Posted in Phuket, Thailand

Day 2 Lost in Old Phuket Town

The Team is Break

Akibat terbangun keesokan harinya sekitar jam 08.00 dan tidak kuat menahan godaan buffet breakfast yang kelihatannya enak banget, walhasil saat sampai di McD, jam sudah menunjukkan pukul 09.00-an dan Dadan pun tentunya tidak kelihatan.Bodohnya lagi, semalam kita lupa untuk minta no hp-nya Dadan karena menggampangkan pertemuan di McD, setelah menunggu selama setengah jam tanpa hasil, kelihatannya di sinilah akhir perjalanan bersama saya dan Dadan (maaf ya Dan). Dari depan McD kita memutuskan naik songthaew untuk langsung menuju ke Old Phuket Town.

The Songthaew Experience

Songthaew
Songthaew

Dari depan pantai patong, ada berbagai pilihan moda transportasi menuju ke Old Phuket Town, yang termurah adalah songthaew (ini semacam truk yang sudah dimodifikasi, diberi bangku panjang di sisi-sisinya, semi terbuka dan gak ada AC) dan bus (ada AC dan Non AC)  yang tarifnya sama-sama 15-20 Baht (ada juga taxi, tuk-tuk atau bisa juga sewa motor/mobil, tentunya lebih mahal). Agar tidak keliru jurusannya, jangan lupa mengecek arah jurusan kendaraan yang ditandai dengan pelat keterangan yang dipasang di muka kendaraan (persis seperti bus umum/metromini kita), karena gak semua songthaew/bus menuju ke Old Phuket Town.

Perjalanan menuju ke Old Phuket Town memakan waktu sekitar 20 menit, dan berhubung songthaew ini semi terbuka, jadi lumayan enak ada angin semilir. Saat naik kendaraan umum ini, saya menyadari hebatnya penduduk Phuket yang sudah melek pariwisata, terbukti dari kenek kendaraan butut ini (seorang ibu-ibu yang penampilannya gak lebih dari ibu-ibu kebanyakan seperti di negara kita) yang piawai berbahasa Inggris, kelihatan saat dia menerangkan bahwa songthaew ini akan langsung menuju Terminal Bus, jadi tidak melewati Suriyadate Fountain seperti trayek biasa, lucunya saat berpaling ke arah kita, si ibu ini langsung nyerocos dalam bahasa Thai, ternyata kita disangka orang Thai, hahahaha.

Berhubung kita orang Indonesia, naik songthaew ini persis banget seperti naik metromini/angkot. Biasanya ada seorang kenek yang akan berkeliling untuk meminta ongkos, untuk tarif kendaraan gak perlu bingung, karena di badan songthaew sudah ada keterangan tentang tarif. Songthaew ini tidak berhenti di halte, persis seperti angkot kita, songthaew akan berhenti di sembarang tempat begitu penumpang mau turun. Untuk turun, kita bisa membunyikan bel yang ada di pojok atau langit-langit songthaew.  Kalau keneknya gak ada, kita bisa langsung bayar ongkos ke Supir. Satu lagi, songthaew ini juga suka ngetem persis kayak angkot kita.

The Old Phuket Town

Kebodohan selanjutnya adalah saya gak punya dan gak pegang peta old phuket town, walaupun areanya tidak terlalu luas, tapi karena tidak pegang peta, saya tidak bisa mengeksplore keseluruhan bangunan secara maksimal, apalagi saya memutuskan untuk ber-walking tour, jadi cukup menguras tenaga juga (cuaca di phuket menurut saya sih gak ada bedanya sama di Indonesia). Old Phuket Town merupakan kota tua nya Phuket, dengan arsitektur unik campuran dari berbagai kebudayaan antara lain portugis, british ,china, malaysia, india dan nepal. Bangunan-bangunan di sini umumnya merupakan bangunan tua bergaya sino-portuguese yang berada di lima area jalan utama dan beberapa soi (small streets) yaitu rasada rd, phang nga rd, talang rd, dibuk rd dan krabi rd.

