Bogor, Indonesia, West Java

Bogor Culinary Bagian 1 : ForesThree,De Cafe Rooftop Garden, Lemongrass & Kedai Kita

Pengalaman kuliner di kota hujan selalu menyenangkan, banyak pilihan untuk tempat kumpul keluarga, janjian dengan teman atau sekedar cafe hopping. Sedikit review saya soal pengalaman kuliner di Bogor.

#FORESTHREE

Sesuai namanya, forestree didekorasi dengan tema hutan dan alam. Bangunannya sederhana, hanya berupa kontruksi baja seperti hanggar. Terdapat properti unik untuk berfoto, salah satunya picnic area, selain itu terdapat juga area playground yang lumayan bagus.

49897368_10157046954189623_7396578706195480576_n

Waktu bolak-balik liat menunya, kok kesannya murah ya. Kemarin kami memesan mini pizza (34 K), roti bakar gandum coklat keju (28 K) dan signature drink strawberry (28 K).

49500042_10157046954754623_1108223359050579968_n

Ternyata pizzanya walau dalam diameter normal dengan 6 potongan, tapi tipis banget kayak peyek, topping-nya juga so-so. Roti nya standar sementara signatre drinknya lumayan. Overall tempat ini seru aja buat nongkrong sambil ngobrol, bukan buat makan kenyang.

#DE CAFE ROOFTOP GARDEN

Dari luar kelihatannya hanya seperti ruko biasa, siapa sangka ternyata di dalamnya cukup luas. Restoran yang terdiri atas 3 lantai ini didekorasi dengan beraneka rupa tumbuhan dan bunga-bunga, kebanyakan sih artifisial, tapi pemilihannya sangat matching dan elok dipandang.

Di lantai 1 terdapat mini playground, sayangnya saat itu sudah penuh dengan beberapa anak dari pengunjung yang duduk di meja dekat situ. Jadilah kami memilih duduk di lantai 2. Konsepnya semi fine dining, tenang, santai dan enak buat nongkrong. Ada area indoor dan outdoor.

Kemarin kami memesan chicken salted egg (32.9 K), Fire wings combo dower with rice (36.9 K) dan Kids super combo (42.9 K).

Chicken salted egg nya enak banget, terasa gurih telur asinnya, tapi sayang porsi nya sedikit, untuk cewek aja ngepas banget, kalau buat cowok ya cuma geli-geli doang. Fire wings dower merupakan signature dish-nya rooftop ini, ternyata emang enak banget, pedesnya meresap, bumbunya juga enak banget sampe digadoin.

Sementara kids super combonya sebenarnya sangat simpel, cuma nasi dengan nugget, sosis, sup dan salad, rasanya nggak terlalu istimewa dan agak pricey sih menurut saya.

#LEMONGRASS

Salah satu resto yang sangat instagrammable, banyak spot-spot cantik tersedia mulai dari pintu masuk, lorong berdinding batu hingga ke area dining dan poolnya yang didesai sangat menarik. Kalau weekend ramenya poll, penuh sekali dan sayangnya tidak dilengkapi dengan fasilitas parkir yang memadai.

Menu yang disajikan seperti menu kopitiam, paduan antara menu chinese peranakan dengan western. Kami memesan lumpia udang kulit tahu (24.9 K), siomay (23.9 K), bola udang kumis naga (26.9 K), laksa wonton (26.9 K) dan mie goreng penang (39.9 K).

Dimsumnya menurut saya enak, hanya menu peranakannya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Walau ramai sekali, namun pelayanannya patut diacungi jempol, sangat sigap mencatat pesanan dan waktu menghidangkannya juga cepat.

#KEDAI KITA

Kalau mencari restoran yang benar-benar menyajikan cita rasa lezat, kedai kita lah jawabannya. Restoran ini bukanlah restoran yang instagrammable atau amat nyaman untuk nongkrong, tapi soal rasa jangan ditanya.

Kami termasuk penggemar setia kedai kita, dari cabangnya yang di jl pangrango hingga cabang lainnya di jl kantor pos, depan d’leuit.

Kami sudah pernah mencoba berbagai menu, mulai dari pizza kayu bakarnya yang melted, pangsit gorengnya yang lembut renyah, calzone-nya yang penuh isi, spaghettinya yang lezat hingga hot plate noodle nya dan nasi cap caynya, semuanya tidak ada yang mengecewakan, sangat enak.

Tidak mengherankan kalau restoran ini selalu penuh pengunjung, hingga waiting list di jam-jam makan. Untuk membayar siapkan uang cash, karena mereka tidak menerima pembayaran lewat kartu.

Promoted Post

Sponsored Post Gardening Calendar (Australian Temperate Climate) – DecemberDeep Green Permaculture

December is the first month of summer, and with the warmer weather gardens explode into life – lush, abundant and awesome to behold. With the days getting longer as we progress towards the longest day of the year, the summer solstice, there’s more time to enjoy the garden and the great outdoors!

During this time, temperatures can reach extremes as the days heat up, and gardens can get quite dry, so keeping up with the watering is important. Pests will also emerge with the warmer weather so keep an eye out for them!

Read More...

Central Java, Indonesia, Solo, Wonogiri

Cerita Solo : Kulineran, Keraton & Sahid Jaya Hotel

Banyak icon kuliner di sepenjuru kota Solo, berhubung waktu libur lebaran kemarin saya mempunyai waktu dua hari untuk mengeksplor Solo, jadi sekalian saya manfaatkan untuk kulineran, kebetulan rata-rata dekat dari hotel (sahid Jaya Solo red). Orang jawa umumnya suka masakan dan penganan manis, maka tidak heran kalau makanan di kota ini bercita rasa manis. Berikut sedikit cerita kulineran yang sempat saya jajal kemarin.

#RM Lombok Idjo

RM Lombok Idjo merupakan restoran yang menyajikan aneka masakan seperti ayam goreng/bakar, mujair, lele, empal, tempe tahu, sayur asem, sop buntut dll secara prasmanan. Tinggal ambil sendiri sesuai selera dan dihitung di kasir.

RM Lombok Idjo ini banyak cabangnya, bahkan hingga ke Jogja, mudah dikenali karena plangnya besar dan bangunannya bercat hijau . Area makannya luas dengan pilihan duduk di kursi atau lesehan, karena semi terbuka jadi tidak ada AC sehingga kalau siang bolong ya agak panas. Terdapat fasilitas WC dan musholla di sini.

Rasa masakannya sebenarnya lumayan enak, hanya sayangnya karena prasmanan jadi rata-rata sudah dingin, bahkan sup yang kuahnya baru dituang saat hidangan dipesan saja tidak panas .

Kemarin kami mencoba hidangan ayam bakar, mujair goreng dan sop buntut. Ayam bakarnya ala jawa banget, seluruh permukaannya rata dibaluri kecap dan bumbu sehingga rasanya manis. Mujair dan sop buntut-nya lumayan.

35804767_10156559569114623_2316817578367909888_o_10156559569104623
The menus

#Nasi liwet wongso lemu

Nasi liwet ala solo yang juga dikenal dengan nasi liwet keprabon memiliki ciri khas tersendiri. Nasi liwet gurih yang pulen dihidangkan dengan siraman sayur labu siam yang rasanya agak manis, pelengkapnya bisa ditambahkan irisan telur pindang atau daging ayam.

Kedai nasi liwet paling legendaris di Solo adalah milik bu wongso lemu yang sudah berjualan dari tahun 1950, kedai ini sekarang diteruskan oleh anak-anaknya.

Sedikit bingung mana wongso lemu yang asli, karena di jalan teuku umar ada beberapa kedai wongso lemu, akhirnya kami masuk kedai pertama yang kami temui begitu berbelok dari Jalan Slamet Riyadi.

Suasana kedai di sore hari itu sudah ramai dengan pengunjung, kami hanya memesan dua porsi nasi liwet dengan suwiran ayam dan telur untuk dibagi berempat, karena setelah ini masih mau lanjut kulineran.

35724607_10156559569284623_5790057751178641408_o_10156559569274623
Warung wongso lemu

Nasi liwet dihidangkan di atas pincuk yang dialasi daun pisang, porsinya terus terang kecil banget, hanya cukup untuk kiddos. Rasanya memang cukup enak, gurihnya nasi berpadu dengan sayur labu siam dan santan yang manis. Harganya bagi saya agak overprice sih, dengan porsi yang seiprit, ditambah suwiran ayam dan telor separuh harganya 18K/porsi.

35648029_10156559569424623_6196559238760759296_n_10156559569419623
Nasi liwet wongso lemu

#Timlo solo di RM Timlo Solo

Kuliner legendaris solo lainnya adalah timlo, bukan nama grup lawak ya.

Timlo ini sejenis hidangan sup berisi mie soun, pindang telur kecap, potongan sosis solo, suwiran ayam dan wortel. Rasanya gurih-gurih dan agak manis. Kedai timlo paling terkenal di Solo adalah Timlo Sastro, tapi berhubung jam bukanya cuma sampai sore, maka kami mengalihkan pilihan ke RM Timlo Solo yang juga cukup terkenal.

Hidangan timlo biasanya dimakan sebagai lauk ,sebagai temannya nasi. Cuma kemarin kami memutuskan memesan timlonya saja, rasanya enak terutama kuahnya yang segar dan berasa kental dengan bumbu.

35546632_10156559569564623_5033564021505130496_o_10156559569559623
Hidangan Timlo

#Bestik Harjo

Bestik merupakan sajian khas solo, berupa irisan daging (atau bisa juga diganti ayam/lidah/rempelo ati/brutu) yang disiram dengan kuah encer dengan rasa manis-asam-gurih dan disajikan dengan sayuran pelengkap seperti wortel, selada, bawang dan kentang goreng. Terus terang saya sampai sekarang masih bingung apa bedanya bestik sama selat, soalnya di warung selat mbak lies itu ada menu yang namanya selat bestik, rasa dan penyajiaannya sama.

Kemarin kami sempat mencoba bestik daging dari warung Bestik Harjo, karena sudah malam dan malas mengantri, kami pesan lewat jasa gojek. Cukup lama juga kami menunggu karena ternyata menurut si mas gojek, warungnya penuh dan antri banget.

Rasa bestik di harjo menurut kami lebih enak dibanding selat bestik-nya mbak lies, bumbunya lebih kental dan berasa.

35550005_10156559569594623_791761952408862720_n_10156559569589623
Bestik Harjo

#Serabi Notosuman Ny Lidia

Penganan kecil khas Solo yang cocok untuk buah tangan adalah serabi solo yang banyak dijual di jalan notosuman sehingga dikenal juga dengan serabi notosuman.

Serabi solo berukuran besar dengan tekstur yang basah dan empuk, menggunakan bahan baku tepung beras, santan dan gula sehingga rasanya manis. Ada dua varian serabi solo yaitu rasa original dan coklat, dua-duanya sama-sama enak.

Karena malas mengantri, kemarin kami menggunakan jasa gojek. Kedai serabi di notosuman banyak yang sudah beroperasi dari subuh, kemarin kami order jam 06.00 pagi dan sekitar setengah jam kemudian sudah diantar.

36002745_10156565384339623_101081681649205248_n_10156565384334623
Serabi Notosuman

#Leker dan Ronde depan Keraton Solo

Penganan khas lainnya dari Solo adalah leker dan wedang ronde. Kedua jenis hidangan ini bisa ditemukan di seantero kota Solo, umumnya dijual di gerobak kaki lima, kemarin kami membeli jajanan ini di depan keraton Solo.

Leker adalah penganan mirip crepes dengan isian sederhana (coklat meises/keju) dan teksturnya lebih garing jadi berasa kriuk-kriuk. Sementara ronde adalah minuman hangat yang diberi jahe dan rempah, berisi kacang tanah, kolang-kaling dan cendil warna warni dari tepung beras yang dalamnya berisi kacang manis. Wedang ronde sangat enak diminum saat udara dingin di kala malam. Di depan keraton solo juga dijajakan wedang ronde versi dingin yang diberi es , segar banget diminum saat siang hari yang panas.

#Warung selat mbak lies

Tau selat solo? bukan salah ketik, tapi memang namanya selat, dan tidak ada hubungannya dengan selat atau laut apapun. Selat di sini merupakan kata jawa untuk salad. Masakan ini merupakan masakan adaptasi dari steak ala orang-orang londo dulu.

Jadi ceritanya, zaman penjajahan dulu leluhur kita sangat terpesona dengan suguhan steak ala londo. Dengan segala keterbatasan bahan yang ada, maklum zaman dulu kan susah pangan, ditambah penyesuaian citarasa dengan lidah penduduk lokal dan kreativitas memasak, jadilah masakan yang satu ini. Porsi daging di selat solo tidaklah sebesar porsi steak western, hanya beberapa iris tipis daging yang diolah ala smoor (teknik masak ala belanda, dalam lidah lokal menjadi semur, suatu teknik memasak daging dengan merebusnya dengan api kecil dalam waktu lama sehingga menjadi empuk) lalu disiram dengan kuah yang uniknya walau dibuat dari kecap inggris namun juga ditambahkan beberapa rempah lokal. Masakan ini diberi pelengkap telur pindang, kentang goreng, mayones buatan sendiri dan sayur-sayuran (selada,wortel,bawang, buncis dan mentimun). Berhubung porsi sayurnya malah lebih besar dibanding dagingnya, maka oleh orang londo justru dinamakan salad solo, yang dengan ejaan lokal menjadi selat solo.

Restoran selat solo yang paling terkenal adalah warung selat mbak lies yang terletak di Jalan Veteran, Gang II No. 42, Serengan, buka dari jam 08.00 – 18.00 WIB. Jangan kaget kalau lokasinya nyempil, di tengah-tengah gang, sehingga mobil diparkir di lokasi lainnya karena memang tidak muat di gang tersebut. Walau begitu restoran ini tidak pernah sepi pengunjung, apalagi di kala libur lebaran, saya saja sampai datang 3x karena nggak kebagian tempat. Kali pertama itu hari senin sekitar jam 1 siang, antrian pengunjung sudah membludak memenuhi waiting list sehingga saya urung dan mundur perlahan. Sorenya sekitar jam 5 saya ke sana lagi, dan kali ini masih belum beruntung, karena menurut pegawainya sudah habis.

Masih penasaran esoknya saya kembali lagi sekitar jam 10 pagi, itu saja sudah ramai, walau saya masih bisa langsung masuk. Warung selat mbak lies ini tergolong unik, merupakan rumah tinggal yang dirombak secara sederhana menjadi rumah makan, di dalamnya dipenuhi beraneka ragam guci, keramik, pecah belah dan lukisan. Tiap meja diberi nama bukannya nomor, misalnya saja meja yang kami tempati diberi nama “Hans Andersen”. Karena awalnya rumah tinggal, maka tidak mengherankan kalau hawanya agak pengap karena plafondnya yang rendah, apalagi karena sesak dengan barang-barang dan pengunjung. Yang juga unik adalah pelayannya yang mengenakan seragam ala maid berwarna pink lengkap dengan topi, bahkan juga yang laki-laki.

Di tiap meja sudah disediakan penganan ringan yang bisa disantap selagi menunggu pesanan tiba, oleh pelayan kita akan diberikan secarik kertas dan bolpoin untuk mencata penganan yang kita makan tadi. Kami memesan selat bestik, selat galantine kuah saos dan sup manten.

Sekitar 15 menit kemudian datanglah pesanan kami, untuk selat bestik deskripsinya seperti selat solo yang telah saya kemukakan di atas. Sementara galantine kuah saos, dagingnya diganti dengan potongan rolade, dan telur pindangnya diganti telor rebus yang dicetak bentuk bunga, saosnya juga berasa asam manis dan berwarna oranye. Sementara sup manten adalah sup berisi rolade, jamur, sosis dan potongan ayam, sup ini cocok untuk anak-anak. Rasanya? sejujurnya lidah saya tidak begitu cocok dengan sajian galantine kuah saos yang saya pesan, sehingga saya tidak bisa mengatakan enak atau tidak. Tapi untuk selat solo memang bumbunya sangat terasa dengan potongan acar dan sayur yang menyegarkan. Harga perporsi dibanderol 19 ribu. Saat membayar saya bertemu dengan mbak lies sendiri yang menjaga meja kasir :).

