Posted in Indonesia, Jakarta, Kep. Seribu

Tidung Island – Kepulauan Seribu

Hare gene baru ke tidung ??? ke mana aja kemaren-kemaren?

Sebenarnya tidung udah jadi wishlist saya sejak dulu,saya jatuh cinta saat melihat foto-foto jembatan cinta Tidung yang cakep banget, cuma karena jadwal yang tak memungkinkan akhirnya baru tahun 2014 lalu saya bisa ke sana. Tepat di hari jadian, saya mengajak suami untuk ke Tidung berdua, sementara anak-anak ditinggal dulu karena masih kecil.

10731213_10152868760044623_1397795876106921903_n

Untungnya zaman sekarang banyak operator tour yang ngadain open trip, jadi nggak perlu repot-repot ngurus dari A-Z sendiri, cukup buka web, pilih yang sesuai jadwal dan kantong. Waktu itu kami ikutan paket tour super murah ke Pulau Tidung seharga 190K/orang selama 2D1N, sudah termasuk penginapan (homestay), makan 3x, transportasi kapal ferry muara angke-p.tidung PP & sewa sepeda. Setelah membayar biaya yang ditetapkan, kami registrasi diri melalui email ke operator. Selanjutnya pihak operator akan memberikan jadwal acara dan juga contact person tour leader yang bersangkutan.

Meeting point ditetapkan di pom bensin pelabuhan muara angke jam 06.30, karena rumah kami di daerah cibubur  maka jam 05.00 pagi kami sudah harus berangkat. Mau nggak mau pilihannya cuma bisa naik taksi, karena naik angkot di jam segitu kemungkinan besar bakal bikin kami telat karena rutenya yang muter-muter. Tekor ongkos taksi deh, karena dari cibubur ke muara angke 150K belum termasuk tol.

Untungnya tahun lalu kebetulan kantor saya punya proyek renovasi pelelangan pasar ikan di sini, sehingga saya tahu persis letak pom bensin yang dimaksud. Tapi…begitu mendekati jembatan pas depan pasar, macetnya poll, kendaraan nggak gerak sama sekali sehingga kami memutuskan turun dan jalan kaki lumayan jauh . Begitu sampai persis banget jam 06.30 dan sudah ada beberapa orang berkumpul, termasuk Teguh, tour leader kami. Kami masih menunggu sampai satu jam lagi (huuh…tahu gitu saya nyantai-nyantai aja berangkatnya), begitu jam 07.30-an baru kami dipandu berjalan kaki (lagi) sampai dermaga muara angke. Untuk mencapai dermaga muara angke memang kita harus melewati pasar muara angke, tau kan ya kondisi pasar ikan? pastinya becek karena sering terkena arus pasang air laut, airnya hitam bercampur sampah, udaranya juga panas lembab dan berbau amis ikan, jangan salah kostum atau alas kaki, karena kemarin ada aja yang pake sendal tali-tali atau wedges cantik, hadeuuh.

Begitu tiba di dermaga, tour leader membagikan karcis ferry kepada tiap peserta, sambil woro-woro untuk selalu pasang kuping mendengarkan pengumuman, karena kapal ini tidak hanya berhenti di P. Tidung, tapi juga di P. Pramuka dan P. Pari. Untuk amannya kami duduk berdekatan dengan peserta tur lainnya sambil sekalian kenalan. Di grup kami ada keluarga dengan 2 anak usia SD dan 1 balita (yang bikin saya makin yakin dengan serunya family trip, sebut saja keluarga pak dedy) sementara peserta lain usianya masih muda-muda.  Hati-hati saat menaiki ferry karena salah-salah malah tergelincir, beneran kejadian lho waktu saya di sana, entah karena main-main atau beneran kepleset, ada seorang cowok ABG yang nyemplung-plung ke laut masih lengkap dengan baju, sepatu dan tasnya, untungnya bisa berenang dan langsung ditolongin, tapi sekujur tubuh basah kuyup bau ikan laut, apa kabar tripnya besok tuh?

Kami semua memilih untuk duduk di dek kapal yang ada atapnya sehingga tidak terlalu panas dan bisa melihat pemandangan. Kapal perlahan-lahan bergerak meninggalkan teluk jakarta, air yang tadinya berwarna kehitaman (karena penuh limbah dan sampah) berangsur-angsur berubah warna menjadi kebiruan. Terkadang kami berpapasan dengan perahu nelayan, keramba ikan dan bahkan “penginapan nelayan” di atas laut , salut dengan para nelayan yang berjuang mencari nafkah di medan seberat ini , terbayang betapa kuat fisik dan mental yang harus dimiliki kala harus terapung-apung di tengah laut hingga berhari-hari. Sekitar setengah jam, kami melewati pulau-pulau kecil seperti bidadari, kerkoff, cipir dan onrust yang pernah kami datangi sebelumnya, lalu kapal merapat sejenak di perhentian pertama p. pramuka dan kemudian berlayar lagi hingga tiba di pulau tidung. Butuh waktu sekitar 2,5 jam dari muara angke hingga ke tidung, badan rasanya masih bergoyang-goyang saat menapakkan kaki di tanah.

