Posted in Central Java, Indonesia, Solo

Museum Batik Kuno Danarhadi

Menyambut hari batik Indonesia yang jatuh pada tanggal 2 oktober, kali ini saya akan bercerita mengenai kunjungan saya ke museum batik kuno Danarhadi, yang berlokasi Kota Solo, tepatnya di jalan Slamet RIyadi.

Lokasinya sebenarnya gampang banget dicari,bangunannya ada dalam satu kompleks dengan toko batik Danar Hadi, tepat di samping Taman Budaya Sriwedari dan di persis di depan Gramedia Slamet Riyadi. Tapi waktu saya ke sana dan bertanya sama tukang becak, ternyata gak ada yang tahu, sampe akhirnya saya sewa becak buat puter-puter sepanjang jalan Slamet Riyadi dan setelah lirik sana-sini ternyata museum pas banget di depan gramedia di mana saya parkir mobil, rugi deh sewa becak. Jadi sedih, ternyata animo masyarakat kita terhadap museum tidak tinggi ya, sampe tukang becak aja gak ada yang tahu.

House of Danar Hadi

Museum nya sendiri menempati sebuah bangunan kuno yang terawat dengan sangat baik, jadi berasa balik lagi ke zaman kompeni dulu,haha. Museum ini telah dibuka terlebih dahulu pada tahun 2002 oleh Wapres Megawati Soekarnoputri. Museum ini menyimpan koleksi kain batik yang mencapai 10,000 helai dan diakui oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak. Kain batik yang dipajang di museum ini berasal dari periode dan pengaruh kultur serta lingkungan yang berbeda-beda. Salah satu koleksi terpenting di museum ini adalah koleksi batik belanda, yaitu batik yang dipengaruhi oleh budaya Eropa dan dibuat oleh orang-orang Belanda yang menetap di Indonesia pada zaman kolonial. Koleksi kain-kain ini adalah koleksi pribadi dari H. Santosa Doellah, pendiri PT Batik Danar Hadi yang juga merupakan pencetus kompleks House of Danar Hadi. Di belakang Museum terdapat kompleks pabrik batik tulis dan cap yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan. Sayangnya di museum ini dilarang memotret, jadi kalau memang ingin melihat koleksi nya maka kita harus benar-beanr berkunjung ke sana.

Museum_Batik_Danar_Hadi

Saat saya datang ke sana, entah karena memang minat wisatawan terhadap yang namanya museum memang rendah, atau memang karena sedang libur lebaran, wisatawan yang berkunjung selain saya hanya ada satu keluarga lainnya. Tapi suasana museum sendiri tidak seperti suasana museum pada umumnya yang rada spooky dan berdebu tidak terawat, masuk ke dalam museum ini serasa masuk ke dalam rumah bangsawan zaman kuno, museum super bersih dan wangi, koleksi tertata dengan sangat baik dan terawat, interior museum sendiri sangat cantik dengan pencahayaan berupa lampu chandelier yang menjuntai dengan sangat indah. Begitu masuk pun kita akan disambut dan didampingi oleh seorang pemandu yang akan menjelaskan mengenai seluruh koleksi batik yang ada di museum, petugasnya sendiri pun sangat ramah dan rapi dengan memakai jas dan seragam danar hadi.

Entrance Museum

Ruang galeri pertama berisi koleksi Batik Belanda yang sebagian besar berbentuk sarung dengan dominasi motif bunga, dedaunan, hewan terutama burung dan kupu-kupu. Batik Belanda umumnya tampil dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, oranye, dan merah jambu. Di dinding terpajang foto-foto orang Belanda yang sedang mengenakan kain batik.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah koleksi spesial museum ini. Ada beberapa koleksi batik kuno dengan motif unik yang terinspirasi oleh cerita rakyat ataupun cerita legenda. Salah satunya adalah motif Snow White. Batik ini dibuat dengan motif berupa gambar-gambar yang bertutur tentang cerita Snow White. Cerita dimulai ketika ibu tiri Snow White diberitahu oleh cermin ajaib bahwa Snow White adalah wanita tercantik di negeri mereka. Ini membuat sang ibu tiri marah dan membuangnya ke dalam hutan. Gambar-gambar terus berlanjut menceritakan kehidupan Snow White di dalam hutan bersama tujuh kurcaci, makan apel beracun, sampai dengan pertemuannya dengan pangeran yang membangunkannya dari tidur panjang. Batik Snow White yang termasuk dalam jenis Batik Belanda ini didesain oleh wanita Indo-Belanda pada pertengahan abad ke 19. Meskipun demikian, pengerjaannya tetaplah dikerjakan oleh orang-orang Indonesia. Selain itu masih ada beberapa batik dengan motif yang bercerita tentang Hans and Gretel, Little Red Riding Hood, dan bahkan cerita Perang Diponegoro.

