Posted in Bali, Indonesia

Bali Timur (Bagian 2)

DAY 3 – KARANGASEM

Karangasem melahirkan banyak memori, karena dulu waktu kecil saya pernah tinggal sebentar di sini, saat papa saya yang waktu itu masih bekerja sebagai pelaksana, mengerjakan proyek amankila resort di kecamatan manggis. Dulu kata mereka, di sini masih sepi banget, mandi saja mesti ke kali, yang mana banyak kutu babi-nya dan bikin gatel luar biasa.

Tirta Gangga

Setelah sarapan dan check out dari Bali Shangrilla, kami meneruskan perjalanan ke arah utara untuk melihat salah satu taman air peninggalan kerajaan karangasem yaitu tirta gangga, yang terletak di kaki gunung agung, sehingga saat erupsi oktober lalu ditutup karena masuk dalam zona bahaya.

Perjalanan ke sini melewati jalur berkelok-kelok karena mendaki bukit, kita juga akan melewati amlapura, ibukota kabupaten karangasem, yang ternyata cukup ramai dengan gedung-gedung pemerintahan dan jalan 4 jalur yang lebar.

Tirta gangga merupakan taman air keluarga kerajaan karangasem yang dibangun pada tahun 1946 oleh raja karangasem, sempat hancur akibat letusan gunung agung di tahun 1963 sebelum akhirnya direvitalisasi kembali dan dibuka untuk umum. HTM-nya 10 K untuk dewasa dan 5 K untuk anak.

20180216_093707
Taman air tirtagangga

Begitu melewati gapura, kita akan disuguhi pemandangan kolam luas dengan mata air yang sangat jernih. Air di sini berasal dari mata air rejasa dan dianggap suci serta digunakan dalam upacara keagamaan. Ada tiga kolam di tirta gangga, kolam paling eye catching adalah yang sebelah kanan, di mana terdapat sebuah pancuran air berbentuk candi menjulang tinggi, beberapa patung dan sejumlah pijakan untuk mengarungi kolam. Kolam tersebut dihuni oleh ikan koi yang besar-besar, di luar kompleks terdapat beberapa penjaja makanan ikan, kiddos langsung menemukan aktivitas favoritnya yaitu memberi makan ikan.

20180216_094535
Kolam kanan

Kolam sebelah kiri adalah yang terbesar, di mana terdapat dua jembatan di sisi-sisinya dengan ukiran naga.

Sementara kolam satunya yang berada di belakang pancuran, merupakan kolam yang boleh direnangi, beberapa wisatawan terlihat sedang berenang di air yang dingin dan sejuk segar. Di bagian belakang, terdapat sebuah bangunan bale besar yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat.

Di area parkir terdapat beberapa penjaja durian dan manggis dan buah-buahan lokal lainnya, yang langsung diserbu suami saya, maklum harga durian di bali tergolong murah, hanya 10 – 35 K saja.

Taman Ujung Karangasem

Perjalanan dari tirta gangga ke taman ujung hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, taman ujung juga merupakan peninggalan kerajaan karang asem, hanya saja lokasinya terletak di pinggir laut, tepatnya di pantai ujung.

Kalau tadi di tirta gangga udaranya sejuk, di taman ujung panas sekali, mungkin karena dekat dengan laut. Kompleks taman ujung lebih luas dibanding tirtagangga, dahulu tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan dan juga untuk menerima tamu kenegaraan.

Dari area parkir, setelah membeli tiket dengan HTM 15 K untuk dewasa dan 5 K untuk anak, kita akan melewati sebuah jembatan berpergola lilitan bunga dengan kolam lotus di bawahnya, sayangnya lotus tersebut bercampur dengan eceng gondok. Setelah itu kita akan disuguhi pemandangan tiga kolam besar, satu di utara dan dua di selatan.

Kolam di sebelah utara dilintasi oleh jembatan panjang yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah paviliun bercat putih dengan gaya arsitektur campuran barat dan bali. Paviliun ini disebut juga dengan istana gantung karena terlihat seolah-olah menggantung. Jembatan yang melintasi kolam berukiran rumit dengan arsitektur khas bali. Di dalam paviliun tersebut tergantung sejumlah foto-foto keluarga kerajaan karangasem. Sementara di kolam selatan terdapat sebuah paviliun tanpa dinding dan kolam lotus.

Taman ujung ini dibangun di atas lahan yang berkontur, di sisi sebelah barat terdapat sejumlah anak tangga yang menghubungkan dengan dua gazebo kecil dengan letak kontur yang tinggi. Saya dan suami sempat mendaki anak tangga hingga tiba di gazebo sebelah selatan yang tanpa atap, dari sini bisa didapatkan pemandangan taman ujung secara keseluruhan, pantai ujung dan juga bukit bisbis. Sangatlah indah, tidak heran taman ujung ini juga populer sebagai tempat pre-wedding, kami sempat bertemu sejumlah pasangan yang sedang melangsungkan sesi photo.

Pantai Ujung dan Shalat Jum’at

Kami mampir sebentar di pantai ujung untuk makan siang di salah satu warung makan yang menyajikan ikan bakar. Ternyata daerah ini juga merupakan komunitas muslim asli karangasem sejak zaman kerajaan dulu, bukan pendatang dari pulau jawa atau lombok, baru tau saya. Pemilik warung makan pun mengenakan hijab sehingga saya tidak perlu ragu mengenai kehalalannya. Kami memesan ikan kembung goreng, baronang goreng dan mahi-mahi bakar, yang walau semuanya minim bumbu, tapi dagingnya sangat manis dan fresh karena baru saja ditangkap dari laut lepas. Yang juara juga sambal khas ala bali yang pedesnya bikin melek. Semuanya hanya dibanderol 114 K saja, murah dan enak.

Setelah itu kami beranjak ke masjid karena sudah waktunya shalat jumat, di depan taman ujung ada dua masjid yaitu masjid al quddus dan baitur rahman, yang mana pelaksanaan shalat jumat-nya digilir bergantian. Jumat itu, ibadah shalat dilangsungkan di masjid al quddus yang juga merupakan sebuah madrasah.

Charly’s chocolate factory, jasri beach dan virgin beach

Setelah shalat jum’at. mendung makin menggelayut tebal. Segera kami mengarahkan mobil ke detinasi selanjutnya yaitu charly’s chocolate factory yang berada di pantai jasri. Perjalanan hanya sekitar 15 menit, belokan menuju tempat ini masih berupa jalan tanah setapak yang dipagari pepohonan dan semak belukar, sampai papa saya meragukan masa iya tempatnya di sini, karena berasa di kebon banget, bahkan di jalan beberapa kerbau terlihat sedang merumput. Melewati beberapa villa seperti matanai dan villa salema (dulu sempat mempertimbangkan nginep di sini juga, tapi kalo malem kayaknya lumayan serem dan gelap juga ya), akhirnya sampailah di gerbang dengan plang “Charly’s chocolate factory”. Bangunan ini milik seorang warganegara asing (amerika kalau nggak salah) bernama Charly. Berhubung baby g sedang lelap, sementara baby b malah mulai ndeprok di pinggir pantai jasri bersama akung-nya, akhirnya hanya saya dan suami yang masuk.

Begitu melewati gerbang, kami disambut pemandangan bangunan unik nan lucu bergaya rumah hobbit. Baru melangkah sedikit, kami langsung disambut teriakan seorang mbak-mbak yang berujar masuk mesti bayar, lah mana kutahu, loketnya aja nggak ada. Kami pun masuk ke dalam sebuah bangunan kecil di kiri pintu gerbang, di mana terdapat sejumlah mbak-mbak yang sedang membuat kerajinan sabun wangi, tiket 10 K tersebut sudah termasuk souvenir sepotong kecil sabun.

20180216_132937
Mbak-mbak pengrajin sabun

Segera kami menuju bangunan hobbit tersebut, total ada 4 bangunan, satu dengan panggung, satu terkunci, satu untuk cafe yang menjual minuman olahan coklat, dan satunya lagi nggak jelas untuk apa, sempet saya intip sebentar, dan walaupun ada beberapa display dan loket yang menjual coklat, tapi suasana di dalamnya gelap, tidak beroperasi dan tidak ada petugas. Cafe-nya pun tidak terlalu menarik, hanya menyajikan hot or cold chocolate saja. Sayang sekali, padahal bangunannya sudah dibikin niat banget, tapi pengelolaannya malah kurang maksimal.

Di pinggir pantai dibangun sebuah anjungan berbentuk kapal yang bisa dinaiki, terdapat pula sejumlah ayunan yang bisa dikayuh tinggi-tinggi sehingga menciptakan sensasi loncat ke laut. Tiba-tiba hujan rintik-rintik beralih ke hujan deras, membuat kami segera mengakhiri kunjungan dan lari tunggang langgang ke mobil. Sedianya setelah ini kami masih akan mengunjungi virgin beach, suatu pantai cantik berpasir putih, yang terletak cuma 10 menit dari sini, tapi berhubung hujan tidak menunjukkan tanda akan berhenti, pun anak-anak malah tertidur, terpaksa kunjungan dibatalkan dan kami langsung menuju ke hotel untuk istirahat.

The Nirwana Resort – Candidasa

Masih terletak di bilangan candidasa, suami saya yang pernah menginap di sini lah yang merekomendasikan pemilihan resort ini, karena katanya nyaman dan menyenangkan.  Jalan masuknya lagi-lagi masih berupa jalan tanah, kesannya terpencil 🙂

Memasuki area nirwana, terdapat sebuah paviliun luas yang merupakan lobby hotel. Setelah check in, kami dipandu oleh seorang porter menuju kamar kami, melewati sebuah kolam kecil berjembatan kayu.

IMG20180216173314

Kamar yang kami booking bertype deluxe garden view (maunya sih yang sea view tapi harganya mahal hehe). Cottage-nya bergaya etnik, walau bangunannya sudah modern dengan dinding bata, namun atapnya dan pilarnya berangka kayu, atapnya pun dilapisi ijuk. Furniture-nya juga bergaya etnik, tempat tidur yang berkanopi dan berkelambu, serta kamar mandi yang semi outdoor. Tiap cottage memiliki teras yang dilengkapi dengan kursi santai nyaman.

 

Restoran dan kolam renang terletak di pinggir pantai, walau di sini tidak ada areal berpasir seperti di bali shangrilla kemarin.

Yang paling juara memang suasana kolam-nya, kolam-nya cukup luas, dan walau tidak ada area khusus anak, namun cukup aman karena anak-anak bisa bermain di area trap-nya. Di sekeliling kolam disediakan sejumlah kursi malas dan juga sofa-sofa santai yang nyaman, kolam juga sangat teduh dengan naungan pohon-pohon, sangat menyenangkan duduk-duduk di sini.

Sarapan disajikan secara a la carte, dan rasanya pun enak.

 

Warung Padang Kecag – Candidasa

Menyandang sebagai no 1 of candidasa versi trip advisor membuat saya mengalokasikan waktu untuk makan malam di sini. Letaknya di jl mendira, yang bukan merupakan jalan utama candidasa, sehingga terkesan tersembunyi.

Bangunan padang kecag merupakan rumah panggung bergaya joglo, restorannya sendiri tidak terlalu luas, namun sudah ramai dengan wisatawan asing. Ada dua area makan, di dalam resto-nya atau bisa di bale-bale yang tersebar di taman.

