Posted in Arab Saudi, Haji & Umroh, Mekkah

Umroh + Cairo + Abu Dhabi (Day 7 & 8)

DAY 7

Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah, rasanya 3 hari 2 malam belumlah cukup melepas kerinduan di tanah yang sangat dicintai Rasulullah ini. Berat rasanya, masih ingin beribadah di masjid Rasulullah, masih ingin menghirup udara di kota ini. Selepas shalat dzuhur, kami semua sudah siap di dalam bus yang akan mengantar kami ke Mekah. Tanpa terasa air mata menitik dan dada membuncah sesak saat bus yang kami tumpangi perlahan-lahan keluar dari kota Madinah, semoga suatu saat diberi kesempatan lagi untuk berkunjung ke sini, amin.

Miqot di Bir Ali

Miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah.

img_6808
Bir Ali

Miqat terdiri dari dua jenis :

  1. Miqat Zamani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﺯﻣﺎﻧﻲ) – batas yang ditentukan berdasarkan waktu:
    • Bagi haji, miqat bermula pada bulan Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah yaitu ketika ibadah haji dilaksanakan.
    • Bagi umrah, miqat zamani bermula pada sepanjang tahun pada waktu umrah dapat dilakukan.
  2. Miqat Makani (ﻣﻴﻘﺎﺕ ﻣﻛﺎﻧﻲ) – batas yang ditentukan berdasarkan tempat:
    • Bagi mereka yang tinggal di Makkah, tempat untuk ihram haji adalah Makkah itu sendiri (rumah sendiri). Untuk umrah ialah keluar dari tanah haram Makkah yaitu sebaiknya di Ji’ranah, Tan’eim atau Hudaibiyah.
    • Bagi mereka yang datang dari sebelah timur seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan kebanyakan negara Asia lain, tempatnya adalah di Yalamlam (ﻳﻠﻣﻠﻢ) atau Jeddah (ﺟﺪﻩ).
    • Bagi yang datang dari barat seperti Mesir, miqatnya di Juhfah (ﺟﺤﻔﻪ).
    • Bagi yang datang dari selatan seperti Yaman, tempat untuk berihram adalah Qarnul Manazil (ﻗﺮﻦﺍﻠﻣﻨﺎﺯﻝ).
    • Bagi yang datang dari Madinah, tempatnya di Dzulhulaifah Bir Ali (Abyar ‘Ali) (ﺫﻭﺍﻟﺣﻠﻴﻔﻪ ﺍﺑﻳﺎﺭ ﻋﻠﻲ).
    • Bagi yang datang dari bahagian Iraq pula adalah di Dzatu ‘Irq (ﺫﺍﺕ ﻋﺮﻕ).

(sumber : wikipedia)

Karena datang dari madinah, kami melaksanakan miqat di bir ali. Mulai dari miqat segala larangan-larangan dalam umroh sudah diberlakukan.

Larangan ihram yang seandainya dilakukan oleh orang yang berhaji atau berumroh, maka wajib baginya menunaikan fidyah, puasa, atau memberi makan. Yang dilarang bagi orang yang berihram adalah sebagai berikut:

  1. Mencukur rambut dari seluruh badan (seperti rambut kepala, bulu ketiak, bulu kemaluan, kumis dan jenggot).
  2. Menggunting kuku.
  3. Menutup kepala dan menutup wajah bagi perempuan kecuali jika lewat laki-laki yang bukan mahrom di hadapannya.
  4. Mengenakan pakaian berjahit yang menampakkan bentuk lekuk tubuh bagi laki-laki seperti baju, celana dan sepatu.
  5. Menggunakan harum-haruman.
  6. Memburu hewan darat yang halal dimakan. Yang tidak termasuk dalam larangan adalah: (1) hewan ternak (seperti kambing, sapi, unta, dan ayam), (2) hasil tangkapan di air, (3) hewan yang haram dimakan (seperti hewan buas, hewan yang bertaring dan burung yang bercakar), (4) hewan yang diperintahkan untuk dibunuh (seperti kalajengking, tikus dan anjing), (5) hewan yang mengamuk (Shahih Fiqh Sunnah, 2: 210-211)
  7. Melakukan khitbah dan akad nikah.
  8. Jima’ (hubungan intim). Jika dilakukan sebelum tahallul awwal (sebelum melempar jumroh Aqobah), maka ibadah hajinya batal. Hanya saja ibadah tersebut wajib disempurnakan dan pelakunya wajib menyembelih seekor unta untuk dibagikan kepada orang miskin di tanah suci. Apabila tidak mampu, maka ia wajib berpuasa selama sepuluh hari, tiga hari pada masa haji dan tujuh hari ketika telah kembali ke negerinya. Jika dilakukan setelah tahallul awwal, maka ibadah hajinya tidak batal. Hanya saja ia wajib keluar ke tanah halal dan berihram kembali lalu melakukan thowaf ifadhoh lagi karena ia telah membatalkan ihramnya dan wajib memperbaharuinya. Dan  ia wajib menyembelih seekor kambing.
  9. Mencumbu istri di selain kemaluan. Jika keluar mani, maka wajib menyembelih seekor unta. Jika tidak keluar mani, maka wajib menyembelih seekor kambing. Hajinya tidaklah batal dalam dua keadaan tersebut (Taisirul Fiqh, 358-359).

