Posted in HongKong, Malaysia

Travelling in pregnancy and wif toddler – Malaysia,HK, Macau – Day 1

Intro

Ini adalah cerita travelling saya 2014 silam di kala saya sedang menjalani masa kehamilan kedua sementara baby saya yang pertama (baby G) baru berusia 17 bulan.

Sebagai budget traveller yang mesti hemat akomodasi, saya selalu beli flight saat promo which means seringnya mesti beli kira-kira dari setahun sebelumnya. Traveling kali ini saya memang bermaksud mengajak baby saya yang saat travelling waktu itu sudah berusia 17 months sebagai bagian dari visi dan misi saya untuk mendidik anak sebagai “traveller yang tough,smart,independent dan berwawasan luas”, haha. Jadilah pertengahan juni 2013 (setelah perjuangan semaleman begadang hunting) saya sudah sukses mendapatkan tiket promo untuk dua orang dewasa plus satu baby dengan maskapai idolaku Air Asia . Untuk destinasi sengaja saya pilih HK-Macau dengan pertimbangan free visa, sistem transportasinya sudah maju dan sudah banyak info di buku/blog.

Tapi oh tapi, menjelang akhir tahun, pada bulan desember, saya mendapat kabar gembira yang tak terduga-duga, saya mendadak hamil (lagi). Kabar gembira ini tentunya bikin saya kelimpungan karena sebenarnya saya sudah punya 2 jadwal travelling di awal tahun 2014, salah satunya rencana Umroh. Cepet-cepet saya konsultasi ke SPOG dan hasilnya Dokter tidak merekomendasikan untuk Umroh karena penerbangan long haul, kondisi medan yang butuh stamina fit dan suntikan meningitis yang memang dilarang untuk ibu hamil, dengan berat hati saya terpaksa membatalkan rencana yang satu itu. Lalu bagaimana dengan rencana HK-Macau nya? alhamdulillah, setelah dihitung-hitung saat travelling usia kandungan saya baru berusia 24-25 weeks dan masih dalam kondisi yang memungkinkan untuk melakukan penerbangan.

Dengan kondisi seperti itu (bawa toddler aja kebayang gimana ribet dan capeknya apalagi ditambah lagi hamil) maka saya bener-bener menyusun itinerary dengan sedetail dan seteliti mungkin, browsing sana-sini,googling sana sini sampai sering nanya di milis dan group backpacker, intinya saya mau meminimalisir segala kesulitan sekecil mungkin. Untungnya karena basic kerjaan saya sebagai quantity sureyor sekaligus scheduller (tukang ngitung duit dan bikin jadwal) makanya dari dulu saya memang sudah terbiasa bikin iten “sakit jiwa” yang superdetail.

Jadi, beberapa “kesulitan” travelling kali ini kalau dirinci :

1. Kondisi hamil 24-25 weeks, trisemester kedua (katanya) merupakan periode yang paling nyaman untuk melakukan travelling karena kondisi janin sudah semakin kuat, tapi tetep bumil itu kan kondisi fisiknya tidak sekuat biasanya, makanya harus jaga badan dengan makan yang cukup dan minum susu khusus hamil serta vitamin tambahan.

2. Baby G berusia 17 bulan, sudah lancar jalan sendiri dan makan menu keluarga, tapi tetep aja beda dengan orang dewasa yang bisa makan apa saja, menu untuk toddler kan agak terbatas, selain itu anak saya anak sufor jadi kalau mau ke mana-mana “peralatan tempurnya” banyak mulai dari botol air panas,botol air dingin,botol susu, sufor dan pacifier.

3. Saya penganut muslim, jadi harus “halal food”, walau hongkong & macau makanan pokoknya nasi, tapi banyakan makanan non halal yang ada di sana, jadi gak bisa jajan sembarangan.

