Posted in Japan, Osaka, Kyoto

Japan – Korea Trip (Day 3 & 4)

DAY 3

Begitu bangun, yang ada dalam pikiran saya adalah “apakah nasi yang saya masak semalaman matang?”, ternyata harus kecewa dengan kenyataan bahwa rice cooker yang kami bawa tidak bisa digunakan. Masa’ sudah dicolokin semalaman, berasnya masih letis (sudah jadi nasi tapi masih keras)?. Ya sudahlah, akhirnya saya bereskan sekalian packing.

Pagi itu suhu udara masih sangat dingin, saya mengamati kota kyoto yang mulai berangsur-angsur ramai lewat jendela kamar yang berteralis. Kami sarapan dengan pop mie yang sudah dibawa sambil menonton kartun jepang di televisi. Rencananya kami baru akan keluar dari hotel sekitar pukul 08.30 untuk menuju Fushimi Inari Shrine.

IMG20170313061841
Pemandangan kota kyoto dari balik teralis jendela

FUSHIMI INARI SHRINE

Setelah siap, kami turun ke resepsionis hotel sekalian check out dan menitipkan barang bawaan. Kami menuju ke Kyoto Station kembali untuk menaiki JR Train yang akan membawa kami ke Fushimi Inari Taisha Shrine. JR Train merupakan moda transportasi yang termurah dan tercepat kalau kita ingin ke Fushimi Inari, JR Train yang digunakan adalah JR Nara Line for Joyo yang berangkat dari Platform 1. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit hingga sampai di stasiun Inari yang letaknya persis di depan pintu gerbang Fushimi Inari.

Fushimi Inari adalah shrine, bangunan kuil untuk para pemeluk agama Shinto, yang didedikasikan untuk Inari sang Dewa Rubah. Kuil ini terkenal karena ribuan torii (gerbang kuil) gate -nya yang berwarna oranye kemerahan. Untuk memasuki kuil ini tidak dikenakan biaya alias gratis.

Kami pun disambut oleh sebuah torii gate yang menjulang tinggi di atas kepala kami, hingga tiba di pintu masuk yang mengingatkan saya akan deva gate nya kiyomizudera yang saya lihat kemarin. Di kanan kiri gerbang berdirilah patung Inari yang dipercaya sebagai dewa pelindung kuil ini, Inari yang kiri menggigit bola, sementara yang kanan menggigit sebilah belati. Masuk lebih ke dalam lagi, kita akan bertemu dengan beberapa bangunan kuil yang berwarna oranye kemerahan, di salah satu kuil yang terbesar sedang berlangsung upacara keagamaan. Sementara beberapa miko (pendeta wanita) berbaju putih ,seperti yang sering saya lihat di komik-komik, berdiri menunggui kios-kios yang menjual jimat dan ramalan. Kuil-kuil ini rata-rata dilengkapi dengan lonceng-lonceng berukuran besar yang dihubungkan dengan seutas tali panjang, bila kita ingin membunyikan lonceng, gerakkan tali-tali tersebut. Ini merupakan kepercayaan masyarakat Jepang, di mana saat berdoa apabila ingin menarik perhatian para dewa, kita harus membuat suara keras seperti membunyikan lonceng atau bertepuk tangan. Saya dan baby G pun dengan malu-malu ikut-ikutan membunyikan lonceng yang ternyata suaranya cukup keras dan bergema ke mana-mana.

17265219_10155181201219623_8235260470742936666_n
Torii gate di depan fushimi inari shrine

17155856_10155181201234623_1447416181255581009_n
The Gate
17264714_10155181201459623_6412993512176697026_n
Patung Dewa Inari
IMG20170313093107
Miko penjaga
17308797_10155181201889623_1148916774054100045_n
Kuil dengan lonceng

Kami pun meneruskan perjalanan ke belakang kuil dan menemukan ratusan torii gate yang terkenal itu. Kami pun berjalan di bawah naungan torii yang saking panjangnya membentuk lorong, setelah saya amat-amati masing-masing torii ada nama penyumbangnya, entah perusahaan atau perorangan, sepertinya sumbangan torii ini sekaligus untuk persembahan doa. Torii ini sangatlah panjang dan akhirnya akan bersambung dengan puncak bukit. Karena lelah dan membawa anak kecil, kami pun memutuskan menyudahi petualangan kami di torii lapis kedua dan berbalik arah turun.

IMG20170313094800
Deretan Torii Gate
IMG20170313095610
Deretan Torii Gate
17309170_10155181202009623_6336841421561975005_n
Peta Fushimi Inari Shrine

Saat sampai di kuil bawah, kami melihat beberapa miko yang sudah bersiap-siap untuk suatu acara keagamaan di paviliun. Saking bersemangatnya, suami saya langsung refleks mengangkat layar hp untuk memotret acara tersebut dan langsung digetok dengan tongkat panjang oleh kakek-kakek penjaga, ternyata dilarang memotret atau memvideokan para miko. Para penjaga mempersilakan dua orang pria berjas rapi naik ke paviliun, sepertinya para pria ini adalah orang-orang yamg meminta pemberkatan. Seorang miko pun menari diiringi dengan lantunan nyanyian dan petikan alat musik dan tabuhan gendang dari miko lainnya. Miko yang menari tersebut memegang suatu tongkat panjang dengan lonceng-lonceng dan selendang, dan di akhir tarian mengarahkan lonceng tersebut kepada kedua pria tadi.

IMG20170313102431
Miko menari
IMG20170313095324
The Holy Water

Selesai tarian, kami pun melangkahkan kaki kembali ke stasiun Inari untuk kembali ke Kyoto station. Sambil menunggu kereta datang, kami mencoba membeli kopi kaleng dan soft drink dari vending machine, wah rasanya seneng banget bisa mencoba vending machine asli jepang yang selama ini cuma kami lihat dari komik atau dorama.

IMG20170313104148
Vending Machine

Sesampainya di kyoto station, saya dan baby g meutuskan untuk menunggu di depan stasiun saja, sementara suami sayalah yang kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang. Waktu luang tersebut kami isi dengan berfoto-foto dalam stasiun kyoto yang futuristik dan modern, berkebalikan dengan image kyoto yang kuno. Sayonara kyoto, mudah-mudahan suatu saat kami bisa kembali lagi ke sini.

J HOPPERS OSAKA

Dari stasiun kyoto, kami menaiki JR Special Rapid Service for Himeji dari platform 5, turun di Osaka Station dan dilanjutkan dengan menaiki JR Loop line (Inner Loop) arah Tennoji dari platform 1 dan turun di stasiun Fukushima, yang hanya satu stasiun dari Osaka. Kami bermaksud menitipkan barang bawaan dulu di J Hoppers Osaka, hostel yang telah kami booking, sebelum lanjut mengeksplorasi Osaka.

J Hoppers Osaka merupakan salah satu chain hostel yang banyak direkomendasikan oleh para Backpackers. Lokasinya sangat strategis, hanya 5 menit berjalan dari stasiun Fukushima dan sangat mudah ditemukan. Stasiun Fukushima sendiri merupakan stasiun kecil yang hanya berjarak satu stasiun saja dari stasiun osaka, jalurnya mencakup JR Loop line, dekat dengan Universal Studio Japan dan ada akses JR langsung ke Kansai Airport. Selain itu untuk ukuran Jepang harganya cukup terjangkau, sayangnya anak usia berapa pun harus sudah dihitung okupansi tempat tidurnya, sehingga kami mem-booking kamar private untuk tiga orang.

IMG20170313123109
Kamar di J Hoppers
IMG20170314080157
Area Fukushima

Kami menginjakkan kaki tepat pukul 12.00 siang di J Hoppers dan langsung disambut dengan senyum ramah oleh resepsionisnya yang mampu berbahasa inggris dengan baik walau dengan logat jepang yang kental. Beruntung kamar kami sudah siap sehingga kami bisa early check-in. Kamar kami terletak di lantai tiga dengan ukuran yang lumayan besar, isinya satu tempat tidur single dan satu bunk bed, serta satu meja dan kursi. Toilet dan kamar mandi letaknya di luar dan dipakai bersama-sama (sharing bathroom). Hostel di Jepang memang luar biasa rapi dan bersih, bahkan di toiletnya tidak ada ceceran air barang setetes pun. Seprai, sarung bantal dan bed cover harus dipasang sendiri (ada kertas panduannya di meja samping tempat tidur) dan saat sebelum check out harus dilepas sendiri juga dan diletakkan di keranjang laundry yang sudah disediakan di lorong.

Karena lumayan capek, kami memutuskan beristirahat dulu sejenak dan jam 3 sore baru akan berangkat keluar lagi. Suami saya membeli bento box dari 711 di samping hostel untuk makan siang, rasanya cukup enak dan porsinya besar. Saya yang masih penasaran dengan hal ihwal rice cooker, mencoba menanak nasi lagi dengan harapan siapa tau di osaka sini bisa.

OSAKA CASTLE

Untuk menuju Osaka Castle, kami cukup menaiki JR Loop Line (Outer Loop) dari Fukushima station dan turun di Osakanojoken station. Dari station ternyata kami masih harus berjalan cukup jauh hingga sampai di bangunan utama Osaka Castle, di sepanjang jalan banyak pohon-pohon dengan kuncup sakura yang nanti saat musim semi pasti akan semarak mekar, saya bisa membayangkan keindahan jalan ini nantinya. Jalanan menuju Osaka Castle seluruhnya terbuat dari bebatuan yang sudah dibentuk dengan indah. Tidak berapa lama kami sudah bisa melihat Osaka Castle yang tinggi menjulang dengan parit di sekelilingnya.

17264302_10155181217969623_189091658779011221_n
Osaka Castle
17264469_10155181218119623_6630946267340859239_n
Taman di sekitar Osaka Castle

Osaka Castle dibangun oleh Toyotomi Hideyoshi sang taiko yang dikenal karena kehebatannya dalam menyatukan seluruh Jepang yang pada masa itu masih tercerai berai dan beperang antar daerah. Toyotomi Hideyoshi mengawali karirnya sebagai pembawa sendal Jenderal Oda Nobunaga (yang juga dikenal karena reputasinya yang berani dan brutal), namun walau tidak memiliki darah bangsawan setetes pun, dengan kecerdasannya yang terefleksikan dalam berbagai strateginya, Hideyoshi perlahan menaiki karir hingga ke puncak di mana dia menjadi seorang Taiko, setara dengan Shogun yang memerintah seluruh Jepang. Kastil ini dibangun di puncak bukit dan sudah diperkuat dengan pondasi bebatuan yang kokoh dan dikelilingi oleh parit dalam, sepertinya kastil ini memang sudah dipersiapakan untuk berperang.

Osaka Castle ini sekarang difungsikan sebagai museum yang isinya mengenai perjalanan kisah hidup Toyotomi Hideyoshi mulai muda hingga ajalnya. Tiket bisa dibeli di vending machine dengan harga 600 jpy (anak-anak di bawah 6 tahun belum dikenakan biaya). Salut sekali dengan Jepang, begitu tahu kami membawa stroller, kami diberikan jalur khusus untuk lewat dan pada saat antrian lift pun didahulukan.

Lift langsung membawa kami ke puncak kastil di mana kita bisa melihat pemandangan di sekitar Osaka Castle dari ketinggian. Ujung-ujung atap dari kastil ini dihias dengan sebuah patung berwujud ikan berkepala singa yang disepuh emas, mahluk mistikal ini dipercaya melindungi kastil dari berbagi bahaya terutama bahaya kebakaran. Ruang-ruang di bawahnya berisi berbagai kehidupan Hideyoshi, ada diorama bergerak yang dilengkapi video hologram, ada diorama perang-perang dan formasi, lukisan-lukisan para jenderal pendukung hideyoshi, senjata, kitab-kitab, baju zirah, bahkan saya menemukan suatu senjata api yang dalam keterangannya dibeli dari Pemerintah Belanda yang berlokasi di Pulau Kalimantan. Museum ini sangat menarik sekali dan membuat saya betah berlama-lama mempelajari keterangan demi keterangan yang tertulis di depan rak kaca, waktu 2 jam yang kami habiskan rasanya belum cukup, tapi mengingat masih ada tempat lain yang harus kami kunjungi maka kami harus menyudahi kunjungan ini.

17309529_10155181213069623_6426509518987852812_n
Osaka Castle dari puncak
17155868_10155181216834623_2219574458077714894_n
Di dalam osaka castle

Dari kastil kami berbelok sedikit ke Plum Garden, suatu taman yang penuh bunga ume-persik/plum, bunga plum ini warnanya putih agak pink, sekilas mirip-mirip sakura walau beda bentuk kelopaknya. Yang menyenangkan adalah bunga plum ini wanginya luar biasa, harum sekali dan membuat kami betah berlama-lama mengitari taman tersebut.

17265127_10155181212889623_2098455157825738479_n
Plum Garden

NAMBA

Tujuan kami selanjutnya adalah ke distrik Namba yang terkenal sebagai tempat belanja. Dari Osaka Castle kami harus menaiki Subway Nagahori Tsurumiryokuchi line arah ke taisho, subway ini letaknya di Osaka Business Park yang letaknya sekitar 250 m dari Osaka Castle. Dari Osaka Castle berjalanlah lurus hingga menemukan bundaran dengan air mancur, lalu sebrangilah jembatan dan jalan terus. Di tengah jalan kami sempat bertanya kepada penduduk lokal karena bingung arah, ternyata letaknya persis di samping McD yang ada di kawasan Osaka Business Park.

17264397_10155181217829623_6011495673500958237_n
Di dalam subway station

Kami turun di staisun Shinsaibashi exit 7, sempet bingung juga mana Shinsaibashi suji-nya, untung saya rajin googling image, sehingga mudah mengenali kawasan tersebut. Shinsaibashi suji itu adalah suatu kawasan pertokoan dan belanja di mana berderet toko-toko brand ternama ataupun toko-toko kecil yang menjual aneka barang dengan harga yang terjangkau. Shinsaibashi suji ini mudah dikenali karena lorongnya dinaungi dengan atap plastik lengkung hingga ke ujung. Kami hanya melihat-lihat saja dikarenakan baby g masih tertidur di stroller-nya, kebanyakan yang dijual adalah barang-barang fashion, kosmetik, tas dan sepatu.

17265279_10155181217999623_1880078124827368571_n
Shinsaibashi suji

Sampai di ujung shinsaibashi di mana kita sudah bisa melihat jembatan Ebisubashi, kami bertemu dengan toko kue Pablo, yang di Jakarta luar biasa nge-hits sampai ngantri pake banget. Pablo di sini tidak terlalu berjubel, lantai satu digunakan untuk take away, sementara lantai dua sebagai dine-in. Kami pun sangat bersemangat saat disodorkan menu…sampai seorang pelayan mendatangi kami dan bertanya “do you eat pork?” errr…kenapa ini? sang pelayan pun menjelaskan bahwa kue-kue di Pablo ini mayoritas mengandung esens babi, wakkss, jangan-jangan yang di jakarta nggak halal juga. Setelah meneliti menu disimpulkan bahwa yang bisa kami makan hanya toast (roti bakar) dan kue coklat. Tau gitu tadi mending makan di Yoshinoya atau restoran lainnya deh.

Dari Pablo kami menuju ke Don Quijote, suatu chain toko yang sudah terkenal dengan penjualan aneka souvenir, penganan dan oleh-olehnya yang murah dan lengkap. Don Quijote Namba ini mudah dikenali karena ada roller coaster “nyangsang” di atap gedungnya. Saya pun langsung kalap memilih pocky dan kitkat yang tersedia dalam bermacam rasa, jangan lupakan juga kue-kue manis seperti mochi, eclair, soes dan lainnya yang dibungkus dalam kotak cantik yang cocok sekali sebagai oleh-oleh. Di toko ini juga dijual aneka souvenir dan barang-barang kecil yang lucu-lucu. Total saya belanja sampai 12.650 jpy padahal anggaran sebenarnya cuma 10.000 jpy, haha.

17342710_10155181218634623_4926704974370097374_n
Don Quijote Namba

Puas belanja di don quijote, kami bergerak ke jembatan ebisubashi sekedar buat berfoto dengan Running Glico Man dan Kani Doraku, yang merupakan landmark terkenal dari kawasan Namba. Kami sempat berhenti sebentar di kedai takoyaki karena penasaran kalau di tempat aslinya seperti apa. Seporsi takoyaki isi 8 pcs dibanderol 650 jpy, ukuran bulatannya besar-besar dan gurita di dalamnya juga besar, cuma adonan takoyakinya lebih lembek dibanding yang dijual di jakarta.

17342700_10155181219069623_9103042676190848542_n
Takoyaki

Dari Namba kami menaiki subway Midosuji line dan turun di Umeda station yang bersambung dengan Osaka Station. Setelah itu kami menaiki JR Loop line untuk kembali ke Fukushima. Setiba di Fukushima, kami mampir dulu di 711 untuk membeli makan malam dan baru masuk ke hotel. Saat saya mengecek rice cookernya ternyata tetap nggak bisa dipake juga, ya sudahlah. Akhirnya beberapa makanan beku dan beras yang dibawa saya letakkan di dalam box “free food” di dapur hostel, box free food ini menunjukkan bahwa siapapun boleh mengambil makanan ini.

DAY 4

Yay…hari ini jadwalnya seharian di Universal Studio Japan (USJ). Well, kalau cuma pergi berdua sama suami tentu kami akan skip theme park, tapi berhubung membawa baby g, kami merasa perlu ada selingan di mana dia bisa bermain biar nggak mabok kuil dan museum. Awalnya saya sempet galau saat akan memasukkan USJ dalam daftar itinerary, pertama harganya mahal banget, meski booking lewat klook.com (yang harga diskon) tetap aja harganya mencapai 900 ribu/orang, sementara anak 500 ribu/orang. Kedua saya bukan penggemar theme park, apalagi saya sudah pernah mengunjungi USS (Universal Studio Singapore) yang mana setelah saya googling, atraksinya 50% serupa, dan lebih cocok untuk orang dewasa. Tapi…tapi…ada satu keunggulan yang dipunya USJ yaitu area The Wizarding World of harry Potter yang merupakan tempat wajib bagi fans Harry potter seperti kami. Semua orang yang saya tanyai bilang bahwa mereka pun ke USJ cuma demi harry Potter semata. Sempat galau terakhir, apakah akan tetap ke USJ atau ke Everland Korea saja (yang mana harga tiketnya separo USJ), setelah konsultasi lagi dengan teman yang pernah berkunjung kedua theme park tersebut, akhirnya saya pun mengklik “book” USJ di klook.com. Print tanda booking harus dibawa untuk di-scan di gate nantinya, pastikan kertas tersebut jangan sampai lecek, kotor atau kena air agar mudah di-scan.

