Posted in Aranyaphratet, Bangkok, Cambodia, Poipet, Siem Reap, Thailand

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 4)

Pagi-pagi sekali sebelum jam 06.00 kami sudah check out dari hotel karena akan mengejar direct bus dengan rute Bangkok – Siem Reap yang akan berangkat dari Mo Chit (Northern) Bus Station. Dari mansion kami masih harus naik bus umum lagi ke Mo Chit Bus Station, saat check out kami memastikan sekali lagi nomor bus yang akan kami gunakan kepada resepsionis yang walau tidak bisa berbahasa inggris tapi paham perkataan kami, dia menulis nomor bus di atas secarik kertas sambil tersenyum ramah dan menyerahkan deposit uang yang kami berikan semalam (di mansion sarasinee diwajibkan menyerahkan deposit sebesar 500 THB untuk jaminan kita tidak merusak/menghilangkan barang).

Matahari masih belum muncul sepenuhnya dan jalanan masih agak gelap, namun warga sudah mulai siap-siap beraktivitas. Di samping halte bus tempat kami menunggu, beberapa penjual makanan pagi sudah siap dengan dagangannya, yang dijual kebanyakan adalah sate aneka rupa dan gorengan. Kami menaiki bus nomor 1 yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga sampai di Mo Chit.

bangkok_northernbusterminal
Mo Chit (Northern) Bus Station ( sumber : globaltravelmate.com)

Kami langsung menuju loket no 22 yang menjual tiket direct bus, tapi sayang disayang tiket sudah terjual habis, maka kami terpaksa menggunakan bus lainnya yang tidak direct.

Sekilas tentang transportasi Bangkok – Siem Reap

Ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan antara lain mini van, kereta api, bus bahkan pesawat. Kali ini saya akan membahas mengenai bus, ada dua jenis bus : direct dan non direct. Bus direct akan membawa kita langsung dari Bangkok – Siem Reap tanpa perlu bertukar bus. Bus akan menunggu kita saat melewati perbatasan dan proses imigrasi, jadi lebih ringkas, biayanya juga lebih mahal.

Sementara bus non direct hanya akan membawa kita dari Bangkok ke Aranyaphratet yang merupakan kota perbatasan Thailand – Cambodia. Sesudah melewati perbatasan kita harus mencari bus lain lagi yang akan membawa kita ke Siem Reap.

Bangkok – Aranyaphratet (Aran)

Bus yang akan kami tumpangi berangkat pukul 09.00, kami masih punya waktu sejam lebih dan kami gunakan untuk ke 711 demi membeli perbekalan berupa roti & snack sebelum ke ruang tunggu keberangkatan. Satu hal yang bikin saya salut, saat menunggu di ruang tunggu, tiba-tiba dari pengeras suara diputar lagu kebangsaan Thailand, tanpa dikomando semua warga yang ada berdiri dengan posisi sempurna dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh rasa khidmat, rupanya jiwa nasionalis di Thailand sangat tinggi. Kami mengobrol dengan kakek nenek asal Perancis di 711 yang begitu tahu kami orang Indonesia langsung cerita bahwa mereka baru saja pulang dari Indonesia , mereka habis menyusuri Manado, Toraja, Makassar, bali & Lombok sebelum terbang ke Thailand, saat saya bilang saya aja belum pernah ke tempat-tempat tersebut, mereka pun heran dan malah menunjukkan foto-foto mereka selama di sana.

1459331_10152139616504623_787825697_n
warga Thailand yang sangat nasionalis

Di ruang tunggu kami berkenalan dengan seorang gadis asal Filipina bernama Thalia yang akan berangkat ke Pnhom Penh untuk mengajar, rupanya Thalia adalah seorang guru bahasa inggris yang sudah merampungkan dinasnya di bangkok selama 6 bulan dan sekarang akan berpindah ke Pnhom Penh, orangnya asyik (dan sampai sekarang kami masih berteman di fb) dan karena searah hingga perbatasan kami memutuskan untuk barengan. Pukul 09.00 tepat kami dipersilakan naik ke bus dan mendapatkan posisi paling depan di belakang pak supir, busnya nyaman dengan susunan tempat duduk 2-2.

