Posted in Singapore

Singapore Parentour (INTRO & Day 1)

INTRO

THE FLIGHT

Family trip atau parentour ini gak direncanakan, awalnya hanya mau pergi bertiga saja dengan baby g dalam rangka merayakan ulang tahunnya. Makanya waktu maskapai merah kesayangan buka promo saat bulan februari 2016, saya ikut dalam antrian demi mendapat harga promo sebesar 500 K PP/orang dengan tujuan Singapore dan keberangkatan november 2016. Kenapa pilih Singapore? ya tentu saja karena Singapore merupakan negara yang “ramah” untuk wisata dengan anak (apalagi balita), sistem transportasinya efektif dan efisien, jaraknya dekat dan lumayan banyak pilihan tempat wisatanya.

Karena awalnya hanya mau “short getaway” ber-3 (sengaja sebentar karena kasihan baby b kalau lama-lama), makanya saya pilih berangkat sabtu pukul 17.40 dan pulang senin pukul 17.35 juga.

Nah, mendekati bulan-bulan september, saya dan suami kok jadi kasihan sama baby b (adiknya baby g), masa iya mau seneng-seneng ngerayain ultah kakaknya sementara dedeknya nyenuk ditinggal di rumah. Akhirnya setelah diskusi sama suami, kami sepakat mengajak baby b sekaligus orang tua saya juga, hitung-hitung nyenenengin orang tua. Begitu tau orang tuanya mau jalan-jalan, kedua adik saya pun jadi kepengin ikut (termasuk adik ipar saya), akhirnya ikutlah semuanya dalam formasi lengkap-kap, orang tua, anak, mantu, cucu, haha.

Soal penerbangan, mau nggak mau kedua orang tua saya plus baby b dan adik bungsu saya (bagus) harus dalam penerbangan yang sama dengan saya (pakai si merah kesayangan), karena tidak mungkin pisah. Karena bukan promo, saya harus puas dengan harga 1,1 juta PP/orang. Sementara adik saya yang satu lagi beserta istrinya memilih maskapai lain dengan harga yang lebih murah dan jam keberangkatan yang tidak jauh berbeda (lion & jet star).

ITINERARY 

Ini yang lumayan bikin pusing sampai saya harus riset dan baca lebih banyak lagi. Dengan jam keberangkatan seperti disebutkan di atas, otomatis saya cuma punya waktu efektif 1,5 hari saja untuk eksplore Singapore. Hiks, tau mau berangkat rame-rame gini dulu belinya yang berangkat pagi. Selain itu, saya harus memperhitungkan kondisi fisik orang tua saya juga sehingga gak mungkin bikin iten dengan jadwal morning to evening seperti yang biasa saya lakoni selama ini. Saya juga harus mencari tempat wisata yang cocok untuk anak dan orang tua, yang buat mereka senang semua.

Segala opsi dibaca, semua tempat wisata diriset detil sampai segala jarak tempuhnya dan durasi kunjungan. Tempat wisata bolak-balik dimasukkan atau dicoret termasuk Singapore zoo yang sebenarnya merupakan tujuan utama malah terpaksa dicoret karena lokasinya yang jauh dan durasi kunjungannya yang lebih dari tiga jam. Tak lupa juga saya harus mengecek restoran/tempat makan di seputar area yang akan dikunjungi karena faktor lidah orang tua saya (yang maunya masakan indonesia atau judulnya nasi). Akhirnya didapat iten sebagai berikut :

Day 1 

13.00 – 15.00 : go to Soetta Airport

15.00 – 17.40 : loading bagasi, imigrasi, boarding dll

17.40 – 21.00 : flight to SG

21.00 – 22.00 : imigrasi, bagasi,dinner dll

22.00 – 23.00 : MRT from Changi – Clarke Quay

23.00 –             : Check in Hostel + istirahat

Day 2

07.00 – 08.30 : siap-siap, mandi, sarapan

08.30 – 09.00 : MRT Clarke Quay – Bayfront

09.00 – 13.00 : Garden by the bay (Flower Dome, Rainforest & Children Garden) & lunch di garden cafe

13. 00 – 17.00 : Back to hostel & istirahat

17.00 – 18.30  : Jalan kaki ke Merlion Park via Boat Quay, Merlion Park

18.30 – 19.00  : MRT Raffless Place – Orchard

19.00 – 21.00  : Orchard Road & Dinner di Lucky Plaza

21.00                 : Back to hostel & istirahat

Day 3

07.00 – 08.30 : siap-siap, mandi, sarapan

08.30 – 09.00 : MRT Clarke Quay – Harbour front, naik sentosa express dari Vivo City

09.00 – 10.30  : Siloso Beach

10.30 – 11.00   : Universal Broadwalk

11.00  –  13.00 : SEA Aquarium

13.00  – 14.00  : Lunch di Food Republic Vivo City

14.00 – 14.30   : Back to hostel, ambil tas

14.30 – 15.30    : MRT to Changi

15.30  – 17.30   : loading bagasi, imigrasi, boarding dll

PENGINAPAN

Lagi-lagi karena awalnya cuma mau pergi bertiga, seperti kebiasaan saya selama ini, 2-3 bulan berikutnya setelah pegang tiket pesawat, saya pasti akan booking hotel. Kali ini pilihan kami jatuh pada City Backpackers Hostel yang terletak di area Clarke Quay, selain lokasinya yang strategis karena hanya sekitar 200 m dari MRT terdekat, sudah lama saya pingin nyobain nongkrong-nongkrong sambil makan di Hooters (emak-emak rak nggenah) sekalian nyobain es krim ala jepang di Azabu Sabo yang terletak di Clarke Quay. Hostel ini juga cuma sekitar 15 menit jalan kaki ke Merlion Park, sampingnya ada 711, harganya murah (cuma 600 rb/malam untuk type kamar double), menyediakan sarapan standar dan menerima tamu anak balita, selain itu review-nya cukup bagus di trip Advisor. Jadilah sekitar bulan april saya sudah booking hostel dengan harga promo via agoda tapi dengan ketentuan no refund bila dibatalkan.

Nah, begitu rencana berubah saya pun mau nggak mau harus tetep pilih hostel ini karena gak mungkin pilih hostel berbeda. Sebenarnya kalau bawa orang tua terutama karena kami muslim, saya pasti akan pilih penginapan di area Bugis yang dekat masjid besar dan banyak hawker atau kedai makanan halal. Tapi karena sudah terlanjur (hostel no refund kalau dibatalkan karena promo), akhirnya saya pilih family room dengan kapasitas 6 orang seharga 1,2 juta/malam.

Jangan kaget dengan harga akomodasi di Singapore yang mahalnya selangit, padahal kalau di Indonesia kamar 600 rb sudah dapat hotel full fasilitas ya. Kalau mau mencari hotel murah sebenarnya banyak di area Geylang, cuma ya gitu deh, area ini merupakan red light district, jadi gak mungkin kalau bawa balita atau anak karena selain suasananya yang “aduhai”, kebanyakan hotel di sini tidak menerima tamu di bawah usia 12-14 tahun.

TRANSPORTATION

Sesuai dengan prinsip budget travel, tentunya saya memilih menggunakan MRT ke mana-mana, makanya sebelum hari H saya sudah bergerilya mencari pinjaman EZ Link ke saudara dan teman yang berbaik hati mau meminjamkan. Menggunakan EZ Link tentunya lebih praktis dan menghemat waktu dibanding beli ketengan, selain itu harganya tentu lebih murah.

Baby G yang sebenarnya sudah berusia 4 tahun dengan tinggi lebih dari 90 cm seharusnya punya kartu sendiri yang namanya “Child Concession Card”. Kartu ini digunakan oleh anak-anak dengan umur kurang dari 7 tahun namun tingginya sudah lebih dari 90 cm, dengan kartu ini anak-anak gratis naik moda transportasi baik MRT ataupun bus, minta kartunya pun gratis. Sebagai non Singaporean, syaratnya cukup menunjukkan paspor di Ticket Office Transitlink, fyi tidak semua booth ticket di stasiun MRT merupakan Ticket Office ya. Sebagai pusat kedatangan wisatawan di Singapore, Changi merupakan salah satu Ticket Office yang menyediakan kartu tersebut, cuma jam 21.00 sudah tutup.

Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang tinggal di Singapore, kalau tingginya masih 90 cm lebih dikit mah cuek aja, gak bakal diperiksa juga, toh anak segitu juga belum bisa tap kartu sendiri. Saya pun berprinsip ya udah lah lihat nanti aja, kalau disuruh pakai ya tinggal minta.

DAY 1

Sekitar sebulan sebelum keberangkatan, tiba-tiba adik saya yang merupakan pengantin baru mendapatkan “kabar baik”, tidak mau mengambil risiko mereka tentunya memilih membatalkan rencana jalan-jalan ini. Untungnya karena bukan tiket promo, tiket pesawat mereka bisa direfund 90%. Jadilah rombongan kami berkurang dua orang.

Yang paling repot dari jalan-jalan dengan dua balita adalah packing, apalagi kali ini membawa orang tua yang doyan ngemil, makanya saya harus menyiapkan snack aneka rupa dalam jumlah yang memadai. Walau sudah menerapkan prinsip travel light seefektif mungkin, tetap saja carrier 65 lt milik kami terisi penuh (setengahnya berisi snack & botol-botol air kosong ukuran 1 Lt), belum lagi satu tas daypack, 1 tas kamera & 1 stroller (tadinya mau bawa dua tapi ga jadi karena repot).

Karena sabtu sore merupakan hari yang amit-amit macetnya di jakarta, maka kami berangkat dari rumah kami yang terletak di bilangan taman mini sekitar pukul 13.00. Seperti sudah diduga jalanan macet sepanjang jalan, dan jam 15.00 kami baru sampai di bandara. Sebelum masuk ke ruang check-in kami singgah sebentar di KFC di terminal 2 untuk nyemil-nyemil sedikit karena perut agak lapar.

Setelah check in dan menyerahkan bagasi, kami berjalan melewati imigrasi dan terus ke ruang boarding. Ceritanya, hari itu kedua orang tua sedang melaksanakan ibadah shaum, dan sebagai orang jawa totok asli, buka puasa itu harus dengan teh panas yang kental, bingung kan? akhirnya kami akalin dengan mengisi teh tersebut dalam termos air panas ukuran 600 ml yang memang biasa saya bawa untuk menyeduh susu formula balita-balita saya. Sebenarnya menurut peraturan penerbangan, botol dengan ukuran tersebut tidak diperbolehkan masuk ke kabin, tapi kami selalu bilang pada petugas bahwa termos ini untuk susu bayi, selama ini sih selalu diizinkan dan lolos pemeriksaan. Bisa juga sih minta air panas gratis atau beli minuman di atas pesawat, tapi biasanya troli kan baru berjalan setelah pesawat stabil jadi waktu maghribnya sudah kelewat.

Penerbangan hanya delay selama setengah jam dan tepat sekitar pukul 17.30 kami sudah dipanggil masuk ke dalam pesawat. Penerbangan Jakarta – Singapore hanya memakan waktu selama 1 jam 40 menit, ga berasa tau-tau udah sampe.

Waktu di Singapore sejam lebih cepat dibanding jakarta, sehingga sekitar pukul 21.00 kurang kami baru mendarat di Singapore. Pesawat Air Asia mendarat di terminal 1, kebanyakan di gate D dengan nomor seri 30-an ke atas, which means lumayan jauh, untungnya bandara ini menyediakan travelator nyaman yang gak putus-putus dari ujung ke ujung. Kami menuju imigrasi dan…ternyata papa saya pake acara ditahan di imigrasi karena dulu saat kunjungannya (sekitar 2012 untuk urusan kerjaan) namanya baru 1 suku kata, sementara sekarang ada penambahan (karena umroh harus 3 suku kata) sehingga tentunya ada perbedaan data di database imigrasi. Saya pun melirik cemas dan minta masuk mendampingi karena papa nggak bisa bahasa inggris, tentunya ditolak sama petugas tapi sambil dibilang kalau petugas di dalam ada yang bisa berbahasa melayu. Untuk mempersingkat waktu, suami dan adik saya segera menuju ke ruang pengambilan bagasi, sementara saya dan mama menunggu papa, syukurlah sekitar 10 menit kemudian papa bisa keluar.

