Posted in HongKong, Macau

Travelling in pregnancy & wif toddler – Day 4

Pagi-pagi pukul 07.00 kami sudah siap check out karena akan menuju Macau, di Golden Crown ini apabila kita hendak check out early, malam sebelumnya kita harus konfirmasi dan janjian dulu dengan Resepsionis karena Resepsionis buka baru jam 08.00.

Ada beberapa ferry terminal yang bisa digunakan untuk perjalanan laut dari Hongkong ke Macau, salah satunya yang terdekat dari Penginapan kami ini adalah Hongkong China Ferry Terminal yang hanya berjarak 550 m dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 8 menit (menurut google maps). Berbekal rute yang sudah di-print, kami berjalan menuju ke Ferry terminal tersebut, tapi dengan komposisi ibu hamil menggendong backpack + tas kamera sementara suami saya menggendong backpack 55lt dan mendorong stroller, perjalanan yang katanya cuma 8 menit menjadi setengah jam, karena sempet bingung nyari lokasinya dan berhenti-berhenti pula.

Hongkong China Ferry Terminal

Pantaslah kami nyasar karena ferry terminal ini letaknya di dalam gedung mewah bertingkat yang merupakan mall merangkap hotel, jangan bayangkan seperti pelabuhan yang ada di Indonesia ya. Kami naik lift dari basement dan sesuai petunjuk satpam menuju lantai G yang merupakan deretan loket tiket, tadinya saya bermaksud naik ferry A (maafkan karena saya sudah lupa detilnya juga namanya) yang akan berangkat pukul 09.00, tapi ternyata tiketnya sudah habis. Penyebrangan selanjutnya akan berangkat pukul 11.00, cukup lama menunggu. Tiba-tiba ada kokoh yang sepertinya calo tiket menyarankan saya naik Ferry B yang akan berangkat pukul 08.30, saya pun tertegun apakah masih sempat karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 kurang (dari beberapa blog yang saya baca semuanya menyarankan untuk mengalokasikan waktu sejam sebelum waktu berangkat ferry karena proses imigrasi dan pemeriksaan tiket antriannya panjang), tapi si kokoh meyakinkan saya kalau masih keburu “follow me, hurry” katanya sambil menunjukkan arah. Setengah berlari saya mengikuti si kokoh ke gerbang imigrasi yang benar saja cukup ramai, si kokoh masih mengawal di sana (sembari nunggu saya membayar tentunya) , untungnya di imigrasi hanya sekitar 15 menit, setelah melewati gerbang, si kokoh memberi petunjuk saya harus naik dek apa di lantai berapa, dengan dada berdegup kencang saya jubel-jubelan di lift karena takut ketinggalan, dan tepat sekitar lima menit sebelum ferry berangkat akhirnya kami sampai ke dalam kapal, hadeuuh olahraga banget.

Kabinnya sendiri sangat nyaman dengan tempat duduk yang empuk dan full AC, goncangan dalam kapal pun tidak terasa sama sekali. Bosan menonton siaran TV yang hanya menampilkan iklan resort-resort mewah di Macau, saya memilih tidur sejenak untuk beristirahat, sementara baby g malah mainan Ipad. Perjalanan hanya berdurasi sejam, dan tak lama ferry merapat di pelabuhan Macau. Harga yang kami bayar untuk ferry ini sedikit lebih mahal, namanya juga beli dari calo, tapi daripada nunggu sampai jam 11 lebih baik rugi sedikit.

Macau Ferry Terminal

Sama seperti HongKong, Macau juga merupakan wilayah administratif khusus dari People Republic of China, sehingga memiliki bendera, cap paspor dan kebijakan sendiri. Bedanya kalau Hongkong dulu dijajah Inggris, Macau ini dijajah Portugis sehingga nama-nama tempat dan jalan di Macau bernuansa Portugis. Bahasanya juga beda ya, kalau di china daratan menggunakan bahasa mandarin, orang-orang di Hongkong dan Macau berbahasa kanton. Dollar Hongkong bisa digunakan di sini dengan kurs setara (1HKD~1MOP) sehingga kami tidak perlu menukarkan uang di Money Changer.

