Posted in Central Java, Cilacap, Indonesia

Cilacap ora ngapak ora kepenak

Kenapa Cilacap?

Well, sebelumnya saya memang jarang melirik kota di pesisir pantai selatan yang satu ini, selain karena letaknya yang memang jauh dari kampung si mbah, tempat wisata yang ada di kota ini memang seperti kalah gaung dibanding dengan kota-kota lainnya di provinsi Jawa Tengah.

Dibanding tempat wisatanya, Cilacap memang lebih populer karena adanya pulau nusakambangan yang dikenal sebagai alcatraz-nya Indonesia, pulau ini merupakan penjara untuk napi kelas kakap, tidak jarang juga dijadikan tempat eksekusi para terpidana hukuman mati. Walaupun kondang sebagai pulau penjara, tapi semenjak tahun 1996 pulau nusa kambangan, tepatnya bagian timur, juga dibuka sebagai tempat wisata. Wisata di pulau ini makin populer sejak beredarnya gambar-gambar syantik berupa pantai pasir putih berlatar langit biru cerah di instagram. Karena libur lebaran kali ini yang agak mepet, saya memutuskan untuk main ke Cilacap yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung suami di Tasikmalaya.

Perjalanan Tasikmalaya – Cilacap di H+2 lebaran terbilang sangat lancar, benar-benar tepat sesuai perkiraan google maps, yaitu sekitar 4 jam 30 menit. Kondisi jalan raya yang tahun lalu masih berlubang-lubang dan penuh debu, tahun ini sudah mulus dan nyaman untuk dilalui. Sengaja kami berangkat jam 03.00 subuh untuk menghindari kepadatan lalu lintas.

PANTAI TELUK PENYU 

Untuk mencapai pulau nusa kambangan, kita harus menaiki perahu dari dermaga di pantai teluk penyu. Pantai teluk penyu merupakan pantai terpopuler di seantero kawasan Cilacap. Pantainya sendiri tidak terlalu istimewa, tipikal pantai dengan pasir hitam dan agak kotor karena banyaknya sampah bertebaran.

Dahulu di pantai ini banyak koloni penyu, namun dengan semakin maraknya kilang minyak lepas pantai, koloni penyu menghilang hingga tidak ditemukan lagi. Kawasan lepas pantai Cilacap memang kawasan yang kaya minyak, di pantai ini juga dapat kita temukan bangunan besar pengolahan minyak milik Pertamina. Pemandangan lepas pantainya juga berupa kapal-kapal tanker besar berseliweran. Di bibir pantai banyak dibangun jetty-jetty dari kayu yang ramai dengan wisatawan yang sekedar duduk atau bermain air.

IMG20170628121603
Pantai Teluk Penyu

Kami memarkir mobil di salah satu areal parkir yang tidak jauh dari lokasi benteng pendem. Di areal parkir ini banyak warung-warung penjaja makanan khas Cilacap seperti lotek, tahu masak ataupun  tempe mendoan. Kami pun mencicipi masakan khas tersebut sebagai sarapan sambil duduk lesehan dengan pemandangan pantai teluk penyu yang sedikit muram karena cuaca mendung.

Lotek merupakan makanan sejenis gado-gado, kalau di jawa tengah namanya memang lotek. Kalau tahu masak agak mirip ketoprak, terbuat dari tahu putih, lontong dan kecambah yang disiram sambal kacang. Sementara tempe mendoan-nya sama saja hanya ukurannya sebesar batu bata.

IMG20170628083014
Lotek dan mendoan khas Cilacap

Di areal parkir akan banyak mas-mas yang menawarkan jasa perahu untuk menyebrang ke nusakambangan. Tadinya kami bermaksud mengunjungi benteng pendem dulu baru ke nusa kambangan, tapi karena khawatir melihat mendung yang semakin bergelayut, akhirnya kami mengiyakan salah satu tawaran mas perahu dengan tarif 25K/orang PP. Kami tidak menawar terlebih dahulu sebab berdasarkan blog-blog yang saya baca tarifnya rata-rata 200-300K/perahu, jadi tarif 25K/orang tentu sudah jauh lebih murah sehingga tidak perlu ditawar.

PULAU NUSAKAMBANGAN

Setelah mengenakan life jacket yang disediakan di perahu, kami menyebrangi pantai teluk penyu. Hentakan ombak cukup kencang terasa saat kapal baru meninggalkan bibir pantai, namun seiring semakin ke tengah laut, guncangan semakin kecil. Jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh, sekitar 10 menit kemudian kami sudah merapat di dermaga nusa kambangan. Oh iya, jangan lupa mencatat nomor hp mas perahu untuk minta dijemput balik setelah kunjungan selesai, jangan khawatir sinyal di daerah ini 4G kok. Saat turun si mas perahu minta dibayar full 100 ribu, tanpa prasangka atau praduga saya kasih saja, toh saya pikir saya sudah catat no hp-nya.

IMG20170628090249
Menuju Nusakambangan

Terus terang saya agak kecewa begitu mendarat di pulau nusa kambangan, di dermaga hanya terdapat satu bangunan dari kayu kasar yang kontruksinya asal-asalan yang merupakan kantor pengelola atau pengawas. Sementara di sisi lainnya berjejer warung-warung sederhana yang dikelola warga. Jalan aksesnya berupa jalanan setapak berbatu kasar, kesannya masih sangat sederhana dan belum dikelola secara serius oleh Pemerintah. Padahal potensi wisatanya sangat besar karena alamnya sangat indah, selain itu segala sesuatu yang ada embel-embel pulaunya kan terkesan eksotik ya.

IMG20170628091214
Dermaga Nusakambangan

Daya tarik utama dari pulau nusakambangan adalah pantai pasir putih nya yang saya lihat dari instagram sepertinya banyak jumlahnya dan terletak di beberapa lokasi berlainan, ada pantai kali jati, kali kencana, permisan dll. Tapi waktu saya tanya mbak dan mas warung, mereka cuma bilang namanya pantai pasir putih tok yang letaknya sekitar 30 menit berjalan santai dari dermaga. Kami pun mengikuti arus kerumunan mayoritas wisatawan yang sepertinya menuju ke tujuan yang sama.

Medannya tidak terlalu berat, walau di beberapa tempat ada yang menanjak namun masih mudah dilalui, kedua anak saya saja kuat kok. Di kanan kiri jalan, vegetasi pepohonan tumbuh rapat sehingga cahaya matahari agak terhalang. Suhu udaranya lembab dan panas khas pulau sehingga membuat kami cepat berpeluh.

Tidak jauh kami bertemu dengan jembatan sangat sederhana yang terbuat dari kayu gelondong dan pegangannya hanya dari ikatan kayu seadanya. Ngeri juga saat melintasi jembatan tersebut, harus pelan-pelan dan bergantian. Syukurlah sedang musim kemarau sehingga jalan dan jembatan tersebut tidak licin.

Kemudian kami bertemu dengan benteng kecil peninggalan kolonial Belanda, bangunan benteng ini katanya zaman dulu terhubung dengan benteng pendem di pantai teluk penyu. Bangunan benteng berwarna abu-abu ini hanya terdiri dari dua ruangan dan di sekelilingnya sudah dipenuhi pohon merambat dan semak belukar. Tidak jauh dari benteng ini kami juga menemukan salah satu bagian benteng lainnya berupa semacam pos jaga yang bagian atasnya sudah ditumbuhi pohon pisang, lucu juga karena mengingatkan pada ta phrom di cambodia yang atasnya ditumbuhi beringin, kalo di sini ditumbuhi pisang.

IMG20170628094835
Benteng peninggalan Belanda di Nusakambangan
IMG20170628095528
Benteng yang dirambati pohon pisang

5 menit kemudian sampailah kami di pantai pasir putih yang digadang-gadang, jalan setapak menuju pantai ini sangat menurun curam dan harus berhati-hati karena banyak belitan akar. Ternyata…arealnya sendiri tidaklah terlalu luas seperti yang saya perkirakan, dan sayangnya lagi-lagi banyak sampah bertebaran.

IMG20170628095657
Jalan menuju pasir putih yang curam

Kedua kiddos yang sudah capek berjalan langsung nagih main air walaupun saat itu matahari bersinar lumayan terik. Ombaknya cukup besar sehingga suami saya harus terus memegang tangan kedua kiddos. Sementara saya memilih menunggu di pinggir pantai sambil memandangi kapal-kapal tanker yang lalu lalang di kejauhan. Tersedia fasilitas kamar mandi sederhana berupa bilik bambu yang masih dikelola penduduk lokal.

20170628_101412
Pantai pasir putih pulau nusakambangan

Setelah puas bermain air, kami berjalan kembali ke dermaga. Sekitar 15 menit sebelum dermaga saya sms mas perahu untuk minta jemput, dan dijawab “saya sudah sampai: dan kami disuruh cepat bergegas. Tapi namanya juga bawa kiddos, gerak kami tidak bisa cepat, sehingga saat kami tiba di dermaga, perahu tersebut sudah kembali ke teluk penyu lagi.

Problemnya adalah perahu-perahu ini masih dikelola secara sendiri-sendiri, belum ada induk koperasi atau badan pemerintah yang menaungi. Jadi mereka akan berlomba-lomba bersaing mendapatkan penumpang. Imbasnya penumpang jadi terlunta-lunta menunggu, seperti kami ini yang hingga menunggu 1 jam tidak kunjung dijemput juga, sebab perahu tersebut pastinya akan menjemput kami sekaligus mengangkut penumpang dari teluk penyu, ya kalau langsung dapet penumpang, kalau nggak dapet juga?. Kita hanya boleh naik perahu yang sama untuk pulang pergi karena biaya langsung dibayarkan ke tukang perahu. Karena kiddos sudah rewel akhirnya suami saya nego dengan salah satu perahu untuk diperbolehkan mengangkut kami, tentunya dengan membayar lagi 50 K untuk berempat. Setelah sampai di teluk penyu, mas perahu pertama baru sms lagi mengabarkan kalau dia sudah sampai dan langsung saya jawab kalau kami sudah menumpang perahu lain, eh dia malah nanya bayarannya mana, langsung saya jawab kan tadi sudah saya bayar full sambil menjelaskan deskripsi kami yang terdiri dari keluarga dengan dua anak kecil.

Alangkah lebih baiknya kalau ada badan pengelola yang menaungi perahu-perahu ini, selain agar lebih tertib dan nyaman, pemerataan pendapatan antar tukang perahu akan lebih terjamin. Misalnya saja seperti di green canyon pangandaran, di mana kita membeli tiket di loket karcis, naik perahu dengan nomor sesuai arahan petugas dan kembali dengan perahu manapun yang penting tetap memegang karcis. Dermaga pun lebih baik kalau dijadikan terpusat saja, tidak seperti sekarang di mana hampir seluruh bibir pantai dipenuhi parkir perahu yang mengakibatkan pengunjung tidak leluasa bermain di pantai akibat terhalang perahu yang hilir mudik.

Perahu yang terakhir kami tumpangi mendarat di bagian pantai teluk penyu yang lumayan jauh dari posisi kami parkir tadi pagi. Hari sudah menjelang tengah hari saat kami tiba, kondisi sudah sangat ramai dan makin semrawut. Bagaimana tidak, areal parkir tidak hanya dipenuhi mobil dan motor yang parkir, tapi ada kereta kelinci yang melintas, kuda tunggangan, sepeda bahkan para pengamen. Jalan utama pantai pun sudah macet tidak karuan akibat makin banyaknya volume kendaraan yang masuk. Maka dengan berat hati, setelah makan siang di salah satu restoran sea food yang terletak di teluk penyu, kami membatalkan kunjungan ke benteng pendem dan langsung bergegas menuju hotel untuk beristirahat.

IKAN BAKAR YAYAT – PANTAI TELUK PENYU

Restoran ini banyak direkomendasikan oleh warga dan wisatawan, ada beberapa cabang ikan yayat di pantai teluk penyu. Kemarin kami makan siang di ikan bakar yayat yang menempati bangunan dua lantai dengan cat berwarna pink.

Lantai satu berupa bangku-bangku biasa sementara lantai dua berupa lesehan, kami tentunya memilih duduk di lantai dua agar lebih santai. Kami memesan bawal bakar, cumi goreng tepung dan tumis kangkung. Produk seafoodnya sendiri memang sangat fresh tapi rasa masakannya sih tidak terlalu outstanding menurut saya.

HOTEL DAFAM CILACAP

Karena kemacetan parah di kawasan pantai, jarak yang sekiranya  hanya 1,4 km saja ditempuh dalam waktu lebih dari 30 menit. Kiddos yang sudah kelelahan bermain di pantai, sukses terlelap di mobil.

Dafam Cilacap ini menempati bangunan panjang berlantai dua bercat biru, karena hanya dua lantai dan plang hotelnya pun tidak terlalu besar, hampir saja kami terlewat. Bangunan hotel ini sepertinya merupakan gedung tua yang sudah direvitalisasi karena itulah arealnya sangat luas.

Setelah check in di resepsionis, kami diantar menuju kamar kami yang terletak di lantai 1, tidak jauh dari area kolam renang. Karena merupakan bangunan yang luas, menurut saya kok tata letak nya agak membingungkan ya, tidak jarang awal-awal saya tersesat saat akan menuju ke lobby atau ke tempat parkir karena membingungkan.

Kamar yang kami booking bertipe deluxe no window, eh ada window-nya sih cuma berupa kaca mati yang menghadap ke kebun dalam dan dilapisi dengan gorden tebal. Ranjangnya berupa king bed yang cukup (dicukup-cukupin) menampung dua dewasa dan dua balita, okupansinya memang untuk 2 orang dewasa, walau ditulis keterangan bahwa children max 7 tahun masih diperbolehkan menginap gratis tanpa extra bed. Tapi akhirnya menjelang waktu tidur, kami mengeluarkan kasur serbaguna yang disimpan di dalam mobil agar lebih nyaman, karena memang satu ranjang untuk berempat lama-lama terasa sempit juga. Fasilitas lainnya berupa TV flat dengan pilihan channel tv kabel yang tidak terlalu lengkap, electric kettle, refrigerator dan compliment berupa 2 botol air mineral.

20170628_152211
Kamar Deluxe Dafam Hotel Cilacap

Kamar dalam keadaan bersih dan rapi waktu kami masuk, walau lantai di dekat rak tv agak sedikit basah, mungkin masih belum terlalu kering setelah dibersihkan.

Karena tadi pagi kami berangkat dari Tasikmalaya pukul 03.00 subuh, suami saya langsung terlelap tidur, sementara kiddos yang tadi sudah sempat tidur di mobil malah segar dan cerah ceria dan mengajak saya ke kolam renang. Kolam renangnya lumayan besar dengan satu pool khusus dewasa dan satu pool khusus anak.

20170629_075516
Pool di Dafam Hotel Cilacap

MASJID AGUNG CILACAP & ALUN-ALUN CILACAP

Sekitar pukul 05.00 sore kami sudah bersiap untuk menjelajahi kota Cilacap kembali, karena saya masih penasaran dengan benteng pendem yang letaknya cuma sekitar 10 menit dari hotel, saya mengajak suami saya untuk mengarahkan mobil kembali ke arah pantai teluk penyu untuk berkunjung sebentar saja ke benteng pendem.

Selepas pukul 05.00 sore pintu gerbang pantai teluk penyu sudah tidak dijaga petugas sehingga kami tidak perlu membayar tiket masuk lagi, namun ternyata kemacetan di dalam areal pantai sudah sangat parah dan polisi memberlakukan arah sejalur dan verbodem untuk arah tertentu, maka kami terpaksa sekali lagi membatalkan kunjungan.

Kami langsung menuju ke alun-alun kota Cilacap yang bersebelahan dengan masjid agung. Kota Cilacap sendiri tidaklah terlalu besar, mirip seperti purworejo (tempat si mbah), pusat perbelanjaan terbesar yang ada hanyalah mall yogya, selain itu kebanyakan adalah ruko-ruko. Namun karena merupakan daerah kilang minyak, di kota ini banyak berdiri chain hotel-hotel ternama, misalnya saja Fave, Dafam, Whiz, Hom dan sejumlah hotel kecil lainnya. Kotanya sendiri tidak terlalu ramai padahal sedang libur lebaran, kendaraan yang lalu lalang pun tidak terlalu banyak.

Kami sedikit kesulitan menemukan parkir di masjid agung dan terpaksa mengitari alun-alun dahulu melewati kadipaten. Masjidnya mengingatkan saya akan masjid demak dengan bentuk atap limas yang bertingkat-tingkat, lebih mendominasi dibandingkan atap kubah di sejumlah sisi dan minaretnya. Karena sudah waktu maghrib, tidak ayal halaman masjid sudah penuh sesak dengan mobil dan motor yang parkir. Pintu masuk lelaki terletak di bagian depan, sementara untuk wanita terletak di sisi samping.

115791990
Masjid Agung dan Alun-alun Cilacap (sumber : panoramio.com)

Setelah shalat kami beranjak ke alun-alun cilacap yang persis di sebelah masjid ini. Di depan alun-alun ini berdiri tegak tugu dengan patung dua orang nelayan yang merupakan icon kota cilacap. Untuk memperindah, dipasanglah signage dengan tulisan “Cilacap Bercahaya” di seberangnya. Alun-alun nya sendiri berbentuk persegi dengan lapangan luas berumput yang malam itu dipenuhi dengan para penjaja makanan, pedagang hingga tukang odong-odong dan permainan anak aneka rupa khas pasar malam rakyat. Di sisi dekat masjid juga banyak mobil sepeda (namanya apa ya tepatnya, pokoknya kendaraan mirip mobil tapi harus dikayuh seperti sepeda, kendaraan ini dilengkapi lampu sehingga kalau malam kelihatan lebih cantik) yang bisa disewa dengan tarif 20-25 K sepuasnya.