Tiga keadaan seseorang melakukan larangan ihram

  1. Dalam keadaan lupa, tidak tahu, atau dipaksa, maka tidak ada dosa dan tidak ada fidyah.
  2. Jika melakukannya dengan sengaja, namun karena ada uzur dan kebutuhan mendesak, maka ia dikenakan fidyah. Seperti terpaksa ingin mencukur rambut (baik rambut kepala atau ketiaknya), atau ingin mengenakan pakaian berjahit karena mungkin ada penyakit dan faktor pendorong lainnya.
  3. Jika melakukannya dengan sengaja dan tanpa adanya uzur atau tidak ada kebutuhan mendesak, maka ia dikenakan fidyah ditambah dan terkena dosa sehingga wajib bertaubat dengan taubat yang nashuhah (tulus).

Pembagian larangan ihram berdasarkan hukum fidyah yang dikenakan

  1. Yang tidak ada fidyah, yaitu akad nikah.
  2. Fidyah dengan seekor unta, yaitu jima’ (hubungan intim) sebelum tahallul awwal, ditambah ibadah hajinya tidak sah.
  3. Fidyah jaza’ atau yang semisalnya, yaitu ketika berburu hewan darat. Caranya adalah ia menyembelih hewan yang semisal, lalu ia memberi makan kepada orang miskin di tanah haram. Atau bisa pula ia membeli makanan (dengan harga semisal hewan tadi), lalu ia memberi makan setiap orang  miskin dengan satu mud, atau ia berpuasa selama beberapa hari sesuai dengan jumlah mud makanan yang harus ia beli.
  4. Selain tiga larangan di atas, maka fidyahnya adalah memilih: [1]  berpuasa tiga hari, [2] memberi makan kepada 6 orang miskin, setiap orang miskin diberi 1 mud dari burr (gandum) atau beras, [3] menyembelih seekor kambing. (Al Hajj Al Muyassar, 68-71)

Sumber: https://muslim.or.id/10165-fikih-haji-5-larangan-ketika-ihram.html

Pemandangan di perjalanan didominasi dengan gurun pasir dan pegunungan batu. Saya membayangkan perjuangan Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekah ke Madinah yang begitu hebatnya, betapa tidak jarak ratusan km dengan medan yang seberat itu rela beliau tempuh sebagai salah satu langkah perjuangan dalam menegakkan agama Allah. Ustadz Rizal mengingatkan kami semua untuk senantiasa memperbanyak bacaan talbiyah, salawat dan doa.

img_6814
Rute Madinah – Mekah
img_6818
Rute Madinah – Mekah

Menjelang maghrib kami berhenti di suatu rest area yang cukup besar untuk beristirahat sejenak dan menunaikan shalat maghrib.

img_6815
Rest Area

Dari rest area ini hanya butuh waktu sejam hingga mencapai mekkah, dari sebelum batas kota Mekkah menara Abraj al Bait atau yang lebih dikenal dengan Mekkah Royal Clock Tower sudah terlihat. Ustadz Rizal kembali mengingatkan kami untuk mengulangi bacaan talbiyah serta senantiasa menjaga hati, lisan dan perbuatan selama menunaikan ibadah Umroh. Beliau bercerita beberapa kisah selama memandu umroh salah satunya mengenai salah satu anggota jamaahnya beberapa waktu lalu, saat mendekati kota mekkah sang jamaah tersebut pucat, panik serta tidak mau masuk dan akhirnya malah memilih terbang pulang ke tanah air, beberapa waktu kemudian ternyata sang jamaah mengakui kalau dia sering mengandalkan “kontrak” dengan syaitan dalam menyukseskan bisnisnya, saat akan memasuki mekkah dia merasa ada bara api ditempelkan ke badannya dan bisikan “pulang,kau tidak boleh masuk”. Cerita tersebut membuat kami semua merinding dan merasakan atmosfir sang tanah haram.