Dari terminal 1 kami naik skytrain (gratis) ke terminal 3 yang merupakan terminal dengan stasiun MRT. Tadinya saya dan suami merencanakan untuk makan malam di terminal 3 yang banyak pilihan restorannya, tapi orang tua saya menolak dan menyarankan untuk makan dekat area hotel saja. Saya pun bingung mau makan apa di daerah clarke quay, saat sampai di MRT Clarke Quay pasti sudah jam 23.00-an dan mall central (yang merupakan pintu keluar MRT) pastinya sudah tutup. Sementara kalau mau ke cafe-cafe atau restoran di area Clarke Quay kami mesti berjalan sekitar 200-300 m lagi dengan arah menjauhi hotel, daripada pusing mikir saya berprinsip “lihat aja ntar deh”, kalau kepepet di samping hotel ada 711 yang menjual bento box.

Dari Changi kami berganti kereta dua kali yaitu di Tanah Merah dan Outram Park, nah di Outram Park ini orang tua saya mulai kewalahan karena koridor yang satu dengan yang lainnya agak jauh, walhasil begitu keluar exit E di stasiun MRT Clarke Quay yang berhadapan dengan Eu Tong Sen Street, kami pun duduk istirahat sebentar di depan Mall Central dan orang tua saya pun agak ngomel-ngomel karena jauhnya sambil nanya emang nggak ada taxi. Saya pun ngeles dengan bilang kalau taxi mesti keluar dulu dari bandara, padahal sih nggak, maafin anakmu ini ya papa mama. Lama perjalanan dari Changi ke Clarke Quay sekitar 1 jam.

dsc030961
Mall Central di Clarke Quay

Masalah berganti ke urusan makan, yang masih buka cuma gerai fast food macam Burger King, yang pastinya nggak ada nasinya. Untungnya suami saya melihat tepat di seberang jalan ada kedai teh tarik time 24 hours, untuk memastikan menunya, suami saya rela lari-lari nyebrang jalan untuk melihat makanan apa yang disajikan. Syukurlah, ternyata menu yang ditawarkan beragam, ada masakan india, melayu sampai thai dan semuanya halal.

Pemiliknya adalah seorang indian muslim, kedainya semacam hawker begitu. Total yang dibayar sekitar 39.5 SGD untuk 5 macam makanan (1 nasi dengan mutton curry+telor, 2 mee goreng, 1 mie soup dengan isian seafood yang besar & 1 nasi goreng pattaya) dan 6 macam minuman. Porsinya besar sekali dan rasanya cukup enak, lega beres soal makanan.

nana-teh-tarik
Kedai Teh Tarik Time (sumber : trip advisor)

Dengan perut kenyang, kaki lelah dan mata mulai mengantuk (udah pukul 23.00 lewat lho), kami berjalan kaki ke hotel di hongkong street yang hanya sekitar 100 m dari kedai tersebut. Nah begitu sampai kami malah bingung mana pintu masuknya, papan namanya ada di lantai dua tapi pintu masuknya kok ga ada, untungnya saat itu ada tamu hostel tersebut yang membuka pintu kaca di depan kami, ternyata pintu kaca tersebut adalah pintu masuknya, begitu kami membuka pintu sudah terhampar tangga curam menuju lantai 2 yang merupakan lokasi resepsionis.

Tanpa memperkenalkan diri, sang resepsionis sudah langsung menebak bahwa kami tamu yang sudah ditunggu sejak tadi, syukurlah resepsionisnya mau nungguin karena berdasarkan pengumuman yang ditulis di atas meja, sebenarnya resepsionis cuma beroperasi dari jam 09.00 – 22.00.

Private Room yang kami booking ada di lantai dua, sementara Family room ada di lantai tiga. Karena kasihan dengan orang tua, saya menyerahkan private room untuk mereka.

CITY BACKPACKERS HOSTEL

Sekilas mengenai hostel kami, namanya juga hostel jadi jangan berpikir seperti hotel ya. Kamar mandi dan toilet letaknya di luar kamar dan dipakai bersama-sama, tapi jangan khawatir kebersihannya terjaga. Tidak ada lift, yang ada cuma tangga.

Ruang resepsionis merangkap dining room dengan pantry kecil yang biasa digunakan untuk berkumpul sekalian makan pagi. Alat makan yang kita gunakan harus dicuci sendiri.

Private room yang kami booking ternyata berisi 4 tempat tidur dengan balkon, walau tetap hanya boleh dihuni maksimal 2 orang dewasa. Saya pun meminta kepada resepsionis agar memperbolehkan adik saya satu kamar dengan orang tua saya dengan alasan mereka tidak bisa berbahasa inggris, dan akhirnya diizinkan.

5661611
Private Room

Sementara family room berisi 3 tempat tidur bertingkat, kamarnya tanpa jendela, karena adik saya yang satu lagi tidak jadi ikut, walhasil kamar tersebut cuma dihuni saya, suami dan anak-anak saja.

10
Family Room

Overall, cukup nyaman lah untuk ukuran hostel. Setelah berlelah-lelah kami semua pun terlelap.

Posted in Aranyaphratet, Bangkok, Cambodia, Poipet, Siem Reap, Thailand

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 4)

Pagi-pagi sekali sebelum jam 06.00 kami sudah check out dari hotel karena akan mengejar direct bus dengan rute Bangkok – Siem Reap yang akan berangkat dari Mo Chit (Northern) Bus Station. Dari mansion kami masih harus naik bus umum lagi ke Mo Chit Bus Station, saat check out kami memastikan sekali lagi nomor bus yang akan kami gunakan kepada resepsionis yang walau tidak bisa berbahasa inggris tapi paham perkataan kami, dia menulis nomor bus di atas secarik kertas sambil tersenyum ramah dan menyerahkan deposit uang yang kami berikan semalam (di mansion sarasinee diwajibkan menyerahkan deposit sebesar 500 THB untuk jaminan kita tidak merusak/menghilangkan barang).

Matahari masih belum muncul sepenuhnya dan jalanan masih agak gelap, namun warga sudah mulai siap-siap beraktivitas. Di samping halte bus tempat kami menunggu, beberapa penjual makanan pagi sudah siap dengan dagangannya, yang dijual kebanyakan adalah sate aneka rupa dan gorengan. Kami menaiki bus nomor 1 yang membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga sampai di Mo Chit.

bangkok_northernbusterminal
Mo Chit (Northern) Bus Station ( sumber : globaltravelmate.com)

Kami langsung menuju loket no 22 yang menjual tiket direct bus, tapi sayang disayang tiket sudah terjual habis, maka kami terpaksa menggunakan bus lainnya yang tidak direct.

Sekilas tentang transportasi Bangkok – Siem Reap

Ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan antara lain mini van, kereta api, bus bahkan pesawat. Kali ini saya akan membahas mengenai bus, ada dua jenis bus : direct dan non direct. Bus direct akan membawa kita langsung dari Bangkok – Siem Reap tanpa perlu bertukar bus. Bus akan menunggu kita saat melewati perbatasan dan proses imigrasi, jadi lebih ringkas, biayanya juga lebih mahal.

Sementara bus non direct hanya akan membawa kita dari Bangkok ke Aranyaphratet yang merupakan kota perbatasan Thailand – Cambodia. Sesudah melewati perbatasan kita harus mencari bus lain lagi yang akan membawa kita ke Siem Reap.

Bangkok – Aranyaphratet (Aran)

Bus yang akan kami tumpangi berangkat pukul 09.00, kami masih punya waktu sejam lebih dan kami gunakan untuk ke 711 demi membeli perbekalan berupa roti & snack sebelum ke ruang tunggu keberangkatan. Satu hal yang bikin saya salut, saat menunggu di ruang tunggu, tiba-tiba dari pengeras suara diputar lagu kebangsaan Thailand, tanpa dikomando semua warga yang ada berdiri dengan posisi sempurna dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh rasa khidmat, rupanya jiwa nasionalis di Thailand sangat tinggi. Kami mengobrol dengan kakek nenek asal Perancis di 711 yang begitu tahu kami orang Indonesia langsung cerita bahwa mereka baru saja pulang dari Indonesia , mereka habis menyusuri Manado, Toraja, Makassar, bali & Lombok sebelum terbang ke Thailand, saat saya bilang saya aja belum pernah ke tempat-tempat tersebut, mereka pun heran dan malah menunjukkan foto-foto mereka selama di sana.

1459331_10152139616504623_787825697_n
warga Thailand yang sangat nasionalis

Di ruang tunggu kami berkenalan dengan seorang gadis asal Filipina bernama Thalia yang akan berangkat ke Pnhom Penh untuk mengajar, rupanya Thalia adalah seorang guru bahasa inggris yang sudah merampungkan dinasnya di bangkok selama 6 bulan dan sekarang akan berpindah ke Pnhom Penh, orangnya asyik (dan sampai sekarang kami masih berteman di fb) dan karena searah hingga perbatasan kami memutuskan untuk barengan. Pukul 09.00 tepat kami dipersilakan naik ke bus dan mendapatkan posisi paling depan di belakang pak supir, busnya nyaman dengan susunan tempat duduk 2-2.

Bus perlahan – lahan mulai meninggalkan kota Bangkok yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat, pemadangan berganti menjadi jalanan sepi yang dipagari oleh sungai, mirip seperti di kalimalang (tapi lebih sepi), terkadang masih saya jumpai rumah-rumah tradisional ala Thailand yang berpanggung juga anak-anak desa. Bus berhenti sejenak di semacam rest area dan kami diberi waktu sekitar setengah jam untuk ke rest room ataupun beristirahat. Terkadang ada beberapa polisi militer yang menaiki bus dan melakukan random check paspor terhadap penumpang.

Ada kejadian seputar makanan, saya tidak terlalu hati-hati saat membaca ingredients sandwich yang saya beli, saat di 711 saya membeli beberapa roti coklat keju dan sandwich isi telur keju dengan seiris kecil daging asap. Saat di bus saya pun menyantap makanan tersebut, sementara suami saya mencoba membaca ingredients dengan lebih teliti…dan ternyata..daging asapnya itu bukan beef melainkan pork…aargh..mana udah abis dua potong lagi, maafkan saya ya Allah, saya harus lebih teliti lagi memilih makanan.

Bus tiba di Aran sekitar pukul 14.00 dan kami diturunkan di sebuah terminal dekat pasar bukannya di gerbang perbatasan. Kami pun patungan dengan Thalia untuk menyewa Tuk-tuk yang nyebelinnya gak mau ditawar padahal ternyata jaraknya dekat kalau tahu jalan, udah gitu kembaliannya kurang pula dan si supir tuk-tuk pura-pura melengos gak paham. Aran merupakan kota yang panas, semrawut dan berdebu, hiruk pikuk aktivitas antara perbatasan ditambah bau anyir ikan dan hawa panas membuat kami berjalan buru-buru menuju pos perbatasan Thailand yang berupa bangunan megah beratap khas Thailand.