Kami memesan gurame asam manis (95 K), gado-gado (50 K), pizza (75 K) dan capcay kuah (60 K), yah memang di candidasa ini sulit mencari restoran harga murah.  Rasanya ternyata memang enak, tidak salah dinobatkan sebagai primadona di trip advisor, pizza margaritha yang kami pesan, kejunya melted banget, sementara yang lainnya pun tidak kalah enak, walau porsinya tidak terlalu besar.

DAY 4 – CANDIDASA-SANUR

Hari terakhir liburan selalu membuat malas, ada perasaan masih tak rela karena liburan sudah usai. Sesudah sarapan dan puas berenang, kami check out dari the nirwana yang super nyaman.

Tenganan Ancient Village – Candidasa

Tenganan merupakan desa adat bali aga yang masih terjaga tradisi dan adat istiadatnya. Hanya ada tiga desa bali aga yang masih tersisa yaitu tenganan, trunyan dan sembiran. Lokasi nya hanya sekitar 15 menit perjalanan dari the nirwana.

Areal parkir yang disediakan ternyata besar dan dilengkapi dengan fasilitas toilet yang bersih dan terawat. Di area depan terdapat tugu dengan patung dua orang pemuda yang sedang melakukan ritual perang pandan yang merupakan adat desa tenganan. Di sebelah kanannya terdapat sebuah galeri yang memajang lukisan dan foto-foto desa adat tersebut. Tidak ada tiket masuk, kita cukup mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya.

Desa adat tenganan dibangun dengan pola garis bujur lurus, dua ruas jalan selebar 1,5 m yang sudah dilapisi oleh bebatuan, dua ruas jalan tersebut mengapit bangunan-bangunan yang merupakan fasilitas umum misalnya bangunan bale pasar, tempat menenun, bale memasak dll. Sementara tempat tinggal pribadi terletak di kanan kiri jalan, dengan dinding gapura berornamen bali. Desa tenganan ini terletak di lahan berkontur, tapi sudah sangat rapi karena sudah dilengkapi dengan anak tangga atau ramp dari bebatuan.

Para penduduk desa tenganan memiliki mata pencaharian sebagai petani, dan beberapa di antaranya adalah pengrajin. Produk yang terkenal dari desa ini adalah kain pegringsingan, suatu kain tenun khas adat bali aga. Hampir setiap rumah juga menjual kain pegringsingan ini dan bahkan kita pun bisa melihat proses pembuatannya.

20180217_102421
Salah satu dinding gapura rumah penduduk

Saat kami datang, para penduduk terlihat sedang sibuk mempersiapkan hidangan, di suatu bale besar terlihat mereka sedang memasak, yang uniknya justru dilakukan oleh kaum pria-nya. Kelihatannya akan ada suatu acara, sebagian sedang memarut kelapa, sebagian sedang menyembelih babi, sebagian lainnya sedang mengolah makanan. Semua penduduk masih berpakaian adat, yang laki-laki mengenakan sarung, sementara yang perempuan mengenakan lilitan kain.

20180217_102646

Buat yang agak parno sama anjing, mungkin bakal sedikit takut ya, karena di sini anjing berkeliaran bebas, mana besar-besar lagi. Terlihat pula deretan kandang ayam berisi ayam jantan sabung yang uniknya diwarnai dengan pewarna cerah. Kami juga sempat melihat para ibu yang sedang menenun kain.

Btw, di sini juga ada yang jual durian dengan harga super murah, karena terkait hukum adat, pohon durian tidak boleh dipanjat apalagi diperam. Durian boleh dipungut siapa saja apabila sudah jatuh, hasilnya durian tersebut matang sempurna dan sangat manis. Itupun dibanderol 10 – 15 K saja sebuahnya.

20180217_104332

Bakso Lapangan Tembok – Renon

Sepulang dari tenganan, kiddos langsung terlelap kelelahan, untunglah perjalanan dari daerah candidasa ke renon cukup lama, hampir 2 jam. Kami berhenti di bakso lapangan tembak, yang berlokasi persis di depan monumen bajra sandhi, untuk makan siang. Kebetulan bakso lapangan tembak di sini memiliki fasilitas musholla kecil, sehingga kami bisa shalat dzuhur dulu. Rasanya bahagia melihat menu makanan dengan harga standar setelah kemarin lumayan bangkrut di candidasa, haha. Soal rasa yah standarnya lapangan tembak, harganya pun sama.

Monumen Bajra Sandhi – Renon

Monumen bajra sandhi merupakan monumen sejarah perjuangan rakyat bali, bisa dibilang monas-nya Bali. Monumen ini dibetuk menyerupai lonceng yang dipakai dalam upacara keagaamaan umat hindu, bangunan ini merupakan perpaduan antara candi dan pura dengan ornamen rumit khas bali.

20180217_132033

Kami memarkir mobil di parkiran bakso lapangan tembak, dan langsung menyebrang jalan untuk meuju bajra sandhi. Setelah tiga hari kemarin terus menerus diguyur hujan, hari ini cuaca cerah dengan sedikit berawan.

Monumen bajra sandhi sendiri terdiri dari tiga tingkat yang masing-masing perimeternya dilengkapi dengan pintu gerbang. Basement-nya sekarang difungsikan juga sebagai museum 3D (htm-nya beda lagi ya). Tiket masuk monumen bajra sandhi adalah 25 K untuk dewasa dan 2 K untuk anak.

Melewati gerbang pertama adalah suatu areal luas, sedangkan tingkat kedua dilengkapi dengan kolam-kolam dan paviliun di masing-masing sisinya. Tingkat ketiga baru merupakan bangunan museumnya, terdapat suatu ruangan diorama yang menceritakan sejarah bali mulai zaman prasejarah hingga masa kemerdekaan indonesia. Diorama tersebut disusun melingkar mengikuti bentuk gedung.

Di tengah-tengah museum terdapat kolam luas berisi ikan koi dan di tengahnya terdapat tangga melingkar hingga ke puncak bajra sandhi di mana kita bisa melihat pemandangan renon dan pantai sanur dari ketinggian.

Serangan Turtle Conservation and Education Center

Selanjutnya tujuan kami adalah ke pulau serangan, yang merupakan pulau hasil pemekaran reklamasi di zaman Pak harto dulu. Pulau Serangan dulunya dihuni oleh para pelaut asal makassar sehingga tidak mengherankan kalau pulau ini juga merupakan komunitas muslim.

Ada beberapa spot menarik di pulau serangan, salah satu di antaranya adalah turtle conservation and education center yang merupakan pusat konservasi dan pengembak biakan penyu.

20180217_150618

Tidak ada tiket masuk di sini, hanya donasi 5K/orang untuk dana konservasi. Kami dipandu oleh seorang guide untuk melihat sebuah kolam yang berisi penyu-penyu yang sedang dirawat, penyu di kolam ini adalah yang berhasil diselamatkan dari perdagangan liar. Kasihan sekali, karena ada yang termpurungnya pecah, ada yang kakinya hilang, ada pula yang ekornya tidak ada. Kalau sudah sehat dan siap, maka penyu-penyu ini akan dilepas kembali ke alam.

20180217_145008
Kolam perawatan

Kami juga diperlihatkan area penetasan telur penyu, dan kolam-kolam berisi pengembak biakkan aneka rupa penyu mulai dari yang kecil hingga yang besar.

Terdapat juga area berisi kura-kura, di mana kita bisa memberi makan kura-kura dengan kangkung yang sudah disediakan.

20180217_150034

Serangan Beach

Merupakan area pantai baru yang menajdi favorit para traveller terutama wisatawan asing, karena katanya asik buat surfing dan aktivitas air lainnya. Karena masih ada waktu, kami mampir sebentar untuk lihat seperti apa gerangan.

Pintu masuknya adalah sebelum jembatan yang menghubungkan pulau bali dengan serangan, di situ ada jalan selebar 3 m yang dilapisi lime stone dan diberi portal dengan penjaga. Hanya perlu bayar biaya parkir sebesar 5 K.

20180217_162540
Jalan menuju pantai serangan

Letaknya lumayan jauh dari portal tadi, apalagi karena jalannya masih lime stone jadi kami harus berjalan pelan. Suasana masih sepi, banyak kebon-kebon dan sapi merumput. Sesekali kami bertemu dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Akhirnya sampai juga kami di bibir pantai, sudah ada beberapa warung sederhana berdiri, dan memang benar kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan asing. Pantai serangan ini berpasir putih dan halus dengan ombak yang tidak terlalu besar. Banyak wisatawan yang ber-surfing ria atau main kano air di sini.

Masjid Nurul Huda & Krisna – Tuban

Walau mayoritas penduduknya adalah pemeluk hindu, namun di Bali terdapat sejumlah masjid dan musholla. Salah satunya adalah masjid nurul huda yang terletak sebelum pintu masuk ngurah rai airport, tepatnya di depan taman satria gatotkaca dan bersebelahan dengan Gereja Ecclesia.

Setelah itu kami beranjak ke Krisna, toko oleh-oleh serba ada favorit kami, yang terletak di Tuban, 5 menit saja dari bandara. Selain variannya banyak, harganya pun murah.

 

 

Advertisements
Posted in Bali, Indonesia

Bali Timur (Bagian 1)

Kenapa Bali Timur??

Bali timur memang kurang populer bagi wisatawan lokal, namun jangan salah, pesonanya tidak kalah. Sebagai bekas daerah kerajaan klungkung dan karangasem, Bali timur memiliki sejumlah pura, istana dan lokasi bersejarah. Selain itu pantai-pantainya pun menawarkan panorama yang tidak kalah indah, sejumlah titik diving dan snorkeling tersedia, belum lagi desa adat bali aga yang masih terjamin keasliannya.

DAY 1 (UBUD)

Kenapa ke bali lagi?? sebenarnya karena gunung agung yang meletus oktober-november lalu. Tadinya memang itinerary sudah disusun untuk mengunjungi bali timur, namun akibat gunung agung, akhirnya dialihkan ke ubud-sanur. Sayangnya hotel-hotel yang sudah terlanjur di-booking semuanya non refundable, hanya boleh dipindahkan jadwalnya saja sampai batas akhir maret 2018. Makanya daripada hangus, saya memutuskan kembali pas bulan februari, kebetulan ada long weekend.

Siang itu mendung tebal menggelayuti Halim Perdana Kusuma, penerbangan kami yang seharusnya dijadwalkan pukul 13.40 delay 1 jam. Menjelang keberangkatan, hujan deras mengguyur kawasan bandara, mengakibatkan petugas harus mengantarkan penumpang satu persatu dengan payung ke tangga pesawat, maklum belum ada fasilitas garbarata di sini. Di sela antrian, tiba-tiba perut pake drama minta ke toilet, buru-buru saya lari ke toilet untuk menuntaskan hajat dan tiba paling terakhir di pesawat. Pesawat take off dengan mulus dan penerbangan berjalan lancar walau diselingi dengan cuaca buruk di beberapa titik.

Kami mendarat sekitar pukul 17.40 WITA, agak terlambat karena pesawat sempat berputar-putar dahulu dikarenakan ada sedikit masalah di runway Ngurah Rai. Begitu mendarat kami langsung mencari musholla untuk menunaikan shalat ashar, alhamdulillah persis di gerbang kedatangan ada musholla yang cukup besar, terpisah pula antara pria dan wanita. Saya segera menelpon suami yang ternyata masih terjebak kemacetan di sunset road, ada hikmahnya juga sempat delay karena ternyata tadi suami juga belum tuntas pekerjaannya, sehingga kami tidak menunggu terlalu lama. Pukul 18.10 akhirnya suami tiba dan kami meninggalkan bandara ngurah rai menuju ubud.