IMG20170628183459
Tugu nelayan di alun-alun cilacap

Karena tujuan awalnya main ke alun-alun sekaligus untuk mencari makan malam, maka sementara anak-anak bermain odong-odong, saya berkeliling alun-alun untuk mencari makanan yang pas. Tapi sayangnya kebanyakan hanya menjual makanan ringan dan camilan saja, banter-banter hanya ada tukang mie ayam atau bakso, tidak ada tenda pecel lele atau chinese food.

Maka setelah memaksa anak-anak yang kalau diturutin bakal betah main sampai malam, kami kembali berkeliling kota Cilacap. Ternyata sulit mencari tenda-tenda makanan di sini, mungkin karena kami yang tidak tau di mana pusat kulinernya ya, tapi sepanjang alun-alun hingga tiba di hotel lagi tidak ada, kebanyakan hanya tukang nasi gorang. Opsi terakhir kembali ke KFC yang terletak di depan Yogya yang ramai dan antrinya minta ampun, mungkin karena satu-satunya gerai di Cilacap ini.

BENTENG PENDEM

Esoknya setelah sarapan dan anak-anak puas berenang di hotel, kami kembali ke area pantai teluk penyu untuk mengunjungi benteng pendem.

Benteng pendem merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1800-an sebagai benteng pertahanan. Benteng ini terakhir difungsikan saat peperangan melawan Jepang dan setelah itu terabaikan hingga sebagian bangunannya tertutup oleh tanah dan pasir pantai hingga kemudian sekitar tahun 70-80 an digali kembali, karena itulah disebut benteng pendem.

Benteng pendem terdiri atas sejumlah bangunan yang sudah lengkap fungsinya untuk satu kompleks benteng pertahanan.

Pintu masuknya berupa pagar bata merah setinggi 4 m dengan dua pintu utama, di dalamnya berdiri loket tiket. Sayangnya suasana dalam benteng (seperti jamaknya obyek wisata di tanah air) agak semrawut karena banyaknya pedagang di sana-sini. Para wisatawan pun banyak yang kurang tertib mengikuti jalur, padahal sudah ada papan penunjuk besar-besar yang menunjukkan alur kunjungan.

20170629_093053
Pintu masuk benteng pendem

Berkeliling area kompleks ini membuat saya berdecak kagum akan kehebatan ilmu teknik sipil nya orang belanda terutama sistem drainase-nya, padahal bangunan ini sudah berusia ratusan tahun.

Berjalanlah melalui alur yang sudah ditentukan, kita akan melewati jalan setapak yang sejuk dengan naungan pepohonan, ada juga patung-patung dinosaurus yang menurut saya sih kurang nyambung dengan tema benteng dan lebih baik tidak usah ada, akan lebih baik kalau ada maket-maket, foto atau poster mengenai sejarah benteng. Tidak jauh kita akan menemukan parit besar yang sepertinya di zaman dahulu mengelilingi keseluruhan area benteng, parit ini sekarang difungsikan menjadi area rekreasi sepeda air.

20170629_093649
Parit di kompleks Benteng Pendem

Setelah melewati parit, kami bertemu dengan bangunan panjang berwarna abu-abu dengan plesteran halus yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunan tersebut merupakan barak prajurit, ruangannya didesain berlangit-langit rendah dengan pintu yang juga membuat orang dewasa membungkuk saat melewatinya. Tinggi pintu sebenarnya sekitar 2m, namun tepat di pintu dibangun tanggulan yang cukup tinggi. Sayangnya ruangan barak ini kurang dirawat, sangat lembab berlumut dan tidak dilengkapi penerangan sama sekali sehingga sangat gelap.

20170629_093856
R Barak

Bangunan satu dengan lainnya letaknya terpisah walu tidak terlalu jauh. Pepohonan dan semak belukar yang ada tidak rapi dan kurang terawat, sehingga menambah kesan angker, padahal kalau dirapikan sedikit pasti lebih enak dipandang.

Dari ruang barak, kami menuju ke arah gudang senjata dan benteng. Benteng-benteng ini dahulu ada yang difungsikan sebagai pengintai ataupun untuk serangan. Lagi-lagi karena kurang dirawat, seluruh permukaannya berlumut dan mengharuskan kita berhati-hati saat menapaki anak tangganya.

Setelah itu kita akan bertemu dengan ruang penjara yang bangunannya paling besar di keseluruhan kompleks,  di mana salah satu bagian bangunannya pernah dijadikan lokasi reality show uka-uka. Bagian bangunan tersebut digenangi air dan berbau amis tajam, bangunan tersebut juga dilengkapi dengan saluran-saluran air yang apabila air pasang akan membuang debit air yang berlebih, saluran ini berlabel tahun 1873.

Sel-nya sendiri terletak di bagian depan bangunan penjara dan sangat tidak manusiawi, lebih tepat disebut kerangkeng karena hanya berbentuk kotak seukuran kerangkeng mesin air, membuat para tahanan tidak bisa duduk nyaman apalagi tidur atau berdiri. Bergidik saya membayangkan entah berapa banyak nyawa melayang di sini. Saya tidak merekomendasikan masuk ke dalam ruangan penjara karena sangat gelap dan becek, apalagi buat yang punya 6th sense ya.

Dinding-dinding penahan tanah berdiri berdampingan berselang-seling dengan ruang penjara. Dinding penahan tanah ini tersusun dari bata dan beton bertulang dan berbentuk miring. Setelah itu kami berjalan lurus menuju pintu keluar dan melewatkan satu bangunan yaitu ruang klinik yang letaknya di tengah-tengah kompleks.

20170629_095435
Dinding penahan tanah

Secara keseluruhan benteng ini sangat butuh perawatan dan perhatian Pemerintah, sayang sekali karena nilai historisnya sangatlah tinggi. Akan jauh lebih baik kalau direvitalisasi dan setiap wisatawan disertai pemandu wisata sehingga kita bisa mengerti sejarah dan arsitektur bangunan tersebut, bukan hanya datang cekakak cekikik terus selfie.

Sebelum meninggalkan kota Cilacap, kami mampir sebentar di jembatan yang melintasi sungai kaliyasa, sungai ini merupakan sungai yang bermuara di laut dengan pemandangan kapal-kapal nelayan yang berwarna-warni.

IMG20170629102911
Sungai Kaliyasa

 

 

 

 

Advertisements
Posted in Central Kalimantan, Indonesia, Pangkalan Bun

Pangkalan Bun & Tanjung Puting

Berawal dari sepucuk surat undangan pernikahan yang dikirim oleh salah seorang sahabat lama saya di kantor, andin, yang mengabarkan tentang acara walimah yang akan dilangsungkan di Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah. Walaupun kami masih terhitung kerabat dari pihak ibu nya (yang asli jawa tengah), namun ayahnya merupakan putra dayak asli, jadi memang sahabat saya itu lahir dan besar di pangkalan bun, kalimantan.

Ingatan saya mengenai pangkalan bun adalah kota terdekat untuk akses menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal dengan konservasi orang utan. Gayung bersambut, suami saya setuju cuti setengah hari untuk menghadiri acara walimah sekaligus mengunjungi Taman Nasional tersebut. Kali ini kami hanya mengajak baby g karena adiknya masih terlalu kecil.

Hanya ada dua penerbangan direct ke Pangkalan Bun, yaitu Trigana dan Kalstar. Menyesuaikan dengan jadwal, kami memilih Trigana yang berangkat hari sabtu pukul 09.25 dan pulang hari senin pukul 07.35. Sedihnya hanya sedikit jadwal penerbangan yang tersedia, jadi kami malah tidak bisa menghadiri acara walimah yang justru diadakan hari senin.

DAY 1

Pesawat trigana yang kami tumpangi delay hingga 4 jam akibat kerusakan teknis di baling-balingnya, yah namanya juga pesawatnya sudah pada tua. Banyak penumpang yang berkeluh kesah juga marah-marah apalagi yang punya urusan bisnis.  Jam 13.00 barulah trigana air mengudara, durasi penerbangan jakarta-pangkalan bun hanyalah 1 jam 10 menit. Selain warga lokal, banyak juga wisatawan asing yang sepertinya memiliki tujuan utama ke Tanjung Puting.

Bandara Iskandar merupakan bandara kecil yang sepi sekali, selain pesawat kami hanya ada satu pesawat lain yang parkir, berasa bandara pribadi. Atap bangunan bandara ini dibentuk menyerupai rumah betang, rumah adat khas kalimantan.

Karena sudah siang menjelang sore, terpaksa salah satu itinerary kami untuk berkunjung ke pantai kubu dibatalkan, kami langsung menuju ke istana kuning kutawaringin dengan taksi. Taksi bandara harus dipesan melalui loket yang terletak di sebelah kanan dari pintu keluar, tarifnya sudah ditetapkan berdasarkan wilayah yang dituju. Dari bandara ke kutawaringin tarifnya adalah 75 K, cukup mahal karena jaraknya sebenarnya hanya 7-8 km, tapi tidak ada alternatif transportasi lainnya.

Lalu lintas di kota pangkalan bun sangatlah sepi, mirip seperti susana di pracimantoro – wonogiri, hanya sedikit kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kami melewati tugu pancasila selama perjalanan dan tidak lama sudah sampai di Istana Kuning. Kami meminta supir taksi menunggu dulu selama setengah jam dan selanjutnya mengantar kami ke jl ahmad yani, sang supir taksi setuju dengan total 150 K yang harus kami bayarkan.

ISTANA KUNING

Istana Kuning merupakan istana yang dahulu dipakai oleh kesultanan melayu islam kutaringin yang didirikan pada tahun 1811-1814. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil pemugaran dan pembangunan ulang setelah sempat dilanda peristiwa kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan.

Walaupun disebut istana kuning, nyatanya bangunan istana ini yang dibangun dari kayu ulin ini berwarna kecokelatan. Disebut istana kuning karena kuning merupakan warna resmi dari kerajaan kutaringin. Bangunannya berbentuk rumah panggung betang dan terdiri dari empat bagian besar .

Saat kami ke sana suasana terbilang sangat lengang, hanya ada satu pengunjung selain kami. Di pintu gerbang terukir lambang kerajaan kutaringin, sementara meriam-meriam kuno yang dicat kuning berjajar rapi di halamannya. Posisi istana kuning yang tinggi memungkinkan kita melihat bundaran kuning yang terletak persis di bawahnya, bundaran kuning merupakan area yang populer untuk muda-mudi di pangkalan bun.

13100846_10154233888359623_2774604087936315924_n
Bundaran Kuning
13151549_10154233887739623_5111297173104306129_n
Lambang kerajaan kutaringin
13087335_10154233888559623_5653860049131717880_n
Meriam-meriam kuno di halaman istana kuning

Kami menaiki tangga dan berjumpa dengan lorong panjang, di kirinya berdiri suatu serambi luas yang ternyata difungsikan juga untuk acara-acara umum seperti halal bihalal atau pernikahan (saat kami ke sana serambi tersebut sudah dihias untuk acara MTQ kutawaringin). Bagian kanan lorong difungsikan sebagai museum, sementara  ruangan di bagian ujungnya tidak boleh dimasuki umum.

13087445_10154233888454623_5867603502512433475_n
Lorong panjang di dalam istana kuning

Kami memasuki area museum yang mana sudah ada pemandunya, koleksinya berupa peninggalan kerajaan kutaringin. Ada kereta kencana yang digunakan untuk acara kebudayaan, foto-foto dan silsilah para sultan, guci-guci dan peralatan antik, senjata hingga singgasana sultan yang didominasi warna kuning dan hijau. Museumnya sendiri tidaklah terlalu besar, sehingga waktu setengah jam rasanya cukup untuk melihat-lihat koleksi yang ada sambil sesekali bertanya ke pemandu.

Dari istana kuning, kami diantar menuju kediaman andin di jl ahmad yani yang hanya 5 menit saja perjalanannya. Rumahnya Andin berdiri tepat di pinggir jalan utama dengan halaman depan yang luas dan halaman belakang yang bahkan lebih luas lagi, persis seperti tanah si mbah di kampung. Saya jadi ingat tanah orang-orang zaman dahulu di pulau jawa (seperti kepunyaan si mbah) yang luas seperti ini.

Saya betah berlama-lama di rumahnya andin sebab sangat asri dan nyaman, di halaman belakangnya berdiri kolam-kolam ikan yang langsung berbatasan dengan kebun luas. Betah ngobrol berlama-lama dalam suasana seperti ini apalagi kami sudah lama tidak bertemu hingga tanpa terasa senja menjelang. Kami diantar ke hotel oleh sahabat kami tersebut, semoga sakinah mawwadah warrahmah ya!

ARSELA HOTEL PANGKALAN BUN

Kami sudah mem-booking hotel via traveloka, arsela hotel ini berlokasi di jl iskandar hanya 5 menit dari bandara. Bangunan hotelnya juga sangat cantik, masih dengan gaya rumah betang khas kalimantan dan terbuat dari kayu. Tarifnya sendiri tidaklah terlalu mahal, namun kamar yang kami tempati cukup nyaman dan bersih.

13087822_10154233884439623_2690801249579151224_n
Arsela Hotel

RM DUNIA LAUT

Berdasarkan hasil rekomendasi, kami memutuskan makan malam di RM Dunia Laut. Sebagai kota pinggir pantai, pangkalan bun memang terkenal sebagai penghasil ikan dan aneka seafood lainnya, RM Dunia Laut ini dikatakan memiliki cita rasa yang enak dengan bahan dasar seafood yang segar.

Karena tidak ada kendaraan umum sama sekali (nggak ada angkot apalagi ojek), kami meminjam sepeda motor dari salah satu staf hotel dengan tarif seikhlasnya.

Dunia Laut sendiri tempatnya tidak terlalu luas, indoor dengan AC, dan lucunya kursi dan mejanya diberi sarung seperti di acara pernikahan. Kami memesan kepiting saus padang, cumi goreng tepung dan kangkung. Sempet ketar-ketir juga karena di menu tidak tertera harganya, tapi ternyata harga yang dibayar hanya 150 K, tergolong murah untuk satu porsi kepiting jumbo dan cumi 1/2 kg. Keduanya dimasak dari bahan seafood yang masih segar sekali, daging kepitingnya manis dan empuk, begitupun cuminya.

Sepulang makan, kami masih berputar-putar dulu untuk mencari toko oleh-oleh khas pangkalan bun. Btw, saya hanya sekali ketemu pom bensin dekat tugu pancasila yang luar biasa ngantrinya hingga ke jalanan, menurut andin memang hanya ada satu pom bensin di area pangkalan bun ini. Tukang bensin eceran saja nggak ada sama sekali, yang ada malah tukang tambal ban.

Sebagai kota bahari, oleh-oleh khas pangkalan bun adalah kerupuk dan kemplang berbahan dasar ikan. Pemilik tokonya pun merupakan orang rantau asal jawa tengah, memang di pangkalan bun banyak orang-orang dari jawa tengah, bahkan pemilik hotel tempat kami tinggal termasuk stafnya juga dari jawa tengah.

DAY 2

TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Sebelum berangkat ke Pangkalan Bun saya sudah terlebih dahulu googling mengenai jasa trip organizer untuk mengunjungi Tanjung Puting. Kawasan Konservasi Tanjung Puting terletak di sepanjang sungai sekonyer yang mengharuskan kita menggunakan moda transportasi berupa klotok (perahu) ataupun speed boat untuk mencapainya.

Memang sebaiknya kita menggunakan jasa trip organizer karena medannya sulit, harus ada pemandu yang paham dengan situasi medannya, selain itu sewa klotok ataupun speed boat tidak bisa secara go-show karena sering full booked. Berdasarkan hasil rekomendasi, kami pun memutuskan ikut trip yang ditawarkan orangutandays.com yang dipimpin oleh Mas Yomie Kamale.

Kami sangat tertarik untuk menggunakan klotok, dengan program live in board pengalaman yang didapat pasti akan jauh lebih seru, makan dan nginap di atas perahu yang berlayar sepanjang sungai sekonyer, wuih kayak di film anaconda aja. Sayangnya, karena klotok ini jalannya pelan, maka durasi perjalanan yang ditawarkan optimalnya adalah 2D1N atau 3D2N. Bisa aja sih seharian tapi eksplorasinya jadi kurang maksimal karena hanya satu area konservasi saja yang dikunjungi.

Kami terpaksa menjatuhkan pilihan ke alternatif kedua yaitu speed boat, yang jalannya lebih cepat dan dalam sehari bisa mengunjungi dua area konservasi. Harga yang ditawarkan mas Yomie sebesar 1,9 juta untuk paket bertiga (saya, suami dan baby G) sudah termasuk sewa speed boat, tiket masuk, jasa pemandu, makan siang, snack + soft drink dan jasa antar jemput dari hotel.

Setelah menyantap sarapan yang disediakan oleh hotel, jam 07.30 kami dijemput langsung oleh mas Yomie sendiri di lobby hotel. Mas Yomie orangnya sangat ramah, banyak memberi info mengenai segala seluk beluk daerah Tanjung Puting dan Pangkalan Bun, btw ternyata mas yomie ini aslinya orang bandung tapi punya istri asli dari pangkalan bun dan akhirnya menetap di sini sekaligus membuka jasa trip organizer, two thumbs up mas.

