Posted in Jambi, Lampung, Muara Bungo, Palembang, Solok, South Sumatera, Tanah Datar

Mudik Besamoh (Day 8 – 11)

DAY 8

Hari ini kami rencana untuk line up pukul 07.30, sebab masih ada dua destinasi lagi yang akan dikunjungi yang kebetulan searah dengan arus balik kami dari bukittinggi ke muara bungo. Kami berencana mengunjungi danau singkarak di tanah datar dan danau atas bawah di Solok.

Saat sarapan di restoran hotel, om zul sekeluarga izin pamit karena sudah akan berangkat dinas ke Pekanbaru. Perjalanan agak terlambat dari jadwal dikarenakan tante wilda terjebak macet di area jam gadang sehingga baru 08.40-an kami bisa berangkat.

Hanya perlu waktu sejam lebih untuk mencapai danau Singkarak yang super luas bagaikan lautan, danau singkarak merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba, saking luasnya bahkan kita tidak bisa melihat ujung-ujungnya. Danau ini terkenal sebagai danau berombak dan dasarnya terus mengalami penurunan akibat letaknya yang persis di lempeng sumatera. Kadang kala ada berita tenggelamnya kapal wisatawan sehingga membuat kami urung mengarungi danau dan lebih memilih duduk-duduk sambil memandangi panorama di depan mata.

15781355_10154952370499623_3273112825717112362_n
Danau Singkarak

Produk terkenal dari danau singkarak adalah ikan bilis, ikan kecil-kecil dengan ukuran lebih besar dari teri, namun tidak asin. Di sini harganya murah, hanya 135 ribu/kg. Tante-tante pun semua sibuk memborong ikan bilis yang ada di warung sekitar.

24735158-dry-ikan-bilis-stock-photo
Ikan bilis (sumber:123RF.com)

Setelah itu kami meluncur ke daerah solok dan kembali melewati RM Kayu Aro yang enak dendeng batokoknya itu, kami memutuskan berhenti di sini untuk makan siang sekaligus shalat jumat karena persis di seberang RM Kayu Aro adalah masjid besar.

Beres makan siang dan shalat jumat, kami menuju danau atas bawah yang ternyata aksesnya cukup sulit dan belum dikelola dengan baik oleh dinas pariwisata. Kami sampai harus berbalik dua kali dan bertanya – tanya pada warga sekitar di mana view point yang memungkinkan kami melihat dua danau tersebut secara jelas. Akhirnya kami berhenti di view point yang sepertinya masih dikelola oleh penduduk lokal karena masih minimnya fasilitas maupun kebersihan. Dari tempat tersebut memang kami bisa menikmati keelokan danau bawah karena lebih dekat, tapi panorama danau atas walaupun terlihat tapi agak jauh. Danau tersebut merupakan danau kembar yang letaknya berdekatan, kalau dari hasil googling seharusnya ada view point yang lebih bagus, usut punya usut tempat tersebut masih harus menanjak sekitar 7 km lagi dari posisi kami ini, ya sudahlah.

15741156_10154952353009623_7465813281040859704_n
Danau bawah
15781283_10154952354634623_197584074257874515_n
Danau atas

Untuk menuju muara bungo ada jalan pintas yang ditunjukkan oleh google maps dengan durasi yang lebih singkat. Ternyata jalannya sempit, berliku liku naik turun dan hanya cukup untuk papasan dua mobil, diperparah dengan kemacetan di suatu titik yang ternyata adalah pasar lokal, maju mundur saja sulit. Beruntung setelah koordinasi dengan sopir lainnya, kami bisa maju dan selepas itu rasa lelah kami terbayar dengan kecantikan danau bawah yang berwarna biru cerah di sebelah jalan. Sekitar dua jam kemudian sampailah kami di jalan besar lintas sumatera. Di sini kami berpisah dengan tante wilda yang akan kembali ke bukittinggi, sementara 7 mobil lainnya akan kembali ke muara bungo.

Setelah sempat berhenti sebentar setelah perbatasan sumbar-jambi untuk makan malam di suatu kedai pecel lele, akhirnya pukul 22.30 kami kembali tiba di hotel permata kota muara bungo untuk beristirahat.

DAY 9

Hari ini kami akan memulai arus balik menuju kota Palembang, karena rusak dan padatnya jalur lintas timur, Om Yes yang asli Palembang menyarankan untuk mengambil lintas tengah yang lebih sepi. Memang sekitar satu dasawarsa lalu, jalur tengah ini rawan dan terkenal dengan si bajing loncat, tapi katanya sekarang sudah aman dan ramai.

Kami berangkat tepat pukul 06.00 dari hotel, sarapan berupa nasi uduk sudah dipesan sehari sebelumnya dan diantarkan pukul 05.00 subuh. Sengaja pagi-pagi sekali sebab nanti malam adalah tahun baru dan dikhawatirkan jalanan di sekitar Palembang pastinya akan macet parah.

Kami mengambil jalur dengan melintasi Sarolangun dan Lubuk Linggau, jalanan memang lebih mulus dan sepi sehingga kami bisa memacu kecepatan hingga 60 km/jam. Di Lubuk Linggau kami makan siang di RM Pagi Sore yang ternyata bagus sekali, di pinggir sungai, mirip cimory river view di Puncak-Bogor. Memasuki Jambi dan Sumsel berasnya sudah agak tanak sehingga anak-anak mau makan kembali.

15873230_10154956369549623_2037087347460783744_n
RM Pagi Sore di Lubuk Linggau yang mirip Cimory Riverview

Lepas Lubuk Linggau, jalanan di Sumsel kembali berlubang-lubang. Rekan-rekan kami yang kebanyakan adalah orang-orang oil & gas banyak bercerita dan diskusi lewat HT bahwa Sumsel ini merupakan provinsi yang kaya karena minyak bumi dan gas alamnya, namun kontras warga yang kami jumpai di sepanjang jalan sepertinya masih kurang diperhatikan kesejahteraannya. Banyak ilegal tapping yang bahkan dilindungi oleh aparat, di sepanjang jalan banyak angkutan drum-drum yang menurut mereka adalah hasil ilegal tapping. Saya perhatikan jalan-jalan di sumsel selain di palembang kebanyakan rusak parah, sungguh ironis disandingkan dengan program prestisius LRT di tengah kota

Memasuki wilayah sekayu hingga tiba kembali di lintas sumatera jalanan rusak parah dan diperparah dengan deretan truk-truk tronton yang tiada habisnya, belum lagi ulah sembarangan pengemudi motor yang ikut euforia tahun baru. Syukurlah pukul 20.00 malam kami sudah tiba kembali di kota Palembang. Jalanan sangatlah ramai karena semua orang ingin merayakan tahun baru, untungnya Om Yes yang asli Palembang banyak tahu mengenai jalan-jalan pintas.

Sebelum masuk ke hotel, kami mampir dulu ke Pempek Saga Sudi Mampir yang menyajikan pempek unik yang tidak ada di manapun yaitu Lenggang Panggang. Saya mencoba pempek ini pada 2014 silam dan langsung ketagihan, sayangnya tidak bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh. Pempek ini adonannya dicampur dengan telur dan langsung dituang di atas cetakan daun kemudian dipanggang. Kenyang dengan seporsi pempek ukuran besar, kami kembali check in di Fave Hotel Palembang dan langsung tidur.

15822611_10154950476844623_6468902063353406957_n
Pempek Lenggang RM Sudi Mampir

DAY 10

Itinerary di Palembang direncanakan santai, selain karena memang tidak terlalu banyak destinasi wisata, kami harus memastikan kondisi badan agar tetap fit. Karena baru akan kumpul pukul 10.00, paginya anak-anak sudah minta berenang di hotel.

Rencananya kami akan mengunjungi Bait Al Akbar di Gandus (yang terkenal dengan Al Quran Raksasa-nya), tempat wajib jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Oh ya untuk oleh-oleh pempek kami sudah memesan pempek Vico yang diurus sehari sebelumnya oleh adik Om yes, sebab katanya kalau tahun baru warung pempek kebanyakan libur.

Kami parkir di samping Benteng Kuto Besak dan bisa dibayangkan panasnya area Jembatan Ampera sekitar jam 11 siang ? palembang ini memang panas, lebih dari jakarta. Setelah berfoto-foto singkat di depan icon palembang tersebut, kami pun segera lari ke mobil dan bergerak menuju RM Sri Melayu untuk makan siang.

15823445_10154956361394623_6456998222185164474_n
benteng kuto besak
15873552_10154956362779623_8985746754745982785_n
jembatan ampera di kala siang

RM Sri Melayu menyajikan aneka masakan khas palembang seperti pindang patin, brangkas tempoyak dan aneka rupa-rupa lainnya. Karena sudah agak bosan, kami malah memesan ikan gurame bakar dan tumis kangkung tapi tidak lupa menyertakan pindang patin. Menurut saya pindangnya jauh lebih enak yang di RM pegagan adenia, harganya juga lebih murah.

15871522_10154956362994623_4901350378442334017_n
Aneka sajian RM Sri Melayu

Setelah makan siang, rekan-rekan lainnya menyarankan untuk membatalkan saja kunjungan ke Bait Al Akbar sebab sudah pukul 14.00 dan masih mau ke toko oleh-oleh lagi (okee saat ini saya mulai agak bete). Akhirnya kami mampir ke toko pempek Candy untuk membeli lempok durian (sejenis dodol yang sudah dicampur durian dengan aroma yang sangat tajam, harganya 25 ribu/dodol) dan aneka rupa kerupuk palembang, yang banyak ikannya seharga 25 ribu/bungkus kecil, sementara yang lebih sedikit ikannya hanya 12.5 ribu/bungkus kecil. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

15826606_10154956363069623_6270195707489188308_n
Pempek Candy

Karena masih merasa belum puas, saya mengajak suami dan keluarga untuk jalan-jalan lagi. Selepas pukul 17.00 (setelah rapi mandi dan istirahat) kami menuju monpera yang berhadapan langsung dengan masjid agung palembang. Hanya sebentar kami melewatkan waktu di sini, setelahnya kami langsung menuju ke museum Sultan Mahmud Badaruddin II (yang tentunya saat itu sudah tutup) untuk parkir dan berjalan ke mall kecil di depannya cuma untuk melihat pemandangan jembatan ampera yang jauh lebih indah dengan kerlap-kerlip lampunya di waktu malam.

15873284_10154956366084623_3854276917106671680_n
Monpera
15823688_10154956366349623_1825632140954452811_n
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
15871636_10154956368384623_8268194937002975979_n
Jembatan Ampera di kala malam

Puas mengabadikan jembatan ampera lewat layar ponsel, kami kembali ke hotel setelah sebelumnya mampir di warung Tekko untuk makan malam, sengaja makan di sini karena sudah mulai bosan dengan masakan padang.

DAY 11

Ini adalah hari terakhir dari rangkaian touring mudik besamoh kami, setelah sarapan tepat pukul 06.00 kami sudah line up. Kali ini kami mencoba jalur lainnya lewat lintas tengah yaitu melalui prabumulih – martapura – kotabumi – metro – bakauheni. Jalurnya memang lebih jauh, sekitar 526 km, lebih jauh 70 km dibanding lintas timur, tapi katanya juga lebih sepi dan lancar.

Kami sempat berhenti di RM Neng Cella, rumah makan masakan sunda yang sempat dikunjungi oleh RI-1 saat kunjungan beliau ke Martapura kemarin, namun urung karena lamanya waktu masak. Akhirnya lagi-lagi masakan padang.

Kami melewati kotabumi dan metro, metro merupakan kota di mana banyak sanak saudara dari pihak ibu yang ikut program transmigrasi menetap, bahkan mbah buyut saya pun tinggal di sini. Tapi sejak beliau meninggal saya sudah tidak pernah menginjak lampung lagi, terakhir saat saya masih SD, jadi saya tidak begitu ingat lokasi rumah saudara-saudara saya.

Baru pukul 23.00 malam kami sampai di Bakauheni (sebelumnya sudah makan di lagi-lagi RM Padang – Begadang V di dekat kota Bandar Lampung), antrian naik kapal tidaklah seramai saat berangkat bahkan kami bisa langsung naik. Durasi penyebrangan selama 3 jama itu kami lalui di dalam mobil dengan tetap menghidupkan mesin mobil dan AC. Akhirnya kami sampai di Merak dan setelah melaksanakan prosesi bubar dan pamitan di tibar (titik bubar) yang berlokasi di pom bensin setelah fly over merak, kami masih melanjutkan perjalanan hingga kediaman kami di cibubur. Dengan mengucap alhamdulillah karena sudah diberikan lindungan dan berkah keselamatan, sekitar pukul 05.00 subuh kami sampai di rumah dengan selamat. Berakhirlah rangkaian touring 11 (12 hari sih sebenarnya, lha wong kami nyampe sudah jam 05.00 subuh), saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan om dan tante beserta keluarga yang sudah banyak membantu. Saya juga sangat bangga dengan suami saya yang terbukti kuat sebagai supir antar kota antar propinsi antar pulau, haha.

Rangkuman saya enaknya touring itu selain silaturahmi, kita tidak perlu repot-repot buka google maps karena sudah ada RC (Road Captain) yang membuka jalan, selain itu kita juga saling info dan menyemangati selama di perjalanan sehingga terhindar dari rasa bosan dan lelah.

Sedikit tidak enaknya yah namanya juga touring, pergi rombongan, jadi untuk berhenti di satu titik tentunya butuh waktu lebih lama, misal saja untuk wisata toilet di SPBU kalau sendirian paling butuh 10-15 menit, kalau rombongan ya minimal 30 menit, tapi yah dinikmati saja, alhamdulillah.

Posted in Bukittinggi, Indonesia, Payakumbuh, Solok, Tanah Datar, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 5 – 7)

Day 5 

Setelah beristirahat semalaman di hotel yang terbilang mewah untuk ukuran saya (yang selama ini hobinya nginep di budget hotel) badan rasanya agak enakan, apalagi sesuai kesepakatan hari ini kita akan line-up pukul 08.30, sedikit siang dan santai karena dua hari sebelumnya sudah diforsir perjalanan jauh.