4. Baby in flight? saya agak ngeri-ngeri sedap bayangin mesti bawa baby selama perjalanan, apalagi kali ini penerbangan memakan waktu 2 jam dari Jakarta – KL, dilanjutkan dengan 4 jam perjalanan dari KL-HK di waktu siang hari pula saat baby saya di umur segini sudah kebanyakan meleknya dan ini memang jam mainnya. Pengalaman terdahulu yang bikin saya ngeri, waktu umur 4 bulan baby saya ajak ke Bali, dan selama 2 jam perjalanan nangis tiada henti, selanjutnya waktu umur 11 bulan saya ajak ke Surabaya, baby saya gak menangis, tapi cepet bosan dan maunya ngajakin jalan di lorong pesawat mulu, tapinya saya juga bawa pengasuh saat itu, jadi yakin tak yakin.

Dengan kondisi di atas, maka persiapan yang saya lakukan :

1. Buka web air asia untuk mencari tahu persyaratan bumil boleh terbang, sebenarnya menurut web nya, kalo usia masih 24-25 weeks cukup dengan mengisi “surat keterangan” saat check-in, tapi untuk lebih jaga-jaga saya minta Surat Keterangan Kehamilan dari Dokter SPOG yang menyatakan kondisi dan usia kehamilan, mintanya yang dalam versi English. Surat Keterangan dibuat dalam jangka waktu seminggu sebelum keberangkatan, jangan terlalu jauh, seperti saya karena berangkatnya jumat, maka senin nya saya baru minta surat keterangan. Selain itu (biasanya tanpa diminta) Dokter akan memberikan beberapa vitamin tambahan plus satu obat khusus untuk pencegah kontraksi saat penerbangan, obatnya diminum kalau terasa mulas saja, kalau nggak tidak usah diminum.

2. Sebagai ibu hamil, jangan sepelekan waktu makan, harus disiplin dan jaga kondisi badan, jangan sampai malah drop apalagi jatuh sakit, siapa yang mau ngurusin ? secara saya bawa toddler dan suami pasti akan lebih banyak ngurusin toddler. Kalau biasanya saya suka telat makan dan makan sembarangan saat travelling, kali ini saya mengalokasikan waktu minimal satu jam tiap waktu makan (breakfast,lunch and dinner). Selain itu bawa juga bawa juga susu khusus bumil, untuk ringkasnya bawa aja satu kotak ukuran 400 gr (untuk kebutuhan 5-6 hari) dan diseduh di hotel saat pagi dan malam hari. Sebenarnya kalau mau praktis bisa juga bawa yang dalam kemasan UHT, tapi tentunya bakalan makan banyak tempat.

3. Baby saya yang sudah tergolong toddler memang sudah makan “menu keluarga” tapi kan gak bisa makan sembarangan juga, maka dari itu saya yang biasanya jarang banget bawa perlengkapan snack saat travelling, kali ini bawa beberapa snack kesukaan baby saya, selain itu juga saya bawa “abon sapi” bila nanti susah nemu lauk (baby saya suka banget tuh sama abon) dan “sari roti” sebungkus lengkap dengan margarin dan meses (ini juga kesukaan nya baby saya). Ribet memang, tapi setidaknya memang sangat berguna, karena kita tidak tahu jelas produk yang dijual di minimart/supermarket di sana sesuai dengan kesukaan bayi kita atau tidak. Untuk lebih pastinya, saya sampai google segala macam restoran yang ada di sana (KFC, McD, 711, Wellcome) terutama menunya dan lokasinya , jadi sampai sudah terjadwal nanti mau makan di mana aja, hehe.

4. Perlengkapan sufor adalah yang paling bikin saya pusing tujuh keliling sampai saya sering banget googling dan nanya-nanya di group. Apalagi kalo bukan soal urusan bawa cairan di kabin pesawat, tau sendiri kan aturan kapasitas cairan yang boleh dibawa dalam kabin? gimana caranya coba bawa air panas dan air dingin. Hasil googling saya juga simpang siur dan gak pasti, ada yang bilang boleh, ada yang nggak, ada juga yang sarankan minta saja sama kabin crew. Akhirnya saya memberanikan diri untuk tidak membawa apa-apa ke kabin (kecuali botol susu , sufor bubuk dan satu botol minum kecil uk. 400 ml untuk anak saya) saat berangkat, dengan harapan moga-moga aja dikasih sama kabin crew, syukur-syukur gratis. Sementara botol air panas tetap saya bawa dalam keadaan kosong tapi saya jadikan satu dalam backpack yang masuk bagasi.

