Posted in Singapore

Day 9 Singaporean Chilli Crab & Masjid

Chinatown

Berhubung ini adalah hari terakhir dari rangkaian jalan-jalan kami, makanya kami teringat bahwa harus beli oleh-oleh untuk orang rumah. Pusat souvenir dan oleh-oleh murah di Singapore ada di beberapa tempat, yaitu Bugis, Lucky Plaza – nya Orchard Road atau Chinatown. Karena tahun lalu saya sudah pernah berkunjung ke Bugis dan Orchard, dan rasanya sayang ke Orchard siang-siang gini, makanya saya memutuskan kali ini mau mencoba chinatown. Dari Harbour front kami kembali menaiki MRT menuju ke China Town.

Singapore's chinatown
Singapore’s chinatown

Chinatown ini adalah daerah chinese di Singapore, rada rancu sebenarnya sih ya, secara mayoritas penduduk Singapore kan beretnis chinese, haha. Intinya chinatown itu adalah suatu kawasan yang masih kental nuansa cina nya di Singapore, penuh dengan bangunan – bangunan tua nan cantik yang masih terawat dengan baik, lampion di langit-langit, restoran-restoran cina serta yang paling penting adalah sekumpulan toko-toko yang menjual barang-barang murah yang cocok banget buat oleh-oleh. Karena kemarin pas di malaysia saya juga tinggal di daerah petalling yang merupakan china town-nya kuala lumpur, saya bandingkan sama yang di Singapore jauh banget, kalau yang di KL tuh rada kumuh dengan bangunan tua yang mirip pasar plus lapak-lapak jualan, kalau di singapore bangunannya tuh dirawat dengan baik, bahkan ada beberapa yang jadi singapore cultural heritage dan dijadikan museum, penjual souvenirnya pun kebanyakan berlokasi di toko, bukan lapak-lapak, jadi rapi dan bersih. Walau saat saya datang ke sana di siang hari, orang-orang pun banyak memenuhi kawasan ini, namun karena pedestriannya nyaman, jadi gak sampe penuh sesak.

Kalau punya banyak waktu sebenarnya pingin banget mampir di Chinatown Heritage Centre untuk mendapatkan kilas balik budaya tentang area ini. Berlokasi di tiga ruko yang telah direnovasi dengan cantiknya di Pagoda Street, Kita dapat mempelajari sejarah sosial dan perkembangan Chinatown melalui foto-foto, rekaman wawancara lisan dan pameran, yang memungkinkan kita untuk menapak tilas perjalanan yang telah dilakukan para imigran pertama Tionghoa di Singapura. 

Chinatown Heritage Center
Chinatown Heritage Center
Salah satu toko souvenir di China Town
Salah satu toko souvenir di China Town

Biasa deh cewek, kalo udah liat barang-barang apalagi murah pastinya jadi kalap, untuk oleh-oleh favorit saya adalah t-shirt bertuliskan singapore yang harganya 10 SGD dapet 3, selain itu juga banyak banget barang-barang yang 10 SGD dapet 3, misalnya tas, dompet, boneka, kalau gantungan kunci atau tempelan magnet biasanya 10 SGD dapet 5. Walau katanya sebagai pusat barang murah meriah, chinatown ini lebih murah dibandingkan Bugis atau Lucky Plaza, tapi menurut saya sih ga ada bedanya, soalnya toko-toko di Singapore gini kebanyakan sudah melabeli harga, gak bisa ditawar. Untuk barang – barang juga gak jauh beda dengan yang dijual dengan di Bugis/Lucky Plaza, cuma bedanya banyak banget barang khas china yang dijual di sini, misalnya baju cheongsam, dupa, lampion, hiasan china dll.  

 

Singaporean Chilli Crab, the best cuisine in Singapore

The restaurant
The restaurant

Di China town ini banyak banget restoran cina yang menyajikan menu kuliner terkenal dari Singapore yaitu Singaporean Chilli Crab. Sebagai penyuka kepiting, begitu melewati deretan restoran di chinatwon, suami saya langsung pingin nyoba (padahal tadi baru aja lunch), kami memilih salah satu restoran yang cukup ramai (gak tau namanya karena tulisannya pake bahasa cina). Kepitingnya bisa dipilih sendiri dan dijual mulai 500 gr, sebagai pelengkap singaporean chilli crab, kami pilih mantao (kue bantal khas cina) yang menurut rekomendasi kuliner paling cocok dimakan bersama the crab. Begitu mencoba, singaporean chilli crab ini benar-benar enak, bahkan sampai saya memutuskan untuk menulis blog ini, ini adalah olahan crab paling enak yang pernah saya makan. Saus chilli di kepitingnya itu benar-benar pedas, meresap dan penuh rasa, daging kepitingnya sendiri sangat tebal, intinya enak banget deh. Mantao yang disajikan juga empuk dan berisi, gak kebanyakan minyak. Harga yang dibayarkan emang rada tinggi sih sekitar 60 SGD untuk kedua menu itu, tapi menurut saya worthed lah.