IMG20180214175908
Di belakang patung ini lah area musholla berada

Perjalanan menuju Ubud sekitar 2 jam, dengan kondisi jalanan yang sepi dan lengang. Sebelum check in ke hotel, kami mampir sebentar ke salah satu restoran di bilangan ubud untuk makan malam. Tadinya rencana mau makan di janggar ulam yang katanya salah satu restoran bernuansa sawah yang enak dan murah, tapi ternyata satu resto penuh sudah di-booking untuk acara valentine (hadeuuuh baru nyadar juga kalo palenten-pelentinan). Akhirnya kami makan lagi di bale udang mang engking yang sudah ketauan enak rasanya dan sudah beberapa kali kami datangi.

Bale Udang Mang Engking – UBUD

Bale udang Mang Engking ini sudah pernah saya bahas di blog sebelumnya. Letaknya di jl raya goa gajah, mudah dicari karena plangnya besar. Baru kali ini ke sini di malam hari (biasanya siang), pencahayaan di restoran cukup terang dan karena sedang suasana valentine, bale-bale nya dihias meriah dengan tirai, lampu gantung, taplak meja dan payung hias yang berornamen hati, untung warnanya bukan pink, melainkan merah dan oranye. Banyak pasangan yang sedang candle light dinner di sini, di meja pun tersedia selebaran valentine package yang dibanderol 600 K (atau 500 K ya?).

Kami memesan hidangan gurame nyat-nyat (pilihan orang tua, nyat-nyat merupakan sajian bumbu khas bali, dengan dominasi rasa kencur yang kuat), gurame bakar madu (kalau di mang engking rasanya manis dengan sedikit pedas), jamur goreng tepung dan tumis kangkung. Sayangnya kali ini agak mengecewakan, selain waktu masak yang terbilang lebih lama dibanding biasa (padahal biasanya nggak sampai 30 menit), saat disajikan kondisi masakan sudah dingin semua, bahkan jamurnya sudah nggak crispy lagi. Mungkin masakan sudah siap dari tadi tapi malah baru diantarkan.

Sapu Lidi resort spa and gallery – UBUD

Sebelumnya saya sudah pernah menginap di sapu lidi yang ada di lembang – bandung, makanya begitu tahu di bali juga ada cabangnya, saya langsung tertarik mencoba. Letaknya di jl pengosekan, sekitar 2 km dari bale udang mang engking, hampir saja terlewat jalan masuknya karena papan penunjuknya tidak terlalu besar.

Tempat parkirnya lumayan luas dan agak temaram karena pencahayaannya minim. Setelah check in di lobby, kami diantar oleh seorang porter menuju kamar. Kamar yang kami booking berbeda tipe-nya, satu superior double room, sedangkan yang satunya suite deluxe. Seperti sapu lidi lembang, sapu lidi di ubud juga dibangun dengan suasana yang sama, sepi, tenang dan menampilkan kesan remote area. Suasana ala pedesaan yang temaram dan jauh dari kebisingan sengaja diciptakan, sehingga walaupun lahannya mencapai 1.3 Ha, jumlah cottage yang dibangun tidaklah banyak dan letaknya agak berjauhan satu sama lain. Luas lahan didominasi oleh area persawahan dan danau (empang) alami. Bangunannya bergaya etnik dengan material vintage bergaya pedesaan, sengaja menimbulkan kesan “menginap di rumah kampung”, material dan furniturenya gaya lawas dan finishing-nya pun tidak rapi, misalnya plesteran yang bergelombang atau kayu kusen yang berkesan lapuk karena usia. Memang sih kalau sudah malam, gelap dan kesannya agak spooky, apalagi di tiap kamar ada lukisan yang beberapa agak bikin merinding. Tapi kalau buat bule-bule pasti jadi pengalaman yang seru.

Dari lobby kami melewati jembatan yang diberi kanopi melengkung dari bambu. Selepas itu kami melewati jalan setapak yang sepi dan gelap karena minim pencahayaan hingga tiba di kamar bertipe superior. Di kanan kiri-nya tidak ada cottage lain, ada pun hanya bangunan mess karyawan yang jaraknya sekitar 50 m. Kamar type superior ini luas dan isinya terbilang lengang, hanya didominasi oleh ranjang besar berkelambu putih yang di ujung bawahnya dilengkapi sofa bed, lumayan lah untuk keluarga dengan dua anak kecil seperti kami. Karena lantainya dari tegel jadi agak dingin, tapi untungnya di beberapa bagian dilapisi karpet empuk. Kedua sisi facade merupakan dinding kaca yang dilengkapi tirai, tutup tirainya rapat-rapat karena di luar lumayan gelap dan serem. Kamar mandinya sangat besar karena di dalamnya terdapat private pool indoor. Walaupun bergaya rumah kampung, kamar tetap dilengkapi AC, TV flat, cooler box dan teko elektrik. Di depan cottage terdapat teras kecil yang dilengkapi kursi untuk duduk-duduk santai.

Dari sini kami berjalan lagi sekitar 100 m lebih ke dalam untuk mengantar orang tua ke kamar satunya yang bertipe suite deluxe. Suite deluxe ini masih mending karena di kanan kirinya dekat cottage lainnya. Selain itu, ternyata fasilitas suite deluxe ini dibagi antara dua cottage bertipe sama. Setelah melewati bangunan kecil yang merupakan sharing living room (di mana terdapat bale-bale dan kursi meja) kita akan mendapati private pool outdoor (yang dilengkapi kursi santai) yang juga sharing dengan cottage sebelah. Sayangnya, cottage sebelah sudah ditempati oleh bule jadi kita nggak bisa minta upgrade.  Kamar ini luasnya kurang lebih sama dengan type superior , hanya kamar mandi nya semi outdoor dan dilengkapi bath tub, cuma kalo kata mama saya pas malam lumayan serem. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, kami pun bergegas tidur.

Keesokan harinya setelah tertidur lelap, pagi-pagi barulah kami berjalan-jalan mengelilingi kompleks resort sekalian olahraga. Kalau pagi begini barulah semua terlihat indah, pemandangan padi yang menguning disertai hawa sejuk segar yang tanpa polusi dan jauh dari kebisingan. Sesekali kami bertemu dengan para petugas hotel yang sedang menaruh sesajian. Selain private pool, tersedia juga public swimming pool yang letaknya agak tinggi, sehingga kita bisa mendapatkan pemandangan sawah yang menguning sambil berenang. Saat disuruh milih antara tiga pool, kiddos maunya pool yang di dalam kamar saja, alhamdulillah jadinya nggak repot tenteng-tenteng barang ke sana kemari. Pool di dalam kamar sebenarnya adalah pool dewasa, tapi karena ada sedikit anak tangga, kiddos bisa main dengan santai tanpa dipegangi. Puas berenang, kami menuju restoran untuk sarapan, karena kedua orang tua saya sedang shaum, kupon makannya kami pakai semua.

Letak restoran melewati public swimming pool, tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Makanan dihidangkan a la carte dengan pilihan asia, western atau continental. Selain menu ala carte, ada juga meja buffet berisi aneka pilihan roti, croissant, muffin, pancake, buah-buahan dan minuman. Sambil menunggu sajian datang, kami memperhatikan bebek-bebek yang sedang beraktivitas di sawah, terkadang ada beberapa kadal yang muncul dari pojokan. Saya perhatikan mayoritas pengunjung adalah orang asing, yah memang type resort begini pasti lebih digemari orang asing.

Setelah makan, kiddos minta ke kamar akung uti-nya, sementara saya dan suami memilih mengeksplor resort lebih jauh. Tidak jauh dari jembatan bambu yang kami lalui semalam, kami bertemu dengan sebuah bale-bale luas yang dilengkapi dengan tempat duduk nyaman dan setumpuk novel (yang sayangnya bahasa asing selain inggris, jadi foto saya sambil baca hanya pencitraan, karena novel yang saya pegang bahasa jerman). Di samping bale tersebut adalah danau luas yang sayangnya tidak dilengkapi perahu, karena kalau yang di lembang ada perahu yang bisa didayung mengarungi danau. Dari situ kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak yang melewati sejumlah cottage yang lucunya di setiap pintu masuknya dipasangi gawangan/kusen lengkap dengan daun pintu yang berdiri sendiri.

DAY 2 (KLUNGKUNG – CANDIDASA)

Puas menikmati suasana pedesaan di sapu lidi, kami check out dan meneruskan perjalanan ke arah timur menuju klungkung. Tujuan kami hari ini adalah mengunjungi kertha gosha dan pura goa lawah sebelum melanjutkan ke candidasa. Perjalanan menuju kertha gosha tidak terlalu lama, hanya sekitar 45 menit, medannya menanjak dan berkelok-kelok namun kondisi jalan mulus dan lebar.

Kertha Gosha – Klungkung

Walau sudah tidak ada memori sedikitpun, dulu waktu kecil saya pernah tinggal tidak jauh dari pasar klungkung, yang letaknya dekat dengan kertha gosha. Papa dan mama pun banyak bercerita dulu di sini masih sepi, belum ramai seperti ini, bangunan saja dulu masih jarang dan jalannya juga belum beraspal rapi.

Kami parkir di sudut timur kompleks kertha gosha dan berjalan sedikit melewati patung catur muka di bundaran klungkung menuju pintu utama. Di sana sudah menyambut seorang Bli yang merupakan pemandu wisata, beliau menunjukkan letak loket tiket yang rupanya malah ada di seberang jalan, tepatnya di samping monumen puputan klungkung. Monumen puputan klungkung didirikan untuk mengenang sejarah puputan, pertempuran habis-habisan, antara rakyat klungkung melawan penjajah belanda. Harga tiket masuk kertha gosha adalah 12 K untuk dewasa, dan 5 K untuk anak.

IMG20180215120630
Monumen puputan klungkung

Kompleks kertha gosha sendiri merupakan peninggalan kerajaan klungkung yang masih tersisa setelah hampir semuanya dibumi hancurkan oleh Belanda pasca kekalahan kerajaan klungkung. Ada tiga bangunan peninggalan yaitu bale kertha gosha, bale kambang dan gapura medal agung plus satu bangunan museum yang dulunya merupakan sekolah zaman belanda.

Begitu memasuki kompleks kertha gosha, kita akan langsung bertemu dengan bale kertha gosha yang terletak di penjuru timur. Bale kertha gosha merupakan bangunan yang letaknya lebih tinggi dari sekitar, untuk mencapainya kita harus menaiki sejumlah anak tangga. Bale kertha gosha zaman kerajaan klungkung dahulu difungsikan untuk tempat diskusi para pembesar kerajaan dalam masalah kesejahteraan rakyat, digunakan juga untuk menyambut tamu kenegaraan. Langit-langit kertha gosha dihiasi lukisan wayang bergaya kamasan dengan lakon Bima (Mahabrata) yang mencari kedua orang tuanya ke dasar neraka untuk kemudian mengantarkannya ke nirwana. Dalam lukisan tersebut digambarkan pemandangan neraka dan terus hingga ke puncaknya dekat bubungan atap adalah nirwana. Selanjutnya di zaman Belanda, bangunan ini justru difungsikan untuk pengadilan, di mana terdapat replika satu meja yang dikelilingi 6 kursi, 3 berukir naga untuk regent (raja boneka), panitera dan pegawai belanda, sementara 3 yang berukir lembu untuk para pendeta.

