Posted in Bali, Indonesia

Sanur bukan cuma pantai

Sejak dulu sanur adalah pantai terkenal di Bali, kalau Kuta populer dengan sunset-nya, Sanur yang terletak di timur populer dengan sun rise-nya. Awalnya sanur sama sekali tidak masuk dalam daftar itinerary saya, namun dikarenakan situasi saat itu di mana kondisi gunung agung masuk level IV, membuat saya membatalkan kunjungan ke karangasem dan mengalihkan tujuan ke Sanur yang relatif lebih dekat. Siapa sangka ternyata daerah sanur sekarang memiliki sejumlah lokasi menarik, berdasarkan hasil googling akhirnya saya memilih berkunjung ke dream island resort di pantai mertasari dan big garden corner di perempatan padang galak, selain tentu saja tetap mengunjungi pantai sanur.

SANUR BEACH

Senja sudah hampir menjelang ketika kami tiba di pantai sanur, suasana di pantai sanur minggu sore tersebut sangatlah ramai dipadati wisatawan. Area parkir sudah penuh sesak oleh motor, sehingga mobil hanya bisa diparkir di luar gapura pantai sanur yang menjulang tinggi dan tersusun atas bata kemerahan. Di area sanur, tepat di samping hotel grand inna, terdapat sebuah masjid megah bernama Al Ihsan.

Dari parkir, kami berjalan lagi sekitar 100 m hingga tiba di bibir pantai yang sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Pantai sanur memang pantai yang nyaman dikunjungi, pasirnya yang berwarna putih dengan medan yang landai menjadikannya cocok dan aman untuk wisata keluarga. Senja itu ribuan pengunjung masih terlihat duduk santai atau bermain air sambil menunggu matahari terbenam sepenuhnya. Tidak ada biaya masuk untuk berkunjung ke pantai sanur. Setelah sejenak menikmati panorama pantai sanur, kami melangkahkan kaki menuju warung mak beng untuk menikmati sajian sop ikannya yang melegenda.

DREAM ISLAND RESORT

Dream island resort merupakan kawasan wisata pantai baru yang berada di pantai mertasari, sebelah selatan dari pantai sanur, tepatnya di ujung jalan pengembak. Pantai ini baru buka jam 09.00 pagi sehingga kami bisa santai leyeh-leyeh dulu di hotel yang hanya 5 menit jaraknya.

Pukul 09.00 tepat kami berangkat ke tujuan, tempat parkir yang disediakan sangat luas walau kelihatan masih belum 100% rampung. Mungkin karena waktu itu adalah senin pagi, suasana terlihat lengang, hanya terlihat beberapa mobil saja yang parkir, sisanya adalah sepeda yang rata-rata dibawa oleh bule. Terdapat sebuah jembatan kayu yang menghubungkan area parkir dengan kawasan pantai. Di ujung jembatan kayu berdiri arca ganesha dan loket tiket dari kayu. Tarif masuknya adalah 20K/orang, kiddos belum bayar.

Jalan setapak menuju kawasan pantai dilapisi paving block dan dinaungi oleh pohon cemara yang berbaris rapat. Di sana-sini disediakan kursi dan hammock untuk bersantai, terdapat juga playground berlantai playmate yang sayangnya belum diisi mainan apa-apa.

Di akhir jalan setapak, kami bertemu sejumlah bangunan dan area duduk yang bisa dipakai untuk duduk-duduk dan juga difungsikan sebagai restoran. Tiket masuk yang dibeli tadi bisa ditukar dengan segelas welcome drink berupa segelas sirup melon dingin dan sepiring kacang bali sebagai snack. Kalau masih lapar, bisa juga pesan makanan dari stall-stall yang berdiri di area ini atau langsung dari restoran. Di depan restoran disediakan sejumlah pouch empuk warna-warni dan signage besar bertuliskan di dream island resort. Di ujung kanan berdirilah sejumlah gubuk-gubuk cantik bergaya etnik yang difungsikan sebagai tempat massage. Bisa juga naik kuda atau unta untuk berkeliling area pantai ini. Berbagai pilihan aktivitas seperti kayak atau memberi makan hiu juga bisa dipilih.

IMG20171030093401
Gubug-gubug spa

Jam masih menunjukkan pukul 09.00 WITA namun matahari sudah panas menyengat kulit. Setelah kiddos berganti baju, mereka langsung berlari ke bibir pantai, namun siapa sangka permukaan pasir yang diinjak penuh dengan batu karang dan pecahan kulit kerang yang walaupun tidak tajam namun bikin kaki sakit. Akhirnya kami kembali dulu untuk memakai sendal.

Terdapat sebuah ayunan tengah laut seperti yang ada di gili trawangan, ombaknya relatif hampir tidak ada sehingga aman untuk disebrangi. Namun kami agak kecewa dengan kondisi perairan yang luar biasa kotor, warnanya kecoklatan, banyak sampah plastik berseliweran dan lumut yang tidak kalah banyaknya, bahkan saya berani bilang ancol saja masih mendingan. Tampaknya karena wisata ini masih dalam taraf pengembangan jadinya masih belum bisa maksimal, di sana-sini terlihat sejumlah pekerja yang sedang menyeroki lumut dan karang.

IMG20171030092833
Ayunan lepas pantai

Kondisi perairan yang tidak nyaman ditambah panas matahari yang menyengat membuat kami hanya bertahan sebentar dan langsung menuju ruang bilas untuk mandi dan berganti baju. Untunglah, fasilitas shower room dan ruang gantinya bagus dan bersih. Mungkin di waktu yang akan datang, kondisi di atas bisa lebih diperbaiki agar pengunjung bisa lebih nyaman karena saya lihat sudah potensial dan fasilitasnya pun bagus.

BIG GARDEN CORNER

Big Garden Corner adalah cafe baru berkonsep unik yang terletak pas sebelum traffic light perempatan padang galak. Cafe ini “dihuni” oleh ratusan patung dan replika candi yang membuatnya unik dan tidak boleh dilewatkan.

Area parkirnya saja sudah wah, dipenuhi oleh tiang-tiang batu kelabu yang berjajar rapi di salah satu sisinya, belum lagi beberapa patung dari ajaran buddha yang mengisi pelatarannya. Pintu gerbangnya berupa pergola dari kayu yang dihiasi ukir-ukiran cantik berbentuk barong dan naga. Tiket masuknya dibanderol 25 K/orang dan bisa ditukarkan dengan welcome drink, lagi-lagi kiddos belum bayar.

IMG_2436
Pintu gerbang big garden corner

Jalan setapak diapit oleh rerumputan gajah mini yang dipangkas sangat rapih, hampir di setiap sudut sejauh mata memandang terdapat patung-patung, patung-patungnya memang sangat beragam dengan aneka ukuran, campur antara ajaran hindu dan buddha. Di depan loket tiket berdiri rumah kelinci yang dihuni kelinci-kelinci lincah nan gemuk yang berlarian. Sementara perhatian baby G langsung teralih pada dua buggy car warna shocking pink dan orange yang diparkir di sudut kiri, dengan semangat dia langsung berlari untuk main setir-setiran. Sementara saya berjalan hingga ke ujung kiri dan menemukan salah satu dinding bergaya candi hindu.

Dari sini kami berjalan melewati jalan setapak yang salah satunya dipagari tiang-tiang batu kelabu, suasana di big garden corner sendiri sangat teduh karena dinanungi pepohonan. Di salah satu sisi terdapat lapangan luas berisi dua ekor gajah biru yang disusun dari ribuan kaleng soda bekas, menarik banget.

Tidak jauh kami bertemu rumah panggung dari kayu bergaya etnik yang bisa dimasuki, terdapat juga beberapa portal bunga berbentuk love yang menuju area penukaran welcome drink. Di sana-sini disediakan tempat duduk aneka rupa, mulai dari kayu hingga batu. Saya pun seolah bingung untuk memfokuskan pandangan karena selalu saja ada hal yang menarik, mulai dari patung sleeping buddha, patung dewa-dewa hindu, dinding candi, gapura-gapura bali, ayunan dll. Kami juga bertemu rumah pohon yang langsung didaki kiddos dengan penuh semangat.

Setelah kebanyakan berhenti, jepret sana jepret sini, sampai juga di area cafe dan restoran semi terbuka yang tidak kalah eye-catching-nya dengan area lain. Terdapat sejumlah pouch warna-warni yang dinaungi payung hias lebar, ada juga gazebo beratap dengan hiasan replika permen lolipop menjuntai dari langit-langit, latar belakangnya juga tidak kalah semarak, berhiaskan dinding candi bergaya hindu. Di belakang bangunan restoran, berdiri area playground yang diisi berbagai mainan anak. Karena belum waktunya makan siang, kami hanya memesan es krim cone yang ukurannya besar saja.

 

Selanjutnya saya dan suami meneruskan penjelajahan ke area belakang (kiddos dan ortu lebih memilih stay di area restoran). Setelah melewati sejumlah umbul-umbul warna-warni dan untaian lollipop yang diikatkan di dahan-dahan pohon, sampailah kami di miniatur borobudur. Miniatur tersebut bisa dinaiki dari sisi belakang. Tidak juah terdapat spot menarik lainnya berupa akar-akar pohon yang berbentuk sedemikian rupa seperti pergola memanjang, ada juga area duduk berupa sangkar burung berwarna putih.

Bagian paling belakang dari big garden corner diisi dengan kolam yang dilengkapi dengan tulisan big garden corner dan sejumlah undakan kayu yang bisa diduduki. Terdapat pula area duduk dengan sejumlah pouch warna-warni, portal batu ala stone henge, patung orang-orang warna-warni dan juntaian payung dari atap pergola.

Overall, kunjungan ke big garden corner pasti sangat memuaskan para instagramwan dan instagramwati karena banyaknya spot-spot menarik.

 

 

Advertisements
Posted in Bogor, Indonesia, West Java

Nge-Bogor Heula

Di suatu weekend, suami saya dan beberapa teman kantornya merencanakan untuk melewatkan akhir pekan bersama di Puncak. Karena masing-masing merupakan keluarga dengan anak balita, maka dipilihlah beberapa tempat wisata ramah anak, antara lain curug cilember dan taman matahari yang berlokasi masih di sekitar Megamendung plus kuntum farmfield di Tajur.

Kami janjian di rest area Sentul pukul 06.00 pagi dan setelah duduk-duduk sebentar di Cafe Alfamart sambil sarapan, kami meneruskan perjalanan. Btw, Alfamart di rest area ini tergolong lengkap jualannya, selain ada coffee shop yang juga bakery, di sini juga menjual bento box yang tinggal dipanaskan di microwave. Disediakan juga beberapa kursi dan meja untuk menyantap makanan.

CURUG CILEMBER

Sampai di exit gerbang tol Puncak, jalanan sudah mulai merayap dan ujung-ujungnya kami tetep kena one way, akhirnya barulah jam 09.00 jalur dibuka. Karena belum ada satupun anggota rombongan yang pernah ke Cilember (kecuali suami saya, itu juga udah lama banget), kami pun mengandalkan google map yang menunjukkan 3-4 lokasi berbeda untuk keyword “curug cilember”, yang kayaknya semuanya ngaco. Tidak jauh setelah melewati cimory riverside, ada belokan kecil ke kiri, suami saya pun bertanya pada tukang parkir apakah dari sini bisa ke cilember dan diiyakan. Jalanannya kecil dan sempit, kalau kebetulan berpapasan dengan kendaraan lain harus berhenti dan mepet-mepet. 10 menit kemudian kami melewati pintu belakang Taman Wisata Matahari, dari sini kami kembali bertanya ke penduduk sekitar dan ternyata masih sekitar 4 km lagi jauhnya. Jalanan terus menanjak melewati banyak vila-vila (yang disewakan) hingga akhirnya tibalah kami di lokasi. Tidak banyak petunjuk arah menuju Cilember, hanya ada satu plang kecil yang juga harus jeli melihatnya.

Parkir mobil terletak 50 m sebelum pintu masuk cilember, areanya cukup luas dengan tarif 10 K/mobil. Udara sejuk khas pegunungan menyambut begitu keluar dari mobil. Dari parkir mobil konturnya agak menanjak, selama berjalan kami melewati beberapa penjaja makanan. Di samping loket tiket terdapat plang eye catching dengan huruf-huruf hijau terang bertuliskan “Curug Cilember” yang membuat kami tidak bisa menolak keinginan foto bersama dulu di depan tulisan ini. Harga tiket masuk sebesar 20K untuk dewasa, kiddos masih belum bayar. Tiket ini sudah termasuk free ke taman kupu-kupu.

1
Welcome to Curug CIlember

Setelah melewati loket tiket terdapat dua jalur yang dibatasi pagar bambu, pengaturan jalur di kawasan wisata ini sudah cukup bagus dan rapi, ada yang arah masuk dan ada arah keluar yang masing-masing dipisahkan dengan pagar bambu, jadi wisatawan tidak akan amprokan. Di jalur yang satunya (yang harusnya untuk exit) terdapat kolam besar yang dipenuhi ikan koi oranye gemuk-gemuk. Kiddos pun langsung menerobos pagar bambu untuk “say hello to fishes”. Setelah itu kita akan melewati jembatan beralas anyaman bambu hingga menuju pos pemeriksaan tiket dan seterusnya melewati jalan setapak berbatu yang menanjak. Pepohonan tinggi, terutama pinus, menaungi rapat di atas kami, menciptakan pemandangan indah menghijau, sangat menyegarkan untuk mata yang sehari-hari harus berkutat dengan komputer.

Tidak lama kemudian sampailah kami di suatu rumah kaca bundar dengan kaca patri berhiaskan kupu-kupu aneka warna, bangunan tersebut adalah taman kupu-kupu. Areanya sendiri tidak terlalu luas dan sayangnya saat kami datang adalah musim kepompong, jadi hanya 1-2 kupu-kupu kecil yang tampak.

5
Taman kupu-kupu

Kami melanjutkan perjalanan melewati areal perkemahan yang dipenuhi aneka tenda , cukup banyak juga ternyata yang berkemah di sini. Perjalanan terus menanjak hingga akhirnya bertemulah kami dengan Curug Cilember.

12
Area perkemahan

Curug Cilember sendiri sebenarnya terdiri atas 7 air terjun, air terjun ketujuh adalah yang lokasinya paling bawah dan paling mudah dijangkau oleh wisatawan, sementara yang lainnya mengharuskan kita trekking lebih jauh lagi dengan medan makin berat. Karena membawa anak, tentulah curug ketujuh sudah cukup bagi kami.

Air terjun ketujuh Cilember ini tidak terlalu tinggi dan karena kami datang di musim kemarau, debit airnya kecil bahkan kolam-kolam tampungannya pun terlihat sangat dangkal.  Untuk mendekati posisi air terjun kita harus sedikit mendaki melalui jalur berbatu yang di beberapa tempat agak licin dan sempit. Pengunjung di pagi hari tersebut belum terlalu banyak sehingga kami bisa leluasa mengambil foto dan bermain air di kolam-kolam yang terletak agak di bawah.

