Posted in Indonesia, Yogya

Prambanan Temple, Pop Hotel, Monumen Tugu, Angkringan & Malioboro

Prambanan Temple

Sebenarnya idul adha tahun lalu baru aja saya, suami dan anak-anak ke sini, tapi demi mama mertua yang belum pernah berkunjung ke sini sehingga mampirlah kita, kebetulan rute solo – yogya melewati candi ini.

Candi prambanan ini memiliki legenda rakyat yaitu antara Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Saya suka sekali kisah ini, tentang seorang gadis cantik yang menolak pinangan seorang ksatria tampan menawan karena baktinya pada sang Ayah, walau tahu ayahnya jahat. Kasus yang gak mungkin banget ada di novel-novel zaman sekarang yah, setidaknya di halequin sih pastinya sang gadis takluk akhirnya. Permintaan Roro Jongrang berupa seribu candi sebagai mahar inilah legenda asal muasal candi prambanan.

Datang ke kompleks candi prambanan saat tengah hari bolong sebenarnya bukan pilihan yang tepat. Memang medan candi prambanan tidaklah seberat candi borobudur yang mengharuskan kita mendaki, kompleks candi prambanan ini datar dan jarak dari pintu masuk hingga ke area candi tidaklah jauh, tapi tetap saja saat matahari terik menyengat bukanlah waktu yang nyaman untuk menikmati area candi.

Oh iya tolong dibedakan antara candi prambanan dan candi sewu ya, walau sering disebut sebagai candi sewu, sebenarnya candi prambanan dan candi sewu  adalah dua kompleks candi yang berbeda. Candi sewu terletak beberapa ratus meter di belakang candi prambanan, ada layanan mobil berbayar untuk tur dari candi prambanan untuk mengunjungi candi sewu dan beberapa candi kecil lainnya sebesar 35K/orang, sayangnya kemarin saya nggak sempat mencoba tur ini. Selain itu ada juga rental sepeda untuk berkeliling area prambanan, tapi sekali lagi datang saat matahari tinggi di ubun-ubun bukanlah pilihan yang tepat, aplagi bawa dua anak balita.

Kompleks candi prambanan terdiri atas 3 candi utama, yaitu candi brahma, wisnu dan shiva, serta beberapa candi kecil lainnya. Arca yang dipercaya Roro Jonggrang yang dikutuk menjadi batu terletak di candi shiva (candi paling kiri), menurut kepercayaan turun temurun, anak gadis yang belum menikah dilarang mengunjungi arca ini karena mitosnya nanti susah dapet jodoh, seperti roro jonggrang dan para gadis desa yang yang dikutuk oleh Bandung Bondowoso untuk melajang selamanya karena membantu roro jonggrang. Kalau saya sih menikmati legenda tapi tidak percaya, lha wong menurut para pakar arkeologi itu adalah arca dewi durga kok.

Saya, suami dan anak-anak memilih mencari “pojok adem” karena belum lama baru saja berkunjung ke sini, sementara mama mertua saya lincah berkeliling area kompleks sendirian . Anak-anak memang belum mengerti candi, yang ada mereka malah anteng mainan batu dan pasir.

Puas melihat-lihat kami beranjak meninggalkan area candi. Berbeda dengan jalan masuk yang dekat, jalan pulang sengaja sibuat melingkar jauh apalagi di ujungnya memang adalah area kios-kios penjual makanan dan cinderamata yang karena pengaturan ventilasinya menurut saya kurang sehingga terkesan panas dan sumpek.

Saran saya untuk mengunjungi candi prambanan pilihlah waktu di sore hari, lebih bagus lagi ikutan paket lengkap wisata dua candi (prambanan & boko) dengan shuttle bus PP ber-AC yang ditawarkan resmi di loket tiket , harganya pun lebih murah. Setelah mengunjungi candi prambanan kita dapat menikmati sunset yang super indah di ratu boko. Malamnya bisa menonton ramayana ballet (satu hal yang belum saya lakukan dan mudah-mudahan terwujud, amin).