Perjalanan dari hotel ke dermaga kumai hampir satu jam, jalanannya sangat sepi dan mulus, tidak banyak kami berpapasan dengan kendaraan lainnya. Barulah saat mulai memasuki pelabuhan, tampak hiruk pikuk dari para nelayan dan pekerja. Kami memasuki suatu kawasan dengan satu dua bangunan kantor konservasi setelah sebelumnya melewati gapura yang bertuliskan “Balai Taman Nasional Tanjung Puting”, tempat ini juga merupakan dermaga kumai di mana sudah banyak klotok atau speed boat yang parkir. Setelah berfoto dengan patung orang utan seukuran aslinya, kami diperkenalkan kepada bapak cihuy (maaf ya pak, saya lupa namanya, cuma orangnya asyik banget) yang kali ini akan bertindak sebagai sopir speed boat sekaligus pemandu kami.

13151727_10154231129629623_9093318580147898916_n
Welcome to Balai Taman Nasional Tanjung Puting
13087871_10154233837364623_587613398578694857_n
Dermaga Kumai

Tidak lama setelah mengarungi perairan lautan yang berair asin, kami bertemu dengan marka berupa patung orang utan dengan tulisan “Tanjung Puting”, marka ini menandai dimulainya sungai sekonyer. Paruh awal sungai masih merupakan perairan payau (air laut campur air tawar) di mana sungainya masih berwarna hitam kecokelatan dengan vegetasi pohon yang tinggi-tinggi di kanan kirinya. Pak Cihuy mengingatkan agar kami tidak iseng mencelupkan tangan atau kaki apalagi berenang karena di sungai ini masih banyak buaya, bahkan belum lama ini polisi hutan yang bertugas di pinggir sungai tewas dimakan buaya. Glek, saya pun jadi agak jiper ya, walau pak cihuy juga menjelaskan bahwa buaya takut sama suara mesin klotok atau speed boat, jadi kalau sedang ramai paling buayanya berdiam di dasar sungai.

13133175_10154233838409623_4046411403410696915_n
Mulai memasuki sugai sekonyer
13151899_10154233838389623_2545195882577708271_n
HIlir sungai sekonyer yang berair payau

Tanjung Puting merupakan taman nasional di Indonesia yang termasuk World Network of Biosphere Reserves, taman nasional ini adalah pusat konservasi orang utan, selain memetakan populasi yang ada, konservasi ini juga mendidik orang utan agar kembali liar di alam.

Sekitar 40 menit menyusuri sungai sekonyer, sampailah kami di konservasi pertama yaitu pondok tanggui. Kami diturunkan di dermaga panjang yang terbuat dari kayu lalu trekking selama 15-20 menit hingga tiba di tempat feeding, jalanan trekking cukup ringan dengan medan mendatar , berupa jalan setapak berbatu-batu yang dipagari pepohonan dan ilalang.

Pukul 10.00 merupakan waktu feeding, di tempat tersebut sudah dibangun suatu platform yang di sekelilingnya sudah dibatasi dengan tali. Tidak lama kemudian datanglah sang ranger (penjaga alam) yang bertugas untuk membagikan makanan, sang ranger pun membunyikan isyarat hingga orang utan berdatangan dari berbagai penjuru, jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan menyeruak berjalan dari belakang atau tiba-tiba melompat dari pohon ke pohon, seru banget nggak kayak di kebun binatang. Orang utan berbadan besar berbulu kecoklatan saling berebut makanan di platform tersebut hingga Mandar, sang alpha datang. Di dunia hewan pun ada sistem sosial di mana kelompok hewan akan dipimpin oleh Alpha, yang merupakan pejantan terkuat, Alpha ini ditakuti dan dihormati oleh kawananannya, begitu Alpha datang yang lainnya pun akan menyingkir. Pengunjung yang ada pun dihimbau dengan plakat besar-besar bertuliskan “keep silent, respect the orang utan”, dilarang mgobrol, berisik, riuh apalagi membuat keributan, jadi saat menyaksikan acara pemberian makan paling sesekali hanya terdengar suara klik-klik dari kamera dslr ataupun ponsel.

Karena sudah waktunya makan siang, setelah dari pondok tanggui, kami berhenti dulu di resort Pondok Amung. Resort Pondok Amung terdiri atas sekumpulan bangunan yang dilengkapi dengan dermaga yang hanya sesekali digunakan kalau ada keperluan penelitian saja, selain itu kosong dengan hanya satu orang penjaga. Makan siang disajikan dalam box dan menunya luar biasa, selain ayam goreng, ada ikan sungai goreng, sate udang goreng, tahu tempe dan lalapan, sampe nggak habis kemakan semuanya saking banyaknya. Setelah kenyang saya iseng-iseng menelusuri pondok amung karena pingin nyari toilet, tapi baru setengah jalan saya balik lagi dan minta ditemani suami saya karena takut kalau-kalau malah ketemu sama buaya nangkring atau binatang lainnya.

13119051_10154233852589623_5684839800638108936_n
Dermaga di Resort Pondok Amung

Kami kembali menelusuri sungai sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam karena kandungan humusnya makin banyak, vegetasi di daerah ini kebanyakan berdaun jarum. Sekitar sejam kemudian hujan mulai turun rintik-rintik, untunglah kami sudah mendekati camp leaky. Tidak lama kemudian hujan turus dengan derasnya, kami pun menumpang ke klotok milik mas yomie yang sedang bersandar di dermaga camp leaky (kebetulan penumpangnya sudah masuk ke camp, jadi klotok kosong). Ada beberapa klotok lain yang juga sedang bersandar menunggu hujan reda, kami mengenali beberapa wisatawan asing (bule) yang juga terbang bersama dengan trigana kemarin.

13096004_10154233852374623_6721363022241773617_n
Sungai Sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam

Klotok merupakan perahu dua tingkat, tingkat pertama digunakan untuk ruang awak kapal, dapur dan kamar mandi. Tingkat dua barulah digunakan oleh penumpang, umumnya kosong dengan hanya satu dua kasur dan meja bangku yang bisa digeser atau dilipat. Klotok biasanya berisi 3 awak, 1 sebagai nahkoda, 1 sebagai sesi wara wiri dan 1 lagi (biasanya perempuan) adalah tukang masak. Kebanyakan wisatawan asing atau dari luar daerah pasti akan menggunakan klotok secara private, satu klotok paling berisi 2-3 orang atau satu keluarga kecil saja (4-5 orang) dan mereka pun melakukan live on board. Berbeda dengan wisatawan lokal (pangkalan bun) yang sempat kami temui, satu klotok dihuni rame-rame hingga penuh dan hanya melakukan kunjungan satu hari saja (hanya camp leakey).

Saat hujan mulai berangsur-angsur reda, datanglah seekor orang utan betina dengan ukuran tubuh medium ke dermaga, namanya siswi. Pak Cihuy menerangkan, bahwa Siswi ini merupakan orang utan gagal, artinya gagal kembali jadi liar sesuai dengan program konservasi, siswi ini masih sering main ke dermaga dan minta makan dari orang-orang. Ada kisah tragis yang nggak kalah sedihnya dari drama india di balik gagalnya siswi, Siswi ini dilahirkan dari rahim Siswoyo, seorang betina primadona di camp leakey, begitu dewasa siswi pun menikah dengan Tom sang alpha tapi sayangnya anak kembar yang dilahirkannya meninggal sehingga siswi terkena faktor psikologis berat yang menyebabkan dia gagal menjadi liar lagi. Mungkin kalau manusia dia terkena beban batin yang amat mendalam, secara suaminya merupakan ketua kelompok yang pasti digandrungi banyak cewek pasti dia sering cemburu, jadi begitu bayinya meninggal dia jadi agak gila.

13102691_10154233853249623_6004568844284549347_n
Meet Siswi

Begitu hujan reda, kami memasuki area camp leaky melewati suatu dermaga panjang dan jalan setapak yang masih becek akibat hujan. Sekitar 15 menit kemudian, sampailah kami di bangunan panjang berwarna hijau yang difungsikan sebagai museum. Setelah mengisi buku tamu, kami berkeliling menyusuri museum. Adalah seorang Birute Galdikas, seorang profesor wanita asal jerman yang merupakan peneliti primatologi, aktivis pelestarian alam dan penulis buku-buku mengenai ancaman kepunahan orang utan, yang telah mendedikasikan banyak usaha dan kerja kerasnya di camp leaky ini. Profesor Galdikas lah yang telah mengembangkan konservasi dan memetakan populasi orang utan di camp ini, sejarah dan silsilah para orang utan dipampang di dinding disertai foto-fotonya. Saya kagum saja bagaimana bisa membedakan antara satu orang utan dengan yang lainnya padahal menurut saya kelihatan sama semua. Untuk memudahkan pemetaan, anak-anak dinamakan sesuai dengan huruf pertama orang tuanya (misal siswi anak siswoyo), nah mungkin karena yang memberi nama orang asing jadi dia nggak begitu paham ya soal nama-nama yang sesuai dengan gendernya, haha. Selain silsilah, di sini juga kita bisa mendapat informasi soal orang utan, mulai dari info biologi nya hingga sosialnya, ada juga tulang belulang dan gigi geligi dari orang utan.

13151471_10154233853159623_5032412689334549925_n
Dermaga Camp Leakey

Hujan kembali turun dengan sangat deras sehingga serambi museum penuh sesak dengan orang-orang yang berteduh, beberapa bahkan ada yang sudah basah kuyup karena terlambat lari waktu hujan tadi.

Saat masih gerimis, pak cihuy mengajak kami kembali melanjutkan perjalanan agar tidak ketinggalan acara pemberian makanan, saya jadi sangat menyesal kenapa saya nggak bawa payung atau minimal jaket untuk baby g. Jalan setapak berangsur-angsur hilang dan mulai digantikan oleh rapatnya pepohonan, kami menebras hutan yang masih asli, jalanan sudah berupa tanah yang sangat becek dan saat itulah hujan kembali turun. Suami saya sampai menggendong baby g dan menutupi sebisanya dengan tas agar tidak terlalu kehujanan. Tidak seperti di pondok tanggui tadi di mana orang utan baru dapat kami temui di platform tempat makan, begitu memasuki area hutan di camp leaky, orang utan sudah bergantungan di pohon yang ada di jalan, tiba-tiba melompat, berayun atau memasang pose. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan nongol persis di sebelah kamu.

Total waktu trekking dari dermaga hingga ke tempat feeding sekitar 45-50 menit, cukup jauh memang dengan medan yang lebih sulit dan lebih alami. Begitu ranger membunyikan isyarat, orang utan berdatangan dari segala penjuru, ada yang berjalan, ada pula yang berayun, ranger-ranger akan mengingatkan kita untuk memberi jalan pada orang utan yang akan lewat. Selain orang utan, ada juga celeng (babi hutan) yang melenggang santai di arena feeding, baru kali itu saya melihat celeng, ternyata badannya besar dengan taring-taring yang mencuat tajam. Akhirnya si celeng diusir oleh ranger yang datang sambil memanggul keranjang isi makanan untuk orang utan. Tibalah Tom, sang alpha, yang ukurannya lebih besar dibanding Mandar, si alpha di Pondok Tanggui tadi. Tom sangatlah gagah dengan bulu coklat pekat yang halus dan ukuran tubuh yang tinggi besar, Tom makan membelakangi para pengunjung jadi kami tidak bisa mengambil gambarnya. Saat alpha makan, hanya 1-2 orang utan lainnya, yang saya pikir sang betina permaisuri, yang berani makan di sisinya, itu pun di pinggiran dan makanannya sisa-sisa Alpha, sementara yang lain langsung menyebar ke pohon-pohon sekitaran platform.

Usai acara feeding, kami kembali trekking hingga ke dermaga dan kembali menaiki speed boat. Di perjalanan pulang hujan kembali turun tapi jangan khawatir karena speed boat juga dilengkapi dengan tudung seperti kemah yang bisa dipasang membungkus keseluruhan speed boat. Yang terkadang bikin tegang, beberapa kali mesin speed boat berhenti karena ada tanaman atau apa yang nyangkut, di saat itulah pak cihuy harus bekerja menarik tali-tali yang tersambung agar mesin hidup kembali. Tentu tegang karena speed boat berhenti di tengah-tengah sungai yang sangat sepi, bisa sekitar 5-15 menit,  saya jadi membayangkan gimana kalau ada buaya yang tiba-tiba nyaplok kayak di film, syukurlah tidak.

Jam 4 sore kami sudah tiba kembali di dermaga kumai dan sudah ditunggu oleh mas yomie yang akan mengantar kami kembali ke hotel. Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada pak cihuy, kami pun menaiki mobil. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyenangkan, suatu hari nanti saat anak-anak sudah agak besar saya ingin kembali lagi untuk merasakan program live on board dengan klotok.

Karena sudah lelah, malamnya kami memesan layanan room service. Tanpa disangka entah di mana suami saya mendapatkan gigitan serangga tomcat di tengkuknya, sehingga ada luka yang panas membakar dan baru sembuh setelah diolesi salep khusus dari dokter sepulang dari sini.

DAY 3

Jam 06.00 pagi kami sudah bersiap di lobby hotel dan dijemput kembali oleh supir taksi yang sama dengan supir yang mengantar kami di hari pertama (nomor kontaknya memang sudah sengaja kami simpan). Ternyata penumpang pesawat di sini santai-santai banget, bukannya penumpang yang repot, malahan petugas check in yang sibuk nyariin penumpangnya, bahkan saat pesawat sudah 15 menit boarding ada saja penumpang yang datang lenggang kangkung, kalau di Soetta mah udah nggak boleh masuk.

Posted in Indonesia, Makassar, Maros, South Sulawesi

Makassar Trip (Day 2 & 3)

Hari ini kami merencanakan untuk berkunjung ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaurung dan Rammang-rammang  yang keduanya berada di wilayah kabupaten Maros.

Sebagai hotel bintang 4, sajian breakfast yang disajikan oleh hotel Singgasana terbilang lengkap dan enak, dengan berbagai pilihan yang menarik. Ruang makan hotel cukup besar dan nyaman. Setelah sarapan, pukul 09.00 kami sudah berangkat menuju destinasi pertama.

TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG – BULUSAURUNG

Taman nasional ini merupakan suatu konservasi yang terletak di pegunungan kapur (karst), memiliki air terjun dan goa-goa dengan stalagtit dan stalagmit. Kawasan ini terkenal dengan konservasi bergaam habitat dan yang paling menonjol adalah kupu-kupu.

52

Pintu gerbangnya berbentuk portal dengan kupu-kupu raksasa yang sayangnya agak kurang terawat, sayap kupu-kupunya di beberapa bagian sudah koyak dan warnanya bladus, sementara tulisan taman wisatanya pun hurufnya ada yang sudah tergelincir.

53
Taman Nasional Bantimurung – Bulusaurung

Pemandangan pegunungan karst yang sambung menyambung sebagai latar belakang sangatlah indah, pegunungan ini dimahkotai oleh hutan yang menghijau lebat. Tidak jauh di belakang portal kupu-kupu, ada patung monyet raksasa. Suhu udara di kawasan ini cukup sejuk, tidak seperti kota makassar yang panas.

51
Patung monyet

Setelah membeli tiket di loket, kami memasuki taman nasional tersebut. Mungkin karena semalam baru saja diguyur hujan, jalan setapaknya agak basah dan licin. Tidak jauh, ada area kolam yang ramai dipenuhi pengunjung untuk berenang-renang atau sekedar main air. Kolam ini aliran airnya berasal dari air tejun bantimurung yang ada di sebelah hulu.

Kami meneruskan perjalanan hingga mencapai air terjun bantimurung, tidak perlu khawatir lelah, dari pintu masuk jalannya hanya sekitar 300 m dengan medan yang landai (ini baru air terjun yang affordable karena nggak harus trekking), gemuruh suara air terjun sudah bisa terdengar dari kejauhan. Air terjunnya sendiri bertingkat-tingkat dengan elevasi yang tidak terlalu tinggi. Kesan saya sangat touristy , terlalu ramai dan tumpah ruah dengan pengunjung yang mandi-mandi. Kondisi jalanan lebih becek lagi karena pengunjung yang ada hilir mudik dalam keadaan basah kuyup, jadi harus agak berhati-hati agar tidak terpeleset.

61
Air terjun Bantimurung

Setelah menitipkan kedua anak pada mertua yang lebih memilih duduk-duduk di kursi sembari menikmati air terjun, saya dan suami meneruskan pendakian melalui sejumlah anak tangga menuju ke danau kassi kebo dan goa batu. Seperti di area bawah, aksesnya sudah dibuatkan jalan setapak yang sangat memudahkan tapi sekaligus menghilangkan kesan alami dari taman nasional.

Danau kassi kebo merupakan danau yang berwarna hijau kebiruan, saat saya datang airnya sedang surut sehingga pemandangan yang ditawarkan tidaklah seindah yang ada di instagram. Ada larangan main air di sini, katanya sih karena danaunya keramat.

68
Danau kassi kebo

Kami meneruskan perjalanan hingga tiba di goa batu, tangga menuju goa tersebut sangatlah licin dan sempit. Goa batu merupakan salah satu goa yang menyimpan peninggalan prasejarah berupa tapak tangan manusia purba. Goanya sendiri tidaklah terlalu luas, karena sangat gelap maka dibutuhkan bantuan senter yang banyak disewakan di pintu masuk. Kondisi stalagtit stalagmitnya cukup mengagumkan walaupun banyak yang sudah mati.