Bus kami berhenti di terowongan jalan raya, saat itu sopir menjelaskan bahwa ini sudah masuk shalat isya sehingga jalanan di sekitar masjidil haram sudah ditutup. Beliau menyarankan agar rombongan turun di sini dengan membawa barang-barang berharga sementara bus akan memutar mencari rute lainnya dan bagasi akan diantarkan. Kami berjalan sekitar 200 m menuju ke hotel, di mekah kami menginap di Al Safwah Royal Orchid Hotel yang kalau dari petanya terletak persis di depan masjidil haram. Ustadz Rizal menyuruh kami untuk shalat isya di hotel, makan malam dan sesudahnya berkumpul kembali di lobi pukul 23.00 malam untuk mulai melaksanakan ibadah umroh. Tadinya saya agak bingung kok ibadah umroh larut malam ya? saya selama ini mikirnya umroh itu dilakukan siang hari.

Ibadah Umroh

Berikut rukun umroh :

1. ihram. memakai pakaian ihram, bagi laki laki adalah terdiri dari 2 lembar kain yang tidak berjahit. 1 helai melilit mulai pinggang sampai bawah lutut. sehelai lagi diselempangkan mulai dari bahu kiri kebawah ketiak kanan. Jamaah umroh laki-laki  tidak boleh mengenakan celana, kemeja, tutup kepala dan juga tidak boleh menutup mata kaki. Penjelasan hal dilarang selama umroh ada di bagian bawah artikel.

Bagi wanita pakaian ihram lebih bebas tetapi disunatkan yang berwarna putih, yang penting menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan mereka, yang penting tidak ada jahitan. Lengan baju mesti sepanjang pergelangan tangan Kerudung yang digunakan harus panjang, tidak jarang serta menutupi bagian Dada Baju, gaun atau rok harus sepanjang Tumit Memakai Kaos kaki Sepatu sebaiknya tidak bertumit dan terbuat dari karet.

2.Tawaf

adalah mengelilingi Baitulloh/kabah 7 kali

3.Sai.

Sai dilakukan dari sudut shafa menuju Marwah (dihitung satu kali) dan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali.

Semuanya dilakukan tujuh kali putaran. Sai berawal dari shafa dan akan terakhir di marwah.

4.. Tahalul. Tahalul artinya bercukur sebagian dari rambut di kepala. biasanya dikerjakan setelah selesai sai, tanda bahawa kita telah sempurna melakukan umroh.

5.Tertib

(sumber : tatacaraumroh.net)

Pukul 23.00 kami sudah bersiap di lobby hotel untuk melaksanakan ibadah umroh. Hotel kami memang terletak tepat di depan masjidil haram. Terjawab sudah mengapa umroh dilakukan malam, ternyata masjidil haram itu memang tidak pernah sepi, orang-orang beribadah umroh setiap saat tidak putus-putus (kecuali saat waktu shalat tiba). Berbeda dengan masjid lainnya yang ada waktu sepinya, bahkan masjid nabawi di luar waktu shalat pun masih ada sepinya, masjidil haram selalu ramai tidak ada waktu beristirahat.

10405396_10153222402569623_7306827372004470008_n
Masjidil Haram

Saat saya ke sana proyek renovasi masjidil haram masih berlangsung, tower crane, scaffolding, para pekerja dan debu ikut meramaikan suasana walau tidak mengganggu kekhusukan beribadah.

Pertama-tama kami melakukan thawaf, yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Masya Allah, merinding, sesak, haru dan penuh rasa syukur saat saya bisa melihat ka’bah dengan mata kepala sendiri, rasanya masih tidak percaya dengan karunia yang Allah berikan ini, kesempatan dan rizki yang tidak ternilai atas undangan Allah ke rumah-Nya. Rasa sakit di kaki seakan terabaikan walaupun saya harus melaksanakan ibadah thawaf ini di tengah arus massa yang sedemikian kuat, yang ada hanya rasa syukur, takjub dan hati yang penuh dengan permohonan doa. Sesudah melaksanakan thawaf, kami menunaikan shalat sunnah thawaf sebanyak dua rakaat.

