Posted in Beijing, China

Explore China (Day 3)

Di hari kedua, tubuh tropis saya sudah agak mampu beradaptasi dengan suhu udara yang superdingin di beijing ini. Walaupun kondisi tubuh belum 100% optimal sembuh, namun tidur berkualitas semalaman penuh plus menenggak obat cukup mampu membuat tubuh dan mood membaik. Pagi-pagi sekali pukul 07.00 kami sudah keluar dari hotel untuk mengejar kereta S205 pukul 08.34 (beneran tepat sampai ke menitnya) yang akan membawa kami ke salah satu dari 7 wonders of the world … the great wall of china. Ada beberapa section dari Great Wall yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Badaling yang paling populer dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, bisa dengan bus atau kereta.

The Great Wall of China

Kami memilih menggunakan kereta dengan rute perjalanan dari hotel sebagai berikut :

  • Naik subway dari Dongsi station (line 5) – change di Dongzhimen (ln 2) – turun di Xizhimen (ln 2) keluar di exit A
  • Ikuti petunjuk arah menuju Beijing North Railway Station
  • Nantinya akan ketemu pintu masuk bertuliskan Underground Entrance of Beijing North Railway Station, jangan masuk kesini, naiklah eskalator yang berada tepat di samping tempat ini hingga ke lantai Ground
  • Begitu sampai di lantai ground, kita akan langsung berhadapan dengan Ticket Booking office, sekali lagi bukan di sini belinya, loket tiket S train terletak tidak jauh dari sini dengan petunjuk “S train”
  • Kalau sudah memiliki yikatong  tidak perlu antri beli tiket lagi, cukup tap kartu
  • Setelah men-tap kartu kita tinggal duduk manis menunggu di Waiting Lounge, perhatikan di platform mana kereta kita dan pilihlah tempat duduk tidak jauh dari platfrom tersebut

Selama menunggu di sini saya perhatikan rakyat china itu hobi banget makan mie cup, kebanyakan orang membawa bekal mie cup yang ukurannya 2x lipat dari pop mie dan diseduh dengan fasilitas dispenser air panas yang memang sudah disediakan di stasiun. Saya berganti lokasi tempat duduk 2-3 kali karena masih bingung platform mana yang akan digunakan, sempat juga bertanya kepada petugas yang bisa berbahasa inggris patah-patah soal platformnya. Ternyata cukup perhatikan informasi yang tertera di layar elektronik yang dipasang persis di atas pintu masuk platform, petunjuknya dalam bahasa china dan inggris. 15 menit sebelum keberangkatan semua orang serempak siap antri di depan pintu masuk platform sampai saya ikut-ikutan ngantri karena takut ketinggalan. Begitu pintu platform dibuka semua orang lari cepet-cepetan demi mendapat gerbong terbaik, kami pun ikutan lari sampe ngap-ngapan, kami tentu khawatir nggak dapet tempat duduk soalnya perjalanan dari Beijing ke Badaling berdurasi 1 jam 20 menit. Karena kalah cepat, kami mendapat tempat duduk dengan posisi membelakangi arah (mundur) sehingga sebenarnya kurang nyaman. Kereta perlahan-lahan meninggalkan Beijing yang metropolis, tidak lama pemandangan berganti menjadi daerah kumuh dengan rumah-rumah kardus dan seng di tepi rel, juga deretan apartemen bobrok dengan kabel berjuntaian, tumpukan sampah menggunung dan sangat kotor, sangat jauh berbeda dengan downtown Beijing yang modern dan rapi. Warga yang tinggal di daerah tersebut berpakaian lusuh dengan muka yang kelelahan, wajah lain dari Beijing yang saya temui.

11209346_10154097183184623_6596121867370203487_n
Waiting Lounge

Awalnya kami berpikir bahwa S-train ini kereta khusus untuk wisatawan ke Badaling, tapi ternyata tidak, ini memang benar-benar transportasi umum yang berhenti di sejumlah stasiun dan salah satu perhentiannya adalah Badaling. Walaupun ada panel elektronik yang menginformasikan nama stasiun beserta pengumuman audio tapi tetap saja kami was-was karena takut salah turun stasiun, walhasil walaupun ngantuk kami nggak boleh tidur karena harus pasang mata dan kuping.

