Posted in Arab Saudi, Haji & Umroh, Madinah

Umroh + Cairo + Abu Dhabi (Day 6)

Sehari kemarin di Madinah sudah cukup mampu membuat saya beradaptasi dengan lingkungan sehingga saya sudah bisa memberanikan diri untuk pulang pergi ke masjid maupun jalan-jalan sendirian tanpa takut akan gosip “urban legend ala haji”. Apa pula itu? mari saya ceritakan.

Urban Legend ala Haji

Sebelum menunaikan ibadah umroh, saya sering mendengar cerita-cerita “horror” yang asalnya dari mulut ke mulut, diceritakan turun temurun, tersebar dan makin besar karena gosip, namun fakta kejadian tidak jelas. Cerita serupa bahkan saya dengar dari ibu saya yang sudah pergi haji. Ceritanya berupa larangan untuk jalan-jalan sendiri, harus selalu bareng rombongan jangan sampai terpisah, kalau pergi-pergi harus pegangan tangan yang erat dengan teman satu rombongan, orang-orang sering nyasar sampai berjam-jam, sampai ke cerita famous macem “ada bapak dan anak perempuan yang naik taxi, bapaknya turun duluan, eh anaknya dibawa kabur dan sampai sekarang gak ketemu” atau cerita-cerita penuh bumbu lainnya. Pokoknya melukiskan tanah Arab itu penuh marabahaya dengan gerombolan penyamun yang siap menculik wanita kapan saja di mana saja.

Alhamdulillah saat saya di sana situasi aman, tenang dan terkendali. Faktanya sangat aman malah, saya bolak-balik masjid bahkan jalan-jalan di sekitar mengitari kompleks hotel & pertokoan sendirian. Di jalan banyak marka jalan, kalau bingung tinggal berpatokan pada hotel ataupun bangunan yang mencolok, pun di dalam masjid tinggal hafalkan nomor pintu masuk. Menurut saya, mungkin karena jamaah umroh (terutama yang dari Indonesia) kebanyakan sudah usia lanjut atau sepuh (kebanyakan orang naik haji atau umroh sudah di atas usia 40-50 an), yang kemungkinan daya ingat atau kepekaan nya sudah agak kurang, jadi mudah tersesat, makanya larangan untuk jalan-jalan sendiri atau harus selalu bareng teman diberlakukan oleh biro tour sehingga meminimalkan risiko tersesat atau hilang. Adapun cerita dibawa kabur atau diculik mungkin dulu entah kapan memang pernah terjadi, tapi tentunya nggak sering, lah masa iya nggak muncul di berita? wong TKI dipukulin di Arab aja kita bisa tau kan.

Day 6

Tepat pukul 08.00 anggota jamaah kami sudah bersiap di lobby hotel untuk agenda hari ini yaitu mengunjungi pekuburan baqi, masjid qiblatain, masjid khandaq, masjid quba, kebun kurma dan jabal uhud. Kegiatan dilaksanakan sepagi mungkin agar kami sudah bisa kembali ke hotel sebelum shalat dzuhur sehingga bisa tetap shalat di masjid nabawi.

Pekuburan Baqi

Bus mengantar kami melewati pekuburan baqi tempat para syuhada, sahabat dan ummul mukminin bersemayam. Karena keterbatasan waktu , kami hanya berhenti sejenak tanpa turun dari bus, sambil mengucapkan doa bagi para ahli kubur yang dipandu oleh Ustadz Rizal. Pekuburan baqi ini merupakan areal tanah lapang luas yang ditandai dengan gundukan tanah dan batu sederhana sebagai penanda makam tanpa nama, tidak ada batu nisan warna warni bergrafir, kijing apalagi bangunan seperti layaknya pekuburan di tanah air.

273338_kompleks-pemakaman-baqi-di-madinah_663_382

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya,” (HR Muslim No. 970).

Inilah kuburan yang syar’i dan dicontohkan, sesuai dengan akidah Islam dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa dibangun, dikeramik, ditulisi, ditinggikan kecuali hanya sejengkal, dan tanpa disembah atau diagungkan (sumber : pikiranrakyat.com).

Masjid Qiblatain

Sesudah itu kami menuju masjid qiblatain walau lagi-lagi hanya melihat sekilas tanpa turun. Masjid Qiblatain artinya masjid dua kiblat.Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.

Pada permulaan Islam, orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsha) diYerusalem/Palestina. Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah SAW untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah.

Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah SAW tengah salat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Di tengah salat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144, yang artinya:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Setelah turunnya ayat tersebut di atas, berkata seseorang dari Bani Salamah, “Ketahuilah, sesungguhnya kiblat telah diganti,” maka mereka berpaling sebagaimana mereka menghadap kiblat, dan kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua (sumber : wikipedia).

300px-masjid_al-qiblatain
Masjid Qiblatain

Masjid Quba

Agenda kami selanjutnya adalah masjid Quba. Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun dalam peradaban sejarah Islam pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriah.

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“….Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (Mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS At Taubah: 108)

“Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.”( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478)

Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmizi no. 298. Ibnu Majah no. 1401)  (sumber :rumahallah.com).

Masjid Quba berwarna putih bersih dengan kompleks bangunannya yang luas. Masjid Quba yang ada saat ini adalah berbeda dengan mesjid quba pada saat zaman Rasulullah saw, mesjid quba yang saat ini berdiri adalah mesjid yang telah direnovasi dan diperluas pada masa Kerajaan Arab Saudi. Renovasi dan perluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal dengan daya tampung hingga 20 ribu jamaah. Renovasi dilakukan pada tahun 1986 (sumber :rumahallah.com).

Saat kami tiba di sana parkir bus sudah penuh dengan para pengunjung. Kami menunaikan shalat sunnah dua rakaat di masjid yang penuh keutamaan ini.

img_6757
Interior masjid quba
img_6772
Masjid Quba
img_6783
Masjid Quba

Masjid Khandaq 

Dalam perjalanan menuju jabal uhud kami diajak melewati dan melihat masjid khandaq. Khandaq berarti parit. Dalam sejarah Islam, Khandaq adalah peristiwa penggalian parit untuk benteng pertahanan melawan kaum kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya yang mengepung Madinah

img_0421
Masjid Khandaq

Jabal Uhud

Lokasi Jabal Uhud berjarak 4 kilometer dari Masjid Nabawi dan gunung ini termasuk yang terbesar di Madinah. Uhud memiliki keliling 19 km dan tinggi 1 km dari permukaan air laut atau 300 m dari permukaan tanah.

Umat Islam cukup mengenal nama Uhud karena di lembah gunung inilah pernah terjadi perang besar antara umat Islam dan tentara Quraisy. Perang yang terjadi pada 15 Syawal 3 Hijrah atau Maret 625 Masehi itu terkenal dengan nama Perang Uhud (sumber : dream.co.id).

Jabal Uhud merupakan saksi bisu syahidnya para syuhada di jalan Allah dalam peperangan melawan kafir Quraisy. Kami diberi waktu sekitar 30 menit untuk turun di Jabal Uhud. Jabal Uhud berupa gunung dengan padang pasir gersang berwarna kemerahan. Angin bertiup sangat kencang sehingga debu-debu yang beterbangan masuk ke mata, sangat disarankan memakai kaca mata hitam untuk melindungi mata dari debu dan teriknya matahari.

img_6802
Jabal Uhud
img_6804
Jabal uhud

Kebun Kurma

Perhentian terakhir kami adalah menyusuri kebun kurma. Kami melewati areal perkebunan kurma yang sangat luas dengan pepohonan yang berbuah lebat. Kami berhenti di salah satu perkebunan kurma, awalnya saya pikir ini acara petik sendiri dan timbang lalu bayar seperti kebun apel di malang, ternyata kita hanya akan dibawa melewati beberapa areal kebun kurma sambil dijelaskan mengenai jenis-jenisnya dan sesudahnya akan dibawa ke toko kurma. Selain kurma aneka jenis, toko ini juga menjual berbagai produk turunannya seperti sari kurma,biskuit kurma,kurma lapis coklat,madu kurma dll. Pegawainya kebanyakan ternyata orang Madura. Di toko ini juga bebas icip-icip sample sebanyak 2-3 butir sebelum membeli kurma. Berhubung saya memang tidak berniat belanja, saya hanya membeli 3 kg kurma ajwa (kurma nabi) untuk keluarga di rumah, yaitu kurma hitam berkualitas terbaik di antara kurma lainnya, buahnya lebih kecil dibanding kurma jenis lainnya tapi dagingnya lebih legit dan manis. Harganya dibanderol sekitar 180 ribu/kilo. Tapi niat tinggal niat… berhubung ibu-ibu lainnya masih aja belanja, saya yang bosan menunggu mulai melihat-lihat aneka penganan seperti biskuit,kue dan coklat, dan akhirnya tergoda membeli beberapa kotak untuk keluarga, haha.

