Posted in Ho Chi Minh City, Vietnam

Duet Maut Go to Vietnam : Mui Ne (Day 3-5)

Hari ini kami akan menempuh perjalanan menuju Mui Ne, sebuah kota dan perkampungan nelayan di pesisir pantai, sekitar 5 jam perjalanan dari kota HCMC. Walaupun terletak di pinggir pantai, Mui Ne ini justru terkenal karena sand dunes-nya.

Setelah brekkie dan check out dari kim khoi, kami berjalan menuju kantor Sinh Cafe untuk check in . Di sinh cafe kami kembali bertemu si opah korea yang akan jalan-jalan ke destinasi lain, dan juga rombongan cowok-cowok HK yang ternyata akan satu bus ke Mui Ne. Kali ini bus yang kami naiki bertipe sleeper bus, sejujurnya ini pertama kali kami naik sleeper bus jadi tidak punya bayangan sama sekali, jadi waktu beli tiket dua hari yang lalu di mana hanya tersisa tempat di lantai satu paling belakang, kami mengiyakan saja. Dalam bayangan kami, sleeper bus yang terdiri dari dua tingkat itu lega dan nyaman, layaknya bus tingkat model double decker.

Maka…alangkah terkejutnya saat masuk ke dalam bus, ternyata sempit banget, untuk berjalan di lorongnya saja sulit, tas yang kami gembol kadang tersangkut. Isi dalam bus mirip capsule hotel, dengan langit-langit rendah sehingga mau duduk saja sulit, apalagi kalau dapetnya di bagian belakang seperti kami.  Sensasi-nya ya agak klaustrofobik, tau gitu kemarin minta di tingkat dua saja walau terpisah jauh duduknya. Jadinya selama perjalanan 5 jam itu kami cuma bisa tiduran aja sampe badan kaku. Untungnya sempat ada jeda setengah jam di salah satu rest area untuk istirahat, lumayan melemaskan punggung.

Pukul 1 siang, bus yang kami tumpangi akhirnya menepi di sinh cafe cabang Mui Ne. Tur kami selanjutnya untuk explor Mui Ne akan dimulai jam 14.30, jadi kami menyebrang jalan dan check ini dulu di Song Huong Hotel yang sudah kami booking sebelumnya. Song huong ini letaknya persis di seberang jalan dari Sinh Cafe, ownernya adalah suami bule dengan istri vietnam. Merupakan sebuah rumah besar bertingkat dua yang dirombak menjadi hotel, jadi kamar-kamarnya sederhana namun bersih dan nyaman. Kami istirahat sebentar di dalam kamar ber-AC dingin yang begitu nyaman setelah diterpa udara panas Mui Ne yang berdebu. Rasanya mata sangat mengantuk dan tergoda untuk tidur, tapi berhubung sudah pesen paket tur, maka terpaksa kami menyeret kaki kembali keluar ruangan.

IMG20170526124750
Song Huong Hotel

 

 

 

Song Huong juga memiliki restoran besar yang terletak di pinggir jalan, jadi kami sekalian makan di sana. Menunya luar biasa saking banyaknya pilihan, mulai yang standar seperti seafood atau ayam, hingga yang nggak halal seperti babi atau doogy, bahkan yang spektakuler seperti ular atau buaya, sampe bengong saya lihatnya dan enggar juga sempet mikir “piye iki ya, takutnya nggak halal karena kecampur”. Tapi dengan mengucap bismillah dan pesen ke pelayan yang syukurlah bahasa inggrisnya bagus, kami wanti-wanti dengan cerewet “please no pork, no lard” dalam bentuk apapun. Eh iya, restoran ini juga menyediakan aneka pilihan kopi vietnam yang termashyur itu loh, sebagai pengabdi kopi saya tentu tidak melewatkan coffee latte dingin-dingin maknyus yang seger banget diminum saat tengah hari bolong.

Belum lama makanan datang, sang supir jeep sudah menjemput di pintu hotel, setelah mengatakan “5 mins please” kami pun buru-buru mengunyah dan menelan. Tur di mui ne ini sudah kami booking sejak masih di HCMC, masih dari sinh tourist, tur ini adalah half day tour dengan 4 destinasi yaitu Fairy stream, fishing village, white sand dunes dan red sand dunes. Tur dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.30.

#Fairy stream

Letak fairy stream ini deket aja, cuma sekitar 5 menit naik jeep sudah sampai. Kami diberi waktu 1/2 jam oleh supir untuk mengeksplor tempat ini. Jalur masuknya hanya ditandai sebuah papan kayu sederhana bertulis “walking in water”, jalurnya pun dimulai dari bawah jembatan.

Fairy stream merupakan suatu aliran sungai dangkal berwarna kecokelatan dengan pasir tebal di dasarnya. Berjalan-jalan di sini tak ubahnya seperti main ke kali di desa. Di kanan kiri-nya ditumbuhi pohon-pohon kecil yang tak beraturan. Sekitar 5 menit berjalan, sampailah kami di area dengan dinding tebing padas putih yang membentuk motif seperti dinding gua. Berjalan terus sampailah lagi kami ke area dengan bukit-bukit pasir berwarna kemerahan. Pemandangan inilah yang cukup menarik. Kalau berjalan terus hingga ke ujung katanya akan bertemu dengan air terjun kecil, namun karena keterbatasan waktu, maklum kebanyakan selfie dan foto-foto, kami memilih kembali ke parkiran jeep.

#Fishing Village

Setelah naik kembali, kami dibawa menuju ke daerah pantai di mana terdapat fishing village. Terjawab sudah pertanyaan kenapa mui ne ini lebih terkenal sand dunes-nya, walaupun merupakan kota pantai, namun pantai yang ada merupakan pantai nelayan, bukan pantai wisata yang indah pemandangannya ataupun bagus ombaknya.

Dari atas ngarai, terlihat panorama pantai mui ne yang dipenuhi kapal-kapal nelayan ala vietnam, yang berbentuk bundar seperti baskom dan dicat dengan warna meriah. Bau anyir khas desa nelayan cukup menusuk. Jeep parkir di pinggir jalan dan kami diberi waktu 5 menit saja untuk turun dan foto-foto.

#White Sand Dunes

Destinasi selanjutnya adalah white sand dunes yang merupakan suatu gurun pasir luas yang berbukit-bukit dengan pasir putih. Perjalanan dari fishing village cukup jauh, kondisi jeep yang terbuka membuat wajah panen debu. Sayangnya karena pak supir jeep tidak begitu bisa berbahasa inggris, jadi kami tidak banyak berkomunikasi dan bertanya-tanya lebih lanjut.

Kami diturunkan di parkiran dan diberi waktu selama 1 jam. Saya langsung takjub begitu melihat perbukitan gurun pasir yang membentang begitu luasnya. Untuk menyusuri area ini, kita bisa menyewa ATV yang banyak ditawarkan oleh para penduduk lokal. Setelah eyel-eyelan nawar disertai dengan aksi walk out pura-pura karena nawarnya gak disetujui (yah iyalah masa dia buka harga 500,000 VND yang setara dengan harga tur ini), akhirnya kami sepakat di harga 200,000 VND. Seperti biasa naik ATV selalu mendebarkan karena kami harus bersusah payah mengatur keseimbangan, belum lagi risiko jatuh saat ATV bermanuver atau melewati gundukan.

IMG20170526155122
Abang ATV

ATV mengantarkan kami ke puncak salah satu bukit gurun yang ternyata anginnya sangat kencang, di sini sampai susah membuka mata, karena angin yang beterbangan membawa serta pasir yang ada, bahkan kalau buka mulut saja, pasirnya ikut masuk ke gigi.

#The Red Sand Dunes

Dari white sand dunes, kami dibawa ke red sand dunes yang kali ini pasirnya berwarna merah bata. Dibandingkan white sand dunes, red sand dunes ini jauh lebih kecil dan tidak terlalu menarik. Banyak anak-anak kecil yang menawarkan papan surfing untuk sand boarding yang kami tolak karena kami lebih memilih duduk-duduk saja.

Jeep tiba kembali di hotel sekitar pukul 17.30, setelah mengucapkan terima kasih dan memberi tips seikhlasnya kepada supir, kami rebutan ke kamar mandi karena badan dan baju sudah tebal oleh debu. Malamnya kami makan di restoran song huong lagi karena sudah malas jalan-jalan, apalagi mui ne ini bukan kota yang ramai, tidak seperti bayangan saya sebelumnya.

#Back to HCMC

Voila…hari ini adalah hari pertama puasa ramadhan, kami sahur sederhana dengan pop mie dan energen dan masih sempat tidur sebentar sebelum check out dan ke sinh cafe untuk naik bus kembali ke HCMC.

Syukurlah bus kali ini bukan sleeper bus lagi, jadi kami bisa duduk santai selonjoran apalagi kali ini bus agak kosong. Perjalanan 5 jam tersebut kami habiskan dengan tidur lagi.

#Saigon Cathedral & Post Office

Saat tengah hari, bus yang kami tumpangi sampai di HCMC, tepatnya di tempat saat kami naik dua hari yang lalu. Dari sini kami masih punya agenda keliling-keliling HCMC lagi, kami pun berjalan sekitar 2 km hingga sampailah di Saigon Cathedral yang pernah kami kunjungi di hari pertama. Tujuan utama nya adalah masuk ke Saigon post office yang berada di samping kanannya.

IMG20170527123518
Saigon cathedral

Saigon Post office merupakan bangunan tua peninggalan zaman kolonial perancis yang indah arsitekturnya, bagian dalamnya seperti gringgots di Harry Potter dengan langit-langit yang melengkung dan bilik-bilik telepon kuno yang sekarang dialih fungsikan menjadi ATM. Bagian depannya digunakan sebagai toko souvenir.

#Musulman mosque

Musulman mosque adalah masjid terbesar di HCMC, letaknya di belakang hotel Hilton, sekitar 2 km lagi dari posisi kami di saigon post office. Dengan langkah kaki yang mulai terseok-seok, ditambah lagi cuaca yang terik menyengat, membuat saya mulai kepayahan, apalagi ini merupakan hari pertama puasa ramadhan di mana tubuh masih menyesuaikan. Dalam perjalanan kami melewati saigon opera yang bangunannya juga bergaya kolonial.

IMG20170527131303
Saigon opera

Air wudhu terasa begitu sejuk dan menyegarkan di kulit setelah perjalanan tadi, setelah shalat kami memutuskan istirahat dulu sambil tidur-tiduran. Sebenarnya musulman mosque tidaklah terlalu besar, bahkan kalau di tanah air masih bisa digolongkan sebagai musholla. Di sekitarnya banyak terdapat restoran halal ala malaysia atau timur tengah.

IMG20170527131837
Musulman mosque

#Ben Thanh Market

Setelah cukup istirahat, kami kembali berjalan sekitar 1 km lagi menuju Ben Thanh Market. Ben Thanh market merupakan pasar tradisional yang menjual aneka rupa souvenir dengan harga terjangkau. Karena kemarin sudah sempat membeli t-shirt, maka kali ini kami hanya membeli penganan seperti pia durian (40,000 VND) yang sangat direkomendasikan, biji teratai  yang rasanya kayak kacang arab dan tak lupa juga kopi vietnam. Kami juga sempat membeli beberapa printilan seperti magnet, gantungan kunci dan dompet untuk oleh-oleh.

Keluar dari ben thanh market rupanya bawaan kami bertambah menjadi dua gembolan besar yang cukup membuat kami kewalahan. Kombinasi capek dan lelah membuat kami nekat naik taxi alih-alih bus 109, walaupun sudah pernah membaca banyak kasus scam berkenaan dengan taxi di HCMC. Merasa sudah agak tahu, kami memilih naik taksi Mai Linh yang katanya terkenal jujur dan direkomendasikan karena argonya benar, reputasinya seperti blue bird lah kalau di jakarta. Taksi-taksi ini banyak mangkal di pintu keluar ben thanh.

Perjalanan menuju erato boutique hotel, tempat kami akan menginap nanti malam, hanya 7 km saja. Di perjalanan, Enggar sempet bicara kalau dia was-was melihat argo yang lompat-lompat kayak kelinci, kok kayaknya kita kena scam ya ujarnya. Tapi saya pun mencoba tetap tenang karena ini taksi Mai Linh.