Kami sudah turun ke dapur untuk sarapan pukul 07.00 kurang, eh di dapur malah saya terlibat diskusi dengan seorang kakek malaysia hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 lewat. Saya pun bergegas mohon diri dan berlari singkat ke 711 untuk membeli roti dan onigiri yang rencananya akan kami selundupkan dalam saku jaket dikarenakan dilarang membawa makanan ke dalam USJ.

Dari stasiun Fukushima kami menaiki JR Loop Line (outer line), turun di Nishikujo, berganti naik JR Yumesaki Line dan turun di Universal. Di stasiun Universal, orang-orang sudah berjubel, padahal ini kan bukan hari libur (selasa). Antrian di kios ticket dan pintu masuk sudah berjubel sekali, di luar perkiraan saya, jauh melebihi antrian di USS, benar-benar penuh padahal baru jam 09.00 di mana USJ baru saja buka. Untunglah kami sudah booking tiket sebelumnya sehingga kami langsung menuju ke gate yang mana juga sudah penuh orang.

IMG20170314082919
Universal City Walk
58
Antrian di pintu masuk

Begitu masuk, kami langsung belari-lari menuju area The Wizarding World of harry Potter . Kenapa? sebab kalau diperkirakan The Wizarding World of harry Potter sudah penuh dan padat, maka akan diberlakukan sistem tiket antrean di mana kita harus mengambil tiket dulu yang menyatakan jam berapa kita baru bisa masuk. Nah kalau masih pagi begini belum terlalu ramai jadi belum ada sistem tiket antrean.

Memasuki area Harry Potter kita akan disambut jalan setapak berbatu yang dikelilingi oleh hutan pinus, persis seperti suasana Hutan di sekeliling Hogwarts. Tidak jauh kita akan bertemu dengan “Mobil Terbang” yang diceritakan dalam jilid kedua, di mana Ron menyetir mobil ini ke Hogwarts dikarenakan Ron & harry tidak bisa menembus palang peron 9 3/4, mobil ini lalu menabrak dedalu perkasa.

Setelah itu kita akan bertemu gerbang bertuliskan “Hogsmeade” suatu desa wisata sihir dalam kisah Harry Potter. Penggemar Harry Potter pasti akan kegirangan demi menemukan berbagai deretan toko seperti Ollivander, Honey & Dukes, Zonko, Owl Post Office dan lainnya yang menjual aneka barang-barang dalam kisah Harry Potter. Deratan toko-toko ini sengaja dibuat menyerupai suasana musim dingin di mana atap-atapnya didekorasi dengan salju buatan.

Di sebelah gerbang hogsmeade, berdiri kokoh Hogwarts Express, sang kereta sihir. Kemudian kami langsung mengantri di kios Butterbeer, karena penasaran minuman kesukaan para tokoh harry potter ini rasanya seperti apa. Kami memesan hot butterbeer dalam kemasan mug sekaligus souvenir seharga 1250 jpy. Rasanya?yaiks…ternyata terlalu manis, butterbeer ini non alkohol ya, bau butter sangat tajam menguar dan kelewat manis.

72
The Butterbeer

Di samping kios Butterbeer, berdiri bangunan “Hog’s Head” salah satu tempat minum yang muncul dalam kisah Harry Potter. Hog’s Head ini merupakan restoran yang menyajikan aneka makanan wetern. Kami pun mengikuti arus antrian untuk suatu atraksi di Ollivander, seorang pembuat tongkat. Di dalam toko, sang Ollivander akan mengadakan show sekaligus demo sihir, di mana dia akan menunjuk salah satu pengunjung untuk memilih tongkatnya, seolah-olah Ollivander bisa sihir padahal semuanya sudah digerakkan dengan mesin otomatis. Pria yang memerankan Ollivander adalah bule namun fasih berbahasa Jepang. Setelah show usai, kami berkeliling toko Ollivander di mana dijual aneka replika tongkat sihir para tokoh-tokoh Harry Potter.

71
Hog’s head

Keluar dari Ollivander, kami segera menuju suatu tempat di mana kami bisa berfoto dengan latar Hogwarts Castle dan danau di sekelilingya. Ada dua wahana di area ini, Flying Hipoggrif & suatu indoor rollercoaster yang letaknya di dalam Hogwarts Castle. Kedua wahana ini tentu tidak cocok untuk baby g, sebenarnya bisa juga masuk ke Hogwarts castle hanya untuk melihat-lihat (tanpa naik roller coaster) tapi kami urung karena melihat panjangnya antrian.

77
Hogwarts castle

Setelah itu kami keluar masuk toko-toko yang ada untuk melihat-lihat, rasanya seru saja melihat barang yang dijual. Ada coklat kodok, bertie botts kacang segala rasa, jus labu, jubah-jubah, aneka peralatan sihir dan lainnya.

Puas mengeksplorasi area Harry Potter kami pun melanjutkan ke area lainnya, saat kami keluar tenyata antrian masuk sudah dibuat berjalur dan berliku-liku seperti antrian di BCA, tidak bebas seperti saat kami masuk tadi.

Dari hasil googling dan mempelajari situs USJ, saya mendapat kesimpulan kalau wahana di USJ ini kebanyakan untuk orang dewasa. Hanya satu area di mana kita bisa dengan leluasa membawa anak kecil yaitu di Universal Wonderland yang isinya wahana-wahana untuk anak.

Universal Wonderland didekorasi dengan tokoh-tokoh Snoopy, Hello Kitty dan Sesame Street, suasana ceria khas anak-anak sudah menyambut kami sejak dari pintu masuk. Di sini baby g senang sekali bisa bermain aneka mainan seperti komidi putar, cangkir putar, perosotan, balon terbang, hingga berfoto dengan para karakter yang wara-wiri di seputar area. Ada juga bangunan bertajuk “Elmo Imagination’s Playland” yang merupakan wahana bermain indoor di mana anak-anak bisa main perahu, mandi bola , menggambar bahkan menari bersama para karakter.

Selepas itu, kami bermaksud mencari makan siang, tapi rata-rata restoran penuhnya bukan main. Kami pun mengelilingi taman menelusuri area Amityville, Jurrasic Park, San Fransisco, New York dan Hollywood yang rata-rata berisi wahana untuk orang dewasa (didominasi oleh roller coaster). Saya sempat menawarkan ke suami apakah dia mau main sementara saya dan baby g akan menunggu, tapi suami menolak karena melihat antriannya yang sangat panjang, selain itu menurut dia sih permainannya mirip-mirip di USS juga. Banyak juga food truck yang menjajakan makanan, tapi… kebanyakan mengandung babi sehingga kami pun urung.

Akhirnya…setelah merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dan juga merasa bosan (suasananya mirip dengan USS), kami memutuskan untuk menyudahi saja kunjungan kami ke USJ ini, hahaha, jam 1 siang lho udah keluar. Kami pun memilih mengantri di McD untuk makan siang dan makan di depan bola Universal yang terletak di pelataran USJ.

Kami pun kembali ke hotel dan memutuskan untuk istirahat saja, sorenya kami makan malam di Yoshinoya yang terletak persis di samping stasiun Fukushima. Yoshinoya di sini rasanya enak, mirip di Indonesia, tidak seperti Yoshinoya yang saya makan di beijing tahu lalu, seporsi large bowl dibanderol 570 jpy, ocha panas dingin disediakan gratis dan bebas refill.

Posted in Banten, Indonesia, Tangerang

World of Wonders

WOW?World of Wonders?apaan tuh?baru denger kayaknya.

Begitu respon saya saat mendengar destinasi outing sekolah anak tahun ini. Saya pun langsung browsing via internet, ternyata WOW (World of Wonders) itu adalah semacam mini theme park sekaligus waterpark yang berlokasi di Citra Raya, Bitung – Tangerang. Memang sih rasanya taman bermain ini nggak terlalu populer-populer amat, mungkin kurang publikasi ya . Awalnya saya agak malas karena melihat lokasinya yang jauh banget, tapi demi kebersamaan saya memilih ikut, toh lagian juga belum pernah. Yang lucu sih, dari hasil browsing, karena menyandang nama ‘World of Wonders” ada beberapa bangunan yang dibuat menyerupai bangunan-bangunan terkenal di dunia, misalkan saja menara pisa, tembok china, borobudur dll, yang kayaknya cukup menarik buat spot foto-fotoan.

Kami dijadwalkan berangkat pukul 07.00 pagi dari bilangan jakarta timur. Saya yang kebagian tugas jadi panitia konsumsi udah stand by pagi-pagi untuk ngambil pesenan snack di toko kue. Jam 07.00 semua anggota rombongan sudah rapi berkumpul dan siap naik bus, tapi sayangnya …… bus nya bermasalah, AC-nya nggak mau nyala. Anggota rombongan yang kebanyakan adalah emak-emak super langsung protes, kenapa supir dan kenek tidak mengecek dari pagi?? coba diutak-atik pun tetap tidak bisa nyala. Akhirnya kami terpaksa menunggu bus pengganti datang, kan nggak mungkin dengan jarak yang lumayan jauh kami semua bisa bertahan dalam bus tanpa AC, kasihan anak-anak. Bisa ditebak akhirnya acara molor 1 jam lebih, baru jam 08.30-an kami berangkat.

Untunglah kondisi tol JORR belum macet, sekitar 2 jam kemudian kami keluar dari exit tol Bitung, melewati kawasan industri dengan deretan pabriknya dan tak lama kemudian kami memasuki gerbang perumahan Citra Raya yang merupakan lokasi dari WOW.

Begitu turun kami disambut oleh gerbang lengkung tinggi berwarna hijau dengan tulisan “World of Wonders” disertai dua ekor patung dinosaurus seukuran aslinya. Anak-anak pun langsung ribut minta difoto sama patung dino. Sebelum masuk, ibu guru (yang jadi koordinator acara) membagikan tanda masuk/tiket berupa gelang yang harus dipakai di pergelangan tangan. Gelang ini jangan sampai hilang atau rusak ya. Di pintu masuk pemeriksaan barang bawaan cukup ketat, memang sudah ada peraturan dilarang membawa makanan/minuman dari luar. Staf dan satpam menggeledah isi tas satu per satu, tapi kalau cuma snack semacam kacang atau chiki dan air mineral sih masih lolos, kayaknya yang nggak boleh kalau bawa nasi dan lauk pauknya apalagi pake rantang. Tiket masuk terusan (world of wonders dan water park) harganya 85 K/orang, anak mulai umur 1 tahun atau tinggi badan lebih dari 85 cm sudah membayar penuh.

Begitu melewati gerbang, kami melewati areal permainan yang jadi favorit anak-anak seperti carrousel/komidi putar dan perahu bebek. Guru-guru pun cepat menggiring siswanya menuju lokasi pertama sebelum mereka merengek dan bubar jalan minta naik mainan, haha. Karena acaranya outing, tentunya wisata nya juga diselipkan unsur edukasi, bukan hanya rekreasi.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah “Taman Satwa” di mana kita bisa memberi makan hewan-hewan ternak yang ada seperti kambing, sapi, kuda, kelinci dan ikan. Pakan hewan ternak bisa dibeli di kantin yang terletak di depan taman satwa. Arealnya tidak terlalu luas dan sayangnya menurut saya agak kurang bersih dan baunya menguar tajam ke mana-mana. Berbeda dengan kuntum nurseries bogor atau d’kandang depok yang memang spesialisasinya di wisata edukasi farming jadi perawatannya tentu lebih intensif. Taman satwa ini berada di tengah-tengah areal bangunan jadi kondisi udara dan sanitasi pastinya kurang bagus. Hewan yang ada pun tidak terlalu banyak. Beberapa anak antusias (juga sedikit takut-takut) ikutan memberi makan kepada hewan, tetapi beberapa anak (termasuk baby G, anak saya yang bersihan banget) memilih ngejogrok dekat kolam ikan karena ga suka baunya.

Dari taman satwa, anak-anak digiring ke Taman Lalu Lintas. Kalau ini baru favoritnya anak-anak di mana mereka bisa mengendarai mobil sendiri di areal terbuka yang cukup luas tanpa bantuan orang dewasa. Seru-seru lucu, ada yang langsung lancar nyetirnya, ada yang nabrak, ada yang malah berhenti nggak jalan karena bingung. Sayangnya hanya boleh naik maksimal 2 kali. Kali kedua baby g nyetir sendiri dengan baby b di sampingnya (baby b nyusul ke lokasi dengan suami saya).

Setelah puas nyetir, karena sudah waktunya makan siang, kami semua berkumpul di suatu areal terbuka yang cukup luas untuk makan bersama. Harusnya sih kami masih ada kegiatan outbond, tapi karena acara molor akhirnya terpaksa dibatalkan. Makan siang sudah dipesan langsung ke World of Wonders, cukup terjangkau kok, paket menu nasi ayam tepung ala kfc lengkap dengan aqua gelas cuma 20 K. Di samping area kumpul kami ada outdoor playground yang besar, lumayan lah untuk nyambi nyuapin anak. Ada juga wahana Petualangan air yang bikin anak-anak ribut minta berenang dan main basah-basahan, walau akhirnya dilarang juga oleh ibu guru karena sorenya kami akan bersama-sama ke waterpark.

Sambil menunggu kami sempat main cangkir puntir (wahana cangkir putar) dan jelajah rimba (semacam kereta keliling). Semua wahana yang ada di sini hanya boleh dinaiki maksimal 2x, sang petugas akan menandai gelang yang kita pakai saat akan naik.

17799268_10155263451079623_7084320970435549264_n
Cangkir puntir
17862686_10155263451094623_8286753158654568099_n
Jelajah Rimba

Setelah semua beres makan, ibu guru memimpin kami menuju gedung Museum Satwa yang bersambung dengan gedung Tekno Mania. Museum satwa sendiri merupakan mini museum satu ruangan dengan koleksinya mayoritas adalah binatang-binatang kecil yang sudah diawetkan, mulai dari serangga, kupu-kupu, burung hingga tupai. Ada juga model badak dan kambing seukuran aslinya.

Ruangan selanjutnya adalah koleksi model peraga manusia, dimulai dari “gerbang” mulut dan gigi, struktur tulang, model jantung, mata, ginjal, paru-paru dll, macam laboratorium biologi di SMA saya dulu. Berlanjut ke ruangan sebelahnya yang berisi display ikan laut dengan ukuran besar. Gedung tekno mania sendiri bersisi berbagai macam alat peraga fisika yang disertai keterangan dan bisa dicoba simulasinya.

Sebenarnya cukup menarik dan edukatif, cuma lebih pas untuk anak usia SD ke atas, kalo anak TK ya paling cuma lari-larian sana sini sambil utal-util iseng narik alat peraga. Selain itu gedungnya tidak dilengkapi dengan pendingin ruangan, kondisi yang panas dan pengap tentunya membuat kami tidak betah berlama-lama di dalam.

Lepas dari sini, acara bebas, kami boleh berpencar yang penting ketemu jam 3 sore di depan gerbang tembok china. Suami dan saya yang sudah kelaparan (karena jatah konsumsi tadi hanya untuk anak) langsung menuju food court yang terletak di depan “Golden Gate KW”. Kami sempat melewati Galeri ilusi (bisa foto-foto dengan gambar efek 3D) dan Rumah Angker (rumah hantu) yang langsung kami skip karena nggak tertarik.

Harga makanan di food court-nya lumayan murah untuk ukuran tempat wisata, rata-rata 20-30 K, walau rasanya biasa aja dan saat dihidangkan sudah dingin (ayam bakar yang saya pesen sudah dingin).

Dari sana kami langsung mencoba naik wahana “Sepeda Layang” , semacam kereta dengan rel yang posisinya di ketinggian sekitar 3 m. Walau dikatakan sepeda tapi lebih mirip kereta, jalannya juga dioperasikan otomatis oleh mesin. Saya pernah naik wahana semacam ini waktu di BNS malang dulu. Saya naik dengan baby g, sementara baby b dengan si mbak. Glek… kok ngeri-ngeri sedap ya, saya merasa posisi kereta miring dan getar-getar saat membelok sampe lutut lemes, berasa safety-nya kurang. Saya kira cuma saya yang jiper ternyata suami dan bahkan sepupu saya (yang badannya gede) juga bilang begitu, haha.

17799071_10155263451664623_6287821027722280748_n
Sepeda layang di depan replika tembok china 

Ada beberapa wahana yang sayangnya nggak beroperasi seperti kereta minoan (kereta muter-muter) dan perahu liberty (perahu di kolam kecil) yang pasti jadi kesukaan anak-anak. Anak-anak sempat naik ayunan kaisar (ayunan berputar), paralayang (semacam gajah blenduk kalo di dufan cuma harus dikayuh biar naik), kuda ria (komidi putar) dan kincir jurrasic (bianglala).  Sempet juga foto-foto di beberapa spot KW seperti menara pisa, collosseum, ziggurat, tembok china dan borobudur. Si mbak bahkan sempet naik kebat-kebit, semacam roller coaster dengan trek yang biasa aja.

Overall kalo menurut saya ini low cost theme park, wajar sih secara htm-nya hanya sekitar 85 K. Bangunannya perlu difinishing ulang karena di beberapa tempat banyak yang sudah bladus, wahananya kebanyakan untuk anak-anak dan tidak terlalu istimewa, sepertinya peralatannya juga sudah agak lama. Maintenance-nya harus lebih diperhatikan.

Spot-spot foto KW yang ada juga sederhana, bangunan KW-nya tidak detil dan bahkan terkesan “ngasal” yang penting ala-ala. Tapi secara keseluruhan cukup lah, sepadan dengan harga yang dibayar.

17523624_10155263458004623_1702208535857780876_n
Ziggurat KW
17799104_10155263458314623_6373085491790531848_n
Borobudur KW
17799296_10155263458574623_3588085652928232883_n
Menara Pisa & Collosseum KW

Jam 3 kami berkumpul di depan gerbang tembok china dan langsung menuju ke Waterpark yang letaknya persis di depan pintu masuk kami tadi. Waterparknya sangat luas dan yang menyenangkan ada kolam renang untuk orang dewasa juga, bukan cuma buat main air. Sayangnya airnya butek dan agak kotor (sampe sepupu saya bilang ntar kalo di-upload di sosmed fotonya dibikin hitam putih aja) tapi bagi anak-anak no problem lah. Yang bikin heran, petugas di sana hobi banget nyiramin air ke lantai, entah apa maksudnya, tapi yang pasti bikin licin karena lantainya tidak diberi soft mate. Puas berenang kami pun pulang.