1391519_10154097183314623_9095208039112319332_n
S-train series

Sejam kemudian pemadangan topografi berganti menjadi pegunungan dengan hutan dan es-es yang masih belum mencair sepenuhnya. Saat itulah kami sudah bisa melihat The Great Wall dari kejauhan, tidak hanya kami bahkan para warga lokal pun berseru heboh dan sibuk memotret The Great Wall dari jendela kereta. Tidak berapa lama terdengar pengumuman “Pataling (cara baca Badaling) Station” dari pengeras suara dan kami pun turun. Selesai??? belum, masih jauh. Dari stasiun kami masih berjalan lagi sekitar 1 km hingga mencapai pintu masuk The Great Wall, ikuti saja papan petunjuknya. Saat kami turun ada beberapa turis bule yang juga mau menuju ke sana sehingga kami terus saja mengekor mereka…walau kemudian keok juga sih secara orang Indonesia kan jalannya nggak bisa cepet. Berjalan dalam cuaca sekitar 2-3 derajat benar-benar nggak nyaman, paru-paru lama kelamaan terasa sakit, untunglah sekitar setengah jam kemudian kami sampai di gerbang berupa benteng kuno yang merupakan pintu masuk serta deretan loket tiket di depannya.

img_8845
Jalan panjang membentang menuju The Great Wall
img_8846
Gerbang masuk Great Wall
img_8853
Loket tiket

Setelah membeli tiket kami pun menapakkan kaki di salah satu dari 7 wonders ini. Seneng banget akhirnya salah satu bucket list bisa dicoret. Karena masih musim dingin dan juga masih terhitung pagi, suasana di great wall tidak terlalu ramai bahkan kami bisa leluasa berfoto. Di beberapa tempat kami masih bisa menemukan bongkahan es dan salju, maklum warga tropis kan belum tau namanya salju, jadilah kami malah sibuk colak-colek bongkahan es tersebut.

The great wall merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibangun manusia, menurut hasil pemetaan panjangnya mencapai 8850 km. The great wall diprakarsai oleh kaisar Shih Huang Ti (kaisar pertama China) dari dinasti Qin, diteruskan oleh dinasti Han dan pembangunan utamanya berlangsung pada periode dinasti Ming. The Great wall berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menangkal serangan bangsa Mongolia dari utara.

img_8856

 

img_8864

img_8879

Medan the Great Wall di Badaling section ini cukup bersahabat, walau ada beberapa tanjakan curam yang cukup menguras tenaga, namun keseluruhan bagian tembok di section ini masih sangat terawat. Setiap beberapa meter terdapat bangunan berupa pos yang di dalamnya terdapat ceruk/ruangan dan juga tangga untuk menuju ke menara pengintai. Pintu masuk di pos ini sangat pendek, bahkan untuk ukuran tinggi badan saya yang hanya sekitar 155 cm, kepala saya hampir menyentuh puncak pintu. Kami berjalan hingga 3-4 pos dan saya yang kondisi badannya masih jelek akhirnya milih ngejogrok di sudut sementara suami saya masih mendaki sekitar 2 pos lagi.

img_8884
Pos pengintai
img_8899
Pintu masuknya

Dari ketinggian saya mengamati pemandangan hutan dan pegunungan yang membentang di sekitar the great wall dan jadi membayangkan situasi zaman dahulu saat perang. Hebat sekali memang konstruksinya, dengan tinggi tembok mencapai 8 m pasti akan menyulitkan para penyerang.

img_8910

img_8917
diem-diem motret polisi militer tapi tetep ketahuan dan dipelototin

Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di tempat ini dan segera bergegas turun untuk mengejar Strain pukul 13.40 yang akan membawa kami kembali ke Beijing. Tangan dan muka saya mulai beku akibat terpapar cuaca dingin, dalam perjalanan pulang kami mampir sebentar di gerai KFC untuk membeli susu panas dan french fries. KFC di China menyajikan berbagai minuman panas seperti susu, teh atau kopi. Saya juga memperhatikan bahwa setiap bangunan di China, entah itu hotel, restoran ataupun toko memiliki tirai plastik tebal di pintu masuknya, tirai plastiknya itu seperti di gudang – gudang supermarket.