Sekilas mengenai hotel grand rocky di bukit tinggi, hotel ini termasuk mewah dengan ukuran kamar yang luas (33 m2) dan dilengkapi karpet tebal nan empuk. Tempat tidurnya king size, okupansi sebenarnya hanya untuk maksimal 2 dewasa per kamar, tadinya kami mau menambah extra bed, namun setelah menghubungi resepsionis dan diberitahu bahwa biayanya 450 ribu/extra bed/malam, tentunya kami yang super irit ini ogah. Suami saya pun menurunkan matras angin yang dipasang di dalam mobil untuk digelar di atas karpet, untung karpetnya memang empuk. Kebanyakan hotel di Indonesia (bahkan untuk ukuran yang agak mewah sekalipun) tidak terlalu ketat soal okupansi, misalnya walau sudah ditulis bahwa kamar hanya boleh ditempati  maksimal 2 dewasa, tapi kenyataanya mah mau masuk lebih dari itu juga bisa-bisa aja, paling cuma ketat di breakfast . Untungnya salah satu anggota touring, tante wilda yang asli bukit tinggi, adalah teman dari si pemilik hotel, sehingga untuk peak season seperti ini kami hanya membayar 850 ribu/kamar/malam, aslinya sih katanya lebih dari sejuta-an. Hotel memiliki swimming pool yang cukup luas dengan view ke arah ngarai sianok dan juga mini playground untuk anak-anak. Hotel ini juga sangat strategis karena letaknya hanya 500 m dari pusat kota dan jam gadang.

303355_14031913550018763354
Grand Rocky Bukit tinggi (sumber : agoda.com)
8515299_2_z
Kamar deluxe tempat kami menginap (sumber : idhotels.com)

Pemandangan kota bukittinggi dari kamar kami sangatlah indah, dengan dua gunung , merapi dan singgalang, yang mengapit kota tersebut. Karena berada di ketinggian, suhu udara di bukittinggi cukup dingin, mirip seperti di Puncak.

Pukul 07.30 kami sudah bersiap turun untuk sarapan di restoran hotel, karena keluarga kami terdiri dari 3 dewasa dan 2 balita, sementara kupon makan yang diberikan hanya untuk 2 dewasa, maka kami menambah extra breakfast dengan biaya 90 ribu/orang, anak di bawah 5 tahun belum membayar. Restorannya lumayan besar dengan makanan yang lengkap, kebanyakan bercita rasa minang, agak pedas dan berasnya ” makpyur/pera’ “.

grand-rocky-hotel-bukittinggi
Restoran di Grand Rocky (sumber : tripadvisor.com)

Itinerary hari ini sangat padat, kelok 9 – lembah harau – padang mangateh – istana pagaruyung – danau singkarak. Pukul 08.30 kami bertolak menuju ke arah payakumbuh tempat di mana kelok 9 dan lembah harau berada, menurut google maps butuh waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Karena kemarin ada tambahan 2 anggota lagi , maka hari ini total ada 9 mobil yang bergabung dalam konvoi. Di kota payakumbuh, om DK dan keluarganya sudah menunggu, om DK yang istrinya asli payakumbuh memang tidak ikut menginap di bukittinggi, melainkan di rumah mertuanya.

Hampir pukul 11.00 kami baru tiba di kelok 9 (karena tadi sempat berhenti untuk isi bahan bakar), kelok 9 ini sebenarnya merupakan jalan utama penghubung payakumbuh ke pekanbaru. Namun karena konstruksinya yang menarik, maka tempat ini sekarang malah menjadi icon baru dan tempat wisata.

Saat baru akan mendaki kelokan sebenarnya ada suatu rest area di mana ada mini playground dan warung tenda, tapi om DK menyarankan agar kami naik hingga di puncak saja agar mendapat view yang lebih bagus.

Jalannya memang melingkar-lingkar menjadi 9 kelokan dan sangat elok apabila dipandang dari puncaknya. Di puncaknya sendiri berjajar warung tenda yang menjajakan makanan ringan , warung tenda ini berdiri di bahu jalan jadi tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan yang lewat. Sementara untuk parkir bisa menggunakan bahu jalan yang ada di seberangnya. Kelok 9 membelah tebing-tebing tinggi yang di baliknya membingkai lembah harau.

15698318_10154942790164623_4391074809417233209_n
Kelok 9
15823176_10154962873319623_3879276083256369525_n
Kelok 9 dari puncak
15871776_10154962873629623_7376539002527458492_n
Deretan kios dan parkir di puncak

Setelah puas melihat kelok 9, kami pun menuju lembah harau yang hanya berjarak setengah jam perjalanan. Luar biasa menurut saya, tebing-tebing cadas tinggi berwarna merah kehijauan yang mengapit persawahan hijau nan subur, sungguh suatu pahatan Allah yang tidak terkira keindahannya. Baru pertama kali saya melihat yang seperti ini sebab di pulau jawa tidaklah ada.

15873319_10154962875204623_7303829812266194885_n
Lembah Harau

Di persimpangan terakhir kami berbelok ke arah kanan dan menuju suatu “view area” di mana dari kejauhan tebing-tebing tersebut seolah mengelilingi kami. Terdapat sebuah rumah gadang elok yang berdiri kokoh dan sungai kecil dengan sampan yang disewakan. Rasanya betah berlama-lama di sini, sayangnya kami harus segera bergegas menuju ke air terjun lembah harau yang berada di sekitar situ. Namun sungguh sayang disayang, berbeda dengan kondisi pulau jawa yang hujan tiada henti, pulau sumatera malah masih kering kerontang, yang mengakibatkan debit air terjun kecil bahkan kering, jadi kami tidak bisa melihat keindahan air terjun lembah harau.

15873104_10154962875159623_4533328365022976578_n
Sungai dan sampan di lembah harau

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 siang yang artinya kami harus segera mencari makan siang. Tante Wilda pun merekomendasikan restoran “Pongek or Situjuah” yang terkenal dengan ikan bakarnya. Seperti kebanyakan rumah makan padang, walau yang digadang-gadang ikan bakarnya, namun makanan tetap disajikan dengan ala “hidang”, jadi tanpa memesan menu, aneka rupa lauk pauk mulai dari rendang, ayam hingga daun singkong  ya sudah dihidangkan di meja, cuma bedanya di sini ikannya yang istimewa, mujair ukuran besar yang dibakar namun agak pedas. Yang agak mengesalkan susah minta apa-apa ke pelayannya, minta sendok aja sampe lama gak dikasih, sampe ngomong ke etah berapa orang yang berbeda dan tetap gak dikasih, ternyata menurut adik ipar om DK yang asli payakumbuh, pelayan di sini memang seperti itu. Masakannya memang enak dan total harga yang dibayarkan sekitar 120 ribu-an, lagi-lagi saya dan suami saling ngedumel soal rumah makan padang di perjalanan kemarin yang harganya amit-amit, padahal gak enak.

15726294_10154942835974623_6431406531694835740_n
Makan di RM Pongek or Situjuah

Kami keluar dari restoran sudah hampir jam 4 sore, setelah berdiskusi singkat, semua anggota touring sepakat untuk membatalkan kunjungan ke destinasi selanjutnya sebab sudah terlalu sore. Sebagai gantinya kami langsung memutuskan ke “Rumah Pohon Abdul” yang direkomendasikan oleh Tante Wilda untuk memulai acara inisiasi dan perkenalan anggota. “Rumah Pohon Abdul” ini terletak di Jl. Banarung, masih di area ngarai sianok.

Saat kami tiba di pusat kota bukit tinggi, lalu lintas sudah padat dan bahkan macet di beberapa titik terutama di sekitar area jam gadang dan monumen bung hatta. Imbas dari kemacetan tersebut adalah kami (C2) dan dua mobil lainnya (C3 dan C6) terpisah dari rombongan, kami salah saat berbelok, saya pun membuka gogle maps dan malah bingung karena di google maps ada dua tempat berbeda yang menunjukkan rumah pohon ini. Dua kali kami hanya berputar mengitari jam gadang lagi dan lagi, parahnya sinyal hp agak sulit sehingga susah untuk menghubungi tante wilda atau anggota lainnya. Ditambah pula hp saya dan suami habis baterai sementara charger di dalam mobil malah raib entah kemana gegara dimainkan baby B. Akhirnya kami mencoba mengambil arah melalui taman panorama hingga bertemu sungai yang lebar, dari sana om Aan mencoba menghubungi anggota lainnya dan alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Ternyata cafe ini letaknya mirip-mirip cafe daerah dago yang agak nyempil-nyempil.

15780872_10154942799939623_7846716965386655759_n
Rumah Pohon Abdul di lembah ngarai sianok

Sepertinya “Rumah Pohon Abdul” ini merupakan tempat yang lagi happening, terletak di lembah yang dikelilingi tebing ngarai sianok, pemandangannya sangat indah, suasana rasanya syahdu sekali apalagi dari surau di kejauhan terdengar lantunan merdu Ar -Rahman, suatu surat dalam Al-Quran yang isinya mengenai berbagai nikmat yang Allah telah karuniakan, hati rasanya basah sekali.

15726975_10154942799954623_4191748355330808297_n
Rumah Pohon Abdul

Masakan yang disajikan beraneka ragam, ada western, chinese dan lokal, harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran cafe dengan kelas seperti itu. Chicken steak yang saya pesan hanya 28 ribu sementara cap cay semangkok besar hanya 22 ribu, banana split hanya 25 ribu, cukup terjangkau.

Setelah maghrib dilangsungkan acara perkenalan yang dibuka dengan sambutan oleh suami saya yang menjabat sebagai ketuplak (ketua pelaksana), dilanjutkan dengan sambutan Om Aan sebagai penasihat dan Om Goz sebagai RC. Acara semakin seru dengan perkenalan para anggota lainnya. Suami saya pun tersenyum makin lebar karena mendapat “wings” artinya sih katanya kalau dapet wings keanggotaanya lebih prestisius atau apalah, pokoknya naik kelas.

15747772_10154942800164623_5003837891701598986_n
Inisiasi dan perkenalan
15698125_10154942800019623_2613044189131381603_n
Yang dapet wings happy bener

Akhirnya setelah isya kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Sempet bingung nyari laundry karena setelah puter-puter kok ya ga ketemu, akhirnya kami minta tolong titip ke satpam hotel untuk dicarikan laundry kiloan. Ada insiden setelah itu, entah karena kecapekan atau salah makan, si sulung baby G malamnya muntah-muntah sampai dua kali, sampai saya panik, baby G sampai menolak minum susu karena mual dan sepanjang malam tidurnya gelisah, kesian banget.

DAY 6

Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, hari ini kami memutuskan berangkat lebih pagi, pukul 07.30 dari hotel agar destinasi yang sudah dijadwalkan bisa dikunjungi semuanya. Baby G yang masih punya masalah perut malam sebelumnya pun kembali muntah setelah makan nasi 2 suap dan menolak semua makanan yang disodorkan, padahal biasanya makannya banyak, akhirnya pelan-pelan saya suapi roti sambil menemani dia bermain di area playground agar perhatiannya teralihkan. Kontras dengan sang kakak, baby B si penggemar pedas malah lahap banget makannya, padahal biasanya dia susah makan.

Destinasi pertama kami adalah puncak lawang, suatu bukit di mana kita bisa melihat panorama danau maninjau dari ketinggian. Tadinya kita mau turun sampai ke danau maninjau, tapi karena lebih jauh dan harus melewati kelok 44 yang lumayan curam, akhirnya kami memutuskan untuk berpuas diri dengan puncak lawang saja.

Untuk menuju puncak lawang jalannya pun berbelok-belok melintasi bukit dengan banyak kelokan tajam, di kanan kiri banyak penjual jeruk segar, makin ke atas udara makin dingin dengan pemandangan yang spektakuler hingga kami sampai di puncak lawang. Sebelum mendaki view point, kedua baby minta dibelikan air tebu yang banyak dijual di kios-kios dekat situ, air tebunya benar-benar segar dan manis karena dari tebu asli, apalagi ditambah potongan es batu dan perasan jeruk limau.

15781211_10154942790544623_5540974448956376605_n
Nenek penjual es tebu
15823351_10154962877484623_1652862887034657483_n
Lawang Park

Saat mencapai view point mulut hanya bisa berucap ” subhanallah ” sungguh indah ciptaan Allah, danau maninjau yang dilatari pegunungan, menghampar biru indah, sesekali awan berarak melintas, suatu pemandangan negeri di atas awan. Lagi-lagi hati rasanya basah, apalagi saat saya memandang ke bawah di mana saya memperkirakan kediaman buya hamka di tepi danau maninjau, buya hamka sang pahlawan dan ulama yang hebat asal ranah minang.

15823530_10154962877284623_4668206563892994291_n
Danau Maninjau
15780982_10154942790784623_6422376661293352905_n
Puncak Lawang

Hari ini kebetulan bertepatan dengan ulang tahun istri Om Zul, sehingga sang om mengadakan acara tiup lilin dengan kue untuk sang istri dan mentraktir kami semua di cafe kecil yang terletak di puncak lawang tersebut.

Setelah itu kami kembali masuk ke mobil untuk menuju air terjun lembah anai yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari puncak lawang. Sebelumnya kami semua berfoto dulu dengan latar belakang tulisan “puncak lawang” yang terpahat di bukit.

15781089_10154942790804623_3506729558984793690_n
Puncak Lawang

Mendekati lembah anai kami bermaksud mencicipi kuliner terkenal sate padang di Mak Syukur yang katanya paling enak, sayangnya tepat jam 12.00 siang saat kami ke sana di parkiran sudah ada plang yang tertulis “maaf sate sudah habis”, setelah bertanya ke pelayan kami diinfo bahwa sate baru ready lagi jam 3 sore, lah masa iya late lunch lagi ? akhirnya kami menutuskan makan saja di sate saiyo di sebelahnya. Rasanya cukup enak, dan menurut om DK sih yang agak beda cuma di bumbu kuahnya saja (kalau di mak Syukur lebih berasa), dagingnya sih 11-12 lah. Sate saiyo hanya menyajikan menu sate padang saja, tidak ada yang lainnya, harganya 25 ribu/porsi. Untuk makan siang, suami membelikan nasi padang di warung seberang, tapi tetap aja anak-anak terutama Baby G susah makan karena nasinya “pera'”.