Posted in Bandung, Indonesia, West Java

Long weekend in Bandung

Sosial media memang salah satu media publikasi yang paling ampuh dalam mempromosikan suatu tempat wisata. Sebagai korban kekinian, saya pun memasukkan maribaya lodge dalam salah satu daftar wajib kunjung akibat seringnya melihat foto-foto kece wara wiri di timeline facebook dan instagram saya. Saat melihat deretan tanggal merah , saya pun memutuskan berlibur akhir pekan bersama keluarga di bandung dengan agenda mengunjungi maribaya lodge, taman bunga begonia dan dago dream park yang kesemuanya letaknya berdekatan.

Karena long weekend, otomatis harga hotel pun mendadak mahal, alih-alih hari sabtu (menginap malam minggu) saya pun memilih berangkat minggu (menginap malam senin) karena ketersediaan hotel lebih banyak dan harganya juga lebih murah.

THE MARIBAYA LODGE

Minggu pagi usai menunaikan shalat subuh, jam 5 pagi kami semua sudah duduk manis di mobil dan siap berangkat menuju Bandung. Perjalanan relatif lancar walau volume kendaraan cukup ramai bahkan mulai dari bekasi. Kami melewati maribaya resort dan tidak jauh dari itu harus gantian karena ada jalan yang longsor. Jalan menuju maribaya lodge cukup terjal dengan badan jalan yang sempit dan kondisi aspal yang rusak dan berlubang, sekitar 1 km sebelum maribaya lodge kemacetan mulai terjadi. Awalnya saya nggak menyangka kalau kemacetan ini disebabkan maribaya lodge, toh kami sampai bahkan sebelum waktu buka nya jam 09.00, tapi ternyata … kantong-kantong parkir yang letaknya masih sekitar 700-500 m dari lokasi sudah penuh, terlihat kerumunan orang berjalan kaki yang memadati bahu jalan. Dari kantong parkir ini disediakan free shuttle service berupa angkot lokal untuk mengangkut pengunjung dari kantong-kantong parkir ke maribaya lodge.

Kami pun tetap bertahan merangkak naik hingga dihentikan oleh petugas persis di depan gang masuk menuju maribaya lodge, beruntung tiba-tiba ada satu mobil yang keluar persis di kantong parkir di depan gang  tersebut.

Dari kantong parkir tersebut kami masih harus berjalan lagi sekitar 200 m-an sampai pintu masuk, awalnya oleh beberapa tukang ojek yang mangkal dibilang kalau lokasinya jauh, jadi anak-anak kami carterkan ojek sementara saya dan suami tetep jalan kaki. Di tengah jalan kami numpang mobil kijang bak milik warga lokal yang tersendat-sendat karena sudah macet dengan free shuttle (angkot). Bahkan parkir yang numpang di halaman warga saja sudah penuh semua apalagi area parkir resmi yang berada pas di depan pintu masuknya.

Gila-gilaan banget kan ? padahal seharusnya ini kan baru buka. Di kios karcis dan gate , antrian sudah sangat mengular. Tiketnya seharga 25 K dan dapat ditukarkan dengan free drink. Tiketnya berbentuk karcis tipis yang akan di-scan oleh petugas di gate-nya.

Sampai sini saya sudah mulai ilfeel apalagi menurut saya ternyata pemandangan yang ditawarkan maribaya lodge tergolong biasa. Kalau pernah menyambangi tebing keraton pasti setuju kalau pemandangan di sini masih kalah indah. Pemandangan yang ditawarkan sama yaitu berupa hutan-hutan pinus yang hijau menghampar, cuma bedanya kalau tebing keraton letaknya di puncak, maribaya lodge ini letaknya di lembah. Yang bikin hits dan membuat orang berlomba-lomba ke sini adalah karena dibangunnya tiga atraksi yang sangat instagrammable , yaitu platform (seperti di kalibiru – yogya), sepeda di atas tali dan ayunan. Selain itu ada juga beberapa cafe yang dari instagram kelihatan ciamik banget untuk dipake nongkrong-nongkrong.

18057815_10155318438384623_7755866359325632200_n
Atraksi platform
18118504_10155318481494623_1146912129195622737_n
Atraksi sepeda di atas tali

Semua yang kesini saat liburan kemarin pasti setuju kalau saya tidak melebih-lebihkan bahwa tempat ini udah kayak pasar tanah abang menjelang lebaran. Sampe jalan saja nggak bisa dan mandeg seperti macet jalan raya. Antrian di ketiga atraksi pun sudah nggak masuk akal, jam 09.00 sudah mencapai nomor ke- 100 an, lah saya nggak seniat itu nungguin giliran foto.

Setelah mengambil beberapa foto dengan latar belakang hutan pinus, kami pun memutar arah untuk keluar. Sempet nego dengan petugas keamanan yang awalnya tidak mengizinkan kami lewat karena pintu masuk tidak boleh digunakan untuk keluar (pintu keluar terletak di sisi lainnya yang mengharuskan kami turun dulu ke lembah baru mendaki lagi ), tapi setelah “dikeroyok” oleh 3 keluarga lain selain kami yang juga membawa anak kecil, akhirnya sang petugas pun memberi izin walau mengingatkan bahwa kami nggak dapet “free drink” (free drink ditukarkan di kios bawah). Soalnya kepadatan sudah nggak masuk akal, kasihan anak-anak kecil.

Keluar dari sana kami nongkrong sebentar di salah satu warung bakso untuk mengisi perut. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan aki-aki pedagang , ternyata tempat ini bahkan udah rame dengan antrian sejak habis shubuh . What??? walau korban kekinian tapi saya terus terang nggak seniat itu rela ngantri dari shubuh cuma demi motivasi mulia “untuk update di instagram”.

Tempat baru seperti ini memang ada plus minusnya bagi dampak sosial. Plusnya ya tentu saja warga sekitar jadi kecipratan rezeki, mulai dari yang membuka warung makan, buka toilet umum, jualan souvenir sampai menyewakan lahan parkir. Tapi ya minusnya imbas kemacetan yang tiada tara  apalagi kondisi infrastruktur sangat tidak memadai. Terbukti saat kami pulang, kemacetan sudah mengular hingga ekornya di maribaya resort yang jaraknya sekitar 4 km jauhnya, dan cukup mengganggu kami yang berada di jalur sebaliknya karena motor yang menyelip-nyelip.

TAMAN BUNGA BEGONIA

Imbas dari kemacetan di jalur sebaliknya, jarak ke taman begonia yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1/2 jam menjadi molor 1 jam. Karena long weekend wajarlah kalau taman begonia ini pun ramai, walau nggak sampai jadi lautan manusia seperti di the lodge. Tiket masuknya seharga 10 IDR dan berbentuk gelang yang harus dikenakan di pergelangan tangan.

Kalau tadi mata kami dimanjakan dengan hijaunya hamparan pinus, di sini warna merah dari begonia yang mendominasi. Walau masih ada vegetasi bunga lainnya, tapi sesuai namanya begonia lah yang paling banyak. Selain begonia, juga ada mawar, selvia, daffodil dan aneka warna bunga lainnya yang bikin saya reflek pingin nyanyi “lihat kebunku penuh dengan bunga”.

17991164_10155318447734623_3778704622312612687_n18118449_10155318439519623_6957914145217192713_n

Taman begonia ini sebenarnya kecil, tidak terlalu luas. Untuk makin mempercantik taman, dipasanglah beberapa patung, kursi-kursi lucu berbentuk kereta cinderella, sepeda dan mobil, hingga gerbang sakura (palsu). Di area belakang juga terdapat taman kelici dan kebun sayur yang bisa dipetik sendiri dan dibeli. Sayurannya terutama selada air segar-segar dan kayaknya renyah.

18118880_10155318485354623_5842237395576851874_n

18118544_10155318450059623_607394924239604561_n
Taman kelinci

Karena sudah jam makan siang, kami memutuskan makan siang di restoran yang ada di taman begonia ini. Harganya wajar, seporsi rata-rata 30 K, cuma kalau menurut saya kurang enak rasanya, selain itu pelayannya juga kurang tanggap dan sering salah mengantar pesanan, bahkan pesanan ayam bakar saya butuh waktu 30 menit. Restoran mendadak ramai karena hujan turun, memang sudah sedari kami datang tadi sudah mendung, untunglah kami sudah duduk manis. Di taman begonia ini juga disediakan musholla kecil.

Begitu hujan mulai reda kami pun segera berlari menuju mobil di area parkiran. Saat melewati pintu keluar kami melewati kios penjualan bunga yang bikin saya kepingin beli beberapa pot begonia dan langsung ditolak suami karena katanya kalau di jakarta bakal langsung mati.

DAGO DREAM PARK

Dari taman bunga begonia, kami langsung menuju ke Dago Dream Park yang jaraknya hanya sekitar 15 menit saja. Dago dream park ini sengaja kami masukkan dalam daftar kunjung karena ada atraksi permainan untuk anak-anak. Tiket masuknya seharga 20 K dan dapat ditukarkan dengan stiker mobil, magnet kulkas, bag tag atau gantungan kunci. Memasuki areal parkiran, suasana ala bali sudah menyambut kami, terlihat dari kain poleng (kain kotak-kotak hitam putih) yang dililitkan di pohon dan restoran yang menyandang nama barong lengkap dengan ornamen patungnya.

Arealnya sangat luas dan berbukit-bukit sementara permainannya tersebar di berbagai tempat. Areal parkirnya sendiri menurut saya sangat indah dan asri dengan deretan pohon pinus yang menaungi tinggi di atas kami. Sempat bingung juga apa yang harus dilakukan karena di areal parkir tidak ada petunjuk ataupun peta yang memberikan informasi. Kami akhirnya naik wara-wiri (semacam bus untuk mengangkut penumpang berkeliling areal dago dream park) dengan tiket seharga 10 IDR. Wara-wiri ini bentuknya lucu banget seperti bus-bus di lagu anak-anak “the wheel on the bus” dan dicat dengan warna-warna cerah yang menarik.

18119081_10155318458109623_6998538446824826013_n
Area parkir dago dream park
17990738_10155318458289623_1154949457680324987_n
Wara-wiri bus

Dari areal parkir yang letaknya di atas, bus wara-wiri menuruni lereng ke arah lembah,jalanannya cukup curam karena itulah sengaja tidak diaspal melainkan hanya diberi batu-batu kecil agar tidak licin. Saat menuruni lereng kami menjumpai “hook a fish” suatu kolam pemancingan dan “lost in paradise” suatu lereng dengan tangga naik dan turun yang saya kurang paham permainannya seperti apa. Ada juga perahu mini dan kuda tunggang untuk anak. Sementara untuk menguji adrenalin ada flying fox dan “pirate ship” semacam kora-kora di Dufan.

Dengan udaranya yang dingin sejuk dan suasana ala bali, saya jadi merasa seperti di bedugul. Karena mendung sudah semakin menggelayut, maka kami memutuskan untuk segera mencoba atraksi yang dipilih anak-anak yaitu “row a boat” perahu dayung yang harus dikayuh sendiri, oleh karena itu anak di bawah usia 12 tahun harus didampingi orang dewasa. Tiketnya seharga 30 IDR/orang dan sebelum naik perahu kita diharuskan mengenakan life jacket. Perahu boleh digunakan sepuasnya maksimal 30 menit. Suasana kolam cukup tenang dan kami mendayung hingga dua putaran. Tiket atraksi bisa ditukarkan dengan hadiah, 2 tiket atraksi ini bisa ditukarkan dengan AICE segar rasa nanas yang langsung disambut anak-anak dengan riang gembira. Saya pun mencoba berkeliling sebentar untuk melihat-lihat restoran Dayang Sumbi dengan bangunannya yang berupa rumah joglo adat sunda. Saya pun menemukan patung penari bali dan ganesha di pelataran.

18118604_10155318485899623_4942881880922653995_n
Atraksi “Row a Boat”

Yang menarik juga di sini adalah adanya dua patung raksasa di areal persawahan dengan wujud “Sangkuriang” dan “Nyi Dayang Sumbi” yang merupakan tokoh legenda terkenal Tangkuban Parahu dari tanah priangan. Sempet juga pingin mencoba naik ATV tapi terpaksa dibatalkan karena sudah semakin mendung.

18057834_10155318493654623_8060494341384487172_n
Patung Sangkuriang & Dayang Sumbi

Dari halte di depan patung-patung tersebut kami kembali menaiki wara-wiri hingga ke areal parkir. Saat kembali inilah saya melihat “Folk Village” yang berwujud seperti rumah-rumah di kampung naga tasikmalaya, sayang saya kurang cepat mengambil fotonya. Begitu tiba di areal parkir saya baru sadar bahwa beberapa atraksi seperti Pine Forest (indoor playground), uncle’s barn (peternakan), Choo-choo Train dan Cycling berasa persis di seberang jalan areal parkir.

Overall, dari tiga tempat yang kami kunjungi hari ini, Dago dream park adalah yang terbagus untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami. Arealnya luas, sejuk dan atraksinya pun menyenangkan.

MARBELLA SUITE HOTEL BANDUNG

Karena sudah seharian bermain, sekitar pukul 3 sore lewat kami sudah meninggalkan dago dream park untuk beristirahat di hotel. Tanpa dinyana, jalanan ke arah ir.juanda (dago bawah) yang saat kami datang tadi lengang ternyata macet parah. Sesuai saran juru parkir, kami mengambil jalan alternatif yang sedikit memutar, naik lagi hingga hampir ke lembang dan melewati kastuba resort (yang pernah kami sambangi beberapa tahun silam).

Marbella suites terletak di dalam kompleks resort dago pakar, suatu perumahan elit untuk warga bandung. Dari kejauhan sudah kelihatan karena bangunannya tinggi dan ada petunjuk arah yang jelas. Area hotel ini juga cukup luas dan dilengkapi dengan fasilitas swimming pool. children playground dan fitness center.

Setelah proses check in singkat yang diselingi dengan icip-icip welcome drink berupa segelas jus mangga, kami pun diantar oleh porter menuju kamar kami di lantai 11. Kamar yang booking merupakan type executive, seperti apartemen dengan dua kamar. Kamar yang lebih besar dilengkapi dengan TV dan kamar mandi dalam (dengan fasilitas bath tub), sementara kamar yang lebih kecil kamar mandinya terletak di luar. Kamar executive ini memiliki meja makan untuk 4 orang, mini kitchen set, ruang duduk dan balkon (yang sayangnya dikunci). Dari jendela balkon kita bisa melihat pemandangan dago bawah yang ternyata sudah padat penduduk.

18058167_10155318460744623_3396141994418708737_n18118683_10155318460594623_8421665016523653068_n

WARUNG INUL

Selepas mandi dan istirahat, gantian perut yang berteriak, maka segeralah kami menuju warung inul dengan berjalan kaki karena letak warung ini persis banget di sebelah marbella. Jangan terkecoh dengan penampilan warungnya yang sederhana seperti warung makan pinggir jalan biasa. Berdasarkan hasil googling, warung ini banyak direkomendasikan oleh warga bandung dikarenakan rasanya yang sangat enak.

Ternyata, benarlah hasil rekomendasi tersebut, walau saat kami datang di sore menjelang malam begini , menu yang ditawarkan sudah tidak sekomplit saat pagi, tapi beneran enak banget. Gepuk, pepes ikan mas, nila goreng, pepes jamur hingga sambal yang disediakan benar-benar menggoyang lidah. Kalau kata suami dan mertua saya yang orang sunda mah masakannya bener-bener bercita rasa sunda asli. Sayang saat kami datang nasi cikur yang merupakan “signature dish” nya sudah habis.

CONGO CAFE

Setelah anak-anak terlelap dan saya sudah cukup istirahat, saya pun mengajak suami untuk nongkrong-nongkrong sambil ngopi cantik di Congo Cafe yang terletak tidak jauh dari hotel.

Kawasan Dago memang gudangnya cafe-nya yang keren-keren, Congo ini salah satunya., makanya saya suka banget banget nginep daerah Dago, jadi kalau anak-anak udah tidur, emak bapaknya ini bisa jalan-jalan berdua.

Congo menempati bangunan megah berlantai tiga di lereng bukit, terpampang besar tulisan “Congo” di pintu masuknya. Pencahayaan di Congo dibuat temaram bahkan cenderung agak gelap.Selain cafe, Congo juga merupakan gallery kerajinan kayu, tidak mengherankan kalau interiornya cukup unik dengan aneka ukiran kayu dan furniture-nya yang membuat kami takjub karena seluruhnya terbuat dari kayu jati.

Malam itu congo full customer, sehingga satu-satunya tempat duduk yang tersisa letaknya jauh dari Gallery. Padahal area menuju Gallerinya itu yang lucu karena ada hiasan ornamen-ornamen lampu yang semarak.

18058187_10155318494479623_645520855986663030_n

18157279_10155318494709623_7507868699408459946_n

Congo menawarkan menu-menu western dan juga indonesia dengan harga yang tidak terlalu mahal, side dish mulai 40 K, sementara main dish mulai 59K. Menu yang paling terkenal dari Congo dan banyak yang direkomendasikan adalah Ebony steak, cuma karena tadi baru saja makan maka kali ini kami hanya memesan sepiring carbonara , tahu pletok (karena penasaran apa ini), chococino dan mint lemonade. Ternyata tahu pletok itu tahu yang digoreng dengan adonan aci tebal dan disajikan dengan cocolan saus pedas manis. Carbonara-nya sangat creamy dan irisan dagingnya banyak, chococino nya sedikit pahit sementara mint lemonade-nya sangat segar.

17992135_10155318492959623_4842079091378654604_n

CHINGU & CHAGIYA CAFE

Setelah terlelap semalaman, begitu pagi yang ditagih anak-anak adalah berenang. Puas sarapan enak dan lengkap di restoran hotel, kami pun menunggui anak-anak berenang. Ternyata kolam renangnya besar, di kanan dan kiri bangunan masing-masing ada kolam renang, dan sebagai penghubungnya ada kolam yang cukup panjang . Jadi nyesel saya nggak bawa baju renang deh, habis kebanyakan kolam di hotel ngak enak buat berenang beneran. Di sekeliling kolam ada kolam pasir yang jadi tempat anak-anak mainan istana pasir.