11043239_10153222402374623_499974694302898671_n
Baitullah
10931208_10204103362841118_4429123236762324009_n
Di depan baitullah, alhamdulillah

Setelah itu kami dipandu ke lokasi bukit shafa dan marwah untuk melaksanakan sa’i yaitu lari-lari kecil sebanyak 7 kali antara bukit shafa dan marwah. Bukit shafa dan marwah ternyata adalah bukit kecil, sementara jalan di antaranya sudah berbentuk lorong lengkap dengan atap dan dilapisi marmer. Ibadah ini meneladani ikhtiar ibunda hajar, istri nabi Ibrahim AS yang tak kenal lelah dan putus asa saat mencari air untuk anaknya, Nabi Ismail AS. Usaha bunda Hajar ini dianugerahi sumur zam-zam oleh Allah SWT. Selama pelaksanaan umroh, doa – doa dicontohkan oleh Ustadz Rizal dan kita mengikuti ataupun bisa juga dengan membaca buku doa yang sudah dibagikan sejak di tanah air. Berhubung kondisi kaki saya sedang tidak fit, saya memutuskan jalan paling belakang perlahan-lahan sambil membaca buku tersebut, walau tak jarang saya sering tertinggal jauh di belakang rombongan.

Selesai sa’i dilaksanakanlah tahallul yaitu bercukur , para jamaah pria dipotong sejumput rambutnya oleh pak ustadz sementara jamaah wanita dipotong sejumput oleh para suami masing-masing. Selesailah rangkaian ibadah umroh kami, alhamdulillah.

11002494_10204103364641163_2231537312922964242_n
Di Bukit marwah
1472799_10153222403009623_1989298286341852536_n
Tahallul

DAY 8

Hari ini adalah hari bebas tanpa agenda kegiatan dari pihak travel. Saya yang memang suka jalan sendirian menikmati waktu luang dengan banyak itikaf sambil melihat-lihat suasana masjidil haram , perlu diketahui anggota lainnya dalam rombongan saya itu adalah orang-orang yang sudah bolak balik haji dan umroh, jadi nggak pernah ada perkara janjian buat ke masjid ataupun barengan melakukan aktivitas ini itu, selain kegiatan wajib yang diagendakan biro tur, seringnya kami jalan sendiri-sendiri. Masjidil Haram ini memang sangat luas, bahkan lebih luas daripada masjid nabawi, tapi jangan takut tersesat, kuncinya hafalkan nomor pintu dan baca petunjuk.

Seringnya saya dan suami memang jalan sendiri terpisah satu sama lain, saya nggak pernah bawa hp ke masjid begitupun suami. Kami hanya janjian di restoran hotel setelah subuh untuk makan pagi, setelah dzuhur untuk makan siang dan setelah isya untuk makan malam, sisanya ya kami jalan sendiri-sendiri sambil membawa kunci kamar yang memang sudah disediakan rangkap dua.

Terus terang saya sangat menikmati waktu sendirian saya, ” me time” saya, saya pun jadi banyak berinteraksi dengan jamaah dari negara lain. Banyak cerita yang dituturkan oleh saudara seiman walaupun terkadang komunikasi tidak harus dengan bahasa inggris, tapi alhamdulillah ukhuwah tetap terjalin.

Di suatu waktu, saya yang memang membawa Al-Qur’an pribadi ke mana-mana untuk tilawah dikejutkan oleh seorang wanita arab bercadar yang tiba-tiba mencolek bahu saya, dia menyuruh saya untuk membuka halaman dan membaca ayat secara acak, kemudian dia dengarkan dan dicek apakah sudah sama. Ternyata dia heran kenapa Al Quran yang saya bawa berbeda dengan yang kebanyakan tersedia di masjid, dan dia hanya mengecek apakah Al Qur’an nya sama isinya, karena kalau berbeda tentu masalah besar dan harus dilaporkan. Saya jelaskan bahwa Al Quran ini saya bawa dari Indonesia dan Insya Allah isinya sama.

Lain waktu saya duduk bersebelahan dengan wanita asal India yang setelah saya memperkenalkan bahwa saya berasal dari Indonesia, dia langsung menunjukkan rekaman you tube dari acara Hafiz Indonesia dan dengan bahasa inggris yang patah-patah dia menjelaskan bahwa dia sangat kagum pada anak itu dan sekarang kedua anaknya sedang belajar tahfiz juga.

Saya juga berkenalan dengan seorang wanita ramah asal Mesir yang walaupun komunikasi kita dalam bahasa tarzan (secara dia ngomong pake bahasa arab lah saya pake bahasa inggris) terus menerus menawari saya roti ishy, selai dan jus kurma hingga membuat saya kebelet pipis dan terpaksa meninggalkan posisi saya yang sudah nyaman di dalam masjid karena harus ke toilet. Pengalaman pertama saya ke toilet umum di masjidil haram sangatlah bermakna, toiletnya luas dan bersih juga penuh dengan para jamaah terutama yang berasal dari India atau Pakistan (terlihat dari kain sarinya yang berwarna warni). Saking panjangnya kain sari yang digunakan, saat akan naik eskalator, kainnya terinjak dan berujung wanita tersebut jatuh dalam posisi vertikal dan menimpa teman-temannya, beruntung segera ditangani dan tidak terjadi cedera serius. Saat saya akan naik tangga tiba-tiba ada seorang nenek yang bersandar pada saya dan terus mengoceh dalam bahasa arab sambil terus memegang erat tangan saya, lah saya bingung, akhirnya saya ketemu polisi syar’i dan beruntung si polisi nyambung dengan sang nenek.