15727114_10154938427659623_5271864712828755896_n
Sate padang RM Saiyo

Menuju lembah anai kemacetan mulai terjadi, penyebabnya ya tentu air terjun lembah anai. Air terjun ini letaknya pas banget di sisi jalan raya, jadi mobil-mobil penuh mengular parkir dan bikin macet. Air terjunnya pun ramai sekali dengan pengunjung sehingga membuat kami memutuskan untuk melihat saja tanpa turun. Sebagai daerah yang kebanyakan dipenuhi lembah, wisata air terjun di sumatera barat ini menyenangkan, karena tidak perlu naik turun ratusan tangga seperti di tempat lainnya (misal saja di pulau jawa). Di kiri jalan banyak kolam renang umum yang mata airnya berasal dari air terjun. Monyet-monyet pun masih bebas berkeliaran ditepi jalan tanpa takut pada mobil yang melintas.

15726248_10154942775579623_7856708587769855122_n
Air terjun lembah anai

Dari air terjun lembah anai kami menuju ke malibo anai yang katanya wisata kolam renang besar, tapi begitu sampai kami malah diarahkan petugas ke arah satunya yaitu puncak anai yang katanya dari situ kita bisa melihat kota padang. Tapi boro-boro terlihat, puncak anai menurut saya nggak ada apa-apa, cuma ada kolam dengan air mancur buatan. Tidak butuh waktu lama akhirnya kami semua memutuskan kembali ke mobil dan wisata oleh-oleh saja di Sanjay Nitta yang direkomendasikan Tante Wilda.

15822997_10154945009134623_1602178533349541760_n
Puncak Anai di kawasan Malibo Anai

Btw, saya sempet bingung kenapa setiap toko oleh-oleh penganan selalu diawali dengan kata “sanjay”, ternyata usut punya usut “sanjay” itu merupakan produk kerupuk/keripik berbahan dasar ubi kayu (singkong) yang merupakan icon kuliner ranah minang, keripik balado yang tersohor itu termasuk dalam golongan sanjay.

Sanjay balado ukuran sedang di Nitta dihargai 18 ribu/bungkus, sementara yang besar 45 ribu/bungkus. Selain memborong sanjay balado, saya pun membeli rendang kemasan, rendang telur dan beberapa penganan ala minang lainnya untuk oleh-oleh. Rendangnya hanya seberat 200 g seharga 55 ribu/boks, dan rasanya luar biasa enak (setelah saya cicip di jakarta). Pulang dari sanjay nitta, kami mampir sebentar di KFC untuk membelikan anak-anak makan dan ternyata walau franchise KFC, nasi yang digunakan di sini juga berjenis “pera'”, sepertinya memang selera minang asli berasnya seperti ini ya.

foto-kerupuk-sanjai-nitta-bukittinggi-sumbar
Tumpukan keripik di Sanjay Nitta (sumber : topvisit.net)

Selepas maghrib anak-anak sudah terlelap karena kecapekan, suami saya dan om-om lainnya malah kumpul di kolam renang sambil ngobrol-ngibril. Berhubung perut sudah kelaparan saya pun menyusul (sementara mama mertua memilih tidur menemani cucunya), eh ternyata mereka baru mau mulai pesta durian. Karena dilarang oleh sekuriti untuk membawa durian ke dalam hotel, akhirnya mereka makan di depan pos satpam. Tante Wilda sudah berbaik hati membawakan durian lengkap dengan ketannya, sementara saya? memilih mengungsi duduk dekat mobil kayak anak ilang.

15823064_10154945014514623_7879093305260059264_n
Ketan duren

Puas makan durian, saya dan suami beserta Om Iam berjalan kaki ke deretan tenda kuliner di depan jembatan limpapeh. Om Iam sih merekomendasikan martabak kubang yang penjualnya sepertinya masih keturunan arab, harganya 22 ribu/porsi dengan telor bebek, rasanya tawar (kurang garam) tapi enak terutama setelah dicocol kuahnya. Setelah itu saya mencoba pula es tebak, sejenis es campur dengan cendol, agar-agar dan roti tawar, cuma 8 ribu/gelas besar.

15541484_10154942800449623_307595940207697563_n
Es Tebak
15726299_10154942800434623_2966975611406765921_n
Martabak Kubang

Kami pun berjalan kaki sejenak ke jam gadang yang hanya butuh 10 menit berjalan kaki. Setelah berfoto-foto sebentar, kami berjalan pulang dan mampir di salah satu minimarket. Btw, di ranah minang tidak aka dijumpai chain store seperti Indomart atau Alfa Mart, karena memang dilarang oleh Pemerintah setempat untuk melindungi para pedagang, hebat yah.

15780662_10154942800799623_7306104240393148456_n
Jam Gadang

DAY 7

Hari ini kami dijadwalkan berkunjung ke istana baso pagaruyung yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari bukittinggi.

Nah ceritanya si bungsu (baby B) sekarang punya trik baru, kalau bosan di mobil dia bakal mengeluh sakit perut, bilangnya mau pup (padahal masih pakai popok), sampai setelah tidak enak hati karena terpaksa dua kali minta berhenti kepada seluruh anggota rombongan (giliran turun baby B bilang ga jadi terus nggak mau masuk mobil lagi), akhirnya saya dan suami nyuekin teriakan Baby B tersebut.

Istana Pagaruyung mirip seperti anjungan Sumatera Barat di TMII, tapi tentunya lebih besar dan lebih megah, terdiri atas 3 tingkat yang semuanya bisa dimasuki. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil renovasi setelah sebelumnya pernah terbakar habis. Untuk masuk ke istana dikenakan biaya 8 ribu/orang.

Istana pagaruyung memiliki pelataran luas yang bertingkat-tingkat, di pelataran tersebut banyak badut-badut lucu yang beberapa di antaranya berkostum minang, yang memang tujuannya untuk menarik hati anak-anak. Jangan lupa siapkan tips seikhlasnya kalau mau foto bersama ya.

15895218_10154962902044623_6091384852793405101_n
Istana Baso Pagaruyung

15740913_10154942775554623_482670860502227537_n

Yang paling menarik adalah adanya fasilitas penyewaan baju adat dengan tarif 35 K untuk dewasa dan 30 K untuk anak. Bajunya banyak sekali dengan aneka ukuran, warna dan motif. Saya tentu tertarik dengan warna merah, warna khas minang yang menyala, tapi baby G si pink lovers tentu langsung pilih pink dong, jadinya kita semua ikut. Mama mertua yang tadinya ragu mau pakai atau tidak akhirnya ikutan juga tapi memilih warna hitam.

15726647_10154942769464623_551326467214267759_n
Dengan baju adat

Untuk masuk ke istana kita harus melepas alas kaki dan dititipkan kepada penjaga. Lantai satu merupakan balairung luas yang luar biasa cantik dengan ornamen hiasan emas dan kain-kain cerah berwarna mencolok. Berbeda dengan budaya tanah kelahiran saya (jawa tengah) yang menyukai warna gelap dan kalem, ranah minang memang menyukai warna-warna cerah. Lantai satu tersebut merupakan tempat singgasana raja dan tempat raja menerima tamu. Ada koleksi bantal-bantal duduk, teko – gelas, senjata dan lain-lain.

15781709_10154942769854623_7646852797485137047_n
Lantai satu istana pagaruyung
15740817_10154942770954623_4128264542235224409_n
Lantai satu istana pagaruyung

Kami naik ke lantai dua melalui suatu tangga kayu yang sempit dan curam, agak sedikit sulit karena kami masih memakai baju adat yang disewa tadi. Lantai dua ini lebih kecil ukurannya dibanding lantai satu, dinamakan bangsal paranginan, dahulu kala merupakan tempat tinggal para putri yang masih belum menikah. Lantai tiga merupakan yang terkecil dari semuanya dan dinamakan mahligai, tempat menaruh benda pusaka atau peti harta karun kerajaan.

15697533_10154942770044623_7062779984992289139_n
Di ruang mahligai

Sebenarnya di belakang bangunan utama istana masih ada beberapa bangunan lainnya yang lebih kecil, namun kami sudah puas dengan istana utama dan juga sudah gerah pula dengan baju adat yang kami pakai, sampai bajunya basah.

Kami makan siang di pondok flora yang di plang-nya tertulis “spesial ikan bakar” tapi lagi-lagi makanan tersaji secara “hidang” seperti biasanya, haha. Setelah makan siang kami menuju ke salah satu panti asuhan di daerah bukittinggi untuk acara bakti sosial.

15781414_10154942801314623_7530357890347203826_n
Salah satu program touring : baksos

Selepas itu acara dijadwalkan bebas, saya yang masih penasaran dengan ngarai sianok dengan lobang jepang-nya (walau sudah dibilangin tante wilda kalau ngarai sianok kan sudah dilihat waktu ke rumah pohon abdul kemarin) tetap kekeuh mengajak suami ke sana. Ternyata om Goz, Om Yes dan Om Iam juga ikut bergabung.

Kami parkir di taman panorama di mana kami dapat melihat panorama ngarai sianok dari ketinggian, tarif masuknya 15 ribu/orang. Walaupun indah, tapi menurut saya lembah harau lebih mengagumkan karena lebih sepi dan alami.

15781520_10154942800834623_4297443881464096412_n
Taman Panorama
15822663_10154962905299623_6861407257154916459_n
Ngarai Sianok

Selepas itu kami menuju lobang jepang, gua hasil kerja paksa zaman penjajahan jepang yang digunakan sebagai bunker saat perang, kabarnya juga dulu sempat digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan, okeeeeehhh. Sebelum masuk suami saya memotret peta lobang jepang tersebut agar tidak tersesat dan bisa keluar dari pintu samping yang terletak di sisi lain tebing. Untuk masuk ke lobang jepang dari pintu utama, kita harus menuruni ratusan anak tangga yang cukup curam, nah kalau nggak tahu jalan keluar lewat pintu samping, terpaksa kita harus mendaki kembali ratusan anak tangga kejam ini, ogah bener. Suasana di dalam gelap walau sudah ada beberapa pencahayaan, tapi suasana spooky masih agak terasa. Kami tidak mau berlama-lama di situ dan segera keluar, untuk kembali ke mobil suami saya menumpang ojek. Sebenarnya kami berminat sekali untuk mengunjungi “janjang koto gadang” miniatur great wall ala china yang terletak di ngarai sianok juga, tapi demi melihat medannya yang mesti agak jauh berjalan, kami membatalkan kunjungan tersebut dan langsung kembali ke hotel saja.

15740983_10154942800914623_9079392963498509513_n
Pintu masuk utama
15781444_10154942801209623_4768856380596662524_n
Di dalam Lobang Jepang

Karena masih sore, anak-anak minta berenang di hotel, saya kabulkan dengan janji harus mau makan. Di hotel kami bertemu dengan om DK yang mau belanja oleh-oleh ke Pasar Ateh, menurut dia sanjay merk Singgalang yang dijual di sana rasanya mirip Christine Hakim, jadilah kami nitip 5 bungkus. Dengan baik hatinya, Tante Wilda kembali menghadiahi kami roti durian, roti bantal dengan isi selai durian asli yang enak sekali, sayang masa expired-nya cepat jadi nggak bisa buat oleh-oleh.

15781790_10154942832729623_2530782934472620727_n
Roti isi selai durian

Selepas maghrib kami kembali berjalan ke jam gadang karena anak-anak nagih janji naik bendi yang kebanyakan mangkal di depan jam gadang. Sebelum itu kami kembali melalui rute depan jembatan limpapeh karena malam sebelumnya saya melihat warung tenda masakan khas jawa. Pemiliknya memang keturunan jawa walau logat dan cara bicaranya sudah minang sekali, mungkin sudah generasi kedua ya, sambalnya pedas manis khas jawa, tapi tumis kangkungnya sih pedas dan berwarna merah, mirip masakan minang.

Di depan jam gadang, suami dan kedua anak naik bendi dengan tarif 75 K, sementara saya dan mama mertua memilih duduk-duduk di taman jam gadang. Lebih dari setengah jam durasi naik bendi, ternyata menurut suami saya jalannya cukup jauh, bahkan sampai melewati taman panorama lagi. Taman jam gadang malam itu sangatlah ramai, jam gadang ini merupakan semacam alun-alun dan pusat keramaian , tante wilda juga mewanti-wanti untuk sedikit berhati-hati karena kadang ada tangan jahil berkeliaran. Di depan jam gadang berdiri sebuah mal kecil bernama mal bukittinggi.

15781008_10154945001379623_3490978434070639311_n
Naik bendi
15781618_10154945001179623_5267356287169345806_n
Jam Gadang

Kami berjalan kembali ke hotel dan setelah mengantar anak-anak ke kamar, saya dan suami larut dalam kesibukan mengepak barang dalam koper dan langsung memasukkannya ke dalam mobil agar besok pagi tinggal turun tanpa bawa-bawa barang lagi. Walaupun saya agak sedih karena saya bahkan tidak bisa mengunjungi rumah Bung Hatta yang terletak persis di dekat jam gadang, mencicipi nasi kapau uni Lies di Pasar Ateh ataupun mengunjungi rumah Tan Malaka dan Buya Hamka, namun keseluruhan tour bukittinggi ini menyenangkan bagi saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sekilas mengenai kuliner asli minang, ternyata nasi padang dan lauk pauknya yang asli agak berbeda dengan yang biasa kita santap sehari-hari. Yang asli lebih banyak bumbu, rasanya dominan pedas dan asin serta lebih kering, jarang yang berkuah seperti nasi padang di pulau jawa. Selain itu beras yang digunakan di sini sangat makpyur atau pera’ , bahkan lebih pera’ dibanding beras yang biasa ada di warteg atau pecel lele tenda di pulau jawa. Menurut orang asli sana, memang favorit mereka adalah beras solok yang jenisnya seperti itu, yah lain padang lain belalang. Untuk mengatasi panas dalam setiap sebelum tidur saya rajin mengkonsumsi minuman penurun panas dalam, bisa kacau kalau sampai jatuh sakit.