Nyebelinnya lagi, saat akan masuk imigrasi, ada seorang mas-mas (yang kayaknya Cambodian) nempel kami terus padahal kami sudah pasang tampang super jutek sambil pasang gesture “we don’t need you”, mas-mas semacam ini adalah scam (usaha tipu-tipu) yang sudah sering kami baca di blog. Modusnya mas-mas ini akan nempel kami terus dan berusaha membantu kami abis itu minta uang tips gede.  Kami sudah lega saat masuk ke dalam pos imigrasi Thailand yang sejuk ber-AC, kami kira si mas-mas udah nyerah, eh begitu keluar ternyata dia udah ngejogrog manis di pojokan, sebel banget. Dia terus nempel kami sampai kami jalan ke pos imigrasi Cambodia yang ada di seberang.Kami melewati suatu portal tinggi sebagai batas antara Thailand – Cambodia. Di kanan kiri kami berderet bangunan megah yang berupa hotel merangkap kasino dengan neon dan papan reklame besar-besar, sepertinya kota perbatasan memang populer sebagai tempat judi.

cambo-thai-border-arch-backpackers
Portal perbatasan (sumber : howtogotocambodia.com)

Aran-Poipet

Kota perbatasan yang masuk dalam teritori Cambodia adalah Poipet. Kontras dengan pos imigrasi Thailand yang megah, pos imigrasi Cambodia merupakan bangunan sederhana yang terbuat dari triplek dan beratap seng, pakainya juga kipas angin. Di pos perbatasan ini antrian sudah mengular yang kebanyakan diisi oleh bule-bule. Kami disuruh mengisi semacam kartu kedatangan yang disodorkan oleh seorang petugas yang entah bercanda atau tidak awalnya dia bilang “1000 THB” yang langsung membuat Thalia melotot dan protes lalu si petugas bilang “just kidding,it’s free” sambil tertawa, walau saya yakin kalau kami plonga-plongo dan gak menolak, si petugas pasti beneran minta 1000 THB itu. Kami mengantri sampai sekitar sejam dalam cuaca yang bikin mandi keringat saking panasnya.

bangkok_siemreap_borderoffice
Imigrasi Thailand di Aranyaphratet (sumber : globaltravelmate.com)
poipet-immigration-office-cambodia
Imigrasi Cambodia di Poipet (sumber : travellingfeet.com)

Nah si mas-mas tadi itu masih terus aja nempel kami dan …. tiba-tiba datanglah beberapa petugas berseragam biru dengan emblem semacam pegawai negeri Cambodia, sang petugas pun memarahi si mas-mas dan menyuruh dia pergi, fuuh legalah kami. Sang petugas memisahkan kami berdasarkan tujuan karena bus yang akan dipakai berbeda, maka dengan berat hati berpisahlah kami dengan Thalia, karena kami akan ke Siem Reap sementara dia ke Pnhom Penh. Setelah bertukar alamat fb kami pun berpisah, kami menaiki bus kecil sekitar 5 menit menuju ke bangunan yang namanya semacam “Cambodia Tourist Office”. Dari sini kita bisa memilih mau naik mini van atau bus untuk menuju ke Siem Reap.

SCAMBODIA  (ternyata kami kena juga)

Sebelum ke sini, kami sudah banyak membaca pengalaman orang-orang yang terkena scam di perbatasan, saking seringnya sampai ada istilah Scambodia , kami sudah sengaja berhati-hati, kami kira kami sudah berhasil melewati si mas-mas tadi yang merupakan praktik scam paling umum tanpa sadar another scam is waiting us.

Masih ingat dengan petugas berseragam tadi ? si petugas ramah banget pada kami sambil terus mengajak saya mengobrol, saya malah merasa “aman” karena toh orang ini kan petugas resmi. Di Cambodia Tourist Office si petugas berkata bahwa kami harus menukar semua USD kami dengan Cambodian Real, kami pun menjawab bahwa kami nggak mau menukar USD kami karena menurut yang kami baca USD bisa digunakan (sebagai negara berkembang, Cambodia menerima transaksi dalam USD dan Cambodian Real). Tapi si petugas menyakinkan kami bahwa mulai bulan lalu USD sudah tidak berlaku lagi dan harus menggunakan real, kami pun percaya aja sama dia (secara dia petugas lho) dan langsung buru-buru menuju ke Money Changer yang ada di sana. Selesai menukar, si petugas menyuruh kami segera berlari menuju ke bus karena bus sudah akan berangkat, tanpa meneliti uang yang kami terima kami buru-buru berlari ke bus karena takut ketinggalan. Tapi…si petugas sempet aja senyum-senyum simpul dan berucap “don’t forget little tips for me” saya pun memberikan beberapa lembar real senilai kira-kira 50K.

Belakangan saat di hotel saya baru sadar kalau kami kena scam. Bagaimana tidak ? ternyata USD masih laku dan bisa banget dipake, udah gitu rate di dalam kota jauh lebih bagus. Dan yang paling menyebalkan … uangnya kurang … beneran kurang … saya baru menghitung setelah sampai di hotel dan saya cek ke nota dari money changer-nya, kalau dirupiahkan sekitar 300 ribu-an lah. Pantesan tadi kami disuruh buru-buru rupanya biar nggak sempet menghitung uang (padahal pas udah di bus juga kami menunggu sekitar 30 menitan lho).

Kami baru sadar kalau kami terkena scambodia saat itu, harus terus waspada bahkan kepada petugas berseragam sekalipun jangan mudah percaya. Pantesan si petugas kok ya ramah banget ke kami, saya pun melihat kalau dia juga sangat ramah dan terus nempel kepada beberapa turis lainnya yang sendirian atau berdua – bertiga seperti kami. Kayaknya memang dia mengincar rombongan dengan jumlah sedikit.

Poipet – Siem Reap

Tepat jam 5 sore bus mulai berangkat menuju Siem Reap, setir mobil di sini berada di sebelah kiri walau mobil tetap berada di kanan jalan. Sepanjang jalan kami melewati padang rumput dan ladang-ladang yang luas menghampar dan sepi, senja mulai turun dan seketika saya jadi ikutan mellow dan pingin nyanyi Soldier of Fortune sambil bayangin film Rambo. Di dalam bus ada seorang pemandu bernama Tina (cowok lho) yang menerangkan sekilas sejarah Cambodia dengan bahasa inggris yang fasih tanpa logat.

Waktu saya mau ke Cambodia, beberapa teman dan saudara bilang “apa nggak takut”, maklum ada film Rambo yang berlatar di sini, sehingga image Cambodia tidaklah aman dan menyeramkan. Tapi menurut saya, kalau sudah hidup di Indonesia kayaknya nggak perlu takut deh, mirip-mirip lah, terbukti aman walau memang seperti negara berkembang lainnya “banyak ketidakpastian”.

1472014_10152139614444623_45589923_n
padang ilalang sepanjang perjalanan

Jalanan tidak selalu mulus, malah kebanyakan berlubang-lubang, sehingga kendaraan tidak bisa melaju kencang. Sekitar pukul 7 malam kami berhenti di sebuah rumah makan besar dan kami diberi waktu setengah jam untuk makan atau istirahat. Rumah makan ini besar namun dikelilingi oleh sawah ladang yang gelap tanpa penerangan. Pencahayaan di dalam restoran sendiri remang-remang dan agak menakutkan, bahkan saya minta ditemani suami pergi ke toilet yang letaknya di bagian belakang restoran. Tanpa disangka saat menunggu antrian toilet, kami bertemu dengan dua orang cowok asal Indonesia, tepatnya Makasar, yang juga lagi backpackeran dengan rute bangkok – siem reap – pnhom penh – ho chi minh, mereka juga ternyata satu bus dengan kami. Kami mengobrol mengenai rute dan pengalaman kami saat di restoran walau kami nggak makan, lapar sih (secara kami belum makan apa-apa selain sandwich yang kami beli tadi pagi di 711) tapi rasanya tidak nafsu makan.

Saya pun mengobrol sebentar dengan Tina soal hotel kami dan juga mesti naik kendaraan lagi atau cukup jalan kaki. Tina pun menyarankan naik tuk-tuk saja dan malah menawarkan jasa carter tuk-tuk seharian untuk keliling Angkor Wat besok, kami pun langsung menerima tawaran Tina (daripada susah-susah nyari tuk-tuk lain) setelah sepakat dengan ongkos yang ditawarkan.

Masih sekitar dua jam lagi kami berkendara hingga suasana yang temaram mulai berganti menjadi terang karena lampu-lampu neon, akhirnya kami tiba di Siem Reap. Ternyata Siem Reap merupakan kota yang cukup besar, jalanannya 4 jalur dan di kanan kirinya berjejer rapi gedung pemerintahan, hotel maupun pertokoan.

Bus berhenti di dekat jembatan Old market dan satu persatu penumpang turun. Tina mencegat salah satu tuk-tuk untuk mengantar kami ke hotel dan mengingatkan bahwa besok dia akan menjemput kami di lobby pukul 04.30 pagi.

1466272_10152139033264623_439008178_n
Tuk – tuk Cambodia

Viva Hotel 

Hotel yang kami booking bernama Viva hotel yang terletak di area Old Market. Ternyata lantai satu hotel ini merupakan restoran mexico – italia yang ramai pengunjung terutama bule-bule. Kami diantar ke kamar kami di lantai dua, dan di luar dugaan kamarnya bersih dan bagus mengingat harganya yang murah (sekali). Untungnya karena lantai 1 merupakan restoran, kami yang sudah menemukan nafsu makan kembali dan juga lapar berat, langsung memesan makanan lewat telepon.

viva-hotel-siemreap_8_-_copy
Kamar kami (sumber : vivahotelsiemreap.com)

Kami pun menyantap makan malam kami yang sudah sangat telat (sudah hampir pukul 11 malam) berupa loklak dan cambodian beef skewer, keduanya merupakan masakan khas cambodia yang sangat cocok di lidah indonesia kami dan rasanya enak. Puas makan kami segera tidur kami besok pagi-pagi sekali harus sudah bangun untuk menyaksikan sunrise di Angkor Wat.

Posted in Bangkok, Medan, North Sumatera, Thailand

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 3)

Penerbangan kami ke Bangkok hari ini dijadwalkan berangkat pukul 13.00, karena jauhnya jarak antara kota ke bandara kualanamu, belum lagi takut macet (karena ini hari senin), maka sekitar pukul 08.oo kami sudah duduk di ruang makan untuk sarapan dan setelahnya check out. Sarapannya sederhana, berupa bihun goreng dan teh panas yang rasanya enak dan porsinya cukup mengenyangkan. Dari depan hotel kami naik angkot untuk menuju Plaza Medan Fair, tempat mangkal bus damri yang menuju bandara. Sama seperti supir angkot batak yang ada di ibukota, supir batak di medan pun sepertinya fans berat F1 dan fast furious, nyetirnya kenceng banget padahal jalan yang dilewati hanya dua jalur. Hanya butuh sekitar 15 menit kami sudah sampai di Plaza Medan Fair yang tentunya masih tutup.  Tidak berapa lama bus sudah penuh dan segera berangkat menuju bandara, ternyata jalanan hanya ramai lancar tidak macet seperti halnya jakarta walaupun hari senin. Sekitar jam 10.00 kami sudah sampai di bandara kualanamu dan hanya duduk-duduk menunggu waktu keberangkatan menuju Bangkok di ruang boarding.

Medan – Bangkok

Medan – Bangkok ditempuh dengan durasi 1 jam 55 menit. Kami satu pesawat dengan rombongan anak SMA medan yang akan berkarya wisata ke Bangkok, makanya suasana di dalam pesawat berisik banget, mereka sibuk ngobrol, mondar-mandir, ketawa ketiwi, bahkan guru-gurunya juga nggak kalah rame.

Pesawat Budget atau Low Cost tidak mendarat di Suvarnabhumi melainkan di Don Mueang. Setelah beres urusan imigrasi kami segera keluar bandara untuk mencari bus A1, menurut petunjuk yang pernah kami baca bus ini mangkal persis di depan pintu arrival/kedatangan, tapi setelah beberapa saat menunggu kok nggak ada. Akhirnya kami bertanya kepada petugas dan ternyata busnya berhenti di halte yang ada di pinggir jalan utama jadi kami harus berjalan lagi keluar area bandara. Bus A1 sangat nyaman dengan kursi yang empuk  dan AC-nya dingin, bus ini berhenti di stasiun BTS Mo Chit. Karena tujuan kami mau melewatkan waktu dulu mengunjungi kompleks MBK dan sekitarnya sebelum check in hotel, maka kami harus menggunakan BTS (monorail/train) dengan rute Mochit – national Stadium.

