Posted in Beijing, China, Shanghai

Explore China (Day 4)

Kami sengaja memillih bullet train yang berangkat pukul 12.00 sebab masih ada satu lagi destinasi wajib di beijing yang belum kami kunjungi yaitu … Temple of heaven. Berpacu dengan waktu, pukul 07.30 kami sudah check out dari hotel dan naik subway menuju ke stasiun Tiantan Dongmen. Kami keluar melalui exit A dan tidak jauh kami sudah berada di depan east gate .

TEMPLE OF HEAVEN

Hampir semua objek wisata kuno di China super duper luas, forbidden city, summer palace maupun great wall sangatlah luas, tidak terkecuali dengan Temple of Heaven yang luasnya bahkan melebihi Forbidden City. Temple of Heaven memang harus lebih luas dibanding Forbidden City karena kaisar sebagai putra langit dilarang memiliki tempat tinggal duniawi yang lebih luas dibanding tempat tinggal surgawi.

Temple of Heaven merupakan kompleks kuil dan tempat peribadatan yang digunakan untuk upacara dan tempat persembahan kepada dewa. Temple of Heaven dibangun pada dinasti Qing dan Ming. Temple of heaven dibagi menjadi dua area yaitu area utara yang diperuntukkan untuk “heaven” dan area selatan yang diperuntukkan untuk “earth”, bagian utara dibuat lebih tinggi karena melambangkan surgawi “heaven”. Keseluruhan kompleks ini dikelilingi oleh dinding. Bangunan-bangunan terpenting dari kompleks ini adalah Circular Mound Altar (Huanqiutan), the Imperial Vault of Heaven (Huangqiongyu) dan the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian).

Kalau di Forbidden city kemarin bangunannya rapat-rapat, di temple of Heaven ini bangunannya jarang-jarang namun masing-masing dipisahkan oleh taman yang sangat luas dan berjarak cukup jauh antara satu sama lain. Karena keterbatasan waktu, kami hanya mempunyai waktu maksimal 2 jam dan memutuskan untuk mengunjungi bangunan terpenting yang kerap kali muncul di brosur-brosur pariwisata yaitu the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian). Untuk menuju Hall of Prayer for Good Harvest saja kami butuh waktu sekitar 20 menit berjalan kaki, karena tas saya makin penuh dengan berbagai sovenir yang kemarin dibeli di Wangfujing, saya sempat berhenti duduk-duduk sambil memperhatikan aktivitas warga. Ada grup ibu-ibu yang sedang menari membentuk lingkaran dengan sang instruktur di tengah, lucunya mereka mengenakan kostum tradisional khas cina untuk menari, lagu yang mengiringi adalah lagu irama khas rakyat china, beberapa turis bule merekam tarian tersebut sambil ikut-ikutan menari. Ada juga sekelompok manula yang sedang berlatih senam taichi. Ada sekelompok remaja yang juga sedang bermain bulu tangkis atau layangan. Tampaknya Temple of Heaven di hari minggu tak ubahnya seperti GBK di Jakarta.

img_8924
Menuju The hall of good harvest
img_8926
Ibu-ibu menari dengan kostum tradisional
img_8928
taman-taman di kompleks Tempel of Heaven

Untuk memasuki the Hall of Prayer for Good Harvest kami harus membayar lagi. Kami mendaki sejumlah tangga dan sampailah kami di bangunan terkenal tersebut, kuil ini berbentuk bulat dengan diameter 32 m dan memiliki tiga lapisan atap berwarna biru. Kuil ini juga dibuat dalam tiga level lantai dan masing-masing memiliki balustrade dari marmer putih. Dahulu kaisar biasa mengadakan upacara dan doa-doa persembahan untuk meminta cuaca dan hasil panen yang baik. Kuil ini dibangun dari kayu hitam yang sangat kokoh, di dalamya terdapat pilar-pilar bulat berwarna merah dengan altar suci tepat di tengah-tengahnya, sayangnya bagian dalam kuil baru dibuka pukul 09.30 sehingga kami hanya bisa puas mengintip lewat celah pintu yang dibuka.

