Posted in Indonesia, Palembang, South Sumatera

Palembang – Srivijayan Heritage, Wong Kito Galo & Pempek – Day 1

Berawal dari kesepakatan saya dan suami untuk memberikan hadiah travelling kepada anak setiap ulang tahunnya (visi dan misi kita : pendidikan yang tinggi dan melihat dunia), kebetulan waktu itu suami saya sedang bertugas di Palembang, makanya setelah browsing sana sini via internet, sepakatlah travelling dalam rangka ulang tahunnya gendis yang kedua yaitu ke Palembang, kota yang pernah menjadi pusat peradaban Sriwijaya di masa lampau dengan sungai musi-nya yang luas sehingga dijuluki venice of the east, dan tentunya juga dalam rangka kulineran.

Fly from Halim Perdana Kusuma, Jakarta

Sejak Halim Perdana Kusumah membuka rute penerbangan domestik untuk umum, terutama untuk Citilink yang terus menambah rute, sehingga memudahkan orang-orang yang berdomisili di kawasan Cibubur seperti saya karena jaraknya yang lebih dekat.

Penerbangan Citilink yang saya ambil dijadwalkan berangkat pukul 06.45 dari HLP (Halim Perdana Kusumah Airport Jakarta) dan tiba pukul 07.50 di PLM (Sultan Mahmud Badarudin II, Palembang), dengan lama penerbangan 50 menit.

Pagi-pagi jam 04.00 saya sudah bangun dan bersiap-siap menuju bandara, untungnya baby gendis pun mudah bangun. Walaupun sudah sering travelling, harus saya akui bahwa saya takut naik pesawat…dan saya pun selalu kena penyakit pre-anxiety syndrome sebelum keberangkatan yang selalu bikin saya sulit tidur pada malam menjelang keberangkatan, dan kayaknya baby g pun sama juga, hehehe. Pukul 05.00 tepat saya dan baby g pun siap berangkat, setelah peluk cium baby b (anak kedua saya yang waktu itu baru berumur 4 bulan), kami pun siap berangkat dengan diantar supir (suami saya sudah berangkat terlebih dahulu dua hari yang lalu karena pekerjaan).

Alhamdulillah, Citilink tidak delay, dan selama perjalanan baby g malah tertidur hingga sampai di Palembang.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang

Bandara Palembang ini cukup besar dan masih baru, bersih dan apik. Enaknya lagi saat turun disediakan garbarata sehingga memudahkan saya yang harus menggendong baby usia 2 tahun.

Menuju pintu keluar bandara, sudah banyak orang menawarkan jasa taksi. Karena akan dijemput oleh suami, makanya saya cuek saja melenggang keluar, begitu telepon suami…jederr…ternyata dia belum berangkat dari hotel karena mobil rental yang disewa malah kehabisan bensin (si pemilik mengantarkan mobil rental yang benar-benar gak ada bensinnya, tiris, lha wong begitu suami mau keluar hotel mobilnya malah mati, langsung dia telepon si pemilik dan akhirnya dibawain bensin se- jerigen) dan di Palembang lokasi SPBU itu gak banyak seperti di Jakarta. Akhirnya saya memutuskan untuk terpaksa naik taksi, tapi saat nyegat di pintu kedatangan taksinya gak mau berhenti, ternyata harus lewat loket agen taksi yang ada di dalam bandara. Salahnya lagi, saya malah bertanya ke petugas bandara yang membawa saya ke driver mobil rental (jadi bukan taksi yah) yang mau mengantar dengan tarif 80 K ke Aston (tempat suami menginap red), karena males eyel-eyelan dan juga repot bawa bayi, yah akhirnya saya ikut aja lah, untungnya mobilnya bagus,bersih, dan harum, drivernya juga baik dan ramah. Setelah ketemu suami, saya kroscek berapa biaya kalau pakai taxi biasa, katanya sih 70 K, yah masih wajarlah cuma lebih mahal 10 K.