TAMAN WISATA MATAHARI

Sesudah sedikit bermain air di curug cilember, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Wisata Matahari yang jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan. Kami masuk lewat pintu masuk belakang, di mana begitu keluar area parkir kami disambut sebuah pesawat yang difungsikan sebagai semacam wahana.

Tiket masuk taman matahari sebesar 45 K/orang, anak dengan tinggi badan lebih dari 80 cm sudah dikenakan biaya. Tiket masuk tersebut sudah termasuk gratis untuk 5 wahana permainan (waterpark, perahu kayak, kereta kelinci, padamoto, menara pandang) dan diskon 10 % di Sunda Express Resto. Area taman matahari sangatlah luas, namun kurang teduh karena tidak terlalu banyak pepohonan. Kami juga tidak diberi peta area di loket tiket sehingga sedikit menyulitkan mencari letak wahana-wahana yang ada.

Karena sudah hampir jam makan siang, kami langsung menuju Sunda Express Resto (karena paling dekat dari lokasi masuk kami) untuk makan siang dan shalat. Di luar dugaan ternyata sunda express di sini terlihat sangat sederhana, dengan beberapa area makan duduk dan area lesehan yang sayangnya kurang terjaga kebersihannya. Resto tersebut dikelilingi oleh parit kecil dan bersebelahan dengan kolam terapi ikan.

dsc_4858-1f-1246_228-t598_26
Sunda express (sumber:tamanwisatamatahari.co.id)

Menu yang ditawarkan tidak terlalu banyak ragamnya, satu paket nasi ayam bakar/goreng dibanderol 39 K. Pembayaran hanya menerima cash, membuat saya sedikit kelabakan karena uang cash yang dibawa sudah habis, untungnya di depan sunda express ada sebuah indomaret dengan fasilitas tarik tunai.

Sembari menunggu sajian datang, saya mengintip sebentar ke wahana padamoto yang terletak persis di samping kiri sunda express. Wahana podomoto adalah wahana yang dilengkapi dengan berbagai background 3D standar yang tujuan utamanya adalah untuk berfoto-foto, sudah bisa ditebak wahana ini dipenuhi oleh para ABG. Karena kurang tertarik saya pun menyarankan kepada teman-teman untuk skip saja wahana ini.

Setelah makan siang, kami berjalan menuju area waterpark padahal saat itu panasnya ampun-ampunan, rasanya pingin bilang nggak usah berenang aja tapi kiddos memang tidak bisa dilawan karena mereka tadi belum puas main air di Cilember.

Matahari waterpark berlokasi di dekat pintu masuk utama, jadi lumayan jauh juga jalannya. Kondisi di dalam taman matahari tak ubahnya di Ragunan, banyak pedagang  dari luar bebas masuk, menggelar lapak di pinggir jalan dan berjualan menawarkan aneka barang ataupun makanan. Kebersihan taman matahari pun rasanya perlu ditingkatkan termasuk kondisi sejumlah wahana yang sepertinya perlu perawatan agar tidak terlihat bladus/kusam.

Di pintu masuk waterpark barang-barang kami diperiksa oleh petugas, karena ada larangan membawa makanan dan minuman dari luar. Waterparknya sendiri ternyata sangat luas dengan berbagai pilihan kolam yang cocok untuk anak. Anak-anak pun langsung bersemangat minta ganti baju untuk segera berenang. Nah yang menurut saya agak kurang sreg adalah toilet dan ruang ganti di area waterpark harus bayar, aneh nggak sih? coba aja hitung berapa kali kita keluar masuk mulai dari ganti baju, bilas,  mandi belum kalau buang air ke toilet. Bukan cuma saya yang menganggap kebijakan ini konyol, banyak juga yang berpendapat sama.

Disediakan beberapa stan makanan dan kursi-kursi untuk duduk-duduk menunggu yang berenang. Kiddos langsung bersemangat hilir mudik di antara kolam dengan seluncuran ataupun kolam dengan ember tumpah. Kedua kolam tersebut cukup aman untuk kiddos karena dangkal, walau harus tetap diawasi oleh orang tua karena kadang anak-anak kalau bermain tidak lihat-lihat, sering tidak sengaja menyikut atau mendorong anak lainnya. Kira-kira sejam kemudian barulah kiddos mau dibujuk (dengan susah payah) untuk udahan.

21
Matahari Waterpark 

Dari waterpark kami berjalan kembali menuju arah pintu belakang, setelah sebelumnya mencoba wahana kereta kelinci yang letaknya nyempil dan susah dicari (kami sampai nanya 2x ke petugas). Gampangnya, lokasinya di belakang kincir angin besar ala belanda yang berada di depan danau.

23
Kereta kelinci

Dari kereta kelinci kami meneruskan perjalanan menuju danau di mana wahana perahu kayak berada, cukup mudah menemukannya karena terletak dengan menara pandang yang menjulang tinggi. Susah-susah gampang mengemudikan perahu kayak dengan dayung, terkadang arahnya menyimpang atau bahkan menubruk pinggiran danau, perahu kayak bebas dipakai selama 30 menit.

Karena kiddos sudah cukup lelah maka setelah berperahu kayak, kami men-skip saja wahana menara pandang . Begitu sampai di mobil, kiddos pun langsung terlelap.

CIMORY RIVERSIDE

Karena kebetulan melewati Cimory Riverside, para ibu-ibu (termasuk saya) langsung punya inisiatif untuk mampir. Apa yang istimewa dari cimory riverside? pertama saya bilang adalah karena pemandangannya. Terdapat sebuah restoran dengan pemandangan pinggir sungai yang cantik apalagi di senja hari, walau (setelah 2x makan di sana) menu yang disajikan tergolong biasa saja. Selain restoran, terdapat pula sebuah toko swalayan yang menjual tidak hanya produk susu dan yoghurt dari cimory, melainkan juga aneka snack, kue-kue dan frozen food. Asiknya lagi area cimory ini dihias sedemikian rupa dengan atribut-atribut cantik yang memungkinkan kita jepret-jepret. Disediakan pula musholla yang cukup luas dan area playground untuk anak-anak.

Setelah sedikit berbelanja di toko, kami bermaksud berjalan-jalan sebentar di area pinggir sungai, namun ternyata hanya pengunjung restoran yang diperbolehkan masuk gratis, sedangkan kalau yang melalui toko harus bayar lagi.

KUNTUM FARMFIELD

Keesokan harinya, setelah menginap semalam di area Cipaku yang sejuk. Paginya kami berkunjung ke Kuntum Farmfield yang berlokasi di Tajur, dalam perjalanan kami melewati sejumlah toko tas asli buatan Tajur yang memang sudah terkenal.

Sebenarnya ini sudah kunjungan kami yang ketiga ke Kuntum Farmfield, tapi rasanya tidak bosan karena wisatanya sangat  bermuatan edukasi bagi anak. Sesuai namanya, kuntum farmfield merupakan suatu wisata agro yang memungkinkan anak-anak berinteraksi lebih dekat alam, pilihan aktivitasnya banyak seperti memberi pakan ternak, menangkap ikan, memetik sayur dan naik kuda.

Harga tiket masuknya sebesar 40 K/orang. Lobby tempat penjualan tiket juga merangkap toko yang menjual aneka produk tanaman dari Kuntum Farmfield, mulai dari tumbuhan bunga dan buah dalam pot hingga ke hasil alam dan buah yang sudah dikemas rapi. Di belakang booth penjualan tiket tersedia sejumlah bilik toilet bersih.

Begitu masuk kita akan melewati jembatan kayu yang berdiri di atas sejumlah kolam-kolam berisi aneka ikan gemuk-gemuk, mulai dari lele, mujair hingga koi. Setelah itu kita akan menjumpai bangunan kecil di mana terdapat penyewaan caping gratis, capingnya sangat berguna untuk melindungi wajah dari cuaca terik.

Setelah itu kita akan berjumpa dengan deretan kandang kambing yang sangat banyak. Terdapat sebuah kios tempat membeli pakan ternak, ada susu untuk kambing (5K/botol), susu untuk sapi (10K/botol), rumput untuk sapi (5K/ikat), sepaket makanan kelinci (10K/bakul), makanan ayam (10K/bks) dan makanan ikan (10K/bks). Kiddos pun takut-takut tapi bersemangat mencoba memberi susu kepada para kambing yang sangat agresif berebut susu sampai kadang mereka menjerit. Dari kandang kambing, kiddos meneruskan ke kandang kelinci dan hamster yang dibiarkan bebas berkeliaran, sambil memberi makan mereka mengelus-ngelus bulu kelici yang halus atau “mencomot” hamster.

 

Setelah itu adalah area kandang sapi di mana terdapat sejumlah kandang dengan sapi-sapi gemuk dan sangat terawat. Seterusnya ada kolam ikan, kandang burung, kandang ayam, kandang bebek, kandang angsa dan bahkan kolam berisi kura-kura. Saya sangat suka dengan kuntum farmfield karena pengelolaanya yang sangat top, dari sekian banyak hewan dan kandang, perawatannya sangat bersih, bau-bauan yang ada diminimalisir, kandang dan kondisi hewan pun sangat bersih dan hewan-hewan yang ada rata-rata gemuk dan sehat.

Area belakang merupakan area pertanian dan perkebunan, aneka tanaman yang dibudidayakan boleh dipetik sendiri dan nantinya dibayar setelah ditimbang. Ladang-ladang luas berisi aneka tanaman, membuat kami menjelaskan beraneka ragam nama tumbuhan kepada kiddos.

Melewati area perkebunan adalah area kuda tunggang dengan tarif 40K, kiddos pun antusias dan berani naik sendiri tanpa didampingi, jarak tempuhnya lumayan dengan durasi sekitar 10-15 menit memutar.

D’LEUIT RESTO

Salah satu resto favorit kami di Bogor, selain karena rasa masakannya enak dan harganya terjangkau, bangunannya luas, dilengkapi musholla dan playground serta lokasinya tidak jauh dari pintu tol. Sayangnya area parkirnya justru tidak terlalu besar, jadi mobil-mobil banyak yang terpaksa parkir di pinggir jalan.

Suasana saat makan siang sangatlah ramai sehingga kami menunggu untuk waiting list dulu, itupun dapetnya ruangan yang biasanya untuk private (namun karena ramai akhirnya dibuka).

Ada berbagai macam menu yang ditawarkan mulai dari menu sunda hingga menu oriental. Menu khas dari D’Leuit adalah nasi jambal yang terdiri atas nasi jambal (nasi yang dicampur olahan ikan asin jambal)+pilihan ayam/daging/ikan+tahu+bakwan jagung+sayur+sambal dan kerupuk. Harganya dibanderol 39K/paket dengan porsi yang sangat mengenyangkan.

IMG02726-20120722-1745
Nasi Jambal D’Leuit
Posted in Bali, Indonesia

Ada apa dengan Ubud (Bagian 1) + Penelokan Kintamani

Kalau sudah bosan dengan kawasan Bali Selatan yang hectic dan touristy, cobalah bertandang ke Ubud yang lebih tenang. Ubud termasuk dalam kabupaten Gianyar dan lokasinya berada di Bali tengah, Ubud terkenal dengan panorama alamnya yang berupa sawah dan lereng-lereng perbukitan, selain itu Ubud juga merupakan pusat kesenian dan seni rupa di Bali. Banyak pilihan obyek wisata yang ditawarkan Ubud, mulai dari panorama sawah, pura dan tempat ibadah, museum, pertunjukkan tarian hingga aktivitas outbond. Kali ini saya hanya menyambangi dua lokasi yaitu goa gajah dan pura tirta empul lalu sekalian mampir di Penelokan dan mencicipi kuliner bebek di Bebek Tepi Sawah.

GOA GAJAH

Lokasi Goa Gajah terletak di Ubud bagian selatan dengan durasi perjalanan sekitar 1 jam dari hotel kami di Bilangan Kuta. Walaupun menyandang nama gajah, hakikatnya pura ini tidak ada kaitan sama sekali dengan pemujaan gajah. Diduga nama Goa Gajah berasal dari kata “Lwa Gajah” yang berarti tempat pertapaan yang berada di tepi sungai, mungkin karena adanya suatu situs goa yang digunakan sebagai tempat pertapaan.

Tempat parkir yang disediakan sangat luas dan sejuk dengan rindangnya pepohonan, terdapat juga satu patung gajah (mungkin agar dicocokkan dengan nama goa gajah). Tidak jauh terdapat sebuah dinding gapura bali bertuliskan “Welcome to Goa Gajah Gianyar Bali”. HTM untuk wisatawan domestik sebesar 15K, kiddos belum membayar. Sebelum masuk pengunjung yang berpakaian minim (rok atau celana pendek) diharuskan mengenakan kain yang sudah disediakan.

Kompleks pura goa gajah terletak di lembah sehingga kita harus menuruni sejumlah anak tangga terlebih dahulu, dari tangga sudah dapat terlihat keseluruhan area goa gajah.

124
Kompleks Goa Gajah 

Begitu turun, kami bertemu dengan suatu kolam persegi panjang bersekat tiga, bagian tengah merupakan area pemujaan dan kanan kirinya diapit oleh patung bidadari yang masing-masing memegang kendi yang mengucurkan air. Kolam tersebut dilengkapi dengan undakan yang memungkinkan kita untuk turun ke dasar kolam, hanya harus agak berhati-hati karena licin. Dasar kolam agaknya dipenuhi lumut sehingga air kolam berwarna kehijauan.

Di sekitar kolam terdapat sebuah paviliun besar dan beberapa pura kecil beratap ijuk berlist emas yang digunakan sebagai tempat peribadatan. Di samping pura batu berisi tiga patung yang salah satunya adalah Ganesha, berdirilah mulut Goa Gajah yang dihiasi relief barong dan diapit oleh dua patung penjaga . Goa gajah sendiri bukanlah goa yang panjang, berbentuk seperti huruf T dengan patung Ganesha di satu sisi dan patung lingga yoni di sisi-sisi lainnya. Di sejumlah tempat terdapat ceruk-ceruk yang dulunya digunakan sebagai tempat pertapaan.

PURA TIRTA EMPUL

Dari Goa Gajah perjalanan diteruskan ke arah utara hingga mencapai pura tirta empul. Risiko jalan-jalan dengan kiddos adalah jam tidurnya, seperti saat sampai di tirta empul, baby B justru tertidur dan akhirnya mama mertua memilih tidak turun untuk menunggui Baby B. Karena saya parkir di area belakang (bukan parkir resmi), saya tidak tahu kalau ternyata harus membayar tiket masuk, kami langsung masuk saja karena dikira gratis dan tidak ada petugas yang memeriksa tiket, ternyata belakangan setelah meninggalkan lokasi pura saya baru melihat loket tiket di bagian depan, aduh maaf jangan ditiru ya.

Pura Tirta Empul terkenal dengan kolam mata air sucinya yang menurut hikayat keluar dari tanah tempat Dewa Indra menancapkan tombaknya saat menghadapi Mayadewana, tanah bekas dicabutnya tombak tersebut mengeluarkan mata air suci yang menjadi penawar mata air racun yang dikeluarkan Mayadewana. Karena dipercaya sebagai air suci, maka kolam ini digunakan untuk ritual penyucian diri dan pembasuhan dosa bagi para umat hindu.