Posted in Bukittinggi, Jambi, Lampung, Muara Bungo, Padang, Palembang, Solok, South Sumatera, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 1 – 4)

Sekitar awal oktober 2016 lalu, suami saya yang lagi getol-getolnya aktif dalam komunitas barunya (suatu klub mobil keluaran amerika) menginformasikan bahwa akhir tahun ada rencana touring ke pulau sumatera dengan tujuan utamanya bukittinggi dan palembang. Saya yang dari dulu memang kepingin banget mengunjungi sumatera barat tentunya langsung mengiyakan, kapan lagi berani ambil jalur darat lintas sumatera kalau nggak ada temennya. Perjalanan panjang yang mengusung tagline “mudik besamoh” ini  berdurasi total 10 hari mulai dari 24 desember – 02 januari, dengan rute merak – bakauheni (lampung) – palembang (sumsel) – muara bungo (jambi) – padang & bukittinggi (sumbar) PP. Sempet agak tidak percaya diri (apakah saya sanggup ya?) setelah membaca itinerary padat terutama durasi perjalanan daratnya yang memakan waktu 10 -11 jam, maklum saya membawa dua balita, untungnya mama mertua saya bersedia ikut sehingga saya lebih tenang. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari dengan cermat, terutama urusan baju, perbekalan dan obat-obatan.

Day 1

Tikum (titik kumpul) dijadwalkan pukul 20.00 WIB di KM 42 Tol Merak. Kami berangkat lepas maghrib dari kediaman kami di kawasan cibubur, mungkin karena sudah mau libur (malam natal red), kondisi jalan tol terbilang lancar untuk ukuran jam pulang kantor yang biasanya macet nggak karuan. Hanya butuh waktu dua jam, pukul 20.00 lewat kami sudah sampai di tikum. Di tikum sudah ada beberapa anggota touring yang datang, kami pun berkenalan dengan anggota yang lainnya, total ada 7 mobil yang bergabung dalam touring kali ini. Touring dipimpin oleh seorang RC (Road Captain) yang tugasnya membuka jalan dan memimpin konvoi, diikuti oleh mobil lainnya yang diberi kode C (Charlie) dan ditutup oleh Sweeper yang bertugas mengawal. Mobil kami mendapat kode C2, setiap mobil harus dilengkapi dengan HT untuk keperluan komunikasi, bahkan beberapa anggota yang lebih senior sudah melengkapi mobilnya dengan “RIG” yang jangkauannya lebih luas dibanding HT.

Suami saya adalah yang termuda, baik dari segi umur maupun dari segi masuk klub (haha) tapi saya baru ngeh saat di jalan kalau kali ini dia sudah didapuk jadi ketuplak (ketua pelaksana), pantesan dari kemarin sibuk bener. RC dijabat oleh Om Gos, C1 oleh Om Yes, C2 oleh kami (suami saya disebut om Rob), C3 oleh Om Aan, C4 oleh Om Oke, C5 oleh Om DK dan Sweeper oleh Om Iam, jangan heran ya dengan sebutan om, di sini semuanya memang dipanggil om sementara para istrinya disebut tante. Selain keluarga kami, ternyata keluarga Om DK dan Om Iam juga membawa balita yang kira-kira seumuran.

Rest Area KM 42 menyediakan loket yang menjual tiket penyebrangan merak – bakauheni, harganya Rp. 320.000,- untuk kendaraan roda empat, sementara penumpangnya tidak dihitung. Menurut Om Yes lebih baik kami membeli tiket di sini saja sebab nanti di Merak ada jalur khusus untuk yang sudah membeli tiket di KM 42, jadi kami tidak harus antri dengan mobil yang lainnya, toh harganya juga sama.

Kami baru berangkat dari tikum pukul 22.00 dan langsung menuju pelabuhan merak untuk menyebrang ke bakauhaeni. Karena sudah musim libur, antrian naik ke kapal cukup ramai, hingga rombongan kami terpaksa pisah kapal, Om Aan naik pertama, 5 lainnya naik kapal kedua (termasuk kami), sementara Om Oke malah ketinggalan dan harus naik kapal berikut. Interval kapal satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20 menit. Jam 24.00 kami naik ke kapal. Sesuai saran petugas kapal, kami yang membawa dua balita ini pergi ke ruang AC lesehan, tarif masuknya Rp. 14.000,-/orang (balita belum bayar). Ruangan penuh sesak dengan penumpang sehingga AC-nya boro-boro terasa, kedua balita saya pun gelisah apalagi goncangan ombak lumayan kencang sampai Baby B (yang kecil) nangis dan akhirnya saya terpaksa keluar ke dek. Angin sangat kencang di luar tapi goncangan tidak begitu terasa seperti di dalam, mungkin karena kita bisa melihat pemandangan di luar, baby B pun memilih di luar dan saya tutupi selimut hingga jatuh tertidur. Setelah 3 jam kapal pun merapat di Bakauheni dan kami pun kembali ke mobil.

Sambil menunggu kapal Om Oke kami lineup di dekat menara siger, sayangnya pencahayaan menaranya kurang sehingga saya nggak bisa mengambil foto icon lampung tersebut. Setelah Om Oke datang kami menuju ke suatu rest area luas dengan pom bensin, rumah makan simpang raya dan hotel krakatau di dalamnya, kami beristirahat singkat di dalam mobil sebelum melanjutkan perjalanan.

e17933cb4f4ee5aaf537b15d7bedfff5
menara siger (sumber : pinterest.com)

DAY 2

Tepat pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil rute lintas timur, menurut google map diperkirakan waktu tempu sekitar 10 – 11 jam. Kami agak kesulitan mencari restoran untuk makan pagi karena rata-rata belum buka, akhirnya kami berhenti di salah satu restoran padang yang masakannya sangat standar dengan rasa yang tidak usah dibahas, yang penting udah makan. Total harga yang dibayar hanya Rp. 40.000,- untuk 3 porsi nasi dan 2 ayam goreng, standar lah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga melewati Taman Nasional Way Kambas yang terkenal dengan Gajah Lampung-nya dan juga melewati entah berapa ribuan hektar perkebunan tebu milik Gulaku yang sangat indah bagaikan bukit teletubbies. Lintas timur Sumatera ini tak ubahnya Pantura, penuh dengan truk-truk segede gaban, dan diperparah dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang parah di beberapa tempat.

Asiknya touring adalah kita ga usah sering-sering buka google maps atau waze, arahnya sudah dibuka oleh sang RC. Selain itu juga ada koordinasi apabila kita mau menyalip kendaraan di depan kita. Nah, berhubung suami saya newcomer, jadi peralatan ht yang dibawa standar (banget), yang baru setengah hari udah habis baterainya juga tidak dilengkapi mikrofon, sehingga agak menyulitkan. Untungnya om-om yang lain berbaik hati, ada yang minjemin charger selama di mobil juga mikrofon.

Kami saja baru bisa late lunch (jam 15.00-an) di RM Pagi Sore, rumah makan ini banyak cabangnya, bahkan di jakarta juga ada. Walau menyajikan masakan padang tapi rasanya sudah agak “campur” dengan jawa melayu, soalnya restoran padang ini asalnya dari sumsel. Untuk 3 dewasa 2 balita harga yang dibayarkan sekitar 200 – 250 ribuan. Wajarlah karena konsep rumah makannya seperti sederhana atau simpang raya.

Kami baru tiba di Fave Hotel Palembang sekitar pukul 21.30 -an. Urusan booking hotel dan check in hotel di Palembang menjadi tugas suami saya, karena Fave Hotel Palembang merupakan proyek suami saya 2014 silam, lumayan dikasih diskon sama General managernya.

Kamar yang kami tempati bertipe superior (baru kali ini, biasanya saya pakai yang standar) dengan tambahan extra bed, sudah termasuk breakfast. Karena sudah didiskon jadi kami hanya membayar 585 ribu saja. Kamarnya luas dan ada ruangan kecil untuk gudang juga.

Karena sudah tepar dan juga kurang tidur, kami semua langsung terlelap tidak lama setelah masuk ke kamar.

y928828011
Fave Hotel Palembang (sumber :pegipegi.com)

DAY 3

Hari ketiga ini kami harus berangkat pagi-pagi sekali (pukul 06.30 dari hotel) karena perjalanan palembang – muara bungo bahkan lebih jauh lagi, menurut google maps sekitar 11 jam 45 menit. Suami saya sudah berkoordinasi ke pihak hotel agar sarapan bisa disiapkan lebih awal, pukul 05.30 buffet (nasi dan lauk pauk) dan aneka roti sudah tersaji walau menu lain yang tambahan seperti mie ayam atau lontong sayur belum lengkap. Setelah sarapan di hotel kami berangkat ke Muara Bungo. Kondisi jalan di Sumatera Selatan luar kota Palembang bahkan lebih parah lagi dibandingkan saat kami berangkat kemarin. Jalanan penuh lubang dalam, apalagi dengan deretan truk-truk tronton yang tidak putus-putus, sekali ada lubang antrian bisa panjang.

Lagi-lagi kami late lunch di suatu rumah makan padang yang harganya amit-amit, masa cuma makan 3 porsi pake ikan lele dan ayam harganya sampe 180 ribu-an, mentang-mentang plat kami B (Jakarta) ini sih, mana rasanya juga random pula. Jalan masih rusak hingga perbatasan Sumsel dan Jambi, tapi alhamdulillah truk-truk kebanyakan menuju Jambi, sementara kami mengambil jalan pintas ke arah Muara Bulian. Jalanan relatif sepi dan walau di beberapa tempat berlubang tapi begitu masuk Muara Bulian sudah mulus. Kami melintasi jalan yang berbatasan langsung dengan sungai batanghari yang seakan tidak ada putus-putusnya. Belajar dari pengalaman kemarin, tadi siang kami sudah bungkus makanan untuk anak-anak, kalau yang dewasa mah gampanglah makan telat juga. Saya sih sudah pasrah kalau malam ini kayaknya saya lebih memilih nggak makan malam (mending tidur saking udah capeknya), eh ternyata pas lagi berhenti di salah satu SPBU ada gerobak sate padang, walau dagingnya pakai ayam tapi rasanya enak banget, harganya juga cuma 10 ribu sudah termasuk lontong . Karena dex atau dexlite termasuk langka, maka terpaksa kami mengisi bahan bakar dengan bio solar.

Hampir pukul 11 malam barulah kami sampai di Hotel Permata di kota Muara Bungo. Tenyata memang perjalanan jauh lebih panjang dari hari sebelumnya.

DAY 4

Karena sudah diforsir perjalanan jauh 2 hari sebelumnya, hari ini kami berangkat agak siang, jarak muara bungo – padang hanya sekitar 6 jam. Hotel Permata yang kami tempati ini hanyalah hotel biasa dengan AC dan TV saja, tidak ada fasilitas lainnya bahkan sarapan pun juga tidak disediakan.

15726842_10154942814504623_7771004507819863459_n
Hotel Permata – Muara Bungo

Pukul 08.00 kami keluar dari hotel dan mampir sebentar di warung makan kecil dekat hotel untuk sarapan pagi, masakannya khas padang, nasi uduk dan lontong sayur yang rasanya pedes-pedes enak, harganya juga cuma 8 ribu/porsi. Setelah kenyang kami berangkat. Muara Bungo ternyata kota yang cukup besar dengan jalan-jalan yang lebar dan tertata rapi, bahkan ada lapangan udaranya juga .

15697301_10154930388044623_7960340279277830175_n
Lontong sayur ala padang

Kami melewati rute Sawah Lunto dan Solok untuk menuju ke Padang. Memasuki wilayah Sumatera barat jalan mulai berliku-liku naik turun dengan kelokan tajam, untungnya sangat mulus. Di kanan-kiri bangunan-bangunan bergaya gadang berjajar, mulai dari rumah hingga gedung perkantoran.

Di Sawah Lunto, para anggota rombongan yang pada hobi banget sama si buah berduri memutuskan berhenti dulu untuk icip-icip durian. Harganya murah banget pula, cuma sekitar 10 – 20 ribu, suami saya memilih durian ukuran agak besar yang cuma 17 ribu (kalau di jakarta mungkin 60 ribuan) dan hampir semuanya dimakan sendiri (secara saya mah ogah banget sama durian, anak-anak juga, sementara mama mertua takut kolesterol jadi cuma berani cicip 1 -2 butir saja).

15672755_10154942814564623_1339845111287360004_n
Duren..duren cuma 10 ribu aja

Setelah itu karena sudah kelaparan kami berhenti di deretan rumah makan yang kebanyakan menjual sop daging dan soto padang (walaupun om Oke yang asli Solok menyarankan makan di Solok saja karena ada rekomendasi kuliner enak). Soto padang itu isinya bihun dan potongan dendeng kering yang dipotong kecil-kecil disajikan lengkap dengan kerupuk merah padang, porsinya kecil seperti soto kudus, mungkin karena masakan restorannya yang kurang enak, saya menganggap soto padang biasa saja. Di restoran suami saya dengan om-om yang lainnya kembali berdiskusi soal destinasi di padang, menurut iten rencana harusnya mampir di pantai muaro padang, tapi beberapa anggota rombongan termasuk suami berpendapat lebih baik ke Pantai Air Manis saja yang terkenal dengan Legenda Malin Kundang, toh hanya setengah jam dari kota Padang, akhirnya semua setuju.

soto-padang
Soto padang

Setelah itu kami berhenti sebentar di tugu patung ayam kota Arosuka sambil menunggu Om DK yang isi bensin. Ternyata di sekitar situ sedang ada rombongan pengantin lengkap dengan pemain musiknya yang memainkan musik ala sumatera barat, seru banget bisa melihat iring-iringan yang seperti ini. Tidak jauh dari patung ayam ada restoran “Kayu Aro” yang sangat direkomendasikan oleh Om Oke dan sangat terkenal dengan kuliner khas Solok “dendeng batokok”.  Kami hanya mampir untuk pinjem toilet di restoran tersebut, tanpa disangka Om Oke dengan baik hatinya memberi masing-masing dari anggota rombongan bungkusan dendeng batokok.