img_6789
Kebun Kurma

 

 

Shopping Problem

Godaan lain dalam ibadah umroh apalagi bagi kaum wanita adalah belanja. Di madinah ini, selain plaza di depan pelataran masjid nabawi yang penuh dengan lapak para pedagang keliling, hampir setiap bangunan terdapat kios ataupun pertokoan. Tidak terkecuali dengan area seputar hotel kami yang penuh dengan pertokoan yang menjajakan aneka barang dagangan oleh-oleh khas haji. Maka saran saya perteguh niat, jangan malah sia-siakan waktu yang seharusnya buat ibadah menjadi malah window shopping, kalau mau beli cukup seperlunya saja.

Lucunya salah satu sepupu saya malah nitip mukena, lah di arab nggak ada yang jual mukena. Orang beribadah menggunakan baju yang dipakai, tidak seperti di Indonesia yang memakai mukena khusus untuk shalat.

Hal lucu lainnya adalah, kalau kamu wanita muda jalan-jalan di toko tanpa suami, bahkan walaupun dengan sesama teman perempuan, kamu akan sering ditanya oleh penjualnya apakah sudah menikah atau belum. Menurut dr ratni, orang – orang arab memang menganggap wanita melayu cantik-cantik. Kalau kamu jawab belum, bisa jadi mereka akan serius melamar. Pedagang di madinah rata-rata mengerti angka dalam bahasa indonesia, walau tidak bisa berbahasa indonesia mereka lancar menyebutkan satu dua tiga, sehingga memudahkan dalam transaksi tawar menawar.

Setelah saya bandingkan, harga kurma maupun penganan lainnya lebih murah di pedagang keliling dibanding di toko. Tau coklat kerikil ataupun coklat sebesar permen yang biasa dijadikan oleh-oleh umroh kan? belilah di pedagang keliling karena harganya jauh lebih murah. Juga kerudung lebar kembang-kembang aneka warna khas arab dan abaya hitam juga banyak dijual di pedagang keliling.

Another Skin Problem

Menginjak hari ke 6 di luar tanah air, kulit saya mulai teriak “stress” akibat kekeringan terutama di wajah. Setiap kena air sehabis wudhu, rasanya kering dan perih banget, sampai saya harus buru-buru berlari untuk mengolesi kulit dengan pelembab. Itu pun masih kurang efektif karena beberapa saat masih terasa kaku dan perih, sampai saya gak berani mencuci muka dengan facial wash karena takut makin kering. Merk apapun dari tanah air mau w****h ataupun keluaran century lainnya gak ada yang mempan. Sampai akhirnya saya ngobrol dengan bu rie dan dia menyarankan membeli cream 21 untuk wajah dan vaseline petroleum jelly untuk tumit & siku. Kedua produk ini bisa dibeli di toko obat yang banyak tersebar di sekitar hotel dan terbukti sangat ampuh, harganya juga tidak terlalu mahal. Belakangan sepulang ke tanah air, saya baru menyadari bahwa kedua produk ini juga banyak dijual di toko perlengkapan haji umroh yang ada di tanah abang, yeei salah sendiri kenapa gak nanya-nanya dulu dan malah kemakan iklan di tv.

Persiapan Umroh

Sorenya ba’da shalat ashar kami semua diminta untuk berkumpul di coffee shop hotel untuk persiapan umroh. Ustadz Rizal kembali menerangkan secara detail mengenai tata cara ibadah umroh, rukun-rukunnya, sunahnya maupun larangan-larangannya. Beliau juga mengajarkan kembali cara memakai kain ihrom kepada jamaah laki-laki, pun menegaskan kembali mengenai jadwal besok, sebab selepas dzuhur kami akan bertolak ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah Umroh.

Malamnya kami isi dengan itikaf di masjid dan beberapa anggota rombongan menyempatkan diri  kembali memasuki raudhah.

Perjalanan yang saya tulis memang lebih seperti cerita travelling, sengaja dituliskan tetap seperti itu tanpa menyertakan detail pelaksanaan ibadah sebab itu urusan saya dan Allah. Biarlah yang saya bagi hanya kisah mengenai tempat-tempat yang saya datangi.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s