Posted in Indonesia, Yogya

Napak Tilas Sejarah & Legenda Jogja : Taman Sari, Keraton, Pantai Depok,The Sand Dunes & Parangtritis

Selepas menyantap menu breakfast di Pop Hotel yang terbilang standar & sederhana (lagi-lagi tetap harus diingat bahwa hotel franchise ini adalah hotel budget bintang satu ya) kami bertolak ke destinasi pertama kami yaitu Taman Sari.

Taman Sari

Hanya perlu waktu 10 menit berkendara dari kawasan Tugu hingga ke Taman Sari. Dulunya tempat ini adalah istana yang dikelilingi air sehingga untuk menuju tempat ini keluarga kerajaan perlu menggunakan perahu, sementara di bawah tanahnya dibangun semacam terowongan penghubung untuk para prajurit. Bisa dibayangkan betapa hebat dan kerennya tempat ini kan?? zaman dahulu sudah bisa membuat struktur bangunan yang kokoh di bawah tanah.

Sayangnya saat ini danau-danaunya sudah tidak ada digantikan oleh pemukiman para warga yang katanya adalah abdi dalem Sultan. Saya tidak bermaksud untuk memprotes kebaikan dan keputusan Sultan yang membolehkan pemukiman warga yang ada di sekitar taman sari, saya hargai karena pasti Sultan punya pertimbangan sendiri demi kebijakan tersebut. Cuma saya berpendapat Taman Sari ini tidak jelas boundary area-nya, mungkin akan lebih indah kalau direvitalisasi dan direnovasi sesuai dengan kondisi awal zaman dahulu, sebuah water castle yang dikelilingi air. Tapi ya sudahlah, saya sangat menghargai keputusan Sultan untuk warganya.

Pintu masuk utama sendiri sebenarnya zaman dahulu adalah pintu belakang. Kunjungan saya ke Taman Sari ini adalah yang kesekian sehingga walau tanpa pemandu (saking ramenya jadi pemandu semua sedang bertugas) saya masih mampu mengingat beberapa detail dan bercerita kepada mama mertua saya.

Memasuki taman sari, kita akan mendapati Umbul Pasiraman, 3 kolam besar yang menurut penuturan pemandu hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan. Satu kolam untuk permaisuri dan anak-anak raja, satu kolam untuk  para selir dan satu kolam lagi untuk sang raja khusus dengan permaisuri/selir yang dipilih. Konon dulu saat para selir mandi, sang Raja akan mengintip lewat bangunan menara dua lantai yang ada di depannya untuk memilih selir mana yang akan menemani Beliau.

IMG_1217
Umbul Pasiraman

Kali ini saya tidak akan membahas detil Taman Sari (sudah pernah saya bahas di sini). Keluar dari Gapura Agung kami sempat kebingungan mencari lokasi Sumur Guling dan Tajug (karena tidak ada pemandu yang menemani), seperti yang pernah saya singgung, begitu keluar dari Gapura Agung yang nampak adalah lokasi pemukiman warga, bahkan kalau belum pernah berkunjung dan tidak ditemani pemandu, kita akan mengira bahwa Taman Sari berakhir di Gapura Agung. Di pemukiman ini juga banyak rumah-rumah yang menjual hasil karya kerajinan khas yogya seperti lukisan atau batik, bahkan dinding-dindingnya pun dihiasi dengan mural yang cantik. Setelah bertanya kepada penduduk sekitar, sampailah kami ke lokasi Sumur Gumuling.

Sumur Gumuling ini dapat dicapai melewati terowongan bawah tanah yang disebut tajug. Suasana dalam terowongan remang-remang, tapi tidak gelap karena cahaya masih mampu menembus lewat kisi-kisi atap. Tidak jauh kami menemukan lokasi sumur gumuling, yaitu bangunan dua lantai yang digunakan sebagai masjid oleh Sultan, bangunan ini berbentuk bundar dan mimbarnya terletak di tengah-tengah. Hati-hati saat turun atau naik terutama apabila membawa balita seperti saya, karena tidak terdapat railing atau pengaman apapun di tangga maupun bangunan.Saya pun ekstra hati-hati mengejar dua balita saya yang berkejar-kejaran di lantai 2 karena memang tidak ada railing pembatas sehingga khawatir kalau balita terjun bebas.