The Singaporean Chilli Crab & Mantou
The Singaporean Chilli Crab & Mantou

Buddha Tooth Relic Temple & Sri Mariamman Temple

Sebagai negara multietnis, di Singapore ini tentunya banyak tempat peribadatan, tidak terkecuali di Chinatown ini di mana terdapat tiga tempat peribadatan beda agama yang berdekatan yaitu Buddha Tooth Relic Temple, Jamae Mosque dan Sri Mariamman Temple. Sayangnya di sini saya malah gak mengunjungi Jamae Mosque karena letaknya, jadi saya hanya berkunjung ke dua temple lainnya.

Sri Mariamman Temple merupakan kuil Hindu tertua di Singapura, yang berdiri sejak tahun 1827. Terletak di Chinatown dan dahulu bernama Mariamman Kovil atau Kling Street Temple, kuil ini dibangun oleh para imigran dari wilayah Nagapatnam dan Cuddalore di India Selatan. Kuil ini didedikasikan bagi Dewi Mariamman, yang dikenal atas kekuatannya untuk menyembuhkan penyakit dan wabah. Di Pintu masuknya terdapat gopuram (menara gapura) yang agung, yang dipenuhi dengan ukiran dewa dan dewi serta makhluk-makhluk mitologi, sebuah landmark yang mudah dikenali oleh keturunan umat Hindu dan warga Singapura. 

Sri Mariamman Temple
Sri Mariamman Temple

Buddha Tooth Relic Temple & Museum merupakan sebuah monumen budaya di Chinatown yang menampilkan pameran berkaitan dengan berbagai macam jenis seni dan budaya keagamaan di Singapura. Di sini disimpan pula Relik Gigi Suci Sang Buddha, di dalam sebuah stupa yang dibuat dari 320 kg emas yang merupakan hasil sumbangan umat. Temple-nya dibangun sangat megah dan dari kejauhan pun sudah terlihat, sayangnya karena saat itu sedangada upacara keagamaan, jadi kami yang bukan umat buddha tidak diperbolehkan untuk memasuki area dalam kuilnya, kami hanya boleh sampai di pelatarannya saja.

Buddha Tooth Relic Temple
Buddha Tooth Relic Temple

Shalat dulu di kampong Arab Glam

Sepulang dari Chinatown, karena jam masih menunjukkan pukul 15.00, maka saya memutuskan untuk mengunjungi satu kawasan cultural heritage center lainnya yaitu kampong arab glam. Dari China town kami kembali menaiki MRT menuju stasiun Bugis yang merupakan stasiun terdekat dari Kampong Arab, cukup berjalan sekitar 15-20 menit dari stasiun.

Sultan Mosque & Bussorah Street
Sultan Mosque & Bussorah Street

Nama dari kawasan historis yang tua namun menarik ini berasal dari Pohon Gelam, yang dahulu tumbuh dengan subur di daerah ini. Pada tahun 1822, lahan Kampong Glam secara resmi dialokasikan bagi kaum Melayu dan umat Muslim lainnya, termasuk komunitas pedagang Arab yang minoritas namun sukses. Pada tahun 1989, Urban Development Authority mengumumkan Kampong Glam sebagai area konservasi dan sebagian besar arsitekturnya yang asli telah direstorasi sekarang. Di Muscat Street, kita menemukan satu masjid yang terpenting di Singapura. Sultan Mosque pertama kali dibangun pada tahun 1826. Masjid ini sudah pernah dibangun kembali yang selesai pada tahun 1928, di mana menampilkan karpet yang disumbang oleh pangeran Arab Saudi. Seperti kebanyakan tempat ibadah keagamaan, Sultan Mosque memiliki aturan berpakaian yang konservatif. Jika kita tidak berpakaian dengan tepat, namun ingin masuk ke masjid tersebut, ada jubah yang disediakan secara gratis. Di masjid ini kami menyempatkan shalat dahulu, ternyata jamaah muslim di Singapore cukup banyak juga. Dari kampong arab bukannya balik ke stasiun MRT, saya malah punya ide gila untuk berjalan saja kembali ke Hotel, habisnya rute hritage centernya berakhir di pertengahan antara stasiun mrt dan little india,  kalau dilihat di peta kan kayaknya dekat.

