Posted in Beijing, China

Explore China (Day 1 & 2)

Sebenarnya kalau bicara China, kami sudah pernah menjejakkan kaki di Hongkong & Macau pada 2014 silam. Hongkong & Macau memang secara administratif masuk dalam wilayah People Republic of China, tapi berhubung merupakan Special Administrative Region jadi saya merasa belum sah masuk ke China apalagi belum sampai di Beijing & Shanghai yang merupakan kota internasional dan pusat kebudayaan China selama ribuan tahun.

Tadinya saat akan berburu tiket promo saya sempat galau mau ke mana kali ini ? ajak anak atau nggak ? mau pergi berapa hari ? dsb. Soal destinasi saya dari dulu tertarik ke Jepang tapi suami saya pingin banget ke China. Jepang memberlakukan kebijakan bebas visa bagi WNI pemegang e-passport sementara pemegang passport biasa seperti saya tetap harus membayar visa, dengan mempertimbangkan soal paspor yang oktober 2016 akan habis , akhirnya saya menangguhkan Jepang dan lebih memilih China. Alasannya sekalian aja ke Jepang tahun depan setelah ganti e passport jadi gak perlu rugi keluar duit untuk bayar visa lagi.

Permohonan visa china bukan diurus oleh Kedutaan , namun oleh sebuah organisasi resmi bernama China Visa Center yang berlokasi di The East Building Kuningan. Saya mengurus visa sendiri seperti biasa, formulir permohonan bisa di-download lewat situsnya, kemudian formulir yang sudah disi beserta segala kelengkapan dokumen lainnya tinggal diserahkan. Prosedurnya sangat mudah dan tidak ribet, tiga hari sesudah penyerahan berkas saya sudah bisa mengambil paspor dengan visa china bertengger manis di dalamnya.

Berbekal tiket promo dari maskapai kesayangan asal Malaysia seharga 3,5 juta berdua PP yang sudah dibooking setahun sebelumnya, kami berangkat dengan durasi perjalanan selama 6D5N, kami hanya memilih untuk mengunjungi dua kota utama yaitu Beijing & Shanghai karena keterbatasan waktu. Semakin besar anak, semakin tidak tega pula kami meninggalkan mereka berlama-lama, jadi kami memanfaatkan waktu seefektif mungkin, kali ini juga kami tidak bisa mengajak Si Sulung karena mengingat medan yang lebih sulit.

Setelah saya membaca dan mengumpulkan data, saya bermaksud menerapkan prinsip travel light agar mudah berpindah tempat, kami tidak memesan bagasi, masing-masing dari kami hanya membawa ransel kapasitas 7 lt. Awal maret di China masih merupakan musim dingin dengan suhu berkisar 5-10 derajat, karena itulah kami membeli dua pasang long john kualitas KW (belinya juga di tanah abang) yang kami pikir cukup untuk mengatasi hawa dingin, selain itu persiapan kami hanya jaket tebal ala-ala (maksudnya jaket yang cuma kelihatannya tebal, padahal bahannya bukan dari wool, bulu angsa ataupun polyester) serta sarung tangan dan kaus kaki standar. Kami juga hanya memakai sandal gunung alih-alih sepatu karena kami pikir sudah cukup.

Booking hotel untuk Beijing & Shanghai sudah kami lakukan via agoda seperti biasa . Tiket bullet train beijing-shanghai juga sudah kami beli secara online lewat situs ctrip.co.id, print bukti booking dan nantinya saat sudah di beijing baru ditukar dengan tiket asli yang valid. Saya memang selalu memilih pembayaran yang sudah bisa dilakukan sejak di tanah air, sehingga saat travelling nanti saya tidak perlu membawa banyak uang lagi.

Bodohnya, tiga hari menjelang berangkat saya malah jatuh sakit, demam disertai panas dingin, saya sudah minum obat dan beristirahat tapi hingga berangkat kondisi badan saya masih belum optimal.

DAY 1 (JAKARTA – KLIA 2 – BEIJING)

Hari itu tanggal 09 maret 2016 saat di mana orang-orang se-Indonesia pada heboh karena gerhana matahari total bahkan turis mancanegara saja banyak yang ke Indonesia untuk melihat peristiwa langka tersebut. Sekitar pukul 08.00 taksi yang akan mengantar kami sudah stand-by di depan rumah, setelah mewek dan peluk cium kedua anak kami (note:pokoknya setelah itu setiap travelling kami harus mengajak anak, nggak peduli betapa repotnya) kami pun berangkat.