Masalahnya adah mesin penjual tiketnya agak berbeda caranya dengan di Singapore atau Malaysia sehingga bingunglah kami. Kami mencoba bertanya pada warga tapi segera dijawab dengan gelengan atau lambaian tangan, rupanya tidak seperti Phuket yang warganya lancar berbahasa Inggris, warga bangkok jarang yang bisa berbahasa inggris. Suami saya akhirnya berdiri rapat di belakang orang yang sedang beli tiket untuk nyontek, nah kalau mesin penjual tiket di bangkok rupanya masukin uang dulu baru pilih rute, kebalikan dengan di Singapore atau Malaysia.

BTS & Siam Paragon

Kami berganti BTS di Siam Station, sebenarnya kalau turun di Siam Station kita akan langsung berhadapan dengan kompleks Siam Paragon & Siam Discovery, bisa juga jalan kaki ke MBK dari sini karena jaraknya cuma sekitar 500 m-an. Tapi karena malas tentunya kami memilih turun di National Stadium yang persis berada di depan MBK.

Kenapa kami memilih jalan-jalan ke mall di hari pertama?tidak lain dan tidak bukan karena kedatangan kami yang sudah sore, hampir semua destinasi wisata seperti wat ataupun istana pastinya sudah tutup, hanya mall yang buka sampai malam maka mau nggak mau ya kami ke sana. Pusat perbelanjaan terkenal di bangkok ada di daerah Siam yang mirip seperti Bukit Bintang atau Orchard di mana banyak mall berderet-deret.

Mooh Boon Krong Mall atau biasa disebut MBK merupakan pusat perbelanjaan yang sangat populer di Bangkok. Saya lebih tertarik dengan facade oval berwarna hitam mencolok dengan tulisan MBK di badan bangunannya. Kami tidak bermaksud berbelanja (karena masih hari pertama) dan hanya berjalan langsung ke food courtnya. MBK ini menurut saya mirip dengan ITC Mangga Dua, penuh dengan deretan gerai yang kebanyakan adalah fashion dengan harga menengah tapi tetap nyaman karena Ac-nya kencang. Food court nya bernama MBK Food Island dengan berbagai pilihan kuliner. Seperti biasa kami berkeliling lebih dari satu kali karena bingung mau makan apa dan juga kehalalannya. Suami saya akhirnya memilih sejenis nasi goreng ala thailand, sementara saya memilih nasi dengan lauk udang bersalut rempah.

1455024_10152138999514623_1799924678_n
MBK
1472918_10152138999299623_287172523_n
MBK Food Island

Setelah kenyang dan cukup beristirahat kami mencari petugas keamanan mall untuk bertanya lokasi musholla. Ya … MBK ini menyediakan fasilitas musholla untuk pengunjung muslim. Musholla-nya terletak di tempat parkir, tidak begitu luas tapi bersih. Di sana saya bertemu beberapa warga muslim Thailand, gadis-gadis cantik berwajah indochina yang berjilbab dan berkulit bersih namun berbahasa Thai.

Sehabis shalat, kami melangkahkan kaki keluar MBK untuk menuju Siam Paragon & Discovery. Gerai-gerai di Siam Paragon & Discovery ini merupakan gerai mahal, tapi banyak juga yang sudah ada di Indonesia. Di Siam Discovery terletak beberapa atraksi seperti Aquarium atau madame Tussaud, tapi kami malas dan tidak berminat mengunjungi tempat tersebut, jadi kami hanya numpang foto bareng “Tom Cruise” yang ada di pintu masuk madame Tussaud lalu membeli es krim dan duduk-duduk di pelataran Siam paragon yang ramai oleh pengunjung dan sepertinya memang tempat nongkrong.

1454984_10152138999449623_1751294466_n
Di depan Siam Discovery
1476035_10152139616324623_1280202037_n
Foto bareng tom cruise

Mansion Sarasinee at Chatucak

Kami memilih penginapan ini karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari Mo Chit Bus Station. Kami turun di BTS Saphan Kwai dan … bingung …mendapati diri kami tak tahu arah walaupun sudah pegang print berupa peta jalan menuju hotel. Kami mencoba sebuah gang yang ternyata buntu, kemudian bertanya pada seorang satpam yang menunjukkan arah berbeda, kami melalui 711 dan terus menyusuri suatu jalanan yang seperti pasar dan syukurlah..ada gadis berseragam (yang sepertinya masih SMA) dan bisa sedikit berbahasa inggris dan ternyata dia juga ngekost di mansion tersebut.

Ternyata selain sebagai hotel, mansion ini juga disewakan sebagai tempat kost. Sesuai namanya mansion, kamar yang kami tempati cukup luas dan berbentuk seperti apartemen type studio lengkap dengan ruang tamu dan dapur kecil. Waktu baru menunjukkan pukul 8 malam dan sambil menunggu kantuk, saya menyetel acara musik di tv lokal thailand yang di luar dugaan cukup cocok di kuping saya.

mansion-sarasinee
Mansion Sarasinee (sumber : trip advisor)
Posted in Bandung, Medan, North Sumatera, West Java

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 1&2)

Jangan impulsif saat melihat tiket promo, itulah pelajaran yang saya petik dari perjalanan saya 2013 silam. Gara-gara melihat murahnya promo penerbangan bandung-medan dan medan-bangkok dari “si merah kesayangan”, saya langsung tergoda beli tanpa memperhitungkan bahwa saya tinggal di jakarta. Walau setelah dihitung memang harga tiketnya lebih murah dibanding jakarta-bangkok direct, tapi tetap saja ada biaya transportasi, akomodasi dll, belum lagi kerepotan karena harus melintasi beberapa kota sekaligus. Selain itu liburan kali ini sebenarnya adalah dalam rangka merayakan ultah baby g yang ke-1, jadi tentunya saya membeli 2 adult ticket & 1 infant ticket.

Mendekati hari H saya makin kebat-kebit karena harus membawa baby g yang di kala itu masih belum genap setahun, maklum saya yang working mom menyerahkan pengasuhan bayi pada pengasuh sehingga belum menguasai seluk beluk baby g 100%, kalau hanya 1-2 hari gak masalah tapi seminggu? akhirnya setelah berembug dengan suami, kami memutuskan hanya pergi berdua tanpa baby g. Nah, sebagai orang rempong, saya pun merasa sayang kalau cuma main ke Bangkok dan malah mulai melirik negara-negara tetangga Thailand semisal Cambodia, Laos & Myanmar yang bisa ditempuh melalui jalur darat dengan durasi kurang dari sehari. Akhirnya … saya memutuskan memilih Cambodia tepatnya kota Siem Reap yang terkenal akan situs Holy Angkor Wat , suatu situs kuno yang terdiri dari kumpulan ratusan candi-candi  yang sangat saya sukai.

Day 1 : Jakarta – Bandung

Selepas dzuhur, saya dan suami sudah bersiap dengan ransel masing-masing. Karena akan berpindah 4 kota 3 negara, maka kami menerapkan prinsip travel light, hanya membawa ransel 7 kg dan satu tas kamera DSLR. Setelah peluk cium baby g dengan berat hati (karena sebenarnya trip ini dirancang untuk merayakan ultahnya yang pertama) kami pun berangkat ke terminal bus kampung rambutan guna mencari bus yang akan membawa kami ke Bandung.

Saya tidak begitu ingat nama bus yang kami tumpangi, tapi lumayan nyaman untuk perjalanan berdurasi 4 jam yang alhamdulillah tidak macet. Bus yang kami tumpangi keluar di exit tol padalarang bukannya di pasteur, sehingga kami mesti naik angkot lagi berupa elf yang banyak mangkal di exit pintu tol padalarang.

Hotel yang kami booking bernama Cassadua Hotel, letaknya persis setelah exit tol pasteur, bangunannya yang tinggi bisa dilihat dari jalan, karena pertimbangan itulah kami memilih hotel tersebut. Setelah turun dari elf, kami agak kesulitan menemukan jalan menuju hotel ini yang ternyata memang berada di tengah-tengah perumahan mewah, jadi walau bangunannya kelihatan dari jauh tapi jalannya tidak lurus. Kami sempat bertanya-tanya dulu pada warga sekitar sebelum bisa menemukan lokasi hotel ini.

Nothing special in this hotel kecuali faktor lokasinya yang memungkinkan berjalan kaki menuju bandara Hussein Sastranegara (karena besok pagi-pagi sekali kami akan ke bandara). Kamar yang kami booking adalah type standard room yang memang sangat standard, letaknya di lantai 1, no window, agak sedikit pengap dan tidak terlalu bersih, furniturenya pun sudah agak tua. Tempat tidurnya berupa single bed dengan satu tambahan tempat tidur kolong, AC, TV kabel dan toilettries standar.

y963228018
Standar Room di Cassadua Hotel (sumber : agoda)

Kami sampai sekitar pukul 5 sore dan langsung beristirahat sejenak, sesudah maghrib tadinya kami mau nongkrong cantik di PVJ, tapi berhubung males naik angkot di malam minggu yang pastinya bakalan macet, kami akhirnya memutuskan ke BTC tentunya dengan berjalan kaki (nanggung naik angkot, jaraknya sekitar 1,3 km-an). BTC adalah typikal mall biasa dengan deretan toko-toko yang kebanyakan menjual pakaian dengan harga yang tidak terlalu mahal. Di sini kami hanya makan malam di food court (HokBen tepatnya) dan karena bosan akhirnya memutuskan kembali pulang saja ke hotel untuk beristirahat.

Day 2 : Bandung – Medan

Pagi-pagi sekali sebelum jam 6 kami sudah check out dari hotel dan berjalan kaki menuju Bandara Hussein Sastranegara. Jaraknya sebenarnya cukup jauh, sekitar 4 km-an, tapi bukan saya dong namanya kalau gak kuat jalan kaki apalagi di waktu pagi hari yang masih sejuk segar begini. Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan warga bandung yang sedang jogging ataupun jalan santai di sekitar jalan menuju bandara. Hampir sejam kami berjalan hingga sampai di pintu gerbang bandara, sambil menunggu pesawat yang akan berangkat jam 08.oo, kami sarapan dengan roti yang sudah kami beli di BTC semalam. Bandara Hussein Sastranegara (yang pada tahun 2013 belum direnovasi) tidak begitu besar, seperti lazimnya bandara militer yang dialihfungsikan menjadi bandara komersil lainnya. Ruang tunggunya kecil dan Toilet umumnya pun kurang bersih, mungkin setelah direnovasi pada tahun 2016 kondisinya lebih baik ya. Pesawat lepas landas tepat waktu pukul 08.00 dengan durasi penerbangan selama 3 jam, saya pun baru sadar kalau posisi medan lebih utara dibanding kuala lumpur.

Itinerary di medan ini sebenarnya sudah diubah, dengan melewatkan danau toba yang awalnya merupakan tujuan utama kami ke medan, sungguh sayang, hal tersebut akibat perubahan jadwal Air Asia dan juga pemindahan bandara dari Bandara Lama Polonia ke Bandara baru Kuala Namu. Akhirnya kami hanya bisa berpuas dengan mengeksplorasi kota medan saja.

Pukul 11.00 kami tiba di bandara kuala namu yang masih baru saat 2013 lalu, bandaranya sangat besar dan megah seperti Juanda di Surabaya dengan beberapa ornamen khas batak yang menghiasi interior ruangan. Kami naik bus damri menuju ke pusat kota dengan durasi selama sekitar satu jam, tanah sekitar bandara masih sangat sepi, didominasi oleh area perkebunan atau padang ilalang dengan sesekali ada 2-3 pemukiman, saat itu belum ada hotel sama sekali di dekat bandara. Kami turun di Jl Ir H. Juanda yang hanya berjarak sekitar 200 m ke destinasi pertama kami Masjid raya Medan dan Istana Maimun. Di tengah jalan kami mampir di restoran padang dan langsung kalap menyantap aneka hidangan karena sudah kelaparan berat.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan yang nama aslinya adalah masjid Al Mashun dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam sang sultan Deli pada tahun 1906. Masjid ini sengaja didesain megah bahkan melebihi istana maimun yang merupakan kediaman sultan.