Dari kertha gosha kami menuju bale kambang, yang justru lebih populer dan muncul foto-fotonya kalau kita meng-google kertha gosha, bale kambang ini adalah suatu bangunan tinggi yang dikelilingi taman air yang disebut taman gili. Untuk menuju bale kambang kita harus melewati jembatan dari bata merah yang dihiasi ukir-ukiran ala Bali. Langit-langit bale kambang juga dihiasi gambar wayang kamasan. Saat kami sampai di sini, hujan turun amat derasnya, sehingga cukup lama kami duduk-duduk sambil menunggu hujan berhenti. Untunglah bale kambang sangat bersih kondisi lantainya dan tritisan atapnya tidak menyebabkan tempias, sehingga cukup nyaman. Pukul 12.00 WITA tepat terdengar suara brahmana dari pengeras suara di monumen puputan yang melantunkan puji-pujian yang menandakan dimulainya ibadah siang hari.

Setelah hujan reda, kami berjalan untuk melihat gapura medal agung yang dulunya merupakan pintu gerbang kerajaan klungkung. Gapura medal agung merupakan gapura besar berornamen bali yang tersusun dari bata kemerahan. Di sebelah barat terdapat museum semarajaya yang menyimpan koleksi benda-benda peninggalan kerajaan klungkung, sayangnya kami tidak mampir ke dalam karena kiddos sudah ribut minta makan dan rewel bukan kepalang.

IMG20180215114853
Museum Semarajaya
20180215_122239
Gapura Medal Agung

Kunjungan kertha gosha menambah wawasan akan sejarah perjuangan nusantara, dan kemarin hampir semua wisatawan yang berkunjung justru adalah wisatawan asing (kecuali kami), entah kenapa wisata sejarah seperti ini kurang diminati padahal nilai historisnya besar sekali.

Masjid Agung Al Fatah & Lalapan Cak Komek – Klungkung

Persis di belakang kompleks kertha gosha, berdirilah suatu masjid yang cukup besar bernama masjid agung al fatah. Daerah ini memang merupakan kampung jawa sehingga tidak mengherankan kalau terdapat komunitas muslim, masjid dan beberapa rumah makan ala jawa.

Masjid al fatah terletak di jl teratai, bukan jalan utama, dan tidak memiliki tempat parkir, sehingga kalau mau shalat harus parkir mepet di pinggir jalan. Setelah menunaikan shalat dzuhur, kami mampir ke lalapan cak komek, suatu warung makan lesehan sederhana, yang menyajikan menu pecel lele dan rupa-rupa ala jawa. Rasanya enak, standar pecel lele, dengan harga yang tidak wajar, ayam goreng 15 K, lele 9 K, nasi 3 K.

Pura Goa Lawah – Kusamba

Dari kertha gosha, kami mengarahkan mobil ke arah timur, menuju destinasi selanjutnya yaitu pura goa lawah yang terletak di pantai kusamba. Memasuki jl ida bagus mantra, topografi kembali datar, dengan pemandangan pinggir laut dan kondisi jalan 4 jalur dengan naungan pohon-pohon besar. Hujan kembali mengguyur dengan lebatnya, hanya butuh waktu sekitar 15 menit hingga tiba di goa lawah.

Siang itu, pura goa lawah tidak terlalu ramai, hanya ada 3 mobil lagi selain kami, yang semuanya lagi-lagi adalah wisatawan asing. Karena baby b malah tertidur, dan kebetulan orang tua saya juga sudah pernah berkunjung ke sini, jadinya hanya saya, suami dan baby g yang turun. Karena hujan sedang deras-derasnya, kami membawa payung yang sayangnya karena cuma payung kecil, tentu tidak cukup untuk bertiga, beruntung di loket tiket kami dipinjamkan satu payung lagi oleh penjaga. Tiket masuknya 6 K + 4 K untuk penyewaan sarung.

Pura goa lawah merupakan salah satu pura suci di Bali, sehingga pengunjung diharuskan memakai kain walau bajunya sudah tertutup seperti saya. Selain itu, pengunjung wanita yang sedang datang bulan pun juga tidak diperbolehkan memasuki kawasan pura.

Ada tiga gerbang masuk sebelum mencapai lokasi utama pura. Kesemuanya terbuat dari batu hitam. Pintu gerbang ketiga adalah yang termegah, terdiri atas tiga pintu masuk yang semuanya berukir keemasan.

Pura goa lawah terkenal dengan sebutan bat cave, karena pura tersebut terletak di sebuah ceruk goa yang mana dihuni oleh ribuan kelelawar. Di mulut goa, sudah terlihat kelelawar yang bergantungan dan sedang tidur siang. Hanya para umat hindu yang ibadah yang diperbolehkan memasuki goa, lainnya tidak. Tidak lama kami melewatkan waktu disini, dikarenakan hujan deras tidak berhenti mengguyur.

 

Bali Shangrilla Beach Club – Candidasa

Hotel yang kami booking selanjutnya berada di kawasan candidasa, candidasa terkenal dengan pantainya, yang berbeda dengan daerah bali selatan yang sangat ramai, justru merupakan pantai yang sepi dan tenang, pantai ini justru terkenal di kalangan wisatawan asing karena merupakan titik diving dan snorkeling yang bagus. Pantainya merupakan pantai pasir hitam dengan aliran ombak yang tenang sehingga cocok untuk wisata keluarga.

Hotelnya sendiri terletak di jl puri bagus, sedikit melipir dari jalan utama candidasa-bugbug, tidak jauh dari icon terkenal candidasa yaitu kolam bunga lotus di pinggir pantai (yang sayangnya saat ke sana kemarin masih pada kuncup semua).

Bali shangrilla beach club merupakan hotel kecil yang menyenangkan, hanya terdapat sejumlah cottage dan bangunan kecil bertingkat tiga, memiliki kolam renang kecil dengan pemandangan pantai dan juga sebuah area berpasir pinggir pantai yang bisa dipakai untuk bermain ombak. Bali shangrilla beach club juga menawarkan aktivitas diving atau snorkeling, bahkan cooking class di hari-hari tertentu.

Kamar yang kami booking berbeda type, satu superior sedangkan satunya lagi one bedroom suite. Secara kelas, one bedroom suite lebih tinggi dibanding superior, tapi karena bookingnya pisah, kebetulan dapet promo sehingga malah yang one bedroom suite-nya jau lebih murah. Tapi namanya masih rezeki anak soleh, ketika check in kami dapat free upgrade, sehingga keduanya jadi one bedroom suite.

One bedroom suite menempati cottage sendiri, dengan ruang tidur, living room, pantry dan teras. Fasilitas yang disediakan di pantry-nya terbilang lengkap, mulai dari ketel electric, microwave, perkakas pecah belah, peralatan makan hingga sabun cuci piring. Living roomnya dilengkapi dengan sofa panjang yang nyaman, ada dua TV yang disediakan, satu di living room sedangkan lainnya di ruang tidur. Begitu datang, waiter memberikan welcome drink berupa jus jeruk segar.

Kolam renangnya memang tidak terlalu besar, tapi memiliki dua area, satu untuk dewasa dan satu lagi untuk anak, jadi kami bisa leluasa membiarkan kiddos main sendiri di kolam renang. Disediakan pula sejumlah kursi santai untuk duduk-duduk sambil menikmati panorama pantai candidasa , ada juga bale khusus untuk layanan massage di pinggir pantai.

Makanan untuk breakfast disajikan secara a la carte, standar resort di bali, dengan pilihan asia/continental/western. Restorannya sendiri terletak di belakang kolam renang.

20180216_063717

Candidasa Beach

Karena di depan hotel ada area berpasir, jadi kami langsung main ombak di depan hotel saja, toh masih sama-sama pesisir pantai candidasa. Dari kejauhan terlihat gili tepekong yang bak ikan paus raksasa, merupakan spot diving dan snorkeling yang terkenal di candidasa, biota bawah laut dan viskositasnya pun masih bagus. Bikin mupeng tingkat dewa, karena kalau bawa kiddos tentu sulit mau snorkeling-an, apalagi entah kenapa kalau berkunjung ke sini waktunya selalu tidak tepat (versi saya).

Dari kejauhan juga terlihat pulau nusa penida (yang masih jadi bucket list). Dari pesisir ini, banyak nelayan yang menawarkan jasa penyebrangan untuk sightseeing atau snorkeling-diving.

Candidasa relatif aman karena ombaknya kecil, sebab sudah pecah di tengah laut akibat adanya beberapa pulau. Pasirnya juga halus walaupun berwarna kehitaman.

Joglo Restaurant & Bar – Candidasa

Memang bener kata suami saya yang pernah ke sini, sulit cari makan di candidasa. Orang tua saya kurang suka masakan western dan mereka juga bukan tipe yang seleranya high class, cukup sederhana yang penting enak dan halal. Sebagai traveller zaman now, tentunya saya mengandalkan review trip advisor dan zomato, restoram sih ada tapi hampir semuanya berkonsep bar & resto, mungkin karena kebanyakan pengunjungnya adalah wisatawan asing. Sepanjang di candidasa, saya  memang hanya sedikit bertemu wisatawan lokal, kebanyakan justru bule-bule atau wisman. Yang reviewnya bagus, misalnya vincent’s, hungry crocodile, the loaf atau crazy kangaroo, memang menawarkan masakan lokal dan asia tapi lebih banyak western-nya. Saya sampai muter-muter eksplor dulu dari ujung ke ujung tapi nihil, nggak ada warung sederhana macem pecel lele, warung seafood atau bakso, apalagi warung muslim, ada juga cuma JFC (semacam KFC KW).

Tersebutlah nama warung boni, yang cukup kondang di kalangan traveller, letaknya juga cuma 1 km dari hotel kami. Menurut review, warung boni ini enak dan harganya murah, tapi tempatnya kecil. Benarlah, saat kami tiba, semua meja (yang hanya terdiri dari 3-4 meja) memang sudah penuh semua. Bli Boni sendiri memang sangat ramah, beliau menjelaskan bahwa kebanyakan memang sudah reserved sehari sebelumnya dan bahkan berkali-kali minta maaf ke kami karena restorannya penuh.

Kami mengarahkan kembali mobil ke jl raya candidasa dan bertemu dengan warung wayan, yang dari plangnya menyajikan aneka masakan lalapan, tapi sayangnya saat kami datang hanya tersisa ayam saja, tidak ada lainnya. Kembali mengandalkan zomato, saya teringat ada review mengenai Joglo Restaurant & Bar di dekat Ashyana Resort, setelah meneliti sejenak menu di zomato, kami langsung menuju ke sana.

Sesuai namanya, bangunan restoran ini bergaya joglo dengan konsep semi open, restoran tersebut dihiasi dengan pernak-pernik khas jawa seperti lampu gantung, lukisan wayang, dinding gebyok dan lain-lain. Pencahayaannya dibuat temaram dan suasananya tenang, tidak ada live music, hanya alunan rindik dari pengeras suara.

Joglo menyajikan menu indonesia, asia dan western. Kami memesan cap cay seafood (60 K), gado-gado (55 K), pepes mahi-mahi (75 K), soto ayam (50 K) dan chicken gordon blue (73 K), agak pricey dan lumayan bikin bangkrut :), namanya juga kebanyakan yang datang wisatawan asing. Rasanya lumayan enak, walau platingnya dibuat ala masakan western, misal gado-gado yang ditata ala salad dengan bumbu kacang terpisah (dan sedikit pula bumbunya).

Yang lucu, kami sempet kenalan dengan suatu keluarga dari jerman dengan anak lelakinya (his name is maurice?or moritz ya kalo jerman) yang menempel baby b dan baby g mulu, mungkin karena kesepian dan butuh teman main ya. Namanya juga bocah , lucu aja walau satu ngomong pake bahasa inggris sementara yang dua pake bahasa indonesia :).

