Posted in Abu Dhabi, Cairo, Egypt/Mesir, United Arab Emirates

Umroh + Cairo + Abu Dhabi (Day 4)

Hari ini adalah hari terakhir kami di Mesir, cukup singkat karena hanya 3 hari 2 malam, sebenarnya masih betah dan butuh lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi Cairo. Kami mengepak koper yang makin penuh dengan oleh-oleh sambil mengucap doa semoga suatu hari nanti diperkenankan mengunjungi kota ini lagi. Kami masih penasaran dengan the egyptian museum dan ingin mendaki bukit sinai, tempat di mana Nabi Musa mendapatkan wahyu, semoga ya kelak terkabul. Karena akan langsung check out, koper yang sudah rapi dikemas kami letakkan di depan pintu kamar untuk kemudian diangkut oleh porter ke dalam bus, yah gitulah enaknya ikut tur, tinggal duduk manis semuanya udah rapi diurusin. Berbeda dengan perjalanan ala backpacker yang biasa kami lakukan, perjalanan lewat tur memang nyaman, tapi kurang esensi “menyatu” dan “feel difference” dengan budaya lokal. Kami nggak ngerasain naik mahattah (metro di cairo), nggak ngerasain duduk-duduk di kedai pinggir jalan, nggak banyak berinteraksi dengan orang lokal dll, jadi berasa kurang bumbu banget.

Pukul 08.00 kami turun ke restoran hotel untuk sarapan, kami memilih duduk di meja yang berada tepat di samping jendela besar sehingga kami dapat menikmati suasana mesir sebelum pulang. Suasana jalanan di depan hotel sangat lengang, sesekali ada satu dua orang yang sedang jogging atau berjalan santai. Jum’at adalah hari libur di Mesir, karena merupakan negara islam mayoritas maka jum’at dijadikan hari libur untuk kegiatan ibadah jum’at. Breakfast dengan menu full course ala hotel berbintang terbilang mewah bagi kami yang terbiasa menjadi golongan backpacker, kalau pergi sendiri saat ini tentunya kami sedang nongkrong di kedai-kedai roti ishy dan menyeruput susu herbal sambil ngobrol bareng orang lokal, haha. Sepertinya saya paham salah satu alasan Indonesian citizen tidak populer (seperti kemarin saat ke mana-mana pasti ditanya, malaysian??), ya karena backpacker indonesia jumlahnya tidak banyak. Yang ikut tur mah lumayan banyak, tapi kalau ikut tur kan gak banyak berinteraksi dengan penduduk lokal, ke mana-mana ditemani pemandu, tinggal duduk manis ngikutin rundown, ada interaksi pun paling pas belanja aja (itu juga kebanyakan di toko-toko mehong) pokoknya bagi saya kurang asyik. Hari ini kami dijadwalkan bertolak ke Arab Saudi untuk memulai kegiatan umroh, makanya wajib memakai batik hijau seragam berlogo patuna. Namanya juga emak-emak ya, sehelai kain batik bisa menjadi aneka model, ada yang gamis biasa, gamis renda, atasan, bahkan dibikin jubah, rombongan ibu-ibu malah saling puja-puji soal bentuk batiknya saat sarapan, beda sama bapak-bapak yang anteng karena palingan modelnya cuma koko atau kemeja. Penerbangan ke madinah akan berangkat pukul 17.00 sehingga kami masih punya waktu setengah hari untuk mengeksplorasi Cairo.

10930076_10153222428044623_1602297788043353211_n
Breakfast at Semiramis 

SALAHUDIN AL AYOUBI CITADEL

Pukul 09.00 kami berangkat menuju destinasi pertama yaitu Salahudin Al Ayoubi Citadel. Salahudin adalah seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini). Ia mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib. Sultan Salahuddin Al Ayyubi juga adalah seorang ulama. Ia memberikan catatan kaki dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud. Salahuddin terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara salib (sumber : wikipedia).

Salahuddin membangun benteng ini untuk melindungi Cairo dari serangan pasukan salib, benteng ini dibangun di atas bukit Muttaqam yang paling tinggi di Cairo, dengan posisinya benteng ini sulit diserang dan terbukti ketangguhannya dengan fakta bahwa benteng ini digunakan oleh para raja mesir hingga abad ke-19.