Masjid ini didesain oleh Arsitek belanda bernama J. A Tindengman dengan denah berbentuk persegi delapan. Empat penjuru masjid dilengkapi dengan beranda dan kubah berwarna hitam yang mengelilingi kubah utama. Masing-masing beranda memiliki tangga yang menghubungkan pelataran dengan ruang shalat yang sengaja didesain lebih tinggi. Antara beranda satu dengan yang lain dihubungkan dengan lorong-lorong berjendela gaya timur tengah. Ruang shalat pria dan wanita dipisah, sementara ruang wudhunya terletak di pelataran masjid.

img_4079
Masjid Raya Medan

Istana Maimun

Seusai menjalankan ibadah shalat dzuhur, kami berjalan menuju ke istana Maimun yang hanya berada di seberang masjid raya. Istana maimun ini sangat mencolok dengan facadenya yang berwarna kuning terang. Istana Maimun merupakan peninggalan kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli dan diresmikan pada tahun 1891. Istana ini berasitektur campuran antara melayu, arab dan eropa. Istana ini sekarang dibuka untuk umum dan dijadikan museum. Istana ini terdiri atas bangunan induk yang diapit oleh bangunan sayap di kanan kirinya, di depannya terdapat lapangan berumput yang sangat luas.

img_4082
Istana Maimun

Selepas pintu gerbang kami disambut oleh kereta kuda yang dahulu digunakan oleh sultan deli, tidak jauh di belakangnya ada bangunan yang kami pikir serupa lumbung padi. Sama seperti masjid raya, istana maimun dibangun lebih tinggi sehingga kita harus menaiki sejumlah anak tangga menuju pintu utamanya. Alas kaki harus dilepas sebelum memasuki kompleks istana. Istana ini berisi berbagai koleksi peninggalan kesultanan deli, mulai dari foto-foto para sultan, ratu dan anggota kerajaan, singgasana dan furniture kuno lainnya. Seperti facadenya, interiornya pun didominasi warna kuning yang merupakan warna resmi dari kesultanan Deli. Interiornya pun mirip sekali dengan masjid karena memang didesain bergaya arab, terutama dari bentuk lengkung gawangan-gawangan dan pilar yang ada. Lantainya terbuat dari marmer berwarna cokelat abu-abu, sementara plafondnya dihiasi oleh corak khas deli.

img_4083
Kereta Kesultanan
img_4097
Singgasana Sultan Deli
img_4100
Interior istana

Hal menarik lainnya dari istana ini adalah adanya fasilitas penyewaan baju adat deli dengan harga terjangkau. Bajunya tersedia dalam berbagai ukuran dan warna, selain itu bajunya pun sangat terawat. Penyewaan baju sudah termasuk ongkos pengambilan dan cuci cetak foto dengan ukuran A3. Kami tentunya tidak melewatkan kesempatan ini dan ikutan mencoba baju adat deli tersebut, staf yang ada sangat helpful dan ramah, mereka membantu kami mengenakan baju adat tersebut termasuk memakaikan sejumlah perhiasan, tutup kepala dan senjata adat. Istana ini juga sangat ramai dengan wisatawan mancanegara.

img_4099
Sewa baju adat deli

Setelah puas mencoba baju tersebut, kami duduk-duduk di serambi bangunan sayap yang cenderung sepi. Kami menikmati pemandangan lapangan luas di depan istana maimun yang hijau menghampar.

Tjong A Fie Mansion

Destinasi kami selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 1,3 km dari istana maimun, tapi karena sudah agak lelah kami memutuskan mencoba naik bentor.

Tjong A Fie mansion adalah bekas kediaman Tjong A Fie, salah satu orang terkaya di Asia Tenggara pada era 1900-an yang berasal dari Tionghoa dan menetap di medan. Tjong A Fie merupakan seorang bankir, pengusaha perkebunan, pabrik-pabrik dan berbagai usaha lainnya. Dikenal karena kemampuan diplomasinya dan keluhuran budinya serta sifatnya yang dermawan, Tjong A Fie memiliki hubungan yang sangat baik dengan Sultan Deli, Ma’moen Al rasyid dan Pejabat Kolonial Belanda yang mengangkatnya menjadi Kapiten Tionghoa.

Rumah kediaman Tjong A Fie ini sekarang dibuka untuk umum dengan tiket sebesar 35 K. Tiketnya bagus dengan bahan dari karton tebal mengkilat bergambar potret Tjong A fie dan Nyonya sehingga membuat kami sayang untuk langsung membuang potongan tiket tersebut.

1003938_10152138982679623_1943526053_n
Foto Tjong A Fie di ruang tamu lantai 1
1474561_10152138984809623_1706954775_n
Tiket masuk Tjong A Fie Mansion

Pintu gerbang tempat ini dicat warna hijau dan terbuat dari kayu dengan gaya china. Mansionnya sendiri berlantai dua dengan gaya peranakan, campuran antara Melayu dan China dengan cat warna kuning yang satu tone lebih muda dibanding istana maimun. Begitu masuk kami mendapati serambi luas berlantai marmer dengan aksara china ditempel di pintu utamanya dan tidak ketinggalan hiasan lampion merah yang menjuntai dari langit-langit. Untuk mengitari mansion ini kami diharuskan melewati rute yang telah ditetapkan sesuai papan petunjuk, tidak boleh acak dan melompat-lompat. Ada juga jasa pemandu wisata di sini, namun sayangnya saat kami ke sini semua pemandu wisata sedang bertugas menemani tamu lainnya sehingga kami menjelajah isi mansion sendiri.

1466228_10152138984879623_823435602_n
Pintu masuk
1424379_10152138984814623_1412382268_n
The Mansion

Dari serambi kami harus berjalan ke kiri melewati sebuah lorong beratap dan memasuki beberapa ruangan antara lain ruang tamu umum untuk menjamu tamu umum, ruang kerja Tjong A Fie yang masih lengkap dengan furniture dan telepon antik zaman dahulu dan ruang keluarga. Setelah itu kami memasuki sebuah ruangan luas yang diisi dengan berbagai foto aktivitas dan kegiatan Tjong A Fie, ruang makan megah dengan meja makan yang besar yang dikelilingi oleh sejumlah kursi makan cantik serta ruang tidur yang dahulu digunakan oleh Tjong A Fie masih lengkap dengan tempat tidur besar berkelambu, mesin jahit bahkan peti dan baju yang dahulu dipakai Tjong A Fie saat bermigrasi dari Tiongkok ke Medan.

1459694_10152138983249623_377010910_n
Salah satu ruangan yang memajang aneka foto aktivitas Tjong A Fie
1452038_10152138983624623_1007533072_n
Ruang Makan

Dari kamar tidur kami menuju ke lantai dua, di puncak tangga terdapat altar doa seperti di keluarga-keluarga china. Lantai dua berisi tiga ruang tamu khusus untuk para tamu kehormatan, satu khusus untuk Sultan Deli, satu untuk para pejabat Belanda dan satu lagi untuk para tamu china. Selain itu terdapat pula hall luas yang digunakan sebagai ballroom – ruang dansa dan pesta-pesta. Tidak semua ruangan di lantai dua ini dibuka untuk umum. Di lantai dua ini juga terdapat poster besar berupa silsilah keluarga dan foto-foto anggota keluarga Tjong A Fie.

1422377_10152138984484623_797865347_n
Salah satu ruang tamu di lt 2 yang digunakan untuk menyambut sultan deli

Secara keseluruhan saya sangat suka dengan mansion ini karena memberikan gambaran akan kebudayaan peranakan yang sangat kental. Selain itu karena berada dalam pengelolaan keluarga, museum ini berserta seluruh koleksinya sangatlah terawat.

Kesawan Hotel

Penat dan lelah mulai terasa setelah mengunjungi ketiga destinasi tersebut, maka kami melangkahkan kaki menuju Kesawan Hotel yang hanya berjarak sekitar 200 m dari Tjong A Fie Mansion dan sudah kami booking sebelumnya.

Kesawan Hotel kami pilih dengan pertimbangan lokasi yang sangat strategis tepat di jalan kesawan yang merupakan pusat keramaian di medan. Selain itu hotelnya standar saja sih, sudah agak tua malah, bangunannya sendiri lebih mirip ruko bertingkat. Kami memesan kamar standard yang memang standard, kamarnya agak lembab dengan furniture yang sudah agak tua dengan fasilitas AC & tv cable. Di seberang hotel adalah restoran tip top yang sudah terkenal sejak zaman dahulu di medan.

y932569019
Standard Room di Kesawan Hotel (sumber : agoda)

Merdeka Walk

Sekitar jam 5 sore kami keluar hotel dan berjalan menuju merdeka walk sekalian makan malam. Merdeka Walk merupakan suatu tempat nongkrong dan area makan yang sangat populer di medan. Dalam perjalanan kami melewati bangunan tua cantik yang dialihfungsikan menjadi kantor pos medan. Setelah itu kami juga sempat menyambangi lapangan merdeka yang ramai oleh warga yang sedang duduk-duduk, mengobrol atau bahkan fitness di beberapa alat fitness gratis yang sudah disediakan oleh pemerintah di taman tersebut.

1425621_10152138985009623_253817511_n
Kantor Pos Medan

Kesan saya terhadap medan ini lebih mirip seperti berada di kuala lumpur atau singapore, alih-alih bernuansa batak seperti yang saya sangka, ternyata medan ini malah lebih bernuansa melayu karena dulunya merupakan pusat kesultanan melayu deli. Masyarakatnya pun banyak yang muslim. Selain itu banyaknya etnis china dan india yang juga bermukim di medan ini menjadikan saya merasa seperti di kuala lumpur.

Awalnya saya kira Merdeka Walk meruapakan area makan murah seperti layaknya warung-warung lesehan di Yogya atau Semarang, tapi ternyata lebih merupakan kumpulan gerai-gerai seperti di mall dengan harga mall pula, hanya saja gerainya outdoor.

1450140_10152138985179623_2067198598_n
Merdeka Walk

Kami mencoba rekomendasi banyak orang yaitu Restoran Nelayan yang terkenal dengan dimsum dan pancake durian-nya. Kami memesan lumpia, siomay, mie hot plate dan pancake durian. Rasanya memang sangat enak, terutama pancake durian-nya yang sangat legit, tapi harganya seperti yang saya bilang, harga mall jadi cukup mahal.

Setelah perut kenyang kami kembali berjalan ke hotel dan beristirahat untuk aktivitas besok.

Posted in China, Shanghai

Explore China (Day 5)

Baru kali ini saya merasakan “the art of doing nothing”, perasaan malas ngapa-ngapain yang dirasakan saat travelling, rasanya cuma pingin malas-malasan di hotel. Biasanya saya nggak pernah begini karena merasa “udah jauh-jauh dateng masa iya cuma mau tiduran di hotel”, tapi efek flu berat + cuaca dingin memang nyatanya menyurutkan semangat saya. Jadilah jadwal yang seharusnya people’s power – shanghai museum – yuyuan garden – xintiandi – oriental tv tower menjadi hanya yuyuan garden saja, saya menghabiskan waktu dengan menonton tv dan baru keluar hotel jam 11.00 siang.

Kami berjalan menyusuri deretan pertokoan dan shopping mall di sepanjang East Nanjing Road, suhu udara di shanghai tidak sedingin beijing karena letaknya lebih ke selatan. Di sepanjang jalan juga banyak bak-bak bunga segar berwarna-warni yang mencerahkan mata. Kami berhenti sebentar di McD yang berada tepat sebelum pintu masuk metro untuk brunch, di Shanghai orang-orangnya lebih bisa berbahasa inggris dibanding beijing, setidaknya pelayan di McD Shanghai paham arti large,small,no ice atau french fries.