#Lesehan Pak Glinding

Sedikit melipir keluar dari kota Solo, di daerah Wonogiri, yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari Solo, terdapat obyek wisata terkenal berupa waduk besar yang bernama waduk gajah mungkur. Selain sebagai kawasan wisata, waduk ini juga merupakan area tambak yang terkenal dengan hasil budidaya ikan nila dan wader.

Cobalah sajian khas nila bakar dan wader goreng di salah satu rumah makan di sekitar waduk gajah mungkur, salah satunya lesehan pak glinding. Rumah makan di sini umumnya terletak di atas bukit sehingga sambil makan kita juga diberi sajian panorama indah waduk dan perbukitan di sekitarnya dari ketinggian.

Seporsi nila di sini cukup untuk disharing berdua, daging ikannya biasanya selalu fresh karena belum lama dijaring dari waduk. Ikan wader merupakan ikan kecil, sedikit lebih besar dari teri dan tidak terlalu asin, umumnya digoreng kering. Setiap makanan disajikan dengan lalapan dan sambal pedas manis.

masakan-warung-makan
Warung lesehan pak glinding

#Bakso Wonogiri Kembar

Kalau ditanya apa yang paling terkenal dari wonogiri? semua orang akan menjawab bakso. Tukang bakso gerobak atau warung bakso di berbagai daerah yang terkenal enak pasti asalnya dari wonogiri.

Di seantero kota wonogiri mudah sekali ditemukan penjual bakso, rasanya cuma ada dua kategori enak dan enak banget. Teksturnya kenyal dengan proporsi daging dan tepung yang pas, ditambah dengan kuah super panas yang bercampur olahan bumbu, bakso wonogiri emang jos.

35824590_10156565384269623_6572220464565846016_o_10156565384259623
Bakso wonogiri

#KERATON KASUNANAN SOLO

Keraton surakarta merupakan istana resmi kasunanan surakarta yang didirikan oleh Pakubuwono II pada 1744 sebagai pengganti istana sebelumnya yang porak poranda akibat geger pecinan 1743. Walaupu secara resmi kasunanan Surakarta sudah bergabung dalam Republik Indonesia, namun keraton ini masih digunakan sebagai tempat tinggal sri sunan beserta keluarganya. Sebagian kompleks keraton dijadikan museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah milik kerajaan, termasuk barang-barang pusaka dan hadiah dari negeri tetangga.

35807832_10212436414282196_2829636832424099840_n_10212436414122192
Bangunan keraton

Bangunan ini dianggap bangunan yang eksotis dan merupakan contoh arsitektur istana jawa yang terbaik. Keraton ini memiliki perpadua gaya jawa dan eropa dengan dominasi warna biru dan putih.

Selain museum, terdapat menara tinggi yang bernama Menara Sanggabuwana, konon menjadi tempat bertemunya Ratu Laut Selatan dengan Raja. Sayangnya saat kami berkunjung kemarin area ini sedang ditutu karena renovasi.

#SAHID JAYA HOTEL SOLO

Kemarin kami berkesempatan menginap di hotel yang beralamat di jl gajah mada no 82 kota surakarta ini.

Sahid Jaya Solo merupaka Sahid bangunan lama dengan kamar luas yang dilengkapi karpet tebal, swimming pool yang besar dan halaman parkir yang luas.

Hotel ini terletak strategis di pusat kota, dekat dengan sejumlah obyek wisata dan spot kuliner lokal.

Bandung, Indonesia, West Java

Paskal Food Market, Chinatown & Kyotoku Floating Market

Weekend kemarin merupakan agenda kumpul keluarga besar dari pihak Ayah saya, ceritanya penutupan arisan makanya sengaja dipilih di luar karena bosan arisan di rumah melulu. Singkat cerita setelah musyawarah, dipilihlah floating market di lembang – bandung untuk acara hari minggu. Karena malas capek apabila harus one day trip bandung, maka keluarga kami memilih berangkat hari sabtu.

# Paskal Food Market

Kami berangkat dari Jakarta sudah agak siang, sekitar jam 08.00 pagi, maka tidak mengherankan kalau jalan tol sudah macet. Untuk menyiasati, kami mengikuti rute yang ditunjukkan oleh mbah google yaitu melipir lewat bekasi dan baru masuk tol di cibitung, itu juga masih lumayan kena macet hingga karawang.

Untuk menuju paskal (pasir kaliki) kami keluar melalui exit pasir koja, jalanan cukup macet di tengah hari itu terutama di ruas jalan yang melewati pasar tradisional. Paskal Food Market terletak dalam kompleks Paskal Hyper Square yang terdiri atas blok ruko, mall dan hotel. Kami sampai di paskal food market sekitar pukul 12.30 siang.

Apa istimewanya paskal food market ??? sejujurnya kami cukup penasaran dengan tagline nya yang mengusung “1100 menu ada di sini “, foto-foto di instagram nya juga menarik dan kebetulan memang lokasinya dekat dengan beberapa destinasi yang akan kami datangi setelah ini.

Gerbang masuknya dihiasi dengan dekorasi merah ala china karena saat itu memang sedang imlek. Paskal food market berdiri di atas lahan luas berbentuk persegi panjang yang diisi dengan berbagai kedai dan area makan, sejujurnya persis seperti food court kebanyakan, hanya saja dihias indah dengan beberapa spot instagrammable dan kolam air mancur.

20190209_123228
Gerbang masuk paskal food market

Menu yang ditawarkan memang banyak ragamnya, walau hampir mirip-mirip antara satu kedai dengan yang lainnya. Selain menu halal, juga ada menu non halal, mulai dari menu indonesia, western hingga asia . Sistem pembayarannya juga simpel, setelah memilih makanan langsung dibayar cash di kasir, nggak perlu pakai kartu atau koin.

Karena keder dengan banyaknya menu, saya akhirnya malah memilih paket nasi ayam bakar (35 K), sementara suami saya memilih kwetiauw goreng (30K) dan anak-anak malah memilih bento (22K). Harga yang ditawarkan standar, sudah termasuk PPn. Rasanya juga enak dan porsinya mengenyangkan.

Paskal food market juga memiliki fasilitas toilet dan musholla yang luas dan bersih. Setelah selesai makan kami berkeliling sebentar untuk berfoto-foto di area yang cukup menarik, misalnya saja sangkar burung, pergola dan kolam. Area makan dibagi menjadi indoor dan outdoor, hanya saja kalau siang hari area outdoor tentu kurang nyaman karena panas.

#Chinatown Bandung

Setelah mengisi perut di Paskal food market, kami melanjutkan perjalanan ke Chinatown yang berada di jalan kelenteng keroyom, tidak jauh dari paskal food market. Sebagai catatan, chinatown ini tidak memiliki area parkir sendiri, jadi parkirnya ya di pinggir jalan dengan arahan akang parkir.

Dari jauh sudah terdengar hingar bingar alat musik barongsai, ternyata di halaman depannya sedang ada pertunjukkan barongsai, dua barongsai berwarna pink cerah dan oranye menyambut kami dengan atraksinya yang lincah. Facade chinatown bernuansa biru dengan gaya vintage gedung-gedung tua di hongkong. Tiket masuk chinatown sebesar 30 K, anak dengan tinggi di atas 110 cm sudah membayar.

Setelah melewati pintu masuk, kami masuk ke dalam museum mini dengan koleksi poster besar yang menceritakan sejarah pecinan di indonesia, khususnya di bandung. Sementara di dinding satunya terdapat pajangan berupa aneka barang dan perkakas kuno yang digunakan masyarakat pecinan.

Chinatown sebenarnya berkonsep wisata selfie dengan tema ala china, sejauh mata memandang terdapat aneka spot selfie menarik, pajangan lucu, pernak-pernik, lukisan dan mural yang semuanya bergaya vintage.

Area tengahnya diisi dengan hamparan rumput sintetik yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai. Di sekitar juga banyak disediakan kursi untuk duduk-duduk. Di dalam chinatown juga terdapat banyak penjual makanan, hanya saja transaksi hanya dengan menggunakan kartu debit bca atau flazz.

#Gumilang Regency

Tadinya kami masih ingin berkunjung ke Museum KAA (Konferensi Asia Afrika) tapi berhubung waktunya sudah sore sementara KAA sendiri hanya buka hingga pukul 16.00, maka kami terpaksa membatalkan kunjungan tersebut. Kami langsung mengarahkan mobil menuju penginapan yang sudah kami booking yaitu gumilang regency  yang berlokasi di jl dr setiabudhi, perjalanan tergolong tidak terlalu macet untuk ukuran weekend, hanya sekitar 45 menit kami sudah tiba di lokasi. Gumilang regency ini lokasinya strategis banget kalau kita mau menghabiskan waktu di area lembang, dekat dengan sejumlah destinasi wisata seperti farmhouse, kampung gajah, floating market dan bosscha observatory.

IMG20190210060125

Gumilang regency menempati area yang luas dengan bangunan panjang bertingkat tiga yang mengapit kolam renang. Selain kolam renang, juga terdapat fasilitas playground outdoor dan indoor, jadi cocok banget buat keluarga dengan anak kecil seperti kami.

Saat kami datang, ternyata beberapa sepupunya kiddos sudah bertengger di kolam renang, membuat kiddos langsung minta berenang padahal tadinya kami mau istirahat haha. Kamar yang kami pesan bertipe superior , tipe ini semuanya berada di lantai dua, dengan tangga sendiri masing-masing kamar, jadi lumayan PR kalau mau buka pintu harus naik turun.

IMG20190209164357

Kamarnya cukup luas dengan fasilitas dan kebersihan yang memadai. Tempat tidur yang disediakan bertipe twin. Secara keseluruhan hotelnya sangat menyenangkan dan nyaman.

Breakfast disajikan keesokan harinya di restoran hotel dengan konsep buffet, rasanya enak dengan menu yang bervariasi dan stoknya selalu di-refill.

IMG20190210061933

Keluhan kami sebenarnya terkait kegaduhan oleh tamu lain, jadi ceritanya sekitar jam 9 malam ada satu rombongan dengan bus yang datang menginap, nah beberapa dari mereka menggunakan kolam renang tidak lama kemudian, beneran berenang di waktu malam dalam kolam air dingin dan suhu lembang yang menggigit. Yang nyebelinnya itu mereka ngobrol dan teriak-teriak kenceng, heboh banget deh, padahal kan sudah waktunya tidur, tentu saja kami sangat terganggu apalagi kami bawa anak kecil. Sekitar jam 22.30-an hujan turun jadi kami menghela nafas lega dengan harapan grup berisik itu bubar, eh ternyata hujan tidak menyurutkan semangat, malah mereka makin heboh, dan saya intip mereka menggunakan slider yang harusnya diperuntukkan untuk anak-anak bahkan bermain di playground, terus… yang nggilani masak beberapa pria tersebut menggunakan cawat (cd lho bukan celana renang), ampun deh. Karena sudah makin sebel, suami saya akhirnya menelepon front office untuk minta dibantu menegur mereka karena sangat mengganggu, entah ditegur atau nggak, yang pasti hampir menjelang tengah malam barulah rombongan rempong itu bubar.

#Floating market Lembang

Esoknya setelah sarapan, kami menuju floating market, di mana acara kumpul-kumpul arisan akan dilaksanakan.

Untuk keperluan ini, kami sudah membooking ruang serbaguna bernama joglo maribaya dengan kapasitas hingga 60 orang, biayanya 75K/orang, sudah termasuk tiket masuk, welcome drink dan menu prasmanan. Sesuai itinerary yang sudah disusun, acara arisan akan dilangsungkan pada pukul 11.00 siang, berhubung kami sudah datang pukul 09.00, jadi kami punya waktu bebas selama 2 jam.

Terakhir kali saya ke floating market sekitar 2 tahun yang lalu, di mana saat itu baru ada area floating market-nya saja yang berupa food court dengan sistem gerai yang berada di perahu plus perahu-perahu wisata yang disewakan untuk mengarungi danau. Sekarang sudah ada banyak wahana baru, ada taman miniatur kereta api, swimming pool, kyotoku, rainbow garden dan kota mini. Tempat tersebut memiliki htm-nya lagi masing-masing di luar htm yang dibayarkan untuk masuk ke floating market. Kemarin kami berpencar jadi dua kelompok, suami menemani Kiddo B ke taman miniatur kereta api, sementara saya menemani Kiddo G ke kyotoku.

#Taman miniatur kereta api

Htm tempat ini sebesar 15K/orang, sesuai namanya, di dalam area ini terdapat beberapa minatur kereta api mini lengkap dengan relnya, jembatan, sungai, dll. Area ini memang paling cocok untuk anak laki-laki. Terdapat juga satu rak berisi berbagai macam kereta api.

Kita juga dapat menaiki choo choo train dengan biaya 25K dengan durasi selama sekitar 15 menit.

#Kyotoku

Kyotoku merupakan area bertema jepang, terdapat taman-taman, jembatan, restoran dan pernak pernik dengan gaya jepang. Untuk memasuki area ini tidak perlu membayar. Di area ini terdapat rental kimono, jadi atraksi utamanya adalah berfoto dengan suasana jepang, selain kimono juga ada hanbok (pakaian tradisional korea).

Harga sewa kimono sebesar 175 K dengan durasi penyewaan selama 1 jam, sudah termasuk cetak foto 10 R sebanyak 1 lembar (saja). Setelah menyelesaikan pembayaran, akan ada petugas yang membantu memakaikan kimono dan merapikan rias rambut. Kimono dan hanbok yang disewakan ada berbagai macam pilihan warna dan motif juga ukuran, tersedia untuk wanita maupun pria. Kiddo G langsung semangat sekali memilih-milih hingga jatuh pilihannya pada kimono warna kuning.

Setelah beres, kita bebas berkeliling di area kyotoku untuk berfoto-foto. Ada 4 studio/properti foto di sini, yang hanya boleh dimasuki oleh orang yang menyewa kimono. Di masing-masing tempat sudah ada fotografer yang stand-by untuk mengambil foto-foto tersebut. Studio yang ada terdiri atas restoran sushi-sashimi, studio foto indoor dengan properti sakura, perahu di atas danau dan taman sakura yang dilengkapi properti bergaya musim salju.

Dengan banyaknya foto yang di-capture, padahal jatah paketnya cuma 1 biji, tentu mau tak mau membuat kita akan menebus foto lainnya, apalagi sudah susah-susah berdandan cantik dengan kimono. Yang menyebalkan saat itu ukuran 4R (katanya) sedang habis, jadi cuma ada ukuran 10 R yang perlembarnya 55K, lumayan menguras kantong. Selain itu kita pun tidak diberikan soft copy-nya.

#Joglo Maribaya

Tepat pukul 11.00 siang kami sudah berkumpul untuk memulai acara kumpul keluarga. Joglonya cukup menampung kapasitas sesuai yang disebutkan dan walaupun tidak ada AC-nya namun tetap sejuk karena udara Lembang yang dingin.

Joglo juga sudah termasuk fasilitas sound system sehingga acara sambutan dan doa dapat dilaksanakan dengan optimal.

Menu yang kami pesan rasanya sangat enak dan porsinya lebih dari cukup, disajikan secara prasmanan dengan menu nasi putih, sop bakso, capcay, bistik daging, ditambah buah-buahan dan es campur.

Taipei, Taiwan

Taiwan – Last Day

Hari terakhir liburan di taiwan diisi dengan acara leyeh-leyeh, bersantai menonton TV sambil packing barang. Penerbangan kami ke Kuala Lumpur dijadwalkan akan berangkat pukul 15.20, masih banyak waktu. Awalnya kami berencana main ke Ximending sekalian makan siang dan beli pineapple cake-nya Vigor Kobo, tapi setelah mempertimbangkan perjalanan pulang yang akan ditempuh nanti, kami memutuskan dibatalkan saja agar kiddos tidak kelelahan.