Keluar dari sumur gumuling carilah tajug lainnya yang terhubung dengan pintu masuk utama sehingga tak perlu memutar kembali. Mencari tajug yang ini lebih susah lagi karena letaknya terpisah sehingga kita harus bertanya-tanya kembali ke penduduk sekitar.

Keraton Keben 

Keluar dari Taman Sari kami bermaksud menuju ke destinasi selanjutnya yaitu Keraton Yogyakarta. Dua balita saya merengek minta naik becak, akhirnya saya menemani mereka dengan tarif 35K gak bisa ditawar, padahal jaraknya deket, sementara suami dan mama mertua tetap naik mobil.

Sang mas becak menurunkan kami di keraton keben, saya pun bingung karena saya belum pernah ke keraton bagian ini, menurut mas becak, regol keben ini lebih lengkap koleksinya dibanding tepas keprajuritan. Ternyata selama ini saya taunya keraton hanya di bagian tepas keprajuritan yang persis di depan alun-alun utara. Dari alun-alun utara harus berjalan lagi sekitar 1 km untuk menuju regol keben. Saya pun sangat bersemangat karena ini destinasi yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya menelepon suami yang sesuai dugaan saya memang benar berada di tepas keprajuritan sehingga butuh waktu untuk jalan kaki sekitar 10 menit, untung banyak penjual mainan sehingga anak-anak tidak bosan dan malah minta mainan.

Kita akan disambut oleh bangunan bergaya Yogyakarta lengkap dengan raksasa pembawa gada yang mengapit bangunan tersebut. Bangunan tersebut dipasangi emblem kerajaan Yogyakarta di dinding lobinya. Tanah di lingkungan keraton sengaja dilapisi dengan pasir sehingga tidak becek saat musim penghujan.

Regol keben ini merupakan istana kerajaan yang dialih fungsikan menjadi museum dengan berbagai macam koleksi benda-benda milik kerajaan Yogyakarta. Dimulai dari ruangan penuh peralatan gamelan dan kereta kencana, lalu ada koleksi baju-baju, kain batik, peralatan upacara, perhiasan, perabot, perhiasan beserta foto-foto yang menggambarkan berbagai aktivitas keluarga kerajaan dan para abdi dalem. Ada juga ruangan yang berisi foto-foto dan lukisan para Raja dan ratu Yogya turun temurun. Wisatawan mancanegara pun banyak yang mengunjungi tempat ini, hebatnya keraton ini sudah memiliki pemandu wisata yang fasih berbahasa asing, ada bahasa inggris,perancis, jerman, jepang, china dan bahkan ada yang mampu berbahasa spanyol/italia.

Di lingkungan ini kita juga dapat bertemu para abdi dalem, ada yang menjaga ruangan, ada pula yang sedang duduk-duduk. Di sini ada larangan untuk berfoto membelakangi abdi dalem karena dianggap tidak sopan.

IMG_1276
Para Abdi Dalem

Pantai Depok

Selepas mengunjungi dua situs budaya Yogyakarta, kami menuju destinasi berikutnya yaitu Pantai Depok. Pantai ini terkenal dengan kuliner sea food-nya yang murah meriah, sehingga kami memutuskan untuk makan siang di sini. Perjalanan lancar dengan durasi sekitar satu jam dari keraton ke pantai depok.

Di Pantai Depok ini terdapat pasar ikan yang menampung hasil laut tangkapan para nelayan sehingga hasil laut yang dijual masih sangat segar, semacam muara angke di Jakarta. Saya dan suami segera menuju pasar ikan untuk memilih dan membeli hasil laut yang akan dimakan, di pasar ini pun banyak ibu-ibu yang menawarkan jasa memasak. Saya memilih 2 ekor ikan baronang, 1 ekor kepiting, 1/2 kg udang dan 1/2 kg cumi dengan total harga sekitar 150 K. Awalnya saya sering menampik tawaran memasak dari ibu-ibu yang berkeliling dengan alasan saya mau makan di restoran yang ada di pinggir pantai. Tapi kemudian ada seorang ibu yang menawarkan jasa memasak dan memastikan bahwa restoran yang dia kelola tepat di pinggir pantai sehingga akhirnya saya dan suami setuju.