Jalanan sepi karena hari itu juga bertepatan dengan hari libur nasional, di sepanjang jalan banyak orang yang sengaja berhenti untuk menyaksikan atau mengabadikan gerhana dengan lensa kamera. Penerbangan kami ke Kuala Lumpur dijadwalkan berangkat pukul 11.00, jujur saat itu badan saya masih nggak enak, hidung meler, kuping pengeng dan panas dingin. Bisa ditebak kondisi orang flu naik pesawat?sakit luar biasa di telinga sampai saya meringis, untungnya perjalanan hanya memakan waktu dua jam.

KLIA 2

Penerbangan dengan Air Asia yang dulunya mendarat di LCCT sekarang sudah dipindahkan ke KLIA 2, jam 14.00 kami sampai dan memutuskan untuk keluar imigrasi dulu sekedar untuk cari makan dan jalan-jalan. Bandara KLIA 2 yang masih baru ini sangat luas, dari terminal kedatangan hingga ke imigrasi saja memakan waktu 20-25 menit berjalan kaki. Kami mampir di KFC yang ada fasilitas free Wi-fi nya, lumayan bisa buat update status dan koneksi Line dengan anak-anak.

Penerbangan kami ke Beijing dijadwalkan pukul 19.00 dengan durasi selama 6 jam. Syukurlah karena tadi sudah menenggak beberapa obat, kali ini pengar saya tidak terlalu parah, berhubung ini adalah budget airlines jadi yang bisa kami lakukan hanya tidur dan tidur untuk mengisi waktu.

BEIJING INTERNATIONAL AIRPORT

Lewat tengah malam kami mendarat dengan selamat di Beijing, kami melewati antrian imigrasi yang lebih ketat pemeriksaanya. Bahkan saya harus membuka jilbab sebab foto yang tertera di paspor dibuat saat saya belum berhijab, tadinya saya bermaksud ngeles dengan pasang tampang bloon pura-pura nggak ngerti, maksudnya biar jilbabnya gak dibuka, saya cuma tarik sedikit bagian jilbab ke arah atas, tapi petugasnya melototin saya dan bilang harus semua, ya sudahlah terpaksa.

Karena sudah tidak ada kendaraan umum yang melintas tentunya kami memutuskan melewatkan malam dengan menginap di ruang tunggu kedatangan persis di samping garbarata pengambilan bagasi. Kursinya dari besi dan plastik dengan senderan tangan sebagai pembatas, saya jadi memodifikasi posisi tidur tekuk sana tekuk sini, dikit-dikit ubah posisi demi mendapatkan posisi enak, tapi susah banget, belom lagi kadangkala tiba-tiba garbarata bagasi jadi ramai karena ada pesawat yang datang.

Akhirnya saya nggak bisa tidur juga sampai pagi (sebel banget liat suami yang enak-enak molor), pukul 05.00 pagi saya beranjak ke toilet dan akhirnya sarapan seadanya dengan pop mie dan kopi yang bisa diseduh dengan adanya fasilitas galon air panas gratis. Mengikuti rombongan wisatawan china yang baru saja datang dari luar negeri dengan kostum ala sehabis berlibur di pantai, mereka langsung ke toilet untuk mengganti baju tipis mereka dengan long john dan jaket/coat tebal. Setelah melapisi baju, kami menuju konter tiket untuk mengejar Airport Express Train pertama pada pukul 06.35 yang akan membawa kami dari Bandara ke pusat kota. Karena kurang tidur, kami yang biasanya narsis akut foto-foto di bandara hanya mengambil satu dua shoot tanpa sempat mengagumi megahnya bandara ini. Tiket train dapat dibeli di kounter dengan harga 25 RMB. Begitu keluar bandara untuk mencapai lokasi train…nyess…masya allah anginnya kencang dan super dingin, rasanya seperti tiba-tiba masuk ke freezer, saya lirik di panel keterangan suhunya -2 derajat, lha saya nggak mengantisipasi suhu serendah ini, saya pikir cuma sekitar 10 derajat doang. Saya pun berlari-lari panik menuju kereta untuk mendapatkan suasana yang hangat. Kereta membawa kami selama sekitar setengah jam hingga sampai di Dongzhimen sebagai titik awal Beijing Subway.