Yang disayangkan saya hampir tidak bertemu kupu-kupu yang merupakan spesies utama taman nasional ini, padahal katanya kupu-kupu bantimurung varietasnya sangat beragam. Yang ada malah saya ketemu luak yang sedang nangkring di pucuk pohon.

Di kios-kios depan taman nasional banyak dijual cinderamata berupa kupu-kupu yang sudah diawetkan dan diletakkan dalam pigura kaca. Agak miris juga sih melihat banyaknya kupu-kupu yang malah diawetkan bukannya terbang bebas. Lama-lama kupu-kupunya bakal habis apalagi dengan kondisi alam yang seperti sekarang.

DRAMA BENSIN

Saat masih berada dalam Taman Nasional, kami ditelpon oleh akang sopir yang kemarin, si akang memberitahukan bahwa mobil yang kami pakai akan digunakan untuk keperluan lain, jadi si akang akan menukar dengan yang lain. Tak lama si akang datang tepat saat kami keluar dari kawasan taman nasional. Saat akan jalan, suami saya menyadari bahwa bensin di mobil tersebut tinggal 1 strip aja (huuh tau gitu semalem mobilnya nggak diisi full). Dalam perjalanan ke rammang-rammang, kami pun mencari pom bensin, dua pom yang kami singgahi menyatakan bahwa stok premiumnya habis. Di Pom ketiga mati lampu jadi transaksi tidak bisa dilakukan, kami pun mulai kebat-kebit apalagi indikator mulai menyala merah. Jarak antara makassar-maros berdurasi 1 jam, belum lagi perjalanan kami ke rammang-rammang. Tidak ada kios bensin eceran pinggir jalan seperti yang lazim ditemui di jakarta. Untunglah mendekati jalan utama dekat lokasi rammang-rammang, kami menemukan pom bensin yang ada stoknya dan langsung kami isi full tank.

Saya jadi berfikir, kota besar no 3 di indonesia setelah jakarta dan surabaya saja sulit menemukan pom bensin, apalagi kota-kota lainnya di provinsi lain selain jawa. Tampaknya peran pemerintah dalam pemerataan sumber daya alam harus lebih digalakkan.

RAMMANG-RAMMANG

Rammang-rammang ini merupakan destinasi wisata baru yang mencuat terkenal akibat sosial media. Rammang-rammang diklaim sebagai area karst terbesar kedua di dunia setelah kawasan karst di china selatan. Agak bingung juga karena kok masuk wilayah desa demgam pematang swah yang luas. Tidak ada marka penunjuk jalan sama sekali, sebagai gantinya banyak bocah-bocah lokal yang bersedia memandu kita dengan upah seikhlasnya. Karena masih baru, infrastrukturnya belum memadai, jalanan menuju ke sana masih jalanan kampung yang hanya muat satu mobil dan bahkan beberapa merupakan jalanan sempit di pematang sawah. Tidak berapa lama kami berhadapan dengan pos – portal di mana kita harus turun untuk mengisi buku tamu dan melapor kepada rt/rw setempat. Di pos ini banyak ABRI-ABRI muda yang sepertinya memang ditugaskan untuk membangun infrastruktur di kawasan ini, semacam ABRI masuk desa di zaman Pak Harto dahulu.

Bocah yang kami sewa membawa kami ke penyewaan perahu milik kerabatnya , untuk mencapai kawasan rammang-rammang memang kita harus menyewa perahu untuk menelusuri sungai. Karena cuaca memang panas terik, disewakan pula topi anyaman bambu, mirip-mirip kondisi wisata di vietnam.

75
Dermaga Rammang-rammang

Kami menelusuri sungai pute yang berwarna kecoklatan dengan banyak vegetasi bakau di dalamnya, sementara di latar belakangnya pegunungan karst yang menghijau tinggi menjulang indah. Sesekali kami menjumpai rumah panggung penduduk yang bediri di pinggir sungai.

77
Sungai pute

Sekitar 15 menit kemudian sampailah kami di dermaga kampung berua, Kampung berua inilah tepatnya lokasi dari foto Rammang-rammang yang banyak beredar di sosmed. Saya segera sibuk mengambil gambar lewat kamera sembari mencari spot lokasi foto yang ada.  Kampung berua merupakan area kosong dengan hanya 3-4 rumah penduduk, sisanya adalah hamparan sawah ladang luas yang dibentengi oleh pegunungan karst di sekelilingnya. Di kawasan ini juga dapat kita temui goa-goa prasejarah dengan lukisan cap tangan seperti di bantimurung tadi. Hanya ada satu warung kecil yang merangkap rumah makan di tempat ini yang penuh dengan pengunjung.

83
Kampung Berua

Setelah puas menelusuri eksotika rammang-rammang kami kembali ke makassar setelah sebelumnya mampir dulu di warung penyet ala jawa timuran di dekat bandara Sultan Hasanuddin. Kemacetan cukup parah terjadi di sekitar area bandara karena memang sedang ada pembangunan jalan.

PUSAT OLEH_OLEH DI JL SOMBA OPU

Setelah beristirahat, untuk menyingkat waktu sorenya saya dan suami pergi sebentar ke jalan somba opu untuk membeli oleh-oleh, sementara anak-anak saya titipkan ke mertua di hotel. Jalan Somba Opu merupakan pusat oleh-oleh khas Makassar, kami berhenti di sebuat toko yang cukup besar dan koleksinya lengkap.

Segala macam penganan khas makassar tersedia di sini, kopi toraja, sirop markisa, dodol, keripik dll. Toko ini juga menjual souvenir t-shirt, kain songket toraja, daster, tas-tas etnik hingga replika kapal phinisi.

Barang yang kami beli dikemas dengan rapih dalam sebuah dus yang sudah dilabeli dan diberi pegangan tangan.

KONRO KAREBOSI

Setelah maghrib, kami bertandang ke restoran konro karebosi yang berlokasi di depan lapangan karebosi untuk menyicipi kuliner terkenal khas makassar lainnya yaitu sop konro dan konro bakar.

Dari luar restoran, asap bakaran dari konro sudah wangi tercium membangkitkan selera. Kami masing-masing memesan sop konro dan konro bakar agar bisa menyicipi keduanya, dan keduanya ternyata enak luar biasa. Potongan besar konro (iga sapi) dengan daging yang amat lembut dan mudah dilepas dari tulangnya dipadukan dengan bumbu-bumbu khas makassar, sangat sedap.

MIE TITI 

Setelah anak-anak tidur terlelap di hotel, emak bapak yang kebanyakan gaya ini masih pingin jalan-jalan ke pantai Losari sebab kemarin suami saya tidak mencicipi pisang epe yang enak itu.

Pukul 9 malam, setelah menitipkan anak-anak, kami berangkat ke pantai Losari. Setelah mencicipi pisang epe di salah satu kedai di pantai losari, kami kembali berjalan ke mie titi yang terletak di kawasan kuliner makassar.

Mie titi ini menurut saya mirip sekali dengan i fu mie, entah apa bedanya, mie tipis kering yang disajikan dengan kuah kanji panas isi sayuran dan ayam atau seafood. Rasanya enak dan memang harus dimakan saat masih panas-panas.

img-20151113-195234-largejpg
Mie titi

DAY 3

Pagi-pagi kami sudah berenang di kolam renang yang merupakan fasilitas hotel. Sayangnya kolam renang pagi itu malah digunakan oleh siswi sekolah renang yang berenangnya jago banget, seharusnya sih kalau ada pengunjung hotel di musim ramai begini, kolam renang jangan dipakai untuk keperluan seperti ini ya. Jadi kami hanya leluasa berenang di kolam anak yang ukurannya kecil banget.

113

FORT ROTTERDAM

Fort Rotterdam atau dulu bernama Benteng Ujung Padang adalah sebuah benteng peninggalan kerajaan Gowa- Tallo, karena kalah perang maka melalui perjanjian Bungayya, benteng ini diserahkan kepada pihak VOC dan diganti namanya menjadi Fort Rotterdam.

Sesuai dengan visi kerajaan Gowa Tallo yang kuat di bidang kemaritiman, benteng ini bentuknya seperti penyu yang akan turun ke laut, yang bisa hidup di darat dan laut. Benteng ini dibuat dari bebatuan karst yang diambil dari maros.

Bagian benteng dibelakang dinamakan bastion amboise yang mana dapat dijelajahi, bagian benteng ini dulu digunakan oleh para tentara bayaran dari ambon.

Salah satu sayap benteng ini dijadikan museum la galigo yang menyimpan koleksi benda-benda bersejarah dari kebudayaan makassar. La galigo sendiri merupakan sebuah epos yang konon merupakan epos terpanjang di dunia selain epos mahabrata, salinan naskah la galigo sendiri tersimpan di Belanda.

RM BRAVO

Sebelum bertolak ke bandara, kami mampir dulu ke RM Bravo yang terkenal akan es dan camilan khas makassarnya. Kami memesan es pisang ijo dan es palu butung sembari menikmati otak-otak, lumpia dan jalangkote (sejenis pastel isi bihun, sayur dan daging). Es pisang ijo dan palu butungnya sangat besar porsinya, sehingga satu mangkok rasanya cukup untuk dua orang.

Setelah itu kami mampir sebentar di kediaman saudara yang telah mengundang kami ke makassar ini, sayang sekali sampai hari tearkhir kunjungan ini, kami tidak bertemu dengan beliau karena urusannya di manado belum selesai. Dengan diantar akang sopir yang kami jemput di sekitar kampus Unhas, kami pun menuju ke Bandara.

See you Makassar, semoga suatu hari nanti kami bisa berkunjung ke sini lagi.

Posted in Indonesia, South Sulawesi

Makassar Trip (Day 1)

Tulus ikhlas membantu orang lain itu insya allah suatu saat akan mendapat ganjarannya, kata-kata itu benar-benar cocok untuk alasan trip kami kali ini. Alkisah, dahulu kala di kampung daerah priangan, ada seorang pemuda dari keluarga yang sangat miskin, syukurlah ada sanak saudara yang bersedia menampung dan memberi makanan walau seadanya, karena sanak saudara tersebut juga bukanlah keluarga yang mapan. Saat lulus sekolah, sang pemuda memutuskan untuk merantau ke tanah sulawesi untuk mencari peruntungan rezeki, dia bersumpah tidak akan kembali kalau belum jadi orang sukses. Beberapa tahun pun berlalu, dengan kerja keras dan ketekunannya, sang pemuda kini memiliki usaha yang mapan dalam bidang kuliner dengan banyak pekerja, alhamdulillah. Dalam perantauannya, sang pemuda pun masih sering bersilaturahmi lewat telepon dengan sanak saudaranya tersebut, sang pemuda pun membuka tangan lebar-lebar apabila sanak saudaranya ingin berkunjung ke tempat perantauannya tersebut.

Nah, apa hubungannya dengan trip kami ke makassar? balik ke kisah nyata, dari cerita di atas, sang pemuda yang merupakan salah satu keponakan mertua saya, mengundang sanak saudaranya yang adalah mertua saya (termasuk suami saya dan tentunya juga saya dan anak-anak kecipratan rezeki) untuk pergi ke makassar, tiket pesawat dibayarin dan kami akan menginap di rumahnya. Hati saya pun melonjak-lonjak kegirangan, bagaimana tidak, dari dulu saya memang ingin sekali berkunjung ke bumi celebes yang terkenal dengan angin mamiri dan perahu phinisinya. Belum lagi dengan berbagai keindahan alamnya yang diwarnai oleh kisah heroik para pahlawan pra kemerdekaan.

Sayangnya, malam sebelum keberangkatan, kami ditelpon oleh “sang pemuda” kalau salah satu anak buahnya di manado mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah, jadi dia terpaksa harus terbang ke manado saat ini juga. Dia tetap mempersilahkan kami untuk menginap di rumahnya namun kami yang nggak enak, secara kami belum kenal dengan istrinya yang memang asli makassar. Setelah berjanji untuk mampir kapanpun urusannya sudah selesai, saya membooking hotel via agoda dua kamar untuk dua malam.

DAY 1

Penerbangan dengan Lion Air yang akan membawa kami ke Makassar berangkat pukul 05.00 subuh, memang sengaja dipilih penerbangan paling pagi untuk menghindari drama delay sang singa. Durasi penerbangan jakarta-makassar adalah 2 jam, karena masuk dalam zona wita, waktu di makassar lebih cepat satu jam dibanding jakarta.

Di bandara sudah menunggu salah satu anak buahnya “sang pemuda” yang ditugasi untuk menyupiri kami selama berkeliling makassar, enak banget kan ya???. Sebelum bertemu si akang sopir, kami makan pagi dulu di gerai A&W yang ada di bandara. Bandara Sultan Hasanuddin sangat megah dan besar, dengan facade bangunan yang dibentuk menyerupai layar-layar phinisi.

1
Bandara Sultan Hasanuddin

Tak lama kami pun bertemu si akang sopir, di dalam mobil kami pun mengemukakan niat kami untuk menyetir sendiri saja, toh ada gps, lebih santai dan lebih enak, si akang sopir pun mengiyakan setuju. Setelah menurunkan si akang di area dekat Kampus Unhas, kami pun segera menuju destinasi pertama yaitu museum Balla Lompoa. Berpacu dengan waktu karena lokasinya cukup jauh dari bandara dan ini adalah hari jum’at, untunglah di makassar ini tidak terlalu macet dan padat seperti di pulau Jawa. Namun, suasana lalu lintasnya lumayan ngeri, sepeda motor cuek saja berjalan pelan di sisi kanan jalan, bahkan ada yang berhenti (beneran berhenti di median jalan, bukannya di pedestrian), yang nyetir mobil pun nggak kalah serabat-serobot, dibutuhkan ekstra kehati-hatian.

BALLA LOMPOA

Coba cek dalam ingatan pengetahuan sejarah, masih ingatkah dengan Sultan Hasanuddin yang dikenal sebagai ayam jago dari timur ? Sultan Hasanuddin merupakan Raja dari Kerajaan Gowa, nah museum Balla Lompoa ini dahulunya merupakan istana para raja gowa yang sekarang dialih fungsikan menjadi museum dengan koleksinya berbagai benda bersejarah kerajaan Gowa.

Ada dua bangunan besar di sini, rumah panggung dengan ukuran yang lebih kecil di sebelah kanan-lah yang difungsikan sebagai museum. Walau lebih kecil, namun rumah panggung dari kayu ulin berwarna hitam kecoklatan ini sangatlah gagah.

20
Museum Balla Lompoa

Memasuki museum kita diharuskan untuk melepas alas kaki, sangatlah beralasan karena lantainya pun terbuat dari parket kayu ulin yang harus senantiasa dijaga kebersihannya. Begitu masuk kita akan berhadapan dengan bilik luas yang berisi singgasana yang didominasi warna merah dan kuning, di kanan kirinya berdiri meja panjang dengan deretan tudung di atasnya. Di ruangan yang sama kita akan menemukan baju yang dipakai oleh raja dan permaisuri, Sementara di sudut kanan terdapat dua lukisan dari Sultan Hasanuddin, legkap dengan sebilah badik panjang yang dulu digunakannya untuk bertempur.

Memasuki museum lebih ke dalam kita akan menemukan koleksi berupa silsilah raja-raja Gowa hingga bergabung dalam pemerintahan Republik, senjata-senjata, baju-baju, keramik dan porselen, hingga suatu ruangan penuh koleksi emas yang dahulunya digunakan sebagai perhiasan ataupun mahkota.

Begitu kami keluar dari ruangan ini, sudah duduk rapi beberapa pemuda berpakaian adat minahasa berwarna merah yang masing-masing memegang alat musik. Di bagian depan, di dekat suatu tempat yang menurut saya agak mirip altar, duduklah seorang tua yang merupakan pemuka adat. Di antara pemuka adat dan para pemuda itu duduklah suatu keluarga yang kesemuanya sudah mengenakan kain. Tidak lama sang pemuka adat memulai upacara diiringi tabuhan alat-alat musik yang menggelegar. Baby g dan baby b pun langsung mengajak keluar karena takut dengan bunyi genderang.

8
Pemuda-pemuda pemain musik
12
Upacara adat

BENTENG SOMBA OPU

Sekitar 20-30 menit perjalanan dari Balla Lompoa, sampailah kami di Benteng Somba Opu. Benteng ini masih merupakan bagian sejarah dari kerajaan gowa, di mana merupakan benteng yang terkuat dan pertahanan terakhir dari Sultan Hasanuddin sebelum menyerah kalah akibat serangan VOC dan pengkhianatan Aru Palaka. Sebagian besar dari strukturnya sudah dibumi hanguskan oleh VOC dan hanya menyisakan sedikit tembok kokoh dengan tinggi 3 meter dan suatu tembok berbentuk setengah lingkaran di tengahnya. Temboknya tersusun dari batu bata pada yang sangat tebal dan sudah termakan usia.

Di dalam kompleks ini juga ada semacam taman mini yang memamerkan koleksi rumah adat dari berbagai suku di sulawesi selatan, sayang kondisinya tidak terawat, kebanyakan sudah bobrok dan halamannya dipenuhi alang-alang sehingga membuat saya malas mendekat.

Karena waktu shalat jumat sudah tiba, maka suami dan mertua saya pergi ke masjid yang masih terletak di area ini, sementara saya dan baby g mengintip-ngintip museum karaeng pattingaloang yang sayangnya tutup saat ibadah jumat. Museum ini menempati rumah panggung tua dengan cat putih-hijau lumut. Di depannya berdiri meriam kuno.