Dari tempat parkir kami melewati sebuah gerbang dengan pelataran yang amat luas dan pura-pura di kanan kirinya. Kolam mata air suci terletak di bagian belakang, berbentuk persegi panjang dengan sebuah tempat pemujaan di tengah dan sejumlah pancuran air di satu sisi. Terdapat pula patung naga di sisi-sisinya. Saat kami datang, kolam cukup ramai oleh para warga yang sedang melakukan ritual penyucian diri, bahkan ada beberapa bule yang ikutan bergabung.

Dipisahkan oleh tembok, di samping kolam mata air suci tersebut, terdapat juga sebuah kolam yang diisi oleh ikan koi. Pura Tirta Empul juga bersebelahan dengan Istana Tampaksiring yang letaknya di atas bukit.

PENELOKAN – KINTAMANI

Meneruskan perjalanan hingga ke utara lagi, sampailah kami di jalan penelokan, suatu titik tinggi di atas bukit di mana kita bisa melihat panorama danau kintamani dengan latar gunung batur dari ketinggian. Karena terbatasnya waktu kami tidak bisa turun langsung ke kintamani dan cukup memuaskan diri untuk melihatnya dari Penelokan saja.

Di penelokan terdapat sejumlah restoran yang menawarkan sajian dengan pemandangan indah kintamani, atau kalau hanya mau melihat-lihat saja seperti kami, cukup parkir mobil di pinggir jalan dan menyebrang menuju anjungan yang sudah dilengkapi railing di sepanjang sisinya. Terdapat pula suatu bangunan kecil yang isinya peta-peta dan poster penjelasan kintamani dan gunung batur.

BEBEK TEPI SAWAH UBUD 

Akhirnya kesampaian juga makan di bebek tepi sawah di cabang ubud yang menurut hasil googling punya pemandangan lebih indah. Bebek tepi sawah ubud ini lokasinya tidak jauh dari goa gajah. Kami disambut oleh pelayan cantik berbaju adat bali di pintu masuk, ada pula dua gadis berkostum tari yang menjaga stan ticket untuk suatu pertunjukkan. Di lobby restoran tersedia juga dua kursi (yang saya juluki kursi pelaminan bali) untuk digunakan berfoto.

Melewati bangunan lobby, kami dipandu melewati suatu areal persawahan luas lengkap dengan aneka atribut khas bebek tepi sawah, seperti batu besar yang di sekelilingnya dihiasi patung bebek, orang-orangan sawah, umbul-umbul dll. Area makan kebanyakan berbentuk lesehan dari bambu yang sudah dilengkapi dengan bantal-bantal duduk.

Seperti yang sebelumnya, kami memesan hidangan juara nya yaitu Crispy Duck yang seporsi isinya terdiri atas nasi, setengah ekor bebek muda, lalapan, tiga jenis sambal dan buah.

Sambil menunggu hidangan datang, kami berkeliling di area sawah, matahari yang panas terik tidak menyurutkan semangat kami untuk berfoto dengan ria dengan aneka atribut lucu yang sudah disediakan.

Posted in Bali, Indonesia

Ada apa di Ubud (Bagian 2)

Ada apa lagi di Ubud ???

Kalau di bagian 1 kemarin saya sudah membahas jalan- jalan ke Goa Gajah dan Pura Tirta Empul sekaligus kulineran di Bebek Tepi Sawah, kali ini saya akan membahas tempat wisata lain yang tidak kalah menariknya. Ubud disebut juga sebagai jantung kesenian Bali sehingga tidak mengherankan terdapat sejumlah museum dan galeri seni, juga pergelaran kesenian tiap harinya. Karena membawa kiddos, terpaksa saya harus menangguhkan itinerary museum (karena mereka pasti cepat bosan), sebagai gantinya saya mengalokasikan waktu untuk menonton salah satu pergelaran tari tradisional yang pasti disukai baby G. Selain itu kali ini saya tidak melewatkan kesempatan untuk lebih dalam mengeksplorasi indahnya panorama ubud melalui pemandangan sawah terasering, berjalan-jalan di sejumlah pura cantik dan menengok monyet-monyet lucu yang kesemuanya ada di Ubud.

 

SACRED MONKEY FOREST UBUD

“Adek mau liat monyet nggak?” tanya saya kepada Baby B, yang langsung diiyakan dengan celotehan riang yang bersemangat. Sebagai orang tua yang punya konsep “dekat dengan alam” (yang punya cita-cita anaknya kerja di national geographic), sedapat mungkin kami ingin mengenalkan anak-anak langsung dengan aneka flora dan fauna sehingga nantinya mereka akrab dengan alam. Monkey forest ubud mejadi destinasi yang paling cocok untuk niat kami tersebut di mana terdapat cagar alam seluas 27 Ha yang dihuni oleh spesies monyet ekor panjang yang dibiarkan berkeliaran bebas.

Big Surprise !!!! Itu yang ada dalam benak saya begitu memasuki area parkir monkey forest ubud sekarang. Area parkir sekarang baru, lokasinya sekitar 200 m sebelum area parkir lama, areanya sangat luas, dilengkapi dengan sistem ticketing dan sangat bersih. Terakhir saya ke sini waktu 2005, sudah lama sekali ya.

Di area parkir ini terdapat sebuah bangunan bundar berukuran besar dikelilingi parit berisi ikan-ikan yang juga merupakan lokasi ticket booth. Disediakan pula bangku-bangku untuk duduk sembari menunggu orang yang antre membeli tiket. HTM untuk wisatawan domestik dewasa adalah 50K, sementara anak-anak 40K.

IMG_2211
Sitting area

Dari bangunan ini, kita akan menyebrangi jembatan kayu yang ujungnya dibingkai gapura putih, melewati gapura ini barulah kita memasuki area monkey forest. Tidak jauh kita akan bertemu para petugas pemeriksa tiket dan tugu signage bertuliskan monkey forest. Suhu udara terasa lembab, walaupun panas terik matahari terhalang pepohonan yang tumbuh rapat di sana-sini.

Di bawah tugu tersebut terdapat sebuah terowongan pendek dengan dinding berhiaskan relief bergambarkan para monyet. Begitu keluar kita sudah akan disambut monyet-monyet yang dibiarkan bebas di alam, ada beraneka macam ukuran dan usia, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Untuk orang yang takut monyet pastinya bakal jiper, tapi monyet-monyet di sini tergolong jinak dan nggak iseng seperti di uluwatu. Mereka tidak terlalu agresif menghampiri atau menyerang pengunjung. Kalau ingin memberi makanan kepada para monyet, tersedia juga beberapa kios penjual pisang/kacang di dalam.

Sambil mengamati tingkah polah para monyet yang berlalu lalang, kami mendaki jembatan kayu panjang hingga tiba di persimpangan. Lurus menuju ke Central Point, sementara ke kiri menuju Pura Dalem Agung Padang Tegal. Kami memilih ke arah central point dulu, di mana terdapat suatu kolam besar berlumut yang dihiasi patung naga melingkar.

IMG_2217
Tangga kayu di dalam monkey forest ubud
IMG_2234
Central Point

Dari sini kami mengambil arah ke kiri menuju Pura Dalem Agung Padang Tegal, salah satu yang terbesar dari tiga pura yang ada di area Monkey Forest. Area pura dikunci dan tidak boleh dimasuki oleh umum, jadi kami hanya bisa berfoto di undakan depannya saja.

Persis di depan pura terdapat paviliun untuk mengadakan show, disediakan juga layanan untuk berfoto dengan para monyet. Dari area ini terdapat pintu gerbang 3, padahal tadi kami masuk melalui pintu gerbang 1 (utama), jadilah kami memutar melewati perimeter luar di mana berderet sejumlah kios cenderamata, di sini juga masih banyak monyet yang terkadang bikin kaget karena mereka tiba-tiba melompat dari atap atau memanjat tiang.

IMG_2264
Paviliun tempat show

MENONTON TARI LEGONG DI PURI SAREN AGUNG

Ada beberapa tempat pergelaran tari di area Ubud, salah satunya yang terdekat dari lokasi kami menginap adalah di Puri Saren Agung. Pertunjukkan tari diadakan pukul 19.30 – 21.00 dengan total 6-7 jenis tarian yang dibawakan.

Mendekati area puri saren, bunyi gamelan dan alat musik pengiring tarian sudah membahana terdengar hingga ke jalan raya, rupanya pertunjukkan sudah dimulai. Awalnya kami sempat bingung mau parkir dimana, karena puri saren tidak menyediakan lahan parkir, kebanyakan mobil-mobil atau motor parkir (semaunya) di pinggir jalan (yang sudah sempit karena hanya dua jalur saja), bahkan banyak yang parkir dengan cueknya di area “no parking”. Mengikuti prinsip “lain padang lain belalang” akhirnya kami pun ikutan parkir sembarangan di pinggir jalan, persis di seberang puri saren (sambil berdoa mudah-mudahan di Bali dishub-nya gak seketat dan segalak di Jakarta).

Kami pun bergegas menyebrang ke Puri Saren, di  mana tepat di salah satu paviliun berundak sudah ada Bli (kakak laki-laki dalam bahasa bali) yang menunggu counter penjualan tiket. Tiketnya seharga 100K/orang, kiddos masih belum bayar.

Pertunjukkan tari dilangsungkan di sebelah barat puri saren, yang mengharuskan kita menyebrang jl. suweta dahulu. Sebelum masuk, tiket akan kembali diperiksa oleh petugas. Tempatnya sendiri merupakan aula besar semacam balai desa yang sudah dilengkapi dengan panggung permanen dan dihias indah. Area sekeliling dibatasi oleh kain hitam sederhana, bahkan masuknya pun “nyolos” dari tirai hitam tersebut, hehe. Untuk penonton disediakan kursi plastik sederhana, tidak ada perbedaan level kursi sehingga kalau nonton di bagian belakang tentu akan sedikit terhalang orang di depannya. Sebaiknya harus datang lebih awal agar bisa dapat tempat duduk paling depan.  Aula ini semi terbuka, jadi tidak ada kipas angin apalagi AC. Kalau haus, ada nenek-nenek penjual minuman yang duduk di bagian belakang aula, karena mayoritas yang nonton bule, si nenek juga menyediakan minuman keras selain soft drink. Pagelaran tari malam ini dipersembahkan oleh Bina Remaja Troupe.

Saat kami datang, tari puspa wresti yang merupakan tarian pertama baru saja dimulai. Bukan baru pertama saya menyaksikan tarian bali, tapi entah mengapa hati selalu bergetar tiap kali tarian bali dibawakan. Gerakan lincah dinamis berpadu dengan lirikan mata tajam penuh makna, disertai keelokan rupa dan keindahan kostum para penari selalu mampu menyihir saya. Bunyi tabuhan alat-alat musik khas bali yang seakan menghentak selalu mempunyai aura ritmis untuk saya. Semua seakan mengingatkan betapa luhur budaya yang dimiliki Indonesia.

Total ada 7 tarian yang dibawakan. Tari puspa wresti (tarian sambutan), tari topeng keras (tari yang dibawaan penari pria dengan topeng warna merah), legong kraton, tari kebyar (tarian yang menggambarkan pangeran muda), tari oleg tambulilingan (tarian bunga dan kupu-kupu), tari kupu-kupu tarum dan tari jauk.

Dari ketujuh tarian yang dibawakan saya paling terkesan dengan tarian legong kraton yang memang merupakan tarian utama dalam pertunjukkan ini. Tarian legong keraton dibawakan oleh 3 orang penari, satu bernama chondong sedangkan yang dua lagi adalah legong.

Namun, karena penerbangan kami tadi merupakan penerbangan paling awal, sepertinya kiddos cukup lelah dan bahkan tertidur di tengah-tengah pementasan.

TREKKING DI CAMPUHAN RIDGE WALK

Campuhan Ridge Walk adalah suatu jalur trekking sepanjang 2 km yang berada di punggung bukit campuhan – ubud. Tempat ini sangat populer bukan hanya bagi wisatawan lokal namun juga bagi para wisatawan mancanegara untuk kegiatan trekking atau jogging santai . Lokasinya yang mudah dicapai dan persis di jantung ubud menjadikannya makin ramai dikunjungi.

Pagi-pagi sekitar jam 05.30 setelah shalat subuh dan menitipkan kiddos ke ortu, saya dan suami mengendarai mobil menuju bukit campuhan. Suasana di minggu pagi masih terasa sepi, hanya terlihat warga lokal yang mulai sibuk dengan aktivitas paginya. Nah, begitu kami melewati anomali coffee ternyata jalan raya ubud di minggu pagi itu hanya diberlakukan satu arah (dari barat ke timur) karena ada aktivitas pasar. Susah payah kami memutar mobil saking padatnya kegiatan, akhirnya kami berhasil dan memutar lewat jl. hanoman (melewati monkey forest lagi) hingga bertemu kembali dengan puri saren. Dari sini kami berbelok ke kiri melewati deretan pura-pura yang berselang-seling rapat dengan aneka cafe dan restoran, makin lama jalanan makin sepi dan mulai menurun.

Sesuai dengan petunjuk yang pernah kami baca di internet, kami terus memacu mobil hingga menemukan plang petunjuk warwick ibah villa. Setelah bertemu warwick ibah villas, ambillah jalan ke arah kiri, di mana kita akan menemukan lahan kosong dan sebuah SMK dengan parkir yang luas, dua area ini sepertinya memang sering digunakan untuk parkir oleh orang-orang yang berkunjung ke campuhan. Tidak diperlukan biaya masuk untuk trekking di sini.

Dari tempat parkir, jalanan menurun tajam dengan pemandangan jembatan di atas sungai berarus deras dan pura gunung lebah di belakangnya. Persis di ujung jembatan terdapat plang penunjuk arah campuhan ridge walk, rutenya sendiri menuruni sejumlah anak tangga di sebelah kanan jembatan.

IMG_2287
Awal rute menuju Campuhan Ridge Walk

Setelah itu kami melewati dinding-dinding pembatas pura gunung lebah, dari sini jalanan terus menanjak hingga tibalah kita di punggung bukit campuhan. Jalur trekkingnya sendiri sudah dilengkapi dengan paving block berjalur rapi yang nyaman untuk dilalui.

IMG_2295
Dinding-dinding pura gunung lebah
IMG_2297
Mulai mendaki

Pemandangan di atas punggung bukit sangatlah indah, tebing-tebing tinggi dengan pemandangan lembah di sekelilingnya. Jalur trekking dibingkai oleh rerumputan hijau yang tumbuh subur, udara sangat sejuk dan bersih segar.Di tengah perjalanan kami bertemu ayunan sederhana dari bambu yang tidak kami lewatkan untuk spot berfoto.