img_8650
Beijing Int’ Airport

DAY 2

FRUSTASI DI DONGZHIMEN

Dongzhimen merupakan salah satu stasiun subway terbesar dan juga merupakan satu-satunya stasiun yang berhubungan dengan Airport Express Train dari bandara. Di Dongzhimen kami bermaksud membeli Yikatong (smart card untuk subway, layaknya EZ Link Singapore atau Octopus Hongkong) dan juga menukarkan tiket bullet train Biijing-Shanghai dengan yang asli (menurut ctrip.com, tiket yang asli dapat ditukarkan di semua loket subway dengan menunjukkan bukti booking yang sudah di-print). Seragam polisi di China selama musim dingin menurut saya sangat keren, mereka menggunakan jas panjang sampai ke lutut berwarna hitam dan mengenakan topi bulu berkelepak menutup telinga, kayak di film-film perang. Pengamanan di China sangat ketat, bahkan di setiap subway ada mesin detektor layaknya di bandara, dan polisi militer berjaga di mana-mana.

Dengan pedenya saya menuju ke “ticket pick up/ticket sales” yang ternyata petugasnya gak bisa bahasa inggris,saat saya bilang yikatong dia paham tapi saat saya bilang saya mau menukar tiket bullet train beijing-shanghai, dia malah mau beliin saya tiket lagi. Lah saya bilang “i’ve already bought it” sambil menunjukkan bukti pemesanan, dia geleng-geleng gak paham, padahal saya udah jelasin sambil nunjuk-nunjuk. Si petugas pun akhirnya manggil salah satu rekannya , rekannya manggil polisi militer berseragam yang juga manggil temennya lagi dan jadilah saya dikerubung oleh 3-4 orang yang sampai akhir tetap aja nggak ada yang ngerti, ya Allah masa iya nggak ada satupun yang ngerti bahasa inggris yak. Lucunya saat suami saya datang menghampiri, mereka pun berseru lega, sambil nyerocos dalam bahasa mandarin, lha ternyata suami saya disangka orang china, langsung suami saya bilang ” i don’t speak chinese” dan mereka pun ber “oooh” ria. Daripada salah akhirnya saya memutuskan hanya beli yikatong saja dan mencoba peruntungan di stasiun lainnya, siapa tau di stasiun lain ada yang paham.

Tidak putus asa saya pun mencoba lagi di stasiun Jianguomen yang merupakan stasiun interchange dan juga di stasiun Tiananmen East yang sampai akhir masih gagal paham juga akibat bahasa. Yang ada saya cuma dapet gelengan kepala dan kibasan tangan. Merasa frustasi, kesel dan capek akhirnya saya memutuskan besok aja sekalian ke Beijing South yang merupakan stasiun tempat berangkat bullet train.

10409692_10154097249519623_2878755189720554897_n
Yang atas : kartu yang bikin saya frustasi, bullet train ticket Beijing – Shanghai yang akhirnya bisa saya tukar di Beijing South Station ; Yang bawah : yikatong, semacam smart card untuk naik subway atau bus di beijing

 

TIANANMEN SQUARE

Kami turun di stasiun Tiananmen East yang merupakan lokasi terdekat untuk menuju ke Tiananmen Square. Keluar masuk stasiun subway selalu ada pemeriksaan dan harus melewati mesin detektor, bahkan air minum botol saja diuji kadar uraniumnya lewat mesin. Nyebelinnya si suami selalu disangka orang China, pemeriksaan terhadap warga lokal memang lebih  ketat dibanding turis, berhubung dia bawa gembolan ransel gede, pasti diperiksanya lama banget sampe saya bilang kalo tiap mau diperiksa tunjukkin aja paspor. Kalau saya mah boro-boro ya disangka china, haha.

Tiananmen Square adalah suatu lapangan luas yang terletak di selatan Forbidden City. Awalnya saya bingung bedanya Tiananmen Square dengan Forbidden City, kalo googling yang muncul gambarnya sama.