18157656_10155318461474623_6061995196906451023_n
Marbella Suites

Beres berenang dan sudah rapi mandi, sekitar jam 10.30-an kami check out dari hotel dan menuju ke jakarta. Sebelum kembali ke jakarta, kami singgah di Chingu Cafe yang terletak tidak jauh dari Jalan Layang Pasupati.

Sesuai namanya “chingu” yang diambil dari bahasa korea yang berarti “friend”, cafe ini mengusung tema korean fan cafe. Berlokasi di suatu rumah tua peninggalan zaman kolonial yang sudah dirombak dengan kreatif, tidak mengherankan kalau restoran ini tidaklah terlalu luas. Saat kami datang jam 11.00 pun restoran sudah ramai dan bisa ditebak kebanyakan pengunjungnya adalah ABG atau anak muda kuliahan yang pastinya penggemar k pop. Cafe ini sebenarnya merupakan gabungan dari Chingu dan Chagiya, Chingu menawarkan makanan korea standar, sementara Chagiya menawarkan bbq.

18119370_10155318462189623_3807065032693884391_n

Dari pintu masuk, kami disambut pramuniaga berkemeja hitam dengan kerah pink. Suasana interior ala korea dengan pilihan warna cerah, poster-poster bintang film dan penyanyi korea, lukisan kartun bintang-bintang korea sampai lantunan lagu korea sangat kental mewarnai cafe ini. Saat kami datang, Chagiya sudah penuh jadi kami mendapat tempat di Chingu cafe.

Karena pangsa pasarnya anak muda maka makanan yang ditawarkan relatif murah-murah, rata-rata mulai 29 K, kami pun memesan makanan korea yang lagi populer, chicken wing salut mozzarella, bef bulgogi, spicy chicken dan semangkok dumpling ala korea (kalo nggak salah namanya sundukbu atau apa).

Sambil menunggu makanan datang, saya pun menuju ke halaman belakang yang merupakan area semi outdoor dan dinamakan dongdaemun area. Di sini juga disewakan hanbok baik untuk anak dan dewasa, yang merupakan tujuan utama saya datang ke sini karena waktu di seoul kemarin baby g nggak sempat nyobain make hanbok. Tarif sewa hanbok sebesar 25 K dan boleh digunakan hanya selama 15 menit. Tadinya baby b pun sudah disewain baju, tapi ternyata dia ngambek dan menolak. Saya pun membawa baby g foto-foto di dongdaemun area. Dongdaemun area ini dipenuhi beberapa kedai yang menjajakan aneka kudapan khas korea dengan tulisan hangul dan harganya pun ditulis dalam krw. Untuk membeli makanan di Dongdaemun area ini, kita diharuskan menggunakan kartu yang bisa di-refund kembali.

18118591_10155318466544623_9155569276604589523_n
Sewa Hanbok 25 K

Puas berfoto, kami pun kembali dan sudah disambut oleh makanan yang kami pesan. Sejujurnya … menurut saya sih kurang enak, mungkin karena harganya yang murah ya. Chicken mozzarella-nya terlalu manis dan nggak nge-blend sementara beef bulgoginya kurang bumbu. Yah tapi kalau cuma sekedar untuk menuntaskan niat korea-koreaan dengan harga terjangkau ya cukuplah.

18119254_10155318469954623_6717851798742575457_n
Chicken mozzarella

Saat kami keluar, antrian waiting list sudah mengular bahkan parkir saja sampai memenuhi badan jalan, rupanya cafe ini juga lagi nge-hits.

Posted in Japan, Kyoto, Osaka

Japan – Korea Trip (Intro & Day 1-2)

INTRO

Bermula dari info yang banyak saya temukan di internet mengenai kebijakan apabila mempunyai visa jepang yang masih berlaku, kita bisa memasuki beberapa negara seperti korea selatan atau taiwan tanpa visa lagi. Cihuy banget kan ya?? lumayan lah untuk menghemat biaya visa yang rata-rata dibanderol 500-600 ribuan. Mulailah angan saya mengembara untuk pergi kedua negara sekaligus, apalagi makin dikomporin dengan cerita-cerita blog yang sukses pergi kedua negara tersebut.

Walaupun selama ini saya fans fanatik budget airlines, pingin lah ya sekali-kali pakai full board airlines. Terutama sekali alasan saya karena kali ini kami akan mengajak baby G yang berusia 4 tahun, soal kenyamanan mesti diperhatikan terutama soal waktu transit. Tau kan ya kalau pakai budget airlines waktu terbuang cuma buat transit tok? Jadilah saat GATF (Garuda Indonesia Travel Fair) mid 2016 yang lalu berlangsung, saya iseng-iseng nanya ke sepupu saya yang kerja di bagian travelnya Garuda Indonesia, kebetulan harga yang ditawarkan masih masuk budget, alhamdulillah lagi ada rezeki. Dengan bantuan sepupu saya, di-booking-kanlah tiket pergi jakarta – kansai dan tiket pulang seoul – jakarta seharga 4,5 juta/orang.

Total durasi travelling kali ini adalah 8 hari (11 s/d 18 maret 2017), dengan waktu optimal untuk kunjungan hanya 6 hari. Sebenarnya sayang sih ya, dengan durasi masing-masing negara cuma 3 hari, tentunya sangat sedikit yang bisa diekplorasi, tapi saya mikirnya sekalian lah, mumpung visanya bisa gratis salah satu. Sengaja saya pilih kansai bukan haneda/narita, karena sebagai penyuka sejarah, kyoto yang kuno jauh lebih menarik di mata saya dibanding tokyo yang modern. Soal negara satu lagi yaitu Korea Selatan, sebenarnya saya bukanlah k poppers atau fans drakor akut, walau harus saya akui saya termasuk penonton setia drakor generasi awal seperti winter sonata, endless love atau dae janggeum, karena itulah korea selatan mempunyai beberapa destinasi menarik untuk saya.

WINTER ITEMS

Kunjungan saya ke-dua negara tersebut adalah saat akhir winter, walau dikatakan akhir winter, suhu udara di sana berdasarkan accuweather masih berkisar antara 9 – 13 C (itu juga kalau siang, kalau malam masih turun lagi). Mahluk tropis seperti saya mana tahan, belajar dari pengalaman katrok saya waktu berkunjung ke Beijing setahun silam (di mana saya tersiksa kedinginan akibat kurang persiapan) kali ini perlengkapan winter-nya harus lebih “bener”. Heattech dan kaos kaki kami beli di Uniqlo, yang merupakan brand ternama asal jepang dengan harga yang lumayan terjangkau. Di sini kami juga membeli jaket winter dengan warna pink untuk baby G, sementara saya dan suami masih kurang sreg dengan jaket di sini karena menurut kami kurang tebal.

Berdasarkan hasil googling, semua rekomendasi mengarah ke Toko Djohan di Pasar Pagi Mangga Dua yang katanya menyediakan barang berkualitas dengan harga miring. Kami sengaja datang pagi-pagi saat baru buka, ternyata tokonya sudah dipenuhi kerumunan pembeli. Tak disangka walau tokonya kecil, tapi koleksinya lengkap, mulai dari jaket bulu angsa dan polyester segala model, sweater, long john, sarung tangan, syal, topi, tutup kuping, kaos kaki bahkan sampai boot juga ada. Kami pun memborong semua keperluan di sini, jaket bulu angsa dengan kualitas bahan yang bagus hanya dibanderol 950 ribu saja, bahkan jauh lebih bagus dibanding jaket yang kemarin kami lihat di Uniqlo.

Untuk mengatasi kulit kering akibat cuaca dingin, kami membeli “creme 21” yang sudah terbukti aman dan ringan untuk kulit wajah dan badan. Saya dulu berkenalan dengan creme 21 saat menunaikan ibadah umroh dan terbukti creme ini mampu mengatasi “kulit kering dan berkerak” akibat cuaca dingin.

TIKET PESAWAT JAPAN – KOREA

Kami menggunakan maskapai Peach Aviation, budget airlines dari ANA Airways, untuk bepergian dari Jepang ke Korea. Peach Aviation menyediakan dua macam kelas penerbangan yaitu Happy Peach dan Happy Peach Plus dengan harga yang berbeda.

Sesuai dengan namanya, Happy Peach Plus menawarkan kelebihan fasilitas dibanding Happy Peach, tentunya dengan biaya yang lebih besar. Dengan Happy Peach Plus kita bisa mendapatkan fasilitas bagasi “1 piece” dengan maksimal berat 20 kg, free pilih tempat duduk, dan yang paling menolong “free charge” kalau mau pindah jadwal penerbangan. Untuk menyiasati pengeluaran, suami dan baby G menggunakan Happy Peach Plus, sementara saya hanya menggunakan Happy Peach biasa. Tanpa dinyana, saya salah memasukkan jadwal saat booking, yang harusnya pukul 12.50 malah saya booking yang jam 07.50. Untungnya yang salah adalah “Happy Peach Plus” yang bisa dicancel dan di-rebook tanpa ada tambahan biaya lagi.

Faktanya sih untuk Happy Peach Plus saya kena sekitar 1,1 juta/orang sementara untuk Happy Peach sekitar 800 ribuan/orang, nggak bisa dibilang murah banget sih ya, walau di beberapa blog yang saya baca mereka bisa dapet harga fantastis 400-500 ribu sekali jalan, yah mungkin saya nya yang kurang tau trik mendapatkan harga murah untuk maskapai ini.

AND THE PROBLEMS ARE COMING

Tanpa disangka, sekitar bulan september-oktober berdarlah pengumuman resmi bahwa Republik Korea Selatan sudah tidak memberlakukan aturan free visa seperti yang disebutkan di atas. Saya sampai ngubek-ngubek semua pengumuman untuk mencari apakah kabar tersebut benar, dan memang official, sudah resmi dari kedutaan. Jiaaah, tau gitu ngapain juga saya pake ke Korea segala, mending ke Jepang aja, mana persyaratan visa korea malah lebih banyak dibanding jepang pula.

Mencoba menghibur diri, toh nanti saya cukup mengurus visa korea saja, kan saya mau ganti e-passport yang memungkinkan saya mendapat visa waiver dari Jepang. Tenyata saat mengurus perpanjangan paspor (yang sudah habis masa berlakunya), sang petugas mengingatkan kalau gate antara paspor biasa dan e-passport akan berbeda, lah kan nggak mungkin saya membiarkan baby g lewat gate sendiri. Pasrahlah saya akhirnya cuma punya paspport biasa dan harus mengurus dua visa sekaligus nanti.

Saya sengaja mengurus visa jepang dulu dengan pertimbangan kalau visa jepang sudah “granted” kemungkinan visa korea nya lebih mudah. Saya adalah penganut “say no to calo”, semua persyaratan dan pendaftaran saya urus sendiri, cukup mudah kok karena website kedutaan yang bersangkutan sangatlah jelas. Yang penting semua persyaratan dilengkapi, alhamdulillah visa jepang diikuti dengan visa korea sukses diberikan. Sempet nggak enak makan dan tidur juga sih, gimana coba kalau salah satu atau bahkan dua-duanya ditolak, alhamdulillah nggak kejadian. Saya tidak membahas mengenai segala persyaratan, pengalaman dan suka duka mengurus visa ya, karena di internet dan blog-blog lain, info ini sudah banyak bertebaran.

DAY 1

Penerbangan kami menuju Kansai Int’ Airport dijadwalkan berangkat pukul 23.15 dari terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Setelah mewek dan peluk cium Baby B (adiknya baby G, yang kali ini nggak diajak dulu karena masih terlalu kecil), kami pun berangkat menuju bandara, kondisi jalanan malam minggu kali itu relatif lancar, hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam dari kediaman kami di bilangan Jakarta Timur.

Karena memang sudah jam tidurnya, Baby G sudah asik terlelap di atas kursi ruang tunggu selama menunggu waktu boarding. Beruntung kami menemukan kursi yang sudah hilang sandaran tangannya (cuma ada satu lho) sehingga baby G bisa asik selonjor.

Pesawat kami boarding sesuai jadwal, penerbangan menuju kansai int’ airport memakan waktu selama 6 jam 45 menit. Karena memang sudah malam, tidak lama sesudah pesawat take off, seisi pesawat sudah tidur semua.

DAY 2

Saya itu orang yang bercita-cita jadi traveller yang mengarungi dunia, tapi nyatanya saya itu benci naik pesawat. Saya nggak pernah bisa nyaman di pesawat, jadilah selama durasi 6 jam itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam kalau tidak bisa dikatakan begadang sampai waktu “breakfast” sekitar jam 04.00 pagi (atau waktu sana sudah jam 06.00) mulai diedarkan pramugari.

Karena ini penerbangan dengan rute jepang, menu yang ditawarkan ada dua jenis, menu indonesia dan menu jepang. Saya tentu nyoba dua-duanya dong ya (satu untuk saya dan satu untuk baby G), walau mana bisa nafsu makan sih di pesawat. Hiruk pikuk keramaian waktu “breakfast” membuat baby G terbangun, waktu saya tawari makan, baby G menolak, ya wajar sih, secara kalau menurut waktu indonesia ini masih jam 04.00 pagi, serasa makan sahur. Saya dan suami tetap memaksakan makan yang penting perut terisi agar tidak mengganggu kondisi badan. Porsi baby g saya bungkus dan masukkan tas untuk dimakan nanti.

Setelah makan pagi selesai, pramugari mengedarkan “arrival card” yang wajib diisi dan diserahkan di imigrasi nanti. Usahakan untuk selalu mengisi kartu ini saat masih di pesawat agar terhindar dari kerepotan nantinya.

Tepat pukul 08.35 (waktu jepang yang mana lebih cepat dua jam dibandingkan jakarta), pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Kansai Int’ Airport yang berada di pulau buatan di kawasan Osaka.

Nah hebatnya negara maju, selain punya situs Hyperdia yang memberikan data transportasi per-kereta api-an secara akurat, Jepang juga punya situs westjr.co.jp yang menerangkan secara detil tentang sistem transportasi di area kansai, terutama sekali sangat membantu dalam hal apa yang harus dilakukan di airport, petunjuk ke stasiun kereta, cara membeli tiket kereta, cara baca platform, cara mengenali kereta dan segudang informasi lainnya yang sangat bermanfaat. Intinya kalau sudah dibaca baik-baik, nggak bakal bikin kita clingak-clinguk macem turis kesasar.

Setelah beres dengan urusan imigrasi dan bagasi, kami bergerak menuju stasiun kereta yang letaknya di lantai dua . Petunjuk arahnya sangat jelas, stasiun kereta terletak di luar bandara dan dapat dicapai dengan menyebrangi jembatan penghubung. Destinasi pertama kami adalah ke kyoto, jadi kali ini kami akan langsung menuju kyoto dari bandara,

Ada dua perusahaan yang menyediakan jasa transportasi kereta api ke osaka, kyoto dan sekitarnya, yaitu jr west yang dimiliki pemerintah dan Nankai yang dimiliki oleh swasta. JR West sendiri memiliki berbagai macam kereta yaitu limited express, regular express, shinkansen, special rapid services, rapid services dan local services. Terus apa bedanya ? yang ada embel-embel express-nya tentu lebih mahal karena hanya berhenti di stasiun tertentu selain itu ada extra charge lagi untuk reserved seat. Sementara special rapid services, rapid services dan local services lebih murah karena banyak berhentinya. Shinkansen tidak melayani rute Kansai Airport ke osaka ataupun kyoto.

Cara termudah dan tercepat untuk menuju Osaka & Kyoto adalah dengan menggunakan Limited Haruka Express yang tiketnya dapat dibeli dengan menggunakan kombinasi ICOCA & HARUKA. ICOCA & HARUKA adalah set yang terdiri atas dua kartu, yang terdiri atas ICOCA (seharga 2000 yen, 1500 yen untuk harga kartu sendiri dan 500 yen untuk deposit) dan tiket diskon Haruka mulai dari 1100 yen untuk sekali jalan. ICOCA card sendiri merupakan kartu yang dapat dipakai di JR, subway, bus atau belanja di beberapa minimarket dan vending machine. Sayangnya tidak ada potongan harga kalau menggunakan ICOCA seperti halnya EZ Link di Singapore, sehingga kami berfikir tidak ada gunanya juga beli ICOCA.

Berhubung kami adalah traveller pelit  cermat dan irit, sesuai dengan panduan hyperdia, tentunya kami memilih moda transportasi termurah, pilihannya antara nankai atau airport special rapid service, cuma kalau menggunakan nankai, kami harus berganti kereta dulu di tennoji, tentu menambah kerepotan kami yang sudah membawa dua tas besar plus baby stroller.

Kami memilih “aiport rapid service for kyobashi” dengan biaya hanya 1880 yen/orang, oh iya di jepang anak berumur di bawah 6 tahun masih “free of tranportation charges”. Tiket kami beli dari vending machine yang caranya sudah kami pelajari dari situs westjr.co.jp. Tidak ada antrian mengular di vending machine seperti yang kami khawatirkan.

17308985_10155181212804623_1401853508967102171_n
Gate tempat masuk ke stasiun kereta
17309211_10155181212824623_4849771525224242097_n
Deretan Vending Machine

Kereta di jepang benar-benar tepat hingga ke menitnya sesuai dengan yang ada di website hyperdia. Karena merupakan perhentian awal, kereta yang kami naiki awalnya sepi, kursinya cukup nyaman dan karena cukup jauh kami bahkan sempat tertidur. Bodohnya saya lupa saat tadi berganti baju dengan lapisan longjohn di toilet, saya lupa memasukkan kembali makanan yang sudah dibawa dari pesawat berikut beberapa keping roti yang sengaja kami bawa. Walhasil saat di dalam kereta baby G bilang lapar, makanan tidak ada, untungnya baby G bisa bersabar dengan hanya memakan cemilan oreo dan sosis (maafkan mama ya nak).

17309425_10155181213169623_8336196999844259536_n
Di dalam “kansai airport rapid service”

Perjalanan dari Kansai Int Airport menuju Stasiun Osaka membutuhkan waktu sekitar 1 jam 14 menit. Di stasiun osaka kami turun di platform 2 dan berganti kereta dengan “JR Special Rapid Service for Omishiotsu (JR Kyoto Line)” yang berangkat dari platform 8. Untuk berganti platform kita diharuskan naik turun dengan tertib, bisa menggunakan fasilitas tangga, eskalator ataupun lift. Jangan harap warga jepang ada yang nekad dan ga tertib menyebrangi rel seperti di Indonesia ya.