Posted in Bali, Indonesia

Review Hotel di Bali : Biyukukung Suite & The Kirana Ungasan

Karena tujuan jalan-jalan ke Bali kali ini adalah untuk nyenengin orang tua, maka sebelum berangkat saya sudah rempong cari penginapan yang kira-kira cocok dengan selera orang tua saya. Namanya juga orang tua, biasanya suka penginapan model resort dengan pemandangan alam yang indah, maka setelah bandingin sana sini, saya memilih biyukukung suite and spa yang berlokasi di Ubud dan The Kirana Ungasan yang berlokasi di Ungasan.

BIYUKUKUNG SUITE AND SPA

Rada galau menentukan penginapan di Ubud, alasannya hampir semua bagus, harganya juga variatif. Akhirnya saya memilih Biyukukung Suite, alasannya selain karena bagus, deket pula dengan sejumlah tempat wisata dan sebelahan dengan bebek bengil.

Well, sebelumnya mengingatkan saja bahwa banyak penginapan di ubud mulai dari yang kelas melati sampai yang resort berbintang tidak memiliki akses parkir yang memadai. Mungkin karena dari awal, pola tata letaknya sudah sedemikian rupa, apalagi mayoritas wisatawan yang menginap di ubud adalah wisatawan asing yang mana mereka menyewa motor, jadi lahan parkir yang disediakan kecil, imbasnya banyak kendaraan terutama mobil yang diparkir di badan jalan.

IMG-20171101-WA0059
Jalan menuju resort

Untuk memasuki Biyukukung, kita harus melewati jalan setapak pendek yang hanya cukup dilewati satu mobil. Area parkirnya pun hanya cukup untuk dua mobil saja, jadi kalau tidak dapat parkir ya harus siap-siap parkir di lahannya bebek bengil. Lobby resepsionisnya sendiri hanya kecil dan terbilang sederhana, tidak mengesankan reputasinya sebagai resort berbintang. Tapi begitu melewati jalan setapak di belakang resepsionis, kami langsung disuguhi pemandangan lembah dengan hamparan sawah nan luas yang dijejeri bangunan cottage di kanan kirinya, cantik banget. Areanya sangat luas, kolam renangnya saja ada tiga, satu di samping restoran, satu di area cottage modern dan satu lagi di area cottage bambu. Lumayan olahraga-lah untuk mencapai letak kamar kami yang agak di ujung, tapi hawa sejuk dan pemandangan sawah ala ubud yang cantik menghampar membuat kami lupa. Cuma harus sedikit berhati-hati saja karena konturnya menurun, takut kepleset undakan. Oh iya, jalan setapaknya juga stroller friendly lho, selain undakan, disediakan juga ramp untuk stroller atau koper.

Tiap cottage terdiri atas dua lantai, dan walaupun bersebelahan, cottage orang tua terletak di lantai satu, sementara cottage kami di lantai dua. Di sebelah cottage tersedia juga bale-bale nyaman untuk tempat nongkrong. Tersedia pula sejumlah hammock untuk bersantai sambil tidur-tiduran.

IMG_2265

Kamarnya cukup luas dengan fasilitas standart resort. Dari balkon kita bisa melihat pemandangan yang tersaji sambil menikmati welcome drink yang sudah disajikan.

Restoran untuk breakfast terletak di belakang resepsionis, dan terdiri dari dua tingkat. Breakfast disajikan secara a la carte lewat pilihan menu indonesia/western/continental.

THE KIRANA UNGASAN

Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat foto-foto resort ini di web agoda, pondok etnik bergaya sasak yang membingkai pemandangan teluk dreamland dari ketinggian, pokoknya cantik banget. Langsung saja saya mem-booking dua kamar ber-type sea view, biar pemandangannya dapet.

Jalan masuknya agak tricky, karena berupa gang sempit yang hanya muat satu mobil dan papan penunjuknya kecil, jadi sempet kelewat . Persisnya adalah satu gang persis sebelum max one hotel. Lobby resepsionis nya berupa pondokan batu bergaya bali, dan selepas itu kita akan melewati jalan setapak melingkar hingga mencapai pondokan yang sudah di-booking. Nggak salah saya memilih tempat ini, pemandangannya indah banget, Tujuh pondokan bergaya sasak yang terbuat dari kayu dan bambu, mengapit sebuah kolam renang dengan pemandangan teluk dreamland di kejauhan. Ada juga beberapa pondokan lain yang menghadap ke arah taman, namun tentunya pemandangannya tidak seindah yang menghadap laut.

Pondokan sendiri terdiri atas dua tingkat, tingkat pertama berupa bale-bale yang bisa digunakan untuk duduk dan nongkrong santai sambil ngopi-ngopi. Sementara tingkat kedua merupakan ruang tidur yang dilengkapi dengan balkon dan kamar mandi. Tangganya lumayan curam, tapi tetap aman karena dilengkapi railing dan terbuat dari kayu yang tidak licin. Kiddos langsung happy banget dan bolak-balik naik turun tangga dan pindah dari pondokan kami ke pondokan akung-uti nya.

Kolam renangnya memang tidak terlalu besar, tapi sesuai lah dengan okupansi kamar. Sementara breakfast juga disajikan secara ala carte, restorannya tidak terlalu besar dan menghadap ke arah timur, jadi pas pagi-pagi matahari-nya lumayan langsung menyorot :).

 

Posted in Bali, Indonesia

Review Hotel di Bali : Kuta Central Park & Astana Pengembak Sanur

KUTA CENTRAL PARK

Sesuai dengan namanya, Hotel ini memang terletak di kawasan Kuta, walaupun masih relatif jauh dari bibir pantai. Kami memang sengaja memilih hotel ini, yang terletak di luar zona macet kuta, agar tidak sulit ke mana-mana.

Hotel ini ada di dalam kompleks ruko, dari jauh bahkan nggak kelihatan berbentuk hotel, karena bangunannya tidak bertingkat tinggi dan tidak memiliki signage yang menonjol. Parkirnya pun jadi satu dengan pengunjung ruko, bagusnya sih parkirannya sangat luas, bisa di mana saja,  tapi kesannya nggak privat.

Lobi hotel tidak terlalu luas dan harus jeli melihatnya karena penandanya tidak begitu besar. Lobinya bergaya minimalis dan didominasi warna putih dengan aksen ungu  tua. Setelah check in, kami menerima kunci kamar, kartu parkir gratis dan welcome drink berupa orange juice segar. Untuk masuk ke kawasan hotel, kami harus menempelkan kartu ke sensor yang terpasang di pintu. Begitu masuk kami disambut pemandangan pool bar dan kolam renang berbentuk memanjang yang dikelilingi oleh bangunan hotel. Kolam renangnya sendiri ada yang untuk anak dan dewasa.

23023644
Kuta Central Park (sumber:booking.com)

Kamar yang kami booking bertipe triple standart, dengan isi satu double bed dan satu single bed. Karena memang type standart ya fasilitas dan kondisi kamar juga standart :), walau tetap nyaman dan bersih. Kamar tersebut tidak memiliki jendela apalagi balkon.

kuta-central-park-hotel
Kamar triple standart (sumber : tripadvisor.com)

Restoran untuk breakfast tidak terletak dalam bangunan yang sama, letaknya ada di sebelahnya. Menunya cukup bervariasi dan enak, disajikan secara buffet, restorannya juga luas. Cuma saat kami datang, di hotel ini ada rombongan grup tur lokal (yang sepertinya dari perusahaan yang sedang family gathering), jadi agak sedikit rebutan makanan dan antrian omelete atau pancake jadi panjang.

kuta-central-park-hotel (1)
Restoran kuta central park (sumber : tripadvisor.com)

Overall, saya cukup puas menginap di sini, letaknya masih di kawasan perkotaan jadi mudah mencari tempat makan, pas di depan hotel ini ada nasi pedas ibu andika, kfc dan hokben dekat, restoran seperti bale udang mang engking juga dekat. Service petugasnya juga bagus, mereka cukup sigap dalam melayani dan menjaga kebersihan kamar, tiap hari sepulang bepergian kamar sudah rapi dan bersih kembali (maklum kami stay 4 hari di sini). Cuma ya seperti tipikal hotel di kawasan kota, tidak ada pemandangan indah yang tersaji.

ASTANA PENGEMBAK SANUR

“Kok namanya astana sih? kalo dalam bahasa jawa kan artinya makam” ujar papa saya yang jawa totok, maklum lah bagi orang jawa, nama itu do’a dan harapan, jadi perkara sepele seperti ini saja sudah bikin si papa kurang sreg dan ngoceh sejak memasuki area parkir. Padahal kan kali aja kalau dalam bahasa bali artinya bagus ya.

astana-pengembak-suite
Astana Pengembak (sumber:tripadvisor.com)

Astana pengembak terletak di jl pengembak, area sanur, dekat dengan pantai mertasari. Lokasinya memang agak masuk dari jalan raya besar, namun tetap bisa dimasuki dua mobil. Setelah turun dari mobil, saya segera menuju meja resepsionis untuk check-in, siang itu kondisi masih lengang, hanya ada satu resepsionis (pria) yang bertugas. Saya menunjukkan print tanda booking dua kamar, agak lama sang resepsionis memproses check in karena katanya mesin fotokopi sedang rusak, jadi dia bolak-balik.

Entah kenapa saya tidak melihat concierge satu pun, jadi kami membawa sendiri koper-koper kami ke lantai 2, tempat kamar kami berada, apalagi si resepsionis bahkan nggak menawarkan jasa buat bawain koper kami. Selesai menunjukkan dan membukakan kamar, si resepsionis beranjak pergi, meninggalkan saya yang melongo karena hanya diberi satu kamar, padahal kami booking dua kamar. Langsung saya menyusul dan komplain kalo booking-nya dua kamar, setelah diteliti barulah saya diberi kunci untuk kamar satunya lagi (yang letaknya bersebelahan), huuh.

Astana pengembak ini bertipe hotel apartemen, jadi kamarnya luas dan fully furnished layaknya apartemen type studio. Selain mini living room, juga ada kitchen set dan walk in closet-nya juga. Kekesalan akibat check in tadi langsung menguap begitu melihat nyamannya kamar kami, AC pun dingin sekali dan membuat mata langsung mengantuk. Kamar ini juga ada balkonnya yang dilengkapi dengan kursi dan meja santai. Dari balkon terlihat kolam renang berbentuk persegi panjang yang diteduhi pepohonan.

Dining-area-One-Bedroom-Apartment-e1374550322794
Kamar di Astana Pengembak (sumber:astanapengembak.com)

Yang kurang dari hotel ini adalah staff-nya, kurang sigap, jadi ceritanya saat saya datang, di depan pintu kamar sebelah itu ada peralatan makan kotor (sepertinya sehabis sarapan), sampai sore saat saya akan berangkat ke pantai sanur, itu piring belum diambil juga, bahkan sampai malamnya saya pulang lagi, piringnya masih awet aja teronggok. Barulah setelah saya komplen ke resepsionis, piringnya disingkirkan.

Sayangnya saat esok pagi akan berenang, kolam renang malah sedang maintenance dalam rangka pembersihan. Karena tidak bisa berenang, kami langsung menuju ke restoran untuk breakfast, sistemnya ala carte, di mana kita diberi kertas berisi pilihan menu, mau yang indonesia, continental atau western. Satu set menu sudah sangat mengenyangkan, contohnya untuk menu ala indonesia satu set terdiri nasi/mie goreng + telur (omelet/sunny) + juice + kopi/teh + buah potong.

