Posted in Central Java, Indonesia, Purwokerto

Trekking di Baturraden

Tertarik nyoba trekking dengan medan yang mudah? coba aja dateng ke baturraden. Baturraden ini adalah nama suatu kawasan wisata yang terletak di sebelah selatan gunung Slamet, kurang lebih 15 km di sebelah utara kota Purwokerto, Jawa Tengah. Istilah Baturraden sendiri berasal dari dongeng yang berkembang di masyarakat. Dahulu kala ada seorang putra raja (“raden”) yang mencintai seorang pembantu (“batur“). Namun oleh kedua orang tuanya tidak disetujui, dan mengakhiri hidupnya di tempat yang kini bernama “Baturraden”.

Baturraden sendiri mencakup suatu kawasan yang sangat luas dengan beberapa spot wisata, yaitu pancuran pitu, pancuran telu, bumi perkemahan, taman wisata kaloka widya mandala, pemandian air panas, curug ceheng, wahana wisata lembah combong, combong valley ball and paint games, telaga sunyi dan baturraden adventure forest. Tapi semua spot wisata ini tersebar luas dan entah ada di mana, sayangnya lagi agak sulit menemukan lokasi karena minimnya petunjuk arah dan tourist information yang ada padahal Baturraden ini merupakan objek wisata paling terkenal dan andalan di purwokerto.

Kawasan Baturraden
Kawasan Baturraden

Kunjungan saya ini adalah kunjungan yang kedua (dulu pertama zaman masih putih abu-abu) dalam rangka jalan-jalan setelah berlebaran, yang saya ingat dari baturraden adalah jembatan gantung yang berada di ketinggian yang bikin jantung deg-deg ser karena goyangannya ngeri-ngeri sedap, kebayang aja kalo jatuh di bawahnya ada lembah bebatuan pasti langsung goodbye, dan benerlah beberapa tahun yang lalu jembatan itu pernah putus dan menewaskan banyak pengunjung jadinya sekarang diganti dengan jembatan permanen dari beton.

Perjalanan dari kota Purwokerto sendiri sangat lancar karena jalanannya walau tidak luas tapi relatif mulus, di kejauhan sudah terlihat kaki gunung slamet yang menghijau dan tinggal buka jendela hawa dingin segar mulai menyergap, tiba-tiba saya jadi teringat lukisan template zaman sd, lukisan pemandangan dengan gunung, jalan melingkar di tengah dan sawah di kanan kiri, hahaha.

Memasuki gerbang luar wisata baturraden, kita akan bertemu loket wisata, tapi di sini hanya membayar biaya kendaraan saja (mobil 5K, motor 3 K dan bus 10 K), masih lanjut terus sekitar 5 menit berkendara hingga mencapai lokasi wisata baturraden. Mulai dari sini jalanannya lumayan berkelok-kelok dan sempit, di kanan kirinya banyak penginapan mulai dari kelas losmen sampai hotel berjejer-jejer.

Gerbang Depan Baturraden
Gerbang Depan Baturraden

Setelah memarkir kendaraan di areal parkir yang dipenuhi toko-toko makanan dan cenderamata khas purwokerto, kami berjalan ke loket tiket di sebelah gerbang masuk baturraden yang berupa gapura hitam gaya purwokerto dengan atap merah dan patung punakawan (bagong,semar,gareng,petruk) di kanan kirinya, di luar terpasang spanduk besar berisi gambar mas dan embak ayu purwokerto (semacam abang none gitu deh) yang mempromosikan baturraden. Kawasan gapura ini crowded banget, campur aduk antara wisatawan yang pingin masuk dan wisatawan yang sibuk narsis foto-foto sama gerbang dan punakawan, haha. Tiket masuk ke kawasan baturraden adalah 10K/person.