Phuket Treasure Map
Phuket Treasure Map

Anyway, jika kamu memutuskan untuk berwalking tour, referensi peta yang cukup jelas bisa dilihat di sini (biar keren petanya diberi julukan phuket town treasure map)

Karena songthaew yang saya naiki langsung menuju bus terminal, jadilah saya diturunkan di perempatan antah berantah, untungnya karena sebelumnya sudah melakukan riset yang mendalam lewat internet, saya masih ingat beberapa nama jalan dan juga bangunan-bangunan terkenal.

Pud Jow Shrine & Tui Jui Shrine at Ranong Road

Pud Jow Shrine
Pud Jow Shrine

Saya memutuskan bergerak ke arah krabi road (yang kayaknya pernah saya denger), tapi baru akan akan jalan, saya melihat di pojokan jalan ada dua kuil berdekatan, dan kayak-kayaknya saya pernah melihat bangunan itu di internet. berdasarkan ingatan saya sepertinya kuil itu adalah pud jow shrine tapi karena tidak terlalu yakin saya mencoba bertanya pada penduduk lokal, tapi sayangnya dia gak bisa bahasa inggris. Jadilah saya mencoba masuk ke dalam area kuil, tapi sayangnya begitu saya bertanya ke kakek nenek yang sepertinya pengurus kuil apakah saya boleh masuk ke bangunan kuil, si kakek nenek cuma menggelengkan kepala dan melambai-lambaikan tangan sambil nyerocos dalam bahasa thai (kayaknya si kakek nenek gak bisa english), males ngambil risiko (lagian kuilnya juga gak terlalu menarik dan juga kecil) saya memutuskan untuk ambil foto-foto di halaman kuil saja.

Di samping Pud Jow Shrine ada sebuah kuil lagi yang lebih megah, perkiraan saya itu adalah Jui Tui Shrine, tapi karena malas kejadian diusir lagi, saya cukup puas ambil foto-foto tampak depan saja.

Jui Tui Shrine
Jui Tui Shrine

Belakangan setelah pegang peta, ternyata perkiraan dan ingatan saya benar bahwa kedua kuil itu adalah Pud Jow dan Jui Tui Shrine (ingatan saya hebat yah, hehehehe). Jui Tui Shrine didedikasikan kepada Vegetarian Chinese-Taoist God, Kui Wong In dan merupakan pusat kegiatan selama Phuket’s annual vegetarian festival, di sini kamu bisa meramal dengan menggunakan potongan bambu. Sementara Pud Jow Shrine (God’s Talk) merupakan kuil tertua yang ada di Phuket, dibangun 200 tahun yang lalu dan telah direnovasi setelah kebakaran besar 100 tahun yang lalu.

Suriyadate Fountain at Ranong Road

Berjalan lurus saja sampai ke ujung dari Ranong Road, saya menemukan landmark dari kota Phuket yaitu Suriyadate Fountain, karena saya datang ke sini siang hari, jadi land mark ini tidak kelihatan istimewa. Sebelum Suriyadate Fountain adalah pangkalan songthaew dan bus-bus yang tujuannya ke pantai dan luar kota, dan lagi-lagi awesome-nya abang-abang angkot di sana englishnya fasih semua.

Suriyadate Fountain
Suriyadate Fountain

Tai Hua Museum & Phra Pitak Chyn Pracha Mansion at Krabi Road

Phuket Tai Hua Museum
Phuket Tai Hua Museum

Dari Suriyadate, saya memutuskan berjalan mengikuti petunjuk arah yang menuju Tai Hua Museum. Museum ini menjelaskan mengenai sejarah Phuket terutama hubungannya dengan kebudayaan China, museum ini merupakan bangunan bergaya Sino Portuguese yang paling terawat. Karena tidak begitu tertarik saya tidak masuk ke dalamnya dan hanya berfoto-foto di halamannya, dan kebetulan ada wisatawan thai (yang bisa english) yang berbaik hati untuk memperlihatkan peta old phuket town ke saya.

Lurus terus hingga perempatan di ujung jalan saya menemukan bangunan tua yang sangat besar dengan halaman yang sangat luas pula (entah kenapa tiba-tiba teringat film little missy ya), dan setelah saya baca plangnya ternyata adalalah Phra Pitak Chyn Pracha Mansion yang merupakan kediaman bangsa asing pada zaman dahulu di Phuket. Meski tidak diizinkan untuk masuk ke dalam bangunan mansion, tapi kita diizinkan untuk masuk ke halamannya yang luas, lumayan untuk beristirahat karena di sekitarnya banyak pohon-pohon dan rumput halamannya sendiri tertata apik, jadinya adem.