5. Bawa stroller tipe lighweight yang mudah dilipat untuk memudahkan mobilisasi, karena walaupun sistem transportasi di HK sudah bagus, namun lokasi MTR di bawah tanah, jadi banyak turun naik tangga. Stroller yang saya bawa ini beratnya cuma 2 kg.

6. Terapkan prinsip travel light sebisa mungkin, jangan kebanyakan bawa barang, secukupnya aja. Mainan yang dibawa bayi cukup satu saja yang benar-benar favorit dia. Travelling kali ini karena baby saya lagi kecanduan lagu anak-anak, saya cuma bawa Ipad, pertimbangkan juga apa bayi punya benda kesayangan yang kalo gak dibawa bisa bikin rewel, dalam kasus saya baby saya gak bisa tidur kalo gak bawa selimut kesayangannya dari waktu bayi (padahal ntu selimut udah dekil saking lamanya) tapi daripada nanti malah rewel saya bawa aja.  Untuk bagasi saya sudah memesan 15 kg/orang biar cukup. Jangan packing dadakan, buat list barang yang harus dibawa dan packinglah minimal seminggu sebelumnya, jadi kalau ada barang yang terlupa bisa diinget kembali.

7. Sebagai orang yang menerapkan hidup sehat (lebay) saya sekeluarga memang selalu minum banyak air putih, apalagi saat travelling dalam keadaan hamil gini, harus lebih ekstra lagi. Beruntunglah HK merupakan negara yang sangat royal menempatkan portable water di mana-mana, untuk menyiasati pengeluaran (kalau beli di minimart mahal) saya sengaja bawa botol minum kosong ukuran 800 ml yang setiap saat bisa saya refill ulang.

8. Buat itinerary standar jangan terlalu ngoyo pergi ke banyak tempat, karena baby cepat lelah dan punya waktu tidur yang lebih banyak dari orang dewasa. Saya membuat itinerary “santai” dan gak narget, dengan jam berangkat dari hotel pukul 08.30 dan kembali lagi pukul 20.00 .

9. Sudah siap booking penginapan, biasanya saya selalu reservasi via agoda, lebih aman dan pasti. Saat bawa baby, juga harus diperhatikan akses dan lokasi selain fasilitas, jadi kali ini saya juga gak bisa “ngoyo” untuk nginep di tempat yang “cheap” seperti selama ini. Karena akomodasi di HK amit-amit mahalnya, kami memilih Golden Crown Guesthouse yang terjangkau tapi letaknya strategis dan rekomendasinya bagus. Untuk booking Golden Crown harus langsung lewat webnya dan bayarnya pakai paypal, sempet bingung juga karena nggak pernah punya akun paypal, untung di internet banyak petunjuknya.

10. Persiapkan detail moda transportasi dengan sedetail-detailnya, bisa googling, bisa tanya-tanya sama temen di milis atau group, jadi gak bingung di sana, beruntunglah HK dan Macau punya sistem transportasi yang maju, ada website mengenai berbagai moda transportasinya, mulai dari MTR, ferry, sampai bus.

11. Jangan lupa bawa obat-obatan standar terutama khusus bayi, minimal siapkan obat panas,obat flu+batuk dan kompres panas (seperti bye-bye fever).

Walau sudah menerapkan travel light, tetep aja barang bawaan banyak banget (banyakan bawaan si baby), sampe akhirnya setelah packing-packing, jadilah saya membawa backpack uk 55 lt yang terisi penuh (waktu ditimbang beratnya 14 kg, penuh isi snack dan popok bayi), satu tas backpack ukuran sedang yang dibawa ke kabin, satu tas kamera DSLR dan satu stroller, repot memang.