12507367_742186895917243_2511814798417314209_n_zpswpwfyy7v
Tugu Ayam Arosuka (sumber:cityskycraper.com)
15697773_10154942775739623_7306767659802463878_n
Pengantin Padang
15726714_10154942775664623_1660315424633728751_n
Rombongan Pemain Musik
15781374_10154952356144623_9189243507033719040_n
Dendeng Batokok ala Solok

Tidak lama kami tiba di kota Padang yang tidak ubahnya seperti Jakarta, macet dan padat. Selepas itu kami harus melewati sebuah bukit dulu, di beberapa titik kelokan sangat tajam dan berbahaya, bahkan harus gantian dengan jalur lainnya terutama untuk truk-truk tronton. Setelah itu dengan dipandu Om Oke kami melewati jalan pintas yang ternyata sempit banget seperti gang-gang. Jalanan menuju Pantai Air Manis pun kembali melewati bukit kecil lagi dengan jalan yang hanya mepet kalau berpapasan.

Untuk menuju batu si malin kundang, masuklah lewat gerbang kedua yang terletak sekitar 400 m dari gerbang pertama. Tarif masuknya 5 ribu/orang. Di pantai air manis sudah menunggu Om Zul yang asli padang dan akan bergabung dengan kami hingga ke Bukittinggi.

Saya agak kecewa melihat penampakan pantai air manis yang kotor dengan timbunan sampah, pasirnya berwarna hitam dan sudah tergerus, jadi nggak ada perkara main pasir bagi anak-anak. Batu si malin kundang terletak sekitar 25 m-an dari pantai dengan ornamen seperti sisa-sisa kapal dan tambang seperti dalam kisah legenda, di legenda diceritakan malin yang baru mengadakan pesta di kapal layar dikutuk oleh ibunya karena durhaka. Saya sampai bertanya pada Om Oke apa sudah seperti ini sejak dahulu, tapi menurut Om Oke ornamen kapalnya mah buatan, batu si malin kundang pun sudah sedikit ditambahkan sehingga berbentuk mirip orang bersimpuh, aslinya gak sejelas itu.

15740928_10154942809209623_3635549183762292647_n
Batu si malin kundang
15726916_10154942809569623_5391858665117436130_n
Pantai Air Manis

Setelah hari gelap, kami kembali meneruskan perjalanan ke Bukit tinggi, menembus lagi kemacetan kota padang. Kami pun melewati pantai muaro padang yang ramai dengan tenda-tenda kuliner dan juga toko oleh-oleh Christine Hakim yang terkenal dan digadang-gadang sebagai merk keripik sanjay terenak di sumatera barat. Tadinya saya pikir pemiliknya Christine Hakim yang artis itu, ternyata hanya namanya saja yang sama, Christine Hakim yang ini keturunan Tionghoa Padang.

Rute menuju Bukittinggi dari Padang melewati Air terjun lembah Anai yang posisinya persis di pinggir jalan, sampai saya kaget demi melihat suara grojogan air terjun yang sangat deras persis di luar kaca jendela mobil saya. Di bukit tinggi kami menginap di Grand Rocky Hotel yang sudah diatur oleh Tante Wilda, anggota rombongan asli Bukit tinggi yang sudah menunggu di hotel. Sudah larut malam kami tiba, hampir pukul 23.00, maka bisa ditebak begitu masuk kamar bawaannya pingin tidur, tapi sang suami yang kelaparan memutuskan beli makanan dulu ke luar, untunglah masih ada warung pecel lele yang buka.

Posted in Indonesia, Lombok, West Nusa Tenggara

Lombok finally

Sejak melihat foto-foto indahnya Lombok via jejaring sosial yang di-share oleh beberapa teman saya, Lombok masuk menjadi salah satu bucket list . Maka, alangkah gembiranya saat suami saya memberi tahu bahwa outing kantor kali ini (2015 red) tujuannya ke lombok selama 4D3N, dreams come true bener deh, apalagi outing kan free artinya saya tidak perlu mengeluarkan biaya selain kebutuhan pribadi.

Selain dengan suami dan kedua anak (baby G & baby B), saya juga mengajak mama mertua yang juga belum pernah main ke Lombok. Karena family gathering tentunya kantor suami menyewa jasa trip organizer lokal (asli Lombok) untuk mengatur dan mengurus kebutuhan kami selama disana, mulai dari penerbangan, akomodasi, makan dan agenda wisata. Selain itu ada juga panitia kecil yang terdiri atas staff kantor yang masih muda (dan single) yang tugasnya berkoordinasi dengan trip organizer.

DAY 1

Penerbangan pertama menuju lombok (pukul 05.15 WIB) dipilih oleh trip organizer kami agar rombongan tiba di lombok masih pagi sehingga banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Itu berarti kami harus berangkat dari rumah di kawasan Cibubur sekitar pukul 03.00 pagi, dengan pertimbangan 1 jam di perjalanan sehingga saat kami sampai sekitar pukul 04.00 kami masih punya waktu untuk check in dan loading barang ke bagasi. Kami diantar oleh papa mertua ke bandara, saat kami tiba sudah banyak anggota rombongan dari kantor yang berkumpul. Ada dua petugas dari Trip Organizer yang sudah menemani kami sejak dari jakarta, proses absen, check in dan loading barang sudah diurus oleh mereka. Saat di bandara, panitia membagikan paket box dari KFC untuk sarapan.

2
bayi-bayi yang selalu ceria di pesawat

Pesawat Lion air yang kami tumpangi, bertolak tepat waktu menuju Lombok, durasi penerbangan selama 2 jam dan karena Lombok masuk dalam zona WITA (1 jam lebih cepat), pukul 8.15 WITA kami sampai di Lombok. Di bandara seorang gadis manis berpakaian tradisional suku sasak sudah siap menyambut kami dengan kalungan tenun khas lombok yang dibagikan gratis untuk masing-masing orang. Setelah selesai mengurus koper dan barang bawaan lainnya, rombongan bergerak menuju ke bus (yang dibagi menjadi 2 bus) yang akan membawa kami ke destinasi pertama. Di masing-masing bis tersebut juga sudah ada petugas dari trip organizer yang stand by untuk memandu kami (selain 2 petugas yang sudah menemani kami dari Jakarta).

5
Gadis berbaju adat sasak yang membagikan kalungan tenun khas sasak

SASAK VILLAGE – SADE

Perhentian pertama kami adalah Desa Sade, desa adat suku sasak, salah satu suku di Lombok. Saat akan masuk ke desa Sade kita diharuskan mengisi buku tamu dan memberi sumbangan sukarela seikhlasnya. Tidak jauh dari gerbang masuk Sade terdapat suatu bangunan adat sasak yang disebut bale lumbung. Bale lumbung ini bentuknya unik berupa rumah panggung dengan atap meruncing dari jerami. Desa Sade masih memegang teguh adat berupa kawin lari, jadi kalau suka dengan anak perempuan orang, anaknya harus “diculik” tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bagian atas bale lumbung ini digunakan sebagai rumah pengantin untuk malam pertama, sementara bagian bawahnya digunakan untuk menyimpan hasil panen.

26
Welcome to Desa Sasak
11
Bale Lumbung

Seluruh rumah di desa ini merupakan rumah adat, berupa rumah yang beratap jerami, berdinding anyaman bambu dan tiang-tiang rumahnya juga dari bambu. Yang unik, permukaan lantainya dilapisi kotoran kerbau yang fungsinya untuk memberi kehangatan di rumah dan mengusir nyamuk, tapi tidak perlu khawatir bau sebab kotoran kerbaunya sudah dikeringkan dan dibakar dulu. Pemukiman dibelah oleh jalan setapak yang masih berupa tanah dan berbatu-batu. Mata pencaharian para wanita di desa Sade adalah menenun sehingga tidak heran di setiap sudut desa, kita akan menemukan mulai dari gadis remaja hingga nenek tua yang sedang menenun sambil memajang aneka tenunannya yang sudah rampung untuk dijual.

15
Desa Sasak
16
Nenek penenun
25
Kondisi desa sasak

Penduduk desa Sade beragama islam, di tengah kampung terdapat suatu masjid yang cukup besar dengan bentuk rumah adat khas sade.

23
Masjid Desa Sade

TANJUNG AAN

Dari desa sade, rombongan kami bergerak menuju Tanjung Aan, suatu pantai yang terkenal karena keindahannya dan juga legenda putri mandalika. Konon, zaman dahulu ada seorang putri nan cantik jelita bernama Mandalika, saking cantiknya banyak pangeran dari seantero negeri yang ingin melamarnya. Putri Mandalika pun bingung karena tidak ada pangeran yang cocok di hatinya, merasa tertekan karena terus didesak Putri Mandalika pun memilih terjun ke laut dan menjelma menjadi cacing laut yang dalam bahasa lombok disebut Nyale. Setiap tahun ada festival bernama Bau Nyale di mana para warga akan beramai-ramai turun ke laut dan menangkap cacing laut tersebut untuk … dimakan.

Di luar legenda tersebut, tanjung aan memang sangat indah. Airnya sangat jernih dan berwarna hijau tosca, pantainya pun terbilang sepi. Yang sangat istimewa adalah pasirnya yang berbentuk seperti butiran merica. Pantai ini pun dikelilingi oleh bukit-bukit yang mana dari ketinggian tersebut kita bisa menikmati panorama tanjung aan yang sangat indah.

28
Butiran pasir yang seperti merica
29
Tanjung Aan
35
Panorama Tanjung Aan dari bukit

PANTAI KUTA

Sama seperti bali, Lombok pun memiliki Pantai kuta yang terletak hanya sekitar 15 menit dari Tanjung Aan. Pantainya juga berwarna hijau toska walau pasirnya sudah bukan butiran merica seperti di Tanjung Aan. Kami hanya diberi waktu selama sekitar 20 menit untuk sekedar melihat-lihat dan berfoto dengan tulisan “Kuta Lombok” sebab waktu makan siang sudah hampir tiba.

44
Pantai Kuta Lombok

DESA SUKARARE

Setelah makan siang kami dibawa ke desa sukarare, desa yang terkenal dengan hasil tenunnya. Semua gadis yang lahir di Sukarare harus bisa menenun, kalau hasilnya belum bagus maka belum boleh menikah. Bus kami berhenti di koperasi tenun yang cukup besar, di terasnya berjajar beberapa penenun yang sedang tekun bekerja. Saya pun mencoba tawaran untuk berlajar menenun yang ternyata sulit sekali, 1 baris saja menghabiskan waktu lebih dari 15 menit untuk saya, haha.

Begitu masuk ke dalam toko mata saya rasanya silau melihat aneka kain tenun beraneka warna yang luar biasa cantiknya. Harganya makin indah dan rumit tentunya makin mahal, wajar bila menilik betapa jerih payah dan ketekunan yang harus dicurahkan untuk menghasilkan selembar kain. Saya pun membeli tenun songket berwarna biru yang rencananya akan saya jadikan seragam keluarga saat kondangan.

52
Belajar menenun
49
Aneka tenunan khas lombok

DESA BANYUMULEK

Satu lagi desa yang dikunjungi yaitu desa banyumulek yang terkenal sebagai sentra penghasil kerajinan gerabah. Aneka macam kerajinan gerabah mulai dari yang kecil hingga yang besar dijual di sini. Mereka juga menawarkan jasa pengiriman apabila gerabah yang dibeli berukuran besar.

57
Pengrajin gerabah di banyumulek

GRAHA BEACH SENGGIGI HOTEL

Akhirnya setelah perjalanan yang menyenangkan kami diantar menuju hotel kami yaitu Graha Beach Senggigi yang terletak persis di area pantai Senggigi. Pantai Senggigi ini kurang lebih reputasinya seperti kuta di bali, pantai yang paling ramai turis.

Kamarnya sendiri berupa cottage yang mengelilingi kolam renang yang cukup besar. Kami mendapat satu cottage dengan double bed dan satu tambahan extra bed, ada teras depan dan dalam ruangan.

AYAM TALIWANG

Setelah beristirahat, sehabis maghrib kami diajak untuk menyicipi hidangan terkenal khas lombok yaitu ayam taliwang dan plecing kangkung di salah satu restoran yang paling terkenal dan banyak direkomendasikan yaitu Ayam Taliwang Irama. Restorannya agak jauh ternyata dari hotel, tapi semua terbayar kala hidangan tersebut dicecap lidah. Benar-benar enak, ayam taliwang sendiri merupakan ayam kampung muda yang dibakar sehingga dagingnya sangat empuk, bumbunya agak sedikit pedas. Sementara plecing kangkung memiliki bumbu khas sendiri yang berbeda dengan tumis kangkung di daerah lain, katanya sih kangkung dan cabainya yang beda.

62
Ayam Taliwang

DAY 2

SENDANG GILE WATERFALL

Setelah makan pagi yang menyenangkan dengan menu yang enak dan suguhan pemandangan pantai senggigi yang cerah, kami bertolak menuju Sendang Gile Waterfall. Sebenarnya ada satu destinasi lagi yaitu Masjid Kuno Bayan Beleq yang merupakan masjid tertua di lombok, namun karena hari ini merupakan hari jumat sehingga waktu terbatas jadi kunjungan tersebut terpaksa dibatalkan. Perjalanan menuju Sendang Gile memakan waktu hampir 3 jam, jadi saat kami sampai di tempat parkir adzan dzuhur sudah berkumandang. Sambil menunggu para pria yang shalat jumat, saya beserta para wanita dan anak-anak menunggu sambil makan nasi box yang sudah dibagikan tadi.

Setelah shalat dan makan, trekking menuju air terjun dimulai. Seperti kebanyakan air terjun yang letaknya di lembah, kami diharuskan menuruni entah berapa ratusan anak tangga. Air terjunnya tinggi dengan sungai lebar yang mengalir di bawahnya. Setelah puas bermain air kami pun kembali menanjak anak tangga tadi lagi (PR bener).

63

68
Trekking menuju Sendang Gile
69
The Waterfall

73

FURAMA SENGGIGI

Senja sudah menyapa saat kami tiba kembali di hotel. Setelah istirahat singkat, jam 19.00 kami sudah kembali dijemput oleh trip organizer untuk makan malam sekaligus family gathering. Untunglah kali ini restoran hanya berjarak 5 menit saja dari hotel. Furama Senggigi merupakan restoran besar yang menyajikan aneka seafood dengan rasa yang cukup enak, disediakan juga panggung kecil lengkap dengan sound system untuk acara gathering kami tersebut.