Kereta yang kami naiki sangat penuh sehingga kami harus bersabar berdiri sambil memanggul bawaan (yang makin lama makin berat rasanya). Untungnya perjalanan dari stasiun osaka ke stasiun kyoto hanya memakan waktu 25 menit.

Begitu sampai stasiun kyoto, kami segera keluar melalui Central Entrance yang tepat berhadapan dengan Kyoto Bus terminal dan Kyoto Tower. Kami bermaksud menuju ke hotel yang telah kami booking dulu untuk menitipkan barang bawaan sebelum mengeksplorasi kota kyoto.

Saya sampai terharu begitu melihat pemandangan kyoto tower dan sekitarnya yang selama ini cuma saya saksikan lewat google image, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di sini.

17264761_10155181205329623_715168749972260702_n
Kyoto Tower

Hotel yang kami booking bernama APA Villa Hotel Kyoto Ekimae, lokasinya cukup strategis, hanya 400 m dari kyoto station, menuju ke hotel tersebut juga sangat mudah karena markanya jelas. Begitu keluar stasiun, cukup jalan terus melewati kyoto tower sampai menemukan mcd, di seberang mcd itu ada family mart, berbeloklah ke gang di samping family mart dan langsung deh ketemu hotelnya. APA Villa Hotel merupakan jaringan budget hotel dari APA group yang banyak tersebar di seluruh jepang, harganya pun cukup murah (untuk ukuran akomodasi jepang lho ya, yang harganya selangit minta ampun) sekitar 850 ribu/malam.

17342886_10155181198069623_1691204508374325338_n
Apa Vila Hotel

Saat sampai di sana, jam masih menunjukkan pukul 12.00 sehingga kami masih belum bisa check-in, setelah menitipkan barang bawaan kami kembali menuju kyoto bus terminal yang berada persis di depan station untuk menaiki bus.

Sebelum itu  kami bermaksud makan siang dahulu di McD (apalagi demi melihat kondisi baby g yang kayaknya mulai kepayahan), tapi ternyata McD di jepang hanya menjual burger, tidak ada ayam. Mau beli di family mart bingung makannya di mana. Akhirnya kami masuk ke salah satu restoran jepang persis di samping family mart ini setelah melihat display dan daftar menu yang ada di depan pintu masuk.

IMG20170312131334
Tampak depan restoran

Pelayan cantik berkimono kuning menyambut kami dengan senyuman manis dan keramahan ala jepang walau tidak bisa berbahasa inggris. Untungnya menu juga ditulis dalam bahasa inggris, kebanyakan menunya berisi sushi dan sashimi, tapi karena membawa baby g, kami hanya memilih karaage dengan nasi putih dua porsi. Sebelum makanan datang, pelayan membawakan handuk panas yang digunakan untuk mengelap wajah, rasanya seger banget. Ocha di sini diberikan gratis dan bisa di-refill. Porsi karaage yang datang ternyata besar sehingga rasanya cukup kalo satu porsi dibagi dua, tapi kadung pesan dua porsi yang sayang kalau gak dihabiskan. Karaage nya sangat enak, full chicken dengan rasa yang pas dan tepung yang garing. Seporsi karaage dibanderol 780 yen, sedangkan nasi putih 280 yen. Tidak ada tax lagi. Saya cukup merekomendasikan restoran ini walau lupa namanya (lha wong tulisannya dalam bahasa jepang dan saya cuma bertanya sekilas ke pelayan). Restoran ini sepertinya populer juga di warga lokal terbukti dari ramainya tempat ini saat kemarin kami datang.

IMG20170312124500
Karaage

Setelah kenyang, kami meneruskan perjalanan ke kyoto bus terminal, sebelumnya kami mampir dulu di kyoto bus ticket center untuk membeli tiket “kyoto city bus & kyoto bus one day pass” seharga 500 yen. Kyoto Bus Ticket Center ini letaknya masih di dalam terminal, ada plangnya kok. Petugas yang ada di dalam cukup paham maksud kita walau sepertinya tidak terlalu fasih berbahasa inggris, tunjuk saja jenis tiket yang kita inginkan.

IMG20170312132106
Kyoto Bus Ticket Center

Untuk mengeksplorasi kyoto, bus merupakan pilihan yang paling tepat karena rutenya menjangkau hampir seluruh destinasi wisata yang ada. Tarif bus umumnya flat sebesar 230 yen. Untuk menghemat, tiket kyoto bus one day pass merupakan opsi yang hemat dan praktis karena bisa digunakan selama seharian penuh. Detil mengenai bus kyoto (seperti cara naik, cara pakai kartu dsb) dapat dilihat di www2.city.kyoto.lg.jp, sementara untuk rutenya dapat dilihat di arukumachikyoto.jp.

IMG20170312132338
Kyoto Bus Terminal
IMG20170312133327
Di dalam kyoto bus

Hari ini kami hanya punya dua destinasi wisata yaitu kiyomizudera temple yang merupakan UNESCO world heritage dan Gion District yang terkenal akan Geisha-nya. Antrian di masing-masing perhentian lumayan mengular, walau sangat tertib, mungkin karena ini hari minggu sehingga banyak wisatawan lokal yang berkunjung.

Untuk menuju Kiyomizudera Temple bisa menaiki bus nomor 100, 206 atau 86. Kami langsung naik bus 206 yang kebetulan sudah ada. Di kyoto, naik bus lewat pintu belakang sementara keluarnya lewat pintu depan. Pertama kalinya menggunakan kyoto bus one day pass, saat akan turun, masukkan kartu ke dalam “card slot” di mesin yang ada di samping supir bus, nanti di kartu itu akan tercetak tanggal hari ini. Untuk penggunaan setelahnya cukup tunjukkan kartu tersebut ke sopir bus. Pengumuman di display layar atau pengeras suara di dalam bus juga ada dalam bahasa inggris, jadi tidak perlu khawatir tersesat.

Kami turun di halte Gozozaka, yang terdekat dari Kiyomizudera, perjalanan dari stasiun kyoto hanya membutuhkan waktu 20-25 menit. Kami langsung mengikuti arus kerumunan orang-orang yang kami tebak mempunyai tujuan yang sama, di sepanjang jalan banyak toko rental kimono, pantaslah banyak gadis-gadis muda jepang yang berseliweran menggunakan kimono aneka warna yang cantik-cantik.

Kiyomizudera temple merupakan kuil yang sudah berusia lebih dari 1200 tahun, kuil ini didedikasikan untuk buddha dan dewa kanon.

Di luar dugaan perjalanan menuju kiyomizudera temple cukup menanjak dan melelahkan, bahkan di beberapa lokasi, tanjakan sangat curam dan menguras stamina (lebay lebay deh, maklum kurang tidur semalam). Akhirnya setelah sekitar 25 menit berjalan sampailah kami di pintu gerbang kiyomizudera yang lagi-lagi mengharuskan kami menaiki sejumlah anak tangga dulu.

IMG20170312140042
Tangga terakhir menuju kiyomizudera

Kami disambut oleh “deva gate” yang sangat cantik dengan warnanya yang merah mencolok disertai dengan satu dua pohon sakura yang sudah mekar di awal musim. Saya pun langsung berteriak kegirangan demi melihat si “merah jambu” yang sudah menjadi impian sejak masih kecil, langsung saya menarik baby g (yang sebenarnya masih bete) untuk foto-foto.

IMG20170312140530
Deva gate

Perjalanan kami lanjutkan hingga bell tower tempat di mana diletakkan lonceng besar untuk upacara keagamaan. Kami sempat beristirahat sejenak di dekat rumah-rumah biksu yang ada di sekitar situ, lumayan sepi dan enak untuk duduk-duduk. Di belakang bell tower terdapat zuigudo-hall, tempat di mana beberapa warga melakukan ritual sembahyang.

17265249_10155181192094623_5413136453595081810_n
bell tower
17265244_10155181197389623_3013254185417898110_n
Zuigudo hall

Dari bell tower kami bertemu dengan west gate yang tidak kalah mencengangkan dibanding deva gate tadi, ditambah lagi dengan three storied pagodanya yang luar biasa. Sampai di sini semua masih gratis-tis, belum dipungut bayaran.

IMG20170312145043
Three storied pagodas at west gate

Berjalanlah lebih ke dalam lagi, maka baru kita akan menenukan “Main hall/hondo” bangunan utama dari keseluruhan kompleks ini. Bangunan inilah yang disebut sebagai Unesco World Heritage, biaya masuk ke tempat ini sebesar 400 yen. Main hall/hondo ini terletak di suatu lembah, bangunannya terbuat dari kayu yang sudah berusia seribu tahun, makanya di sana-sini ditopang oleh perancah, mungkin karena sudah ada beberapa bagian yang rapuh. Di dalam main hall terdapat beberapa kios dengan “miko/pendeta wanita” yang berjaga, mereka menjual kertas ramalan, dupa dan lain-lain yang biasa ada di dalam komik jepang. Bangunan utama main hall merupakan tempat ibadah di mana terdapat banyak patung buddha kanon, di dalam sini dilarang untuk berfoto. Banyak warga yang menunaikan ibadah di sini untuk menyembah sang buddha.

17264175_10155181197594623_6252130121149812894_n
Tiket Kiyomizudera
17309475_10155181197569623_5704827017470472465_n
Pintu masuk ke main hall/hondo
IMG20170312144119
Main Hall/Hondo
17264779_10155181197659623_8475500045635406686_n
Warga yang beribadah di dalam main hall/hondo

Puas melihat-lihat, kami istirahat sebentar di belakang main hall sambil memperhatikan warga lokal yang mengikat ramalan kertas di gantungan. Tadinya saya berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Gautama Buddha Hall, Amitabha Hall dan Otowa waterfall, tapi baby g kelihatannya sudah capek sehingga saya mengurungkan niat dan berpuas hanya memandangi dari kejauhan saja.

Setelahnya kami turun kembali untuk menuju ke Gozozaka station, dalam perjalanan pulang kami melewati “higashiyama district” yang penuh dengan deretan kios souvenir, oleh-oleh dan makanan. Karena sudah berencana beli oleh-oleh di Namba, jadi saya sengaja menghindari melihat-lihat toko souvenir, tapi nggak bisa mencegah diri mampir di toko penganan. Lha gimana nggak tertarik? wong tiap toko menyediakan sample gratis yang boleh dicoba. Sempet icip-icip aneka kue sampai kenyang, kami tertarik membeli kudapan dari semacam adonan tepung dengan aneka filling, harganya mulai 250 yen, sayangnya masa expirednya cepat jadi nggak bisa dibawa pulang. Di sini baby g juga sempat membeli ice cream seharga 300 yen dengan ukuran besar.

IMG20170312145718
Higashiyama District
IMG20170312150118
Aneka penganan
IMG20170312145951
Soft ice cream 300 yen

Setelah menjelajahi kiyomizudera yang di luar dugaan sangat melelahkan, saya akhirnya terpaksa membatalkan kunjungan saya ke gion, sempat galau juga sih, karena gion ini kan merupakan tempat yang sangat ingin saya kunjungi sejak membaca “Memoirs of geisha” karya Arthur Golden. Tapi toh, saya cuma akan mengunjungi hanami koji yang belum tentu ketemu geisha juga, apalagi melihat kondisi baby g yang sepertinya sangat kecapekan.

Kali ini kami menaiki bus nomor 100 untuk kembali ke kyoto station. Tidak berapa lama kami sampai dan langsung menuju ke hotel untuk berisitirahat.

Kamar di APA Villa ini sangatlaaaah sempit, bahkan lebih sempit dibanding budget hotel di Indonesia. Tapi fasilitas toiletriesnya sangat lengkap, bahkan setara dengan hotel bintang lima di Indonesia, merknya Shiseido pula. Yang aneh, TV nya sangat besar, bahkan sama besar dengan ukuran tempat tidur, haha. Selain itu cukup nyamanlah, lantai dilapisi karpet, ada electric kettle (yang sangat penting buat traveller dengan toddler seperti kami), walau sempit banget.

17265099_10155181197799623_4511707719022418731_n
Kamar di APA Villa

Kami memang sengaja bawa mini rice cooker untuk memasak dengan pertimbangan khawatir sulit mencari makanan halal. Tidak lupa pula membawa beras yang sudah ditakar sesuai porsi ke dalam plastik, makanan kering dan mie. Tapi sayangnya, mini rice cooker yang kalau di Indonesia ini cukup butuh 30 menit sampai matang, di sana bahkan sampai pagi lagi nasinya belum juga matang. Sepertinya memang sudah di-set oleh pihak hotel untuk membatasi daya, jadi hanya daya kecil seperti hp yang bisa. Haduh, bikin bete juga karena sudah bawa-bawa rice cooker dan segala perangkatnya, untung cuma 1,2 kg-an.

Karena masak nasi gagal, setelah maghrib kami berjalan ke family mart untuk membeli bento box. Bento box dijual mulai harga 380 yen, onigiri 100 yen, macem-macem minuman juga mulai 100 yen. Untunglah di jepang ini, walau tidak terlalu fasih, namun mereka masih faham bahasa inggris dasar semacam “pork” “lard” “chicken”, jadi kami bisa leluasa bertanya soal kandungan makanan yang kami beli.

Keluar dari family mart, kami menyempatkan diri berfoto di depan kyoto tower yang mulai memancarkan kerlip lampunya saat malam tiba. Oh iya, air keran di jepang bisa diminum lho, jadi lumayan hemat nggak usah beli air.

Posted in Jambi, Lampung, Muara Bungo, Palembang, Solok, South Sumatera, Tanah Datar

Mudik Besamoh (Day 8 – 11)

DAY 8

Hari ini kami rencana untuk line up pukul 07.30, sebab masih ada dua destinasi lagi yang akan dikunjungi yang kebetulan searah dengan arus balik kami dari bukittinggi ke muara bungo. Kami berencana mengunjungi danau singkarak di tanah datar dan danau atas bawah di Solok.

Saat sarapan di restoran hotel, om zul sekeluarga izin pamit karena sudah akan berangkat dinas ke Pekanbaru. Perjalanan agak terlambat dari jadwal dikarenakan tante wilda terjebak macet di area jam gadang sehingga baru 08.40-an kami bisa berangkat.

Hanya perlu waktu sejam lebih untuk mencapai danau Singkarak yang super luas bagaikan lautan, danau singkarak merupakan danau terbesar kedua di Indonesia setelah Danau Toba, saking luasnya bahkan kita tidak bisa melihat ujung-ujungnya. Danau ini terkenal sebagai danau berombak dan dasarnya terus mengalami penurunan akibat letaknya yang persis di lempeng sumatera. Kadang kala ada berita tenggelamnya kapal wisatawan sehingga membuat kami urung mengarungi danau dan lebih memilih duduk-duduk sambil memandangi panorama di depan mata.

15781355_10154952370499623_3273112825717112362_n
Danau Singkarak

Produk terkenal dari danau singkarak adalah ikan bilis, ikan kecil-kecil dengan ukuran lebih besar dari teri, namun tidak asin. Di sini harganya murah, hanya 135 ribu/kg. Tante-tante pun semua sibuk memborong ikan bilis yang ada di warung sekitar.

24735158-dry-ikan-bilis-stock-photo
Ikan bilis (sumber:123RF.com)

Setelah itu kami meluncur ke daerah solok dan kembali melewati RM Kayu Aro yang enak dendeng batokoknya itu, kami memutuskan berhenti di sini untuk makan siang sekaligus shalat jumat karena persis di seberang RM Kayu Aro adalah masjid besar.

Beres makan siang dan shalat jumat, kami menuju danau atas bawah yang ternyata aksesnya cukup sulit dan belum dikelola dengan baik oleh dinas pariwisata. Kami sampai harus berbalik dua kali dan bertanya – tanya pada warga sekitar di mana view point yang memungkinkan kami melihat dua danau tersebut secara jelas. Akhirnya kami berhenti di view point yang sepertinya masih dikelola oleh penduduk lokal karena masih minimnya fasilitas maupun kebersihan. Dari tempat tersebut memang kami bisa menikmati keelokan danau bawah karena lebih dekat, tapi panorama danau atas walaupun terlihat tapi agak jauh. Danau tersebut merupakan danau kembar yang letaknya berdekatan, kalau dari hasil googling seharusnya ada view point yang lebih bagus, usut punya usut tempat tersebut masih harus menanjak sekitar 7 km lagi dari posisi kami ini, ya sudahlah.

15741156_10154952353009623_7465813281040859704_n
Danau bawah
15781283_10154952354634623_197584074257874515_n
Danau atas

Untuk menuju muara bungo ada jalan pintas yang ditunjukkan oleh google maps dengan durasi yang lebih singkat. Ternyata jalannya sempit, berliku liku naik turun dan hanya cukup untuk papasan dua mobil, diperparah dengan kemacetan di suatu titik yang ternyata adalah pasar lokal, maju mundur saja sulit. Beruntung setelah koordinasi dengan sopir lainnya, kami bisa maju dan selepas itu rasa lelah kami terbayar dengan kecantikan danau bawah yang berwarna biru cerah di sebelah jalan. Sekitar dua jam kemudian sampailah kami di jalan besar lintas sumatera. Di sini kami berpisah dengan tante wilda yang akan kembali ke bukittinggi, sementara 7 mobil lainnya akan kembali ke muara bungo.

Setelah sempat berhenti sebentar setelah perbatasan sumbar-jambi untuk makan malam di suatu kedai pecel lele, akhirnya pukul 22.30 kami kembali tiba di hotel permata kota muara bungo untuk beristirahat.

DAY 9

Hari ini kami akan memulai arus balik menuju kota Palembang, karena rusak dan padatnya jalur lintas timur, Om Yes yang asli Palembang menyarankan untuk mengambil lintas tengah yang lebih sepi. Memang sekitar satu dasawarsa lalu, jalur tengah ini rawan dan terkenal dengan si bajing loncat, tapi katanya sekarang sudah aman dan ramai.

Kami berangkat tepat pukul 06.00 dari hotel, sarapan berupa nasi uduk sudah dipesan sehari sebelumnya dan diantarkan pukul 05.00 subuh. Sengaja pagi-pagi sekali sebab nanti malam adalah tahun baru dan dikhawatirkan jalanan di sekitar Palembang pastinya akan macet parah.

