Posted in Singapore

Singapore 2011 : bahagianya saat pertama paspor dicap (Bagian 1)

Ini sebenarnya postingan kisah yang sudah lampau..lampau banget malah (saking udah lamanya) tapi baru sekarang mood nulis.

Ini adalah kisah saat pertama kalinya paspor saya dicap, which means pertama kalinya saya keluar negeri, bayangkan betapa berbunga-bunganya perasaan saya, betapa excited-nya saya kala itu. Sebagai pemula tentunya cap paspor berkisar antara negara tetangga seperti Singapore & Malaysia. Cap paspor pertama saya bertengger di Singapore.

Terinspirasi dari cerita sepupu saya (sebut saja namanya Grace, kenapa Grace? karena saat saya menulis ini sambil dengerin You don’t own me by Grace) yang sudah sering travelling mandiri ke beberapa negara tetangga, tentang betapa mudahnya travelling mandiri di negara-negara tersebut ditambah foto-foto menarik yang di-upload di sosmed, membuat keinginan saya untuk memulai karir “travelling” makin memuncak.

Sampai suatu saat saya iseng mengemukakan ke Grace kalau saya pingin banget ke sana, Grace (yang memang jatuh cinta pada Singapore) pun malah menyambut keinginan saya dengan ajakan “yuk jalan berdua ke sana”. Saya pun buru-buru membuat paspor, sementara tiket pesawat & akomodasi diurus oleh Grace. Itinerary kami susun berdua, tentunya dengan banyak masukan dari Grace yang sudah beberapa kali menyambangi Singapore, maklum saat saya googling banyak banget destinasi menarik terlebih bagi saya yang belum pernah, kelihatannya semua jadi menarik dan menarik banget, padahal mah durasi perjalanan kami hanya 3D2N, sehingga Grace merasa perlu membatasi destinasi yang masuk kategori “wajib” dulu .

Day 1 : Changi Airport, Bugis, Merlion Park, Mustafa & Orchard Road

Karena pesawat akan berangkat jam 06.00 esok, malamnya saya menginap di rumah Grace. Malam itu saya gak bisa tidur saking excited-nya, antara senang, takut dan seabreg hal lainnya khas pre anxiety syndrome, sampai jam 02.00 saya harus bangun untuk bersiap-siap saya belum tidur sama sekali, haha. Dengan diantar suami Grace kami bertolak ke bandara pukul 03.00 subuh. Suasana di bandara sudah ramai, terlebih di counter check in Lion Air yang mengular, karena tidak membawa bagasi (saya & Grace hanya membawa satu ransel dan satu tas selempang) dan sudah melakukan proses web check in, kita langsung melenggang ke ruang boarding.

Penerbangan berjalan tepat waktu dengan durasi dua jam, pukul 09.00 (waktu Singapore yang sejam lebih cepat) kami tiba di Changi. Begitu menjejakkan kaki di Bandara, saya terharu banget akhirnya saya bisa mewujudkan mimpi saya ke sini. Deg-degan banget saat melewati gerbang imigrasi, padahal mah boro-boro ditanya, cuma dilihat & dicap paspornya aja.

Perasaan terharu berganti takjub saat melihat betapa canggih dan megahnya Changi Airport, saat itu masih akhir bulan November tapi suasana bandara sudah marak dengan dekorasi natal yang meriah, belum lagi dengan interiornya yang “wah banget”, tentunya membuat penganut narsis akut seperti saya gak henti-hentinya minta difotoin begitu nemu spot lucu. Di Changi ini pertama kalinya saya melihat travelator flat (norak banget ya haha) yang membuat saya membulatkan mata. Terbiasa berjibaku dengan kemacetan pulang pergi di bandara Jakarta, membuat saya makin terkagum-kagum dengan adanya train yang terintegrasi dalam sistem MRT langsung dari Bandara ke pusat kota. Hanya butuh waktu 25 menit dari Bandara ke Bugis (kawasan di mana hotel kami berada) dengan armada yang bersih, full AC, nyaman, tertib dan tepat waktu. Berbekal EZ Link (semacam smartcard untuk berbagai moda transportasi di Singapore) yang dipinjamkan oleh teman sekantor Grace, rasanya canggih & praktis banget tinggal tap kartu untuk naik MRT. EZ Link ini juga sempat saya isi saldonya di salah satu mesin “Top Up” yang banyak tersedia di stasiun MRT, kalau bingung caranya ada petugas yang siap siaga untuk memberi info.

Sistem MRT kurang lebih sama persis dengan Busway di jakarta, tap kartu dan bayar saat keluar koridor, kalau pindah koridor gak bayar, peta jalurnya pun gak rumit karena Singapore negara kecil. Websitenya pun sangat informatif sampai ke detil “fare” nya, cukup dengan mengklik stasiun keberangkatan dan tujuan, kita sudah bisa mendapatkan rute lengkap dengan biayanya sehingga sejak masih di tanah air pun saya sudah bisa menghitung berapa biaya yang harus saya keluarkan. Tanpa EZ Link pun sebenarnya bisa namun biayanya lebih mahal dan tentunya lebih repot karena harus membeli kartu tiap perjalanan.