Pulau Kemaro

Tujuan saya yang pertama hari ini adalah Pulau Kemaro. Pulau Kemaro berada di delta Sungai Musi. Nama Pulau Kemaro diberikan penduduk setempat karena delta ini selalu kering dan tidak pernah berair, bahkan ketika air pasang, seolah-olah seperti sebuah pulau terapung. Pulau Kemaro ini sudah terlihat dari udara saat pesawat akan landing karena pagodanya yang sangat eye catching.

Untuk menuju ke Pulau Kemaro ini ada dua cara, yang keduanya harus menggunakan perahu yang disebut ketek untuk menyusuri sungai musi :

1. Dermaga Benteng Kuto Besak, yang terletak persis di depannya Benteng Kuto Besak. Ini merupakan dermaga yang populer bagi turis dan ramai. Untuk sampai ke Pulau Kemaro lewat dermaga ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit, tarif per ketek PP 250-300 IDR, ketek dapat menampung hingga 8 orang.

2. Dermaga Kalidoni yang terletak setelah PT Pusri, biasanya hanya orang lokal yang tahu, cara ini yang saya tempuh dalam perjalanan kali ini dengan pertimbangan waktu tempuh yang lebih sedikit, hanya 5 menit saja, lha wong pulaunya aja keliatan dari dermaganya saking dekatnya, cara ini saya ambil untuk lebih menghemat waktu karena itinerary yang sudah saya susun cukup padat dan saya juga khawatir baby saya rewel kalau naik perahunya terlalu lama. Berbekal hasil browsing di internet yang gak terlalu jelas dan GPS, kami menuju ke dermaga Kalidoni. Mengikuti petunjuk GPS, sampailah kami di PT Pusri, satu gang di sebelah kanan setelah Pusri adalah lokasi dermaganya, ada petunjuk bertuliskan “Polsek kalidoni”, kalau bingung bisa bertanya sama tukang becak yang banyak mangkal. Tarifnya PP 120 IDR, berasa mahal karena pulaunya aja deket banget gitu, dan tukang keteknya sama sekali gak mau ditawar pula,hiks.

Sungai Musi ternyata cukup lebar dengan arus yang lumayan kencang, mengingatkan saya dengan sungai Chao phraya yang membelah bangkok. Agak serem juga naik perahu kecil yang terombang ambing derasnya arus, untung hanya 5 menit perjalanan dan kita sampai.

Pulau ini adalah tempat yang sangat spesial bagi etnis Cina lokal. Di pulau ini, ada pagoda dan kuil-kuil. Keberadaannya berkaitan erat dengan sebuah legenda yang mengatakan bahwa delta muncul sebagai bukti cinta Putri Siti Fatimah (putri Raja Sriwijaya) kepada kekasihnya. Kisahnya mirip dengan Romeo dan Juliet, atau Sampek Eng Tay.Legenda ini dimulai pada akhir abad ke-14 ketika seorang pangeran dari Cina, Tan Bu An, datang ke Palembang untuk belajar. Setelah tinggal di sini selama beberapa waktu, ia jatuh cinta dengan putri Siti Fatimah. Dia kemudian datang ke istana untuk melamarnya. Orangtua Siti Fatimah memberikan persetujuan namun dengan satu syarat; Tan Bu An harus memberikan hadiah.Tan Bu An kemudian mengutus bawahannya untuk kembali ke China dan meminta semacam hadiah dari ayahnya untuk diberikan kepada Raja. Segera setelah itu, utusan itu kembali dengan sayuran dan buah-buahan. Tan Bu An terkejut dan marah karena ia berharap ayahnya memberikan guci Cina, keramik dan uang. Dia melemparkan muatan kapal tersebut ke Sungai Musi, dia tidak tahu bahwa sebenarnya  ayahnya menaruh uang di dalam sayuran dan buah-buahan tersebut. Karena dia malu setelah mengetahui tentang kesalahannya, dia mengumpulkan barang yang telah dibuangnya ke sungai dan Tan Bu An tidak pernah kembali lagi karena ia tenggelam bersama dengan sayuran dan buah-buahan tersebut.Ketika Siti Fatimah mendengar tentang tragedi itu, dia berlari ke sungai dan menenggelamkan diri untuk mengikuti kekasihnya. Sebelum itu, dia meninggalkan pesan: “Jika Anda melihat sebuah pohon tumbuh di sebidang tanah di mana aku tenggelam, ini akan menjadi pohon cinta kita”.Sang putri kemudian tenggelam dan kemudian sebidang tanah muncul di permukaan sungai. Masyarakat setempat percaya bahwa ini adalah makam pasangan kekasih tersebut dan karena itu, mereka menyebutnya “Pulau Kemaro” yang berarti meskipun air pasang di Sungai Musi, pulau ini akan selalu kering.