Kami mengambil jalur dengan melintasi Sarolangun dan Lubuk Linggau, jalanan memang lebih mulus dan sepi sehingga kami bisa memacu kecepatan hingga 60 km/jam. Di Lubuk Linggau kami makan siang di RM Pagi Sore yang ternyata bagus sekali, di pinggir sungai, mirip cimory river view di Puncak-Bogor. Memasuki Jambi dan Sumsel berasnya sudah agak tanak sehingga anak-anak mau makan kembali.

15873230_10154956369549623_2037087347460783744_n
RM Pagi Sore di Lubuk Linggau yang mirip Cimory Riverview

Lepas Lubuk Linggau, jalanan di Sumsel kembali berlubang-lubang. Rekan-rekan kami yang kebanyakan adalah orang-orang oil & gas banyak bercerita dan diskusi lewat HT bahwa Sumsel ini merupakan provinsi yang kaya karena minyak bumi dan gas alamnya, namun kontras warga yang kami jumpai di sepanjang jalan sepertinya masih kurang diperhatikan kesejahteraannya. Banyak ilegal tapping yang bahkan dilindungi oleh aparat, di sepanjang jalan banyak angkutan drum-drum yang menurut mereka adalah hasil ilegal tapping. Saya perhatikan jalan-jalan di sumsel selain di palembang kebanyakan rusak parah, sungguh ironis disandingkan dengan program prestisius LRT di tengah kota

Memasuki wilayah sekayu hingga tiba kembali di lintas sumatera jalanan rusak parah dan diperparah dengan deretan truk-truk tronton yang tiada habisnya, belum lagi ulah sembarangan pengemudi motor yang ikut euforia tahun baru. Syukurlah pukul 20.00 malam kami sudah tiba kembali di kota Palembang. Jalanan sangatlah ramai karena semua orang ingin merayakan tahun baru, untungnya Om Yes yang asli Palembang banyak tahu mengenai jalan-jalan pintas.

Sebelum masuk ke hotel, kami mampir dulu ke Pempek Saga Sudi Mampir yang menyajikan pempek unik yang tidak ada di manapun yaitu Lenggang Panggang. Saya mencoba pempek ini pada 2014 silam dan langsung ketagihan, sayangnya tidak bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh. Pempek ini adonannya dicampur dengan telur dan langsung dituang di atas cetakan daun kemudian dipanggang. Kenyang dengan seporsi pempek ukuran besar, kami kembali check in di Fave Hotel Palembang dan langsung tidur.

15822611_10154950476844623_6468902063353406957_n
Pempek Lenggang RM Sudi Mampir

DAY 10

Itinerary di Palembang direncanakan santai, selain karena memang tidak terlalu banyak destinasi wisata, kami harus memastikan kondisi badan agar tetap fit. Karena baru akan kumpul pukul 10.00, paginya anak-anak sudah minta berenang di hotel.

Rencananya kami akan mengunjungi Bait Al Akbar di Gandus (yang terkenal dengan Al Quran Raksasa-nya), tempat wajib jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Oh ya untuk oleh-oleh pempek kami sudah memesan pempek Vico yang diurus sehari sebelumnya oleh adik Om yes, sebab katanya kalau tahun baru warung pempek kebanyakan libur.

Kami parkir di samping Benteng Kuto Besak dan bisa dibayangkan panasnya area Jembatan Ampera sekitar jam 11 siang ? palembang ini memang panas, lebih dari jakarta. Setelah berfoto-foto singkat di depan icon palembang tersebut, kami pun segera lari ke mobil dan bergerak menuju RM Sri Melayu untuk makan siang.

15823445_10154956361394623_6456998222185164474_n
benteng kuto besak
15873552_10154956362779623_8985746754745982785_n
jembatan ampera di kala siang

RM Sri Melayu menyajikan aneka masakan khas palembang seperti pindang patin, brangkas tempoyak dan aneka rupa-rupa lainnya. Karena sudah agak bosan, kami malah memesan ikan gurame bakar dan tumis kangkung tapi tidak lupa menyertakan pindang patin. Menurut saya pindangnya jauh lebih enak yang di RM pegagan adenia, harganya juga lebih murah.

15871522_10154956362994623_4901350378442334017_n
Aneka sajian RM Sri Melayu

Setelah makan siang, rekan-rekan lainnya menyarankan untuk membatalkan saja kunjungan ke Bait Al Akbar sebab sudah pukul 14.00 dan masih mau ke toko oleh-oleh lagi (okee saat ini saya mulai agak bete). Akhirnya kami mampir ke toko pempek Candy untuk membeli lempok durian (sejenis dodol yang sudah dicampur durian dengan aroma yang sangat tajam, harganya 25 ribu/dodol) dan aneka rupa kerupuk palembang, yang banyak ikannya seharga 25 ribu/bungkus kecil, sementara yang lebih sedikit ikannya hanya 12.5 ribu/bungkus kecil. Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

15826606_10154956363069623_6270195707489188308_n
Pempek Candy

Karena masih merasa belum puas, saya mengajak suami dan keluarga untuk jalan-jalan lagi. Selepas pukul 17.00 (setelah rapi mandi dan istirahat) kami menuju monpera yang berhadapan langsung dengan masjid agung palembang. Hanya sebentar kami melewatkan waktu di sini, setelahnya kami langsung menuju ke museum Sultan Mahmud Badaruddin II (yang tentunya saat itu sudah tutup) untuk parkir dan berjalan ke mall kecil di depannya cuma untuk melihat pemandangan jembatan ampera yang jauh lebih indah dengan kerlap-kerlip lampunya di waktu malam.

15873284_10154956366084623_3854276917106671680_n
Monpera
15823688_10154956366349623_1825632140954452811_n
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
15871636_10154956368384623_8268194937002975979_n
Jembatan Ampera di kala malam

Puas mengabadikan jembatan ampera lewat layar ponsel, kami kembali ke hotel setelah sebelumnya mampir di warung Tekko untuk makan malam, sengaja makan di sini karena sudah mulai bosan dengan masakan padang.

DAY 11

Ini adalah hari terakhir dari rangkaian touring mudik besamoh kami, setelah sarapan tepat pukul 06.00 kami sudah line up. Kali ini kami mencoba jalur lainnya lewat lintas tengah yaitu melalui prabumulih – martapura – kotabumi – metro – bakauheni. Jalurnya memang lebih jauh, sekitar 526 km, lebih jauh 70 km dibanding lintas timur, tapi katanya juga lebih sepi dan lancar.

Kami sempat berhenti di RM Neng Cella, rumah makan masakan sunda yang sempat dikunjungi oleh RI-1 saat kunjungan beliau ke Martapura kemarin, namun urung karena lamanya waktu masak. Akhirnya lagi-lagi masakan padang.

Kami melewati kotabumi dan metro, metro merupakan kota di mana banyak sanak saudara dari pihak ibu yang ikut program transmigrasi menetap, bahkan mbah buyut saya pun tinggal di sini. Tapi sejak beliau meninggal saya sudah tidak pernah menginjak lampung lagi, terakhir saat saya masih SD, jadi saya tidak begitu ingat lokasi rumah saudara-saudara saya.

Baru pukul 23.00 malam kami sampai di Bakauheni (sebelumnya sudah makan di lagi-lagi RM Padang – Begadang V di dekat kota Bandar Lampung), antrian naik kapal tidaklah seramai saat berangkat bahkan kami bisa langsung naik. Durasi penyebrangan selama 3 jama itu kami lalui di dalam mobil dengan tetap menghidupkan mesin mobil dan AC. Akhirnya kami sampai di Merak dan setelah melaksanakan prosesi bubar dan pamitan di tibar (titik bubar) yang berlokasi di pom bensin setelah fly over merak, kami masih melanjutkan perjalanan hingga kediaman kami di cibubur. Dengan mengucap alhamdulillah karena sudah diberikan lindungan dan berkah keselamatan, sekitar pukul 05.00 subuh kami sampai di rumah dengan selamat. Berakhirlah rangkaian touring 11 (12 hari sih sebenarnya, lha wong kami nyampe sudah jam 05.00 subuh), saya sangat berterima kasih kepada rekan-rekan om dan tante beserta keluarga yang sudah banyak membantu. Saya juga sangat bangga dengan suami saya yang terbukti kuat sebagai supir antar kota antar propinsi antar pulau, haha.

Rangkuman saya enaknya touring itu selain silaturahmi, kita tidak perlu repot-repot buka google maps karena sudah ada RC (Road Captain) yang membuka jalan, selain itu kita juga saling info dan menyemangati selama di perjalanan sehingga terhindar dari rasa bosan dan lelah.

Sedikit tidak enaknya yah namanya juga touring, pergi rombongan, jadi untuk berhenti di satu titik tentunya butuh waktu lebih lama, misal saja untuk wisata toilet di SPBU kalau sendirian paling butuh 10-15 menit, kalau rombongan ya minimal 30 menit, tapi yah dinikmati saja, alhamdulillah.

Posted in Bukittinggi, Indonesia, Payakumbuh, Solok, Tanah Datar, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 5 – 7)

Day 5 

Setelah beristirahat semalaman di hotel yang terbilang mewah untuk ukuran saya (yang selama ini hobinya nginep di budget hotel) badan rasanya agak enakan, apalagi sesuai kesepakatan hari ini kita akan line-up pukul 08.30, sedikit siang dan santai karena dua hari sebelumnya sudah diforsir perjalanan jauh.

Sekilas mengenai hotel grand rocky di bukit tinggi, hotel ini termasuk mewah dengan ukuran kamar yang luas (33 m2) dan dilengkapi karpet tebal nan empuk. Tempat tidurnya king size, okupansi sebenarnya hanya untuk maksimal 2 dewasa per kamar, tadinya kami mau menambah extra bed, namun setelah menghubungi resepsionis dan diberitahu bahwa biayanya 450 ribu/extra bed/malam, tentunya kami yang super irit ini ogah. Suami saya pun menurunkan matras angin yang dipasang di dalam mobil untuk digelar di atas karpet, untung karpetnya memang empuk. Kebanyakan hotel di Indonesia (bahkan untuk ukuran yang agak mewah sekalipun) tidak terlalu ketat soal okupansi, misalnya walau sudah ditulis bahwa kamar hanya boleh ditempati  maksimal 2 dewasa, tapi kenyataanya mah mau masuk lebih dari itu juga bisa-bisa aja, paling cuma ketat di breakfast . Untungnya salah satu anggota touring, tante wilda yang asli bukit tinggi, adalah teman dari si pemilik hotel, sehingga untuk peak season seperti ini kami hanya membayar 850 ribu/kamar/malam, aslinya sih katanya lebih dari sejuta-an. Hotel memiliki swimming pool yang cukup luas dengan view ke arah ngarai sianok dan juga mini playground untuk anak-anak. Hotel ini juga sangat strategis karena letaknya hanya 500 m dari pusat kota dan jam gadang.

303355_14031913550018763354
Grand Rocky Bukit tinggi (sumber : agoda.com)
8515299_2_z
Kamar deluxe tempat kami menginap (sumber : idhotels.com)

Pemandangan kota bukittinggi dari kamar kami sangatlah indah, dengan dua gunung , merapi dan singgalang, yang mengapit kota tersebut. Karena berada di ketinggian, suhu udara di bukittinggi cukup dingin, mirip seperti di Puncak.

Pukul 07.30 kami sudah bersiap turun untuk sarapan di restoran hotel, karena keluarga kami terdiri dari 3 dewasa dan 2 balita, sementara kupon makan yang diberikan hanya untuk 2 dewasa, maka kami menambah extra breakfast dengan biaya 90 ribu/orang, anak di bawah 5 tahun belum membayar. Restorannya lumayan besar dengan makanan yang lengkap, kebanyakan bercita rasa minang, agak pedas dan berasnya ” makpyur/pera’ “.

grand-rocky-hotel-bukittinggi
Restoran di Grand Rocky (sumber : tripadvisor.com)

Itinerary hari ini sangat padat, kelok 9 – lembah harau – padang mangateh – istana pagaruyung – danau singkarak. Pukul 08.30 kami bertolak menuju ke arah payakumbuh tempat di mana kelok 9 dan lembah harau berada, menurut google maps butuh waktu sekitar 1,5 – 2 jam. Karena kemarin ada tambahan 2 anggota lagi , maka hari ini total ada 9 mobil yang bergabung dalam konvoi. Di kota payakumbuh, om DK dan keluarganya sudah menunggu, om DK yang istrinya asli payakumbuh memang tidak ikut menginap di bukittinggi, melainkan di rumah mertuanya.

Hampir pukul 11.00 kami baru tiba di kelok 9 (karena tadi sempat berhenti untuk isi bahan bakar), kelok 9 ini sebenarnya merupakan jalan utama penghubung payakumbuh ke pekanbaru. Namun karena konstruksinya yang menarik, maka tempat ini sekarang malah menjadi icon baru dan tempat wisata.

Saat baru akan mendaki kelokan sebenarnya ada suatu rest area di mana ada mini playground dan warung tenda, tapi om DK menyarankan agar kami naik hingga di puncak saja agar mendapat view yang lebih bagus.

Jalannya memang melingkar-lingkar menjadi 9 kelokan dan sangat elok apabila dipandang dari puncaknya. Di puncaknya sendiri berjajar warung tenda yang menjajakan makanan ringan , warung tenda ini berdiri di bahu jalan jadi tidak terlalu mengganggu lalu lintas kendaraan yang lewat. Sementara untuk parkir bisa menggunakan bahu jalan yang ada di seberangnya. Kelok 9 membelah tebing-tebing tinggi yang di baliknya membingkai lembah harau.

15698318_10154942790164623_4391074809417233209_n
Kelok 9
15823176_10154962873319623_3879276083256369525_n
Kelok 9 dari puncak
15871776_10154962873629623_7376539002527458492_n
Deretan kios dan parkir di puncak

Setelah puas melihat kelok 9, kami pun menuju lembah harau yang hanya berjarak setengah jam perjalanan. Luar biasa menurut saya, tebing-tebing cadas tinggi berwarna merah kehijauan yang mengapit persawahan hijau nan subur, sungguh suatu pahatan Allah yang tidak terkira keindahannya. Baru pertama kali saya melihat yang seperti ini sebab di pulau jawa tidaklah ada.

15873319_10154962875204623_7303829812266194885_n
Lembah Harau

Di persimpangan terakhir kami berbelok ke arah kanan dan menuju suatu “view area” di mana dari kejauhan tebing-tebing tersebut seolah mengelilingi kami. Terdapat sebuah rumah gadang elok yang berdiri kokoh dan sungai kecil dengan sampan yang disewakan. Rasanya betah berlama-lama di sini, sayangnya kami harus segera bergegas menuju ke air terjun lembah harau yang berada di sekitar situ. Namun sungguh sayang disayang, berbeda dengan kondisi pulau jawa yang hujan tiada henti, pulau sumatera malah masih kering kerontang, yang mengakibatkan debit air terjun kecil bahkan kering, jadi kami tidak bisa melihat keindahan air terjun lembah harau.

15873104_10154962875159623_4533328365022976578_n
Sungai dan sampan di lembah harau

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 siang yang artinya kami harus segera mencari makan siang. Tante Wilda pun merekomendasikan restoran “Pongek or Situjuah” yang terkenal dengan ikan bakarnya. Seperti kebanyakan rumah makan padang, walau yang digadang-gadang ikan bakarnya, namun makanan tetap disajikan dengan ala “hidang”, jadi tanpa memesan menu, aneka rupa lauk pauk mulai dari rendang, ayam hingga daun singkong  ya sudah dihidangkan di meja, cuma bedanya di sini ikannya yang istimewa, mujair ukuran besar yang dibakar namun agak pedas. Yang agak mengesalkan susah minta apa-apa ke pelayannya, minta sendok aja sampe lama gak dikasih, sampe ngomong ke etah berapa orang yang berbeda dan tetap gak dikasih, ternyata menurut adik ipar om DK yang asli payakumbuh, pelayan di sini memang seperti itu. Masakannya memang enak dan total harga yang dibayarkan sekitar 120 ribu-an, lagi-lagi saya dan suami saling ngedumel soal rumah makan padang di perjalanan kemarin yang harganya amit-amit, padahal gak enak.

15726294_10154942835974623_6431406531694835740_n
Makan di RM Pongek or Situjuah

Kami keluar dari restoran sudah hampir jam 4 sore, setelah berdiskusi singkat, semua anggota touring sepakat untuk membatalkan kunjungan ke destinasi selanjutnya sebab sudah terlalu sore. Sebagai gantinya kami langsung memutuskan ke “Rumah Pohon Abdul” yang direkomendasikan oleh Tante Wilda untuk memulai acara inisiasi dan perkenalan anggota. “Rumah Pohon Abdul” ini terletak di Jl. Banarung, masih di area ngarai sianok.

Saat kami tiba di pusat kota bukit tinggi, lalu lintas sudah padat dan bahkan macet di beberapa titik terutama di sekitar area jam gadang dan monumen bung hatta. Imbas dari kemacetan tersebut adalah kami (C2) dan dua mobil lainnya (C3 dan C6) terpisah dari rombongan, kami salah saat berbelok, saya pun membuka gogle maps dan malah bingung karena di google maps ada dua tempat berbeda yang menunjukkan rumah pohon ini. Dua kali kami hanya berputar mengitari jam gadang lagi dan lagi, parahnya sinyal hp agak sulit sehingga susah untuk menghubungi tante wilda atau anggota lainnya. Ditambah pula hp saya dan suami habis baterai sementara charger di dalam mobil malah raib entah kemana gegara dimainkan baby B. Akhirnya kami mencoba mengambil arah melalui taman panorama hingga bertemu sungai yang lebar, dari sana om Aan mencoba menghubungi anggota lainnya dan alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Ternyata cafe ini letaknya mirip-mirip cafe daerah dago yang agak nyempil-nyempil.

15780872_10154942799939623_7846716965386655759_n
Rumah Pohon Abdul di lembah ngarai sianok

Sepertinya “Rumah Pohon Abdul” ini merupakan tempat yang lagi happening, terletak di lembah yang dikelilingi tebing ngarai sianok, pemandangannya sangat indah, suasana rasanya syahdu sekali apalagi dari surau di kejauhan terdengar lantunan merdu Ar -Rahman, suatu surat dalam Al-Quran yang isinya mengenai berbagai nikmat yang Allah telah karuniakan, hati rasanya basah sekali.