Kebanyakan yang trekking  pagi itu lagi-lagi bule. Menurut saya medan campuhan tidak terlalu berat, memang sedikit menanjak tapi masih tergolong ringan, walau tetap saja datang di pagi atau senja adalah pilihan yang paling tepat, sebab kalau siang panasnya akan terik menyengat. Jalur trekking berakhir di sejumlah anak tangga yang menuju ke rumah warga dan beberapa villa. Yang harus diperhatikan, tidak ada penjual minuman di sini, jadi bawalah air minum sendiri.

IMG_2323
Campuhan Ridge Walk

PURA SARASWATI / UBUD WATER PALACE

Selepas trekking di bukit campuhan, kami mampir sejenak di pura saraswati yang kebetulan searah dengan jalur pulang. Pura Saraswati terletak di belakang starbucks dan cafe lotus. Kami memarkir mobil di depan babi guling ibu oka yang famous itu, setelah itu kami berjalan ke pura saraswati.

Pura saraswati adalah sebuah pura kecil nan cantik dengan kolam teratai di sekelilingnya. Saat kami datang, beberapa teratai sedang mekar sempurna, memamerkan rona pink dan putih yang segar di antara hijaunya sulur-sulur dedaunan.  Bila berkunjung ke cafe lotus, kita akan disuguh pemandangan cantik ini. Di pura saraswati juga semalam diadakan pertunjukkan tari tradisional. Area dalam pura ditutup untuk umum, hanya pelatarannya saja yang boleh dimasuki. Tidak ada biaya apapun untuk masuk ke sini.

PURI SAREN AGUNG

Kami kembali mengunjungi puri saren agung karena semalam hanya melihat sekilas. Puri Saren Agung disebut juga Ubud Palace karena merupakan tempat tinggal Raja Ubud hingga sekarang.

Gerbangnya berwarna keabu-abuan, sangat kokoh dan dihiasi pahatan rumit khas Bali, kami hanya masuk ke pelataran saja sebab sepertinya area dalam tidak dibuka untuk umum. Terdapat sejumlah paviliun berundak beratapkan ijuk dan di sebelah timur berdiri pintu gerbang besar dari bata kemerahan yang merupakan pintu masuk ke area dalam.

TEGALALANG RICE TERRACE

Salah satu UNESCO World Heritage Indonesia terletak di Bali, yaitu sistem terasering-nya yang dikenal dengan nama subak. Sistem terasering ini dibangun di atas lereng-lereng bukit dengan bentuk berundak-undak dan memiliki nilai filosofi di dalamnya.

Sistem terasering ini bisa dilihat di seantero Bali terutama yang paling terkenal adalah ceking rice terrace yang berlokasi di desa tegalalang – ubud utara.

Perjalanan dari jantung kota ubud hanya memakan waktu selama kurang lebih setengah jam. Untuk mengatasi kemacetan yang timbul akibat kendaraan yang sering parkir sembarangan, sekarang disediakan areal parkir khusus yang berlokasi sekitar 100 m sebelum rice terrace tersebut.

Siang itu matahari terasa sangat terik membakar kulit padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.30 WITA, karena kebetulan kedua kiddos malah tertidur, akhirnya hanya saya dan suami yang memilih berkunjung ke ceking rice terrace, sementara orang tua saya lebih memilih duduk di mobil.

Terdapat sebuah loket tiket dengan htm 10 K/orang, setelah itu tiket akan diperiksa kembali oleh seorang petugas persis saat kita keluar dari area parkir. Kami terus berjalan menyusuri deretan kios cenderamata dan menyebrang di lokasi tempat teras padi cafe berada. Dari kejauhan sebenarnya sudah terlihat ceking rice terrace yang dimaksud, namun bibir-bibir lereng sudah dipenuhi restoran, cafe dan toko yang berjajar rapat sehingga membuat kami agak bingung bagaimana cara masuk ke area rice terrace.

IMG-20171101-WA0115
Ceking Rice Terrace di desa Tegalalang – Ubud

Mengikuti arus turis lainnya, kami pun menuruni tangga hingga masuk ke teras padi cafe di mana dari situ terdapat sejumlah anak tangga lagi yang menuju ke rice terrace.

Karena terik sekali, kami pun malas ikut-ikutan trekking ala Bule, jadi kami hanya berhenti sebentar di anjungan swa-kelola masyarakat yang sudah dihias indah untuk berfoto (bayar 5K). Sejauh mata memandang yang terlihat adalah panorama sawah menghijau berundak-undak yang memukau, tidak heran tempat ini dijadikan salah satu setting film Eat Pray Love-nya Julia Roberts.

IMG-20171101-WA0127
Anjungan berbayar yang dikelola masyarakat

Yang saya amati banyak wisatawan yang tidak membayar tiket masuk terutama apabila mereka langsung turun saja di pinggir jalan, toh tidak ada petugas yang memeriksa. Yang kedua, jalur untuk masuk ke area rice terrace tidak jelas karena tertutup oleh restoran dan toko-toko, jadi kita terpaksa menerobos tempat-tempat tersebut, jadi nggak enak buat kedua belah pihak kan, saya sih ogah makan di restoran-restoran tersebut karena kesannya nggak private, banyak turis bebas lalu lalang.

NGOPI-NGOPI DI BALI PULINA 

Dengan kondisi alamnya yang subur, Ubud memang cocok sebagai lahan pertanian dan perkebunan, selain rice terrace-nya, produk kopi luwak dari tanah ubud juga cukup terkenal. Untuk mempromosikan kopi luwak ini, sekarang banyak dibangun tempat-tempat agrowisata, salah satunya adalah Bali Pulina. Saya mengetahui tempat ini dari postingan instagram salah satu sepupu saya yang tinggal di Bali, sebagai keluarga penikmat berat kopi (err … kecuali suami saya sih), saya tentu tidak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke agrowisata satu ini, kebetulan lokasinya hanya sekitar 1 km dari ceking rice terrace.

Sayangnya, saat kami sampai ke sana, baby G masih saja terlelap, terpaksa mama saya menunggu di mobil. Untuk masuk ke Bali Pulina dikenakan biaya masuk 100 K/orang (kiddos belum bayar), lumayan mahal ya? tapi worth to pay kok menurut saya.

IMG-20171101-WA0190
Signage Bali Pulina di pinggir jalan

Pintu masuk Bali Pulina berupa gerbang dengan batu tempel putih dan pintu kayu bergaya etnik warna biru, pintu tersebut diapit oleh dua patung babi di kanan kirinya. Melewati pintu tersebut, kita harus melewati sejumlah anak tangga yang tersusun dari batu-batu alam, tepat di puncaknya berdiri signboard dari kayu bertuliskan Bali Pulina.

Suasana sangat teduh karena rapatnya pepohonan yang menaungi area ini, kami disambut oleh seorang petugas berseragam batik bercorak motif hijau lumut yang akan bertugas sebagai pemandu wisata selama kami di sini. Kami dibawa berkeliling area Bali Pulina, dimulai dari melihat luwak yang sedang tidur di kandang. Luwak merupakan binatang nocturnal (beraktivitas di malam hari) sehingga kalau siang begini kerjaannya tidur, ukuran luwak lebih besar dari kucing dengan bulu yang tebal. Dilarang menyentuh luwak karena mereka sangat agresif. Luwak akan memakan biji kopi jenis apapun, fermentasi di dalam perut luwak lah yang menjadikan kopi luwak lebih sedap dibanding jenis kopi biasa. Kopi luwak sendiri merupakan kopi yang bijinya diambil dari kotoran luwak.

Selanjutnya kami dibawa ke sebuah gubug di mana terdapat sejumlah alat peraga tradisional dan bahan-bahan alam yang diperlukan untuk mengolah kopi luwak. Mungkin banyak yang merasa jijik karena biji kopi-nya memang diambil dari kotoran luwak, tapi di sini dijelaskan bahwa biji kopi sendiri memiliki dua lapisan kulit ari. Pertama – tama biji kopi yang sudah dipisahkan dari kotoran luwak, akan dicuci bersih dan dijemur sekitar 60% kering (tidak boleh sampai 100% karena kalau terlalu kering tidak bisa diolah) hingga terlepas kulit ari pertama. Kemudian biji tersebut akan disangrai di atas wajan panas hingga terlepaslah kulit ari kedua. Setelah disaring baru akan ditumbuk. Kita diperbolehkan mencoba mensangrai biji kopi ataupun menumbuknya di atas lesung tradisional. Di sini juga dijelaskan aneka bahan alam yang dihasilkan di Bali Pulina seperti jahe, kencur, lada dll.

Perjalanan dilanjutkan melewati sejumlah area perkebunan sambil sesekali sang petugas menjelaskan nama-nama pohon yang kami jumpai berikut manfaatnya. Menyenangkan sekali bisa menambah ilmu melalui wisata semacam ini, baby B pun sangat senang berlari-lari di sepanjang area perkebunan. Area Bali Pulina dibuat dengan kontur yang terus menurun hingga akhir.

Di akhir jalan setapak terlihat sebuah cafe dan anjungan kayu yang terletak di bibir jurang, pemandangannya sangat indah dengan barisan pepohonan yang menjulang rapat dan hamparan terasering sawah yang berundak-undak.

Kami mengunjungi anjungan kayu yang dinamakan “kembang kopi stage” dulu untuk berfoto, dinamakan demikian karena memang dibentuk menyerupai kembang kopi. Anjungan ini menjadi tempat favorit untuk berfoto dikarenakan panorama sekitarnya yang sangat indah. Kondisi anjungan cukup tinggi dari permukaan tanah dan terkadang agak bergoyang apabila ada yang berlari. Disediakan pula sejumlah kursi untuk duduk-duduk sambil menikmati kopi, tapi karena cukup terik, setelah puas berfoto kami memilih pergi ke cafe untuk mencoba kopi.

Tiket masuk yang tadi dibeli bisa ditukarkan dengan secangkir kopi dan snack. Sebelumnya akan disuguhi dengan sepaket tester yang terdiri atas 8 varian (kopi, teh dan coklat) yang bisa dipilih salah satunya. Seru sekali mencoba tester yang ada satu persatu, akhirnya setelah bingung karena semuanya enak, saya menjatuhkan pilihan pada chocolate coffee, sementara papa saya memilih ginger coffee dan suami memilih pure bali coffee. Kopi disajikan dalam cangkir besar dan masing-masing disertakan pula sepiring snack berisi dua pisang goreng dan satu pisang rai. Nyaman sekali duduk berlama-lama di sini, selain lidah dimanjakan dengan sajian kopi yang nikmat, mata pun berelaksasi dengan hijaunya pemandangan. Apabila mau mencoba kopi luwak juga bisa, namun harus membayar lagi karena tidak termasuk dalam paket tester. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama karena mama saya masih menunggui baby G yang tidur di dalam mobil. Setelah menandaskan isi cangkir, kami menyudahi kunjungan ke Bali Pulina. Sebelum pintu keluar terdapat sebuah toko oleh-oleh yang menjual produk alam Bali Pulina.

PURA GUNUNG KAWI TAMPAKSIRING

Hanya setengah jam dari Bali Pulina, sampailah kami di pintu masuk Pura Gunung Kawi Tampaksiring. Well, sebenarnya ada dua pura gunung kawi di area ubud yang letaknya berdekatan, yang satu namanya pura gunung kawi sebatu, sedangkan yang lainnya adalah pura gunung kawi tampaksiring, jadi jangan tertukar ya. Gunung kawi di sini tidaklah sama dengan gunung kawi di pulau jawa yang terkenal dengan image pesugihan, gunung kawi di sini bermakna gunung pahatan, karena memang terdapat sebuah situs candi yang dipahat langsung di tebing-tebing padas. Hal tersebut yang membuat saya sangat tertarik karena ada yang bilang situsnya mirip-mirip petra di jordan. Jadi di area ini tidak hanya ada pura-pura ibadah hindu, melainkan juga ada situs candi yang ada sejak zaman 11 M.

Disediakan lahan parkir yang cukup luas sekitar 100 m sebelum loket tiket dan pintu masuk pura. Namun karena malas jalan, kami memilih jalan terus dan parkir tidak jauh dari loket tiket, toh masih diperbolehkan oleh juru parkir. HTM untuk wisatawan domestik dewasa adalah 15K dan anak-anak 7.5K. Setelah melalui pemeriksaan tiket, diharuskan mengenakan sehelai kain sarung atau untuk yang bajunya sudah panjang seperti saya cukup dengan melilitkan selendang warna ungu yang semuanya sudah disediakan secara gratis.

IMG_2398
Awal masuk Pura Gunung Kawi

Untuk menuju lokasi candi dan pura, kita diharuskan melewati sejumlah anak tangga yang katanya berjumlah sekitar 315, trek berangkat sih menurun, cuma kebayang baliknya lumayan capek. Perjalanan melewati sejumlah terasering sawah menghijau yang memanjakan mata. Saat hampir mendekati area pura, dari ketinggian kita sudah bisa melihat atap-atap ijuk dari pura. Tidak lama kemudian sampailah kami di sebuah portal dari batu padas yang sudah dibentuk menyerupai sebuah pintu. Melewati pintu tersebut, begitu berbelok ke kiri kita akan menemukan 4 candi pahatan yang ada di sebelah barat sementara 5 lainnya di timur terdapat di seberangnya dan dipisahkan oleh alirang sungai pakerisan yang deras. Konon katanya ada satu lagi candi namun lokasinya jauh di tengah hutan dan sulit ditemukan.

IMG_2408
Portal dan pintu dari tebing batu padas

Karena teriknya matahari di area candi sebelah barat, kami pun menyebrangi jembatan yang berdiri di atas sungai pakerisan untuk mengangumi lebih dekat pahatan 5 candi yang ada di sebelah timur. Tidak seperti candi di pulau Jawa yang umumnya tersusun atas batu-batuan, candi di sini langsung dipahat di tebing batu dan terletak di dalam ceruk seperti bingkai jendela. Candi dipahat di atas altar dengan ketingggian sekitar 4 m dari permukaan tanah. Ukurannya memang tidak terlalu besar sehingga tidak bisa didaki apalagi dimasuki. Menurut prasasti sejarah yang ada, candi ini dibangun oleh Anak Wungsu, putra Raja Udayana yang memerintah menggantikan Raja Udayana, sementara kakaknya yang tertua yaitu Airlangga menjadi Raja di Jawa Timur. Candi ini dibangun sebagai tempat persembahan, namun ada juga yang bilang sebagai tempat persemayaman.

IMG_2413
Sungai pakerisan

Di sebelah kanan kompleks candi terdapat pintu masuk menuju kawasan pura. Di dalam nya terbilang lengang,  beberapa gadis remaja sedang sibuk menyiapkan peralatan upacara galungan yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.

Seperti sudah diduga, perjalanan kembali yang mengharuskan kami menaiki sejumlah anak tangga cukup menguras tenaga dan membuat dengkul lemes, apalagi bagi kiddos yang rewel dan akhirnya minta digendong. Beberapa kali kami berhenti, dan sempat juga meneguk air kelapa muda yang dijual di salah satu kios yang ada di sana.

IMG20171029141124
Perjuangan balik yang menguras tenaga

Sekian review saya mengenai Ubud bagian 2, masih banyak tempat menarik yang belum dikunjungi, mudah-mudahan diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, aamiin.