Saat mencapai sekitar stasiun kami pun celingak-celinguk mencari pintu masuknya karena tidak ada papan penunjuk yang jelas. Hanya ada bangunan panjang kusam dengan beberapa pintu masuk ukuran single yang membuat kami sangsi apa ini stasiunnya, akhirnya kami memberanikan diri masuk dan bertanya apa ini stasiun S-train dan ternyata benar. Kami disambut oleh seorang kakek petugas galak yang sorot matanya seakan pingin menguliti kami hidup-hidup (oke mulai lebay), begitu melihat saya dia langsung bilang “passport” tapi begitu melihat suami saya dia langsung nyerocos dalam bahasa china dan dijawab suami saya dengan “i don’t speak chinese”. Kami kembali melewati mesin detektor untuk masuk ke stasiun. Saat menunggu kami memperhatikan bahwa memang pemeriksaan di china ini sangat ketat, ada rombongan bapak-bapak warga lokal yang sepertinya tukang kayu karena mereka membawa berbagai peralatan seperti gergaji, linggis dll yang langsung disita oleh petugas walau mereka sudah memohon-mohon.

Niu Jie 

Perjalanan pulang kami habiskan dengan tidur tanpa khawatir kelewat karena Beijing North merupakan stasiun paling akhir. Destinasi selanjutnya adalah kawasan muslim Beijing yang bernama Niu Jie, dari beijing north station kami kembali berjalan hingga mencapai Xizhimen station dan naik subway hingga Changcunjie station.

Menurut buku panduan yang pernah saya baca, untuk mencapai Niu Jie kami cukup turun di Changcunjie station melalui exit A, lalu menaiki bus No 10 dan berhenti di halte Niu Jie Bai Se atau bisa juga berjalan kaki sekitar 1.5 km. Tapi … begitu kami keluar exit A ada dua halte bus dan kami bingung yang mana, akhirnya kami berjalan ke halte yang terdekat dulu sambil membaca papan informasi tentang rute bus tersebut, tapi di papan tersebut sama sekali tidak tertera bus no 10. Kami pun berjalan ke halte yang lebih jauh dan ternyata tetap hasilnya nihil, tidak ada bus no 10. Saya pun akhirnya bertanya pada dua polisi militer yang sedang berjaga di dekat puntu keluar stasiun, untungnya itinerary yang saya siapkan mencantumkan juga nama dalam aksara china sehingga si polisi ngerti, dia menginstruksikan kami menyebrang jalan dulu dan menunjukkan arah lurus saja ke Niu Jie. Kepalang tanggung udah nyampe sini ya sudah kami memutuskan berjalan kaki saja padahal kaki udah pegelnya minta ampun. Setelah menyebrang jalan dan berjalan lurus sekitar 200 m, kami mendapati bus no 10 melewati kami, ampun deh..ternyata yang benar itu keluarnya dari exit C, di seberangnya baru ada halte bus yang dilewati bus no 10. Apakah kami naik bus?tentu saja tidak karena sudah tanggung akhirnya kami terus saja berjalan, sekitar 1 km kemudian kami mulai menemukan toko-toko dan restoran berplang hijau yang menandakan bahwa toko&restoran ini pemiliknya adalah muslim.

Akhirnya kami juga bertemu dengan restoran Tau Lu Fan, restoran muslim terkenal yang bahkan direkomendasikan oleh Bapak Maknyous, Bondan Winarno. Di daerah ini sudah mulai berseliweran warga lokal china, yang perempuan berhijab sementara yang lelaki berjanggut dan berkopiah yang menandakan bahwa mereka muslim.

Niu Jie yang berarti Ox Street merupakan kawasan muslim di beijing, dinamakan ox street karena dulu di daerah ini banyak restoran muslim yang menjual makanan berbahan dasar lembu atau sapi. Kami meneruskan langkah hingga bertemu dengan Niu Jie Bai She atau masjid Niu Jie. Bangunan masjid mirip sekali dengan kelenteng, bukan masjid dengan kubah  bawang seperti umumnya. Miris sekali melihat ada beberapa gelandangan yang meminta-minta di sekitar masjid ini apalagi ditilik dari bajunya sepertinya mereka saudara seiman, semoga Allah melebihkan rezeki mereka.