Gate masuk Baturraden di samping loket tiket
Gate masuk Baturraden di samping loket tiket

Sebenarnya begitu memasuki kawasan baturraden di sebelah kiri kita bisa menemukan billboard besar berisi peta spot-spot menarik yang ada di baturraden beserta keterangannya, tapi gitu deh, minim banget infonya, udah gitu ga ada brosur gratis pula (hey, sadar ini indonesia gitu lho), udah pasti bikin kita kesulitan menemukan spot-spot tersebut. Berjalan sedikit dan kita disambut sama kolam yang di atasnya terdapat patung yang menjadi dongeng daerah ini yaitu patung sang putri dan pelayannya (dulu mah waktu belom tau saya kira itu patung penari ronggeng lagi joget, haha).

patung Baturraden
patung Baturraden

Dan sodara-sodara begitu kita bener-bener memasuki kawasan wisata ini pasti mulut langsung terucap, sumpah ini tempat indonesia banget sih, yap really indonesian dengan keindahan alam yang super duper cakep, kawasan kaki pegunungan dengan beberapa studio alam alami berupa tebing-tebing dengan air terjun, trek pendakian dengan latar belakang pohon-pohon tinggi seperti cemara di kejauhan ditambah lagi udara khas pegunungan yang dingin dan sejuk segar, berasa kayak lagi di film jurrassic park deh.

Tapiiii, ya gitu deh kenapa saya bilang indonesia banget, the management itself, khas daerah wisata di Indonesia yang aslinya indah tapi dirusak dengan kesemrawutan, bayangin aja sejauh mata memandang setiap pojokan dan ruas jalan yang ada hingga di kejauhan penuh dengan pedagang terutama yang jual makanan, pokonya ada areal sedikit juga ditempatin, belum lagi ada areal permainan anak yang udah tua dan karatan mulai dari ayunan sampe komidi puter odong-odong ditempatin sembarangan di lapangan-lapangan, bunyi musiknya itu lho , musik odong-odong tau kan? bikin sumpek. Bukannya gak pro sama orang cari nafkah, i mean saya juga addicted sama makanan khas purwokerto seperti pecel, mendoan dan sate kelinci, tapi kenapa gak dialokasikan di satu tempat aja sih?? tau kan imbasnya pedagang di mana-mana? sudah pasti ceceran sampah bertebaran kan.

And the worst of it adalah multi pungutan, okay saya bakal bercerita pelan-pelan mulai dari saya masuk. Setelah melewati patung baturraden itu ada suatu lokasi air terjun yang terletak di lembah, memang sangat cantik dan eye catching apalagi ada tulisan “welcome to baturraden di tebing belakangnya”, but untuk turun ke lembah itu ada loket tiket lagi dan kita harus bayar 5K/orang.

Lembah dengan air terjun
Lembah dengan air terjun

Saya menengok lagi di sebelah kiri agak di kejauhan ada pesawat nangkring yang ternyata adalah sebuah wahana bernama theater alam  yang kalo kita masuk ke dalamnya kita bakal disuguhi cerita dan keterangan tentang baturraden dan objek-objek wisata di sekitarnya, promosi yang terdengar dari loud speaker yang dipasang sih kita bisa melihat pemandangan objek wisata di sekitar purwokerto dan cilacap dari ketinggian. Untuk masuk ke sini dikenakan biaya 10K/orang.

Theater alam -  si pesawat nangkring
Theater alam – si pesawat nangkring

Mengikuti petunjuk arah yang sumpah bikin keder saking ga jelasnya ke kanan atau ke kiri, mulailah saya bertrekking ria menuju ke pancuran telu. Pancuran telu ini letaknya lebih tinggi dan untuk menuju ke pancuran telu ini jalannya mendaki, tapi enaknya jalanannya udah diperkeras dan dibikin jalur jadi mudah, selama pendakian makin ke atas pemandangan makin indah, barisan pepohonan terlihat jelas , pohon-pohon tinggi yang rapat berjajar rapih dengan jurang di sisinya menjadikan landcape alami yang sangat cantik persis lukisan, apalagi makin ke atas kerumunan manusia dan pedagang semakin berkurang, udara pun makin sejuk. Tapi jalan mendaki lama-lama bikin keok juga apalagi saya kan trekking sambil bergantian menggendong baby gendis, walhasil selama perjalanan yah harus berhenti beberapa kali sampai tiba di pancuran telu. Dan sodara-sodara untuk masuk ke pancuran telu ternyata masih harus bayar lagi sebesar 7,5 K/orang, ampun deh masa tiap spot harus bayar.

