Posted in Arab Saudi, Haji & Umroh, Mekkah

Umroh + Cairo + Abu Dhabi (Day 9&10)

DAY 9

Pukul 08.30 semua anggota jamaah sudah bersiap di lobby karena hari ini agenda kami padat. Hari ini kami akan mengunjungi Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Arafah, Mina, Muzdalifah dan selepas itu mengambil miqot kembali di Masjid Aisyah untuk melaksanakan Umroh Kedua.

11025182_10153211370919623_5413479834324801569_n
With ibu ita di lobby hotel

Jabal Nur

Mekah merupakan kota padang pasir yang dikelilingi oleh perbukitan batu yang tandus, bahkan saya banyak melihat rumah yang dibangun di atas gunung batu. Tidak mengherankan suku bangsa arab tumbuh menjadi orang-orang yang “keras” karena mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang sedemikian kerasnya, bandingkan dengan kita di Indonesia yang lahannya ijo royo-royo, melangkah sedikit ketemu pohon, tanam apapun bisa tumbuh subur. Sejauh mata memandang yang tampak hanya warna kuning dan abu-abu.

img_6821img_6836

Tidak lama kami sampai di jabal Nur. Jabal Nur merupakan rangkaian perbukitan yang di salah satu puncaknya terdapat Gua Hira. Gua Hira ini merupakan tempat di mana Rasulullah sering menyepi dan menyingkir sendirian dari kaumnya untuk merenungi kebesaran Allah sebelum masa kenabiannya, hingga turunlah wahyu pertama berupa surat Al- Alaq ayat 1-3 melalui perantara Malaikat Jibril di gua ini.

Untuk mencapai gua hira kita mesti mendaki selama sekitar satu jam dengan medan yang curam, karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa puas melihat jabal nur dari bawah.

img_6827

 Jabal Tsur

Selanjutnya kami menuju ke jabal tsur , jabal tsur merupakan perbukitan di mana di salah satu gua-nya (yang disebut gua tsur) Rasulullah bersama Abu Bakar pernah bersembunyi dari kejaran para kafir Quraisy saat peristiwa Hijrah. Kami hanya berhenti sejenak di dalam bus sambil mendengarkan kisah mengenai bukit dan gua tersebut dari Ustadz Rizal. Gua ini tidak terlalu besar, hanya cukup dimasuki orang tanpa berdiri tegak. Selama tiga hari tiga malam Rasulullah bersembunyi di sana.Keajaiban pun terjadi. Pertolongan Allah SWT kepada Rasulullah muncul ketika sangat dibutuhkan. Saat kaum Quraisy tiba di depan gua, secara ajaib terdapat sarang laba-laba yang menutup mulut gua, juga sarang burung merpati.

Pengorbanan lain juga dilakukan Asma binti Abu Bakar RA. Kakak dari ummul mukminin , Aisyah RA ini, berusaha selalu memberikan suplai makanan kepada Rasulullah yang sedang bersembunyi di dalam gua. Risiko besar dihadapinya, ia selalu mengendap-endap agar tidak ketahuan kaum kafir saat menuju Gua Tsur. Diceritakan bahwa saat itu Asma sedang mengandung, sungguh perjuangan yang luar biasa dan betapa hebatnya cinta Asma kepada Rasulullah, mengingat betapa berat medan yang harus ditempuh untuk mencapai gua tersebut.

Teringat dengan postingan salah satu teman backpacker yang mampu mendaki hingga ke gua tersebut, pun ustadz rizal bercerita di kala senggang dia bersama beberapa temannya pernah mendaki bukit tersebut, menurutnya butuh waktu sekitar dua jam.

jabal-tsur
Jabal tsur (sumber : backpackerumrah.com)

Jabal Rahmah

Perhentian ketiga kami adalah Jabal Rahmah, tempat ini merupakan tempat di mana Adam dan Hawa kembali bertemu setelah terpisah dan dikeluarkan dari surga. Oleh karena itu, tempat ini dikatakan sangat mustajab untuk memanjatkan do’a-do’a terutama doa untuk menyambung jodoh.