Di pintu masuk masjid tertempel jadwal shalat, dan sayangnya suami saya melewatkan kesempatan shalat jumat di masjid ini karena jadwal kereta Strain yang tidak memungkinkan. Ruangan shalat didominasi warna merah dengan banyak hiasan kaligrafi arab di kayu-kayu penonggak gedung. Arsitekturnya sangat bernuansa china karena zaman dahulu penguasa melarang bangunan yang tidak bergaya china. Minaretnya juga sangat khas dengan bentuk ornamen khas china. Ruang shalat laki-laki dan perempuan ditempatkan di gedung terpisah. Saat di sana saya sempat mengobrol dengan grup tur asal malaysia yang menyatakan keherannya atas keberanian saya pergi menjelajah china hanya berdua suami, dia bertanya nggak takut hilang? di sini makan apa aja? dsb yang membuat saya tertawa lepas.

Keluar dari masjid Niu Jie, kami bermaksud menyantap makan siang yang sangat terlambat (karena sudah pukul 15.00) di supermarket muslim yang berada di seberang jalan. Supermarketnya sangat besar dan terdiri atas 3 lantai, lantai satu dan dua sebagai supermarket yang menjual aneka bahan makanan dan segala macam rupa-rupa kebutuhan, sementara lantai 3 adalah area food court. Kami hanya melintas sebentar di area supermarket sambil melirik manisan berupa apel dibakar yang disiram gula cair serta berbagai permen china dan langsung menuju area food court.

Food court ini khusus menjual masakan halal dan semua pedagangnya adalah china muslim, alhamdulillah bisa menyantap makanan tanpa was-was. Saya memilih potongan dadu ayam yang digoreng dan semacam steamboat berisi aneka sayuran dan bakso dengan kuah pedas.

Beijing South Station

Tujuan kami selanjutnya adalah Beijing South Station semata-mata demi menukarkan tiket bullet train yang sudah kami pesan dengan tiket yang valid, maklum kemarin sudah mencoba di sejumlah stasiun tapi gagal karena kendala bahasa, sehingga mau tak mau kami harus ke stasiun ini yang memang merupakan stasiun tempat keberangkatan sang Bullet Train.

Kali ini kami menumpang bus no 10 untuk kembali ke stasiun changcunjie, menaiki subway dan turun di stasiun Beijing South. Nah keluar kereta kami kembali celingak celinguk mencari mana loket tiket buat nuker S train, ternyata..kami harus keluar dulu dari stasiun subway ke arah beijing south railway station (bukan beijing south subway) terus melewati sejumlah gerai restoran dan toko-toko seperti di mall, terus saja hingga bertemu eskalator tinggi dan naik hingga ke lantai dua tempat deretan loket-loket berada. Kami berhasil menemukan tempat ini setelah melalui serangkaian proses nanya-nanya ke banyak orang, campuran bahasa isyarat dan bahasa inggris patah-patah. Sampai di sini tentu masih bingung yang manakah loket yang dimaksud? secara loketnya berdert-deret banyak bener, beruntung suami saya melihat ada bagian informasi dan …. ternyata petugasnya bisa bahasa ingris..huraaaaa…huraaaaa..seneng banget akhirnya setelah sekian hari ada yang bisa bahasa inggris…rasanya bagai nemu oase di padang pasir. Sang petugas memerintahkan kami ke loket no 41 yang khusus untuk foreigner, tanpa banyak ba bi bu petugas di loket tiket langsung paham begitu kami menunjukkan secarik kertas tanda bukti booking dan setelah meminta passport, dia langsung menyerahkan tiket valid kepada kami, alhamdulillah.

10665197_10154097184464623_8889316158609845055_n
Loket no 41

Setelah lega sesudah mendapat tiket, kami baru bisa mengamati suasana di stasiun ini yang layaknya bandara internasional, sangat besar, megah, super bersih dan tertib.

10538405_10154097184584623_540998700314211312_n
Beijing South Railway Station

Karena sudah kecapekan akibat jalan seharian penuh, sesampai di hotel sekitar pukul 17.00 kami sudah tidak ke mana-mana lagi, untungnya di seberang hotel ada McD sehingga saat jam makan malam suami saya pergi beli dulu sementara saya … tidur manis.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s