Memang seperti layaknya hotel yang terletak di perkotaan, areal hotel tidak terlalu luas, dinding sebelah juga sudah mentok hotel lain :). Tapi overall, saya cukup merekomendasikan hotel ini kalau mau menginap di daerah sanur, dekat dengan pantai mertasari, juga dekat dengan sejumlah restoran.

 

 

 

Posted in Bali, Indonesia

Bali Selatan : Never ending exploring

Uluwatu, Pecatu dan Ungasan yang terletak di kawasan Bali Selatan menyimpan berbagai potensi wisata, mulai dari barisan pantainya yang indah, pura-pura luhur, tebing-tebing tinggi hingga kawasan budaya. Kemarin kami sempat berkunjung ke beberapa di antaranya yaitu pantai dreamland, pantai pandawa, pura luhur uluwatu dan GWK Cultural Park serta tidak lupa mencicipi segarnya seafood di pantai Jimbaran.

DREAMLAND BEACH

Pantai dreamland terletak di dalam kawasan Pecatu Indah Resort, suatu kawasan luas yang terdiri atas berbagai resort dan hotel-hotel mewah. Untuk menuju kawasan dreamland kita harus melewati pintu gerbang kompleks pecatu indah resort yang megah dan melewati jalanan tertata rapi seperti ubahnya kompleks. Yang bikin bingung dan muter-muter hingga hampir kehabisan waktu adalah dikarenakan area parkirnya berbeda, pintu masuk dan parkir dekat pantai yang dulunya bisa diakses langsung sekarang ditutup. Sempet muter-muter sampe bingung karena hampir nggak ada orang yang bisa ditanya, walau area pecatu sangat luas, namun petugas keamanan ataupun petugas lainnya hampir tidak kelihatan.

Sempet curiga dengan suatu areal parkir besar di mana terdapat sejumlah bus wisata, tapi kok tulisannya parkir dreamland waterpark, lengkap dengan gambar waterparknya pula. Setelah melewati tempat ini sampai dua kali, akhirnya kami menyerah dan segera mendekat ke loket tiket karena hanya di sini kami melihat ada petugas. Ternyata bener di sinilah parkirnya, jadi sekarang untuk ke dreamland, kita harus parkir di sini dan naik free shuttle car hingga mencapai dreamland.

Entah karena hari senin yang tampaknya tidak terlalu padat pengunjung, free shuttle car yang disediakan hanya ada satu, dan langsung diserbu wisatawan begitu datang. Perjalanannya tidak jauh, cuma sekitar 5 menit saja.

Setelah menuruni sejumlah anak tangga dan melewati dermaga berisi deretan kios cendramata dan cafe-cafe kecil, sampailah kami di bibir pantai dreamland. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 lewat sehingga kami segera berganti baju agar tidak keburu sunset dan gelap.

IMG_2533

Pantai dreamland sendiri merupakan pantai landai berpasir putih dengan ombak besar yang nyaman untuk wisata. Kawasan pantai cukup ramai dipadati wisatawan. Sayangnya hanya sebentar kami melewatkan waktu di sana karena sunset segera menjelang.

Disediakan kamar bilas sederhana yang masih dikelola warga untuk mandi, tarifnya 10 K/orang. Dari kawasan pantai dreamland, kami kembali berebutan naik shuttle car dengan wisatawan lainnya menuju tempat parkir.

PURA LUHUR ULUWATU

Pura luhur uluwatu terletak sekitar 30 menit dari hotel kami di bilangan Ungasan, jam 10 kami baru berangkat setelah leha-leha di kirana ungasan yang pemandangannya super indah. Perjalanan menuju uluwatu melewati jalan yang relatif sepi dengan jalur sempit dan berkelok-kelok, di kanan kiri kami disuguhi pemandangan bukit cadas, sedikit mengingatkan pada daerah gunung kidul :).

Area parkir pura luhur uluwatu terbilang luas dan waktu kami datang, sudah dipadati banyak kendaraan. Tiket masuk seharga 20 K untuk wisatawan domestik, sebelum masuk, kami diharuskan mengenakan selendang/kain yang sudah disediakan petugas. Melewati gerbang, jalanan berlapis paving tersebut terus menurun hingga tiba di pagar beton memanjang yang membatasi dinding tebing.

Pura luhur uluwatu merupakan salah satu pura sakral di Bali yang menjaga arah mata angin selatan. Letaknya berada di tepi tebing tinggi yang berbatasan langsung dengan samudera hindia. Debur ombak dari lautan berwarna biru kehijauan terdengar kencang. Untuk mencapai pura-nya sendiri, kita diharuskan mendaki sejumlah anak tangga, walaupun medannya tidak terlalu berat namun kami mengurungkan niat mendaki tangga-tangga tersebut, dan lebih memilih menapaki jalur ke arah satunya.

Jalur tersebut membawa kami melewati jalur setapak yang rimbun dengan naungan pohon dan dihuni sejumlah kera yang agak liar dan nakal. Pas kami sampai di area tersebut, ada seorang anak bule usia sekitar 9-10 tahun yang menangis kencang karena sendalnya diambil monyet, kami pun langsung balik badan, daripada kena diisengin monyet juga.

IMG_2560

PANTAI PANDAWA

Karena masih banyak waktu, kami memutuskan mampir sebentar ke pantai pandawa yang sejalur dan tidak terlalu jauh dari uluwatu, kebetulan orang tua saya juga memang belum pernah ke sini.

Setelah melewati tebing-tebing hitam yang sudah dibelah, terhamparlah pemandangan pantai pandawa. Menurut saya highlight pantai ini justru pada signage besar-besar yang ditempel di tebing padas ataupun yang terletak persis di tikungan dengan pemandangan pantai di bawahnya.

Pantainya sendiri berpasir putih, namun terdapat sejumlah karang kecil di bibir pantainya, sementara ombaknya tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu cocok untuk bermain air. Aktivitas air seperti kano sangat populer di sini, disediakan juga sejumlah kursi pantai berpayung untuk duduk-duduk.

GARUDA WISNU KENCANA CULTURAL PARK

Dari Pantai Pandawa kami menuju ke GWK setelah sebelumnya mampir sebentar untuk makan siang di salah satu warung banyuwangi dekat GWK. Cukup lama kami berputar-putar untuk mencari parkir dikarenakan kebingungan akibat tata letaknya yang berubah. Kalau dulu, kendaraan bisa naik dan area parkir persis di depan entrance, sekarang areal parkir terletak di bawah, dekat dengan lokasi patung tangan dewa wisnu. Dari sini kita harus berjalan lagi cukup jauh (sekitar 400-500 m) hingga mencapai entrance, dengan medan yang makin menanjak, tentu menyulitkan untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami. Untungnya salah satu petugas memberitahu bahwa ada fasilitas shuttle car gratis untuk keluarga dengan anak kecil.

Setelah melewati entrance, kami segera menuju ke musholla untuk menunaikan shalat, musholla terletak dekat dengan toko cinderamata dan pintu exit. Karena tadi sempet muter-muter, waktu yang kami miliki terbatas sekali, sehingga kami terburu-buru meuju ke area wisnu plaza, tempat di mana patung kepala wisnu dan burung garuda berada. Area ini pun tidak lepas dari pengaturan baru, terdapat sebuah gerbang untuk scan tiket (lagi) sebelum masuk ke area kura-kura plaza. Setelah melewati gerbang scan, kita akan bertemu dengan petugas yang sudah menyiapkan kain untuk dipakai ke atas, alasannya ya karena di wisnu plaza terdapat sebuah mata air suci bagi umat hindu sehingga kita diharuskan berpakaian sopan.

Usai mengenakan kain, kami mendaki sejumlah anak tangga hingga sampai di wisnu plaza, karena ini sudah kunjungan yang kesekian, jadi kami hanya melihat-lihat sekilas saja dan kembali turun. Intinya di plaza wisnu terdapat patung dada wisnu dan mata air suci, juga ada patung dada garuda.

Lagi-lagi karena pengaturan baru, pintu keluarnya sekarang terletak di samping restoran bebek bengil, lumayan harus muter-muter dulu, melewati undakan tangga tempat plaza luas dan  dinding tebing hitam.

Setelah itu, kami segera bergegas menuju ke amphiteater untuk menonton pertunjukkan tari yang bertajuk Barong Keris dance, menceritakan dua saudara sakti mandraguna bernama sunda dan upasunda yang bermeditasi dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan mereka agar bisa menguasai dunia. Betara Indra yang mengetahui hal tersebut mengutus Bidadari Wilotama untuk mengganggu meditasi mereka agar gagal.  Tarian apik tersebut dibawakan selama kurang lebih 40 menit, di akhir pementasan kita bisa berfoto bersama para penari tersebut.

Setelah pertunjukkan tari, kami segera keluar dari kompleks GWK karena waktu yang dimiliki makin terbatas. Dari exit, kami menuju ke bagian informasi untuk minta dipanggilkan shuttle service menuju area parkir.

 

Posted in Bali, Indonesia

Sanur bukan cuma pantai

Sejak dulu sanur adalah pantai terkenal di Bali, kalau Kuta populer dengan sunset-nya, Sanur yang terletak di timur populer dengan sun rise-nya. Awalnya sanur sama sekali tidak masuk dalam daftar itinerary saya, namun dikarenakan situasi saat itu di mana kondisi gunung agung masuk level IV, membuat saya membatalkan kunjungan ke karangasem dan mengalihkan tujuan ke Sanur yang relatif lebih dekat. Siapa sangka ternyata daerah sanur sekarang memiliki sejumlah lokasi menarik, berdasarkan hasil googling akhirnya saya memilih berkunjung ke dream island resort di pantai mertasari dan big garden corner di perempatan padang galak, selain tentu saja tetap mengunjungi pantai sanur.

SANUR BEACH

Senja sudah hampir menjelang ketika kami tiba di pantai sanur, suasana di pantai sanur minggu sore tersebut sangatlah ramai dipadati wisatawan. Area parkir sudah penuh sesak oleh motor, sehingga mobil hanya bisa diparkir di luar gapura pantai sanur yang menjulang tinggi dan tersusun atas bata kemerahan. Di area sanur, tepat di samping hotel grand inna, terdapat sebuah masjid megah bernama Al Ihsan.

Dari parkir, kami berjalan lagi sekitar 100 m hingga tiba di bibir pantai yang sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Pantai sanur memang pantai yang nyaman dikunjungi, pasirnya yang berwarna putih dengan medan yang landai menjadikannya cocok dan aman untuk wisata keluarga. Senja itu ribuan pengunjung masih terlihat duduk santai atau bermain air sambil menunggu matahari terbenam sepenuhnya. Tidak ada biaya masuk untuk berkunjung ke pantai sanur. Setelah sejenak menikmati panorama pantai sanur, kami melangkahkan kaki menuju warung mak beng untuk menikmati sajian sop ikannya yang melegenda.

DREAM ISLAND RESORT

Dream island resort merupakan kawasan wisata pantai baru yang berada di pantai mertasari, sebelah selatan dari pantai sanur, tepatnya di ujung jalan pengembak. Pantai ini baru buka jam 09.00 pagi sehingga kami bisa santai leyeh-leyeh dulu di hotel yang hanya 5 menit jaraknya.

Pukul 09.00 tepat kami berangkat ke tujuan, tempat parkir yang disediakan sangat luas walau kelihatan masih belum 100% rampung. Mungkin karena waktu itu adalah senin pagi, suasana terlihat lengang, hanya terlihat beberapa mobil saja yang parkir, sisanya adalah sepeda yang rata-rata dibawa oleh bule. Terdapat sebuah jembatan kayu yang menghubungkan area parkir dengan kawasan pantai. Di ujung jembatan kayu berdiri arca ganesha dan loket tiket dari kayu. Tarif masuknya adalah 20K/orang, kiddos belum bayar.

