Posted in Bandung, West Java

Sapu Lidi, Tangkuban Parahu, Rumah Mode & Maja House

Ini adalah kisah jalan – jalan di kala saya sedang menginjak usia 8 bulan di kehamilan pertama saya. Berawal dari voucher diskon menginap di Sapu Lidi Bandung yang didapatkan suami saya dari salah satu koleganya dengan masa berlaku hanya dua bulan . Sebagai orang yang ogah rugi pantang menyia-nyiakan rezeki, langsung saja saya menelepon ke Pihak Sapu Lidi untuk reservasi , saya memilih tanggal 6 oktober yang merupakan hari anniversary jadian kami, maka berangkatlah saya dan suami walau diwanti-wanti (dengan setengah ngomel) oleh ibu saya (nanti kalau brojol gimana??).

Curug Pelangi

Berangkat dari Jakarta berdua saja dengan suami (suami nyetir dan saya tentu tidur, maklum bawaan hamil ngantuk mulu), perjalanan ke Bandung relatif lancar dan kita sudah sampai di area Lembang pukul 10.30. Sebagai orang yang terbiasa bikin itinerary list, kehamilan tidak menjadi halangan untuk saya menyusun daftar kunjungan yang panjang seperti biasa. Rencananya hari ini kita akan mengunjungi curug pelangi & tangkuban parahu dulu sebelum check in di Sapu Lidi.

Harap diingat bahwa pada tahun 2012 lalu, curug pelangi (atau dulunya disebut curug cimahi) belum terdaftar di google maps, petunjuk arah pun belum sejelas sekarang sehingga menyulitkan kami mencapai tempat tersebut, padahal kami sudah dua kali bolak-balik lewat universitas advent, tak lupa bertanya pada penduduk setempat tapi tetap aja gak nemu, sampai akhirnya adzan dzuhur memanggil membuat kami menyerah dan membatalkan kunjungan.

Kalau sekarang sih (2016) curug pelangi ini sudah kondang banget, petunjuk jalannya jelas dan udah ada di google maps sehingga mudah mencarinya. Tapi untung juga dulu gak nemu, karena setelah lihat medannya melalui gambar-gambar yang beredar di sosmed, curug pelangi gak disarankan buat orang hamil apalagi yang udah 8 bulan kayak saya dulu.

Tangkuban Parahu

Menempuh jalan yang berliku-liku untuk mencapai Tangkuban Parahu membuat perut bernyanyi, kami mampir ke salah satu cabang  “Ayam Bakar & goreng Brebes” (kedai ini banyak cabangnya di bandung) yang memang jadi langganan kalau main ke daerah Lembang.

Saya nggak tau (dan nggak pernah nanya juga) kenapa walau mengusung nama Brebes tapi rasanya sangat khas ayam bakar bandung, ukuran ayamnya kecil tapi enak, harganya pun murah. Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan kembali.

Orang Indonesia suka dengan hikayat & dongeng, biasanya tiap tempat ada cerita asal muasalnya, termasuk Tangkuban Parahu ini yang terkenal dengan dongeng Sangkuriang & Nyi Dayang Sumbi, menurut cerita karena kesal tidak dapat memenuhi permintaan Dayang Sumbi untuk membuatkan perahu raksasa dalam waktu semalam, Sangkuriang yang murka menendang perahu tersebut dan perahunya menjadi gunung. Memang bentuknya dari kejauhan (terutama dari arah Garut) seperti perahu terbalik.

Di balik dongeng tersebut, Tangkuban Parahu merupakan kawah berapi yang masih aktif. Kawah ratu, sang kawah utama dari gunung tangkuban parahu, sangatlah mudah dicapai, tidak perlu bersusah payah trekking berm-km atau mendaki ratusan anak tangga, kawah ini dapat dicapai dengan mobil atau motor lewat jalanan yang beraspal mulus. Untuk melihat-lihat pun jalanannya relatif tidak terlalu mendaki, cocok untuk anak-anak, lansia dan juga ibu hamil. Udaranya sangat dingin dengan bau belerang menyengat khas gunung berapi. Pagar kayu yang membatasi bibir kawah merupakan spot yang sangat cantik, dari situ kita bisa melihat kawah yang masih aktif tersebut.