Kami diturunkan agak lewat sedikit dari pintu hotel dan benarlah kekhawatiran Enggar, kami kena scam, kami langsung ditodong argo 1,2 juta VND, untuk perjalanan 7 km doang, gila banget!!!!! Saya pun langsung panik mengingat kami hanya cewek berdua, bodohnya saya langsung menunjukkan semua uang yang saya punya (700,000 VND + 20 MYR) padahal Enggar yang lebih tenang sudah mewanti-wanti agar jangan dikasih liat semua. Tapi saya beneran panik, takut diapa-apain, akhirnya duit kami diambil semua, dan si supir pun masih menggerutu karena kurang, setelah berkali-kali bilang “that’s all we have” akhirnya dia baru mau membukakan pintu dan bagasi.

Masih dengan dengkul lemes, kami berjalan ke lobby dan menceritakan pengalaman tersebut ke resepsionis. Resepsionis pun berjanji akan membantu kami untuk komplain ke pihak Mai Linh lewat rekaman CCTV. Kami pun diberi kunci kamar dan langsung pergi ke kamar untuk menenangkan diri. Setelah berdiskusi singkat, kami mencoba untung-untungan memakai CC untuk makan malam nanti, soalnya uang yang tersisa hanya tinggal 35,000 VND yang hanya cukup untuk membeli sebotol air dan banh mi.

erato-boutique-hotel
Kamar kami di erato (sumber:booking.com)

Sorenya menjelang berbuka, kami turun ke bawah, resepsionis pun menginfokan bahwa setelah dicek rekaman CCTV-nya ternyata taksi Mai Linh yang kami tumpangi adalah palsu, berbeda sedikit logonya dan sudah dicek ke pihak Mai Linh juga. Katanya memang sekarang banyak Mai Linh atau Vinasun (salah satu taksi yang direkomendasikan juga) palsu untuk menjerat wisatawan.

Dengan deg-degan kami berjalan ke CT Mall yang hanya berjarak 100 m dari hotel, di tingkat teratasnya terdapat Food court. Dengan was-was kami bertanya ke gerai KFC apakah dia menerima CC yang langsung diiyakan, alhamdulillah akhirnya kami bisa makan.

IMG20170527190850
Gerai KFC di CT Mall

Setelah makan dan membeli sedikit bekal untuk sahur besok, kami masuk ke Aeon market untuk menghabiskan sisa-sisa 35,000 VND tadi. Di situ kami membeli air kemasan 1 Lt dan kulit spring roll.

#Back to Jakarta

Esoknya kami check out dan berjalan sedikit ke bandara than shon nhat yang hanya berjarak sekitar 800 m dari hotel.

Apakah saya kapok ke Vietnam karena kena scam, sampai dua kali pula? tentu tidak, saya masih merekomendasikan Vietnam sebagai tempat wisata yang menarik dan murah meriah, saya pun masih ingin mengunjungi daerah lainnya seperti Hanoi, Sa Pa ataupun Da Nang. Singkat cerita, pengalaman baik atau buruk menambah warna tersendiri dalam setiap perjalanan, memberi sebuah cerita dan pelajaran yang dapat dituturkan.

 

Advertisements
Posted in Ho Chi Minh City, Vietnam

Duet maut go to Vietnam : Cu Chi & Mekong Delta (Day 2)

Berhubung Jakarta dan HCMC berada dalam zona GMT yang sama, hari ini saya bangun seperti keseharian saja. Setelah beres mandi dan siap-siap, kami mengisi waktu dulu dengan mainan internet atau WA call dengan keluarga masing-masing. Enaknya, walau Kim Khoi ini merupakan hotel kecil, tapi Wi fi-nya ciamik banget, kenceng badai. Ah, inilah balada emak-emak, di satu sisi kepingin me time, tapi kalau sudah video call dengan suami dan anak-anak rasanya pingin cepet pulang aja, pingin mewek, berandai-andai kalau saja ada pintu ke mana saja-nya doraemon. Jam 06.20 kami baru ingat kalau sebentar lagi waktunya breakfast (breakfast mulai dihidangkan 06.30), maka kami buru-buru pergi ke lantai teratas di mana restoran berada. Sebenarnya, jam 06.30 adalah waktunya kami berkumpul di sinh cafe, (walau diberi spare maksimal sampai 06.45), namun kami memutuskan instant breakfast dulu saja, toh dekat, jadi insya allah masih keburu.

Restoran di kim khoi hotel sangat kecil, hanya menampung sekitar 3-4 meja, itupun berdesakan. Restoran masih kosong saat kami tiba, seorang pelayan muda memberikan selembar menu bertuliskan pilihan breakfast, rata-rata simple sih, toast/croisant, omelette/sunny, tapi ada pho juga. Pilihan minumnya coffee atau tea. Sebagai bekas negara jajahan perancis, kuliner vietnam banyak terpengaruh, misalnya saja orang sini gemar makan croissant sebagai sarapan atau camilan. Dari restoran, kami bisa melihat sekilas pemandangan HCMC dari ketinggian, di sini banyak taman umum dan RPTRA lengkap dengan alat-alat fitness-nya.

IMG20170526061828
Taman-taman dan RPTRA

Karena ingin cepat, kami memesan croisant dan omelete, tidak ketinggalan kopi ala vietnam yang penyajiannya sangat khas, dengan wadah silinder dari timah, kopinya turun sedikit-sedikit, walhasil setelah beres makan baru kopi yang terkumpul cukup banyak dan dihabiskan dalam sekali tegukan karena kami harus buru-buru.

Setengah berlari kami bergegas ke sinh cafe, syukurlah masih pas waktu untuk check in (kami diberi kartu boarding pass saat check in), tidak lama kemudian kami dipandu oleh pemandu kami yang namanya Yong, menuju tempat parkir bus, melintasi taman yang kami lihat dari atas restoran tadi. Busnya berwarna putih biru seperti di sinh cafe, tentunya dengan tulisan di badan bus juga. Selain tur yang kami ikuti hari ini, banyak juga tur-tur sinh cafe yang menuju ke destinasi lain, jadi jangan sampai salah masuk ke bus, panduannya ikuti saja si pemandu. Di boarding pass sudah tertera nomor kursi, jadi teratur.

Bus yang kami naiki hanya sekitar 3/4 terisi, selain kami ada keluarga amerika (si bapak amerika keturunan vietnam, dulu waktu perang banyak orang vietnam selatan yang ngungsi ke US dan akhirnya jadi warga sana, si ibu bule asli, bisa ditebak dua anak perempuan ABG-nya cakep-cakep banget), pasangan cowok bule – cewek vietnam (dari da nang), dua opah-opah korea (opah dalam arti sebenarnya ya, bukan oppa, duo opah korea yang tetep heboh dan asik walau ga bisa bahasa inggris), satu cowok asal penang yang jadi sohib kita (tapi saya lupa namanya), 2 suami istri asal china dan 6 daun muda asal HK (eaaa..eaaa). Selama perjalanan, Yong yang berlogat vietnam kental, memperkenalkan diri dan memberikan penjelasan singkat mengenai tur hari ini. Selanjutnya perjalanan selama satu jam itu kami manfaatkan untuk ngobrol ngalor ngidul tiap kali melihat pemandangan di layar bus.

Chu chi tunnel

Chu chi (bacanya gu ci) tunnel merupakan situs bersejarah dari perang vietnam, para vietkong yang termashyur itu dulu menggali terowongan-terowongan dan bunker bawah tanah dalam menetapkan taktik gerilya untuk melawan tentara US. Terowongan tersebut letaknya tersembunyi dan sempit, hanya bisa dilalui oleh satu orang, dan rata-rata dibuat agar pas dengan ukuran tentara vietkong yang bertubuh kecil, sehingga apabila ketahuan pun akan sulit dilalui oleh para tentara US yang berbadan besar. Btw, pemimpin Vietnam kala itu yaitu Uncle Ho, kabarnya mendapatkan ide-ide perangnya dari buku “Fundamentals of Guerilla Warfare” dari jenderal besar A.H. Nasution. Buku ini mengilhami Uncle ho dan para pembesar perangnya, karena medan Vietnam dan Indonesia yang mirip. Buku karangan A.H. Nasution ini memang hebat karena bahkan sampai sekarang di negara-negara luar pun dijadikan salah satu pedoman dalam pendidikan tentara. Chu chi tunnel ini dikerjakan secara gotong royong dengan peralatan sederhana. Chu chi ini hanya terletak di wilayah vietnam selatan yang saat perang didukung oleh US, makanya diperlukan taktik gerilya untuk bisa menyusup.

Lokasi chu chi tunnel sebenarnya ada banyak, namun yang dibuka sebagai spot wisata adalah yang letaknya di Ben Dinh (bacanya ban dan), tidak jauh dari situs ini terletak sungai saigon. Sebelum memasuki chu chi, kami diberi waktu 10 menit untuk ke toilet yang tersedia di area parkir. Sebelum pintu masuk, terdapat peta besar dari situs ini.

IMG20170525101255
Sungai saigon

Dengan dipandu Yong, kami diajak ke suatu ruangan yang berisi selongsong bom raksasa yang dulu dijatuhkan oleh tentara US untuk menggempur wilayah vietkong. Ada juga rak kaca berisi berbagai magasin dan senapan para tentara US.

Selanjutnya kami membeli tiket di loket (biaya belum termasuk dalam paket tur, harganya 109,000 VND) dan melewati sebuah lorong bawah tanah lebar yang dulunya merupakan bagian dari chu chi tunnel, namun sekarang sudah diperkeras dan diberi dinding serta lantai, dan begitu keluar tibalah kami di daerah dusun yang sepi dan kosong.

IMG20170525083623
Lorong bekas chu chi tunnel

Saya dan enggar langsung tergelak karena malah mikir ini tempat kok ya kayak lagi di gunung kidul, beneran mirip banget. Tanahnya keras dan liat, seperti lempung, pantas saja cocok dijadikan terowongan karena lebih padat. Di atasnya tumbuh pohon-pohon bambu yang menjulang dan sejumlah vegetasi khas tropis lainnya. Di sekitarnya tampak beberapa gubuk sederhana beratap bambu seperti lumbung. Udaranya panas dan lembab sekali, pantes dulu tentara US juga nggak betah.

IMG20170525083800
Area chu chi tunnel

Kami digiring menuju suatu bangunan gubuk, ruangannya digali dari permukaan tanah sehingga posisinya berada di dalam tanah, atapnya lah yang rata dengan permukaan tanah. Sepertinya ini memang style gubuk ala vietnam yang dipakai selama perang dulu, meminimalkan penggunaan bahan sehingga tidak memerlukan bata atau bambu sebagai dinding. Di dalam gubuk ini berderet bangku-bangku di mana selama 5 menit kita disuguhi dokumentasi hitam putih perang vietnam, terutama saat penggalian dan penggunaan chu chi tunnel. Setelah itu, seorang pemandu cewek yang berseragam tentara vietkong menjelaskan mengenai sistem chu chi tunnel dengan peraga maket yang tersedia. Saya jadi tahu kalau ternyata terowongan-terowongan ini berhubungan dengan sejumlah bunker yang berfungsi sebagai ruang komando, ruang rapat, dapur dsb. Saya mendadak sesak nafas memikirkan ratusan orang yang harus hidup di bawah tanah yang minim udara, semuanya demi perjuangan.

Setelah itu kami diajak berkeliling melewati sejumlah lubang sempit yang merupakan pintu masuk terowongan yang hampir semuanya dikamuflase mirip dengan tanah atau ditutupi rumput agak tidak ketauan. Kami juga diperlihatkan sejumlah jebakan berpaku-paku yang bikin ngilu, yang sengaja dipasang untuk para tentara US, mulai dari jebakan di lubang, sampai jebakan pintu, akibat jebakan-jebakan ini, dulu banyak tentara US yang terpaksa diamputasi. Ada juga sejumlah patung-patung yang mengenakan seragam hijau vietkong. Ada juga sebuah gubuk berisi diorama pembuatan senjata ala vietkong yang hampir semuanya dibuat dari bahan bekas, misal dari selongsong bom, maklum tentara vietkong sangat miskin, jadi untuk membuat senjata, mereka menggunakan material yang ada. Bahkan sendal-sendal mereka pun dibuat dari karet bekas ban truk atau tank.