Dengan persiapan begitu banyak, dan tak lupa banyak berdoa disertai banyak waktu-waktu gak bisa tidur akibat kepikiran baby selama penerbangan dan bolak-balik memastikan iten, akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu untuk Travelling, Bismillah.

 Jakarta – LCCT ,Kuala Lumpur

Penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur dijadwalkan pukul 06.25 pagi, dengan waktu boarding 05.45, which means saya sudah harus di Bandara jam 04.00 pagi, jadi saya sudah harus berangkat dari rumah saya di daerah Cibubur jam 03.00 pagi.

Beruntunglah, mertua saya (yang saking sayangnya sama cucunya) bersedia mengantar ke bandara sehingga saya tidak direpotkan dengan masalah taxi dan bisa sekalian bawa pengasuh bayi sampai ke bandara.

Walaupun tahu bahwa harus istirahat cukup, semaleman susah banget tidur, otak rasanya penuh dengan kekhawatiran terutama gimana di pesawat nanti, cuma ubah-ubah posisi tidur sambil otak meracau ngedetail ulang semua itinerary sampai tiba-tiba alarm berbunyi menandakan saya sudah harus bangun. Setelah mandi singkat dan sarapan ringan (cuma roti tawar yang rasanya serasa karet saking tegang dan gak nafsunya makan, tapi harus tetep dipaksa diisi biar gak drop) berangkatlah saya menuju ke Bandara Soetta. Seakan tahu kalau memang mau travelling, bayi saya pun ikut-ikutan bangun jam segitu sambil ngoceh “pa ma naik pesawat yuuk”.

Karena masih pagi lalu lintas sangat lancar dan dalam waktu satu jam saya sudah sampai di bandara Soetta. Setelahnya saya dan suami langsung menuju counter check in (baby masih tinggal di mobil bersama pengasuhnya biar gak ribet) untuk menitipkan barang bawaan saya yang berupa backpack 55 lt & stroller (sebenarnya stroller biasanya saya masukkan ke kabin, cuma untuk mengurangi kerepotan kali ini saya masukkan bagasi), sementara backpack ringan (walau gak ringan-ringan banget, beratnya ada kali 3-4 kg) & tas kamera saya bawa ke kabin. Oh ya, karena penerbangan kali ini fly through, maka bagasi saya akan diambil langsung di Hongkong, gak perlu dipindah-pindah, syukurlah mengurangi kerepotan saat transit.

Note :

Di web air asia sebenarnya ada keterangan bahwa ibu hamil dan orang yang bepergian bersama bayi tidak diperbolehkan melakukan web check in, jadi check in dilakukan saat mau keberangkatan di counter bandara. Tapi saya tetep kekeuh untuk web check in dan untungnya saya melakukan itu, dikarenakan dulu saat pemesanan tiket saya tidak memesan kursi, walhasil setelah web check-in ada satu penerbangan yaitu kul-hk (4 jam) yang memposisikan kursi saya dan suami terpisah, bahkan beda 2 row, makanya akhirnya saya memesan kursi (dengan tambahan biaya 20 ribu per orang, bayarnya pakai cc) agar tidak dipisah. Makanya tetep lakukan web check in.

Di counter check in, oleh petugas saya ditanya mengenai usia kehamilan, dan karena baru 24 weeks, maka saya cukup mengisi “Surat Pernyataan Kehamilan” dalam rangkap dua, yang satu dikasih ke petugas counter, yang satu nanti dikasih ke pramugari saat akan naik pesawat. kelar urusan check in, saya kembali ke area parkir untuk menjemput baby saya dan melaksanakan shalat subuh di masjid areal parkir Terminal tiga yang cukup besar. Jam 5 tepat saya masuk ke area boarding bersama suami dan bayi saya.

Ternyata kalau bawa bayi barang bawaan sangat dilonggarkan oleh petugas, kalau biasanya saat melewati gerbang pemeriksaan bawa aqua 200 ml aja disuruh dibuang botol berikut isinya, kali ini nggak, padahal saya bawa botol kap 400 ml berisi air mineral untuk minum bayi saya, ditanyain pun nggak. Sufor yang katanya bakalan disuruh cicipin pun ditanyain nggak, dan ini terjadi gak cuma di Indonesia, di imigrasi Malaysia dan macau pun saya diberi kelonggaran dan gak ditanya apa-apa.