COTO MAKASSAR

Untuk sajian makan siang kali ini kami memilih mencoba coto, suatu kuliner khas makassa, berupa semangkuk kecil sup daging sapi/jeroan dengan kuah kacang, disajikan dengan ketupat. Ada dua nama restoran coto yang sangat populer, yang pertama coto nusantar dekat pelabuhan, yang kedua adalah coto gagak yang berlokasi di jl gagak, restoran kedua yang kami pilih karena searah dengan perjalanan pulang ke hotel.

Warungnya lumayan besar dan sederhana saja seperti warung bakso, tapi pengunjungnya ramai sekali. Untuk pilihan isi, bisa dipilih mau daging, ati, babat, campur dll. Saya yang nggak suka jeroan tentu memilih daging, rasa coto ternyata enak sekali, kuah kacang yang saya kira bakal “bold” ternyata “mild” (bingung cari padanan bahasa indonesianya) dan cocok berpadu dengan ketupat. Sambal pedas yang saya tambahkan makin menambah kelezatan dari coto.

119
Coto makassar

HOTEL SINGGASANA

Setelah mengisi perut dan lelah berjalan-jalan, kami mengarahkan mobil menuju Singgasana hotel untuk beristirahat. Singgasana hotel terletak di pusat kota, tidak jauh dari pusat keramaian di pantai losari dan dekat dengan area kuliner.

Kamarnya luas dan nyaman dengan doble bed king size dan lantainya dilapisi karpet empuk nan tebal.

111
Hotel Singgasana

ANJUNGAN PANTAI LOSARI

Sorenya kami menuju pantai losari untuk menikmati sajian sunset yang katanya 11-12 dengan indahnya sunset di kaimana sembari menyicipi sajian pisang epe. Eh ternyata, kami baru sadar kalau di warung coto tadi siang, sendalnya baby g ketinggalan. Saya pun mikir nyantai ajalah toko banyak, eh tapi sepanjang perjalanan saat saya singgah di 2-3 toko tidak ada yang jual sendal untuk anak kecil, padahal tokonya besar, yang dijual paling sendal anak. Kami pun meneruskan perjalanan hingga tiba di pantai losari, setelah memarkir mobil, saya dan suami pun berjalan hingga ke ujung anjungan dengan harapan ada yang jual sendal seperti pantai-pantai di jawa atau bali, eh ternyata teteup nihil. Akhirnya suami saya memutuskan pesen gojek dan diantar berkeliling untuk nyari sendal.

Sementara saya kembali ke mobil dan baby g malah tertidur, saya yang mulai bosan nunggu suami saya, akhirnya mengajak baby b duluan ke anjungan pantai losari buat nyari angin. Baby g masih bobok pules ditungguin kedua mertua saya.

Pantai losari merupakan pantai yang sudah dipercantik dengan anjungan yang enak buat duduk-duduk, jadi bukan pantai untuk main pasir dan air. Suasana senja itu sangatlah ramai dan indah, perlahan-lahan bola keemasan itu tenggelam. Saya dan baby b menikmati suasana itu sambil makan pisang epe di kios pinggir jalan seberang pantai.

Pisang epe merupakan kudapan khas makassar yang berbahan dasar pisang kepok yang masih mengkal (keras), dipipihkan dan dipanggang, lalu disajikan dengan saus lelehan gula merah. Kalau sekarang variasi toppingnya sudah macam-macam, ada yang coklat, keju, bahkan durian. Saya sih tentu lebih tertarik makan yang asli dengan gula merah.

Hampir  satu jam suami saya baru kembali dari ekspedisi mencari sendal, katanya susah banget sampai jauh baru dapet, ini juga cuma satu-satunya ukurang yang tersedia, ya sudahlah.

Setelah mengeksekusi pisang epe sampai tandas, kami menyebrang ke anjungan dan menunaikan shalat di masjid amirul mukminin, masjid apung yang dibuat seperti konsep mesjid terapung di Jeddah. Dari sini, kami kembali menelusuri anjungan pantai losari, selain huruf-huruf besar “pantai losari” “makassar” dan “bugis”, disini juga terdapat replika phinisi. Di anjungan ini ramai dengan para pedagang mainan, badut karakter sampai para pembawa atraksi pawang hewan.

36
Masjid Amirul Mukminin

KAWASAN KULINER MAKASSAR

Berbicara mengenai makassar memang tidak dapat dilepaskan dari kelezatan makanannya, jadi jangan heran kalau saya banyak curhat soal makanan. Dari pantai losari kami berjalan terus hingga menemukan suatu jalan dengan plang “kawasan kuliner makassar”, jalan ini memang dipenuhi deretan penjaja segala macam kuliner khas makassar, ada nasi kuning yang menggoda dengan lauk pauknya, mie titi yang segar dengan siraman kuah panas, restoran ikan bakar, es pisang ijo, coto, konro dll.

48
Kawasan kuliner makassar

Kali ini kami memilih makan malam di RM Lae-lae yang sudah banyak direkomedasikan karena kesegaran ikannya. Selain ikan bakar, RM Lae-lae juga menyediakan aneka sajian seafood, begitu masuk kita diharuskan memilih dulu sajian yang masih berbentuk “hidup”.

Sekitar setengah jam kami menunggu hingga sajian dihidangkan, ikan bakarnya dimasak tanpa campuran bumbu dan hanya sedikit saja garam. Orang makassar menyukai ikan dalam kondisi yang segar dan sedikit bumbu tadi tentu akan makin menonjolkan rasa asli ikan yang masih segar tersebut. Setelah perut kenyang dan hati senang, kami memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan menyiapkan stamina untuk kembali beraktivitas besok.

121
Sajian di RM Lae-lae

Btw, sebelum ke hotel kami sempat putar-putar dulu untuk mengisi bensin, ternyata walau di kota pom bensin yang ada tidak terlalu banyak, kalau ada pun lumayan ngantri, maka bersyukurlah para penduduk pulau jawa yang biasa hidup dalam kemewahan bahan bakar.

Posted in Depok, Indonesia, West Java

D’ Kandang Amazing Farm

D’ KANDANG AMAZING FARM

Matahari sangat terik menyengat kala kami memasuki area D’ kandang, padahal waktu baru menunjukkan pukul 09.30 pagi. D’ kandang Amazing Farm merupakan suatu wahana rekreasi edukasi yang mengusung tema peternakan dan perkebunan. Terletak di jl penarikan, kelurahan pasir putih- sawangan, depok, lokasi tempat ini memang seakan-akan tersembunyi apalagi jalan menuju ke sana sempit, kondisi aspalnya di beberapa bagian rusak dan suasananya sepi.

Kami mendapat informasi tempat ini dari salah satu teman melalui foto-foto yang diunggahnya di sosial media, kebetulan memang tidak jauh dari kediaman kami di bilangan Cibubur.

Saat kami tiba, tanpa disangka area parkir sudah dipenuhi banyak mobil dan beberapa bus pariwisata yang mengangkut rombongan siswa TK, sepertinya D’ kandang merupakan destinasi yang cukup populer untuk kegiatan outing.

Ticket booth di pintu masuk hanya menjual tiket masuk, sementara tiket untuk wahana bisa dibeli di ticket booth yang terletak di dalam area. Ada dua macam tiket masuk yang dijual, yang pertama 35 K, sudah termasuk topi hias (caping) dan yoghurt, yang kedua hanya 18 K, hanya mendapat free yoghurt saja. Saat kami datang jam 09.30, tiket yang type pertama sudah habis, sepertinya memang tidak disediakan banyak, padahal kan tempat ini baru buka pukul 09.00. Di ticket booth tersedia juga pamflet yang berisi informasi kegiatan apa saja yang bisa dilakukan juga paket-paket yang tersedia, sayangnya tidak ada peta informasi letak wahananya.

18198367_10155339480324623_2930410772604195045_n
Pintu masuk, di belakangnya loket tiket

Keluar dari area ticket booth, terhamparlah lapangan berumput yang sudah dipola rapi seperti di lapangan futsal, karena dinaungi banyak pohon rindang, lapangan ini banyak digunakan oleh pengunjung untuk duduk-duduk santai sembari mengawasi anaknya bermain. Di samping kiri berjejer food court yang menjual makanan ringan hingga menu-menu makan siang, harganya cukup terjangkau, sementara agak ke atas terdapat area panahan. Di sebelah kanannya berdiri area outdoor playground, sementara di depannya ada lapangan dengan air mancur menyembur dari lantai yang pasti jadi favoritnya anak-anak. Dari tempat ini jalan bercabang dua, yang ke kiri menuju area outbond, sementara yang kanan menuju area peternakan-perkebunan. Saya segera menggendong baby B yang mulai kepingin main basah-basahan ke area peternakan di bawah.

18193854_10155339480739623_1776708669785640680_n
Di samping tulisan ada peta area
18198418_10155339481909623_7108618657119169566_n
Free Yoghurt

Area D’kandang ini sangat luas dan sangat disayangkan tidak banyak tersedia papan informasi yang memuat peta area, paling yang ada hanya penunjuk arah saja, kami pun mengandalkan bertanya kepada para petugas yang ada. Saya hanya menemukan satu papan petunjuk peta area di dekat tulisan “D’kandang amazing farm” yang terletak persis didepan air mancur. Karena memang konsepnya “farming”, jalanan di sini memang tidak semuanya diberi perkerasan, di beberapa tempat lumayan becek dan bikin sendal jadi tebal karena tanahnya ikut terbawa, makanya harus mengenakan sendal yang nyaman (btw sempet bingung juga sih karena nemu aja emak-emak yang pake wedges atau high heels ke tempat kayak gini).

Untuk menuju ke area peternakan di bawah, kita akan melewati jalanan dengan barisan pepohonan yang rindang dan saung-saung bambu untuk bersantai di kanan-kirinya. Memang tidak ada aturan dilarang membawa makanan dan minuman dari luar, jadi banyak pengunjung yang membawa bekal makanan dan berpiknik di sini.

18194722_10155339481254623_5746625551989790493_n
Jalanan menuju peternakan

Ada dua macam wahana yang ditawarkan, yaitu wahana edukasi dan wahana kreasi, ada juga paketnya yang mana lebih murah. Pantas saja banyak TK yang mengadakan outing di sini, selain kegiatannya bervariasi, harganya juga terjangkau. Setelah mengamati deretan wahana dan paket yang ditawarkan, kami hanya memilih 4 macam wahana yaitu memberi makan kelinci, menyusui cempe (anak kambing), naik delman dan ATV. Kami sengaja skip wahana kreasi karena sepertinya baby B belum bisa.

18198683_10155339481479623_3973292038686010597_n
Wahana yang tersedia
18194964_10155339481559623_7750372033613590764_n
Ticket Booth di dalam

Kami langsung menuju “Rabbitton” untuk memberi makan kelinci, Rabbitton ini merupakan suatu areal yang dibatasi pagar di sekelilingnya dan sudah dibangun padang rumput dengan liangnya untuk para kelinci. Selain kelinci, di sini juga ada kandang ayam, bebek, kalkun, burung puyuh, kambing bahkan kebo bule. Untuk masuk ke sini, cukup tunjukkan potongan tiket kepada petugas. Tiket wahana memberi pakan kelinci seharga 20 K ini ditukarkan dengan seember kecil isi wortel dan kangkung.

18194022_10155339482099623_4312100032452179951_n
Area Rabbitton
18193862_10155339483634623_7489079454043905687_n
Di dalam Rabbitton

Berbeda dengan si sulung yang jijikan, baby b ini memang berani dengan binatang, dia tidak segan memberi makan potongan wortel sambil mengelus-ngelus kelinci. Kelincinya memang dibiarkan bebas di sini sementara hewan lainnya barulah dikandangkan atau diikat. Puas main dengan kelinci, baby b berlari ke kandang ayam dan bebek, lalu memberi makan kangkung ke kambing. Kambing yang ada di sini tegap dengan tanduk yang tidak kalah besarnya. Sementara kebo bulenya, err…agak geli juga ya, karena memang bulunya pirang jadi warnanya kelihatan pink, saya sih lebih suka ngeliat kebo item atau abu-abu yang biasa, padahal harga kebo bule ini mahal banget katanya karena biasa dipakai untuk upacara adat.

Dari Rabbitton kami beralih ke kandang kambing, begitu kami masuk, bau menyengat khas kambing menyeruak tajam. Tiket menyusui cempe seharga 20 K ditukarkan dengan botol susu ukuran kecil yang akan diberikan kepada cempe. Petugas mengeluarkan cempe dari kandangnya secara bergantian, cempe-cempe rakus berebutan dot susu sampai saya lah yang menyingkir ketakutan, baby b malah seneng kegirangan sambil sesekali pingin menggendong bayi kambing tersebut, lah dikira kucing kali ya. Sayangnya botol susunya kecil banget jadi baru semenit aja udah abis.

18194070_10155339488619623_9073350632612295317_n
Menyusui cempe

Selanjutnya kami menaiki delman yang berjalan menyusuri bagian belakang d’kandang, seperti yang sudah saya kemukakan jalanannya becek banget dan tergenang air jadi terkadang si kuda agak terpeleset. Durasi naik delmannya hanya sebentar, sekitar 10 menit aja dengan tarif 40 K. Di samping delman ini juga ada wahana menunggang kuda, tapi baby B nggak mau.

18194939_10155339492904623_4084275723498891435_n
Delman

Saya sempat mengajak suami dan baby b ke area persawahan di mana kita bisa memanen sayuran ataupun tangkap ikan, tapi suami saya menolak karena matahari hari itu luar biasa panas menyengat dan langsung mengajak kami ke area outbond saja.

Untuk ke area outbond, kami harus kembali ke depan lagi, jalanan menuju ke area outbond lumayan becek. Suasananya masih asri, persis seperti di kampung, tidak ada tambahan atau modifikasi selain wahana outbondnya. Saya jadi membayangkan kebon-kebon luas di area depok sebelum dijadikan perumahan, pasti suasananya seperti ini.

Wahana outbond hari itu dipenuhi oleh para anak TK yang menjerit-jerit kegirangan. Suami saya dan baby b langsung menaiki ATV yang sayangnya hanya boleh dinaiki dua putaran saja, sebentar banget ya. Setelah menaiki ATV kami memutuskan meninggalkan lokasi d’kandang.

18221576_10155339493624623_978439748095595855_n
ATV

Overall menurut saya, d’kandang ini cukup bagus untuk wahana rekreasi edukasi dengan konsep mengenal alam, tentu baik buat anak-anak, karena selain dekat dengan alam, mereka juga akan banyak gerak. Cuma menurut saya perlu perbaikan terutama dalam segi kebersihan, dibandingkan dengan kuntum nurseries bogor yang sudah terkonsep rapi, pengelolaan hewan-hewan di d’kandang ini masih di bawahnya.

MASJID DIAN AL MAHRI / MASJID KUBAH EMAS

Masih berlokasi di depok, tersebutlah sebuah masjid yang sangat kondang bagi grup ibu-ibu pengajian, apalagi kalau bukan Masjid Kubah Mas. Masjid yang aslinya bernama Masjid Dian al Mahri ini (sesuai nama pemiliknya) menempati suatu area yang sangat luas dan kubahnya dikabarkan disaput dengan emas asli. Masjid ini bahkan jadi tujuan wisata tidak terkecuali dari luar daerah, itulah mengapa saya bela-belain melipir sebentar karena mertua saya kepingin banget ke sini, walaupun saya sudah pernah.

Pintu masuk antara laki-laki dan perempuan dipisah, masjidnya sendiri memang besar dengan arsitektur yang cukup mewah. Sayangnya saya sampai sekarang selalu heran kenapa anak-anak dilarang masuk ke ruang shalat, toh kalau mengacu pada Al Quran dan Hadits kan anak-anak itu seharusnya sangat welcome di masjid, toh kalau berisik atau lari-larian kan bisa menegur orang tuanya. Saya malah sebel sama grup ibu-ibu centil yang cuek dandan di dalam masjid atau malah ngejogrok selfie-selfie sampe nutupin jalan, hadeuh.

Posted in Incheon, Seoul, South Korea

Japan – Korea Trip (Day 7 & 8)

DAY 7

Hari ini sudah sengaja saya atur agar jadwalnya lebih santai dibanding kemarin. Jadwalnya hari ini kami hanya akan mengunjungi Gyeongbokgung Palace (dan mengunjungi salah satu dari dua museum yang ada di dalamnya), menunaikan ibadah shalat Jumat dan mencari makanan halal di Itaewon, dilanjutkan dengan berburu oleh-oleh (lagi) di Dongdaemun.

Jam 08.00 kami turun ke ruang makan dan dapur hostel, “Morning Ayomi!!!” sapa Bryan ke baby G. Kami pun sarapan dengan toast bread dan kopi yang sudah disediakan di hostel sambil sesekali bercakap-cakap dengan Bryan.

GYEONGBOKGUNG PALACE

Kami menaiki subway line 2 dan turun di Daehwa, kemudian berganti ke subway line 5 dan turun di Gyeongbokgung station. Gyeongbokgung Palace merupakan istana dinasti Joseon yang terbesar, letaknya persis di depan Gwanghamun Gate tempat patung King Sejong berada.