Bus perlahan – lahan mulai meninggalkan kota Bangkok yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat, pemadangan berganti menjadi jalanan sepi yang dipagari oleh sungai, mirip seperti di kalimalang (tapi lebih sepi), terkadang masih saya jumpai rumah-rumah tradisional ala Thailand yang berpanggung juga anak-anak desa. Bus berhenti sejenak di semacam rest area dan kami diberi waktu sekitar setengah jam untuk ke rest room ataupun beristirahat. Terkadang ada beberapa polisi militer yang menaiki bus dan melakukan random check paspor terhadap penumpang.

Ada kejadian seputar makanan, saya tidak terlalu hati-hati saat membaca ingredients sandwich yang saya beli, saat di 711 saya membeli beberapa roti coklat keju dan sandwich isi telur keju dengan seiris kecil daging asap. Saat di bus saya pun menyantap makanan tersebut, sementara suami saya mencoba membaca ingredients dengan lebih teliti…dan ternyata..daging asapnya itu bukan beef melainkan pork…aargh..mana udah abis dua potong lagi, maafkan saya ya Allah, saya harus lebih teliti lagi memilih makanan.

Bus tiba di Aran sekitar pukul 14.00 dan kami diturunkan di sebuah terminal dekat pasar bukannya di gerbang perbatasan. Kami pun patungan dengan Thalia untuk menyewa Tuk-tuk yang nyebelinnya gak mau ditawar padahal ternyata jaraknya dekat kalau tahu jalan, udah gitu kembaliannya kurang pula dan si supir tuk-tuk pura-pura melengos gak paham. Aran merupakan kota yang panas, semrawut dan berdebu, hiruk pikuk aktivitas antara perbatasan ditambah bau anyir ikan dan hawa panas membuat kami berjalan buru-buru menuju pos perbatasan Thailand yang berupa bangunan megah beratap khas Thailand.

Nyebelinnya lagi, saat akan masuk imigrasi, ada seorang mas-mas (yang kayaknya Cambodian) nempel kami terus padahal kami sudah pasang tampang super jutek sambil pasang gesture “we don’t need you”, mas-mas semacam ini adalah scam (usaha tipu-tipu) yang sudah sering kami baca di blog. Modusnya mas-mas ini akan nempel kami terus dan berusaha membantu kami abis itu minta uang tips gede.  Kami sudah lega saat masuk ke dalam pos imigrasi Thailand yang sejuk ber-AC, kami kira si mas-mas udah nyerah, eh begitu keluar ternyata dia udah ngejogrog manis di pojokan, sebel banget. Dia terus nempel kami sampai kami jalan ke pos imigrasi Cambodia yang ada di seberang.Kami melewati suatu portal tinggi sebagai batas antara Thailand – Cambodia. Di kanan kiri kami berderet bangunan megah yang berupa hotel merangkap kasino dengan neon dan papan reklame besar-besar, sepertinya kota perbatasan memang populer sebagai tempat judi.

cambo-thai-border-arch-backpackers
Portal perbatasan (sumber : howtogotocambodia.com)

Aran-Poipet

Kota perbatasan yang masuk dalam teritori Cambodia adalah Poipet. Kontras dengan pos imigrasi Thailand yang megah, pos imigrasi Cambodia merupakan bangunan sederhana yang terbuat dari triplek dan beratap seng, pakainya juga kipas angin. Di pos perbatasan ini antrian sudah mengular yang kebanyakan diisi oleh bule-bule. Kami disuruh mengisi semacam kartu kedatangan yang disodorkan oleh seorang petugas yang entah bercanda atau tidak awalnya dia bilang “1000 THB” yang langsung membuat Thalia melotot dan protes lalu si petugas bilang “just kidding,it’s free” sambil tertawa, walau saya yakin kalau kami plonga-plongo dan gak menolak, si petugas pasti beneran minta 1000 THB itu. Kami mengantri sampai sekitar sejam dalam cuaca yang bikin mandi keringat saking panasnya.