Mempraktekkan ilmu yang saya dapat dari teman di group backpacker dunia, selama waktu tunggu di bandara, saya selalu ajak baby saya main, lari sana lari sini, tujuannya biar cepat lelah dan tertidur di pesawat. Alhamdulillah, begitu duduk di pesawat bahkan sebelum lepas landas pun , baby saya sudah tertidur pulas sampai mendarat kembali di LCCT Kuala Lumpur.

Transit di LCCT

Dengan perbedaan waktu 1 jam, tepat pukul 09.25 saya mendarat di LCCT, dan karena penerbangan selanjutnya ke HK adalah jam 13.45, saya sudah harus check in pukul 11.45 (dua jam sebelum keberangkatan) berarti saya cuma punya waktu transit sekitar 2 jam-an.

Sebenarnya karena penerbangan saya fly through,saya bisa langsung ke ruang boarding melewati konter fly through, tapi karena punya waktu 2 jam-an dan perut juga berteriak, saya memutuskan untuk keluar area bandara, lumayan buat eksplore LCCT sebelum ditutup mei 2014 ini. Setelah melewati imigrasi malaysia yang seperti biasanya padat antriannya, saya menuju area toko-toko dan restoran yang berada di bandara.

Tadinya saya mau nyobain food garden tapi karena ngeliat jaraknya yang mesti sedikit jalan (jauh sih nggak,cuma males banget aja jalan sambil gendong bayi dan ransel) akhirnya saya kembali ke resto franchise fast food kesukaan saya sejak pertama kalinya ke Malaysia dulu, Marry Brown. Menu favorit saya di sini adalah nasi lemak, harganya murah dengan rasa yang cukup enak dan porsinya banyak.

10171021_10152482343704623_4435295762613306509_n
Nasi Lemak Marrybrown
10307233_10152482343699623_7562937275358053766_n
Lunch di Marrybrown

Jam 12-an kami sudah kembali mengantri di konter imigrasi untuk masuk ke ruang boarding. Waktu boarding kami isi dengan bergantian shalat, saya berdoa lama banget semoga penerbangan selamat, berjalan lancar dan dimudahkan. Tepat pukul 13.45 pesawat bertolak dari KL ke Hongkong.

Kami duduk di seat A&B, sebenarnya seat C di samping kami diisi oleh seorang gadis china yang sepertinya tidak bisa bahasa inggris, tapi karena pesawat tidak terlalu penuh, gadis tersebut malah pindah ke row paling belakang dan mempersilakan kami menggunakan kursinya. Alhamdulillah, rezeki banget, baby g jadi dapet seat sendiri dan bisa selonjoran.

Pukul 17.30 akhirnya pesawat yang kami tumpangi mendarat di HK, rasanya seneng banget saat mendengar pengumuman pesawat mau mendarat dan rasanya pingin melakukan adegan cium tanah seperti donald duck di film-film kartun.

Arrive at Hongkong 

HongKong termasuk dalam wilayah China, namu statusnya merupakan daerah istimewa sehingga memungkinkan kita sebagai warga Indonesia masuk tanpa visa.

Setelah melewati gerbang imigrasi di bandara hongkong, kami pun menuju lokasi pengambilan bagasi. Saat menunggu bagasi, kami berkenalan dengan sepasang suami istri asal medan (yang umurnya kira-kira sudah seusia papa mama kami) yang sedang travelling berduaan (tuh orang tua aja masih eksis travelling berdua). Mereka bertanya kami mau ke mana dan menginap di mana, karena kebetulan satu tujuan (hotel sama-sama di nathan road, walau saya di golden crown dan mereka di chungking mansion) kami pun mengajak bareng dan menyarankan mereka untuk membeli octopus card karena awalnya mereka bermaksud menggunakan taksi. Si ibu pun bertanya-tanya ke saya dan heran kok saya berani pergi sendiri, udah gitu gak bawa buku panduan pula, memang selama ini saya hanya bermodalkan selembar kertas HVS  berisi itinerary rinci dan padat agar ringkas dibawa. Setelah itu kami langsung menuju loket Airport Express untuk membeli “Octopus Card”, octopus ini semacam EZ Link di Singapura yang bisa digunakan untuk membayar berbagai moda transportasi. Karena baby G masih terhitung balita maka dia belum membayar, sehingga kami hanya perlu beli 2 octopus card.