Setelah melewati gerbang imigrasi, kami berjalan ke arah tempat mangkal free shuttle bus yang disediakan oleh resort-resort besar di Macau (ada papan penunjuk yang jelas). Kita bisa bebas menaiki shuttle bus ini tanpa biaya walau kita tidak menginap di hotel tersebut. Sebagai kota judi terbesar di Asia, Resort-resort di Macau seakan berlomba-lomba menyediakan fasilitas terbaik sehingga para tamu tertarik mampir. Hotel yang akan kami tempati sebenarnya juga menyediakan shuttle bus tapi tidak banyak (karena bukan hotel kasino)  sehingga kami memilih naik free shuttle bus milik Hotel Lisboa Macau yang terdekat dari hotel kami.

Sintra Hotel

Kalau biasanya kami mencari budget hotel atau guest house, kali ini kami terpaksa menginap di hotel yang cukup mahal dengan pertimbangan lokasi dan tentunya kondisi baby G. Akomodasi di macau sama mahalnya dengan di Hongkong, jumlah guest house pun tidak banyak, kalaupun ada lokasinya tidak strategis, sehingga akhirnya kami memilih hotel ini, ini juga udah yang paling murah.Hotelnya sendiri besar dan menurut kami juga nyaman. Karena kami datang ke sini pukul 11.00 (belum waktunya check in) maka setelah menitipkan barang bawaan di resepsionis, kami naik bus umum no 10 untuk menuju ke Largo de Senado, tempat dimana banyak terdapat bangunan kuno peninggalan portugis dengan situs paling terkenalnya, the Ruins of St Paul.

Largo De Senado

Kita harus menyiapkan pecahan uang receh saat naik bus umum di Macau, karena tidak ada kembalian. Sistemnya seperti ini, di halte bus ada papan penunjuk berisi rute bus termasuk ongkosnya, jadi harus diingat-ingat. Saat masuk bus, masukkan ongkos tersebut ke dalam kotak kaca yang berada di samping supir, itulah mengapa tidak ada kembalian,  sang supir bus juga tidak akan repot-repot memeriksa ongkos yang kamu bayarkan, jadi kalau kamu curang ya urusannya sama Tuhan aja ya, hebat memang etos kejujuran di sini. Warga lokal sih umumnya memiliki smart card, tapi karena saya hanya dua hari di sini saya tidak mau repot-repot mencari smartcard tersebut, apalagi katanya sulit juga dicari.

Bus berhenti tepat di samping Largo de Senado. Largo de senado merupakan kompleks area peninggalan zaman Portugis, jalannya masih dari cobblestone dan paving berwarna-warni, tepat di tengahnya terdapat air mancur yang berisi globe dari besi yang dipakai oleh para pelaut portugis untuk menjelajah, di sekelilingnya banyak terdapat bangunan kuno yang sangat cantik terawat. Kami melewati beberapa bangunan seperti St Dominic Church, Holy House of Mercy dll.

20
Largo de Senado
16
Largo de Senado
15
Holy house of Mercy
1
St Dominic Church

Dalam perjalanan ke ruins of st paul, kami mampir dulu di gerai McD untuk makan siang. Satu hal yang perlu diingat, di HongKong & Macau, pengunjung diwajibkan membereskan sendiri sisa-sisa makanannya, baki yang sudah kosong harus diletakkan kembali di meja yang sudah disediakan sementara sampahnya harus sudah dibuang. Pelayan di sini justru malah lebih galak,  kalau ada bangku kosong sedikit pasti akan disuruh untuk bergeser sehingga pengunjung lain bisa gantian makan. Bagus juga sih, nggak seperti di Indonesia yang pengunjungnya manja banget.

Lepas makan siang kami menuju Ruins of st paul, jalanannya cukup menanjak dan melelahkan karena konturnya di atas bukit. Jalan ke sana sendiri ternyata adalah jalan kecil yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Ruins of st paul dulunya merupakan kompleks gereja besar yang sudah terbakar dan hanya menyisakan bagian facade-nya saja.Kalau berjalan hingga ke belakangnya kamu akan menemui museum kecil yang memiliki koleksi sejarah dari St Paul ini.

Di largo de senado ini terdapat dua bakery terkenal yaitu Pastelaria Koi Kei yang terkenal dengan kudapan manis berupa kue dan permen dan Choi Hong Yuen yang terkenal dengan aneka dendeng dan kue berbahan babi. Kami memutuskan untuk besok saja membeli oleh-oleh di sini sebelum ke bandara.