Di antara lima istana dinasti Joseon yang ada di Seoul, walau Gyeongbokgung yang paling populer, tapi Changdeokgung palace-lah yang dinobatkan menjadi Unesco World Heritage jadi tentu harusnya lebih istimewa. Sayang karena keterbatasan waktu saya hanya bisa mengunjungi Gyeongbokgung dan Deoksugung saja yang emang paling populer.

Counter tiket terletak di samping gerbang Gwanghamun yang juga sekaligus adalah pintu masuknya, tiket seharga 3,000 krw. Di depan gerbang Gwanghamun berdirilah dua patung “Haechi Madang” hewan mistikal yang dipercaya sebagai pelindung Korea.

94
Gwanghamun Gate dari luar
99
Gwanghamun gate dari dalam
92
Haechi Madang

Dari gerbang Gwanghamun, kita akan langsung berhadapan dengan Heungnyemun Gate yang dipisahkan oleh lapangan berpasir kuning yang sangat luas. Dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa “Sumungun / Gate keeper military training” akan dimulai di lapangan samping Hyopsengmun gate (sisi timur), kami pun bergegas menuju tempat tersebut untuk menonton acaranya. Barisan pengawal kerajaan (dalam kostum prajurit kuno seperti yang sering dilihat dalam drama sejarah) sudah berbaris rapi. Ada yang berperan sebagai inspektur upacara, ada barisan pembawa tombak, barisan pembawa panji-panji dan diakhiri dengan barisan pembawa alat musik. Latihan tersebut hanya berlangsung selama 15 menit, sementara acara sebenarnya yaitu Sumunjang/ Royal Guard Changing Ceremony akan dilaksanakan pada pukul 10.00 di lapangan luas antara Gwanghamun dan Heungnyemun.

97
Heungnyemun Gate
100
Sumungun/Gate Keeper Military Training

Saya salut sekali dengan Pemerintah Korea yang berhasil “menjual” kebudayaan korea asli selain budaya k-pop, padahal Korea Selatan sekarang sudah menjadi Republik dan sistem kerajaan sudah tidak ada lagi. Tapi, demi melestarikan kebudayaan dan juga sebagai salah satu atraksi untuk menarik wisatawan, maka dibuatlah acara-acara seperti ini. Saya perhatikan rata-rata yang berperan sebagai prajurit masih muda-muda, sekitar 20-30 tahunan, selain baju tradisional mereka juga mengenakan jenggot dan kumis palsu untuk mendapatkan image para prajurit di era kerajaan.

Sebelum acara dimulai, pengumuman lewat pengeras suara digaungkan dan area lapangan disterilisasi oleh para petugas jaga. Tepat pukul 10.00, datanglah arak-arakan barisan para prajurit yang berpakaian merah dan biru, yang dipimpin oleh seorang inspektur upacara dan diikuti oleh barisan pembawa panji dan bendera, barisan pembawa tombak dan diakhiri oleh barisan pembawa alat musik yang memainkan genderang, terompet dan alat musik lainnya. Mereka membawakan irama musik tradisional ala korea yang sepertinya merupakan mars prajurit atau mars baris berbaris. Upacara berlanjut dengan laporan inspektur upacara kepada pemimpinnya dan setelah itu upacara selesai. Upacara berlangsung selama sekitar 20 menit, pembawa acara akan menerjemahkan dalam bahasa inggris, jepang dan china.

Selain Sumungun (yang dilaksanakan tiap pukul 09.30 & 13.30) dan Sumunjang (yang dilaksanakan tiap pukul 10.00 & 14.00), ada juga upacara lain yaitu Gwanghwamun Gate Guard-on-Duty Performance (yang dilaksanakan tiap pukul 11.00 & 13.00), tapi kami tidak menonton upacara yang terakhir tersebut.

Karena melihat banyaknya turis yang mengenakan hanbok, baby g pun merengek minta pake baju seperti itu. Saya pun bertanya pada beberapa petugas jaga apakah ada tempat rental hanbok di istana ini, tapi kebanyakan dari mereka (yang sepertinya tidak begitu paham bahasa inggris) cuma menggeleng atau menjawab tak jelas. Tidak putus asa, saya bahkan berjalan lapangan parkir bus dan juga mengelilingi lapangan luas, tapi ternyata nihil, sayapun berkesimpulan sepertinya turis-turis tersebut sudah menyewa di tempat lainnya, soalnya kebanyakan seperti grup tur.

Kami melanjutkan perjalanan melintasi  Heungnyemun Gate, di sini baru karcis yang kami beli diperiksa. Dari situ kita akan berhadapan dengan Geunjeongjeon Hall dan Sajeongjeon hall di mana masing-masing memiliki ruangan seperti singgasana untuk kaisar. Kesan saya bangunan dan kebudayaan di Korea ini seperti percampuran antara China dan Jepang, bisa dilihat dari bentuk bangunannya. Sayangnya tahun lalu saya baru saja berkunjung ke Forbidden City di Beijing yang luar biasa baik dari segi keindahan maupun ukurannya, jadinya saat saya ke Gyeongbokgung ini saya merasa biasa aja.

Dari kedua hall tersebut, kami berbelok ke kiri dan bertemu dengan Gyeonghoeru Pavillion, suatu bangunan berbentuk persegi yang berdiri di atas kolam. Bangunan ini dahulu merupakan bangunan “terapung” yang paling besar di dinasti Joseon, dibangun sebagai tempat untuk acara banquet kerajaan atau pesta-pesta. Zaman dahulu, para putri dan permaisuri bisa mengelilingi kolam tersebut dengan menggunakan perahu.

133
Gyeonghoeru Pavillion

Selanjutnya kami menuju ke Gangnyeongjong pavilion yang seluruh areanya dikelilingi oleh tembok dua lapis, lapis terluar adalah tembok batu setinggi 2.50 m, sementara tembok lapisan dalam terbuat dari partisi kayu solid yang masing-masing dilengkapi dengan jendela. Gangnyeongjong pavilion ini terdiri dari banyak bangunan kecil-kecil yang dahulu memang digunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Kami masuk lebih dalam dan menemukan Gyotaejeon hall yang juga berisi singgasana raja tapi dengan ukuran lebih kecil. Perjalanan kami sudahi hingga Jagyeongjon Hall karena waktu sudah semakin terbatas, sayangnya kami tidak sempat menyambangi Pagoda tinggi yang terletak di halaman belakang.

Kami kembali lagi ke arah Gwanghamun gate di depan, sebelum meninggalkan kompleks, kami mampir dulu di National Palace Museum yang terletak di sebelah kiri Gwanghamun Gate. National Palace Museum adalah bangunan 4 lantai yang berisi koleksi sejarah dari kekaisaran Korea. Bangunan ini sepertinya masih baru, terasa dari bau pelitur kayu yang masih tajam dan terasa pedas di mata, bangunannya sendiri sangatlah modern dan koleksinya tertata rapi.

Bilik pertama yang kami datangi berisi periode berbagai dinasti yang memerintah Korea, mulai dari yang awal hingga masa kejatuhannya. Bilik kedua menitik beratkan pada dinasti Joseon terutama para kaisarnya, terdapat sejumlah koleksi lukisan/foto, jubah-jubah kebesaran kaisar dan peninggalannya. Di bilik lainnya terdapat juga foto-foto para keluarga kerajaan. Kami berkeliling museum sampai sekitar pukul 11.30 dan segera bergegas kembali menuju stasiun agar tidak ketinggalan waktu shalat jumat.

ITAEWON & SEOUL CENTRAL MOSQUE

Dari Gyeongbokgung, kami menaiki subway line 3 dan turun di Yaksu, kemudian berganti line 6 dan turun di Itaewon. Baik di Yaksu maupun Itaewon sudah banyak terlihat orang-orang india, arab, dan malaysia-indonesia.

Dari exit 3, cukup berjalan lurus hingga menemukan toko kebab turki, barulah berbelok ke arah kanan, kalau tersesat atau bingung arah bisa bertanya kepada orang-orang sekitar yang kira-kira kelihatannya sama-sama muslim. Nah kalau hari jumat seperti waktu kami berkunjung, cukup ikuti saja kerumunan pria yang kelihatannya arab/india karena rata-rata pasti akan ke arah masjid untuk jumat’an. Jalan menuju Seoul Central Mosque menanjak terus dan cukup melelahkan, tidak jauh setelah belokan kita akan menemukan deretan toko-toko muslim, restoran halal bahkan biro umroh.

146
Jalanan menanjak

Itaewon merupakan area expatriat atau warga asing di Seoul, maka dengan bantuan Kerajaan Arab Saudi, dibangunlah Seoul Central Mosque sekaligus beberapa madrasah dan tempat belajar untuk warga asing yang muslim.

Karena waktu dzuhur adalah pukul 12.45, sementara saat sampai di sekitar Itaewon baru pukul 12.00, maka kami beristirahat sekaligus makan siang di Murree Hallal Food, suatu restoran muslim yang menyediakan masakan korea dan masakan india . Pemiliknya adalah seorang India pakistan yang cekatan, kami memesan Galbi Tang dan Samnyang. Di restoran ini kami banyak bertemu dengan orang Indonesia. Galbi Tang-nya lumayan enak (walau kata suami saya masih enakan di Myeongdong semalam) sementara Samnyang-nya tidak begitu pedas karena berkuah banyak.

Pukul 12.30 kami segera pergi ke masjid, posisi masjid-nya sangat menanjak curam dari pintu gerbang, dari pengeras suara terdengar khotbah jum’at dalam bahasa korea campur inggris. Saat kami menapakkan kaki, lapangan di luar masjid sudah penuh sesak dengan jamaah, kami pun melipir ke belakang di mana para ibu-ibu menunggu, sementara suami saya mencari tempat di antara para jamaah lainnya. Tidak lama kemudian kemudian iqamat berkumandang, rasanya sangat bahagia mendengar iqamat di negeri asing seperti ini. Setelah shalat selesai kami melanjutkan kembali perjalanan.

Karena masih lapar (akibat porsi nasi sedikit yang sudah dihabisin baby g tadi), suami saya mengajak makan kebab di salah satu kedai turki yang ada. Seperti di banyak kedai turki, di depan kedai juga menjual es krim turki yang dibuat dengan sedikit atraksi. Banyak gadis-gadis korea yang mengerumuni penjual tersebut sambil cekikikan.

150

DONGDAEMUN

Hasil penghematan di Jepang kemarin (well, 10,000 jpy memang murni penghematan biaya makan, tapi 10,000 lainnya adalah biaya transportasi baby g, in case buat jaga-jaga aja sih, walau dari semua situs yang saya baca bahwa di jepang anak di bawah 6 tahun belum bayar), saya masih mengantongi 20,000 jpy. Jatah belanja dan oleh-oleh di Korea cuma 100,000 krw, sementara separonya sudah dihabiskan beli kosmetik di Myeongdong semalam. Suami saya menyarankan agar kami tukarkan saja mata uang yen tadi menjadi won, awalnya saya nggak mau (karena saya terbiasa tertib dengan anggaran yang sudah dibuat) tapi suami saya bilang toh kalau nggak dipake juga nggak papa, buat jaga-jaga aja. Ya sudahlah, akhirnya saat sampai di Dongdaemun, kami menuju ke Hana Bank dulu untuk menukar uang. Saran dari Bryan juga sih, katanya kalau menukar uang lebih baik di bank daripada Money Changer karena ratenya lebih bagus.

Dongdaemun merupakan area pusat perbelanjaan dengan deretan aneka shopping mall yang beberapa bahkan buka 24 jam. Saya bukan penyuka belanja sih, jadi saya cuma mau pergi ke toko Arirang yang berada di lantai 6 Doota Shopping Mall buat beli oleh-oleh aja.

152
Doota Shopping Mall

Toko Arirang ini banyak direkomendasikan oleh teman-teman karena penjaga tokonya bisa berbahasa Indonesia, harga yang ditawarkan juga lumayan murah untuk ukuran di dalam mall (jangan bandingkan dengan harga barang serupa di Namdaemun Market sih), sudah ada price tag jadi nggak perlu repot-repot bayar.

Seorang pelayan wanita dan pria dengan wajah yang sangat korea (beneran korea banget dan kinclong) menyapa kami dalam bahasa indonesia yang fasih, eh ternyata mereka berdua orang bandung, owalah. Jadilah suami saya mengeluarkan jurus sunda-nya dan mereka pun saling berkomunikasi pake bahasa sunda. Toko Arirang menjual anek barang dan souvenir, misalnya saja t-shirt, gantungan kunci, boneka, magnet kulkas, sumpit bahkan hanbok. Di sini juga dijual makanan seperti teh ginseng, mochi, kacang almond dll. Tak lama, banyak juga warga malaysia dan indonesia dari grup tur yang datang. Pemilik Arirang memang cerdas sih, sepertinya memang mereka sengaja mengincar pangsa pasar malaysia-indonesia, sampai pelayannya dipilih yang asli indonesia tapi mukanya korea. Si owner sendiri bisa sedikit sedikit berbahasa melayu. Si akang oppa (akang-akang pelayan yang orang bandung tadi) pun menginfokan kalau belanja di sini akan dikemas dalam tas kain ukuran besar yang diberikan gratis, runtuhlah pertahanan saya (soalnya semalem kan bingung mau naroh oleh-oleh di mana lagi) dan langsung memborong banyak barang. Tas isi oleh-oleh dari Arirang ini beratnya sampai 10 kg lho pas kami timbang di bandara, haha.

Tadinya sehabis belanja, kami mau mampir foto-foto sebentar di Dongdaemun Design Plaza yang terkenal akan bentuk bangunannya yang unik, berhubung tenyata hasil belanja beratnya minta ampun, akhirnya kami langsung berbalik arah dan pulang ke hostel.

153
Di belakang kami adalah Dongdaemun Design Plaza

HONGIK AREA

Oh iya, saya lupa sedikit mengulas mengenai area Hongik, tempat saya menginap. Hongik merupakan area anak muda di Seoul, banyak cafe-cafe dan rumah makan serta butik-butik kecil yang sesuai gaya anak muda. Tahu drama “Coffee Prince”?? lokasinya hanya 100 m saja dari hostel kami berada. Di sini banyak berseliweran anak-anak muda gaul korea dengan dandanan keren.

158
Hongik area

Setelah menaruh barang bawaan di kamar dan beristirahat, kami keluar menuju 711 untuk membeli makan malam. Di 711 kami juga membeli banyak samnyang untuk oleh-oleh, lumayan sedikit lebih murah dibanding di Korea.

DAY 8

Garuda Indonesia yang membawa kami ke Jakarta akan berangkat pukul 10.35 , karena itulah pagi-pagi sekali jam 06.30, kami sudah keluar dari hostel menembus dinginnya udara yang belum disinari matahari sembari memanggul barang bawaan. Semalam kami sudah berpamitan dengan Bryan sembari mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya.

Kami menaiki AREX hingga Incheon Airport, berakhirlah sudah perjalanan korea-japan kami ini, semoga suatu hari lagi diberi kemudahan, umur dan rezeki untuk kembali mengunjungi kedua negeri ini. Anyeong haseyo Seoul.

Posted in Gyeonggi-do, Incheon, Seoul, South Korea

Japan – Korea Trip (Day 5 & 6)

DAY 5 

Hasil kalap di Don Quijote dua hari yang lalu ternyata sudah cukup membuat isi tas cadangan yang kami bawa penuh sesak dan tidak ada space lagi sama sekali. Padahal tentunya masih ada yang akan kami beli lagi di korea (walaupun sedikit), ya sudahlah ntar lihat aja gimana. Packing sudah kami lakukan kemarin sore sepulang dari USJ. Setelah melepas seprai dan bed cover serta meletakkannya di keranjang laundry, kami pun terseok-seok menuruni tangga untuk makan pagi di dapur hostel.

Peach Airways yang akan membawa kami ke seoul direncanakan terbang pukul 12.50 siang, jadi baru pukul 09.00 kami akan keluar dari hostel. Kami memasak mie instan (iya indomie) yang sudah kami bawa dari Jakarta, suasana dapur masih terbilang lengang, hanya ada dua bule yang sepertinya juga akan meninggalkan hostel hari ini. Karena masih ada sisa recehan yen, maka kami mampir sebentar di 711 sekedar untuk menghabiskan uang tersebut (toh juga nggak bakal bisa dituker di money changer) dan juga membeli bento box untuk makan siang di bandara, lumayan lah bisa dapet pocky atau permen utuk nambah oleh-oleh.

IMG20170315072219
Dapur J Hoppers

Setelah itu kami pun check out dan berjalan menuju stasiun Fukushima. Situs hyperdia.com memang benar-benar akurat, train timetable yang saya browsing sebulan sebelumnya sangatlah tepat dan tidak bergeser semenit pun. Kami menaiki JR Kansai Airport Rapid Service,  untuk menuju ke Kansai Airport kita harus menggunakan gerbong 1-4, sebab gerbong no 5-8 nanti di pertengahan jalan akan berpisah dan menuju ke Wakayama. Saya mendapatkan info ini dari beberapa situs yang saya baca, tapi pun pengumuman lewat pengeras suara baik di peron ataupun di dalam kereta juga akan terus menginfokan hal ini. Biaya yang harus dibayarkan adalah sebesar 1190 jpy. Ada alternatif yang lebih murah yaitu dengan mengkombinasikan JR Loop Line dan Nankai Airport Express, tapi alternatif tersebut mengharuskan kita turun dan berganti kereta dulu di stasiun Shin Imamiya, tentu cukup merepotkan untuk keluarga yang membawa anak kecil seperti kami. Kereta yang kami naiki masih lengang pagi itu, sehingga kami bisa menggunakan dua tempat duduk sendiri. Perjalanan menuju Kansai Airport membutuhkan waktu sekitar 1 jam.