Bus berhenti dan menurunkan kami di lapangan citadel yang luas dan lantainya terbuat dari cobblestone. Suhu udara masih dingin seperti kemarin, tapi belajar dari kesalahan, hari ini saya sudah siap dengan jaket + sarung tangan. Kompleks citadel sangat luas,bentengnya berwarna coklat pudar mirip warna pyramid, dari kejauhan terlihat atap kubah Muhammad Ali Mosque. Jalanan menuju citadel agak menanjak walau tidak terlalu menguras stamina. Di tengah perjalanan saya bertemu beberapa gadis mesir cantik (yang saya taksir usianya sekitar 17-18 tahun) yang mengajak foto bersama, saya langsung menjawil ibu-ibu lain sambil bercanda adegan ala “ayat-ayat cinta”. Salah satu dari mereka (yang bahasa inggrisnya paling bagus) mengajak saya ngobrol dan memuji saya “cantik sekali” (langsung jadi kepiting rebus deeh), saya pun bilang “nggak salah?kamu justru yang cantik sekali” (ya iyalah yang saya ajak ngomong rata-rata muka khas semit layaknya raline shah) tapi dia geleng-geleng dan bilang justru saya yang cantik sekali. Mungkin saking cakepnya orang-orang mesir (hey, mereka punya struktur tulang tinggi , hidung mancung, kulit putih dan mata tajam ala suku semit/arabia) mereka bingung sekalinya liat orang dengan hidung mancung ke dalem ya, hahaha. Saya pikir kemarin waktu di El Khalili, saya digodain ABG karena mereka iseng aja, eh di Citadel ini saya juga sering disamperin ABG cowok yang ngajak kenalan dan minta no hp. Selidik punya selidik, menurut Dado, orang-orang mesir ini suka dengan orang melayu, menurut mereka orang melayu cantik-cantik, owalah ternyata standar cakep beda-beda ya, kalau di Indonesia muka arab dikit jadi artis. Gadis-gadis mesir ini walau kebanyakan pakai jilbab, tapi jilbabnya model jilbab gaul, yang pendek dan ala lilit-lilit itu lho, pakaiannya juga modis banget, apalagi di musim dingin begini, pakai coat, jacket winter dan sepatu bot berhak, keren euy!

IMG_6623
Salahuddin CItadel, keliatan mesjid muhammad ali
IMG_6625
Salahuddin Citadel, dari sudut bastionnya
IMG_6628
Dengan gadis-gadis mesir
IMG_6640
Bareng pak trio (koordinator dari patuna), mas dado (guide selama di mesir) & ibu ita

Ada 4 museum yang terdapat di Citadel ini yaitu Al Gawhara Palace, Carriage, Egyptian Military & Egyptian Police Museum. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat menyambangi museum satu persatu, kami terus melanjutkan pendakian hingga sampai di lokasi tertinggi tempat Muhammad Ali Mosque berada.

IMG_6641

Di depan National Military Museum

IMG_6643
Di depan Kantor Polisi

MUHAMMAD ALI MOSQUE

Masjid ini dibangun oleh Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir dari dinasty ottoman (turki). Masjidnya dibangun dengan gaya ottoman dan identik sekali dengan arsitektur Hagia Sophia di Istanbul. Masjid ini juga merepresentasikan usaha Muhammad Ali untuk mengubah segala hal berbau dinasti Mamluk yang berkuasa sebelumnya. Batu-batu penyusun masjid ini diambil dari makam firaun di Luxor, caranya batu-batu yang sudah dipotong dialirkan melalui sungai nil. Di luar masjid terdapat bangunan bulat yang dulunya digunakan untuk tempat berwudu, juga ada menara jam yang jam-nya merupakan hadiah dari Raja Perancis.

IMG_6650
Muhammad Ali Mosque
IMG_6662
Tempat wudhu
IMG_6660
Batu-batu yang berasal dari kuil luxor
IMG_6656
Koridor masjid

Begitu memasuki masjid, mata saya terbelalak dengan ratusan lampu gantung dan chandelier gaya arab yang menjuntai dari langit-langit. Kubahnya ada lima, dengan formasi 4 kubah mengelilingi satu kubah yang lebih besar. Kubah yang tengah merepresentasikan Rasulullah Muhammad SAW, sementara 4 kubah lainnya merepresentasikan khalifah urasyidin yaitu Abu Bakr, Umar, Usman dan Ali. Di dalam masjid terdapat suatu ruangan bersekat yang adalah makam Muhammad Ali Pasha yang kuncinya dipegang oleh ahli warisnya dan hanya dibuka saat tertentu.