Ternyata Tiananmen Square itu adalah lapangan luas persegi yang wilayahnya mencakup empat situs bangunan bersejarah yaitu Monument to the People’s Heroes, the Great Hall of the People, the National Museum of China, and the Mausoleum of Mao Zedong. Keempat situs bersejarah itu letaknya di seberang jalan raya, kita harus melewati terowongan bawah tanah untuk mencapainya. Kami memutuskan tidak mengunjungi keempat situs tersebut dan langsung menuju Forbidden City. Tiananmen Square dan Forbidden City dibatasi oleh Tiananmen Tower, bangunan tinggi berbentuk gerbang berwarna merah yang puncaknya berornamen khas cina dengan warna emas, ditandai secara mencolok oleh foto Mao Zedong . Dahulunya saat rezim kerajaan masih berkuasa, Tiananmen Tower ini digunakan sebagai tempat untuk mengumumkan kaisar dan ratu yang baru dan sebagai tempat kaisar menyapa para rakyatnya. Saran saya kalau mau berkunjung ke Forbidden City tontonlah film Last Emperor, film lawas Hollywood yang diproduksi tahun 1987 tentang kaisar Pu Yi, yang menggambarkan secara detail suasana saat zaman kerajaan dulu lengkap dengan bangunannya.

img_8656
Tiananmen Tower
img_8659
Tiananmen Square

The Forbidden City

Seteleh melewati Tiananmen Tower, kami kembali melewati gerbang merah identik yang dinamakan Duanmen dan sampailah kami ke loket tiket yang sudah mengular antrinya padahal belum waktunya buka. Suhu udara masih sangat dingin, hanya meningkat jadi 2-3 derajat, pipi para orang yang mengantri sampai merah-merah akibat dingin tidak terkecuali suami saya yang tidak membawa topi, sampai akhirnya dia membebat-bebat syal yang dibawa jadi seperti ala maling di film-film jepang (kami sebut kupluk maling), katanya sebodo amat yang penting hangat.

img_8665
Duanmen

Menurut jadwal di web seharusnya loket tiket sudah buka pukul 08.30 namun pukul 09.00 loket tiket baru dibuka, harga untuk wisatawan asing seharga 60 RMB, lebih mahal dibanding wisatawan lokal.

img_8671
Barisan loket tiket

Disebut forbidden city karena tempat ini dulu hanya boleh dimasuki oleh anggota kerajaan, rakyat jelat tidak boleh masuk ke dalamnya. Sejak rezim kerajaan runtuh dan dijadikan rezim komunis, istana ini dibuka untuk umum sebagai tempat wisata dan dikenal juga dengan sebutan “The Palace Museum”.

Forbidden city berbentuk empat persegi panjang dengan tata letak yang simetris , dikelilingi oleh parit selebar 52 m dan tembok setinggi 10 m. Tiap sisi tembok di keempat penjuru mata angin memiliki pintu gerbang sendiri. Jarak antara south Meridian Gate (Wumen) dan the north Gate of Divine Prowess (Shenwumen) adalah 961 meters (1,051 yards), sementara jarak antara the east dan west gates adalah 753 meters (823 yards), sudah mulai kebayang betapa luasnya tempat ini?.

Rute perjalanan dimulai dari south meridian gate dan berakhir di north gate, pintu masuk memang hanya terdapat di south gate, sementara pintu keluar ada dua yaitu east gate dan north gate. Kebanyakan wisatawan akan mengambil jalur lurus melalui central axis dari south gate menuju north gate.

img_8674
Di depan south meridian gate sambil membawa tiket

Setelah membeli tiket kami masuk melalui pintu gerbang megah south meridian gate dan langsung bertemu dengan Taihemen Square yang di dalamnya terdapat Inner Golden River Bridge dan langsung berhadapan dengan Gate of Supreme Harmony. Wah..langsung saya rasanya pingin berteriak “Kan Se Tian, Kan Se Ti” dan melakukan kowtow kepada kaisar layaknya adegan-adegan dalam drama seri Huan Zhu Gege. Ada dua film favorit saya yang mengambil  lokasi di sini yaitu The Last Emperor dan Huan Zhu Gege.

