Posted in Kuala Lumpur, Malaysia

Day 6 Tragedi di Malaysia

Memasuki hari ke-6 dari rangkaian jalan-jalan saya, entah kenapa mungkin karena kemarin di Thailand aktivitasnya peak atau karena faktor “u”, badan mulai gak karuan, rasanya males banget, pinginnya leyeh-leyeh aja, padahal ni hari kita sudah merencanakan untuk main di genting highlands dan rasanya gak mungkin dengan kondisi badan gini untuk tetap main di theme park genting, akhirnya saya membatalkan rencana semula dan mengganti itinerary dengan keliling kuala lumpur saja selama dua hari ini.

Sekilas about Genting Highlands

Genting Highlands
Genting Highlands

Genting Highlands (2000 m di atas muka laut) adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysiaserta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara.

Dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia, tempat ini merupakan satu-satunya tempat berjudi daratan yang legal di Malaysia serta dioperasikan oleh Resorts World Bhd, Fasilitas lainnya ini adalah theme park, lapangan golf, tempat perbelanjaan, waterpark, simluator sky diving, hall konser  dan masih banyak lagi.Untuk menuju ke genting highlands ini kita dapat menggunakan bus khusus yang bernama go genting, info mengenai terminal dan jadwal bus bisa diklik di sini.

Go Genting Bus
Go Genting Bus

Bila kamu memutuskan untuk berkunjung ke genting highlands info lebih lengkap bisa dilihat di http://www.rwgenting.com.

Rapid KL – Sistem Transportasi di Malaysia

Malaysia sudah memiliki sistem transportasi yang maju dan teratur, sistem transportasinya dinamakan Rapid KL, Rapid KL ini merupakan sistem terintegrasi antara empat moda transportasi yaitu KTM Komuter, LRT Kelana Jaya Line, LRT Ampang Line dan Monorail, empat moda transportasi ini semuanya adalah kereta, bedanya hanya di rutenya saja. Karena sebelumnya sudah pernah mencoba mrt nya singapore jadi saya gak terlalu kaget karena sistemnya agak mirip.

Rute Rapid KL
Rute Rapid KL

Cara termudah agar tidak keliru peron adalah lihat jurusan paling ujung dari arah yang kita tuju.

Cara naik KTM/LRT/Monorail

  1. Di sini tidak ada yang namanya loket penjual karcis, yang ada adalah mesin yang dioperasikan secara touch screen, kita masukkan uang ke mesin, pilih rute dan akan keluarlah token (LRT/Monorail) / card (KTM), beserta uang kembalian (jika ada)
  2. Masuk ke area platform, dengan terlebih dahulu menempelkan token/card di mesin otomatis yang berfungsi untuk meng-scan token/card tersebut.
  3. Setelah selesai naik kereta, kita akan melewati mesin scan tersebut kembali, token/cardnya dimasukkan pada lubang yang ada di mesin tersebut.
Ticket Machine
Ticket Machine
Ini yang namanya token
Ini yang namanya token
Portal pendeteksi token, tokennya ditempel di sini untuk masuk ke platform
Portal pendeteksi token, tokennya ditempel di sini untuk masuk ke platform

Sebenernya kalau gak mau repot untuk beli token di setiap stasiun, kita bisa membeli kartu Touch n’ go (seperti ez link nya Singapore) yang bisa di top-up, tapi karena saya hanya dua hari di kuala lumpur jadi saya merasa tidak perlu membelinya.

Enaknya sistem transportasi di negara maju juga punya websitenya sendiri, yaitu http://www.myrapid.com.my, kalau kamu transportasi ke arah yang dituju bisa diisi di journey planner yang ada di pojok kiri atas, keterangan tentang moda transportasi yang digunakan beserta tarifnya bisa didapat di sini.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai ktm komuter bisa diklik di sini.

Batu Caves

Berangkat agak siang dari hotel (sudah sekitar jam 10-an), kita langsung bergegas ke Batu Caves. Batu Caves adalah bukit kapur, yang memiliki serangkaian gua dan kuil gua, terletak di distrik Gombak, 13 kilometer (8 mil) utara dari Kuala Lumpur.