Pop Hotel Tugu

Setelah lelah berpanas-panas ria kami segera menuju ke Pop Hotel cabang A.M. Sangaji yang sudah kami booking sebelumnya. Kami memilih hotel ini karena letaknya yang strategis, persis di sebelah tugu Jogja dan hanya 700 m dari malioboro.

Sesuai dengan harganya dan juga bintangnya, jangan berharap lebih ya walaupun ini hotel franchise. Mengusung tema “pop” menjadikan hotel ini sangat bergaya anak muda, mulai dari resepsionis hingga semua staf mengenakan seragam santai dengan celana pendek, hotel pun dicat meriah warna-warni, pintu tiap kamar pun beda-beda warnanya. Kamarnya standar, saya mendapat double bed dengan fasilitas berupa satu sofa minimalis panjang danTV berchannel, kamar mandinya berbentuk kapsul dan saking sempitnya wastafel ditempatkan di luar, handuk dan toiletrries memang disediakan walau standar (sabun & shampoo sachet aja, udah ga ada sikat gigi apalagi odol).

13697222_10154419906314623_7381502068881307645_n

Angkringan & Malioboro

Selepas maghrib kami berjalan ke malioboro, tidak lupa mampir untuk selfie dulu di titik nol kilometer jogja yaitu di tugu jogja. Jalan di sekitar area tugu berupa paving bukan aspal. Hati-hati kalo mau selfie karena tugu ini terletak di tengah perempatan ramai, lihat-lihat kanan kiri jangan sampai keasikan selfie malah keserempet motor atau mobil. Tugu ini memang sangat populer sebagai spot foto sehingga tidak mengherankan jam berapa pun ramai dengan anak-anak muda.

13654128_10154403655234623_1878469795419890592_n

Kami terus berjalan lurus ke arah malioboro melalui jalan margo utomo, di sepanjang jalan ini berjejer angkringan dengan menu yang tentunya bikin lapar mata. Karena memang sudah waktu makan malam, kami berhenti di salah satu angkringan. Angkringan ini terkenal dengan menu nasi kucing  yang dibanderol 3K/bungkus dan beragam lauk pauk berupa sate dan gorengan. Sejujurnya menurut saya rasa nasi di angkringan so-so, ga bisa dibilang enak banget, standar sih, tapi yang seru adalah mencecap budayanya, dengan makan di angkringan kita mencecap “rasa jogja”, kita akan duduk lesehan di tikar dengan menu sederhana sambil sesekali diselingi dengan alunan suara keroncong dari para pengamen. Suatu atmosfer yang hanya bisa didapatkan di jogja, rasa jogja.

Puas mengisi perut kami melanjutkan perjalanan ke malioboro, suatu pedestrian panjang berisi penjual beraneka macam cinderamata khas jogja. Suatu tempat wajib yang kalau sudah dikunjungi rasanya baru sah sudah ke jogja, makanya saya mengajak mama mertua saya ke sini karena ini pertama kalinya beliau menyambangi joga. Malioboro di hari apapun tidak pernah sepi, rasanya tidak ada off season di sini.

Entah sudah berapa kali saya mengunjungi tempat ini tapi rasanya tak pernah bosan, padahal tak jarang saya ke sini hanya melihat-lihat sambil lalu lalang tanpa membeli apapun. Penjual cinderamata aneka rupa berderet di lorong depan pertokoan, favorit saya adalah kaos bertulis dan bergambar jogja yang lucu-lucu yang biasa saya beli sebagai oleh-oleh. Gunakan keahlian tawar menawar di sini padukan dengan bahasa jawa (kalau bisa) tapi hati-hati dengan barang bawaan karena banyak copet.

Tentunya karena membawa dua balita saya tidak bisa berlama-lama di sini karena area toko penuh sesak sementara pedestrian dipenuhi dengan dokar sehingga bagi balita tidak terlalu nyaman. Setelah puas membeli beberapa kaos dan oleh-oleh kami berjalan kembali ke hotel.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s