Di sini kami diberi kesempatan untuk mendaki bukitnya yang cukup curam dan mengharuskan kita berhati-hati saat berpijak agar tidak tergelincir. Pelataran di dasar bukit dipenuhi dengan para pedagang kaki lima yang aktif menjajakan barang dagangannya. Sekitar setengah jam kami berusaha mendaki dengan berhati-hati apalagi suasana sangat ramai dengan pengunjung sampai penuh sesak.

img_6838img_6843img_6857img_6863

Mina, Muzdalifah & Arafah

Dari jabal rahmah kami dibawa ke tempat pelaksanaan ibadah haji yaitu Mina, Muzdalifah & Arafah. Ketiga wilayah ini memang tidak boleh dijadikan sebagai hunian ataupun tempat kegiatan lainnya, sehingga di musim non haji ketiga tempat ini layaknya kota hantu, kosong tak berpenghuni sama sekali, kalaupun ada orang paling hanya pengunjung seperti kami ini.

Pertama-tama kami melewati daerah Arafah yang ditandai dengan beberapa marka penanda wilayah, Arafah merupakan tempat pelaksanaan ibadah puncak haji yaitu wukuf (berdiam diri). Pada hari wukuf tanggal 9 Zulhijah yaitu ketika matahari sudah tergelincir atau bergeser dari tengah hari, (pukul 12 siang) hitungan wukuf sudah dimulai. yang pertama dilakukan adalah shalat Zuhur dan Ashar yang dilakukan secara‘Jamak Taqdim‘, yakni shalat Ashar dilakukan bersama shalat Zuhur pada waktu Zuhur dengan 1 X azan dan 2 X iqamat (sumber : hajimabrurbarokah.com).

Arafah merupakan perwujudan padang mahsyar di akhirat kelak, hari di mana manusia dikumpulkan di suatu tanah lapang tanpa batas sebelum yaumul hisab (hari perhitungan amal), merinding rasanya melihat tempat ini yang begitu luas, lapang dan terik.

img_6872
Marka Arafah

Kemudian kami dibawa menuju Muzdalifah, suatu tempat di mana para jamaah haji diperintahkan untuk singgah dan bermalam setelah bertolak dari Arafah. Para jamaah haji akan bergerak menuju Muzdalifah setelah matahari terbenam dan akan bermalam sampai matahari terbit, di Muzdalifah ini para jamaah haji akan mengumpulkan batu kerikil yang dipergunakan untuk melempar jumrah.

Selepas itu kami dibawa ke Mina, suatu tanah kosong yang dipenuhi jutaan tenda-tenda yang dipakai untuk akomodasi para jamaah haji . Di Mina ini juga terdapat tiga tempat untuk melempar jumrah yaitu jumrah ula, wustha dan aqabah. Tempat melempar jumrah dibuat hingga tiga tingkat untuk mengakomodir kapasitas para jamaah haji.Kami juga sempat ditunjukkan terowongan tempat tragedi mina yang menewaskan banyak orang beberapa tahun yang lalu.

img_6882
Mina
img_6888
Tenda-tenda di Mina
img_6904
Lokasi lempar jumroh
img_6906
Lokasi lempar jumroh

Di sekitar padang arafah ini banyak terdapat pohon hijau lebat yang ternyata bernama pohon soekarno, pohon ini dulu dibawa oleh Presiden pertama kita bapak Ir. Soekarno dengan sistem tanam yang sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan iklim Arab, hebat sekali ya presiden kita ini.

img_6869
Pohon Soekarno

 Umroh Kedua

Dari Mina kami diantar menuju Masjid Aisyah untuk mengambil miqot guna melaksanakan umroh yang kedua. Perlengkapan umroh sudah kami bawa sejak dari hotel dan di masjid kami semua berganti baju dan mengambil miqot.

Ibadah umroh dilaksanakan ba’da dzuhur dan saya jadi paham mengapa saat umroh pertama pihak tour memilih malam hari, siang hari seperti ini lebih ramai dan penuh (padahal malam saja penuh). Ibadah sa’i sempat terhenti karena datang waktu ashar, semua orang langsung kompak membentuk shaf shalat dan kami semua shalat di jalur sa’i tersebut.

%d9%85%d8%b3%d8%ac%d8%af-%d8%a7%d9%84%d8%aa%d9%86%d8%b9%d9%8a%d9%85-%d9%81%d9%8a-%d9%85%d9%83%d8%a9-%d8%a7%d9%84%d8%b3%d8%b9%d9%88%d8%af%d9%8a%d8%a9
Masjid Aisyah (sumber : batuta.com)

DAY 10

Hari ini juga merupakan hari bebas, malamnya ba’da isya saya yang penasaran dengan jembatan temporary yang digunakan untuk pelaksanaan thawaf di lantai dua dan lantai tiga, akhirnya mengajak suami saya untuk melihat-lihat. Untuk naik ke lantai atas kita menggunakan lift yang sebelum masuk dijaga oleh para petugas keamanan.