7644_10154097168839623_4364812140730006875_n

Yuyuan Garden

Kami menaiki metro dari stasiun East nanjing, change di People’s power dan turun di yuyuan. Sayangnya saya lupa mencatat di itinerary harus keluar dari exit mana, saat kita sedang mengamati peta yang ditempel di dinding stasiun metro, ada keluarga indonesia keturunan china yang menyapa kita, kebetulan mereka juga mau ke yuyuan dan mereka mengajak kita barengan. Keluarga mereka terdiri atas bapak,ibu, kakek dan seorang putri yang seusia saya (sebut saja rose), untungnya rose mengaktifkan kuota internet sehingga dia mengandalkan aplikasi maps untuk mengarahkan jalan.

Keluar dari stasiun metro, kami disambut oleh deretan kios-kios souvenir dan pertokoan cantik yang beratap khas china. Agak sulit menemukan bangunan mana yang Yuyuan Garden karena sangat mirip satu sama lain, tidak ada bentuk khas ataupun penunjuk. Kami mengikuti Rose yang menggunakan aplikasi maps, tapi …kami malah memasuki jalan sempit yang berakhir buntu, bingunglah kami semua karena rose bilang penunjuk maps nya mengarahkan ke sana.Untungnya ada pemandu wisata yang kebetulan juga sedang memandu rombongan turis bule, jadilah akhirnya saya bertanya dan ternyata kami sudah melewati pintu masuknya tadi.

img_9040
Deretan pertokoan sekitar yuyuan garden
img_9042
Ini juga pertokoan

Untuk menuju Yuyuan Garden memang harus melewati deretan pertokoan bergaya china yang membuat kita rancu mengenali obyek wisata yang dimaksud, apalagi gambar-gambar yang pernah saya lihat di internet juga menampilkan gambar pertokoan tersebut alih-alih yuyuan garden-nya sendiri.

img_9103
harus melewati deretan toko seperti ini dulu

Kami disambut oleh danau dengan pavilion yang berdiri di tengah-tengahnya dan jembatan bernama “nine zigzag bridge” membentang di atasnya, danau tersebut berlatar bangunan megah bergaya china yang ternyata adalah restoran, lagi-lagi bukan ini yuyuan garden-nya. Berbelok ke kiri kita akan menemukan loket tiket dan gapura megah berhiaskan lampion yang merupakan pintu masuk dari Yuyuan Garden.

img_9097
Paviliun di atas danau dengan nine zigzag bridge
img_9043
pintu masuk yuyuan garden

Yuyuan Garden dibangun pada tahun 1559 oleh seorang pejabat Dinasty Ming yang bernama Pan Yunduan, taman ini didedikasikan untuk kedua orang tuanya yang sudah memasuki masa pensiun sebagai tempat peristirahatan. Walau disebut “garden” taman namun kompleks yuyuan garden tidak hanya berisi taman, melainkan juga paviliun, serambi, lorong, kebun batu dan danau.

Bangunan yang menyambut kami setelah pintu gerbang bernama Sansui Hall, bangunan terbesar dari kompleks ini yang digunakan untuk menyambut para pejabat dan akademisi. Kami melanjutkan langkah melewati”rockery” kebun batu dan koridor-koridor yang pembatasnya berupa batu karang alami, lalu kami melewati danau dengan paviliun bernama “nine lion waterside pavilion”.

img_9057
Sansui Hall
img_9051
Inside Sansui Hall
img_9062
Nine lion waterside pavilion

Setelah itu kami menjelajahi bagian lain taman termasuk paviliun yang dulu digunakan Pan Yunduan untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas negara. Kami juga menemukan danau luas dengan pemandangan pohon-pohon di akhir musim dingin. Yang unik keseluruhan tembok yang mengelilingi kompleks ini diukir dengan badan dan kepala naga.

Overall, yuyuan garden sebenarnya cukup bagus, tapi…. sehabis mengunjungi situs ratusan tahunnya Beijing macam Forbidden City, yuyuan garden jadinya biasa banget, just another chinese scenic garden. Saya sampai bosan dan malas berkeliling lagi, malah memilih duduk di depan danau sambil tiduran, padahal keseluruhan kompleks masih banyak yang bisa dijelajahi. Sehabis itu kami keluar dari kompleks yuyuan dan melintasi nine zigzag bridge dan deretan pertokoan lainnya.

Kami membeli oleh-oleh berupa manisan, permen dan kudapan manis dari buah yang insya allah halal di toko-toko sekitar yuyuan garden, saking keasyikan kami tidak memperhatikan kami keluar di jalan mana dan malah mendapati diri kami di Jiujiaochang St,tentunya kami bingung arah stasiun metro. Kembali di sini kami mengalami roaming karena setiap orang yang ditanya nggak paham bahasa inggris.

Setelah beberapa saat bengong kami memutuskan berjalan tak tentu arah dan melewati “city god temple” yang ramai pengunjung. Lewat kuil tersebut kami malah ketemu lagi sama keluarga rose dan mereka menunjukkan arah ke metro. Sebelum ke stasiun kami berhenti lagi di toko souvenir untuk membeli oleh-oleh kaos dan boneka panda untuk keluarga di rumah.

Tidak jauh sebelum stasiun metro, kami melewati bangunan ruko berwarna hijau yang mana banyak orang-orang berjanggut dengan kopiah keluar masuk, kami pun bertanya pada bapak-bapak di pintu masuk apakah ini masjid dan dijawab dengan anggukan. Syukurlah, tak disangka bisa ketemu masjid dan menunaikan shalat di sana. Kebanyakan jamaahnya adalah warga keturunan timur tengah dan kami juga bertemu seorang pemuda indonesia yang sedang dinas di shanghai. Masjid ini terletak di fuyou street, tidak jauh dari stasiun metro yuyuan.

Sekitar pukul 16.00 saya yang memang sudah kehilangan minat untuk mengeksplorasi shanghai ditambah dengan tas yang makin berat karena segala macam oleh-oleh, akhirnya memutuskan untuk langsung saja berangkat ke bandara Pudong walau penerbangan kami masih dijadwalkan pukul 00.30 malam nanti.

Kami membutuhkan waktu sekitar sejam lebih hingga mencapai bandara Pudong yang sangat luas. Keluar dari stasiun metro terdapat beberapa gerai makanan yang harganya cukup terjangkau dan (mudah-mudahan) halal, makanlah di sini sebab di dalam bandara hanya ada restoran mahal yang jumlahnya pun tidak banyak.

Setelah makan kami tidur-tiduran (dan beneran tidur) di hall lantai 3 yang kosong, selain kami ada beberapa traveller lain yang melakukan hal yang sama. Kami melewatkan waktu hingga sudah bisa check in di counter, di china print web check in via internet tidak diperbolehkan, bentuknya harus berupa boarding pass resmi.

Sesudah itu kami menunggu di waiting lounge dan akhirnya masuk pesawat, tapi pesawat baru jalan sekitar dua jam kemudian karena ada masalah teknis, bye-bye shanghai, bye-bye china!!

Posted in Beijing, China, Shanghai

Explore China (Day 4)

Kami sengaja memillih bullet train yang berangkat pukul 12.00 sebab masih ada satu lagi destinasi wajib di beijing yang belum kami kunjungi yaitu … Temple of heaven. Berpacu dengan waktu, pukul 07.30 kami sudah check out dari hotel dan naik subway menuju ke stasiun Tiantan Dongmen. Kami keluar melalui exit A dan tidak jauh kami sudah berada di depan east gate .

TEMPLE OF HEAVEN

Hampir semua objek wisata kuno di China super duper luas, forbidden city, summer palace maupun great wall sangatlah luas, tidak terkecuali dengan Temple of Heaven yang luasnya bahkan melebihi Forbidden City. Temple of Heaven memang harus lebih luas dibanding Forbidden City karena kaisar sebagai putra langit dilarang memiliki tempat tinggal duniawi yang lebih luas dibanding tempat tinggal surgawi.

Temple of Heaven merupakan kompleks kuil dan tempat peribadatan yang digunakan untuk upacara dan tempat persembahan kepada dewa. Temple of Heaven dibangun pada dinasti Qing dan Ming. Temple of heaven dibagi menjadi dua area yaitu area utara yang diperuntukkan untuk “heaven” dan area selatan yang diperuntukkan untuk “earth”, bagian utara dibuat lebih tinggi karena melambangkan surgawi “heaven”. Keseluruhan kompleks ini dikelilingi oleh dinding. Bangunan-bangunan terpenting dari kompleks ini adalah Circular Mound Altar (Huanqiutan), the Imperial Vault of Heaven (Huangqiongyu) dan the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian).

Kalau di Forbidden city kemarin bangunannya rapat-rapat, di temple of Heaven ini bangunannya jarang-jarang namun masing-masing dipisahkan oleh taman yang sangat luas dan berjarak cukup jauh antara satu sama lain. Karena keterbatasan waktu, kami hanya mempunyai waktu maksimal 2 jam dan memutuskan untuk mengunjungi bangunan terpenting yang kerap kali muncul di brosur-brosur pariwisata yaitu the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian). Untuk menuju Hall of Prayer for Good Harvest saja kami butuh waktu sekitar 20 menit berjalan kaki, karena tas saya makin penuh dengan berbagai sovenir yang kemarin dibeli di Wangfujing, saya sempat berhenti duduk-duduk sambil memperhatikan aktivitas warga. Ada grup ibu-ibu yang sedang menari membentuk lingkaran dengan sang instruktur di tengah, lucunya mereka mengenakan kostum tradisional khas cina untuk menari, lagu yang mengiringi adalah lagu irama khas rakyat china, beberapa turis bule merekam tarian tersebut sambil ikut-ikutan menari. Ada juga sekelompok manula yang sedang berlatih senam taichi. Ada sekelompok remaja yang juga sedang bermain bulu tangkis atau layangan. Tampaknya Temple of Heaven di hari minggu tak ubahnya seperti GBK di Jakarta.

img_8924
Menuju The hall of good harvest
img_8926
Ibu-ibu menari dengan kostum tradisional
img_8928
taman-taman di kompleks Tempel of Heaven

Untuk memasuki the Hall of Prayer for Good Harvest kami harus membayar lagi. Kami mendaki sejumlah tangga dan sampailah kami di bangunan terkenal tersebut, kuil ini berbentuk bulat dengan diameter 32 m dan memiliki tiga lapisan atap berwarna biru. Kuil ini juga dibuat dalam tiga level lantai dan masing-masing memiliki balustrade dari marmer putih. Dahulu kaisar biasa mengadakan upacara dan doa-doa persembahan untuk meminta cuaca dan hasil panen yang baik. Kuil ini dibangun dari kayu hitam yang sangat kokoh, di dalamya terdapat pilar-pilar bulat berwarna merah dengan altar suci tepat di tengah-tengahnya, sayangnya bagian dalam kuil baru dibuka pukul 09.30 sehingga kami hanya bisa puas mengintip lewat celah pintu yang dibuka.

img_8936
Hall of  prayer for Good harvest
img_8948
Inside the hall

Di kanan dan kiri kuil ini terdapat West Annex Halls dan East Annex Halls sementara di bagian utara terdapat Imperial Hall of Heaven. yang bersambung dengan Imperial walkway bridge dan Circular mound altar, lagi-lagi sayangnya karena terbatasnya waktu kami hanya bisa memandangi tempat tersebut dari kejauhan.

img_8959
Imperial Hall of Heaven

Kami bergegas melewati 72 long corridors yang penuh dengan warga lokal yang bermain mahjong, catur atau kartu.

img_8969
72 long corridors

BYE-BYE BEIJING

Dari Temple of heaven kami kembali menaiki subway untuk menuju Beijing South Railway Station, sebenarnya yikatong yang kami beli masih ada sisa dananya dan bisa di-refund kembali, namun tidak semua stasiun bisa me-refund sementara stasiun terdekat dari posisi kami adalah Fuxingmen. Kami tentunya malas kalau harus berputar-putar rute dulu untuk mencapai fuxingmen sekedar untuk mendapatkan refund 40 RMB, akhirnya kami relakan saja dan yikatong tersebut kami bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Kami sampai di stasiun pukul 11.00 kurang dan berhenti dulu di gerai Burger King untuk early lunch. Setelah itu kami segera menuju waiting lounge, kalau mau naik bullet train jangan datang mepet waktu, alokasikan waktu sekitar satu jam sebelum keberangkatan, karena kita akan melewati pemeriksaan detektor dua kali dan cukup memakan waktu apalagi bila antriannya panjang.

