinya mau bawa dua tapi ga jadi karena repot).

Karena sabtu sore merupakan hari yang amit-amit macetnya di jakarta, maka kami berangkat dari rumah kami yang terletak di bilangan taman mini sekitar pukul 13.00. Seperti sudah diduga jalanan macet sepanjang jalan, dan jam 15.00 kami baru sampai di bandara. Sebelum masuk ke ruang check-in kami singgah sebentar di KFC di terminal 2 untuk nyemil-nyemil sedikit karena perut agak lapar.

Setelah check in dan menyerahkan bagasi, kami berjalan melewati imigrasi dan terus ke ruang boarding. Ceritanya, hari itu kedua orang tua sedang melaksanakan ibadah shaum, dan sebagai orang jawa totok asli, buka puasa itu harus dengan teh panas yang kental, bingung kan? akhirnya kami akalin dengan mengisi teh tersebut dalam termos air panas ukuran 600 ml yang memang biasa saya bawa untuk menyeduh susu formula balita-balita saya. Sebenarnya menurut peraturan penerbangan, botol dengan ukuran tersebut tidak diperbolehkan masuk ke kabin, tapi kami selalu bilang pada petugas bahwa termos ini untuk susu bayi, selama ini sih selalu diizinkan dan lolos pemeriksaan. Bisa juga sih minta air panas gratis atau beli minuman di atas pesawat, tapi biasanya troli kan baru berjalan setelah pesawat stabil jadi waktu maghribnya sudah kelewat.

Penerbangan hanya delay selama setengah jam dan tepat sekitar pukul 17.30 kami sudah dipanggil masuk ke dalam pesawat. Penerbangan Jakarta – Singapore hanya memakan waktu selama 1 jam 40 menit, ga berasa tau-tau udah sampe.

Waktu di Singapore sejam lebih cepat dibanding jakarta, sehingga sekitar pukul 21.00 kurang kami baru mendarat di Singapore. Pesawat Air Asia mendarat di terminal 1, kebanyakan di gate D dengan nomor seri 30-an ke atas, which means lumayan jauh, untungnya bandara ini menyediakan travelator nyaman yang gak putus-putus dari ujung ke ujung. Kami menuju imigrasi dan…ternyata papa saya pake acara ditahan di imigrasi karena dulu saat kunjungannya (sekitar 2012 untuk urusan kerjaan) namanya baru 1 suku kata, sementara sekarang ada penambahan (karena umroh harus 3 suku kata) sehingga tentunya ada perbedaan data di database imigrasi. Saya pun melirik cemas dan minta masuk mendampingi karena papa nggak bisa bahasa inggris, tentunya ditolak sama petugas tapi sambil dibilang kalau petugas di dalam ada yang bisa berbahasa melayu. Untuk mempersingkat waktu, suami dan adik saya segera menuju ke ruang pengambilan bagasi, sementara saya dan mama menunggu papa, syukurlah sekitar 10 menit kemudian papa bisa keluar.

Dari terminal 1 kami naik skytrain (gratis) ke terminal 3 yang merupakan terminal dengan stasiun MRT. Tadinya saya dan suami merencanakan untuk makan malam di terminal 3 yang banyak pilihan restorannya, tapi orang tua saya menolak dan menyarankan untuk makan dekat area hotel saja. Saya pun bingung mau makan apa di daerah clarke quay, saat sampai di MRT Clarke Quay pasti sudah jam 23.00-an dan mall central (yang merupakan pintu keluar MRT) pastinya sudah tutup. Sementara kalau mau ke cafe-cafe atau restoran di area Clarke Quay kami mesti berjalan sekitar 200-300 m lagi dengan arah menjauhi hotel, daripada pusing mikir saya berprinsip “lihat aja ntar deh”, kalau kepepet di samping hotel ada 711 yang menjual bento box.