IMG_6666
Inside the mosque
IMG_6672
Kubah Rasulullah dikelilingi kubah 4 khulafaurasyidin

Keluar ke halaman belakang masjid, kita akan bertemu dengan tempat duduk berkanopi yang rupanya zaman dahulu digunakan sebagai tempat bersantai para penguasa. Dari ketinggian kita dapat melihat kota Cairo, pyramid dan juga sungai nil, pantaslah benteng ini dibangun di bukit ini karena dari benteng ini kita dapat mengawasi keseluruhan Cairo.

IMG_6687
Downtown cairo dari ketinggian

SHALAT JUMAT

Cukup lama kami menghabiskan waktu di salahuddin citadel tanpa terasa sebentar lagi sudah waktunya shalat jum’at. Azan sudah mulai bersahut-sahutan bergaung sehingga khalid (guide kami) memilih salah satu masjid yang terdekat. Masjidnya sudah penuh dengan jamaah, saya dan para ibu-ibu lainnya menuju ke ruang shalat khusus wanita yang juga penuh, ternyata para wanita di Mesir banyak yang ikut menunaikan ibadah shalat jumat, walau hukumnya tidak wajib. Khotbahnya cukup lama dan tentunya berbahasa arab.

SOLUXE HOTEL

Atas permintaan para anggota tur yang mulai bosan dengan masakan ala mesir, khalid dan dado membawa kami ke salah satu hotel merangkap restoran china halal yang bernama Soluxe Hotel. Restoran China di manapun mudah dikenali dari arsitekturnya, tidak terkecuali yang satu ini, di pintu masuk tertempel kertas merah hijau dengan aksara china. Di lobby kami disambut oleh patung naga emas dan ornamen merah ala china lainnya lengkap dengan alunan musik china. Lidah langsung rasanya menari, secara dari kemarin masakannya berasa rempah kental mulu, sekarang rasanya minyak wijen dan mirin. Chicken kungpao, cakwe, sop asparagus, tumis tauge, kwetiauw sampai bubur kami lahap saking kangennya (lebay, padahal baru juga 3 hari). Kokinya juga impor dari china kayaknya, bahasa inggris aja nggak bisa.

10410895_10153222428494623_5138548859979581265_n
Chinese Food

DEG-DEGAN KE BANDARA

Jam setengah tiga kami baru bertolak ke bandara, saya sih sebenernya deg-deg ser plus was-was ya karena pesawat akan berangkat jam 17.00, kan salah satu syarat penerbangan international kita harus berada di bandara minimal 3 jam sebelum waktu berangkat, gunanya untuk antri di counter check in bagasi dan antri imigrasi. Tapi saya pikir mungkin dekat jaraknya plus…tenang ajalah toh ikutan tur pasti pihak tur lebih paham. Tapi ternyata jalanan cukup macet ba’da shalat jumat, mungkin orang-orang baru pada keluar jalan-jalan sehabis shalat , saya bolak-balik mengecek jam di ponsel sambil menatap cemas ke luar jendela. Akhirnya sejam kemudian, sekitar pukul 16.00 kurang, bus kami sampai di bandara Cairo. Karena waktunya mepet, kami diperintahkan buru-buru menenteng koper dan segala barang bawaan sendiri dari bus ke ruang check in (yang bikin manyun beberapa rombongan tur), sudah tidak memungkinkan lagi menggunakan porter, antrian masuk ruang check in cukup mengular, tapi dengan bantuan khalid kami disusup-susupkan ke depan dan akhirnya bisa masuk. Di counter check in, petugas cewek berbadan besar superjutek sudah menunggu dan security bandara dengan galaknya nanya ke saya (hiks..kenapa saya??anggota rombongan lain kan banyak) “where have you been, it’s very late!!!” dengan bentakan keras pula. Dibentak begitu saya malah jadi bengong dan lupa segalanya, dengan terbata-bata saya jawab “mmm.. the citadel..citadel…aargh i forgot the name..it was heavy traffic everywhere”. Saya malah dipelototin balik dengan sinar mata membunuh, tapi akhirnya petugas check in membolehkan kami semua untuk check in bagasi. Fuuh..selamat!!