5.2.2.2.8-Octopus-card_03.jpg
Octopus Card

Saat membeli octopus card pastikan bahwa saldo yang sudah dibeli benar-benar terisi. Kejadian pada si bapak, waktu akan naik bus dan tap kartu, ternyata saldonya kosong, padahal punya kami dan si ibu terisi, akhirnya si bapak membayar lagi. Halte bus A21 (namanya Halte Hung Hom) terletak di luar bandara, jangan takut tersesat karena banyak petunjuk yang jelas di dalam bandara. Di dalam bus sudah disediakan rak-rak khusus di dekat pintu untuk menaruh barang bawaan. Perjalanan dari bandara ke daerah Tsim Tsa Shui memakan waktu sekitar satu jam. Pemandangan awalnya didominasi dengan laut dan jembatan dan bahkan kita melewati terowongan di bawah laut. Jangan takut tempat tujuan terlewat, karena ada papan informasi yang jelas di dalam bus beserta petunjuk suara.

maxresdefault
Bus no A21 dari Hung Hom Station (luar Bandara Hongkong)

Golden Crown Guest House

Saat turun dari bus kami langsung dirubung calo-calo hotel yang kebanyakan orang India bertubuh tinggi besar. Nggak usah takut, cukup tolak dengan halus dan katakan bahwa kita sudah booking hotel. Penginapan kami namanya Golden Crown Guest House letaknya di dalam Golden Crown Court. Menurut petunjuk di website hotel, keluar dari bus (di halte Tsim Tsa Shui, perhentian No 13) kita akan langsung ketemu dengan CitiBank, cukup berjalan sekitar satu menit, letaknya ada di antara Citi Bank & Standard Chartered, kayaknya gampang banget kan?. Lah tapi begitu kami turun kami bengong, mana Citi Bank-nya? kok nggak ada, akhirnya kami nanya ke salah satu calo yang mau berbaik hati memberi tahu letak Golden Crown Court. Ternyata Citi Bank-nya nggak tepat di depan halte, harus agak berjalan lagi sedikit, dan jangan bayangkan gedung-gedung bertingkat di Hongkong itu sama dengan di Jakarta (di Jakarta space antar gedung ada, gedung ada halamannya), di Hongkong gedung itu saling berdempetan, nggak ada gang apalagi jalan di antara satu gedung dengan yang lain, sehingga agak sulit ditemukan apalagi plangnya gak begitu besar. Kami pun berpisah dengan bapak ibu medan yang juga langsung menuju penginapannya.

golden-crown-guesthouse
Golden Crown Court tempat Golden Crown Guest House

Lobby-nya terletak di lantai 5, sementara room-nya di lantai 6. Untunglah resepsionis-nya cukup bisa berbahasa inggris. Alhamdulillah akhirnya kami bisa beristirahat dan tiba dengan selamat. Untuk makan malam, suami saya keluar sendiri ke 711 terdekat (yang sudah saya cari lokasinya sejak di Indonesia via web) untuk membeli nasi box karena kita sudah capek dan hanya ingin istirahat, apalagi sebagai bumil stamina harus terjaga.

Kamarnya kecil dengan ukuran 3×3, double bed dan kamar mandi dalam. Dispenser dan microwave terletak di dekat pintu masuk hotel, tidak disediakan electric kettle sehingga kami harus bolak-balik ke lokasi dispenser, tapi cukup lah untuk refill.

10247275_10152482347434623_997384934523125555_n
Kamar di Golden Crown

 

 

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s