Jalan setapak menuju kawasan pantai dilapisi paving block dan dinaungi oleh pohon cemara yang berbaris rapat. Di sana-sini disediakan kursi dan hammock untuk bersantai, terdapat juga playground berlantai playmate yang sayangnya belum diisi mainan apa-apa.

Di akhir jalan setapak, kami bertemu sejumlah bangunan dan area duduk yang bisa dipakai untuk duduk-duduk dan juga difungsikan sebagai restoran. Tiket masuk yang dibeli tadi bisa ditukar dengan segelas welcome drink berupa segelas sirup melon dingin dan sepiring kacang bali sebagai snack. Kalau masih lapar, bisa juga pesan makanan dari stall-stall yang berdiri di area ini atau langsung dari restoran. Di depan restoran disediakan sejumlah pouch empuk warna-warni dan signage besar bertuliskan di dream island resort. Di ujung kanan berdirilah sejumlah gubuk-gubuk cantik bergaya etnik yang difungsikan sebagai tempat massage. Bisa juga naik kuda atau unta untuk berkeliling area pantai ini. Berbagai pilihan aktivitas seperti kayak atau memberi makan hiu juga bisa dipilih.

IMG20171030093401
Gubug-gubug spa

Jam masih menunjukkan pukul 09.00 WITA namun matahari sudah panas menyengat kulit. Setelah kiddos berganti baju, mereka langsung berlari ke bibir pantai, namun siapa sangka permukaan pasir yang diinjak penuh dengan batu karang dan pecahan kulit kerang yang walaupun tidak tajam namun bikin kaki sakit. Akhirnya kami kembali dulu untuk memakai sendal.

Terdapat sebuah ayunan tengah laut seperti yang ada di gili trawangan, ombaknya relatif hampir tidak ada sehingga aman untuk disebrangi. Namun kami agak kecewa dengan kondisi perairan yang luar biasa kotor, warnanya kecoklatan, banyak sampah plastik berseliweran dan lumut yang tidak kalah banyaknya, bahkan saya berani bilang ancol saja masih mendingan. Tampaknya karena wisata ini masih dalam taraf pengembangan jadinya masih belum bisa maksimal, di sana-sini terlihat sejumlah pekerja yang sedang menyeroki lumut dan karang.

IMG20171030092833
Ayunan lepas pantai

Kondisi perairan yang tidak nyaman ditambah panas matahari yang menyengat membuat kami hanya bertahan sebentar dan langsung menuju ruang bilas untuk mandi dan berganti baju. Untunglah, fasilitas shower room dan ruang gantinya bagus dan bersih. Mungkin di waktu yang akan datang, kondisi di atas bisa lebih diperbaiki agar pengunjung bisa lebih nyaman karena saya lihat sudah potensial dan fasilitasnya pun bagus.

BIG GARDEN CORNER

Big Garden Corner adalah cafe baru berkonsep unik yang terletak pas sebelum traffic light perempatan padang galak. Cafe ini “dihuni” oleh ratusan patung dan replika candi yang membuatnya unik dan tidak boleh dilewatkan.

Area parkirnya saja sudah wah, dipenuhi oleh tiang-tiang batu kelabu yang berjajar rapi di salah satu sisinya, belum lagi beberapa patung dari ajaran buddha yang mengisi pelatarannya. Pintu gerbangnya berupa pergola dari kayu yang dihiasi ukir-ukiran cantik berbentuk barong dan naga. Tiket masuknya dibanderol 25 K/orang dan bisa ditukarkan dengan welcome drink, lagi-lagi kiddos belum bayar.

IMG_2436
Pintu gerbang big garden corner

Jalan setapak diapit oleh rerumputan gajah mini yang dipangkas sangat rapih, hampir di setiap sudut sejauh mata memandang terdapat patung-patung, patung-patungnya memang sangat beragam dengan aneka ukuran, campur antara ajaran hindu dan buddha. Di depan loket tiket berdiri rumah kelinci yang dihuni kelinci-kelinci lincah nan gemuk yang berlarian. Sementara perhatian baby G langsung teralih pada dua buggy car warna shocking pink dan orange yang diparkir di sudut kiri, dengan semangat dia langsung berlari untuk main setir-setiran. Sementara saya berjalan hingga ke ujung kiri dan menemukan salah satu dinding bergaya candi hindu.

Dari sini kami berjalan melewati jalan setapak yang salah satunya dipagari tiang-tiang batu kelabu, suasana di big garden corner sendiri sangat teduh karena dinanungi pepohonan. Di salah satu sisi terdapat lapangan luas berisi dua ekor gajah biru yang disusun dari ribuan kaleng soda bekas, menarik banget.

Tidak jauh kami bertemu rumah panggung dari kayu bergaya etnik yang bisa dimasuki, terdapat juga beberapa portal bunga berbentuk love yang menuju area penukaran welcome drink. Di sana-sini disediakan tempat duduk aneka rupa, mulai dari kayu hingga batu. Saya pun seolah bingung untuk memfokuskan pandangan karena selalu saja ada hal yang menarik, mulai dari patung sleeping buddha, patung dewa-dewa hindu, dinding candi, gapura-gapura bali, ayunan dll. Kami juga bertemu rumah pohon yang langsung didaki kiddos dengan penuh semangat.

Setelah kebanyakan berhenti, jepret sana jepret sini, sampai juga di area cafe dan restoran semi terbuka yang tidak kalah eye-catching-nya dengan area lain. Terdapat sejumlah pouch warna-warni yang dinaungi payung hias lebar, ada juga gazebo beratap dengan hiasan replika permen lolipop menjuntai dari langit-langit, latar belakangnya juga tidak kalah semarak, berhiaskan dinding candi bergaya hindu. Di belakang bangunan restoran, berdiri area playground yang diisi berbagai mainan anak. Karena belum waktunya makan siang, kami hanya memesan es krim cone yang ukurannya besar saja.

 

Selanjutnya saya dan suami meneruskan penjelajahan ke area belakang (kiddos dan ortu lebih memilih stay di area restoran). Setelah melewati sejumlah umbul-umbul warna-warni dan untaian lollipop yang diikatkan di dahan-dahan pohon, sampailah kami di miniatur borobudur. Miniatur tersebut bisa dinaiki dari sisi belakang. Tidak juah terdapat spot menarik lainnya berupa akar-akar pohon yang berbentuk sedemikian rupa seperti pergola memanjang, ada juga area duduk berupa sangkar burung berwarna putih.

Bagian paling belakang dari big garden corner diisi dengan kolam yang dilengkapi dengan tulisan big garden corner dan sejumlah undakan kayu yang bisa diduduki. Terdapat pula area duduk dengan sejumlah pouch warna-warni, portal batu ala stone henge, patung orang-orang warna-warni dan juntaian payung dari atap pergola.

Overall, kunjungan ke big garden corner pasti sangat memuaskan para instagramwan dan instagramwati karena banyaknya spot-spot menarik.

 

 

Posted in Bogor, Indonesia, West Java

Nge-Bogor Heula

Di suatu weekend, suami saya dan beberapa teman kantornya merencanakan untuk melewatkan akhir pekan bersama di Puncak. Karena masing-masing merupakan keluarga dengan anak balita, maka dipilihlah beberapa tempat wisata ramah anak, antara lain curug cilember dan taman matahari yang berlokasi masih di sekitar Megamendung plus kuntum farmfield di Tajur.

Kami janjian di rest area Sentul pukul 06.00 pagi dan setelah duduk-duduk sebentar di Cafe Alfamart sambil sarapan, kami meneruskan perjalanan. Btw, Alfamart di rest area ini tergolong lengkap jualannya, selain ada coffee shop yang juga bakery, di sini juga menjual bento box yang tinggal dipanaskan di microwave. Disediakan juga beberapa kursi dan meja untuk menyantap makanan.

CURUG CILEMBER

Sampai di exit gerbang tol Puncak, jalanan sudah mulai merayap dan ujung-ujungnya kami tetep kena one way, akhirnya barulah jam 09.00 jalur dibuka. Karena belum ada satupun anggota rombongan yang pernah ke Cilember (kecuali suami saya, itu juga udah lama banget), kami pun mengandalkan google map yang menunjukkan 3-4 lokasi berbeda untuk keyword “curug cilember”, yang kayaknya semuanya ngaco. Tidak jauh setelah melewati cimory riverside, ada belokan kecil ke kiri, suami saya pun bertanya pada tukang parkir apakah dari sini bisa ke cilember dan diiyakan. Jalanannya kecil dan sempit, kalau kebetulan berpapasan dengan kendaraan lain harus berhenti dan mepet-mepet. 10 menit kemudian kami melewati pintu belakang Taman Wisata Matahari, dari sini kami kembali bertanya ke penduduk sekitar dan ternyata masih sekitar 4 km lagi jauhnya. Jalanan terus menanjak melewati banyak vila-vila (yang disewakan) hingga akhirnya tibalah kami di lokasi. Tidak banyak petunjuk arah menuju Cilember, hanya ada satu plang kecil yang juga harus jeli melihatnya.

Parkir mobil terletak 50 m sebelum pintu masuk cilember, areanya cukup luas dengan tarif 10 K/mobil. Udara sejuk khas pegunungan menyambut begitu keluar dari mobil. Dari parkir mobil konturnya agak menanjak, selama berjalan kami melewati beberapa penjaja makanan. Di samping loket tiket terdapat plang eye catching dengan huruf-huruf hijau terang bertuliskan “Curug Cilember” yang membuat kami tidak bisa menolak keinginan foto bersama dulu di depan tulisan ini. Harga tiket masuk sebesar 20K untuk dewasa, kiddos masih belum bayar. Tiket ini sudah termasuk free ke taman kupu-kupu.

1
Welcome to Curug CIlember

Setelah melewati loket tiket terdapat dua jalur yang dibatasi pagar bambu, pengaturan jalur di kawasan wisata ini sudah cukup bagus dan rapi, ada yang arah masuk dan ada arah keluar yang masing-masing dipisahkan dengan pagar bambu, jadi wisatawan tidak akan amprokan. Di jalur yang satunya (yang harusnya untuk exit) terdapat kolam besar yang dipenuhi ikan koi oranye gemuk-gemuk. Kiddos pun langsung menerobos pagar bambu untuk “say hello to fishes”. Setelah itu kita akan melewati jembatan beralas anyaman bambu hingga menuju pos pemeriksaan tiket dan seterusnya melewati jalan setapak berbatu yang menanjak. Pepohonan tinggi, terutama pinus, menaungi rapat di atas kami, menciptakan pemandangan indah menghijau, sangat menyegarkan untuk mata yang sehari-hari harus berkutat dengan komputer.

Tidak lama kemudian sampailah kami di suatu rumah kaca bundar dengan kaca patri berhiaskan kupu-kupu aneka warna, bangunan tersebut adalah taman kupu-kupu. Areanya sendiri tidak terlalu luas dan sayangnya saat kami datang adalah musim kepompong, jadi hanya 1-2 kupu-kupu kecil yang tampak.

5
Taman kupu-kupu

Kami melanjutkan perjalanan melewati areal perkemahan yang dipenuhi aneka tenda , cukup banyak juga ternyata yang berkemah di sini. Perjalanan terus menanjak hingga akhirnya bertemulah kami dengan Curug Cilember.