bangkok_siemreap_borderoffice
Imigrasi Thailand di Aranyaphratet (sumber : globaltravelmate.com)
poipet-immigration-office-cambodia
Imigrasi Cambodia di Poipet (sumber : travellingfeet.com)

Nah si mas-mas tadi itu masih terus aja nempel kami dan …. tiba-tiba datanglah beberapa petugas berseragam biru dengan emblem semacam pegawai negeri Cambodia, sang petugas pun memarahi si mas-mas dan menyuruh dia pergi, fuuh legalah kami. Sang petugas memisahkan kami berdasarkan tujuan karena bus yang akan dipakai berbeda, maka dengan berat hati berpisahlah kami dengan Thalia, karena kami akan ke Siem Reap sementara dia ke Pnhom Penh. Setelah bertukar alamat fb kami pun berpisah, kami menaiki bus kecil sekitar 5 menit menuju ke bangunan yang namanya semacam “Cambodia Tourist Office”. Dari sini kita bisa memilih mau naik mini van atau bus untuk menuju ke Siem Reap.

SCAMBODIA  (ternyata kami kena juga)

Sebelum ke sini, kami sudah banyak membaca pengalaman orang-orang yang terkena scam di perbatasan, saking seringnya sampai ada istilah Scambodia , kami sudah sengaja berhati-hati, kami kira kami sudah berhasil melewati si mas-mas tadi yang merupakan praktik scam paling umum tanpa sadar another scam is waiting us.

Masih ingat dengan petugas berseragam tadi ? si petugas ramah banget pada kami sambil terus mengajak saya mengobrol, saya malah merasa “aman” karena toh orang ini kan petugas resmi. Di Cambodia Tourist Office si petugas berkata bahwa kami harus menukar semua USD kami dengan Cambodian Real, kami pun menjawab bahwa kami nggak mau menukar USD kami karena menurut yang kami baca USD bisa digunakan (sebagai negara berkembang, Cambodia menerima transaksi dalam USD dan Cambodian Real). Tapi si petugas menyakinkan kami bahwa mulai bulan lalu USD sudah tidak berlaku lagi dan harus menggunakan real, kami pun percaya aja sama dia (secara dia petugas lho) dan langsung buru-buru menuju ke Money Changer yang ada di sana. Selesai menukar, si petugas menyuruh kami segera berlari menuju ke bus karena bus sudah akan berangkat, tanpa meneliti uang yang kami terima kami buru-buru berlari ke bus karena takut ketinggalan. Tapi…si petugas sempet aja senyum-senyum simpul dan berucap “don’t forget little tips for me” saya pun memberikan beberapa lembar real senilai kira-kira 50K.

Belakangan saat di hotel saya baru sadar kalau kami kena scam. Bagaimana tidak ? ternyata USD masih laku dan bisa banget dipake, udah gitu rate di dalam kota jauh lebih bagus. Dan yang paling menyebalkan … uangnya kurang … beneran kurang … saya baru menghitung setelah sampai di hotel dan saya cek ke nota dari money changer-nya, kalau dirupiahkan sekitar 300 ribu-an lah. Pantesan tadi kami disuruh buru-buru rupanya biar nggak sempet menghitung uang (padahal pas udah di bus juga kami menunggu sekitar 30 menitan lho).

Kami baru sadar kalau kami terkena scambodia saat itu, harus terus waspada bahkan kepada petugas berseragam sekalipun jangan mudah percaya. Pantesan si petugas kok ya ramah banget ke kami, saya pun melihat kalau dia juga sangat ramah dan terus nempel kepada beberapa turis lainnya yang sendirian atau berdua – bertiga seperti kami. Kayaknya memang dia mengincar rombongan dengan jumlah sedikit.

Poipet – Siem Reap

Tepat jam 5 sore bus mulai berangkat menuju Siem Reap, setir mobil di sini berada di sebelah kiri walau mobil tetap berada di kanan jalan. Sepanjang jalan kami melewati padang rumput dan ladang-ladang yang luas menghampar dan sepi, senja mulai turun dan seketika saya jadi ikutan mellow dan pingin nyanyi Soldier of Fortune sambil bayangin film Rambo. Di dalam bus ada seorang pemandu bernama Tina (cowok lho) yang menerangkan sekilas sejarah Cambodia dengan bahasa inggris yang fasih tanpa logat.