Di ruang shalat lantai atas banyak orang yang sedang tilawah. Baik di Madinah maupun di Mekkah, pada waktu dhuha hingga menjelang dzuhur para syaikh menggelar kelas gratis belajar Al-Quran, siapapun boleh mengikuti kelas tersebut, sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan hati dan jiwa. Sayangnya kelas-kelas ini hanya ada untuk jamaah laki-laki, suami saya beberapa kali ikut dalam kelas-kelas tersebut.

11042658_10153222410664623_7508248564201560242_n
Di dalam masjidil haram

Dari jembatan di atas kami bisa melihat ka’bah dari ketinggian, subhanallah, pemandangan manusia yang thawaf mengelilingi ka’bah tiada putus-putusnya, hati tiada henti mengucap takbir melihat hal tersebut.

11022631_10153222402139623_8561649315080009322_n11050655_10153222401739623_858239726657770944_n11043179_10153222401634623_1172196858183395908_n

Kami juga sempat mengamati pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung, maklum kami berdua kan juga kuli bangunan, stek-stek besi berjajar rapi di atas bekisting dengan para pekerja yang sibuk kian kemari. Kami jadi berpikir betapa menyenangkan kalau bisa ikut berpartisipasi dalam konstruksi masjidil haram, ibadah dapet, uang juga dapet.

11050766_10153222412489623_7921566256438585574_n

Sekilas mengenai Mekkah

Kenapa baru sekarang mengangkat topik ini? karena terlewat pada blog sebelumnya. Kesan saya pada Mekkah berbeda dengan Madinah yang sejuk, tenang dan tertib, Mekkah ini lebih bising dan berdebu, mungkin karena proses konstruksi masjidil haram sedang berlangsung. Di mana-mana tower crane dan berbagai peralatan konstruksi bertebaran. Masjidil Haram dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat yang sangat tinggi, pelatarannya sudah dilapisi marmer semua, saat waktu shalat tiba, para jamaah yang tidak bisa masuk ke dalam masjid dapat menggunakan pelataran ini, walau nggak enaknya setelah selesai kita nggak bisa lama-lama duduk berdoa karena bakalan diusir oleh para polisi syariah sebab pelataran ini juga jalan umum.

Tata letak dan navigasi arahnya memang lebih membingungkan dibanding di madinah, sehingga membuat kesempatan tersesat lebih besar, kuncinya hafalkan ikon mencolok seperti gedung bertingkat sebagai patokan. Hotel kami (Safwah Royal Orchid) memang terletak persis di depan masjid nabawi, tapi untuk menuju ke masjid nabawi kami harus menggunakan lift lalu melewati sejumlah pertokoan dan jembatan yang langsung terhubung dengan pelataran masjid. Kalau salah jembatan bisa jadi akan salah masuk hotel karena plang hotel memang tidak terpampang jelas dari arah masjidil haram (abaikan saya yang memang hobi jalan-jalan sendirian mencari rute baru, keluar masuk gedung entah apa sekedar memuaskan rasa ingin tahu), hafalkan juga hotel kita ada di lantai berapa, karena hampir semua bangunan di sini merangkap hotel dengan pertokoan dan shopping mall di bawahnya.

Saya tidak minat berkeliling area pertokoan yang rata-rata bentuknya seperti kios-kios di mall karena letak hotel saya di lantai atas, di sini tidak ada pedagang kaki lima atau kios sederhana layaknya di Madinah yang bisa saya lalui sambil berjalan lewat sepulang dari Masjid.

Marka atau rambu penanda di dalam masjid juga tidak begitu jelas, saya terkadang kesulitan mencari lokasi ka’bah atau sa’i kalau lagi jalan sendirian dan suka main tebak-tebakan sendiri walau akhirnya ketemu juga sih. Karena sedang dalam proses konstruksi, tidak semua pintu dibuka sehingga saat pelaksanaan shalat tiba suasana sangat berdesak-desakkan.

Air zam-zam disediakan secara gratis lewat pancuran-pancuran air minum yang tersebar melalui counter drinking water di sekitar masjidil haram. Oh iya, karena saya merasa jatah 5 lt air zam-zam per kepala dari biro tur kurang, sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara saya menempatkan air zam-zam dalam wadah botol kemasan 500 ml bekas saya pakai (dan sudah saya cuci bersih), makanya isi koper saya penuh dengan botol berisi air zam-zam, haha.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s