Posted in Arab Saudi, Haji & Umroh, Madinah

Umroh + Cairo + Abu Dhabi (Day 5)

Pesawat Etihad yang membawa kami dari Cairo mendarat sekitar pukul 03.00 dini hari di Madinah. Lho kok langsung di Madinah ? bukannya di jeddah? khusus untuk umroh plus, pihak Patuna memang sengaja mengatur kedatangan di bandara Madinah. Kebanyakan jamaah umroh akan mendarat di Jeddah dengan rute memutar yaitu Jeddah – Madinah – Mekkah – Jeddah, durasi perjalanan Jeddah-Madinah memakan waktu 7-8 jam berkendara dengan bus, cukup melelahkan setelah long haul flight selama 9 – 10 jam. Dengan mendarat di bandara madinah kami bisa menyingkat durasi perjalanan, syukurlah, apalagi saya masih agak lelah akibat perjalanan ke mesir kemarin.

Suasana bandara madinah sendiri cukup ramai walau tidak terlalu padat, kami menunggu sekitar satu jam untuk imigrasi dan bagasi (bagasi sudah diambilkan oleh pihak travel, jadi kita cukup duduk manis). Sesudah itu kami diajak masuk ke dalam bus yang akan membawa kami ke hotel, di dalam bus kami diperkenalkan dengan ustadz yang akan menjadi pembimbing jamaah kami selama ibadah umroh, namanya ustadz rizal, seorang ustadz asal medan yang seusia suami saya (masih relatif muda), serta para kru lainnya yang terdiri atas pak supir dan kernet yang dua-duanya asli Indonesia.

Selama perjalanan hati saya membuncah haru, antara bahagia dan tidak percaya kalau saya diizinkan menjejakkan kaki di kota Rasulullah ini. Jalan raya yang kami lalui membelah pegunungan batu, para saksi bisu dalam perjuangan kaum Muslimin, saya membayangkan tanah mana yang dulu dipijak Rasulullah, bukit mana yang dulu dilalui Rasulullah. Tidak sampai satu jam bus yang kami tumpangi sudah merapat ke hotel, hotel yang kami tempati adalah Royal Dyar yang hanya berjarak 200 m dari Masjid Nabawi. Masing-masing kami diberi kunci kamar hotel sementara bagasi akan dibawakan oleh kru travel, kami hanya mampir sebentar ke kamar hotel untuk meletakkan ransel dan mengambil wudhu. Setelah itu kami bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh, di lobby hotel saya bertemu dengan bu rie,dr ratni & dr sri beserta para suaminya, saya pun bergabung dengan ibu-ibu untuk menuju masjid nabawi.

hqdefault
Royal Dyar Madinah

Suara adzan shubuh sudah berkumandang sehingga kami mempercepat langkah kami, di pelataran masjid nabawi (yang dinaungi kubah-kubah payung) sudah banyak jamaah berkumpul dan menggelar sajadah. Mengikuti saran dr ratni yang sudah berkali-kali ke sini, kami terus bergerak masuk ke dalam masjid (karena menurutnya shaf depan pasti masih ada yang kosong), benar saja setelah blasak-blusuk sampai ke depan akhirnya kami menemukan ruang yang cukup untuk berempat.

img_6704
suasana di madinah
img_6705
masjidil nabawi

Selepas shalat shubuh, saya dan bu rie kembali ke hotel (dr ratni & dr sri masih itikaf di masjid). Saya terkejut mendapati plaza yang tepat terdapat di depan pelataran kompleks masjid nabawi (sekitar tugu jam) kini sudah berubah riuh ramai dengan para pedagang yang menggelar lapak. Saya memperhatikan tingkah polah pedagang pashmina yang menjajakan dagangannya dengan cara mengibas-ibaskan kain panjang ke udara, selain itu ada juga pedagang gamis, korma, coklat dll. Para pedagang di sini tertib, tidak ada yang berjualan di pinggir jalan apalagi sampai memakan badan jalan, juga mereka semua patuh dengan aturan Islam yang mana melarang berdagang di dalam area masjid, jadi mereka ya hanya berdagang di plaza tersebut.

img_6755
para pedagang di plaza

Dalam perjalanan ke hotel saya baru sempat mengamati plaza ini yang ternyata diapit oleh hotel-hotel dan pertokoan. Di tengah plaza terdapat jam tinggi yang dikelilingi pagar dan sering dihinggapi oleh burung merpati. Hari ini adalah hari bebas, artinya tidak ada acara yang digelar oleh biro tour, kita bisa bebas melakukan aktivitas tanpa agenda.

img_6734
Menara jam di tengah plaza

Makan pagi disajikan di restoran hotel, di restoran saya kembali bertemu dengan suami saya, di sini juga kami banyak bertemu dengan jamaah umroh dari biro tour lainnya. Saking banyaknya jamaah dari Indonesia, satu ruangan diperuntukkan khusus untuk jamaah Indonesia, ada tulisannya “for indonesian”, menunya pun dibuat bercita rasa Indonesia lengkap dengan sambal dan kerupuk (bahagiaaaa), berasnya tetap beras lokal arab yang panjang-panjang dan sulit menemukan sayur dalam menu harian (karena pertanian tidak subur di wilayah Arab), kalaupun ada hanya kubis, tidak ada lainnya, bagaimanapun kami sudah sangat bersyukur dengan menu yang terbilang mewah ala hotel tersebut.