Sesampainya di Kansai Airport kami segera menuju halte free shuttle bus yang akan membawa kami ke terminal 2 di mana Peach Aviation akan berangkat. Tidak perlu khawatir tersesat karena papan penunjuknya sangatlah jelas. Saat kami sampai, waktu baru menunjukkan pukul 11 kurang, sementara menurut informasi yang ditempel di papan pengumuman (iya bener ditempel, bukan pake papan elektronik), counter check in baru akan dibuka pukul 11.30. Terminal 2 jauh lebih kecil dibanding terminal 1, kira-kira cuma seperti Bandara Halim di Jakarta, tidak tersedia banyak tempat duduk jadi kami hanya bisa nongkrong di samping troli sembari menunggu. Terminal 2 ini mayoritas memang hanya digunakan oleh Peach Aviation, jadi dekorasi dan warna interiornya didominasi oleh warna peach yaitu magenta (ungu). Saya masih heran kenapa walau menyandang nama peach (peach kan jingga) tapi warna kebangsaan si peach ini malah magenta, lihat aja situsnya, seragam pramugarinya bahkan body pesawatnya.

Yang ribet adalah tidak tersedia fasilitas web check in di situsnya, check in harus dilakukan di mesin check in kios yang hanya tersedia di bandara, dalam kasus ini ya di terminal 2 kansai airport. Setelah check in di mesin kios, penumpang yang membawa bagasi baru mendatangi counter check in, sementara yang tidak membawa bagasi dapat langsung melanjutkan perjalanan.

IMG20170315103357
Mesin Check in Kios milik Peach Aviation

Yang harus dilakukan di mesin check in kios sih sebenarnya simple saja, kita harus men-scan barcode atau kode martix yang ada di bukti print booking , selanjutnya men-scan paspor kita. Nah, saat scan paspor ini kok error melulu, sampai akhirnya kami dihampiri oleh petugas yang menyuruh kami langsung saja ke counter check in, sebelumnya dia bertanya apa kami Indonesia, owalah saya baru ngeh kan paspor Indonesia nggak semuanya pake chip (e-passport), apa yang mau di-scan, haha.

Masalah masih berlanjut di counter, di paspor memang nama suami saya hanya terdiri dari 2 suku kata, tapi untuk keperluan umroh yang lalu, di lembar endorsement nama suami tercantum 3 suku kata. Karena itulah, saya terbiasa mencantumkan namanya dalam 3 suku kata saat booking tiket, dan selama ini nggak ada masalah. Si mbak petugas mempermasalahkan kenapa namanya 3 suku kata, sementara di lembar identitas hanya 2. Kami sudah menerangkan alasannya sambil menunjuk lembar endorsement tersebut, tapi si mbak masih kekeuh dan kebingungan, dia malah nunjukkin paspor saya dan baby g yang memang sudah 3 suku kata dari awal. Kami jelaskan lagi, tapi dia masih kelihatan bingung sambil membolak-balik paspor suami saya dan akhirnya memanggil supervisornya. Untungnya suami saya punya ide, dia bilang visa yang di-approve itu kan 3 suku kata, akhirnya baru mereka berhasil diyakinkan setelah mengecek stiker visa tersebut, fuuh.

Setelah proses check in yang sangat menghabiskan waktu dan bikin hati kebat-kebit, kami melewati deretan duty free dan duduk di ruang boarding sambil makan bento box yang sudah dibeli di 711 kemarin. Karena jaraknya dekat, sepertinya banyak warga jepang yang berlibur di seoul atau sebaliknya. Tepat pukul 12.30 wartu boarding diumumkan dan kami bergegas menaiki pesawat, Sayonara Japan !!!!.

IMG20170315120132
Ruang boarding

PEACH AVIATION

Pesawat Peach itu rata-rata berukuran kecil, namanya juga budget airlines, dan body nya dicat warna magenta. Seperti budget airlines lainnya, jangan mengharapkan kenyamanan berlebih, yang penting aman dan murah. Setelah kemarin naik garuda yang lapang, sekarang rasanya sempit sekali.

Penerbangan ke Seoul hanya memakan waktu 1 jam 50 menit dan kami lalui dalam kondisi udara yang cerah dan tenang tanpa turbulensi. Tidak ada perbedaan waktu antara Osaka-Japan dan Seoul.

SEOUL

Pukul 14.55 pesawat kami mendarat di Seoul, setelah melewati imigrasi yang panjang antriannya, kami pun bergegas menuju pengambilan bagasi. Ternyata bandara incheon ini luar biasa besarnya, untuk menuju lokasi pengambilan bagasi saja kami harus menaiki free shuttle train dulu dan jalan naik turun lumayan jauh, bisa ditebak saat kami tiba, bagasi-bagasi tersebut sudah berjajar manis dan siap diambil.

Setelah mengambil bagasi, kami menaiki lift dan turun di lantai di mana terdapat stasiun kereta yang akan membawa kami ke pusat kota Seoul. Kami sudah meminjam T money (semacam smart card yang bisa digunakan untuk moda transportasi ataupun berbelanja di minimarket) jadi hanya tinggal men-top up saja di vanding machine yang berada persis di depan pintu masuk stasiun. Kami men-top up t-money tersebut sebesar 25,000 KRW, sesuai perhitungan yang telah saya buat untuk naik kendaraan selama 3 hari ini.

3
Maskot Arex di stasiun

Karena hostel kami terletak di area Hongik, maka kami menggunakan Arex bertype all stop train, yang mana berhenti di banyak stasiun (salah satunya Hongik) dan juga lebih murah, tarifnya 4050 KRW. Ada juga AREX bertype direct yang langsung berhenti si Seoul Station dengan gerbong yang lebih nyaman namun tentu harganya jauh lebih mahal.

4
Di dalam AREX

Jauh juga jarak menuju ke Hongik, butuh waktu sekitar 46 menit, masalahnya tempat duduk di gerbong Arex ini persis seperti kereta biasa, dua bangku panjang dari sisi ke sisi yang saling berhadapan, jadi tidak terlalu nyaman.  Yang lucu adalah di setiap pemberhentian, pengumuman informasi  akan didahului oleh alunan lagu rakyat korea tradisional. Nah, kalau di Jepang kemarin saya menilai cewek-ceweknya kawai (imut) dengan wajah yang segar dan minim make up, cewek-cewek di korea ini kesannya lebih ke kirei (cantik) dengan trend “no make up make up” dan pemakaian BB cream yang membuat tampilan flawless dengan kulit muka yang seakan-akan glossy dan transparan. Tapi sayangnya juga make up-nya terlalu tebal, terutama di detail area mata dan bibir yang dipoles sedemikian merah, padahal mereka kan putih. Udah gitu, mereka juga nggak segan bedakan dan lipstikkan di atas kereta lho.

BUNK GUESTHOUSE HOSTEL

Kami turun di stasiun Hongik dan keluar melalui exit 7, tanpa disangka kontur nya cukup naik turun dan bikin kami terseok-seok memanggul barang bawaan. Setelah sempat bingung dan celingak-celinguk (karena realnya ternyata beda dengan hasil google image), akhirnya saya menemukan Wausan-ro 29 ra-gil, jalan di mana Bunk Guesthouse hostel yang sudah kami booking berada. Faktor lokasi juga sangat menentukan pemilihan hostel ini karena jaraknya hanya 10 menit saja dari stasiun.

Saya membunyikan bel yang ada di pintu ruang resepsionis Bunk Guesthouse Hostel karena pintunya terkunci. Bryan sang owner yang sedang tenggelam di sofa sambil menonton TV bergegas membukakan pintu untuk kami. Anyway, saya tahu namanya Bryan dari berbagai review yang saya baca di internet, Bryan adalah seorang pria korea sekitar usia akhir 30-an dengan wajah khas korea yang cukup menarik. Bahasa inggrisnya fasih dengan hanya sedikit saja logat korea. Saya pun mengeluarkan print tanda booking dari agoda, namun Bryan menerima kertas tadi sambil menatap saya dengan sedikit merenung. Dia pun berkata bahwa hostel ini tidak menerima anak kecil. What??? nggak mungkin, saya pun berargumen bahwa saya sudah membaca dengan detail segala T&C yang ada di agoda termasuk ketentuan soal anak. Tapi bryan tetap menolak dan berkata tidak, peraturannya tidak boleh. Mangkel, bingung, sedih, campur aduk jadi satu, coba pikirkan apa yang harus saya lakukan, membooking hotel lagi tentu sangat menyulitkan apalagi dengan adanya anak dan barang bawaan, booking lagi pun berarti duit saya hilang.

Kami pun memohon-mohon lagi ke Bryan agar boleh diizinkan. Bryan mengecek kembali daftar booking di komputernya dan mengatakan kalau dia paling hanya bisa mengizinkan kami berdiam satu malam di kamar lainnya karena sudah penuh. Saya pun memohon mohon kembali sambil mengajukan penawaran kalau anak saya nggak akan ribut dan saya bersedia membayar extra charge. Dia memberikan saya selembar kertas berisi beberapa peraturan yang harus saya baca (isinya sih general, nggak ada soal bawa anak) dan setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia mengizinkan kami masuk tapi dengan extra charge 15,000 KRW/malam. Yah sudahlah daripada kami pusing.

6
Bunk Guesthouse Hostel

Kami diantar ke kamar kami yang terletak di lantai dua, kamarnya kecil dan hanya berisi satu bunk bed namun dengan fasilitas kamar mandi di dalam, dan kondisinya sangat rapi dan bersih. Sistem kunci menggunakan kunci elektronik berupa pin yang harus diinput. Sepertinya hostel ini dulunya merupakan rumah pribadi yang kemudian dirombak menjadi hostel.

Setelah merebahkan diri di kasur, dengan koneksi wifi saya membuka situs agoda untuk mengecek kembali T&C yang tertera. Dengan penuh kemenangan saya pun menunjukkan kepada suami saya keterangan bahwa anak usia 0-5 tahun tidak dikenakan biaya apabila menggunakan ranjang yang tersedia. Kami pun berkesimpulan bahwa Bryan sepertinya keberatan lebih ke soal okupansinya, karena sebenarnya dia juga menyediakan family room untuk 3 orang. Yah apa boleh buat kan, daripada nggak bisa masuk hostel, sepertinya berdebat pun percuma.

DEOKSUGUNG PALACE

Walau sangat lelah fisik dan juga batin (oke memang lebay) akibat perjalanan dan drama hari ini, tapi kami teringat bahwa waktu yang kami miliki untuk mengeksplorasi Seoul ini tidaklah banyak. Dengan menyeret kaki, kami pun bergegas keluar hostel untuk menuju ke Deoksugung Palace dan Gwanghamun gate, walau rasanya malas sekali apalagi dengan udara yang makin dingin menggigit di senja itu.

Kami kembali memasuki stasiun Hongik dan harus tersiksa dengan kenyataan bahwa Line 2 jaraknya jauh sekali dari exit 7 tempat kami masuk tadi. Hongik memang merupakan stasiun dengan pertemuan beberapa line (jalur), tapi yang nggak kami sangka, ternyata jarak antara line yang satu dengan yang lain sangatlah berjauhan. Line 2 itu kira-kira ada sekitar 300 m dari exit 7.

Kami turun di stasiun City Hall yang sama-sama berada di line 2, lalu berjalan sekitar 100 dari exit 2 hingga menemukan gerbang Daehanmun yang merupakan pintu masuk dari Deoksugung palace. Karena sudah kelaparan, sebelum masuk kami melangkahkan kaki dulu ke deretan restoran yang berada di sebelah gerbang Daehanmun. Kami memutuskan masuk ke salah satu restoran yang menyajikan masakan korea yang dari displaynya sepertinya bisa kami makan. Ahjuma (bibi-bibi) yang menjaga restoran , seperti yang sudah ditebak, tidak bisa berbahasa inggris. Kami kesulitan bertanya soal kandungan isi makanan yang ada, untunglah…ada seorang oppa-oppa lumayan kece (ini pasti jadi favorit temen-temen yang fans drakor) yang membantu kami karena dia lumayan bisa berbahasa inggris. Saat saya bilang “thanks” dia malah jawabnya “sama-sama” lalu dia pun menerangkan bahwa sudah setahun dia bekerja di malaysia, owalah.

Menu yang kami pesan sebenarnya standar saja, saya pesan nasi dengan ayam cacah, sementara suami pesen nasi dengan telur mata sapi & cacahan daging. Sayang disayang porsi nasinya seiprit banget, udah gitu hampir setengahnya disiram gochujang, suatu saus khas korea yang rasanya asam pedas. Lucunya saat membayar, suami saya keder memberikan mata uang yen alih-alih won, si ahjuma pun bingung dan bertanya apa ada uang lain. Saat suami memanggil yang ada dalam pikiran saya malah jangan-jangan uangnya udah nggak laku, eh pas dicek ternyata itu yen. Kami semua pun tertawa-tawa setelah suami saya menyerahkan pecahan uang won. Padahal 10,000 yen nilanya sepuluh kali lipat 10,000 won lho, untung ahjuma nya jujur.

Sebelum masuk ke Deoksugung, kami berfoto sebentar di Deoksugung Stonewall Walkway, jalan samping istana yang berbatasan dengan tembok batu deoksugung , jalanan ini juga dilapisi paving batu dan dinaungi oleh pohon-pohon rindang yang saat musim gugur sangatlah indah. Saat akan berfoto, lewatlah serombongan tentara-tentara muda kurus yang pasti bakal disambut dengan euforia bagi fans-nya Descendants of the sun (yang membuat saya menyerah berhenti nonton di episode ke-3 karena sudah terlalu terbiasa nonton bones atau criminal minds).

14
Deoksugung Stone Walkway

Kami membeli tiket masuk seharga 1,000 krw, cukup murah kan. Deoksugung ini buka mulai pukul 09.00 – 21.00, itulah mengapa kami ke sini dikarenakan ini adalah obyek wisata yang masih buka sampai malam begini. Berkunjung ke kompleks istana yang sudah ratusan tahun umurnya di malam hari tentu menimbulkan sensasi tersendiri, bisa dibilang agak spooky, apalagi pengunjungnya sedikit, petugas keamanan yang berjaga pun tidaklah banyak.

12
Daehanmun Gate

Deoksugung adalah salah satu dari 5 istana utama dinasti Joseon, Istana ini pernah menjadi kediaman beberapa pemimpin Dinasti Joseon sampai periode penjajahan Jepang. Kompleks istana ini merupakan yang terkecil di antara kelima lainnya.

Bangunan utamanya di mana terdapat singgasana Kaisar dinamakan Junghwajeon Hall, berupa paviliun bergaya korea dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Di belakangnya berderet berbagai bangunan yang difungsikan sebagai tempat acara-acara ataupun tempat tinggal. Yang menarik adalah adanya bangunan megah bergaya eropa yang dinamakan Seokjejoen, bangunan ini didirikan atas prakarsa Emperor Gojong.

24
Seokjejoen Hall

Kami menelusuri kompleks istana hingga sampai kembali di Daehanmun Gate yang juga merupakan pintu keluar. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar sejam di istana ini tanpa sempat mengeksplorasi lebih mendalam dikarenakan suhu udara yang makin turun.

27
Deoksugung Complex
29
Deoksugung Complex

GWANGHAMUN GATE & CHEONGGYECHEON STREAM

Keluar dari Deoksung, kami meneruskan perjalanan melalui hiruk pikuk dan modern-nya kota Seoul. Daerah ini memang merupakan pusat kota seoul, jalanannya lebar dan besar, sementara gedung-gedung tinggi berjajar di sekelilingnya. Tadinya saya bermaksud berkunjung sebentar sekedar untuk melihat Cheonggyecheon stream, suatu aliran sungai di tengah kota yang sangat terkenal karena sudah dirombak modern sehingga nyaman dipakai sebagai tempat warga sekitar duduk-duduk, dan merupakan bagian dari budaya k-pop karena seringnya digunakan sebagai latar dalam drakor atau video penyanyi korea. Tapi karena ternyata sungainya itu terletak di seberang jalan, yang mana jalannya sangat lebar (silakan bayangkan jalan sudirman) dengan lalu lintas yang ramai, suami saya pun menyuruh membatalkan saja kunjungan tersebut, toh yang dilihat cuma sungai.

31
Area pusat kota Seoul

Kami berjalan terus hingga menemukan patung Admiral Yi Shun Shin yang berdiri tegak, patung ini menandai dimulainya area Gwanghamun Gate. Saat saya berkunjung, area ini penuh dengan kemah-kemah temporary, poster dan bahkan patung kertas berukuran besar, ternyata area ini dijadikan markas oleh para pendemo yang menentang kebijakan presiden yang beberapa hari lalu diberitakan di tv indonesia. Area ini pun dijaga ketat oleh beberapa polisi, kami pun bertanya dulu apakah kami diizinkan masuk dan dibolehkan. Kami pun mempercepat langkah karena cukup khawatir kalau tiba-tiba akan pecah kerusuhan atau semacamnya. Kami sampai di depan patung besar dari Emperor Sejong, seorang kaisar yang paling berpengaruh dan banyak peninggalannya dari dinasti Joseon. Dari sini kami berjalan memutar kembali untuk mencapai stasiun Gwanghamun untuk naik subway (ln 5), turun untuk berganti line di Chungjeongno (ln5) dan naik lagi hingga Hongik station.