Untuk memasuki Pulau Kemaro tidak dikenakan biaya alias gratis. Kita akan disambut oleh gapura merah berornamen khas cina dengan tulisan Selamat Datang Makmur Sejahtera. Pagoda merah bertingkat dengan asitektur khas tiongkok merupakan atraksi utama di Pulau Kemaro, sayangnya pagodanya tidak dibuka untuk umum, hanya dibuka saat perayaan Cap Go Meh untuk bersembahyang. Pulau kemaro sendiri cukup teduh karena ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, disediakan banyak toilet umum gratis untuk pengunjung, sayangnya tidak terawat. Tepat di samping pagoda ada patung buddha tersenyum yang membawa uang, sepertinya melambangkan kemakmuran dan kekayaan.

Tidak disangka ternyata hawa udara di Palembang panas dan lembab, baju cepat basah berkeringat. Makanya di Pulau Kemaro yang cukup terik ini kami hanya berkeliling sebentar melihat pagoda dan kuil-kuilnya.

Pempek Saga Sudi Mampir – Jl. Merdeka, Depan Kantor Walikota Palembang

Selepas dari Pulau Kemaro perut mulai berteriak, selain karena paginya saya gak sempat sarapan, tentunya saya tertarik untuk mencoba kuliner khas Palembang yang satu ini. Dari hasil browsing di Internet, muncullah satu nama yaitu Pempek Saga Sudi Mampir yang terkenal dengan pempek uniknya yaitu lenggang panggang dan pempek panggang.

Lenggang panggang adalah adonan pempek yang dicampur dengan telur, lalu dimasukkan dalam cetakan daun dan dipanggang. Porsinya cukup besar, rasanya enak dan unik karena belum pernah ada di tempat lain, dengan aroma panggang yang bikin sedep. Satu porsinya seharga 17,5 K.

Pempek panggang adalah pempek yang disajikan dengan cara dipanggang, uniknya kuah cukonya sudah dimasukkan di dalamnya, tapi sayangnya kurang cocok di lidah saya, karena ada rasa manis campur ikan yang bikin eneg. Satu porsinya berukuran mini dan dihargai 5K . Sekedar catatan, di restoran ini yang mahal adalah minumannya, paling murah adalah segelas teh/es teh manis seharga 10K pergelas, phewww,kayak di restoran gede aja.

Tapi tempat ini cukup reccomended karena lenggang panggangnya yang gak ada di tempat lainnya.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya – Museum Sriwijaya, Jl. Sakyakirti

Tujuan selanjutnya adalah Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya – Museum Sriwijaya. Palembang merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang merupakan pusat kebudayaan Sriwijaya di masa lampau sehingga tidak mengherankan banyak ditemukan benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Cara mencarinya cukup mudah, terima kasih Tuhan ada teknologi GPS sekarang ini, sehingga mudah mencari lokasinya.

Kawasan ini sering disebut juga dengan sebutan Situs Karanganyar yang merupakan bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang pernah merajai hegemoni di Nusantara. Kawasan ini telah diteliti arkeolog sejak tahun 1984 hingga 1993. Menariknya diperoleh informasi dari foto udara bahwa di wilayah Karanganyar pernah ada kolam-kolam besar, pulau-pulau buatan, dan kanal-kanal buatan yang berhubungan dengan Sungai Musi. Diduga kanal-kanal tersebut dibuat pada masa Sriwijaya untuk jalur transportasi, mengatur banjir, atau sebagai benteng.