Pulau Tidung terletak di gugus kepulauan seribu, tidung sendiri terdiri atas dua pulau, yaitu tidung besar dan tidung kecil. Pemukiman warga semuanya terletak di tidung besar terutama di bagian baratnya, sementara tidung kecil tidak dihuni, hanya digunakan sesekali untuk berkemah. Antara tidung besar dan tidung kecil dihubungkan oleh jembatan panjang yang dinamakan jembatan cinta.

Sesampai di dermaga kami disuruh memilih sepeda rental yang akan kami gunakan karena dari dermaga ke penginapan jaraknya sekitar 3km-an, nggowes sepeda siang-siang? baiklah!!! Jalan utama berupa paving block dengan jalur selebar 2 m, tidak ada mobil, hanya ada sepeda dan motor. Penginapan di pulau tidung hampir semuanya ber-type homestay, umumnya rumah tinggal yang dialihfungsikan dan disewakan menjadi penginapan. Homestay yang kami tempati berupa rumah dengan tiga kamar, satu kamar untuk perempuan, satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk keluarga pak dedy (kalau mau kamar sendiri juga bisa tapi nambah biaya lagi), karena kami sok-sokan berjiwa muda tentunya kami milih pisah kamar dong, hehe. Kami diberi waktu untuk istirahat selama setengah jam, lalu kumpul lagi untuk makan siang.

Makan siang dihidangkan di warung makan sederhana yang letaknya menghadap laut, sistemnya prasmanan dengan menu pepes ikan kembung , tahu tempe, sambal dan lalapan. Jam 13.00 kami berkumpul kembali untuk memulai kegiatan snorkeling, perahu kayu berkapasitas 20 orang sudah merapat cantik di depan warung tempat makan kami tadi. Peralatan snorkeling di luar biaya tur, biaya sewanya sebesar 35K/set.  Tiap peserta mendapat alat snorkel dan masker, minus kaki katak.

Kami diajak ke lokasi snorkeling yang dinamakan coral reef. Air lautnya berwarna biru toska dan cukup jernih, sayang terumbu karangnya banyak yang sudah mati dan biota lautnya tidak banyak. Kami hanya bertemu dengan sekumpulan ikan kecil cantik yang bergaris-garis hitam-kuning (nggak tau namanya), selain itu  hanya ada air laut. Jadinya kegiatan snorkeling kami lebih berupa berenang di air laut. Lokasi terumbu karangnya cukup dangkal, sehingga kami harus berhati-hati untuk tidak menginjak permukaannya yang tajam karena kami tidak memakai kaki katak. Foto underwater sudah include dalam paket tur sehingga kami tidak perlu repot-repot lagi foto-foto sendiri (lagian nggak punya juga sih), syaratnya berenang deket-deket tour leader dong, biar banyak dapet foto,haha. Yang keren adalah keluarganya Pak Dedi, dua anaknya (yang terbesar baru kelas 3 SD sementara yang kecil kelas 1 SD) sudah berani snorkeling  sendiri, lincah ke sana kemari tanpa takut, cita-cita saya dan suami banget punya keluarga kayak gini. Sementara anggota grup yang baru pertama kali snorkeling jejeritan panik, apalagi yang cewek-cewek,bikin tour leader tambah ngeledek dan kita ketawa-tawa seru.

Setelah sejam snorkeling kami kembali naik perahu untuk menuju bagian timur pulau tidung besar yang mana terdapat jembatan cinta. Kami diberi waktu dua jam hingga pukul 17.00 untuk berjalan-jalan bebas di sini. Bagian timur pulau ini difungsikan untuk berbagai watersport mulai dari banana boat, donut, jetsky dan lain-lain. Selain itu juga berderet warung-warung penjual makanan, kami yang kelaperan lagi sehabis snorkeling tentunya langsung menyerbu warung bakso, masih dengan kostum basah kuyup lho. Harga watersport di sini standart sih, kalau mau main tentunya dengan biaya sendiri (di luar paket tur) , tapi kita nggak tertarik dan lebih memilih menyusuri jembatan cinta.

Jembatan cinta ini merupakan icon terkenal di pulau tidung, coba aja tengok selebaran atau foto-foto tidung, pasti jembatan ini terpampang besar. Tapi … saat saya ke sini ternyata jembatan kayu panjang yang cakep itu sudah diganti menjadi jembatan beton , alasannya karena makin ramainya tidung dengan wisatawan sementara struktur kayu jembatan tersebut sudah cukup berumur dan mulai keropos, gimana coba kalau jembatannya lagi ramai terus ambruk??. Aktivitas terkenal di jembatan cinta ini adalah meloncat dari ketinggian 3 m, persis di puncak lengkungan jembatan, makanya bagian lengkung ini penuh dengan orang yang mencoba lompat, termasuk suami saya, saya tentu ogah dan memilih mengabadikan lompatan tersebut lewat kamera. Tapi karena pakai kamera HP, momen lompatnya kelewat dan suami terpaksa mengulangi lagi lompat 3 m-nya itu.