33
Admiral Yi Shun Shin Statue
35
King Sejong statue

Sampai di hotel baru pukul 8.30 malam tapi rasanya badan sudah remuk redam, Anyeong Haseyo Seoul !!!!

DAY 6

Jam 6 pagi, dengan sedikit tidak rela saya harus meninggalkan selimut dan kasur yang nyaman. Jadwal hari ini sangat padat, Nami Island, Namsangol Hanok Village, NSeoul Tower & Myeongdong, jadi kami harus berangkat sepagi mungkin.

Resepsionis merangkap ruang makan baru dibuka pukul 08.00 pagi, jadi kami harus makan pagi di kursi outdoor sambil menahan dinginnya udara yang masih menggigit. Kami membeli nasi matang dalam kemasan yang dijual di 711, sementara lauknya adalah perbekalan yang kami bawa dari Jakarta. Jam 08.00 Bryan baru muncul dan tersenyum ramah saat menyapa kami.

IMG20170316075647
Bunk Guesthouse Hostel

Setelah beres makan, kami pun berangkat menuju destinasi pertama yaitu Nami Island. Nami Island ini merupakan suatu pulau buatan yang terletak di gyeonggi-do, cukup jauh dari Seoul, pulau ini menjadi sangat terkenal dan menjadi andalan pariwisata korea sejak dijadikan sebagai latar drama “Winter Sonata” yang dibintangi oleh Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo. Oke, walaupun sekarang saya bukan penggemar drakor lagi, tapi saya termasuk penonton setia drakor generasi awal, Winter Sonata ini salah satunya merupakan film yang menjadi pionir meledaknya drakor di seantero dunia. Jadi, sudah pasti kalau Nami Islam masuk dalam daftar wajib kunjung saya.

Untuk menuju Nami Island, ada beberapa moda transportasi, bisa naik bus atau kereta. Paling gampang memang naik bus sih, cuma sayangnya bus baru akan berangkat dari Seoul pukul 10.00 dan kembali lagi pukul 16.00, sangat menghabiskan waktu, apalagi waktu saya sangat sedikit. Alternatif lainnya yaitu naik kereta, banyak yang merekomendasikan naik ITX, tapi sebagai traveller pelit cermat , saya menemukan suatu cara lain yang jauh lebih murah (walau sedikit ribet) yaitu naik subway lokal seperti biasa. Ongkosnya cuma 2350 krw, toh waktu tempuhnya hampir sama, sekitar 1 jam 40 menit.

Sudahkah saya ceritakan kalau stasiun subway di seoul terbilang “jahanam”???? Jadi begini, satu stasiun kebanyakan terdiri atas beberapa line, nah masalahnya jarak antara line yang satu dengan yang lain jauh banget, rata-rata 300-500 m, itu belum termasuk kita harus naik turun dengan kondisi anak tangga yang sangat curam, sebab belum tentu line yang satu dengan yang lainnya sama-sama satu lantai. Memang karena saya membawa stroller untuk anak, saya memilih berjalan sedikit memutar agar bisa naik lift. Masalahnya manner orang korea ternyata sedikit mengecewakan, lift bisa penuh dengan anak muda yang tergolong sehat dan tidak membawa apa-apa, sekalinya penuh sama manula, eh si kakek nenek ini udah kayak orang kesurupan takut ketinggalan lift, sampe adu sikut dan dorong-dorongan pun mereka nggak peduli.

Belum selesai di situ, kalau kebanyakan peta jalur (line) subway di negara lain itu rapi antara ujung awal dan akhirnya (sebut saja di beijing, jepang, singapore, malaysia) sehingga saat mencatat rute kita tinggal menghapal ujungnya saja. Nah di seoul ini, line subway bisa bercabang, melingkar atau nggak teratur, jadilah setiap sampai di peron saya akan buru-buru nyari peta jalur agar nggak salah. Pun, di keterangan peron arah juga tidak dituliskan seragam, bisa ditulis ujungnya, bisa ditulis stasiun sesudahnya atau bahkan suatu stasiun yang terkenal saja, bikin ribet.

Rute menuju Nami Island dari Hongik Station dengan subway sebagai berikut :

  1. Naik subway Gyeonggi Jungang line dari Hongik Station, turun di Sangbong station
  2. Di Sangbong, ganti dengan subway Gyeongchun line, turun di Gapyeong
  3. Naik taxi sekitar  menit hingga sampai di dermaga Nami
IMG20170316084215
Di dalam subway

Nah, berhubung setelah jalan di dalam Hongik station, saya nggak ketemu juga letak Gyeonggi Jungang line itu (dan yeah…petugas pun sedikit banget dan jarang nongol, jadi mau nanya siapakah saya?). Kami pun mengamati peta yang ditempel di stasiun dan memutuskan sedikit memodifikasi jalur menjadi :

  1. Naik subway line 2 dari Hongik Station, turun di Wangsimni
  2. Di Wangsimni, ganti dengan subway Gyeonggi Jungang line, turun di Mangu
  3. Di Mangu, ganti dengan subway Gyeongchun line, turun di Gapyeong
  4. Naik taxi sekitar  menit hingga sampai di dermaga Nami

Cukup ribet karena mesti ganti kereta beberapa kali, dan ternyata di Mangu hampir 30 menit kami menunggu kereta yang akan membawa kami ke Gapyeong. Di stasiun Gapyeong, kami keluar melalui exit 1 dan langsung menaiki salah satu taxi yang sudah mangkal. Btw, saat mengantri toilet di Gapyeong, kami bertemu dengan dua cowok asal Indonesia dan sempet ngobrol-ngobrol, mereka nanya ke kami apakah akan naik bus atau taxi. Saya pun bilang kalau naik bus sayang kalau nggak seharian di area ini,  sebab tiket bus dapat digunakan sepuasnya seharian penuh, sementara kami cuma mau ke Nami saja. Selain Nami, di area ini juga ada Petite France dan Morning Calm Arboretum yang cukup terkenal (tentu saja gara-gara drakor). Selain itu biaya taxi menuju Nami Island juga terbilang murah, apalagi saya sempat baca kalau waktu tunggu bus lumayan lama.

70
Gapyeong Station

Nami Island memang sangat dekat dari Gapyeong station, cuma 10 menit saja dan ongkos taxinya hanya 4,000 KRW. Sesampai di Nami kami disambut oleh pemandangan danau luas dengan dermaga dan beberapa patung batu salju buatan sebagai dekorasinya.

3
Di dermaga Gapyeong

Tiket masuk ke Nami Island dibanderol seharga 8,000 KRW untuk dewasa dan 4,000 KRW untuk anak (mulai usia 2 tahun). Yang lucu, Nami Island ini disebut sebagai Naminara Republic dan dibuatlah semacam bangunan “imigrasi”. Tiket yang dibeli sudah termasuk dengan ongkos naik ferry pp. Ferry-nya sendiri sangat lucu, dengan bentuk moncong yang lebar dan dihias dengan aneka bendera dari berbagai bangsa. Tidak lama kami menaiki ferry, hanya 5 menit kami sudah sampai.

4
Imigrasi Nami
6
Ferry ke Nami

Baby G langsung antusias sekali demi melihat sisa-sisa bongkahan es yang sudah dibentuk menjadi seperti gunung di pintu masuk Nami. Saya segera menarik baby g untuk berfoto dengan beberapa patung salju dari batu lengkap dengan tulisan “nami island” di latar belakang.

13
Gerbang Nami Island

Suasana di Nami Island terbilang cukup ramai, namun tetap terasa sejuk karena banyak pepohonan, err lebih tepat masih dingin karena suhu udara masih 10 derajat. Kami menyusuri jalan hingga bertemu dengan beberapa patung batu yang sepertinya dari kisah rakyat-rakyat korea. Kami pun bertemu dengan makam Jenderal Nami, yang dari namanya lah asal nama pulau ini. Jenderal nami adalah jenderal yang dulu pernah difitnah sebagai pengkhianat, namun akhirnya nama baiknya dipulihkan kembali.

19
Patung-patung batu di Nami Island
24
Makam Jenderal Nami

Baby g kembali kegirangan karena menemukan gundukan sisa-sisa salju (yang memang sepertinya sudah sengaja dikumpulkan oleh Pihak Nami), maklum dia lagi keranjingan frozen, suami saya pun ikut-ikutan girang, maklum ya mahluk tropis baru kali ini liat salju. Mereka berdua pun asik pegang-pegang salju sambil foto-foto. Dari salju tadi, kami bertemu dengan jalan setapak yang dinaungi deretan pohon-pohon pinus , aargh kali ini saya-lah yang kegirangan karena teringat akan salah satu episode dari Winter Sonata yang berlokasi di sini.  Kami terus menyusuri jalan hingga bertemu dengan spot bertuliskan “Winter Sonata First Kiss”.

22
Gundukan salju
28
Gundukan salju
31
Gundukan salju
42
Winter Sonata First Kiss
34
Deretan pohon pinus

Keseluruhan dari nami island ini sangat indah dan menyenangkan, apalagi banyak tersedia tempat duduk lengkap dengan meja ataupun gazebo kecil yang bisa dimanfaatkan untuk piknik. Taman-taman yang ada cukup menarik karena sudah terkonsep rapi, ada area burung unta, bahkan ada burung merak yang bebas berkeliaran. Di suatu kedai kami mampir sebentar untuk jajan bakpao dan sate seafood, harganya murah, total hanya 3000 KRW.

Mengikuti peta yang dibagikan di kios tiket tadi, sampailah kami di patung perunggu Bae Yong Joon dan Choi Ji Woo yang sedang berpelukan, yihaaaa. Saya pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil foto di spot ini. Lurus terus dari patung ini terdapat jalan dengan deretan pohon maple, saya jadi pingin nyanyi lagunya “my memory” yang jadi salah satu soundtrack winter sonata.

68
Poster Winter Sonata
56
Patung tokoh Jun Sang & Yu jin dari Winter Sonata

Kami makan siang dengan nasi bekal dari 711 dan gudeg kaleng yang saya bawa dari Jakarta di suatu gazebo yang nyaman. Gazebo ini letaknya di samping patung “saru” (bahasa jawa artinya malu,nggak sopan) yang berwujud seorang ibu gemuk raksasa yang sedang menyusui kedua anaknya dan ketiganya dalam wujud telanjang. Sayangnya saya lupa nama patung ini, tapi dari keterangan yang ada, ternyata patung ini merefleksikan sang ibu sebagai “dewi bumi” yang terus memberi makan kedua aliran sungai terbesar di china yaitu yang tze dan yellow river.

58
Gazebo untuk piknik
53
Patung “saru”

Rasanya nyaman sekali melewatkan waktu duduk-duduk di Nami Island ini (apalagi di musim semi kali ya, soalnya di akhir musim dingin gini walau nyaman tapi lama-lama kulit tangan dan kaki mengkeret kedinginan), tapi kami harus segera kembali ke Seoul sebab masih ada beberapa tempat yang akan kami datangi lagi. Sebelum ke dermaga, kami shalat di musholla yang sudah disediakan, musholla-nya bersih dan luas, mungkin karena banyak turis malaysia dan indonesia datang, sehingga tidak hanya musholla, restoran di sini pun banyak yang memasang label halal.

NAMSANGOL HANOK VILLAGE & NSEOUL TOWER

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 14.00 siang saat kami menumpang ferry kembali ke dermaga. Agak sedikit meleset dari jadwal yang sudah dibuat, sebab ternyata perjalanan dari seoul ke nami yang diperkirakan hanya 1 jam 50 menit molor jadi 2 jam 30 menit, akibatnya berdampak kepada keseluruhan jadwal.

Taxi kembali ke Gapyeong station kali ini hanya bertarif 3,500 KRW. Dari situ kami bermaksud menuju ke Namsangol Hanok Village denga rute sebagai berikut

  1. Naik subway Gyeongchun line dari Gapyeong, turun di Mangu
  2. Di Mangu, ganti dengan subway Gyeonggi Jungang line, turun di Wangsimni
  3. Di Wangsimni, ganti dengan subway line 5, turun di Dongdaemun
  4. Di Dongdaemun, ganti dengan subway line 4, turun di Chungmuro

Haha, lebih ribet lagi dibanding saat berangkat kan? karena itulah butuh waktu sekitar 2 jam, dan baru jam 4 sore kami sampai di Chungmuro. Setelah menimbang-nimbang dan kasihan pada babgy g, saya terpaksa membatalkan kunjungan ke Namsangol Hanok Village (hiks..apa boleh buat..anak lebih penting) dan langsung menuju ke exit di depan Daehan Cinema untuk naik bus yang akan menuju NSeoul Tower.

37
Di depan daehan cinema

Ada dua bus yang menuju ke NSeoul Tower yaitu bus no 02 dan 05, tapi bus no 02 lebih direkomendasikan karena trayeknya tidak berputar-putar, tarifnya sama-sama 1,100 KRW.

70
Di dalam bus

Tiket masuk ke NSeoul tower telah saya booking lewat klook.com juga, harganya cuma 8,000 KRW sementara kalau beli langsung harganya 10,000 KRW. Perjalanan menuju NSeoul Tower cukup menanjak dengan medan yang terjal, wajarlah karena NSeoul Tower terletak di puncak bukit Namsan. Kawasan ini juga sepertinya dijadikan area trekking ataupun olahraga bagi warga lokal.

Bus berhenti di halte yang terletak di bibir bukit, pemandangannya sangat indah, kita bisa melihat pemandangan Seoul dari ketinggian. Dari situ kita harus berjalan menanjak lagi sekitar 500 m hingga sampai di pintu masuk NSeoul Tower. Well, saya harus cerita kalau motivasi saya mengunjungi tempat ini adalah karena ingin melihat deretan gembok cintanya yang famous itu, eh ternyata gembok cinta itu letaknya cuma di lantai 4 yang mana terbuka untuk umum, tidak harus bayar. Sementara tiket yang saya beli itu fungsinya untuk naik ke puncak tower, lah udah terlanjur beli tiket masa iya nggak dipake? kami pun menaiki lift extra cepat hingga tiba di puncak tower. Pemandangannya?? ya seperti rata-rata tower lah, nggak terlalu istimewa, kaca di tower ini juga sepertinya kurang dibersihkan sehingga pemandangan lewat kaca tidak kinclong. Diameter ruangannya juga kecil aja, satu putaran cuma butuh waktu 5 menit. Yang bagus sih di sini walau difoto tapi kita nggak dipaksa harus nebus dengan harga yang selangit.

68
Halte di NSeoul Tower
54
Pemandangan dari halte
41
Jalanan yang menanjak
42
NSeoul Tower
45
Pemandangan dari Puncak Tower
47
Teropong berbayar yang disediakan

Dari puncak tower, kami kembali ke lantai 4 untuk menelusuri gembok cinta, satun gembok dijual seharga 5,000 KRW (saya nggak ikutan beli sih). Kami berjalan-jalan sambil sesekali mengambil foto. Setelah itu kami turun ke lantai dasar untuk melihat gallery penyewaan hanbok, sayangnya lumayan mahal, jadi akhirnya kami malah foto-foto dengan manequin berhanbok yang dipajang di luar, haha.

MYEONGDONG

Dari halte di depan NSeoul Tower, kami menaiki bus no 05 yang membawa kami ke area Myeongdong. Di bus saya bercakap-cakap dengan keluarga turis asal Malaysia, di Seoul ini memang banyak turis malaysia.

Myeongdong merupakan shopping area yang terkenal dengan jajaran toko kosmetik dan food streetnya. Tau kan kosmetik korea juga lagi booming banget di seantero dunia? That’s why saya memutuskan ke sini cuma sekedar beli kosmetik korea yang katanya sering didiskon kalau di myeongdong ini.

74
Ketemu Polly, tokoh kartun favoritnya, di depan stasiun Myeongdong

Ternyata benar, deretan toko kosmetik korea dengan berbagai brand terkenal ada di sini, sebut saja Tony Molly, Innisfree, The face shop, dll. Yang menarik tiap toko mencantumkan diskon atau penawaran untuk item khusus. Sementara pedestriannya diisi oleh kedai food street yang menggugah selera, ada juga yang menjual aneka fashion ataupun sepatu dengan harga murah meriah.

Berhubung ada baby g, saya cuma bisa masuk ke dua toko saja, walau dia seneng sih dalam toko kosmetik ngeliat-liat (maklum anak cewek, seneng liat orang dandan). Pertama saya masuk ke Tony Molly dan memborong beberapa bungkus masker korea untuk oleh-oleh, beneran murah, satu pack isi 10 cuma 10,000 KRW. Selanjutnya saya masuk ke Nature Republic dan langsung kalap membeli aneka lipstick dan krim wajah yang harganya murah banget (ya iyalah dibanding kalo udah dibawa ke Indonesia).

Karena hari sudah semakin malam, kami mampir di salah satu restoran masakan korea, setelah sebelumnya meneliti menu dan bertanya kepada pemilik. Saya memesan vegetarian bibimbap seharga 8,000 KRW, sementara suami saya memesan Galbi Tang seharga 12,000 KRW. Sejak saat itulah Galbi Tang resmi dinobatkan sebagai masakan korea favorit suami saya.

Setelah makan, kami sempat mampir sebentar di kedai food street untuk membeli beberapa kudapan manis khas korea, rata-rata makanan di sini harganya 3,000 KRW. Akhirnya setelah menenteng beberapa kantung plastik belanjaan, kami pun menuju stasiun subway untuk kembali ke hostel.