Saya sering denger soal joroknya toilet di China sampai saya sengaja nggak banyak minum untuk menghindari ke toilet kecuali kepepet. Habis ceritanya jorok banget sih, seperti wc tidak berbilik ataupun toilet yang nggak disiram. Tapi pengalaman saya beberapa kali ke toilet di bandara ataupun di stasiun tidak seperti itu, wc rata-rata sudah berbilik tapi memang habit orang sana terutama generasi tua-nya, mereka gak suka nutup pintu bilik dan cueknya “membuang” di depan orang-orang. Syukurlah saya nggak pernah menemukan sisa limbah orang, tapi suami saya cerita kalau dia beberapa kali mendapat toilet dengan sisa limbah yang tidak diguyur, hieeek.

Di stasiun besar seperti ini rombongan keluarga juga cuek makan dengan bekal ala piknik dan rantang berlapis-lapis, walaupun mereka cukup tertib dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

 10409692_10154097249519623_2878755189720554897_n

Informasi kereta tertera pada tiket, contohnya lihat gambar di atas : angka 16 di pojok kanan atas menunjukkan nomor platform, G129 adalah nomor keretanya, dengan keterangan rute di bawahnya (Beijing – Shanghai Hongqiao), tanggal dan jam keberangkatan tertera di bawah kiri rute (2016 03 12 12:15) sementara di bawah kanan rute tertera 06 menunjukkan nomor gerbong dan 01 A menunjukkan nomor tempat duduk.

Tepat pukul 12.00 kereta datang dan kami mencari tempat duduk sesuai yang sudah tertera di tiket, tempat duduk kami terletak paling depan dengan komposisi bangku 3-2 dan semua bangku menghadap depan (tidak berhadap-hadapan), dekat toilet serta fasilitas dispenser air panas. Kereta berangkat tepat waktu, rasanya excited sekali bisa menaiki bullet train. Untungnya kami memang sudah membawa gelas lipat , peralatan makan dan ransum seperti mie gelas, cereal cair ataupun minuman sachet, sehingga perjalanan selama 6 jam tersebut kami isi dengan (mencoba) tidur dan makan. Awalnya tempat duduk masih terasa nyaman tapi lama-lama pegal juga sehingga sedikit-sedikit saya ubah posisi, udah gitu di seberang saya adalah seorang bule dengan wanita china yang tampaknya adalah korporat asing yang sedang bekerjasama untuk mengembangkan pelatihan bahasa inggris jadilah sepanjang perjalanan 6 jam itu saya non stop mendengarkan mereka berdiskusi .

1931088_10154097168339623_3160426889175148804_n
Inside of bullet train

WELCOME SHANGHAI

Tepal pukul 17.58 kereta sampai di stasiun Hongqiao yang juga merupakan stasiun yang tersambung dengan bandara shanghai hongqiao sehingga suasana sangat ramai dan padat. Kalau di beijing transportasi umum dengan kereta disebut beijing subway, di shanghai disebutnya shanghai metro. Dengan shanghai metro kami bertolak ke nanjing East Road di mana hotel kami berada. Perjalanan cukup jauh dan memakan waktu sekitar satu jam dengan kereta yang penuh sesak.

Keluar dari stasiun metro, kami disambut dengan pemandangan malam nanjing road yang spektakuler dihiasi oleh gemerlap cahaya dan neon dari pusat perbelanjaan dan mall besar yang berderet-deret. Tentunya kami bingung mana arah hotel kami, kami hanya mem-print peta menuju hotel tapi kami tidak tahu posisi kami saat itu di mana karena tidak ada marka jalan.

Akhirnya kami bertanya pada seorang cowok lokal ganteng (ehm) yang ternyata bisa berbahasa inggris fasih, si cowok bahkan membuka aplikasi peta online di hp-nya dan menunjukkan arah yang dimaksud, seneng bener, secara kemarin roaming bahasa mulu. Eh saat kita mau pergi si cowok didatangi cowok bule (yang cakep juga) abis itu mereka pelukan dan…kiss-an, ya ya ya ya. Shanghai memang tampaknya lebih metropolis dibanding Beijing.

Sampai di tengah jalan kami bingung lagi dan malah dengan cueknya nanya ke cowok yang lagi nawarin hotel di jalanan, haha, untungnya si cowok baik dan memberikan arah yang dimaksud. Hotel yang kami booking, Shijia in on the bund, memang bukan terletak di jalan utama Nanjing Road melainkan di salah satu gangnya yaitu Sichuan Middle Road, ya iyalah emangnya kami sanggup bayar hotel di nanjing road yang pasti harganya selangit. Letak hotel ini cukup strategis karena hanya sekitar 200 m dari Nanjing Road dan sekitar 500 m dari The Bund.

Begitu memasuki sichuan middle road, mall-mall berganti menjadi kios-kios kecil dengan suasana yang sepi lengang, untung tidak jauh kami ketemu dengan hotel ini. Hotelnya tidak begitu besar tapi resepsionisnya lancar berbahasa inggris. Kami istirahat sejenak sambil menyantap burger McD yang tadi kami beli di stasiun Shanghai Hongqiao, pegal rasanya pundak dan kaki ini akibat berdiri selama sekitar satu jam di metro. Setelah perut kenyang kami keluar hotel dan segera menuju The Bund. Sangat mudah menuju The Bund, ikuti saja arus orang-orang yang berjalan karena kebanyakan mereka akan meuju The Bund.

THE BUND

The Bund adalah anjungan di sepanjang sungai Huangpu dengan pemandangan cantik yang sangat kontras, di sebelah barat sungai Huangpu berdiri bangunan kuno peninggalan zaman kolonial Inggris yang sangat bersejarah, sementara di timur sungai Huangpu berdiri bangunan-bangunan modern dengan oriental pearl tv tower sebagai icon-nya.

Pemandangan di kala malam sangatlah indah dengan gemerlap lampu-lampu, mengingatkan saya akan avenue of the stars di Hongkong tapi the Bund lebih indah. Kontras antara bangunan kuno berpenerangan kuning emas dan bangunan modern berpenerangan warna warni sangatlah menarik mata. Banyak orang berkumpul di anjungan ini untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Yang lucunya adalah polisi di sini yang sibuk menegur dan memarahi pengunjung yang berdiri di atas tempat duduk atau bak bunga, cara menegurnya lucu, si polisi akan langsung memoto orang yang melanggar aturan dan mengancam akan dikenai denda 1000 RMB, termasuk suami saya yang tiba-tiba difoto, haha.

img_8973
Menuju the bund
img_8984
The Bund dengan huangpu river dan east river
img_9012
The Bund west river

Posted in Beijing, China

Explore China (Day 3)

Di hari kedua, tubuh tropis saya sudah agak mampu beradaptasi dengan suhu udara yang superdingin di beijing ini. Walaupun kondisi tubuh belum 100% optimal sembuh, namun tidur berkualitas semalaman penuh plus menenggak obat cukup mampu membuat tubuh dan mood membaik. Pagi-pagi sekali pukul 07.00 kami sudah keluar dari hotel untuk mengejar kereta S205 pukul 08.34 (beneran tepat sampai ke menitnya) yang akan membawa kami ke salah satu dari 7 wonders of the world … the great wall of china. Ada beberapa section dari Great Wall yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah Badaling yang paling populer dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, bisa dengan bus atau kereta.

The Great Wall of China

Kami memilih menggunakan kereta dengan rute perjalanan dari hotel sebagai berikut :

  • Naik subway dari Dongsi station (line 5) – change di Dongzhimen (ln 2) – turun di Xizhimen (ln 2) keluar di exit A
  • Ikuti petunjuk arah menuju Beijing North Railway Station
  • Nantinya akan ketemu pintu masuk bertuliskan Underground Entrance of Beijing North Railway Station, jangan masuk kesini, naiklah eskalator yang berada tepat di samping tempat ini hingga ke lantai Ground
  • Begitu sampai di lantai ground, kita akan langsung berhadapan dengan Ticket Booking office, sekali lagi bukan di sini belinya, loket tiket S train terletak tidak jauh dari sini dengan petunjuk “S train”
  • Kalau sudah memiliki yikatong  tidak perlu antri beli tiket lagi, cukup tap kartu
  • Setelah men-tap kartu kita tinggal duduk manis menunggu di Waiting Lounge, perhatikan di platform mana kereta kita dan pilihlah tempat duduk tidak jauh dari platfrom tersebut

Selama menunggu di sini saya perhatikan rakyat china itu hobi banget makan mie cup, kebanyakan orang membawa bekal mie cup yang ukurannya 2x lipat dari pop mie dan diseduh dengan fasilitas dispenser air panas yang memang sudah disediakan di stasiun. Saya berganti lokasi tempat duduk 2-3 kali karena masih bingung platform mana yang akan digunakan, sempat juga bertanya kepada petugas yang bisa berbahasa inggris patah-patah soal platformnya. Ternyata cukup perhatikan informasi yang tertera di layar elektronik yang dipasang persis di atas pintu masuk platform, petunjuknya dalam bahasa china dan inggris. 15 menit sebelum keberangkatan semua orang serempak siap antri di depan pintu masuk platform sampai saya ikut-ikutan ngantri karena takut ketinggalan. Begitu pintu platform dibuka semua orang lari cepet-cepetan demi mendapat gerbong terbaik, kami pun ikutan lari sampe ngap-ngapan, kami tentu khawatir nggak dapet tempat duduk soalnya perjalanan dari Beijing ke Badaling berdurasi 1 jam 20 menit. Karena kalah cepat, kami mendapat tempat duduk dengan posisi membelakangi arah (mundur) sehingga sebenarnya kurang nyaman. Kereta perlahan-lahan meninggalkan Beijing yang metropolis, tidak lama pemandangan berganti menjadi daerah kumuh dengan rumah-rumah kardus dan seng di tepi rel, juga deretan apartemen bobrok dengan kabel berjuntaian, tumpukan sampah menggunung dan sangat kotor, sangat jauh berbeda dengan downtown Beijing yang modern dan rapi. Warga yang tinggal di daerah tersebut berpakaian lusuh dengan muka yang kelelahan, wajah lain dari Beijing yang saya temui.

11209346_10154097183184623_6596121867370203487_n
Waiting Lounge

Awalnya kami berpikir bahwa S-train ini kereta khusus untuk wisatawan ke Badaling, tapi ternyata tidak, ini memang benar-benar transportasi umum yang berhenti di sejumlah stasiun dan salah satu perhentiannya adalah Badaling. Walaupun ada panel elektronik yang menginformasikan nama stasiun beserta pengumuman audio tapi tetap saja kami was-was karena takut salah turun stasiun, walhasil walaupun ngantuk kami nggak boleh tidur karena harus pasang mata dan kuping.

