Posted in Central Java, Solo

Candi Sukuh & Grojogan Sewu

Dua lokasi wisata ini memang sudah masuk dalam itinerary list libur lebaran tahun ini, tapi berhubung tiba-tiba eyang kung info kalau sabtu malam beliau mau mengadakan syukuran di kampung halaman, maka jadilah kita dadakan memajukan jadwal yang seharusnya sabtu menjadi jumat.

Start jam 08.00 pagi dari Purworejo, ditambah berhenti sejenak untuk menunaikan shalat jum’at, jadilah kita baru sampai di lokasi pertama kita, candi sukuh, baru pukul 14.00.

Candi Sukuh

Terletak di kaki gunung lawu sehingga kita harus menempuh jalan terjal nan berliku untuk mencapai candi yang satu ini. Untuk mencari lokasi candi ini ikuti saja petunjuk marka jalan yang sangat jelas mulai dari kota Solo hingga ke daerah tawangmangu, atau di google maps pun sudah sangat jelas. Perut sebenarnya sudah keroncongan tapi berhubung anak bungsu saya masih tertidur lelap, kita melewatkan banyak rumah makan dengan pikiran nanti saja kalau si bungsu sudah bangun. Ternyata si bungsu bangun saat sudah hampir mendekati candi dan semakin menanjak semakin jarang ada rumah makan, kalaupun ada cuma warung sederhana seadanya.

Sampai akhirnya kita tiba di lokasi candi segeralah kita mencari warung seadanya yang penting bisa makan. Rasanya jujur gak enak tapi murah meriah, nasi soto untuk porsi 5 orang lengkap dengan minum cuma habis 40K. Saran saya carilah makan sebelum jalan mulai mendaki terutama sebelum pertigaan arah grojogan sewu dan candi sukuh karena selepas itu sulit mencari warung makan.

Kompleks candi sukuh tidaklah besar, kurang lebih seperti candi kalasan atau candi ijo. Kenapa saya kekeuh banget pingin mengunjungi candi satu ini ? karena bentuk bangunannya ini yang persis banget dengan Macchu Picchu di Peru, salah satu dari 7 wonders of the world, bentuknya seperti piramida terpotong di puncaknya. Makanya dari dulu saya ingin sekali berkunjung ke sini.

Setelah membayar htm sebesar 5K/orang, kita akan dipakaikan kain hitam putih seperti standar prosedur di borobudur atau prambanan. Memasuki kompleks candi, kita akan disambut dengan candi kecil berundak. Terus menapak tangga mendaki, kita akan melewati jalan lurus dengan beberapa arca dan reruntuhan candi di kanan kiri disertai halaman rumput yang tertata rapi. Ada beberapa patung berukuran setinggi orang dewasa yang menarik, yang satu berwujud manusia bersayap tanpa kepala dan yang satu lagi berwujud “buto” memegang gada.

Segaris lurus berjalan terus kita akan bertemu dengan bangunan candi utama yang secara bercanda saya juluki Macchu Picchu KW. Tapi sayangnya saya harus kecewa karena bangunan candi sedang direnovasi sehingga tidak terlihat bentuknya.

Karena misi gagal, saya bertekad untuk mengunjungi candi ini lagi di kemudian hari, sekalian ke berbagai obyek wisata yang berdekatan seperti candi cetho, air terjun jumog, air terjun parang ijo dll yang patut dikunjungi.

Karena kompleksnya kecil maka hanya perlu waktu satu jam untuk mengeksplorasi tempat ini dan karena sudah semakin sore, kami segera bergegas ke destinasi selanjutnya yaitu grojogan sewu.

Grojogan Sewu

Kurang lebih sejam berkendara dari candi sukuh, itupun karena jalanan macet dan mengharuskan kita menggunakan jalur alternatif yang disarankan google maps. Maklum grojogan sewu ini merupakan wisata air terjun yang sudah lama dan paling populer di area tawangmangu, sebenarnya saya pun sudah berulang kali ke tempat ini sejak kecil, tapi kali ini saya bersama suami, mertua dan juga anak-anak yang memang belum pernah ke sini.