Sisa-sisa uang receh kami habiskan untuk membeli jajanan di family mart, sebelum ke bandara kami membeli McD dulu untuk bekal makan siang.

Karena sudah berhari-hari keluar masuk TMS, kali ini kami tidak menemui kesulitan untuk mencari lokasi MRT airport. Akhirnya kami menaiki type express, kereta type ini warnanya ungu. Konfigurasi tempat duduknya lebih nyaman dibanding type lokal, durasi tempuhnya pun lebih cepat. Di dalam kereta juga terdapat fasilitas charger hp.

Sesampainya di airport kami bergegas menuju pelican counter untuk mengambil oleh-oleh yang sudah dipesan melalui website klook.com. Pelican counter di terminal 1 terletak di departure hall lantai 1, sebelah loket check in nomor 12. Cara menukarnya sangat mudah, cukup tunjukkan bukti pemesana, bisa dengan hasil print atau kode barcode di layar hp. Hasil packingnya sangat rapi dan bisa langsung dimasukkan ke bagasi, TOP banget deh, saya sangat merekomendasikan layanan ini, selain menghindari dram gotong oleh-oleh ke bandara, harganya pun (sedikit) lebih murah dibandingkan beli langsung di tokonya.

IMG20190302120843
Hasil packing pelican

Ada 3 item yang kami beli :

  • Chia Te Pineapple Cake

Merupakan merk pineapple cake yang digadang-gadang paling enak di Taiwan. Kemarin kami membeli 6 box isi 12 dan 12 box isi 6, semuanya yang rasa original. Ternyata memang enak banget, ukuran per piece nya sangat mengenyangkan, rasanya legit dengan permukaan kue yang renyah.

  • Zheng Scallion Noodle

Merupakan merk mie dari chef Zheng, salah satu chef terkenal di taiwan. Satu pack isi 4 bungkus, kemarin kami membeli 4 pack. Mie-nya berjenis vegetarian, dengan tekstur mie yang tebal dan besar, bumbunya sederhana dengan rasa pedas.

  • Sugar & Spice French Nouggat

Merupakan permen nugat yang rasanya manis dan lengket, sangat cocok untuk oleh-oleh anak sekolah, satu pack isi 36 pcs. Kemasannya cantik banget, mirip tas dengan warna ungu dan pink.

20190303_085435
Hasil oleh-oleh 

Setelah beres dengan urusan bagasi dan check in, kami menuju boarding room. Alhamdulillah kami menemukan prayer room yang letaknya di depan gate B3, sayangnya karena prayer roomnya untuk multi agama, maka tidak ada ruang wudhu-nya jadi wudhu harus dilakukan di public toilet.

Akhirnya tibalah waktu kami meninggalkan Taiwan dengan maskapai Malaysian Arlines, maskapai berangkat tepat waktu, Xai cien Taiwan.

Hualien, Taiwan

Taiwan – Taroko National Park

Dengan sangat enggan karena hari masih sangat pagi (alarm di hp di-set pukul 04.30), mau tak mau saya harus bangun karena hari ini kami berencana untuk pergi ke Taroko National Park.

Taroko National Park merupakan salah satu dari 9 taman nasional yang terdapat di taiwan, taroko terletak di Hualien County, suatu propinsi yang terletak di bagian barat pulau Taiwan. Taroko National Park menawarkan pemandangan alam Taiwan yang terdiri atas dinding marmer alami, jurang, tebing, sungai dan laut.

Untuk mencapai Taroko dari kota Taipei, kita bisa menggunakan TRA (local train) yang berangkat dari Taipei Main Station (TMS) dan turun di Hualien Station, durasi tempuhnya sekitar 2 jam. Kami sudah mem-booking tiket TRA melalui website http://twtraffic.tra.gov.tw , print tanda booking tiket juga sudah kami tukarkan dengan tiket fisik asli di counter tiket TMS kemarin. Kami menggunakan kereta berjenis Taroko dengan jadwal pukul 06.14 – 08.20, karena itulah kami harus bangun pagi-pagi sekali sebab diharapkan untuk sudah stand by di stasiun 15 menit sebelum keberangkatan.

Setelah mandi dan menunaikan shalat subuh , saya berbagi tugas dengan suami, sementara saya membantu kiddos untuk mandi dan bersiap-siap, suami bertugas menyiapkan perbekalan yang harus dibawa. Agak sulit juga membangunkan kiddos sepagi itu karena mereka masih sangat mengantuk.

15 menit menjelang pukul 6 pagi, kami sudah berjalan menembus dinginnya hawa subuh Taipei, syukurlah hujan yang mengguyur seharian kemarin sudah berhenti. Karena masih sangat lengang kami bisa dengan leluasa menyebrangi zhongxiao west road, di depan TMS terlihat beberapa pedagang yang masih nyenyak tertidur dalam balutan sleeping bag, sementara troli dagangannya diparkir di sebelahnya.

Kali ini kami tidak kesulitan mencari entrance menuju TRA karena kemarin sudah bertanya kepada petugas. Sambil menunggu kereta datang, kami mengisi waktu dengan sarapan ringan berupa roti isi selai dan coklat hangat, syukurlah mood kiddos mulai membaik. Tepat pukul 06.14 TRA yang kami tunggu akhirnya datang.

20190225_060447
Kereta TRA

TRA from TMS to Hualien

Ada dua jenis kereta antar kota untuk jarak jauh di Taiwan, yang pertama adalah local train yang biasa disebut TRA, yang kedua adalah THSR yaitu kereta cepat sejenis shinkansen-nya Jepang. Sayangnya hanya kereta bertipe TRA yang melayani jalur TMS-Hualien. Namun jangan khawatir, karena TRA sama nyaman dan juga bersihnya.

Sedikit cerita, awalnya saya bingung waktu mendapat hasil tanda booking di mana kursi kami bernomor 5,7,9,11, dalam pikiran saya tempat duduknya nanti akan berderet ke belakang, sangat tidak mungkin untuk kiddos. Saya pun sudah bersiap-siap untuk minta tukar kursi di kereta nanti. Ternyata kenyataannya penomoran kursi di kereta ini antara nomor ganjil dengan nomor genap berada di sisi yang berlainan, jadi nomor 5 bersebelahan dengan 7, 9 dengan 11, untunglah kekhawatiran kami tidak terbukti.

Kereta ini dilengkapi dengan toilet dan breastfeeding room, kursinya lega dan sangat nyaman. Perjalanan dua jam kami isi dengan tidur karena tadi berangkatnya pagi-pagi sekali.

HUALIEN STATION

Akhirnya tibalah kami di hualien station, stasiun ini tidak terlalu besar walau bangunannya megah dan modern. Di pintu keluar terdapat 711 di mana kami membeli sejumlah perbekalan untuk makan siang nanti karena khawatir sulit mencari makanan (halal) di Taroko.

20190225_084945
Hualien Station

Taroko National Park masih berjarak 24-25 km dari sini. Untuk mencapainya bisa menggunakan layanan private taxi, tur lokal atau yang paling murah dengan hop on hop off bus. Kemarin kami menggunakan opsi terakhir dengan pertimbangan waktunya yang lebih fleksibel, jadi kalau kiddos sudah lelah ya bisa langsung berhenti dan pulang. Hop on hop off bus mencover beberapa destinasi utama di taroko seperti Qixingtan beach,Taroko visitor center, Shakadang Trail, Buluowan, Yanzikou, Lushui, Tianxiang dan Changchun shrine, sayangnya bus ini tidak mengunjungi scenic area di pesisir pantainya seperti qingshui cliff ataupun scenic mountain di hehuashan, tapi cukuplah untuk mewakili taroko.

HOP ON HOP OFF BUS

Tiket bus ini dapat dibeli di counternya yang berada di depan stasiun hualien, bangunannya mudah dikenali dan cukup eye catching karena berwarna oranye.

Tiket bus sebesar 250 NTD untuk dewasa, untuk kiddos infonya sih dikenakan separuh harga dan untuk anak usia 6 tahun ke atas. Tapi kemarin saat saya tanyakan ke petugasnya, setelah menimbang-nimbang selama 2-3 detik dia berkata bahwa kiddos tidak usah bayar saja. Petugas memberikan tiket beserta brosur berisi timetable dan info pariwisata di taroko.

20190225_090321
Bus 1133 A

Bus hop on hop off ini ada dua jenis, yang satu seperti bus pariwisata sementara yang lain seperti bus lokal biasa, yang harus diingat cukup nomornya saja yatu 1133 A. Saat akan naik bus cukup tunjukkan tiketnya ke supir bus. Kemarin kami naik bus yang berangkat pukul 09.10 dari depan Hualien Station.

Untuk tempat-tempat yang akan dikunjungi, kami sepakat hanya akan mengunjungi 5 di antaranya, yaitu qixingtan, shakadang trail, yanzikou, tianxiang dan changchun shrine.

QIXINGTAN BEACH

Pantai ini hanya berjarak sekitar 15 menit dari hualien station, hanya kami yang turun di tempat ini. Qixingtan memang tidak terlalu scenic bila dibandingkan area lainnya di Taroko, kalau tidak membawa kiddos yang hobi pantai mungkin kami juga akan meng-skip pantai ini.

Qixintan beach merupakan pantai yang permukaan bibirnya ditutupi dengan batu-batu koral berwarna abu-abu kebiruan, pantainya sangat bersih dan tertata rapi, ombaknya tidak terlalu besar. Kebanyakan orang di sini hanya akan duduk-duduk sembari menikmati debur ombak dan pemandangan di sekitarnya, di sana sini terlihat hasil peninggalan “rock balancing art” dari para pengunjung. Di satu sudut pantai, terdapat patung dewi Kuan Im berjubah putih dalam ukuran raksasa.

Tidak lama waktu yang kami habiskan di sini, selain karena harus mengejar jadwal bus selanjutnya, hujan gerimis pun mulai turun. Halte bus terletak di samping pangkalan udara, sambil menunggu bus datang, beberapa kali kami saksikan pesawat tempur yang lepas landas. Kali ini bus terlambat sekitar 15 menit dari jadwal.

SHAKADANG TRAIL

Perjalanan diteruskan menuju destinasi selanjutnya yaitu shakadang trail, buth waktu sekitar 30 menit untuk mencapai tempat ini. Dalam perjalanan kami melewati gerbang taroko lama dan taroko visitor center.

Sejujurnya saat turun dari bus, semangat kami agak turun karena hujan makin lebat, karena tidak terlihat satupun bangunan atau skedar gazebo untuk berteduh, maka kami pun membulatkan tekad untuk terus maju dengan bekal payung terbentang.

Jembatan shakadang dibatasi dengan railing dengan hiasan singa yang kesemuanya terbuat dari marmer putih. Untuk menuju shakadang trail, kita diharuskan menuruni sejumlah anak tangga dari konstruksi baja yang letaknya di depan terowongan sebelum jembatan.

20190225_105412
Di atas jembatan shakadang
20190225_105808
Tangga menuju shakadang trail

Satu sisi dari shakadang trail merupakan sungai dalam dengan aliran air jernih berwarna tosca, sementara sisi lainnya merupakan tebing-tebing dengan beberapa bagian yang membentuk kanopi. Jalur ini merupakan jalur trekking yang populer di Taiwan, di ujungnya terdapat air terjun nan cantik yang membutuhkan sekitar 30 menit trekking, tentu saja kami tidak berjalan sejauh itu, kami hanya berjalan hingga tiba di area duduk dengan pemandangan air terjun kecil di depannya. Syukurlah saat itu hujan akhirnya sudah benar-benar berhenti.

Setelah bersusah payah medaki kembali anak tangga baja tadi, kiddos pun mulai merengek kelaparan, padahal rencananya kami nanti baru akan makan di Tianxiang, untunglah bekal yang kami beli benar-benar praktis berupa onigiri dengan lauk ayam goreng dan sandwich, jadi bisa dimakan sembari duduk menunggu di halte. Kali ini bus hanya terlambat 5 menit saja dari jadwal.

YANZIKOU (SWALLOW’S GROTTO)

Jalur perjalanan selanjutnya terus mendaki pegunungan dengan jalan yang berkelok-kelok dan terjal, di kanan kirinya terlihat tebing dan ngarai. Perjalanan ini cukup membuat perut bergejolak hingga akhirnya saya dan Kiddo B harus menenggak antimo, jadilah saat kami tiba di Yanzikou, Kiddo B masih terlelap.

20190225_122528
Marka yanzikou

Karena rest are nya berjarak 800 m dari halte, suami saya memilih duduk ngemper di trotoir sembari memangku Kiddo B yang tertidur. Saya dan Kiddo G memulai penjelajahan menyusuri yanzikou.

Terdapat sebuah jembatan kayu yang membentang tinggi melintasi sungai, untuk melintasi jembatan ini sayangnya harus membayar lagi, kami pun skip saja. Kami meneruskan perjalanan melalui terowongan-terowongan yang dahulu katanya dihuni oleh para burung walet, makanya nama lain dari yanzikou adalah swallow’s grotto. Untuk amannya sebaiknya menggunakan helm yang bisa dipinjam di visitor center karena dikhawatirkan langit-langit gua runtuh. Di seberang kami terdapat dinding marmer alami yang membingkai aliran sungai.

Saat kembali, ternyata Kiddo b sudah bangun. Setelah berdiskusi singkat, saya dan suami sepakat untuk membatalkan kunjungan ke Tianxiang dan langsung ke Changchun Shrine saja.

CHANGCHUN SHRINE

Perhentian terakhir sekaligus icon Taroko adalah Changchun Shrine sebuah kuil kuno dengan eternal spring yang mengalir di bawahnya.

20190225_134824
Changchun shrine dan eternal spring

Akhirnya di sini kami menemukan kedai teh yang nyaman untuk beristirahat, kedai teh ini letaknya persis di samping dan halte bus dan menghadap pemandangan changchun shrine. Karena letaknya yang lumayan jauh, kami memilih duduk-duduk saja di kedai ini sembari menyeruput teh rapsberry yang panas, teh ini rasanya masam dan disajikan dengan pendamping kue segi empat coklat yang ternyata persis apem. Kedai ini dilengkapi fasilitas toilet.

Di salah satu dinding kedai, terdapat poster besar mengenai sejarah taroko, sayangnya pakai bahasa mandarin. Dari brosur yang kami dapatkan di counter bus tadi, disebutkan bahwa Taroko dulunya dihuni oleh suku bangsa truku yang digolongkan sebagai suku aborigin penghuni asli pulau taiwan sebelum kedatangan bangsa china.

20190225_140511

Selesai sudah kunjungan kami ke Taroko, sejujurnya walau memang sangat cantik tapi saya tidak terlalu terkesan, mungkin karena alam Indonesia memiliki hal serupa ya.

Kami tiba kembali di stasiun Hualien pukul 4 sore, masih cukup lama hingga kereta yang akan membawa kami ke Taipei yang jadwalnya pukul 6 sore. Kami mampir kembali ke 711 untuk membeli mie cup vegetarian dan tea egg yang rasanya sangat enak dimakan hangat-hangat setelah beraktivitas di alam terbuka tadi.

Perjalanan kembali ke Taipei kami isi dengan tidur karena kelelahan, sesampainya di TMS kami antri dulu di gerai Hotstar, salah satu merk ayam goreng tepung ala Taiwan yang paling terkenal dan cabangnya pun sudah ada di Indonesia. Ayam goreng taiwan bertipe boneless, digoreng dalam lapisan tepung panir dan cripy dengan taburan bumbu khas Taiwan, sangat enak.