Phra Phitak Mansion
Phra Phitak Mansion

Soi Romanee at Thalang Road

Saya berjalan terus hingga menemukan area terkenal yaitu soi romanee, soi romanee ini sebenarnya hanyalah jalan kecil (cuma muat mobil satu) tapi bangunan-bangunan di sekelilingnya bergaya vintage, campuran antara arsitektur barat dan baba china, jadinya menurut saya jalan ini sangat fotogenik dan cantik. Bangunan-bangunan ini banyak yang dijadikan coffee shop atau restaurant, dan syukurlah akhirnya di depan salah satu coffee shop saya mendapatkan peta gratis dari Old Phuket Town.

Soi Romanee
Soi Romanee

Watt Puttamongkonnimit

Watt Puttamongkonimit
Watt Puttamongkonimit

Begitu saya menyusuri soi romanee hingga ke ujungnya , di seberang jalan terdapat sebuah watt yang cukup megah, walau bukan wat yang terkenal di Thailand , karena belum pernah melihat watt sebelumnya, saya memutuskan untuk masuk ke areal watt ini.

Kuil ini buka setiap hari sejak pukul 07.00 hingga pukul 17.00. Setiap harinya, banyak yang berkunjung kesini, mulai dari warga lokal hingga Para wisatawan. Kuil yang memiliki nama kependekan Wat Klang (berarti “di tengah”) ini, memiliki arsitektur sangat khas Thailand. Bisa terlihat dengan jelas dari ekseteriornya. Di dalamnya, juga terdapat sebuah mansion bergaya Sino-Portugis untuk Para Biksu.

Leonardo di Caprio at Phang Nga Road

Berbekal peta di tangan, akhirnya saya menuju ke tujuan utama saya menyusuri Old Phuket Town yaitu On On Hotel. Hotel ini jadi terkenal karena merupakan lokasi syuting film “The Beach”-nya Leonardo Di Caprio, walau sebenarnya ini hotel udah tua banget. Di sepanjang Phang nga Road ini banyak bangunan tua bergaya sino portuguese. Selain itu terdapat pula kuil cantik bernama Shrine of the serene light, sayangnya saya gak bisa masuk karena saat itu sedang direnovasi.

On-on Hotel
On-on Hotel
Phromptep Clock Tower
Phromptep Clock Tower

Surin Circle, Clock Tower

Surin Clock Tower
Surin Clock Tower

Dengan sisa-sisa tenaga (dan setengah memaksa ke suami) kita melanjutkan perjalanan ke landmark terkenal lainnya dari Phuket yaitu Surin Circle di mana ada Clock Tower, tapi bener-bener percuma kalau datang pada siang hari, karena keindahan dari clock tower beserta areal taman di sekitarnya bisa dinikmati malam hari saat lampu-lampu dinyalakan.

The End of Journey, The Rasada Road

Sebenarnya saya belum puas mengeksplor Old Phuket Town, tapi karena udah capek dan lapar pula (bingung mau makan di mana, restoran sih banyak, tapi ragu kehalalannya), akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi petualangan di phuket town ini. Dari Clock Tower kita menuju ke arah Rasada Road, terus hingga sampai di pangkalan songthaew yang menuju ke Patong Beach.

Tips, Notes and Lesson Learnt

  • Jangan pernah lupa bawa peta saat akan menelusuri suatu daerah yang belum pernah kita datangi sebelumnya, akibatnya ya seperti saya, tenaga habis tapi eksplorasi tempat gak maksimal, sayang banget kan udah jauh-jauh dateng.
  • Kalau menurut saya eksplorasi kota tua lebih enak dilakukan sore menjelang malam hari (apalagi kalau kamu walking tour seperti saya), karena bangunan tua di mana-mana lebih cantik saat special lightingnya dinyalakan.
  • For more info abut old phuket town , klik here.

Author:

maybe i'm late on falling love with travelling, but later is better than never, get ready for travelling with the baby moms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s