1391519_10154097183314623_9095208039112319332_n
S-train series

Sejam kemudian pemadangan topografi berganti menjadi pegunungan dengan hutan dan es-es yang masih belum mencair sepenuhnya. Saat itulah kami sudah bisa melihat The Great Wall dari kejauhan, tidak hanya kami bahkan para warga lokal pun berseru heboh dan sibuk memotret The Great Wall dari jendela kereta. Tidak berapa lama terdengar pengumuman “Pataling (cara baca Badaling) Station” dari pengeras suara dan kami pun turun. Selesai??? belum, masih jauh. Dari stasiun kami masih berjalan lagi sekitar 1 km hingga mencapai pintu masuk The Great Wall, ikuti saja papan petunjuknya. Saat kami turun ada beberapa turis bule yang juga mau menuju ke sana sehingga kami terus saja mengekor mereka…walau kemudian keok juga sih secara orang Indonesia kan jalannya nggak bisa cepet. Berjalan dalam cuaca sekitar 2-3 derajat benar-benar nggak nyaman, paru-paru lama kelamaan terasa sakit, untunglah sekitar setengah jam kemudian kami sampai di gerbang berupa benteng kuno yang merupakan pintu masuk serta deretan loket tiket di depannya.

img_8845
Jalan panjang membentang menuju The Great Wall
img_8846
Gerbang masuk Great Wall
img_8853
Loket tiket

Setelah membeli tiket kami pun menapakkan kaki di salah satu dari 7 wonders ini. Seneng banget akhirnya salah satu bucket list bisa dicoret. Karena masih musim dingin dan juga masih terhitung pagi, suasana di great wall tidak terlalu ramai bahkan kami bisa leluasa berfoto. Di beberapa tempat kami masih bisa menemukan bongkahan es dan salju, maklum warga tropis kan belum tau namanya salju, jadilah kami malah sibuk colak-colek bongkahan es tersebut.

The great wall merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibangun manusia, menurut hasil pemetaan panjangnya mencapai 8850 km. The great wall diprakarsai oleh kaisar Shih Huang Ti (kaisar pertama China) dari dinasti Qin, diteruskan oleh dinasti Han dan pembangunan utamanya berlangsung pada periode dinasti Ming. The Great wall berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menangkal serangan bangsa Mongolia dari utara.

img_8856

 

img_8864

img_8879

Medan the Great Wall di Badaling section ini cukup bersahabat, walau ada beberapa tanjakan curam yang cukup menguras tenaga, namun keseluruhan bagian tembok di section ini masih sangat terawat. Setiap beberapa meter terdapat bangunan berupa pos yang di dalamnya terdapat ceruk/ruangan dan juga tangga untuk menuju ke menara pengintai. Pintu masuk di pos ini sangat pendek, bahkan untuk ukuran tinggi badan saya yang hanya sekitar 155 cm, kepala saya hampir menyentuh puncak pintu. Kami berjalan hingga 3-4 pos dan saya yang kondisi badannya masih jelek akhirnya milih ngejogrok di sudut sementara suami saya masih mendaki sekitar 2 pos lagi.

img_8884
Pos pengintai
img_8899
Pintu masuknya

Dari ketinggian saya mengamati pemandangan hutan dan pegunungan yang membentang di sekitar the great wall dan jadi membayangkan situasi zaman dahulu saat perang. Hebat sekali memang konstruksinya, dengan tinggi tembok mencapai 8 m pasti akan menyulitkan para penyerang.

img_8910

img_8917
diem-diem motret polisi militer tapi tetep ketahuan dan dipelototin

Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di tempat ini dan segera bergegas turun untuk mengejar Strain pukul 13.40 yang akan membawa kami kembali ke Beijing. Tangan dan muka saya mulai beku akibat terpapar cuaca dingin, dalam perjalanan pulang kami mampir sebentar di gerai KFC untuk membeli susu panas dan french fries. KFC di China menyajikan berbagai minuman panas seperti susu, teh atau kopi. Saya juga memperhatikan bahwa setiap bangunan di China, entah itu hotel, restoran ataupun toko memiliki tirai plastik tebal di pintu masuknya, tirai plastiknya itu seperti di gudang – gudang supermarket.

Saat mencapai sekitar stasiun kami pun celingak-celinguk mencari pintu masuknya karena tidak ada papan penunjuk yang jelas. Hanya ada bangunan panjang kusam dengan beberapa pintu masuk ukuran single yang membuat kami sangsi apa ini stasiunnya, akhirnya kami memberanikan diri masuk dan bertanya apa ini stasiun S-train dan ternyata benar. Kami disambut oleh seorang kakek petugas galak yang sorot matanya seakan pingin menguliti kami hidup-hidup (oke mulai lebay), begitu melihat saya dia langsung bilang “passport” tapi begitu melihat suami saya dia langsung nyerocos dalam bahasa china dan dijawab suami saya dengan “i don’t speak chinese”. Kami kembali melewati mesin detektor untuk masuk ke stasiun. Saat menunggu kami memperhatikan bahwa memang pemeriksaan di china ini sangat ketat, ada rombongan bapak-bapak warga lokal yang sepertinya tukang kayu karena mereka membawa berbagai peralatan seperti gergaji, linggis dll yang langsung disita oleh petugas walau mereka sudah memohon-mohon.

Niu Jie 

Perjalanan pulang kami habiskan dengan tidur tanpa khawatir kelewat karena Beijing North merupakan stasiun paling akhir. Destinasi selanjutnya adalah kawasan muslim Beijing yang bernama Niu Jie, dari beijing north station kami kembali berjalan hingga mencapai Xizhimen station dan naik subway hingga Changcunjie station.

Menurut buku panduan yang pernah saya baca, untuk mencapai Niu Jie kami cukup turun di Changcunjie station melalui exit A, lalu menaiki bus No 10 dan berhenti di halte Niu Jie Bai Se atau bisa juga berjalan kaki sekitar 1.5 km. Tapi … begitu kami keluar exit A ada dua halte bus dan kami bingung yang mana, akhirnya kami berjalan ke halte yang terdekat dulu sambil membaca papan informasi tentang rute bus tersebut, tapi di papan tersebut sama sekali tidak tertera bus no 10. Kami pun berjalan ke halte yang lebih jauh dan ternyata tetap hasilnya nihil, tidak ada bus no 10. Saya pun akhirnya bertanya pada dua polisi militer yang sedang berjaga di dekat puntu keluar stasiun, untungnya itinerary yang saya siapkan mencantumkan juga nama dalam aksara china sehingga si polisi ngerti, dia menginstruksikan kami menyebrang jalan dulu dan menunjukkan arah lurus saja ke Niu Jie. Kepalang tanggung udah nyampe sini ya sudah kami memutuskan berjalan kaki saja padahal kaki udah pegelnya minta ampun. Setelah menyebrang jalan dan berjalan lurus sekitar 200 m, kami mendapati bus no 10 melewati kami, ampun deh..ternyata yang benar itu keluarnya dari exit C, di seberangnya baru ada halte bus yang dilewati bus no 10. Apakah kami naik bus?tentu saja tidak karena sudah tanggung akhirnya kami terus saja berjalan, sekitar 1 km kemudian kami mulai menemukan toko-toko dan restoran berplang hijau yang menandakan bahwa toko&restoran ini pemiliknya adalah muslim.

Akhirnya kami juga bertemu dengan restoran Tau Lu Fan, restoran muslim terkenal yang bahkan direkomendasikan oleh Bapak Maknyous, Bondan Winarno. Di daerah ini sudah mulai berseliweran warga lokal china, yang perempuan berhijab sementara yang lelaki berjanggut dan berkopiah yang menandakan bahwa mereka muslim.

Niu Jie yang berarti Ox Street merupakan kawasan muslim di beijing, dinamakan ox street karena dulu di daerah ini banyak restoran muslim yang menjual makanan berbahan dasar lembu atau sapi. Kami meneruskan langkah hingga bertemu dengan Niu Jie Bai She atau masjid Niu Jie. Bangunan masjid mirip sekali dengan kelenteng, bukan masjid dengan kubah  bawang seperti umumnya. Miris sekali melihat ada beberapa gelandangan yang meminta-minta di sekitar masjid ini apalagi ditilik dari bajunya sepertinya mereka saudara seiman, semoga Allah melebihkan rezeki mereka.

Di pintu masuk masjid tertempel jadwal shalat, dan sayangnya suami saya melewatkan kesempatan shalat jumat di masjid ini karena jadwal kereta Strain yang tidak memungkinkan. Ruangan shalat didominasi warna merah dengan banyak hiasan kaligrafi arab di kayu-kayu penonggak gedung. Arsitekturnya sangat bernuansa china karena zaman dahulu penguasa melarang bangunan yang tidak bergaya china. Minaretnya juga sangat khas dengan bentuk ornamen khas china. Ruang shalat laki-laki dan perempuan ditempatkan di gedung terpisah. Saat di sana saya sempat mengobrol dengan grup tur asal malaysia yang menyatakan keherannya atas keberanian saya pergi menjelajah china hanya berdua suami, dia bertanya nggak takut hilang? di sini makan apa aja? dsb yang membuat saya tertawa lepas.

Keluar dari masjid Niu Jie, kami bermaksud menyantap makan siang yang sangat terlambat (karena sudah pukul 15.00) di supermarket muslim yang berada di seberang jalan. Supermarketnya sangat besar dan terdiri atas 3 lantai, lantai satu dan dua sebagai supermarket yang menjual aneka bahan makanan dan segala macam rupa-rupa kebutuhan, sementara lantai 3 adalah area food court. Kami hanya melintas sebentar di area supermarket sambil melirik manisan berupa apel dibakar yang disiram gula cair serta berbagai permen china dan langsung menuju area food court.

Food court ini khusus menjual masakan halal dan semua pedagangnya adalah china muslim, alhamdulillah bisa menyantap makanan tanpa was-was. Saya memilih potongan dadu ayam yang digoreng dan semacam steamboat berisi aneka sayuran dan bakso dengan kuah pedas.

Beijing South Station

Tujuan kami selanjutnya adalah Beijing South Station semata-mata demi menukarkan tiket bullet train yang sudah kami pesan dengan tiket yang valid, maklum kemarin sudah mencoba di sejumlah stasiun tapi gagal karena kendala bahasa, sehingga mau tak mau kami harus ke stasiun ini yang memang merupakan stasiun tempat keberangkatan sang Bullet Train.

Kali ini kami menumpang bus no 10 untuk kembali ke stasiun changcunjie, menaiki subway dan turun di stasiun Beijing South. Nah keluar kereta kami kembali celingak celinguk mencari mana loket tiket buat nuker S train, ternyata..kami harus keluar dulu dari stasiun subway ke arah beijing south railway station (bukan beijing south subway) terus melewati sejumlah gerai restoran dan toko-toko seperti di mall, terus saja hingga bertemu eskalator tinggi dan naik hingga ke lantai dua tempat deretan loket-loket berada. Kami berhasil menemukan tempat ini setelah melalui serangkaian proses nanya-nanya ke banyak orang, campuran bahasa isyarat dan bahasa inggris patah-patah. Sampai di sini tentu masih bingung yang manakah loket yang dimaksud? secara loketnya berdert-deret banyak bener, beruntung suami saya melihat ada bagian informasi dan …. ternyata petugasnya bisa bahasa ingris..huraaaaa…huraaaaa..seneng banget akhirnya setelah sekian hari ada yang bisa bahasa inggris…rasanya bagai nemu oase di padang pasir. Sang petugas memerintahkan kami ke loket no 41 yang khusus untuk foreigner, tanpa banyak ba bi bu petugas di loket tiket langsung paham begitu kami menunjukkan secarik kertas tanda bukti booking dan setelah meminta passport, dia langsung menyerahkan tiket valid kepada kami, alhamdulillah.

10665197_10154097184464623_8889316158609845055_n
Loket no 41

Setelah lega sesudah mendapat tiket, kami baru bisa mengamati suasana di stasiun ini yang layaknya bandara internasional, sangat besar, megah, super bersih dan tertib.

10538405_10154097184584623_540998700314211312_n
Beijing South Railway Station

Karena sudah kecapekan akibat jalan seharian penuh, sesampai di hotel sekitar pukul 17.00 kami sudah tidak ke mana-mana lagi, untungnya di seberang hotel ada McD sehingga saat jam makan malam suami saya pergi beli dulu sementara saya … tidur manis.