Posted in Bandung, Medan, North Sumatera, West Java

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 1&2)

Jangan impulsif saat melihat tiket promo, itulah pelajaran yang saya petik dari perjalanan saya 2013 silam. Gara-gara melihat murahnya promo penerbangan bandung-medan dan medan-bangkok dari “si merah kesayangan”, saya langsung tergoda beli tanpa memperhitungkan bahwa saya tinggal di jakarta. Walau setelah dihitung memang harga tiketnya lebih murah dibanding jakarta-bangkok direct, tapi tetap saja ada biaya transportasi, akomodasi dll, belum lagi kerepotan karena harus melintasi beberapa kota sekaligus. Selain itu liburan kali ini sebenarnya adalah dalam rangka merayakan ultah baby g yang ke-1, jadi tentunya saya membeli 2 adult ticket & 1 infant ticket.

Mendekati hari H saya makin kebat-kebit karena harus membawa baby g yang di kala itu masih belum genap setahun, maklum saya yang working mom menyerahkan pengasuhan bayi pada pengasuh sehingga belum menguasai seluk beluk baby g 100%, kalau hanya 1-2 hari gak masalah tapi seminggu? akhirnya setelah berembug dengan suami, kami memutuskan hanya pergi berdua tanpa baby g. Nah, sebagai orang rempong, saya pun merasa sayang kalau cuma main ke Bangkok dan malah mulai melirik negara-negara tetangga Thailand semisal Cambodia, Laos & Myanmar yang bisa ditempuh melalui jalur darat dengan durasi kurang dari sehari. Akhirnya … saya memutuskan memilih Cambodia tepatnya kota Siem Reap yang terkenal akan situs Holy Angkor Wat , suatu situs kuno yang terdiri dari kumpulan ratusan candi-candi  yang sangat saya sukai.

Day 1 : Jakarta – Bandung

Selepas dzuhur, saya dan suami sudah bersiap dengan ransel masing-masing. Karena akan berpindah 4 kota 3 negara, maka kami menerapkan prinsip travel light, hanya membawa ransel 7 kg dan satu tas kamera DSLR. Setelah peluk cium baby g dengan berat hati (karena sebenarnya trip ini dirancang untuk merayakan ultahnya yang pertama) kami pun berangkat ke terminal bus kampung rambutan guna mencari bus yang akan membawa kami ke Bandung.

Saya tidak begitu ingat nama bus yang kami tumpangi, tapi lumayan nyaman untuk perjalanan berdurasi 4 jam yang alhamdulillah tidak macet. Bus yang kami tumpangi keluar di exit tol padalarang bukannya di pasteur, sehingga kami mesti naik angkot lagi berupa elf yang banyak mangkal di exit pintu tol padalarang.

Hotel yang kami booking bernama Cassadua Hotel, letaknya persis setelah exit tol pasteur, bangunannya yang tinggi bisa dilihat dari jalan, karena pertimbangan itulah kami memilih hotel tersebut. Setelah turun dari elf, kami agak kesulitan menemukan jalan menuju hotel ini yang ternyata memang berada di tengah-tengah perumahan mewah, jadi walau bangunannya kelihatan dari jauh tapi jalannya tidak lurus. Kami sempat bertanya-tanya dulu pada warga sekitar sebelum bisa menemukan lokasi hotel ini.

Nothing special in this hotel kecuali faktor lokasinya yang memungkinkan berjalan kaki menuju bandara Hussein Sastranegara (karena besok pagi-pagi sekali kami akan ke bandara). Kamar yang kami booking adalah type standard room yang memang sangat standard, letaknya di lantai 1, no window, agak sedikit pengap dan tidak terlalu bersih, furniturenya pun sudah agak tua. Tempat tidurnya berupa single bed dengan satu tambahan tempat tidur kolong, AC, TV kabel dan toilettries standar.

y963228018
Standar Room di Cassadua Hotel (sumber : agoda)

Kami sampai sekitar pukul 5 sore dan langsung beristirahat sejenak, sesudah maghrib tadinya kami mau nongkrong cantik di PVJ, tapi berhubung males naik angkot di malam minggu yang pastinya bakalan macet, kami akhirnya memutuskan ke BTC tentunya dengan berjalan kaki (nanggung naik angkot, jaraknya sekitar 1,3 km-an). BTC adalah typikal mall biasa dengan deretan toko-toko yang kebanyakan menjual pakaian dengan harga yang tidak terlalu mahal. Di sini kami hanya makan malam di food court (HokBen tepatnya) dan karena bosan akhirnya memutuskan kembali pulang saja ke hotel untuk beristirahat.