img_8936
Hall of  prayer for Good harvest
img_8948
Inside the hall

Di kanan dan kiri kuil ini terdapat West Annex Halls dan East Annex Halls sementara di bagian utara terdapat Imperial Hall of Heaven. yang bersambung dengan Imperial walkway bridge dan Circular mound altar, lagi-lagi sayangnya karena terbatasnya waktu kami hanya bisa memandangi tempat tersebut dari kejauhan.

img_8959
Imperial Hall of Heaven

Kami bergegas melewati 72 long corridors yang penuh dengan warga lokal yang bermain mahjong, catur atau kartu.

img_8969
72 long corridors

BYE-BYE BEIJING

Dari Temple of heaven kami kembali menaiki subway untuk menuju Beijing South Railway Station, sebenarnya yikatong yang kami beli masih ada sisa dananya dan bisa di-refund kembali, namun tidak semua stasiun bisa me-refund sementara stasiun terdekat dari posisi kami adalah Fuxingmen. Kami tentunya malas kalau harus berputar-putar rute dulu untuk mencapai fuxingmen sekedar untuk mendapatkan refund 40 RMB, akhirnya kami relakan saja dan yikatong tersebut kami bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Kami sampai di stasiun pukul 11.00 kurang dan berhenti dulu di gerai Burger King untuk early lunch. Setelah itu kami segera menuju waiting lounge, kalau mau naik bullet train jangan datang mepet waktu, alokasikan waktu sekitar satu jam sebelum keberangkatan, karena kita akan melewati pemeriksaan detektor dua kali dan cukup memakan waktu apalagi bila antriannya panjang.

Saya sering denger soal joroknya toilet di China sampai saya sengaja nggak banyak minum untuk menghindari ke toilet kecuali kepepet. Habis ceritanya jorok banget sih, seperti wc tidak berbilik ataupun toilet yang nggak disiram. Tapi pengalaman saya beberapa kali ke toilet di bandara ataupun di stasiun tidak seperti itu, wc rata-rata sudah berbilik tapi memang habit orang sana terutama generasi tua-nya, mereka gak suka nutup pintu bilik dan cueknya “membuang” di depan orang-orang. Syukurlah saya nggak pernah menemukan sisa limbah orang, tapi suami saya cerita kalau dia beberapa kali mendapat toilet dengan sisa limbah yang tidak diguyur, hieeek.

Di stasiun besar seperti ini rombongan keluarga juga cuek makan dengan bekal ala piknik dan rantang berlapis-lapis, walaupun mereka cukup tertib dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

 10409692_10154097249519623_2878755189720554897_n

Informasi kereta tertera pada tiket, contohnya lihat gambar di atas : angka 16 di pojok kanan atas menunjukkan nomor platform, G129 adalah nomor keretanya, dengan keterangan rute di bawahnya (Beijing – Shanghai Hongqiao), tanggal dan jam keberangkatan tertera di bawah kiri rute (2016 03 12 12:15) sementara di bawah kanan rute tertera 06 menunjukkan nomor gerbong dan 01 A menunjukkan nomor tempat duduk.

Tepat pukul 12.00 kereta datang dan kami mencari tempat duduk sesuai yang sudah tertera di tiket, tempat duduk kami terletak paling depan dengan komposisi bangku 3-2 dan semua bangku menghadap depan (tidak berhadap-hadapan), dekat toilet serta fasilitas dispenser air panas. Kereta berangkat tepat waktu, rasanya excited sekali bisa menaiki bullet train. Untungnya kami memang sudah membawa gelas lipat , peralatan makan dan ransum seperti mie gelas, cereal cair ataupun minuman sachet, sehingga perjalanan selama 6 jam tersebut kami isi dengan (mencoba) tidur dan makan. Awalnya tempat duduk masih terasa nyaman tapi lama-lama pegal juga sehingga sedikit-sedikit saya ubah posisi, udah gitu di seberang saya adalah seorang bule dengan wanita china yang tampaknya adalah korporat asing yang sedang bekerjasama untuk mengembangkan pelatihan bahasa inggris jadilah sepanjang perjalanan 6 jam itu saya non stop mendengarkan mereka berdiskusi .