DAY 3

MALIMBU HILL

Hari ketiga ini kami diantar ke Malimbu Hill yang terletak hanya sekitar 30 menit dari hotel. Dari tempat ini kita bisa melihat indahnya garis pantai senggigi dengan gradasi air lautnya yang biru kehijauan disertai bukit malimbu yang menjulang. Tidak dikenakan biaya untuk memasuki tempat ini.

80
Malimbu Hill

GILI TRAWANGAN

Akhirnya tibalah saya di destinasi yang paling diidam-idamkan yaitu gili trawangan. Pulau Lombok dikelilingi oleh sejumlah pulau-pulau kecil yang disebut dengan gili, gili trawangan ini merupakan gili teramai dan yang paling terkenal. Ada berbagai macam aktivitas yang bisa dilakukan di sini, mulai dari leyeh-leyeh bersantai, naik sepeda, naik cidomo (dokar), snorkeling hingga party-party di sejumlah bar yang tersebar di gili ini.

Kami menyebrang ke gili menggunakan semacam speed boat yang kencengnya minta ampun (sampai beberapa ibu-ibu pucat ketakutan). Sampai di gili trawangan, saya merasa seperti sedang berada di Phuket dengan barisan bar-bar pinggir pantai dan bule lalu lalang. Jalanan yang membelah gili pun dihias semarak entah dengan spanduk, billboard, umbul-umbul sampai payung warna warni.

Rombongan dibagi dua, antara yang ikut snorkeling atau yang hanya wisata perahu saja. Tentunya saya dan suami serta baby G memilih ikut snorkeling, sementara mama mertua dan baby B ikut wisata perahu.

Untuk snorkeling kami menggunakan glass bottom boat, itu lho perahu yang ada lantai kacanya sehingga kita bisa melihat kondisi bawah laut. Kondisi perairan lombok yang masih alami dan tidak tercemar polusi menjadikan alam bawah lautnya menakjubkan. Viskositas air sangat bagus, terumbu karangnya menari-nari sementara ikan-ikan kecil berlalu lalang.

Setelah snorkeling, kami berkumpul kembali dengan rombongan yang lain di salah satu restoran sekalian makan siang. Sisa waktu yang ada kami habiskan dengan naik cidomo berkeliling pulau, tarifnya memang mahal 200 K, tapi puas karena kita bisa menyambangi sisi lain pulau, selain itu durasinya juga cukup lama sekitar 45 menit.

TOKO KAOS, MUTIARA DAN OLEH-OLEH

Setelah dari gili, kami singgah di 3 toko yang berbeda, yaitu toko kaos, toko mutiara dan oleh-oleh. Agak melelahkan sih karena harus turun berkali-kali. Yang pertama toko kaos menjual aneka rupa t-shirt dengan tulisan “lombok” atau gambar-gambar wisata di lombok. Yang kedua mutiara, lombok memang terkenal dengan mutiara lautnya yang berkualitas bahkan banyak yang di-ekspor, mutiara di sini sudah dikombinasikan dengan aneka perhiasan seperti anting, kalung atau cincin. Yang ketiga toko oleh-oleh yang menjual aneka penganan khas lombok seperti dodol rumput laut, keripik, kue, sirop, madu dll.

DAY 4

Hari ini dilalui dengan santai karena setelah check out pukul 09.00 kami akan langsung menuju bandara. Sarapan kami lalui dengan santai sambil main-main di pantai senggigi yang letaknya persis di samping restoran hotel. Setelah itu rombongan pun bertolak ke bandara lombok untuk kembali ke Jakarta.

133
Restoran di tepi senggigi
137
Senggigi Beach
Posted in Indonesia, Jakarta, Kep. Seribu, Pulau Pari

Family Gathering at Pari Island

Kantor suami saya rutin mengadakan acara family gathering, kali ini tujuannya adalah pulau pari, salah satu pulau populer yang letaknya di gugus kepulauan seribu, masih dalam wilayah jakarta.Karena merupakan acara family gathering, maka sudah tentu kantor suami menggunakan operator tour yang berkoordinasi dengan para panitia, panitia dibentuk dari karyawan-karyawan kantor yang masih muda dan yang terpenting … single (dalam artian belum berkeluarga, bukan ga punya pacar lho ya).

Banyak operator tour yang menawarkan jasa wisata ke pulau pari dengan biaya yang terjangkau, biasanya untuk wisata 2D1N harganya sekitar 350 K/orang, sudah lengkap termasuk ongkos ferry kaliadem-pulau pari pp, homestay, makan dan sewa sepeda, makin banyak jumlah orang yang ikut makin murah harganya. Pergi sendiri tanpa operator juga sih bisa, namun menurut saya yang mungkin sulit adalah menemukan homestay, apalagi di musim libur biasanya sudah pada di-booking, solusinya ya bawa tenda terus camping di lokasi yang diizinkan.

Sebelumnya saya sudah pernah ikutan open trip ke pulau tidung, yang juga merupakan salah satu pulau di kepulauan seribu, jadi sudah punya bayangan kira-kira nanti seperti apa, termasuk perlengkapan apa saja yang mesti dibawa, maklum kali ini ngajak kedua anak juga ibu mertua dan si mbak.

Adik saya dan istrinya juga ikut ketiban rezeki, malam sebelum berangkat sekitar jam 21.00-an, pihak panitia melalui grup WA mengabarkan bahwa ada 2 orang yang mendadak batal ikut karena kondisi kesehatan, toh juga paket sudah dibayar, daripada gak kepake, panitia menawarkan kepada rombongan siapa tau ada keluarga yang mau ikut. Suami pun menyambar tawaran tersebut dan mengajak adik saya, alhamdulillah, makasih ya panitia dan pak direktur kantor.

DAY 1

Pagi-pagi jam 05.00 kami sudah berangkat menuju dermaga kaliadem di muara angke dengan menggunakan taxi, bisa juga membawa kendaraan sendiri kemudian parkir inap di lokasi dermaga, namun saya agak khawatir faktor keamanannya sehingga memilih menggunakan taxi saja. Sekarang semua penyebrangan menuju ke pulau seribu berangkat dari dermaga kaliadem, tidak melalui samping pom bensin di dalam pasar ikan muara angke. Tapi tetap saja karena jalurnya sama, kemacetan di pagi hari tidak terhindarkan, terutama di jembatan depan pasar muara angke. Jalur yang menyempit, lalu lalang aneka kendaraan baik yang beroda empat,roda dua, gerobak bahkan becak, hiruk pikuk aktivitas pasar bahkan banjir merupakan penyebab kemacetan. Baunya ?? jangan ditanya ya, campuran amis ikan, air hitam kotor dan sampah, siapkan masker kalau nggak tahan.

PR buat pemerintah daerah jakarta, sebaiknya dibuatkan jalan khusus menuju dermaga yang terpisah dari pasar ikan, mengingat kepulauan seribu merupakan alternatif wisata potensial yang dekat dari jakarta, sehingga diperlukan akses yang lebih nyaman, semoga di kemudian hari bisa ada perbaikan, amin.

Jam 06.30-an kami sampai dan langsung berkumpul dengan rombongan kantor yang sudah datang, kami dipandu oleh petugas tour dan panitia menuju kapal penyebrangan. Kapal kami bernama “Diamond”, berupa kapal kayu sederhana non AC dua tingkat yang sudah digerakkan tenaga mesin, dek bawah dilengkapi dengan kursi bersandaran namun agak pengap, sementara dek atas berupa duduk di lantai alias lesehan. Kami tentunya memilih duduk di dek atas yang banyak anginnya. Masih cukup lama kami menunggu hingga kapal berangkat, sambil menunggu, panitia membagikan paket kfc untuk makan pagi dan snack.Dari tiket yang dibagikan, tertera ongkos naik ferry adalah 40K/orang.

15327469_10154879348124623_6042373370258113295_n
Dermaga Kaliadem-Angke
15355837_10154879348464623_3457789070763968044_n
Di dek atas kapal

Tepat pukul 08.00 kapal baru berangkat (padahal menurut jadwal harusnya jam 07.00), perairan jakarta yang hitam pekat berangsur-angsur menjadi biru, diselingi dengan pemandangan keramba dan perahu nelayan yang melintas. Sekitar setengah jam kemudian kami melewati trio pulau kelor-cipir-onrust (yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya), angin sepoi-sepoi membuat mata mengantuk, durasi perjalanan selama dua jam banyak dihabiskan untuk tidur atau bengong (ya habis kalo ngobrol juga gak kedengeran,karena anginnya cukup kencang).

Pukul 10.00 kami merapat di dermaga pulau pari, matahari sudah mulai naik sehingga udara cukup panas khas pulau. Dari dermaga kami dipandu oleh petugas tour menuju homestay induk dulu untuk kemudian dibagi homestay masing-masing, nah begitu melihat puluhan sepeda ontel berjajar, saya sebagai emak-emak yang kebanyakan gaya, langsung memilih sepeda ontel berukuran kecil dengan boncengan dan nggowes sambil membonceng putri kecil saya (baby G). Bisa ditebak, begitu saya kembali ke rumah tersebut, rombongan sudah bubar padahal saya gak tau dimana letak homestay saya, haha. Untung ketemu rombongan panitia yang menunjukkan letaknya. Saya langsung mendapati baby B yang malah udah main ayunan di pinggir pantai depan homestay bersama si mbak.

15380355_10154879350459623_2628140623240867097_n
Dermaga Pulau Pari
15319259_10154879361514623_3577421453002473307_n
Baby B and baby G yang asik main ayunan depan homestay

Untuk akomodasi, pulau pari memang tidak memiliki hotel, hanya homestay yang umumnya merupakan rumah penduduk yang sudah dirombak (biasanya ditambah AC dan sekat dihilangkan) dan disewakan. Karena merupakan rumah penduduk, homestay tidak harus berderetan atau bersebelahan, apalagi karena kali ini merupakan family gathering, pihak panitia harus memastikan kondisi homestay nyaman, terutama untuk jajaran direksi, makanya lokasi homestay rombongan agak acak, walau tidak terlalu jauh sih (masih bisa jalan kaki). Beruntung kami mendapatkan homestay tepat di pinggir pantai dengan lokasi yang tidak jauh dari dermaga dan warung bakso (dan aneka jajanan) di samping kami, homestay kami juga dijadikan “meeting point” bagi rombongan.

Homestay-nya cukup nyaman dengan dua kamar tidur yang masing-masing dilengkapi dengan matras empuk ukuran double, selain itu ruangan tengahnya (di mana terdapat TV) juga diberi dua matras. Homestay juga dilengkapi dengan dua kamar mandi bersih, dispenser dan AC yang dingin.

Baru aja duduk leyeh-leyeh, dua bayi yang gak mau diem langsung rewel minta naik sepeda dan main di pantai. Saya pun mengajak suami saya, yang masing-masing nggowes dengan membonceng satu anak. Kami mengayuh melewati jalanan ber-paving block dengan deretan rumah penduduk di kanan kirinya, hingga melewati “pantai kresek” (kami nggak masuk sih, tarifnya 2K/orang) dan terus ke ujung hingga jalanan bercabang : kiri ke “star beach”, lurus ke LIPI. Kami memilih belok ke kiri menuju star beach, pantainya lumayan dengan pasir putih, namun tidak terlalu luas, untuk masuk dikenakan biaya 2,5K/orang (saya yang cuma bawa duit 5000 perak, minta ke mbak-mbak penjaga biar baby-baby ga bayar, untung dikasih, hehe). Ada patung berbentuk karang warna hitam dengan tulisan “star beach” dan patung bintang laut yang bagus buat difoto. Disediakan pula sejumlah ayunan dan saung-saung, kedua babies pun langsung antusias naik ayunan dan minta berenang, padahal panasnya lagi “nyentrong bener”. Setelah membujuk mereka dengan hanya boleh celup kaki saja di laut, kami kembali ke homestay untuk makan siang.

15380462_10154879362834623_1249549891787164539_n
Sepeda ontel
15337458_10154879362499623_6456144340534037930_n
Star beach
15442280_10154879362889623_9156239811947939285_n
Star beach

Tidak lama, datanglah menu super spektakuler berupa kepiting segar dengan ukuran besar satu nampan penuh dan es kelapa dalam batok kelapa yang enak banget. Puas menyeruput segarnya es kelapa, kami menunggu makan siang kami yang ternyata…lama bener..akhirnya karena kelaparan kami makan kepiting tersebut sampai ludes. Kepitingnya hanya direbus dan diberi garam tanpa bumbu apapun, hanya dilengkapi dengan sambal botol. Agak lama kami menunggu, karena seharusnya makan siang dihidangkan pukul 12.00, mau jajan bakso di sebelah takut makanannya banyak, akhirnya kami terus menunggu hingga baru jam 13.oo makanan datang (untungnya masih ada sisa KFC tadi pagi untuk nyuapin anak-anak). Agak antiklimaks sih sehabis kepiting mewah tadi, makan siangnya berupa sayur asam, ayam goreng, tempe goreng dan sambal yang langsung kami sikat karena sudah kelaparan. Pihak operator tur beralasan bahwa karena letak homestaynya jauh-jauhan sehingga pengiriman jadi memakan waktu, yayayaya.

15391240_10154881862084623_9169292277289958715_n
the super crab

Setelah makan, semua anggota rombongan berkumpul di depan homestay kami untuk kegiatan snorkeling. Sementara yang tidak ikutan snorkeling, akan melakukan tur wisata mangrove dengan perahu. Dari keluarga kami hanya saya, suami dan adik yang snorkeling, sisanya ikutan tur mangrove. Karena makan siang ngaret, berimbas ke kegiatan yang juga ngaret, jam 14.00 lewat kami baru menaiki perahu kayu untuk snorkeling.

Harusnya ada tiga spot snorkeling : APL, Pulau Tikus dan Bintang Rama, tapi karena kami telat hanya ada satu spot yang berhasil disambangi, itu juga saya gak tau namanya. Karena saya sudah pernah ke tidung, saya pun tahu jangan berharap banyak dari snorkeling di wilayah kepulauan seribu. Karena letaknya yang tidak jauh dari perairan jakarta menyebabkan viskositasnya keruh dan biota laut termasuk ikan-ikan dan terumbu karang banyak yang mati, jangan heran kalau snorkeling di sini yang ditemui adalah pemandangan terumbu karang yang sudah mati dan ikan-ikannya susah dicari, adapun paling ikan kecil.

