Posted in China, Shanghai

Explore China (Day 5)

Baru kali ini saya merasakan “the art of doing nothing”, perasaan malas ngapa-ngapain yang dirasakan saat travelling, rasanya cuma pingin malas-malasan di hotel. Biasanya saya nggak pernah begini karena merasa “udah jauh-jauh dateng masa iya cuma mau tiduran di hotel”, tapi efek flu berat + cuaca dingin memang nyatanya menyurutkan semangat saya. Jadilah jadwal yang seharusnya people’s power – shanghai museum – yuyuan garden – xintiandi – oriental tv tower menjadi hanya yuyuan garden saja, saya menghabiskan waktu dengan menonton tv dan baru keluar hotel jam 11.00 siang.

Kami berjalan menyusuri deretan pertokoan dan shopping mall di sepanjang East Nanjing Road, suhu udara di shanghai tidak sedingin beijing karena letaknya lebih ke selatan. Di sepanjang jalan juga banyak bak-bak bunga segar berwarna-warni yang mencerahkan mata. Kami berhenti sebentar di McD yang berada tepat sebelum pintu masuk metro untuk brunch, di Shanghai orang-orangnya lebih bisa berbahasa inggris dibanding beijing, setidaknya pelayan di McD Shanghai paham arti large,small,no ice atau french fries.

7644_10154097168839623_4364812140730006875_n

Yuyuan Garden

Kami menaiki metro dari stasiun East nanjing, change di People’s power dan turun di yuyuan. Sayangnya saya lupa mencatat di itinerary harus keluar dari exit mana, saat kita sedang mengamati peta yang ditempel di dinding stasiun metro, ada keluarga indonesia keturunan china yang menyapa kita, kebetulan mereka juga mau ke yuyuan dan mereka mengajak kita barengan. Keluarga mereka terdiri atas bapak,ibu, kakek dan seorang putri yang seusia saya (sebut saja rose), untungnya rose mengaktifkan kuota internet sehingga dia mengandalkan aplikasi maps untuk mengarahkan jalan.

Keluar dari stasiun metro, kami disambut oleh deretan kios-kios souvenir dan pertokoan cantik yang beratap khas china. Agak sulit menemukan bangunan mana yang Yuyuan Garden karena sangat mirip satu sama lain, tidak ada bentuk khas ataupun penunjuk. Kami mengikuti Rose yang menggunakan aplikasi maps, tapi …kami malah memasuki jalan sempit yang berakhir buntu, bingunglah kami semua karena rose bilang penunjuk maps nya mengarahkan ke sana.Untungnya ada pemandu wisata yang kebetulan juga sedang memandu rombongan turis bule, jadilah akhirnya saya bertanya dan ternyata kami sudah melewati pintu masuknya tadi.

img_9040
Deretan pertokoan sekitar yuyuan garden
img_9042
Ini juga pertokoan

Untuk menuju Yuyuan Garden memang harus melewati deretan pertokoan bergaya china yang membuat kita rancu mengenali obyek wisata yang dimaksud, apalagi gambar-gambar yang pernah saya lihat di internet juga menampilkan gambar pertokoan tersebut alih-alih yuyuan garden-nya sendiri.

img_9103
harus melewati deretan toko seperti ini dulu

Kami disambut oleh danau dengan pavilion yang berdiri di tengah-tengahnya dan jembatan bernama “nine zigzag bridge” membentang di atasnya, danau tersebut berlatar bangunan megah bergaya china yang ternyata adalah restoran, lagi-lagi bukan ini yuyuan garden-nya. Berbelok ke kiri kita akan menemukan loket tiket dan gapura megah berhiaskan lampion yang merupakan pintu masuk dari Yuyuan Garden.

img_9097
Paviliun di atas danau dengan nine zigzag bridge
img_9043
pintu masuk yuyuan garden

Yuyuan Garden dibangun pada tahun 1559 oleh seorang pejabat Dinasty Ming yang bernama Pan Yunduan, taman ini didedikasikan untuk kedua orang tuanya yang sudah memasuki masa pensiun sebagai tempat peristirahatan. Walau disebut “garden” taman namun kompleks yuyuan garden tidak hanya berisi taman, melainkan juga paviliun, serambi, lorong, kebun batu dan danau.