 

Posted in Bali, Indonesia

Review Kulineran Bali

Travelling nggak bisa dipisahkan dari kulineran, saat ke tempat-tempat baru tentu kepingin rasanya nyicip-nyicip cita rasa lokal (as long as halal of course). Kali ini saya mau nge-review beberapa tempat makan yang kemarin sempat disinggahi saat ke Bali.

WARUNG SURYA – Jl. Mahendradatta Selatan No.32, Tegal Harum, Denpasar

Perhentian pertama kami begitu mendarat di Bali. Karena orang tua saya nggak sreg sarapan di Bandara, maka suami saya menyarankan untuk bertandang ke warung muslim langganannya waktu ngekost di Bali dulu. Perjalanan menuju warung surya memakan waktu sekitar 30 menit dari bandara Ngurah Rai, letaknya persis di pinggir jalan, tempat parkirnya kecil dan sudah dipenuhi motor, jadi kami memarkir mobil di pinggir badan jalan.

Sekilas rumah makan yang didominasi dengan cat warna hijau ini kelihatan kecil dan sederhana, tapi ternyata di dalamnya lumayan luas, area depan dipenuhi dengan bangku-bangku sementara area belakang berupa lesehan. Begitu masuk kita akan disambut oleh etalase berisi makanan siap saji dengan beraneka pilihan yang menggugah selera, sistemnya adalah prasmanan (mengambil sendiri). Karena merupakan restoran banyuwangi yang berlabel halal, jadi tidak perlu khawatir memilih-milih makanan. Rumah makan ini buka 24 jam dan menurut suami saya selalu ramai.

13624138_9xXz6z3C2yDhT9cmy00-t2fXCotCsa8LK0Oru9HEbQ4
Warung Surya (sumber : foursquare)

Rasanya???endess banget, pilihan saya jatuh pada nasi pecel dengan telur dan bakwan jagung yang cuma dibanderol 7 ribu rupiah saja. Total makan berlima (minus suami karena dia sudah sarapan di hotel) cuma 53 ribu aja, sudah termasuk minum dan buah.

BALE UDANG MANG ENGKING UBUD  – Jl. Raya Goa Gajah, Peliatan, Ubud

Resto franchise yang sudah banyak cabangnya di mana-mana ini juga memiliki cabang di ubud, letaknya tidak jauh dari obyek wisata goa gajah. Halaman parkirnya sangat luas dan waktu kami datang saat jam makan siang sudah dipenuhi beberapa bus wisata yang mengangkut turis.

Konsep dekorasi restorannya persis dengan cabangnya yang lain, di mana pasti terdapat danau (atau empang?) yang dikelilingi oleh bale-bale bambu untuk lesehan. Bagian depan merupakan area makan dengan kursi sementara area bale-bale terletak di belakangnya. Resto ini menyediakan musholla persis setelah area pintu masuk, alhamdulillah bisa melaksanakan ibadah shalat tepat waktu, karena di ubud ini hanya ada satu masjid saja, itupun cukup jauh lokasinya. Persis di samping resto terdapat areal kecil persawahan lengkap dengan orang-orangan sawah dan atribut lainnya yang membuat turis-turis berfoto di sana. Saat saya datang, isi resto ini hampir semua turis asal china.

Isi menunya hampir sama dengan di cabang lainnya, hanya saja di sini juga disediakan menu bebek goreng atau bakar. Tidak ada variasi pilihan paket menu seperti di cabang lainnya (padahal di cabang kuta ada saja), hanya ada satu paket menu untuk 4 orang yang isinya ayam/bebek (tentu tidak kami pilih sebab kami lebih memilih makan olahan ikan). Kami memesan gurami cobek, flying gurami (gurami goreng kering crispy), cumi bakar madu dan tumis kangkung masing-masing 1 porsi. Sambil menunggu makanan dihidangkan, pihak resto memberikan beberapa bungkus pakan ikan kepada kiddos, jadi mereka tidak rewel dan asik memberi makan ikan di danau. Saat kami menunggu juga ada rombongan bebek (hidup) berbaris jalan di area resto, lucu banget.

Sekitar 20-25 menit makanan dihidangkan, lengkap dengan sambal matah dan sambal merah ala Bali. Gurami-nya besar, perkiraan saya hampir sekilo. Gurami cobeknya terasa sangat pedas dengan rempah kecur yang amat dominan, gurami gorengnya renyah walau sedikit asin. Yang menurut saya agak kurang justru cumi bakar madu-nya, kurang ngeresep bumbu-bumbunya sementara dagingnya agak over cooked. Porsinya besar semua sehingga kami berjuang menghabiskan makanan yang tersedia. Harganya kurang lebih sama dengan di cabang lain, seporsi gurami sekitar 95K, cumi bakar 75 K dan tumis kangkung 30K. Di sini malah yang mahal minumannya, segelas teh (panas atau dingin) 15 K, padahal kalau di cabang Jakarta justru murah meriah (paling 3-5K).

IMG20171028125711
The Food

BEBEK BENGIL – Padang Tegal, Jl. Hanoman, Ubud

Mengusung tagline ” Original Crispy Duck since 1990″ resto spesialis kuliner bebek ini merupakan restoran terkenal selain bebek tepi sawah (untuk bebek tepi sawah sudah dua kali saya cicipi) . Tempat parkirnya sendiri terletak sekitar 200 m dari restonya dan persis di samping hotel kami (biyukukung red) jadi kami cukup berjalan kaki menuju restoran.

Bagian depannya berupa gapura batu ala Bali berwarna hitam. Suasana ala pedesaan khas Bali disertai degung yang mengalun lembut menyambut kami begitu kami memasuki lobby restoran. Kami dibawa ke bagian dalam di mana sudah tersedia panggung-panggung lesehan dengan bantal duduknya yang nyaman. Di bagian belakang resto terhampar pemandangan sawah (yang sayangnya saat itu tidak sedang subur menghijau, tapi tetap indah kok) dengan signage “we love bebek bengil” berukuran besar. Jalan setapak yang ada diterangi cahaya lampu dan obor temaram yang menambah syahdu suasana malam itu.

IMG_2284
Sawah di Bebek Bengil

Tentunya kami memesan jagoan masakan di sini yaitu crispy duck yang satu porsinya dihargai 125 K (kecuali mama saya yang malah memesan udang goreng mete haha). Agak pricy ya, tapi worthed lah, karena satu porsi itu terdiri dari nasi, 1/2 ekor bebek muda, sepiring kecil sayur urap bali, buah dan 2 jenis sambal (sambal merah dan sambal matah). Bagaimana dengan kiddos? untungnya mereka juga menyediakan menu “sunny side up” alias telor ceplok.

Bebeknya juara banget, empuk dagingnya dan yang paling saya suka tentu kulitnya yang garing renyah, walau memang porsi setengah ekor bebek cukup besar buat saya (apalagi ini makan malam). Sayangnya sambal merah dan matahnya kurang pedas, masih lebih enak yang di bebek tepi sawah. Sayur urapnya enak namun disajikan dingin (memang khasnya di Bali begitu).

Untuk minumnya ada tea in a pot yang bisa di-refill (cuma boleh 2x sih) dengan harga 20K/pot.

WARUNG CAH SOLO – Jl Dr.Ir Soekarno, Tampaksiring (lokasi sekitar 200 m sebelum belokan ke Pura Gunung Kawi Tampak Siring)

Karena kemarin sudah digempur makanan enak-enak, maka kali ini orang tua saya request makanan biasa saja. Kebetulan saat akan mengunjungi pura gunung kawi, tidak jauh dari perempatan (yang arah kanan menuju tirta empul) kami menemukan warung sederhana dengan menu masakan ala pecel lele dan pecel ayam. Pemiliknya berasal dari Klaten. Masakannya standar pecel ayam, lumayan enak dengan sambal pedas manis khas orang jawa. Harganya pun total hanya 99 ribu untuk berenam termasuk minuman.

WARUNG MAK BENG  – Jl. Hang Tuah No.45, Sanur Kaja

Warung paling kondang di seantero Sanur (dan Denpasar juga) ini spesialisnya dalam masakan ikan. Hanya ada satu menu yang disajikan, yaitu paket berisi nasi + ikan goreng sambal + sop ikan, yang harganya dibanderol 45 K.

Warung ini berlokasi tidak jauh dari bibir pantai sanur yang di minggu senja itu sangat ramai, di dalam resto sendiri penuh pengunjung, beruntung kami mendapat tempat duduk di bagian paling ujung. Bangunan restorannya sederhana dengan konsep semi terbuka.

Rasanya???memang tidak heran kalau jadi ikon kuliner sanur, ikannya diolah dengan sangat baik dengan cita rasa bumbu khas (asli turun temurun dari mak beng). Ikannya sangat empuk dan tidak tercium bau amis sama sekali, daging ikannya pun sangat tebal. Sop ikannya segar walau agak sedikit pedas untuk kiddos. Ikan gorengnya juga enak dengan cocolan sambal merah khas.

IMG20171029181056
Menu khas mak beng
Warung-Mak-Beng-Sanur-Bali
Warung Mak Beng yang bersahaja (sumber :pergidulu.com)

MENEGA CAFE – Jl. Four Seasons Muaya Beach, Jimbaran

Kali ini kami mencoba kuliner seafood di kawasan Jimbaran, di pantai Jimbaran memang berderet resto-resto seafood dengan berlatar pemandangan pantai nan indah. Menurut suami saya , Menega Cafe merupakan resto yang paling ramai di sini.

Saat kami sampai sekitar pukul 7.30 malam area makan yang berada di pinggir pantai sudah penuh, jadi kami harus berpuas duduk di area dalam restoran. Di menega ini kita diharuskan mendapat bangku dulu baru bisa memesan. Area setelah pintu masuk dipenuhi dengan rak-rak dan aquarium berisi aneka bahan hidup yang bisa dipilih. Setelah mendapatkan nomor bangku, pesanlah makanan di bagian depan tersebut, pesanan akan dicatat oleh waiter. Di menega makanan hanya dibakar saja, kecuali untuk cumi yang bisa digoreng tepung. Kami memilih red snapper, udang, kerang dan cumi goreng tepung.

Sebelum makanan datang, kami disuguhi sepiring kacang bali sebagai snack. Semua hidangan disajikan secara dibakar (kecuali cumi) dan sudah dilengkapi dengan tumis kangkung ala bali. Yang juara bagi saya adalah kerang bakar yang baru saya temukan di sini, kerang yang disajikan dengan saus BBQ kental tersebut sangatlah enak. Sementara hidangan yang lain menurut saya justru so-so, karena menurut saya BBQ mereka ala-ala western jadi bumbu yang digunakan kurang terasa.

Karena mayoritas yang makan adalah turis asing (bule) jadi wajar saja kalau agak pricy , yang paling mahal adalah udang (195 K dengan ukuran udang jumbo) sementara yang lainnya standar, red snapper 85 K, cumi goreng 125 K sementara kerang bakar yang super enak itu cuma 85K.

WARUNG BANYUWANGI – 500 m sebelum GWK

Di daerah ungasan kita akan banyak menjumpai warung-warung sederhana seperti warung padang, warung bakso juga warung banyuwangi. Kami mencoba salah satu warung banyuwangi tidak jauh dari GWK, seperti biasa rasanya enak dengan harga yang murah meriah.

 

 

Posted in Central Java, Cilacap, Indonesia

Cilacap ora ngapak ora kepenak

Kenapa Cilacap?

Well, sebelumnya saya memang jarang melirik kota di pesisir pantai selatan yang satu ini, selain karena letaknya yang memang jauh dari kampung si mbah, tempat wisata yang ada di kota ini memang seperti kalah gaung dibanding dengan kota-kota lainnya di provinsi Jawa Tengah.

Dibanding tempat wisatanya, Cilacap memang lebih populer karena adanya pulau nusakambangan yang dikenal sebagai alcatraz-nya Indonesia, pulau ini merupakan penjara untuk napi kelas kakap, tidak jarang juga dijadikan tempat eksekusi para terpidana hukuman mati. Walaupun kondang sebagai pulau penjara, tapi semenjak tahun 1996 pulau nusa kambangan, tepatnya bagian timur, juga dibuka sebagai tempat wisata. Wisata di pulau ini makin populer sejak beredarnya gambar-gambar syantik berupa pantai pasir putih berlatar langit biru cerah di instagram. Karena libur lebaran kali ini yang agak mepet, saya memutuskan untuk main ke Cilacap yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampung suami di Tasikmalaya.

Perjalanan Tasikmalaya – Cilacap di H+2 lebaran terbilang sangat lancar, benar-benar tepat sesuai perkiraan google maps, yaitu sekitar 4 jam 30 menit. Kondisi jalan raya yang tahun lalu masih berlubang-lubang dan penuh debu, tahun ini sudah mulus dan nyaman untuk dilalui. Sengaja kami berangkat jam 03.00 subuh untuk menghindari kepadatan lalu lintas.

PANTAI TELUK PENYU 

Untuk mencapai pulau nusa kambangan, kita harus menaiki perahu dari dermaga di pantai teluk penyu. Pantai teluk penyu merupakan pantai terpopuler di seantero kawasan Cilacap. Pantainya sendiri tidak terlalu istimewa, tipikal pantai dengan pasir hitam dan agak kotor karena banyaknya sampah bertebaran.

Dahulu di pantai ini banyak koloni penyu, namun dengan semakin maraknya kilang minyak lepas pantai, koloni penyu menghilang hingga tidak ditemukan lagi. Kawasan lepas pantai Cilacap memang kawasan yang kaya minyak, di pantai ini juga dapat kita temukan bangunan besar pengolahan minyak milik Pertamina. Pemandangan lepas pantainya juga berupa kapal-kapal tanker besar berseliweran. Di bibir pantai banyak dibangun jetty-jetty dari kayu yang ramai dengan wisatawan yang sekedar duduk atau bermain air.

IMG20170628121603
Pantai Teluk Penyu

Kami memarkir mobil di salah satu areal parkir yang tidak jauh dari lokasi benteng pendem. Di areal parkir ini banyak warung-warung penjaja makanan khas Cilacap seperti lotek, tahu masak ataupun  tempe mendoan. Kami pun mencicipi masakan khas tersebut sebagai sarapan sambil duduk lesehan dengan pemandangan pantai teluk penyu yang sedikit muram karena cuaca mendung.

Lotek merupakan makanan sejenis gado-gado, kalau di jawa tengah namanya memang lotek. Kalau tahu masak agak mirip ketoprak, terbuat dari tahu putih, lontong dan kecambah yang disiram sambal kacang. Sementara tempe mendoan-nya sama saja hanya ukurannya sebesar batu bata.

IMG20170628083014
Lotek dan mendoan khas Cilacap

Di areal parkir akan banyak mas-mas yang menawarkan jasa perahu untuk menyebrang ke nusakambangan. Tadinya kami bermaksud mengunjungi benteng pendem dulu baru ke nusa kambangan, tapi karena khawatir melihat mendung yang semakin bergelayut, akhirnya kami mengiyakan salah satu tawaran mas perahu dengan tarif 25K/orang PP. Kami tidak menawar terlebih dahulu sebab berdasarkan blog-blog yang saya baca tarifnya rata-rata 200-300K/perahu, jadi tarif 25K/orang tentu sudah jauh lebih murah sehingga tidak perlu ditawar.