Saya (dengan perut besar) hanya berjalan-jalan santai menikmati pemandangan sambil sesekali berfoto-foto. Kalau lelah banyak bangku-bangku yang bisa digunakan untuk beristirahat dan kalau lapar banyak juga kedai-kedai penjual aneka makanan berjajar.

Sapu Lidi Resort

Sekitar pukul 16.00 kami sampai di Sapu Lidi, Sapu Lidi merupakan restoran dan resort yang didirikan oleh Bob Doank yang merupakan seorang Seniman. Setelah menyelesaikan proses check in di resepsionis, kami diantar menuju lokasi resort yang pintu masuknya bersebelahan dengan pintu masuk restoran.

Melewati pintu masuk ganda dari kayu jati bertuliskan “khusus tamu resort”, kita akan menyusuri jalan setapak dengan pohon-pohon dan bunga-bungaan di kanan kirinya, tidak jauh dari pintu masuk kita akan mendapati becak dan sepeda yang bisa dijadikan properti foto. Lalu kita akan melewati danau luas yang bisa disusuri dengan perahu, danau inilah yang sering jadi lokasi pemotretan pre-wedding. Di sekitar danau tersebar cottage-cottage yang namanya diambil dari dongeng & hikayat sunda.

Cottage yang kami tempati diberi nama pondok euis, merupakan cottage bertipe suite room lake view, jadi cottage-nya tepat di pinggir danau. Bangunannya sendiri didesain bergaya joglo sunda dan yang bikin unik, konsepnya vintage, antik dan tua. Ciri seniman dari sang pemilik sangatlah kental, kusen dan daun pintu jendela sengaja dipilih yang memang sepertinya bekas (namun tetap berkualitas baik karena dari jati), lantai terbuat dari parket kayu, finishing kamar mandi dari batu-batu alam sementara dinding hanya diplester kasar dan dikamprot. Furniture yang dipilih bernuansa antik, tempat tidur dengan kelambu, kursi meja bahkan cermin di kamar mandi bernuansa era zaman penjajahan bahkan TV nya pun masih TV tabung. Memang untuk beberapa orang kesannya kusam, suram, dingin dan gelap (seperti beberapa review yang saya di baca di internet), namun bagi saya justru memang kesan antik ala rumah tua aki & nini itu yang ingin ditonjolkan oleh sang pemilik, konsepnya unik tidak seperti kebanyakan resort modern lainnya.

Kamar mandinya berkonsep alam dengan batu-batu kasar yang kesannya disusun acak, dilengkapi dengan standing shower hot/cold, toilet duduk & wastafel. Toiletries standar. TV-nya tidak begitu lengkap pilihan channelnya, sementara AC walau ada tapi tidak perlu digunakan mengingat saat malam hawa dingin di Lembang sangatlah menggigit.

Fasilitas yang didapatkan memang standar untuk resort berbintang tiga, tidak ada swimming pool atau playground, tapi sebagai gantinya kita bisa berjalan-jalan dengan trek yang lumayan panjang mengelilingi resort dengan pemandangan yang indah dan udara dingin yang sejuk segar. Keuntungan lainnya adalah naik perahu di danau sepuasnya, breakfast, diskon 15 % makan di Sapu lidi Restaurant serta diskon 10 % di merchant Sapu Lidi.

Karena saat kami check-in hari sudah sore dan kami sudah sangat lelah sehabis berjalan-jalan di Tangkuban Parahu, maka kami memutuskan untuk beristirahat saja sambil leyeh-leyehdan menikmati pemandangan danau dari balkon kami.

Sapu Lidi Restaurant

Selepas maghrib kami bermaksud mencoba restoran Sapu Lidi yang terkenal dengan slogannya “makan di sawah”. Pada saat check in kami diberi beberapa kupon, salah satunya adalah kupon diskon sebesar 15 % makan di Sapu Lidi. Melalui pintu penghubung yang terletak di depan danau, kami menuju restaurant, ternyata saat malam penerangan di sekitar kurang memadai, gelap dan harus berhati-hati saat menapak.