15442269_10154879349554623_7160445759997012271_n15420959_10154879348534623_3539291888008617653_n

Ombaknya cukup kuat saat kami snorkeling, sehingga 1-2 x saya sempet nelan air laut (padahal biasanya nggak) apalagi google saya agak kurang pas, akhirnya saya malah berenang-renang dibanding snorkeling, toh juga pemandangannya pas saya intip juga kurang bagus.

Selesai snorkeling saya langsung kembali ke homestay untuk mandi, ternyata rombongan mangrove juga belum lama tiba, adik ipar saya bercerita bahwa tur mangrove dimulai dari pantai pasir perawan yang bagus banget, apalagi ada pulau-pulau kecil di sekitarnya yang saat surut bisa dilalui karena hanya semata kaki, bahkan anak-anak saya bolak balik nyebrang sambil main air.

Setelah leyeh-leyeh sebentar, saya beserta suami dan dua babies menuju ke patai barat LIPI untuk berburu sunset. Pantai barat LIPI terletak di dalam area LIPI yang juga difungsikan selain sebagai balai penelitian juga menyediakan penginapan. Spot pantainya sih tidak terlalu bagus, banyak pohon besar-besar dan terjal juga sempit areanya sehingga untuk melihat sunset agak berdesakan, namun dari tempat ini matahari tampak jelas bulat utuh keemasan saat terbenam, cantik sekali.

15401164_10154879363009623_710441798752259790_n
Pantai Barat LIPI
15380611_10154879363074623_8633901551953630429_n
Sunset on LIP west beach

Selepas sunset kami kembali ke penginapan untuk shalat dan selanjutnya menuju ke pantai pasir perawan untuk makan malam. Warung-warung makan yang cukup besar banyak terdapat di pantai perawan, itulah mengapa makan malam yang sekaligus acara gathering dilaksanakan di sini. Saat kami ke sini, ada juga beberapa rombongan kantor yang sepertinya juga melakukan acara gathering seperti kami.

Lagi-lagi pihak operator tour lalai mempersiapkan acara, saat rombongan kami datang tidak ada personil dari operator yang menunggu sehingga panitia harus mengontak lewat HT warung mana yang sudah dibooking untuk rombongan kami, pun kami harus menunggu lagi sekitar 10-15 menit hingga makanan rapi terhidang di meja prasmanan. Menu yang disajikan sayur sop, ayam bumbu, ikan kembung balado, tahu goreng dan udang rebus. Selepas makan, pihak panitia dan rombongan kembali dikecewakan karena masalah sound system, operator tour tidak mengkoordinasi dengan baik sehingga sound system yang akan kami gunakan belum siap, yang sudah siap mangkal di warung malah bukan pesanan kami, dipakai pun tidak boleh. Padahal acara gathering merupakan acara puncak, di mana karyawan dan anggota keluarga akan saling berkenalan dan silaturahmi. Hingga menjelang pukul 20.00 sound system masih belum beres, sehingga pihak panitia mencari akal dengan terpaksa menggunakan peralatan seadanya yaitu TOA untuk gathering, untunglah sang direktur kantor suami orangnya sabar dan “entengan” , tidak gampang komplain dan marah-marah. Karena terbatasnya waktu (sudah kemalaman) acara gathering hanya berupa sambutan dari direktur dan perkenalan dengan anggota baru di kantor saja ditutup dengan door prize. Saat acara sudah mau selesai (saat pembagian door prize) barulah sound system datang, tentu pihak panitia sudah “ogah” dan menolak karena acara toh sudah selesai.

Selepas pukul 21.00 ada acara BBQ yang hanya dihadiri sekitar 1/3 anggota rombongan (yang sisanya sudah kembali ke homestay karena ngantuk termasuk anak-anak saya) sehingga porsi BBQ jadi melimpah ruah. Ada jagung, sosis, bakso, ikan dan cumi yang dibakar kecap. Satu hal yang saya perhatikan, masakan di sini hanya selalu dibumbui garam, asumsi saya entah orang di sini yang seleranya seperti itu atau karena harga bumbu dapur dan rempah di pulau mahal, saya cenderung kepada asumsi kedua sih. Setelah mata mengantuk dan perut kenyang, saya dan suami kembali ke homestay.

DAY 2

Untunglah anak-anak saya memang sudah biasa bangun saat shubuh, jadi tanpa dipaksa pun saat shubuh mereka sudah bangun. Angin bertiup kencang pagi itu, dengan mengayuh sepeda kami menuju bukit matahari yang letaknya persis di samping dermaga untuk mencari sunrise. Walaupun dinamakan bukit sebenarnya gak ada bukitnya, hanya posisinya agak sedikit menanjak saja. Sayangnya pagi itu sedang berawan sehingga sunrise pun tidaklah nampak.

15391209_10154879365159623_6242391155071495393_n
Bukit matahari

Kami kembali ke homestay untuk mengambil perlengkapan berenang, karena semalam sudah dikomplain habis-habisan oleh panitia, pihak operator tour sudah berkeliling ke sana kemari untuk memberi info bahwa makan pagi sudah siap dihidangkan di restoran semalam.

Karena saya mengunjungi pantai pasir perawan semalam di mana keadaan sudah gelap, maka saya tidak bisa melihat indahnya pemandangan yang diceritakan adik ipar saya. Saat pagi ini datang saya baru takjub melihat hamparan pasir putih yang bersih dengan pulau-pulau kecil di seberangnya. Kami disambut oleh patung ikan pari dengan keterangan pulau pari di belakangnya.

15390644_10154879363774623_724544671030780117_n
Pantai pasir perawan

Setelah sarapan, saya bermaksud menyebrang ke pulau kecil di seberang. Pagi itu air pasang sehingga ketinggian air mencapai sekitar dada, saya malah makin seneng dong, berasa kayak kolam renang. Saung-saung dan tempat duduk yang terletak sekitar pulau memunculkan pemandangan cantik tersendiri sehingga saat pasang begini seolah terendam air, sementara hutan mangrove di latar belakang menambah cantik pemandangan. Disewakan juga kano atau perahu untuk mengarungi sekitar pantai dengan tarif sekitar 50K/perahu. Cuaca hari itu cukup mendung, setelah mengikuti beberapa perlombaan anak-anak yang diadakan oleh para panitia, saya mengajak baby G menyebrang ke pulau sekitar dengan berjalan kaki. Tentunya saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto dengan berbagai macam latar (teteup yah), setelah itu baby G anteng main pasir di tengah pulau, sementara emaknya ini asyik berenang di lepas pantai sampai akhirnya sang suami memanggil untuk udahan.

15350607_10154879350424623_1887110022719996742_n
Pantai pasir perawan dan pulau-pulau kecil diseberangnya
15442325_10154879349934623_7679987350978834778_n
Children race

Kami kembali ke homestay untuk mandi dan packing. Ada sedikit “insiden” di mana pemilik homestay meminta kami untuk check out pukul 09.00 karena jam 10.00 sudah ada rombongan lain yang akan masuk (maklum, kemarin itu liburan 3 hari). Lha kami tentu gak mau tau, secara menurut iten yang tertera jam 10.00 kami baru check out dan kumpul, sekali lagi terlihat pihak operator tour yang kurang cakap dalam berkoordinasi.

Beres packing, saya mengajak suami untuk jajan cilung dan otak-otak di dermaga, cilungnya agak beda dengan yang di jakarta di mana di sini memakai bihun sebagai campuran, sementara otak-otaknya walau enak tapi harganya 2.5K/buah dengan ukuran geli-geli doang. Di dermaga banyak yang menjual oleh-oleh khas pulau pari seperti keripik atau dodol rumput laut. Hujan turun saat kami menunggu rombongan lain di meeting point, syukurlah tak lama kemudian cuaca cerah, mengantarkan kapal yang baru berlabuh dari jakarta.

Jam 10.00 rombongan kami menuju dermaga dan sekali lagi dibuat bingung kapal apa yang akan dinaiki, secara tidak ada satupun pihak operator tour yang menunggu di dermaga. Sesaat kemudian barulah pihak panitia mendapatkan kepastian (lewat HT) bahwa kami kembali menaiki kapal diamond yang bagian dek atasnya sudah penuh sesak, sehingga kami terpaksa duduk di dek bawah. Dek bawah saat siang hari panasnya minta ampun, angin pun seperti bersekongkol tidak mau bertiup, panas dan pengap, untung anak-anak saya malah tidur walau gelisah. Dua jam kemudian akhirnya sampailah kami di dermaga kaliadem, syukurlah ada go-car yang menjawab panggilan kami, sehingga kemudian kami dapat duduk nyaman dalam mobil ber-AC.

Lesson to Learnt :

Memilih pihak operator tour memang harus sangat jeli, bahkan kalau diperlukan kita harus sangat bawel memperhatikan setiap detil saat persiapan. Dibandingkan dengan operator open trip yang pernah memandu saya ke tidung, operator ke pari ini terlihat kurang koordinasi. Berbagai permasalahan terjadi seperti homestay yang denahnya tidak sesuai rencana, jadwal makan dan kegiatan yang ngaret, menu yang tidak sesuai pesanan, personil tour yang tidak siaga hingga ke masalah sound system. Waktu ke tidung operatornya sangatlah rapi dan jadwalnya nggak pernah ngaret, padahal programnya open trip di mana peserta tidak mengenal satu sama lain. Jadi kasihan melihat panitia dari kantor yang harus pontang-panting untuk menjaga keseluruhan acara tetap berjalan baik, tetep two thumbs up dan big thanks untuk jajaran panitia dan direksi kantor yang sudah menyajikan acara gathering kepada karyawan dan keluarga yang “butuh piknik”. Semoga ke depannya bisa terus berlanjut acara silaturahmi kita.

Posted in Bangkok, Thailand

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 6)

Subuh-subuh kami sudah bangun, mandi dan packing karena jam 05.30 jemputan dari travel akan datang. Sambil menunggu, kami main ponsel dengan memanfaatkan fasilitas wifi yang ada di resepsionis. Begitu jemputan datang, kami langsung buru-buru pergi tanpa sadar kalau hp suami saya ketinggalan di meja.

Kami dijemput oleh tuk-tuk yang membawa kami ke sebuah rumah kecil di mana sejumlah penumpang lain (yang semuanya bule) sudah menunggu. Saat sampai, suami saya baru sadar kalau hp-nya ketinggalan, terpaksa minta diantar balik lagi oleh sang pengemudi tuk-tuk yang maunya dengan tarif 2 USD gak boleh ditawar. Untung sang resepsionis hotel menyimpan hp tersebut.

Tepat pukul 06.00, minivan membawa kami meninggalkan Siem Reap menuju Bangkok. Perjalanan dari Siem Reap menuju Poipet hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam, itu juga sempat berhenti sekitar 15 menit di suatu rest area. Imigrasi dengan arus balik (dari cambodia ke thailand) tidaklah seramai saat kami datang 2 hari yang lalu, mungkin karena masih pagi ya. Dari poipet, kami menyebrang ke Aranyaphratet yang sudah masuk dalam yurisdiksi Thailand. Rombongan kami disuruh menunggu sebentar di sebuah kedai makan kecil sekalian diberi waktu untuk sarapan. Saat sarapan kami berkenalan dengan seorang solo backpacker asal Canada (namanya Cathy) yang ternyata sudah backpackeran keliling Asia selama setahun, kemarin ini dia bekerja sebagai volunteer bahasa inggris selama sebulan, keren bener yah.

Minivan yang akan membawa kami ke bangkok akhirnya datang dan ternyata berbeda dengan minivan sebelumnya. Kali ini minivannya lebih kecil, mana kami harus berbagi dengan 2 bule italia di kursi paling belakang yang badannya gede-gede pula.

Untungnya minivan jalannya cepat, hanya butuh waktu kurang dari 3 jam, sekitar pukul 13.00-an kami sudah sampai di Bangkok. Yang nyebelin harusnya kan minivan menurunkan kami di Khaosan Road (sesuai dengan brosur yang ditempel di kantor travel), eh ini malah diturunkan entah di mana, di suatu jalan yang penuh dengan kantor pemerintahan. Lah kan kami bingung ya, secara kami tidak mengantisipasi rute tersebut jadi tidak tahu harus naik apa.

Kami mencoba bertanya pada polisi dan beberapa warga sekitar, syukurlah ada beberapa yang “nyambung” dan memberi kami nomor bus yang harus kami naiki. Belakangan saya baru tau dari berita demonstrasi besar-besaran di Thailand lewat layar kaca bahwa jalan tersebut memang merupakan area kantor-kantor pemerintah, terutama perdana menteri, pantesan banyak polisinya.

KHAOSAN ROAD

Khaosan Road merupakan suatu area populer bagi para Backpacker karena banyak terdapat hotel dan penginapan murah, bar-bar, tempat makan dan jasa tour travel ke berbagai tempat hingga ke luar Thailand. Lokasinya juga cukup strategis karena cukup berjalan kaki sekitar 15 menit hingga kawasan wisata populer seperti Wat Pho, Grand Palace dan Wat Arun. Sayangnya daerah ini tidak terjangkau BTS, jadi kalau mau ke sini ya harus naik bus.

Hotel yang kami booking bernama Sawasdee Banglumpoo Inn Hotel, yang sudah kami pesan via agoda sebelumnya. Yang agak menyulitkan ternyata hotelnya harus melewati gang dulu, walau sudah membawa print lokasinya, namun kami masih harus bertanya dulu. Bangunannya cukup besar (4 lantai), kamar standart yang kami pesan berada di lantai tiga, kamarnya kecil, no window, tapi kamar mandi private di dalam ruangan.

map
Peta menuju Sawasdee banglumpoo Inn (sumber:thaiwaysmagazine.com)
slide5
Sawasdee Banglumpoo Inn (sumber: sawasdee-hotels.com)
gallery05
Kamar standart (sumber:instantthailand.com)

Jadwal kami hari ini tidak padat, hanya rencana ke Khaosan Road, sehingga kami tidur-tiduran sambil leyeh-leyeh dan nonton tv sampai malam menjelang.