Kawasan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya merupakan situs arkeologi sekaligus memiliki panorama asri yang hijau dengan suasana tenang. Beberapa bangunan yang terdapat di situs ini adalah menara pandang dan gedung untuk menyimpan benda bersejarah.

Situs Karanganyar diubah menjadi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) saat diresmikan Presiden Soeharto tahun 1994. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya dikembangkan menjadi tempat wisata budaya sekaligus terlestarikannya sisa-sisa peninggalan masa Sriwijaya.

Di tempat ini juga terdapat museum Sriwijaya yang menyimpan berbagai koleksi berupa replika arca,patung dan tentunya prasati-prasasti kerajaan Sriwijaya. Tempat yang sangat menarik bagi yang senang sejarah seperti saya. Pengelolaan museumnya pun bagus, bangunannya sendiri masih baru. Untuk masuk hanya dikenakan biaya 2K per orang.

Sayangnya meski museumnya bagus, tapi kawasan taman purbakala nya sendiri kurang terawat dan sepi pengunjung. Padahal kawasan sejarah seperti ini punya potensi yang besar sebagai sumber pariwisata.

Bukit Siguntang – Jl Mansyur

Masih berlanjut dengan sejarah Sriwijaya, selanjutnya kami menuju Bukit Siguntang. Beberapa situs bersejarah dapat kita telusuri di kompleks Taman Bukit Siguntang antara lain adalah: makam Raja sigentar Alam, makam Puteri Kembang Dadar, makam Panglima Bagus Kuning, makam Panglima Bagus Sekakang, makam Puteri Rambut Selako, makam Panglima Raja Batu Api, dan makam Panglima Tuan Junjungan.

To be honest, suasananya rada spooky apalagi pengunjungnya tidak terlalu banyak. Apalagi di area makam di atas bukit, baby saya sengaja gak saya bawa ke atas karena hawanya itu, saya pun naik sendiri ke kawasan makam yang sepertinya dikermatkan itu, sampai saya gak berani banyak “capture’ photo takutnya ada yang gak sengaja “nongol”.

10432546_10152977638404623_653969214064018803_n
Makam keluarga kerajaan di bukit siguntang

Mie Celor 26 H.M. Syafei – Jl. K.H. Ahmad Dahlan

Sebelum beristirahat di hotel, kebetulan searah, kali ini saya mencoba kuliner khas Palembang yang lainnya , mie celor. Dari hasil browsing, Mie Celor 26 H.M. Syafei inilah yang katanya paling enak.

Sempet bingung lokasinya karena warungnya sederhana saja (cuma kios di ruko) dengan plang kecil, jadi sebelumnya bertanya dulu ke penduduk lokal. Ternyata lokasinya pas banget sebelum perempatan di ujung jl K.H. Ahmad Dahlan. Dinamakan mie celor 26 karena memang lokasinya yang berada di pasar 26 Ilir.

Mie Celor adalah hidangan mi yang disajikan dalam campuran kuah santan dan kaldu ebi (udang kering), dicampur taoge dan disajikan bersama irisan telur rebus, ditaburi irisan seledri, daun bawang dan bawang goreng. Ukuran mi yang digunakan lebih besar, seperti spaghetti atau mi udon Jepang, sepintas saja kelihatan seperti carbonara. Rasanya enak, cocok di lidah jawa saya, walau terkadang bau kuah santannya agak menggangu, yah namanya juga bukan makanan daerah asli saya.

10404325_10152977675609623_8482526397761328015_n
Mie Celor

IP Hotel

Perut kenyang,kaki pegal setelah jalan seharian dan mata juga mulai mengantuk, akhirnya kami memutuskan untuk check in hotel yang sudah kami booking sebelumnya via agoda. IP Hotel ini lokasinya strategis, dekat dengan Palembang Indah Mal dan persis tepat di depan IP Mall, hanya berjarak 1,3 km dari pusat kota dan jembatan ampera, dan juga cukup berjalan kaki ke restoran pempek terkenal (pempek vico). Tadinya sebenarnya pingin booking di graha Sriwijaya atau Quin Centro hotel yang berlokasi di pusat kota, tapi entah kenapa hotel-hotel tersebut menolak tamu di bawah usia 4 (empat) tahun. Sementara kalau hotel franchise macam Aston, Tune ataupun Amaris lokasinya cukup jauh dari pusat kota.