Tentara vietkong mengenakan seragam berwarna hijau khaki untuk laki-lakinya  sementara yang perempuan berwarna hitam, sebagai penanda-nya mereka mengenakan syal kotak-kotak hitam putih. Karena menerapkan sistem gerilya, mereka diharuskan cepat menyaru dengan lingkungan, misal saat dikejar-kejar, mereka akan cepat menanggalkan seragam dan berganti dengan pakaian desa lalu berbaur dengan warga sekitar. Hal tersebut yang menyebabkan pasukan US sering bertindak membabi buta membantai satu desa tanpa pandang bulu, tua muda maupun anak-anak, hanya untuk mencari pasukan yang menyamar.

IMG20170525095936
Seragam vietkong

Puncaknya kita diajak merasakan pengalaman berjalan di chu chi tunnel, walaupun cuma di trek pendek (cuma sekitar 20-30 m). Begitu masuk, sensasi klaustrofobik langsung terasa, terowongan yang sempit, gelap dan pekat membuat beberapa pengunjung termasuk enggar (yang agak klaustrofobik) berbalik langkah dan keluar. Saya yang awalnya masih semangat, begitu beberapa meter kemudian juga mulai terserang rasa panik, bagaimana tidak, oksigen yang tipis dan membuat dada sesak seketika menyebabkan khawatir dan kaki lemas, apalagi dengan suasana yang gelap tanoa cahaya. Pingin balik nanggung, akhirnya saya meneruskan langkah, pasrah aja kalau sampai pingsan, syukurlah beberapa menit kemudian terlihat seberkas cahaya yang menandai berakhirnya terowongan. Paru-paru saya langsung lega menenggak udara segar, tidak terbayangkan para tentara vietkong yang dulu harus berjuang bawah tanah ini. Yong menjelaskan bahwa chu chi di ban danh ini masih tergolong mudah, yong bilang bahwa dia pernah mengarungi chu chi di daerah lain yang mengharuskan merangkak dan treknya lebih panjang, sampai guide-nya bilang nih kalo salah belok sedikit aja kita gak bakal bisa keluar.

 

IMG20170525094806
Pintu masuk terowongan

Syukurlah setelah pengalaman klaustrofobik tadi, kami diberi istirahat sambil disuguhi panganan tradisional tentara vietkong yaitu singkong rebus yang makannya dicocol kacang tanah tumbuk serta teh panas pahit.

Setelah itu, pengunjung yang berminat diberi waktu untuk mencoba atraksi menembak, dengan tambahan biaya tentunya. Saya dan enggar memilih duduk-duduk saja sambil melihat-lihat toko souvenir di sampingnya.

#Mekong Delta

Dari chu chi, kami melanjutkan perjalanan menuju mekong delta, cukup jauh juga sekitar 2 jam, rencananya nanti kami akan makan siang di salah satu restoran yang berada di pinggir sungai mekong.

Mendekati area mekong, hujan mulai turun rintik-rintik, dari jendela sudah terlihat sungai mekong yang berwarna kecokelatan. Sungai mekong merupakan sungai besar yang mengalir di tiga negara, yaitu vietnam, kamboja dan thailand. Sungainya lebar dan berarus deras, mirip sungai musi di palembang.

IMG20170525132152
Sungai mekong

Begitu turun dari bus, hujan yang rintik-rintik tadi berubah menjadi deras, segera kami semua berlari menuju salah satu bangunan terbuka di samping dermaga untuk meneduh. Bangunannya kecil dan kotor, hanya tersedia sedikit bangku untuk duduk, udah gitu saat hujannya membesar lama-lama tampias juga. Cukup lama hujan turun, sekitar sejam-an, membuat kami mati gaya, mau ngobrol udah bosen, main hp nggak ada wi-fi, perut juga udah keroncongan. Saat hujan mulai agak kecil, Yong segera mengajak kami untuk segera menaiki kapal kayu bermotor yang sudah disediakan. Kami membeli dulu jas hujan kresek seharga 15,000 VND dari penjaja keliling yang ada di sana. Kapalnya sederhana saja, dipenuhi deretan kursi-kursi kayu dan tanpa penutup samping, jadi pas hujan gini ya lumayan basah walau pakai jas hujan. Perjalanan mengarungi sungai mekong cukup mendebarkan juga, karena arusnya deras, sehingga kapal terobang-ambing dan guncangan nya pun terasa.

15 menit kemudian kapal menepi ke dermaga salah satu restoran, makan siang sudah termasuk dalam harga paket tur. Makan siang diawali dengan spring roll ala vietnam yang proses pembuatannya langsung di depan kita, jadi si mbak pelayan merendam sebentar kulit spring roll, mengisi kulit tersebut dengan ikan gurami, sayuran dan bihun, lalu langsung disajikan kepada para tamu. Kelihatannya mudah membuat spring roll, tapi waktu nyoba sendiri sepulang ke indonesia, ternyata susah, harus cepat mengisi dan melipatnya, karena kalau nggak keburu kering kulitnya. Selanjutnya disajikan nasi dengan tumisan aneka sayur. Sebenarnya sih rada kentang (kenyang tanggung), tapi mau jajan di mana lagi.

Selepas late lunch yang disertai ngobrol-ngobrol ringan antara peserta tur, kami kembali naik kapal mengarungi mekong dan berhenti di suatu daerah di mana sungai bercabang, di salah satu cabang yang kecil, sudah menunggu beberapa sampan yang dikayuh oleh para ibu-ibu. Satu sampan hanya cukup untuk 4 orang + 1 ibu pengayuh, anggota rombongan di-split,  saya dan enggar kebagian bareng si cowok penang plus satu cowok HK. Sampan melewati sungai coklat yang ditumbuhi bakau, tidak terlalu istimewa sih pemandangannya. Di sinilah kami kena #scam01, jadi ceritanya tidak lama setelah sampan dikayuh, si ibu dengan bahasa inggrisnya yang terbata-bata berujar “tips..tips..for me” berulang kali dengan mendesak, setelah berdiskusi singkat, si penang  yang kita dapuk sebagai perwakilan bertanya “how much?”. Si ibu pun menjawab 25,000 VND, kita pun oke-in aja, toh ga mahal-mahal juga. Kita bermaksud membayar tips tersebut saat akan turun saja, tapi si ibu terus mendesak tiada henti sampe bikin sebel, akhirnya kita kumpulkan lah itu duit, saat dikasih si ibu menggeleng “no, 25,000/person”, jiaah, tanpa komplen kita bayar aja, lagi-lagi karena otak nge-kurs-nya ke rupiah, jadi berasa murah (25,000~13.000). Saat turun, si penang komplen ke Yong soal betapa maksanya si ibu, Yong menjelaskan bahwa memberi tips dibolehkan tapi tidak dipatok tarifnya, apalagi segitu mahalnya. Yong pun memarahi si ibu dalam bahasa vietnam, tapi tentu duit yang sudah dikasih tidak bisa ditarik kembali, yah kena scam deh :).

Si penang masih mendongkol dan marah-marah ke Yong, sementara saya dan enggar yang “nrimo ing pandum” langsung melenggang saja mengikuti rombongan melalui sebuah gang sempit hingga tiba di sebuah kedai minum kecil. Di meja sudah disediakan teh madu dan buah-buahan tropis untuk kami, sambil menikmati sajian tersebut, kami disuguhi penampilan penyanyi dengan alat musik tradisional vietnam. Kali ini kami semeja dengan 2 opah asal korea dan penang (lagi), opah korea ini hebat lho, padahal bahasa inggrisnya aja patah-patah banget dan bahkan hampir bisa dikatakan minim, tapi mereka berani aja jalan cuma berdua. Sering percakapan kami agak gantung karena si opah tidak paham :). Lagu tradisional vietnam dibawakan dengan suara sengau, musiknya agak mirip-mirip china tapi dengan sedikit aksen berbeda. Setelah membawakan dua lagu, si penyanyi mengedarkan kotak angpau, sang opah korea berbaik hati  membayarkan tips untuk meja kami.

Dari sini kami naik delman yang saisnya lagi-lagi seorang ibu-ibu, kali ini kami konsultasi dulu ke Yong soal tips agar tidak kena scam lagi. Turun dari delman, kami dipandu melewati jembatan menuju ke pabrik “coconut candy”. Pabrik ini merupakan pabrik tradisional, di mana alat-alat yang digunakan pun masih sederhana, mulai dari proses pemecahan kelapa, penyulingan hingga pengemasannya masih dengan mesin sederhana seperti di pasar. Kondisi pabrik pun merupakan home industry, dengan tingkat kebersihan yang “begitulah”. Kami diberikan sample permen untuk dicoba, walau daripada dikatakan permen, malah lebih cocok dibilang dodol, soalnya lengket banget. Kami membeli 6 pak permen seharga 10,000 VND sebagai oleh-oleh. Selain permen, di sini juga menjual beberapa cinderamata ataupun wine cobra yang bisa dicoba dulu sample-nya (tentu kami nggak ikutan). Kelar ke pabrik, berakhirlah kunjungan ke mekong delta hari ini. Overall cukup seru, walaupun  bagi orang indonesia saat ke mekong delta tak ubahnya seperti pulang kampung, tapi tetap berbeda dan memberi pengalaman baru. Kunjungan satu hari chu chi tunnel+mekong delta patut dicoba, meski agak terburu-buru , awalnya dulu rata-rata kunjungan hanya satu tempat per hari. Pukul 6 sore, sampailah kami di depan kantor sinh cafe kembali.

Malaysian Street & Ben Thanh Night Market

Setelah lumayan capek dengan aktivitas seharian tadi, selepas shalat isya kami baru menyeret kaki menuju ke malaysian street untuk makan malam. Aslinya jalanan ini bernama nguyen an ninh, letaknya di samping ben thanh market, namun karena ramai dihuni oleh para warga vietnam keturunan malaysia yang banyak membuka restoran, maka jalan ini kondang juga disebut malaysian street.

Kalau menurut si penang (yang menginap daerah sini) makanan di sini rata-rata mahal, tapi berhubung kami berprinsip halal itu penting, jadi ya gapapalah. Kami masuk ke salah satu kedai malaysia yang pelayannya bercadar, selain menyajikan masakan malaysia, mereka juga menyediakan pho dan spring roll.

Dari malaysian street, kami berjalan sedikit ke ben thanh night market, pasar malam yang dibuka di samping ben thanh. Kebanyakan yang dijual adalah souvenir seperti t-shirt, tas, dompet, gantungan kunci dll. Agar di hari terakhir nanti kami nggak kebanyakan belanja, maka malam ini sengaja dicicil sedikit dengan membeli kaus untuk oleh-oleh. Nawarnya harus agak sadis, misalnya saja kaus yang kami beli awalnya diberi harga 100,000 VND, tentu kami tawar 1/3-nya, walaupun awalnya ditolak, tapi akhirnya dipanggil lagim jadi akhirnya kami mendapat kaus seharga 100,000/3 pcs. Kualitasnya memang standar, sejujurnya tipis banget, tapi lumayan lah untuk oleh-oleh.

 

Posted in Ho Chi Minh City, Vietnam

Duet Maut Go to Vietnam : HCMC (Day 1)

Sejak mengunjungi Cambodia yang sangat berkesan beberapa tahun silam, saya punya angan-angan untuk menjelajahi wilayah Indochina lainnya seperti vietnam, myanmar dan laos. Makanya waktu si merah kesayangan (air asia red) mengadakan pekan tiket promo, saya iseng-iseng hunting beberapa trayek yang jadi incaran, dapetlah tiket pp jakarta – hcmc (dengan transit di KL) seharga 1.5 jt. Langsung saya telepon pak suami yang sayangnya menolak karena nggak match dengan jadwal kerja-nya yang lagi sibuk banget. Beruntung saya punya partner in crime, mbak enggar, yang sama-sama doyan travelling dan punya bucket list yang sama, gayung pun bersambut, dia pun yes dan voila … kami berdua sukses mengantongi tiket untuk bulan mei tahun mendatang. Kami hanya membeli bagasi 15 kg untuk satu orang, itupun hanya untuk perjalanan pulang saja, dengan pertimbangan nanti bakal bawa oleh-oleh. Selebihnya kami hanya membawa satu backpack yang bisa dibawa ke kabin.

