Posted in Garut, Indonesia, West Java

Satu-satunya candi di Jawa Barat

Garut, selain memiliki pemandangan alam yang indah sehingga dikenal sebagai Swiss van Java dan terkenal dengan kudapan manisnya,dodol, ternyata memiliki situs candi yang merupakan satu-satunya candi di Jawa Barat. Tidak seperti Jawa Tengah & Yogyakarta yang memiliki begitu banyak situs candi baik yang besar maupun yang kecil, hampir tidak ada candi di Jawa Barat, entah karena kerajaan masa lampau di bumi parahyangan ini tidak suka membangun candi ataupun candi-candi tersebut sudah rusak dan musnah.

Candi cangkuang ini terletak di Leles, lokasi yang sering sekali muncul di liputan mudik karena merupakan titik kemacetan di jalur selatan, makanya lebih baik jangan berkunjung ke sini saat libur lebaran. Kebetulan setiap saya pulang ke kampung halaman suami di Tasikmalaya pasti akan melewati situs ini, karena penasaran suatu hari saya berkunjung ke sini sekalian lewat.

Tidak sulit untuk menemukan lokasinya karena ada petunjuk arah yang sangat jelas, dari jalan raya leles – banyuresmi sekitar 2 km masuk ke lokasi dengan jalan dua jalur yang sempit dan ramai pemukiman.

Begitu sampai di lokasi kita akan bertemu gapura bertuliskan “selamat datang di situ bagendit & candi cangkuang”, ada kantor dinas pariwisata yang juga menjual tiket masuk dan di dalamnya ada poster-poster yang menjelaskan sekilas tentang candi cangkuang.

Situ Bagendit

Candi cangkuang terletak di atas pulau yang berada di tengah-tengah danau (situ)  yang bernama situ bagendit. Untuk mencapai pulau tersebut, kita harus menggunakan rakit-rakit yang sudah disediakan untuk menyusuri danau, ongkosnya sudah termasuk dalam tiket masuk. Karena kita datang saat pagi hari maka satu rakit hanya digunakan bertiga, serasa rakit pribadi. Rakitnya sendiri merupakan rakit tradisional yang disusun dari potongan bambu diikat satu, di atasnya diberi kursi dan atap sehingga teduh. Danaunya sendiri cukup luas, namun warna airnya keruh dan sayangnya ada beberapa sampah di pinggir-pinggir danau. Tanaman eceng gondok pun menghampar walau tidak sampai menggangu jalannya rakit. PR buat dinas pariwisata dan pengunjung untuk lebih menjaga kebersihan.

Seperti tempat lainnya, danau ini pun memiliki hikayat, nama situ bagendit diambil dari hikayat Bagendit, seorang janda kaya raya yang jahat dan pelit. Suatu hari datang seorang kakek pengemis meminta sedekah, Bagendit yang pelit pun tidak mau memberi dan malah menghina sang Kakek, sang kakek lalu menancapkan tongkatnya ke tanah dan dari tanah keluar air hingga menenggelamkan Bagendit beserta seluruh harta bendanya.

Pemandangannya sangat indah dengan latar belakang gunung guntur di kejauhan. Tapi kalau datang siang hari kayaknya panas karena tidak banyak pepohonan di sekitar danau. Rakit masih didayung tangan sehingga berjalan pelan, butuh waktu sekitar 15 – 20 menit untuk mencapai candi cangkuang.

IMG_2605Candi Cangkuang

Sebelum mencapai candi cangkuang, kita akan melewati kampung adat pulo, suatu kampung adat tradisional sunda yang mana rumahnya hanya boleh berjumlah tujuh, tidak boleh ditambah lagi. Rumahnya masih berupa rumah panggung dengan dinding bilik. Kampung ini dipimpin oleh seorang pemuka adat.

Candi ini terletak bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad, sebuah makam kuno pemuka agama Islam yang dipercaya sebagai leluhur penduduk Desa Cangkuang. Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata ‘Cangkuang’ sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar makam, Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur Kampung Pulo. Daun cangkuang dapat dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus ( sumber : wikipedia). Candi cangkuang sendiri merupakan sebuah candi tunggal dengan ukuran yang kecil, mirip seperti candi pendamping di candi prambanan. Candinya bergaya hindu dan hanya ada satu bilik kecil berisi arca syiwa yang sudah rusak didalamnya, biliknya pun sudah dipagari. Karena kompleksnya tidak luas, tidaklah butuh waktu lama untuk menelusuri tempat ini.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s