Pancuran Telu adalah tempat Pemandian air panas terbuka yang terletak di wana wisata Baturaden. Sebutan pancuran telu karena adanya tiga buah mata air panas yang berupa pancuran sehingga dikenal dengan sebutan pancuran telu (jawa, telu=tiga). Air Pancuran Telu dipercaya mengandung berbagai mineral yang bisa menyembuhkan beragam penyakit kulit dan rematik, makanya banyak wisatawan yang berenang atau sekedar membasuh dengan air belerang yang ada di sana. Meskipun belerang bagus untuk kulit, sebuah papan peringatan disalah satu sudut lokasi memperingatkan para pengunjung agar tidak berendam lebih dari 15 menit karena bisa membuat kulit kemerahan dan mengelupas. Bila Anda sudah selesai berendam air panas, bisa beralih mandi dibawah pancuran air dingin yang juga tidak jauh dari lokasi perendaman atau ada juga kamar mandi bertarif yang sudah ada. Di sini kita juga bisa membeli bubuk belerang dalam kemasan plastik.

Pancuran Telu
Pancuran Telu

Didalam Pancuran Telu ini ada yang namanya “Petilasan Mbah Tapa Angin”, penduduk setempat percaya Mbah Tapa Angin adalah orang pertama yang menemukan kawasan ini. Petilasan Mbah Tapa Angin sebenarnya hanya sebuah ceruk kecil mirip gua dengan keramik putih yang melapisi bagian dalamnya. Bila Anda ingin masuk ke dalamnya, siap-siap mencium bau dupa dan sesaji yang menyengat karena tempat ini juga dikenal sebagai persemedian bagi pertapa.

Lagi-lagi karena indonesia banget, menurut saya pengelolaannya ga bagus jadi malah terkesan jorok banget, kolam dan kondisi pancurannya sudah berlumut dan becek, belom lagi pasti di musim hujan pasti harus ekstra hati-hati karena licin dan lembab.

Tadinya sih saya masih berencana untuk menuju ke pancuran pitu, tapi hasil tanya-tanya sama petugas ternyata untuk ke sana perlu waktu sekitar satu jam trekking dan medannya lebih mendaki lagi,akhirnya nyerah deh, dan sampe sekarang saya masih bertanya-tanya di mana letak spot-spot menarik lainnya karena tidak ada petunjuk arah yang jelas. Capek trekking saya turun melalui arah yang berbeda dengan saat mendaki, kali ini saya melewati jembatan beton permanen yang telah menggantikan jembatan gantung yang dulu. Yang pasti di jembatan ini juga penuh sama manusia-manusia narsis yang sibuk berfoto-foto, karena dari jembatan ini terhampar pemandangan baturraden dari ketinggian dan karena ini jembatan permanen maka kita merasa lebih safe, bandingkan dulu waktu jembatannya masih gantung, ada jumlah maksimal yang boleh naik, terus boro-boro bisa foto, lha wong jantung rasanya mencelot gak karuan soalnya jembatannya joged mulu, haha. Di baturraden ini juga terdapat sejenis waterboom dan juga ada permainan outbond.

Studio alam dan jembatan permanen
Studio alam dan jembatan permanen

Bagi penggemar kuliner, jangan melewatkan pecel sayuran ditambah dengan mendoan di kawasan ini , enak banget rasanya menyantap sajian tersebut di bawah pohon dengan udara segar pegunungan, dan soal harga pun masih murah meriah, pecel hanya 5K/porsi dengan porsi yang mengenyangkan ditambah lontong, mendoan yang dijual pun lebar-lebar dan hanya 1K/potong, jangan lupa juga nyoba sate kelinci yang aroma bakarannya semerbak banget di sepanjang jalan, sukses bikin laper terus.

Pecel dan Mendoan
Pecel dan Mendoan

Overall, trekking di baturraden cukup worthed dicoba, tapi seharusnya kalo mau mencoba explore seluruh spot yang ada kita harus mengalokasikan waktu seharian dan juga ngumpulin data yang akurat tentang letaknya. Sayang banget secara potensi wisatanya sudah sangat bagus, sayangnya management nya yang kurang bikin jelek, belom lagi pungutan berkali-kali itu lho, i mean hey saya bayar apa 10 K waktu masuk tadi?? cuma bayar buat bisa wisata kulineran doang , terus di depan sudah bayar kendaraan, di area parkir masih diminta lagi. Mudah-mudahan bisa lebih diperbaiki lagi ke depannya.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

2 thoughts on “Trekking di Baturraden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s