Dari Changi kami berganti kereta dua kali yaitu di Tanah Merah dan Outram Park, nah di Outram Park ini orang tua saya mulai kewalahan karena koridor yang satu dengan yang lainnya agak jauh, walhasil begitu keluar exit E di stasiun MRT Clarke Quay yang berhadapan dengan Eu Tong Sen Street, kami pun duduk istirahat sebentar di depan Mall Central dan orang tua saya pun agak ngomel-ngomel karena jauhnya sambil nanya emang nggak ada taxi. Saya pun ngeles dengan bilang kalau taxi mesti keluar dulu dari bandara, padahal sih nggak, maafin anakmu ini ya papa mama. Lama perjalanan dari Changi ke Clarke Quay sekitar 1 jam.

dsc030961
Mall Central di Clarke Quay

Masalah berganti ke urusan makan, yang masih buka cuma gerai fast food macam Burger King, yang pastinya nggak ada nasinya. Untungnya suami saya melihat tepat di seberang jalan ada kedai teh tarik time 24 hours, untuk memastikan menunya, suami saya rela lari-lari nyebrang jalan untuk melihat makanan apa yang disajikan. Syukurlah, ternyata menu yang ditawarkan beragam, ada masakan india, melayu sampai thai dan semuanya halal.

Pemiliknya adalah seorang indian muslim, kedainya semacam hawker begitu. Total yang dibayar sekitar 39.5 SGD untuk 5 macam makanan (1 nasi dengan mutton curry+telor, 2 mee goreng, 1 mie soup dengan isian seafood yang besar & 1 nasi goreng pattaya) dan 6 macam minuman. Porsinya besar sekali dan rasanya cukup enak, lega beres soal makanan.

nana-teh-tarik
Kedai Teh Tarik Time (sumber : trip advisor)

Dengan perut kenyang, kaki lelah dan mata mulai mengantuk (udah pukul 23.00 lewat lho), kami berjalan kaki ke hotel di hongkong street yang hanya sekitar 100 m dari kedai tersebut. Nah begitu sampai kami malah bingung mana pintu masuknya, papan namanya ada di lantai dua tapi pintu masuknya kok ga ada, untungnya saat itu ada tamu hostel tersebut yang membuka pintu kaca di depan kami, ternyata pintu kaca tersebut adalah pintu masuknya, begitu kami membuka pintu sudah terhampar tangga curam menuju lantai 2 yang merupakan lokasi resepsionis.

Tanpa memperkenalkan diri, sang resepsionis sudah langsung menebak bahwa kami tamu yang sudah ditunggu sejak tadi, syukurlah resepsionisnya mau nungguin karena berdasarkan pengumuman yang ditulis di atas meja, sebenarnya resepsionis cuma beroperasi dari jam 09.00 – 22.00.

Private Room yang kami booking ada di lantai dua, sementara Family room ada di lantai tiga. Karena kasihan dengan orang tua, saya menyerahkan private room untuk mereka.

CITY BACKPACKERS HOSTEL

Sekilas mengenai hostel kami, namanya juga hostel jadi jangan berpikir seperti hotel ya. Kamar mandi dan toilet letaknya di luar kamar dan dipakai bersama-sama, tapi jangan khawatir kebersihannya terjaga. Tidak ada lift, yang ada cuma tangga.

Ruang resepsionis merangkap dining room dengan pantry kecil yang biasa digunakan untuk berkumpul sekalian makan pagi. Alat makan yang kita gunakan harus dicuci sendiri.

Private room yang kami booking ternyata berisi 4 tempat tidur dengan balkon, walau tetap hanya boleh dihuni maksimal 2 orang dewasa. Saya pun meminta kepada resepsionis agar memperbolehkan adik saya satu kamar dengan orang tua saya dengan alasan mereka tidak bisa berbahasa inggris, dan akhirnya diizinkan.

5661611
Private Room

Sementara family room berisi 3 tempat tidur bertingkat, kamarnya tanpa jendela, karena adik saya yang satu lagi tidak jadi ikut, walhasil kamar tersebut cuma dihuni saya, suami dan anak-anak saja.

10
Family Room

Overall, cukup nyaman lah untuk ukuran hostel. Setelah berlelah-lelah kami semua pun terlelap.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s