15726975_10154942799954623_4191748355330808297_n
Rumah Pohon Abdul

Masakan yang disajikan beraneka ragam, ada western, chinese dan lokal, harganya pun tidak terlalu mahal untuk ukuran cafe dengan kelas seperti itu. Chicken steak yang saya pesan hanya 28 ribu sementara cap cay semangkok besar hanya 22 ribu, banana split hanya 25 ribu, cukup terjangkau.

Setelah maghrib dilangsungkan acara perkenalan yang dibuka dengan sambutan oleh suami saya yang menjabat sebagai ketuplak (ketua pelaksana), dilanjutkan dengan sambutan Om Aan sebagai penasihat dan Om Goz sebagai RC. Acara semakin seru dengan perkenalan para anggota lainnya. Suami saya pun tersenyum makin lebar karena mendapat “wings” artinya sih katanya kalau dapet wings keanggotaanya lebih prestisius atau apalah, pokoknya naik kelas.

15747772_10154942800164623_5003837891701598986_n
Inisiasi dan perkenalan
15698125_10154942800019623_2613044189131381603_n
Yang dapet wings happy bener

Akhirnya setelah isya kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Sempet bingung nyari laundry karena setelah puter-puter kok ya ga ketemu, akhirnya kami minta tolong titip ke satpam hotel untuk dicarikan laundry kiloan. Ada insiden setelah itu, entah karena kecapekan atau salah makan, si sulung baby G malamnya muntah-muntah sampai dua kali, sampai saya panik, baby G sampai menolak minum susu karena mual dan sepanjang malam tidurnya gelisah, kesian banget.

DAY 6

Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, hari ini kami memutuskan berangkat lebih pagi, pukul 07.30 dari hotel agar destinasi yang sudah dijadwalkan bisa dikunjungi semuanya. Baby G yang masih punya masalah perut malam sebelumnya pun kembali muntah setelah makan nasi 2 suap dan menolak semua makanan yang disodorkan, padahal biasanya makannya banyak, akhirnya pelan-pelan saya suapi roti sambil menemani dia bermain di area playground agar perhatiannya teralihkan. Kontras dengan sang kakak, baby B si penggemar pedas malah lahap banget makannya, padahal biasanya dia susah makan.

Destinasi pertama kami adalah puncak lawang, suatu bukit di mana kita bisa melihat panorama danau maninjau dari ketinggian. Tadinya kita mau turun sampai ke danau maninjau, tapi karena lebih jauh dan harus melewati kelok 44 yang lumayan curam, akhirnya kami memutuskan untuk berpuas diri dengan puncak lawang saja.

Untuk menuju puncak lawang jalannya pun berbelok-belok melintasi bukit dengan banyak kelokan tajam, di kanan kiri banyak penjual jeruk segar, makin ke atas udara makin dingin dengan pemandangan yang spektakuler hingga kami sampai di puncak lawang. Sebelum mendaki view point, kedua baby minta dibelikan air tebu yang banyak dijual di kios-kios dekat situ, air tebunya benar-benar segar dan manis karena dari tebu asli, apalagi ditambah potongan es batu dan perasan jeruk limau.

15781211_10154942790544623_5540974448956376605_n
Nenek penjual es tebu
15823351_10154962877484623_1652862887034657483_n
Lawang Park

Saat mencapai view point mulut hanya bisa berucap ” subhanallah ” sungguh indah ciptaan Allah, danau maninjau yang dilatari pegunungan, menghampar biru indah, sesekali awan berarak melintas, suatu pemandangan negeri di atas awan. Lagi-lagi hati rasanya basah, apalagi saat saya memandang ke bawah di mana saya memperkirakan kediaman buya hamka di tepi danau maninjau, buya hamka sang pahlawan dan ulama yang hebat asal ranah minang.

15823530_10154962877284623_4668206563892994291_n
Danau Maninjau
15780982_10154942790784623_6422376661293352905_n
Puncak Lawang

Hari ini kebetulan bertepatan dengan ulang tahun istri Om Zul, sehingga sang om mengadakan acara tiup lilin dengan kue untuk sang istri dan mentraktir kami semua di cafe kecil yang terletak di puncak lawang tersebut.

Setelah itu kami kembali masuk ke mobil untuk menuju air terjun lembah anai yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari puncak lawang. Sebelumnya kami semua berfoto dulu dengan latar belakang tulisan “puncak lawang” yang terpahat di bukit.

15781089_10154942790804623_3506729558984793690_n
Puncak Lawang

Mendekati lembah anai kami bermaksud mencicipi kuliner terkenal sate padang di Mak Syukur yang katanya paling enak, sayangnya tepat jam 12.00 siang saat kami ke sana di parkiran sudah ada plang yang tertulis “maaf sate sudah habis”, setelah bertanya ke pelayan kami diinfo bahwa sate baru ready lagi jam 3 sore, lah masa iya late lunch lagi ? akhirnya kami menutuskan makan saja di sate saiyo di sebelahnya. Rasanya cukup enak, dan menurut om DK sih yang agak beda cuma di bumbu kuahnya saja (kalau di mak Syukur lebih berasa), dagingnya sih 11-12 lah. Sate saiyo hanya menyajikan menu sate padang saja, tidak ada yang lainnya, harganya 25 ribu/porsi. Untuk makan siang, suami membelikan nasi padang di warung seberang, tapi tetap aja anak-anak terutama Baby G susah makan karena nasinya “pera'”.

15727114_10154938427659623_5271864712828755896_n
Sate padang RM Saiyo

Menuju lembah anai kemacetan mulai terjadi, penyebabnya ya tentu air terjun lembah anai. Air terjun ini letaknya pas banget di sisi jalan raya, jadi mobil-mobil penuh mengular parkir dan bikin macet. Air terjunnya pun ramai sekali dengan pengunjung sehingga membuat kami memutuskan untuk melihat saja tanpa turun. Sebagai daerah yang kebanyakan dipenuhi lembah, wisata air terjun di sumatera barat ini menyenangkan, karena tidak perlu naik turun ratusan tangga seperti di tempat lainnya (misal saja di pulau jawa). Di kiri jalan banyak kolam renang umum yang mata airnya berasal dari air terjun. Monyet-monyet pun masih bebas berkeliaran ditepi jalan tanpa takut pada mobil yang melintas.

15726248_10154942775579623_7856708587769855122_n
Air terjun lembah anai

Dari air terjun lembah anai kami menuju ke malibo anai yang katanya wisata kolam renang besar, tapi begitu sampai kami malah diarahkan petugas ke arah satunya yaitu puncak anai yang katanya dari situ kita bisa melihat kota padang. Tapi boro-boro terlihat, puncak anai menurut saya nggak ada apa-apa, cuma ada kolam dengan air mancur buatan. Tidak butuh waktu lama akhirnya kami semua memutuskan kembali ke mobil dan wisata oleh-oleh saja di Sanjay Nitta yang direkomendasikan Tante Wilda.

15822997_10154945009134623_1602178533349541760_n
Puncak Anai di kawasan Malibo Anai

Btw, saya sempet bingung kenapa setiap toko oleh-oleh penganan selalu diawali dengan kata “sanjay”, ternyata usut punya usut “sanjay” itu merupakan produk kerupuk/keripik berbahan dasar ubi kayu (singkong) yang merupakan icon kuliner ranah minang, keripik balado yang tersohor itu termasuk dalam golongan sanjay.

Sanjay balado ukuran sedang di Nitta dihargai 18 ribu/bungkus, sementara yang besar 45 ribu/bungkus. Selain memborong sanjay balado, saya pun membeli rendang kemasan, rendang telur dan beberapa penganan ala minang lainnya untuk oleh-oleh. Rendangnya hanya seberat 200 g seharga 55 ribu/boks, dan rasanya luar biasa enak (setelah saya cicip di jakarta). Pulang dari sanjay nitta, kami mampir sebentar di KFC untuk membelikan anak-anak makan dan ternyata walau franchise KFC, nasi yang digunakan di sini juga berjenis “pera'”, sepertinya memang selera minang asli berasnya seperti ini ya.

foto-kerupuk-sanjai-nitta-bukittinggi-sumbar
Tumpukan keripik di Sanjay Nitta (sumber : topvisit.net)

Selepas maghrib anak-anak sudah terlelap karena kecapekan, suami saya dan om-om lainnya malah kumpul di kolam renang sambil ngobrol-ngibril. Berhubung perut sudah kelaparan saya pun menyusul (sementara mama mertua memilih tidur menemani cucunya), eh ternyata mereka baru mau mulai pesta durian. Karena dilarang oleh sekuriti untuk membawa durian ke dalam hotel, akhirnya mereka makan di depan pos satpam. Tante Wilda sudah berbaik hati membawakan durian lengkap dengan ketannya, sementara saya? memilih mengungsi duduk dekat mobil kayak anak ilang.

15823064_10154945014514623_7879093305260059264_n
Ketan duren

Puas makan durian, saya dan suami beserta Om Iam berjalan kaki ke deretan tenda kuliner di depan jembatan limpapeh. Om Iam sih merekomendasikan martabak kubang yang penjualnya sepertinya masih keturunan arab, harganya 22 ribu/porsi dengan telor bebek, rasanya tawar (kurang garam) tapi enak terutama setelah dicocol kuahnya. Setelah itu saya mencoba pula es tebak, sejenis es campur dengan cendol, agar-agar dan roti tawar, cuma 8 ribu/gelas besar.

15541484_10154942800449623_307595940207697563_n
Es Tebak
15726299_10154942800434623_2966975611406765921_n
Martabak Kubang

Kami pun berjalan kaki sejenak ke jam gadang yang hanya butuh 10 menit berjalan kaki. Setelah berfoto-foto sebentar, kami berjalan pulang dan mampir di salah satu minimarket. Btw, di ranah minang tidak aka dijumpai chain store seperti Indomart atau Alfa Mart, karena memang dilarang oleh Pemerintah setempat untuk melindungi para pedagang, hebat yah.

15780662_10154942800799623_7306104240393148456_n
Jam Gadang

DAY 7

Hari ini kami dijadwalkan berkunjung ke istana baso pagaruyung yang terletak di kabupaten tanah datar, sekitar 2 jam perjalanan dari bukittinggi.

Nah ceritanya si bungsu (baby B) sekarang punya trik baru, kalau bosan di mobil dia bakal mengeluh sakit perut, bilangnya mau pup (padahal masih pakai popok), sampai setelah tidak enak hati karena terpaksa dua kali minta berhenti kepada seluruh anggota rombongan (giliran turun baby B bilang ga jadi terus nggak mau masuk mobil lagi), akhirnya saya dan suami nyuekin teriakan Baby B tersebut.

Istana Pagaruyung mirip seperti anjungan Sumatera Barat di TMII, tapi tentunya lebih besar dan lebih megah, terdiri atas 3 tingkat yang semuanya bisa dimasuki. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil renovasi setelah sebelumnya pernah terbakar habis. Untuk masuk ke istana dikenakan biaya 8 ribu/orang.

Istana pagaruyung memiliki pelataran luas yang bertingkat-tingkat, di pelataran tersebut banyak badut-badut lucu yang beberapa di antaranya berkostum minang, yang memang tujuannya untuk menarik hati anak-anak. Jangan lupa siapkan tips seikhlasnya kalau mau foto bersama ya.

15895218_10154962902044623_6091384852793405101_n
Istana Baso Pagaruyung

15740913_10154942775554623_482670860502227537_n

Yang paling menarik adalah adanya fasilitas penyewaan baju adat dengan tarif 35 K untuk dewasa dan 30 K untuk anak. Bajunya banyak sekali dengan aneka ukuran, warna dan motif. Saya tentu tertarik dengan warna merah, warna khas minang yang menyala, tapi baby G si pink lovers tentu langsung pilih pink dong, jadinya kita semua ikut. Mama mertua yang tadinya ragu mau pakai atau tidak akhirnya ikutan juga tapi memilih warna hitam.

15726647_10154942769464623_551326467214267759_n
Dengan baju adat

Untuk masuk ke istana kita harus melepas alas kaki dan dititipkan kepada penjaga. Lantai satu merupakan balairung luas yang luar biasa cantik dengan ornamen hiasan emas dan kain-kain cerah berwarna mencolok. Berbeda dengan budaya tanah kelahiran saya (jawa tengah) yang menyukai warna gelap dan kalem, ranah minang memang menyukai warna-warna cerah. Lantai satu tersebut merupakan tempat singgasana raja dan tempat raja menerima tamu. Ada koleksi bantal-bantal duduk, teko – gelas, senjata dan lain-lain.

15781709_10154942769854623_7646852797485137047_n
Lantai satu istana pagaruyung
15740817_10154942770954623_4128264542235224409_n
Lantai satu istana pagaruyung

Kami naik ke lantai dua melalui suatu tangga kayu yang sempit dan curam, agak sedikit sulit karena kami masih memakai baju adat yang disewa tadi. Lantai dua ini lebih kecil ukurannya dibanding lantai satu, dinamakan bangsal paranginan, dahulu kala merupakan tempat tinggal para putri yang masih belum menikah. Lantai tiga merupakan yang terkecil dari semuanya dan dinamakan mahligai, tempat menaruh benda pusaka atau peti harta karun kerajaan.

15697533_10154942770044623_7062779984992289139_n
Di ruang mahligai

Sebenarnya di belakang bangunan utama istana masih ada beberapa bangunan lainnya yang lebih kecil, namun kami sudah puas dengan istana utama dan juga sudah gerah pula dengan baju adat yang kami pakai, sampai bajunya basah.

Kami makan siang di pondok flora yang di plang-nya tertulis “spesial ikan bakar” tapi lagi-lagi makanan tersaji secara “hidang” seperti biasanya, haha. Setelah makan siang kami menuju ke salah satu panti asuhan di daerah bukittinggi untuk acara bakti sosial.

15781414_10154942801314623_7530357890347203826_n
Salah satu program touring : baksos

Selepas itu acara dijadwalkan bebas, saya yang masih penasaran dengan ngarai sianok dengan lobang jepang-nya (walau sudah dibilangin tante wilda kalau ngarai sianok kan sudah dilihat waktu ke rumah pohon abdul kemarin) tetap kekeuh mengajak suami ke sana. Ternyata om Goz, Om Yes dan Om Iam juga ikut bergabung.

Kami parkir di taman panorama di mana kami dapat melihat panorama ngarai sianok dari ketinggian, tarif masuknya 15 ribu/orang. Walaupun indah, tapi menurut saya lembah harau lebih mengagumkan karena lebih sepi dan alami.

15781520_10154942800834623_4297443881464096412_n
Taman Panorama
15822663_10154962905299623_6861407257154916459_n
Ngarai Sianok

Selepas itu kami menuju lobang jepang, gua hasil kerja paksa zaman penjajahan jepang yang digunakan sebagai bunker saat perang, kabarnya juga dulu sempat digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan, okeeeeehhh. Sebelum masuk suami saya memotret peta lobang jepang tersebut agar tidak tersesat dan bisa keluar dari pintu samping yang terletak di sisi lain tebing. Untuk masuk ke lobang jepang dari pintu utama, kita harus menuruni ratusan anak tangga yang cukup curam, nah kalau nggak tahu jalan keluar lewat pintu samping, terpaksa kita harus mendaki kembali ratusan anak tangga kejam ini, ogah bener. Suasana di dalam gelap walau sudah ada beberapa pencahayaan, tapi suasana spooky masih agak terasa. Kami tidak mau berlama-lama di situ dan segera keluar, untuk kembali ke mobil suami saya menumpang ojek. Sebenarnya kami berminat sekali untuk mengunjungi “janjang koto gadang” miniatur great wall ala china yang terletak di ngarai sianok juga, tapi demi melihat medannya yang mesti agak jauh berjalan, kami membatalkan kunjungan tersebut dan langsung kembali ke hotel saja.

15740983_10154942800914623_9079392963498509513_n
Pintu masuk utama
15781444_10154942801209623_4768856380596662524_n
Di dalam Lobang Jepang

Karena masih sore, anak-anak minta berenang di hotel, saya kabulkan dengan janji harus mau makan. Di hotel kami bertemu dengan om DK yang mau belanja oleh-oleh ke Pasar Ateh, menurut dia sanjay merk Singgalang yang dijual di sana rasanya mirip Christine Hakim, jadilah kami nitip 5 bungkus. Dengan baik hatinya, Tante Wilda kembali menghadiahi kami roti durian, roti bantal dengan isi selai durian asli yang enak sekali, sayang masa expired-nya cepat jadi nggak bisa buat oleh-oleh.

15781790_10154942832729623_2530782934472620727_n
Roti isi selai durian

Selepas maghrib kami kembali berjalan ke jam gadang karena anak-anak nagih janji naik bendi yang kebanyakan mangkal di depan jam gadang. Sebelum itu kami kembali melalui rute depan jembatan limpapeh karena malam sebelumnya saya melihat warung tenda masakan khas jawa. Pemiliknya memang keturunan jawa walau logat dan cara bicaranya sudah minang sekali, mungkin sudah generasi kedua ya, sambalnya pedas manis khas jawa, tapi tumis kangkungnya sih pedas dan berwarna merah, mirip masakan minang.

Di depan jam gadang, suami dan kedua anak naik bendi dengan tarif 75 K, sementara saya dan mama mertua memilih duduk-duduk di taman jam gadang. Lebih dari setengah jam durasi naik bendi, ternyata menurut suami saya jalannya cukup jauh, bahkan sampai melewati taman panorama lagi. Taman jam gadang malam itu sangatlah ramai, jam gadang ini merupakan semacam alun-alun dan pusat keramaian , tante wilda juga mewanti-wanti untuk sedikit berhati-hati karena kadang ada tangan jahil berkeliaran. Di depan jam gadang berdiri sebuah mal kecil bernama mal bukittinggi.