23092009029singapore-mrt

MRT Bugis terletak di bawah tanah Bugis Junction (suatu kawasan Mall besar). Kami langsung menuju ke Hotel yang sudah kami booking sebelumnya yaitu Beach Hotel yang terletak di Beach Road, 400 m dari MRT Bugis. . Selain karena kepingin menitipkan tas dulu (biar jalan-jalannya ringan dan gak bawa gembolan), Grace juga agak ketar-ketir karena ini pertama kalinya dia menggunakan Booking.com, biasanya Grace menggunakan Agoda yang mewajibkan pembayaran 100% sementara Booking.com hanya mewajibkan DP 10% dan sisanya dibayarkan langsung di hotel. Jadi dia agak khawatir kalau telat check-in jangan-jangan booking nya dibatalkan.

Bodohnya kita lupa untuk mengambil peta Singapore gratis yang bisa diambil di Changi, sementara Grace belum mengaktifkan paket internet, jadilah berbekal ingatan akan peta yang pernah dilihat selintas di internet, kita dengan pedenya mencari letak Hotel tersebut. Bukannya ke arah beach Rd, dari Rochor Rd kita malah mengambil arah sebaliknya ke North Bridge hingga ke Ophir Rd yang kental nuansa Arab-nya, akhirnya kita bertanya sama orang arah Beach Rd, itupun malah kelewat jadinya ke Nicoll Highway sehingga kita balik lagi. Ternyata setelah ketemu, letak hotelnya memang deket banget MRT Bugis, tinggal nyebrang North Bridge Rd dan ambil jalan pintas lewat Liang Seah St. Capek sejam lebih muter-muter nyari hotel, untungnya kita bisa check in early (jam 11.30 udah boleh check in, Grace tentunya lega banget, sambil mengecek berkali-kali bahwa Pihak Hotel gak akan mendebet CC nya lagi karena sisa pembayaran langsung dibayar ke Hotel) karena sedang kosong, sehingga kita bisa istirahat dulu melepas lelah akibat jalan kaki dan kepanasan.

Jam 13.00 kita menuju destinasi pertama yaitu Merlion Park. Saya yang dulu masih centil, sempet-sempetnya bawa 2 sendal cadangan plus ganti baju dulu (padahal baju yang tadi baru aja dipakai sebentar), satu hal yang udah gak pernah saya lakukan sejak jadi backpacker dengan prinsip travel light. Sebelumnya kita mengisi perut yang udah keroncongan di salah satu Food Court yang terletak di basement Bugis Junction. Harga yang dipatok bervariasi mulai dari 3 SGD, saya yang suka kulineran langsung memilih mie baso ala Singapore lengkap dengan Teh Tarik, rasanya cukup cocok di lidah Indonesia saya.

Tidak seperti kebanyakan orang yang memilih untuk turun di MRT Raffles Place atau City Hall untuk menuju Merlion Park, Grace menyarankan untuk turun di MRT Marina Bay dengan alasan lebih banyak spot yang bisa dilihat, saya sih tentu manut aja. Marina Bay merupakan kawasan perkantoran dengan gedung-gedung tinggi prestisius yang sudah dikelola dengan baik planningnya, terbukti dengan banyaknya taman kota dan pedestrian yang apik. Kesan saya Singapore itu sangat ramah terhadap pejalan kaki, pedestrian yang luas dan benar-benar sesuai penggunaannya, gak ada motor/sepeda iseng mampir apalagi pedagang. Pejalan kaki nyaman berjalan dan tertib aturan, Singapore benar-benar steril.

Dengan diselingi jeprat-jepret sampailah kita di Merlion Park , kawasan wajib buat orang yang pertama ke Singapore. Jauh dari bayangan saya, saya pikir mendengar kata “Bay” yang terbayang adalah Ancol, suatu kawasan berpasir dengan bangunan pinggir pantai, ternyata Merlion Park hanyalah anjungan di muara sungai, gak ada lautnya apalagi pasir.

Dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi, Merlion Park adalah sebuah anjungan yang terkenal karena ada patung icon Singapura yaitu Merlion (the Mermaid Lion, binatang legenda Singapore) bisa dibilang rasanya gak sah ke Singapore kalau belum ke sini. Gedung-gedungnya sendiri memang mencuri perhatian, ada Marina Bay Sands yang betuknya seperti kapal (nyasar/nemplok) di atas tiga menara, Esplanade si gedung durian, Raffles hotel yang vintage dan penuh nilai historis. Belum lagi Singapore flyer, si bianglala raksasa yang di apabila kita di puncaknya kita bisa melihat tiga negara (Indonesia, Singapore, Malaysia), ada jembatan superkeren Helix bridge (yang sbeenarnya lebih keren waktu malam karena lightingnya) hingga The Float, stadion eye catching berwarna warni ala pelangi .Dari posisi patung Merlion kita bisa menikmati semua pemandangan tersebut. Menelusuri  merlion park kita akan menemukan Cavenagh Bridge, jembatan tertua di Singapore yang sangat instagramable, atau Anderson Bridge atau terowongan bawah tanah (saya lupa pesisnya di mana tapi mudah menemukannya) yang berbentuk tunnel seperti di film-film SciFi. Teruskan perjalanan hingga mencapai kawasan historis Singapore di mana terdapat Asian Civilization Museum, Victoria Theater & national gallery, sayangnya saya gak sempet masuk karena waktu terbatas, hanya bisa mengagumi bangunannya yang sepertinya sudah berumur namun sangat terawat.