Waktu saya mau ke Cambodia, beberapa teman dan saudara bilang “apa nggak takut”, maklum ada film Rambo yang berlatar di sini, sehingga image Cambodia tidaklah aman dan menyeramkan. Tapi menurut saya, kalau sudah hidup di Indonesia kayaknya nggak perlu takut deh, mirip-mirip lah, terbukti aman walau memang seperti negara berkembang lainnya “banyak ketidakpastian”.

1472014_10152139614444623_45589923_n
padang ilalang sepanjang perjalanan

Jalanan tidak selalu mulus, malah kebanyakan berlubang-lubang, sehingga kendaraan tidak bisa melaju kencang. Sekitar pukul 7 malam kami berhenti di sebuah rumah makan besar dan kami diberi waktu setengah jam untuk makan atau istirahat. Rumah makan ini besar namun dikelilingi oleh sawah ladang yang gelap tanpa penerangan. Pencahayaan di dalam restoran sendiri remang-remang dan agak menakutkan, bahkan saya minta ditemani suami pergi ke toilet yang letaknya di bagian belakang restoran. Tanpa disangka saat menunggu antrian toilet, kami bertemu dengan dua orang cowok asal Indonesia, tepatnya Makasar, yang juga lagi backpackeran dengan rute bangkok – siem reap – pnhom penh – ho chi minh, mereka juga ternyata satu bus dengan kami. Kami mengobrol mengenai rute dan pengalaman kami saat di restoran walau kami nggak makan, lapar sih (secara kami belum makan apa-apa selain sandwich yang kami beli tadi pagi di 711) tapi rasanya tidak nafsu makan.

Saya pun mengobrol sebentar dengan Tina soal hotel kami dan juga mesti naik kendaraan lagi atau cukup jalan kaki. Tina pun menyarankan naik tuk-tuk saja dan malah menawarkan jasa carter tuk-tuk seharian untuk keliling Angkor Wat besok, kami pun langsung menerima tawaran Tina (daripada susah-susah nyari tuk-tuk lain) setelah sepakat dengan ongkos yang ditawarkan.

Masih sekitar dua jam lagi kami berkendara hingga suasana yang temaram mulai berganti menjadi terang karena lampu-lampu neon, akhirnya kami tiba di Siem Reap. Ternyata Siem Reap merupakan kota yang cukup besar, jalanannya 4 jalur dan di kanan kirinya berjejer rapi gedung pemerintahan, hotel maupun pertokoan.

Bus berhenti di dekat jembatan Old market dan satu persatu penumpang turun. Tina mencegat salah satu tuk-tuk untuk mengantar kami ke hotel dan mengingatkan bahwa besok dia akan menjemput kami di lobby pukul 04.30 pagi.

1466272_10152139033264623_439008178_n
Tuk – tuk Cambodia

Viva Hotel 

Hotel yang kami booking bernama Viva hotel yang terletak di area Old Market. Ternyata lantai satu hotel ini merupakan restoran mexico – italia yang ramai pengunjung terutama bule-bule. Kami diantar ke kamar kami di lantai dua, dan di luar dugaan kamarnya bersih dan bagus mengingat harganya yang murah (sekali). Untungnya karena lantai 1 merupakan restoran, kami yang sudah menemukan nafsu makan kembali dan juga lapar berat, langsung memesan makanan lewat telepon.

viva-hotel-siemreap_8_-_copy
Kamar kami (sumber : vivahotelsiemreap.com)

Kami pun menyantap makan malam kami yang sudah sangat telat (sudah hampir pukul 11 malam) berupa loklak dan cambodian beef skewer, keduanya merupakan masakan khas cambodia yang sangat cocok di lidah indonesia kami dan rasanya enak. Puas makan kami segera tidur kami besok pagi-pagi sekali harus sudah bangun untuk menyaksikan sunrise di Angkor Wat.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s