PULAU NUSAKAMBANGAN

Setelah mengenakan life jacket yang disediakan di perahu, kami menyebrangi pantai teluk penyu. Hentakan ombak cukup kencang terasa saat kapal baru meninggalkan bibir pantai, namun seiring semakin ke tengah laut, guncangan semakin kecil. Jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh, sekitar 10 menit kemudian kami sudah merapat di dermaga nusa kambangan. Oh iya, jangan lupa mencatat nomor hp mas perahu untuk minta dijemput balik setelah kunjungan selesai, jangan khawatir sinyal di daerah ini 4G kok. Saat turun si mas perahu minta dibayar full 100 ribu, tanpa prasangka atau praduga saya kasih saja, toh saya pikir saya sudah catat no hp-nya.

IMG20170628090249
Menuju Nusakambangan

Terus terang saya agak kecewa begitu mendarat di pulau nusa kambangan, di dermaga hanya terdapat satu bangunan dari kayu kasar yang kontruksinya asal-asalan yang merupakan kantor pengelola atau pengawas. Sementara di sisi lainnya berjejer warung-warung sederhana yang dikelola warga. Jalan aksesnya berupa jalanan setapak berbatu kasar, kesannya masih sangat sederhana dan belum dikelola secara serius oleh Pemerintah. Padahal potensi wisatanya sangat besar karena alamnya sangat indah, selain itu segala sesuatu yang ada embel-embel pulaunya kan terkesan eksotik ya.

IMG20170628091214
Dermaga Nusakambangan

Daya tarik utama dari pulau nusakambangan adalah pantai pasir putih nya yang saya lihat dari instagram sepertinya banyak jumlahnya dan terletak di beberapa lokasi berlainan, ada pantai kali jati, kali kencana, permisan dll. Tapi waktu saya tanya mbak dan mas warung, mereka cuma bilang namanya pantai pasir putih tok yang letaknya sekitar 30 menit berjalan santai dari dermaga. Kami pun mengikuti arus kerumunan mayoritas wisatawan yang sepertinya menuju ke tujuan yang sama.

Medannya tidak terlalu berat, walau di beberapa tempat ada yang menanjak namun masih mudah dilalui, kedua anak saya saja kuat kok. Di kanan kiri jalan, vegetasi pepohonan tumbuh rapat sehingga cahaya matahari agak terhalang. Suhu udaranya lembab dan panas khas pulau sehingga membuat kami cepat berpeluh.

Tidak jauh kami bertemu dengan jembatan sangat sederhana yang terbuat dari kayu gelondong dan pegangannya hanya dari ikatan kayu seadanya. Ngeri juga saat melintasi jembatan tersebut, harus pelan-pelan dan bergantian. Syukurlah sedang musim kemarau sehingga jalan dan jembatan tersebut tidak licin.

Kemudian kami bertemu dengan benteng kecil peninggalan kolonial Belanda, bangunan benteng ini katanya zaman dulu terhubung dengan benteng pendem di pantai teluk penyu. Bangunan benteng berwarna abu-abu ini hanya terdiri dari dua ruangan dan di sekelilingnya sudah dipenuhi pohon merambat dan semak belukar. Tidak jauh dari benteng ini kami juga menemukan salah satu bagian benteng lainnya berupa semacam pos jaga yang bagian atasnya sudah ditumbuhi pohon pisang, lucu juga karena mengingatkan pada ta phrom di cambodia yang atasnya ditumbuhi beringin, kalo di sini ditumbuhi pisang.

IMG20170628094835
Benteng peninggalan Belanda di Nusakambangan
IMG20170628095528
Benteng yang dirambati pohon pisang

5 menit kemudian sampailah kami di pantai pasir putih yang digadang-gadang, jalan setapak menuju pantai ini sangat menurun curam dan harus berhati-hati karena banyak belitan akar. Ternyata…arealnya sendiri tidaklah terlalu luas seperti yang saya perkirakan, dan sayangnya lagi-lagi banyak sampah bertebaran.

IMG20170628095657
Jalan menuju pasir putih yang curam

Kedua kiddos yang sudah capek berjalan langsung nagih main air walaupun saat itu matahari bersinar lumayan terik. Ombaknya cukup besar sehingga suami saya harus terus memegang tangan kedua kiddos. Sementara saya memilih menunggu di pinggir pantai sambil memandangi kapal-kapal tanker yang lalu lalang di kejauhan. Tersedia fasilitas kamar mandi sederhana berupa bilik bambu yang masih dikelola penduduk lokal.

20170628_101412
Pantai pasir putih pulau nusakambangan

Setelah puas bermain air, kami berjalan kembali ke dermaga. Sekitar 15 menit sebelum dermaga saya sms mas perahu untuk minta jemput, dan dijawab “saya sudah sampai: dan kami disuruh cepat bergegas. Tapi namanya juga bawa kiddos, gerak kami tidak bisa cepat, sehingga saat kami tiba di dermaga, perahu tersebut sudah kembali ke teluk penyu lagi.

Problemnya adalah perahu-perahu ini masih dikelola secara sendiri-sendiri, belum ada induk koperasi atau badan pemerintah yang menaungi. Jadi mereka akan berlomba-lomba bersaing mendapatkan penumpang. Imbasnya penumpang jadi terlunta-lunta menunggu, seperti kami ini yang hingga menunggu 1 jam tidak kunjung dijemput juga, sebab perahu tersebut pastinya akan menjemput kami sekaligus mengangkut penumpang dari teluk penyu, ya kalau langsung dapet penumpang, kalau nggak dapet juga?. Kita hanya boleh naik perahu yang sama untuk pulang pergi karena biaya langsung dibayarkan ke tukang perahu. Karena kiddos sudah rewel akhirnya suami saya nego dengan salah satu perahu untuk diperbolehkan mengangkut kami, tentunya dengan membayar lagi 50 K untuk berempat. Setelah sampai di teluk penyu, mas perahu pertama baru sms lagi mengabarkan kalau dia sudah sampai dan langsung saya jawab kalau kami sudah menumpang perahu lain, eh dia malah nanya bayarannya mana, langsung saya jawab kan tadi sudah saya bayar full sambil menjelaskan deskripsi kami yang terdiri dari keluarga dengan dua anak kecil.

Alangkah lebih baiknya kalau ada badan pengelola yang menaungi perahu-perahu ini, selain agar lebih tertib dan nyaman, pemerataan pendapatan antar tukang perahu akan lebih terjamin. Misalnya saja seperti di green canyon pangandaran, di mana kita membeli tiket di loket karcis, naik perahu dengan nomor sesuai arahan petugas dan kembali dengan perahu manapun yang penting tetap memegang karcis. Dermaga pun lebih baik kalau dijadikan terpusat saja, tidak seperti sekarang di mana hampir seluruh bibir pantai dipenuhi parkir perahu yang mengakibatkan pengunjung tidak leluasa bermain di pantai akibat terhalang perahu yang hilir mudik.

Perahu yang terakhir kami tumpangi mendarat di bagian pantai teluk penyu yang lumayan jauh dari posisi kami parkir tadi pagi. Hari sudah menjelang tengah hari saat kami tiba, kondisi sudah sangat ramai dan makin semrawut. Bagaimana tidak, areal parkir tidak hanya dipenuhi mobil dan motor yang parkir, tapi ada kereta kelinci yang melintas, kuda tunggangan, sepeda bahkan para pengamen. Jalan utama pantai pun sudah macet tidak karuan akibat makin banyaknya volume kendaraan yang masuk. Maka dengan berat hati, setelah makan siang di salah satu restoran sea food yang terletak di teluk penyu, kami membatalkan kunjungan ke benteng pendem dan langsung bergegas menuju hotel untuk beristirahat.

IKAN BAKAR YAYAT – PANTAI TELUK PENYU

Restoran ini banyak direkomendasikan oleh warga dan wisatawan, ada beberapa cabang ikan yayat di pantai teluk penyu. Kemarin kami makan siang di ikan bakar yayat yang menempati bangunan dua lantai dengan cat berwarna pink.

Lantai satu berupa bangku-bangku biasa sementara lantai dua berupa lesehan, kami tentunya memilih duduk di lantai dua agar lebih santai. Kami memesan bawal bakar, cumi goreng tepung dan tumis kangkung. Produk seafoodnya sendiri memang sangat fresh tapi rasa masakannya sih tidak terlalu outstanding menurut saya.

HOTEL DAFAM CILACAP

Karena kemacetan parah di kawasan pantai, jarak yang sekiranya  hanya 1,4 km saja ditempuh dalam waktu lebih dari 30 menit. Kiddos yang sudah kelelahan bermain di pantai, sukses terlelap di mobil.

Dafam Cilacap ini menempati bangunan panjang berlantai dua bercat biru, karena hanya dua lantai dan plang hotelnya pun tidak terlalu besar, hampir saja kami terlewat. Bangunan hotel ini sepertinya merupakan gedung tua yang sudah direvitalisasi karena itulah arealnya sangat luas.

Setelah check in di resepsionis, kami diantar menuju kamar kami yang terletak di lantai 1, tidak jauh dari area kolam renang. Karena merupakan bangunan yang luas, menurut saya kok tata letak nya agak membingungkan ya, tidak jarang awal-awal saya tersesat saat akan menuju ke lobby atau ke tempat parkir karena membingungkan.

Kamar yang kami booking bertipe deluxe no window, eh ada window-nya sih cuma berupa kaca mati yang menghadap ke kebun dalam dan dilapisi dengan gorden tebal. Ranjangnya berupa king bed yang cukup (dicukup-cukupin) menampung dua dewasa dan dua balita, okupansinya memang untuk 2 orang dewasa, walau ditulis keterangan bahwa children max 7 tahun masih diperbolehkan menginap gratis tanpa extra bed. Tapi akhirnya menjelang waktu tidur, kami mengeluarkan kasur serbaguna yang disimpan di dalam mobil agar lebih nyaman, karena memang satu ranjang untuk berempat lama-lama terasa sempit juga. Fasilitas lainnya berupa TV flat dengan pilihan channel tv kabel yang tidak terlalu lengkap, electric kettle, refrigerator dan compliment berupa 2 botol air mineral.

20170628_152211
Kamar Deluxe Dafam Hotel Cilacap

Kamar dalam keadaan bersih dan rapi waktu kami masuk, walau lantai di dekat rak tv agak sedikit basah, mungkin masih belum terlalu kering setelah dibersihkan.

Karena tadi pagi kami berangkat dari Tasikmalaya pukul 03.00 subuh, suami saya langsung terlelap tidur, sementara kiddos yang tadi sudah sempat tidur di mobil malah segar dan cerah ceria dan mengajak saya ke kolam renang. Kolam renangnya lumayan besar dengan satu pool khusus dewasa dan satu pool khusus anak.

20170629_075516
Pool di Dafam Hotel Cilacap

MASJID AGUNG CILACAP & ALUN-ALUN CILACAP

Sekitar pukul 05.00 sore kami sudah bersiap untuk menjelajahi kota Cilacap kembali, karena saya masih penasaran dengan benteng pendem yang letaknya cuma sekitar 10 menit dari hotel, saya mengajak suami saya untuk mengarahkan mobil kembali ke arah pantai teluk penyu untuk berkunjung sebentar saja ke benteng pendem.

Selepas pukul 05.00 sore pintu gerbang pantai teluk penyu sudah tidak dijaga petugas sehingga kami tidak perlu membayar tiket masuk lagi, namun ternyata kemacetan di dalam areal pantai sudah sangat parah dan polisi memberlakukan arah sejalur dan verbodem untuk arah tertentu, maka kami terpaksa sekali lagi membatalkan kunjungan.

Kami langsung menuju ke alun-alun kota Cilacap yang bersebelahan dengan masjid agung. Kota Cilacap sendiri tidaklah terlalu besar, mirip seperti purworejo (tempat si mbah), pusat perbelanjaan terbesar yang ada hanyalah mall yogya, selain itu kebanyakan adalah ruko-ruko. Namun karena merupakan daerah kilang minyak, di kota ini banyak berdiri chain hotel-hotel ternama, misalnya saja Fave, Dafam, Whiz, Hom dan sejumlah hotel kecil lainnya. Kotanya sendiri tidak terlalu ramai padahal sedang libur lebaran, kendaraan yang lalu lalang pun tidak terlalu banyak.

Kami sedikit kesulitan menemukan parkir di masjid agung dan terpaksa mengitari alun-alun dahulu melewati kadipaten. Masjidnya mengingatkan saya akan masjid demak dengan bentuk atap limas yang bertingkat-tingkat, lebih mendominasi dibandingkan atap kubah di sejumlah sisi dan minaretnya. Karena sudah waktu maghrib, tidak ayal halaman masjid sudah penuh sesak dengan mobil dan motor yang parkir. Pintu masuk lelaki terletak di bagian depan, sementara untuk wanita terletak di sisi samping.

115791990
Masjid Agung dan Alun-alun Cilacap (sumber : panoramio.com)

Setelah shalat kami beranjak ke alun-alun cilacap yang persis di sebelah masjid ini. Di depan alun-alun ini berdiri tegak tugu dengan patung dua orang nelayan yang merupakan icon kota cilacap. Untuk memperindah, dipasanglah signage dengan tulisan “Cilacap Bercahaya” di seberangnya. Alun-alun nya sendiri berbentuk persegi dengan lapangan luas berumput yang malam itu dipenuhi dengan para penjaja makanan, pedagang hingga tukang odong-odong dan permainan anak aneka rupa khas pasar malam rakyat. Di sisi dekat masjid juga banyak mobil sepeda (namanya apa ya tepatnya, pokoknya kendaraan mirip mobil tapi harus dikayuh seperti sepeda, kendaraan ini dilengkapi lampu sehingga kalau malam kelihatan lebih cantik) yang bisa disewa dengan tarif 20-25 K sepuasnya.

IMG20170628183459
Tugu nelayan di alun-alun cilacap

Karena tujuan awalnya main ke alun-alun sekaligus untuk mencari makan malam, maka sementara anak-anak bermain odong-odong, saya berkeliling alun-alun untuk mencari makanan yang pas. Tapi sayangnya kebanyakan hanya menjual makanan ringan dan camilan saja, banter-banter hanya ada tukang mie ayam atau bakso, tidak ada tenda pecel lele atau chinese food.

Maka setelah memaksa anak-anak yang kalau diturutin bakal betah main sampai malam, kami kembali berkeliling kota Cilacap. Ternyata sulit mencari tenda-tenda makanan di sini, mungkin karena kami yang tidak tau di mana pusat kulinernya ya, tapi sepanjang alun-alun hingga tiba di hotel lagi tidak ada, kebanyakan hanya tukang nasi gorang. Opsi terakhir kembali ke KFC yang terletak di depan Yogya yang ramai dan antrinya minta ampun, mungkin karena satu-satunya gerai di Cilacap ini.