Inner Golden River Bridge terdiri atas lima jembatan, dahulu jembatan yang tengah hanya diperuntukkan bagi kaisar, dua jembatan di sampingnya untuk para anggota kerajaan dan dua lainnya lagi yang terluar untuk para pejabat kerajaan. Jembatan ini berwarna putih dan balustrade-nya terbuat dari marmer yang diukir dengan motif phoenix dan naga.

img_8681
Inner Golden River Bridge

Sementara Gate of Supreme harmony merupakan gerbang utama dari outer court dan dulunya digunakan sebagai tempat pernikahan sang kaisar. Bangunan di sayap-sayapnya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga seperti sutra, porselen, baju dll. Di depan bangunan berdiri dua patung singa jantan dari perunggu.

img_8693
Gate of Supreme Harmony
img_8695
Bronze Lion Statue

Saya bisa bercerita begini karena setiap bangunan dilengkapi dengan plakat keterangan dalam bahasa china & inggris, sehingga memudahkan saya memahami nama bangunan beserta fungsinya walau tidak ada pemandu tour, herannya di Beijing ini jarang banget ada bule berkeliaran, sekalinya ketemu langsung kita kuntit biar bisa nebeng penjelasan gratis eh lama-lama dipelototin sama pemandunya, haha.

Selepas itu kami memasuki Taihedian Square tempat di mana terdapat Hall of Supreme Harmony, bangunan resmi kenegaraan di mana dulu Kaisar menerima laporan penting, bekerja dan mengurus negara, segala perayaan dan upacara penting juga dilaksanakan di hall ini. Taihedian square sendiri terdiri atas tiga tingkat dan disekelilingnya terdapat patung bangau & kura-kura dari perunggu serta jam matahari kuno. Ruang singgasana terdapat di dalamnya dengan singgasana dari kayu sandalwood dan pilar-pilar berwarna kuning emas. Kuning merupakan warna kenegaraan bagi kekaisaran China, sehingga tidak mengherankan keseluruhan Forbidden City didominasi dengan warna kuning.

img_8711
Hall of Supreme Harmony
img_8732
Singgasana Kaisar
img_8736
Bronze Turtle
img_8737
Bronze crane

Selepas dari Hall of Supreme Harmony, kombinasi antara flu berat, suhu udara super dingin, kelelahan akibat kurang tidur plus beban ransel yang mulai membuat sakit pundak, sukses bikin semangat saya turun, asli saya langsung males banget keliling. Jangankan mengikuti ambisi saya yang awalnya bikin itinerary untuk menelusuri keseluruhan kompleks bahkan hingga west & east wing, melintasi separo dari central axis saja rasanya sudah mau ambruk. Kepala sakit dan makin terasa berat dengan angin dingin yang mulai membakar kulit. Saya memilih duduk dekat railing sambil mengamati Palace of Kindness and Tranquility dari kejauhan, sementara suami saya berkeliling sendiri mengitari Hall of Supreme Harmony.

Setengah memaksa, saya kembali melangkahkan kaki menuju Hall of Middle Harmony & Hall of Preserving Harmony yang biasa sebagai ruang jamuan resmi. Sampai di sini saya sudah mulai bosan karena bentuk bangunan yang serupa dan gak bisa saya bedakan, antusias saya rasanya menguap dan yang ada dalam pikiran saya hanya segera menuntaskan kunjungan ini. Saya hanya melihat sekilas Gate of Heavenly Purity dan Hall of Heavenly Purity hingga akhirnya mencapai Imperial garden yang berisi pohon-pohon ratusan tahun.

img_8746
Hall of middle harmony
img_8765
Hall of preserving harmony
img_8769
Singgasana dalam Hall of Preserving Harmony
img_8777
Pohon berusia ratusan tahun
img_8780
Imperial Garden
img_8794
Akhirnya … Shenwumen

Akhirnya saya bertemu north Gate of Divine Prowess (Shenwumen) yang merupakan pintu keluar dan akhirnya bisa keluar dari tempat ini. Sangat disesalkan karena kondisi tubuh yang sedang jelek, beneran saya nyesel banget, udah jauh-jauh ke China tapi gak bisa mengeksplorasi tempat yang saya kagumi dengan mendalam.