Selanjutnya kami beberapa kali ketemuan untuk membahas detail itinerary. Karena waktu yang kami miliki hanya 5 hari, kami memutuskan tidak mengunjungi hanoi yang terletak di utara, sebagai gantinya kami mengunjungi mui ne yang jaraknya lumayan dekat dari hcmc.

DAY 1 – Jakarta – Kuala Lumpur – Ho Chi Minh City

Jam 03.00 subuh, setelah sebelumnya peluk cium sambil berderai air mata karena harus ninggalin kiddos, saya sudah berangkat ke bandara soetta dengan diantar suami. Pesawat kami ke kuala lumpur dijadwalkan berangkat pukul 06.25 pagi, saya sudah janjian untuk bertemu enggar di bandara. Pesawat berangkat tepat waktu, dan pukul 09.25 kami sudah tiba di kuala lumpur.

Waktu transit yang hanya sekitar 1,5 jam kami manfaatkan dengan brunch di noodlecious, salah satu gerai restoran yang terletak di KLIA, tidak jauh dari terminal keberangkatan kami selanjutnya. Noodlecious ini menjual rupa-rupa mie ala malaysia dan singapore, harga per porsi sekitar 10 – 15 RM.

Selanjutnya kami naik Air Asia menuju Ho chi minh city yang berangkat pukul 11.10 dengan durasi penerbangan 2 jam, zona waktu di hcmc sama seperti jakarta, jadi lebih lambat sejam dibanding kuala lumpur, sehingga pukul 12.10 kami sudah tiba di hcmc.Tan Son Nhat Airport ternyata melebihi dugaan saya, bandaranya megah, bersih, luas dan modern.

Setelah sebelumnya menukar USD dengan VND di salah satu counter money changer di bandara, kami berjalan menuju parkir bus 152 yang akan membawa kami ke pusat kota. Busnya berwarna hijau, dengan tempat duduk yang nyaman dan AC yang super dingin, tarifnya cuma 6000 VND pula, murah meriah. Walaupun sang kondektur tidak bisa berbahasa inggris, tapi saat kami menunjukkan tulisan “War remnant museum” dia mengangguk dan berkata OK!. Perjalanan ke tengah kota memakan waktu sekitar setengah jam, melewati pemandangan kawasan pertokoan yang mirip-mirip jakarta, dengan jalan yang sarat sepeda motor dan pejalan kaki, namun lebih teduh karena banyaknya pohon.

Kami diturunkan di suatu jalan yang ternyata meleset dua stop dari perhentian kami yang seharusnya (harusnya turun di Coop Mart Nguyen Dinh Cheu). Awalnya sempet bertanya kepada penduduk sekitar, tapi sayangnya nggak ada yang ngerti, beruntung sebelumya kami sudah menge-print peta daerah tersebut, jadi nggak sampai nyasar, kami hanya berjalan sekitar 300 m hingga sampailah di war remnant museum.

War Remnants Museum

War remnants museum menempati bangunan persegi berlantai tiga dengan facade berwarna abu-abu. Halaman museum tersebut diisi dengan kendaraan perang yang dipakai oleh militer US saat perang vietnam, mulai dari pesawat tempur, tank lapis baja, mortir, meriam bahkan hingga selongsong bom-bom berukuran besar yang dulu dijatuhkan untuk menggempur vietnam.

Sebelumnya perlu diceritakan sekelumit sejarah mengenai perang vietnam. Perang vietnam merupakan perang saudara antara Vietnam utara yang berhaluan komunis dan Vietnam Selatan yang didukung oleh negara NATO, perang ini merupakan bagian dari “Cold War” yang di masa itu sangat menghantui negara-negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Perang tersebut berlangsung dalam rentang waktu 1957 – 1975 yang berakhir dengan kemenangan di pihak Vietnam utara yang dipimpin oleh Ho Chi Minh. Vietnam Selatan didukung penuh oleh militer US dan bahkan US lebih menonjol sehingga lebih nampak sebagai perang US vs Vietnam.

War Remnants museum menyimpan koleksi foto-foto dan benda bersejarah terkait perang vietnam, kebanyakan akan bikin merinding, saya tidak merekomendasikan museum ini untuk yang tidak kuat hati, apalagi untuk anak-anak kecil.

Setelah membeli tiket seharga 15,000 VND, kami memasuki bangunan museum. Lantai satu diisi oleh foto-foto hitam putih terutama mengenai pertemuan antara Uncle Ho dengan para pemimpin dunia pada masanya. Terdapat juga beberapa poster propaganda perang yang cukup terkenal. Di sudut depan terdapat sebuah kios cendramata yang barang-barangnya dikerjakan oleh pekerja yang cacat fisiknya, saya baru paham kemudian bahwa orang-orang tersebut adalah korban dari agent orange.

Naik ke lantai dua, terdapat sejumlah foto-foto yang menceritakan kekejaman perang vietnam, mulai dari mayat-mayat warga sipil, para tentara yang terluka, warga yang mencoba melarikan diri dan sejumlah pemandangan lain yang membuat hati miris.

Di lantai ketiga, lebih horror lagi, ada sebuah bilik berisi foto-foto korban agent orange. Agent orange merupakan senjata biologis dengan kandungan kimia bernama dioxin yang sagat beracun , dioxin mampu meracuni dan menghacurkan vegetasi, sumber air , membunuh manusia, dan menyebabkan kerusakan dan cacat fisik pada janin dan bayi, sehingga banyak bayi-bayi yang dilahirkan setelah periode tersebut terlahir cacat. Bahkan ada beberapa anak para veteran tentara US yang juga cacat karena bapaknya dulu pernah menghirup agent orange semasa bertugas di vietnam. Ada sebuah box berisi mayat bayi-bayi yang diawetkan, yang terlahir cacat dengan kondisi yang mengerikan.

INDEPENDENT PALACE / REUNIFICATION PALACE

Setelah duduk sejenak untuk menenangkan hati dan jiwa akibat melihat kekelaman sejarah perang vietnam, kami melangkahkan kaki menuju destinasi selanjutnya yaitu reunification palace yang berjarak 600 m saja dari war remnant museum. Pedestrian di ho chi minh city sangat menyenangkan untuk dilalui, steril dari pedagang kaki lima, lapang dan bersih, dan kebanyakan teduh karena dinaungi pohon.

Independent palace merupakan istana dan kantor presiden vietnam selatan saat perang vietnam. Setelah akhirnya vietnam utara memenangkan perang, diadakanlah perjanjian damai yang menyatakan bersatunya vietnam di tempat ini, sehingga tempat ini dinamakan juga reunification palace.

IMG20170524150102
Reunification palace

Seperti layaknya istana negara, bangunan ini sangat besar dan dikelilingi oleh halaman luas dan pagar besi tempa yang kokoh. Tiket masuknya adalah 40,000 VND untuk dewasa dan 10,000 VND untuk anak. Semua barang bawaan wajib dititipkan ke petugas keamanan sebelum memasuki istana, membuat kami bersorak karena pundak sudah mulai pegal memanggul tas sedari tadi.

IMG20170524145813
Konter tiket

Independent palace dicat berwarna putih bersih, di depannya berdiri air mancur dari kolam bundar, di puncaknya terdapat beberapa bendera vietnam dan lambang komunis. Hampir semua ruangan tidak boleh dimasuki, hanya bisa dilihat saja, karena ada pagar tali pembatas. Tiap ruangan dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa vietnam, inggris dan perancis.

Ruangan yang pertama kami masuki adalah ruang yang didominasi warna kuning, yang bernama banquet hall, ruangan ini digunakan tempat perjamuan resmi kenegaraan. Lalu ada conference hall, ruangan yang didominasi warna merah, yang digunakan sebagai ruang resepsi yang mampu menampung 500 tamu, ruangan ini juga digunakan sebagai tempat pengumuman kabinet. Pada 21 April 1975, Presiden Thieu (presiden vietnam selatan) berpidato di ruangan ini selama 2 jam penuh mengenai pengunduran dirinya dan situasi negara terkait penarikan bantuan US. Selanjutnya ruangan ini dijadikan tempat konferensi penyatuan kembali seluruh Vietnam.

Setelah itu kami beranjak ke cabinet meeting room yang digunakan sebagai ruang rapat para anggota kabinet. Lalu ada pula National Security Council Chamber yang dahulu digunakan oleh President Thieu untuk berdiskusi dengan para penasihat senior dan penasihat US selama perang, di ruangan ini berderet peta-peta wilayah vietnam dan telepon kuno. Di belakang ruangan ini adalah ruang kantor presiden, selain itu juga terdapat reception room.

Naik ke lantai dua, masih terdapat beberapa reception lain yang mana kali ini didominasi warna kuning. Di sayap belakang terdapat beberapa kamar tidur yang diperuntukkan untuk Presiden, walaupun terlihat kuno, namun sudah dilengkapi dengan AC dan TV. Di bagian belakang juga terdapat taman-taman kecil untuk beristirahat.

Kim Khoi (211 Hotel)

Kim Khoi Hotel terletak di daerah Pham Ngu Lao yang merupakan pusat para backpacker, daerah Pham Ngu Lao dipenuhi hotel-hotel murah dan biro wisata, karena itulah kami memilih hotel ini.

caption
Kim Khoi Hotel (sumber:tripadvisor.com)

Lobby kim khoi hotel terletak di lantai 2, sementara lantai satunya adalah biro wisata dan rental sepeda motor. Merupakan hotel budget sederhana dengan deretan kamar no window namun dilengkapi dengan lift. Lobby dijaga oleh seorang ibu ramah yang sedikit bisa berbahasa inggris dengan logat vietnam.

5ebf827a_z
Kamar di Kim Khoi (sumber:hotels.com)

Kamar yang kami tempati sangat standar, dengan twin bed, meja dengan kaca rias, kulkas kecil, AC dan kamar mandi dalam. Furniture-nya dari kayu sederhana, namun tergolong bersih dan nyaman. Karena sudah kelelahan, selanjutnya kami lanjut istirahat dulu.

Sinh Cafe

Sinh cafe bukanlah nama cafe tempat nongkrong atau restoran, melainkan biro wisata yang dikenal paling reliable di seantero vietnam. Selain mengurus paket-paket tur ke sejumlah tempat wisata, Sinh Cafe juga menjual tiket bus antar kota di Vietnam.

Setelah cukup beristirahat, kami menuju ke Sinh cafe yang hanya berjarak 50 m saja dari hotel, ini juga merupakan salah satu alasan kami memilih menginap di Kim Khoi yang dekat, sebab kebanyakan tur akan dimulai pagi hari yaitu jam 07.00. Sejak masih di tanah air, saya sudah survey mengenai paket tur yang ditawarkan berikut harganya dari website sinh cafe yaitu http://www.thesinhtourist.vn.

Sebenarnya di Pham Ngu Lao ini banyak biro wisata lainnya , di sepanjang perjalanan kami banyak dipanggil-panggil atau disodori brosur oleh para pegawai biro yang berjaga di depan lapaknya, tapi kami tetep ke sinh cafe yang sudah banyak direkomendasi. Sinh cafe menempati sebuah bangunan luas dengan dominasi warna cat putih dan biru, di dalamnya berdiri sejumlah konter yang dijaga oleh petugas, jadi walaupun ramai namun begitu datang kami sudah langsung disambut dan diantarkan ke konter yang kosong.