Sekitar jam 19.00 kami keluar untuk menikmati suasana Khaosan Road, tujuannya untuk cari makan dan oleh-oleh. Suasana malam khaosan road sangatlah ramai terutama dengan para turis asing, food stall banyak berjejer menyajikan aneka hidangan. Kami memilih makan pad thai dengan telur untuk makan malam, juga sempat membeli snack thai pancake yang sangat saya suka sejak pertama kali ke Phuket. Setelah itu kami berjalan hingga ke ujung Khaosan Road dan betapa kagetnya ternyata di sini tidak ada penjual souvenir khas oleh-oleh, ada yang jual baju pun cuma baju biasa, tidak ada tulisan “i love bangkok” atau apa yang bercirikan bangkok.. Lah kami bingung dong jadinya, mau ke MBK pasti udah kemaleman (keburu tutup), gak ke MBK masa iya pulang nggak bawa apa-apa.

Setelah berdiskusi singkat, saya dan suami terpaksa membatalkan salah satu tempat wisata yang ada dalam daftar yaitu “Grand Palace” dengan pertimbangan tiket masuk Grand Palace itu kan jadi satu dengan Ananta Samakhorn Hall dan Vimanmek mansion, jadi sayang kalau tiga tempat tersebut tidak dikunjungi sekaligus, mudah-mudahan suatu saat ada rezeki untuk mengunjungi Bangkok lagi. Jadilah besok kami hanya berkunjung ke Wat Pho, Wat Arun dan MBK sebelum ke bandara karena penerbangan kami kembali ke tanah air dijadwalkan berangkat pukul 19.00.

Posted in Uncategorized

Bandung, Medan, Bangkok & Siem Reap (Day 5)

Pagi-pagi sekitar pukul 04.15 kami sudah terbangun oleh alarm hp, walau mata rasanya masih dilem, tapi kami memaksa tubuh bergerak ke kamar mandi sekedar untuk cuci muka & gosok gigi, tanpa mandi. Setelah mengisi ransel dengan perlengkapan ringan seperti air mineral, biskuit & tissue, kami segera bergegas turun ke lobby hotel. Resepsionis menegur kami ” sunrise at angkor?” sambil tersenyum, sepertinya wisatawan yang hunting sunrise di angkor memang sudah jamak. Sekitar 5 menit kemudian Tina muncul di lobby dengan mengendarai tuk-tuk, kalau kemarin Tina rapi berkemeja dan berdasi, sekarang dia hanya menggunakan kaos & jins belel sepeti halnya driver tuk-tuk.

Kami berkendara sekitar 45 menit, mulanya melewati kawasan Old Market yang turistik, lalu melewati gedung-gedung pemerintahan dengan lapangannya yang luas, berakhir dengan menembus area dengan jalan 2 jalur yang diapit pepohonan rapat di kanan-kirinya,  tidak ada bangunan sama sekali dan sedikit kendaraan bermotor yang melintas , hanya ada tuk-tuk atau sepeda (yang kebanyakan disewa oleh turis bule untuk mengelilingi Angkor). Rasanya saya seperti mengalami time slip, seperti dibawa ke masa lalu di mana hanya ada hutan sejauh mata memandang.

Sekilas mengenai ANGKOR WAT

Sebenarnya Angkor Wat merupakan salah satu situs paling terkenal dari Angkor Archeological Site Complex yang merupakan kawasan luas yang terdiri atas candi-candi. Kawasan ini dulu merupakan ibu kota dari kerajaan khmer kuno yang beragama hindu. Hebatnya walau Cambodia merupakan salah satu negara berkembang, mereka sudah memikirkan pariwisatanya dengan baik, kompleks Angkor ini steril dari segala macam bangunan, masih dikelilingi hutan lebat, jalanan setapak masih dari tanah, kendaraan bermotor yang melintas dibatasi, suasana sunyi sepi, jadi seperti masih asli. Kalau kamu pernah ke Jogja, bayangkan saja area prambanan sampai ke candi ijo (yang penuh dengan candi – candi) tapi suasana masih dibiarkan asli.

ANGKOR WAT

Perhentian paling pertama dari Angkor Archeological Site Complex adalah Angkor Wat. Kami langsung membeli tiket di loket yang terletak persis di depan Angkor Wat, tiketnya berlaku untuk keseluruhan Angkor Archeological Site Complex.

Di loket tiket kita akan diminta untuk menunjukkan paspor dan difoto sehingga di tiket tercantum foto kita (yang kucel dan masih mata panda). Setelah itu kami berpisah dengan Tina yang menunggu di parkir tuk-tuk dekat loket. Saya langsung takjub dengan Angkor Wat yang ternyata sangat besar, saya pikir cuma sebesar prambanan, tapi ternyata luas sekali. Angkor wat berbentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh parit.

4
Tiket masuk ke Angkor Wat

Suasana di angkor wat ternyata sudah ramai sekali oleh wisatawan asing yang juga berencana berburu sunrise. Spot menunggu sunrise adalah di depan candi pendamping kecil yang terletak persis di seberang danau yang memungkinkan kita melihat siluet angkor wat secara utuh. Bangunan angkor wat ini awalnya didedikasikan untuk dewa Siva karena kerajaan khmer kuno bergama hindu, bangunannya merefleksikan mahameru dan sedikit banyak mirip seperti prambanan.

Perlahan matahari mulai timbul dan memberi efek pencahayaan yang sangat cantik terhadap angkor wat, pantaslah banyak orang yang berebut spot terbaik untuk mengabadikan sunrise ini. Setelah mengambil beberapa gambar, kami melangkahkan kaki menuju bangunan angkor wat yang sangat luas. Kalau candi di Indonesia umumnya hanya memiliki satu ruang tunggal yang tidak begitu besar (misalnya prambanan), angkor wat ini seperti istana yang sangat besar.

7
Sunrise at Angkor

Sekarang candi ini sudah berubah menjadi candi buddha seiring dengan perubahan agama kerajaan dari hindu menjadi buddha. Di pelataran candi pagi itu sekumpulan rahib sedang menggelar ritual doa pagi.

12
Para Rahib melakukan ritual doa

Kita bisa memasuki ruangan-ruangannya yang berupa koridor panjang dengan banyak relief-relief hindu menghias dindingnya, selain itu ruang ibadahnya juga sangat luas. Nah hati-hati di ruang ibadah ini karena ada beberapa praktek scam yang menunggu, biasanya ada bapak-bapak yang tiba-tiba memberi kita dupa untuk dibakar di depan patung, abis itu kita dimintai ongkos (walau seikhlasnya sih), mending tolak saja dengan halus tawaran tersebut.

17
Koridor di dalam angkor wat

Puncak candi di cambodia disebut dengan prang, prang-prang di sini sangat curam dan ada larangan didaki karena struktur bangunannya yang rapuh.

25
Salah satu prang di angkor wat

Setelah dirasa cukup mengelilingi angkor wat, kami mampir di salah satu kedai kecil yang banyak berjajar di depan angkor wat. Makanannya sih biasa, macem nasi goreng atau mie goreng, tapi harganya harga turis.

36
Angkor Wat saat matahari sudah naik
40
Jalan di kompleks Angkor Wat yang mulus dan lebar

ANGKOR THOM

Kami keluar dari angkor wat dan menemukan Tina di kerumunan tuk-tuk. Tina mengantar kami menuju perhentian selanjutnya yaitu kompleks Angkor Thom, yang merupakan ibu kota kerajaan khmer kuno dan terdiri atas beberapa bangunan candi-candi. Angkor Thom juga berbentuk persegi panjang dan dikelililingi oleh parit dan pagar kokoh di sekelilingnya, di keempat penjuru dilengkapi dengan pintu gerbang.

Saya kagum dengan planologi tempat ini di mana tata kotanya sudah dirancang dengan sangat baik. Jalanannya benar-benar lurus dan sudah digarap dengan baik sejak zaman dahulu. Di kanan kiri jalan terdapat patung-patung batu berjajar menyambut sebelum pintu masuk kompleks.

43
Deretan patung batu menuju Angkor Thom
44
Gerbang utama Angkor Thom

BAYON

Kami diturunkan Tina di candi ini dan selanjutnya dia akan menunggu kami di parkiran tuk-tuk di depan Prasat Suor Prat sambil menunjukkan arah, sebenarnya kami nggak tau di manakah itu tapi yo wes lah, toh kami belum bayar ongkos tuk-tuk, jadi kalau sampai nggak ketemu ya tinggal cari tuk-tuk lain.

Candi Bayon ini merupakan candi yang menarik, karena prang-prangnya diukir dengan wajah tersenyum yang diduga merupakan wajah dari King Jayavarman VII. Struktur candi ini banyak yang rapuh dan lapuk, sehingga banyak diberi papan keterangan untuk berhati-hati agar tidak kena reruntuhan candi.

47
Bayon sang candi seribu wajah
52
Close up “wajah” sang candi

BAPHUON

Dari bayon kami berjalan kaki menyusuri areal hutan (beneran mirip hutan dengan pohon-pohon tinggi yang masih asli) untuk menuju ke Baphuon. Bagian depan Baphuon berupa jembatan panjang yang dibuat lebih tinggi dibanding sekitar. Baphuon sendiri bangunannya berundak-undak. Suasana sangat sepi karena tidak banyak wisatawan sendiri, saya yang agak mengantuk memilih duduk di salah satu sudut sementara suami saya melanjutkan pendakian hingga ke prang puncak. Suasana yang temaram dengan bangunan dan hutan yang masih asli membuat saya seakan mengalami “time slip” dan membayangkan orang-orang yang hidup di sini zaman lampau.

62
Baphuon
63
Jembatan menuju Baphuon

PHIMEANAKAS

Selepas baphuon, kami melewati phimeanakas yang bangunannya tidak sebesar candi-candi sebelumnya, kami hanya berfoto sebentar tanpa memasuki candi tersebut.

73
Phimeanakas
74
Jalan setapak antara satu candi dengan candi lainnya, masih hutan kan?

TERRACE OF THE ELEPHANTS & TERRACE OF THE LEPER KING

Terrace of Elephants, sesuai namanya dihiasi dengan banyak ornamen patung gajah, bangunannya tidak begitu besar namun dilengkapi oleh koridor-koridor panjang yang posisinya di bawah tanah. Terrace of Leper King memiliki bentuk bangunan yang serupa, bangunan ini didedikasikan kepada salah seorang raja yang mengidap penyakit lepra.

79
Terrace of Elephants
80
Terrace of Leper King

Dari depan terrace of elephants, kami akhirnya bertemu kembali dengan Tina yang mangkal di tempat parkir tuk-tuk.

88
ketemu lagi dengan Tina, sang driver tuk-tuk

PRASAT SUOR PRAT, PRASAT TOP EAST,PREAH PITU,THOMAMNON, CHAU SAY TEVODA & TAKEO

Dalam perjalanan kami melewati sejumlah candi-candi seperti yang disebutkan di atas, namun kami tidak begitu tertarik untuk turun dan masuk ke dalamnya.

82
Prasat Top East
87
Takeo

TA PHROM

Inilah candi yang merupakan pusat perhatian selain angkor wat, karena banyak pohon-pohon raksasa yang “mengakar” di candi ini. Pemandangan pohon yang saling membelit dengan bangunan candi menciptakan keunikan tersendiri sehingga tempat ini dijadikan lokasi syuting Tomb raider, bahkan populer disebut candi Angelina Jolie, haha.

Candi terkesan lebih lapuk dan banyak lumutnya, apalagi dengan adanya pohon-pohon besar sehingga berasa lembab karena kurangnya cahaya.

Kelar dari Ta Phrom sekitar pukul 15.00, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan ke kompleks Angkor dikarenakan sudah lelah akibat bangun sebelum subuh pagi tadi. Kami kembali diantar naik tuk-tuk oleh Tina ke hotel, Tina pun menawarkan apa mau mengunjungi water puppet show atau show-show lainnya nanti malam. Karena tidak berminat kami menolak tawaran tersebut. Makan siang seperti biasa kami pesan lewat layanan kamar di hotel, setelah itu kami terlelap sampai sore tiba.

100
Ta Phrom
99
Ta Phrom
92
Di dalam Ta Phrom yang lembab dan berlumut

SIEM REAP ART CENTER NIGHT MARKET

Selepas maghrib dengan energi yang sudah terkumpul, kami berjalan kaki sekitar 200 m ke arah pinggir sungai untuk mengunjungi Siem Reap Center Night Market. Jembatan-jembatan yang melintasi sungai untuk menuju Market ini dihiasi dengan lampu-lampu dekoratif yang sangat cantik saat malam tiba.

107
Siem Reap Art Center Night Market

109

Tempat ini menjual aneka souvenir Cambodia dengan harga murah untuk oleh-oleh, yang dijual kebanyakan kaos bergambar angkor, magnet, gantungan kunci, boneka dan barang-barang khas souvenir lainnya. Kami hanya membeli beberapa potong kaos dan magnet untuk oleh-oleh, karena kendala bahasa, siapkan saja kalkulator untuk tawar menawar. Penjual umumnya menerima USD atau Cambodian Real, walaupun kembaliannya pasti dalam bentuk real. Daerah ini juga sebenarnya dekat dengan komunitas muslim Cambodia, bahkan ada masjidnya, makanya di sini saya berjumpa dengan beberapa penjual yang mengenakan hijab.

Dari Siem Reap Center Night Market, kami berjalan menyusuri pinggir sungai untuk mencari travel yang menjual jasa minivan Siem Reap – Bangkok. Kali ini kami memilih naik minivan karena waktu tempuhnya yang lebih cepat dibanding bus, kami deal dengan salah satu travel untuk jasa minivan besok pagi pukul 06.00, pihak travel akan menjemput kami di hotel pada pukul 05.30.

PUB STREET

Selanjutnya kami menyusuri area pub street yang sebenarnya menghampar dari depan hotel kami, pub street ini mirip khaosan road di bangkok, berisi banyak kedai-kedai minum dan bar walau tidak terlalu vulgar. Banyak juga aneka rupa street food yang dijual yang tentunya tidak berani kami coba karena khawatir kehalalannya. Puas melihat-lihat kami kembali ke hotel untuk istirahat.

111
Pub Street
112
Pub Street