Walking-walking

Air yang memenuhi parit di sekeliling the forbidden city masih membeku, yang berarti suhu udara memang masih rendah. Sudah saya ceritakan di awal kalau jarak antara north gate dan south gate hampir mencapai 1 km dan harusnya kita naik bus yang akan membawa kita kembali ke south gate untuk naik subway lagi. Tapi berhubung saya sok tau (banget) kemarin-kemarin saya sempat googling dari Forbidden City ini ada stasiun subway bernama Ping An Li yang bisa ditempuh dalam waktu 20 menit dan melewati Beihai Park yang merupakan taman yang populer. Maka jalanlah kita mengikuti peta yang sudah saya capture dan save di ponsel, 40 menit jalan kok baru ketemu Beihai Park yang memang ramai dengan pengunjung dan terletak persis di samping danau yang luas dan taman yang rimbun dengan pepohonan. Setelah dicek lagi ternyata 20 menit itu … adalah durasi dengan mobil, kalau jalan butuh sekitar sejam lebih, tidaaaaaakkkk, kepalang tanggung kita nerusin jalan dan sekitar 30 menit kemudian ketemu dengan stasiun subway yang lebih dekat yaitu Xisi (walaupun nanti rutenya mesti muter-muter dulu). Perjalanan berat karena perut mulai lapar sementara godaan keharuman dari kios-kios di sepanjang jalan sangat menggoda, ada sosis,jagung,bakso, tapi takut makan karena takut gak halal.

Summer Palace

Kami turun di stasiun Beigongmen yang merupakan stasiun terdekat untuk menuju Summer Palace. Summer Palace merupakan istana peristirahatan keluarga kerajaan dan juga taman kerajaan terbesar dan paling terawat. Istana ini dibangun oleh Ibu Suri Cixi yang terkenal kekejamannya saat memerintahkan pembuatan istana ini.

Dari stasiun Beigongmen kami sempat celingak-celinguk dulu mencari North Palace Gate (pintu masuk ke Summer Palace),  yang tampak hanya tembok putih panjang setinggi 5 m, setelah tanya pak polisi ternyata kami harus berjalan sekitar 200 m dulu. Di depan North Palace Gate kami membeli jagung rebus yang ramai dijajakan oleh ibu-ibu, harganya 2 RMB dengan tongkol jagung yang besar, rasanya? tawar banget (berharap jagung ala Indonesia yang dikasih mentega dan saus aneka rasa) tapi berhubung kelaparan tetap kami lahap.

Setelah membeli tiket kami melewati area bernama suzhou street dengan suzhou river yang mengalir. Suzhou street terdiri atas beberapa kios makanan dan souvenir yang berdiri di samping sungai.

img_8801
Suzhou Street

Setelah itu kami mendaki kompleks bangunan Four Great Regions yang terdiri atas Site of Sumeru Temple & Hall of Buddhist Tenets. Bangunan ini merupakan kuil buddha yang bergaya Tibet dan Han klasik. Site of Sumeru Temple memiliki banyak tangga dengam kemiringan yang sangat curam dan menguras stamina, sehingga sudah bisa ditebak kalau saya yang sejak dari tadi drop akhirnya mulai kepayahan dan hilang minat. Begitu mencapai puncak bangunan saya cuma mau duduk dan ogah gerak, padahal Four Great Regions ini hanya seperberapa dari keseluruhan kompleks Summer Palace yang super luas. Bahkan saya sudah menandaskan minat melihat Temple of Buddhist Virtue dengan Kunming lake-nya yang sangat indah.  Saya sempat bilang ke suami saya kalau dia mau keliling nggak papa akan saya tunggu di sini, tapi demi melihat istrinya yang udah kayak kepiting rebus, akhirnya kami memutuskan menyudahi saja kunjungan tersebut dan kembali ke stasiun subway. Nyesel? pastinya nyesel banget!!!!

img_8811
Site of Sumeru Temple
img_8819
Dari ketinggian sumeru temple
img_8827
Tangga-tangga curam

Sesudah dari summer palace sebenarnya kami masih punya satu agenda lagi, yaitu Olympic Stadion tapi tentu saja saya batalkan karena badan dan kepala sudah nggak bisa diajak kerjasama.

Kami makan siang di KFC seberang stasiun yang pegawainya bahkan nggak ngerti “chicken” “no ice” atau “rice”, saya baru sadari bahwa tingkat penguasaan bahasa inggris di China ini lebih  parah daripada di Indonesia, mungkin karena rasa nasionalisme dan paham komunisnya, bahasa inggris tidak masuk dalam kurikulum sekolah. Saya memesan dengan bahasa Tarzan, caranya menunjuk-nunjuk dan isyarat. KFC tidak menyediakan menu nasi polos seperti di Indonesia, kebanyakan adalah ayam & burger. Ada dua atau tiga menu nasi yang dijual di KFC China, tapi menunya sudah berbentuk nasi campur yang rasanya nggak pas di lidah Indonesia saya.