Ruang galeri kedua dipenuhi dengan koleksi Batik Kraton, baik Kraton Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, maupun Pakualaman. Motif batik dari keempat kraton ini hampir sama, hanya modifikasi motif dan cara pemakaiannya saja yang berbeda. Ada pula koleksi yang disebut dengan Batik Tiga Negeri. Batik yang menggunakan tiga warna yaitu merah, biru, dan coklat ini ternyata dibuat di tiga tempat yang berbeda. Pemberian warna merah dikerjakan di Lasem, warna biru di Pekalongan, sementara warna coklat di Solo. Karena itulah jenis batik ini dinamakan Batik Tiga Negeri.

Koleksi lain yang bisa dinikmati adalah Batik China, Batik Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), Batik Pesisir (Kudus, Lasem, Pekalongan), Batik Sumatra, Batik Saudagaran, Batik Petani, Batik Kontemporer, dan berbagai jenis batik lainnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Batik Cirebon. Selain pengaruh China, jenis batik ini memiliki motif-motif sayap yang menunjukkan pengaruh budaya Hindu dari Kerajaan Mataram Kuno.

Koleksi Batik

Yang menarik bagi saya adalah kain batik dengan motif “patchwork”, jadi satu helai kain batik ada beberapa motif, yang mana digunakan oleh orang zaman dahulu sebagai suatu pengumuman kalau dia sedang mencari jodoh, praktis juga ya.

Batik "Cari Jodoh"

Ada juga koleksi aneka macam peralatan batik, mulai dari canting,cap-cap yang ukurannya ada yang sebesar kepala, aneka bahan pewarna batik dan lainnya. Melihat koleksi ini membuat saya terus terkagum-kagum dan rasanya pingin maling  punya tapi kata mas pemandu karena batiknya ada yang usianya ratusan tahun, gak heran kalo ada yang “nunggu” ,hiiii.

Berkunjung ke museum batik ini benar-benar menambah pengetahuan tentang kekayaan budaya batik, di sini saya baru tahu bahwa selama ini kita sudah salah kaprah saat mengira bahwa batik itu adalah corak/motif. Menurut mas pemandu, batik itu adalah suatu proses pembuatannya, jadi dengan corak apapun apabila dibuat dengan proses batik yang super ribet suribet jaya itu baru dinamakan batik. Jadi baju yang selama ini kita sebut batik tapi dibuat dari hasil cetakan pabrik sebenarnya bukanlah batik. Memang kalau mendengarkan penjelasan proses pembuatan batik yang rumit tidaklah mengherankan kalau sehelai kain batik dijual dengan harga jutaan rupiah.

Sayangnya karena saya berkunjung saat libur lebaran, saya jadi tidak bisa melihat workshop pembuatan batik yang terletak di belakang museum karena pembatiknya sedang pada libur. Setelah selesai mengunjungi museum, pintu keluar akan bersambung dengan toko danar hadi di mana kita bisa membeli beraneka macam batik danar hadi yang indah-indah.

 

House of Danar Hadi & Museum Batik Danar Hadi

Jl. Slamet Riyadi 261 Surakarta
Phone : +62 271 714326

Jadwal Buka
Senin – Minggu pk 09.00 – 16.30 WIB

Harga Tiket
Pengunjung domestik: Rp. 25.000
Pengunjung mancanegara: Rp. 25.000
Pelajar: Rp. 15.000

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s