Warung Indonesia

Atas saran dan petunjuk dari salah satu rekan di grup Backpacker Dunia kami mencoba untuk mencari Warung Barokah yang menyediakan masakan halal khas Indonesia, letaknya di sekitar Largo de senado, lurus saja dari apotik Century. Warung ini dimiliki oleh orang Malang yang sudah puluhan tahun tinggal dan bekerja di sini, masakannya sih biasa saja dengan menu sederhana tapi cukup mengobati kerinduan akan cita rasa tanah air, warung ini juga menjual aneka produk Indonesia seperti mie, sirup, shampoo, sabun dan lain-lain.

Back to Sintra

Selepas mengeksplorasi Largo de Senado, kami menumpang kembali bus no 10 untuk kembali ke hotel dan karena sudah masuk waktu check in, akhirnya kami bisa tidur dan beristirahat. Kamarnya besar dengan twin bed, karpet, TV channel, peralatan toilettries dan welcome drink. Kasurnya juga empuk dan bagus, rasanya enak banget tidur di kasur begini setelah kemarin merasakan bed yang per-nya keras di Hongkong.

21
Kamar di Sintra Hotel

City of Dreams

Setelah cukup beristirahat, sekitar pukul 16.00 lewat kami menuju ke destinasi selanjutnya. Dari depan Lisboa Hotel, kami kembali menaiki free shuttle bus hingga ke dermaga ferry dan kemudian berganti naik free shuttle bus milik City of Dreams.

City of Dreams merupakan salah satu resort kasino terbesar di Macau. Di lobby-nya ada aquarium 3D berisi hologram putri duyung super sexy yang sedang berenang, tadinya kita mau menonton the Bubble, pertunjukkan sinar dan laser yang disajikan di City of dreams ini, tapi begitu sampai, baby g malah tidur dan akhirnya kita membatalkan kunjungan dan malah duduk-duduk di luar sampai baby g terbangun.

The Venetian Resort

Juga merupakan salah satu resort kasino merangkap mall yang superbesar, didesain sama persis dengan The Venetian Resort yang ada di Las Vegas. Hanya perlu menyebrang jalan karena venetian Resort letaknya persisi di seberang City of Dreams. Lobby-nya supermewah dengan atap lengkung dan sepuhan warna emas di mana-mana, lantainya dari marmer, di depan pintu masuk ada globe besi persis seperti di Largo de Senado cuma di sini warnanya emas. Suami saya sempat masuk sebentar ke dalam kasino cuma untuk melihat-lihat (sementara saya dan baby g menunggu di luar karena anak-anak tidak boleh masuk) , sayang dilarang mendokumentasikan area kasino. Setelah itu kami menuju area mall, sempet bingung juga sih karena letaknya di lantai yang berbeda dan tidak ada petunjuknya, akhirnya kami nanya-nanya satpam daripada nyasar.

28
Venetian Resort tampak luar
37
Lobby Venetian
53
Lobby Venetian
38
Kasino

Mall-nya juga sangat mewah, didesain bergaya seperti Venesia di Italia lengkap dengan kanal buatan yang bisa diarungi dengan gondola yang dikayuh oleh para pengayuh gondola profesional. Atapnya dilukis serupa langit biru dengan awan putih berarak, sementara tiap bangunan toko dibangun bergaya italia. Tadinya kita juga mau naik gondola, tapi baby g malah nangis rewel dan mintanya lari-larian.

42
Interior di dalam Venetian Resort Mall
44
Kanal buatan dan gondola

Akhirnya kami menuju Festivita Food Court untuk makan malam, tapi seperti biasa kami hanya bisa mencari menu aman seperti nasi hainan ataupun nasi lemak malaysia. Sebelum pulang kami mencari gerai Lord Stow yang katanya menjual Egg Tart terenak di Macau, setelah mencicipi beberapa potong kue di tempat, akhirnya kami membeli selusin lagi untuk dibawa pulang ke tanah air. Belakangan ini di jakarta juga ada beberapa gerai yang menjual egg tart ala macau ini, beruntung sekali bisa mencoba kue ini di tempat asalnya.

47
Festivita Food Court
50
Egg tart di Lord Stow

Macau di waktu malam

Kami kembali menggunakan free shuttle bus untuk kembali ke hotel, dan sepanjang perjalanan baru kami bisa merasakan indahnya pemandangan macau yang memang cantik di waktu malam. Tiap resort seakan berlomba memamerkan kerlip lampu yang paling benderang, segala macam neon semarak menyala, kasino-kasino penuh dengan pengunjung yang hilir mudik. Karena sudah lelah akhirnya kami segera kembali ke hotel untuk beristirahat.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s