Seperti umumnya air terjun, grojogan sewu ini terletak di lembah yang mengharuskan kita menuruni ratusan anak tangga hingga ke air terjun. Si bungsu sih senang-senang saja bahkan berlari dan melompat-lompat riang sampai papanya kewalahan, tapi si sulung yang mudah kelelahan sudah merengek sehingga harus dituntun pelan-pelan.

Air terjun ini dinamakan grojogan sewu karena saat musim penghujan akan muncul banyak air terjun “temporary” dari lereng-lereng di sekitarnya, saking banyaknya hingga disebut “sewu” yang berarti seribu. Aslinya sih hanya ada satu air terjun utama yang memang sangat tinggi, airnya dingin sekali seperti air es, tapi anak-anak senang main air sampai susah diangkat padahal waktu sudah mendekati maghrib.

PR-nya adalah saat harus kembali karena kita harus mendaki ratusan anak tangga padahal rasanya badan sudah kepayahan. Catatan lagi dari saya bahwa wisata air terjun tidaklah cocok untuk anak balita karena medannya yang melelahkan.

Untungnya dari beberapa kunjungan ke sini saya tahu kalau kita bisa menyewa jasa ojek untuk kembali, tapi saat saya bertanya ke tukang warung katanya kalau sudah sore begini tukang ojek sudah pada pergi. Berasa lemes karena membayangkan harus mendaki kembali tangga yang mengular sambil menggendong anak, alhamdulillah salah satu dari tukang warung yang lainnya menelpon temannya yang mampu menyediakan jasa ojek.

Petualangan gak berhenti di situ, untuk menuju tukang ojek kita harus tetap berjalan sekitar 30 menit menembus hutan si sekitar aliran sungai grojogan sewu. Suasana hutan yang masih rimbun ditambah dengan hari yang makin gelap karena sudah mendekati maghrib, belum lagi beberapa jembatan temporary dari akar yang harus kita lalui membuat kita harus ekstra hati-hati, apalagi perasaan juga agak deg-degan karena sepi banget.

Akhirnya kita bisa mencapai pintu 2 grojogan sewu di mana para tukang ojek berkumpul. Kita diberitahu oleh tukang warung bahwa orang yang sudah tahu daerah sini kebanyakan akan berkunjung melalui pintu 2, bukannya pintu utama, karena tidak harus melewati anak tangga tadi. Naik ojek pun membutuhkan waktu 15 menit karena cukup jauh hingga ke tempat parkir, wajarlah harganya dipatok 35K/ojek.

Petualangan belum berakhir di situ. Mengucap hamdalah dan bismillah setelah sampai di mobil seraya mulai meneruskan perjalanan dari tawangmangu ke wonogiri. Sebagai navigator, saya pun mengaktifkan rute perjalanan lewat aplikasi google maps.

Dan ternyata rute yang ditunjukkan berupa jalan kecil yang walaupun sudah teraspal halus namun sangat sempit dan tidak memungkinkan simpangan, terlebih harus menembus hutan dan ladang-ladang yang tidak ada orangnya sama sekali. Sementara di pinggir jalan adalah jurang sehingga jalannya pun bukan hanya berkelok tapi juga curam dengan kontur naik turun ekstrim dan tikungan tajam.

Mau balik lagi pun sudah terlanjur, sehingga dengan perasaan was-was dan tak berhenti mengucap doa kita meneruskan perjalanan. Gimana gak was-was, jalanan sepi gak ada orang, mana sudah malam pula (walaupun baru jam 18.00-19.00), mending kalau ketemu setan, lha kalo ketemu rampok gimana??

Setelah 1,5 jam alhamdulillah sampai juga kita di jalan besar yang ternyata nembus ke selogiri, daerah tepat sebelum wonogiri. Entah sudah berapa kali kita “disesatkan” google maps dengan rute yang seperti ini, makanya jangan terlalu percaya google maps apalagi kalau sudah malam, kalau kira-kira jalannya sepi mending tetap lewat jalur biasa yang ramai walau memang memutar jauh daripada risiko.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

One thought on “Candi Sukuh & Grojogan Sewu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s