1931088_10154097168339623_3160426889175148804_n
Inside of bullet train

WELCOME SHANGHAI

Tepal pukul 17.58 kereta sampai di stasiun Hongqiao yang juga merupakan stasiun yang tersambung dengan bandara shanghai hongqiao sehingga suasana sangat ramai dan padat. Kalau di beijing transportasi umum dengan kereta disebut beijing subway, di shanghai disebutnya shanghai metro. Dengan shanghai metro kami bertolak ke nanjing East Road di mana hotel kami berada. Perjalanan cukup jauh dan memakan waktu sekitar satu jam dengan kereta yang penuh sesak.

Keluar dari stasiun metro, kami disambut dengan pemandangan malam nanjing road yang spektakuler dihiasi oleh gemerlap cahaya dan neon dari pusat perbelanjaan dan mall besar yang berderet-deret. Tentunya kami bingung mana arah hotel kami, kami hanya mem-print peta menuju hotel tapi kami tidak tahu posisi kami saat itu di mana karena tidak ada marka jalan.

Akhirnya kami bertanya pada seorang cowok lokal ganteng (ehm) yang ternyata bisa berbahasa inggris fasih, si cowok bahkan membuka aplikasi peta online di hp-nya dan menunjukkan arah yang dimaksud, seneng bener, secara kemarin roaming bahasa mulu. Eh saat kita mau pergi si cowok didatangi cowok bule (yang cakep juga) abis itu mereka pelukan dan…kiss-an, ya ya ya ya. Shanghai memang tampaknya lebih metropolis dibanding Beijing.

Sampai di tengah jalan kami bingung lagi dan malah dengan cueknya nanya ke cowok yang lagi nawarin hotel di jalanan, haha, untungnya si cowok baik dan memberikan arah yang dimaksud. Hotel yang kami booking, Shijia in on the bund, memang bukan terletak di jalan utama Nanjing Road melainkan di salah satu gangnya yaitu Sichuan Middle Road, ya iyalah emangnya kami sanggup bayar hotel di nanjing road yang pasti harganya selangit. Letak hotel ini cukup strategis karena hanya sekitar 200 m dari Nanjing Road dan sekitar 500 m dari The Bund.

Begitu memasuki sichuan middle road, mall-mall berganti menjadi kios-kios kecil dengan suasana yang sepi lengang, untung tidak jauh kami ketemu dengan hotel ini. Hotelnya tidak begitu besar tapi resepsionisnya lancar berbahasa inggris. Kami istirahat sejenak sambil menyantap burger McD yang tadi kami beli di stasiun Shanghai Hongqiao, pegal rasanya pundak dan kaki ini akibat berdiri selama sekitar satu jam di metro. Setelah perut kenyang kami keluar hotel dan segera menuju The Bund. Sangat mudah menuju The Bund, ikuti saja arus orang-orang yang berjalan karena kebanyakan mereka akan meuju The Bund.

THE BUND

The Bund adalah anjungan di sepanjang sungai Huangpu dengan pemandangan cantik yang sangat kontras, di sebelah barat sungai Huangpu berdiri bangunan kuno peninggalan zaman kolonial Inggris yang sangat bersejarah, sementara di timur sungai Huangpu berdiri bangunan-bangunan modern dengan oriental pearl tv tower sebagai icon-nya.

Pemandangan di kala malam sangatlah indah dengan gemerlap lampu-lampu, mengingatkan saya akan avenue of the stars di Hongkong tapi the Bund lebih indah. Kontras antara bangunan kuno berpenerangan kuning emas dan bangunan modern berpenerangan warna warni sangatlah menarik mata. Banyak orang berkumpul di anjungan ini untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Yang lucunya adalah polisi di sini yang sibuk menegur dan memarahi pengunjung yang berdiri di atas tempat duduk atau bak bunga, cara menegurnya lucu, si polisi akan langsung memoto orang yang melanggar aturan dan mengancam akan dikenai denda 1000 RMB, termasuk suami saya yang tiba-tiba difoto, haha.

img_8973
Menuju the bund
img_8984
The Bund dengan huangpu river dan east river
img_9012
The Bund west river

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s