Day 2 : Bandung – Medan

Pagi-pagi sekali sebelum jam 6 kami sudah check out dari hotel dan berjalan kaki menuju Bandara Hussein Sastranegara. Jaraknya sebenarnya cukup jauh, sekitar 4 km-an, tapi bukan saya dong namanya kalau gak kuat jalan kaki apalagi di waktu pagi hari yang masih sejuk segar begini. Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan warga bandung yang sedang jogging ataupun jalan santai di sekitar jalan menuju bandara. Hampir sejam kami berjalan hingga sampai di pintu gerbang bandara, sambil menunggu pesawat yang akan berangkat jam 08.oo, kami sarapan dengan roti yang sudah kami beli di BTC semalam. Bandara Hussein Sastranegara (yang pada tahun 2013 belum direnovasi) tidak begitu besar, seperti lazimnya bandara militer yang dialihfungsikan menjadi bandara komersil lainnya. Ruang tunggunya kecil dan Toilet umumnya pun kurang bersih, mungkin setelah direnovasi pada tahun 2016 kondisinya lebih baik ya. Pesawat lepas landas tepat waktu pukul 08.00 dengan durasi penerbangan selama 3 jam, saya pun baru sadar kalau posisi medan lebih utara dibanding kuala lumpur.

Itinerary di medan ini sebenarnya sudah diubah, dengan melewatkan danau toba yang awalnya merupakan tujuan utama kami ke medan, sungguh sayang, hal tersebut akibat perubahan jadwal Air Asia dan juga pemindahan bandara dari Bandara Lama Polonia ke Bandara baru Kuala Namu. Akhirnya kami hanya bisa berpuas dengan mengeksplorasi kota medan saja.

Pukul 11.00 kami tiba di bandara kuala namu yang masih baru saat 2013 lalu, bandaranya sangat besar dan megah seperti Juanda di Surabaya dengan beberapa ornamen khas batak yang menghiasi interior ruangan. Kami naik bus damri menuju ke pusat kota dengan durasi selama sekitar satu jam, tanah sekitar bandara masih sangat sepi, didominasi oleh area perkebunan atau padang ilalang dengan sesekali ada 2-3 pemukiman, saat itu belum ada hotel sama sekali di dekat bandara. Kami turun di Jl Ir H. Juanda yang hanya berjarak sekitar 200 m ke destinasi pertama kami Masjid raya Medan dan Istana Maimun. Di tengah jalan kami mampir di restoran padang dan langsung kalap menyantap aneka hidangan karena sudah kelaparan berat.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan yang nama aslinya adalah masjid Al Mashun dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sang sultan Deli pada tahun 1906. Masjid ini sengaja didesain megah bahkan melebihi istana maimun yang merupakan kediaman sultan.

Masjid ini didesain oleh Arsitek belanda bernama J. A Tindengman dengan denah berbentuk persegi delapan. Empat penjuru masjid dilengkapi dengan beranda dan kubah berwarna hitam yang mengelilingi kubah utama. Masing-masing beranda memiliki tangga yang menghubungkan pelataran dengan ruang shalat yang sengaja didesain lebih tinggi. Antara beranda satu dengan yang lain dihubungkan dengan lorong-lorong berjendela gaya timur tengah. Ruang shalat pria dan wanita dipisah, sementara ruang wudhunya terletak di pelataran masjid.

img_4079
Masjid Raya Medan

Istana Maimun

Seusai menjalankan ibadah shalat dzuhur, kami berjalan menuju ke istana Maimun yang hanya berada di seberang masjid raya. Istana maimun ini sangat mencolok dengan facadenya yang berwarna kuning terang. Istana Maimun merupakan peninggalan kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli dan diresmikan pada tahun 1891. Istana ini berasitektur campuran antara melayu, arab dan eropa. Istana ini sekarang dibuka untuk umum dan dijadikan museum. Istana ini terdiri atas bangunan induk yang diapit oleh bangunan sayap di kanan kirinya, di depannya terdapat lapangan berumput yang sangat luas.