20190225_204429
Hotstar

 

 

 

Taipei, Taiwan

Taiwan – Taipei zoo, Maokong Gondola, Taipei 101, SYS Memorial Hall

Yay, it’s kiddos time, setelah beberapa hari sebelumnya itinerary dibuat berdasarkan hal yang disukai emak-bapaknya, hari ini dialokasikan untuk kiddos. Rencananya hari ini kami mau menengok panda di Taipei zoo, naik crystal cabin gondola, menikmati matcha ice cream di maokong dan naik ke puncak Taipei 101, plus (ini agenda emak) sedikit belajar sejarah di Sun Yat Sen (SYS) Memorial Hall.

Taipei zoo

Berikut rute perjalanan kami :

  • Dari TMS naik MRT Bannan Line, turun di Zhongxiao Fuxing Station
  • Ganti line ke Wenhu Line dan turun di Taipei Zoo Station

Karena Taipei zoo ini terletak agak jauh di selatan, perjalanan yang kami tempuh agak lama, hampir satu jam. Kota Taipei dikelilingi oleh perbukitan, dari jendela kaca MRT kami bisa melihat jalur bukit yang membentang di garis cakrawala.

Taipei zoo merupakan kebun binatang terluas di Asia dengan total area seluas 165 Ha. Kebun binatang ini tertata dengan sangat rapi, luar biasa bersih dan teduh, merupahan lahan konservasi alami sehingga area hijaunya sangat luas.

Tiket masuk Taipei zoo sebesar 60 NTD, bisa bayar menggunakan easy card jadi praktis. Kiddos mulai usia 4 tahun sudah dikenakan biaya. Setelah melewati gerbang masuk, kami mampir dulu di McD dan 711 yang berada persis setelah pintu masuk zoo. Di sebelah 711 terdapat visitor center, kami mengambil peta zoo yang dibagikan gratis di sini.

20190227_092504
Mc Donald

Sambil menunggu suami yang antri di McD, saya mengajak kedua kiddos melihat flamingo pond yang dipenuhi puluhan flamingo cantik yang berwarna pink. Saat itu juga banyak siswa TK yang sedang kunjungan jadi ramai sekali. Salut sekali dengan penataan dan perawatan binatang di Taipei zoo ini, hewan-hewannya sangat cantik bersinar dengan kondisi tubuh yang gemuk dan segar, bulunya pun bersih terawat. Begitu pula dengan kondisi kandang dan habitatnya, walau tentu ada sedikit bau khas hewan namun tidak menyengat. Di seantero zoo, disediakan banyak fasilitas public toilet, kedai makanan dan kursi-kursi untuk bersantai.

Kunjungan kami ke taipei zoo rencananya singkat, kami hanya mengalokasikan 1,5 jam saja di sini jadi tentunya tidak cukup untuk mengekplorasi keseluruhan kebun binatang yang super luas ini. Setelah mempelajari peta, kami sepakat untuk pertama-tama mengunjungi children zoo yang letaknya di belakang McD.

Taipei zoo ini sedikit mengingatkan saya dengan Ragunan, tapi versi yang jauh lebih bagusnya (karena jauh unggul dalam segi kebersihan dan penataan), di mana binatang yang ada tidaklah terlalu banyak dan jarak kandang satu dengan yang lainnya lumayan jauh.

Children zoo berisi aneka binatang mulai dari unta, alpaca, meerkat, common squirrel monkey (jenis king julien di film madagascar), keledai hingga kuda pony. Di sampingnya terdapat satu area khusus babi, yang berisi banyak poster dan penjelasan mengenai jenis-jenis babi, khususnya babi yang banyak dikonsumsi.

Dari children zoo kami beralih ke poultry yang berisi berbagai jenis unggas, mulai dari ayam, bebek, angsa hingga burung-burung. Suasananya dibuat mirip seperti sawah di desa lengkap dengan kolam, petak-petak sawah dan boneka jerami.

20190227_100804
Poultry

Dari sini kami menuju ke koala house, koala di sini berada di dalam kandang kaca tebal, karena tahun lalu baru saja melihat koala liar di Australia maka kiddos tidak terlalu merasa “wah”.

20190227_101322
Koala House

Tujuan selanjutnya yang juga tujuan utama adalah melihat panda, raksasa hitam putih yang hobi bergelayut manja di pohon bambu. Panda-panda di sini ditempatkan dalam sebuah gedung khusus. Saya kagum melihat ukuran panda asli yang ternyata sangat besar, mirip seperti beruang, hanya saja panda lucu dan imut. Panda-panda ini kebanyakan tidur di pohon atau lagi santai bengong. Di samping kandang panda terdapat toko souvenir yang jualan utamanya adalah panda, Kiddo G tentu minta dibelikan boneka panda, untunglah harganya tidak terlalu mahal untuk ukuran toko souvenir di tempat wisata, 199 NTD untuk boneka panda ukuran kecil.

20190227_102105
The Panda

Setelah tujuan utama dirampungkan, kami berjalan menuju Shuttle train station, sejenis choo choo train yang akan membawa kami ke bird world station yang terletak di bagian selatan zoo. Biayanya 5 NTD sekali naik, murah meriah banget, bayarnya bisa pakai koin atau easy card. Selama perjalanan menuju bird world, kami melewati tropical rainforest area, desert animal area, australian animal area dan african animal area, nggak terlalu istimewa sih karena beberapa binatang seperti jerapah, singa, gajah dan kuda nil di Indonesia juga ada.

Sesampainya di bird world, kami menyempatkan berkeliling sebentar menengok merak, pigeon, doves, pelican, cackatoos dan aneka burung lainnya. Setelah itu kami kembali menaiki shuttle train dari station bird world yang akan mengantar kami menuju Maokong Gondola Taipei Zoo South Station.

Sebelum keluar dari zoo, tangan kami dicap oleh petugas, gunanya sebagai free entry apabila dalam sehari ini kita mau masuk zoo lagi.

MAOKONG GONDOLA

Maokong gondola merupakan salah satu atraksi yang wajib dicoba apabila berkunjung ke Taipei. Gondola ini memiliki 6 stasiun, terdiri atas 4 passenger station dan 2 angle station. 4 passanger stationnya adalah taipei zoo – taipei zoo south – zhinan temple – maokong. Total panjang trek gondola ini adalah 4.03 km, dengan beda ketinggian 275,2 m antara taipei zoo dengan maokong. Gondola ini akan mendaki bukit maokong yang cukup tinggi, durasi perjalanan antara taipei zoo dengan maokong mencapai 45-50 menit. Ada dua jenis cabin yaitu standard cabin dan crystal cabin yang mana permukaan lantainya dari kaca, harganya sih sama. Saya tidak ingat berapa htm-nya karena kemarin bayarnya pakai easy card.

20190227_110930
Taipei zoo south station for maokong gondola

Kemarin kami naik dari stasiun kedua yaitu taipei zoo south. Kali ini kami langsung naik gondola mana saja yang sampai lebih dulu, jadi kami mendapat tipe standar cabin. Bagi saya perjalanan cukup ngeri-ngeri sedap karena treknya sangat panjang dan naiknya sangat tinggi, gondola melaju tinggi di atas bukit sehingga bisa melihat pemandangan kota taipei di kejauhan. Kiddos was so happy to the max, mereka memang suka sekali naik gondola dan tidak pernah merasa takut.

MAOKONG

Sebelum akhirnya berhenti di Maokong, gondola akan melewati Zhinan Temple yang megah. Maokong merupakan kawasan perbukitan yang terkenal dengan kebun teh dan tea housenya. Udaranya sangat sejuk dan dingin, yang mengejutkan kami menemukan deretan pohon sakura yang sedang mekar dengan indahnya.

20190227_113346
Maokong station

Kami berjalan menuju picnic area di mana akhirnya kami makan siang dengan menu McD yang kami beli di zoo tadi, rasanya sangat menyenangkan makan ditemani pemandangan indah dan udara yang sejuk segar.

Setelah makan siang kami berjalan-jalan ke area sekitar dan mampir di salah satu tea house yang ada. Tea house di sini selain menyajikan teh, juga menjual produk teh kering yang bisa dibawa pulang. Karena tidak tertarik mencoba teh (yang kemungkinan besar pahit), kami hanya membeli matcha ice cream dengan hiasan biskuit kucing.

Puas melihat-lihat area maokong, kami kembali menuju ke maokong station untuk naik gondola yang akan membawa kami kembali ke Taipei Zoo. Kali ini sengaja antri di crystal cabin, perjalanan pulang lebih menyeramkan (bagi saya) karena permukaan lantai crystal cabin yang terbuat dari kaca, hingga pemandangan di bawah terpampang jelas. Kebalikan saya, kiddos malah kegirangan dan malah tidur-tiduran di lantai kaca sambil melihat pemandangan. Durasi perjalanan lebih lama dibanding berangkat tadi, karena kali ini dari ujung ke ujung, kami turun di taipei zoo station.

TAIPEI 101

Awalnya kami bermaksud naik bus ke taipei 101, karena halte bus ini letaknya persis di seberang gondola station, rutenya langsung dan ongkosnya lebih murah. Namun karena saldo easy card sudah sangat menipis mendekati zero, mau tak mau kami harus kembali ke stasiun mrt taipei zoo untuk mencari counter top up. Jarak antara gondola station dan mrt station lumayan jauh, sekitar 600 m, kiddos pun mulai rewel karena tadi sudah lelah berkeliling zoo dan maokong, apalagi ini jamnya tidur siang. Kami pun harus menyemangati mereka agar tetap mau melangkah.

Rute MRT dari Taipei Zoo Station ke Taipei 101

  • Naik MRT Wenhu line dari Taipei zoo dan turun di Daan Station
  • Pindah  ke Tamsui-Xinyi Line dan turun di Taipei 101

Sejujurnya saat itu mood kiddos sudah memburuk, membuat kami jadi bingung apakah akan tetap meneruskan perjalanan atau tidak. Tapi karena sudah tanggung ya akhirnya tetap lanjut.

Taipei 101 dulunya pernah menyandang predikat sebagai gedung tertinggi di dunia sebelum akhirnya digeser oleh gedung-gedung di timur tengah. Bentuk bangunan Taipei 101 diinspirasi dari bilah bambu. Tiket masuk Taipei 101 sudah kami beli sebelumnya melalui website klook, harga tiket masuk antara dewasa dan anak sama, hanya saja yang dikenakan biaya adalah anak dengan usia 6 tahun ke atas.

20190227_153435
Taipei 101

Lobby taipei 101 observatory terletak di lantai 5, sebelumnya kami melewati deretan pertokoan mewah dan restoran yang terletak di bawahnya, memang bagian tersebut difungsikan sebagai mall. Din Tai Fung yang terkenal dengan hidangan dim sumnya itu terdapat di dalam gedung ini, waktu itu antriannya sudah sangat panjang.

Lobby-nya didesain dengan sangat mewah dan apik, kami menunjukkan print booking tiket kepada petugas untuk ditukarkan dengan tiket fisiknya. Dari lobby kami melewati deretan toko-toko penjual souvenir hingga tiba di lift. Pemeriksaan masuknya sangat ketat, melalui detektor dan scan barang seperti di bandara. York, Pemandu wisata kami kemarin (saat tur Yehliu) menceritakan bahwa pernah ada seorang pria Austria yang nekat melompat dari gedung ini, bukan untuk bunuh diri ya, tapi benar-benar untuk uji adrenali, terjun dengan parasut. Pria Austria tersebut akhirnya langsung dideportasi dan dilarang selamanya untuk masuk ke Taiwan. Karena itulah pemeriksaan masuk diperketat karena dikhawatirkan ada yang meniru dan membawa parasut di dalam tasnya.

Antrian menuju lift lumayan panjang, tapi untunglah cepat berjalan. Sebelum masuk lift kita difoto dulu di depan green screen oleh petugas, foto ini nantinya dapat ditebus di konter yang ada di lantai 89.

Kami sangat excited mencoba mencoba lift yang katanya tercepat di dunia, perjalanan dari lantai 5 hingga ke 89 hanya memakan waktu 37 detik, wuush serasa naik pesawat terbang.

Observatory deck terletak di lantai 89, dari sini kita bisa memandang pemandangan di sekitar kota taipei, pemadangannya didominasi dengan suasana perkotaan yang penuh gedung bertingkat, kita juga bisa melihat bandara songshan dan perbukitan di sekitarnya dari sini. Kali ini kiddos mulai timbul semangatnya karena mereka bisa melihat aneka obyek menarik dari sini, suasananya sangat nyaman, di beberapa sudut diletakkan sofa sehingga kita bisa beristirahat santai sambil memandangi kota Taipei.

Setelah itu kami naik ke lantai 90, di mana terdapat mini bioskop yang menayangkan sejarah pembuatan Taipei 101. Di luarnya terdapat obseravation deck outdoor yang dilengkapi dengan teleskop, karena pernah ada insiden terjun payung dulu, maka sekeliling dindingnya dilapisi railing tinggi dan ada dua penjaga yang berjaga di sekitarnya.

Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk melihat ball damper yang terdapat di sini, ball damper ini fungsinya untuk menyeimbangkan Taipei 101 apabila terdapat getara hebat akibat typhoon atau gempa yang sering melanda Taipei. Dari cerita York yang dulu pernah bekerja di Taipei 101, waktu terjadi gempa hebat di taipei, dia segera berlari menuju damper ball ini untuk melihat mekanismenya, dan luar biasa bagaimana bola tersebut mampu mempertahankan keseimbangan gedung pencakar langit ini.

20190227_151029
The damper

Alur menuju lift turun diisi dengan butik barang-barang antik dan mewah yang menjual aneka porselen, mutiara, guci, ukiran dan emas, tentu tidak bikin kami tertarik.

SUN YAT SEN (SYS) MEMORIAL HALL

Destinasi selanjutnya ada;ah SYS Memorial Hall yang berjarak 1,6 km dari Taipei 101. Tadinya kami niat mau berjalan kaki, karena memang tidak bus atau mrt yang menuju ke sana. Tapi melihat kondisi kiddos yang sudah lelah, dan kami sendiri sejujurnya juga sudah mulai capek, maka kami putuskan naik taxi saja. Untunglah supir taxi nya mau membawa kami dengan jarak yang hanya sedikit itu, taxinya aman dan menggunakan argo, ongkosnya sebesar 80 NTD.

SYS Memorial Hall didirikan untuk mengenang Dr. Sun Yat Sen, seorang politisi, dokter dan philosopist yang digelari “Father of the Nation”. SYS merupakan pemimpin kunci revolusi China yang merubah China dari sistem kekaisaran menjadi republik. SYS merupakan presiden pertama China dan juga ketua Kuomintang pertama. SYS dihormati oleh semua pihak, baik dari PRC maupun ROC.

Untuk memasuki SYS Memorial hall tidak dikenakan biaya. Gedungnya berbentuk persegi panjang dengan gaya bangunan china, gedung ini dikelilingi taman yang luas dan terdapat air mancur di depannya.

20190227_153404
SYS Memorial Hall

Begitu masuk, kita akan menemukan patung bronze raksasa dari SYS yang dijaga oleh dua orang penjaga di kanan kirinya. Di sebelahnya terdapat museum yang berisi memorabilia dan sejarah hidup tokoh besar ini mulai dari kecil hingga wafat. Sejarah perjuangan SYS ditampilkan melalui berbagi foto misalnya saja tempat pengasingannya di London, konferensi yang diikuti, buah pikirannya dll.

Usai menengok sejarah SYS, kami mendapati bahwa prosesi penggantian penjaga akan dimulai, ternyata sama seperti di CKS, di sini juga terdapat prosesi yang sama dan menarik  minat para wisatawan.

INDONESIAN FOOD

Sepulang dari SYS hari sudah sore, waktu menunjukkan pukul 5 saat kami tiba kembali di TMS. Karena sudah beberapa hari tidak makan masakan Indonesia saya menyarankan untuk mencoba salah satu restoran Indonesia yang banyak terdapat di sekitar TMS.