Wanlilu Int’ Youth Hostel

Sekitar pukul 15.00 kami sudah check in di hotel, hotel yang kami booking bernama Wanlilu Int’ Youth Hostel, letaknya sangat strategis persis begitu keluar dari exit G stasiun Dongsi kita akan langsung bertemu dengan hotel ini. Kamarnya sangat standar dengan tempat tidur twin yang per-nya keras banget dan tanpa jendela. Hotel kami tampaknya satu gedung dengan tempat les piano atau latihan nyanyi ala gereja, karena suara latihan tersebut menembus dinding-dinding kamar kami. Sampai di kamar saya langsung merebahkan diri, minum obat dan tidur.

5941_10154097184654623_8734914810042225196_n
Suasana sekitar Wanlilu – Dongsi, dekat dengan minimarket dan di seberang jalan ada McD
10399691_10154097184839623_8751395950377548881_n
Wanlilu Int’ Youth Hostel

Wangfujing Street

Dua jam kemudian saya terbangun dengan kondisi yang sedikit lebih enak. Perlu dijelaskan bahwa di china google, yahoo ataupun social media di-banned oleh Pemerintah, jadi semua data harus di-save dan dipersiapkan dulu, percuma ngaktifin paket data kalau salurannya nggak ada. Untungnya line tidak dibanned sehingga saya bisa menelpon dan video call anak-anak dengan koneksi wifi hotel.

Menebus rasa nyesel akibat tidak bisa maksimal mengeksplorasi situs wisata siang tadi, pukul 17.00 saya memutuskan keluar hotel untuk menelusuri Wangfujing, suatu area pertokoan terkenal dan tempat belanja yang populer di Beijing.

Wangfujing mirip seperti Orchard Road dengan deretan mall-mall besar dan pertokoan berderet panjang, tujuan kami bukanlah keluar masuk mall (mall di mana-mana sama ajalah) melainkan mencari Wangfujing Snack Street tempat banyak pedagang kaki lima yang menjual street food dan aneka souvenir untuk oleh-oleh. Dari internet kami mendapat info bahwa Snack street tersebut berada di sebuah hutong (gang) yang ditandai dengan gapura (leifang) berornamen khas China, kami menelusuri Wangfujing hingga ke ujung tapi tetap nggak ketemu gang ini, malah di ujung Wangfujing kami bertemu dengan suatu pedestrian yang juga penuh penjual street food yang ternyata adalah Donghuamen Night Street Market, tapi kami merasa bukan ini tempatnya sebab tidak ada satupun pedagang souvenir yang mangkal. Akhirnya kami balik lagi menuju stasiun dan di perjalanan balik tersebut malah akhirnya kita ketemu Snack Street yang dimaksud, letaknya di seberang Wangfujing Book store yang besar itu dan tidak jauh dari Oriental Plaza, ternyata kami tidak teliti mengamati sebab tempat ini tadinya sudah kami lalui.

img_8831
Wangfujing
img_8837
Donghuamen Night Street Market
img_8844
Wangfujing Snack Street yang dimaksud

Food street sangatlah menggoda terutama dengan makanannya yang harum dan menggugah selera, tapi tentu kami ingat dengan perkara halal jadi kami mengurungkan niat mencoba panganan-panganan tersebut. Akhirnya saya terlibat transaksi seru tawar menawar dengan seorang ibu yang menawarkan magnet dan gantungan kunci, si ibu menarik perhatian saya karena dia berkata “murah-murah” begitu melihat saya, waktu saya ngajak ngobrol ternyata dia cuma tau kata “murah”saja. Suami saya membeli kupluk hangat dari wool yang nyaman seharga 15 RMB di kios sebalah. Hanya itu saja yang kami beli sebab perjalanan masih panjang dan kami nggak mau kehabisan uang .

Sebelum masuk ke stasiun saya melihat ada Yoshinoya di sudut Oriental plaza, saya pun memesan Yoshinoya menu biasa (original & yakiniku) yang ternyata rasanya nggak enak, beda jauh dengan di Indonesia, kering dan sangat asin, tampaknya Yoshinoya memang disesuaikan dengan cita rasa lidah masyarakat setempat. Kembali di sini kami mengalami roaming, sebab petugasnya nggak ngerti “large” “small” “no pig” dll, sampai bikin bahasa isyarat sendiri.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s