IMG20170525064557
Di dalam sinh tourist/sinh cafe

Sang petugas yang berbahasa inggris dengan logat vietnam menyodorkan secarik kertas berisi macam-macam paket tur yang ditawarkan. Karena sebelumnya sudah survey, maka tidak perlu waktu lama kami langsung memesan sejumlah paket tur, yaitu chu chi tunnel dan mekong delta one day tour (309,000 VND/pax), tiket bus Saigon – Mui Ne (109,000 VND/pax), tiket baliknya (99,000 VND/pax) dan 1/2 day jeep tour Mui Ne (549,000/jeep, jadi diparo dua biayanya). Kami diberi sebuah amplop berisi secarik kertas yang berisi paket-paket tur apa saja yang dibeli, termasuk jam berkumpulnya.

IMG20170527071557
Travel voucher dari Sinh cafe

Pho 2000

Dari Sinh Cafe, kami berjalan kaki menuju restoran Pho 2000 yang terletak di pojok jalan seberang Ben Thanh Market. Perut yang terakhir diisi jam 9 tadi pagi rupanya sudah mulai berteriak. Restoran ini terletak di lantai 2, dan plangnya kecil, jadi bisa terlewat kalau tidak jeli, agak mengherankan untuk restoran yang sudah terkenal reputasinya . Menyandang tagline “pho for president” dikarenakan dulu President US, Bill Clinton, pernah makan di sini.

Restoran ini menyajikan pho, sup mie khas vietnam yang terbuat dari tepung beras, disajikan dengan topping daging dan sayuran pelengkap. Porsinya segede gaban, bahkan yang reguler pun seharusnya bisa di-sharing berdua, jadilah dengan sangat menyesal tidak bisa dihabiskan. Pho ini cenderung aman dan cocok di lidah orang Indonesia, rempahnya tidak terlalu aneh, dan walaupun beberapa restoran lainnya menambahkan daging babi di sajian pho-nya, namun restoran pho 2000 ini berpredikat halal.

Jalan-jalan malam (city hall, cathedral, post office)

Energi kembali penuh setelah perut kenyang, karena masih segar dan semangat (maklum baru hari pertama), dari Pho 2000 kami melanjutkan acara jalan-jalan malam.

Pertama kami melewati bangunan Rex Hotel yang merupakan salah satu bangunan bersejarah di HCMC, awalnya dibangun pada tahun 1927 untuk para businessman Prancis, selama perang digunakan sebagai basis siaran tentara vietnam selatan dan Amerika, namun setelah perang berakhir dari tempat inilah disiarkan pertama kalinya berita penyatuan vietnam. Sekarang bangunan ini tetap digunakan sebagai hotel sementara di lantai dasarnya berdiri sejumlah butik-butik brand ternama.

Tidak jauh kami sampai di Saigon City Hall, bangunan yang merupakan icon wisata HCMC ini dibanguan pada tahun 1902-1908 dengan gaya kolonial Perancis, sayangnya tidak dibuka untuk umum, namun mengagumi bentuk bangunan dan facade-nya yang vintage sudah cukup menyenangkan. Di seberangnya terdapat nguyen hue, suatu lapangan besar di mana para penduduk lokal biasa duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan city hall atau bangunan di sekelilingnya, kalau di sini kayak alun-alun. Di nguyen hue berdiri kokoh patung Uncle Ho (Ho chi minh) yang merupakan tokoh penting di Vietnam, setara Sukarno kalau di Indonesia.

Setelah itu kami melewati gerai starbucks, di mana Enggar membeli tumbler untuk oleh-oleh, harganya lebih murah daripada di Indonesia. Kami meneruskan perjalanan hingga akhirnya sampai di bangunan bata merah bergaya gothik dengan patung santa maria regina pacis di depannya yang adalah saigon cathedral. Cathedral malam itu dipenuhi oleh para jemaah yang sedang beribadah sehingga kami tidak masuk ke dalamnya. Kami duduk-duduk di taman seberangnya sambil mencoba street food ala vietnam yang bernama Banh Trang Nuong, kudapan dari kulit spring roll yang diberi telur puyuh, daun bawang, bawang goreng, cacahan daging babi (tentu kami minta no pork) dan dimasak dengan cara dipanggang di atas tungku. Rasanya perpaduan martabak dan kerak telor, harganya murah meriah cuma 15,000 VND.

Di sebelah kanan cathedral, berdiri saigon post office yang juga merupakan icon wisata HCMC, yang sayangnya malam itu sudah tutup.

Perjalanan kembali menuju hotel hampir 2 km namun tidak membuat kami lelah. Overall, HCMC ini di luar dugaan saya, ternyata aman dan nyaman, walau memang pengendara sepeda motornya banyak sekali (bahkan lebih dari jakarta) dan kelihatan semrawut, tapi kalau sudah seumur hidup tinggal di jakarta, dijamin sudah bisa menguasai keadaan lah, misalnya saja saat nyebrang. Sistem jalan dan setir adalah sebelah kanan, jadi di sini kalau mau nyebrang bukan lihat kiri tapi lihat kanan. Yang lucu sering saya liat para pengendara motor seperti memakai hijab, jadi rapat pakai kerudung menutupi kepala dan dada lengkap dengan masker, tapi rupanya hanya untuk melindungi wajah dari debu dan sengatan matahari. Selain itu semua pengendara motor mengenakan helm cetok, nggak ada yang pakai half face apalagi full face, kalau di jakarta udah kena razia polisi tuh. Pedestrian yang tersedia juga nyaman untuk pejalan kaki, steril dari pedagang kaki lima atau pengendara motor. Yang mencolok adalah pemandangan kabel listrik yang ruwet malang melintang udah kayak benang kusut di mana-mana.

IMG20170525173605
Kabel ruwet sepanjang jalan

 

Posted in Indonesia, Pangandaran, West Java

Cagar Alam Pananjung & Pangandaran

Menyandang predikat sebagai pantai terpopuler di Jawa Barat menjadikan kawasan Pangandaran tidak pernah sepi pengunjung, apalagi di musim lebaran, kemacetan panjang sudah dipastikan terjadi. Sebagai wisatawan yang ngakunya anti mainstream (jiaaah PD bener yak) saya sangat amat menghindari pantai yang satu ini, karena macetnya di musim lebaran pasti sudah masuk  kategori amit-amit. Tapi …. karena lebaran ini ada satu dan lain hal yang menjadikan jadwal liburan sangat sempit, maka kami akhirnya memutuskan berkunjung ke tempat ini karena jaraknya terbilang dekat dari kampung suami.

Perjalanan kami dari daerah Cilacap cukup lancar, hanya ada sedikit kemacetan di perempatan lampu merah. Kami sudah sangat senang dan PD banget karena hingga sampai di pintu masuk Pangandaran tidak kami temui kemacetan yang berarti, sudah membayangkan mau leha-leha sambil santai nonton TV di kamar hotel. Ternyata tidak lama setelah memasuki areal Pangandaran, jalanan sudah direkayasa menjadi satu jalur akibat macet luar biasa. Kendaraan diharuskan melalui pantai timur baru memutar ke pantai barat. Mobil benar-benar stuck berhenti dan makin diperparah dengan mobil yang main serobot tidak mau tertib, rasanya mangkel banget, apalagi tiba-tiba kebelet, ditambah drama anak yang popoknya agak tembus, hadeuuh.

Satu jam kemudian barulah kami sampai di Sun In Pangandaran Hotel yang sudah kami booking sebelumnya (padahal mah jaraknya cuma 2 km dari pintu masuk), saya buru-buru ke lobby hotel untuk check in dan saking kebeletnya, sementara si mbak resepsionis menyelesaikan proses check in, saya langsung ngacir ke toilet. Sang resepsionis memberikan saya beberapa kupon antara lain kupon breakfast, welcome drink, diskon 10& F&B di Ocean Cafe dan diskon 10% belanja di toko milik Hotel ini.

Sun In Pangandaran (SIP) Hotel

Sun In Pangandaran merupakan hotel yang terletak di pantai timur Pangandaran. Hotelnya cukup besar, terdiri atas 5 lantai dan bagian tengahnya berbentuk core, sehingga pemandangan kolam renang yang terletak di lantai dasar dapat kita lihat dari atas.

IMG20170629144955
Pantai timur pangandaran

Lift nya tergolong sangat kecil untuk ukuran hotel yang memiliki banyak kamar , selain itu tidak dibedakan antara lift pengunjung dan lift barang, jadi kita harus rela berdesak-desakan dengan troli barang saat naik lift. Posisi lift ada di bagian barat sementara kamar kami terletak di bagian timur sehingga mengharuskan kami berjalan mengitari separuh bangunan dulu.

Kamar yang kami booking bertipe deluxe sea view dan terletak di lantai 3. Sengaja memilih kamar ini dengan harapan bisa duduk santai-santai di balkon sambil menikmati pemandangan sunrise esok harinya. Ternyata kamarnya sempit banget, hanya sekitar 22 m2 dikurangi dengan fasilitas kamar mandi di dalam. Yang mengejutkan saat kami membuka pintu menuju balkon, udara panas bercampur bau anyir khas ikan langsung merebak, ya iyalah balkon ini menghadap ke pantai timur pangandaran yang memang merupakan pusat kegiatan nelayan, jadi seharusnya tidak mengherankan kalau bau-bauan ikan semerbak. Apalagi balkon tersebut juga sempit sekali dan hanya dilengkapi dengan dua kursi plastik murah yang bahkan sudah bladus rupanya, haha buyar sudah angan-angan pingin nyantai di balkon.

20170629_142740
Pemandangan pantai timur dari balkon hotel

Setelah menunaikan shalat dzuhur, kami segera turun untuk mencari warung makan yang kami lihat berjejeran di pantai timur. Warung makan di sini kebanyakan adalah warung makan sederhana, sajiannya berupa mie instan rebus/goreng, nasi goreng atau soto ayam, karena sudah kelaparan dan malas mencari, seadanya juga cukup lah.Kelar makan kami kembali ke hotel untuk istirahat sejenak.

Cagar Alam Pananjung

Setelah cukup istirahat dan menunaikan shalat ashar, sekitar jam 04.00 sore kami berjalan menuju cagar alam pananjung. Sengaja memilih sore hari agar cuaca lebih teduh dan bersahabat. Berjalan kaki dari hotel sekitar 300 m, melewati deretan kios-kios penjual cinderamata dan ikan asin, juga bangunan hotel horizon yang menjulang tinggi, persis di sebelah loket tiket cagar alam. Kebanyakan pengunjung justru terlihat sudah akan pulang, hanya beberapa saja seperti kami yang baru datang jam segini. Setelah membayar tiket masuk, kami menyempatkan memoto peta kawasan dulu agar tidak tersasar, sebab kawasan cagar alam ini terbilang luas, jam maksimal kunjungan adalah pukul 18.30, selepas itu dilarang karena area nya gelap. Cagar alam ini merupakan konservasi sejumlah binatang seperti rusa, monyet dan banteng, juga terdapat sejumlah gua-gua, pantai dan air terjun.

Tidak jauh dari loket, kami bertemu dengan lapangan luas di mana terdapat sejumlah rusa yang dibiarkan bebas, sayangnya kebersihan di kawasan ini kurang terjaga, banyak sampah bertebaran, walhasil beberapa rusa terlihat sedang menggerigiti sampah kertas atau plastik yang dibuang sembarangan.

Setelah melihat rusa, kami bermaksud berkunjung dulu ke gua panggung dan gua parat yang dari penangkaran rusa arahnya berbelok ke arah kiri.

IMG20170629162831
Jalan menuju gua panggung

Gua Panggung merupakan gua pendek yang di dalamnya terdapat batu besar berbentuk seperti panggung, juga terdapat makam yang diyakini keramat di salah satu ceruknya.

Sementara Gua Parat awalnya tidak kami masuki karena sangat gelap dan harus menyewa senter, jadi kami malah memutar ke belakang gua hingga sampai di suatu kawasan pantai sempit yang berpasir putih. Pulangnya baru kami melintasi gua tersebut, gua-nya sangat gelap dan walau sudah memakai senter kami harus tetap extra hati-hati karena permukaan di dalamnya tidak rata dan di beberapa bagian sangat sempit.

