Posted in Bandung, Indonesia, West Java

Sapu Lidi, Museum Geologi & Saung Angkung Mang Udjo

(Masih) Sapu Lidi

Setelah istirahat semalaman, pagi ini kami siap untuk mengeksplorasi Sapu Lidi. Bangun di pagi hari saat kebanyakan tamu kamar lain masih terlelap itu sangat menyenangkan, kita bebas jalan-jalan santai sambil sesekali berhenti untuk berfoto tanpa ada jeda orang lewat karena masih sepi. Danaunya dikelilingi oleh jalan setapak melingkar yang menghubungkan satu cottage dengan cottage lainnya. Ada properti sepeda dan becak yang bisa dipakai untuk foto, beneran cuma buat foto, becaknya sengaja dirusak rantainya biar nggak bisa digowes begitupun sepedanya yang memang sudah butut, mungkin maksudnya agar properti tidak berpindah tempat. Pemandangannya memang indah, asri dengan barisan tanaman yang tersusun rapat di kanan kiri, jalannya pun tidak diperkeras dengan aspal melainkan hanya berbatu-batu seperti jalan kampung.

Setelah satu putaran berkeliling, kami mau ikut-ikutan foto ala pre wedding di sampan. Tapi berhubung masih pagi, para pengayuh sampan masih belum ada yang kelihatan, untungnya suami saya (yang memang tumbuh besar di kampung) bisa mengayuh sampan sendiri, bahkan tergolong jago karena dia sama sekali tidak terlihat kesulitan atau takut. Tanpa mamang pengayuh sampan, kami menyusuri sendiri danau tersebut, danaunya tidak begitu luas, hanya butuh waktu sekitar 15 – 20 menit untuk satu putaran.

Lelah mendayung sampan, suami mengajak untuk breakfast di restoran. Menunya menurut saya oke banget, menu ala sunda yang rasanya tidak diragukan, ada nasi kuning dan beraneka lauk pauk lainnya ditambah dengan sambal yang pedasnya mantep banget.

Selesai breakfast kami jalan-jalan di area restoran dan ternyata memang lebih baik datang ke Sapu Lidi saat matahari masih menyapa karena pemandangan sawah padi ijo royo-royo baru bisa dinikmati. Kontras dengan saat semalam saya makan di sini yang menurut saya gelap dan penerangannya kurang. Saat siang justru sensasi “makan di sawah” baru terasa, suasana khas pedesaan sunda dengan hamparan sawah, saung-saung, jalanan setapak , jembatan, aliran sungai dan empang kecil disertai alunan degung sunda yang adem di kuping.

Museum Geologi & Gedung Sate

Selepas leha-leha dan check out dari Sapu Lidi, masih ada beberapa destinasi lagi yang akan kami tuju, setelah kemarin tema-nya alam, hari ini tema-nya sejarah dan budaya. Destinasi pertama adalah museum geologi dan gedung sate yang letaknya bersebrangan di Jl. Diponegoro. Datang ke pusat kota di hari minggu adalah suatu keputusan yang tidak tepat, jalan layang pasupati macet total hingga kendaraan berhenti, mendekati Jl. Surapati lalu lintas pun tidak kalah macet karena ramainya orang lalu lalang. Perjalanan yang menurut google maps hanya butuh waktu 40 menit, molor menjadi 2 jam.

Sampai di museum geologi pun kami tidak bisa parkir karena penuh sehingga kami parkir di sepanjang jalan taman lansia. Museum Geologi menempati bangunan tua bercat putih peninggalan zaman Belanda, tiket masuknya hanya sebesar 5K/orang.

Sesuai dengan namanya, museum geologi memamerkan beragam jenis batuan dan sumber daya mineral yang ada di berbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia. Ada berbagai jenis peta hasil penelitian yang mencakup peta geologi,geomorfologi,geofisika,gunung berapi dll. Ada satu ruangan berisi maket gunung berapi yang ada di Indonesia dengan ukuran cukup besar beserta informasi mengenai berbagai gunung berapi aktif yang ada di Indonesia.

Di ruangan lainnya ada koleksi prasejarah mencakup tulang belulang & tengkorak manusia purba seperti homo erectus & pitecanthropus, lukisan – lukisan, peralatan dan peninggalan lainnya. Ada juga tulang belulang binatang menyusui seperti gajah dan juga satu replika seukuran asli dari tyranosaurus rex.

Museum sangat terjaga kebersihannya dan dilengkapi dengan AC yang nyaman. Saat saya ke sini, banyak keluarga dengan anak kecil yang berkunjung, senang rasanya melihat keluarga yang membawa anaknya wisata museum untuk edukasi.