15781008_10154945001379623_3490978434070639311_n
Naik bendi
15781618_10154945001179623_5267356287169345806_n
Jam Gadang

Kami berjalan kembali ke hotel dan setelah mengantar anak-anak ke kamar, saya dan suami larut dalam kesibukan mengepak barang dalam koper dan langsung memasukkannya ke dalam mobil agar besok pagi tinggal turun tanpa bawa-bawa barang lagi. Walaupun saya agak sedih karena saya bahkan tidak bisa mengunjungi rumah Bung Hatta yang terletak persis di dekat jam gadang, mencicipi nasi kapau uni Lies di Pasar Ateh ataupun mengunjungi rumah Tan Malaka dan Buya Hamka, namun keseluruhan tour bukittinggi ini menyenangkan bagi saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sekilas mengenai kuliner asli minang, ternyata nasi padang dan lauk pauknya yang asli agak berbeda dengan yang biasa kita santap sehari-hari. Yang asli lebih banyak bumbu, rasanya dominan pedas dan asin serta lebih kering, jarang yang berkuah seperti nasi padang di pulau jawa. Selain itu beras yang digunakan di sini sangat makpyur atau pera’ , bahkan lebih pera’ dibanding beras yang biasa ada di warteg atau pecel lele tenda di pulau jawa. Menurut orang asli sana, memang favorit mereka adalah beras solok yang jenisnya seperti itu, yah lain padang lain belalang. Untuk mengatasi panas dalam setiap sebelum tidur saya rajin mengkonsumsi minuman penurun panas dalam, bisa kacau kalau sampai jatuh sakit.

Posted in Bukittinggi, Jambi, Lampung, Muara Bungo, Padang, Palembang, Solok, South Sumatera, West Sumatera

Mudik Besamoh (Day 1 – 4)

Sekitar awal oktober 2016 lalu, suami saya yang lagi getol-getolnya aktif dalam komunitas barunya (suatu klub mobil keluaran amerika) menginformasikan bahwa akhir tahun ada rencana touring ke pulau sumatera dengan tujuan utamanya bukittinggi dan palembang. Saya yang dari dulu memang kepingin banget mengunjungi sumatera barat tentunya langsung mengiyakan, kapan lagi berani ambil jalur darat lintas sumatera kalau nggak ada temennya. Perjalanan panjang yang mengusung tagline “mudik besamoh” ini  berdurasi total 10 hari mulai dari 24 desember – 02 januari, dengan rute merak – bakauheni (lampung) – palembang (sumsel) – muara bungo (jambi) – padang & bukittinggi (sumbar) PP. Sempet agak tidak percaya diri (apakah saya sanggup ya?) setelah membaca itinerary padat terutama durasi perjalanan daratnya yang memakan waktu 10 -11 jam, maklum saya membawa dua balita, untungnya mama mertua saya bersedia ikut sehingga saya lebih tenang. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari dengan cermat, terutama urusan baju, perbekalan dan obat-obatan.

Day 1

Tikum (titik kumpul) dijadwalkan pukul 20.00 WIB di KM 42 Tol Merak. Kami berangkat lepas maghrib dari kediaman kami di kawasan cibubur, mungkin karena sudah mau libur (malam natal red), kondisi jalan tol terbilang lancar untuk ukuran jam pulang kantor yang biasanya macet nggak karuan. Hanya butuh waktu dua jam, pukul 20.00 lewat kami sudah sampai di tikum. Di tikum sudah ada beberapa anggota touring yang datang, kami pun berkenalan dengan anggota yang lainnya, total ada 7 mobil yang bergabung dalam touring kali ini. Touring dipimpin oleh seorang RC (Road Captain) yang tugasnya membuka jalan dan memimpin konvoi, diikuti oleh mobil lainnya yang diberi kode C (Charlie) dan ditutup oleh Sweeper yang bertugas mengawal. Mobil kami mendapat kode C2, setiap mobil harus dilengkapi dengan HT untuk keperluan komunikasi, bahkan beberapa anggota yang lebih senior sudah melengkapi mobilnya dengan “RIG” yang jangkauannya lebih luas dibanding HT.

Suami saya adalah yang termuda, baik dari segi umur maupun dari segi masuk klub (haha) tapi saya baru ngeh saat di jalan kalau kali ini dia sudah didapuk jadi ketuplak (ketua pelaksana), pantesan dari kemarin sibuk bener. RC dijabat oleh Om Gos, C1 oleh Om Yes, C2 oleh kami (suami saya disebut om Rob), C3 oleh Om Aan, C4 oleh Om Oke, C5 oleh Om DK dan Sweeper oleh Om Iam, jangan heran ya dengan sebutan om, di sini semuanya memang dipanggil om sementara para istrinya disebut tante. Selain keluarga kami, ternyata keluarga Om DK dan Om Iam juga membawa balita yang kira-kira seumuran.

Rest Area KM 42 menyediakan loket yang menjual tiket penyebrangan merak – bakauheni, harganya Rp. 320.000,- untuk kendaraan roda empat, sementara penumpangnya tidak dihitung. Menurut Om Yes lebih baik kami membeli tiket di sini saja sebab nanti di Merak ada jalur khusus untuk yang sudah membeli tiket di KM 42, jadi kami tidak harus antri dengan mobil yang lainnya, toh harganya juga sama.

Kami baru berangkat dari tikum pukul 22.00 dan langsung menuju pelabuhan merak untuk menyebrang ke bakauhaeni. Karena sudah musim libur, antrian naik ke kapal cukup ramai, hingga rombongan kami terpaksa pisah kapal, Om Aan naik pertama, 5 lainnya naik kapal kedua (termasuk kami), sementara Om Oke malah ketinggalan dan harus naik kapal berikut. Interval kapal satu dengan yang lainnya hanya sekitar 20 menit. Jam 24.00 kami naik ke kapal. Sesuai saran petugas kapal, kami yang membawa dua balita ini pergi ke ruang AC lesehan, tarif masuknya Rp. 14.000,-/orang (balita belum bayar). Ruangan penuh sesak dengan penumpang sehingga AC-nya boro-boro terasa, kedua balita saya pun gelisah apalagi goncangan ombak lumayan kencang sampai Baby B (yang kecil) nangis dan akhirnya saya terpaksa keluar ke dek. Angin sangat kencang di luar tapi goncangan tidak begitu terasa seperti di dalam, mungkin karena kita bisa melihat pemandangan di luar, baby B pun memilih di luar dan saya tutupi selimut hingga jatuh tertidur. Setelah 3 jam kapal pun merapat di Bakauheni dan kami pun kembali ke mobil.

Sambil menunggu kapal Om Oke kami lineup di dekat menara siger, sayangnya pencahayaan menaranya kurang sehingga saya nggak bisa mengambil foto icon lampung tersebut. Setelah Om Oke datang kami menuju ke suatu rest area luas dengan pom bensin, rumah makan simpang raya dan hotel krakatau di dalamnya, kami beristirahat singkat di dalam mobil sebelum melanjutkan perjalanan.

e17933cb4f4ee5aaf537b15d7bedfff5
menara siger (sumber : pinterest.com)

DAY 2

Tepat pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil rute lintas timur, menurut google map diperkirakan waktu tempu sekitar 10 – 11 jam. Kami agak kesulitan mencari restoran untuk makan pagi karena rata-rata belum buka, akhirnya kami berhenti di salah satu restoran padang yang masakannya sangat standar dengan rasa yang tidak usah dibahas, yang penting udah makan. Total harga yang dibayar hanya Rp. 40.000,- untuk 3 porsi nasi dan 2 ayam goreng, standar lah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga melewati Taman Nasional Way Kambas yang terkenal dengan Gajah Lampung-nya dan juga melewati entah berapa ribuan hektar perkebunan tebu milik Gulaku yang sangat indah bagaikan bukit teletubbies. Lintas timur Sumatera ini tak ubahnya Pantura, penuh dengan truk-truk segede gaban, dan diperparah dengan kondisi jalan yang berlubang-lubang parah di beberapa tempat.

Asiknya touring adalah kita ga usah sering-sering buka google maps atau waze, arahnya sudah dibuka oleh sang RC. Selain itu juga ada koordinasi apabila kita mau menyalip kendaraan di depan kita. Nah, berhubung suami saya newcomer, jadi peralatan ht yang dibawa standar (banget), yang baru setengah hari udah habis baterainya juga tidak dilengkapi mikrofon, sehingga agak menyulitkan. Untungnya om-om yang lain berbaik hati, ada yang minjemin charger selama di mobil juga mikrofon.

Kami saja baru bisa late lunch (jam 15.00-an) di RM Pagi Sore, rumah makan ini banyak cabangnya, bahkan di jakarta juga ada. Walau menyajikan masakan padang tapi rasanya sudah agak “campur” dengan jawa melayu, soalnya restoran padang ini asalnya dari sumsel. Untuk 3 dewasa 2 balita harga yang dibayarkan sekitar 200 – 250 ribuan. Wajarlah karena konsep rumah makannya seperti sederhana atau simpang raya.

Kami baru tiba di Fave Hotel Palembang sekitar pukul 21.30 -an. Urusan booking hotel dan check in hotel di Palembang menjadi tugas suami saya, karena Fave Hotel Palembang merupakan proyek suami saya 2014 silam, lumayan dikasih diskon sama General managernya.

Kamar yang kami tempati bertipe superior (baru kali ini, biasanya saya pakai yang standar) dengan tambahan extra bed, sudah termasuk breakfast. Karena sudah didiskon jadi kami hanya membayar 585 ribu saja. Kamarnya luas dan ada ruangan kecil untuk gudang juga.

Karena sudah tepar dan juga kurang tidur, kami semua langsung terlelap tidak lama setelah masuk ke kamar.

y928828011
Fave Hotel Palembang (sumber :pegipegi.com)

DAY 3

Hari ketiga ini kami harus berangkat pagi-pagi sekali (pukul 06.30 dari hotel) karena perjalanan palembang – muara bungo bahkan lebih jauh lagi, menurut google maps sekitar 11 jam 45 menit. Suami saya sudah berkoordinasi ke pihak hotel agar sarapan bisa disiapkan lebih awal, pukul 05.30 buffet (nasi dan lauk pauk) dan aneka roti sudah tersaji walau menu lain yang tambahan seperti mie ayam atau lontong sayur belum lengkap. Setelah sarapan di hotel kami berangkat ke Muara Bungo. Kondisi jalan di Sumatera Selatan luar kota Palembang bahkan lebih parah lagi dibandingkan saat kami berangkat kemarin. Jalanan penuh lubang dalam, apalagi dengan deretan truk-truk tronton yang tidak putus-putus, sekali ada lubang antrian bisa panjang.

Lagi-lagi kami late lunch di suatu rumah makan padang yang harganya amit-amit, masa cuma makan 3 porsi pake ikan lele dan ayam harganya sampe 180 ribu-an, mentang-mentang plat kami B (Jakarta) ini sih, mana rasanya juga random pula. Jalan masih rusak hingga perbatasan Sumsel dan Jambi, tapi alhamdulillah truk-truk kebanyakan menuju Jambi, sementara kami mengambil jalan pintas ke arah Muara Bulian. Jalanan relatif sepi dan walau di beberapa tempat berlubang tapi begitu masuk Muara Bulian sudah mulus. Kami melintasi jalan yang berbatasan langsung dengan sungai batanghari yang seakan tidak ada putus-putusnya. Belajar dari pengalaman kemarin, tadi siang kami sudah bungkus makanan untuk anak-anak, kalau yang dewasa mah gampanglah makan telat juga. Saya sih sudah pasrah kalau malam ini kayaknya saya lebih memilih nggak makan malam (mending tidur saking udah capeknya), eh ternyata pas lagi berhenti di salah satu SPBU ada gerobak sate padang, walau dagingnya pakai ayam tapi rasanya enak banget, harganya juga cuma 10 ribu sudah termasuk lontong . Karena dex atau dexlite termasuk langka, maka terpaksa kami mengisi bahan bakar dengan bio solar.

Hampir pukul 11 malam barulah kami sampai di Hotel Permata di kota Muara Bungo. Tenyata memang perjalanan jauh lebih panjang dari hari sebelumnya.

DAY 4

Karena sudah diforsir perjalanan jauh 2 hari sebelumnya, hari ini kami berangkat agak siang, jarak muara bungo – padang hanya sekitar 6 jam. Hotel Permata yang kami tempati ini hanyalah hotel biasa dengan AC dan TV saja, tidak ada fasilitas lainnya bahkan sarapan pun juga tidak disediakan.

15726842_10154942814504623_7771004507819863459_n
Hotel Permata – Muara Bungo

Pukul 08.00 kami keluar dari hotel dan mampir sebentar di warung makan kecil dekat hotel untuk sarapan pagi, masakannya khas padang, nasi uduk dan lontong sayur yang rasanya pedes-pedes enak, harganya juga cuma 8 ribu/porsi. Setelah kenyang kami berangkat. Muara Bungo ternyata kota yang cukup besar dengan jalan-jalan yang lebar dan tertata rapi, bahkan ada lapangan udaranya juga .

15697301_10154930388044623_7960340279277830175_n
Lontong sayur ala padang

Kami melewati rute Sawah Lunto dan Solok untuk menuju ke Padang. Memasuki wilayah Sumatera barat jalan mulai berliku-liku naik turun dengan kelokan tajam, untungnya sangat mulus. Di kanan-kiri bangunan-bangunan bergaya gadang berjajar, mulai dari rumah hingga gedung perkantoran.

Di Sawah Lunto, para anggota rombongan yang pada hobi banget sama si buah berduri memutuskan berhenti dulu untuk icip-icip durian. Harganya murah banget pula, cuma sekitar 10 – 20 ribu, suami saya memilih durian ukuran agak besar yang cuma 17 ribu (kalau di jakarta mungkin 60 ribuan) dan hampir semuanya dimakan sendiri (secara saya mah ogah banget sama durian, anak-anak juga, sementara mama mertua takut kolesterol jadi cuma berani cicip 1 -2 butir saja).

15672755_10154942814564623_1339845111287360004_n
Duren..duren cuma 10 ribu aja

Setelah itu karena sudah kelaparan kami berhenti di deretan rumah makan yang kebanyakan menjual sop daging dan soto padang (walaupun om Oke yang asli Solok menyarankan makan di Solok saja karena ada rekomendasi kuliner enak). Soto padang itu isinya bihun dan potongan dendeng kering yang dipotong kecil-kecil disajikan lengkap dengan kerupuk merah padang, porsinya kecil seperti soto kudus, mungkin karena masakan restorannya yang kurang enak, saya menganggap soto padang biasa saja. Di restoran suami saya dengan om-om yang lainnya kembali berdiskusi soal destinasi di padang, menurut iten rencana harusnya mampir di pantai muaro padang, tapi beberapa anggota rombongan termasuk suami berpendapat lebih baik ke Pantai Air Manis saja yang terkenal dengan Legenda Malin Kundang, toh hanya setengah jam dari kota Padang, akhirnya semua setuju.

soto-padang
Soto padang

Setelah itu kami berhenti sebentar di tugu patung ayam kota Arosuka sambil menunggu Om DK yang isi bensin. Ternyata di sekitar situ sedang ada rombongan pengantin lengkap dengan pemain musiknya yang memainkan musik ala sumatera barat, seru banget bisa melihat iring-iringan yang seperti ini. Tidak jauh dari patung ayam ada restoran “Kayu Aro” yang sangat direkomendasikan oleh Om Oke dan sangat terkenal dengan kuliner khas Solok “dendeng batokok”.  Kami hanya mampir untuk pinjem toilet di restoran tersebut, tanpa disangka Om Oke dengan baik hatinya memberi masing-masing dari anggota rombongan bungkusan dendeng batokok.

12507367_742186895917243_2511814798417314209_n_zpswpwfyy7v
Tugu Ayam Arosuka (sumber:cityskycraper.com)
15697773_10154942775739623_7306767659802463878_n
Pengantin Padang
15726714_10154942775664623_1660315424633728751_n
Rombongan Pemain Musik
15781374_10154952356144623_9189243507033719040_n
Dendeng Batokok ala Solok

Tidak lama kami tiba di kota Padang yang tidak ubahnya seperti Jakarta, macet dan padat. Selepas itu kami harus melewati sebuah bukit dulu, di beberapa titik kelokan sangat tajam dan berbahaya, bahkan harus gantian dengan jalur lainnya terutama untuk truk-truk tronton. Setelah itu dengan dipandu Om Oke kami melewati jalan pintas yang ternyata sempit banget seperti gang-gang. Jalanan menuju Pantai Air Manis pun kembali melewati bukit kecil lagi dengan jalan yang hanya mepet kalau berpapasan.

Untuk menuju batu si malin kundang, masuklah lewat gerbang kedua yang terletak sekitar 400 m dari gerbang pertama. Tarif masuknya 5 ribu/orang. Di pantai air manis sudah menunggu Om Zul yang asli padang dan akan bergabung dengan kami hingga ke Bukittinggi.

Saya agak kecewa melihat penampakan pantai air manis yang kotor dengan timbunan sampah, pasirnya berwarna hitam dan sudah tergerus, jadi nggak ada perkara main pasir bagi anak-anak. Batu si malin kundang terletak sekitar 25 m-an dari pantai dengan ornamen seperti sisa-sisa kapal dan tambang seperti dalam kisah legenda, di legenda diceritakan malin yang baru mengadakan pesta di kapal layar dikutuk oleh ibunya karena durhaka. Saya sampai bertanya pada Om Oke apa sudah seperti ini sejak dahulu, tapi menurut Om Oke ornamen kapalnya mah buatan, batu si malin kundang pun sudah sedikit ditambahkan sehingga berbentuk mirip orang bersimpuh, aslinya gak sejelas itu.

15740928_10154942809209623_3635549183762292647_n
Batu si malin kundang
15726916_10154942809569623_5391858665117436130_n
Pantai Air Manis

Setelah hari gelap, kami kembali meneruskan perjalanan ke Bukit tinggi, menembus lagi kemacetan kota padang. Kami pun melewati pantai muaro padang yang ramai dengan tenda-tenda kuliner dan juga toko oleh-oleh Christine Hakim yang terkenal dan digadang-gadang sebagai merk keripik sanjay terenak di sumatera barat. Tadinya saya pikir pemiliknya Christine Hakim yang artis itu, ternyata hanya namanya saja yang sama, Christine Hakim yang ini keturunan Tionghoa Padang.

Rute menuju Bukittinggi dari Padang melewati Air terjun lembah Anai yang posisinya persis di pinggir jalan, sampai saya kaget demi melihat suara grojogan air terjun yang sangat deras persis di luar kaca jendela mobil saya. Di bukit tinggi kami menginap di Grand Rocky Hotel yang sudah diatur oleh Tante Wilda, anggota rombongan asli Bukit tinggi yang sudah menunggu di hotel. Sudah larut malam kami tiba, hampir pukul 23.00, maka bisa ditebak begitu masuk kamar bawaannya pingin tidur, tapi sang suami yang kelaparan memutuskan beli makanan dulu ke luar, untunglah masih ada warung pecel lele yang buka.