Selepas mengunjungi kedua gua tadi, kami melanjutkan perjalanan ke bagian barat cagar alam, menuju ke pantai pasir putih yang sangat populer di pangandaran. Kembali kami melewati penangkaran rusa, dan daripada bingung, kami memutuskan menyewa jasa seorang pemandu wisata (yang banyak bertugas di dalam cagar alam) unutk memandu kami hingga ke pantai pasir putih. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan situs batu kalde, yang merupakan sekumpulan reruntuhan situs tua, dengan satu batu besar berbentuk sapi, ada juga batu berbentu seperti lesung dan ada juga yang seperti makam.

Sesuai saran pemandu wisata, kami diberi jalur jalan pintas melewati sungai kecil yang di sekitarnya dipenuhi rusa liar, serta melewati bukit kecil yang jalur menanjaknya cukup bikin kiddos kecapekan, di bukit ini banyak kera-kera liar, sehingga kami diwanti-wanti untuk memegang barang bawaan dengan ketat agar tidak direbut monyet. Untunglah kelelahan kami terbayar, karena setelah menuruni bukit inilah kami sampai di pantai pasir putih.

Pantai pasir putih di senja hari ini masih padat dipenuhi pengunjung, memang tidak seindah perkiraan saya, tapi cukuplah untuk membuat kiddos senang. Permukaannya landai dan pasirnya halus, sementara ombaknya tidak terlalu besar. Di kejauhan terlihat bangkai kapal yang belum lama ditenggelamkan oleh Menteri Susi. Yang agak sedikit mengganggu adalah kapal-kapal pengangkut penumpang yang hilir mudik dan memenuhi bibir pantai, sehingga mengganggu keleluasaan bermain. pantai ini memang dapat diakses melalui perahu dari pantai barat pangandaran.

Karena waktu terbatas hingga matahari terbenam, saya segera menggantikan baju kedua kiddos dengan baju renang. Sayangnya juga, di sini tidak tersedia bilik untuk berganti baju, sehingga suami saya sampai mencari pojok aman untuk melipir dan ganti baju.

Menjelang pukul 17.30 saya segera memanggil suami dan kedua kiddos yang masih asik bermain air, agak kasihan juga karena mereka masih senang, tapi saya takut kemaleman sebab jarak dari pantai pasir putih ke penginapan masih cukup jauh. Benar saja, selepas melewati bukit, setelah melewati batu kalde, azan maghrib mulai berkumandang, agak creepy-creepy juga sih, karena malam mulai turun sementara penerangan agak minim, udah gitu sepi pula, pantas saja tempat ini dilarang dimasuki selepas jam 18.30.

Mega Laut Restaurant

Malamnya kami makan di mega laut restaurant yang letaknya persis di depan hotel kami. Mega laut ini termasuk restoran yang populer di kawasan pangandaran jadinya ramai sekali. Pilihan menunya sangat banyak, mulai dari seafood, chinese food, bakso, siomay, mie ayam sampai es doger. Agak lama juga menunggu pesanan saking ramainya, harganya memang agak mahal namun sebanding dengan porsi yang besar.

IMG-20170330-WA00291
Mega Laut (sumber:rumahiklan.com)

Pantai Barat Pangandaran

Paginya, kami sarapan di ocean cafe yang berada di lantai paling atas Sun In Pangandaran hotel, cafe-nya didominasi dengan warna putih dan menghadap ke pantai timur. Pilihan breakfast yang disajikan enak dan beragam. Setelah sarapan, kiddos minta berenang dulu di kolam hotel, mumpung masih pagi jadi masih sepi.

Setelah itu, kami melangkahkan kaki menuju pantai barat pengandaran yang hanya sekitar 100 m saja dari hotel. Bagian barat inilah pantai yang populer sebagai tempat wisata, sehingga tidak mengherankan walau masih pagi namun sudah padat sekali dengan wisatawan. Areanya landai dengan pasir hitam dan ombak yang aman sehingga cocok untuk bermain air.

Posted in Tasikmalaya, West Java

Kulineran di Tasikmalaya

Tasikmalaya memiliki sejumlah spot kuliner yang patut dicoba. Karena kota Tasikmalaya ini terkenal sebagai kota santri, maka jangan heran kalau saat ramadhan semua pemilik restoran mulai dari gerobak, warung, kios hingga chain fast food di mall baru akan buka menjelang maghrib, adapun take away dibolehkan mulai pukul 15.00. Berikut review saya dari pengalaman kulineran di tasikmalaya.

#1 Danau Lemona

Awalnya saya mengenal nama “Lemona” sebagai bakery lokal kondang yang banyak cabangnya di seantero kota Tasikmalaya. Lemona bakery ini penampilannya mirip-mirip breadtalk , sajiannya berupa aneka roti kekinian dengan rasa yang enak namun harganya terjangkau, masih di bawah Breadtalk.

Selain bakery, Lemona melebarkan sayap usahanya dengan membuka sebuah restoran dengan nama “Danau Lemona” yang terletak di daerah Salopa, jaraknya cukup jauh dari pusat kota Tasikmalaya, kira-kira bisa 1,5 jam-an. Nah, Danau Lemona ini justru dekat dari rumah mertua saya, sekitar 7-8 km saja, karena dekatlah maka saya malah nggak pernah kepikiran mampir. Toh kalau soal makanan saya nggak pernah khawatir sebab mama mertua saya pasti sudah sigap menyajikan aneka rupa masakan sunda khas rumahan yang ciamik.

Akhirnya saya mencoba ke restoran ini karena reuni SMA suami saya tahun ini dilangsungkan di sini. Perjalanan menuju ke Danau Lemona melewati jalan berkelok-kelok dengan tebing di satu sisi dan lembah curam di sisi lainnya, sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan bumi parahyangan yang terkenal dengan alamnya yang indah.

Tidak lama kemudian kami melihat plang besar bertuliskan “Danau Lemona”. Area parkir yang disediakan cukup luas,  dari sini kita dapat melihat danau lemona yang membentang dengan jembatan bambu dan bangunan restoran bergaya sunda di seberangnya. Untuk mencapai bangunan restoran, kita dapat menaiki getek atau melewati jembatan bambu. Kami memilih melintasi jembatan yang harus dilalui dengan hati-hati karena goyangannya sangat terasa, apalagi pegangannya hanya berupa dua utas tali, jadi kami harus extra konsentrasi memegangi kiddos agar tidak sampai tercebur.

IMG20170627114027
Jembatan “goyang”
20170627_120459
Restoran Danau Lemona

Area makan di sini sangat luas, bisa pilih duduk di saung kecil, saung besar, kursi kayu atau bahkan di dalam saung apung. Karena ini acara reuni, maka sudah dibooking saung besar yang bisa diisi hingga 20 orang. Sistem makannya duduk secara lesehan. Saya memilih duduk dengan anak-anak di saung sebelah, terpisah dari saung di mana suami reuni-an , karena takut anak-anak rewel. Tempatnya memang menyenangkan dan nyaman, cocok untuk acara reuni atau kumpul-kumpul. Banyak spot-spot foto yang bagus, misalnya saja pemandangan danau, jembatan atau bangunan saung yang bergaya sunda.

20170627_113237
Area saung besar

Cuma untuk pilihan menunya, tergolong sangat sedikit untuk ukuran restoran sebesar ini. Hanya tersedia gurame, ikan mas dan ayam, pilihannya pun hanya digoreng atau dibakar. Pun pilihan sayuran pelengkap hanya lalapan, sayur asem, karedok, tumis kangkung, tempe, tahu, udah itu aja. Sampe saya bolak-balik menu karena bingung kok pilihannya sedikit amat. Akhirnya saya memesan gurame dan lalapan saja dengan tambahan tempe goreng. Sebelum pesanan datang, kami diberi compliment berupa sepiring kue bolu sederhana yang lumayan enak. Rasa masakannya sendiri tergolong enak, ikannya masih fresh karena sepertinya merupakan produk langsung dari danau lemona ini.  Harganya juga tidak mahal untuk restoran besar seperti ini.

20170627_121527
Pesanan di lemona

Saat akan kembali ke parkir kami mencoba naik getek yang harus antri dulu, geteknya bergerak dengan ditarik dengan semacam katrol oleh petugas yang sampai keringatan karena kayaknya lumayan berat apalagi kalo isinya lagi penuh.

20170627_135146
Di dalam getek, yang pake baju orange itu petugasnya yang lagi narik katrol

#02 Mie Baso Laksana

Tasikmalaya terkenal dengan kuliner mie baso, jadi alih-alih bakso, justru mie lah  tokoh utamanya, bakso yang jadi pelengkap. Yang paling terkenal adalah mie bakso laksana yang berlokasi di jl pemuda no. 5. tidak jauh dari masjid agung tasikmalaya.

Beberapa kali saya ke sini, siang dan malam selalu dipadati pengunjung. Restorannya terdiri atas dua lantai dengan banyak pelayan yang berseliweran sehingga tidak sulit memesan walau kondisi super ramai.

Mie yang ada di sini adalah produk homemade, tanpa bahan pengawet, dengan rasa khas dan tekstur tebal, berbeda dengan mie-mie lainnya yang pernah saya coba. Pilihan pendampingnya juga banyak, mulai dari bakso, pangsit, hingga babat. Mie-nya juga bisa diolah yamin asin atau manis.

Semangkuk mie baso porsinya sangat mengenyangkan, dihidangkan dengan cacahan daging ayam tanpa tulang (seperti mie bangka), daun bawang dan sawi hijau. Kuahnya bening dengan rasa  yang  sangat khas , tidak seperti mie bangka atau mie ayam gerobak. Harganya mulai 30 K/porsi, agak mahal memang, tapi sebanding dengan kualitas dan porsinya yang besar.

1907349_10153034037829623_8987382592486326654_n
Mie baso laksana

#03 Nasi TO Mr Rahmat

Kalau menurut mertua, dulu Nasi TO (tutug oncom) itu merupakan makanan rakyat kurang mampu, karena tidak sanggup membeli lauk, daripada makan nasi pakai garam terus, akhirnya tercetus ide untuk mencampur oncom yang sudah disangrai (sampai berwarna kehitaman) dengan nasi dan bumbu-bumbu seperti cabai dan kencur. Lama kelamaan nasi TO ini menjadi makanan khas penduduk tasikmalaya dan bahkan menjadi ikon kuliner. Walaupun sekarang nasi TO yang dijual sudah dihidangkan dengan berbagai macam pilihan lauk .

Salah satu penjual nasi TO yang terkenal di Tasikmalaya adalah Mr Rahmat, berlokasi di jl BKR, tidak jauh dari lapangan Dadaha dan GOR Susi Susanti. Bangunan restorannya berbentuk saung bambu dan bergaya lesehan.

2
Warung TO Mr Rachmat (sumber : rizkiabdillah.wordpress.com)

Pilihan lauk pendamping nasi TO-nya cukup bervariasi, mulai dari ayam, ikan peda, ikan jambal roti, telor, gorengan ataupun oseng-oseng . Beras yang digunakan untuk nasi TO bertekstur pera’ (kering), jadi kalau makan dengan tangan agak makpyur  (berantakan), rempah kencur nya sangat terasa, dengan sedikit rasa khas dari oncom.  Harus saya akui nasi TO kurang cocok di lidah jawa saya (yang sukanya manis dan pulen), tapi tetap Nasi TO ini salah satu kuliner yang wajib dicoba.

Nasi tutug oncom Mr. Rahmat Tasikmalaya
Nasi TO (sumber : mamayu.riftom.com)

#04 Nasi Ibu Oom

Tempat ini merupakan gerobak sederhana saja yang terletak di pinggir jalan, tapi selalu ramai pengunjung. Ibu Oom menyajikan beragam lauk pauk khas sunda, saking banyaknya pilihan sampai bikin saya bingung, soalnya semua kelihatan menggugah selera . Walaupun sederhana, tapi rasanya sangat enak dan harganya pun murah, tidak heran selalu ramai. Warung ini buka mulai sore (pukul 16.00) hingga malam hari .

download
Nasi Ibu Oom (sumber : wisatakuliner.com)

#05 Saung Ranggon

Saya berkesempatan mencoba restoran ini di salah satu acara reuni-nya suami. Kalo dari depan restoran ini kelihatan biasa saja, tapi setelah melewati pintu masuk, baru terlihat kalo tempatnya sangat luas, di dalamnya berjejer saung-saung bambu lesehan, mulai dari yang kecil sampai yang besar, terdapat juga beberapa kolam ikan. Yang paling menyenangkan, restoran ini dikelilingi areal persawahan yang pemandangannya menyejukkan mata.