Kami keluar dari exit M7 dan langsung berbelok kiri masuk ke gang yang ternyata dipenuhi oleh restoran Indonesia, suasananya benar-benar seperti di Indonesia, restoran tersebut banyak yang memasang bendera merah putih, poster iklan yang ditempel di tembok yang isinya mengenai rias pengantin tradisional, paket wisata, hingga kegiatan pengajian. Di gang ini juga terdapat banyak layanan jasa pengiriman uang.

20190227_164202
Gang samping kiri exit M7 TMS

Kami mencoba salah satu restoran yang bernama Sari Rasa, menunya sederhana ala-ala warung nasi atau warteg dengan sistem prasmanan. Rasanya lumayan lah mengobati kerinduan akan masakan tanah air yang penuh cita rasa rempah dan pedas.

 

 

Jiufen, Shifen, Taipei, Taiwan, Yehliu

Taiwan – Yehliu Geopark, Jiufen, Shifen

Hari ini kami akan mengikuti one day tour dari klook.com. Sebenarnya beberapa destinasi wisata yang akan dikunjungi bisa diakses dengan transportasi umum, namun lebih ribet dan memakan waktu, maka dari itu kami memutuskan ikut tur saja agar lebih praktis. Paket tur yang ditawarkan klook hanya mengakomodasi bus transportasi dan pemandu wisata, sementara tiket masuk dan pengeluaran pribadi seperti makan minum ditanggung sendiri. Kali ini kiddos sudah bayar, karena anak usia 4+ sudah diharuskan membayar penuh. Berikut itinerary kegiatan kami hari ini :

  • 08:15 berkumpul di GaKuDen Bakery (dekat Exit 4 Ximen Station)
  • 08:30 berangkat ke Yehliu Geopark
  • 09:30 Yehliu Geopark (70 menit)
  • 10:40 berangkat ke Yin Yang Sea
  • 11:25 Yin Yang Sea + 13 Layer Remains (15 menit)
  • 11:40 berangkat ke Golden Waterfall
  • 11:50 Golden Waterfall (10 menit)
  • 12:00 berangkat ke Jiufen
  • 12:10 Jiufen (120 menit)
  • 14.10 berangkat ke Shifen Waterfall
  • 14:50 Shifen Waterfall (50 menit)
  • 15:40 berangkat ke Shifen Old Street
  • 15:50 Shifen Old Street (70 menit)
  • 17:00 kembali ke GaKuDen Bakery (dekat Exit 4 Ximen Station)
  • 18:00 tiba di GaKuDen Bakery (dekat Exit 4 Ximen Station)

Cukup padat dan hampir semua destinasi wisata utama yang ada di pesisir utara Taiwan dikunjungi.

Setelah sarapan, kami naik MRT Bannan Line dari TMS dan turun di Ximen, perjalanan sangat singkat karena hanya terpaut satu stasiun, pukul 08.00 kurang kami sudah tiba. Gakuden bakery yang terletak di exit 4 Ximen Station sangat mudah ditemukan, saat kami sampai sudah ada bus berwarna oranye terang dengan logo klook di badannya. Kami pun bertanya kepada pemandu wisata dan ternyata bus ini untuk keberangkatan pukul 08.00, bus kami baru akan tiba 15 menit lagi, maklum datangnya kepagian.

Untuk mengisi waktu, saya dan kiddos berjalan ke perempatan besar sembari melihat kendaraan yang lalu lalang di sekitar area Ximending. Di kejauhan terlihat action figure salah satu toko kartun wanita dalam ukuran raksasa.

Akhirnya bus kami tiba, saat mengantre untuk masuk bus, kami berkenalan dengan sekelompok “ii” (sebutan untuk tante/bibi dalam bahasa cina) yang berasal dari Indonesia. Salah satu ii ini sedang menengok putrinya yang sedang belajar bahasa mandarin di Kaohsiung , sekalian jalan-jalan. Kami menunjukkan print tanda booking tur kepada pemandu wisata , bisa juga kok dengan menunjukkan booking online di hp.

Busnya berkapasitas 30 orang, dengan interior yang nyaman, AC-nya dingin dan ada fasilitas wi-fi. Sebelum berangkat sang pemandu wisata membagikan air mineral. Bus berangkat tepat sesuai jadwal, pemandu wisata kami memperkenalkan diri, namanya York. York sangat komunikatif dan informatif, sepanjang perjalanan dia banyak memberi info mengenai destinasi terkait, dan juga mengenai obyek wisata terkenal lainnya di taiwan dan taipei. Awalnya saya tidak berekspekstasi akan mendapatkan pemandu yang fasih berbahasa inggris, karena review di klook hampir semuanya mengatakan bahwa tur ini pemandunya berbahasa mandarin. Makanya seneng banget karena bahasa inggrisnya York sangatlah bagus, dengan sedikit aksen mandarin tentunya. Mungkin karena turis asing (selain dari PRC) makin banyak berdatangan ke Taiwan, maka klook meningkatkan layanannya dengan mempekerjakan pemandu berbahasa inggris.

20190226_112917
Klook bus
IMG20190226083221
Interior bus, yang lagi bicara itu York

YEHLIU GEOPARK

Perjalanan dari kota Taipei memakan waktu selama 1 jam. Mendekati tujuan, pemandangan pesisir utara pulau Taiwan yang indah mulai terlihat.  Kiddos langsung semangat sekali begitu melihat laut dengan ombaknya yang berwarna biru kehijauan.

Tiket masuk ke yehliu geopark sebesar 80 NTD, seperti biasa kami sudah membeli tiket melalui website klook yang menjual tiket dewasa dengan sedikit potongan harga. Anak dengan usia mulai 6 tahun dikenakan biaya separuh harga (40 NTD), dan karena klook tidak menjual tiket jenis anak, maka kami mengantri sebentar di loket tiket untuk membelikan tiket Kiddo G.

20190226_092955
Pintu masuk yehliu geopark

Setelah beres membeli tiket dan berfoto sebentar di depan tulisan “yehliu geopark”, kami menuju gerbang pemeriksaan tiket, print pembelian tiket via klook cukup di-scan saja di sini.

20190226_093104
Gerbang pemeriksaan tiket

Yehliu geopark merupakan sebuah semenanjung yang letaknya menjorok ke tepi laut, di yehliu ini kita akan melihat aneka formasi batuan hasil erosi alami air laut. Formasi batu ini mempunyai bentuk yang unik dan diberi nama sesuai dengan bentuknya. Icon sekaligus highlight yehliu adalah The Queen’s Head yang berbentuk kepala seorang wanita dengan mahkota, selain itu terdapat juga batuan unik lainnya misalnya Fairy Shoes, Gorilla, Cute Princess, Mushroom, Ice cream dll. Untuk menikmati yehliu ini kita harus menggunakan sedikit khayalan untuk membayangkan bentuk-bentuk tersebut, hasilnya bisa jadi subyektif sih.

Dari gerbang masuk hingga ke lokasi yehliu berjarak sekitar 500 m, dalam perjalanan kita akan melewati patung-patung imut bergaya animasi dari icon-icon di yehliu ini. Ada juga Queen’s head dan cute princess KW, kalau-kalau antrian berfoto di kedua icon tadi sangat ramai, bolehlah foto-foto di sini.

Yehliu geopark terbagi atas 3 section, dengan keterbatasan waktu yang diberikan, York mewanti-wanti agar kami mengunjungi section 1 dan 2 saja agar tidak terlambat berkumpul kembali di bus. Pemadangannya sangatlah indah, berbagai formasi bebatuan mengisi permukaan bibir pantai, udaranya pun sejuk segar.

Kami langsung menuju section 2 di mana terdapat Queen’s head, seperti sudah diinformasikan, antrian berfoto cukup panjang, maka kami siasati dengan berfoto dari arah belakang. The Queen’s head ini diperkirakan akan patah beberapa tahun kemudian, karena diameter “lehernya” makin lama makin tipis, maka kalau berkunjung ke Taiwan sempatkan ke Yehliu untuk menengoknya sebelum tinggal kenangan.

20190226_094814
Queen’s Head

Permukaan pantai yehliu tidaklah berpasir, melainkan berupa tanah kuning yang padat sehingga tidak becek. Kiddos suka sekali bermain naik turun gundukan tanah di sini. Di section ini kami juga bertemu dengan gorilla rock dan fairy shoes.

Setelah itu kami bergegas menuju section 1 yang kebanyakan diisi oleh mushroom rocks. Di section 1 juga terdapat cute princess rock yang merupakan penerus queen’s head, berwujud kepala gadis kecil dengan kuncir.

Formasi batuan unik di yehliu dilarang disentuh atau dipegang-pegang karena khawatir akan rusak, beberapa petugas selalu berkeliling dan menegur orang-orang yang tidak membaca warning larangan tersebut. Karena waktu sudah semakin menipis, kami harus menyudahi kunjungan ke sini, waktu 70 menit memang tidak cukup dan sangat terburu-buru untuk mengeksplor keseluruhan yehliu.

Di sekitar parkir bus berjejer deretan food stall yang menjual olahan seafood, karena masih ada sedikit waktu, kami menyempatkan diri membeli jajanan di sini, harganya cukup terjangkau, kami membeli sate bakso cumi seharga 50 NTD dengan potongan yang besar dan mengenyangkan.

Saat bergabung dalam grup tur, ingatlah untuk selalu tepat waktu, jangan ngaret. York termasuk orang yang strict to schedule, saat tiba waktu keberangkatan, semua sudah duduk manis di bus kecuali pasangan asal philipina. York hanya memberi kompensasi 5 menit dan dengan sangat menyesal dikemukakan bahwa kami harus pergi tanpa mereka karena jadwal masih sangat padat.

YIN YANG SEA + 13 LAYERS REMAIN

Perjalanan dari yehliu hingga ke yin yang sea memakan waktu sekitar 40 menit, kiddos malah tertidur lelap di bus selama perjalanan, jadilah akhirnya saya turun sendiri karena suami menyanggupi menjaga mereka.

Di atas bukit yang menghadap lautan, berdiri beberapa blok bangunan tua eks pabrik semasa pendudukan Jepang, blok inilah yang dinamakan “13 layers remain”. Pabrik-pabrik ini tidak dibongkar karena dikhawatirkan ada muatan radioaktif yang bersifat merusak di dalamnya, maka itu dibiarkan terbengkalai, cukup serem juga keadaan bangunannya dengan ilalang dan semak belukar tinggi di sekitarnya.

20190226_111554
13 layers remain

Kemudian kami dipandu York menyebrang jalan untuk melihat Yin Yang Sea, yang merupakan lautan yang mengandung dua konsetransi mineral yang berbeda sehingga warnanya berbeda, kuning dan biru.

GOLDEN WATERFALL

Destinasi selanjutnya adalah golden waterfall yang jaraknya hanya 5 menit saja dari yin yang sea. Golden waterfall merupakan air terjun bertingkat-tingkat yang mengalir melalui permukaan bukit berwarna kuning coklat (tapi mereka menyebutnya keemasan). Air terjunnya biasa aja sih menurut saya.

20190226_112826
Golden waterfall

JIUFEN OLD STREET

Perjalanan dilanjutkan menuju Jiufen yang letaknya tinggi di atas bukit, rutenya berkelok-kelok dan sangat tinggi hingga kami bisa melihat lautan dan kawasan sekitarnya dari ketinggian.

Saya sangat bersemangat sekali mengunjungi Jiufen karena sebelumnya saya sudah sempat menonton animasi Ghibli populer “Spirited Away” yang mana inspirasi kotanya itu diambil dari suasana lorong-lorong dan kedai teh di Jiufen, langsung membayangkan jadi Chihiro dan no face. Dari berbagai kedai teh yang ada, tersebutlah Amei tea house yang menjadi inspirasi rumah Chihiro, yang merupakan bangunan bergaya china dengan hiasan lampion di luarnya.

Jiufen merupakan kota tua yang mana dulunya merupakan pemukiman para penambang emas, dengan semakin menipisnya persediaan tambang, kota ini ditinggalkan. Namun akhirnya malah berkembang menjadi kawasan turistik karena keunikan lorong-lorongnya dan terutama kedai-kedai teh nya. Kami diberi waktu selama 2 jam untuk mengeksplorasi Jiufen, dari tempat parkir bus kami harus berjalan dulu selama 10 menit hingga tiba di gerbang Jiufen.

20190226_114743
Menuju Jiufen

Lorong-lorong di Jiufen dipenuhi dengan kios-kios souvenir, makanan dan restoran. Kami diingatkan oleh York untuk mengingat-ingat jalan yang dilalui karena lorong-lorong di sini bisa bikin hilang arah dan tersesat.

Karena sudah waktunya makan siang, maka kami mencari restoran untuk makan. Setelah agak sedikit kesulitan mencari halal food, akhirnya kami berhenti di salah satu restoran china yang menyajikan aneka masakan. Kami memesan shrimp fried rice, omelette dan Egg roll, rasanya lumayan enak namun pricey banget, total harga yang harus dibayarkan 420 NTD.

Selanjutnya kami berkeliling melihat-lihat aneka souvenir dan toko penganan, mungkin karena area touristy jadi saya perhatikan harganya lumayan mahal. Kami malah berhenti di salah satu toko mainan yang ternyata penjaganya berasal dari Pontianak. Setelah icip-icip dorayaki isi es krim dan membeli magnet kulkas kami memutuskan keluar dari lorong Jiufen. Sejujurnya kesan saya terhadap Jiufen tidaklah se”wah” bayangan saya sebelumnya, malah saya merasa sumpek di dalamnya, mungkin karena saya tidak menemukan tea house-nya.

Kami berjalan menuju gardu pandang di mana kami bisa melihat pemandangan kota jiufen, bukit dan lautan luas di sekelilingnya. Setelah itu kami kembali ke bus untuk berkumpul kembali dengan anggota rombongan lainnya.

SHIFEN WATERFALL

30 menit kemudian, sampailah kami di kota shifen, di sini kami akan berkunjung ke dua destinasi yaitu shifen waterfall dan shifen old street.

Meeting point ditetapkan di cafe yang berlokasi persis setelah turunan menuju Shifen waterfall, bus tidak bisa masuk ke area ini. Dari meeting point kami harus berjalan sekitar 15 menit hingga sampai di shifen waterfall.

Kami berjalan dengan terburu-buru karena waktu yang diberikan hanya 50 menit, kami melewati jembatan gantung (goyang) yang melintasi sungai, deretan kios makanan, dekorasi merah meriah ala china dan akhirnya sampai di air terjunnya. Shifen waterfall ini cukup spektakuler, mirip niagara dalam ukuran mini-nya, debit airnya deras dan permukaan air terjunnya pun luas.

Di shifen waterfall juga tersedia banyak public toilet, jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk buang air di sini karena di old street nanti tidak ada toilet kecuali kalau numpang di salah satu toko.

20190226_144031
Shifen waterfall

SHIFEN OLD STREET

Kawasan Shifen old street berada di pinggir rel kereta api yang masih aktif, atraksi utama di sini adalah menghias lampion dan menerbangkannya. Saat perjalanan menuju Jiufen tadi kami sudah diinfo oleh York untuk memilih warna lampion yang akan diterbangkan, masing-masing warna memiliki makna yang mengandung pengharapan. Harga untuk satu warna 150 NTD, sementara multiple color adalah 200 NTD, tentu kami memilih yang multiple dengan pilihan warna sesuai maunya kiddos, we didn’t take it so seriously sih karena kami percaya bahwa doa yang mustajab ya berdoa langsung saja kepada Yang Maha Kuasa.

IMG20190226134533
Tabel warna lampion

Polusi lingkungan merupakan isu utama karea banyaknya lampion yang diterbangkan, namun para pemulung lampion di sini ternyata cukup aktif mengumpulkan sisa-sisa lampion karena uang yang didapat dari hasil penukaran ring lampion lumayan nilainya.

York mengajak kami ke toko rekanannya di mana sejumlah lampion yang kami pesan sudah disiapkan dalam penyangga lukisan. Kami diberi kuas bercat hitam untuk menulis permohonan dan doa di permukaan lampion tersebut, kiddos tentu sangat antusias yang berakibat kaos mereka coreng moreng terkena tinta.