12
Area perkemahan

Curug Cilember sendiri sebenarnya terdiri atas 7 air terjun, air terjun ketujuh adalah yang lokasinya paling bawah dan paling mudah dijangkau oleh wisatawan, sementara yang lainnya mengharuskan kita trekking lebih jauh lagi dengan medan makin berat. Karena membawa anak, tentulah curug ketujuh sudah cukup bagi kami.

Air terjun ketujuh Cilember ini tidak terlalu tinggi dan karena kami datang di musim kemarau, debit airnya kecil bahkan kolam-kolam tampungannya pun terlihat sangat dangkal.  Untuk mendekati posisi air terjun kita harus sedikit mendaki melalui jalur berbatu yang di beberapa tempat agak licin dan sempit. Pengunjung di pagi hari tersebut belum terlalu banyak sehingga kami bisa leluasa mengambil foto dan bermain air di kolam-kolam yang terletak agak di bawah.

TAMAN WISATA MATAHARI

Sesudah sedikit bermain air di curug cilember, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Wisata Matahari yang jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan. Kami masuk lewat pintu masuk belakang, di mana begitu keluar area parkir kami disambut sebuah pesawat yang difungsikan sebagai semacam wahana.

Tiket masuk taman matahari sebesar 45 K/orang, anak dengan tinggi badan lebih dari 80 cm sudah dikenakan biaya. Tiket masuk tersebut sudah termasuk gratis untuk 5 wahana permainan (waterpark, perahu kayak, kereta kelinci, padamoto, menara pandang) dan diskon 10 % di Sunda Express Resto. Area taman matahari sangatlah luas, namun kurang teduh karena tidak terlalu banyak pepohonan. Kami juga tidak diberi peta area di loket tiket sehingga sedikit menyulitkan mencari letak wahana-wahana yang ada.

Karena sudah hampir jam makan siang, kami langsung menuju Sunda Express Resto (karena paling dekat dari lokasi masuk kami) untuk makan siang dan shalat. Di luar dugaan ternyata sunda express di sini terlihat sangat sederhana, dengan beberapa area makan duduk dan area lesehan yang sayangnya kurang terjaga kebersihannya. Resto tersebut dikelilingi oleh parit kecil dan bersebelahan dengan kolam terapi ikan.

dsc_4858-1f-1246_228-t598_26
Sunda express (sumber:tamanwisatamatahari.co.id)

Menu yang ditawarkan tidak terlalu banyak ragamnya, satu paket nasi ayam bakar/goreng dibanderol 39 K. Pembayaran hanya menerima cash, membuat saya sedikit kelabakan karena uang cash yang dibawa sudah habis, untungnya di depan sunda express ada sebuah indomaret dengan fasilitas tarik tunai.

Sembari menunggu sajian datang, saya mengintip sebentar ke wahana padamoto yang terletak persis di samping kiri sunda express. Wahana podomoto adalah wahana yang dilengkapi dengan berbagai background 3D standar yang tujuan utamanya adalah untuk berfoto-foto, sudah bisa ditebak wahana ini dipenuhi oleh para ABG. Karena kurang tertarik saya pun menyarankan kepada teman-teman untuk skip saja wahana ini.

Setelah makan siang, kami berjalan menuju area waterpark padahal saat itu panasnya ampun-ampunan, rasanya pingin bilang nggak usah berenang aja tapi kiddos memang tidak bisa dilawan karena mereka tadi belum puas main air di Cilember.

Matahari waterpark berlokasi di dekat pintu masuk utama, jadi lumayan jauh juga jalannya. Kondisi di dalam taman matahari tak ubahnya di Ragunan, banyak pedagang  dari luar bebas masuk, menggelar lapak di pinggir jalan dan berjualan menawarkan aneka barang ataupun makanan. Kebersihan taman matahari pun rasanya perlu ditingkatkan termasuk kondisi sejumlah wahana yang sepertinya perlu perawatan agar tidak terlihat bladus/kusam.

Di pintu masuk waterpark barang-barang kami diperiksa oleh petugas, karena ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Waterparknya sendiri ternyata sangat luas dengan berbagai pilihan kolam yang cocok untuk anak. Anak-anak pun langsung bersemangat minta ganti baju untuk segera berenang. Nah yang menurut saya agak kurang sreg adalah toilet dan ruang ganti di area waterpark harus bayar, aneh nggak sih? coba aja hitung berapa kali kita keluar masuk mulai dari ganti baju, bilas,  mandi belum kalau buang air ke toilet. Bukan cuma saya yang menganggap kebijakan ini konyol, banyak juga yang berpendapat sama.

Disediakan beberapa stan makanan dan kursi-kursi untuk duduk-duduk menunggu yang berenang. Kiddos langsung bersemangat hilir mudik di antara kolam dengan seluncuran ataupun kolam dengan ember tumpah. Kedua kolam tersebut cukup aman untuk kiddos karena dangkal, walau harus tetap diawasi oleh orang tua karena kadang anak-anak kalau bermain tidak lihat-lihat, sering tidak sengaja menyikut atau mendorong anak lainnya. Kira-kira sejam kemudian barulah kiddos mau dibujuk (dengan susah payah) untuk udahan.

21
Matahari Waterpark 

Dari waterpark kami berjalan kembali menuju arah pintu belakang, setelah sebelumnya mencoba wahana kereta kelinci yang letaknya nyempil dan susah dicari (kami sampai nanya 2x ke petugas). Gampangnya, lokasinya di belakang kincir angin besar ala belanda yang berada di depan danau.

23
Kereta kelinci

Dari kereta kelinci kami meneruskan perjalanan menuju danau di mana wahana perahu kayak berada, cukup mudah menemukannya karena terletak dengan menara pandang yang menjulang tinggi. Susah-susah gampang mengemudikan perahu kayak dengan dayung, terkadang arahnya menyimpang atau bahkan menubruk pinggiran danau, perahu kayak bebas dipakai selama 30 menit.

Karena kiddos sudah cukup lelah maka setelah berperahu kayak, kami men-skip saja wahana menara pandang . Begitu sampai di mobil, kiddos pun langsung terlelap.

CIMORY RIVERSIDE

Karena kebetulan melewati Cimory Riverside, para ibu-ibu (termasuk saya) langsung punya inisiatif untuk mampir. Apa yang istimewa dari cimory riverside? pertama saya bilang adalah karena pemandangannya. Terdapat sebuah restoran dengan pemandangan pinggir sungai yang cantik apalagi di senja hari, walau (setelah 2x makan di sana) menu yang disajikan tergolong biasa saja. Selain restoran, terdapat pula sebuah toko swalayan yang menjual tidak hanya produk susu dan yoghurt dari cimory, melainkan juga aneka snack, kue-kue dan frozen food. Asiknya lagi area cimory ini dihias sedemikian rupa dengan atribut-atribut cantik yang memungkinkan kita jepret-jepret. Disediakan pula musholla yang cukup luas dan area playground untuk anak-anak.

Setelah sedikit berbelanja di toko, kami bermaksud berjalan-jalan sebentar di area pinggir sungai, namun ternyata hanya pengunjung restoran yang diperbolehkan masuk gratis, sedangkan kalau yang melalui toko harus bayar lagi.

KUNTUM FARMFIELD

Keesokan harinya, setelah menginap semalam di area Cipaku yang sejuk. Paginya kami berkunjung ke Kuntum Farmfield yang berlokasi di Tajur, dalam perjalanan kami melewati sejumlah toko tas asli buatan Tajur yang memang sudah terkenal.

Sebenarnya ini sudah kunjungan kami yang ketiga ke Kuntum Farmfield, tapi rasanya tidak bosan karena wisatanya sangat  bermuatan edukasi bagi anak. Sesuai namanya, kuntum farmfield merupakan suatu wisata agro yang memungkinkan anak-anak berinteraksi lebih dekat alam, pilihan aktivitasnya banyak seperti memberi pakan ternak, menangkap ikan, memetik sayur dan naik kuda.

Harga tiket masuknya sebesar 40 K/orang. Lobby tempat penjualan tiket juga merangkap toko yang menjual aneka produk tanaman dari Kuntum Farmfield, mulai dari tumbuhan bunga dan buah dalam pot hingga ke hasil alam dan buah yang sudah dikemas rapi. Di belakang booth penjualan tiket tersedia sejumlah bilik toilet bersih.

Begitu masuk kita akan melewati jembatan kayu yang berdiri di atas sejumlah kolam-kolam berisi aneka ikan gemuk-gemuk, mulai dari lele, mujair hingga koi. Setelah itu kita akan menjumpai bangunan kecil di mana terdapat penyewaan caping gratis, capingnya sangat berguna untuk melindungi wajah dari cuaca terik.

Setelah itu kita akan berjumpa dengan deretan kandang kambing yang sangat banyak. Terdapat sebuah kios tempat membeli pakan ternak, ada susu untuk kambing (5K/botol), susu untuk sapi (10K/botol), rumput untuk sapi (5K/ikat), sepaket makanan kelinci (10K/bakul), makanan ayam (10K/bks) dan makanan ikan (10K/bks). Kiddos pun takut-takut tapi bersemangat mencoba memberi susu kepada para kambing yang sangat agresif berebut susu sampai kadang mereka menjerit. Dari kandang kambing, kiddos meneruskan ke kandang kelinci dan hamster yang dibiarkan bebas berkeliaran, sambil memberi makan mereka mengelus-ngelus bulu kelici yang halus atau “mencomot” hamster.

 

Setelah itu adalah area kandang sapi di mana terdapat sejumlah kandang dengan sapi-sapi gemuk dan sangat terawat. Seterusnya ada kolam ikan, kandang burung, kandang ayam, kandang bebek, kandang angsa dan bahkan kolam berisi kura-kura. Saya sangat suka dengan kuntum farmfield karena pengelolaanya yang sangat top, dari sekian banyak hewan dan kandang, perawatannya sangat bersih, bau-bauan yang ada diminimalisir, kandang dan kondisi hewan pun sangat bersih dan hewan-hewan yang ada rata-rata gemuk dan sehat.

Area belakang merupakan area pertanian dan perkebunan, aneka tanaman yang dibudidayakan boleh dipetik sendiri dan nantinya dibayar setelah ditimbang. Ladang-ladang luas berisi aneka tanaman, membuat kami menjelaskan beraneka ragam nama tumbuhan kepada kiddos.

Melewati area perkebunan adalah area kuda tunggang dengan tarif 40K, kiddos pun antusias dan berani naik sendiri tanpa didampingi, jarak tempuhnya lumayan dengan durasi sekitar 10-15 menit memutar.

D’LEUIT RESTO

Salah satu resto favorit kami di Bogor, selain karena rasa masakannya enak dan harganya terjangkau, bangunannya luas, dilengkapi musholla dan playground serta lokasinya tidak jauh dari pintu tol. Sayangnya area parkirnya justru tidak terlalu besar, jadi mobil-mobil banyak yang terpaksa parkir di pinggir jalan.

Suasana saat makan siang sangatlah ramai sehingga kami menunggu untuk waiting list dulu, itupun dapetnya ruangan yang biasanya untuk private (namun karena ramai akhirnya dibuka).

Ada berbagai macam menu yang ditawarkan mulai dari menu sunda hingga menu oriental. Menu khas dari D’Leuit adalah nasi jambal yang terdiri atas nasi jambal (nasi yang dicampur olahan ikan asin jambal)+pilihan ayam/daging/ikan+tahu+bakwan jagung+sayur+sambal dan kerupuk. Harganya dibanderol 39K/paket dengan porsi yang sangat mengenyangkan.

IMG02726-20120722-1745
Nasi Jambal D’Leuit