Restoran ini menyajikan berbagai jenis masakan ala sunda, walau yang paling terkenal adalah masakan gurame-nya.

940821_10153913650049623_2463359746739127953_n
Saung ranggon

#06 Cilok Goang Teh Yati

Makanan dari aci (sagu) ini memang banyak variasinya terutama di daerah asalnya yaitu tasikmalaya, mulai dari cilok (aci dicolok – kudapan dari tepung aci yang dibetuk bulat lalu direbus dan disiram sambal kacang atau lada bubuk dan kecap), cireng (aci digoreng), cilor/cilung (aci campur telor yang digoreng), citruk (aci yang diiris tipis seperti keripik) sampai yang belum saya temui di jakarta yaitu cilok goang.

Cilok goang ini sebenarnya adalah cilok yang dihidangkan dengan kuah rebusan tulang ayam (yang kadang masih ada sisa sedikit daging ayamnya), mirip-mirip bakso, cuma baksonya diganti cilok, dan kaldunya dari ayam, bukan sapi. Dihidangkan dengan tambahan tahu putih, irisan daun bawang dan lada bubuk aida (produk khas tasikmalaya), rasanya seger. Penjual cilok goang bisa ditemui di seantero tasikmalaya, kebanyakan berupa gerobak sederhana, atau kalau di tempat yang saya coba ini (teh yati red) sudah dilengkapi tempat duduk.

0025
Cilok goang teh yati

#07 Liwet Asep Stroberi

Restoran ini sangat terkenal karena memiliki banyak cabang di seantero Garut dan Tasikmalaya bahkan di Bandung, mudah ditemukan karena di di depan semua restorannya terdapat display strawberry berukuran besar.

Saya sudah 3 kali makan di sini, di cabang yang berbeda, kali ini saya akan mengulas asep stroberi yang berlokasi di jl raya tasikmalaya – garut . Cabang ini termasuk yang luas, dengan deretan saung yang mengelilingi danau, disediakan perahu juga kalau kita ingin mengarungi danau, walau harus membayar 10K lagi.

Yang direkomendasikan di sini adalah nasi liwetnya, yang umumnya disediakan dalam bentuk paket, bisa paket ayam (negeri atau kampung), ikan atau gepuk. Satu paket berisi nasi, pilihan lauk, irisan ikan asin peda, lalapan, cihu/cipe (gorengan tahu tempe), lalapan dan sambal, sangat mengenyangkan. Perlu dicoba juga jus stroberi khas dari restoran ini yang rasanya masam-masam segar.

#08 Mujair bakar di Situ Gede

Situ Gede merupakan salah satu obyek wisata populer di Tasikmalaya, letaknya yang di pusat kota menyebabkan tempat ini selalu ramai. Berupa sebuah danau luas yang cukup dalam, sehingga bisa diarungi dengan perahu, bisa juga memancing di sini.

922733ee24e6ca0e802c7ca3656c1fa4
Situ Gede (sumber : merahputih.com)

Di pinggir danau banyak warung-warung lesehan yang menyajikan ikan hasil tangkapan dari situ gede, utamanya mujair. Di suatu waktu kami sekeluarga makan malam di salah satu warung yang ada, setelah berwisata di situ gede. Mujair bakar yang disajikan berukuran besar, maih segar dan rasanya enak, disajikan dengan sambal dadak yang pedas. Yang harus diingat, akan banyak pengamen yang mampir berkeliling, jadi harus siap sedia uang receh.

mouthwatering-menu
Mujair situ gede (sumber : tripadvisor.com)

#09 Food Court di Asia Plaza

Asia Plaza adalah salah satu mall terbesar di pusat kota tasikmalaya, selain mayasari plaza. Letaknya yang berada di luar pusat kemacetan kota, menjadikan saya lebih suka mengunjungi mall ini kalau sedang berkunjung ke tasikmalaya. Toserba Asia menempati los terbesar di sini, barang yang dijual mirip di matahari. Selain itu ada hypermart, gramedia, amazone (semacam timezone), chain store seperti zoya atau elzatta, sejumlah resto fast food dan food court.

Food courtnya menempati area yang cukup luas dengan beragam pilihan makanan, mulai dari masakan sunda, chinese food, bakso, siomay, pempek dll. Jadi kalau bingung mau makan apa, biasanya saya lebih suka ke food court ini agar banyak pilihan.

20150221_133258[1]
Food court AP (sumber:tasikeksis.com)
Posted in Garut, Indonesia, Tasikmalaya, West Java

Galunggung & Kampung Sampireun

Awalnya long weekend di penghujung bulan maret mau kami manfaatkan untuk “doing nothing” alias leyeh-leyeh santai mager di rumah, tapi tetiba ada woro-woro kalau anaknya salah satu sepupu suami di tasikmalaya mau disunat. Akhirnya pulanglah kami sekeluarga, toh jarak jakarta – tasikmalaya tidak terlalu jauh, jadi waktu 3 hari cukuplah untuk mengunjungi sanak famili di kampung. Kebetulan suami juga pingin “meet up” sama temen-temen lamanya, dan dari dulu saya pingin mengunjungi kawah gunung galunggung yang kalo di musim lebaran udah kayak lautan manusia saking ramenya.

Mt Galunggung

Setelah acara sunatan dan pengajian di hari jumat rampung, esoknya kami pamit pulang. Perjalanan dari rumah mertua ke galunggung ditempuh dalam waktu 1,5 jam, cukup jauh memang, itu juga kondisi jalan lancar jaya. Setelah berbelok dari jalan utama mengikuti plang penunjuk , jalanan menyempit menjadi dua jalur, melewati pemukiman dan area persawahan, agak tricky dan bisa nyasar kalo nggak pake panduan google maps. Akhirnya kami sampai di pos tiket bertuliskan gunung galunggung, bayar 6K/orang + 5 K untuk mobil. Dari sini jalan bercabang dua,  yang kiri menuju pendakian 500 anak tangga sementara yang kanan menuju 600 anak tangga. Walau yang kiri lebih sedikit, namun medannya lebih curam. Setelah berdiskusi singkat, kami memilih yang 500 anak tangga saja. Jalanan mulai mendaki curam, kanan kirinya dijajari pohon pinus dan sesekali kami bertemu monyet liar yang sedang bergelantungan atau main di pinggir jalan. Suhu udara mulai dingin dan terasa sejuk. Tidak lama sampailah kami di area parkir yang di salah satu sisinya dipadati  kios-kios, toilet umum dan musholla.

Untuk mendaki anak tangga dipungut lagi biaya 5K/orang (lah tadi saya bayar di pos buat apa dong), tangganya terlihat menjulang sampai tidak kelihatan puncaknya, bikin glegek karena mikirin dua kiddos ini bakalan kuat atau nggak. Sebelum mendaki, kami foto-foto dulu di dinding dengan mural “galunggung” dan 3 emblem besar bertajuk viking/persib.

Awal-awal pendakian kiddos masih semangat, tapi setelah 1/3 perjalanan mereka pun mulai keok. Tiap beberapa meter, disediakan area berbentuk persegi untuk beristirahat, sehingga pengunjung yang duduk-duduk tidak akan memenuhi areal tangga (entah kalau lebaran). Yang jadi catatan, di sepanjang jalur pendakian tidak ada shelter beratap untuk berteduh, jadi kalau kepanasan ya hayuk, kalau tiba-tiba hujan ya hanya bisa pasrah. Untungnya saat kami mendaki kemarin, cuaca sangat bersahabat, agak mendung jadi adem. Beberapa kali kami berhenti dan bodohnya pula kami nggak bawa air minum sama sekali, jadi kami harus terus menerus menyemangati kiddos agar mau terus mendaki dengan iming-iming di atas nanti ada kios jualan, baby B bahkan ngambek dan 2-3 kali minta digendong. Akhirnya 1/2 jam kemudian tibalah kami di puncak pendakian, udaranya lebih dingin lagi, dengan areal berpasir (pasir hitam hasil erupsi gunung berapi) dan pemandangan kawah gunung galunggung yang menghijau.

Gunung galunggung terhitung masih aktif dan sewaktu-waktu bisa kembali meletus. Kalau mau turun hingga ke kawah sudah tersedia anak tangga juga, tapi kami memilih untuk menikmati pemandangan kawah tersebut dari ketinggian saja, sambil menikmati secangkir teh hangat dan mengisi kembali energi yang terkuras. Jangan heran kalau harga makanan di kios di atas lebih mahal, hitung-hitung ongkos penjualnya untuk naik turun tangga setiap hari. Kawasan gunung galunggung ini juga dijadikan tempat latihan angkatan bersenjata, di puncak nya berdiri tugu tradisi brigif 13 galuh dengan lambang macan. Kabut yang turun cukup pekat sehingga di beberapa waktu kami bahkan tidak bisa melihat pemandangan di sekitar dengan jelas.

Setelah turun kembali, kami menyempatkan melihat galunggung tunnel, suatu terowongan air yang di kala gunung galunggung meletus, akan berfungsi sebagai sodetan yang menjadi jalur mengalirnya lahar.

Imah Mang Asep 

Sepulang dari galunggung, kami mengarahkan mobil ke pusat kota tasikmalaya, jadi agak bolak-balik sih, karena setelah ini rencananya kami mau menuju Garut, tapi berhubung suami sudah janjian ketemuan dengan teman-temannya dari kemarin, jadi hayuklah.

Imah Mang Asep merupakan restoran yang tergolong masih baru, terletak di pusat kota tasikmalaya, tepatnya di Jl HZ Mustofa yang seringnya macet. Pemiliknya Mang Asep adalah yang juga pemilik Asep Strawberry yang banyak cabangnya di mana-mana.

Menyandang tagline “Tempat Endah, Harga Mirah” (tempat indah, harga murah), memang restoran ini didesain dengan konsep sunda yang sangat kental dan bagus. Hampir semua ornamennya terbuat dari kayu dan bambu. Di pintu masuk terdapat suatu lorong yang dinaungi pergola bambu dan ornamen caping yang disusun bertumpuk serta lesung lengkap dengan alu-nya di kanan kiri. Para pelayannya pun mengenakan baju adat sunda dan dari speaker terdengar degung sunda mengalun.

Interior di dalamnya lebih semarak lagi, area makan dihiasi dengan payung-payung kertas khas tasikmalaya yang beraneka warna. Pilihannya bisa duduk di kursi atau lesehan, dua-duanya sama-sama nyaman. Di salah satu sisinya terdapat air mancur buatan, disediakan juga fasilitas mini playground untuk anak.

Sayangnya menurut saya, dekorasi tidak diimbangi dengan rasa masakan. Masakan disajikan secara prasmanan, tapi varian menunya sedikit, kebanyakan yang disediakan adalah pelengkap seperti tumisan atau tempe tahu, untuk lauknya sendiri waktu saya datang hanya ada ikan mujair, kikil dan ayam . Itupun kita tidak bisa request minta dihangatkan seperti di RM Ampera, rasanya pun biasa saja. Harganya memang murah, kemarin kami makan berempat hanya habis 51 K, mujair dibanderol 7,7 K, ayam 6,6 K, tumisan-tumisan sekitar 3-5 K. Tapi kalau mau jujur porsi lauk memang lebih kecil, misalnya saja ayam kalau di restoran sejenis kan ayam dipotong 4 atau paling banter 6, kalau di sini mah potong 8 (ini ibu-ibu yang sering ke pasar yang tau :)), mujairnya juga kecil banget, macem yang sekilo isi 7/8. Kalau nasi karena ambil sendiri, mau sedikit banyak harganya sama. Teh tawar gratis dan boleh ambil sepuasnya. Overall. lumayan lah untuk tempat kumpul-kumpul atau ngisi instagram karena tempatnya bagus.