BENTENG PENDEM

Esoknya setelah sarapan dan anak-anak puas berenang di hotel, kami kembali ke area pantai teluk penyu untuk mengunjungi benteng pendem.

Benteng pendem merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1800-an sebagai benteng pertahanan. Benteng ini terakhir difungsikan saat peperangan melawan Jepang dan setelah itu terabaikan hingga sebagian bangunannya tertutup oleh tanah dan pasir pantai hingga kemudian sekitar tahun 70-80 an digali kembali, karena itulah disebut benteng pendem.

Benteng pendem terdiri atas sejumlah bangunan yang sudah lengkap fungsinya untuk satu kompleks benteng pertahanan.

Pintu masuknya berupa pagar bata merah setinggi 4 m dengan dua pintu utama, di dalamnya berdiri loket tiket. Sayangnya suasana dalam benteng (seperti jamaknya obyek wisata di tanah air) agak semrawut karena banyaknya pedagang di sana-sini. Para wisatawan pun banyak yang kurang tertib mengikuti jalur, padahal sudah ada papan penunjuk besar-besar yang menunjukkan alur kunjungan.

20170629_093053
Pintu masuk benteng pendem

Berkeliling area kompleks ini membuat saya berdecak kagum akan kehebatan ilmu teknik sipil nya orang belanda terutama sistem drainase-nya, padahal bangunan ini sudah berusia ratusan tahun.

Berjalanlah melalui alur yang sudah ditentukan, kita akan melewati jalan setapak yang sejuk dengan naungan pepohonan, ada juga patung-patung dinosaurus yang menurut saya sih kurang nyambung dengan tema benteng dan lebih baik tidak usah ada, akan lebih baik kalau ada maket-maket, foto atau poster mengenai sejarah benteng. Tidak jauh kita akan menemukan parit besar yang sepertinya di zaman dahulu mengelilingi keseluruhan area benteng, parit ini sekarang difungsikan menjadi area rekreasi sepeda air.

20170629_093649
Parit di kompleks Benteng Pendem

Setelah melewati parit, kami bertemu dengan bangunan panjang berwarna abu-abu dengan plesteran halus yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunan tersebut merupakan barak prajurit, ruangannya didesain berlangit-langit rendah dengan pintu yang juga membuat orang dewasa membungkuk saat melewatinya. Tinggi pintu sebenarnya sekitar 2m, namun tepat di pintu dibangun tanggulan yang cukup tinggi. Sayangnya ruangan barak ini kurang dirawat, sangat lembab berlumut dan tidak dilengkapi penerangan sama sekali sehingga sangat gelap.

20170629_093856
R Barak

Bangunan satu dengan lainnya letaknya terpisah walu tidak terlalu jauh. Pepohonan dan semak belukar yang ada tidak rapi dan kurang terawat, sehingga menambah kesan angker, padahal kalau dirapikan sedikit pasti lebih enak dipandang.

Dari ruang barak, kami menuju ke arah gudang senjata dan benteng. Benteng-benteng ini dahulu ada yang difungsikan sebagai pengintai ataupun untuk serangan. Lagi-lagi karena kurang dirawat, seluruh permukaannya berlumut dan mengharuskan kita berhati-hati saat menapaki anak tangganya.

Setelah itu kita akan bertemu dengan ruang penjara yang bangunannya paling besar di keseluruhan kompleks,  di mana salah satu bagian bangunannya pernah dijadikan lokasi reality show uka-uka. Bagian bangunan tersebut digenangi air dan berbau amis tajam, bangunan tersebut juga dilengkapi dengan saluran-saluran air yang apabila air pasang akan membuang debit air yang berlebih, saluran ini berlabel tahun 1873.

Sel-nya sendiri terletak di bagian depan bangunan penjara dan sangat tidak manusiawi, lebih tepat disebut kerangkeng karena hanya berbentuk kotak seukuran kerangkeng mesin air, membuat para tahanan tidak bisa duduk nyaman apalagi tidur atau berdiri. Bergidik saya membayangkan entah berapa banyak nyawa melayang di sini. Saya tidak merekomendasikan masuk ke dalam ruangan penjara karena sangat gelap dan becek, apalagi buat yang punya 6th sense ya.

Dinding-dinding penahan tanah berdiri berdampingan berselang-seling dengan ruang penjara. Dinding penahan tanah ini tersusun dari bata dan beton bertulang dan berbentuk miring. Setelah itu kami berjalan lurus menuju pintu keluar dan melewatkan satu bangunan yaitu ruang klinik yang letaknya di tengah-tengah kompleks.

20170629_095435
Dinding penahan tanah

Secara keseluruhan benteng ini sangat butuh perawatan dan perhatian Pemerintah, sayang sekali karena nilai historisnya sangatlah tinggi. Akan jauh lebih baik kalau direvitalisasi dan setiap wisatawan disertai pemandu wisata sehingga kita bisa mengerti sejarah dan arsitektur bangunan tersebut, bukan hanya datang cekakak cekikik terus selfie.

Sebelum meninggalkan kota Cilacap, kami mampir sebentar di jembatan yang melintasi sungai kaliyasa, sungai ini merupakan sungai yang bermuara di laut dengan pemandangan kapal-kapal nelayan yang berwarna-warni.

IMG20170629102911
Sungai Kaliyasa

 

 

 

 

Posted in Central Kalimantan, Indonesia, Pangkalan Bun

Pangkalan Bun & Tanjung Puting

Berawal dari sepucuk surat undangan pernikahan yang dikirim oleh salah seorang sahabat lama saya di kantor, andin, yang mengabarkan tentang acara walimah yang akan dilangsungkan di Pangkalan Bun – Kalimantan Tengah. Walaupun kami masih terhitung kerabat dari pihak ibu nya (yang asli jawa tengah), namun ayahnya merupakan putra dayak asli, jadi memang sahabat saya itu lahir dan besar di pangkalan bun, kalimantan.

Ingatan saya mengenai pangkalan bun adalah kota terdekat untuk akses menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal dengan konservasi orang utan. Gayung bersambut, suami saya setuju cuti setengah hari untuk menghadiri acara walimah sekaligus mengunjungi Taman Nasional tersebut. Kali ini kami hanya mengajak baby g karena adiknya masih terlalu kecil.

Hanya ada dua penerbangan direct ke Pangkalan Bun, yaitu Trigana dan Kalstar. Menyesuaikan dengan jadwal, kami memilih Trigana yang berangkat hari sabtu pukul 09.25 dan pulang hari senin pukul 07.35. Sedihnya hanya sedikit jadwal penerbangan yang tersedia, jadi kami malah tidak bisa menghadiri acara walimah yang justru diadakan hari senin.

DAY 1

Pesawat trigana yang kami tumpangi delay hingga 4 jam akibat kerusakan teknis di baling-balingnya, yah namanya juga pesawatnya sudah pada tua. Banyak penumpang yang berkeluh kesah juga marah-marah apalagi yang punya urusan bisnis.  Jam 13.00 barulah trigana air mengudara, durasi penerbangan jakarta-pangkalan bun hanyalah 1 jam 10 menit. Selain warga lokal, banyak juga wisatawan asing yang sepertinya memiliki tujuan utama ke Tanjung Puting.

Bandara Iskandar merupakan bandara kecil yang sepi sekali, selain pesawat kami hanya ada satu pesawat lain yang parkir, berasa bandara pribadi. Atap bangunan bandara ini dibentuk menyerupai rumah betang, rumah adat khas kalimantan.

Karena sudah siang menjelang sore, terpaksa salah satu itinerary kami untuk berkunjung ke pantai kubu dibatalkan, kami langsung menuju ke istana kuning kutawaringin dengan taksi. Taksi bandara harus dipesan melalui loket yang terletak di sebelah kanan dari pintu keluar, tarifnya sudah ditetapkan berdasarkan wilayah yang dituju. Dari bandara ke kutawaringin tarifnya adalah 75 K, cukup mahal karena jaraknya sebenarnya hanya 7-8 km, tapi tidak ada alternatif transportasi lainnya.

Lalu lintas di kota pangkalan bun sangatlah sepi, mirip seperti susana di pracimantoro – wonogiri, hanya sedikit kendaraan bermotor yang lalu lalang. Kami melewati tugu pancasila selama perjalanan dan tidak lama sudah sampai di Istana Kuning. Kami meminta supir taksi menunggu dulu selama setengah jam dan selanjutnya mengantar kami ke jl ahmad yani, sang supir taksi setuju dengan total 150 K yang harus kami bayarkan.

ISTANA KUNING

Istana Kuning merupakan istana yang dahulu dipakai oleh kesultanan melayu islam kutaringin yang didirikan pada tahun 1811-1814. Bangunan istana yang sekarang merupakan hasil pemugaran dan pembangunan ulang setelah sempat dilanda peristiwa kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan.

Walaupun disebut istana kuning, nyatanya bangunan istana ini yang dibangun dari kayu ulin ini berwarna kecokelatan. Disebut istana kuning karena kuning merupakan warna resmi dari kerajaan kutaringin. Bangunannya berbentuk rumah panggung betang dan terdiri dari empat bagian besar .

Saat kami ke sana suasana terbilang sangat lengang, hanya ada satu pengunjung selain kami. Di pintu gerbang terukir lambang kerajaan kutaringin, sementara meriam-meriam kuno yang dicat kuning berjajar rapi di halamannya. Posisi istana kuning yang tinggi memungkinkan kita melihat bundaran kuning yang terletak persis di bawahnya, bundaran kuning merupakan area yang populer untuk muda-mudi di pangkalan bun.

13100846_10154233888359623_2774604087936315924_n
Bundaran Kuning
13151549_10154233887739623_5111297173104306129_n
Lambang kerajaan kutaringin
13087335_10154233888559623_5653860049131717880_n
Meriam-meriam kuno di halaman istana kuning

Kami menaiki tangga dan berjumpa dengan lorong panjang, di kirinya berdiri suatu serambi luas yang ternyata difungsikan juga untuk acara-acara umum seperti halal bihalal atau pernikahan (saat kami ke sana serambi tersebut sudah dihias untuk acara MTQ kutawaringin). Bagian kanan lorong difungsikan sebagai museum, sementara  ruangan di bagian ujungnya tidak boleh dimasuki umum.

13087445_10154233888454623_5867603502512433475_n
Lorong panjang di dalam istana kuning

Kami memasuki area museum yang mana sudah ada pemandunya, koleksinya berupa peninggalan kerajaan kutaringin. Ada kereta kencana yang digunakan untuk acara kebudayaan, foto-foto dan silsilah para sultan, guci-guci dan peralatan antik, senjata hingga singgasana sultan yang didominasi warna kuning dan hijau. Museumnya sendiri tidaklah terlalu besar, sehingga waktu setengah jam rasanya cukup untuk melihat-lihat koleksi yang ada sambil sesekali bertanya ke pemandu.

Dari istana kuning, kami diantar menuju kediaman andin di jl ahmad yani yang hanya 5 menit saja perjalanannya. Rumahnya Andin berdiri tepat di pinggir jalan utama dengan halaman depan yang luas dan halaman belakang yang bahkan lebih luas lagi, persis seperti tanah si mbah di kampung. Saya jadi ingat tanah orang-orang zaman dahulu di pulau jawa (seperti kepunyaan si mbah) yang luas seperti ini.

Saya betah berlama-lama di rumahnya andin sebab sangat asri dan nyaman, di halaman belakangnya berdiri kolam-kolam ikan yang langsung berbatasan dengan kebun luas. Betah ngobrol berlama-lama dalam suasana seperti ini apalagi kami sudah lama tidak bertemu hingga tanpa terasa senja menjelang. Kami diantar ke hotel oleh sahabat kami tersebut, semoga sakinah mawwadah warrahmah ya!

ARSELA HOTEL PANGKALAN BUN

Kami sudah mem-booking hotel via traveloka, arsela hotel ini berlokasi di jl iskandar hanya 5 menit dari bandara. Bangunan hotelnya juga sangat cantik, masih dengan gaya rumah betang khas kalimantan dan terbuat dari kayu. Tarifnya sendiri tidaklah terlalu mahal, namun kamar yang kami tempati cukup nyaman dan bersih.

13087822_10154233884439623_2690801249579151224_n
Arsela Hotel

RM DUNIA LAUT

Berdasarkan hasil rekomendasi, kami memutuskan makan malam di RM Dunia Laut. Sebagai kota pinggir pantai, pangkalan bun memang terkenal sebagai penghasil ikan dan aneka seafood lainnya, RM Dunia Laut ini dikatakan memiliki cita rasa yang enak dengan bahan dasar seafood yang segar.

Karena tidak ada kendaraan umum sama sekali (nggak ada angkot apalagi ojek), kami meminjam sepeda motor dari salah satu staf hotel dengan tarif seikhlasnya.

Dunia Laut sendiri tempatnya tidak terlalu luas, indoor dengan AC, dan lucunya kursi dan mejanya diberi sarung seperti di acara pernikahan. Kami memesan kepiting saus padang, cumi goreng tepung dan kangkung. Sempet ketar-ketir juga karena di menu tidak tertera harganya, tapi ternyata harga yang dibayar hanya 150 K, tergolong murah untuk satu porsi kepiting jumbo dan cumi 1/2 kg. Keduanya dimasak dari bahan seafood yang masih segar sekali, daging kepitingnya manis dan empuk, begitupun cuminya.

Sepulang makan, kami masih berputar-putar dulu untuk mencari toko oleh-oleh khas pangkalan bun. Btw, saya hanya sekali ketemu pom bensin dekat tugu pancasila yang luar biasa ngantrinya hingga ke jalanan, menurut andin memang hanya ada satu pom bensin di area pangkalan bun ini. Tukang bensin eceran saja nggak ada sama sekali, yang ada malah tukang tambal ban.

Sebagai kota bahari, oleh-oleh khas pangkalan bun adalah kerupuk dan kemplang berbahan dasar ikan. Pemilik tokonya pun merupakan orang rantau asal jawa tengah, memang di pangkalan bun banyak orang-orang dari jawa tengah, bahkan pemilik hotel tempat kami tinggal termasuk stafnya juga dari jawa tengah.

DAY 2

TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Sebelum berangkat ke Pangkalan Bun saya sudah terlebih dahulu googling mengenai jasa trip organizer untuk mengunjungi Tanjung Puting. Kawasan Konservasi Tanjung Puting terletak di sepanjang sungai sekonyer yang mengharuskan kita menggunakan moda transportasi berupa klotok (perahu) ataupun speed boat untuk mencapainya.

Memang sebaiknya kita menggunakan jasa trip organizer karena medannya sulit, harus ada pemandu yang paham dengan situasi medannya, selain itu sewa klotok ataupun speed boat tidak bisa secara go-show karena sering full booked. Berdasarkan hasil rekomendasi, kami pun memutuskan ikut trip yang ditawarkan orangutandays.com yang dipimpin oleh Mas Yomie Kamale.