Setelah cukup beristirahat, saya dan suami kembali ke masjid nabawi untuk melihat-lihat suasana. Kami berdecak kagum saat melihat kubah-kubah payung yang bisa buka tutup dan sudah menjadi icon bagi masjid nabawi. Masjid Nabawi sangat besar dan memiliki banyak pintu, tapi tidak usah takut tersesat, tiap pintu memiliki nomor sendiri (tentunya bisa kan ya baca huruf arab), tinggal diingat saja kita masuk dari pintu nomor berapa. Area shalat lelaki dan perempuan dipisah jauh. Dilarang membawa hp atau alat komunikasi lainnya, saat akan masuk kita akan digeledah oleh petugas (walau random check sih), selama umroh saya memang gak pernah bawa hp ke masjid, selain prinsip “buat apa bawa hp, toh mau ibadah” saya sih males aja ambil risiko hp diambil, lha kalau diambil terus ngambilnya lagi gimana ? secara petugas nya pakai cadar semua.

img_6746
Masjid Nabawi
img_6724
Di plaza depan masjid nabawi

Entah mengapa banyak yang tidak merekomendasikan ruang wudhu di bawah tanah, bahkan pihak tour dan ustadz kami melarang karena katanya sepi banget. Saya yang biasanya nekad kali ini mematuhi saja anjuran tersebut. Untungnya hotel kami dekat sehingga kami bisa mengambil wudhu di hotel.

Di dalam masjid beratus-ratus galon berisi air zam-zam disediakan gratis, jadi alhamdulillah tidak usah takut kehausan. Saya sempat bertemu dengan beberapa cleaning service yang ternyata dari Indonesia. Lantai masjid terbuat dari marmer yang sangat sejuk dan dingin di kulit, sementara chandelier bergaya arab dan kaligrafi memenuhi atap dan dinding. Di dalam masjid sudah disediakan rak-rak berisi al qur’an yang bisa dibaca oleh siapapun.

10988531_10204142106529686_6781460218548958904_n
Rak-rak Al QUr’an
bqory6-ciaawjpi
Galon zam-zam

Madinah sendiri sangat nyaman, tertib dan teratur , masyarakatnya ramah dan suasananya sangat santai. Suhu udara saat itu berkisar sekitar 15-17 C, masih cukup dingin. Di sekitar Dar El Taqwa dan Oberoi juga ramai dengan toko-toko dan lapak pedagang keliling bahkan ada juga warung-warung yang menjual masakan Indonesia.

Beware of your thoughts

Pernah dengar petuah atau cerita soal tanah haram ? sering kan dibilang hati-hati dalam berucap atau berbuat, karena akan langsung dibalas, harus menjaga lisan dan perbuatan. Saya pun sering mendengar cerita-cerita mengenai hal-hal tersebut dan sudah berjanji dalam hati untuk menjaga baik-hati hati dan lisan saya. Tapi ternyata manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan.

Selepas shalat ashar saya memutuskan untuk itikaf sejenak di masjid, insan mana yang hatinya tidak basah dalam keharuan manakala bisa memanjatkan doa di masjid ini, salah satu masjid suci umat islam, masjid yang berdiri di tanah yang amat dicintai Rasulullah, betapa hati ini memohon ampun atas segala kekejian dan kekotoran hati, jahatnya kelakuan maupun lisan dan segala dosa lainnya. Terlupalah saya akan petuah “hati-hati berucap”, dalam isak tangis memohon ampun saya berucap “ampunilah hamba, bila mana Engkau mengampuni, hamba akan menanggung apapun azabnya”.

Saya pun melanjutkan itikaf dengan membaca Al-Qur’an, sesudah selesai saat saya berdiri, entah mengapa saya merasakan sakit di pergelangan kaki kiri. Saya pun heran kok kaki saya sakit ya, saya coba lurus-luruskan dan pijat-pijat ringan, saya pikir cuma kram ringan nanti juga sembuh.