Bangunan yang menyambut kami setelah pintu gerbang bernama Sansui Hall, bangunan terbesar dari kompleks ini yang digunakan untuk menyambut para pejabat dan akademisi. Kami melanjutkan langkah melewati”rockery” kebun batu dan koridor-koridor yang pembatasnya berupa batu karang alami, lalu kami melewati danau dengan paviliun bernama “nine lion waterside pavilion”.

img_9057
Sansui Hall
img_9051
Inside Sansui Hall
img_9062
Nine lion waterside pavilion

Setelah itu kami menjelajahi bagian lain taman termasuk paviliun yang dulu digunakan Pan Yunduan untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas negara. Kami juga menemukan danau luas dengan pemandangan pohon-pohon di akhir musim dingin. Yang unik keseluruhan tembok yang mengelilingi kompleks ini diukir dengan badan dan kepala naga.

Overall, yuyuan garden sebenarnya cukup bagus, tapi…. sehabis mengunjungi situs ratusan tahunnya Beijing macam Forbidden City, yuyuan garden jadinya biasa banget, just another chinese scenic garden. Saya sampai bosan dan malas berkeliling lagi, malah memilih duduk di depan danau sambil tiduran, padahal keseluruhan kompleks masih banyak yang bisa dijelajahi. Sehabis itu kami keluar dari kompleks yuyuan dan melintasi nine zigzag bridge dan deretan pertokoan lainnya.

Kami membeli oleh-oleh berupa manisan, permen dan kudapan manis dari buah yang insya allah halal di toko-toko sekitar yuyuan garden, saking keasyikan kami tidak memperhatikan kami keluar di jalan mana dan malah mendapati diri kami di Jiujiaochang St,tentunya kami bingung arah stasiun metro. Kembali di sini kami mengalami roaming karena setiap orang yang ditanya nggak paham bahasa inggris.

Setelah beberapa saat bengong kami memutuskan berjalan tak tentu arah dan melewati “city god temple” yang ramai pengunjung. Lewat kuil tersebut kami malah ketemu lagi sama keluarga rose dan mereka menunjukkan arah ke metro. Sebelum ke stasiun kami berhenti lagi di toko souvenir untuk membeli oleh-oleh kaos dan boneka panda untuk keluarga di rumah.

Tidak jauh sebelum stasiun metro, kami melewati bangunan ruko berwarna hijau yang mana banyak orang-orang berjanggut dengan kopiah keluar masuk, kami pun bertanya pada bapak-bapak di pintu masuk apakah ini masjid dan dijawab dengan anggukan. Syukurlah, tak disangka bisa ketemu masjid dan menunaikan shalat di sana. Kebanyakan jamaahnya adalah warga keturunan timur tengah dan kami juga bertemu seorang pemuda indonesia yang sedang dinas di shanghai. Masjid ini terletak di fuyou street, tidak jauh dari stasiun metro yuyuan.

Sekitar pukul 16.00 saya yang memang sudah kehilangan minat untuk mengeksplorasi shanghai ditambah dengan tas yang makin berat karena segala macam oleh-oleh, akhirnya memutuskan untuk langsung saja berangkat ke bandara Pudong walau penerbangan kami masih dijadwalkan pukul 00.30 malam nanti.

Kami membutuhkan waktu sekitar sejam lebih hingga mencapai bandara Pudong yang sangat luas. Keluar dari stasiun metro terdapat beberapa gerai makanan yang harganya cukup terjangkau dan (mudah-mudahan) halal, makanlah di sini sebab di dalam bandara hanya ada restoran mahal yang jumlahnya pun tidak banyak.

Setelah makan kami tidur-tiduran (dan beneran tidur) di hall lantai 3 yang kosong, selain kami ada beberapa traveller lain yang melakukan hal yang sama. Kami melewatkan waktu hingga sudah bisa check in di counter, di china print web check in via internet tidak diperbolehkan, bentuknya harus berupa boarding pass resmi.

Sesudah itu kami menunggu di waiting lounge dan akhirnya masuk pesawat, tapi pesawat baru jalan sekitar dua jam kemudian karena ada masalah teknis, bye-bye shanghai, bye-bye china!!

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s