Perjuangan masih berlanjut, kami semua terburu-buru lari ke counter imigrasi yang antriannya panjang bener. Untung petugas imigrasi cukup sigap, betenya…saat hampir giliran saya, tiba-tiba ada turis china yang main nyelonong aja maju ke counter tanpa ngantri…tanpa ngantri saudara-saudara, apa nggak bisa lihat kita semua ngantri panjang banget di belakang garis? tau kan garis yang hanya membolehkan kita maju kalau orang sebelum kita sudah beres, bete bener saya. Cowok mesir di belakang saya nyolek saya dan bilang “you must complain to him, he must queu like us, tell the officer”. Saya yang antara bengong dengan kelakuan si turis china, masih kesel dan baru aja mengalami balada ketar-ketir dibentak petugas, dengan ketusnya menjawab “it should be you!!you are the local citizen!!!the officer must listen to you than me!!!. Saya pun meninggalkan si cowok mesir (yang masih kaget diketusin) dan melangkah ke petugas imigrasi tanpa menunggu si turis china selesai, saya pun komplain “i am the next, not this guy, don’t you see that he didn’t queu?” , eh si petugas imigrasi malah pasang muka datar aja tanpa ngomong apa-apa. Saya pun jadi kesel dan beralih marahin si turis china “hey, can’t you see there’s a long long queu? we are in line, how dare you cross the line!” si turis china cuma mengendikkan bahu .. entah nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti.

Saya pun berusaha menenangkan diri lepas dari imigrasi, astaghfirullah!!! cobaan menjelang umroh, harus bisa lebih sabar dan tidak emosi. Hanya 15 menit di ruang boarding kami sudah dipanggil masuk ke dalam pesawat. Bismillah, bye-bye Egypt, bye-bye Cairo.

Belakangan Pak Trio mengaku kalau dia juga sudah kebat-kebit ketinggalan pesawat sebab nggak menyangka semacet itu, kalau sampai ketinggalan pesawat bisa ditegor dari pusat. Alhamdulillah kita nggak ketinggalan.

Di dalam pesawat saya menenangkan diri sambil mendengarkan murottal al qu’ran lewat in flight entertainment sebagai persiapan ibadah umroh. Makan malam dihidangkan di dalam pesawat, di etihad hanya menu breakfast yang ada pilihannya, sedangkan menu makan siang dan makan malam sudah ditetapkan. Malam itu saya kembali menyantap chicken massala (yang secara bercanda saya sebut chicken Masya Allah).

BACK TO ABU DHABI

Kalau lihat di peta kan harusnya dari mesir ke arab itu deket ya, tapi berhubung kita naiknya Etihad, ke manapun tujuannya ya kita mesti transit di Abu Dhabi dulu. Rutenya jadi Cairo – Abu Dhabi – Madinah, padahal tadi udah ngelewatin arab saudi, bolak-balik.

Kami tiba sekitar pukul 20.00, penerbangan selanjutnya ke madinah dijadwalkan sekitar pukul 23.30. Kali ini kami bertemu banyak jamaah asal Indonesia dari biro tur lainnya yang sudah memadati ruang tunggu. Warning umroh untuk jamaah Indonesia memang “nyeremin” seperti jangan jalan-jalan sendiri atau jangan sampai kepisah rombongan. Wajar sih, kebanyakan jamaah memang adalah manula yang gampang bingung dan mudah tersesat, jadi warning-nya banyak. Saat akan ke WC atau shalat mereka akan pergi beramai-ramai dan sesudahnya duduk manis di dekat pemandu rombongan. Jangankan keluar negeri, banyak juga yang baru naik pesawat pertama kalinya saat umroh, kesihan liat kakek nenek renta, apalagi rata-rata rombongan jamah indonesia itu rasio antara pemandu dengan jamaahnya 1:30, jadi banyak yang agak terlantar juga. Contohnya saat naik pesawat, mereka bingung duduknya di mana, saat sang pemandu ngurus yang satu, yang lain akan keteter. Maka wajarlah warning saat umroh itu banyak untuk menghindari jamaah tersesat dan hilang, belum lagi karena adanya kendala bahasa.

Tapi selain itu faktanya sih nggak terlalu menyeramkan apalagi bagi kaum backpacker, mungkin karena sudah terbiasa saja ya. Rombongan saya contohnya, karena merupakan manula gaul, hobinya ya jalan sendiri-sendiri keluar masuk duty shop, saya yang backpacker kere memilih keliling sendirian menelusuri ruang pameran karya seni gratis yang ada di hall hasil karya seorang seniman asal Afrika, sementara suami saya tidur di musholla. Pukul 23:30 pesawat berangkat menuju Ma’dinah, Bismillah! saya pun terlelap di bangku pesawat.

10378956_10153222421644623_4470945080190244931_n
Hasil Karya di Pameran
11030080_10153222421214623_5894023546819614549_n
Di Bandara

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s