Prayer Hall Sultan Mosque
Prayer Hall Sultan Mosque

Setelah mengunjungi Sultan Mosque yang bersejarah, kami berjalan ke Bussorah Street yang telah berubah menjadi kawasan bagi pejalan kaki yang ramai. Selama masa kolonial, area ini adalah kampung Arab dan dipergunakan untuk melayani kebutuhan religi komunitas Muslim. Sekarang ini, kita dapat menemukan perpaduan yang eklektik dari toko-toko kuno dan baru yang menjual barang-barang khas Singapura seperti baju kebaya Singapore Airlines yang terkenal, perhiasan kecil, aksesori dan barang-barang kecil dekoratif, serta buku-buku yang berhubungan dengan budaya dan agama Muslim dan etnis Arab. Berjalan sampai di ujung Arab Street dan Kita akan tiba di North Bridge Road. Di toko-toko yang begitu banyak, kita dapat menemukan kayu cendana, tasbih, penyangga buku yang secara khusus digunakan untuk Al Quran yang dikenal dengan nama ‘rehal’, sikat gigi dari kayu dan barang-barang unik lainnya untuk melayani komunitas Muslim.

Untungnya saya yang bawa peta, ternyata perjalanan cukup jauh, akhirnya selama 40 menit berjalan kaki (suami saya sampai sebel dan kuyu) sampailah kami kembali ke daerah Little India, never believe a woman to read a map, hahaha.

Ngadem di Mostafa Center

Kelelahan akibat perjalanan jauh, akhirnya kami istirahat dulu di Mustafa center, bukan di tokonya, melainkan di emperannya di mana ada tempat duduk dan meja yang diperuntukkan untuk pengunjung restoran terbuka mustafa center. Restorannya menjual fast food dan soft drink, lumayan buat ngisi kerongkongan yang kering. Di sekitar mustafa center banyak restoran india yang pastinya aroma nya menyengat ke mana-mana.

Mustafa center
Mustafa center
Coklat Merlion
Coklat Merlion

Setelah beristirahat, saya mengajak suami masuk ke Mustafa Center, untuk membeli makanan untuk oleh-oleh, sebenarnya kalau ditanya apa cemilan khas singapore saya juga bingung, makanya saya selalu beli coklat yang banyak dijual di mustafa center ini, favorit saya untuk oleh-oleh adalah coklat yang berbentuk merlion dengan tulisan singapore, walaupun katanya rasanya tidak terlalu enak, tapi kalau buat oleh-oleh ya lumayanlah.

Mustafa Center ini adalah toko serba ada yang bener-bener jual segala macam barang, buka selama 24 jam. Di sini dijual mulai dari kain sari, souvenir, makanan segala macam pokoknya apa aja ada deh, sampe vcd film india juga banyak banget, hahaha, selalu ramai karena harganya yang relatif murah . Mustafa Center ini seperti biasanya selalu penuh sesak, tumplek blek, apalagi karena koridornya sempit sehingga kadang trolinya susah bergerak kalo bertmu troli lain.

The Holiday is over

Sepulang dari Mustafa center, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 lewat, waktunya kami ke bandara untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya kami kembali ke hotel dulu untuk membawa bagasi. Dari Stasiun MRT Ferrer park kami menaiki MRT hingga ke Changi. Suami saya yang baru pertama ke Changi sampai terkagum-kagum karena bandaranya yang super canggih, penuh fasilitas dan bersih. At last akhirnya selesai juga our holiday, suami saya yang dipaksa walking tour di dua negara (malaysia dan sg) sampe bilang “don’t try this at Indonesia, karena kalau di Indonesia gue bakalan nyegat ojek, hahahaha”. Hikmahnya setelah pulang honeymoon ini, begitu pulang ke jakarta saya langsung mual-mual dan masuk angin, perut saya berangsur-angsur membengkak dan 9 bulan kemudian lahirlah my beautiful angel, the honeymoon project is success dear. 

Changi Airport
Changi Airport

 

 

 

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

One thought on “Day 9 Singaporean Chilli Crab & Masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s