Setelah itu kami menyusuri jembatan panjang tersebut hingga mencapai pulau tidung kecil. Karena tidak ditinggali, vegetasi di pulau ini rapat dengan pepohonan dan semak belukar, hanya ada satu warung kecil dan selebihnya pulau ini sepi sekali. Di pinggir pantai banyak terdapat pohon bakau dengan akarnya yang mencuat. Saya sangat menikmati momen main ayunan sambil ngobrol dan malah asyik memperhatikan pasangan yang sedang pre-wedding di pinggir pantai sampai menyadari bahwa sebentar lagi sudah pukul 17.00. Karena yakin teman-teman yang lain bakalan ngaret, kami santai saja berjalan ke dermaga. Bener kan ? dermaga masih kosong, sambil menunggu kami berfoto-foto karena sudah mulai sunset, tak lama datang satu pasangan yang termasuk grup tur kami. Sampai azan maghrib berkumandang kok yang lain belum datang ya? ternyata setelah menelepon Teguh, perahu sudah pergi dari tadi dan kami ditinggal. Padahal jarak bagian barat dan timur kan lumayan jauh kalo mesti jalan kaki, belom lagi kita gak tau pasti lokasi homestay yang nyempil di tengah pemukiman , untungnya setelah kami bertanya ke penduduk sekitar ada bentor dengan biaya 50K, gak boleh ditawar, ya sudahlah. Abang bentor di sini hafal semua nama homestay dan lokasinya, tinggal sebutkan nama homestay, butuh waktu sekitar 15 menit dengan bentor, gimana kalau jalan kaki ya.

Pulang ke homestay kami segera membersihkan badan yang sudah lengket dengan air laut dan keringat. Makan malam kembali dihidangkan di warung tadi siang, kali ini menunya ikan kembung bakar, pepes tahu dan sayur asam. Hiburan di homestay hanya TV yang ditonton beramai-ramai di ruang duduk yang lama-lama panas karena nggak ada AC. Karena kepanasan, kami bersama beberapa teman lainnya memutuskan untuk keliling-keliling naik sepeda, namanya juga di pulau, udaranya panas dan lembab di kala malam, niatnya mau cari hawa sejuk malah tambah keringetan karena nggowes sepeda. Lagipula tidak semua jalan diberi penerangan yang cukup, sehingga tidak lama kami semua sudah kembali lagi ke homestay dan memutuskan masuk kamar yang ber-AC buat ngobrol. Ngobrol bareng cewek-cewek yang semuanya lebih muda dari saya cukup seru, kita bertukar cerita soal travelling yang pernah kita jalanin, soal latar belakang umum kita dan lain-lain.

Esok seharusnya adalah kegiatan mencari sunrise di pantai saung cemara kasih. Tapi karena pada kecapekan, walhasil jam 06.00 baru pada berangkat dengan menggowes sepeda rental masing-masing. Saung Cemara Kasih merupakan pantai yang terletak di ujung barat Tidung. Sepanjang perjalanan kita melewati bibir pantai yang tak putus-putus dengan suguhan pemandangan indah. Saung Cemara Kasih sendiri berupa pantai pasir putih yang jalan masuknya dipenuhi banyak pohon cemara. Seperti kebanyakan pantai di utara, ombaknya kecil nyaris tidak ada, sehingga kita bisa foto-foto sambil celupin kaki dengan aman. Puas foto dengan berbagai gaya (gaya naik sepeda, gaya naik ayunan, gaya naik pohon sampai gaya pandang-pandangan ala pre wed) kami kembali ke ke homestay untuk sarapan, mandi dan bersiap-siap pulang. Di perjalanan pulang kami sengaja melewati jalan lain dan ketemu dengan padang ilalang yang sangat eye catching.

Jam 09.30 kami bergerak menuju dermaga karena akan naik ferry ke muara angke jam 11.00. Sebelumnya di jalanan sempet-sempetnya kami antri jajan cilung (cilok gulung), street food yang dari tampilannya pasti gak higienis tapi rasanya enak, berupa aci dicapur telur yang digulung dan dimakan dengan sambal entah apa.

10696260_10152879850949623_7679409894329856132_n

Jam 10.30 kapal merapat di dermaga tidung, saking ramenya kali ini kami terpaksa duduk di lambung kapal yang panas dan sumpek plus nggak bisa lihat pemandangan. Dua jam yang terasa lama kami lewatkan dengan (pura-pura) tidur karena bingung mau ngapain, ngobrol udah males, dengerin musik pengeng. Hingga akhirnya pukul 13.00 kapal tiba di muara angke dan kami masih harus melewati pemukiman yang sangat kumuh, sampai miris banget, tanahnya rawa pasang surut, rumahnya dari seng, pengap dan panas, tidak ada udara segar, bau busuk menguar ke mana-mana, kasihan anak-anak yang terpaksa tumbuh di tempat seperti ini. Semoga Pemerintah termasuk saya sendiri semakin peduli dengan nasib yang lainnya. Begitulah hikmah wisata, membuka wawasan baru dan menumbuhkan rasa syukur di ahti atas keadaan kita yang sudah dilebihkan oleh Tuhan, tinggal gimana kita membagi kelebihan tersebut kepada yang membutuhkan. Amin.

 

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s