Rute dari Petalling Street ke Batu Caves :

  • Jalan kaki ke stasiun LRT Pasar Seni yang berada tepat di depan Central Market (kalau bingung ikuti saja penunjuk arah yang ada di jalan).
  • Naik LRT Pasar Seni (KJ 14) turun di Stasiun LRT KL Sentral (KJ 15)
  • Di Stasiun KL Sentral naik kereta komuter line, turun di Batu Caves, stasiun Batu Caves tepat terletak di samping masuk obyek wisata Batu caves

Gua ini adalah salah satu kuil Hindu yang paling populer, didedikasikan untuk Dewa Murugan. Ini adalah titik fokus Hindu festival Thaipusam di Malaysia.Karena memasuki batu caves dari stasiun ktm komuter, which means dari samping bukannya dari pintu gerbang utama batu caves, hal yang pertama kita temui adalah patung hanoman setinggi 15 m, tapi hanomannya berwana biru setau saya kalau di pewayangan jawa warnanya putih ya. Di belakang patung hanoman terdapat kuil hanoman dan ramayana cave. Untuk memasuki kawasan batu cave tidak dipungut biaya lagi, tapi khusus untuk masuk ke kuil hanoman dan museum batu dipungut fee, jadi sebenarnya yang gratis adalah gua cathedral dan pelataran batu caves yang sangat besar.

Hanoman Statue
Hanoman Statue

Sebelum sampai ke gua cathedral, kita dapat melihat pemandangan kolam ikan dengan taman yang indah. Taman ini berada di sekeliling Museum Cave dan Art Galery Cave yang penuh berisi patung dan lukisan-lukisan tentang dewa-dewa Hindu dan kehidupan Dewa Murugan.

Lor Murugan Statue and cathedral cave
Lord Murugan Statue and cathedral cave

Gua terbesar di kawasan ini disebut Cathedral Cave atau Temple Cave yang berada sekitar 100 meter dari pintu masuk berlawanan arah dengan Ramayana Cave. Di samping pintu gerbang menuju gua ini terdapat Patung Dewa Murugan yang tingginya mencapai 42,7 meter. Patung Dewa Murugan ini dari jauh juga sudah kelihatan karena sangat tinggi menjulang dan dicat dengan warna emas mencolok. Di pelataran bawah banyak terdapat burung merpati dan kita bisa memberi makan burung merpati dengan umpan yang dibeli di toko sekitar. Untuk mencapai gua cathedral, kita harus mendaki 272 anak tangga (hiyuh, kebayang kan siang bolong mendaki segitu banyak anak tangga), anak tangga nya cukup terjal dan kalau musim hujan harus hati-hati karena sepertinya licin. Di sekitar tangga banyak banget monyet bebas berkeliaran, jadi harus hati-hati. Di tangga ini kita ketemu serombongan wisatawan asal Bali yang sedang beribadah.

Menuju gua cathedral terdapat sebuah gua yang dinamakan dark cave, untuk menuju dark cave ini kita membutuhkan peralatan khusus (senter) dan pemandu, makanya kita gak masuk ke sini.Di dalam gua cathedral terdapat kuil-kuil hindu dan juga tampak beberapa pemeluk hindu (kebanyakan orang india) yang sedang bersembahyang dengan dipimpin pendeta. Di dalam kuil sendiri keadaannya sangat lembab dengan bau kotoran kelelawar bercampur dupa, jadi gak betah berlama-lama di sini.Setelah capek menjelajahi batu caves (sumpah bener-bener capek), di pelataran parkir banyak terdapat kios-kios penjual makanan, suami saya langsung menuju penjual es degan saking hausnya.

Inside batu caves cathedral
Inside batu caves cathedral

Ku menyumbang kamera di Malaysia

Nggak tau kenapa kejadian ini bisa terjadi, bisa jadi karena

  • Kemarin di Phuket buang-buang duit untuk hal gak berguna akibat kebanyakan nongkrong di bangla road
  • atau, gak nurutin kata-kata suami untuk memindahkan memory kamera ke flash disk, padahal suami ngomongnya udah lebih dari 3 kali dan saya ngeyel

Pokoknya setelah melewati jalur yang sama untuk kembali ke kuala lumpur, dan kita singgah di central market untuk lunch, tiba-tiba sambil menunggu makanan datang, saya ingin melihat-lihat hasil foto di batu caves tadi, dan jedeeerrr tu kamera gak ada di mana-mana, suami saya bilang kan terkahir dikasih ke saya.

Masih dalam keadaan panik dan gak rela (yang penting kan memory di dalamnya, kameranya bodo amat deh, padahal saya kan udah mau pamer foto-foto di phuket hiks), tanpa menyentuh makanan yang sudah dipesan, kita kembali menelusuri jalur yang sama hingga ke batu caves, bahkan sampai menyusuri dari gerbong ke gerbong satu komuter, tapi tetep aja nihil (ya iyalah barang sekecil itu, saya juga udah feeling gak bakal lah ketemu), sepulangnya dari batu caves bahkan kita sampai ke kantor polisi di kl sentral untuk melaporkan kehilangan.