Tadinya kita mau naik Singapore flyer, tapi rasanya naik bianglala di siang hari (jam 14.00 – 15.00) kurang pas, kurang cantik pemandangannya, sehingga kita batalkan dan langsung menuju Mustafa Center untuk beli oleh-oleh (cewek berdua pasti sama-sama doyan belanja).

Untuk ke Mustafa Center kita harus turun di stasiun MRT Ferrer Park (bukan di Little India lho ya), menyebrang Serangoon Rd (inget serial televisi baru-baru ini) hingga tiba di Serangoon Plaza, Grace mampir di sini untuk membeli oleh-oleh . Serangoon Plaza adalah semacam Mall dengan banyak gerai jam tangan, sepatu, tas dll dengan kualitas bagus dan bisa ditawar. Di sini Grace membeli jam tangan seharga 10 SGD.

Serangoon Plaza dan Mustafa Center ini termasuk dalam kawasan Little India, sesuai dengan namanya, kawasan ini merupakan pemukiman etnis India. Toko-toko milik orang India, ibu-ibu berpakaian sari, kuil-kuil hindu, aroma menyengat khas masakan india dari restoran di sepanjang jalan hingga lantunan lagu india bakal kamu temui di sini.

Mustafa Center merupakan toko serba ada milik pengusaha asal India bernama Mustafa. Segala macam barang memenuhi rak-rak yang berjajar, ada gerai elektronik, gerai handphone, money changer, restoran bahkan hingga VCD India. Tujuan utama kita ke sini adalah membeli coklat, karena Grace bilang pilihan coklat di sini paling banyak. Saya memilih coklat khas souvenir, apalagi kalau bukan coklat berbentuk merlion yang dikemas dalam kotak isi 10, harganya pun murah meriah, 10 SGD per 3 kotak, standarlah untuk oleh-oleh. Untuk kaos, gantungan kunci dan printilan lainnya, Grace menyarankan beli di Orchard atau Bugis saja besok.

Grace juga mewanti-wanti saya untuk ke gak ke kawasan Little india saat malam karena agak rawan. Satu nasihat yang gak saya turuti karena tahun depannya saya bahkan menginap di kawasan ini saat berkunjung ke Singapore karena alasan akomodasi lebih murah, dan alhamdulillah aman. Memang sih pernah muncul di berita ada kerusuhan di kawasan ini, belum lagi badan orang India yang tergolong besar-besar terkadang bikin serem, tapi selain itu fine-fine aja sih.

Puas belanja (sambil menenteng tambahan dua plastik) kami kembali ke hotel untuk istirahat. Menjelang malam kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Orchard Road.

Orchard Road merupakan area perbelanjaan di mana sepanjang jalan banyak terdapat mall-mall besar, sebut saja ION, Wisma Atria, Tang Plaza, Lucky Plaza, Paragon dll. Mengikuti saran Grace kita tidak turun di stasiun MRT Orchard melainkan di Somerset dengan alasan agar kita bisa melihat lebih banyak mall-nya. Karena sudah sepakat hanya mau mencari oleh-oleh di Lucky Plaza, kami tidak masuk ke mall-mall lainnya (lagian toh mall di mana-mana isinya sama), hanya sekedar berfoto-foto di sepanjang Orchard Rd, apalagi seperti yang telah saya kemukakan di atas, dekorasi natal sudah meriah sekali ditambah dengan lighting dari mall-mall membuat suasana malam di orchard kian hidup.

Sebelum menuju Lucky Plaza kami mampir dulu di Wisma Atria untuk makan di Food Republic. Franchise food court ini juga sekarang sudah ada di jakarta. Makanannya cukup terjangkau dengan harga mulai dari 3 SGD, satu kebiasaan saya di kemudian hari dalam karir travelling saya adalah makan di gerai foodcourt karena harganya murah dan terpampang jelas.

Lucky Plaza terkenal dengan toko-toko souvenir murahnya, kaos souvenir mulai dari 10 SGD/3 buah, hingga yang paling mahal 10 SGD/buah, tapi bagi saya yang harga 5SGD/buah sudah cukup bagus kualitasnya. Gantungan kunci dibanderol 10 SGD/5 buah, magnet 10 SGD/3 buah, dompet susun seharga 5 SGD/set, tas-tas aneka rupa cuma 10 SGD/buah, dan beraneka macam barang lainnya yang harganya terjangkau. Saya seperti biasa penggemar kaos bertulis “i love blalabla” yang menurut saya cocok banget jadi oleh-oleh. Puas belanja kami kembali ke hotel untuk istirahat.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s