Di lain hari saya terlibat dalam diskusi ringan dengan seorang wanita negro asal Libya, diskusinya tentang rezeki dan anak. Ucapan darinya yang sangat saya ingat “we don’t ask you how many rich you are or how many cars you have or how big your house is, we ask you how many children you have, children are the best gifts from Allah”.

Selain itu saya juga mendapat banyak pelajaran soal memperbaiki ibadah shalat saya selama ini. Yang pertama dari seorang wanita arab yang terus menerus mengingatkan saya setelah memperhatikan saya mengucap salam setelah shalat, dia terus menerus menunjuk kepala saya sambil menunjukkan dengan gerakan, awalnya saya nggak paham lha wong dia ngomong pakai bahasa arab, setelah shalat sunnah lainnya dia kembali mengingatkan saya sambil menelengkan wajah saya, oh ternyata selama ini kepala saya kurang berputar hingga 90 derajat saat mengucap salam, satu kebiasaan yang tidak pernah saya sadari.

Yang kedua adalah soal makan dan minum setelah wudhu. Selama ini telah tertanam dalam pikiran saya entah sejak kapan bahwa kalau sudah wudhu nggak boleh makan minum, makanya saya sering menampik tawaran air atau roti yang sering ditawarkan jamaah lainnya dengan beralasan “saya sudah wudhu” dan mereka pun malah bengong. Ternyata saya salah selama ini, makan dan minum tidak membatalkan wudhu.

Yang ketiga adalah soal rapatnya shaf salat, sudah jamak di tanah air kalau shalat kita menggunakan sajadah ukuran lebar yang menempel ujung sajadah dengan sajadah lainnya, padahal menurut syariat kerapatan shaf itu adalah pundak ketemu pundak dan mata kaki ketemu mata kaki. Ceritanya di sela waktu shalat saya ngobrol dengan seorang ibu asal Marocco, saya yang hobi nyender tentunya duduk sambil nyender ke salah satu pilar masjid, tiba-tiba datang seorang ibu bercadar menduduki sedikit ruang di samping ibu marocco, si ibu marocco pun menegur halus bahwa itu tempatnya, si ibu bercadar malah menjawab “your place?this wide area? from here to here?ckckckck” katanya pedas sambil menggeleng-gelengkan kepala tanpa bergeming. Saya dan si ibu marocco pun hanya terdiam, menjelang waktu shalat si ibu bercadar mengingatkan si ibu marocco untuk kembali ke posisinya, ternyata memang area tersebut cukup untuk dua orang. Saya yang malah bikin shaf sendiri di depan pilar malah diomelin oleh ibu-ibu arab lainnya sambil diingatkan “here..here…you are not allowed to make your own shaf by yourself” sambil menyisipkan saya di ruang sempit antara dua orang lainnya. Sebelum shalat pun masing-masing dari mereka akan mengecek kelurusan area. Lurus dan rapatnya shaf memang merupakan salah satu syarat sah shalat.

Saya sering mengamati jamaah-jamaah dari negara lain. Misalnya dari Indonesia, sangat mudah dikenali karena jamaah negara lain nggak ada yang pakai mukena kecuali Indonesia dan Malaysia, para jamaah Indonesia terutama ibu-ibu sering banget bikin barisan panjang bergandengan tangan saat berjalan agar tidak terpisah. Sementara jamaah dari India, Pakistan maupun Bangladesh umumnya tetap memakai sari berwarna warni yang terkadang saat shalat akan menjuntai dan membuat mereka berhenti sejenak untuk merapikan kembali kerudungnya. Jamaah dari Arab, Mesir dan Turki umumnya menggunakan abaya hitam dan beberapa bercadar. Jamaah pria dari china banyak yang memakai baju panjang putih ala china, suami saya sering banget disapa oleh mereka karena disangka sama-sama dari China.

Banyak pelajaran berharga yang bisa saya petik dari percakapan – percakapan selintas ini, betapa islam telah menyatukan saudara seiman dari berbagai suku bangsa yang berbeda ras maupun bahasa, betapa indahnya ukhuwah dalam islam, Masya Allah.

 

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s