Sebagai budget hotel, fasilitas yang ditawarkan standar, tapi kamar cukup bersih dan staf juga sangat ramah & helpful.

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Palembang. Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Indonesia, China dan Eropa. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng.

Sebagai penganut muslim, biasanya setiap berkunjung ke suatu kota saya selalu memasukkan masjid agung ke dalam daftar itinerary saya, selain untuk beribadah, tentunya untuk melihat kemegahan arsitektur masjid yang berbeda-beda bentuknya mengikuti tradisi daerah yang bersangkutan.

1456616_10152977639394623_7341813044121203305_n
Masjid Agung Palembang

Monpera

Berdiri 22 tahun yang lalu, Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) sudah difungsikan sebagai museum penyimpanan benda bersejarah. Terutama, sisa peninggalan perang lima hari lima malam di Palembang.

Bangunan Monpera berdiri kokoh di pinggir Jl Merdeka, persis di samping Mesjid Agung. Ciri khasnya ada enam cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan tiga-tiga di bagian samping kiri dan kanannya. Juga terpampang relief yang menggambarkan suasana pertempuran lima hari lima malam di kota Palembang melawan penjajah Belanda.

Sungguh sayang disayang karena saat ke sana sudah menunjukkan lewat pukul 17.00, maka monumen sudah tutup, sehingga kami cuma bisa bermain di pelatarannya yang cukup luas tersebut.

Benteng Kuto Besak

Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang, keraton ini berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah,  posisinya menghadap ke sungai Musi . Sekarang bangunan ini dijadikan markas Kodam Sriwijaya sehingga tidak bisa dimasuki oleh umum. Kami hanya bisa melihat bangunan dari kejauhan lewat pintu masuk dan sekedar duduk-duduk di samping dinding benteng yang bertuliskan “Benteng Kuto Besak”. Suasana sore hari di sini sangat ramai, terutama karena ini adalah malam minggu, pedagang keliling dan pengunjung memenuhi ruas-ruas jalan. Sunset mulai turun di jembatan ampera, sungai musi pun terasa syahdu seperti di lagu-lagu, sementara kapal-kapal mulai berlayar kembali untuk merapat di dermaga.

Riverside Restaurant

Karena dalam suasana ultah baby g, sejak di jakarta saya sudah browsing mengenai restoran yang bisa untuk makan malam sekalian menikmati pemandangan kerlap-kerlip jembatan ampera di malam hari. Tersebutlah riverside restaurant yang letaknya persis di samping sungai musi, dari hasil browsing sih kayaknya oke banget.

1513170_10152977642334623_5838143964032708481_n
Jembatan Ampera di malam hari

Riverside ini persis di depan benteng kuto besak juga, sehingga begitu matahari sudah tergelincir sepenuhnya, kami bergegas menyebrang jalan untuk menuju Riverside. Restorannya sendiri berupa kapal besar yang ditambatkan di dermaga, cukup unik , kadang masih berasa sedikit goyangan apabila ada riak ombak, apalagi kalau ada kapal lain yang lewat.

Kami duduk di lantai 2 persis di samping balkon sehingga kami bisa melihat jembatan ampera dengan jelas. Tapi sayangnya untuk restoran sekelas ini, kondisi furniturenya kurang terawat, taplak meja putihnya sudah bladus  begitu pun cover kursinya. Makanan yang dihidangkan pun mengecewakan, porsinya kecil, rasanya tidak terlalu enak dan kondisinya sudah dingin, padahal saat kami di sana suasana restoran relatif sepi, hanya ada beberapa pengunjung lainnya. Harganya juga menurut saya overprice. Benar-benar restoran yang jual pemandangan.Setelahnya kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat.

10801501_10152977642534623_7707177812446965951_n
Suasana di Riverside Restaurant

 

 

 

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s