Posted in Phuket, Thailand

Day 4 Expensive Seafood & Bangla Road

Celebrate my birthday with phuket’s seafood

Patong map
Patong map

Ceritanya dalam rangka merayakan ulang tahun saya dan juga memang kepingin nyobain seafood lokal ala Thailand, saya memutuskan untuk dinner di sebuah restoran seafood di area Patong. Restoran seafood banyak tersebar di area Patong, mulai dari yang standar hingga yang mewah. Kalau saya perhatikan untuk restaurant yang mewah kebanyakan berlokasi di Thaweewong Road, persis berbatasan dengan pantai, sedangkan untuk yang standar kebanyakan ada di Rad U Thit, tapi ada juga beberapa yang berada di pinggir pantai (thaweewong road).

at Rad U thit Road
at Rad U thit Road

Saya memilih untuk mencoba restoran di Rad U Thit. Saya menyusuri sawatdirak road hingga ke ujungnya , di sawatdirak road ini banyak terdapat gerai pijat thailand (yang kebanyakan tukang pijatnya adalah gadis-gadis muda yang genit, entah kenapa pikiran saya melayang ke bar dangdut, haha), gadis-gadis tukang pijat ini biasanya berdiri/duduk bergerombol di depan panti pijatnya sambil menawarkan “thai massage” dengan suara lantang kepada turis-turis yang lewat. Karena seringnya disangka sebagai orang thailand, selama di Phuket saya dan suami gak pernah ditawar-tawarkan pijat padahal sering wara-wiri,hehe.

Mbak-mbak tukang pijit
Mbak-mbak tukang pijit
Bahan segarnya dipajang di depan restoran
Bahan segarnya dipajang di depan restoran

Sesampai di rad u thit road, banyak banget pilihan restaurant seafood, tapi sepertinya memang resto ini khusus turis yang pastinya mematok harga agak mahal. Di depan resto selalu ada staff resto yang berdiri sambil mempromosikan restonya (bayangkan seperti di mangga dua, mbak-mbaknya kan suka bilang ke orang lewat “boleh bajunya, ayo diliat-liat” , tapi bedanya yang ditawarkan di sini “fresh seafood, delicious, please try”). Terkena bujuk rayu pelayan salah satu resto yang menawarkan dalam bahasa melayu/malaysia (“makan,makan, sila dicoba”, hadeuh disangka orang malaysia, yah tak papalah) akhirnya kita mencoba seafood di sini.

Pilihan seafoodnya banyak, tapi saat itu kita cuma memilih grill squid dan kailan with beef (di resto seafood malah makannya beef). Anyway ternyata pelayan di resto –resto seafood patong banyak yang ladyboy, tapi bukannya ladyboy yang sangat cantik seperti yang saya liat kemarin di simon cabaret, ladyboy di sini mah masih keliatan cowok banget, mirip banci-banci di jakarta (walau tetap lebih halus dan terawat), mungkin ladyboy yang ini belum punya cukup uang untuk operasi ya, hehehe.

Porsi yang diberikan gede banget, sampe kewalahan habisinnya, dan bener kan resto di sini mahal, masa untuk dua hidangan seperti itu plus dua nasi, es kelapa dan es jeruk harganya hampir setara dengan 300 K, secara itu cuma resto pinggir jalan, hiks, tau gitu mending makan di food court jungceylon deh.

Porsinya gede banget
Porsinya gede banget
Restorannya cuma kayak gini
Restorannya cuma kayak gini

Thai Boxing

Di Phuket ini ada suatu show menarik juga tapi saya gak sempet nonton , apalagi kalau bukan thai boxing. Di thaweewong road sering ada mobil bak yang wara-wiri sambil mengiklankan show thai boxing dengan speaker yang sangat kencang. Serunya sang atlet thai boxing juga ikut berpromosi dengan berdiri di bak belakang mobil dan mengenakan kostum sambil mempergakan gerakan-gerakan thai boxing.

Penampakan atlet thai boxing
Penampakan atlet thai boxing

Berbandel-bandel Ria di Bangla Road

Puas kekenyangan, kita memutuskan untuk berjalan ke depan jungceylon, cuma karena pertunjukkan water fountainnya sudah selesai jadinya kita langsung menuju ke Bangla Road.

Bangla Road
Bangla Road
Bar yang semi terbuka
Bar yang semi terbuka

Bangla Road ini adalah pusat nightlife nya Patong, walau masih beraliran lurus (untuk yang gay adanya di paradise Complex, saya tentunya ogah ke sana), di tempat ini dari ke ujung ujung isinya adalah campuran antara club, diskotik dan go go bar. Jalanan ini ditutup waktu malam untuk akses kendaraan, jadi hanya pejalan kaki yang bisa melintas. Menurut saya tempat ini juga jauh lebih vulgar daripada legian bali (at least di legian kan barnya tertutup, mau di dalam bar ada apa kan kita gak bisa liat). Semua club dibuat semi terbuka, jadi gak masuk klub pun kita bisa ngeliat ada apa di dalamnya, isinya pertunjukkan striptease di mana-mana, banyak juga club yang di lantai duanya adalah areal berkaca seperti etalase toko, dari luar kita bisa menyaksikan cewek-cewek dipajang di etalasenya, mereka tentunya berpakaian sexy dan juga ber-strip tease ria untuk menggaet pengunjung. Musik dari satu club dengan club lainnya saling saingan kenceng-kencengan, billboard yang ada adalah iklan tentang “pertunjukkan” dan juga harga minuman. Pria dan wanita yang tentunya adalah staff dari club saling berebut untuk menjajakan clubnya atau memberikan brosur “pertunjukkan” (pertunjukkan di sini dideskripsikan sendiri ya, namanya juga go go bar), tentunya cewek-ceweknya cantik dan berpakaian kekurangan bahan, tanpa memperhatikan pengunjung, mau tua muda tetap dikasih dan ditawarin. Bangla road ini penuh banget sama orang, sudah seperti suasana malam tahun baruan, sampai agak susah jalan.

Etalase lantai 2
Etalase lantai 2

Suasananya bener-bener wild dan gila-gilaan, pastinya penyuka nightlife bakalan betah di sini semaleman. Anyway, saya baru paham kenapa saya sering dikira warga thailand, itu adalah karena waktu itu saya belum mengenakan jilbab dan pakaian saya di sana mengikuti gaya pantai (tau kan gimana maksudnya?), sementara kebanyakan turis di Phuket ini adalah warga malaysia yang mayoritas mengenakan jilbab, kalau untuk orang Indonesia, sepertinya gak terlalu banyak di sini jadi mereka tidak begitu familier.

Sekilas about tuk-tuk

Tuk-tuk adalah kendaraan berbentuk seperti bemo yang ada di Thailand, meskipun merupakan kendaraan umum, tuk-tuk sendiri digunakan dengan sistem seperti taxi (carteran, jadi bukan kendaraan umum bertrayek. Dan yang disebut taxi di phuket bukanlah taxi cab seperti di Indonesia, melainkan tuk – tuk ini (untuk lebih meyakinkan, di tuk-tuk dipasang plang taxi). Untuk naik tuk-tuk tidak ada tarif baku, jadi tergantung kepintaran menawar kita, pastikan untuk sepakat soal tarif sebelum menaiki tuk-tuk, karena tarif bisa jadi sangat mahal.

Inilah tuk-tuk
Inilah tuk-tuk

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s