Pantai Depok sendiri memiliki ombak yang sangat besar sehingga tidak direkomendasikan untuk bermain air apalagi berenang karena faktor keselamatan. Di sekitar pantai banyak terdapat perahu nelayan dan ada penyewaan ATV, banyak keluarga yang lalu lalang dengan mengendarai ATV. Tapi karena kami ke sana di saat matahari sedang panas-panasnya, kami memilih untuk santai duduk-duduk di warung sambil menikmati pemandangan saja. Tidak lama kemudian pesanan kami tiba, hasil masakannya cukup enak terutama karena faktor kesegaran ikannya, sebanyak itu ongkos masakannya hanya 30K, nasi perporsi hanya 3K (dan seporsi itu banyak banget), tumis kangkung 5K dan aneka minuman mulai 3K.

Sand Dunes / Gumuk Pasir 

Setelah kenyang kulineran di pantai depok kami melanjutkan perjalanan ke parangtritis, pantai yang paling terkenal di Yogya sejak dulu kala. Dalam perjalanan menuju parangtritis itulah, secara tidak sengaja kami melewati sand dunes/gumuk pasir yang belakangan ini sangat terkenal lewat media sosial terutama di instagram dan juga lewat acara jalan-jalan di TV seperti My Trip My Adventure ataupun Laptop si Unyil. Di liputan tersebut nampak aktivitas seru seperti sand boarding yang menantang nyali. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya dan suami bermaksud singgah sebentar, tapi karena cuaca sangat amat terik, anak-anak saya tinggal di dalam mobil.

Sejauh mata memandang yang nampak hanyalah gundukan pasir, persis seperti di Arab, dengan bukit-bukit pasir hitam yang panas membara, apalagi di tengah hari, pasirnya udah kayak setrikaan. Boro-boro mau sand boarding, melangkah aja panasnya bukan main, cocoknya ke sini sore hari menjelang sunset. Kami hanya berputar-putar sebentar kemudian memutuskan kembali lagi ke mobil. Belakangan kami melewati suatu areal yang masih dalam lokasi sand dunes ini yang dipakai sebagai tempat manasik haji, cocok sih, lokasinya berpasir dan sangat luas lengkap dengan mataharinya yang terik, jadi nggak kaget saat di Arab nanti.

Pantai Parangtritis

Terkenal akan mistik Nyai Roro Kidul-nya dan dikenal sebagai gerbang kerajaan sang ratu laut selatan, membuat Parangtritis sangatlah terkenal sejak zaman dahulu. Sosok Nyai Roro Kidul merupakan sosok mahluk gaib yang amat dipercaya dan dihormati oleh warga Yogyakarta, terutama karena keterkaitannya dengan Panembahan Senopati, sang pendiri kerajaan Mataram. Dikisahkan bahwa Panembahan Senopati berhasil membangun kerajaannya atas bantuan Sang Ratu setelah dia bertapa di pantai Parangkusumo, bahkan dipercaya sampai saat ini setiap Raja Yogyakarta turun temurun harus memperistri Roro Kidul. Setiap tahun pada tanggal satu suro diadakan tradisi larung sesajen di tempat ini.

Tempat ini juga sarat kepercayaan mistik di mana dipercaya bahwa tidak boleh mengenakan baju hijau atau merah karena akan diseret ombak oleh Roro Kidul.

Di balik kisah mistis tersebut, Parangtiritis memang memiliki ombak yang besar sehingga kita harus berhati-hati. Bibir pantai dipenuhi oleh wisatawan yang bermain air, juga ada beberapa delman yang lalu lalang, saya kurang setuju sebenarnya dengan adanya delman karena dikhawatirkan mengenai wisatawan yang berlari-lari karena ombak. Seperti saya yang karena kaget ada ombak dan refleks mundur, tiba-tiba di belakang sudah ada kuda, pilihannya basah kena ombak atau ketendang kuda.

Di sekitar pantai juga banyak disewakan tikar lengkap dengan payung pantai yang nyaman digunakan untuk duduk-duduk.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s