Menjelang malam bukannya sembuh, kaki saya malah jadi bengkak. Saya coba rendam dalam air panas di bath tub kamar mandi untuk memburaikan urat-urat yang kaku, tapi kok ya masih sakit, suami saya bilang mungkin keseleo, tapi saya merasa nggak jatuh atau apa sama sekali tadi siang. Mulailah saya menyeret kaki saya karena sudah tidak bisa dipakai berjalan normal,dan acapkali tiap berapa langkah saya akan berhenti karena rasa sakitnya itu. Perjalanan menuju masjid yang hanya 200 m saya lalui dengan tertatih-tatih dan 5 menit berubah menjadi 15 menit bahkan 20 menit bagi saya.

Selepas makan malam kami diberi tahu bahwa jam 21.00 kami akan diajak dan dipandu menuju Raudhah.

Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah. Satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah ini ditandai tiang-tiang putih dengan ornamen kaligrafi yang khas dan juga karpet warna hijau yang menutup lantainya. Warna karpet ini berbeda dengan warna karpet Masjid Nabawi yang semuanya berwarna merah (sumber : arminarekasurabaya)

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ketika ditanya mengenai hadits:

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga

Beliau menjelaskan: “hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah dan beliau menilai hadits ini hasan gharib dari Ali. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan selainnya dari jalan lain yang di dalamnya terdapat tambahan:

ومنبري على حوضي

dan mimbarku (kelak) akan berada di atas telagaku

Makna hadits ini menyatakan bahwa area tersebut (raudhah) memiliki kemuliaan dan keutamaan. Barangsiapa yang shalat di sana seakan-akan ia telah duduk di taman dari taman-taman surga. Sehingga menjadikan shalat yang dilakukan di sana berpahala banyak. Sebagaimana juga shalat di bagian masjid Nabawi yang lain dilipat-gandakan pahalanya 1000 kali dari shalat di masjid lain kecuali masjidil haram” (sumber muslim.or.id)

Lokasi raudhah ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, hanya terbuka untuk perempuan di jam tertentu. Bukan hal yang mudah untuk bisa memasuki Raudhah (sumber : arminareka surabaya). Selain karena lokasinya yang tidak mudah dihapalkan hanya dengan sekali ke sana, masuk ke sana pun berdesak-desakkan, karena itulah kami butuh pemandu. Pemandu kami adalah seorang wanita asal Indonesia yang sudah lama tinggal di Madinah. Kami diberi tahu apabila ada pengumuman Raudhah dibuka, kami harus segera berlari dan apabila salah satu teman kami shalat yang lain bergantian melindungi untuk menghindari dorong-dorongan. Saya melirik kaki yang makin bengkak dan berpikir gimana mau berlari, jalan saja sulit, dengan menetapkan hati dan mengucap bismillah, saya pun menetapkan niat insya allah bisa. Begitu ada pengumuman semua jamaah perempuan langsung berlari, kami harus berebut tempat dan berdesak-desakkan untuk bisa masuk, saat menemukan tempat kosong kami pun shalat bergantian, itu pun terkadang kena dorong-dorongan. Alhamdulillah saya bisa ibadah di raudhah walau kaki sakit.

Di kawasan ini juga terletaknya makam junjungan besar kita, Rasulullah saw, juga dua sahabat besar, Saidina Abu Bakar R.A dan Saidina Umar R.A.Jangan lupa, ketika berdo’a di sini (atau di manapun di Masjid Nabawi), janganlah sambil menghadap makam. Menghadaplah ke arah Kiblat. Sementara ketika di depan makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah perlu mengusap-usap jendela makam dan menciumnya, atau menempelkan dada dan perut, karena syariat Islam sama sekali tidak menuntunkan demikian. Ucapkan saja sebanyak mungkin shalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat serta keluarga (sumber : arminareka surabaya).

1509885_10204142107209703_7542627947457585868_n
Raudhah dan Makam Rasulullah
11041717_10204142108809743_7128146374500437831_n
Raudhah dan Makam Rasulullah

Berbeda dengan jamaah laki-laki yang ruang raudhah-nya lebih luas dan dibuka setiap saat. Suami saya bercerita kalau selama di madinah dia sering shalat di raudhah dan bahkan itikaf berjam-jam di sana.

Larut malam saat kami sudah kembali ke hotel, saya mengurut-urut pergelangan kaki kiri saya yang bengkak. Sampai saat itu saya masih bertanya-tanya kok bisa sakit ya, suami saya pun tercetus “kamu ngomong apa nggak atau ada salah apa nggak?” saya pun teringat doa saya tadi siang. Astaghfirullah…saya baru ingat dengan kata-kata saya tersebut. Suami saya pun mengingatkan untuk banyak-banyak istighfar dan mohon ampun agar dicabut sakitnya, Astaghfirullah. Saya pun menutup hari pertama di madinah dengan ucapan istighfar.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s