Serasa separuh jiwaku pergi (lebay deh), rasanya tenaga tiba-tiba hilang, marah, sedih, kesel dan capek campur aduk jadi satu, bete banget. Akhirnya setelah mencoba menenangkan diri, saya mengajak suami untuk ke mcd di kl sentral (lunch nya kan belom jadi tadi), saya pikir saya masih punya 3 hari lagi lagi liburan, kalau sekarang saya bete, rusaklah semua liburan saya, at least saya masih punya malaysia dan singapore untuk dicapture. Akhirnya saya memutuskan untuk beli kamera lagi saja, tapi alih-alih cuma beli yang digital, kita memutuskan sekalian beli yang jenis DSLR. Setelah mengambil uang di ATM terdekat, berangkatlah kita menuju ke Bukit Bintang.

Hikmah dari kejadian ini adalah seperti yang pernah saya dengar di ceramah-ceramah agama kalau kita harus menuruti perkataan suami. Selain itu saya juga teringat pepatah “careful what you wish for”, dari dulu saya dan suami memang kepingin banget punya kamera DSLR, tapi karena harganya yang cukup mahal, jadi kalau mau beli ntar-ntar an mulu. Entah kenapa permintaan kamera DSLR ini dikabulkan dengan cara seperti ini, saya makin yakin karena sebulan setelah honeymoon suami saya dapet rezeki sesuai dengan nominal yang kita bayar saat beli kamera DSLR, hahahaha.

Hunting DSLR di Bukit Bintang

Untuk menuju ke Bukit Bintang dari KL Sentral kita harus menaiki monorail, stasiun monorail ini terletak di belakang stasiun KL Sentral, dan saat saya di sana sedang direnovasi.

Bukit Bintang
Bukit Bintang

Bukit Bintang ini terletak di antara tiga jalan utama: Jalan Bukit Bintang dimulai dari Jalan Pudu dan berpotongan dengan Jalan Sultan Ismail. Daerah ini dibatasi oleh Jalan Raja Chulan di utara dan Jalan Imbi di selatan. Ada banyak hotel dan restoran yang terletak di daerah ini, serta restoran-restoran atau tempat makan yang bagus, tempat yang menyediakan hidangan murah biasanya berada di tempat yang terbuka.

Bukit Bintang merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai barang, oleh-oleh/souvernir yang disesuaikan dengan selera dan anggaran belanja anda. Pusat perbelanjaan ternama di kota Kuala Lumpur biasanya berada di lokasi ini, termasuk Berjaya Times Square, Bukit Bintang Plaza, Imbi Plaza, Kuala Lumpur Plaza, Low Yat Plaza, Starhill Galeri, Sungei Wang Plaza, Lot 10 dan yang baru dibuka Pavillion KL.

KL Pavilion
KL Pavilion

Saya memutuskan untuk masuk ke Pavilion KL saja untuk mencari outlet Canon. Di depan KL Pavilion ini terdapat air mancur besar yang sering dijadikan spot berphoto. Menurut saya, berhubung di Jakarta yang namanya mall mewah itu banyak, jadi KL Pavilion bagi saya biasa aja, gak terlalu istimewa, memang megah dan mewah sih, tapi outlet dan restorannya hampir sama dengan yang ada di Jakarta.Setelah mendapatkan kamera DSLR di Canon, dan berhubung rasanya lelah lahir bathin, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat saja.

Rute dari Bukit Bintang ke Petalling Street ada dua :

  1. Naik Monorail dari Bukit Bintang (MR 6) ke Maharajalela (MR 3).
  2. Atau, naik monorail dari Bukit Bintang (MR 6) ke KL Sentral (MR 1) dilanjutkan naik LRT dari KL Sentral (KJ 15) ke Pasar Seni (KJ 14)

Saya memilih opsi 1 karena lebih simple pastinya, toh dari stasiun juga masih harus jalan hingga ke petalling street.

Central Market/Pasar Seni again for dinner

Food Court Central Market
Food Court Central Market

Malamnya kita kembali ke central market lagi hanya untuk dinner di Food Court .Staf Food Court yang siangnya sempet saya tanyai kemana kalau cari barang hilang, ternyata masih ada dan masih ingat sama saya, dia menanyakan ketemu atau nggak kameranya. Di lantai dua central market ini terdapat food court yang cukup luas dengan banyak pilihan kuliner (dari Indonesia juga ada lho). Tapi di central market ini anehnya toilet umumnya bayar, mana bayarnya ke mesin (bukan ke penjaga toilet) yang uangnya harus pas jadi bikin susah ke toilet.

Setelah kenyang, karena tentunya masih lelah lahir bathin akibat guncangan tadi siang (lebay mode on), kita memutuskan untuk istirahat saja biar besok ada tenaga untuk meng-eksplor kuala lumpur.

Gagal sudah rencana hari ini yang seharusnya dengan rute batu caves – istana negara malaysia – bukit bintang – jalan alor setar – masjid jamek. Moral of the story adalah manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s