Setelah beres, salah satu petugas akan membantu kita untuk menerbangkan lampion. Sebelumnya dia akan membantu mengambil foto dan mem-video-kan aktivitas penerbangan lampion tersebut. Lucunya area penerbangan lampion berada di tengah-tengah jalur rel, jadi kalau keretanya lewat ya bubar jalan.

20190226_155323
Shifen old street

Setelah aktivitas lampion selesai, kami mengisi waktu hingga berjalan ke sudut di mana kami menemukan jembatan gantung yang melintasi jalan raya. Suasana langit riuh oleh lampion aneka warna yang mengudara, sangat menyenangkan.

20190226_154303
Jembatan gantung shifen

Di shifen old street terdapat kios chicken wing yang terkenal enaknya, sayangnya karena masih kenyang maka kami tidak membeli.

Dengan berakhirnya kunjungan ke shifen, maka tuntaslah sudah rangkaian tur kami hari ini. Perjalanan menuju kota Taipei ditempuh selama sejam, kami sangat terkesan dan merekomendasikan perjalanan dengan klook ini.

HALAL NOODLE FOOD

Pukul 5 sore kami tiba di Ximen kembali, setelah mengucapkan terima kasih kepada York dan Pak supir bus, kami pun berpisah dengan rombongan lainnya.

Untuk makan malam, kami sudah membeli voucher beef halal noodle soup dari klook.com. Dari tempat berhenti bus tadi, kami berjalan kaki lagi selama 10 menit. Plang nama toko ditulis dalam aksara china, jadi sampai sekarang saya nggak tau namanya apa, hehe. Letaknya di Yanping South Road, persis di samping Fun Inn Hotel. Kedai beef noodle ini dihiasi dengan kaligrafi arab dan foto-foto ka’bah.

Voucher yang kami beli berupa satu paket beef noodle berukuran besar ditambah hidangan dumpling sebagai pendamping. Rasanya sangat enak, daging sapi yang dipotong kotak-kotak sangat juicy dan lembut, mie nya berstektur tebal dan priduk homemade. Dumplingnya diisi dengan cacahan daging sapi dan daun bawang. Sayangnya karena agak pedas, kiddos jadi tidak bisa makan dan hanya menyuil dumpling-nya saja.

Karena jarak kedai ini dengan hotel hanya 600 m, maka kami memutuskan berjalan kaki saja sekalian menurunkan makanan di perut. Sebelum masuk hotel, kami membeli nasi putih dan ayam di family mart untuk makan malam kiddos.

 

Taipei, Taiwan

Taiwan – CKS Memorial Hall, Ximending, Longshan Temple, Raohe Night Market

Saya terbangun dari rayuan pulau kapuk karena dering adzan shubuh dari hp suami . Setelah menunaikan kewajiban ibadah terhadap Yang Maha Kuasa (beribu syukur karena kami sekeluarga diizinkan menginjak pulau formosa), saya kembali bergelung dengan selimut dan kasur yang sangat nyaman, apalagi suhu udara di akhir musim dingin Taiwan tergolong dingin untuk ukuran kulit tropis. Dari jendela terlihat hujan lebat mengguyur. Tidak lama kiddos terbangun, sementara suami saya berdinas dengan mesin cuci & dryer , saya membantu kiddos mandi. Mesin cuci dan dryer di hotel sistemnya otomatis, jadi makin berat cucian makin lama waktunya, rata-rata mesin cuci menghabiskan sekitar 40 menit sementara dryer bisa sampai sejam, makanya suami selalu mencari waktu sepagi mungkin agar saat berangkat semua sudah beres.

Hampir tiap hari kami makan pagi dengan roti yang sudah disediakan pihak hotel, lumayan banget mengirit uang makan. Kiddos tidak terlalu suka dengan selai (strawberry & rapsbery, butter) yang disediakan, untunglah kami membawa satu botol nutella ukuran besar yang jadi favorit kita. Kami juga seringkali membawa roti ini untuk bekal cemilan di perjalanan.

CHIANG KAI SHEK (CKS) MEMORIAL HALL

Pukul 09.00 kami sudah siap menuju destinasi pertama yaitu CKS Memorial Hall. Agak khawatir juga karena hujan lebat masih setia mengguyur, tapi untunglah kami sudah persiapan dengan membawa 2 payung dari tanah air.

CKS Memorial Hall dapat ditempuh dengan MRT Tamsui – Xinyi Line (Red Line) , naik dari Taipei Main Station dan turun di CKS Memorial Hall station. Tidak terlalu sulit menemukan Red Line karena penunjuk arahnya cukup jelas, perjalanan juga singkat karena hanya melewati beberapa stasiun saja.

20190224_172931
Di dalam MRT

Kalau PRC memiliki Mao Zedong maka ROC memiliki Chiang Kai Shek. Chiang Kai Shek merupakan pendiri Republic of China (Taiwan), ibaratnya seperti Bung Karno kalau di Indonesia. CKS adalah anggota berpengaruh dari Kuomintang (Partai Nasionalis China), suatu partai pelopor gerakan pembaharuan China yang mengubah China dari sistem kerajaan menjadi republik. CKS merupakan sekutu dekat sekaligus adik ipar dari Dr. Sun Yat Sen (Founding Father of the Republic of China). CKS yang berlatar belakang militer adalah pemimpin militer dari Kuomintang. Setelah Sun Yat Sen wafat, CKS menjadi penggantinya sebagai ketua Kuomintang. Tidak seperti Sun Yat Sen, CKS tidak menyukai pihak komunis yang merupakan lawan politiknya, hingga terjadilah perang saudara (China Civil War) yang akhirnya dimenangkan oleh pihak komunis. CKS dan pendukungnya yang kalah kemudian mundur ke Taiwan dan mendirikan negara sendiri di sana. Sama seperti lawannya Mao Zedong, CKS pun dikenal sebagai pimpinan kontroversial, pemerintahannya bergaya diktator dan otoriter serta berlaku seumur hidup. Sebagian orang menganggapnya pemimpin yang buruk dan kejam, tapi sebagian lain menganggapnya sebagai pahlawan yang gigih menangkal pengaruh komunis.

20190224_104553
Portrait of Generalissimo Chiang Kai Shek

Pembangunan CKS Memorial Hall tidak terlepas dari kontroversi dan perdebatan, kompleks bangunan yang digagas tahun 1976 ini terdiri atas CKS Memorial Hall, National Concert Hall, National Theatre, Liberty square dan Liberty Square Main gate.

20190224_094157
Liberty Square Main gate

Ambil exit 5 setiba di CKS Memorial hall station, kita akan keluar di samping National Theater. Hujannya awet banget, dan suhu udara juga masih dingin. Dengan tergesa-gesa kami melangkahkan kaki ke bangunan National Theatre, ternyata serambinya (ruang dalam tentu tidak boleh besa dimasuki umum)  sudah ramai dengan banyak orang, maklum hari minggu. Banyak generasi muda yang sedang berlatih nge-dance dengan arahan instruktur, lagu-lagunya kalau nggak k-pop ya lagu modern taiwan. Sementara di sudut lainnya generasi tua sedang berlatih taichi atau ada juga yang sedang berlatih meditasi. Kiddos malah anteng ngeliatin orang-orang latihan nari, apalagi yang diputerin lagunya Blekping (Black Pink). Kami berdiam dulu di sini sekalian istirahat dan menunggu hujan kecilan. Di salah satu pojokan terlihat serombongan mbak-mbak berhijab yang sedang duduk sambil membuka bekal, setelah saya dekati ternyata pada ngobrol pakai bahasa jawa. Sama seperti di HK, Taiwan memang terkenal sebagai tujuan para pahlawan devisa negeri mencari rezeki, maka tidak mengherankan kalau akan sering bertemu saudara setanah air.

20190224_093528
Lagi latihan nge-dance

National Theatre dan National Concert Hall hampir mirip bentuknya, sama-sama bergaya china ala forbidden city, dengan teras berundak, atap oranye dan pilar merah. Yang agak beda hanya di atapnya saja, di mana terdapat ukiran di atap National Concert Hall.

20190224_100428
kiri National Theatre, kanan National Concert Hall, belakang Liberty square

Karena tidak ada tanda-tanda hujan mereda, maka saya nekat jalan menerobos hujan (dengan payung tentunya). Setelah menyempatkan foto-foto sejenak dengan latar Liberty Square Main gate dan kedua hall, kami meneruskan jalan menuju bangunan CKS Memorial Hall. Kedua kiddos mulai mengeluh karena bagaimanapun liberty square ini lumayan besar areanya, apalagi hujan tidak sungkan-sungkan derasnya, jadi mereka mengeluh tidak nyaman karena sepatunya basah. Untunglah beberapa meter sebelum bangunan, ada sebuah tenda tentara dibantangkan, lumayan bisa buat istirahat dulu.

Perjuangan tidak berhenti karena untuk bisa masuk ke dalam CKS Memorial Hall, kami harus mendaki sejumlah anak tangga dulu, kami menyemangati kiddos agar mereka tetap mau menapaki anak tangga hingga ke puncak. Dari puncak CKS, kami dapat melihat pemandangan keseluruhan kompleks CKS lengkap dengan taman-tamannya yang cantik. Untuk memasuki CKS Memorial Hall tidak dikenakan biaya alias gratis. Di pintu masuk ada petugas yang berjaga untuk memberikan plastik (gratis) guna membungkus payung yang basah.

20190224_095355
Chiang Kai Shek Memorial Hall

Pemandangan pertama yang terlihat adalah patung bronze raksasa Chiang Khai Shek dalam posisi duduk. Patung ini dijaga oleh 2 penjaga di kanan kirinya. Prosesi pergantian penjaga yang dilaksanakan tiap jamnya menjadi atraksi menarik tersendiri bagi para wisatawan, saat kami sampai area ini sudah penuh karena sudah hampir waktunya pergantian jaga. Prosesi berlangsung selama sekitar 25-30 menit.

20190224_100556
Prosesi pergantian penjaga

Setelahnya kami masuk ke ruang belakang yang merupakan museum mini berisi sejarah proses pembangunan CKS Memorial Hall. Dari sini kami beranjak ke lantai 1 dengan menggunakan lift, lantai 1 merupakan lokasi di mana museum Chiang Kai Shek berada. CKS memorial hall juga digunakan sebagai tempat exhibition , kemarin saat kami datang sedang ada pameran seniman pop art Andy Warhol.

Saya yang sudah tidak sabar melihat-lihat dan membaca sejarah presiden pertama taiwan ini langsung menuju sayap bangunan yang berisi sejarah CKS. Sementara suami saya dan kedua kiddos lebih memilih duduk di sofa, jadi saya berkeliling sendiri.

Museum ini berisi berbagai macam memorabilia CKS, mulai dari foto-foto sejak kecil hingga tua, baju, pakaian dinas, seragam militer, buku-buku, stempel kenegaraan, mobil, tandu dan lain-lain. Museumnya bagi saya sangat menyenangkan karena terang dan lapang juga sangat bersih. Semua koleksi tertata apik entah dalam kotak kaca atau dengan pita pembatas sehingga pengunjung tidak bisa menyentuhnya. Berbagai foto perjalanan hidup CKS terpampang juga foto-fotonya dengan sejumlah pemimpin dunia, yang paling berkesan bagi saya tentu foto (lukisan) CKS dengan Dr Sun Yat Sen. Belakangan setelah separuh isi museum saya habiskan, saya baru sadar kalau saya masuk dari sisi yang salah, saya masuk dari sesi CKS menjadi presiden Taiwan baru bergerak menuju CKS kecil. Sejujurnya 1 jam belum cukup bagi saya karena saya masih ingin detil lagi membaca berbagai keterangan dan melihat koleksi yang ada, tapi berhubung kiddos sudah rewel ya terpaksa quit. Maklum, bagi kiddos yang menarik mungkin hanya mobil dinas CKS saja, meski saya mencoba membawa mereka ke potret CKS dalam pakaian kebesarannya sambil menjelaskan siapa beliau ini. Untuk keluar dari bangunan ini kami harus naik lagi dengan lift ke lantai 3, padahal kan pasti ada ya pintunya (gimana coba kalau ada emergency) , tapi petugasnya tetap menyuruh kami naik dulu.

XIMENDING

Kunjungan ke Ximending sebenarnya tidak masuk dalam rencana, namun karena kiddos terus berteriak lapar (padahal baru jam 11.00) maka dalam perjalanan menuju Longshan Temple kami turun dulu di Ximending. Dari CKS Memorial Hall kami menaiki Songshan Xindian Line (green line) dan turun di Ximen station.

Ximending merupakan area kekinian anak muda-nya Taiwan, dijuluki sebagai harajukunya Taiwan. Di area ini terdapat sejumlah mall-mall dan tempat nongkrong populer, kalau malam juga ada Ximending Night Market yang banyak direkomendasikan untuk dikunjungi.

Berhubung ini hari minggu, maka tidak mengherankan kalau kawasan ini ramai sekali, walau saat siang begini gemerlapnya tidak terlalu terlihat. Kami keluar melalui exit 6 Ximen Station, tujuannya ? KFC lah yang cocok di lidah dan kantong. Kami melewati sejumlah toko souvenir dan oleh-oleh sebelum sampai di KFC, saya hanya melirik sekilas ke harga-harga yang dibanderol karena memang tidak berniat belanja di hari ini.

KFC Ximending terletak di lantai 2& 3, sementara lantai 1 nya merupakan gerai Hot Star yang menyajikan Fried Chicken ala Taiwan. Kami memesan dua paket, satu berisi ayam + kentang dan satunya lagi paket burger plus satu porsi nasi (nasi hainan ). Mengejutkan karena porsi kentangnya banyak banget dan ditempatkan dalam wadah baskom, bukan piring kaca seperti di sini. Awalnya saya sempat kesal karena saya lupa membawa saus sambal sachet, tapi ternyata cita rasa ayam KFC di sini agak pedas sehingga membuat saya tidak ngoceh lagi, untunglah kiddos tidak terlalu mengeluh kepedesan karena makannya dicampur nasi. Setiap paket makanan dilengkapi dengan tambahan egg tart ala macau yang manis dan renyah.

20190224_113842

LONGSHAN TEMPLE

Sebenarnya setelah makan, mood kiddos agak turun karena mereka mengantuk, tapi sayang sekali kalau kami harus pulang karena jarak ke Longshan Temple hanya terpaut satu stasiun lagi. Kami menaiki MRT Bannan Line (blue line) dan turun di Longshan temple station exit 1.

Longshan temple merupakan kuil tertua di Taipei, kuil ini dipercaya suci dan dijaga oleh dewi- dewi karena tetap selamat selama era pengeboman. Longshan temple merupakan kuil dengan perpaduan ajaran buddha dan tao.

20190224_124506
Longshan temple

Deretan lampion kuning berjajar rapat menghiasi kanan kiri pintu gerbang kuil, kalau malam pasti semarak sekali. Setelah melewati gerbang pertama, kita akan melihat air terjun buatan di kanan kirinya, suasana perayaan tahun baru china masih terasa dari berbagai dekorasi yang ada di sekitar kuil. Setelah melewati gerbang kedua barulah terlihat kompleks bangunan utama kuil ini, banyak masyarakat yang sedang bersembahyang, di dalam kuil terdapat deretan kios yang menjual dupa dan peralatan sembahyang.

TAIPEI MAIN STATION

Selepas kunjungan ke longshan tampaknya mood kiddos agak naik, suami saya mengusulkan untuk mampir dulu di taipei main station untuk menukarkan booking ticket TRA taipei – hualien yang akan kami pakai esok.