Keluar dari museum geologi kami terpaksa membatalkan kunjungan ke gedung sate karena sudah kelelahan (ibu hamil cepet capek), selain itu gedung sate pun ramai karena sedang dipakai untuk acara. Kami makan siang sederhana di kedai penjual soto yang mangkal di depan taman lansia dan segera menuju destinasi selanjutnya.

Saung Angklung Mang Udjo

Banyak banget review di internet yang sangat menyarankan untuk berkunjung ke Saung Angklung Mang Udjo, membaca begitu banyak rekomendasi dan review bagus, saya mengajak suami saya untuk berkunjung ke sini.

Karena sampai pukul 14.00 lewat, kami sudah telat untuk pertunjukkan pertama pukul 13.30 , sehingga kami menunggu untuk pertunjukkan selanjutnya di pukul 15.30 . Saung Angklung Mang Udjo adalah suatu sanggar kesenian angklung yang sudah berdiri sejak tahun 1966, dipelopori oleh Udjo Ngalalena dan istrinya. dengan tujuan untuk melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda. Saya pernah mendengar namanya karena sering ada kontingen budaya Indonesia yang diwakili oleh Sanggar ini pentas di luar negeri.

Sambil menunggu kami berkeliling toko souvenir yang menjual berbagai cinderamata khas sunda seperti wayang golek, angklung, gantungan kunci, boneka dll. Harga souvenir tidak begitu mahal dan bahkan kadangkala ada beberapa item yang didiskon. Setelah itu kami ber-istirahat di ruang tunggu yang berupa kursi-kursi bambu di lapangan luas yang penuh dengan pepohonan bambu. Saat saya ke sini , banyak turis-turis mancanegara yang berkunjung, mungkin tempat ini malah lebih kondang di luar negeri dibanding negeri sendiri ya.

IMG_2208

Tepat 10 menit sebelum acara dimulai, kita akan dipersilakan masuk ke ruang pertunjukkan. Tiket yang sudah dibeli sudah termasuk kupon free soft drink atau es lilin yang bisa ditukarkan di dalam ruang pertunjukkan. Ruangannya sendiri berbentuk semi outdoor dengan bentuk setengah lingkaran, bangkunya disusun bertingkat speerti di stadion sementara panggungnya sendiri terletak di dasar.

Pertunjukkan dibuka oleh dua orang MC, MC yang satu berbahasa indonesia dan MC yang satunya kemudian akan menerjemahkan dalam bahasa inggris yang fasih, itulah salah satu faktor mengapa tempat ini ramai turis.

IMG_2215

Acara dimulai dengan pertunjukkan wayang golek singkat selama 15 menit, lakonnya lucu/dagelan, sehingga walau tidak mengerti bahasa sunda seperti saya pun akan ikut terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah polah wayang yang jenaka. Kemudian dilanjutkan dengan upacara helaran, upacara ini merupakan upacara tradisional sunda untuk anak yang sedang melaksanakan sunatan, ada arak-arakan panjang, sementara anak yang disunat akan diarak berkeliling di atas sebuah bangku.

Acara dilanjutkan dengan suguhan tari merak, suatu tarian tradisional dari sunda yang menggambarkan keindahan burung merak, adapun penarinya sangatlah cantik-cantik dan gerakannya pun gemulai. Dilanjutkan dengan tarian yang dibawakan oleh beberapa anak lelaki yang enerjik, saya lupa nama tariannya apa.

IMG_2227

Setelah itu panitia akan membagikan angklung kepada para tamu dan pertunjukkan utama pun dimulai, pertunjukkan angklung yang benar-benar bikin hati bergetar. Betapa bangganya menyaksikan dan mendengarkan keindahan permainan angklung yang dibawakan secara piawai oleh para murid-murid asuhan Sanggar Udjo ini. Lagu yang dibawakan bukan hanya lagu tradisional bahkan lagu nasional dan lagu populer mancanegara pun mampu dialunkan oleh angklung.

Kemudian pembawa acara akan mengajak para tamu untuk belajar memainkan angklung secara singkat melalui angklung yang dibagikan tadi. Caranya pembawa acara akan memberi aba-aba nada yang akan dimainkan dan para tamu yang membawa angklung dengan nada tersebut harus memainkannya saat aba-aba diberikan. Sangat seru dan meriah, terlihat dari betapa antusiasnya reaksi para tamu.

Acara ditutup dengan berjoget sambil bernyanyi bersama di panggung pertunjukkan, biasanya anak-anak dan para turis yang akan diajak untuk berpartisipasi. Keseluruhan acara sangat menyenangkan dan penuh nilai budaya, sehingga durasi 1,5 jam rasanya tidak terasa. Saya sangat menyarankan untuk berkunjung ke tempat ini sehingga kita bisa mengenal budaya luhur bangsa khususnya angklung Sunda melalui tempat ini.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s