img_4082
Istana Maimun

Selepas pintu gerbang kami disambut oleh kereta kuda yang dahulu digunakan oleh sultan deli, tidak jauh di belakangnya ada bangunan yang kami pikir serupa lumbung padi. Sama seperti masjid raya, istana maimun dibangun lebih tinggi sehingga kita harus menaiki sejumlah anak tangga menuju pintu utamanya. Alas kaki harus dilepas sebelum memasuki kompleks istana. Istana ini berisi berbagai koleksi peninggalan kesultanan deli, mulai dari foto-foto para sultan, ratu dan anggota kerajaan, singgasana dan furniture kuno lainnya. Seperti facadenya, interiornya pun didominasi warna kuning yang merupakan warna resmi dari kesultanan Deli. Interiornya pun mirip sekali dengan masjid karena memang didesain bergaya arab, terutama dari bentuk lengkung gawangan-gawangan dan pilar yang ada. Lantainya terbuat dari marmer berwarna cokelat abu-abu, sementara plafondnya dihiasi oleh corak khas deli.

img_4083
Kereta Kesultanan
img_4097
Singgasana Sultan Deli
img_4100
Interior istana

Hal menarik lainnya dari istana ini adalah adanya fasilitas penyewaan baju adat deli dengan harga terjangkau. Bajunya tersedia dalam berbagai ukuran dan warna, selain itu bajunya pun sangat terawat. Penyewaan baju sudah termasuk ongkos pengambilan dan cuci cetak foto dengan ukuran A3. Kami tentunya tidak melewatkan kesempatan ini dan ikutan mencoba baju adat deli tersebut, staf yang ada sangat helpful dan ramah, mereka membantu kami mengenakan baju adat tersebut termasuk memakaikan sejumlah perhiasan, tutup kepala dan senjata adat. Istana ini juga sangat ramai dengan wisatawan mancanegara.

img_4099
Sewa baju adat deli

Setelah puas mencoba baju tersebut, kami duduk-duduk di serambi bangunan sayap yang cenderung sepi. Kami menikmati pemandangan lapangan luas di depan istana maimun yang hijau menghampar.

Tjong A Fie Mansion

Destinasi kami selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 1,3 km dari istana maimun, tapi karena sudah agak lelah kami memutuskan mencoba naik bentor.

Tjong A Fie mansion adalah bekas kediaman Tjong A Fie, salah satu orang terkaya di Asia Tenggara pada era 1900-an yang berasal dari Tionghoa dan menetap di medan. Tjong A Fie merupakan seorang bankir, pengusaha perkebunan, pabrik-pabrik dan berbagai usaha lainnya. Dikenal karena kemampuan diplomasinya dan keluhuran budinya serta sifatnya yang dermawan, Tjong A Fie memiliki hubungan yang sangat baik dengan Sultan Deli, Ma’moen Al rasyid dan Pejabat Kolonial Belanda yang mengangkatnya menjadi Kapiten Tionghoa.

Rumah kediaman Tjong A Fie ini sekarang dibuka untuk umum dengan tiket sebesar 35 K. Tiketnya bagus dengan bahan dari karton tebal mengkilat bergambar potret Tjong A fie dan Nyonya sehingga membuat kami sayang untuk langsung membuang potongan tiket tersebut.

1003938_10152138982679623_1943526053_n
Foto Tjong A Fie di ruang tamu lantai 1
1474561_10152138984809623_1706954775_n
Tiket masuk Tjong A Fie Mansion

Pintu gerbang tempat ini dicat warna hijau dan terbuat dari kayu dengan gaya china. Mansionnya sendiri berlantai dua dengan gaya peranakan, campuran antara Melayu dan China dengan cat warna kuning yang satu tone lebih muda dibanding istana maimun. Begitu masuk kami mendapati serambi luas berlantai marmer dengan aksara china ditempel di pintu utamanya dan tidak ketinggalan hiasan lampion merah yang menjuntai dari langit-langit. Untuk mengitari mansion ini kami diharuskan melewati rute yang telah ditetapkan sesuai papan petunjuk, tidak boleh acak dan melompat-lompat. Ada juga jasa pemandu wisata di sini, namun sayangnya saat kami ke sini semua pemandu wisata sedang bertugas menemani tamu lainnya sehingga kami menjelajah isi mansion sendiri.

1466228_10152138984879623_823435602_n
Pintu masuk
1424379_10152138984814623_1412382268_n
The Mansion

Dari serambi kami harus berjalan ke kiri melewati sebuah lorong beratap dan memasuki beberapa ruangan antara lain ruang tamu umum untuk menjamu tamu umum, ruang kerja Tjong A Fie yang masih lengkap dengan furniture dan telepon antik zaman dahulu dan ruang keluarga. Setelah itu kami memasuki sebuah ruangan luas yang diisi dengan berbagai foto aktivitas dan kegiatan Tjong A Fie, ruang makan megah dengan meja makan yang besar yang dikelilingi oleh sejumlah kursi makan cantik serta ruang tidur yang dahulu digunakan oleh Tjong A Fie masih lengkap dengan tempat tidur besar berkelambu, mesin jahit bahkan peti dan baju yang dahulu dipakai Tjong A Fie saat bermigrasi dari Tiongkok ke Medan.