Karena masih bingung soal navigasi taipei main station, maka kami bertanya dulu kepada petugas mengenai lokasi konter tiket yang berada di lobi utama. Arah yang ditunjukkan agak muter-muter sih, karena nyatanya kami keluar dulu dari bawah tanah dan tiba di luar bangunan yaitu di bagian selatan yang juga merupakan pintu masuk dan lobi utama. Besoknya kami baru faham bahwa kalau mau mencari lobi utama carilah penunjuk station front metro mall, pasti ketemu.

Mendekati pintu masuk, kok kuping saya mendengar bunyi-bunyian gamelan, bentar-bentar salah denger nggak sih? kok di Taipei ada suara kleningan. Eh ternyata benar, sedang ada acara budaya Indonesia di Taipei Main Station, panggung besar lengkap dengan tendanya berdiri megah di depan pintu masuk. Acara ini dikawal oleh para pemuda berseragam banser taiwan. Celotehan dalam bahasa indonesia dan jawa terdengar di mana-mana. Stall penjaja masakan indonesia pun bisa ditemui di sini. Acara di panggung sedang menayangkan aneka ria busana pengantin nusantara, bener-bener mbaknya dandan cantik lengkap dengan paes dan sanggul lho.

20190224_132301
Acara kebudayaan Indonesia

Kami meneruskan tujuan kami ke konter tiket, setelah mendapatkan tiket fisik kami iseng-iseng melipir ke customer service yang terletak di sebelah kirinya karena ada pengumuman layanan bahasa indonesia (hanya tersedia weekend). Kami bertanya arah gate TRA agar besok tidak nyasar kepada petugas yang mampu berbahasa indonesia dengan sangat baik. Setelahnya kami kembali ke hotel agar kiddos bisa istirahat tidur siang, kami sampai di hotel sekitar jam 2 siang.

20190224_133305(0)
TMS Main Lobby

RAOHE NIGHT MARKET

Selepas cukup istirahat dan mandi, sekitar pukul 05.00 sore kami menuju Raohe Night Market untuk petualangan kuliner street market pertama kami. Suami saya sangat bersemangat karena sangat ingin merasakan suasana kulineran di Taiwan seperti yang selama ini dia lihat di TV. Sebaliknya Kiddo G malah agak kesal karena sepatunya masih basah akibat kehujanan tadi siang.

Hujan di Taipei ini memang sangat awet, nggak ada berhentinya seharian. Dari TMS kami menaiki Tamsui Xinyi Line dan turun di Zongshan Station untuk kemudian pindah jalur Songshan Xindian Line dan turun di Songshan station.

Kami keluar melalui exit 5 dan disambut gemerlapnya lampion dari Songshan Ciyou temple yang cantik banget. Gerbang Raohe Night Market terletak di samping kuil ini. Raohe Night Market merupakan salah satu dari night market yang populer dan banyak direkomendasikan.

Bau harum pork pepper bun menyeruak begitu kami melewati gerbang, pork pepper bun ini memang merupakan stall paling terkenal di raohe, sayang tidak bisa kami coba karena non halal. Raohe ini tidak terlalu besar, kami berjalan hingga ke ujungnya untuk melihat-lihat aneka makanan yang tersaji, karena seharian hujan jadi beberapa kedai tidak buka. Oh iya karena sistemnya street night market jadi jarang tersedia kursi untuk makan, hanya ada beberapa kedai yang dilengkapi kursi (menunya non halal) . Jadi kemarin kami terpaksa makan sambil berdiri.

Berikut beberapa makanan yang sempat kami coba.

  • Beef BBQ (200 NTD) daging sapi dipotong kotak-kotak lalu dibakar dengan gas torch dengan tingkat kematangan medium well jadi masih juicy, dagingnya dilapis saus (ada berbagai pilihan, kemarin kami coba teriyaki), enak banget
  • Squid BBQ (150 NTD) ini jajanan yang paling bikin ngiler, gimana nggak, cumi segar ukuran besar dibakar diolesi dengan saus pedas manis khas taiwan

20190224_182408

  • Pancake (40 NTD) ini mirip martabak telor jadi rasanya asin, pilihan toppingnya banyak, cuma untuk amannya kami pilih egg & scallion
  • Bubble milk tea (55 NTD) minuman paling masyhur di Taiwan berupa milk tea dengan bubble di dalamnya
20190224_175557
Bubble milk tea

Karena makan sambil berdiri tidak nyaman, maka hampir semuanya kami bungkus dan dibawa pulang. Pulangnya kami mampir dulu di family mart untuk membeli nasi (15 NTD) dan ayam goreng (merk mom cuisine 39 NTD) untuk kiddos.

 

 

Taipei, Taiwan

Taiwan – Qingtiangang Grassland, Yangmingshan & Tamsui Old Street

Karena itinerary yang kami jalani sehari sebelumnya lumayan padat, kami khawatir kiddos akan kelelahan dan jenuh, maka pagi itu sebelum berangkat saya berdiskusi dengan suami, awalnya kami akan mengunjungi qingtiangang grassland, yangmingshan flower park dan ximending, tapi kemudian yangmingshan di skip saja, karena toh kemarin kami sudah sempat melihat sakura di maokong. Pukul 09.00 kami baru meninggalkan hotel untuk menuju ke destinasi pertama. Sebelumnya kami mampir dulu di family mart untuk membeli perbekalan makan siang karena khawatir di qingtiangang nanti sulit mencari kedai makanan.

Yangmingshan National Park merupakan taman nasional yang letaknya paling dekat dengan pusat kota Taipei, hanya sekitar 1 jam perjalanan. Yangmingshan National Park merupakan area wisata yang populer bagi warga lokal dan turis, banyak yang sekedar menikmati pemandangan atau trekking. Kami hanya memilih 2 destinasi saja yaitu yangmingshan flower park (yang kemudian dicoret) karena ingin melihat sakura yang mekar di musim semi dan qingtiangang grassland yang merupakan padang rumput dengan pemandangan seperti di new zealand.

QINGTIANGANG GRASSLAND

Berikut rute perjalanan kami

  • Dari Taipei Main Station (TMS) naik MRT Tamsui – Xinyi Line turun di Jiantan Station
  • Lanjut naik S15 di Jiantan dan turun di Qingtiangang

Saat keluar dari stasiun Jiantan kami sempat bingung di mana letak halte bus S15-nya, setelah melihat-lihat plang keterangan, kami menunggu di halte yang berhadapan dengan Zhongsan North Road. Ternyata…salah lokasi…saat ada bus S15 berhenti dan kami bermaksud naik, sang supir menginfokan dengan bahasa mandarin dan isyarat bahwa lokasi halte bus S15 yang akan berangkat ke Qingtiangang berada di posisi sebaliknya, halte yang ini hanya untuk turun. Halte bus S15 Jiantan ke Qingtiangang berada di depan Jihe Road, persis di depan gedung art center yang ada hiasan bola raksasa setengah bulatan. Tampak antrian di halte sudah mengular, panjang sekali, tapi salutnya semua tertib, tidak ada yang main serobot, petugas bus pun tidak segan menegur dan bahkan menolak penumpang yang tidak mau antri. Kebanyakan yang antri adalah kaum manula yang sudah berkostum trekking lengkap dengan ransel dan tongkat pendaki. Kami menunggu hingga bus kedua karena yang pertama sudah penuh, tidak lama kok cuma sekitar 15 menit. Bus langsung penuh sesak, untunglah kami masih mendapat tempat duduk walaupun masing-masing harus sambil memangku kiddos.

20190228_092316
Halte bus Jiantan 

Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam, awalnya melewati kawasan perkotaan yang cukup padat dan agak macet, berangsur-angsur melewati pemukiman di kaki gunung dan terus menanjak. Jalan terus berkelok-kelok menanjak mendaki kawasan pegunungan dan lumayan bikin mabok, sampai akhirnya kami harus memberikan antimo pada Kiddo B yang mulai mengeluh.

Bus S15 bertype besar seperti yang kami naiki ternyata hanya berhenti sampai Lengshuikeng, dari Lengshuikeng kami harus menyambung kembali dengan minibus S15 (semacam elf), karena bus besar tidak boleh naik hingga ke Qingtiangang. Begitu keluar bus, aroma tajam belerang tercium, suhu udara di Lengshuikeng juga sangat dingin, jarak pandang pun sempit karena udara dipenuhi kabut tebal sehingga sulit melihat. Menambah penderitaan, hujan gerimis mulai turun, kami langsung bergegas ke Lengshuikeng Visitor Center untuk berteduh sekalian bertanya-tanya info kepada petugas.

Dengan sedikit menerobos hujan kami berlari-lari naik ke minibus S15 yang baru tiba, perjalanan makin menanjak dengan medan yang makin curam dan menyeramkan hingga tiba di Qingtiangang. Karena gerimis belum reda saat kami tiba di Qingtiangang, kami langsung menuju visitor center. Visitor centernya sendiri tidak terlalu besar, terdapat beberapa kursi untuk menonton tayangan slide di layar yang menayangkan informasi mengenai Qingtiangang. Suami langsung menemani kiddos menonton sambil menyeruput teh hangat yang sudah dibawa dalam botol minum. Sementara saya berkeliling melihat-lihat maket dan poster yang ada. Sedihnya, saat saya ngobrol dengan petugas, Qingtiangang saat ini ternyata sedang tutup, katanya sedang maintenance dan baru akan buka kembali di musim panas. Yaah batal deh melihat pemandangan padang rumput ala new zealand, mana udah jauh-jauh ke sini pula.

Untuk sedikit mengobati kekecewaan kami berjalan-jalan sedikit di area yang masih dibuka, hanya 5 menit juga udah beres. Pagar menuju padang rumput digembok dengan papan keterangan “closed during maintenance”. Di dekat pagar terdapat kuil kecil yang banyak disembah oleh warga lokal. Saya sedikit mengintip lewat pagar walau tak terlihat apa-apa karena kabut yang luar biasa tebal. Karena masih banyak waktu, akhirnya kami memutuskan ke yangmingshan flower park saja, tampaknya sudah digariskan bahwa kami memang harus berkunjung ke sana, haha.

YANGMINGSHAN FLOWER PARK

Dari Qingtiangang kami menaiki bus 108 menuju ke Yangmingshan Bus Terminal. Kami diturunkan di halte seberang 711, karena sudah kedinginan dan kelaparan, akhirnya kami memilih masuk ke 711 yang dilengkapi dengan seating area di dalamnya. Sebenarnya sih kami sudah bawa bekal yang tadi dibeli di family mart, cuma kan nggak enak masa iya cuma numpang makan, maka kami membeli cup noodle, tea egg dan ubi rebus yang hangat dan enak banget. Kiddo B yang tadi habis menenggak antimo malah tertidur di kursi sementara kami makan. Untunglah petugas minimarket pengertian dan nggak jutek melihat kami berlama-lama di kursi, yah kami bolak-balik beli camilan dan kopi panas juga sih. Setengah jam kemudian Kiddo B akhirnya terbangun dan karena masih menolak makan, jadi kami langsung menuju ke destinasi selajutnya saja.

Sedikit cerita soal 711, di Taiwan 711 itu tiap berapa ratus meter ada, seperti indomaret/alfamart lah kalau di kita. Serunya lagi makanan yang dijual di 711 Taiwan itu lebih banyak ragamnya dan sangat menarik, walau sebagai muslim kita tentu harus selalu mengecek dulu kehalalannya. Sebagai negara penggemar milk tea, jangan heran kalau rak pendingin di 711 Taiwan dipenuhi aneka jenis milk tea dari berbagai merk dan varian rasa. Selain bento box, 711 Taiwan juga menjual onigiri (25 NTD) dan sandwich yang jadi andalan bekal perjalanan. Beberapa item yang menarik di 711 Taiwan :

  • Hotpot, beneran menarik banget, aneka pilihan bakso, sayuran, jagung dan tahu disajikan dalam kuah panas. Sangat menggoda apalagi saat musim dingin, harga per piecenya pun murah, mulai dari 15 – 25 NTD. Sayangnya saya tidak merekomendasikan hotpot ini karena beberapa bakso terbuat dari campuran daging babi, juga ada sajian darah babi yang dibentuk seperti jeli kotak, semuanya dalam satu wadah, sehingga kuahnya tercampur.
  • Ubi rebus, ya beneran 711 menjual telo godog, ubi Taiwan ini sangat lembut dan manis, harganya tergantung berat, mulai dari 25 NTD per piece.
  • Sausage dan bakpao, ada beragam varian, walau tetap nggak nyoba karena khawatir nggak halal.
  • Tea egg, telor yang direbus dalam larutan teh, jadi sedep dan rasanya lebih legit, cuma 15 NTD .

Saya sebenarnya agak bingung harus naik apa ke yangmingshan flower park, kebanyakan orang akan trekking ringan menempuh jalur sepanjang 1.5 km hingga sampai ke flower park, tapi berhubung bawa kiddos rasanya kok lumayan berat, apalagi Kiddo B masih rada teler. Menurut google maps sih kami cukup menunggu bus 260 yang akan lewat di halte depan 711, tapi lama menunggu kok busnya tidak ada yang lewat juga. Akhirnya kami bertanya ke petugas lalu lintas yang mengarahkan kami ke yangmingshan bus terminal yang jaraknya sekitar 200. Di sana kami menemukan bahwa kami harus naik bus 125 yang antriannya sudah panjang sekali. Saat bus datang kami pun nekat naik walaupun mesti berdiri, toh jaraknya cukup dekat.

20190228_122036
Jalan menuju yangmingshan terminal bus

Tidak lama bus pun sampai di Yangmingshan Flower Park. Wangi sakura sudah harum tercium dari kejauhan, yangmingshan park sangat semarak dengan warna pink sakura yang sedang mekar. Sementara suami saya memilih duduk sambil menemani Kiddo B makan siang, saya dan Kiddo G memilih berkeliling di seputar area taman sambil menikmati keindahan barisan pohon sakura. Di sudut taman terdapat flower clock berbentuk bundar dengan hiasan tupai. Suhu udara di yangmingshan park tidak sedingin di Qingtiangang karena letaknya memang tidak terlalu tinggi. Terdapat banyak kedai makanan yang harumnya menggoda di area ini, sayangnya fasilitas toiletnya tidak memadai, sangat jorok dan kurang terawat kebersihannya.

 

XIMENDING TAMSUI OLD STREET

Karena ternyata tidak lama waktu yang kami habiskan di Yangmingshan, saya impulsif menyarankan agar kami ke tamsui saja dibanding ke ximending, dengan pertimbangan jalur keretanya sejalur dan ximending sudah pernah kami kunjungi walaupun saat siang. Suami pun setuju karena kiddos sudah tidak rewel.

Kami kembali ke area parkir bus, awalnya kami sudah ikut antrian bus 260 yang akan membawa kami kembali ke jiantan station dan lanjut naik mrt hingga ke tamsui. Saat sedang antri, pandangan suami saya jatuh pada bus 128 yang di layar eletroniknya terpampang tujuan shipai station, kami langsung mengecek jalur MRT dan mendapati bahwa Shipai Station berada dalam jalur Tamsui-Xinyi Line (artinya satu jalur) dan lebih dekat dengan Tamsui pula dibanding Jiantan. Suami saya langsung bertanya kepada petugas dan setelah diiyakan kami pun berpindah antrian ke bus 128. Walau kebanyakan orang taiwan tidak begitu fasih berbahasa inggris, tapi mereka umumnya mengerti sedikit kosakata dasar dan kalau kita bertanya sambil menunjukkan tulisan nama tempat di hp mereka akan langsung menunjukkan dengan ramah. Tiba di Shipai station, kami berganti menaiki MRT menuju Tamsui Old Street.

Tamsui old street berada di pinggir sungai Tamsui, aneka food stall yang menggugah selera sudah berderet-deret memenuhi setiap ruas. Kami tidak berjalan hingga ke area old street di mana terdapat bangunan kuno peninggalan Portugis.