Kami sangat tertarik untuk menggunakan klotok, dengan program live in board pengalaman yang didapat pasti akan jauh lebih seru, makan dan nginap di atas perahu yang berlayar sepanjang sungai sekonyer, wuih kayak di film anaconda aja. Sayangnya, karena klotok ini jalannya pelan, maka durasi perjalanan yang ditawarkan optimalnya adalah 2D1N atau 3D2N. Bisa aja sih seharian tapi eksplorasinya jadi kurang maksimal karena hanya satu area konservasi saja yang dikunjungi.

Kami terpaksa menjatuhkan pilihan ke alternatif kedua yaitu speed boat, yang jalannya lebih cepat dan dalam sehari bisa mengunjungi dua area konservasi. Harga yang ditawarkan mas Yomie sebesar 1,9 juta untuk paket bertiga (saya, suami dan baby G) sudah termasuk sewa speed boat, tiket masuk, jasa pemandu, makan siang, snack + soft drink dan jasa antar jemput dari hotel.

Setelah menyantap sarapan yang disediakan oleh hotel, jam 07.30 kami dijemput langsung oleh mas Yomie sendiri di lobby hotel. Mas Yomie orangnya sangat ramah, banyak memberi info mengenai segala seluk beluk daerah Tanjung Puting dan Pangkalan Bun, btw ternyata mas yomie ini aslinya orang bandung tapi punya istri asli dari pangkalan bun dan akhirnya menetap di sini sekaligus membuka jasa trip organizer, two thumbs up mas.

Perjalanan dari hotel ke dermaga kumai hampir satu jam, jalanannya sangat sepi dan mulus, tidak banyak kami berpapasan dengan kendaraan lainnya. Barulah saat mulai memasuki pelabuhan, tampak hiruk pikuk dari para nelayan dan pekerja. Kami memasuki suatu kawasan dengan satu dua bangunan kantor konservasi setelah sebelumnya melewati gapura yang bertuliskan “Balai Taman Nasional Tanjung Puting”, tempat ini juga merupakan dermaga kumai di mana sudah banyak klotok atau speed boat yang parkir. Setelah berfoto dengan patung orang utan seukuran aslinya, kami diperkenalkan kepada bapak cihuy (maaf ya pak, saya lupa namanya, cuma orangnya asyik banget) yang kali ini akan bertindak sebagai sopir speed boat sekaligus pemandu kami.

13151727_10154231129629623_9093318580147898916_n
Welcome to Balai Taman Nasional Tanjung Puting
13087871_10154233837364623_587613398578694857_n
Dermaga Kumai

Tidak lama setelah mengarungi perairan lautan yang berair asin, kami bertemu dengan marka berupa patung orang utan dengan tulisan “Tanjung Puting”, marka ini menandai dimulainya sungai sekonyer. Paruh awal sungai masih merupakan perairan payau (air laut campur air tawar) di mana sungainya masih berwarna hitam kecokelatan dengan vegetasi pohon yang tinggi-tinggi di kanan kirinya. Pak Cihuy mengingatkan agar kami tidak iseng mencelupkan tangan atau kaki apalagi berenang karena di sungai ini masih banyak buaya, bahkan belum lama ini polisi hutan yang bertugas di pinggir sungai tewas dimakan buaya. Glek, saya pun jadi agak jiper ya, walau pak cihuy juga menjelaskan bahwa buaya takut sama suara mesin klotok atau speed boat, jadi kalau sedang ramai paling buayanya berdiam di dasar sungai.

13133175_10154233838409623_4046411403410696915_n
Mulai memasuki sugai sekonyer
13151899_10154233838389623_2545195882577708271_n
HIlir sungai sekonyer yang berair payau

Tanjung Puting merupakan taman nasional di Indonesia yang termasuk World Network of Biosphere Reserves, taman nasional ini adalah pusat konservasi orang utan, selain memetakan populasi yang ada, konservasi ini juga mendidik orang utan agar kembali liar di alam.

Sekitar 40 menit menyusuri sungai sekonyer, sampailah kami di konservasi pertama yaitu pondok tanggui. Kami diturunkan di dermaga panjang yang terbuat dari kayu lalu trekking selama 15-20 menit hingga tiba di tempat feeding, jalanan trekking cukup ringan dengan medan mendatar , berupa jalan setapak berbatu-batu yang dipagari pepohonan dan ilalang.

Pukul 10.00 merupakan waktu feeding, di tempat tersebut sudah dibangun suatu platform yang di sekelilingnya sudah dibatasi dengan tali. Tidak lama kemudian datanglah sang ranger (penjaga alam) yang bertugas untuk membagikan makanan, sang ranger pun membunyikan isyarat hingga orang utan berdatangan dari berbagai penjuru, jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan menyeruak berjalan dari belakang atau tiba-tiba melompat dari pohon ke pohon, seru banget nggak kayak di kebun binatang. Orang utan berbadan besar berbulu kecoklatan saling berebut makanan di platform tersebut hingga Mandar, sang alpha datang. Di dunia hewan pun ada sistem sosial di mana kelompok hewan akan dipimpin oleh Alpha, yang merupakan pejantan terkuat, Alpha ini ditakuti dan dihormati oleh kawananannya, begitu Alpha datang yang lainnya pun akan menyingkir. Pengunjung yang ada pun dihimbau dengan plakat besar-besar bertuliskan “keep silent, respect the orang utan”, dilarang mgobrol, berisik, riuh apalagi membuat keributan, jadi saat menyaksikan acara pemberian makan paling sesekali hanya terdengar suara klik-klik dari kamera dslr ataupun ponsel.

Karena sudah waktunya makan siang, setelah dari pondok tanggui, kami berhenti dulu di resort Pondok Amung. Resort Pondok Amung terdiri atas sekumpulan bangunan yang dilengkapi dengan dermaga yang hanya sesekali digunakan kalau ada keperluan penelitian saja, selain itu kosong dengan hanya satu orang penjaga. Makan siang disajikan dalam box dan menunya luar biasa, selain ayam goreng, ada ikan sungai goreng, sate udang goreng, tahu tempe dan lalapan, sampe nggak habis kemakan semuanya saking banyaknya. Setelah kenyang saya iseng-iseng menelusuri pondok amung karena pingin nyari toilet, tapi baru setengah jalan saya balik lagi dan minta ditemani suami saya karena takut kalau-kalau malah ketemu sama buaya nangkring atau binatang lainnya.

13119051_10154233852589623_5684839800638108936_n
Dermaga di Resort Pondok Amung

Kami kembali menelusuri sungai sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam karena kandungan humusnya makin banyak, vegetasi di daerah ini kebanyakan berdaun jarum. Sekitar sejam kemudian hujan mulai turun rintik-rintik, untunglah kami sudah mendekati camp leaky. Tidak lama kemudian hujan turus dengan derasnya, kami pun menumpang ke klotok milik mas yomie yang sedang bersandar di dermaga camp leaky (kebetulan penumpangnya sudah masuk ke camp, jadi klotok kosong). Ada beberapa klotok lain yang juga sedang bersandar menunggu hujan reda, kami mengenali beberapa wisatawan asing (bule) yang juga terbang bersama dengan trigana kemarin.

13096004_10154233852374623_6721363022241773617_n
Sungai Sekonyer yang makin ke hulu makin menghitam

Klotok merupakan perahu dua tingkat, tingkat pertama digunakan untuk ruang awak kapal, dapur dan kamar mandi. Tingkat dua barulah digunakan oleh penumpang, umumnya kosong dengan hanya satu dua kasur dan meja bangku yang bisa digeser atau dilipat. Klotok biasanya berisi 3 awak, 1 sebagai nahkoda, 1 sebagai sesi wara wiri dan 1 lagi (biasanya perempuan) adalah tukang masak. Kebanyakan wisatawan asing atau dari luar daerah pasti akan menggunakan klotok secara private, satu klotok paling berisi 2-3 orang atau satu keluarga kecil saja (4-5 orang) dan mereka pun melakukan live on board. Berbeda dengan wisatawan lokal (pangkalan bun) yang sempat kami temui, satu klotok dihuni rame-rame hingga penuh dan hanya melakukan kunjungan satu hari saja (hanya camp leakey).

Saat hujan mulai berangsur-angsur reda, datanglah seekor orang utan betina dengan ukuran tubuh medium ke dermaga, namanya siswi. Pak Cihuy menerangkan, bahwa Siswi ini merupakan orang utan gagal, artinya gagal kembali jadi liar sesuai dengan program konservasi, siswi ini masih sering main ke dermaga dan minta makan dari orang-orang. Ada kisah tragis yang nggak kalah sedihnya dari drama india di balik gagalnya siswi, Siswi ini dilahirkan dari rahim Siswoyo, seorang betina primadona di camp leakey, begitu dewasa siswi pun menikah dengan Tom sang alpha tapi sayangnya anak kembar yang dilahirkannya meninggal sehingga siswi terkena faktor psikologis berat yang menyebabkan dia gagal menjadi liar lagi. Mungkin kalau manusia dia terkena beban batin yang amat mendalam, secara suaminya merupakan ketua kelompok yang pasti digandrungi banyak cewek pasti dia sering cemburu, jadi begitu bayinya meninggal dia jadi agak gila.

13102691_10154233853249623_6004568844284549347_n
Meet Siswi

Begitu hujan reda, kami memasuki area camp leaky melewati suatu dermaga panjang dan jalan setapak yang masih becek akibat hujan. Sekitar 15 menit kemudian, sampailah kami di bangunan panjang berwarna hijau yang difungsikan sebagai museum. Setelah mengisi buku tamu, kami berkeliling menyusuri museum. Adalah seorang Birute Galdikas, seorang profesor wanita asal jerman yang merupakan peneliti primatologi, aktivis pelestarian alam dan penulis buku-buku mengenai ancaman kepunahan orang utan, yang telah mendedikasikan banyak usaha dan kerja kerasnya di camp leaky ini. Profesor Galdikas lah yang telah mengembangkan konservasi dan memetakan populasi orang utan di camp ini, sejarah dan silsilah para orang utan dipampang di dinding disertai foto-fotonya. Saya kagum saja bagaimana bisa membedakan antara satu orang utan dengan yang lainnya padahal menurut saya kelihatan sama semua. Untuk memudahkan pemetaan, anak-anak dinamakan sesuai dengan huruf pertama orang tuanya (misal siswi anak siswoyo), nah mungkin karena yang memberi nama orang asing jadi dia nggak begitu paham ya soal nama-nama yang sesuai dengan gendernya, haha. Selain silsilah, di sini juga kita bisa mendapat informasi soal orang utan, mulai dari info biologi nya hingga sosialnya, ada juga tulang belulang dan gigi geligi dari orang utan.

13151471_10154233853159623_5032412689334549925_n
Dermaga Camp Leakey

Hujan kembali turun dengan sangat deras sehingga serambi museum penuh sesak dengan orang-orang yang berteduh, beberapa bahkan ada yang sudah basah kuyup karena terlambat lari waktu hujan tadi.

Saat masih gerimis, pak cihuy mengajak kami kembali melanjutkan perjalanan agar tidak ketinggalan acara pemberian makanan, saya jadi sangat menyesal kenapa saya nggak bawa payung atau minimal jaket untuk baby g. Jalan setapak berangsur-angsur hilang dan mulai digantikan oleh rapatnya pepohonan, kami menebras hutan yang masih asli, jalanan sudah berupa tanah yang sangat becek dan saat itulah hujan kembali turun. Suami saya sampai menggendong baby g dan menutupi sebisanya dengan tas agar tidak terlalu kehujanan. Tidak seperti di pondok tanggui tadi di mana orang utan baru dapat kami temui di platform tempat makan, begitu memasuki area hutan di camp leaky, orang utan sudah bergantungan di pohon yang ada di jalan, tiba-tiba melompat, berayun atau memasang pose. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada orang utan nongol persis di sebelah kamu.

Total waktu trekking dari dermaga hingga ke tempat feeding sekitar 45-50 menit, cukup jauh memang dengan medan yang lebih sulit dan lebih alami. Begitu ranger membunyikan isyarat, orang utan berdatangan dari segala penjuru, ada yang berjalan, ada pula yang berayun, ranger-ranger akan mengingatkan kita untuk memberi jalan pada orang utan yang akan lewat. Selain orang utan, ada juga celeng (babi hutan) yang melenggang santai di arena feeding, baru kali itu saya melihat celeng, ternyata badannya besar dengan taring-taring yang mencuat tajam. Akhirnya si celeng diusir oleh ranger yang datang sambil memanggul keranjang isi makanan untuk orang utan. Tibalah Tom, sang alpha, yang ukurannya lebih besar dibanding Mandar, si alpha di Pondok Tanggui tadi. Tom sangatlah gagah dengan bulu coklat pekat yang halus dan ukuran tubuh yang tinggi besar, Tom makan membelakangi para pengunjung jadi kami tidak bisa mengambil gambarnya. Saat alpha makan, hanya 1-2 orang utan lainnya, yang saya pikir sang betina permaisuri, yang berani makan di sisinya, itu pun di pinggiran dan makanannya sisa-sisa Alpha, sementara yang lain langsung menyebar ke pohon-pohon sekitaran platform.

Usai acara feeding, kami kembali trekking hingga ke dermaga dan kembali menaiki speed boat. Di perjalanan pulang hujan kembali turun tapi jangan khawatir karena speed boat juga dilengkapi dengan tudung seperti kemah yang bisa dipasang membungkus keseluruhan speed boat. Yang terkadang bikin tegang, beberapa kali mesin speed boat berhenti karena ada tanaman atau apa yang nyangkut, di saat itulah pak cihuy harus bekerja menarik tali-tali yang tersambung agar mesin hidup kembali. Tentu tegang karena speed boat berhenti di tengah-tengah sungai yang sangat sepi, bisa sekitar 5-15 menit,  saya jadi membayangkan gimana kalau ada buaya yang tiba-tiba nyaplok kayak di film, syukurlah tidak.

Jam 4 sore kami sudah tiba kembali di dermaga kumai dan sudah ditunggu oleh mas yomie yang akan mengantar kami kembali ke hotel. Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada pak cihuy, kami pun menaiki mobil. Sungguh suatu pengalaman yang sangat menyenangkan, suatu hari nanti saat anak-anak sudah agak besar saya ingin kembali lagi untuk merasakan program live on board dengan klotok.

Karena sudah lelah, malamnya kami memesan layanan room service. Tanpa disangka entah di mana suami saya mendapatkan gigitan serangga tomcat di tengkuknya, sehingga ada luka yang panas membakar dan baru sembuh setelah diolesi salep khusus dari dokter sepulang dari sini.

DAY 3

Jam 06.00 pagi kami sudah bersiap di lobby hotel dan dijemput kembali oleh supir taksi yang sama dengan supir yang mengantar kami di hari pertama (nomor kontaknya memang sudah sengaja kami simpan). Ternyata penumpang pesawat di sini santai-santai banget, bukannya penumpang yang repot, malahan petugas check in yang sibuk nyariin penumpangnya, bahkan saat pesawat sudah 15 menit boarding ada saja penumpang yang datang lenggang kangkung, kalau di Soetta mah udah nggak boleh masuk.