Kami diberi tempat di salah satu saung kecil dengan kapasitas 4-5 orang. Untuk memanggil waiter, kita cukup memukul kentongan yang sudah disediakan di masing-masing saung seperti zaman dahulu. Sesuai dengan hasil googling soal referensi menu, signature dish dari Sapu lidi ini adalah Ayam Kahaseupan dan Jamur jadi ngenah. Harganya memang cukup mahal, standarnya restoran bertipe menjual pemandangan seperti ini sih, tapi masih dalam kisaran wajar.

Ayam kahaseupan ini ternyata adalah satu ekor ayam kampung (satu porsi satu ekor ayam) yang cara masaknya dengan teknik pengasapan. Ayamnya dibumbui dengan bumbu khas dan masih tercium aroma sedap dari asap arang, jadi rasanya enak dan unik. Sementara jamur jadi ngeunah adalah jamur yang digoreng tepung sehingga membentuk adonan seperti bakwan tebal dan dibumbui dengan saus manis. Untuk porsi berdua hanya dengan memesan dua jenis hidangan ini saja sudah lebih dari cukup, bahkan kita kekenyangan banget.

 Rumah Mode Factory Outlet

Sebagai ibu-ibu hamil yang kebanyakan acara, pukul 7 malam tentunya masih sore banget menurut saya, jadi setelah puas makan, kami menuju ke Rumah Mode Factory Outlet yang berlokasi di Jl. Setiabudi.

Rumah Mode ini termasuk salah satu Factory Outlet yang paling besar, paling lengkap dan terkenal dari jajaran FO-FO di sekitar Setiabudi, sehingga tidak heran kalau malam minggu parkiran mobil penuhnya bukan main bahkan kami terpaksa parkir di pinggir jalan, padahal lahan parkir di Rumah Mode sudah luas.

Sebenarnya sejak dulu saya memang bukan penggemar FO, bagi saya mahal dan ragam pilihannya masih lebih bagus di chained toko langganan saya, tapi balik lagi ke selera sih ya, buktinya FO di Bandung gak pernah sepi pembeli. Saya dan suami hanya berputar-putar saja dari satu outlet ke outlet lainnya.

IMG_2125

Maja House 

Masih dalam rangka hari anniversary jadian, maka setelah menyambangi FO, kami bermaksud untuk ngopi-ngopi canti dulu di salah satu tempat yang lagi happening banget di Lembang (bahkan sampai sekarang) yaitu Maja House. Tidak sulit untuk mencari lokasi Maja House, letaknya persis sebelum Kampung Gajah dan dari kejauhan bentuk bangunannya yang khas sudah bisa dikenali.

Maja House ini merupakan rooftop bar dan restaurant, konsepnya bener-bener untuk anak muda, sehingga kurang cocok kalau membawa keluarga ke sini. Untuk menuju restoran kita harus menaiki beberapa anak tangga, lalu kita bisa memilih mau di outdoor atau di indoor. Untuk pemandangan sebenarnya jauh lebih bagus di outdoor, kita bisa menikmati cantiknya pemandangan Lembang dari ketinggian , tapi sayangnya saat kami ke sini sudah full sehingga kami harus puas di Indoor. Interior cafe konsepnya semi bar, dengan pencahayaan yang remang-remang dan hingar bingar musik techno dan sesekali lagu barat yang sedang populer, saat saya ke sana mayoritas pengunjungnya memang anak muda.

Karena memang cuma mau nongkrong, kami hanya memesan makanan ringan berupa potato wedges dan light beverage (di sini juga disediakan alkohol). Potato Wedges nya sendiri disajikan secara cantik dengan lelehan mozzarella dan salad. Ice Chocolate & orange juice disajikan dalam gelas besar. Overall rasanya enak dan cukup mengenyangkan.

Memang tempat ini enak buat nongkrong sambil berlama-lama mengobrol, tidak terkecuali kami berdua yang sibuk ngobrol mengenang masa pacaran dulu sambil mengelus-elus perut berisi baby G yang sebentar lagi akan lahir. Tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 23.00 sehingga kami bergegas kembali ke hotel.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s