Kemarin kami hanya menghabiskan waktu dengan menyusuri area food stallnya dan mencoba beberapa stret food berikut :

1. Crispy squid : 150 NTD, di tamshui ini banyak banget kios What’s Run yang menjual aneka gorengan seafood

20190228_145946
Kios What’s Run

2. Stinky tofu : 40 NTD, cara nyarinya gampang, cari aja kios yang baunya busuk 😖sesuai namanya, sebenernya cuma tahu goreng yang disiram saus khas taiwan, normal kok rasanya


3. Fruit candy : 70 NTD, nah ini cuma buah ditusuk terus disiram saus gula yang manis banget

20190228_151324
Fruit candy


4. Aneka sate : 20 NTD, ada telor puyuh, shrimp roll, bola cumi, enak semua

Kami duduk di sekitar area sungai sambil makan dan menikmati pemandangan sungai Tamsui dengan kapal yang berlalu lalang di atasnya. Bisa dibilang Tamsui ini merupakan area street food terfavorit saya di taiwan karena tidak penuh sesak dan pemandangannya indah. Cukup lama kami duduk-duduk sambil mendengarkan lagu yang dibawakan oleh street musician sebelum akhirnya beranjak kembali pulang ke hotel.

Taipei, Taiwan

Taiwan – Heart of Asia (Preparation)

INTRODUCTION

Why Taiwan ??? 

Indonesia sebenarnya sudah banyak mengenal produk-produk hiburan asal Taiwan. Kuping orang Indonesia rasanya cukup akrab dengan single-single sang suara bidadari ,Teresa Teng, seperti Thian Mi mi (dayung sampan) atau Yue Liang Tai Biao Wo De Xin yang sangat melegenda dan tidak lekang dimakan zaman. Lalu zaman saya SD-SMP, karya-karya bibi Chiung Yao yang diangkat ke layar kaca, seperti Huan Zhu gege (Princess of Pearl), Sin Ye gege (Princess Sin Ye), Ching Sen sen yi mung-mung (kabut cinta) dll, nyatanya amat digemari oleh pemirsa di tanah air. Puncaknya adalah booming Meteor Garden dengan F4 yang amat sangat digila-gilai oleh para remaja juga ibu-ibu muda (okay dulu saya salah satunya), disusul berbagai serial drama seperti Dolphin Bay, Twins, The Rose, MVP Lover, Snow Angel dll. Saat kuliah saya belajar di kampus yang siswanya mayoritas keturunan Tionghoa, jadi saya pun jadi suka mendengarkan lagu-lagu penyanyi asal Taiwan (hail Jay Chou).

Sayangnya tidak seperti Korea Selatan yang mampu mendongkrak pariwisatanya secara sangat signifikan dengan K-pop, Taiwan adem-adem aja. Publikasi Taiwan baru ramai didengungkan akhir-akhir ini, di Indonesia sendiri kebijakan pemberlakuan Sertifikat Otorisasi Perjalanan ROC (ROC Travel Authorization Certificate) yang menurut saya menjadi faktor penting, dengan ini turis Indonesia mulai berdatangan ke Taiwan dan menyebarkan foto-foto hasil perjalanannya baik lewat FB, IG dan you tube, membuat makin banyak wisatawan Indonesia yang melirik negara satu ini.

Dari foto, kelihatannya alam Taiwan sangat indah, karena merupakan pulau kecil, jadi dalam satu scene bisa didapatkan pemandangan gunung dan laut sekaligus. Kalau bagi suami saya taiwan = street food, akibat sering menonton acara eat street, suatu liputan lokal kuliner Taiwan yang berkeliling dari satu night market ke night market lainnya.

Karena beberapa tahun belakangan selalu merasa harap-harap cemas saat akan travelling lantaran harus mengurus visa, kali ini kami ingin sedikit santai, dengan adanya Sertifikat Otorisasi Perjalanan ROC berarti free visa bagi kami.

Dari hasil review, Taiwan dikenal juga dengan sebutan Japanese Low cost, karena sebagai bekas jajahan Jepang, standar kebersihan dan keamanan sama seperti Jepang, mindset penduduknya pun mirip Jepang yang teratur dan tertib, tapi biaya hidupnya lebih murah. Sistem transportasinya pun sudah bagus dan Taiwan dikenal negara ramah anak. Jadi…bulat tekad kami mengunjungi negara yang satu ini.

THE AIRLINE TICKET

Awalnya tergiur ke Taiwan karena promo Jet Star yang wara wiri di Timeline, begitu ngecek traveloka saya jadi melirik juga ke Air Asia (AA) yang harganya 11-12. Belakangan malah lebih tertarik ke AA, karena AA mempunyai 2 rute landing, yaitu Taoyuan (Taipei) dan Kaohsiung, memungkinkan saya mengeksplorasi Taiwan dari ujung utara ke selatan tanpa harus bolak-balik. Tapi … setelah utak atik dan mengecek jadwal penerbangannya saya malah jadi ragu, sudah jadi pengetahuan umum kalau budget airlines itu suka terbang di jam-jam ajaib atau waktu transitnya lama. Sebagai contoh, untuk penerbangan berangkat, AA akan tiba di Kuala Lumpur sekitar pukul 9 malam dan baru akan berangkat ke Taiwan keesokan harinya. Mungkin untuk traveller single atau masih muda tidak masalah, tapi untuk keluarga dengan anak kecil (usia 4 & 6 tahun) seperti kami berarti big problem, menginap di bandara tentu tidak memungkinkan, mengharuskan kami membooking hotel, memikirkan transport PP ke bandara dan segudang kerepotan lainnya. Setelah saya hitung-hitung dengan tambahan biaya hotel, transport, makan, meal on board dan bagasi kok harganya jadi selisih sedikit dengan maskapai full board ya.

Akhirnya saya mengalihkan perhatian ke maskapai full board, ada 3 maskapai yang masuk dalam pertimbangan yaitu Eva Air (EVA), Malaysia Airlines (MH) dan Thai Airways (TG). Pilihan pertama jatuh kepada EVA yang merupakan maskapai milik Taiwan, EVA menawarkan penerbangan direct Jakarta-Taiwan (Taoyuan), tapi harganya paling mahal, selisih dengan 2 maskapai lainnya bisa total sejuta per pax. Saya pun beralih ke pilihan lainnya, MH dan TG sama-sama harus transit dulu, bedanya MH transit di Kuala Lumpur sementara TG transit di Bangkok. Harga yang ditawarkan MH dan TG cukup bersaing, di mana TG lebih murah beberapa ratus ribu saja. Saya menjatuhkan pilihan final ke MH setelah mengecek jadwal penerbangannya yang saya pikir lebih kondusif untuk keluarga dengan kiddos.

Berikut jadwal penerbangan kami dengan MH

  • Pergi :     Jakarta – Kuala Lumpur    : 04.25 – 07.30

Kuala Lumpur – Taoyuan  : 09.20 – 14.10

  •  Pulang : Taoyuan – Kuala Lumpur  : 15.10 – 20.05

Kuala Lumpur – Jakarta    : 22.15 – 23.20

TAIWAN FREE VISA

Indonesia sebenarnya tidak termasuk dalam daftar negara pemegang free visa dari Taiwan. Namun Pemerintah Taiwan mengeluarkan kebijakan Sertifikat Otorisasi Perjalanan ROC (ROC Travel Authorization Certificate) untuk pemegang paspor Indonesia. Sertifikat ini menjadi semacam visa, bisa didapatkan secara gratis setelah mendaftar via website https://niaspeedy.immigration.gov.tw/nia_southeast/.

Salah satu syarat mendapatkan Sertifikat Otorisasi Perjalanan ROC adalah memiliki salah satu visa yang dikeluarkan dari Jepang, Korea Selatan, Amerika, Australia, New Zealand, Uni Eropa (Schengen), Inggris dan Kanada, yang masih berlaku atau yang telah berakhir kurang dari 10 tahun sebelum tanggal kedatangan di Taiwan.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa Indonesia tidak murni mendapatkan free visa dari Taiwan, jadi kalau tidak memiliki salah satu dari visa-visa yang disebutkan di atas ya tetap harus apply visa berbayar.

Kemarin kami menggunakan  visa Australia yang sudah berakhir masa berlakunya pada tanggal 22 September 2018. Proses pendaftaran sangat mudah, hanya butuh waktu sekitar 10 menit hingga sertifikatnya di-approved dan selanjutnya di-print. Sertifikat ini harus dibawa saat melakukan perjalanan karena akan diperiksa saat check in dan imigrasi.

ITINERARY

Setelah mengantongi tiket PP, langkah selanjutnya adalah menyusun itinerary, suatu kegiatan yang susah-susah gampang tapi sangat menyenangkan bagi saya. Untuk menyusun itinerary biasanya saya membaca berbagai buku, website, blog hingga menonton vlog di youtube, zaman sekarang informasi pariwisata mudah kok didapatkan selama mau telaten membaca dan meriset.

Sebagai emak-emak kebanyakan acara, maunya saya ya menjelajahi keseluruhan taiwan, mulai dari taipei di utara, taichung di tengah, hualien di pesisir barat hingga tainan dan kaohsiung di ujung selatan. Namun dengan durasi total 8 hari dan waktu efektif 6 hari, tentu sulit dilaksanakan. Travelling dengan kiddos berarti itinerary yang santai dan tidak melelahkan, tidak boleh egois dan ambisius dengan menyusun itinerary padat yang memungkinkan melihat kesemuanya. Memang Taiwan sudah memiliki THSR (Taiwan High Speed Rail), semacam kereta cepat seperti shinkansen di Jepang yang memungkinkan waktu tempuh antar kota semakin pendek, tapi acara geret-geret koper pindah stasiun dan keluar masuk hotel menjadi pertimbangan sendiri.

Dengan berat hati Kaohsiung dan Tainan dicoret, dan menjelang minggu terakhir sebelum hari-H Taichung pun akhirnya dicoret. Jadi kemarin kami hanya menjelajahi kota Taipei (Taipei city) ditambah mengunjungi Taroko National Park (Hualien County) dan kota-kota wisata di ujung utara pulau Taiwan (New Taipei City).

Berikut itinerary lengkap perjalanan kami

Day 1 : Flight Jkt – KL – Taoyuan

Day 2 : Chiang Kai Shek Memorial Hall, Longshan Temple, Rao He Night Market

Day 3 : Taroko National Park

Day 4 : Yehliu, Jiufen, Shifen

Day 5 : Taipei zoo, Maokong Gondola, Taipei 101, Sun Yat Sen Memorial Hall

Day 6 : Yangmingshan National Park (Qingtiangang Grassland & Yangmingshan park), Ximending

Day 7 : Taipei Mosque, National Palace Museum, Shilin Night Market

Day 8 : Taoyuan – KL – Jkt

PERSIAPAN LAINNYA

Persiapan lainnya bagi kami berarti booking hotel, tiket kereta, paket wisata ataupun voucher lainnya yang sudah bisa dibeli sejak di tanah air, memudahkan dan mengurangi jumlah uang cash yang harus kami bawa.

  • Hotel

Kali ini kami long stay selama 8 hari 7 malam di satu hotel saja yaitu Taipei H Imperial yang berada di Zhongzheng District, lokasinya sangat strategis yaitu di depan Taipei Main Station yang merupakan pusat dari semua jenis transportasi di kota Taiwan, cara mencapainya cukup keluar dari underground exit Z2 Taipei Main Station. Pemesanan kami lakukan melalui website booking.com untuk kamar jenis triple room.

  • Tiket kereta Taipei – Hualien

Menurut website yang kami baca, orang Taiwan itu hobi naik kereta, maka sangat dianjurkan untuk membeli tiket sebelum hari-H agar tidak kehabisan apalagi untuk rute destinasi wisata populer. Hualien merupakan nama daerah sekaligus stasiun di mana Taroko National Park bisa diakses. Tiket kereta Taipei – Hualien PP kami booking melalui http://twtraffic.tra.gov.tw, tiket sudah bisa dibeli 14 hari sebelum hari keberangkatan. Caranya sangat mudah dan petunjuknya sangat jelas. Tinggal centang stasiun keberangkatan dan kedatangan berikut harinya di journey planner, nanti akan keluar daftar berisi berbagai jenis kereta lengkap dengan jam dan tarifnya.  Harga tiket anak (usia 6-12 tahun) separuh dari harga tiket dewasa. Sesudah menyelesaikan pembayaran  akan keluar tanda booking , lembaran ini harus di-print untuk kemudian ditukarkan dengan tiket fisik asli di beberapa konter (misal konter tiket di stasiun atau 711) sebelum keberangkatan. Kereta Taipei – Hualien termasuk jenis TRA, yaitu kereta biasa, bukan tipe THSR.

Sedikit cerita mengenai ini, awalnya kami sempat bingung apakah harus membelikan Kiddo B tiket. Sesuai kebijakan yang tertulis di website, anak di bawah usia 6 tahun bisa naik kereta secara gratis. Setelah menimbang-nimbang akhirnya kami tetap membelikan Kiddo B tiket. Suatu keputusan yang tepat karena kereta yang kami tumpangi berjenis reserved ticket, yang berarti di tiket sudah tertera nomor kursi dan gerbongnya, bukan jenis yang bebas, apalagi ternyata kereta full hari itu. Kalau kiddo B tidak dibelikan tiket, maka dia akan terpaksa berbagi kursi dengan kami.

  • Tiket wisata via website klook

Sejak berkenalan beberapa tahun yang lalu, saya menjadi penggemar setia klook. Bagaimana tidak, selain memudahkan pembelian karena tidak harus mengantri di konter tiket, harga yang ditawarkan juga selalu lebih murah. Untuk wisata ke taiwan kali ini, saya membeli paket Yehliu, Jifen Shifen One Day tour, Yehliu Geopark entrance, Taipei 101 dan national museum.

Selain itu saya juga membeli voucher airport express PP (yang bahkan lebih murah dibanding menggunakan easy card), SIM card dari ChungHwa Telecom dan Beef Noodle Halal di Ximen.

  • Oleh-oleh via website klook

Untuk menghindari drama gotong-gotong kardus dan kresek isi oleh-oleh ke bandara, klook menawarkan alternatif pembelian oleh-oleh yang langsung diambil di bandara. Praktis banget, apalagi oleh-oleh yang ditawarkan rata-rata dari merk terkenal dan setelah saya cek harganya sama dan ada yang lebih murah dibanding beli di toko officialnya. Saya membeli pineapple tark merk chia te, sugar & spice french nougat dan zheng scallion noodle.

  • Baju dan perlengkapan lainnya

Akhir februari merupakan akhir winter di Taiwan, berdasarkan accuweather suhu-nya berkisar antara 17° – 23 ° C, seharusnya sudah tidak terlalu dingin, tapi untuk berjaga-jaga saya tetap membekali kiddos dengan winter jacket, kalau-kalau ternyata suhu-nya turun drastis, sementara saya dan suami cukup dengan light jacket.

Apabila bepergian dengan kiddos, sangat dianjurkan untuk memilih penginapan yang memiliki fasilitas mesin cuci + dryer, jadi kita bisa mencuci pakaian sehingga pakaian yang dibawa tidak seabreg-abreg, maklum kiddos kan bajunya seringkali lebih mudah kotor karena sering bermain-main. Saya biasanya membawa baju dengan jumlah setengah dari total durasi hari.

Untuk ransum makanan, awalnya saya bermaksud membawa abon, pop mie, kopi sachet, nutella, saus sambal dan susu formula (punya kiddos). Namun akibat merebaknya flu babi, dikabarkan custom Taiwan lagi ketat-ketatnya merazia barang bawaan, walaupun pastinya kami nggak akan bawa sesuatu yang mengandung babi, tapi untuk amannya saya meminimalkan ransum berbahan dasar daging dan sayuran kering, jadilah kami cuma membawa nutella, saus sambal dan susu formula.

Tidak lupa saya membawa obat-obatan pribadi, international adaptor (colokan listrik para traveller) dan untuk jaga-jaga (in case butuh) 2 buah stroller. Setelah dipak, barang bawaan kami berupa satu buah koper besar dan 2 buah stroller, cukup ringkas.