1459694_10152138983249623_377010910_n
Salah satu ruangan yang memajang aneka foto aktivitas Tjong A Fie
1452038_10152138983624623_1007533072_n
Ruang Makan

Dari kamar tidur kami menuju ke lantai dua, di puncak tangga terdapat altar doa seperti di keluarga-keluarga china. Lantai dua berisi tiga ruang tamu khusus untuk para tamu kehormatan, satu khusus untuk Sultan Deli, satu untuk para pejabat Belanda dan satu lagi untuk para tamu china. Selain itu terdapat pula hall luas yang digunakan sebagai ballroom – ruang dansa dan pesta-pesta. Tidak semua ruangan di lantai dua ini dibuka untuk umum. Di lantai dua ini juga terdapat poster besar berupa silsilah keluarga dan foto-foto anggota keluarga Tjong A Fie.

1422377_10152138984484623_797865347_n
Salah satu ruang tamu di lt 2 yang digunakan untuk menyambut sultan deli

Secara keseluruhan saya sangat suka dengan mansion ini karena memberikan gambaran akan kebudayaan peranakan yang sangat kental. Selain itu karena berada dalam pengelolaan keluarga, museum ini berserta seluruh koleksinya sangatlah terawat.

Kesawan Hotel

Penat dan lelah mulai terasa setelah mengunjungi ketiga destinasi tersebut, maka kami melangkahkan kaki menuju Kesawan Hotel yang hanya berjarak sekitar 200 m dari Tjong A Fie Mansion dan sudah kami booking sebelumnya.

Kesawan Hotel kami pilih dengan pertimbangan lokasi yang sangat strategis tepat di jalan kesawan yang merupakan pusat keramaian di medan. Selain itu hotelnya standar saja sih, sudah agak tua malah, bangunannya sendiri lebih mirip ruko bertingkat. Kami memesan kamar standard yang memang standard, kamarnya agak lembab dengan furniture yang sudah agak tua dengan fasilitas AC & tv cable. Di seberang hotel adalah restoran tip top yang sudah terkenal sejak zaman dahulu di medan.

y932569019
Standard Room di Kesawan Hotel (sumber : agoda)

Merdeka Walk

Sekitar jam 5 sore kami keluar hotel dan berjalan menuju merdeka walk sekalian makan malam. Merdeka Walk merupakan suatu tempat nongkrong dan area makan yang sangat populer di medan. Dalam perjalanan kami melewati bangunan tua cantik yang dialihfungsikan menjadi kantor pos medan. Setelah itu kami juga sempat menyambangi lapangan merdeka yang ramai oleh warga yang sedang duduk-duduk, mengobrol atau bahkan fitness di beberapa alat fitness gratis yang sudah disediakan oleh pemerintah di taman tersebut.

1425621_10152138985009623_253817511_n
Kantor Pos Medan

Kesan saya terhadap medan ini lebih mirip seperti berada di kuala lumpur atau singapore, alih-alih bernuansa batak seperti yang saya sangka, ternyata medan ini malah lebih bernuansa melayu karena dulunya merupakan pusat kesultanan melayu deli. Masyarakatnya pun banyak yang muslim. Selain itu banyaknya etnis china dan india yang juga bermukim di medan ini menjadikan saya merasa seperti di kuala lumpur.

Awalnya saya kira Merdeka Walk meruapakan area makan murah seperti layaknya warung-warung lesehan di Yogya atau Semarang, tapi ternyata lebih merupakan kumpulan gerai-gerai seperti di mall dengan harga mall pula, hanya saja gerainya outdoor.

1450140_10152138985179623_2067198598_n
Merdeka Walk

Kami mencoba rekomendasi banyak orang yaitu Restoran Nelayan yang terkenal dengan dimsum dan pancake durian-nya. Kami memesan lumpia, siomay, mie hot plate dan pancake durian. Rasanya memang sangat enak, terutama pancake durian-nya yang sangat legit, tapi harganya seperti yang saya bilang, harga mall jadi cukup mahal.

Setelah perut kenyang kami kembali berjalan ke hotel dan beristirahat untuk aktivitas besok.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s