Kampung Sampireun Resort and Spa

Awalnya nggak ada rencana mau nginep di sini, pokoknya long weekend mau dihabiskan di rumah mertua indah aja, tapi … entah kenapa sejak pernah dirawat di RS, baby B sekarang polahnya lagi biking geleng-geleng, selalu rewel dan gak betahan, di jalan rewel dan cepet bosen, di rumah orang maunya minta pulang mulu, hadeuh. Karena baby B ngamuk terus, akhirnya pas kamis malem dadakan banget kami langsung browsing aplikasi pemesanan hotel online, pilihannya ada dua, mau ke garut atau ke bandung, kalau ke garut lebih deket tapi rata-rata harga penginapannya (yang kebanyakan adalah resort harganya mahal), sementara bandung lebih banyak pilihan tapi jauh. Akhirnya setelah berjibaku antara traveloka dan agoda, kami memutuskan menginap di kampung sampireun yang terletak di garut, yah mau emaknya juga sih, karena dari dulu penasaran pingin ke sana.

Udah tau kampung sampireun dari lama, sejak zaman browsing-browsing waktu nyari destinasi honeymoon dulu. Kalau dari materi promosinya kayaknya bagus banget, konsepnya sundanese romatic lah, tapi belum kesampaian karena rate-nya yang lumayan mahal. Kemarin ini karena dadakan, pilihannya yang masih terjangkau antara dariza (udah pernah), kampung sampireun, mulih ka desa dan bukit alamanda, karena hampir sama harganya, akhirnya milih sampireun, itu juga cari kamar yang tarifnya paling murah, yaitu deluxe garden villa.

Jalan Samarang – Kamojang yang menuju ke resort merupakan jalan yang sempit dan berliku-liku. Resortnya sendiri tidak terletak di pinggir jalan, melainkan sekitar 100 m masuk dan melewati perkampungan penduduk.

Setelah menyelesaikan proses check in dan diberikan secarik kertas berisi rincian free voucher, kami diantar menuju kamar oleh concierge. Tepat di belakang lobby adalah highlight resort ini yaitu danau yang dikelilingi oleh cottage-cottage bernuansa sunda dengan sampan-sampan yang bisa digunakan untuk mengarungi danau. Resort kami letaknya agak di belakang, dekat dengan restoran Seruling Bambu, kolam renang dan playground. Restoran Seruling bambu juga dibuka untuk umum sehingga walau tidak menginap pun masih bisa makan dan sekalian foto-foto di area resort.

0051
Pemandangan danau di kampung sampireun

Deluxe Garden Villa merupakan bangunan modern bertipe duplex dengan 4 kamar. Di bagian belakang terdapat serambi dengan kolam ikan dan pemandangan kebun. Kamarnya sendiri ber-furniture modern dengan fasilitas standart, tidak dilengkapi AC karena daerah samarang ini suhunya sudah sangat dingin. Setelah beres mandi dan shalat, sambil leyeh-leyeh saya meneliti kembali voucher yang diberikan, jadi kami mendapat free afternoon tea (di restoran jam 15.30 – 18.00), free bajigur (diantar ke kamar pukul 21.00), free surabi (diantar ke kamar pukul 07.00 pagi) dan free breakfast. Di kamar disediakan permainan congklak dan makanan ikan, jadi sambil mengisi waktu, pak suami malah ngajarin baby G bermain congklak, sementara baby B anteng kasih makan ikan.

Karena perut mulai lapar, kami menuju ke restoran untuk afternoon tea, selain tea/coffee, disediakan pula snacks berupa singkong rebus, gorengan ubi dan nanas (yang bikin merem melek saking kecutnya).

Setelah itu kami menuju area danau untuk main perahu, ikan-ikan yang berada di danau sangat sehat dan lincah serta langsung jadi favorit anak-anak. Setelah melongok sana-sini kok kayaknya perahu-perahu tersebut disediakan private untuk penyewa cottage tepi danau, karena masing-masing ditambatkan di dermaga dan ada nomornya. Kami pun bertanya pada petugas dan memang begitulah, katanya ada disediakan 2-3 perahu yang boleh digunakan, perahu tersebut tidak ada nomornya.

Untung suami yang bermata jeli melihat ada perahu tertambat di dermaga di sisi seberang, jadilah kami mengitari separuh sisi danau untuk mendapatkan perahu, untungnya lagi suami saya tukang dayung yang cukup mahir, jadi kami nggak perlu minta didayungkan petugas. Cukup menyenangkan mengarungi danau di senja hari dengan perahu, walau terus terang saya tidak terlalu terkesan dengan pemandangan kampung sampireun yang walaupun memang indah, tapi tidak seindah sangkaan saya sebelumnya, apa mungkin karena saya sudah mencoba beberapa resort lain yang hampir setipe ya? bisa jadi.

Puas bermain perahu, kami kembali ke kamar untuk shalat maghrib. Menjelang makan malam kami kembali ke restoran, di sana sudah disediakan sajian buffet untuk dinner, tapi sayangnya karena kami nggak mendapat fasilitas free dinner, jadi kami harus pesen menu ala carte, tapi lumayan dapet diskon 15%. Restoran ini kebanyakan menyediakan menu masakan sunda walau ada sedikit pilihan western seperti steak. Kami memesan mie goreng, soto ayam dan sup patin, rasanya so-so lah. Kampung sampireun ini terletak jauh dari mana-mana, tidak ada restoran dekat sini, jadi kalau mau makan ya mau nggak mau ke restoran di resort.Pukul 21.00 lewat, seorang petugas mengantarkan dua mangkuk bajigur ke kamar, bajigur nya lumayan enak dengan rasa pedas yang menyengat.

Esoknya setelah terlelap semalaman, saya terbangun dalam kondisi kaki pegal-pegal, imbas kemarin mendaki gunung galunggung. Pagi-pagi, kiddos sudah nagih janji untuk main ke playground dan lanjut berenang, padahal airnya dingin banget. Daerah samarang – kamojang memang tidak dilalui mata air panas, jadinya tidak ada kolam renang air panas seperti resort-resort di cipanas atau darajat.

Setelah beres mandi, kami duduk-duduk sambil menunggu surabi datang, tapi hingga jam 07.30 tidak kunjung tiba juga, akhirnya karena sudah kelaparan, kami langsung menuju restoran untuk breakfast. Varian breakfast-nya cukup banyak dan lengkap denga rasa yang enak. Perut kenyang, hati pun senang, setelah beres kami check out karena tidak mau terkena macet di jalan.

 

 

 

Posted in Garut, Indonesia, West Java

Kampung Sumber Alam

Garut yang beken dengan julukan Swiss van Java memang memiliki panorama alam yang sangat indah, ditambah lagi dengan suhu udara yang sejuk dan mata air panas alami, menjadikan Garut tempat yang sangat nyaman untuk santai dan beristirahat.

Berbagai tipe akomodasi ditawarkan di Garut, termasuk beberapa resort hotel yang menawarkan suasana pedesaan khas sunda. Sisa libur lebaran kemarin kami manfaatkan dengan menginap semalam di Kampung Sumber Alam yang berlokasi tidak jauh dari obyek wisata Cipanas.

Hari senin tersebut, di mana kebanyakan orang-orang sudah masuk kantor di ibukota, membuat perjalanan kami dari Tasikmalaya sangat lancar, suasana jalan sangat lengang. Setelah mampir sebentar di Asep Liwet Stroberi cabang Tarogong untuk makan siang, kami segera menuju ke kawasan Kampung Sumber Alam. Kondisi jalan raya di sini masih sama saja seperti saat terakhir saya berkunjung ke Cipanas, rusak dan bolong-bolong dengan kondisi aspal yang sudah aus, padahal Cipanas ini termasuk obyek wisata yang sangat ramai.

Pukul 12.00 siang kami sudah sampai di resort, saya segera menuju meja resepsionis untuk check in. Karena sudah lewat musim libur maka kamar yang kami booking sudah siap dan langsung bisa ditempati tanpa harus menunggu pukul 14.00 seperti yang tertera dalam peraturan. Resepsionis memberikan kunci kamar berikut setumpuk kupon yang terdiri atas kupon breakfast, kupon dinner, kupon memancing free 1 kg, kupon mengolah & memasak hasil pancingan, kupon snack jajanan pasar dan kupon kolam renang.

Kampung sumber alam berkonsep suasana pedesaan khas sunda, akomodasi yang disediakan berupa bungalow yang berbentuk rumah adat sunda. Bungalow ini dibangun dengan pondasi di dasar kolam, atapnya berupa ijuk dan dindingnya berupa anyaman bambu. Bungalow-bungalow ini dikelilingi dengan kolam-kolam luas dan pepohonan yang asri.

Kami menyusuri jalanan setapak hingga mencapai bungalow yang sudah kami booking. Bungalow kami bernama “Bungalow si ceeh” yang berupa satu bangunan dengan dua suite terpisah . Yang mengejutkan ternyata bungalow ini terdiri dari dua lantai, lantai satu merupakan ruang tidur , sementara lantai dua-nya berupa loteng kecil tanpa furniture yang bisa diakses melalui tangga.

Setelah melewatkan waktu dengan tidur siang, sorenya kami menuju ke kolam renang yang letaknya di samping lobby resepsionis. Terdapat tiga kolam besar, satu untuk anak yang dilengkapi dengan seluncuran, satu untuk dewasa dan satu lagi adalah jacuzzi pool yang letaknya paling atas. Semuanya merupakan kolam air panas. Kiddos pun langsung menuju kolam pertama untuk main seluncuran dan basah-basahan.  Sambil menunggu, saya yang hari itu males basah, malah ngemil siomay yang bisa dibeli di kios dekat kolam renang. Setelah kiddos puas berenang, kami kembali ke kamar untuk mandi dan beristirahat.

Selepas itu tadinya kami bermaksud menukarkan kupon free snack (maklum abis berenang jadi lapar), namun ternyata stan untuk snack hanya beroperasi hingga jam 3 sore saja. Akhirnya kami hanya berjalan-jalan saja menyusuri jalan setapak hingga bertemu kolam pemancingan di mana suami akhirnya berhenti untuk ikut bapak-bapak lainnya memancing (alat memancing berikut umpannya bisa diambil di kolam pemancingan), sementara saya dan kiddos jalan terus hingga bertemu area playground yang cukup banyak mainannya.

20170704_074659
Kolam pancing

Sebenarnya hampir semua kolam di kampung sumber alam diperbolehkan untuk kegiatan memancing kecuali sedikit yang diberi keterangan “dilarang memancing”. Sesudahnya suami saya pindah memancing di teras bungalow, sementara saya dan kiddos memilih foto-foto di area jalan setapak dari kayu yang dikelilingi kolam dan bungalow yang kebetulan sangat indah untuk difoto.

 

Jam makan malam dimulai pukul 19.00, karena sudah lapar kami langsung menyerbu restoran, kebetulan lokasinya tidak jauh. Restorannya sendiri luas dengan pilihan beragam menu buffet. Makan malam diiringi dengan lantunan live music.

Keesokan paginya, setelah sarapan di restoran semalam, kiddos minta berenang lagi. Berenang di pagi hari lebih menyenangkan lagi, karena matahari berangsur-angsur naik sehingga suhu udara tidak terlalu dingin. Sehabis berenang, kami menukarkan kupon free snack yang sayangnya cuma dapet satu jatah saja, pilihannya ada bakso cuanki (atau bakwan malang), sosis bakar dan sate ayam. Karena cuma dapet jatah satu, tentunya kami minta tambah lagi dengan membayar yang sayangnya harga per porsinya agak pricey, satu porsi cuanki dibanderol 25K.

IMG20170704103522
Gerobak snack di lapangan outbond

Setelah puas makan, saya dan anak-anak kembali ke cottage untuk bersantai sambil nonton TV, sementara suami meneruskan memancing sampai kuota 1 kg-nya terpenuhi. Pulang-pulang suami membawa sekotak sterefoam isi ikan mas yang sudah disiapkan dan digoreng oleh pihak hotel:). Siang itu selepas dzuhur, kami baru check out, sungguh pengalaman yang menyenangkan.

20170703_174206
Memancing di kamar cottage